NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 9

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 9

Rencana Pemusnahan

Begitu keluar dari arena dan melangkahkan kaki melewati pintu khusus keluar-masuk bagi peserta Turnamen Sihir.


"Ah!"


"Teraword-kun!"


"Tera-kun!"


Di sana, kulihat wajah-wajah yang sudah sangat kukenal dari seluruh anggota Pasukan Garis Depan.


"Semuanya...!"


Bersamaan dengan seruanku. Dipimpin oleh Elena-san, mereka semua menghampiriku lalu berkata.


"Fin-kun! Kerja bagus! Pertarungan tadi benar-benar luar biasa!!"


"Iya~. Bisa menggunakan sihir tingkat tinggi dari setiap atribut secara beruntun seperti itu... Onee-san jadi tahu lagi betapa hebatnya Fin-kun~."


"Selain itu, sebelum menggunakan sihir pun tadi juga luar biasa! Gerakanmu yang menghindari serangan lawan dengan gerakan sekecil mungkin itu!"


"Aku tahu! Bahkan Tera-kun sempat menghindar sambil memejamkan mata, kan...!"


"Itu benar-benar keren...!"


Kepada semua orang yang memberiku begitu banyak pujian.


Aku pun membuka mulut dan mengucapkan rasa terima kasihku.


"Te-terima kasih banyak! Aku senang sekali mendengar kalian berkata begitu!"


"Wajahnya yang kelihatan malu-malu tapi juga bahagia itu parah banget..."


"Imut..."


"Menenangkan hati sekali..."


"Seperti biasa, perbedaan antara saat bertarung dan saat seperti ini benar-benar membuatku luluh..."


"Itu curang sih, tapi karena imut jadi tetap bisa dimaafkan..."


Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka gumamkan.


Namun, sebagai anggota Pasukan Garis Depan, aku berhasil meraih kemenangan dengan baik. Dan karena semua orang memuji pertarunganku, hatiku benar-benar dipenuhi kebahagiaan.


"Oh iya!"


Saat aku sedang berpikir begitu, Elena-san berseru dengan suara lantang lalu melanjutkan.


"Selagi ada kesempatan, bagaimana kalau kita merayakan kemenangan Fin-kun di pertandingan Expert Turnamen Sihir!?"


"Merayakan...! Bo-boleh begitu?"


"Tentu saja! Iya, kan, semuanya!"


Mendengar perkataannya, semua orang mengangguk dengan wajah ceria.


"Tentu!"


"Sudah pasti!"


"Malah kami memang ingin merayakannya!"


"Aku ingin menyuruh Fin-kun makan banyak makanan manis lagi...!"


"Aku sudah tidak sabar...!"


"Semuanya..."


Mendengar kalau yang akan dirayakan adalah diriku, mereka semua tampak begitu gembira.


Bisa bersama orang-orang seperti mereka membuatku merasa sangat bahagia.


Saat mereka masih terus membicarakan rencana perayaanku.


"Fin-san. Sekali lagi, pertarunganmu tadi benar-benar luar biasa."


Sefia-san berkata demikian.


"Terima kasih banyak!"


Dipuji bukanlah sesuatu yang pantas dianggap biasa, jadi aku mengucapkan terima kasih dengan sepenuh hati.


Sefia-san terdiam sejenak, lalu berkata.


"Dalam gerakan Fin-san saat bertarung tadi, ada beberapa bagian yang sepertinya bisa diterapkan juga ke dalam ilmu pedang. Di lain kesempatan aku ingin membahasnya denganmu, tetapi sebelum itu ada satu hal yang ingin kutanyakan──"


Saat Sefia-san belum selesai berbicara.


"Fin Teraword-san."


Seseorang memanggilku dari samping, sehingga aku menoleh.


Di sana berdiri pemandu yang tadi mengantarkanku ke dalam arena.


Saat Sefia-san dan yang lainnya menghentikan pembicaraan mereka, aku memiringkan kepala lalu bertanya.


"Ya, ada apa?"


"Sebelumnya saya telah dititipi pesan dari Narcis-sama, jadi izinkan saya menyampaikannya."


Pesan dari Narcis-san...?


Sebenarnya pesan apa ya?


Saat aku bertanya-tanya, pemandu itu melanjutkan.


"Terlepas dari menang atau kalah, setelah pertandingan selesai beliau ingin membicarakan sesuatu mengenai militer. Oleh karena itu, beliau meminta Anda datang ke ruang bawah tanah arena."


Hal yang ingin Narcis-san bicarakan denganku... tentang militer?


Dan lagi, di ruang bawah tanah arena...?


Banyak hal yang terlintas di pikiranku. Namun tampaknya pemandu itu juga tidak mengetahui apa-apa selain pesan tersebut.


"Baik, terima kasih banyak."


Setelah hanya menanyakan jalan menuju ruang bawah tanah, percakapan pun berakhir, dan pemandu itu membelakangi kami lalu pergi.


Kemudian aku menghadap semuanya dan mengutarakan pikiranku.


"Memang semua informasi militer bersifat rahasia, tetapi kalau sampai harus membicarakannya di ruang bawah tanah, apakah berarti ini benar-benar sesuatu yang sama sekali tidak ingin mereka bocorkan kepada pihak luar?"


"Entah rahasia... atau mungkin sebuah kejadian..."


Norn-san bergumam pelan sambil mengalihkan pandangannya kepada Elena-san.


Mendapat tatapan itu, Elena-san seolah memikirkan sesuatu dan berseru pelan.


"Apa pun itu, rasanya aneh kalau Fin-kun yang masih seorang murid pelatihan pergi sendirian untuk membicarakan urusan militer. Jadi, bagaimana kalau kita semua yang satu pasukan dengan Fin-kun ikut pergi!"


"Baik!"


"Mengerti!"


Akhirnya, kami bersama-sama menuruni tangga menuju ruang bawah tanah arena. Lalu membuka sebuah pintu yang ada di sana dan masuk ke dalam.


Karena bagian dalamnya gelap gulita, kami menyalakan lampu.


Yang terlihat hanyalah sebuah ruangan kosong yang dikelilingi dinding batu.


"Tempat ini..."


Sesaat setelah aku bergumam.


"Wanita-wanita cantik dari Pasukan Garis Depan, dan juga... Fin Teraword. Kalian datang juga."


Bersamaan dengan suara pintu terbuka, terdengar suara dari belakang.


Saat aku menoleh ke arah suara itu, di sana berdiri Narcis-san bersama sejumlah besar orang yang tampaknya adalah bawahannya.


Menanggapi perkataan Narcis-san, aku pun menjawab.


"Aku datang karena menerima pesan darimu... Katanya ada sesuatu mengenai militer yang ingin dibicarakan di tempat ini. Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?"


"Membicarakan sesuatu...? Itu hanyalah alasan untuk memancingmu datang ke sini."


"Eh...?"


Memancingku ke sini...?


Saat aku kebingungan mendengar perkataannya, Narcis-san memandang sekeliling ruangan.


"Ngomong-ngomong, tempat ini dulunya adalah gudang senjata arena... Sekarang gudang senjatanya sudah dipindahkan ke tempat lain, jadi ruangan ini dibiarkan begitu saja karena sudah tidak terpakai."


Aku tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba membicarakan hal itu.


Yang bisa kulakukan hanyalah mendengarkan, sementara Narcis-san melanjutkan.


"Artinya, apa pun yang terjadi di sini, tidak akan ada seorang pun yang datang menolongmu... Bukankah tempat ini sangat cocok?"


"Cocok... untuk apa?"


"Hah, bukankah sudah jelas?"


Detik berikutnya. Wajah Narcis-san berubah menjadi sangat kesal, lalu ia berkata.


"Sebagai tempat eksekusi untukmu, rakyat jelata yang hanya seorang murid pelatihan, yang telah mempermalukan diriku di depan puluhan ribu penonton itu!!"


Begitu selesai berbicara, Narcis-san mengangkat tangannya sebagai aba-aba.


Para bawahannya langsung berlari menerjang ke arahku.


"Hah, hahahaha...! Diserbu mendadak oleh orang sebanyak ini, kau pasti tak akan bisa berbuat apa-apa! Kalaupun dengan suatu sihir kau berhasil menghindari serbuan barisan depan, di belakang mereka masih ada pasukan lain yang menunggu! Bahkan di balik pintu itu pun masih banyak bawahanku yang bersiaga! Dan jalan keluar masuk ruang bawah tanah ini hanya satu, yaitu pintu yang ada di belakangku! Bagaimanapun juga, sendirian kau pasti ada batasnya! Menyesallah karena rakyat jelata sepertimu telah berani mencoreng nama baikku──"


Saat Narcis-san belum selesai berbicara.


"Uwaaaaaaaah!"


"Gwaaaaaaaah!"


"Guaaahhh!"


Tiba-tiba, para bawahan Narcis-san yang sedang menerjang ke arahku terpental oleh tekanan angin.


"Apa...!?"


Bersamaan dengan suara benturan yang menggema di ruangan itu, Narcis-san berteriak kaget.


Sihir barusan bukanlah sihir yang kulepaskan.


Karena itu aku menoleh ke arah orang yang baru saja menggunakannya... Elena-san.


Dengan tatapan kosong dan suara yang sedingin es, Elena-san berkata.


"Bukan hanya menghina Fin-kun, kalian bahkan berniat merenggut nyawanya... Aku tidak akan pernah, sama sekali tidak akan memaafkan kalian."


Baru beberapa saat yang lalu Narcis-san masih tertawa terbahak-bahak.


Namun seketika tawanya menghilang. Ia menatap Elena-san yang berwajah dingin, lalu berkata dengan penuh keguncangan.


"E... Elena Endyheart...? Ke-kenapa kau menyerang kami...? Ka-kau sadar tidak apa yang baru saja kau lakukan!?"


"Aku hanya menerbangkan orang-orang yang sedang menerjang untuk membunuh Fin-kun. Tidak lebih dan tidak kurang."


"Kau pikir tindakan itu bisa selesai begitu saja!? Orang-orang yang baru saja kau hempaskan adalah bawahanku... prajurit Kekaisaran Luvankrum! Seorang prajurit Kekaisaran Luvankrum menyerang sesama prajurit Kekaisaran Luvankrum... Dengan kata lain, kau menyerang pasukan sendiri──"


"Apa yang kau bicarakan? Pihak yang lebih dulu menyerang untuk membunuh Fin-kun adalah kalian, kan? Aku hanya melindungi anggota satu pasukanku agar tidak terluka... Menurutku ini jelas termasuk pembelaan diri yang sah."


Kalau hanya pertengkaran sehari-hari, pihak yang membela diri pun tetap dituntut untuk menahan diri.


Walaupun bertujuan melindungi diri sendiri, kalau dilakukan secara berlebihan maka itu akan dianggap pembelaan diri yang berlebihan.


Namun Narcis-san dan orang-orangnya benar-benar berniat membunuhku.


Dalam situasi seperti itu, sebesar apa pun serangan balasan yang dilakukan kemungkinan besar tetap akan dianggap sebagai pembelaan diri yang sah.


Karena itulah tindakan Elena-san kali ini tentu juga termasuk pembelaan diri yang sah.


Elena-san menyampaikannya dengan kata-kata yang singkat.


Namun Narcis-san, seolah masih tidak bisa menerimanya, kembali berkata.


"Hanya... melindungi anggota satu pasukan agar tidak terluka...? Pembelaan diri yang sah...? Ti-tidak mungkin! Jangan-jangan... kau benar-benar menganggap rakyat jelata seperti itu sebagai rekanmu!?"


Kegelisahan, keterkejutan, kebingungan.


Dengan berbagai emosi tergambar di wajahnya, Narcis-san menggerakkan tangan dan tubuhnya sambil berkata,


"Bahkan tanpa perlu dijelaskan, seharusnya sudah jelas mana yang lebih pantas kalian bela—aku atau rakyat jelata di sana itu!"


Suara lantang Narcis-san menggema di seluruh ruang bawah tanah.


Di tengah suasana itu, wajah semua orang tampak lebih suram daripada sebelumnya.


Lalu Elena-san membuka mulutnya.


"Benar. Bahkan tidak perlu dibandingkan, tentu saja aku memilih Fin-kun. Dan satu lagi, itu membuatku muak, jadi bisakah kau berhenti menyamakan dirimu dengan Fin-kun dalam satu kalimat?"


"Ghk...! Elena Endyheart... tidak, bukan hanya dia! Kalian semua adalah orang-orang yang terlahir sebagai bangsawan yang mulia! Tapi kalian justru memusuhiku demi melindungi rakyat jelata seperti dia? Bukankah itu aneh!? Kalian yang berada di kedudukan yang sama dengannya seharusnya menghentikannya yang sedang berjalan di jalan yang salah!"


Saat mengatakan itu, Narcis-san mengarahkan suaranya kepada Sefia-san dan Norn-san... namun.


Norn-san menjawab dengan nada yang hampir sama seperti biasanya. Hanya saja, sorot matanya jauh lebih gelap dari biasanya, dan suaranya pun terdengar suram.


"Menghentikannya? Aku memang tetap tidak mengerti ucapan binatang yang bahkan tak bisa memahami kata-kata orang, tapi menurutku Elena-chan sama sekali tidak salah. Aku juga... merasakan hal yang sama."


"Apa...!?"


Menghadapi Narcis-san yang tampak terkejut.


Sefia-san memperlihatkan ekspresi dingin yang tak pernah ia tunjukkan kepada kami sebelumnya, lalu berkata dengan tatapan yang suram.


"Maaf, tetapi menurutku juga tidak ada yang salah dengan perkataan Elena-san."


"Apa... katamu!? Ngomong-ngomong... Sefia Chevalier. Kudengar pedang yang dibawa di pinggang Teraword adalah hadiah darimu."


"Benar."


"Mengapa orang semulia, secantik, dan sekuat dirimu memberikan pedang kepada rakyat jelata yang tak lebih dari seorang murid pelatihan!? Orang sepertimu seharusnya bersama seseorang yang mulia dan anggun sepertiku—"


"Aku memberikan pedang kepada Fin-san karena Fin-san adalah orang yang memiliki hati paling baik, seseorang yang mampu mengubah kebaikan hatinya menjadi kekuatan dan kebanggaan... dan lagi, aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan padamu. Bahkan boleh dikatakan aku hanya merasakan rasa jijik dan tidak nyaman terhadapmu."


"A-aku...? Kau bilang kau merasa jijik dan tidak nyaman terhadapku...? T-tidak mungkin itu bisa terjadi! H-hei, para wanita cantik yang berdiri di belakang sana! Sekaranglah saatnya kalian meluruskan kesalahan para wanita yang memimpin kalian—"


"Yang perlu diluruskan itu bukan Elena-senpai dan yang lain, tapi justru dirimu, kan?"


"Apa...!?"


"Serius, yang kurasakan cuma jijik dan muak."


"Bahkan cara bicara Sefia-senpai tadi sudah terlalu baik."


"Iya. Aku sampai sudah melewati tahap jijik dan muak."


"Lagi pula, dari tadi kau terus memanggil Tera-kun rakyat jelata..."


"Bahkan berusaha merenggut nyawanya..."


"Tak bisa dimaafkan..."


"Kalau sekarang kita melakukan apa pun, itu tetap dianggap pembelaan diri, kan?"


"Kalau begitu, sudah cukup, bukan?"


"Membuang waktu saja bicara dengannya."


Mendengar hujan kecaman dari semua orang. Narcis-san bergumam dengan suara gemetar.


"T-tidak mungkin... hal seperti ini... bisa terjadi... padaku..."


Tatapan matanya kehilangan fokus, jelas terlihat bahwa ia sedang terguncang.


Sambil memegangi kepalanya dengan tangan kanan, ia berkata dengan suara bergetar.


"Aku tidak bisa menerimanya... Aku... bukan hanya sekali, tapi dua kali dipermalukan oleh rakyat jelata yang cuma seorang murid pelatihan... Aku tidak akan pernah menerima hal seperti itu!!"


Usai berteriak demikian, ia memancarkan sihir dari tangan yang kosong.


"Abaikan para wanita Pasukan Garis Depan! Jangan gentar, incar Fin Teraword saja! Dengan jarak sedekat ini dan jumlah kita sebanyak ini, melenyapkan dia seorang sangatlah mudah! Selama dia terbunuh, kemenangan adalah milik kita!!"


Dengan tangan satunya lagi, ia memberi isyarat kepada para bawahannya.


Detik berikutnya, para bawahannya mulai berlari menerjang ke arahku. Pintu pun terbuka, dan lebih banyak lagi bawahan Narcis-san memasuki ruangan dari baliknya.


Sesaat kemudian—


"Uwaaaaaaaaah!!"


"Guaaaaaaaaah!!"


"Oaaaaaaaah!!"


Semua orang langsung melepaskan sihir mereka.


Para bawahan Narcis-san pun roboh di tempat atau terpental oleh hempasan angin.


Melihat pemandangan itu, wajah Narcis-san seketika memucat. Namun Elena-san sama sekali tidak tampak terganggu.


"Sudah kubilang kami tidak akan membiarkan itu terjadi, kan? Aku tidak peduli apa yang tidak bisa kau terima atau apa yang ingin kau menangkan. Tapi kalau kau mencoba menyakiti Fin-kun, kami tidak akan pernah membiarkannya."


"Ghk...!"


Semua orang tampak siap menyerangnya kapan saja. Namun aku melangkah maju dan berdiri berhadapan dengan Narcis-san.


"Narcis-san, tolong hentikan semua ini. Pertarungan tadi adalah pertandingan untuk menentukan pemenang dengan saling mengadu sihir. Status sebagai rakyat jelata atau bangsawan sama sekali tidak ada hubungannya."


"Tidak ada hubungannya...? Jadi kau menyuruhku mengakuinya? Aku, bangsawan dari keluarga marquis, kalah dari rakyat jelata yang bahkan masih seorang murid pelatihan? Bagaimanapun juga, aku tidak akan pernah bisa mengakuinya!!"


"Aku tidak bermaksud memaksamu mengakuinya... Aku hanya—"


"Sejak awal, apa kau tidak merasa malu? Kau hanyalah rakyat jelata, tapi dilindungi oleh wanita-wanita mulia dan cantik itu, bahkan sampai menerima hadiah pedang dari Sefia Chevalier! Bahkan jika hanya dijadikan pajangan pun, benda itu tidak pantas untukmu!"


Seandainya aku mendengar kata-kata itu beberapa minggu yang lalu, mungkin perkataan atasanku akan terlintas di benakku dan melukai hatiku.


Namun sekarang, berkat semua orang.


Aku tidak akan goyah lagi hanya karena kata-kata seperti itu. Perasaanku pun tidak akan terguncang.


Tapi—


"Kalau orang sepertimu saja bisa diberi pedang, berarti memang bisa dibayangkan betapa dangkalnya perasaan Sefia Chevalier terhadap pedangnya!"


Mendengar kata-kata itu.


Ada sesuatu di dalam diriku yang akhirnya putus.


"Fireball!"


Narcis-san menembakkan bola api ke arah pedang yang tergantung di pinggangku.


"Lanjutkan! Kalian! Kali ini jangan hanya incar Fin Teraword, tapi juga para wanita Pasukan Garis Depan! Kalau berhasil menangkap satu saja, kita bisa menjadikannya sandera!"


Dia menghina perasaan Sefia-san terhadap pedangnya. Dan sekarang mencoba menjadikan semua orang sebagai sandera.


Selama ini aku hanya mengira yang menjadi sasaran niat membunuh adalah diriku. Namun saat orang-orang yang berharga bagiku benar-benar terancam, aku kembali menyadari kenyataan itu.


Orang ini... orang-orang ini...


Adalah musuh.


"......"


Saat berhadapan dengan musuh, hanya ada satu hal yang dituntut dari seorang prajurit.


Menyingkirkan perasaan. Lalu memusnahkan musuh yang ada di depan mata. Hanya itu.


Aku menggenggam gagang pedang dan mengambil posisi.


Selama ini aku belum pernah benar-benar menggunakan teknik itu.


Tetapi. Aku ingin membuktikan, walau hanya sedikit, betapa agungnya jalan pedang yang selama ini ditempuh Sefia-san.


Karena itu.


"...! Fin-san, kuda-kuda itu..."


Tepat setelah Sefia-san bergumam. Aku mencabut pedang dari sarungnya dengan kecepatan luar biasa.


"Aliran Pedang Chevalier... Wave Blade."


Aku mengalirkan sihir ke dalam pedang, lalu melepaskannya sebagai tebasan yang melesat luas ke segala arah.


Akibatnya—


"Uwaaaaaah!"


"Guh... aaaaah!"


"Aaaaaaaaah!"


Para bawahan Narcis-san satu demi satu tumbang.


Bola api yang ditembakkan Narcis-san terbelah.


"T-ti... ti..."


Karena semua bawahannya telah tumbang, kini Narcis-san tinggal seorang diri. Dan saat itu, ia benar-benar kehilangan kata-kata.


"A-apa... yang baru saja..."


Melihat bawahannya roboh sambil menjerit kesakitan, Narcis-san hanya bisa terdiam.


Semuanya terjadi dalam sekejap. Dan dalam sekejap pula ia menjadi seorang diri, sehingga pikirannya tak mampu mengejar apa yang baru saja terjadi.


Namun sekarang, aku sama sekali tidak berniat mengkhawatirkannya.


Yang lebih penting adalah...


"Narcis-san, inilah pedang Sefia-san yang tadi kau hina. ...Tidak, pedang Sefia-san jauh lebih hebat ratusan kali dibanding pedangku. Yang kau hina sebenarnya adalah sesuatu yang berada ratusan kali lebih tinggi daripada pedang yang kugunakan sekarang."


"P-pedang...? Kenapa kau bisa menggunakan pedang...? Tidak ada data yang menyebutkan kalau kau bisa bermain pedang—"


"Aku belajar pedang setelah bergabung dengan Pasukan Garis Depan dari Sefia-san... Dan tentu saja aliran yang kupelajari adalah Aliran Pedang Chevalier."


"Aliran Chevalier...!?"


Narcis-san yang tadi kehilangan kata-kata kembali berbicara dengan penuh amarah.


"Rakyat jelata sepertimu berguru pada aliran yang menyandang nama bangsawan adalah sesuatu yang sama sekali tidak boleh terjadi! Hal seperti itu benar-benar..."


Sambil berkata begitu, Narcis-san kembali menembakkan sihir kepadaku. 


Namun mungkin karena tubuh dan pikirannya sudah mencapai batas. Dibandingkan sihir yang ia gunakan saat turnamen sihir tadi, kekuatan dan kecepatannya jauh lebih lemah.


Karena itu aku dengan mudah menangkis semuanya menggunakan pedang.


Lalu Elena-san meletakkan tangannya di bahu kiriku.


"Sudah cukup, Fin-kun... Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengan orang seperti ini. Biar aku yang mengakhirinya."


Elena-san mengangkat tangan satunya ke arah Narcis-san. Lalu mulai mengumpulkan sihir di telapak tangannya.


Melihat pemandangan itu, Narcis-san berkata dengan panik.


"T-tunggu! Kalau hanya bawahanku mungkin masih bisa dimengerti, tapi apa kalian benar-benar berniat membunuhku juga!? Aku terlahir dari keluarga marquis, dan di Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum pun masa depanku dengan kedudukan tertinggi sudah dijamin! Apa kalian benar-benar akan—"


"Sudah kubilang tadi, kan? Ini pembelaan diri... Lagi pula, kau tadi berusaha merenggut nyawa Fin-kun. Apa kau benar-benar mengira hanya nyawamu sendiri yang tidak akan direnggut?"


"Ugh...!"


Ketakutan mulai terlihat jelas di wajah Narcis-san.


Dengan tubuh dan mental yang sudah berada di ambang batas, wajar saja jika ia menunjukkan ekspresi seperti itu ketika Elena-san hendak melepaskan sihir kepadanya.


Dan tepat saat Elena-san akan mengaktifkan sihirnya—


"Pembelaan diri... benar! T-tunggu! Elena Endyheart! Dan kalian semua juga! Kalian sedang salah paham terhadap satu hal yang sangat besar!!"


"Salah paham? Kalau itu cuma kebohongan untuk memohon nyawa—"


"B-bukan bohong! Kalau kalian mengambil nyawaku di sini, kalian pasti akan menyesal!!"


Mungkin karena nyawanya sendiri sedang dipertaruhkan, ekspresi dan nada bicara Narcis-san dipenuhi kepanikan.


Ia benar-benar sudah tidak lagi peduli pada harga dirinya.


Lalu Norn-san melangkah maju.


"Oh? Menarik juga. Binatang yang bahkan tidak bisa memahami perkataan orang, yang tadi berusaha membunuh Fin-kun, malah bilang kami pasti akan menyesal kalau membunuhmu... lalu, apa maksudnya?"


Setelah Norn-san mempersilahkannya berbicara, Elena-san menurunkan tangan yang tadi diarahkan kepada Narcis-san.


Narcis-san pun mulai berbicara.


"Pertama-tama, coba pikirkan. Meskipun dia hanyalah rakyat jelata dan murid pelatihan, menurut kalian apakah aku akan memutuskan untuk melenyapkannya sebagai sekutu hanya berdasarkan keputusanku sendiri?"


"Orang yang kalah hanya karena kurang kemampuan lalu menyimpan dendam seperti dirimu? Menurutku sangat mungkin kau memang berpikir begitu."


"Ghk..."


Sesaat Narcis-san mengernyit mendengar perkataan Elena-san. Namun mungkin karena situasinya menyangkut nyawanya, ia berusaha keras menahan amarahnya.


"Aku tidak tahu seberapa jelas pesan yang kalian terima, tetapi bukankah pemandu mengatakan bahwa apa pun hasil pertandingan nanti, aku meminta kalian semua datang ke sini?"


"Itu... memang kami dengar."


Sambil mengingat-ingat, aku menjawab.


Benar. Pemandu itu berkata, "Terlepas dari menang atau kalah, setelah pertandingan selesai ada hal mengenai urusan militer yang ingin dibicarakan, jadi silakan datang ke ruang bawah tanah arena."


"Kalau begitu akan lebih mudah dijelaskan. Artinya, keputusan untuk melenyapkanmu di sini sudah ditentukan sejak sebelum pertandingan dimulai, apa pun hasilnya."


Dengan kata lain, kebenciannya kepadaku memang baru muncul setelah pertarungan. Namun keputusan untuk membunuhku sudah dibuat jauh sebelum perasaan itu muncul.


"Tapi sebelum bertarung denganmu, setidaknya secara pribadi aku tidak punya alasan untuk membunuhmu... lalu, mengapa aku sudah memutuskan untuk melenyapkanmu?"


Sebelum menjawab pertanyaan itu, ia melanjutkan.


"Apakah kalian tahu mengapa dia bisa ditempatkan, meski hanya sementara, ke Pasukan Garis Depan, unit terkuat Kekaisaran Luvankrum?"


"Bukankah karena Fin-kun memang berbakat?"


"Di permukaan memang begitu. Namun kenyataannya tidak demikian... Sejak awal, para petinggi yang memutuskan mengirimnya ke garis depan tidak pernah mengira dia akan bisa bertahan hidup di medan perang yang penuh pertempuran sengit."


"Tidak mengira dia bisa bertahan hidup...? Tapi kalau begitu, kenapa mereka tetap mengirim Fin-kun ke garis depan?"


Pertanyaan yang diajukan Elena-san itu...


Adalah jawaban dari sesuatu yang selama ini kupendam sendirian.


Sesuatu yang selama ini kusimpan karena kupikir hanya akan membuat suasana menjadi suram jika kuceritakan kepada semua orang.


Mendengar pertanyaan itu, Narcis-san yang selama ini terus memasang wajah muram akhirnya mengangkat sudut bibirnya untuk pertama kali.


"Itu karena... mereka ingin menyingkirkannya."


"...Apa?"


Suara Elena-san dipenuhi kebingungan sekaligus kemarahan yang begitu dingin.


"Barusan... apa yang dia katakan...?"


"Tera-kun..."


"Disingkirkan...?"


Semua orang juga mengucapkan hal yang sama dengan tidak percaya.


Sementara mengingat kembali perkataan atasanku, aku mendengarkan kelanjutan ucapan Narcis-san.


"Keberadaan dirinya yang luar biasa meskipun hanya rakyat jelata adalah penghalang bagi kami, para bangsawan... Tentu saja, orang berbakat seperti dia memang akan menjadi kekuatan militer. Namun setelah mempertimbangkan keuntungan dan kerugiannya, para petinggi memutuskan bahwa kerugiannya jauh lebih besar. Dan aku pun sependapat."


"Keberadaan Fin-kun... justru dianggap merugikan...?"


"Kalau sudah sejauh ini, seharusnya kalian sudah mengerti mengapa aku berusaha melenyapkannya, bukan?"


Dengan gerakan yang berlebihan, Narcis-san berkata lantang.


"Karena pembunuhan dirinya adalah perintah langsung dari para petinggi Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum! Mereka menginginkan kematiannya! Bahkan bukan sekadar mati, tetapi mati setelah nama baiknya dihancurkan! Meski sekarang kami tak bisa lagi terlalu memikirkan hal itu! Nah, sekarang kalian mengerti apa yang harus dilakukan sebagai prajurit! Benar... bunuh Fin Teraword, rakyat jelata yang hanya seorang murid pelatihan itu secepatnya—"


"Sudah. Diam."


"Hah...?"


Dengan suara yang sedingin es, Elena-san kembali mengangkat tangannya ke arah Narcis-san.


Sihir mulai terkumpul di telapak tangannya.


Mungkin karena sama sekali tidak menyangka tindakan Elena-san, wajah Narcis-san langsung pucat.


"T-tidak mungkin...! Kau justru akan menyerangku, padahal aku bertindak atas kehendak para petinggi—"


"Sejak awal aku memang tidak suka dengan para petinggi. Tapi kalau mereka benar-benar menganggap Fin-kun sebagai kerugian dan bahkan berniat membunuhnya, maka kesabaranku sudah habis. Karena alasan sekonyol itu, mereka membuat Fin-kun terus menderita selama ini... Aku tidak akan pernah memaafkan mereka."


"Hii...!"


Melihat Elena-san menatap kosong dengan niat membunuh yang begitu jelas, Narcis-san mengeluarkan suara ketakutan.


"Semuanya... sudah setuju, kan?"


Saat Elena-san bertanya, semua orang mengangguk dengan tatapan dan ekspresi yang dingin.


"Ya, Elena-senpai."


"Tak perlu ditanyakan lagi."


"Aku akan membakarnya sampai jadi abu..."


Mendengar jawaban mereka, Elena-san lalu mengalihkan pandangannya kepada Sefia-san dan Norn-san.


Sefia-san membuka mulut dengan tatapan dingin.


"Tentu saja aku juga tidak keberatan... Justru orang-orang yang mencoba melakukan hal seperti itu kepada Fin-san pantas menerima balasan yang setimpal."


Setelah mengangguk mendengar perkataan Sefia-san. Norn-san tersenyum tipis dengan mata yang kosong.


"Balasan yang setimpal, ya? Kira-kira apa yang cocok, ya...? Untuk orang-orang yang mencoba merenggut nyawa Fin-kun, rasanya hukuman apa pun tetap belum cukup."


"......"


Setelah memastikan keputusan mereka berdua.


Terakhir, Elena-san memandangku yang berdiri di sampingnya. Tatapannya sangat hangat.


"Karena tindakan ini, mungkin kita akan menjadi musuh Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum... Tapi bagaimana menurutmu, Fin-kun?"


Apa yang kuinginkan sekarang...


Jawabannya sudah jelas.


"Sejak awal memang tidak pernah ada tempat bagiku di Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum... Dan lebih dari apa pun, aku ingin tetap bersama kalian semua. Jadi, kalau akibatnya aku harus keluar dari militer, aku tidak keberatan... Justru Elena-san dan yang lainnya—"


"Kami juga merasakan hal yang sama denganmu, Fin-kun. Kami ingin terus bersamamu mulai sekarang dan seterusnya... Jadi."


Setelah berkedip sekali, Elena-san kembali memandang Narcis-san. Tatapannya yang hangat seketika berubah kosong lagi.


"Karena itu... kepada siapa pun yang mencoba merenggut nyawa Fin-kun, kami tidak akan pernah menunjukkan belas kasihan."


"Hii...! Hiiii...!"


Dengan suara ketakutan yang belum pernah terdengar sebelumnya, Narcis-san buru-buru berdiri.


Lalu membelakangi kami dan berlari menuju pintu.


"Tunggu, Elena-san."


"...Fin-kun?"


"Orang itu... khusus orang itu, biar aku yang mengakhirinya."


Sambil berkata demikian, aku mengangkat tanganku ke arah punggung Narcis-san yang sedang berlari dan mengumpulkan sihir di telapak tanganku.


Mungkin Elena-san memahami maksudku. 


Ia pun menurunkan tangan yang tadi diarahkan kepada Narcis-san.


"T-tolong—"


Tepat sebelum Narcis-san menyentuh pintu dan sempat menyelesaikan ucapannya.


"Holy Fire."


Dari tanganku terlontar sihir api berkekuatan luar biasa.


"Ugaaaaaaaaaahhh!!"


Ketika asap dan debu akibat kobaran api mulai menghilang, sosok Narcis-san yang tadi memenuhi ruangan dengan jeritannya telah lenyap tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.


◆ ◇ ◆


Markas Besar Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum.


Di ruang rapat, para petinggi militer sedang menunggu dengan tidak sabar kabar dari Narcis. Karena sudah cukup lama sejak Expert Match berakhir, mereka bahkan dengan gembira mendiskusikan pesta untuk merayakan kematian Fin.


Di depan Deandre terbentang lembaran dokumen untuk mengurus persiapan pesta, sementara di tangannya tergenggam sebuah pena yang terus ia gunakan untuk mengisi berbagai keperluan.


"Mohon izin masuk!!"


Di tengah suasana itu, seseorang yang tampaknya adalah utusan dari Narcis memasuki ruang rapat.


Deandre menghentikan penanya, lalu bertanya dengan nada riang.


"Oh, kau akhirnya datang! Bagaimana kematian Fin Teraword?"


Bukan bertanya apakah Narcis berhasil menjalankan rencananya.


Melainkan seolah-olah kematian Fin adalah sesuatu yang sudah pasti terjadi dan tak perlu diragukan lagi.


"Itu... mengenai hal tersebut..."


Utusan itu tampak ragu untuk mengatakannya. Namun beberapa saat kemudian, dengan wajah muram ia akhirnya berbicara.


"Narcis-sama kalah dari Fin Teraword dalam Expert Match... dan kemungkinan besar juga gagal melenyapkan Fin Teraword."


"...Apa?"


Untuk sesaat, keheningan yang berat menyelimuti ruang rapat.


Bagi Deandre dan yang lainnya, kematian Fin sudah merupakan kepastian.


Tidak mungkin keputusan itu bisa berubah.


Setidaknya... seharusnya begitu.


"..."


Tak lama kemudian, gelombang keterkejutan menyapu seluruh ruangan.


Deandre tanpa sadar meremukkan pena di tangannya hingga patah karena genggamannya yang terlalu kuat.


"A-apa yang kau katakan, dasar bodoh!! Menyampaikan laporan palsu adalah pelanggaran disiplin yang sangat serius!!"


"B-benar...!"


"Narcis-kun... kalah dari rakyat jelata..."


"Aku mengerti mengapa kalian terkejut, tetapi ini bukan laporan palsu!"


"Apa katamu...? Kalau begitu, apa maksudmu Narcis benar-benar kalah dari Fin Teraword di Expert Match Turnamen Sihir!?"


Menghadapi teriakan Deandre, sang utusan mulai menjelaskan situasinya.


"Sesuai rencana, kami berhasil memancing Fin Teraword ke arena Turnamen Sihir, dan situasi pertarungan satu lawan satu pun berhasil diciptakan..."


Utusan itu kembali tampak kesulitan mengatakannya.

Namun akhirnya ia membuka mulut.


"Kekuatan Fin Teraword jauh melampaui perkiraan kami... dan Narcis-sama... mengalami kekalahan."


"T-tidak mungkin! Walaupun kepribadiannya memang bermasalah, Narcis adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi! Masa dia kalah dari rakyat jelata yang masih seorang murid pelatihan!?"


"...Benar."


"B-bukankah kali ini kita seharusnya bisa menyingkirkan rakyat jelata itu untuk selamanya...!?"


"S-seharusnya memang begitu... tapi... aku juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi..."


Ashel dan Bouge pun tidak mampu menyembunyikan kegelisahan mereka menghadapi keadaan yang benar-benar di luar dugaan.


Sebagus apa pun Fin, mereka sama sekali tidak pernah membayangkan seorang prajurit berpengalaman seperti Narcis bisa kalah dari seorang murid pelatihan.


"Sialan...! Rakyat jelata itu... terus saja menghalangi kita sampai sejauh ini!!"


Deandre menghentakkan kakinya dengan keras hingga gema suaranya memenuhi ruang rapat.


"S-sekarang... apa yang harus kita lakukan?"


"Y-yang perlu kita pikirkan sekarang bukan lagi hasil pertandingannya, melainkan dampak yang ditimbulkannya, bukan begitu?"


"Tepat sekali! Padahal kali ini kita berniat menjatuhkan rakyat jelata itu sampai ke dasar neraka...!!"


Sambil meluapkan amarahnya, Deandre berkata demikian.


Lalu Ashel membuka mulut.


"Kalau tidak salah, tujuan awal diadakannya Expert Match adalah agar Narcis-kun menang telak di depan banyak penonton, sehingga rumor bahwa Fin Teraword telah mengalahkan komandan pasukan musuh bisa dianggap sebagai kabar bohong, sekaligus semakin memperkuat wibawa kaum bangsawan..."


Rencana mereka adalah menghapus rumor yang kini telah menyebar luas bahwa Fin mengalahkan komandan pasukan musuh dalam duel satu lawan satu, lalu memperkuat kewibawaan para bangsawan.


"Benar, tetapi... kenyataannya Narcis-dono justru kalah..."


Artinya, di depan puluhan ribu penonton, seorang bangsawan dari keluarga marquis, Narcis, dikalahkan oleh rakyat jelata bernama Fin.


"Kalau yang melihat hanya puluhan orang mungkin masih bisa kita bungkam... tapi sialan!!"


Jumlah penonton Turnamen Sihir mencapai puluhan ribu orang.


Kalau hanya puluhan orang seperti yang dikatakan Deandre tadi mungkin masih bisa ditutup-tutupi. Namun terhadap puluhan ribu orang, hal itu sudah mustahil dilakukan.


Tak perlu dikatakan lagi.


Peristiwa ini justru akan membuat nama Fin semakin terkenal.


Semua keuntungan yang mereka harapkan kini berbalik menjadi kerugian bagi mereka sendiri.


"Situasinya menjadi jauh lebih buruk daripada sebelumnya... Kalau kita tidak segera membunuh Fin Teraword lalu mengumumkan kematiannya, maka kita akan..."


"Benar! Pembunuhan!"


Mendengar perkataan Bouge, Deandre seolah teringat sesuatu.


Ia segera menoleh kepada sang utusan.


"Tadi kau bilang Narcis gagal melenyapkan Fin Teraword. Apa maksudnya itu!?"


"Aku juga tidak tahu... Karena Narcis-sama tidak kunjung kembali sesuai waktu yang dijanjikan, kami pergi memeriksa ruang bawah tanah arena. Namun di sana, bukan hanya Narcis-sama, bahkan tidak ada seorang pun yang tersisa... Dari situasi yang ada, kami hanya bisa menyimpulkan bahwa misinya gagal..."


"Tidak ada seorang pun...!?"


"A-apa maksudnya itu?"


"Jangan-jangan saat mencoba membunuh Fin Teraword, mereka justru dibalas dan dikalahkan..."


"T-tidak mungkin! Berbeda dengan Expert Match, rencana pembunuhan kali ini adalah memastikan kemenangan dengan keunggulan jumlah! Lagi pula, kalau Fin benar-benar menyerang pasukan sendiri, Pasukan Garis Depan pasti akan menghukumnya!"


"Tapi kenyataannya Narcis-kun memang tidak ada di sana, bukan? Lalu bagaimana kau menjelaskan hal itu?"


Para petinggi yang sejak awal sama sekali tidak membayangkan Narcis akan kalah ataupun gagal membunuh Fin masih diliputi keterkejutan.


Mereka menjadi sekacau ini belum pernah sebelumnya.


Tak seorang pun mampu menjawab pertanyaan itu.


Saat itulah...


"Apakah tidak mungkin ia melarikan diri karena merasa tidak punya muka lagi untuk menghadap kita setelah gagal menjalankan rencana?"


Untuk pertama kalinya Victoria angkat bicara.


"Hm... kemungkinan itu memang ada..."


"Namun kita tidak bisa langsung menyimpulkannya. Kita harus memastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi."


"Tentu saja aku juga berpikir begitu. Dan saat ini hanya ada satu cara untuk mengetahui kebenarannya."


"Satu cara...?"


"Kunci untuk mengetahui keadaan sekarang adalah memahami maksud sebenarnya dari Pasukan Garis Depan. Begitu kita mengetahui sikap mereka, semua teka-teki yang ada sekarang akan saling terhubung. Karena itu menurutku langkah berikutnya harus berpusat pada hal tersebut."


"Kalau semudah itu tentu kita tidak akan kesulitan. Sekarang kita bahkan tidak tahu apa yang dipikirkan para wanita pembenci pria itu... Mustahil mendekati mereka sembarangan—... tidak, tunggu... begitu rupanya!"


Deandre tiba-tiba menyadari sesuatu, dan semangatnya kembali bangkit.


"Kau adalah salah satu kekuatan tempur terkuat Angkatan Darat Kekaisaran Luvankrum sekaligus anggota Pasukan Garis Depan... berarti!"


"Benar. Kalau aku, aku bisa mendekati mereka tanpa dicurigai, lalu mencari tahu maksud mereka yang sebenarnya."


"Ohh...!"


"Jadi masih ada cara seperti itu..."


Bouge dan Ashel menghela napas kagum.


Lalu Deandre berkata kepada Victoria.


"Baik! Kalau begitu, urusan ini kuserahkan kepadamu."


"Baik. Karena masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, mungkin akan memakan sedikit waktu. Namun sampai aku berhasil menghubungi Pasukan Garis Depan dan mengetahui maksud mereka, tolong pastikan bahkan prajurit berpangkat paling rendah sekalipun tidak bertindak gegabah."


"Tentu. Sampai laporan darimu tiba, kami akan tetap bekerja seperti biasa."


"Terima kasih. Kalau begitu, aku akan segera mulai melakukan persiapan. Permisi."


Setelah berkata demikian, Victoria bangkit dari kursinya lalu keluar dari ruang rapat.


Begitu ia pergi. Suasana muram yang tadi menyelimuti ruangan seolah tidak pernah ada.


Para petinggi kembali mengobrol dengan riang.


"Haha, tadi aku benar-benar mengira kita sudah tamat. Tapi seperti yang diduga, dia memang luar biasa."


"Benar."


Dari cara kerjanya maupun pendapat-pendapat yang selalu ia sampaikan, memang pantas jika di usianya yang masih muda ia sudah menduduki posisi sebagai salah satu petinggi.


"Kalau begitu, untuk sementara kita tetap bertindak seperti biasa?"


"Ya. Kalaupun nanti ada yang perlu dilakukan, itu setelah laporan darinya tiba."


"Begitu ya... Kalau begitu, sementara menunggu, sebaiknya kita tetap melanjutkan persiapan pesta supaya kapan pun Fin Teraword mati, semuanya sudah siap. Ngomong-ngomong soal anggur tua yang kita buka beberapa hari lalu..."


Setelah itu, para petinggi kembali mengobrol dengan gembira mengenai hiburan seperti biasanya.


Tak lama kemudian, rapat pun berakhir dan mereka membubarkan diri.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close