NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 3

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 3

Malam Sebelumnya

Hari ini, sehari sebelum kami berangkat ke kota.


Setelah persiapannya selesai, aku pergi ke hutan berdua bersama Sefia-san untuk menerima bimbingan ilmu pedang.


Latihan mengayunkan pedang dasar, lalu latihan mencabut pedang dari kuda-kuda Gelombang Bilah milik Aliran Pedang Chevalier.


Setelah mengulanginya berkali-kali dan memasuki waktu istirahat, Sefia-san berkata dengan wajah ceria.


"Seperti yang kuduga, Fin-san memang sangat berbakat. Sulit dipercaya kalau selama ini kamu hampir tidak pernah menggunakan pedang."


"Itu karena cara mengajar Sefia-san sangat bagus!"


"Hehe, aku senang mendengarnya. Tapi menurutku, bakat Fin-san juga jelas berperan besar."


"Ah... terima kasih!"


Karena terlalu merendah saat dipuji mungkin juga tidak baik, aku pun mengucapkan terima kasih dan menerima pujiannya.


Bisa mendapat pengakuan seperti itu dari Sefia-san, yang begitu serius menekuni ilmu pedang dan juga merupakan salah satu kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum, benar-benar membuatku senang.


"Jika kau bisa terus mengayunkan dan mencabut pedang seperti tadi, kemampuan bertarungmu di medan tempur pasti akan semakin luas. Fin-san juga sudah sangat cepat menguasai cara menyalurkan mana ke pedang. Setelah aku mengajarkan cara menyalurkan mana pada Gelombang Bilah, dan kau berhasil menjadikannya sebagai kemampuanmu sendiri... maka kau resmi akan menjadi penerus Aliran Pedang Chevalier."


"P-penerus..."


Aku masih belum bisa mencabut pedang secepat Sefia-san.


Dan sambil memusatkan perhatian untuk mengalirkan mana, aku juga belum tahu seberapa akurat aku bisa mengayunkan pedang.


Tetapi memang benar, jika seseorang berhasil menguasai bahkan satu teknik dari suatu aliran, berarti ia telah menjadi penerus aliran tersebut.


Saat memikirkan itu, sebuah pertanyaan muncul di benakku.


"Maaf kalau ini terdengar lancang. Aku tidak terlalu paham dunia ilmu pedang, jadi aku juga tidak tahu seberapa terkenal Aliran Pedang Chevalier... Saat ini, sebenarnya ada berapa orang yang menjadi murid aliran ini?"


"Aliran Pedang Chevalier telah diwariskan turun-temurun hanya dalam keluarga Chevalier. Karena itu, jumlah orang yang masih hidup dan telah menguasainya sekarang bahkan bisa dihitung dengan jari satu tangan."


"Eh...!?"


Kalau keluarga Chevalier... berarti itu keluarga Sefia-san, kan...?


"J-jadi... tidak apa-apakah mengajarkan sesuatu yang sepenting itu kepadaku, meski baru sedikit...?"


"Tentu saja. Jika Fin-san ingin menjadi lebih kuat, tidak ada alasan bagiku untuk tidak membantumu... Lagi pula, mengajarkan Aliran Pedang Chevalier kepada orang di luar keluarga Chevalier, terlebih lagi kepada lawan jenis, konon memiliki makna yang sedikit istimewa..."


Sefia-san yang hendak mengatakan sesuatu tiba-tiba memerah, lalu berkata dengan malu-malu.


"T-tidak, maaf. Tolong lupakan saja apa yang barusan hendak kukatakan."


"Baik."


Meski merasa sedikit penasaran, aku mengangguk. Lalu Sefia-san seolah mengganti topik pembicaraan.


"Mulai besok kita akan pergi ke kota bersama semua orang."


"Benar."


"...Saat di sana nanti, bagaimana kalau di suatu kesempatan kita pergi bersama ke toko perlengkapan senjata untuk memilih pedang yang cocok untuk Fin-san?"


"P-pedang untukku...!? B-benarkah boleh...!?"


"Iya."


"Terima kasih banyak...! Aku juga benar-benar ingin begitu!"


Mendengar jawabanku, Sefia-san tersenyum lembut.


Dia sudah bersedia mengajariku ilmu pedang, dan sekarang bahkan ingin membantuku memilih pedang....


Tentu saja aku harus menjadi lebih kuat agar bisa melindungi semua orang. Selain itu, aku juga ingin membalas kebaikannya dengan cara lain.


Sambil memikirkan hal itu, aku kembali memusatkan perhatian pada latihan di hadapanku.


Setelah itu, aku terus menerima bimbingan ilmu pedang dari Sefia-san. 


Dan kemudian──


"Fin-san, terima kasih atas kerja kerasmu hari ini. Hari ini tidak ada latihan lagi, jadi beristirahatlah dengan tenang agar siap menjalani kehidupan di kota mulai besok."


"Ya! Terima kasih banyak atas bimbingannya hari ini!"


Karena besok kami akan berangkat ke kota, latihan ilmu pedang selesai lebih cepat dari biasanya. 


Namun, kini ada satu lagi hal yang membuatku semakin menantikan perjalanan ke kota.


Setelah latihan selesai, aku kembali ke kamarku.


Seperti biasa, aku merangkum semua yang kupelajari ke dalam buku catatan.


"Buku catatan ini juga sudah mulai terisi cukup banyak halaman."


"...Benar juga. Kalau pergi ke kota, aku harus membeli persediaan buku catatan juga."


Mengingat biasanya aku berada di garis depan, mungkin sebaiknya membeli dalam jumlah lebih banyak.


"......"


Saat kubuka kembali beberapa halamannya, di sana tertulis begitu banyak hal yang kupelajari dari semua orang.


Bersamaan dengan itu, berbagai kenangan bersama mereka di garis depan pun kembali terlintas di benakku.


"Orang-orang... yang sangat berharga bagiku."


Saat ini aku memang masih terus belajar dari mereka.


Tapi suatu hari nanti... pasti──


"Aku... akan melindungi kalian semua."


Di depan buku catatan yang telah menyimpan semua pelajaran dan kenangan itu, aku mengucapkan sumpah tersebut dalam hati.


Tanpa kusadari, hari sudah malam.


Aku pun membawa pakaian ganti dan keluar dari kamar.


"!? "


Saat itu juga.


Tiba-tiba pandanganku menjadi gelap, lalu di punggungku terasa dua benda besar, lembut, namun kenyal menempel.


S-sensasi ini... dada seorang wanita!?


Saat aku kebingungan dalam sekejap, terdengar suara manis dari belakangku.


"Ini adalah sensasi payudara Onee-san. Jadi ingat baik-baik, ya."


"Eh!? S-suara itu... Norn-san!?"


"Benar~"


Bersamaan dengan itu, pandanganku kembali terang.


Saat aku menoleh ke belakang, di sana berdiri Norn-san.


"Yah, ini memang pertama kalinya Onee-san menempelkan payudaraku ke punggung Fin-kun. Mulai sekarang, setidaknya hanya dari sensasinya saja semoga kau bisa langsung tahu kalau itu Onee-san~"


"I-i-itu..."


Ditambah sensasi yang baru saja kurasakan, topik pembicaraan ini sendiri sudah membuatku malu.


Wajahku memanas hingga sulit berkata-kata.


Melihat reaksiku, Norn-san tersenyum jahil.


"Aku sebenarnya ingin terus melihat reaksi lucu Fin-kun seperti ini, tapi hari ini aku datang bukan untuk itu. Jadi kita sudahi dulu pembicaraan soal payudara..."


Lalu ia melanjutkan.


"Hari ini ada sesuatu yang ingin kutanyakan pada Fin-kun. Boleh?"


"Y-ya. Apa itu?"


Aku pun mengalihkan pikiranku dan balik bertanya.


Norn-san kemudian berkata dengan ekspresi yang jarang sekali kulihat, begitu serius.


"Fin-kun... apa pendapatmu tentang petinggi Tentara Kekaisaran Luvankrum?"


"Eh...!?"


Aku tak bisa menyembunyikan keterkejutanku mendengar pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga.


Apa pendapatku tentang para petinggi Tentara Kekaisaran Luvankrum....


Kalau pertanyaan itu diajukan sebelum aku diputuskan untuk dikirim ke garis depan, mungkin aku sama sekali tidak akan memiliki kesan buruk terhadap mereka.


Namun sekarang....


"Kalau harus jujur, karena suatu kejadian, aku memang memiliki kesan yang kurang baik terhadap para petinggi."


"......"


Yang kumaksud dengan "suatu kejadian" tentu saja saat diputuskan bahwa aku akan dikirim ke garis depan.


Saat itu, atasanku menghujaniku dengan berbagai hinaan hanya karena aku berasal dari kalangan rakyat biasa. Bahkan dia mengatakan bahwa alasan aku dikirim ke garis depan adalah agar aku mati.


Padahal selama ini aku selalu berusaha keras demi melindungi negara. Namun justru orang-orang yang seharusnya menjadi sekutuku menginginkan kematianku.


Itu benar-benar menyakitkan.


Sekalipun semua itu demi negara ini, aku tetap tidak bisa memiliki kesan yang baik terhadap para petinggi.


"Sampai sekarang pun, perasaanku tentang itu tidak berubah, tapi──"


Aku menatap mata Norn-san dan melanjutkan.


"Waktu itu Norn-san mau mendengarkan keluh kesahku, lalu semua orang juga menerima kehadiranku lagi... berkat itu, sekarang aku hampir tidak lagi memikirkan hal tersebut!"


Bahkan sekarang saat membicarakan para petinggi pun, aku tidak lagi teringat kata-kata atasanku hingga merasa sesak seperti dulu.


Itu sendiri sudah menjadi bukti yang paling nyata.


Diriku yang sekarang benar-benar lahir berkat kebaikan semua orang.


Mendengar jawabanku, mata Norn-san membelalak, lalu ia berkata dengan suara lembut.


"Begitu ya... kalau begitu, ternyata usahaku mendengarkan curhatanmu waktu itu tidak sia-sia. Kalau nanti ada masalah lagi, apa pun itu, kau selalu boleh berkonsultasi dengan Onee-san lho."


"Norn-san... terima kasih. Norn-san benar-benar orang yang baik."


"Eh? Baik...? Aku?"


Norn-san tampak kebingungan, tetapi aku langsung mengangguk.


"Iya."


"...Begitu ya."


Norn-san merendahkan suaranya, seolah sedang memikirkan sesuatu.


Namun aku sama sekali tidak ragu dengan penilaianku. Walaupun biasanya dia sulit ditebak, yang menjadi dasar dari semua tindakannya pasti adalah kebaikan.


Sambil mengingat semua waktu yang telah kami lalui bersama dan semakin yakin akan hal itu....


"Ngomong-ngomong, mulai besok akhirnya kita akan menjalani kehidupan di kota, ya~"


Setelah mengobrol sebentar lagi dengan Norn-san, aku pun menuju kamar mandi seorang diri.


◆ ◇ ◆


Meninggalkan depan kamar Fin, Norn menaiki tangga spiral dan memasuki kamarnya.


"...Aku... baik hati."


Sambil menggumamkan kata-kata yang diucapkan Fin kepadanya, ia meletakkan tangannya di dada.


"Benar-benar... bahkan Onee-san pun tidak bisa mengalahkan Fin-kun."


Norn tidak pernah merasa senang meski dipuji oleh pria selain Fin. Namun, dipuji karena penampilannya oleh lawan jenis sudah sering ia alami.


Bahkan, selama ini belum pernah sekalipun sihir pesonanya tidak berhasil terhadap pria selain Fin, sehingga ia cukup percaya diri dengan penampilannya.


Tetapi, hampir tidak pernah ada yang mengatakan bahwa dirinya baik hati.


Kalaupun pernah, itu hanya dari sesama anggota pasukan garis depan. Setidaknya, selain Fin, belum pernah ada pria yang mengatakan hal seperti itu kepadanya.


Namun Fin mengatakan bahwa Norn baik hati, seolah itu adalah sesuatu yang sudah jelas.


Karena Fin sendiri adalah orang yang paling baik hati.


"...Hanya karena dibilang baik hati saja hatiku bisa terguncang. Kalau yang mengatakannya bukan Fin-kun, rasanya mustahil... tapi kalau dia mengatakannya dengan tatapan setulus itu, ya tidak bisa disalahkan."


Semakin sering berbicara dengan Fin, semakin dalam pula pesonanya terlihat.


"Anak laki-laki yang begitu baik hati itu..."


Tadi ia masih menahan diri karena Fin ada di sana.


Namun sekarang, jika mengingat semua yang telah terjadi hingga percakapan tadi, sudah sangat jelas bahwa para petinggi menyimpan niat buruk terhadap Fin dan bahkan telah mengirim pembunuh untuk menghabisinya.


Tatapan mata Norn berubah kosong. Niat membunuh yang meluap membuat mana yang sangat kuat memancar dari tubuhnya.


"Sampai Fin-kun yang sebaik itu saja berkata bahwa dia punya kesan buruk terhadap mereka... berarti mereka benar-benar sudah melakukan sesuatu yang sangat keterlaluan, ya.... Apa sebaiknya sekarang juga kubuat mereka mengingat bahwa mereka hanyalah binatang yang bahkan lebih rendah dari manusia, lalu kuhancurkan semuanya?"


Saat bergumam demikian, Norn teringat bahwa beberapa bulan yang lalu, seseorang pernah berkata akan kembali ke markas besar Tentara Kekaisaran Luvankrum demi menjalankan suatu rencana.


Ia tidak tahu isi rencana tersebut, tetapi mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk bertindak sesuka hati.


"Mungkin untuk sekarang, cukup mengingatkan semuanya agar tetap waspada meski sedang berada di dalam kota."


Saat semua orang mengetahui niat sebenarnya para petinggi...


Saat itulah pasukan garis depan ini akan mengalami titik balik yang besar.


Seorang diri, Norn merasakan firasat yang nyaris seperti sebuah kepastian.


◆ ◇ ◆


Setelah selesai mandi dan kembali ke depan kamarku.


"Ah! Fin-kun!"


Di sana, Elena-san sedang bersandar di pintu kamarku.


"Elena-san, ada apa?"


"Bukan ada urusan penting sih... tapi mulai besok kita akan meninggalkan garis depan ini untuk sementara waktu. Jadi malam ini aku ingin menghabiskan waktu bersama Fin-kun.... Boleh, kan?"


Melihat Elena-san bertanya dengan wajah cemas, aku buru-buru menggeleng.


"T-tidak! Tentu saja boleh!"


"Syukurlah! Kalau begitu, bagaimana kalau malam ini kita pergi ke puncak menara untuk mengobrol?"


"Puncak... maksudnya puncak markas garis depan ini?"


"Iya! Waktu aku mengajakmu berkeliling dulu, aku cuma memperkenalkan tempatnya saja, tapi pemandangannya benar-benar indah!"


"Begitu ya.... Kalau begitu, ayo kita ke sana!"


"Makasih!"


Kami pun berjalan menyusuri lorong dan menaiki tangga spiral.


Tak lama kemudian, kami tiba di puncak menara yang menjadi markas garis depan ini.


"...!"


Begitu melihat pemandangan dari sana, tanpa sadar aku menahan napas.


Langit malam yang gelap dipenuhi bintang-bintang yang berkilauan. Dan di bawah cahaya bintang-bintang itu, terbentang daratan dan alam sejauh mata memandang.


"Seperti yang Elena-san katakan, benar-benar indah!"


"Iya, kan! Aku senang Fin-kun menyukainya!"


Dengan wajah ceria, Elena-san terus memandangi pemandangan itu sambil berkata,


"Kita memang tidak bisa melihat pemandangan ini untuk sementara waktu, tapi akhir-akhir ini banyak sekali yang terjadi, baik pertempuran maupun hal lainnya. Semoga kehidupan kita di kota mulai besok bisa menjadi kesempatan untuk bersantai."


"Iya! Selama ini aku belum pernah menghabiskan waktu bersama semuanya di luar garis depan, jadi aku benar-benar tidak sabar ingin tahu seperti apa rasanya!"


"Aku juga senang sekali akhirnya bisa pergi ke kota bersama Fin-kun!"


Setelah itu, kami mengobrol santai tentang kehidupan di kota yang akan dimulai besok, sesekali diselingi pembicaraan ringan.


◆ ◇ ◆


"──Ngomong-ngomong soal pertempuran akhir-akhir ini, Fin-kun benar-benar hebat!"


Saat mengobrol dengan Fin, Elena tiba-tiba teringat sesuatu dan mengatakannya.


"B-benarkah...?"


Karena Fin memiringkan kepala dengan bingung, Elena mengangguk.


"Iya! Kau benar-benar mendominasi komandan musuh. Sulit dipercaya kalau kau masih seorang murid pelatihan!"


Mungkin karena dipuji secara terus terang oleh Elena, Fin tampak sedikit malu.


"Ah... terima kasih...."


Namun di saat yang sama, ia juga tampak sedikit senang saat mengucapkan terima kasih.


Sambil merasa tingkah Fin begitu menggemaskan, Elena memandang hamparan pemandangan di depan mereka.


"Kalau sekarang saja kau sudah sehebat ini padahal masih murid pelatihan, aku jadi penasaran seberapa hebat Fin-kun di masa depan nanti."


Sebenarnya itu hanya ucapan spontan.


"..."


Namun Elena merasakan suasana di sekitar mereka sedikit berubah, sehingga ia menoleh ke arah Fin.


Fin pun membuka mulutnya.


"Sekarang aku sama sekali belum bisa dibilang hebat...."


Lalu ia mendongak menatap langit malam, membiarkan cahaya bintang-bintang terpantul di matanya.


"Aku pasti akan menjadi cukup kuat untuk melindungi Elena-san dan semuanya."


Tekad yang begitu kuat dalam kata-kata itu, serta profil wajah Fin saat mengucapkannya, membuat Elena tanpa sadar terpaku.


(Fin-kun yang paling baik hati, yang biasanya begitu imut... sesekali memperlihatkan wajah seorang pria....)


Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah itu.


Sejak pertama kali bertemu, Elena memang sudah merasa Fin begitu menarik. Dan seiring waktu yang mereka habiskan bersama, perasaan itu semakin dalam──


"Elena-san...? Ada apa...?"


"Eh...!?"


Karena Elena terus menatap wajah Fin tanpa bergerak sedikit pun, Fin tampaknya merasa heran.


Saat Fin mencondongkan wajahnya untuk mengintip wajah Elena, Elena buru-buru menyembunyikan perasaannya sambil memerah.


"T-tidak! Tidak ada apa-apa!"


"Benarkah...?"


"I-iya! Benar!"


Karena Fin mendekat, jarak wajah mereka pun menjadi sangat dekat, membuat jantung Elena berdetak semakin cepat.


"Syukurlah!"


Namun setelah Fin menjauh sambil tersenyum lega, Elena akhirnya bisa kembali tenang. Lalu setelah hening sejenak, ia menatap mata Fin dan berkata dengan suara lembut.


"Fin-kun. Aku senang kau ingin melindungi kami semua. Tapi sama seperti itu, aku juga ingin melindungi Fin-kun.... Jadi, kalau suatu saat nanti kau merasa kesulitan atau menderita, jangan pernah lupakan hal itu, ya."


"Elena-san... baik! Aku mengerti!"


Melihat Fin mengangguk, Elena tersenyum.


Sambil meregangkan kedua lengannya, ia berkata,


"Kalau begitu, besok kita harus pergi ke kota dan harus bangun pagi, jadi sebaiknya kita tidur sekarang!"


"Iya!"


Setelah itu, kami berdua meninggalkan puncak markas garis depan dan menuruni tangga spiral bersama.


"Selamat malam, Fin-kun!"


"Selamat malam, Elena-san!"


Setelah saling mengucapkan selamat malam, kami pun kembali ke kamar masing-masing.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close