NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 4

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 4

Jalan-Jalan

Keesokan harinya.


Hari ini akhirnya tiba, hari ketika kami meninggalkan garis depan dan pergi berjalan-jalan ke kota.


Karena itu, aku bangun sedikit lebih pagi dari biasanya.


Setelah bersiap-siap dan membawa semua barang yang telah kusiapkan sejak kemarin untuk pergi ke kota, aku keluar dari kamar, lalu langsung menuju ke luar markas garis depan agar tiba tepat waktu di tempat berkumpul.


Tak lama kemudian, semua orang juga mulai berdatangan keluar dari markas garis depan.


Saat waktu berkumpul tiba, Elena-san berkata dengan suara lantang.


"Baik! Sekarang semuanya sudah lengkap! Kalau begitu, kita langsung berangkat menuju kota. Ada yang ketinggalan barang?"


"Sudah siap!"


"Semuanya lengkap!"


"Tidak ada masalah!"


"Aku juga!"


Sepertinya tidak ada seorang pun yang melupakan barang bawaan. Begitu pula denganku.


Aku membawa buku sihir agar bisa belajar kapan saja. Selain itu, aku juga membawa buku catatan dan pena yang selalu kugunakan untuk mencatat semua yang kupelajari.


Bisa dibilang, persiapanku benar-benar sempurna.


"Baiklah! Yah, berbeda dengan di garis depan, kalau ada yang tertinggal, di kota masih ada toko. Jadi paling tidak pasti bisa diatasi... kalau begitu."


Setelah mengangguk, Elena-san membalikkan tubuhnya menghadap markas garis depan.


"Penghalang."


Sambil mengulurkan tangan, ia memasang sihir penghalang yang menyelimuti seluruh markas garis depan yang berbentuk menara itu.


Melihatnya, semua orang pun mengikuti.


"Penghalang."


Mereka juga memasang sihir yang sama di seluruh markas.


"Dengan begini, bukan hanya musuh, bahkan prajurit Tentara Kekaisaran Luvankrum pun tidak akan bisa masuk ke markas kita. Jadi kita bisa meninggalkannya dengan tenang."


Benar juga. Rasanya hampir tidak mungkin ada orang yang mampu menghancurkan penghalang yang dipasang oleh para anggota pasukan terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum ini.


Atau lebih tepatnya....


"Memasang sihir penghalang yang melindungi bangunan sebesar ini... kalian benar-benar luar biasa!!"


"E-eh? Benarkah?"


"Iya! Kalian sudah sangat hebat dalam bertarung, tapi sihir penghalang untuk bangunan yang jarang digunakan di garis depan ini pun bisa kalian gunakan bersama-sama tanpa saling mengganggu, bahkan bisa menumpuknya dengan sempurna.... Benar-benar luar biasa!!"


"Tera-kun mulai memuji habis-habisan lagi...!"


"Lucunya kebangetan...!"


"Kira-kira nanti di kota kita bakal lihat sisi imut baru Teraword-kun lagi nggak ya...?"


"Sekarang aja udah selucu ini, kalau lebih dari ini bahaya, kan...!?"


"Aku... bisa hidup sampai kita pulang lagi ke sini nggak ya...."


Entah kenapa semua orang langsung ribut setelah mendengar perkataanku.


"Kalau begitu, keamanan markas sudah terjamin, jadi ayo kita mulai berangkat menuju kota~!"


Tak lama kemudian, mengikuti aba-aba Elena-san, kami pun mulai berjalan menuju kota.


◆ ◇ ◆


Markas Besar Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Di salah satu ruangan, Narcis sedang merapikan rambutnya di depan cermin.


Seperti biasa, rambutnya disisir menyamping.


"Hari ini akhirnya tiba juga... hari ketika rakyat jelata itu, Fin Teraword... dan para wanita pasukan garis depan yang kabarnya sangat cantik, akan datang ke kota."


Setelah selesai merapikan penampilannya, Narcis bergumam seorang diri. Namun, kalau ditanya apakah ia merasa gugup, jawabannya sama sekali tidak.


Sebaliknya, yang memenuhi hatinya adalah kegembiraan karena akhirnya rencana untuk membunuh Fin bisa mulai dijalankan.


Ditambah lagi, ia juga senang karena akan mendapat kesempatan bertemu dengan para wanita cantik yang selama ini hanya menjadi bahan rumor.


Dan──


"Namun, hari seperti apa pun, keanggunanku tetap tidak pernah berubah... hmph."


Meski rambutnya sudah rapi, Narcis kembali menyisirnya ke samping sambil menatap cermin.


"Aku belum tahu secantik apa para wanita pasukan garis depan itu. Tapi kalau mereka secantik wanita yang berada di jajaran petinggi itu, mungkin akan kuajak makan malam.... Ah, tapi ini masalah. Kalau aku mengajak satu orang, kemungkinan besar wanita-wanita lain dari pasukan garis depan juga akan ingin makan malam bersamaku.... Sungguh merepotkan! Apakah ini memang takdir seorang pria yang begitu anggun!?"


Saat ia sedang memegangi kepala karena kebingungan, terdengar suara ketukan di pintu.


Tak lama kemudian, suara bawahannya terdengar.


"Persiapan rapat sudah selesai!"


"Kerja bagus. Aku akan segera ke sana."


Narcis pun berhenti memegangi kepalanya dan berjalan menyusuri lorong markas bersama bawahannya.


Tujuannya adalah Ruang Operasi Pertama.


Begitu membuka pintunya, di dalam sudah ada para prajurit bawahannya dan beberapa pelayan.


Sambil melihat mereka memberi hormat, Narcis duduk di kursinya.


"Kalian pasti sudah menerima pemberitahuannya. Kali ini aku dipercaya memegang peran penting dalam rencana pembunuhan Fin Teraword yang dipimpin oleh para petinggi. Memilihku untuk tugas sebesar ini... seperti yang diduga, para petinggi memang memiliki mata yang tajam. Bukankah begitu?"


"B-benar!"


"Hmph, tentu saja."


Narcis mengangguk puas mendengar jawaban bawahannya sambil memainkan poni rambutnya.


"Hidupku sendiri sebenarnya cukup menyedihkan.... Aku sering bertanya-tanya, mengapa aku bisa begitu sempurna dalam penampilan, garis keturunan, bahkan kemampuan."


Para bawahannya tampak bingung harus bereaksi seperti apa, tetapi tak seorang pun membantah.


Bukan hanya karena Narcis adalah atasan mereka, tetapi juga karena ia memang memiliki kemampuan yang nyata.


"Misi ini sangat rahasia. Meski Fin Teraword hanyalah rakyat jelata, tetap saja dia adalah sekutu kita. Kalau sampai tersebar bahwa kita sendiri yang membunuhnya, akibatnya akan sangat besar."


"Kalau begitu... apakah kita akan menggunakan pembunuh bayaran?"


"Tidak. Itu hanya tahap terakhir. Sebelum sampai ke tahap itu, aku harus menyelesaikan tugas yang pantas untukku, dengan cara yang mencolok dan anggun."


"M-mencolok?"


Baru saja mengatakan bahwa kerahasiaan itu penting, tetapi sekarang justru mengatakan harus mencolok.


Karena merasa kedua hal itu saling bertentangan, bawahannya pun kebingungan.


"Dengan mencolok... dan anggun."


Seolah kata "anggun" jauh lebih penting baginya, Narcis menambahkan penekanan itu. Lalu ia melanjutkan.


"Tentu saja kita tidak bisa membunuhnya secara terang-terangan.... Tapi kita bisa mengalahkannya. Para petinggi rupanya tidak senang karena sekarang mulai beredar rumor yang mengakui kemampuan Fin. Dan tentu saja, aku juga merasakan hal yang sama."


Kemudian ia menambahkan.


"Kalau kita diam-diam membunuhnya tanpa ada yang tahu, mungkin akan muncul orang-orang yang berani melawan kita."


"J-jadi maksud Anda...."


"Benar. Di panggung besar, secara mencolok dan anggun, aku sendiri akan mengalahkannya dengan kekuatanku. Dengan begitu, rumor itu akan hancur."


Kalau hanya menyebarkan kabar bahwa semua itu adalah berita palsu, belum tentu orang akan mempercayainya.


Namun jika banyak orang melihat Fin kalah telak tanpa mampu melawan Narcis sedikit pun, maka semua akan menganggap rumor itu hanyalah rumor belaka, dan kabar bahwa Fin mengalahkan komandan musuh hanyalah berita palsu.


"Dengan begitu, nama besarnya akan lenyap, sementara namaku akan semakin harum...."


Kalau berhasil, tidak ada ruginya sama sekali. Dan menurut Narcis, kegagalan bahkan tidak mungkin terjadi.


"Selain itu, setelah mengalahkannya, aku juga bisa mendidik para wanita cantik dari pasukan garis depan hingga tunduk, lalu menambahkan mereka ke dalam koleksiku."


Yang dimaksud "koleksi" adalah menjadikan para wanita pasukan garis depan sebagai selir-selir barunya.


"Hmph. Rencana yang benar-benar sempurna, dan sangat pantas dijalankan olehku."


Setelah berkata demikian, ia kembali menyisir rambutnya ke samping meski sebenarnya sudah rapi.


Kemudian Narcis mulai menjelaskan rincian rencana kepada para bawahannya.


Setelah semuanya selesai dijelaskan, ia menyesap teh.


"......"


Begitu teh itu melewati tenggorokannya, Narcis langsung melempar cangkirnya ke lantai.


Suara pecahannya bergema di Ruang Operasi Pertama.


"Buruk sekali. Siapa yang menyeduh teh ini?"


"S-saya... m-maafkan saya, Narsis-sama...."


Salah seorang pelayan segera meminta maaf.


Narcis menghela napas.


"Benar-benar... dasar rakyat jelata. Bahkan menyeduh secangkir teh saja tidak becus. Sebenarnya aku ingin langsung menghukummu sekarang juga, tapi──"


Untungnya, kini sudah ada sebuah misi yang akan menjadi tempat sempurna untuk melampiaskan seluruh kekesalannya terhadap rakyat jelata.


Tentu saja, misi itu adalah pembunuhan Fin Teraword.


Lebih dari sekadar melampiaskan amarah, jika Narcis berhasil menyelesaikan tugas ini, ia sudah dijanjikan kenaikan pangkat.


Bahkan bukan tidak mungkin, setelah misi ini selesai, ia akan diangkat menjadi salah satu kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Membayangkan hal itu saja membuat sudut bibirnya tak mampu berhenti terangkat.


Karena ingin memusatkan perhatian pada misi itu, ia menyingkirkan dulu amarahnya kepada sang pelayan.


"Fin Teraword... menarilah sepuasnya sebagai badut yang akan membuatku semakin bersinar."


Sambil bergumam demikian, senyum Narcis semakin lebar, disusul tawa yang keluar dari mulutnya.


◆ ◇ ◆


Kami terus berjalan menuju kota hingga akhirnya tiba di daerah yang sudah bisa disebut pinggiran kota.


Saat dulu menaiki kereta menuju garis depan, hatiku dipenuhi kecemasan. Namun sekarang, ketika kembali menuju kota, aku justru merasa begitu bahagia.


Sekali lagi aku menyadari betapa bersyukurnya aku kepada semua orang.


...Ngomong-ngomong.


"Selama ini aku terlalu menikmati waktu bersama kalian semua sampai tidak terlalu memikirkannya, tapi... selain Elena-san, Sefia-san, dan Norn-san, masih ada satu orang lagi yang termasuk kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum, dan dia juga anggota pasukan ini, bukan?"


"Iya."


"Tiba-tiba aku jadi penasaran... orang seperti apa dia?"


Saat aku bertanya kepada Elena-san, Sefia-san, dan Norn-san yang berada di dekatku, Sefia-san menjawab.


"Dia itu adalah wanita yang sangat cerdas dan serius. Biasanya juga sangat tenang. Terutama dalam hal membuat rencana, mungkin tidak ada seorang pun yang bisa menandinginya."


Kemampuan membuat rencana....


Dalam pikiranku, Sefia-san sendiri sudah sangat serius dan tenang. Kalau sampai Sefia-san berkata sejauh itu, pasti orang tersebut memang luar biasa.


Saat aku memikirkannya, Elena-san ikut berbicara.


"Selain itu, seperti yang Fin-kun tahu, kami sebisa mungkin tidak ingin berhubungan dengan pria. Nah, orang yang sedang kita bicarakan ini jauh lebih ekstrem lagi."


"Lebih ekstrem...."


"Aku juga tidak tahu detailnya, tapi katanya sejak dulu hatinya sudah diberikan kepada seorang laki-laki. Jadi selain laki-laki itu, dia sama sekali tidak ingin berhubungan dengan pria lain, tidak peduli bagaimana kepribadiannya."


"Waktu dia tiba-tiba bilang mau kembali ke markas besar tentara, kami juga kaget. Katanya demi suatu rencana penting. Tapi aku penasaran, apa dia benar-benar bisa menjalankan rencananya dengan tenang di markas yang penuh laki-laki itu ya~"


...Kalau begitu.


Kalau kusimpulkan informasi tentang anggota terakhir yang merupakan kekuatan tempur terkuat Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Dia adalah seorang wanita. Sangat cerdas. Serius. Pandai menyusun rencana. Dan tidak ingin berhubungan dengan pria selain pria yang telah ia pilih di dalam hatinya.


Kalau begitu....


Kalau dia kembali ke pasukan garis depan ini....mungkin saja... dia tidak akan mengakuiku sebagai anggota pasukan ini?


"..."


Mungkin rasa cemas itu terlihat jelas di wajahku.


Begitu melihat ekspresiku, Elena-san buru-buru berkata,


"Tapi tenang saja! Dia bukan tipe yang langsung menyerang hanya karena lawannya laki-laki. Lagi pula kami semua akan berusaha menunjukkan padanya betapa hebatnya Fin-kun, jadi tidak perlu khawatir!"


"Benar. Walaupun dia jarang menunjukkannya, sebenarnya dia berhati baik. Aku yakin dia juga pasti akan menerima Fin-san."


"Iya, iya. Dan kalau nanti tetap ada masalah, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan Onee-san kapan saja, ya?"


"Semuanya... terima kasih!"


Benar juga. Aku memang belum pernah bertemu dengannya, jadi belum tahu orang seperti apa dia. Tapi dia adalah salah satu anggota pasukan garis depan yang dipenuhi orang-orang baik hati ini. Sudah pasti dia juga orang yang baik.


Tidak ada alasan bagiku untuk merasa cemas.


Begitu memikirkannya, di samping kegembiraanku karena akan menghabiskan waktu di kota bersama semua orang, kini muncul satu hal lagi yang kutunggu-tunggu.


Aku ingin bertemu dengannya.


Aku benar-benar penasaran... orang seperti apa dia.


Setelah itu, kami terus mengobrol sambil berjalan. Tanpa terasa, kami pun tiba di gerbang kota.


Seorang penjaga gerbang segera memberi hormat.


"Pasukan Garis Depan, kami telah menunggu kedatangan kalian! Silakan masuk!"


Kami pun memasuki kota.


Di hadapanku terbentang deretan bangunan yang terbuat dari batu dan bata.


Bahkan dari sini saja sudah terlihat kawasan yang dipenuhi kios-kios begitu ramai, sementara bagian kota lainnya pun tampak cukup ramai dengan lalu lalang orang.


Meskipun sama-sama disebut kota, tempat yang biasa kutinggali adalah ibu kota kekaisaran, tempat markas besar militer berada.


Sedangkan tempat ini bisa dibilang merupakan pintu masuk menuju ibu kota. Karena berbeda dari tempat yang biasa kutinggali, rasanya sangat menyegarkan.


"Wah~! Sudah lama sekali ya kita tidak datang ke kota~!"


"Memang ya, kota adalah tempat yang begitu damai dan ramai."


"Iya, tidak seperti di garis depan. Rasanya benar-benar tenteram~"


...Benar juga.


Aku hanya merasa segar karena datang ke bagian kota yang berbeda dari tempatku biasa tinggal.


Tetapi bagi mereka, bahkan datang ke kota itu sendiri sudah merupakan hal yang sudah lama tidak mereka rasakan.


Karena mereka terus berada di garis depan demi melindungi negara ini.


"......"


Selama ini aku memang merasa sudah memahami hal itu. Namun sekali lagi kusadari, betapa besarnya jasa mereka bagi negara ini.


Karena itu, selama berada di kota ini, aku ingin mereka bisa beristirahat sebanyak mungkin dan menikmati waktunya sepenuhnya....


Sambil memikirkan hal tersebut, aku terus berjalan bersama mereka.


Tak lama kemudian, Elena-san berhenti di depan sebuah penginapan yang tampak indah dan luas.


"Aku masuk dulu untuk menanyakan apakah masih ada kamar kosong. Kalian tunggu di sini dulu, ya!"


"Baik~"


"Mengerti!"


"Siap!"


Setelah kami semua, termasuk aku, menjawab, Elena-san masuk sendirian ke dalam penginapan.


Beberapa saat kemudian, ia kembali keluar.


"Elena-senpai! Bagaimana hasilnya?"


"Beberapa hari lagi akan ada Turnamen Sihir, jadi sekarang tamunya sedang sedikit. Mereka bilang kalau untuk jumlah kita, kamarnya masih pas tersedia!"


Mendengar itu, semua orang bersorak gembira.


Turnamen Sihir....


Benar juga, ternyata sudah memasuki musim itu.


Turnamen Sihir adalah kompetisi yang diadakan setahun sekali oleh Kekaisaran Luvankrum, di mana para peserta bertanding menggunakan sihir semata.


Jika mampu menunjukkan kemampuan di sana, seseorang bisa memperoleh berbagai keuntungan. Namun tujuan utama turnamen itu adalah mencari orang-orang berbakat yang belum bergabung dengan militer atau organisasi mana pun.


Karena itu, meskipun aku masih seorang murid pelatihan, sebagai prajurit aku tidak diperbolehkan ikut.


Kalau prajurit juga boleh ikut, tentu Elena-san dan yang lainnya akan menjadi juara setiap tahun, jadi aturan itu memang masuk akal.


"Hanya saja, penginapan ini cuma punya kamar untuk dua sampai empat orang. Kalau Fin-kun memakai satu kamar sendirian, kamar untuk yang lain jadi tidak cukup. Jadi... Fin-kun tidak keberatan berbagi kamar dengan kami?"


"Tentu saja tidak!"


Berbagi kamar dengan wanita-wanita secantik mereka memang sedikit membuatku gugup.


Namun tidak mungkin aku merepotkan mereka hanya karena perasaan seperti itu, jadi aku langsung menjawab.


"Terima kasih. Kalau begitu tinggal menentukan pembagian kamarnya!"


"Pembagian kamar...!"


"Dengan Teraword-kun...!"


"Sekamar...!"


"Aku juga mau...!"


Begitu Elena-san mengucapkan kalimat itu, suasana mulai berubah──


"Yang lain bebas memilih pembagian kamar mereka sendiri, tapi bagaimana kalau Fin-kun sekamar denganku, Elena-chan, dan Sefia-chan?"


Norn-san mengajukan usul itu kepada semua orang.


"Eh!?"


"Kenapa begitu!?"


"Aku juga ingin sekamar dengan Teraword-kun!"


Sama seperti yang lain, Elena-san juga tampak tidak puas.


"Kalau Sefia-chan sih tidak masalah, tapi kalau Norn sekamar dengan Fin-kun, entah apa yang akan kau lakuk──"


Namun saat melihat wajah Norn-san, Elena-san tiba-tiba terdiam seolah teringat sesuatu.


Melihat reaksi keduanya, Sefia-san pun berbicara.


"Walaupun ini berada di dalam kota, kita tidak pernah tahu apa yang bisa terjadi. Fin-san memang berbakat, tetapi dia masih seorang murid pelatihan. Demi berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan, menurutku akan lebih baik mengikuti usulan Norn-san."


Setelah mendengar pendapat Sefia-san, semua orang terdiam sesaat sebelum mulai bergumam.


"Benar juga. Kalau demi Teraword-kun, itu memang pilihan terbaik...."


"Kalau terjadi sesuatu, para senior juga lebih mudah menanganinya, baik dari segi kemampuan maupun wewenang...."


Sepertinya mereka menerima pendapat Elena-san dan yang lainnya.


Saat semua orang mengangguk, Norn-san menoleh kepadaku.


"Fin-kun, bagaimana? Tidak masalah, kan?"


"Ya! Terima kasih sudah memikirkan diriku!"


"...Apa kau tidak berpikir kalau sebenarnya aku cuma ingin sekamar dengan Fin-kun, makanya mengusulkan itu?"


"Tidak."


Memang benar, Norn-san mungkin saja mengajukan usulan seperti itu karena alasan tersebut. Namun kali ini, entah kenapa aku merasa bukan itu alasannya.


"Kenapa?"


"Karena...."


"Aku bisa merasakan kebaikan hati Norn-san."


Begitu aku menjawab, mata Norn-san membelalak.

Pipinya memerah, lalu ia berbisik kepadaku.


"Kalau Fin-kun mengatakan hal seperti itu dengan tatapan setulus itu... mungkin Onee-san jadi mulai memiliki perasaan yang lebih dari sekadar rasa sayang."


"Eh...?"


Aku kebingungan mendengar ucapannya yang terdengar begitu manis.


Sementara itu, yang lain sudah mulai membicarakan pembagian kamar masing-masing.


Tak lama kemudian, pembagian kamar pun selesai diputuskan. Dan sebelum pergi menikmati makanan manis di kota.


Kami memutuskan untuk terlebih dahulu menuju kamar masing-masing untuk meletakkan barang bawaan.


◆ ◇ ◆


Aku, Elena-san, Sefia-san, dan Norn-san tiba di depan kamar kami yang berada di lantai tiga.


Begitu pintunya dibuka, kami masuk ke dalam.


"Wah, dari luar saja sudah kelihatan mahal, ternyata bagian dalamnya juga luas. Perabotannya juga bagus-bagus ya~"


Norn-san memandang sekeliling kamar sambil mengagumi isinya.


Memang benar. Bukan hanya dekorasinya. Meja, kursi, tempat tidur, dan semua perabot lainnya juga tampak berkualitas tinggi dan nyaman digunakan.


"Benar. Tadinya aku sedikit khawatir kalau kita tidak mendapat penginapan yang bagus dan kondisi semua orang menjadi kurang baik, tapi sepertinya kekhawatiran itu tidak perlu."


"Iya! Syukurlah kita langsung mendapatkan tempat sebagus ini!"


Baik Sefia-san maupun Elena-san juga tampak puas.


"Kalau menurut Fin-kun bagaimana?"


Mendengar pertanyaan Elena-san, aku langsung menjawab.


"Menurutku kamarnya sangat bagus! Memikirkan bahwa selama beberapa hari ke depan aku akan tinggal di kamar ini bersama Elena-san, Sefia-san, dan Norn-san membuatku benar-benar menantikannya──"


Namun di tengah kalimat, aku tiba-tiba terdiam.


B-benarkah....


Mulai hari ini selama beberapa hari ke depan, aku akan tinggal sekamar dengan ketiga orang ini.


Tinggal... bersama tiga orang wanita.


Dan mereka semua secantik ini....


"Fin-san, ada apa?"


Mungkin karena melihatku tiba-tiba terdiam, Sefia-san memiringkan kepala dengan heran.


Aku tanpa sadar mengalihkan pandangan sambil menjawab terbata-bata.


"T-tidak.... Hanya saja, saat kusadari lagi bahwa selama beberapa hari ke depan aku akan tinggal sekamar dengan orang-orang secantik Sefia-san, Elena-san, dan Norn-san... aku jadi sedikit gugup...."


"Cantik...."


"F-Fin-kun, jangan mengatakan sesuatu yang begitu mengejutkan sejak pagi...!"


Sefia-san dan Elena-san bergumam pelan.


Lalu....


"Begitu ya. Jadi Fin-kun gugup, ya~. Kalau begitu──"


Sambil mendekat, Norn-san berkata,


"Malam ini Onee-san akan tidur satu ranjang denganmu. Supaya Fin-kun tidak gugup, Onee-san akan memelukmu erat."


"Eh!?"


Norn-san akan... memelukku...!?


"Kalau dipeluk saja masih membuatmu gugup, Onee-san bisa menutupi wajah Fin-kun dengan payuda──"


Sebelum ia selesai berbicara.


Elena-san, yang sejak tadi tampak sedikit linglung setelah mendengar ucapanku, langsung mengubah ekspresinya.


"Tunggu, Norn! Kalau begitu Fin-kun malah akan semakin gugup!"


"Eh~? Masa sih?"


"Tentu saja! Oh iya, aku juga lupa bilang. Selama kita sekamar dengan Fin-kun, waktu tidur kau harus memakai pakaian!"


"Itu sulit~. Aku tidak bisa tidur kalau memakai pakaian.... Lagi pula saat tidur aku selalu memakai selimut, jadi tubuhku tidak akan kelihatan."


"Bukan itu masalahnya! Selimutnya juga bisa saja terbuka. Pokoknya tidur tanpa memakai apa pun sama sekali tidak boleh!"


"Paling yang kelihatan cuma payudara saja, jadi tidak apa-apa, kan~?"


"Jelas tidak boleh!!"


Setelah itu, keduanya terus berdebat.


"Sepertinya, di mana pun berada, kalian berdua memang tidak berubah."


Sefia-san berkata kepadaku.


"Iya.... Maaf, gara-gara aku bilang gugup jadi malah begini...."


"Kalau harus tinggal sekamar dengan beberapa orang dari lawan jenis, wajar jika Fin-san merasa gugup.... Lagi pula, setidaknya di pasukan ini tidak ada seorang pun yang akan menyalahkan Fin-san karena hal seperti itu."


"Sefia-san...."


Saat pertama kali bertemu dengannya, aku sempat berpikir mungkin Sefia-san adalah orang yang sangat kaku. Namun sekarang aku tahu, bahkan ketegasannya pun lahir dari kebaikan hatinya.


Saat aku merasakan kehangatan dari hal itu, Sefia-san melanjutkan.


"Selain itu. Sejak dulu, Fin-san sudah beberapa kali mengatakan bahwa kami cantik, bukan?"


"Iya.... Ah! A-apa mungkin itu membuatmu tidak nyaman...? Kalau memang begitu, maka──"


"B-bukan begitu! Justru aku merasa sangat terhormat...!"


Namun ia melanjutkan.


"Yang ingin kusampaikan bukan itu.... Kupikir tidak sopan kalau hanya terus menerima pujian. Jadi aku juga ingin mengatakan apa yang selama ini kupikirkan tentang Fin-san."


"Apa yang Sefia-san pikirkan tentangku...?"


"Ya. Seperti Fin-san yang selalu mengatakan kami cantik.... Aku juga menganggap Fin-san──"


Saat Sefia-san yang pipinya memerah hendak melanjutkan.


"Aah! Sudahlah!! Kalau begini terus kita tidak akan pernah selesai dan tidak jadi pergi makan makanan manis!"


Elena-san akhirnya menyerah dan berseru.


Lalu ia menoleh kepada kami.


"Pokoknya yang lain pasti sudah meletakkan barang di kamar dan menunggu di depan penginapan. Jadi ayo kita juga cepat keluar!"


"...Baik."


Sefia-san mengangguk, lalu menatapku.


"Fin-san. Mengenai kelanjutan pembicaraan tadi... akan kusampaikan lain waktu."


"B-baik."


Aku memang penasaran apa yang sebenarnya ingin dikatakan Sefia-san. Namun kami juga tidak bisa membuat semua orang menunggu terlalu lama.


Karena itu aku menerima saja.


Setelah meletakkan barang bawaan di kamar, aku pun keluar bersama Elena-san dan yang lainnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close