NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 6

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 6

Hadiah dari Sensei

Kami pun tiba di sebuah toko yang menjual berbagai makanan manis.


Segera setelah duduk, kami mengalihkan pandangan ke buku menu. Lalu, setelah masing-masing memesan makanan yang ingin disantap.


"Maaf sudah menunggu."


Tak lama kemudian, pegawai toko mengantarkan semua pesanan kami.


Kue dan kue sus yang kupesan, serta berbagai hidangan manis yang belum pernah kulihat sebelumnya dan tampaknya dipesan oleh semua orang, pun tersaji memenuhi meja.


"Kelihatannya enak sekali!"


"Iya ya~"


"Benar. Aromanya juga sangat harum."


"Kita juga tidak mungkin cuma menatapnya terus, jadi ayo langsung dimakan!"


Karena itu, kami pun mulai mencicipi makanan manis yang tersaji di depan kami.


Yang pertama kumakan adalah kue sus.


Saat kugigit kulit kuenya yang ringan dan lembut, krim segar yang kental di dalamnya langsung memenuhi mulutku.


"Hmm~! Tetap saja enak! Fin-ku──eh!?"


Karena sudah lama tidak makan makanan manis, aku menikmati rasanya perlahan-lahan.


"E-ekspresi wajahmu itu...! Lu-lucu sekali...!!"


Elena-san yang duduk di sebelahku meninggikan suaranya sambil bergumam.


Mungkin rasanya benar-benar sangat enak.


"A...! L-lihat! Wajah Teraword-kun...!"


"P-pipinya sampai kelihatan meleleh karena bahagia...!"


"Tunggu, dia benar-benar imut..."


"Kelucuan itu curang banget..."


Menyusul Elena-san, semua orang juga mulai ribut.


Mungkin mereka juga sama-sama begitu terkesan oleh kelezatan makanan itu hingga tak bisa menahan suara mereka.


Sambil memikirkan itu, aku terus menikmati makananku.


"Fin-kun. Ini enak banget, mau coba juga?"


Norn-san bertanya sambil membawa sepiring kue cokelat.


"B-Bolehkah!?"


"Tentu."


"Kalau begitu, dengan senang hati!"


Setelah aku menjawab begitu, Norn-san bergumam, "Kalau begitu..."


Dia mengambil sepotong kue cokelat, meletakkannya di atas sendok, lalu menyodorkannya kepadaku.


"Aaah~"


"Eh...!?"


A-Aaah...!?


Aku memang sedikit gugup, tapi rasanya juga tidak enak kalau menolak....


"......."


Saat aku perlahan membuka mulut, Norn-san tersenyum tipis lalu memasukkan sendok itu ke dalam mulutku.


Manis dan kaya rasa khas cokelat langsung memenuhi mulutku.


Setelah sendoknya ditarik kembali, aku menikmati tekstur lembut bolu kuenya sebelum menelannya.


"Gimana? Enak?"


"E-Enak sekali!"


"Syukurlah."


Begitu mendengar pendapatku, Norn-san tersenyum puas.


"Ah! Norn-senpai lagi nyuapin Teraword-kun!"


"Eh!?"


"Beneran!"


"Aku juga mau!"


Semua orang yang menyadari apa yang terjadi langsung menjadi heboh. Lalu mereka serempak membungkukkan badan, berusaha mendekat kepadaku.


"Tera-kun! Yang ini juga enak, coba deh!"


"Kamu tadi bilang suka biskuit, kan!"


"Aku juga mau nyuapin!"


"Eh!? E-Emm..."


Aku benar-benar senang dengan perhatian mereka....


"Tapi kalau semuanya menyuapi, pasti akan memakan waktu lama, dan aku juga tidak sanggup makan sebanyak itu.... Jadi, kalau kalian tidak keberatan... bolehkah lain kali saja kalian menyuapiku...?"


Begitu aku mengatakan itu, suasana langsung hening sesaat.


Namun, detik berikutnya.


"Pandangan...!"


"Ke atas...!"


"Imut banget...!"


"Pagi ataupun malam, kapan saja aku bakal nyuapin kamu!"


"Nanti aku juga bakal mengenalkan lebih banyak makanan enak lagi!"


"Semuanya...! Terima kasih banyak!"


Tanpa sadar aku tersenyum sambil mengucapkan itu.


Suasana yang tadi ramai pun berubah. Semua orang mulai bergumam dengan wajah yang tampak puas.


"Padahal baru mulai makan, tapi aku rasanya sudah puas meski nggak makan lagi...."


"Aku ngerti...."


"Senyum Tera-kun imut banget...."


"Aku bisa pingsan lagi...."


Di tengah itu, Norn-san berkata kepadaku.


"Kalau ada makanan apa pun yang ingin disuapi, bilang saja sama Onee-san, ya?"


"B-Baik!"


Aku benar-benar tidak menyangka akan disuapi seperti itu.


Setelahnya, kami kembali menikmati makanan di depan kami seperti biasa, saling berbagi kesan tentang rasanya sambil menghabiskan waktu bersama dengan menyenangkan.


Setelah menghabiskan semua makanan di atas meja, kami keluar dari toko bersama-sama.


"Enak sekali ya, semuanya!"


"Iya!"


"Benar-benar enak...!"


Saat aku mengajak mereka bicara, semuanya menjawab dengan ramah.


Lalu kali ini, mereka bergumam dengan suara yang begitu pelan hingga aku hampir tidak bisa mendengarnya.


"Waktu makan kue tadi sudah imut, tapi setelah keluar dari toko pun tetap imut banget...."


"Iya, benar...."


"Kuenya memang enak, tapi Teraword-kun juga terlalu imut...."


"Ternyata ada juga ya cowok yang cocok banget sama makanan manis...."


"Aku pengin lihat dia makan lebih banyak makanan manis lagi...."


Sambil bergumam begitu, mereka memandangku dengan pipi yang sedikit memerah dan tatapan yang sedikit melamun.


Saat aku merasa heran melihat sikap mereka, Elena-san berkata.


"J-Jadi, karena semua orang pasti capek habis perjalanan dari pagi, meski mungkin masih agak sore, gimana kalau kita balik ke penginapan? Terus, besok rencananya bakal banyak waktu bebas, jadi pikirkan dari sekarang tempat yang ingin kalian kunjungi, ya!"


"Baik!"


"Mengerti!"


Dengan begitu, diputuskan bahwa kami akan kembali ke penginapan.


Sambil membicarakan makanan manis yang baru saja kami makan, kami berjalan, dan tanpa terasa sudah tiba di depan penginapan.


Lalu kami masuk ke kamar masing-masing.


Kalau aku, berarti kamar yang akan kutempati selama beberapa hari ke depan bersama Elena-san, Sefia-san, dan Norn-san.


"Ngomong-ngomong... aku benar-benar kaget lho kalau Fin-kun ternyata bakal ikut bertarung di Expert Match dalam Turnamen Sihir."


Mendengar perkataan Elena-san, aku mengangguk.


"Iya... aku juga kaget karena semuanya terjadi begitu mendadak."


"...Kalau bicara soal mengejutkan, kecepatan Fin-san menyembunyikan kehadirannya tadi juga benar-benar luar biasa."


"T-Terima kasih!"


Aku benar-benar senang dipuji hingga tanpa sadar suaraku meninggi.


"Tapi..."


Ada sesuatu yang kupikirkan mengenai hal itu, jadi aku mengatakannya.


"Narcis-san itu pihak sekutu, jadi sebenarnya aku tidak perlu menyembunyikan kehadiranku.... Tapi tetap saja aku melakukannya. Mungkin karena tanpa sadar aku merasakan bahwa Narcis-san sudah menganggapku sebagai lawannya di Turnamen Sihir."


"Itu sangat mungkin."


Norn-san ikut masuk ke dalam percakapan.


"Kalau dia sudah memikirkan akan bertarung denganmu di Turnamen Sihir, mungkin dia memang memiliki niat bermusuhan. Tapi kalau niat itu berasal dari alasan lain...."


Norn-san bergumam pelan, lalu terdiam.


"Norn-san...?"


Saat aku memanggilnya, Norn-san kembali seperti biasanya.


"Bukan apa-apa kok~. Daripada terus membahas orang seperti itu, bukankah sudah waktunya kita mandi?"


"Ah! Benar juga! Kayaknya memang sudah waktunya mulai mandi."


"Iya~."


Setelah itu kami mandi satu per satu. Memang ukurannya jauh lebih kecil dibanding pemandian besar di markas garis depan.


"Hangat...."


Namun aku tetap menikmati waktu itu dengan santai, termasuk suasana baru dan dekorasi yang berbeda.


Walaupun aku juga merasa gugup karena harus berbagi kamar dengan Elena-san dan yang lainnya.


Setelah mengobrol beberapa saat, kami pun tidur di tempat tidur masing-masing.


Keesokan paginya.


Satu hari lagi menuju Turnamen Sihir.


Aku terbangun bukan karena cahaya matahari yang masuk dari jendela bergaya indah—melainkan dari cahaya matahari yang masuk melalui jendela biasa.


Barulah aku teringat bahwa sekarang aku bukan berada di markas garis depan, melainkan di sebuah kamar penginapan di kota.


Benar juga.


Sejak kemarin kami tinggal di kota.


Padahal aku baru tinggal sebentar di markas garis depan, tetapi hanya karena berpindah tempat saja, rasanya sudah sangat berbeda.


Mungkin itu berarti kehidupan bersama mereka sudah benar-benar menjadi bagian dari diriku.


Sambil memikirkan itu dengan kepala yang masih mengantuk, aku hendak bangun dari tempat tidur—


"Hnn..."


Tiba-tiba terdengar suara manis dari tepat di sampingku.


"...Eh?"


Suara manis...?


Dengan heran aku menoleh ke arah datangnya suara itu.


"Eh...!?"


Di sana, Norn-san sedang tertidur. Seragamnya terbuka sehingga memperlihatkan belahan dadanya yang menggoda dan lekuk pinggangnya yang indah.


Di markas garis depan, aku memang pernah mandi bersama Elena-san. Bahkan pernah tidur di ruangan yang sama.


Namun, meski begitu, mustahil bagiku tetap bisa bersikap tenang dalam situasi seperti ini.


"K-Kenapa Norn-san ada di tempat tidurku...!?"


Tanpa sadar aku langsung berteriak kaget.


Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.


Tadi malam aku yakin tidur sendirian di tempat tidur ini....


"Lagi pula..."


Saat kulihat lebih dekat lagi, wajahnya benar-benar cantik. Tubuhnya pun begitu indah hingga tanpa sadar membuat mataku terpaku.


Melihat Norn-san yang biasanya tampak dewasa kini tertidur sambil mengeluarkan suara lembut seperti itu, ada pesona yang jauh lebih menggoda dari biasanya—


...!


Begitu sampai pada pikiran itu, aku sudah tidak sanggup lagi menahan rangsangan yang diterima mataku dan buru-buru memalingkan wajah.


Tadi karena terlalu terkejut aku tidak menyadarinya, tapi pakaian Norn-san benar-benar terbuka sejauh itu....


Begitu menyadarinya, wajahku langsung memanas.


"Hnn..."


Sekali lagi terdengar suara manis dari Norn-san.


Namun kali ini berbeda dengan sebelumnya.


"Ah, Fin-kun~"


Norn-san memanggilku dengan suara lembut.

Sepertinya sudah bangun.


"S-Selamat pagi!"


Karena tadi sempat memikirkan hal-hal seperti itu, aku sampai menyapanya dengan gugup.


"Iya, selamat pagi~... Eh? Wajahmu merah. Ada apa~?"


"I-Itu... e-eh..."


Saat aku tidak bisa menjawab, Norn-san berkata, "Aah~", seolah baru menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan sejak pagi kamu melihat wajah atau tubuh Onee-san dari dekat, terus jadi malu ya?"


Karena tepat mengenai sasaran, tanpa sadar aku mengeluarkan suara kecil. Norn-san pun tersenyum geli.


"Jadi benar ya. Tapi kalau memang mau melihat, kamu boleh lihat lebih banyak kok."


"Eh...!?"


"Nih... mulai dari payudara Onee-san dulu—"


Saat Norn-san hendak melanjutkan ucapannya.


"Fin-kun...?"


Dari tempat tidur di sebelah terdengar suara Elena-san yang masih setengah mengantuk.


"Ada apa—!?"


Elena-san langsung bangun dari tempat tidur seolah-olah melompat.


Dengan wajah panik, dia berjalan hingga ke depan tempat tidur tempat kami berada lalu berseru keras.


"Norn!!"


"Ah, Elena-chan. Selamat pagi~"


"Ini bukan saatnya bilang selamat pagi~!! Kenapa Norn ada di tempat tidur Fin-kun!?"


Itu juga merupakan pertanyaan yang baru saja muncul di benakku.


Aku berusaha menenangkan detak jantungku yang sempat berpacu karena ucapan Norn-san tadi.


Lalu Norn-san berkata, "Aku akan jelaskan baik-baik, jadi jangan marah dulu ya~," dan mulai bercerita, sehingga aku pun memasang telinga dengan saksama.


"Semalam sebelum tidur, Elena-chan berkali-kali mengingatkanku supaya setidaknya tetap memakai baju saat tidur. Karena kau sampai menekankan begitu, akhirnya aku pun tidur dengan memakai pakaian, kan?"


"Iya."


"Tapi waktu benar-benar mencoba tidur, aku sama sekali tidak bisa terlelap. Jadi aku mencoba membuka sedikit seragamku seperti ini, tapi tetap saja susah tidur~. Terus aku berpikir mungkin kalau sambil memikirkan Fin-kun aku bisa tidur. Tanpa sadar aku sudah pergi ke tempat tidur Fin-kun, dan begitu merasakan Fin-kun ada di sampingku, aku langsung bisa tidur nyenyak."


Itulah alasan Norn-san berada di tempat tidurku....


"Aku juga merasa hatiku jadi hangat kalau memikirkan Fin-kun, jadi aku masih bisa mengerti kenapa kau jadi bisa tidur. Tapi kenapa malah secara alami pergi ke tempat tidur Fin-kun?"


"Soalnya kalau lebih dekat, aku bisa lebih merasakan keberadaan Fin-kun dan jadi bisa memikirkannya lebih dalam lagi~."


"Tetap saja, kalau kau masuk ke tempat tidur Fin-kun dengan pakaian terbuka seperti itu, Fin-kun pasti jadi malu! Lagi pula, jangan-jangan kalian melakukan sesuatu yang aneh──"


Mendengarkan percakapan mereka berdua. Dan setelah mengingat kembali semua yang terjadi selama ini, aku kembali menyadari sesuatu.


Semua orang di Pasukan Garis Depan ini adalah lawan jenis... wanita. Begitu menyadarinya, keinginanku untuk melindungi mereka menjadi semakin kuat.


"......"


Namun, pada saat yang sama, sebuah pertanyaan muncul di dalam diriku.


Apa... hanya karena ingin melindungi mereka?


Kalau memang hanya ingin melindungi mereka, lalu kenapa aku bereaksi sedemikian rupa terhadap setiap sisi kewanitaan mereka...?


Tepat sebelum pikiranku tenggelam dalam pertanyaan itu.


"Selamat pagi, Fin-san."


Sefia-san menghampiriku di sisi tempat tidur dan menyapaku.


Aku segera menghentikan pikiranku, turun dari tempat tidur, lalu berkata.


"S-selamat pagi! Sefia-san!"


"...Aku juga mendengar pembicaraan tadi. Jadi hari ini ternyata kamu tidur bersama Norn-san ya."


"I-iya. Tapi aku sendiri sedang tertidur, jadi sampai bangun pun aku sama sekali tidak menyadarinya...."


Saat aku mengatakannya dengan sedikit rasa malu.


Sefia-san terdiam sejenak, pipinya memerah, lalu berkata pelan.


"Kalau... seandainya yang bersama Fin-san adalah... aku...."


"Sefia-san...?"


Sepertinya dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya terlalu pelan.


Saat aku memanggilnya, Sefia-san buru-buru berkata, "Ti-tidak apa-apa...." lalu menghentikan ucapannya.


Setelah menarik napas dalam sekali, dia kembali ke sikapnya yang tenang seperti biasa dan berkata.


"Ngomong-ngomong, hari ini kita memang diperbolehkan menghabiskan waktu sesuka hati, bukan?"


"Ah! Benar juga!"


"Kalau kamu berkenan, setelah sarapan nanti, sesuai pembicaraan kita sebelumnya, bagaimana kalau kita pergi bersama untuk memilihkan pedang bagi Fin-san?"


Pedangku...!


"Ya! Mohon bantuannya!"


Karena terlalu bersemangat, tanpa sadar aku membungkukkan tubuhku ke depan saat menjawab.


Melihat reaksiku, Sefia-san membalas dengan senyum lembut.


◆ ◇ ◆


Setelah selesai sarapan bersama bukan hanya bertiga teman sekamar, tetapi juga seluruh anggota lainnya.


Sefia dan Fin pergi berdua menuju kota sambil berjalan ke toko senjata.


Di tengah perjalanan. Sefia teringat kembali apa yang hampir ia katakan kepada Fin di depan tempat tidur tadi pagi, lalu bergumam dalam hati.


(Aku hampir saja menanyakan hal seperti itu kepada Fin-san sejak pagi....)


Saat mengingatnya, wajahnya kembali terasa sedikit panas. Namun sekarang tujuan mereka adalah toko senjata, tempat penuh pedang.


Di sana mereka akan memilihkan pedang untuk Fin.


Karena itu, sebagai seorang pendekar pedang, sekaligus sebagai sensei Fin, ia harus menenangkan hatinya dan mengesampingkan perasaan pribadinya.


Setelah berhasil menenangkan diri, Fin membuka percakapan.


"Aku pernah pergi ke toko yang menjual alat sihir, tapi ini pertama kalinya aku pergi ke toko yang menjual senjata seperti pedang."


"Begitu ya. Jenisnya sangat banyak, jadi menurutku hanya melihat-lihat saja pun sudah menyenangkan."


"Iya! Aku benar-benar tidak sabar!"


Sesuai ucapannya, senyum Fin benar-benar memancarkan kegembiraan.


Melihat senyum itu, tanpa sadar perhatian Sefia sepenuhnya tertuju kepadanya.


(Seorang pengguna sihir... bahkan seseorang yang memiliki kekuatan sihir tersembunyi yang tidak kalah dari Elena-san maupun Norn-san, ternyata bisa menyukai pedang sampai seperti ini....)


Jauh melampaui perkiraannya saat pertama kali ingin mengajari Fin menggunakan pedang.


Fin benar-benar menaruh minat pada pedang.

Dan hal itu membuat Sefia sangat bahagia.


"Ngomong-ngomong, aku jadi penasaran. Selain Sefia-san, apakah ada anggota Pasukan Garis Depan lain yang bisa menggunakan pedang?"


"Tidak. Memang ada orang seperti Elena-san yang bertarung dengan mengubah sihir menjadi berbagai bentuk senjata. Namun tidak ada seorang pun selain saya yang mempelajari ilmu pedang dari suatu aliran tertentu."


"Begitu ya.... Ah!"


Seolah mendapat sebuah ide, Fin menatap mata Sefia sambil berkata dengan penuh semangat.


"Kalau nanti aku sudah cukup mahir menggunakan pedang, apakah Sefia-san dan aku bisa melakukan kerja sama menggunakan pedang? Dengan begitu, bukankah pilihan taktik Pasukan Garis Depan akan bertambah?"


"Kerja sama... menggunakan pedang...."


Sejak menguasai ilmu pedang Aliran Chevalier, Sefia selalu menempuh jalan pedang seorang diri. Karena itu, ia bahkan belum pernah membayangkan bertarung berkoordinasi dengan seseorang menggunakan pedang.


"Kalau itu memang memungkinkan, maka pilihan taktik kita... akan bertambah sangat banyak."


"Benarkah!? Kalau begitu aku harus semakin giat berlatih pedang...! Membayangkan bisa bertarung bersama Sefia-san saja sudah membuatku sangat bersemangat!"


Fin tersenyum cerah dari lubuk hatinya.


Pada saat itu juga, hati Sefia terguncang. Sesuatu di dalam hatinya terasa sangat kuat tersentuh.


Detak jantungnya pun semakin cepat.


(Fin-san.... Mengapa... Kamu selalu membuat hatiku seperti ini....)


Perasaan yang selama ini ia tekan mulai membesar sedikit demi sedikit.


(Fin-san... mungkin... bagiku sudah tidak mungkin lagi memandangmu hanya sebagai rekan satu pasukan, atau sekadar hubungan antara sensei dan murid....)


Saat ia diam-diam mengucapkannya dalam hati sambil menatap Fin.


Mereka pun tiba di toko senjata.


Demi menjawab harapan Fin, untuk saat ini ia menenangkan kembali hatinya.


Lalu membuka pintu toko dan masuk, berniat memilihkan pedang terbaik untuk Fin dengan sungguh-sungguh.


◆ ◇ ◆


Setelah Sefia-san memilihkan pedang untukku.


Kami berdua keluar dari toko pedang.


Berbeda dengan saat datang tadi, kini di pinggangku telah tergantung sebuah pedang.


"Sefia-san...! Terima kasih banyak!"


Sefia-san bukan hanya memilihkan pedang yang cocok untukku.


Dia bahkan menghadiahkannya kepadaku.


Saat aku mengucapkan rasa terima kasihku, Sefia-san menjawab dengan suara lembut.


"Tidak perlu sungkan. Seorang guru menghadiahkan pedang kepada muridnya adalah hal yang wajar."


"Aku tidak mungkin tidak memikirkannya!"


Aku menyentuh gagang pedang yang tergantung di pinggangku lalu berkata.


"Pedang pemberian Sefia-san ini akan selalu kujaga! Benar-benar akan kujaga selamanya!!"


"Fin-san... Mendengarmu berkata begitu membuatku sangat bahagia."


Sefia-san tersenyum dengan begitu bahagia, persis seperti yang diucapkannya.


...Orang sebaik ini telah mengajariku ilmu pedang.

Dan bahkan menghadiahiku sebuah pedang.


Aku pasti... pasti akan menjadi lebih kuat dan membalas semua kebaikannya.


Sambil menggenggam erat gagang pedang itu.


Aku pun kembali ke penginapan bersama Sefia-san. Sesampainya di sana, Elena-san dan Norn-san menyambut kami.


"Fin-kun! Sefia-chan!"


"Selamat datang~. ...Ah!"


Norn-san berseru keras saat melihat sesuatu yang tergantung di pinggangku.


"Tadi kalian bilang mau beli pedang buat Fin-kun, ternyata sudah selesai ya~"


"Benar! Pedangnya juga cocok sekali. Keren, Fin-kun!"


"A-apa benar begitu...?"


"Iya!"


"Aku juga bisa menjaminnya. Sebagai sesama pengguna pedang, penampilanmu benar-benar sudah terlihat seperti seorang pendekar."


"Iya~."


Setelah dipuji keren oleh Elena-san. Lalu dikatakan sangat cocok oleh Sefia-san yang telah menempuh jalan pedang selama ini. Dan Norn-san pun mengangguk setuju.


"Elena-san, Sefia-san, Norn-san... t-terima kasih."


Karena malu, aku hanya mampu mengucapkannya dengan suara pelan.


"Imutnya...!"


Setelah kami masih mengobrol sebentar mengenai pedang. Elena-san seolah teringat sesuatu lalu berkata.


"──Oh iya! Karena terlalu asyik membicarakan pedang Fin-kun, aku jadi lupa bilang. Sebenarnya setelah kalian pergi membeli pedang, kami semua membicarakan bagaimana kalau nanti kita bermain di pantai yang ada dekat kota. Bagaimana menurut kalian?"


Pergi ke pantai... bersama semuanya...!


"Kedengarannya menyenangkan sekali! Aku tentu ingin ikut!"


"Aku juga tidak keberatan."


Setelah aku dan Sefia-san menjawab.


"Yay~! Berarti sudah diputuskan ya!"


Elena-san berkata dengan suara yang dipenuhi kegembiraan.


Lalu Norn-san melanjutkan.


"Sebelum ke pantai, seperti yang tadi kita bicarakan, kita harus pergi beli baju renang dulu ya~."


"Iya! Kurasa kalau satu toko saja pasti tidak cukup untuk semua anggota pasukan mencoba baju renang. Jadi kali ini kita tidak pergi bersama-sama, melainkan dibagi sesuai anggota sekamar saja."


"Baik!"


Setelah aku mengangguk. 


Kami berempat keluar dari kamar.


Elena-san lalu memberitahukan waktu dan tempat berkumpul kepada anggota lainnya.


Setelah itu, kami pun berpencar untuk membeli baju renang masing-masing.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close