NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Seijitsu Sugiru Shounen no Tsuihou-saki ga, Otokogiraina Bishoujo Shika Inai Saikyou Butaidattara? V2 Chapter 2

 Penerjemah: Flykitty

Proffreader: Flykitty


Chapter 2

Peregangan

Keesokan paginya.


Aku terbangun karena sinar matahari yang masuk melalui jendela dengan bentuk yang indah. Perlahan aku bangkit dari tempat tidur.


Sambil mengingat kejadian kemarin dan merasakan kehangatan di hati, aku keluar dari kamar lalu menuju lantai tempat ruang keluarga berada.


Sesampainya di sana, seperti biasa semua orang menyambutku.


"Teraword-kun! Selamat pagi!"


"Selamat pagi~!"


"Selamat pagi, semuanya!"


"...!"


"Melihat wajah Teraword-kun sejak pagi begini benar-benar membuatku bahagia...."


"Imutnya tidak pernah berubah...."


"Rasanya tanpa sarapan pun aku sudah kenyang...."


Di tengah suasana yang sama seperti biasanya itu, aku bisa merasakan bahwa berkat kejadian kemarin, ikatan tak kasatmata di antara kami menjadi semakin kuat.


Aku pun duduk di kursiku dan saling menyapa dengan Elena-san dan Sefia-san yang sudah lebih dulu duduk, lalu dengan Norn-san yang baru datang dan mengambil tempat duduknya.


Kemudian Sefia-san membuka pembicaraan.


"Hari ini aku berencana memulai latihan tanding, yang merupakan pertama kalinya lagi sejak Fin-san datang ke garis depan."


Latihan tanding. Itu adalah latihan yang sedang dilakukan semua orang saat aku pertama kali datang ke garis depan dan memasuki hutan.


Sampai sekarang aku masih ingat betapa kagumnya aku saat melihat kekuatan sihir mereka yang sama sekali tidak memiliki sedikit pun gangguan.


"Eh~? Bukannya agak terlalu cepat? Biasanya sih aku bakal bilang lebih baik dia membiasakan diri dulu dengan latihan biasa... tapi kalau Fin-kun mungkin tidak masalah."


Setelah Norn-san berkata begitu, Sefia-san mengangguk.


"Benar. Melihat kemampuan dan daya adaptasi Fin-san, aku rasa sudah tidak ada kendala untuk mulai memasukkan latihan tanding."


Namun Sefia-san melanjutkan.


"Akan tetapi, jika secara mental Fin-san merasa lebih baik melakukannya nanti saja, kami tentu bisa menyesuaikannya. Bagaimana menurutmu?"


Jawabanku sudah bulat.


"Aku ingin menjadi cukup kuat untuk melindungi kalian semua secepat mungkin. Jadi, tolong izinkan aku ikut latihan tanding!"


Begitu aku menjawab, Sefia-san tersenyum kecil.


"Aku sudah menduga Fin-san akan mengatakan itu."


"Kalau begitu, mulai hari ini Fin-san juga akan mengikuti latihan tanding."


"Baik!"


Tepat setelah pembicaraan selesai, sarapan rupanya telah siap. Berbagai hidangan disajikan di depan kami, lalu kami mulai menyantapnya.


Saat itulah Norn-san berbicara.


"Kalau mulai hari ini Fin-kun juga ikut latihan tanding, kurasa aku juga akan ikut~"


"...Eh? Norn juga?"


Elena-san memiringkan kepalanya.


"Kalau tidak salah... karena sifat sihir Norn-san, selama ini kamu hampir tidak pernah ikut latihan tanding, bukan?"


Saat aku pertama kali datang ke garis depan dan melihat latihan di hutan, Norn-san memang tidak ada di sana.


Waktu itu aku belum mengerti alasannya, tetapi sekarang setelah melihat bagaimana Norn-san bertarung, aku bisa memahaminya.


"Memang begitu, tapi sebagai Onee-san, aku ingin mengawasi Fin-kun selama mungkin dari dekat. Selain itu──"


Norn-san sempat hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia menghentikannya dan hanya memperlihatkan senyum yang menggoda.


Apa ada alasan lain juga...? Aku sama sekali tidak tahu.


"Kalau begitu, hari ini mari kita semua berlatih tanding bersama. Fin-san, jika ada apa pun, jangan sungkan untuk berkonsultasi."


"Baik!"


"Mari sama-sama berusaha, Fin-kun!"


"Ya! Aku akan melakukan yang terbaik!"


Saat ini aku hanya mempersiapkan tekadku agar bisa menghadapi latihan tanding yang sudah menanti di depan mata dengan sepenuh hati.


◆ ◇ ◆


Markas Besar Tentara Kekaisaran Luvankrum.


Di dalam gedung itu, di ruang kerja pribadinya, seorang wanita berambut ungu sedang duduk di kursi.


Biasanya ia berada di ruangan ini untuk mengurus berbagai dokumen, tetapi kali ini tujuannya berbeda.


"......"


Sambil tenggelam dalam pikirannya, ia menunggu waktu berlalu dengan tenang.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu ruang kerjanya.


Saat pintu terbuka, dua gadis masuk ke dalam.


"Permisi~!"


"Permisi."


Yang pertama adalah gadis berambut biru muda yang diikat menjadi dua, dengan ekspresi dan suara yang sangat ceria.


Yang kedua adalah gadis berambut hitam panjang yang disampirkan ke sisi kiri, dengan ekspresi dan suara yang tenang.


"Kerja bagus, Victoria-senpai!"


"Ya, kerja bagus."


Wanita berambut ungu──Victoria menjawab singkat, lalu bertanya.


"Bagaimana keadaannya?"


"Wah! Ke mana pun kami pergi, yang dibicarakan orang-orang selalu soal hebatnya Fin-senpai. Rasanya cuma berjalan-jalan saja sudah bikin suasana hati jadi bagus~!"


Mendengar itu, gadis berambut hitam menghela napas.


"Kamu terus mengatakan itu.... Yah, aku mengerti perasaanmu."


"Astaga! Seperti biasa, kalau Fin-senpai tidak ada di depanmu, kamu memang selalu kelihatan dingin~"


"Aku memang selalu seperti ini."


"Bohong! Padahal kalau di depan Fin-senpai, kamu jadi penurut sekali~!"


"Aku tidak seperti itu."


"Eh~? Bilang tidak seperti itu rasanya agak maksa deh──"


"Aku tidak."


Mendengar jawaban tegas itu, gadis berambut biru muda mengerucutkan bibir karena belum puas. Namun gadis berambut hitam mengabaikannya dan melanjutkan.


"Meski aku memang sudah menduga Fin-senpai akan berprestasi, aku sama sekali tidak menyangka beliau akan mengalahkan komandan musuh secepat ini."


"Iya~! Aku juga kaget banget~!"


"Tidak diragukan lagi Fin memang luar biasa. Tapi kalian berdua juga begitu, bukan?"


Karena Fin terlalu menonjol, kemampuan mereka berdua menjadi tertutupi. Padahal mereka juga menyimpan potensi yang sangat luar biasa.


"Eh~! Tidak juga kok~! Biasanya sih aku bakal jawab begitu, tapi kalau dibandingkan dengan Fin-senpai, apalagi yang bilang orang dengan kekuatan terhebat di negara ini, aku benar-benar tidak bisa mengangguk."


"Dibandingkan Fin-senpai, kami masih jauh. Baik dari segi kemampuan... maupun mental."


"Hehe.... Sebenarnya aku masih ingin membicarakan Fin lebih lama, tapi setelah ini ada rapat. Jadi sekarang aku akan menjelaskan rencana kita selanjutnya."


Setelah berkata demikian, Victoria mulai menjelaskan rencana ke depan kepada kedua gadis itu.


Setelah selesai berbicara dengan kedua gadis tersebut, Victoria meninggalkan ruang kerjanya dan memasuki ruang rapat tepat waktu.


"Apa!? Fin Teraword berjasa besar!? Sialan! Berani-beraninya mereka mengangkat rakyat biasa itu!!"


Deandre merobek koran yang tampaknya memuat berita tentang keberhasilan Fin hingga berkeping-keping, lalu menginjak-injaknya dengan keras.


"....."


Rencana mereka untuk membiarkan Fin tewas di medan perang dengan tidak mengirim bala bantuan ke garis depan telah gagal.


Bahkan Fin justru berhasil mengalahkan komandan pasukan garis depan Kerajaan Granzania dan namanya semakin terkenal.


Fakta itu membuat Deandre sangat marah. Sementara dua orang lainnya tampak kehilangan semangat.


Di tengah suasana itu, Victoria duduk seperti biasa.


Pria bertubuh gemuk──Bouge berbicara dengan wajah serius.


"...Berita bahwa Fin Teraword mengalahkan komandan musuh dalam duel satu lawan satu masih terus menyebar. Sepertinya sudah mustahil untuk menutupi informasi itu...."


Mendengar itu, Deandre menghantam meja dengan keras.


"Rakyat biasa itu...!!"


"Selama ini kita sudah berkali-kali menghalangi kemajuan rakyat biasa demi keuntungan para bangsawan. Tapi belum pernah ada yang berjalan sejauh ini di luar kendali kita...!"


"L-Lalu apa tidak ada cara lain!? Kalau begini terus──"


Saat pria berpakaian rapi dengan sedikit janggut di dagunya──Ashel hendak melanjutkan ucapannya.


"Permisi!"


Pintu diketuk, lalu seorang prajurit yang membawa selembar dokumen masuk ke ruang rapat.


"...Ada apa?"


Di depan bawahannya, Deandre kembali bersikap tenang.


Prajurit itu memberi hormat.


"Siap! Kami menerima surat permohonan dari pasukan garis depan, sehingga saya datang untuk menyerahkannya!"


"A-Apa!? Surat permohonan dari pasukan garis depan!?"


Saat ini, prioritas terbesar Deandre dan yang lainnya adalah membunuh Fin.


Karena itulah, surat permohonan dari pasukan garis depan tempat Fin bertugas tentu merupakan sesuatu yang harus mereka perhatikan.


Deandre pun berseru keras.


"Isinya apa!? Apa isi surat permohonan itu!?"


Prajurit yang ditanyai itu meletakkan surat permohonan tersebut di atas meja ruang rapat sambil berkata,


"Singkatnya, mereka mengajukan permohonan cuti agar dapat pergi ke kota, sehingga untuk sementara ingin meninggalkan garis depan."


"Cuti...?"


"Memang benar. Pasukan garis depan sudah berada di medan perang dalam waktu yang sangat lama. Syarat untuk mengajukan cuti sudah sepenuhnya terpenuhi."


"T-Tapi, kalau pasukan garis depan meninggalkan perbatasan, apakah negara ini akan baik-baik saja?"


Yang dimaksud Ashel dengan "negara ini" sebenarnya adalah keselamatan dirinya sendiri. Menjawab pertanyaan itu, Victoria berkata,


"Menurut saya, tidak akan ada masalah."


"A-Apa dasar keyakinanmu?"


"Kerajaan Granzania baru saja kehilangan lima ribu prajurit akibat pertempuran sebelumnya. Sulit membayangkan mereka mampu segera melancarkan serangan besar lagi. Terlebih lagi, mereka juga kehilangan komandannya, sehingga tentu membutuhkan waktu untuk menunjuk pengganti yang sepadan."


"Begitu... memang masuk akal."


Pria berpakaian rapi dengan sedikit janggut di dagunya mengangguk, tampak merasa lega dengan penjelasan Victoria.


Saat itulah Deandre, yang mendengarkan penjelasan tadi, seolah mendapat sebuah ide.


"Begitu... membutuhkan waktu... kota.... Aku mendapat ide yang bagus!!"


"Oh...!"


"Ide seperti apa itu?"


Dengan penuh semangat, Deandre bertanya balik.


"Menurut kalian, kenapa semua rencana kita untuk membunuh Fin Teraword selalu gagal?"


"Itu karena... selalu muncul keadaan yang tidak terduga?"


"Kalau begitu, kenapa keadaan tak terduga itu selalu muncul?"


Ruangan rapat pun terdiam sesaat.


Victoria memecahkan keheningan itu.


"Karena dia selalu berada di garis depan, tempat yang sulit dijangkau oleh kita."


Deandre tersenyum puas.


"Tepat sekali. Karena itulah selalu ada celah bagi hal-hal yang tidak terduga. Tapi bagaimana kalau dia berada di kota? Di kota, kita bisa mengulurkan tangan kita sesuka hati."


Artinya adalah──


"Artinya, kita bisa membunuh Fin Teraword dengan pasti!"


"Oh...!"


Semua pria di ruangan itu mengeluarkan suara kagum.

Deandre melanjutkan.


"Kalau Fin Teraword sendiri datang ke kota, kita juga bisa menghancurkan rumor yang sedang mengangkat namanya."


"M-Menghancurkan rumor yang sudah menyebar sejauh itu...?"


"Ya. Caranya sederhana.... Kita cukup menyatakan bahwa semua rumor itu hanyalah berita palsu."


"Apakah rakyat akan mempercayainya?"


"Tentu saja kalau hanya menyebarkan kabar bahwa itu berita palsu, tidak akan cukup meyakinkan. Karena itulah kita sendiri akan menyiapkan panggung untuk membuktikan bahwa semua itu hanyalah berita palsu."


"Panggung... menarik. Jelaskan lebih rinci."


"Baik. Kalau begitu, inilah rencana konkretnya──"


Setelah itu. Sementara para pria membicarakan bagaimana cara menjatuhkan nama Fin dan membunuhnya.


Tatapan Victoria berubah kosong.


Namun tak seorang pun dari mereka menyadarinya.


◆ ◇ ◆


Setelah rencana untuk menjatuhkan nama Fin dan membunuhnya di kota hampir selesai disusun.


Rapat pun berakhir, dan Deandre yang kini sendirian di ruang rapat memanggil seseorang yang akan memegang peranan penting dalam rencana tersebut.


"Permisi."


Seorang pemuda berambut yang disisir ke samping memasuki ruangan.


Di atas seragam militernya, ia mengenakan mantel yang menunjukkan bahwa dirinya berasal dari keluarga bangsawan berpangkat marquis.


"Jadi kau datang."


"Tentu. Selama aku masih menjadi bagian dari militer, aku tidak mungkin mengabaikan panggilan dari petinggi. Jadi, untuk apa Anda memanggilku?"


"Masih ingat dengan Fin Teraword?"


"Tentu saja. Bukankah sejak beberapa hari lalu ramai dibicarakan bahwa peserta pelatihan rakyat biasa itu berhasil mengalahkan komandan musuh? Bukankah seharusnya dia dikirim ke garis depan untuk disingkirkan?"


Sebagian bangsawan mengetahui bahwa alasan Fin dikirim ke garis depan bukan semata-mata karena bakatnya, melainkan untuk menyingkirkannya.


Ketika pemuda itu mempertanyakan mengapa rencana itu gagal, Deandre mengerutkan kening.


"Benar. Kami mengirimnya ke pasukan garis depan yang medan tempurnya paling ganas dan sama sekali tidak menerima pria, dengan tujuan menyingkirkannya.... Namun, entah bagaimana, dia masih hidup."


"Kenapa bisa begitu?"


"...Sehebat apa pun dia, dia tetap hanya seorang peserta pelatihan. Aku sudah beberapa kali melihat latihan Fin Teraword. Dia jelas tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di medan perang sekejam itu."


Karena itulah mereka ingin mencabut tunas itu sebelum tumbuh semakin besar. Dan jika Fin tidak mungkin mampu bertahan hidup sendirian...


"Artinya, para wanita yang dijuluki sebagai kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum itu melindungi Teraword, yang merupakan rakyat biasa sekaligus pria."


Membaca maksud ucapan Deandre, Narcis berkata demikian.


Deandre mengangguk.


"Ya. Mereka mungkin menganggap usianya masih terlalu muda sehingga enggan membiarkannya mati."


"Hmph. Rakyat biasa tetaplah rakyat biasa, berapa pun usianya. Tidak perlu ada keraguan."


"Aku juga berpikir begitu. Namun, mungkin bagi mereka tidak mudah membiarkan rekan sendiri mati, meskipun hanya rakyat biasa."


Karena itu.


"Kami memutuskan untuk membunuh Fin Teraword di kota."


"Begitu.... Jadi Anda ingin meminjam kekuatanku, yang disebut-sebut sebagai calon kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum berikutnya?"


"Tepat. Dan berdasarkan alasan tadi, pasukan garis depan tentu tidak akan menyerang kita, sama seperti mereka tidak akan menyerang Fin Teraword."


"Kalau begitu, tugasku hanya menghadapi Fin Teraword."


"Benar. Tapi bukan hanya membunuhnya. Sebelum itu, kita harus menghancurkan rumor yang mengangkat nama Fin Teraword."


"Tentu saja. Sama sekali tidak boleh dibiarkan seorang rakyat biasa memperoleh nama yang lebih besar lagi. Untuk itu, kita memang membutuhkan sebuah panggung."


Mendengar itu, Deandre tersenyum.


"Senang sekali kau cepat mengerti. Soal panggungnya tidak perlu khawatir. Kami sudah menyiapkannya.... Kau hanya perlu memikirkan cara menjatuhkan Fin Teraword ke tanah."


"...Kalau begitu, aku mengerti. Biarkan aku, yang disebut-sebut sebagai calon kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum dan memang bangga akan hal itu, menjalankan tugas menjatuhkan sekaligus membunuh rakyat biasa itu."


"Bagus. Aku mengandalkanmu."


"Serahkan saja padaku. Rakyat biasa seperti dia akan segera kubunuh."


Mendengar perkataan Narcis, Deandre kembali menyunggingkan senyum tipis.


"Kebencianmu terhadap rakyat biasa memang tidak pernah berubah.... Yah, melihat bagaimana kau memperlakukan para pelayan rakyat biasamu dengan kerja paksa, itu memang sudah jelas."


"Setidaknya mereka tidak kukurung di dalam kandang atau dirantai. Mereka seharusnya bersyukur. Lagi pula, sudah sewajarnya orang yang berada di bawah mengabdikan seluruh hidupnya demi orang yang berada di atas."


"Benar juga.... Memilihmu untuk tugas ini memang keputusan yang tepat."


"Ya.... Ngomong-ngomong, kudengar para wanita di pasukan garis depan sangat cantik. Aku jadi menantikannya. Setelah tugas ini selesai, sepertinya akan menyenangkan bermain-main dengan mereka."


Sambil berkata demikian, pemuda itu memainkan poni rambutnya.


Kepribadiannya memang buruk. 


Namun kemampuannya tidak diragukan lagi.


Dengan ini, hari-hari tenang akan segera datang.


"Fin Teraword.... Seandainya kau mati di medan perang, setidaknya kematianmu masih akan terhormat sebagai seorang prajurit.... Tapi semua ini salahmu sendiri karena terus lolos dari setiap rencana kami. Kali ini, nyawamu sebagai rakyat biasa akan benar-benar kuhapus tanpa menyisakan apa pun!!"


Dengan keyakinan bahwa kematian Fin sudah di depan mata, Deandre mengucapkannya dengan tegas.


◆ ◇ ◆


Setelah sarapan selesai, kami masih menghabiskan waktu santai bersama di ruang keluarga.


Tak lama kemudian, waktunya latihan pun tiba, sehingga kami keluar dari markas menuju hutan di dekat sana.


Sesampainya di sana, seperti latihan biasanya, Sefia-san melangkah maju dan berkata,


"Semuanya. Hari ini kita akan mengadakan latihan tanding, dan ini akan menjadi pertama kalinya Fin-san ikut berpartisipasi."


"Eh!? Latihan tanding?"


"Ya. Berdasarkan kemampuan Fin-san, aku menilai tidak akan ada masalah."


"Benar juga. Selama ini dia bisa mengikuti semua latihan dengan baik, jadi pasti tidak masalah."


"Malah aku senang bisa latihan dengan Teraword-kun dalam bentuk yang baru...!"


"Pokoknya asal bisa bersama Tera-kun, latihan apa pun tidak masalah...!"


Suasana langsung dipenuhi antusiasme.


Aku harus benar-benar berusaha agar tidak mengecewakan harapan mereka. Baru saja aku membisikkan tekad itu dalam hati.


"Kalau begitu, sebelum kita memulai latihan tanding──mulai sekarang silahkan berpasangan seperti biasa dan lakukan peregangan terlebih dahulu."


Begitu Sefia-san mengucapkannya, suasana langsung berubah.


"Bersama Teraword-kun...."


"Berpasangan...."


"Peregangan...!?"


Padahal menurutku Sefia-san tidak mengatakan sesuatu yang istimewa. Namun entah kenapa semua orang bereaksi sangat besar.


Lalu──


"Sefia-senpai! Aku ingin berpasangan dengan Tera-kun untuk peregangan!"


"Eh, aku juga mau!"


"Aku yang ingin membantu Teraword-kun melakukan peregangan...!"


"Aku juga!!"


"Eh!?"


Semua orang langsung mengangkat tangan dan mulai menyampaikan keinginannya kepada Sefia-san.


Aku sendiri tidak mengerti kenapa semua orang begitu bersemangat hanya untuk melakukan peregangan denganku.


Melihat semangat mereka yang bahkan terasa seperti semangat tempur, Sefia-san berkata,


"Ini cukup merepotkan.... Peregangan paling efektif dilakukan berpasangan. Kalau sebanyak ini ingin berpasangan dengan Fin-san...."


Memang biasanya peregangan dilakukan sendiri atau berdua. Hampir mustahil dilakukan oleh sekitar lima puluh orang sekaligus.


Saat Sefia-san tampak kebingungan memikirkan solusinya, Norn-san angkat bicara.


"Sefia-chan, aku punya usul. Boleh?"


"Tentu. Silakan."


"Semua orang ingin melakukan peregangan dengan Fin-kun, kan? Tapi kalau Fin-kun hanya membutuhkan satu orang sebagai pasangan peregangan, bagaimana kalau hak untuk menjadi pasangan Fin-kun diperebutkan melalui latihan tanding bergaya pertempuran sungguhan?"


"Eh...!?"


"Begitu.... Jadi sebagai bagian dari latihan tanding, siapa pun yang berhasil menjadi pemenang dalam pertempuran bebas akan mendapatkan hak menjadi pasangan peregangan Fin-san."


Norn-san mengangguk membenarkan. Lalu Sefia-san bertanya kepada semua orang.


"Menurutku usulan Norn-san cukup baik. Bagaimana menurut kalian?"


"Aku setuju!"


"Aku juga!"


"Pertarungan demi bisa berpasangan dengan Teraword-kun...!"


"Aku tidak akan kalah."


"Aku akan serius...."


Mendengar itu, semua orang memperlihatkan semangat. Bahkan... mungkin lebih hebat daripada saat menghadapi pertempuran sungguhan.


"T-Tunggu sebentar!"


"Teraword-kun? Ada apa?"


Sejak tadi ada satu pertanyaan yang terus mengganjal pikiranku.


Akhirnya aku mengutarakannya.


"Maaf... apa benar perlu sampai seperti itu hanya untuk melakukan peregangan denganku?"


Bukan berarti aku menganggap peregangan tidak penting. Justru sangat penting untuk mencegah cedera.


Tapi hanya demi itu, apakah semua orang benar-benar harus bertarung...?


"Tentu saja perlu!"


"...Eh?"


"Perlu!"


"Jelas perlu."


"Iya!"


"J-Jadi... memang begitu?"


"Iya!"


"Benar sekali!!"


Semua orang menjawab tanpa sedikit pun keraguan.


Aku sendiri tidak mengerti alasannya, tetapi tampaknya bagi mereka ini adalah sesuatu yang sangat penting.


Saat masih kebingungan memikirkan hal itu, Sefia-san membuka mulut dan berkata.


"Fufu, sepertinya semangat kalian hari ini bahkan lebih besar daripada saat latihan biasanya. Kalau begitu, aku juga akan ikut dalam pertarungan ini."


"Eh!? S-Sefia-senpai juga ikut!?"


"Ya. Memang terdengar agak kontradiktif melakukan latihan tanding demi peregangan sebelum latihan tanding, tetapi ini kesempatan yang bagus untuk bertarung melawan kalian yang sedang bersemangat seperti ini. Dan yang terpenting... aku juga ingin berpasangan dengan Fin-san."


Setelah mengatakan itu, Sefia-san menoleh kepadaku dan memperlihatkan senyum lembutnya.


Sefia-san memang sejak dulu orang yang baik hati, tetapi sejak dia mulai mengajariku ilmu pedang, entah kenapa kehangatan yang kurasakan darinya terasa semakin besar.


Saat aku sedang memikirkan hal itu, Elena-san pun berkata.


"Tentu saja aku juga ikut! Aku benar-benar ingin melakukan peregangan bersama Fin-kun!"


"Elena-senpai juga...!?"


"Bahkan kalau lawannya para senior, aku tetap tidak boleh kalah...!"


Meskipun mendengar kedua orang itu ikut serta, semangat semua orang bukannya menurun, malah semakin membara.


Sementara itu, aku dan Norn-san yang tidak ikut dalam pertarungan berpindah ke tempat yang agak jauh.


"Kalau begitu... mari kita mulai."


Dengan aba-aba dari Sefia-san, pertarungan pun dimulai, dan berbagai sihir langsung beterbangan di depan mataku.


Memikirkan bahwa alasan mereka bertarung adalah demi melakukan peregangan bersamaku tetap saja membuatku bingung.


Tetapi terlepas dari itu, aku yakin ada banyak hal yang bisa kupelajari dari pertarungan mereka, jadi aku memusatkan perhatian untuk mengamatinya.


◇ ◆ ◇


Beberapa saat telah berlalu sejak pertarungan demi mendapatkan hak melakukan peregangan bersamaku... dimulai.


Karena jaraknya cukup jauh, aku tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tetapi mereka terus bertarung sambil berteriak, dan pertarungan itu masih berlangsung sengit tanpa tanda-tanda mereda.


"Aku ingin menyentuh tubuh Teraword-kun!"


"Maaf, tapi yang akan menyentuh tubuh Tera-kun itu aku!"


"Tidak! Aku yang akan bermesraan dengan Teraword-kun...!"


"Sayang sekali! Bersama Tera-kun──"


Di tengah pertarungan sengit itu, yang paling menonjol tetap saja adalah...


"Maaf semuanya, tapi aku sama sekali tidak akan menyerahkan kesempatan peregangan bersama Fin-kun!!"


"Maaf lancang, tetapi aku juga tidak berniat mengalah."


Elena-san yang terus meneriakkan sesuatu sambil melancarkan sihir-sihir yang sangat kuat, dan Sefia-san yang seperti biasa tetap tenang sambil mengayunkan pedangnya.


Sebagai dua orang yang dijuluki kekuatan tempur terkuat Kekaisaran Luvankrum, kekuatan mereka memang jauh melampaui anggota pasukan garis depan lainnya.


Namun bukan berarti anggota yang lain hanya terdesak begitu saja. Mereka saling bekerja sama dengan mengombinasikan berbagai sihir untuk menghadapi keduanya.


Pertarungan yang jauh lebih canggih daripada apa pun yang pernah kulihat sebelumnya itu terus berlangsung beberapa saat.


Lalu, setelah serangkaian serangan mereda, semua orang berhenti bergerak sejenak.


"Kalau lawannya pasukan negara musuh, berapa pun jumlahnya tidak masalah. Tetapi jika lawannya kalian semua, tentu tidak semudah itu."


"Tapi yang dipertaruhkan adalah peregangan bersama Fin-kun! Maaf semuanya, tapi aku tidak berniat mengalah!"


"Peregangan bersama Teraword-kun...!"


"Peregangan bersama Tera-kun...!"


Sambil bergumam seperti itu, semua orang kembali saling berhadapan, seolah-olah pertarungan yang sesungguhnya baru akan dimulai.


Kalau hanya melihat pertarungannya, memang banyak yang bisa kupelajari. Tetapi tetap saja, sikap mereka terasa agak aneh.


Kenapa mereka begitu ingin melakukan peregangan bersamaku?


Atau lebih tepatnya...


"Umm... semuanya."


"Fin-kun...?"


"Tera-kun...?"


Saat aku tanpa sadar memanggil mereka, semua orang yang hendak melanjutkan pertarungan pun menoleh kepadaku.


Kalau begini, aku harus mengatakan apa yang kupikirkan.


"Melakukan peregangan itu bisa besok, lusa... atau bahkan malam setelah latihan selesai. Jadi, bagaimana kalau kalian tidak perlu bertarung hanya demi itu?"


Menurutku, tidak ada alasan bagi mereka untuk bertarung demi sesuatu yang bisa dilakukan kapan saja.


Setidaknya, itulah maksud ucapanku.


Namun...


"Bersama Teraword-kun..."


"Malam..."


"Peregangan...!?"


Entah kenapa semua orang langsung memerah dan menjadi gaduh.


"T-Tunggu...!"


"Teraword-kun pasti tidak bermaksud seperti itu...!"


"Tapi kalau mendengar Tera-kun sendiri bilang 'peregangan malam'...!"


Mereka satu per satu berlutut, membayangkan sesuatu, lalu mulai tampak malu, bahkan ada yang terlihat sangat tersipu.


"S-Semuanya...? Ada apa?"


"Eh...!?"


"T-Tidak kok!"


"Tidak ada apa-apa!"


Padahal mereka sampai berlutut dengan wajah merah, jadi kurasa jelas bukan "tidak ada apa-apa"...


Saat aku merasa heran, mereka mulai berbisik satu sama lain dengan suara yang tak bisa kudengar.


"Karena reaksi kita aneh, kita malah bikin Teraword-kun bingung...!"


"Teraword-kun pasti sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Ayo kita dengar langsung dari dia soal peregangan malam, biar kita juga bisa tenang."


"Ya, ayo begitu...!"


Mereka saling mengangguk kecil, lalu kembali menoleh kepadaku. Salah seorang dari mereka pun bertanya.


"Hei, Teraword-kun."


"Ya?"


"Kalau begitu... menurutmu bagaimana tentang peregangan di malam hari?"


"Peregangan di malam hari? Hmm..."


Aku memang belum pernah benar-benar memikirkannya.


Tetapi kadang setelah mandi aku melakukan peregangan ringan, dan rasanya hasilnya lebih baik daripada biasanya. Mungkin karena tubuh sudah hangat setelah mandi.


Kalau begitu...


"Menurutku peregangan di malam hari bagus karena membuat tubuh jadi lebih sehat!"


"P-Peregangan malam..."


"Membuat sehat!?"


Bukan hanya pipinya yang memerah. Wajah semua orang memerah total, lalu mereka roboh ke tanah seolah seluruh tenaga mereka hilang.


"Eh!? S-Semuanya!? Kalian tidak apa-apa!?"


Puluhan orang, apalagi orang-orang sekuat mereka, tumbang bersamaan...


Jangan-jangan ini serangan musuh!?


Saat aku hendak berlari menghampiri mereka—


"F-Fin-kun! Tidak usah khawatir, semuanya baik-baik saja!"


Entah kenapa Elena-san yang pipinya juga agak memerah berdiri di antara aku dan mereka.


Lalu Elena-san berkata dengan suara keras.


"Semua orang cuma tumbang karena terlalu... sehat!"


"T-Tumbang karena terlalu sehat...!? B-Baru kali ini aku mendengarnya... Kalau Elena-san dan Sefia-san sendiri tidak apa-apa?"


Selain Norn-san yang sejak tadi bersamaku menyaksikan pertarungan, yang masih berdiri hanya Elena-san dan Sefia-san.


Saat aku menanyakan hal itu, Elena-san menjawab dengan tergesa-gesa.


"I-Iya! Aku sudah memutuskan untuk santai saja jadi tidak apa—bukan! Maksudku... aku baik-baik saja!"


Lalu aku menoleh kepada Sefia-san. Dia juga tampak memerah, tetapi berkata,


"Aku juga tidak ada masalah."


Ucapannya memang terdengar agak kaku, tetapi setidaknya dia tidak tampak akan roboh sekarang juga. Kemudian Sefia-san memandang semua orang yang masih tergeletak.


"Akan tetapi... dengan kondisi semua orang seperti ini, sepertinya sulit untuk langsung memulai latihan."


"I-Iya! Kita harus menunggu sampai semuanya bangun!"


Elena-san berkata demikian sambil sedikit terbata-bata. Lalu dari belakang, Norn-san berkata.


"Kalau begitu, selama menunggu, bagaimana kalau Onee-san mengajari Fin-kun cara melakukan peregangan berpasangan secara praktik?"


"Eh...?"


Tanpa memedulikan Elena-san yang memiringkan kepalanya, Norn-san menghampiriku lalu berkata kepada mereka berdua.


"Elena-chan dan Sefia-chan pasti capek, jadi istirahat saja ya~"


Kemudian ia meletakkan kedua tangannya di pundakku dan berbisik dengan suara manis.


"Kalau begitu, Fin-kun, ayo kita pergi ke tempat yang agak sepi berdua. Onee-san akan menyentuh bagian tubuhmu yang kaku dengan lembut supaya rileks—"


"Tunggu dulu!!"


Elena-san langsung berteriak.


"Jangan-jangan tadi kamu mengusulkan pertarungan untuk memperebutkan hak melakukan peregangan dengan Fin-kun, tapi kamu sendiri tidak ikut supaya akhirnya kamulah yang bisa melakukan peregangan dengannya!?"


"Kamu terlalu banyak berpikir~. Bagaimanapun juga, yang tenaganya masih paling banyak sekarang itu aku, jadi paling cocok kalau aku yang mengajari Fin-kun. Jadi kalian berdua—"


"Norn saja benar-benar tidak boleh!! Nanti kamu bilangnya peregangan, tapi pasti suasananya jadi aneh!!"


"Suasana aneh? Memangnya seperti apa~?"


"Y-Ya... maksudnya..."


Entah membayangkan apa, Elena-san memerah lalu berteriak untuk menutupinya.


"Pokoknya tidak boleh! Sama sekali tidak boleh!"


"Eh~? Tapi kalau begitu siapa yang akan melakukan peregangan dengan Fin-kun~?"


"Hmm... yang jelas Norn benar-benar tidak boleh. Jadi tinggal aku atau Sefia-chan..."


Sambil berkata begitu, Elena-san menoleh kepada Sefia-san.


"Kalau begitu, aku akan menyerahkan kesempatan ini kepada Elena-san."


Padahal tadi Sefia-san bahkan rela bertarung demi bisa melakukan peregangan bersamaku, tetapi kini dia langsung mengalah.


"Eh? Serius?"


Elena-san memiringkan kepala kebingungan.


Sambil memerah, Sefia-san menjawab.


"Ya. Kalau aku yang melakukannya sekarang, sepertinya pikiranku akan dipenuhi sedikit... gangguan."


Gangguan pikiran...?


Aku tidak mengerti maksudnya, tetapi sepertinya Elena-san memahaminya.


"A-Ah... iya ya! Sejujurnya aku juga masih terus mengingat ucapan Fin-kun tadi, dan cuma membayangkan bersentuhan dengannya saja sudah susah menahan diri..."


Setelah bergumam pelan, Elena-san berkata lagi.


"Kalau begitu, hari ini biar aku yang melakukan peregangan dengan Fin-kun ya! Mohon bantuannya, Fin-kun!"


"Ya! Mohon bimbingannya!"


Peregangan memang hanya persiapan sebelum latihan.


Tetapi bahkan persiapan itu pun terasa sangat menyenangkan jika bisa kulakukan bersama Elena-san dan yang lainnya.


◇ ◆ ◇


Untuk melakukan peregangan bersama Elena-san,


kami berjalan menuju tempat yang tidak jauh dari sana yang cocok untuk peregangan.


"I-Ini berarti sekarang aku benar-benar akan melakukan peregangan bersama Fin-kun... Bersama Fin-kun..."


Elena-san yang berjalan di sampingku bergumam pelan.


"Tadi aku hanya terpikir ingin melakukan peregangan bersama Fin-kun, jadi tidak apa-apa. Tapi sekarang setelah kupikir kami benar-benar akan saling bersentuhan..."


"Elena-san? Ada apa?"


"Eh...!?"


Karena khawatir, aku memanggilnya.


Elena-san langsung menoleh, wajahnya memerah, lalu buru-buru menggeleng.


"T-Tidak! Tidak ada apa-apa kok! Maaf sudah membuatmu khawatir."


"Tidak apa-apa! Yang penting Elena-san baik-baik saja!"


Saat aku menjawab dengan lega, Elena-san kembali menghadap ke depan.


"Astaga... aku malah membuat Fin-kun khawatir...! Ini cuma peregangan, bukan sesuatu yang aneh...! Aku benar-benar harus berhenti memikirkan hal-hal aneh..."


Elena-san masih bergumam pelan. Namun setelah menarik napas dalam-dalam sekali, akhirnya kembali seperti biasanya.


Tak lama kemudian kami tiba di tempat peregangan.


"Kalau begitu, kita mulai ya! Fin-kun, bisa duduk di sini?"


"Ya!"


Aku pun duduk seperti yang diminta.


Elena-san berjalan ke belakangku. Lalu, bersama aroma harum yang lembut, dia mendekat.


"Pertama, kita regangkan tubuh Fin-kun ke depan dulu ya."


"Baik!"


Begitu aku menjawab, Elena-san meletakkan kedua tangannya dengan lembut di kedua pundakku.


Lalu perlahan mendorong tubuhku ke depan...


Saat itulah.


"!? "


Aku merasakan dua benda yang besar dan lembut menyentuh punggungku.


I-Ini... da-dada Elena-san...


"Fin-kun? Kamu tidak apa-apa?"


"A-Ah...! A-Aku baik-baik saja!"


Aku buru-buru menjawab Elena-san yang mengkhawatirkanku.


Sekarang kami hanya sedang melakukan peregangan.


Aku tidak boleh memikirkan hal-hal aneh.


Sambil terus mengingatkan diriku sendiri, aku memusatkan perhatian pada peregangan.


"Hmm..."


"....."


"Hnn..."


"....."


Elena-san ternyata sangat pandai bahkan dalam melakukan peregangan. Dibandingkan saat melakukannya sendirian, aku bisa merasakan setiap bagian tubuhku meregang jauh lebih baik.


"A-apa itu...!? Suaramu yang terlalu imut itu...! Kalau aku mendengarnya siang bolong begini, rangsangannya terlalu kuat—bukan, maksudku! ...Aku harus mengobrol atau aku bakal terus memikirkan hal-hal aneh..."


Rasanya Elena-san sempat bergumam sesuatu. Namun karena aku sudah memutuskan untuk fokus pada peregangan, aku memusatkan perhatian pada tubuhku.


Lalu Elena-san berbicara kepadaku dengan suara ceria.


"Setelah mencobanya, ternyata tubuhmu lentur juga ya, Fin-kun!"


"Benarkah?"


"Iya! Kelihatan sekali kalau kamu memang selalu rajin bergerak setiap hari!"


"T-terima kasih..."


Dipuji oleh Elena-san dan semua anggota Pasukan Garis Depan lainnya… tak peduli berapa kali mengalaminya, aku tetap merasa sangat senang.


Saat aku mengucapkan terima kasih dengan tulus, Elena-san melanjutkan.


"Tapi bukan cuma lentur. Setelah benar-benar menyentuhmu, bahkan dari balik pakaian pun terasa kalau tubuhmu memang benar-benar tubuh laki-laki. Misalnya, bahu yang sedang kusentuh sekarang ini—eh!"


Elena-san yang hendak mengatakan sesuatu segera menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Aku malah mikir yang aneh lagi...! Padahal sudah mencoba mengobrol supaya nggak kepikiran macam-macam. Seberapa besar sih aku memikirkan Fin-kun sampai begini..."


"E-ehm, Elena-san."


"Hm?"


Sebenarnya aku ingin menyelesaikan peregangan tanpa mengatakannya. Namun dalam keadaan kami sedekat ini, mustahil bagiku untuk tetap tenang.


"Dari tadi... dada Elena-san terus menempel di punggungku, jadi..."


"Dadaku...?"


Setelah mendengarku, Elena-san menundukkan wajah dan melihat ke arah dadanya sendiri.


Begitu menyadari bahwa dadanya benar-benar menempel erat di punggungku. Ia segera menjauhkan tubuhnya dariku dan berkata dengan wajah penuh penyesalan.


"M-maaf ya, Fin-kun! Aku terlalu fokus sama peregangannya sampai sama sekali nggak kepikiran soal dadaku...! Ka-kamu pasti nggak suka, ya?"


"T-tidak! Aku tidak membencinya!"


"...Eh?"


Karena hampir saja Elena-san salah paham besar.


Aku langsung menyangkalnya dan melanjutkan.


"Sejujurnya memang agak memalukan... tapi kalau dengan Elena-san, sama sekali tidak membuatku merasa tidak suka!"


"Kalau... denganku..."


"Iya. Hanya saja, tadi benar-benar terlalu menempel... jadi mulai lain kali... tolong sedikit lebih pelan..."


"...!!"


Begitu aku mengatakannya. Elena-san membelalakkan matanya.


"Hah? A-apa itu? Ekspresi dan kata-katamu... Ka-kalau kamu mengatakan hal seperti itu dengan wajah seperti itu, sesuatu yang kutahan-tahan jadi nggak bisa dita—"


Saat Elena-san hendak melanjutkan.


"Hei, hei. Dari tadi aku lihat dari jauh, tapi kalian baru mulai peregangan kok sudah berjauhan. Apa Elena-chan yang kelelahan? Kalau begitu, mulai sekarang biar aku yang—"


Saat Norn-san mendekat sambil mengatakan itu.


Elena-san langsung berdiri dan berlari ke arah Norn-san.


"M-maaf ya, Fin-kun! Sekarang aku belum bisa langsung melanjutkan peregangannya. Jadi boleh nggak kamu menemani Sefia-chan sebentar?"


"Eh...?"


"Lho? Memangnya kenapa? Kalau Elena-chan nggak bisa, biar aku ya—"


"Pokoknya begitu! Tolong ya!"


Mengatakannya dengan penuh semangat.


Elena-san mendorong punggung Norn-san dan, seolah kalau tetap di sini sesuatu akan lepas kendali, hampir menyeretnya pergi dari tempat itu.


"E-eh...?"


Semuanya terjadi begitu cepat sampai aku tidak benar-benar memahami situasinya. Tapi untuk sementara, mungkin aku cukup menemani Sefia-san seperti yang diminta Elena-san.


Saat aku berpikir begitu dan berdiri.

Sefia-san menghampiriku.


"Sefia-san!"


Saat aku memanggil namanya, Sefia-san tersenyum lembut.


"Sepertinya... rencana kita perlu sedikit diubah."


"Diubah...?"


"Iya. Setelah ini kita tetap akan melakukan latihan tanding, tetapi sepertinya semua orang masih membutuhkan sedikit waktu lagi untuk kembali ke kondisi semula."


Lalu ia melanjutkan.


"Fin-san. Kalau tidak keberatan, selama menunggu... maukah kamu berjalan-jalan di sekitar sini sambil mengobrol berdua denganku?"


Mengobrol dengan Sefia-san...!


"Tentu!"


Aku langsung menjawab, lalu Sefia-san berkata, "Terima kasih," sebelum mulai berjalan.


◆ ◇ ◆


Di dalam hutan yang diterangi cahaya matahari yang menembus sela-sela dedaunan.


Kami berjalan berdampingan. Jarak kami begitu dekat hingga tangan kami hampir saja saling bersentuhan.


"..."


Karena dia yang mengajakku mengobrol, mungkin ada sesuatu yang ingin Sefia-san bicarakan denganku.


Kalaupun tidak, aku sendiri masih punya begitu banyak hal yang ingin kubicarakan dengannya, jadi sama sekali tidak masalah.


Sambil memikirkan itu, kami berjalan beberapa saat sambil memandangi pepohonan.


Lalu Sefia-san berbicara dengan ekspresi muram.


"Fin-san... mengenai kejadian kemarin, aku sungguh minta maaf."


"...Eh?"


Aku memang sempat berpikir Sefia-san ingin membicarakan sesuatu. Namun aku sama sekali tidak merasa pernah punya alasan untuk menerima permintaan maaf darinya, jadi aku bertanya.


"Ke-kenapa Sefia-san harus meminta maaf kepadaku? Dan soal kejadian kemarin itu..."


"...Tentang kamu yang merasa tertekan karena status keluargamu. Seandainya aku sebagai sensei pedangmu bisa menyadari kegelisahan yang tersimpan jauh di dalam hatimu, aku tidak akan membiarkan dirimu menderita seperti itu."


"T-tidak begitu...! Itu hanya karena saya sendiri terlalu memikirkannya. Sefia-san sama sekali tidak bersalah!"


"Walaupun begitu, aku tetap tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Seandainya aku bisa lebih mendampingi Fin-san..."


Namun kemudian ia melanjutkan.


"Itulah sebabnya aku sudah memutuskan. Sebagai sensei pedangmu, aku akan selalu berada di sisimu, dan aku ingin menyampaikan betapa berharganya keberadaanmu bagiku."


Dengan suara yang dipenuhi tekad kuat.


Sefia-san berhenti berjalan lalu bertanya kepadaku.


"Fin-san... apakah kamu masih ingat ketika kamu mengatakan ingin membalas budi kepadaku karena aku telah melindungimu dari percobaan pembunuhan Stella-san?"


Mendengar pertanyaan itu, aku juga berhenti dan langsung menjawab.


"Iya, aku ingat."


"Waktu itu aku mengatakan akan meminta sesuatu jika sudah memikirkannya... dan sekarang, aku ingin meminta hal itu."


Permintaan dari Sefia-san.


Aku sudah memutuskan dalam hati untuk tidak akan pernah menolaknya, apa pun permintaannya.


Sambil menunggu kelanjutan ucapannya, Sefia-san mengulurkan tangannya kepadaku.


"Kalau kamu berkenan... maukah kamu menggandeng tanganku?"


"Eh...!? A-aku dan Sefia-san... bergandengan tangan?"


"Iya. Tadi aku memang memilih untuk tidak melakukan peregangan bersamamu. Namun saat melihatmu dan Elena-san melakukan peregangan... Aku juga ingin menyentuhmu."


Orang sepertiku bergandengan tangan dengan Sefia-san...


Walaupun itu permintaan darinya, tetap saja aku merasa sungkan. Namun sejak awal aku memang tidak mungkin menolak.


"B-baiklah...! Mari kita bergandengan tangan...!"


Dengan gugup aku menjawab, lalu perlahan menggenggam tangan yang diulurkannya.


"Fin-san..."


Sambil memerah wajahnya dan memanggil namaku dengan gembira.


Sefia-san dengan malu-malu membalas genggamanku.


"Ini pertama kalinya aku bergandengan tangan dengan seorang pria... tetapi tanganmu sangat kokoh, Fin-san. Aku sendiri sulit mengungkapkannya dengan kata-kata... namun rasanya aku jadi sedikit gugup."


"A-aku juga... sama..."


Tangan Sefia-san begitu lembut.


Halus. Indah.


Sampai-sampai sulit dipercaya bahwa tangan itu adalah tangan seseorang yang setiap hari menggenggam pedang.


Semakin kupikirkan hal itu.


Semakin kuat pula rasa gugupku.


"..."


"..."


Setelah beberapa saat keheningan yang sedikit memalukan menyelimuti kami.


"Kalau begitu, mari kita berjalan sedikit lebih lama... sambil tetap bergandengan tangan seperti ini."


"B-baik...!"


Kami pun kembali berjalan sambil tetap bergandengan tangan.


Tangan Sefia-san terasa begitu hangat...


Di tengah alam yang dipenuhi hijaunya pepohonan, hatiku pun dipenuhi ketenangan.


Setelah beberapa saat menikmati keindahan alam hutan sambil bergandengan tangan berdua dengan Sefia-san.


"Ini benar-benar waktu yang sangat berharga, tapi sepertinya kita sudah harus kembali ke tempat semua orang."


"Iya."


"...Agak memalukan kalau semua orang melihat kita sedang bergandengan tangan, jadi bagaimana kalau kita lepaskan sekarang?"


"I-iya, benar."


Memang sayang rasanya waktu yang menenangkan ini harus berakhir.


Namun, karena memang agak malu jika orang lain melihat kami bergandengan tangan, aku pun berniat melepaskan tangan Sefia-san seperti yang dia katakan... tetapi.


"..."


Menyadari bahwa Sefia-san sama sekali tidak berniat melepaskan tanganku, aku pun memiringkan kepala.


"Sefia-san...?"


"Fin-san... itu..."


Dengan pipi yang memerah, Sefia-san menggenggam tanganku sedikit lebih erat lalu berkata.


"Kali ini aku memintamu bergandengan tangan sebagai bentuk balasan atas kebaikanmu sebelumnya... tetapi... mulai sekarang juga, jika ada kesempatan, bolehkah aku kembali bergandengan tangan denganmu...?"


Sambil menatap mata Sefia-san yang dipenuhi keberanian, ketegangan, dan sedikit rasa malu.


Aku segera menjawab.


"Tentu saja! Bagiku juga ini adalah waktu yang membuat hatiku terasa hangat, jadi lain kali juga... u-um... mohon lakukan lagi!"


Aku bergandengan tangan dengan Sefia-san.


Maksudku, begitu aku kembali menyadari bahwa bahkan saat ini pun kami masih saling menggenggam tangan, aku jadi gugup sampai kata-kataku sedikit tersendat.


Setelah berhasil menyampaikan perasaanku, Sefia-san membuka matanya lebar-lebar, lalu tersenyum tipis.


"Kalau sedang berbicara dengan Fin-san, rasanya aku ingin terus menyentuhmu selamanya... tetapi kalau begitu, perasaan ini akan kusimpan sampai kesempatan berikutnya."


Kemudian kami perlahan melepaskan tangan yang sejak tadi saling menggenggam. Lalu mulai berjalan menuju tempat semua orang berada.


Tak lama kemudian, kami pun tiba di tempat semua orang berkumpul.


"T-Teraword-kun! Maaf ya, tadi kami tiba-tiba pingsan begitu saja!"


"S-sekarang kami sudah tidak apa-apa! Iya, kan semuanya!"


"Iya!"


"Kami baik-baik saja!!"


Entah sejak kapan, semua orang yang tadi pingsan sudah bangun, lalu meminta maaf kepadaku.


"Tidak usah dipikirkan. Yang terpenting, semuanya terlihat sehat!"


"T-Tera-kun...!"


"Terlalu imut..."


"Melihatnya kapan pun tetap bikin hati tenang..."


Saat semua orang tumbang bersamaan tadi, aku benar-benar khawatir apa yang akan terjadi.


"Fin-kun, Sefia-chan, selamat datang kembali! Di sini semuanya sudah tenang, jadi kita bisa mulai latihan kapan saja!"


Termasuk Elena-san yang menyambut kami dengan kata-kata itu, semua orang tampak baik-baik saja.


Saat aku merasa lega dalam hati, Sefia-san mengangguk.


"Baik. Kalau begitu, mengenai peregangan bersama Fin-san, seperti yang tadi Fin-san katakan, masih akan ada banyak kesempatan untuk melakukan peregangan di masa mendatang, jadi kali ini—"


Saat Sefia-san hendak melanjutkan perkataannya.


Terdengar suara derap kaki kuda dari kejauhan sehingga kami semua menoleh ke arah itu.


Sesaat aku waspada kalau-kalau itu musuh, tetapi tempat ini berada jauh di dalam wilayah Kekaisaran Luvankrum dibanding markas garis depan, jadi kemungkinan itu tidak ada.


Kalau begitu... siapa mereka?


Saat pertanyaan itu muncul di benakku, beberapa pria berkuda akhirnya tiba di hadapan kami, dan pria yang berada paling depan berseru lantang.


"Kami adalah pasukan yang dikirim oleh para petinggi!"


Orang itu... dia yang dulu juga datang ke garis depan ini sebagai pasukan utusan.


Kalau tidak salah, dia sempat membicarakan jasadku....


Saat aku mengingat hal itu, pria tersebut kembali berkata dengan suara keras.


"Kalian! Waktu itu kalian berani-beraninya menghina kami!"


"Bukannya menghina, kami cuma mengatakan kenyataannya."


"Karena pihak kalian yang terus mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal, kan?"


"Kalau tidak salah, kalian juga bilang Fin-kun sama seperti kalian."


"Mau didengar berkali-kali pun tetap tidak masuk akal."


Begitu semua orang membalas, pria itu berteriak marah.


"Kurang ajar, gadis-gadis kecil...! Kami datang bukan untuk mengobrol dengan kalian!"


"Kalau begitu, dari awal langsung saja sampaikan urusannya."


"Kami juga benar-benar tidak sanggup berbicara dengan pria militer selain Teraword-kun."


"Sialan...!"


Pria itu kembali hendak membentak, tetapi kali ini ia berdeham lebih dulu.


Lalu akhirnya masuk ke pokok pembicaraan.


"Kami datang untuk menyampaikan jawaban dari para petinggi mengenai permohonan cuti kalian!"


Jawaban mengenai permohonan cuti. Artinya, sekarang kami akan tahu apakah kami boleh pergi ke kota atau tidak.


Saat rasa tegangku sedikit meningkat, pria itu akhirnya menyampaikan jawabannya.


"Dan langsung pada kesimpulannya... para petinggi telah menyetujui permohonan kalian."


Namun, ia melanjutkan.


"Akan tetapi, karena kita tidak tahu kapan Kerajaan Granzania akan kembali menyerang, kalian diminta berangkat ke kota secepat mungkin, lalu segera kembali ke garis depan."


"Secepat mungkin itu maksudnya seberapa cepat?"


Menanggapi pertanyaan Elena-san, pria itu langsung menjawab.


"Sesuai arti katanya. Bahkan latihan pun ditiadakan. Kalian diminta bergerak secepat mungkin. Idealnya, lusa kalian sudah tiba di kota."


"Bahkan latihan juga ditiadakan... ya."


"Benar. Lagi pula, kalau di dalam pasukan terkuat masih ada seorang murid latihan, mana mungkin latihan yang layak bisa dilakukan."


Sambil berkata begitu, pria itu menatapku dengan pandangan merendahkan.


"Hah? Fin-kun itu—"


Mungkin Elena-san hendak membelaku.


"Aku tidak keberatan, jadi tidak apa-apa."


Aku berbisik pelan agar suasana tidak semakin memburuk. Meski tampak belum puas, Elena-san menghormati keputusanku dan akhirnya menutup mulut.


Di tengah suasana itu, Norn-san mengutarakan sebuah pertanyaan.


"Baru saja kita memukul mundur pasukan sebesar itu, jadi rasanya tidak perlu sampai menghapus latihan segala. Apa ini cuma berjaga-jaga? Tapi tetap saja, bukannya kalian terlalu terburu-buru?"


"Terburu-buru? Apa maksudmu kami terburu-buru?"


"Hmm... misalnya ada urusan lain yang ingin segera diselesaikan, makanya kalian ingin kami cepat-cepat pergi ke kota... begitu?"


Pria itu membuka matanya lebar-lebar karena terkejut, lalu langsung membentak.


"D-diam!! Dasar gadis kecil, jangan ikut campur dalam urusan yang bukan urusanmu!! Kalian tinggal melakukan apa yang diperintahkan atasan saja!!"


"....."


Norn-san menyipitkan mata, seolah melihat sesuatu yang tersembunyi di balik sikap pria itu.


Menyadari tatapan tersebut, pria itu segera membalikkan badan dari kami dengan wajah yang tampak tidak nyaman.


"Pokoknya, bersiaplah mulai hari ini agar besok kalian sudah bisa berangkat ke kota!! Kami pamit!!"


Setelah berkata demikian, pria itu menaiki kudanya, diikuti para pria di belakangnya, lalu mereka segera meninggalkan tempat ini.


"Pria selain Teraword-kun benar-benar yang paling buruk..."


"Sombong sekali..."


"Aku benar-benar tidak tahan..."


"Dia meremehkan Tera-kun hanya karena masih murid latihan..."


"Kalau dia musuh, pasti sudah langsung kukalahkan..."


Saat semua orang mulai menggumam dengan suasana yang agak suram, Elena-san pun membuka mulut.


"Rasanya tadi agak tidak wajar. Jadi bagaimana?"


"Memang terasa sedikit aneh, tapi setidaknya penjelasannya masih masuk akal. Jadi menurutku kali ini kita ikuti saja."


"Benar juga. Kalaupun mereka sedang merencanakan sesuatu, kurasa kita pasti bisa mengatasinya. Jadi untuk sekarang, lebih baik kita fokus menikmati jalan-jalan bersama saja."


"Benar! Aku juga tidak mau waktu menyenangkan kita hilang hanya karena memikirkan apa yang direncanakan para petinggi! Jadi... semuanya!"


Elena-san memanggil semua orang yang tadi masih bergumam sendiri.


"Memang sih, setiap kali bicara dengan pria selain Fin-kun rasanya jadi tidak enak badan, tapi lupakan dulu itu! Sesuai rencana kita selama ini, akhirnya kita bisa pergi ke kota, jadi sekarang mari kita rayakan itu!"


"Yeay!"


"Baik!"


"Benar juga... kita akhirnya jadi pergi ke kota!"


"Aku sudah tidak sabar...!"


"Kali ini Tera-kun juga ikut, jadi pasti bakal lebih seru daripada sebelumnya...!"


"Benar banget...!"


"Aku tidak sabar, Fin-kun!"


"Iya! Aku juga sangat menantikannya!"


"Imut..."


"Imutnya..."


"Imut banget..."


Suasana yang tadi muram seolah hanya kebohongan belaka, berubah menjadi ceria.


Hari itu latihan pun dibatalkan, dan kami mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi ke kota.


◆ ◇ ◆


Keesokan harinya.


Di markas besar Pasukan Kekaisaran Luvankrum.


Di ruang rapat itu, seperti biasa keempat petinggi telah duduk di tempat masing-masing.


"Permisi."


Bersamaan dengan suara itu, seorang pemuda yang rambutnya disisir ke samping memasuki ruangan.


"Hari ini adalah hari untuk memastikan kembali rencana konkretnya, bagaimana aku yang akan menjadi kekuatan tempur terkuat Pasukan Kekaisaran Luvankrum berikutnya, akan melenyapkan rakyat jelata bernama Fin Teraword... fuh."


Sejak mendengar cerita dari Deandre, tampaknya ia membayangkan masa depan saat dirinya berhasil membunuh lawan yang selama ini membuat para petinggi kewalahan.


Dengan suasana hati yang sangat baik, pemuda itu kembali menyisir rambutnya ke samping yang sebenarnya sudah tersisir ke samping sejak awal, lalu mengucapkan kata-kata itu.


Sesaat kemudian, ruangan itu diselimuti keheningan.


"D-Deandre-dono... apa benar tidak masalah menyerahkan tugas penting untuk melenyapkan Fin Teraword kepadanya?"


Bouge berkata dengan nada cemas setelah melihat tingkah pemuda itu. Deandre mengangguk.


"Ya. Aku mengakui ada masalah pada kepribadiannya, tetapi kemampuannya tidak perlu diragukan... itu sudah menjadi fakta yang diketahui semua orang dari berbagai pencapaiannya selama ini. Melenyapkan Fin Teraword adalah tugas paling mendesak bagi kita saat ini."


"Memang benar, tapi..."


Bahkan setelah mempertimbangkan hal itu, Bouge masih belum bisa menghilangkan kegelisahannya terhadap kepribadian pemuda tersebut.


Namun, pemuda itu dengan penuh percaya diri berkata kepada Bouge.


"Aku benar-benar tidak mengerti apa yang begitu kalian khawatirkan. Kalau aku, rakyat jelata itu cukup..."


Ia menghentikan ucapannya sejenak, lalu melanjutkan.


"Tidak, kalau langsung selesai hanya dengan satu serangan, pertunjukannya akan terlalu membosankan. Kalau begitu, meski dia hanya rakyat jelata, memberinya sedikit kesempatan untuk bersinar justru akan semakin memperindah diriku sendiri, ya...? Namun, sekeras apa pun aku menahan kekuatanku, mustahil rakyat jelata mampu bertahan dari serangan yang dipenuhi sihir luar biasa milikku...! Ah...! Sungguh malang! Betapa menyedihkannya kekuatanku sendiri! Betapa menyebalkannya! Kenapa aku... bisa sekuat ini... sekuat ini...!!"


Tadi ia masih berbicara dengan Bouge. Kini ia justru tenggelam dalam dunianya sendiri, memegangi kepala sambil menikmati kekaguman terhadap dirinya sendiri.


Bouge bahkan tidak sanggup lagi mengutarakan kekhawatirannya.


Saat ia hanya bisa terdiam, Ashel memandang pemuda itu lalu berkata.


"Hm? Sekarang aku ingat pernah melihatmu di suatu tempat... Bukankah kau putra keluarga marquis... Narcis?"


Pemuda berambut belah samping yang dipanggil Narcis itu menoleh kepada pria tersebut lalu mengangguk.


"Ya, benar. Aku Narcis."


"Begitu rupanya. Terakhir kali aku melihatmu di sebuah pesta beberapa tahun lalu, tak kusangka sekarang kau sudah tumbuh menjadi sehebat ini... Demi hubungan kita yang sudah saling mengenal, bila kau berhasil menyelesaikan misi kali ini dengan selamat, aku akan memberimu jabatan yang lebih tinggi lagi di dalam militer. Bagaimana?"


Di kalangan kaum bangsawan Pasukan Kekaisaran Luvankrum, memperoleh kesempatan promosi hanya karena saling mengenal bukanlah hal yang langka.


Bahkan lebih dari separuh pejabat memperoleh kedudukan mereka melalui hubungan semacam itu.


Namun dalam kasus Narcis, selain berasal dari keluarga marquis, ia juga memang memiliki kemampuan.


Karena itu, Deandre mengangguk tanpa ragu.


"Tentu saja. Dengan kemampuan yang ia miliki dan statusnya sebagai putra keluarga marquis, semakin tinggi kedudukannya di militer, semakin menguntungkan pula bagi kami para bangsawan."


"Kalau begitu, Narcis. Berusahalah sebaik mungkin dalam misi ini."


"Siap! Aku, Narcis, pasti akan membunuh Fin Teraword, rakyat jelata yang telah membuat kalian semua kesulitan! Dan tentu saja... dengan penuh keanggunan!"


Bagi Deandre dan yang lainnya, bagian "dengan penuh keanggunan" sebenarnya tidak terlalu penting.


Namun mengingat Narcis berasal dari keluarga marquis, jika panggung untuk mengalahkan rakyat jelata seperti Fin bisa berlangsung dengan anggun, tentu itu lebih baik.


Bagaimanapun juga, selama Narcis benar-benar berhasil membunuh Fin, mereka tidak punya alasan untuk mengeluh, sehingga tidak ada yang menyinggung masalah itu.


"Kalau begitu, langsung saja ke pokok—"


Saat Deandre hendak melanjutkan.


"!!"


Narcis tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar seolah menemukan sesuatu.


"Ada apa?" tanya Deandre.


Narcis memandang Victoria dengan tatapan penuh kekaguman.


"Kalau tidak salah, Andalah wanita yang disebut sebagai kekuatan tempur terkuat Pasukan Kekaisaran Luvankrum, sekaligus anggota jajaran petinggi, dan juga berasal dari keluarga Duke?"


"...Benar. Memangnya itu ada hubungannya dengan sekarang?"


"Luar biasa...!"


Sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, Narcis melanjutkan dengan suara lantang.


"Selama ini aku hanya pernah melihatmu dari kejauhan, tetapi ternyata dari dekat kau secantik ini! Tidak diragukan lagi, kaulah wanita tercantik yang pernah kutemui! Bagaimana kalau lain waktu kita makan malam bersama?"


Mendengar ajakan Narcis, Victoria berpikir dalam hati.


Tentu saja aku tidak mungkin pergi makan bersama pria selain Fin. Dalam sekejap, ia memikirkan enam belas cara untuk membunuh Narcis.


Tujuh di antaranya bahkan bisa langsung dilakukan saat itu juga. Namun, ia tidak bisa membiarkan emosinya menghancurkan seluruh rencana.


Setelah berpikir sejenak, Victoria akhirnya menjawab.


"Aku menolak."


Orang biasa pasti sudah menyerah sampai di situ. Namun, Narcis sama sekali tidak terpikir bahwa dirinya ditolak.


Tanpa sedikit pun merasa kapok, ia kembali berkata.


"Begitu ya, rupanya makan malam kurang cocok... Kalau begitu bagaimana kalau makan siang di restoran yang sering kukunjungi?"


Menurutnya, masalahnya hanyalah makan malamnya.


Sama sekali bukan karena dirinya ditolak.


Tanpa sedikit pun meragukan penafsirannya sendiri, Narcis kembali mengajak Victoria.


Victoria yang sebelumnya masih menahan diri kini terus-menerus menerima ajakan makan dari pria selain Fin.


Bagi wanita berambut ungu itu, setiap ajakan tersebut membangkitkan rasa jijik, muak, bahkan niat membunuh.


"Apa kau tidak mengerti kalau tidak dijelaskan dengan gamblang? Aku—"


Tanpa lagi menahan perasaannya, Victoria hendak mengucapkan penolakan. Namun sebelum ia sempat menyelesaikannya, Deandre menyela.


"Narcis, cukup sampai di situ. Kalau kau benar-benar membuatnya marah, kurasa bahkan kami pun tidak akan mampu menghentikannya."


"Aku sendiri tidak merasa telah melakukan sesuatu yang bisa membuatnya marah... fuh, baiklah."


Sambil memainkan poni depannya, Narcis berkata.


"Bagaimanapun juga sekarang kita sedang bertugas. Ditambah lagi kali ini hadiahnya sangat besar... untuk sementara, mari kita fokus membahas cara aku membunuh rakyat jelata bernama Fin Teraword."


"...Begitu lebih baik. Dan kau sendiri tidak keberatan, kan?"


"Ya. Tidak masalah."


Bagaimanapun juga, jalan yang akan ditempuhnya sudah ditentukan.


Deandre sama sekali tidak menyadari bahwa wanita berambut ungu itu sedang memikirkan hal tersebut dalam hati.


Ia pun kembali membuka pembicaraan.


"Kalau begitu, kali ini benar-benar kita masuk ke pokok pembahasan... Hal terpenting dalam rencana memancing Fin Teraword ke kota lalu membunuhnya adalah melaksanakannya secepat mungkin. Sebab, sampai sekarang pun rumor yang mengagung-agungkan Fin Teraword masih terus bermunculan. Karena itu—"


Sambil mendengarkan Deandre berbicara, Victoria mengingat kembali perkataan Deandre tadi.


—"Kalau kau benar-benar membuatnya marah, kurasa bahkan kami pun tidak akan mampu menghentikannya."


Victoria menundukkan wajahnya. Dengan tatapan kosong dan suara yang begitu lirih hingga tak seorang pun dapat mendengarnya, ia bergumam.


"Membuatku marah...? Kalian baru menyadarinya sekarang, itu sudah terlambat. Kalian yang meremehkan Fin dan bahkan berencana membunuhnya... mulai sekarang akan…"


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close