Prolog
Hubungan
antarmanusia pada akhirnya tidak lebih dari sekadar kalkulasi dan tipu daya.
Hal itulah
yang mulai diyakini oleh Kazuki, dipicu oleh sebuah insiden pada tahun ketiga
SMP-nya.
Dengan
parasnya yang tampan secara alami, kepekaan tajam dalam membaca emosi orang
lain, serta kemampuan komunikasi yang diasah oleh kakak perempuannya, Kazuki
adalah tipe orang yang secara alami selalu dikelilingi oleh banyak orang sejak
usia muda.
Ia menyukai
lingkungan seperti itu. Ketika ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain
bahagia, mereka akan membalasnya dengan senyuman.
Dikelilingi
oleh senyuman membuat dirinya ikut tersenyum pula.
Rasanya itu
adalah hal yang baik, jadi Kazuki dengan antusias mengulurkan tangan kepada
orang lain, mengambil inisiatif.
Ia
mengajukan diri untuk peran ketua kelas yang tidak populer, mengambil alih
tugas membersihkan kelas untuk teman-temannya yang sibuk, bahkan hadir dalam
acara kerja bakti komunitas yang mewajibkan sejumlah peserta dari sekolah,
meskipun kegiatan tersebut sifatnya sukarela.
Semua orang
akan tersenyum, berterima kasih, dan menunjukkan apresiasi kepadanya.
Ia percaya,
tanpa secercah keraguan pun, bahwa menyebarkan siklus senyuman ini akan membuat
dunia menjadi tempat yang lebih baik—mungkin sebuah gagasan yang naif.
Lalu, jauh
di musim gugur, seorang teman mengaku kepadanya: "Ada seorang senohor
cewek yang aku suka, satu tingkat di atas kita."
Kazuki
melakukan segala cara yang bisa ia lakukan untuk membantu.
Ia
menjembatani celah antara temannya yang ragu-ragu dan gadis itu, berbicara
dengannya bersama sang teman, makan siang bersama, dan terkadang mengajaknya
jalan-jalan sepulang sekolah untuk membangun kedekatan mereka.
Pada
awalnya, sikap gadis itu tampak waspada, tetapi lambat laun melunak. Ia adalah
orang yang jujur, dan Kazuki percaya bahwa bagaimanapun hasilnya nanti, gadis
itu akan menangani perasaan temannya dengan penuh kehati-hatian. Ia berharap,
jika memungkinkan, mereka berdua bisa berakhir dengan senyuman.
Namun suatu
hari, di tengah musim segalanya berubah.
"Kamu
sudah mengejekku di belakangku selama ini, kan...?!’
Temannya
menatapnya tajam dengan mata penuh kebencian.
"Kaido,
kamu benar-benar terburuk, pura-pura membantuku mendekatinya..."
"Cowok
itu selalu memasang wajah baik di depan semua orang, kan?"
"Meskipun
begitu, mempermainkan perasaan orang lain itu benar-benar rendah."
"Bukan
cuma kepada Takakura-senpai, tapi ke orang lain juga—"
"B-Bukan,
itu tidak benar, aku..."
Bukan hanya
temannya saja. Teman-teman yang lain mengerumuni Kazuki, melontarkan tatapan
dan kata-kata penuh cemoohan kepadanya.
Itu adalah
pertama kalinya seumur hidup ia menghadapi kebencian yang begitu nyata. Ia
benar-benar terguncang, bahkan tidak mampu membela diri dengan benar.
Bahkan
teman sekelas yang biasanya menyapanya dengan santai kini berbisik-bisik penuh
kecurigaan, meliriknya dengan tatapan ragu.
Hari itu,
dunia di sekitar Kazuki jungkir balik dalam sekejap mata.
Sejak saat
itu, hari-harinya terasa seperti terjerembab dalam lumpur, terjebak di dalam
kegelapan.
Orang-orang
yang tidak tahu cerita sebenarnya memilih membaca situasi dan menjaga jarak.
Para anak laki-laki menghindarinya sepenuhnya, sementara beberapa anak
perempuan mendekatinya, menciptakan disonansi yang aneh.
Dan
kemudian, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyadari:
Segala
usahanya untuk berbuat baik ternyata hanya menjadikannya alat yang praktis bagi
orang lain.
Di balik
wajah tersenyum mereka, orang-orang sebenarnya sedang kalkulatif,
memanfaatkannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri.
Semua itu
hanyalah pertunjukan egoisnya belaka, sebuah jalinan hubungan manusia yang
rapuh—tidak lebih dari dirinya yang sendirian sejak awal.
Betapa
konyolnya.
Hatinya
terkikis oleh kenanikannya sendiri.
Ia
mengedarkan pandangannya.
Sekelompok
orang yang mengobrol gembira di bangku taman, seorang gadis yang bersemu merah
namun tidak merasa terganggu saat seorang anak laki-laki berbicara kepadanya,
seorang guru berwajah tegas yang melembutkan ekspresinya saat para siswa
mengandalkannya—apakah mereka semua juga sedang menghitung sesuatu di balik
layar?
…Begitulah
hakikat hubungan antarmanusia.
Jika tidak,
tidak akan ada penjelasan mengapa ilusi seperti persahabatan dan ikatan
dirayakan sebagai sebuah kisah indah di dunia ini.
Maka dari
itu, belajar dari kegagalan ini, ia bertekad untuk bersikap lebih baik di SMA.
Itulah yang telah ia putuskan—atau setidaknya begitu yang ia pikirkan.



Post a Comment