NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 6 Prolog

Prolog


Hubungan antarmanusia pada akhirnya tidak lebih dari sekadar kalkulasi dan tipu daya.

Hal itulah yang mulai diyakini oleh Kazuki, dipicu oleh sebuah insiden pada tahun ketiga SMP-nya.

Dengan parasnya yang tampan secara alami, kepekaan tajam dalam membaca emosi orang lain, serta kemampuan komunikasi yang diasah oleh kakak perempuannya, Kazuki adalah tipe orang yang secara alami selalu dikelilingi oleh banyak orang sejak usia muda.

Ia menyukai lingkungan seperti itu. Ketika ia melakukan hal-hal yang membuat orang lain bahagia, mereka akan membalasnya dengan senyuman.

Dikelilingi oleh senyuman membuat dirinya ikut tersenyum pula.

Rasanya itu adalah hal yang baik, jadi Kazuki dengan antusias mengulurkan tangan kepada orang lain, mengambil inisiatif.

Ia mengajukan diri untuk peran ketua kelas yang tidak populer, mengambil alih tugas membersihkan kelas untuk teman-temannya yang sibuk, bahkan hadir dalam acara kerja bakti komunitas yang mewajibkan sejumlah peserta dari sekolah, meskipun kegiatan tersebut sifatnya sukarela.

Semua orang akan tersenyum, berterima kasih, dan menunjukkan apresiasi kepadanya.

Ia percaya, tanpa secercah keraguan pun, bahwa menyebarkan siklus senyuman ini akan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik—mungkin sebuah gagasan yang naif.

Lalu, jauh di musim gugur, seorang teman mengaku kepadanya: "Ada seorang senohor cewek yang aku suka, satu tingkat di atas kita."

Kazuki melakukan segala cara yang bisa ia lakukan untuk membantu.

Ia menjembatani celah antara temannya yang ragu-ragu dan gadis itu, berbicara dengannya bersama sang teman, makan siang bersama, dan terkadang mengajaknya jalan-jalan sepulang sekolah untuk membangun kedekatan mereka.

Pada awalnya, sikap gadis itu tampak waspada, tetapi lambat laun melunak. Ia adalah orang yang jujur, dan Kazuki percaya bahwa bagaimanapun hasilnya nanti, gadis itu akan menangani perasaan temannya dengan penuh kehati-hatian. Ia berharap, jika memungkinkan, mereka berdua bisa berakhir dengan senyuman.

Namun suatu hari, di tengah musim segalanya berubah.

"Kamu sudah mengejekku di belakangku selama ini, kan...?!’

Temannya menatapnya tajam dengan mata penuh kebencian.

"Kaido, kamu benar-benar terburuk, pura-pura membantuku mendekatinya..."

"Cowok itu selalu memasang wajah baik di depan semua orang, kan?"

"Meskipun begitu, mempermainkan perasaan orang lain itu benar-benar rendah."

"Bukan cuma kepada Takakura-senpai, tapi ke orang lain juga—"

"B-Bukan, itu tidak benar, aku..."

Bukan hanya temannya saja. Teman-teman yang lain mengerumuni Kazuki, melontarkan tatapan dan kata-kata penuh cemoohan kepadanya.

Itu adalah pertama kalinya seumur hidup ia menghadapi kebencian yang begitu nyata. Ia benar-benar terguncang, bahkan tidak mampu membela diri dengan benar.

Bahkan teman sekelas yang biasanya menyapanya dengan santai kini berbisik-bisik penuh kecurigaan, meliriknya dengan tatapan ragu.

Hari itu, dunia di sekitar Kazuki jungkir balik dalam sekejap mata.

Sejak saat itu, hari-harinya terasa seperti terjerembab dalam lumpur, terjebak di dalam kegelapan.

Orang-orang yang tidak tahu cerita sebenarnya memilih membaca situasi dan menjaga jarak. Para anak laki-laki menghindarinya sepenuhnya, sementara beberapa anak perempuan mendekatinya, menciptakan disonansi yang aneh.

Dan kemudian, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyadari:

Segala usahanya untuk berbuat baik ternyata hanya menjadikannya alat yang praktis bagi orang lain.

Di balik wajah tersenyum mereka, orang-orang sebenarnya sedang kalkulatif, memanfaatkannya demi memenuhi keinginan mereka sendiri.

Semua itu hanyalah pertunjukan egoisnya belaka, sebuah jalinan hubungan manusia yang rapuh—tidak lebih dari dirinya yang sendirian sejak awal.

Betapa konyolnya.

Hatinya terkikis oleh kenanikannya sendiri.

Ia mengedarkan pandangannya.

Sekelompok orang yang mengobrol gembira di bangku taman, seorang gadis yang bersemu merah namun tidak merasa terganggu saat seorang anak laki-laki berbicara kepadanya, seorang guru berwajah tegas yang melembutkan ekspresinya saat para siswa mengandalkannya—apakah mereka semua juga sedang menghitung sesuatu di balik layar?

…Begitulah hakikat hubungan antarmanusia.

Jika tidak, tidak akan ada penjelasan mengapa ilusi seperti persahabatan dan ikatan dirayakan sebagai sebuah kisah indah di dunia ini.

Maka dari itu, belajar dari kegagalan ini, ia bertekad untuk bersikap lebih baik di SMA.

Itulah yang telah ia putuskan—atau setidaknya begitu yang ia pikirkan.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close