NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 1 Chapter 8

Chapter 8

Menjadi Sombong


Di kamar Himeko yang dipenuhi perabotan pastel, beraneka hiasan lucu, dan kardus-kardus yang berserakan, pertarungan pagi hari antara kakak-beradik Kirishima pun pecah.

"Bangun, Himeko! Ayolah, ini sudah lewat jam 8!"

"Mmm... shabu salad udon yang dingin..."

"Baiklah, akan kubuatkan malam ini, tapi cepat bangun!!"

"Dressing wijen..."

"Himeko!"

Himeko terkadang sangat kesiangan.

Hayato selalu membangunkannya, tetapi hari ini dia benar-benar keras kepala.

Berteriak dan mengguncang tubuhnya sama sekali tidak mempan; hanya dengan menjatuhkannya bersama selimut-selimutnya langsung ke lantai yang menghasilkan pekikan "Fgyah!" saat dia akhirnya terbangun.

Mereka berdua terburu-buru bersiap dan langsung melesat keluar pintu.

"Ugh, rambutku berantakan! Aku kelaparan! Berkeringat sejak pagi—hari terburuk sepanjang sejarah!"

"Sudah kubilang agar tidur lebih cepat tadi malam!"

"Tapi—!"

Kebiasaan begadang Himeko adalah akar dari semua ini.

Hayato sebenarnya sudah menyuruhnya tidur, namun suara notifikasi ponsel Himeko terus bergema dari kamarnya lewat tengah malam.

Ini sepenuhnya salah Himeko sendiri.

(Sialan, akan kusematkan tomat mentah ke dalam menu makannya sebagai pembalasan!)

Hayato bersumpah akan membalas dendam dengan makanan yang paling dibenci adiknya itu.

Hayato mendobrak masuk ke dalam kelas tepat sebelum bel berbunyi.

"Yo, Kirishima. Kesiangan?"

"Bukan aku, adikku, Mori."

"Oh, kamu punya adik perempuan? Umurnya berapa?"

"Satu tahun di bawahku, kelas tiga SMP... Ada apa memangnya?"

"Sulit dijelaskan."

Mereka menatap ke arah pemandangan di mana teman sekelas mengerumuni seorang gadis bagaikan para peziarah.

Itu adalah Haruki, dengan wajah yang dilingkupi oleh kemurungan.

Teman-teman yang khawatir bergiliran memeriksa keadaannya.

"Kamu baik-baik saja, Nikaidou-san?"

"Beri tahu kami kalau ada sesuatu yang salah."

"Aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak bisa tidur tadi malam..."

Senyuman tenangnya, yang dihiasi oleh mata sembab, mengisyaratkan bahwa dirinya sedang berusaha keras menahan rasa sakit, yang justru semakin memicu kekhawatiran semua orang.

(Sialan itu!)

Bagi Hayato, pemandangan ini sangat jelas mengarah pada obrolan larut malam bersama Himeko.

Dia mengusap keningnya karena frustrasi.

"...Oh."

Ponsel Haruki berdering.

Dia terlihat gelisah, membaca pesan tersebut, dan terkekeh pelan—sebuah tindakan yang cukup ampuh untuk membuat seisi ruangan menjadi gempar.

"Tidak bisa tidur tadi malam... lalu wajah bahagia itu sekarang... jangan bilang...!"

"Tunggu, bukankah justru aneh kalau dia tidak memiliki seseorang?"

"Di mana murid pindahan itu? Cari Kirishima! Jika dia punya ponsel, pasti dialah pelakunya!"

Beberapa anak laki-laki, dengan tatapan seolah ingin membunuh, mulai membentuk kelompok untuk melabrak Hayato.

"...Ah."

Haruki akhirnya menyadari bahwa kata-kata dan tindakannya telah memicu kesalahpahaman.

Alisnya yang melengkung berkerut saat matanya beradu pandang dengan Hayato.

"(Apa yang harus kulakukan!?)"

"(...Cih, ini adalah sebuah utang.)"

Hayato menghela napas secara dramatis, mengangguk pada permohonan kecil Haruki, lalu berjalan menuju bangkunya.

"Pagi, Nikaidou. Kamu tampak sangat senang dengan ponselmu itu. Punya pacar?"

"P-Pacar!? Bukan, aku—Hayato...?"

"Ah, tidak, kamu hanya terlihat begitu girang karena pacar baru atau mungkin karena bisa terhubung kembali dengan seseorang yang spesial."

"Uh..."

Serangan mendadak dari Hayato itu membuatnya salah tingkah, dan seisi kelas, yang tertarik dengan topik hangat tersebut, langsung mengamati dengan seksama.

Sambil mengedipkan sebelah mata penuh makna, Hayato memberi isyarat atas maksudnya.

Haruki, yang langsung menangkap maksudnya, tersenyum licik dan memperlihatkan ponselnya.

"Tepat sekali! Lihat—lucu, kan? Kami akhirnya bersatu kembali setelah sekian tahun, dan tadi malam kami hanyut dalam kenangan..."

"Oh, eh, iya, lucu... seorang gadis, ya...?"

Layar ponsel itu menampilkan foto selfie dari malam kemarin di tempat Hayato.

Himeko, yang berdandan rapi demi pergi ke minimarket, tampak begitu memukau, bahkan tanpa harus melihatnya dengan bias sebagai seorang kakak.

Teman-teman yang mengintip dari dekat berkomentar, "Oh, lucu!" "Kalian dekat, ya?" "Sekolah di mana dia?"—sebuah reaksi positif yang menandakan bahwa pesona Himeko memang diakui.

Suasana tegang di sekitar Haruki pun langsung mencair, dan ketika guru masuk dengan teriakan "Tenang, duduk di tempat kalian!", suasana itu lenyap sepenuhnya.

Saat absensi berlangsung, Haruki menggerakkan bibirnya ke arah Hayato tanpa mengeluarkan suara.

"(Terima kasih.)"

Senyumannya memperlihatkan lingkaran hitam samar di bawah matanya—bukti nyata dari obrolan larut malam mereka semalam.

Hayato sebenarnya ingin membentaknya dengan ucapan, "Bodoh," namun ingatan tentang rumah Haruki yang gelap dan kosong membuatnya terdiam.

Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas.

"(...Kendalikan dirimu.)"

Gumamnya pelan.

Haruki balas tersenyum, tampak canggung sekaligus merasa bersalah.

"Sialan, kamu benar-benar menyelamatkanku, Hayato!"

Waktu makan siang tiba, di markas rahasia mereka.

Haruki menepuk punggung Hayato, mungkin untuk menyembunyikan rasa malu dari kejadian pagi tadi.

"Aduh, aduh! Pelan-pelan... Apa itu?"

"Bantal telanjang?"

Dia mengeluarkan dua buah bantal putih kecil tanpa sarung dari dalam tasnya, sedikit penyok namun perlahan-lahan mengembang kembali.

"Bantal mini tanpa sarung. Aku membelinya di toko serba ada. Harganya 200 yen, sih. Ini untukmu."

"200 yen di toko serba ada!? Oh, uang—"

Anggap saja ini sebagai utang. Tapi... aku punya sedikit permintaan."

"Hm? Apa—hei!"

Sambil mendekap bantal itu ke dadanya, Haruki tersipu malu, tampak gelisah dan merapat ke arah Hayato dengan tatapan dari bawah—terlihat begitu imut seperti gadis pada umumnya namun memancarkan benderang nakal di matanya, menandakan dia hanya sedang bercanda.

Bahkan meski tahu itu hanyalah sebuah keisengan, pesonanya berhasil membuat jantung Hayato berdegup kencang.

Dia bersandar ke belakang secara berlebihan untuk menyembunyikannya, namun senyuman Haruki semakin lebar, dan dia terus mendekat, memanfaatkan keunggulannya.

"Aku ingin sesuatu yang darimu, Hayato..."

"A-Apa!?"

"Kamu benar-benar ingin aku mengatakannya...?"

"Haruki, kamu..."

Kata-katanya yang penuh godaan, meski hanya sebuah candaan, membuatnya kewalahan hingga tak mampu menyembunyikan rasa salah tingkahnya.

Menyadari hal itu, Haruki menyentuh bibirnya dengan sensual, lalu merayap menyentuh tangan Hayato yang sedang memegang tas.

Sebuah sensasi merinding menjalar di sepanjang tulang belakangnya.

Tatapan main-main yang hampir terkesan memikat itu sukses membuatnya tak berdaya.

Menelan ludahnya yang terasa kering, dia menyerah.

"Hayato..."

"Haruki..."

Krrruuuukk.

Suara perut keroncongan yang keras seketika memecahkan suasana tegang tersebut.

Ketegangan sebelumnya lenyap begitu saja, Hayato menatap ke arah Haruki yang kini menyembunyikan wajahnya di balik bantal karena merasa malu.

"A-Aku tadi terburu-buru pagi ini! Tidak sempat sarapan, dan tidak bisa membeli makan siang!"

"Hah... Utang lagi. Akan kubagi makananku, tapi tidak ada sumpit cadangan. Aku tidak bisa meminjamkan milikku..."

"Oh, aku punya sumpit cadangan dari minimarket di dalam atasku."

"...Baiklah."

Hayato, yang terjebak di antara rasa kecewa dan lega, akhirnya membagi bekalnya.

Membagi makanan tentu saja hal yang sulit bagi seorang remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan, namun itu adalah hal yang tidak bisa dihindari.

Ada hal lain yang terus mengusiknya.

Kebiasaan Haruki memborong makanan beku di supermarket, kunjungan malamnya untuk membeli makan malam di minimarket, serta rumah yang gelap gulita semalam—kemungkinan-kemungkinan buruk mulai bermunculan di benaknya.

"Mmm, hamburger isi sayuran ini enak sekali. Kamu yang membuatnya?"

"Ya, aku membekukan satu batch beberapa hari lalu."

"Makanan beku rasanya berbeda, ya? Kamu terlihat aneh."

"Hah?"

Komentarnya membuat Hayato menyadari bahwa pikirannya sempat terpancar jelas di wajahnya.

Di hadapannya saat ini adalah teman masa kecil yang dulu sering berbagi es loli bersamanya, tertawa bersama.

Mereka sedang berbagi makan siang seperti masa lalu, namun ekspresi muram Hayato justru membuat Haruki merasa khawatir.

Tatapan ragu-ragu dan hampir ketakutan darinya—seperti seorang anak kecil yang takut dimarahi—jauh lebih mengguncang hatinya ketimbang godaan Haruki sebelumnya.

"Maaf, aku—"

"—Aku hanya merasa tertekan. Begadang semalaman untuk mengobrol—sebenarnya apa yang kalian berdua bicarakan?"

"Hayato... Haha, banyak hal. Hime-chan sangat antusias soal fesyen dan riasan wajah. Aku sama sekali tidak tahu apa-apa, jadi aku sempat dimarahinya."

"Benarkah? Dengan kemampuan aktingmu yang sempurna itu, aku kira..."

"Itu hanya akting menjadi gadis yang baik. Dan... yah..."

...Haruki?"

"T-Tidak ada!"

Dia sengaja mengalihkan pembicaraan, sikapnya menyiratkan agar Hayato tidak perlu menyelidikinya lebih jauh.

Ekspresi gelapnya yang sekilas muncul itu mencerminkan momen perpisahan mereka tadi malam.

(Itu sama sekali tidak cocok untukmu!)

Bagi Hayato, Haruki adalah sosok yang selalu usil, suka memaksakan kehendak, luar biasa ceria, dan selalu tersenyum—tidak pernah berubah bahkan setelah tujuh tahun berlalu.

Namun tujuh tahun itu telah membangun dinding pemisah dari hal-hal yang tidak ia ketahui, memisahkan sosok "Haruki" di masa lalu dan di masa sekarang.

Dia sama sekali tidak tahu beban perjuangan gadis itu, yang rasanya terlalu berat untuk dibagikan begitu saja.

Menyadari hal itu, dia mengurungkan niatnya untuk mendesak.

Namun, dia tetap tidak bisa mengabaikan rasa khawatirnya, dan bayangan rasa sakit Himeko di masa lalu mendadak melintas di benaknya.

Sebelum dia sadar, tangannya sudah bergerak untuk mengacak-acak rambut Haruki dengan kasar.

"Wah! Hayato, untuk apa itu!?"

Sambil terkejut, dia melayangkan protes.

Namun saat melihat wajah Hayato, dia terdiam, membiarkan rambutnya yang tadinya tertata rapi kini berantakan di tangan pemuda itu.

Ekspresi Hayato tampak begitu rumit.

Rambutnya yang dulu pendek dan rusak karena tersengat matahari kini telah berubah menjadi panjang, lembut, dan menggelitik jemarinya.

"Haruki—"

Kamu baik-baik saja?

Jika ada yang ingin kamu bicarakan, aku ada di sini.

Aku tepat di sini...

Kata-kata itu sempat muncul di ujung lidahnya lalu memudar, sama sekali tidak ada yang terdengar pas.

Emosinya berputar-putar, terasa begitu membingungkan dan sulit diungkapkan.

Haruki, yang mengamati perubahan ekspresi di wajahnya, terkekeh pelan lalu berucap sederhana:

"Ya."

Sebuah pertukaran kata yang singkat, namun sudah lebih dari cukup bagi mereka berdua.

Untuk saat ini, ini saja sudah cukup.

Wajahnya kini tampak begitu lega.

"Kamu sudah berubah, Hayato."

"Benarkah?"

"Yup. Kamu sekarang sudah mulai berani melawan, ya."

"Hah? Apa maksudnya itu?"

"Haha, entahlah?"

Di luar sana, gawang awan musim panas awal mulai menggulung, persis seperti langit di masa lalu.

Antara pedesaan dan kota besar, terpaut jarak tahun-tahun yang berjalan, serta rasa frustrasi atas berbagai perubahan.

Namun sambil tertawa, mereka kembali berbagi makanan yang sama, persis seperti dulu kala.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close