NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 4 Chapter 1

Chapter 1

Di Dalam Keranjang Tempat Hati Berserah, yang Mekar Bersemi Adalah


Langit berwarna biru dan putih yang seakan menembus batas.

Pemandangan pedesaan berumput hijau terbentang seluas mata memandang.

Dari jajaran gunung yang mengelilingi di keempat penjuru, terdengar suara gesekan daun dan derik serangga.

Tsukinose, desa pegunungan yang jauh dari kebisingan kota seperti itu.

Di jalur pejalan kaki dengan tanah yang tersingkap, percakapan yang ceria mekar berbunga-bunga.

"Nda~, nostalgia! Udaranya juga enak! Lagipula rasanya sejuk!"

Haruki yang semangatnya meluap-luap merentangkan kedua tangannya lalu berlari, kemudian berputar satu kali.

"Ampun deh, si Haru-chan ini... tapi di sini lebih sejuk daripada di sana, ya, Kak."

"Benar juga. Lagipula, aku juga merasa sedikit bernostalgia."

"Suasana di sini santai banget, ya."

"Eh, lihat-lihat! Ada udang karang, ada udang karang di saluran air sini!"

"Haruki..."

"Haru-chan, lagi ngapain..."

Tanpa disadari Haruki sudah mengintip ke saluran air di sebelah sawah dengan ekspresi bersemangat.

Hayato dan Himeko menyipitkan mata, merasa jengkel namun tetap gemas melihat tingkah itu. Ia sedang mencari sepotong kayu untuk menusuk-nusuknya bersama.

Saki mengamati ketiga orang yang sedang bersenda gurau itu dari jarak satu langkah di belakang.

Interaksi yang terasa menyenangkan dan menghangatkan hati hanya dengan mendengarkannya.

Dulu pun suasananya pasti seperti ini.

Di satu sisi ia ingin bergabung ke dalam lingkaran itu, namun di sisi lain ia merasa segan karena takut kehadirannya justru akan mengacaukan suasananya. Situasi di mana ia hanya bisa menonton, sama seperti dulu.

Haa, ia menghela napas dengan nada mencemooh diri sendiri. Namun pada saat itu, Haruki mendekatkan wajahnya untuk mengintip.

"Saki-chan, hari ini tidak pakai baju miko?"

"Eh, ah...!"

Lalu dengan paksa Haruki mendorong punggungnya, memaksanya masuk ke dalam lingkaran.

"Omong-omong, Saki-chan jarang sekali tidak memakainya, padahal itu kan seperti sudah jadi ciri khasmu."

"I-ini tu, karena rumah Hime-chan sudah lama kosong, jadi aku bantu-bantuan bersih-bersih..."

"Begitu ya, yah kalau pakai baju miko memang agak..."

"Iya, rasanya agak sungkan mau masuk ke rumah Hime-chan."

"Murao-san sampai segitunya memerhatikan hal detail... ah, itu, terima kasih ya."

"Ah, kalau begitu aku juga akan bantu! Tapi sepertinya aku mau taruh barang-barangku dulu yaー."

Sambil berkata demikian, Haruki menepuk-nepuk tas boston miliknya.

Begitu ia nekat melompat masuk ke dalam lingkaran, percakapan mengalir dengan lancar seolah-olah menggunakan grup chat. Rasanya seperti situasi ini sudah berlangsung sejak dulu.

Sensasi yang terasa ajaib. Bahkan sekarang pun mereka masih larut dalam obrolan seperti, "Ngomong-ngomong, kita lumayan sering ya melihat truk mini di sekitar sini."

Tak lama kemudian, mereka tiba di persimpangan jalan yang memisahkan arah ke kuil dan ke rumah Kirishima, lalu berpisah setelah melambaikan tangan sambil berkata nanti ketemu lagi.

Ia berjalan berdampingan dengan Haruki menembus jalan menuju kuil.

Haruki tampak penasaran dengan pemandangan Tsukinose yang sudah lama tidak ia lihat, dan terus-menerus menoleh ke sekeliling.

Ia mencoba melihat kembali Haruki yang berjalan di sebelah.

Rambut hitam panjang yang berkilau dan berbeda dari miliknya. Wajah kecil yang memancarkan kesan manis, serta gaun putih yang membalut tubuhnya, menciptakan nuansa seorang gadis kota yang anggun dan bersih. Sungguh gadis yang sangat cantik.

Terlebih lagi, kepribadiannya yang ramah dan mudah disukai orang, persis seperti saat Haruki menariknya masuk ke dalam lingkaran tadi.

Ia tanpa sadar membandingkan dirinya dengan Haruki, dan helaan napas hampir saja terlepas──

"Saki-chan, jangan bersikap sungkan yang berlebihan begitu, menurutku kamu harus lebih banyak mengungkapkan keinginanmu."

"Eh!?"

"Karena terkadang, hanya dengan melangkah maju satu langkah saja, dunia bisa berubah. Grup chat kita juga begitu, dan aku yakin soal Hayato juga..."

Sambil berkata demikian, Haruki tersenyum manis kepadanya.

Tatapan matanya seolah-olah mampu menembus isi hati, membuat kepala Saki terasa berputar-putar.

"......Kenapa?"

Saki mengerjap-ngerjapkan matanya sambil melontarkan kata-kata itu.

Haruki mengalihkan pandangannya dengan lembut ke arah pusat desa, lalu bergumam dengan nada suara yang terdengar penuh nostalgia.

"Dulu aku pun... pernah ditarik tangannya dengan paksa. Karena Saki-chan bilang ingin bertemu, makanya sekarang aku ada di sini, di Tsukinose."

"Haruki, san..."

Ia bergantian menatap tangan Haruki yang terulur dan wajahnya. Keraguannya hanya berlangsung sesaat; begitu ia menyambut uluran tangan itu, senyuman pun turut mengembang di wajah Saki.

"Ayo?"

"Iya!"

Suara Saki yang penuh semangat terserap ke dalam langit biru yang tinggi, dan angin bertiup kencang menerpa dedaunan.

Musim panas tahun ini berbeda dari biasanya──ia merasakan dadanya berdegup kencang karena firasat itu.


Berjalan selama dua puluh menit ke arah pegunungan selatan dari jalan raya tempat halte bus berada, rumah keluarga Kirishima tampak berdiri sebagai sebuah bangunan satu lantai berstruktur kayu yang tergolong cukup baru jika diukur dengan standar Tsukinose.

"Aku pulang... rasanya agak aneh ya mengucapkan itu."

"Uuh, hawanya lembap dan berdebu."

"Himeko, pokoknya kita buka semua jendelanya ya."

"Baiklahー."

Rumah yang dibiarkan tak berpenghuni selama dua bulan, melewati musim hujan, menyimpan udara unik yang terasa agak lembap dan dingin.

Hayato dan Himeko membiarkan barang-barang bawaan mereka di pintu masuk, lalu mulai membuka jendela-jendela dan pintu geser kayu yang tertutup rapat.

Seketika itu juga, angin yang bertiup turun dari pegunungan berembus menerobos masuk.

Berbeda dari kota, angin yang menyegarkan dan nyaman ini seolah-olah bertiup mengusir udara pengap di dalam rumah serta rasa lelah akibat perjalanan hampir setengah hari, membuat Hayato menyipitkan matanya.

Ia dilanda dorongan untuk langsung tidur siang saja di sini, namun tentu saja tidak bisa.

Sekarang masih siang hari, dan masih banyak hal yang harus diselesaikan sebelum matahari terbenam.

"......Rumah akan cepat rusak kalau tidak ada yang ditinggali, ya."

Saat Hayato menundukkan pandangannya, ia melihat debu tipis berterbangan di atas lantai. Sambil berpikir bahwa ia harus sedikit membersihkannya, suara Himeko terdengar dari loteng.

"Kak, seprai kasurnya gimana nihー?"

"Ah, sepertinya kita harus mencucinya sekali ya. Kalau mulai sekarang, sore nanti pasti sudah kering, masukkan saja punyaku ke mesin cuci."

"Okee. Oh ya, bagaimana dengan pakaian musim gugur dan musim dingin?"

"Itu... nanti kita kirim ke sini lewat paket dari sana saja."

Sambil bertukar obrolan seperti itu, ia mengedarkan pandangan ke ruang tamu.

Ruangan ini dua kali lebih luas daripada apartemen di kota, dan ia bisa melihat dua kamar bergaya Jepang berukuran delapan tatami yang saling terhubung di sebelahnya.

Rak televisi, sofa, lemari piring, dan kabinet yang diletakkan di sana tidak berubah dari dua bulan lalu. Seolah-olah waktu di tempat ini telah dihentikan.

Sebagian besar perkakas rumah tangga yang digunakan di kota dibeli baru di sana.

Begitu mendadaknya kepindahan dan kepindahan sekolah tersebut.

Hayato memasukkan sayuran pemberian Saki di tengah perjalanan ke dalam kulkas yang kosong, sambil merenungkan dari mana ia harus mulai membersihkan rumah.

Pada saat itu, bel pintu depan berbunyi dengan suara nyaring yang jarang terdengar di Tsukinose.

"Iya... eh, Haruki dan Murao, san...?"

"Uuuuhb......"

"Eto, ano, saya Murao Saki..."

Tamu yang datang adalah Haruki dan Saki. Rupanya mereka datang setelah meletakkan barang-barang bawaannya.

Namun, ekspresi kedua orang itu tampak sedikit aneh.

Haruki bersembunyi dengan wajah memerah padam, sementara Saki tampak kebingungan.

Saat Hayato memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, Himeko turun dari loteng.

"Eh, Haru-chan dan Saki-chan! Selamat da... eh, Kakak apa yang kamu lakukan!? Pelecehan seksual!?"

"Mana ada! Lagipula aku juga mau tahu!"

Ketika Himeko menatap tajam ke arah Hayato, Haruki mulai menceritakan alasannya dengan terbata-bata.

"......Ini semua salah Saki-chan. Aku tadinya sempat berpikir mau dibunuh oleh Saki-chan..."

"Hah?"

"T, tidak b-benar! Aku hanya ingin semua orang di desa tahu kalau Haruki-san punya banyak sisi bagus, jadi aku menceritakan berbagai hal tentangnya sebelumnya, lalu..."

"S-sampai ke sini, setiap orang yang kami temui selalu bilang, 'Lucu banget yaー, makin cantik yaー, jadi gadis menawan yaー, titip Saki-chan, Hayato, dan Hime-chan yaー' begini tahu!? Aku benar-benar paham arti dari ungkapan pujian sampai mati!"

Rupanya Saki telah menceritakan tentang Haruki di berbagai tempat di Tsukinose sebelumnya.

Untungnya mereka disambut dengan ramah oleh para warga, namun Haruki tidak terbiasa diperlakukan seperti itu, dan inilah hasil akhirnya.

Hayato dan Himeko saling berpandangan, dan ketika membayangkan bagaimana Haruki dan Saki yang didampingi oleh keramahan berlebihan khas pedesaan pada saat itu, tawa pun tanpa sadar lolos dari bibir mereka.

""......Pft.""

"I, Hime-chan~"

"H, Hayato juga~!"

Haruki merengut tidak puas atas reaksi kakak beradik keluarga Kirishima tersebut, lalu melangkah naik ke teras pintu masuk sambil bersungut-sungut.

Ia melangkah masuk ke ruang tamu, lalu berhenti. Ia tampak membeku di tempat.

Yang terlihat dari balik bahu Haruki adalah ruang tamu biasa yang tidak berubah dari dua bulan lalu, meskipun sedikit berdebu. Hayato mengerutkan kening, bertanya-tanya ada apa.

"Haruki?"

"......Ah, bukan, itu, rasanya tidak ada yang berubah."

"Begitu kah? Kita sempat merombaknya beberapa kali, dan kurasa barang-barangnya juga sudah agak usang."

"Ahaha, bagaimana ya, rasanya seperti kembali ke rumah Hayato..."

"…!"

Wajah tersipu malu yang ditunjukkan Haruki saat ia menoleh sungguh terlihat manis dan berbeda dari masa lalu. Hayato yang merasa jantungnya berdegup kencang langsung menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar untuk menutupinya lalu membuang muka.

"Kak, cepat selesaikannya bersih-bersihnya."

"Benar juga, kami harus melakukan apa?"

"A, aku juga..."

"......Bolehkan?"

Begitu Hayato bertanya demikian, Haruki dan Saki mengangguk setuju tanpa ragu. Himeko menyambutnya dengan gembira, "Aku mau segera menyalakan AC!"

Di rumah Hayato di Tsukinose ini, ada Haruki yang telah tumbuh dewasa, berdampingan dengan Saki, sahabat karib sang adik yang sebelumnya tidak begitu akrab dengannya.

Rasanya sedikit aneh. Pemandangan yang bahkan tidak dapat dibayangkan dua bulan lalu.

"Kalau begitu, pertama-tama──"

Namun ini tidak buruk juga. Hayato menyipitkan matanya lalu mulai memberikan instruksi.


Rumah keluarga Kirishima berukuran standar untuk ukuran Tsukinose, namun jika dihitung dengan standar kota, rumah itu merupakan rumah satu lantai berstruktur kayu yang sangat luas. Faktanya, luas lantainya bahkan melebihi dua kali lipat apartemen di kota.

Namun, jika keempat orang membagi tugas, bersih-bersih dan beres-beres itu bisa diselesaikan dalam waktu sekitar satu jam.

"Nah, beres."

Hayato selesai menjemur seprai kasur di halaman lalu menarik napas lega.

Sambil menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, ia kembali ke ruang tamu melalui pintu kaca geser yang tertutup, di mana ia melihat Himeko sedang meleleh di atas sofa di ruangan ber-AC. Sambil mengerutkan kening karena berbagai alasan, Saki datang dari dapur membawa nampan berisi gelas-gelas teh.

"Eto, memakai botol minum yang kubawa, aku sudah bertanya pada Himeko-chan dan diizinkan pakai gelasnya... mungkin rasanya sedikit agak hangat, tapi..."

"Ah, Saki-chan makasih yaー."

"Himeko... Murao-san, maaf ya merepotkan kalian."

Rupanya mereka berdua sudah selesai bersih-bersih duluan, dan Saki berinisiatif membuatkan teh.

Hayato menatap tajam ke arah Himeko, namun adiknya itu hanya bermalas-malasan di atas sofa.

Saat matanya bertemu dengan Saki yang memasang wajah bingung, keduanya tanpa sadar saling melepaskan senyum pahit.

"Yah, mau bagaimana lagi, itu kan Hime-chan."

"......Ampun deh."

Hayato menerima teh dari Saki lalu meneguknya sekaligus. Meskipun sedikit hangat, sensasi cairan yang mengalir melewati tenggorokan ke tubuhnya yang berkeringat terasa begitu menyegarkan. Haah, napasnya terhembus lega.

Pada saat itulah, ia baru menyadari bahwa sosok Haruki tidak ada di sana.

Padahal sampai tadi Haruki membersihkan ruangan yang sama dengan Himeko.

"Himeko, di mana Haruki?"

"Hmm, Haru-chan? Eh iya juga, nggak kelihatan ya. Mungkin lagi jalan-jalan keliling di sekitar sini?"

"......Eh?"

Bahuhayato terperanjat kaget. Ia tiba-tiba merasakan firasat buruk.

Dulu, Haruki juga sering mengunjungi rumah keluarga Kirishima. Tata letak ruangannya tidak terlalu berubah dari masa lalu.

Dan tiba-tiba, bayangan Haruki yang dengan antusias menjelajahi kamar Hayato melintas di benaknya.

"Jangan-jangan!"...!"

"Kak...?"

"K, Kakak!?"

Hayato buru-buru berlari menuju kamarnya sendiri. Tujuannya adalah ruangan di sebelah kamar Himeko yang merupakan hasil renovasi loteng. Himeko dan Saki membelalakkan mata karena tindakan tiba-tiba itu, tapi Hayato tidak punya waktu untuk mempedulikannya.

"Haruki!?"

"............"

Ia membuka pintu dengan dorongan penuh tenaga.

Meskipun beberapa barang telah dikurangi, kamarnya tidak jauh berbeda dari sebelum pindah ke kota. Di tengah ruangan itu, Haruki sedang duduk bersila di lantai.

Postur tubuhnya seolah-olah memang sedang menunggu seseorang. Namun ekspresinya datar tanpa ekspresi.

Yang terpampang di hadapan Haruki dengan sengaja adalah sebuah kotak wadah berukuran sedang (tall case) yang menggambarkan seorang gadis cantik berambut perak panjang dan lembut di bawah langit biru yang cerah. 

Stiker berkilau dengan angka 18 tertempel dengan sangat jelas di sana. Bagi kamar seorang remaja pria, menemukan satu atau dua barang seperti ini adalah hal yang wajar.

"..."

"..."

Meskipun ini adalah puncak musim panas, suasana di ruangan itu terasa begitu mencekam hingga membuat bulu kuduk merinding.

Ini sudah bukan lagi tingkat kecanggungan yang biasa. Wajah Hayato menegang dan keringat dingin mengalir di punggungnya.

Haruki memasang senyuman palsu yang dibuat-buat, lalu mengetuk-ngetuk lantai dengan tangan kanannya. Sepertinya ia menyuruh Hayato untuk duduk.

"Ehm itu, tentang hal itu..."

"Enishinokora, ya."

"Ah iya, Enishinokora."

"Game dewasa yang menjadi sumber adaptasi anime larut malam yang juga kutontonーkan."

"I-itu, waktu aku masih tinggal di sini dulu, ada anak SMA yang aku kenal menyodorkan ini padanya atau lebih tepatnya..."

"Kamu sudah memainkannya?"

"Bukannya begitu, ehmm itu..."

"Bagaimana kalau kita duduk dulu?"

"....................Iya."

Hayato duduk di tempat itu dengan perasaan seperti seorang tersangka yang sedang diinterogasi. Entah kenapa, ia secara otomatis duduk bersila dengan tegap.

Lalu ia berhadapan dengan Haruki, dengan game dewasa itu di antara mereka berdua.

Suasana yang menegangkan mengalir di udara. Karena ruangan itu dibangun dari hasil renovasi loteng, langit-langitnya yang rendah membuat napasnya terasa sesak.

"......Lalu?"

"Lalu?"

"Kira-kira karakter mana yang paling disukai oleh Hayato-kun?"

"A, anu itu Haruki-san...?"

"Seorang Miko teman masa kecil, senior di sekolah, gadis kaya raya teman sekelas, dan adik kandung yang juga terpampang di sampul... gadis mana yang paling banyak membantumu?"

"Woi, apa yang kamu tanyakan!?"

"Sudah, jawab saja!"

"B, bisa-bisanya kamu tanya begitu, bodoh!"

Meskipun game itu disodorkan dan dipaksakan kepadanya, Hayato tetaplah seorang siswa SMA yang normal. Bukan berarti ia sama sekali tidak tertarik pada hal-hal semacam ini. 

Tentu saja ia sudah memainkannya, dan ceritanya cukup menarik hingga layak diadaptasi menjadi anime. 

Ia bahkan telah menamatkan seluruh rute permainannya, dan kalau boleh jujur, ia memiliki adegan favoritnya sendiri dari berbagai sudut pandang.

Namun, tidak mungkin ia bisa mengatakannya pada Haruki. 

Meskipun mereka adalah teman masa kecil yang sudah saling kenal akrab, Haruki tetaplah seorang gadis. Terlebih lagi, gadis yang dianggap begitu manis oleh Hayato.

Ia sangat ingin melarikan diri dari tempat ini sekarang juga.

Namun, ia ditekan oleh senyuman Haruki yang manis, membuatnya merasa tidak bisa melakukannya.

Keringat dingin mengalir, dan ia mengedarkan pandangan, bingung harus berbuat apa.

Pada saat itulah, terdengar suara langkah kaki berlari tergesa-gesa menaiki tangga.

"Kak, Haru-chan, kalian teriak-teriak begitu, ada apaー?"

"Kakak, Haruki-san, ada apa~?"

"......Ah"

Himeko dan Saki memunculkan wajah mereka ke dalam kamar, lalu ekspresi mereka membeku.

Melihat Hayato dan Haruki yang duduk bersila sambil mengapit kotak wadah bergambar gadis cantik dengan stiker berkilau angka 18, sangat mudah bagi mereka untuk menebak situasi seperti apa yang sedang terjadi.

Wajah Hayato semakin pucat pasi.

Himeko dengan tatapan tajam melirik kakaknya sesaat, lalu mengangguk kepada Haruki.

"Haru-chan, apakah benda ini berbau mesum dan tidak senonoh?"

"Ya, ini adalah benda yang sangat mesum dan tidak senonoh."

"......Sebagai adik yang pengertian, kupikir wajar saja kalau Kakak yang sudah remaja menyukai hal semacam ini. Iya kan, Saki-chan?"

"Feee!? I, itu... Kakak ternyata tertarik juga dengan hal-hal seperti itu..."

"Bukannya begitu, ini sebenarnya dipaksakan padaku, anu, tolong hentikan──"

"Akan tetapi, Himeko-san dan Saki-san, karakter yang muncul di dalam karya ini..."

"Haruki──────!!"

"Wapu!?"

Hayato secara refleks menjejalkan bantal terdekat ke wajah Haruki yang hendak mengatakan sesuatu dengan terburu-buru. Itu adalah tindakan reaktif.

Namun Haruki yang kini bermata berkaca-kaca akibat serangan mendadak itu menatap tajam ke arah Hayato, Himeko menghela napas jenuh, dan Saki hanya bisa menatap mereka dengan cemas. Ini benar-benar situasi seperti duduk di atas duri.

"A, aku mau pergi belanja untuk makan malam dulu!"

Merasa sudah tidak tahan lagi berada di sana, Hayato melontarkan alasan itu sambil bangkit berdiri dan berlari keluar.

Haruki, Himeko, dan Saki yang ditinggalkan di belakang saling berpandangan, lalu melepaskan tawa pahit, "Haa..."

Tidak ada lagi urusan di ruangan ini. Namun entah mengapa, tidak ada seorang pun yang berniat untuk beranjak dari tempat itu.

Tatapan ketiga gadis itu tertuju pada kotak wadah tersebut.

"Aa-ah, kabur."

"Hih, gara-gara Haru-chan menggodanya sih."

"A, kalau terlalu berlebihan, ituu~..."

Meskipun mengatakan hal-hal seperti itu, suasana yang terasa gelisah menggantung di udara.

Di dalam mata mereka terpancar warna rasa penasaran.

"......Ngomong-ngomong, ini isinya cerita seperti apa ya?"

"Entahlah? Haru-chan, ini terkenal ya? Kamu tahu ceritanya seperti apa?"

"Hmm, aku cuma lihat di anime-nya saja sih. Katanya versi game-nya lumayan banyak bedanya."

"......" "......" "......"

Lalu mereka saling mengangguk dengan ekspresi yang mirip seperti komplotan pelaku kejahatan.


"Sialan, si Haruki sialan itu!"

Hayato mengayuh sepedanya dengan penuh tenaga, melaju kencang melewati jalan setapak di pedesaan.

Berbeda dari kota, jalanan tanpa aspal yang ditumbuhi bunga cluster amaryllis di pinggirannya membuat rangka sepeda berguncang hebat. Lebar jalan yang lurus dan membentang sangat sempit, dan jika salah sedikit saja, ia bisa terjatuh ke saluran air atau sawah.

"!? A, bahaya!"

Tiba-tiba seekor hewan kecil berwarna cokelat panjang melompat keluar dari arah sawah, membuatnya harus mengerem mendadak. Ia menghentikan sepedanya sambil berputar menyamping dan menerbangkan kepulan debu. Ternyata itu adalah seekor musang.

Musang itu tampaknya juga terkejut, sempat terdiam sesaat di tempat sambil bertatapan mata dengannya, lalu kabur ke arah pegunungan.

Pemandangan yang sudah biasa di Tsukinose.

Namun Hayato hanya menatap pemandangan itu dengan hampa, seolah-olah itu adalah hal yang jauh.

"......Benar juga, ini kan pedesaan."

Lalu ia menghela napas sekali.

Sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi menyesal dan melepaskan tawa yang mencemooh diri sendiri, ia mengembalikan posisi sepedanya.

Tujuan yang sedang dituju oleh Hayato adalah toko pertanian yang berada di bawah naungan Gabungan Pemasaran Sayur Tsukinose.

Mengenai bahan makanan segar, meskipun persediaan sayur-sayuran sangat berlimpah, daging dan ikan hanya bisa didapatkan dengan mengandalkan mobil toko keliling yang datang tiga kali seminggu. 

Kalau dipikir-pikir lagi, hari ini bukanlah hari di mana mobil itu datang, sangat berbeda dari kota di mana ia bisa membeli apa saja sesuka hati kapan pun ia mau.

Ia tanpa sadar mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Dikelilingi oleh gunung-gunung tempat pepohonan lebat tumbuh subur dan bukannya beton, tiang-tiang listrik berjajar rapi di sela-sela dataran rendah. 

Ladang dan sawah terbentang luas menggantikan deretan perumahan yang tertata teratur, dan dari berbagai arah terdengar desah napas serangga serta hewan, bukan suara mobil atau manusia.

Itu adalah pemandangan yang ia saksikan setiap hari sampai sekitar dua bulan lalu.

Meskipun begitu, pemandangan itu terasa asing baginya, membuatnya merasakan kejanggalan seperti gigi roda yang tidak pas.

Rupanya dalam waktu singkat ini, persepsinya telah banyak berubah.

Wajah Haruki, yang bisa dibilang sebagai simbol perubahan itu, melintas di benaknya, dan ia meletakkan tangan di dadanya.

"......"

Lalu Hayato memasang ekspresi serius dan mengubah arah tujuannya ke suatu tempat tertentu.


Jika mendaki jalan menuju arah pegunungan, terdapat sebuah rumah kayu bergaya Jepang yang berukuran sangat besar dan kuno, dengan ciri khas gudang penyimpanan beras yang mencerminkan nuansa masa lalu di Tsukinose. 

Sesuai dengan kesan megahnya, rumah itu dulunya adalah kediaman petani kaya yang menjabat sebagai kepala desa di wilayah ini.

Namun, bertolak belakang dengan kemegahannya, bangunan itu tampak rusak di berbagai tempat, dan beberapa kaca jendelanya terlihat pecah. 

Halamannya ditumbuhi rumput liar yang tidak terawat, menandakan tidak ada tanda-tanda ada orang yang tinggal di sana.

Faktanya, tempat ini telah ditinggal kosong selama lima tahun. Rumah yang tidak dihuni oleh manusia memang akan cepat lapuk.

"Ngomong-ngomong, Haruki mati-matian tidak pernah mau memberitahuku tempat ini..."

Ia teringat masa lalu.

Ia dan Haruki telah bermain bersama di berbagai tempat di Tsukinose ini.

Mereka tidak hanya berlarian menjelajahi hutan, gunung, dan sungai bersama alam, tetapi juga bermain video game di kamar atau menggambar boneka, balok, serta lukisan bersama Himeko. Namun semua itu dilakukan di rumah keluarga Kirishima.

Dulu ia sama sekali tidak merasa curiga. Ketika ia berkata, "Aku ingin pergi ke rumah Haruki," jawaban yang ia terima hanyalah, "Lebih baik di rumah Hayato karena ada Hime-chan juga." Dan ia pun menerimanya begitu saja.

Ia mengalihkan pandangannya ke salah satu sudut gunung.

Di tempat itu, pepohonan ditebang setengah-setengah, dan warnanya yang berbeda dari gunung-gunung lain membuatnya tampak mencolok, seperti noda tinta hitam yang tumpah di atas kertas putih.

"Medan pertempuran pilar batu, ya..."

Di tempat itu terdapat batu-batu besar yang berserakan, serta lapangan yang dilapisi beton di seluruh permukaannya dengan pilar-pilar runtuh yang tertata rapi menyerupai sebuah kuil. Ia punya kenangan sering bermain air menggunakan pistol air di sana saat musim panas.

Tidak ada apa-apa di sana. Tempat itu hanyalah sisa-sisa proyek pembangunan yang dihentikan pada masa era gelembung ekonomi (bubble economy). Sebagian besar tanah itu mungkin direncanakan untuk dibangun hotel atau lapangan golf.

Dan orang yang memprakarsai proyek itu tampaknya adalah kakek dan nenek Haruki.

Kendati demikian, masa gelembung ekonomi adalah zaman sebelum Hayato lahir, dan pada saat ia mulai memahami keadaan, keluarga Nikaidou sudah jatuh miskin dan hampir tidak pernah berinteraksi lagi dengan penduduk desa. 

Dikabarkan bahwa saat itu terjadi berbagai macam masalah di dalam Tsukinose terkait undangan proyek pembangunan tersebut, namun ia tidak begitu paham detailnya.

Lalu lima tahun lalu, mereka akhirnya tidak mampu membayar utang, tanah dan bangunan disita, dan mereka menghilang bagaikan orang yang kabur di malam hari. Itulah kisah keluarga Nikaidou yang diketahui oleh siapa pun di Tsukinose.

"Nikaidou, Haruki..."

Ia mencoba melafalkan nama itu. Kerutan terbentuk di dahi Hayato.

Dulu ia masih anak-anak sehingga tidak tahu apa-apa. Ia hanya merasa senang selama bisa bermain bersama Haruki.

Selain itu, Haruki dalam ingatannya selalu tersenyum.

Namun, terlepas dari siapa Haruki bagi Hayato, fakta bahwa gadis itu adalah cucu dari pemilik rumah terbengkalai di hadapannya ini tidak akan pernah berubah.

Kira-kira, bagaimana pandangan para warga Tsukinose terhadapnya?

Haruki pasti menyadari hal itu.

Ia teringat kejadian di dalam kereta dalam perjalanan menuju ke sini.

Haruki tampak begitu antusias bercerita tentang betapa tidak sabarnya ia bertemu dengan Saki, memancing dan bermain di sungai, mencari kumbang badak dan kumbang rusa di gunung, serta ingin mengadakan barbekyu bersama-sama. 

Dengan senyuman nakal yang tidak pernah berubah sejak mereka masih kecil, senyuman yang terus ia tunjukkan sejak reuni mereka.

Ia tiba-tiba teringat pada sosok Haruki saat pertama kali mereka bertemu, yang sedang memeluk lututnya sendiri.

Wajah kesepian itu saat ia mengatakan "karena aku anak tunggal" lalu tersedot masuk ke dalam rumah yang gelap, bahunya yang bergetar saat ia mengeluh "padahal aku menunggu dengan patuh," dan suara yang tumpang tindih dengan teriakan Haruki di kolam renang tempo hari, "Berisik, diam, sana pergi!" yang diucapkannya sambil menahan sesuatu.

Di balik wajah ceria yang selalu membuatnya ikut tersenyum, seberapa banyak beban yang sebenarnya ditanggung oleh gadis itu?

Pasti, bahkan sekarang pun...

"Ah, sial, aku tidak mengerti..."

Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam kepalanya, membuat pikirannya menjadi kacau balau.

Meski baru saja merasa canggung dan keluar dari sana, sekarang aku justru malah ingin melihat wajahnya. Diriku yang seperti itu terasa sangat konyol.

"Ampun deh, Haruki ini──"

Kata-kata yang memuntahkan rasa sesak di dadanya itu langsung tersapu dan terbawa pergi oleh angin yang bertiup kencang menuruni gunung.

Lalu Hayato mengerutkan kening, membuat kerutan di kemejanya dengan tangan yang menempel di dada, dan berbalik arah.


Matahari sudah sangat condong ke sisi barat.

Di bawah cahaya matahari yang mulai melembut, Hayato mendorong sepedanya menuruni jalan lereng yang sempit dan curam, sangat berbeda dari kota.

Begitu ia kembali ke pusat Tsukinose di sepanjang jalan raya tempat asosiasi distribusi dan kantor pos berada, sebuah truk kecil yang datang dari arah depan membunyikan klaksonnya dengan nyaring.

"Ooi, ketemu juga. Bocah Kirishimaー!"

"Kakek Gen?"

Seseorang yang menjulurkan kepala dari kursi pengemudi sambil melambaikan tangan adalah tetangga yang sudah akrab dengannya.

Kakek Gen yang hidup sendirian adalah orang yang sering ia bantu dalam pekerjaan ladang seperti panen dan memotong rumput sebagai imbalan uang saku. Rupanya kakek itu memiliki urusan dengan Hayato. Ia pun menghentikan tangan yang mendorong sepeda.

"Aku mau minta tolong lagi nih."

"Ada apa yaー?"

"Nanti malam kita mau adakan pesta sambil rapat festival, jadi bisa tolong buatkan berbagai macam hal lagi?"

"Aah, boleh-boleh saja. Nanti aku beri tahu Himeko sebelum menuju ke tempat biasa."

"Enggak, yang itu sudah kuambil."

"Eh?"

Ketika Kakek Gen menunjuk ke arah bak belakang dengan dagunya, Haruki yang memunculkan wajah dari sana tampak melambaikan tangan dengan ekspresi malu-malu sambil memegang jagung hasil muatan. Situasinya tidak langsung bisa dipahami sedetik pun.

Di bak belakang juga dimuat sayuran lain yang sepertinya akan digunakan untuk pesta, dan Haruki rupanya ditugaskan dengan dalih sebagai pengawas muatan. Ia mengerti itu. Mengabaikan Hayato yang kebingungan, Kakek Gen tertawa terbahak-bahak.

"Ahok-hok-hok, wah kaget aku! Salah satu anak nakal yang dulu suka kegirangan mendandani domba kita dengan kaus kaki, sekarang sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita, ya!"

"Eto, itu, karena itu cerita waktu masih kecil..."

"Betul, masa lalu! Dulu sering datang memperlihatkan serangga atau kulit ular yang ditangkap, atau makan rumput liar aneh sampai sakit perut, tapi sekarang jadi begitu pendiam dan manis begini, manusia itu memang bisa berubah yaー!"

"T, tapi! Kakek Gen ini..."

Rupanya kakek itu merasa terkejut sekaligus terhibur oleh perubahan Haruki.

Mendapat tatapan dari Kakek Gen, Haruki menyusutkan bahunya, menutup mulutnya dengan tangan lalu mengalihkan pandangan. Itu adalah sosok seorang gadis anggun dan pemalu yang sama sekali tidak mirip dengan penampilannya yang mirip anak nakal di masa lalu.

Kakek Gen bahkan sampai membuka matanya lebar-lebar dan berdehem untuk menyembunyikan rasa canggung karena merasa tidak enak sudah menggoda.

Sikap itu bahkan semakin berkali-kali lipat lebih dibuat-buat daripada sikap manis di depan umum yang biasa terlihat di sekolah.

Ketika matanya bertemu dengan Haruki, ia hanya dibalas dengan senyuman bermasalah.

Saat Hayato mengerutkan keningnya, suara ketidakpuasan terdengar dari belakang Haruki.

"Kakek Gen curang! Kita kan naik sepedaー!"

"Huuuー, huuuh!"

"Ahok-hok-hok, aduh maaf ya, Himeko-chan, Saki-chan!"

Himeko dan Saki sedang mengayuh sepeda mereka dengan penuh semangat. Sementara Saki, napasnya tampak sedikit tersengal-sengal.

Melihat pemandangan itu, Haruki turun dari bak truk kecil dengan ekspresi yang tampak sedikit merasa bersalah.

"Kakek Gen, aku sudah ketemu dengan Hayato-kun juga, jadi aku turun di sini ya. Terima kasih, tolong bawa duluan sayurannya ke sana."

"Ooh begitu, kalau begitu kakek pamit dulu ya! Ampun deh, bocah Kirishima ini pintar juga ya!"

Melihat wujud Haruki, Kakek Gen memasang senyuman lebar dan mengacungkan jempol kepada Hayato.

Mengabaikan Hayato yang kebingungan, Kakek Gen berdehem. Lalu ia berbalik menghadap Haruki dengan serius. Ia tampak sedikit malu-malu, seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya.

"Eto, begitulah, kaget juga waktu keluarga Nikaidou tiba-tiba menghilang, tapi urusan begitu-begitu itu urusan generasi di atas kita, dan ah itu, gimana ya..."

"Kakek Gen...?"

"Itu, Saki-chan sepertinya juga kelihatan memikirkan banyak hal, jadi, aduh, selamat datang, ya, selamat datang! Jangan biarkan anak kecil memikirkan hal-hal rumit! Ya sudah, kakek duluan ya!"

Setelah melontarkan kata-kata itu secara beruntun, ia melarikan diri dengan wajah sedikit memerah sambil melajukan truk kecilnya secara mendadak hingga lenyap dalam sekejap. Sepertinya ia ingin bilang agar tidak perlu dipikirkan.

Haruki mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu saat pandangan mereka bertemu, ia membalasnya dengan tawa kecil.

"Kakek Gen masih sama seperti dulu ya."

"Aku juga banyak dibantu olehnya."

"Mungkin aku saja yang terlalu banyak berpikir."

"......Mungkin juga ya."

Rasanya agak antiklimaks. Di sana, Haruki meregangkan tubuhnya dengan lebar-lebar. Lalu ia menghela napas seolah-olah berkata bahwa ia sangat lelah, dan menurunkan bahunya.

"......Tapi bagaimanapun juga, rasanya agak sulit ya kalau masa kecil kita diketahui orang lain."

"Ya iyalah Haru-chan, dulu kan kamu selalu bikin keonaran bareng Kakak, jadi wajar saja."

"Haruki-san waktu itu bisa dibilang, sedikit tomboi? Atau liar, ya..."

"Uhuk-uhuk, kalau ada aku yang dulu, aku ingin memarahi diriku sendiri..."

"Tapi kurasa Haru-chan tidak akan berubah hanya karena hal begituー."

"H, Hime-chan!?"

Himeko yang turun dari sepeda menepuk-nepuk pundak Haruki.

Himeko yang terkikik geli dan Saki yang tampak kebingungan menciptakan kontras yang jelas.

Rupanya Haruki memang terus bersikap seperti ini sejak tiba di Tsukinose. Mengingat kembali ucapannya tentang pujian berlebihan tadi.

Tentu saja mode nona manis berbalut kesan gadis tradisional Yamato Nadeshiko yang ramah dan ditunjukkan oleh Haruki ini pasti akan sangat disukai, berkat keunikannya di desa serta kesenjangan dari masa lalunya. Bahkan Kakek Gen tadi pun menunjukkan reaksi yang tidak buruk.

Namun entah mengapa, di dada Hayato justru bergelung rasa tidak enak yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

"......Hayato?"

"…! A, ada apa Haruki?"

"Bukannya tadi Kakek Gen bilang soal pesta, itu di balai desa?"

"Ah, di dekat pintu masuk kuil di kaki gunung, sebelah toko kelontong neneknya Saki."

"Ah, aku ingat! Toko neneknya Saki... eh, tunggu, itu kan tempatnya Saki-chan?"

"Feee!? E, eh iya benar. Balai desa itu dikelola oleh kuil kami, tapi karena para warga sering berkumpul dan membuat keributan, jadi nenek mulai membuka toko kelontong sebagai tempat penyimpanan kue dan minuman."

"Ahahaha, begitu rupanya. Pantas saja di sana banyak sekali makanan kering seperti cumi kering, ikan salmon kering, dan sirip kerang."

Sambil membicarakan hal itu, mereka tiba di balai desa.

Terletak di kaki Kuil Tsukinose, bangunan beratap genting satu lantai itu membentang melebar ke samping.

Sekilas bangunan itu tampak seperti rumah kayu satu lantai yang sudah tua, dan jika tidak ada papan nama bertuliskan "Balai Desa Tsukinose" yang dipasang di pintu masuk, orang-orang selain penduduk Tsukinose pasti akan mengiranya sebagai rumah biasa.

Matahari masih berada di langit bagian barat yang tinggi, dan waktu masih menunjukkan sore hari sebelum matahari terbenam.

Di lapangan kosong dekat balai desa berjajar banyak truk kecil, motor skuter, dan sepeda, sementara suara gelak tawa terdengar dari dalam bangunan. Rupanya mereka sudah mulai minum lebih awal.

Pasti banyak orang yang berkumpul seperti biasanya.

Begitu ia memikirkan hal itu, tangan Hayato bergerak secara refleks.

"Hm? Hayato?"

"Eh... aー, bukan apa-apa."

Tanpa sadar ia sudah memegang lengan Haruki.

Itu adalah tindakan spontan. Entah kenapa alasannya, Hayato sendiri pun tidak begitu memahaminya.

Hanya saja, satu hal yang pasti: jika pergi ke sana, ia akan menjadi Nikaidou Haruki──kenyataan itulah yang membuat kening Hayato berkerut.

Melihat Hayato yang seperti itu, Haruki melepaskan senyum pahit, lalu tersenyum manis namun anggun sambil mengenakan topeng gadis baik-baiknya.

"Tidak apa-apa kok, Hayato-kun."

"......Begitukah."

Hayato memberikan jawaban yang samar, lalu menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar, dan melangkah masuk melalui pintu balai desa.

Sesampainya di teras pintu masuk, terbentang lorong yang tembus hingga ke bagian dalam. Di sebelah kiri terdapat dua kamar luas bergaya Jepang dengan pintu geser fusuma yang dibuka separuh, sementara di sebelah kanan terdapat gudang, toilet, dan ruang pantri, membuat strukturnya menyerupai rumah biasa.

Omong-omong, di dalam gudang selain meja dan tumpukan bantal duduk cadangan, juga tersedia seperangkat permainan papan seperti Go dan Shogi, dan ruang pantri seluas sekitar enam tatami itu berfungsi sebagai dapur dengan peralatan memasak yang sangat lengkap.

Di Tsukinose yang miskin sarana hiburan, balai desa sering kali dijadikan tempat berkumpul dan berpesta untuk berbagai macam alasan.

Kali ini acaranya berkedok rapat persiapan festival musim panas, tapi sering juga mereka menggunakan berbagai alasan lain seperti perkumpulan petugas pemadam kebakaran atau latihan evakuasi bencana. Hayato sendiri sudah sering dipanggil ke perkumpulan sejak ia menginjak kelas SMP untuk diberi uang saku dan diminta membuatkan camilan.

Di ruangan besar itu sudah berkumpul sekitar 20 orang pria dewasa, dan begitu masuk ke dapur, Hayato langsung bersiap membuat camilan ringan terlebih dahulu. Ia sudah terbiasa dengan hal ini.

Ia melirik sekilas ke arah ruangan besar dan melihat beberapa botol bir kosong sudah berserakan, menandakan suasananya sudah sangat meriah.

Dan kalau bicara soal hidangan pendamping minumannya, tentu saja itu adalah Haruki.

"Ya, edamame dan jagung rebusnya sudah matang yaー. Lalu, siapa lagi yang mau tambah birnya..."

"Ooh, di sini, sini! Wah, ngomong-ngomong aku sudah dengar cerita dari Saki-chan, tapi kamu benar-benar berubah ya! Tadi sempat pangling dikira siapa!"

"Padahal dulu dia suka banget membasahi sarang semut sampai banjir!"

"Dia juga suka mengikat rumput liar di jalur pejalan kaki buat pasang jebakan!"

"Ada juga kan waktu dia berjalan di atas pagar sampai pagar itu rusak!"

"A, aduh! Jangan bilang hal-hal jahat begitu dong! Orang kayak gitu nggak bakal kuberi bir!"

Sambil ditertawakan oleh Kakek Gen dan kawan-kawan karena digoda soal perbedaannya dengan masa lalu, Haruki menarik kembali piring bir yang hampir ia ulurkan dengan cemberut, lalu membuang muka seolah-olah menunjukkan ekspresi marah.

Ketika Kakek Gen mengeluarkan suara memelas sambil memegang bir karena merasa gawat, dan Haruki yang cemberut menepis tangan itu, para penduduk asli Tsukinose yang wajahnya sudah dipenuhi keriput tertawa terbahak-bahak sambil mengerutkan wajah mereka semakin dalam. Mungkin karena mereka sudah minum alkohol.

"Tapi ya wajar saja kalau dibilang begitu. Haru-chan yang dulu itu mirip anak laki-laki, atau lebih tepatnya aku sempat mengira dia beneran anak laki-laki. Kalau main ke rumah kami dia sering ngajak menangkap serangga, kan? Padahal ngajak anak perempuan menangkap serangga loh?"

"Gah-hah-hah, ngomong-ngomong dia juga pernah teriak 'pembantaian 100 cicadas' sampai mengumpulkan serangga penuh satu kandang!"

"Dia juga sering pasang perangkap kumbang badak dan kumbang rusa!"

"H, Hime-chan jugaa~!"

Hayato menyaksikan pemandangan itu dari dapur sambil menggerakkan tangannya dan mengerutkan kening.

Berkat komentar atau lebih tepatnya penyelamatan dari Himeko, citra Nikaidou Haruki yang berbeda dari masa lalu ditanamkan kepada semua orang di Tsukinose. Itu adalah penyamaran sempurna yang bahkan memperhitungkan kenangan masa kecil mereka.

Penampilan Haruki yang mengenakan gaun putih anggun hari ini sangat kental dengan nuansa Yamato Nadeshiko yang langka di desa ini, dan tidak akan ada orang yang keberatan dituang minum oleh Haruki yang seperti itu.

Suasana yang tidak buruk.

Nikaidou Haruki diterima dengan baik.

Hayato juga mengerti secara akal sehat bahwa hal itu memang diperlukan. Namun entah mengapa tetap saja ada perasaan mengganjal di dadanya, dan karena rasa kesal itu tangannya tanpa sadar melenceng hingga memotong tomat secara tidak beraturan. Melihat itu, ia semakin mengerutkan keningnya.

"A, anou! Kakak, ini, daging babi hutan... d-diusahakan sudah direndam sake biar bau prengus-nya..."

"…! A, Murao-san. Terima kasih, kamu sudah melakukan persiapan awalnya juga? Letakkan saja di sebelah sana."

"B, baik!"

Saki muncul di sana membawa daging babi hutan yang diiris tipis. Hayato juga mengalihkan kesadarannya.

Karena gugup, ia meletakkan daging di atas meja dapur dengan gerakan kaku seperti robot.

Meskipun mereka sering berbicara di grup chat akhir-akhir ini, sepertinya jika berdua saja berhadapan langsung, situasinya tetap kembali seperti biasa.

Saat pandangan mereka bertemu, keduanya saling melepaskan senyum canggung yang sulit dijelaskan.

"Haaaaah...... a, Hayato, dagingnya disuruh bawa cepetan tuh kata mereka."

"…Haruki... tumis tebal tahu goreng pedas gulung daging babi permintaanmu itu baru mau dibuat. Kalau camilannya kurang, keluarkan saja tomat dan mentimun yang sudah dipotong di sebelah sana."

"Okee. Oh ya, botol kosong yang sudah dikumpulkan mau dikemanain?"

"Eto, kalau itu, biar aku saja yang membereskannya, tolong taruh di sekitar sini saja ya."

"Ah, iya. Tolong ya, Saki-chan."

Saki menerima botol-botol kosong dari Haruki, lalu bergegas membawanya ke toko kelontong di sebelah untuk dibuang. Haruki yang melihat kepergiannya meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi hingga terdengar bunyi retakan di bahunya.

Hayato semakin memperdalam kerutan di keningnya, lalu membuang muka sambil bergumam pelan.

"Itu, apa tidak terlalu melelahkan?"

"Ahaha, tidak menyangkal sih."

"......Begitukah."

"Ampun deh, Hayato ini terlalu protektif."

Sambil berkata demikian, Haruki membuat otot di lengannya seolah berkata "serahkan padaku," lalu menepuknya pelan.

Lalu ia membawa tomat dingin dan mentimun bumbu miso yang tersaji di piring besar.

Hayato yang mengantar kepergian Haruki yang kembali memasang topeng manisnya menggelengkan kepalanya kuat-kuat lalu kembali mengerjakan pesanan masakan.

Tahu goreng dipotong ukuran pas, lalu diberi sedikit garam, lada, dan tepung kanji tipis, diberi taburan daun bawang cincang di atasnya, lalu digulung satu per satu menggunakan irisan tipis daging babi hutan yang sudah dihilangkan bau prengusnya.

Bahan-bahan itu digoreng di dalam wajan panas berlumur minyak hingga kecokelatan, lalu diberi saus yang dibuat dari kecap asin, mirin, gula, parutan jahe, bawang putih, dan saus cabai doubanjan, lalu dimasak hingga mengental.

Sentuhan akhir khas Hayato adalah menggulungnya dengan daun shiso dan menaburkan biji wijen putih di atasnya.

Merasa puas dengan hasil buatannya yang terlihat lezat, ia menyadari keberadaan Saki yang sedang mengintip ke arahnya sambil memainkan kepang rambutnya dengan cemas. Rupanya tugas botol birnya sudah selesai.

Tatapan Saki mondar-mandir antara wajah Hayato dan piring besar berisi gulungan daging tahu goreng pedas, namun ekspresinya tampak canggung, bingung harus berbuat apa. Ia tahu gadis itu ingin menawarkan bantuan, namun Hayato pun jadi memasang wajah bingung.

Sebelumnya, Saki jarang sekali menampakkan diri di tempat seperti ini.

Paling pol, ia hanya diminta oleh keluarganya untuk mengantarkan tambahan minuman atau bahan makanan dari toko kelontong, dan kalaupun berpapasan dengan Hayato, ia hanya memberikan salam sekadarnya.

Perubahan yang begitu mendadak. Itulah sebabnya Hayato tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Namun, ia berpikir ulang.

Saki dan Himeko adalah sahabat karib. Sama seperti Hayato dan Haruki di masa kecil.

Ia mendadak teringat pada perpisahan mereka di masa lalu. Kejadian itu terjadi begitu mendadak.

Ia ingat saat itu ia merasakan kehampaan yang luar biasa, merasa hampa dalam melakukan apa pun, dan hanya menghabiskan hari-hari dengan membiarkan semuanya mengalir begitu saja.

(Aah, begitu ya......)

Saki pasti juga merasakan kepedihan kesepian itu.

Hari-hari yang tadinya terasa wajar runtuh, dan hatinya sedang melemah. Sama seperti dirinya di masa lalu.

Itulah sebabnya ia sangat memahami perasaan Saki yang ingin melakukan sesuatu dan mencoba membantu seperti ini.

Begitu memikirkannya, Hayato merasa semakin tidak bisa menganggap Saki sebagai orang lain.

Ia berdehem kecil sekali.

"Murao-san, mau bantu membawanya?"

"…! Iya!"

Melihat wajah Saki yang langsung merekah cerah mendengar perkataan Hayato, Hayato pun ikut tersenyum. Dan begitu gadis itu melangkah mendekat dengan langkah kecil-kecil, tanpa sadar tangan Hayato terulur menyentuh kepala Saki.

"Feee!?"

"…! A, maaf!"

"T, tidak, bukan begitu..."

"Soal Himeko itu... aー bukan, bukan apa-apa."

Itu adalah tindakan tidak sadar. Saki yang kepalanya diusap dengan lembut tampak terkejut, membuat wajah, telinga, hingga lehernya merona merah.

Hayato menatap tangannya sendiri yang tadi menyentuh kepala, teringat pada bayangan wajah Himeko saat itu, serta Haruki saat meneteskan air mata... oleh karena itu ia berusaha menutupinya secara samar sambil memasang senyuman paksa.

"Ayo berangkat."

Saki mengangguk pelan menanggapi ajakan Hayato.

Saat ia mengintip ke ruangan besar untuk membawakan makanannya, suasananya masih sama seperti sebelumnya, ramai dengan pusat perhatian dipegang oleh Haruki. Tentu saja, senyuman merekah di wajah semua orang.

Hayato menghentikan langkahnya sejenak di pintu masuk untuk mengamati situasi itu.

Digoda soal masa kecilnya, Himeko menimpali, dan Haruki memprotes. Siklus itu terus berputar. Haruki tidak hanya merasa malu karena digoda, tapi ia juga menunjukkan berbagai ekspresi menarik seperti merajuk, marah, panik, senang, terkejut, dan tertawa. Sebenarnya, sampai batas mana semua itu adalah akting yang diperhitungkan?

Ia mendadak teringat pada wujud Haruki saat pertama kali melihatnya di sekolah pindahan, atau saat pertama kali ia bertatap muka dengan ayahnya, atau saat berhadapan dengan Airi di kolam renang beberapa hari lalu.

Dan entah kenapa wajah Mao Takura melintas di benaknya──ia menggelengkan kepala untuk mengusir bayangan itu.

"Anu, ada apa?"

"…! Bukan apa-apa. Ayo kita bawa makanannya."

"......Begitukah."

Merasa tindakannya yang tiba-tiba mungkin terlihat mencurigakan, Saki melemparkan tatapan penuh kekhawatiran ke arahnya.

Begitu ia melangkah masuk ke ruangan besar, Kanehachi-san yang bermata tajam langsung melambai-lambai ke arahnya.

"Ooh, datang juga! Masakan camilan buatan Hayabou memang yang paling enak!"

"Semua orang sudah pada teler minum dan nggak ada yang mau masak soalnya!"

"Bener banget!"

Tawa yang ceria dan menggelegar bergema di ruangan. Sepertinya mereka memang sudah menikmati minumannya sejak tadi.

Saat matanya bertemu dengan Haruki yang sedang melayani para tetua itu, Haruki membalasnya dengan senyum pahit.

"Piringnya Hayato-kun aku ambil alih ya. Kalau piringnya Saki-chan──"

"Ah, Saki-chan di sini, di sini!"

"Fe, ah, Hime-chan. Mengerti~"

"Nah, bocah Kirishima jangan cuma berdiri saja, duduk sini!"

"Hayabou kan banyak hal yang mau kutanyakan."

"Tunggu dulu, makanannya bisa tumpah!"

"──A, ahahaha..."

Begitu tertangkap oleh mereka semua, ia dipaksa duduk di sebelah Haruki.

Sementara Saki ditarik dan diajak ngobrol oleh Himeko yang tampak jauh lebih bersemangat dari biasanya. Sepertinya Himeko ikut mabuk suasana. Hayato menghela napas panjang, "Haa..."

Melirik sekilas ke arah Haruki, gadis itu tampak sigap membagikan makanan yang dibawa Hayato. Sungguh sosok Nikaidou Haruki yang kelihatan sangat bisa diandalkan layaknya gadis penolong.

Oleh karena itu, dorongan kecil yang agak usil pun muncul di hatinya. Kanehachi-san dan yang lainnya mulai mengajaknya bicara.

"Jadi, Hayabou. Bagaimana kota besar itu?"

"Banyak bedanya kan dari sini?"

"Kan Tsukinose ini nggak ada apa-apa!"

"A, ahaha. Di sana nggak ada tempat cuci koin otomatis terdekat, stasiun juga dalam jarak jalan kaki dan jumlah kereta ada banyak dalam satu jam. Terutama kalau ke toko serba ada 100 yen, semua peralatan rumah, penyimpanan, sampai alat tulis lengkap, bahkan Haruki sempat membeli cat diorama dan peralatan merakit model."

"Hm? Kok bisa, padahal Haru-chan sudah tumbuh jadi gadis manis begini, hobinya masih tetap sama ya?"

"Ada peribahasa bilang watak masa kecil terbawa sampai tua, hmmm? Jangan-jangan kebiasaannya menjahili orang juga masih sama?"

"Yah, kurang lebih begitu. Isinya tidak jauh berbeda dari dulu, dan aku juga sering dijahili. Kalian semua jangan sampai tertipu ya."

"A, aduh, Hayato-kun nih!"

Haruki yang duduk di sebelah mencibirkan bibirnya sambil mencubit punggung tangan Hayato seolah melancarkan protes. Melihat pemandangan itu, tawa kembali merebak di sekitarnya.

Lalu Hayato mulai menceritakan berbagai hal.

Tentang memilih ponsel pintar, bioskop yang ukurannya luar biasa besar, hingga keterkejutannya melihat kolam renang. Ia menceritakan pengalaman yang dialaminya selama dua bulan singkat ini sebagai bahan oleh-oleh cerita.

Rasanya begitu ajaib.

Ia merasa seolah-olah baru saja pulang dari perjalanan panjang, dan ada kenyamanan yang tak terlukiskan.

Saat ia mengalihkan pandangan ke sebelah, matanya bertemu dengan Haruki yang membalasnya dengan senyuman malu-malu. Pasti perasaan mereka sedang sama.

Hayato menyadari bahwa beban mengganjal di dadanya kini telah lenyap.

Atau mungkin, ia hanya terlalu tegang sendiri selama ini.

"Yah, yah, yah, tuan-tuan mari kita mulai duluan... eh aduh, bukankah ini Hayato-chan!"

Pada saat itu, suara berisik terdengar dari arah pintu masuk bersamaan dengan bunyi pintu digeser kasar.

Dari suaranya, sepertinya para kaum hawa Tsukinose telah tiba. Dari obrolan yang terdengar samar, mereka sepertinya sedang melakukan persiapan festival secara terpisah dari para pria.

Begitu mereka dengan sigap menangkap sosok Hayato dan Haruki, mereka langsung mengepung agar tidak bisa kabur.

"Eh, jangan-jangan yang ada di sebelah ini Haruki-chan!?"

"Udah tumbuh jadi gadis secantik ini ya! Ah, jadi kamu beneran cewek toh!"

"Soalnya ingatan tentangmu yang selalu nempel sama Hayato-chan sambil belepotan lumpur itu terlalu kuat!"

"Hah!?"

Dan tidak seperti para pria, kelompok ibu-ibu ini sama sekali tidak punya rasa sungkan.

Haruki disentuh dan digoda bertubi-tubi oleh para madam Tsukinose hingga dibuat kewalahan. Namun, tidak ada rasa jijik sedikit pun yang terpancar baik dari Haruki maupun mereka. Suasananya begitu hangat, bagaikan memperlakukan anak atau cucu sendiri.

Ketika Hayato sedang tersenyum pahit, salah satu ibu paruh baya mendekatinya secara diam-diam, lalu bertanya dengan wajah serius.

"Ngomong-ngomong Hayato-chan, ibumu gimana kabarnya?"

"Iya, berkat doa kalian sudah lumayan. Sekarang beliau fokus pada pemulihan. Ayah menemaninya terus."

"Aduh-aduhー, Kazuyoshi-chan dari dulu memang bucin banget sama Mayumi-chanー! Oh iya, ngomong-ngomong soal bucin, si Haruki-chan ini..."

"Ada apa dengan Haruki?"

"Kalian berdua ini, pacaran ya?"

““…………Eh?””

"…!?"

Seketika itu juga, udara membeku.

Suara Hayato dan Haruki yang sama-sama bernada tinggi berpadu, dan terdengar suara orang menelan ludah di suatu tempat.

Itu adalah ucapan yang sama sekali tidak diduga.

Ia bertukar tatapan dengan Haruki yang tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus merespons bagaimana. Namun jika ia tidak memberikan pembelaan, ia tidak tahu akan dianggap seperti apa. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

Namun pada saat itu, Himeko tiba-tiba menyemburkan tawanya.

"Puff! Ehー, Kakak sama Haru-chanー? Nggak mungkin, nggak mungkin. Haru-chan memang sekarang kelihatan rapi, tapi kalau lagi main ke rumah kami dia sering banget pakai pakaian santai sampai celana dalamnya kelihatan, pokoknya nggak ada sisi femininnya sama sekali, dan Kakak juga cuma memasang wajah bosan sambil mengabaikannya begitu saja, ah, kemarin juga dia mau menjahili Kakak dengan hal mesu──mgof!?"

"Stooop! Hime-chan, stooop!"

"M-maksudnya itu, si Haruki kan lebih mementingkan makan daripada auranya, buktinya kemarin aja pas dibilang cicipin makanan, dia makan omelet dan babi panggang hias untuk mi dingin dalam jumlah yang lumayan banyak... eh, aduh sakit!?"

"Mooー, Hayato jugaaー!"

Sambil terkikik geli, Himeko melambaikan tangan hendak membongkar penampilan asli Haruki, namun mulutnya langsung dibungkam dengan panik.

Hayato sempat terpaku sejenak, namun begitu ia hendak melontarkan omelan untuk menutupi dadanya yang bergemuruh, pipinya ditarik sekuat tenaga oleh Haruki yang kini bermata berkaca-kaca.

Dan setelah kesunyian sesaat, tawa meledak ke udara.

"Hahahaha, yang berubah ternyata cuma tampang luarnya doang!"

"Kelakuan kayak gitu masih sama kayak dulu ya! Wah-wah, mendadak aku jadi lega!"

"E, eto, jadi maksudnya hubungan Hayato-kun dan Hime-chan itu spesial gitu..."

"Iya benar, aslinya kan sudah ketahuan jadi nggak usah disembunyikan lagi."

"──Betul, makanya jujur saja, ya kan Hime-chan~!"

"Ahaha, begitu ya, rupanya kebiasaan memasang topeng manis itu nurun dari Mao-chan ya."

““…””

Itu adalah celetukan santai dari seseorang.

Wajah Haruki langsung menegang, dan bahunya terperanjat kaget.

"Iya betul, aku juga nonton dramanya loh. Istriku suka banget, yang Sepuluh Tahun Kesunyian itu kan?"

"Film berjudul Waktu Nayuta juga lagi tayang kan, wah, iri banget kelihatan masih muda terus!"

"Aku jadi pengin nanya tips perawatan kulitnya deh!"

"Anak yang tadinya pendiam dan cuek itu bisa sesukses sekarang, benar-benar nggak bisa ditebak ya."

"Kira-kira kalau minta ke Haru-chan, bakal dikasih tanda tangan nggak ya?"

Topik pembicaraan mendadak beralih kepada ibu Haruki, Mao Takura.

Itu adalah serangan mendadak.

Kepalanya langsung mendadak kosong.

Karena kesadarannya sepenuhnya tertuju pada kakek-nenek Haruki, serangan itu terasa semakin telak.

Ia menggenggam tangannya erat-erat, dan menatap situasi di hadapannya seolah-olah itu adalah kejadian di tempat yang jauh.

Ekspresi maupun kata-kata mereka saat membicarakan Mao Takura sama sekali tidak menyiratkan emosi negatif seperti cemoohan atau cacian. Mereka hanya sekadar merasa penasaran, bahkan seolah-olah sedang memuji seorang selebriti yang berasal dari desa yang sama. Hanya itu satu-satunya hal yang bisa disyukuri.

"......"

Bukannya tidak ada alasan. Keluarga Nikaidou sudah lama mengisolasi diri dan tidak berinteraksi dengan warga Tsukinose.

Itulah sebabnya mereka tidak tahu hubungan antara Haruki yang sekarang dan Mao Takura, melainkan hanya mengetahui fakta bahwa keduanya adalah ibu dan anak. Sederhana itu saja.

Aku ceroboh.

Saat Hayato menggertakkan giginya dan melirik sekilas ke samping, sosok Haruki yang kehilangan ekspresi sempat tertangkap sekilas oleh matanya, dan ketika Haruki menyadari hal itu lalu memaksakan diri memasang senyuman, kepalanya langsung mendadak mendidih.

Kuku-kuku jarinya menancap kuat pada kepalan tangannya hingga aliran darahnya membeku.

Tepat saat ia didorong oleh rasa tanggung jawab yang muncul di dadanya dan hendak membuka suara.

"K-Karaoke! Mau, tidakkah kalian bernyanyi karaoke... di sini...!"

"…!?"

Suara lantang yang hampir putus asa itu merobek suasana gaduh.

Semua perhatian tertuju pada pemilik suara yang kehadirannya tak pernah terbayangkan sebelumnya. Itu adalah Saki.

"Anu itu, kita sering memakai tempat ini untuk berkumpul, bukan...?"

Saki mendadak panik namun tetap mengajukannya dengan suara yang sedikit melengking.

Mendengar usul dari Saki yang biasanya jarang menonjolkan diri itu, semua orang membelalakkan mata sambil memiringkan kepala. Saki menyusutkan tubuh dan nada bicaranya karena menjadi pusat perhatian, namun saat ia bertatapan dengan pandangan yang dikirimkan ke arahnya, ia langsung merapatkan bibirnya rapat-rapat dan membuat kepalan tangan kecil di depan dadanya.

Dan saat ia bertekad bulat untuk kembali membuka mulut, kini suara ceria Himeko yang bergema.

"Ah, aku mau, aku mau nyanyi! Eh, tapi lagunya cuma ada yang lama ya?"

"E, eto, baru-baru ini kita ada memesan beberapa laser disk dari layanan pos..."

"Wuaah! Tahu nggak lagu apa saja yang tersedia!?"

"Ooh, Hime-bou, itu ada di dalam keranjang di sebelah kanan pintu masuk gudang."

"Gudang ya!"

"H-Hime-chan!? K-kalau begitu aku juga bersiap~"

Kebingungan semua orang hanya berlangsung sesaat, begitu Himeko berlari ke arah gudang dengan gembira, bagian dalam balai desa seketika berubah dipenuhi suasana karaoke.

"Hei Kanehachi-san, ayo kita bantu para gadis itu!"

"Baiklah, akan kuperdengarkan suara merdunkup ini."

"Bising, suaramu serak!"

"Jangan bilang begitu pada suara bekas mabuk!"

"Sebentar, kalian jangan lupakan kami juga ya."

"Belakangan ini aku jadi susah mencapai nada tinggi."

Karaoke di balai desa adalah salah satu dari sedikit hiburan yang ada di Tsukinose.

Mengingat suasana saat itu sudah dipenuhi alkohol, begitu alurnya terbentuk, mereka langsung melupakan kejadian Saki sebelumnya, dan obrolan mengenai lagu apa yang ingin dinyanyikan, siapa yang diminta bernyanyi, atau bagaimana kejadian kemarin mulai bermekaran di sana-sini. Kejadian itu berlangsung dalam sekejap mata.

"......Kita diselamatkan oleh Saki-chan ya."

"......Ah, benar."

Tindakan Saki itu jelas dilakukan setelah ia melihat ekspresi Haruki.

Tentu saja, mereka tidak pernah menjelaskan situasi rinci tentang Haruki kepada Saki. Dan mereka juga tidak mungkin bisa menjelaskannya.

Sementara Saki sendiri, mungkin karena dialah yang pertama kali mengusulkannya, kini malah dipaksa memegang mikrofon.

Ia menatap Himeko memohon pertolongan, namun Himeko justru berkata, "Ah, ada lagu tema drama siaran ulang yang kita bicarakan kemarin lho!" sambil dengan licik ikut memegang mikrofon untuk menutup jalur pelarian Saki. Himeko sendiri berniat menolongnya, tapi Saki justru kelihatan hampir menangis.

Dan orang-orang di sekitar pun bersorak meriah, "Bagus ituー!", "Baru pertama kalinya Hime-bou dan Saki-bou bernyanyi bersama!", "Sudah kami tunggu-tunggu!".

Tak lama kemudian,intro lagu yang terasa sedikit jadul dan familier mulai berkumandang.

Lagu tema dari drama populer yang dibintangi oleh mantan idol wanita, yang telah disiarkan ulang berkali-kali.

Bahkan bagi Hayato yang belum pernah menonton dramanya sekalipun, lagu itu adalah lagu terkenal yang pernah ia dengar, dan ia sudah sering mendengarnya di perkumpulan semacam ini. Itu adalah pilihan lagu yang paling tepat.

Orang-orang di sekitar juga bertepuk tangan mengikuti irama sambil memberikan sorak-sorai.

『『Aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu~♪』』

Suara nyanyian kedua gadis itu bergema di dalam balai desa.

Meskipun Himeko sudah beberapa kali pergi ke karaoke sehingga bisa bernyanyi dengan cukup baik, suaranya tetap terdengar kaku, seolah-olah ia mengerahkan seluruh tenaga hanya untuk mengejar liriknya.

Di sisi lain, Saki bernyanyi dengan sangat berantakan. Ini sepertinya pertama kalinya ia bernyanyi di tempat seperti ini.

Ia merona kemerahan karena malu, mengecilkan bahunya, dan hanya menggumamkan lirik lagu dengan suara pelan.

Namun orang-orang di sekitar tetap saja bersemangat.

Baik Himeko maupun Saki, bagi para tetua yang ada di tempat ini mungkin rasanya seperti menyaksikan cucu mereka sendiri tampil di panggung pertunjukan, sehingga senyum merekah di wajah semua orang. Bahkan bagi Hayato pun, melihat pemandangan kedua gadis itu bernyanyi dengan sekuat tenaga terasa sangat mengharukan.

Terutama Saki, yang bertolak belakang seratus persen dengan sosoknya yang anggun saat menari kagura di festival setiap tahunnya, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.

"......Nih, Hayato. Saki-chan anak yang baik ya."

"Ah, benar juga."

"Lalu, manis sekali ya."

"Mungkin."

"Makanya ya, kalau melihat sosok yang bersungguh-sungguh begitu, aku jadi berpikir... ah, ke Saki-chan──."

"......Haruki?"

Haruki bergumam sambil terus menatap ke arah Saki, dengan ekspresi yang belum pernah dilihat oleh Hayato sebelumnya.

Sebuah ekspresi kompleks yang sulit diungkapkan dengan kata-kata; seolah dipenuhi oleh kasih sayang, namun di sisi lain terasa begitu kesepian dan seakan ingin lenyap. Entah mengapa ekspresi itu mengaduk-aduk dada Hayato.

Ia tanpa sadar mengulurkan tangan untuk memastikan keberadaannya dan mencoba meraihnya, namun tangannya hanya menepis udara kosong.

Haruki telah berdiri. Dari posisi Hayato yang sedang duduk, wajahnya sama sekali tidak terlihat.

"Hayato, aku pergi dulu ya."

Sambil membalikkan badan mengucapkan kata-kata itu, Haruki membalasnya dengan senyuman yang membuat siapapun terpesona, lalu melangkah menuju panggung dengan penuh percaya diri.

Hayato menahan napasnya.

Itu adalah senyuman penyamaran yang sempurna dari Nikaidou Haruki, sebuah senyuman yang dihitung secara matang agar bisa dilihat oleh orang lain.

Lagu tersebut telah melewati bagian pertama dan hampir memasuki bagian selingan instrumen.

Orang-orang Tsukinose yang tengah memandangi Saki dan Himeko—dua gadis idol Tsukinose—menunjukkan antusiasme yang semakin menjadi-jadi.

Saat mereka bertepuk tangan meriah dan memberikan sorakan, Saki merona kemerahan sambil menyusutkan punggungnya, sementara Himeko mengerutkan keningnya kesal sambil memegang mikrofon dengan satu tangan menyentuh lehernya.

Di antara kedua gadis itu, Haruki menyusup masuk.

"Bolehkah aku bergabung?"

Melihat Haruki yang tiba-tiba muncul, Saki tampak terkejut, sementara Haruki tersenyum manis sambil mengulurkan tangan.

Saki sempat beberapa kali memandangi tangannya sendiri, tangan Haruki, dan wajah Haruki secara bergantian, lalu dengan ragu-ragu menyerahkan mikrofon tersebut. Haruki menutup satu matanya seolah berkata "serahkan padanya."

Melihat interaksi itu, Himeko mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali, lalu menghela napas pasrah dengan ekspresi sedikit kesal, sebelum akhirnya menarik lengan Saki dan menyerahkan panggung kepada Haruki.

Perhatian semua orang mulai beralih dari Saki dan Himeko ke arah Haruki. Riuh tepuk tangan membahana. 

Ekspektasi kian memuncak, menantikan kejutan apa lagi yang akan diperlihatkan oleh mantan anak nakal tersebut kali ini, membuat kemeriahan mencapai puncaknya.


『──Mimpi amber~♪』

“““““…”””””

Dan begitu Haruki mulai bernyanyi, dunia pun berubah.

Seolah-olah apa yang ada di hadapan mereka dibalikkan begitu saja, seakan-akan segalanya jungkir balik, seolah pintu menuju dunia lain terbuka dengan tibatiba. 

Balai Desa Tsukinose diselimuti oleh suasana dunia yang berbeda.

Gadis yang bernyanyi di hadapan mereka bukanlah Haruki, melainkan sosok seorang gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama, namun menyadari bahwa ia tidak boleh mencintai orang tersebut, mengurung perasaannya bagaikan sebutir amber──seorang gadis malang yang terombang-ambing oleh kisah cinta yang tragis.




Suara nyanyian Haruki, tangan yang melayang di udara, langkah kaki yang diukir dengan penuh keraguan, serta rambut panjang yang berhembus lembut, semuanya melantunkan kisah cinta yang begitu syahdu sekaligus menyayat hati yang terpatri di dalam liriknya.

Matanya tidak bisa dialihkan. Semua orang ternganga, alih-alih bertepuk tangan, mereka bahkan lupa cara bernapas dan terpukau seolah terhipnotis. Haruki tampak begitu bersinar.

Himeko, bahkan Hayato sekalipun, tidak dapat menyembunyikan keterkejutan mereka. Saki menggetarkan matanya sambil mengepalkan tangan di depan dadanya.

Ia tahu bahwa Haruki pandai bernyanyi dan menari. Namun, ini bukan sekadar urusan mahir atau tidak dalam dimensi seperti itu.

Ini adalah sebuah kisah tentang seseorang yang diperankan oleh Haruki dengan segenap jiwa dan raga.

Setidaknya, ini bukanlah pertunjukan yang bisa disaksikan di balai desa di sebuah pelosok terpencil seperti Tsukinose.

Siapa sangka drama seperti ini bisa disaksikan di tempat ini?

──Surat berwarna hijau, tertelan di dalam lubuk hati...♪

Lalu nyanyian itu pun usai.

Hening yang pekat menyelimuti balai desa.

Semua orang benar-benar terhanyut oleh sosok Haruki.

Pengaruh alkohol sudah lama menguap entah ke mana.

Namun, tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana cara memberikan reaksi yang tepat.

Tanpa diduga, Haruki yang berada di hadapan mereka terasa bagaikan eksistensi yang begitu jauh.

Begitu besar keghaiban dan kehadiran yang ia pancarkan. Kepalan tangan Hayato sampai tergenggam begitu erat hingga terasa sakit.

Merasa reaksi semua orang di luar dugaan, Haruki hanya bisa berkedip bingung sambil terus bergumam, "Eh? Eh?", dan berakhir kebingungan sendiri.

Melihat Haruki yang seperti itu, Hayato merasa akhirnya ia bisa melihat sosok Haruki yang biasanya, lalu sambil menepis kegelisahan samar yang sempat bergelayut di dadanya, ia bertepuk tangan dengan suara yang jauh lebih kencang dari yang lain.

Mungkin tersadar kembali berkat suara tepuk tangan tersebut, riuh tepuk tangan mulai menyebar bagaikan riak air dan menelan keheningan. Dunia pun kembali seperti sediakala.

"Wah, Haru-bou, kau baru saja memperlihatkan sesuatu yang hebat!"

"Ya ampun, aku sampai kaget dan menjatuhkan jagungku!"

"Kalau aku malah menumpahkan saus daging dan bir sampai pakaianku bernoda... aku bisa dimarahi emak nanti!"

"Wahahaha, apa yang kau lakukan! Tapi tadi itu benar-benar luar biasa!"

"Gahaha, ini adalah hal paling mengejutkan yang kulihat dalam beberapa dekade terakhir!"

Meskipun Haruki tampak tersipu malu menerima tatapan dari seluruh warga Tsukinose, begitu ia bertatapan dengan Hayato, ia langsung tersenyum menyeringai penuh kenakalan seperti biasanya.

Meskipun hatinya berdegup kencang, berdasarkan pengalaman dan instingnya, keringat dingin mendadak mengalir di punggungnya.

Namun, itu justru adalah sosok Haruki yang dikenal oleh Hayato, dan ada secercah rasa lega yang teramat sangat di dalam hatinya.

"Nah, sekarang giliran Hayato!"

"Ooh, Hayabou! Kutunggu-tunggu!"

"Nah, kira-kira kejutan apa lagi nih yang bakal ditunjukkan selanjutnya!?"

"Aku juga pengin dengar suara nyanyian Hayato-kun!"

"Tunggu dulu, aku itu..."

Haruki dengan paksa menarik lengan Hayato dan menyeretnya naik ke atas panggung.

Menyadari dirinya buta nada, Hayato mundur teratur menghindari tatapan orang-orang, lalu memelototi Haruki dengan tatapan penuh dendam, namun ia hanya dibalas dengan senyuman lebar yang menyeringai.

Ia menghela napas panjang, "Haa...", lalu menggaruk-garuk kepalanya sambil menerima mikrofon.

"......Ampun deh, awas ya."

Suara nyanyian Hayato yang datar dan fals langsung menggema di dalam balai desa, menyebarkan berbagai macam jenis gelak tawa yang belum pernah terdengar sebelumnya ke langit malam Tsukinose.

 

Malam telah larut sepenuhnya.

Hayato yang telah selesai membereskan cucian berkat bantuan Haruki dan yang lainnya melangkah masuk ke ruangan besar, mendapati beberapa orang sudah mabuk berat dan terkapar di atas tatami sambil mendengkur.

Mengingat ini musim panas, mereka tidak akan sampai masuk angin. Lagipula, itu adalah pemandangan yang lumrah.

Ia menghela napas panjang. Sambil tersenyum masam, Hayato dan yang lainnya meninggalkan balai desa.

"Sampai jumpa lagi Haruki, dan juga Murao-san. Terima kasih bantuannya."

"Selamat malam Saki-chan, Haru-chan."

"Ya, sampai jumpa lagi, Hayato, Hime-chan."

"Selamat malam Hime-chan... d-dan juga Kakak."

Karena arah pulang mereka berbeda, mereka berpisah satu sama lain di balai desa.

Hayato dan Himeko menyusuri jalan pulang sambil mendorong sepeda mereka perlahan-lahan.

Bulan dan langit berbintang yang lebih terang daripada di perkotaan menyinari jalan setapak pedesaan Tsukinose.

Menggantikan suara kendaraan yang berlalu-lalang, dengkuran bernada rendah dari katak lembu yang terdengar dari genangan air menjadi bass pengiring, berpadu dengan suara serangga belalang malam di semak-semak dan burung celepuk di gunung, menyanyikan malam musim panas di pedesaan.

Mendengar suara-suara itu untuk pertama kalinya setelah sekian lama terasa begitu menenangkan, sekaligus menyegarkan.

"Ah, gawat. Roti untuk sarapan besok atau semacamnya belum ada."

"Eeeh, sarapan kita kosong dong?"

"Mau bagaimana lagi, pakai camilan yang kubeli di stasiun saja buat pengganti."

"Kalau di sana, kita bisa mampir dulu ke minimarket di jalan pulang lho."

"Kalau di sini, minimarket itu letaknya di seberang gunung, naik mobil saja butuh waktu 30 menit."

"Sama sekali nggak praktis namanya, ampun deh!"

"Kalau di sebelah sana, bahkan ada toko roti yang buka sejak pagi buta."

Sambil saling melontarkan keluhan seperti itu, mereka tertawa bersama.

Tempat yang tidak praktis. Namun Tsukinose yang seperti ini pun, rasanya tidak begitu buruk.

Angin sejuk yang tidak menyimpan hawa panas seperti di kota berhembus kencang, menghanyutkan awan-awan.

"Nhn~, perkumpulan hari ini seru banget! Saki-chan dan Haru-chan juga ada!"

"......Aku malah babak belur tadi."

"Ahaha, tapi kejadian tadi lumayan seru kok, jadi nggak apa-apa kan."

"Tadi itu jadi tontonan yang memalukan tahu!"

"Kita butuh latiaa-n, latihan yang rajin."

"Mungkin juga ya."

"......Ngomong-ngomong soal Haru-chan tadi, keren banget ya."

"Begitukah...... eh, Himeko?"

Tiba-tiba, Himeko menghentikan langkahnya.

Nada suaranya terdengar begitu kaku.

Jelas sekali ia menunjukkan gelagat yang tidak biasa. Namun ekspresinya terlalu gelap untuk dilihat dengan jelas.

"──Takamura Mao. Tadi, seseorang sempat mengucapkannya, kan?"

"!?"

"......Ternyata Kakak sudah tahu soal itu."

"Bukannya begitu, itu..."

Kata-kata tidak bisa keluar dari mulutnya secara spontan.

Bukannya ia sengaja menyembunyikannya dari Himeko. Masalah ini menyangkut privasi Haruki yang sensitif. Sekalipun Himeko adalah adik kandungnya sendiri dan memiliki hubungan masa kecil yang setara dengannya, hal itu bukanlah sesuatu yang bisa diumbar begitu saja.

Namun, itu adalah alasan dari sudut pandang Hayato. Di mata Himeko, wajar saja jika ia merasa dikucilkan sendirian. Hayato berusaha setengah mati mencari kata-kata yang tepat.

Namun semua kata yang terlintas di benaknya hanyalah deretan alasan belaka.

"Haru-chan itu, pasti cerita soal itu karena dia percaya sama Kakak, ya."

"Hime, ko...?"

Namun nada suara Himeko selanjutnya terasa begitu hangat dan penuh kasih sayang.

Dada Hayato berdegup kencang.

Di bawah langit berbintang pedesaan, Himeko yang tersenyum lembut terlihat begitu dewasa, sosok seorang adik yang belum pernah disaksikan oleh Hayato sebelumnya. Ia merasa kebingungan menghadapi perubahan itu. Ia semakin tidak mengerti harus merespons dengan kata-kata apa.

Dihadapkan dengan tatapan mata yang seolah menembus segalanya itu, ia tanpa sadar mengalihkan pandangan.

Tampaknya kehidupan di perkotaan telah mengubah adik kandungnya sendiri.

Mengabaikan kegelisahan Hayato, Himeko perlahan kembali melangkah maju. Hayato pun buru-buru menyusulnya.

Setelah berjalan dalam keheningan selama beberapa saat, Himeko melontarkan sepatah kata dengan nada bicara yang terkesan menceramahi.

"Haru-chan waktu kecil itu, mirip banget sama anak cowok, kan."

"Iya, benar."

"Selalu bareng Kakak, bajunya sering kotor berlumuran lumpur, dan sekujur tubuhnya penuh luka lecet..."

"Karena kita sering main di berbagai tempat."

"Tapi, itu pasti karena Kakak menginginkan hal itu terjadi. Haru-chan pasti, ya... kalau dipikir-pikir mungkin sejak saat itu dia sudah menjadi seorang perempuan."

"..................Eh?"

Giliran langkah kaki Hayato yang terhenti. Ia tidak mengerti maksud dari perkataan Himeko.

Namun, ekspresi Himeko menyiratkan seolah ia telah memahami sesuatu.

"Makanya, Kakak. Dukung Haru-chan dengan benar, ya."

Sambil mengucapkan kata-kata itu lalu berbalik, wajahnya yang merekah dalam senyuman indah sampai membuat siapapun terpesona meskipun ia adalah adiknya sendiri, membuat Hayato terpaku di tempat.

Ia ditinggalkan seorang diri di tengah jalan setapak malam Tsukinose.

"......Tanpa dibilang pun aku sudah tahu."

Gumaman Hayato yang lolos saat ia mendongak menatap langit melebur ke dalam kegelapan malam, tersapu bersih oleh angin kencang yang bertiup menuruni gunung.

◇◇◇

Berpisah dengan Hayato dan Himeko, Saki dan Haruki menuntun sepeda mereka berderit-derit menuju kuil tempat kediaman keluarga Saki. Meskipun jaraknya tidak begitu jauh dari balai desa di kaki gunung, jalur tanjakannya cukup curam.

"......"

"......"

Tidak ada percakapan di antara keduanya. Atau lebih tepatnya, mereka bingung harus membicarakan apa.

Sebagai gantinya, suara serangga dan hewan kecil bernyanyi menemani malam musim panas di pedesaan.

Sambil merasakan sedikit kecanggungan, Saki melirik ke arah Haruki sesekali, pikirannya melayang kembali pada sosok Haruki di pesta tadi.

Daya tarik yang melebur secara alami ke dalam lingkaran semua orang, seolah-olah ia telah tinggal di Tsukinose selama bertahun-tahun.

Keterampilannya saat membawakan minuman dan makanan, atau membantu Hayato.

Dan cara ia membawakan lagu yang membuat semua orang terpukau.

Suara yang jernih, gerak-gerik yang memikat, tatapan mata yang penuh rasa pilu.

Begitu terpelihara, begitu mempesona, begitu menyilaukan; semuanya berkilau bagaikan bintang-bintang di langit malam ini, sosok seorang gadis yang memiliki kehadiran kuat bagaikan rembulan yang bersinar di tengah langit.

Ia tanpa sadar membandingkannya dengan dirinya sendiri, membuat desahan napas yang tak terjelaskan terlepas begitu saja.

"Nih, Saki-chan, boleh minta waktu sebentar?"

"Feh?"

"Ada tempat yang ingin kudatangi sebentar. Temani aku ya."

"Eh, ah, iya!"

Tiba-tiba, Haruki memanggilnya.

Karena lamunannya sendiri, suara jawabannya terdengar sedikit melengking.

Begitu kesadarannya kembali, gerbang torii sudah berada di depan mata. Rumah Saki sudah sangat dekat.

Meskipun ia menjawab secara refleks, ia sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.

Saat Saki memiringkan kepalanya dengan bingung, Haruki tersenyum masam sambil melambaikan tangan memanggilnya.

"Sebentar kok, dekat sini."

"Lewat sini..."

Mereka meninggalkan sepeda di tempat itu, lalu melangkah menyusuri jalan setapak ditumbuhi rumput liar yang sedikit menyimpang dari jalur ziarah.

Itu adalah jalan menuju kuil cabang yang jarang sekali digunakan oleh siapa pun.

Kenyataannya, Saki sendiri hampir tidak pernah memiliki urusan ke sana, membuat situasinya semakin tidak dapat ia pahami.

Jalan yang dibuat dengan membelah pepohonan gunung secara paksa itu hampir tidak tersentuh cahaya bulan maupun bintang, membuat langkah kaki mereka terasa tidak stabil.

Namun Haruki melangkah maju dengan kecepatan seolah-olah ia sudah sangat terbiasa dengan jalan tersebut. Saki mengejarnya dengan putus asa tanpa mengerti situasi yang sebenarnya.

Menyadari kesulitan yang dialami Saki, Haruki tersenyum masam "Ahaha," lalu mengulurkan tangan sambil menggumamkan sepatah kata.

"Saki-chan itu, hebat ya."

"Feh?"

Mendengar pujian tak terduga yang dilontarkan kepadanya, ia mengeluarkan suara yang terdengar konyol.

Hebat? Di sebelah mana? Apa maksudnya mengucapkan hal itu setelah menampilkan pemandangan luar biasa tadi?

Sementara kepalanya dipenuhi oleh tanda tanya, dengan ragu-ragu dan rasa segan ia meraih tangan Haruki. Tangan itu terasa sedikit hangat dan lembut.

"Rasanya dingin. Orang yang tangannya dingin itu..."

"Eh?"

"Hm, bukan apa-apa. Lebih penting lagi, ternyata kamu ya, Saki-chan, yang selama ini mendukung Hayato."

"! A, anu itu, eeto...!"

"Aku dengar dari semuanya. Kamu berkeliling bertanya bantuan apa yang bisa dikerjakan bahkan oleh anak kecil sekalipun, kan?"

"Itu, kan..."

"Bukannya itu saja. Tadi pun kamu mengeluarkan stok bir, mengatur piring dan gelas, dengan sigap menyeka meja yang kotor... dan menolongku."

"T, tidak kok, aku tidak melakukan hal sehebat itu..."

"Kikusu, hal seperti itulah, Saki-chan──nah, kita sudah sampai."

"…………Waaah!"

Begitu melewati terowongan pepohonan yang remang-remang, cahaya bulan dan bintang langsung tumpah menyinari mereka.

Yang disorot oleh lampu sorot langit malam musim panas adalah bunga-bunga matahari yang mekar subur mengelilingi bangunan kuil tua seolah melindunginya.

Meskipun cahayanya terasa rapuh jika dibandingkan dengan matahari, namun di bawah pantulan sinar bulan dan bintang, bunga-bunga itu memancarkan kilau yang begitu fantastis.

Sungguh, ya, sungguh pemandangan yang sangat indah.

Dan pemandangan ini hanya bisa disaksikan karena hari sudah malam.

Saki tidak pernah tahu bahwa ada tempat seperti ini di kuilnya sendiri, hingga ia terkesiap kagum dan terpesona.

"Keren, kan?"

"Iya, indah sekali!"

"Ini adalah tempat spesial milikku yang bahkan belum pernah ditunjukkan ke Hayato."

"Ke Kakak juga? Eh... a......"

"......Ahaha."

Haruki meredupkan ekspresinya sedikit, lalu tersenyum lemah.

Mengetahui tempat malam hari ini yang bahkan tidak diketahui oleh Hayato...... itu berarti memang begitulah kenyataannya.

Tempat ini pasti dulunya merupakan tempat yang sangat istimewa bagi Haruki di masa lalu.

"......Kenapa membawaku ke sini?"

"Karena ini Saki-chan."

"Karena... aku?"

"Karena Hayato bisa seperti sekarang, dan bisa melalui hari-hari tanpa merasa kesepian yang teramat sangat, itu semua berkat Saki-chan... makanya, aku ingin memperlihatkannya."

"!"

Lalu Haruki menatapnya dengan tatapan mata yang lurus.

Tatapan mata yang seolah menembus hingga ke lubuk hatinya paling dalam.

Ia tanpa sadar menahan napasnya.

Ah, sepertinya.

Gadis itu pasti sudah menyadari perasaan yang selama ini disembunyikan oleh Saki.

Namun, perasaan ini terasa begitu ajaib.

Ia merasa begitu malu hingga rasanya ingin segera kabur dari tempat ini detik itu juga.

Kendati demikian, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari Haruki.

Ia mengepalkan tangannya erat-erat.

Melihat itu, Haruki melembutkan ekspresinya.

"Yah, sepertinya Hayato sendiri tidak menyadarinya sih...... nah, apa benar di sini ya?"

"A....."

Lalu Haruki berbalik dengan senyuman bingung, lalu meraba bagian kolong di belakang bangunan kuil utama.

Ia mengeluarkan berbagai barang rongsokan seperti pedang kayu yang sudah lapuk, bola kempes, batu pipih yang mengkilap, mainan anak-anak, hingga harta karun masa kecil. Sambil memandangi benda-benda itu, Haruki bergumam.

"Dulu tempat ini kita jadikan markas rahasia, lho. Nostalgia banget, waktu itu kita suka banget hal-hal kayak gini sampai semangat mengumpulkannya."

"Ah, ahaha, kelihatannya memang... disukai anak-anak ya."

"Tapi, aku nggak tahu barang apa yang disukai atau bikin senang Hayato sekarang. Saki-chan tahu tidak?"

"Feh!? Eeto, itu... auuu..."

Lalu Haruki berdiri dan berbalik, memilin-milin jarinya di ujung rok sambil merona malu dengan pipi bersemu merah.

"Tanggal 25 Agustus."

"Eeto, itu kan..."

"Hari ulang tahun Hayato. Waktu kita ngobrol lewat pesan saat datang ke Tsukinose kemarin, aku sempat bilang kan kalau ada hal yang ingin kuonsultasikan? Itu... kalau bisa, aku ingin kita membuat hadiah ulang tahun untuk Hayato bersama-sama..."

"........aa"

"Boleh, kan...?"

Bersama-sama.

Mengetahui perasaan Saki, ia mengajak serta.

Permintaan itu memuat berbagai macam perasaan Haruki, sekaligus menjadi bentuk pengakuan Haruki terhadap Saki. Hal itu tersampaikan dengan jelas kepadanya.

Oleh karena itu Saki membelalakkan matanya dengan gemetar, lalu meraih tangan Haruki mengikuti dorongan hatinya.

"Iya, mari kita beri kejutan untuk Kakak!"

"Un, mohon bantuannya ya, Saki-chan."

Lalu mereka menyanyikan perasaan yang bergejolak di dalam dada begitu saja.

Kedua gadis itu saling berpegangan tangan sambil menggoyangkan bahu mereka.

Di bawah cahaya rembulan dan bintang, bunga-bunga matahari turut bergoyang lembut diterpa angin.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close