Chapter 3
Kabar yang Tak Disangka-Sangka
Suasana waktu
makan malam di apartemen keluarga Kirishima.
Himeko duduk di
meja makan sambil menggembungkan pipinya.
"Dengar, ya,
Haru-chan! Festival budaya SMP kita cuma ada penampilan marching band, lomba
pidato, dan pameran kelas—tidak ada stan makanan atau kafe sama sekali!?
Padahal aku ingin crepes, takoyaki, dan es serut~!"
Saki memberikan
senyum penuh masalah kepada sahabatnya itu.
Himeko jelas
merasa tidak puas karena festival di SMP-nya tidak menyediakan makanan. Sejak mendengarnya di sekolah pagi
tadi, ia terus bersikap seperti ini. Sambil mengeluh, ia menyumpal pipinya
dengan ayam goreng.
"Saus
ponzu ini memang menyegarkan, tapi sudah tidak panas lagi. Jadi, saus asam
manis sepertinya jauh lebih enak," omelnya sambil semakin menggembungkan
pipinya.
Namun,
Hayato dan Haruki sudah terbiasa dengan tingkah Himeko. Mereka mengabaikannya
dengan dengusan dan tatapan setengah mengantuk.
"Himeko,
meskipun kamu bisa membuka stan, kamu harus memasak, bukan cuma makan. Kamu
tidak bisa mencuri-curi gigit takoyaki atau yakisoba."
"Benar
sekali. Dan tidak boleh juga mencicipi krim kocok atau buah saat sedang membuat
parfait atau crepe."
"Ugh…!"
"…Pfft!"
Komentar tepat
waktu dari Hayato dan Haruki membuat Saki langsung tertawa terbahak-bahak. Hal
itu membuat wajah Himeko memerah dan matanya berkaca-kaca sambil merajuk,
"Bahkan Saki-chan juga ikut-ikutan!?"
Saki, dengan
senyum masam, merbuka suara untuk menenangkannya, "Maaf, maaf,
Hime-chan," lalu membagikan sepotong ayam goreng miliknya.
Seketika itu
juga, wajah Himeko kembali cerah. Seperti biasa, Himeko adalah anak yang sangat
mudah dibujuk. Sebagai sahabatnya, Saki tidak bisa tidak merasa khawatir dengan
masa depan gadis itu.
Saki, sambil
terkekeh canggung, menoleh ke arah Hayato dan yang lainnya yang sedang menghela
napas pasrah.
"Ngomong-ngomong,
aku dengar festival budaya SMA kalian cukup besar. Hal itu bahkan jadi bahan obrolan di kelas
kami."
"Sepertinya
begitu. Acara ini terbuka untuk umum, jadi banyak pengunjung yang datang.
Kontes kecantikan juga terbuka untuk non-siswa, jadi acara panggungnya bakal
sangat meriah."
"Stan
makanan punya sistem voting popularitas, jadi setiap kelas mengerahkan
kreativitas mereka. Terutama klub-klub sekolah, karena peringkat tinggi bisa
berujung pada bonus anggaran, jadi mereka benar-benar totalitas."
Saki mengeluarkan
suara "Wah" tanda kagum. Meski begitu, ia masih belum bisa
membayangkan seberapa megah acara tersebut. Namun, sejak pindah ke kota,
hal-hal yang tadinya tidak terbayangkan ini terasa begitu mengasyikkan.
Tepat pada saat
itu, Himeko, yang mendengarkan percakapan Hayato dan Haruki, berteriak
"Ah!" seolah baru menyadari sesuatu.
"Terbuka
untuk umum berarti kita bisa datang ke festival Onii dan Haru-chan dong!?"
"Tentu
saja, Hime-chan. Bukan hal aneh bagi anak SMP yang mengincar sekolah itu untuk
datang berkunjung."
"Yay, aku
pasti akan datang! Jadi, apa yang akan kamu dan Onii lakukan untuk festival
nanti?"
"Belum ada
yang diputuskan. Kami masih mendiskusikannya."
"Kelas Kaido
melakukan hal liar seperti cabaret cross-dressing."
"Apa
itu!?"
Mata Himeko
berbinar-binar penuh rasa ingin tahu mendengar acara Kazuki. Ia bergumam,
"Kazuki-san kan adiknya MOMO," lalu berpikir, "Bahu lebarnya
bisa disembunyikan pakai selendang," atau "Tinggi badannya malah bisa
membuatnya terlihat stylish!?" sembari menganalisisnya dengan wajah
serius.
Pada akhirnya,
Himeko menatap Hayato dan berbicara dengan nada yang tidak biasanya serius.
"Hei, Onii.
Bagaimana kalau—"
"Tidak
mungkin!"
Merasakan firasat
buruk dari Himeko, Hayato langsung memotongnya mentah-mentah.
"Aku bahkan
belum ngomong apa-apa! Onii pelit!"
"Aku
tahu hal itu bakal terlihat mengerikan kalau dipake aku!"
"Kamu
tidak akan tahu sebelum mencobanya!"
"Justru
aku bilang tidak mau coba karena aku sudah tahu!"
Kakak beradik
Kirishima itu mulai meninggikan suara. Saki dan Haruki saling bertukar pandang,
tersenyum melihat interaksi yang menghangatkan hati itu.
Namun,
Saki terdiam sejenak untuk berpikir.
Himeko
adalah gadis yang langsing dan sangat manis, bahkan untuk ukuran anak kota.
Dan
Hayato, kakak kandungnya, memiliki fitur wajah dan aura yang mirip. Sejak
pindah ke kota, Saki pernah melihatnya berdandan beberapa kali, dan kenangan
itu sukses membuat jantungnya berdegup kencang.
Jadi,
ketika ia mencoba membayangkan Hayato berdandan sebagai perempuan—jantungnya
berdegup tak terkendali.
Jika Hayato versi
perempuan mendekatinya… pikiran itu membuat tubuhnya terasa panas. Ia
menempelkan kedua tangannya ke pipinya yang memerah sambil menggeliat gelisah.
(Aku… aku bisa
jadi gadis nakal…!)
Saat Saki
tenggelam dalam fantasi liarnya, Haruki tiba-tiba bergumam dengan nada penuh
pencerahan.
"…Hayato
melakukan hal seperti itu sepertinya malah bakal cocok."
Mendengar
itu, mata Saki langsung melebar. Ia mencondongkan tubuh ke depan dan
menggenggam kedua tangan Haruki dengan penuh antusias.
"Kan!?"
"Jangan
bilang kamu juga, Saki-san!?"
Jeritan putus asa
Hayato menggema di ruang makan keluarga Kirishima.
Malam tiba dengan
cepat, mengejar matahari terbenam, dan suasana di luar pun menggelap.
Daun-daun
berwarna-warni di bawah lampu jalan bergoyang, berbisik seolah mencerminkan isi
hati Saki.
Dalam perjalanan
pulang dari rumah keluarga Kirishima, Saki berjalan berdampingan dengan Haruki
dalam langkah yang ringan.
Pikiran Saki
tentu saja melayang pada festival budaya SMA Hayato dan Haruki.
Tidak seperti
Himeko, kesan pertama Saki terhadap festival SMP-nya sendiri adalah terasa
biasa saja. Jujur saja, rasanya sedikit mengecewakan. Terutama setelah melihat
adegan-adegan meriah dan mendebarkan dari manga dan drama sejak pindah ke kota,
hal itu membuat festival sekolahnya terlihat semakin biasa.
Namun, festival
SMA yang dideskripsikan Hayato dan Haruki saat makan malam tadi sangatlah
berbeda. Itu adalah dunia di dalam buku cerita yang selama ini ia impikan.
Membayangkan
berkunjung ke sana membuat jantungnya tidak bisa berhenti berdegup kencang.
"Festival
ya? Aku jadi tidak sabar."
"Ah,
ya. Benar."
Mencoba
berbagi kegembiraannya dengan Haruki, ia justru mendapat respons yang datar dan
tampak tidak fokus. Haruki sepertinya sedang tenggelam dalam pikirannya
sendiri.
"Haruki-san?"
Padahal
mereka sangat bersemangat membahasnya sejak keluar dari rumah Kirishima,
membuat Saki memiringkan kepalanya karena penasaran. Haruki mengerang pelan,
"Hmm," sambil mengerutkan keningnya, lalu berbicara dengan ragu-ragu.
"Hime-chan
sepertinya bakal populer di kalangan cowok… ya kan?"
"…Eh?"
Saki
menghentikan langkahnya, mengerjap kebingungan mendengar ucapan itu.
Himeko populer di
kalangan cowok. Ia sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu.
Mengingat kembali
sosok Himeko di sekolah, tidak pernah ada rumor percintaan tentangnya. Yang ada
hanyalah ia yang sering dijahili oleh teman-teman ceweknya seperti Honoka.
Meskipun Himeko
sangat menyukai cerita romantis di manga dan drama, ia tampaknya belum tertarik
pada percintaan di dunia nyata. Kesehariannya yang biasa saja seharusnya sudah
memperjelas hal itu bagi Saki maupun Haruki.
Tidak yakin
dengan maksud dari pertanyaan tersebut, Saki menatap lurus ke mata Haruki.
Haruki menatap ke depan, melanjutkan langkahnya, dan berbicara terbata-bata.
"Habisnya,
festival itu menarik banyak orang dari sekolah lain yang datang cuma buat
mencari koneksi. Hime-chan
itu manis, ceria, dan sedikit polos, jadi aku khawatir dia bakal jadi
sasaran."
"Ah…
Maksudnya, dia bakal ikut begitu saja sama orang yang baru kenal kalau dibisiki
soal okonomiyaki atau pisang cokelat…"
"Nah,
kan?"
"Hehe,
iya juga ya."
Menbayangkannya
dengan mudah, mereka berdua saling melempar senyum penuh masalah sekaligus
pasrah.
Kekhawatiran
Haruki memang masuk akal.
Namun, Saki
sangat yakin akan satu hal.
"Tapi
Hime-chan akan baik-baik saja."
"…Eh?"
Giliran
Haruki yang kini mengerjap tak percaya.
Sambil
menatap ke depan, Saki memikirkan sahabat baiknya, Himeko.
Memang
benar, Himeko itu pemalu dengan orang asing, pelupa, ceroboh, dan mudah
tertarik dengan hal-hal yang menarik perhatiannya dengan gaya jalannya sendiri
yang santai.
"Hime-chan
punya mental yang jauh lebih kuat dari yang kamu bayangkan. Dia bisa melihat
niat jahat seseorang dan tidak akan pernah mundur."
"…Hime-chan?"
"Iya.
Aku dengar karena dia cukup mencolok, ada orang-orang yang sempat bergumam 'sok
banget dia' di dekatnya, meniru gaya bicaranya yang medok, atau mencoba
memberinya julukan aneh. Tapi
dia mengabaikan semua itu begitu saja."
"Begitu
ya…"
Semangat Himeko
sangat tangguh. Ia
bisa dengan tegas mengatakan tidak pada hal-hal yang tidak disukainya.
Bahkan
ketika ibunya jatuh pingsan dan dunianya hancur lebur, ia tetap bisa bangkit
dengan usahanya sendiri.
Melihat
sahabatnya selalu merintis jalannya sendiri memberikan Saki keberanian untuk
melangkah ke kota ini dan terus menginspirasinya hingga sekarang.
Oleh
karena itu, Saki mengangguk kepada Haruki dengan senyuman penuh keyakinan untuk
megakhiri kekhawatirannya.
Berpisah
dengan Haruki di depan pintu masuk apartemen, Saki melangkah masuk ke dalam
rumahnya dan menyalakan lampu. Ucapan "Aku pulang" miliknya bergema
hampa di ruangan yang kosong, memaksanya untuk kembali berhadapan dengan
kesendirian.
Lebih
dari sebulan sejak pindah, ia tetap tidak bisa terbiasa dengan momen ini.
Secercah rasa kesepian meresap ke dalam dadanya.
"…Ah."
Tepat
pada saat itu, seolah diatur waktunya, ponselnya berdering menandakan sebuah
pesan masuk.
Secara
refleks ia mengeceknya, dan ternyata pesan itu berasal dari ayahnya.
"Dia
sudah tumbuh sebesar ini."
Pesan itu
menyertakan foto kucing kesayangannya, Tsukushi, yang sedang tidur telentang
dengan bahagia di dalam kotak kardus yang penuh. Di sebelah foto itu terdapat
foto lamanya saat ia masih lebih kecil, di mana masih banyak ruang tersisa di
dalam kotak tersebut.
Hampir dua
bulan sejak bergabung dengan keluarga Murao, Tsukushi memang sudah tumbuh
sangat besar.
Meski
begitu, ia tetaplah seekor anak kucing. Dengan semakin banyaknya makanan sapih belakangan ini, ia pasti akan terus
tumbuh.
Bibir
Saki terukir membentuk senyuman. Ia mengunggah foto tersebut ke dalam obrolan
grup dengan caption, "Tsukushi hari ini," lalu berjalan menuju kamar
mandi sambil mengganti seragamnya.
Sejak
pindah, menyiapkan air berendam terasa seperti sebuah pekerjaan rumah, jadi ia
lebih sering mandi menggunakan shower. Namun, seiring dengan semakin dalam-nya
musim gugur, ia mulai merindukan berendam di dalam bathtub. Setelah mandi
dengan air yang sedikit lebih hangat dari biasanya, ia mengenakan yukata dan
mengecek ponselnya di atas meja, lalu menyadari adanya sebuah notifikasi baru.
"…Eh?"
Berpikir
bahwa itu adalah reaksi atas foto Tsukushi, ia langsung mematung saat melihat
nama pengirimnya.
Airi
Sato.
Seorang
model yang sedang naik daun, seseorang yang ditukar kontaknya oleh Saki tanpa
mengetahui identitas aslinya—seseorang yang sangat mempesona.
Pertemuan mereka
adalah murni kebetulan. Menganggapnya sebagai seorang kenalan saja sudah terasa
terlalu lancang bagi Saki. Mereka hidup di dunia yang benar-benar berbeda.
Jadi, apa artinya
ini?
Kenapa harus aku?
Pikirannya
berputar kacau, jantungnya berdegup kencang karena syok. Dengan tangan yang sedikit
gemetar, ia dengan hati-hati membuka pesan tersebut.
"Um,
aku ingin bertanya—atau lebih tepatnya, berkonsultasi—tentang festival budaya.
Apakah kamu punya waktu?"
Sensasi
dingin merayap di tulang belakangnya, seolah ada sebatang es yang ditusukkan ke
tubuhnya.
Ia teringat
kembali pembicaraannya dengan Haruki tadi.
—Orang-orang
datang mencari koneksi.
Kata-kata
Airi tentang seseorang yang disukainya melintas di benaknya, dan ia
menggelengkan kepalanya pelan. Hal itu seharusnya tidak berlaku untuk seorang
Airi Sato. Namun, Airi sangat dekat dengan MOMO, yang kakaknya adalah Kazuki,
dan ia juga tampak akrab dengan Hayato.
Tidak mungkin,
batinnya. Perasaan Airi terdengar sudah ada sejak lama, dan Saki berusaha keras
menepis pikiran itu.
Menatap layar
ponselnya sambil mencoba membalas, jari-jarinya hanya bergerak tanpa arah.
Kata-kata Haruki
sebelumnya, "Hime-chan sepertinya bakal populer di kalangan cowok… ya
kan?" kembali bergema di dalam kepalanya yang kalut.
Apakah Hayato
populer?
…Ia tidak tahu.
Ia tidak pernah memikirkan hal itu.
Namun, ia pernah
mendengar bahwa gadis-gadis di kota ini sangat berani.
Membayangkan
Hayato dikejar-kejar oleh banyak gadis membuat rasa gelisah di dadanya semakin
membesar.
Oleh karena itu,
untuk menepis kekhawatiran tersebut, Saki mengetuk nomor telepon Airi.
"…Ah."
"Halo,
um—"



Post a Comment