NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 4 Interlude I

Interlude 1

Saat Dunia Membentang Luas


Di halaman Kuil Tsukinose, berdiri sebuah bangunan besar bergaya modern yang berkontras dengan bangunan utamanya yang sudah kuno. Itu adalah kediaman utama keluarga Murao yang memegang kendali atas ritual keagamaan.

Tepat pada suatu malam menjelang festival, ketika kegelapan telah menyelimuti sekeliling melewati pukul delapan malam.

Shinta Murao yang tahun ini menginjak usia tujuh tahun, datang ke kediaman utama keluarga Murao yang juga rumah sang paman, diantar oleh ayahnya. Tampaknya akan diadakan rapat mengenai festival.

Ayah Shinta yang biasanya bertugas sebagai anggota dewan desa, juga merangkap sebagai seorang Miko, sehingga ia sering melangkahkan kaki ke kediaman utama keluarga Murao setiap ada keperluan.

Shinta sendiri, dengan kepolosan anak-anak, berpikir bahwa suatu saat nanti ia pun akan terlibat dengan kuil ini.

Meskipun begitu, obrolan orang dewasa masih belum begitu bisa dipahami oleh Shinta.

Bagi seorang anak laki-laki kelas satu SD, pertemuan semacam ini terasa membosankan.

Sejujurnya ia ingin menghindarinya, namun karena tahun ini Shinta juga ikut terlibat dalam festival, ia tidak bisa berbuat lain. Demi melewatkan waktu ini, ia mendekap erat buku ensiklopedia rekan setianya yang dibawa dari rumah.

Di Tsukinose yang tidak memiliki anak-anak sebayanya, teman Shinta kebanyakan adalah buku.

Buku-buku mengajarkan Shinta berbagai macam hal.

Piramida, yang dibangun di zaman purba dengan menyusun batu-batu raksasa hanya mengandalkan tenaga manusia.

Aurora, tirai cahaya fantastis yang muncul di langit malam negara paling utara.

Dunia di dasar laut yang bahkan lebih sulit dikunjungi ketimbang luar angkasa yang tak terjamah cahaya, beserta makhluk-makhluk yang menghuninya.

Dunia yang ditunjukkan oleh buku-buku selalu membuat dada Shinta berdebar dan dipenuhi rasa antusias.

Ayahnya membuka pintu geser tanpa menunggu balasan sambil mengucapkan salam, "Permisi." Di ruang masuk yang begitu luas hingga pantas disebut sebagai tanah liat berlantai, terdapat banyak pasang sepatu. Rupanya sudah banyak kerabat yang berkumpul di sana.

Ketika ia menampakkan diri di ruang tatami besar kediaman utama keluarga Murao yang biasa digunakan untuk pertemuan semacam ini, mereka disambut dengan berbagai ucapan selamat datang.

"Selamat datang, Shinta-kun!"

"Tahun ini Shinta-kun jadi pemeran utamanya, ya."

"Kita harus memastikan apakah kostumnya pas atau tidak."

"Kamu Shinta-kun, ya? Selamat malam, salam kenal."

"!?"

Shinta menahan napas karena terkejut.

Di desa Tsukinose di mana semua penduduknya saling mengenal, ia melihat seorang anak perempuan yang sangat cantik untuk pertama kalinya.

Di tengah-tengah anggota keluarga Murao yang kebanyakan berambut terang berwarna cokelat muda, rambut panjangnya yang hitam pekat dan berkilau bagaikan langit malam sangat mencolok. Ketika ia mensejajarkan pandangan dan tersenyum manis dengan rupa yang tertata bagaikan boneka, Shinta langsung merasa salah tingkah dan tanpa sadar langsung bersembunyi di balik punggung ayahnya.

Situasinya tidak begitu ia pahami.

Hari ini seharusnya adalah rapat mengenai festival, namun suasananya justru berubah menyerupai pesta penyambutan untuknya. Shinta membuka ensiklopedianya dan pura-pura tidak tertarik sambil mencuri dengar.

"Terima kasih atas bantuannya karena kami harus menginap mendadak kali ini."

"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, sepertinya dia juga akur dengan cucu perempuan kami... Hoho, pantas saja, akhir-akhir ini aku bisa melihat ekspresi dalam tarian Saki mulai berkembang."

"N, Nenek~!"

Tampaknya anak perempuan itu adalah teman Saki sang sepupu, dan ia sempat tinggal di Tsukinose ini dulu.

Kemudian sang nenek menundukkan kepala kepadanya karena merasa bersalah tidak bisa melakukan apa pun di masa lalu, membuat anak perempuan itu memasang ekspresi agak kesulitan.

Shinta tidak begitu mengerti detailnya.

Namun ia tahu bahwa anak itu sangat sopan, ramah, dewasa, dan disayangi oleh orang-orang dewasa. Ia bagaikan seorang idol cilik.

"Ah, ini oleh-oleh. Ini buatan tempat kerja paruh waktuku, silakan dicicipi!"

Lalu anak perempuan itu mengeluarkan sekotak kue di atas meja dan membukanya.

Shinta membelalakkan matanya.

Nerikiri yang dihiasi bunga-bunga musim panas warna-warni.

Kohakutou yang berkilauan bagaikan permata.

Kinjigyokukan yang mengurung kembang api di dalam agar-agar berbentuk kubah.

Semuanya adalah wagashi yang begitu indah hingga sulit dipercaya kalau itu adalah makanan.

Shinta juga diberikan bagiannya oleh orang dewasa, namun ia hanya menatapnya lekat-lekat tanpa menyentuhnya sama sekali.

"Shinta-kun, tidak dimakan? Kamu tidak suka jenis kue seperti ini?"

"!?"

Entah sudah berapa lama ia menatapnya?

Tak lama kemudian, anak perempuan itu bertanya dengan wajah penasaran.

Karena ia tiba-tiba mendekat dan mendekatkan wajahnya yang cantik, Shinta tanpa sadar menutupi wajahnya yang memerah menggunakan ensiklopedia.

Lalu suara terkejut terdengar dari balik buku, "Ah!".

Ketika ia mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu karena penasaran, tampak sosok anak perempuan itu dengan mata yang berbinar-binar.

Melihat sisi kekanak-kanakan yang bertolak belakang dengan kedewasaannya sesaat lalu, Shinta pun dibuat berdebar-debar dan tidak tahu harus berbuat apa.

"Miyama! Gambar di sampul itu kumbang Miyama, kan!? Wah, Shinta-kun juga suka Miyama, ya!?"

"Eh... ah, un..."

"Bagus ya, Miyama! Bentuk rahangnya yang melengkung tajam itu keren banget! Dulu aku sering menangkapnya, lho! Shinta-kun pernah menangkapnya belum?"

"......Belum."

"Eeeh, sayang banget! Begini, kita pasang perangkap di malam hari... ah benar, ayo kita pasang perangkap sekarang juga! Hei, hei, Saki-chan, apa ada stocking bekas pakai!?"

"Ha, Haruki-san!?"

Saat Shinta merasa kebingungan, anak perempuan itu malah menyeret Saki sang sepupu dan terus melanjutkan pembicaraannya.

"Ngomong-ngomong soal perangkap, kalau kita memasukkan botol plastik yang sudah dimodifikasi ke dalam sungai, kita bisa menangkap ikan sebanyak ini, lho!"

Ia tidak bisa melepaskan pandangan dari anak perempuan yang berbicara dengan antusias itu.

Meskipun apa yang dibicarakannya sama persis dengan apa yang diketahui Shinta dari buku, entah mengapa dadanya berdegup kencang luar biasa.

Sebuah rasa euforia yang asing, sensasi seolah pandangannya tiba-tiba terbuka lebar.

Itu adalah emosi pertama yang dirasakan oleh Shinta.

"Makanya, ayo pergi, Shinta-kun!"

"Un!"

Lalu Shinta tanpa ragu menyambut uluran tangan anak perempuan itu.

Di tengah-tengah tatapan hangat para orang dewasa yang memperhatikan mereka, pada hari itu Shinta berlari keluar dan memperluas dunianya dengan begitu luas.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close