Interlude
1
Saat
Dunia Membentang Luas
Di halaman Kuil Tsukinose, berdiri sebuah bangunan
besar bergaya modern yang berkontras dengan bangunan utamanya yang sudah kuno.
Itu adalah kediaman utama keluarga Murao yang memegang kendali atas ritual
keagamaan.
Tepat pada suatu malam menjelang festival, ketika
kegelapan telah menyelimuti sekeliling melewati pukul delapan malam.
Shinta Murao yang tahun ini menginjak usia tujuh
tahun, datang ke kediaman utama keluarga Murao yang juga rumah sang paman,
diantar oleh ayahnya. Tampaknya akan diadakan rapat mengenai festival.
Ayah Shinta yang biasanya bertugas sebagai anggota
dewan desa, juga merangkap sebagai seorang Miko, sehingga ia sering
melangkahkan kaki ke kediaman utama keluarga Murao setiap ada keperluan.
Shinta sendiri, dengan kepolosan anak-anak, berpikir
bahwa suatu saat nanti ia pun akan terlibat dengan kuil ini.
Meskipun begitu, obrolan orang dewasa masih belum
begitu bisa dipahami oleh Shinta.
Bagi seorang anak laki-laki kelas satu SD, pertemuan
semacam ini terasa membosankan.
Sejujurnya ia ingin menghindarinya, namun karena tahun
ini Shinta juga ikut terlibat dalam festival, ia tidak bisa berbuat lain. Demi
melewatkan waktu ini, ia mendekap erat buku ensiklopedia rekan setianya yang
dibawa dari rumah.
Di Tsukinose yang tidak memiliki anak-anak sebayanya,
teman Shinta kebanyakan adalah buku.
Buku-buku mengajarkan Shinta berbagai macam hal.
Piramida, yang dibangun di zaman purba dengan menyusun
batu-batu raksasa hanya mengandalkan tenaga manusia.
Aurora, tirai cahaya fantastis yang muncul di langit
malam negara paling utara.
Dunia di dasar laut yang bahkan lebih sulit
dikunjungi ketimbang luar angkasa yang tak terjamah cahaya, beserta
makhluk-makhluk yang menghuninya.
Dunia yang ditunjukkan oleh buku-buku selalu membuat
dada Shinta berdebar dan dipenuhi rasa antusias.
Ayahnya membuka pintu geser tanpa menunggu balasan
sambil mengucapkan salam, "Permisi." Di ruang masuk yang begitu luas
hingga pantas disebut sebagai tanah liat berlantai, terdapat banyak pasang
sepatu. Rupanya sudah banyak kerabat yang berkumpul di sana.
Ketika ia menampakkan diri di ruang tatami besar
kediaman utama keluarga Murao yang biasa digunakan untuk pertemuan semacam ini,
mereka disambut dengan berbagai ucapan selamat datang.
"Selamat datang, Shinta-kun!"
"Tahun ini Shinta-kun jadi pemeran utamanya,
ya."
"Kita harus memastikan apakah kostumnya pas atau
tidak."
"Kamu Shinta-kun, ya? Selamat malam, salam
kenal."
"…!?"
Shinta menahan napas karena terkejut.
Di desa Tsukinose di mana semua penduduknya saling
mengenal, ia melihat seorang anak perempuan yang sangat cantik untuk pertama
kalinya.
Di tengah-tengah anggota keluarga Murao yang kebanyakan
berambut terang berwarna cokelat muda, rambut panjangnya yang hitam pekat dan
berkilau bagaikan langit malam sangat mencolok. Ketika ia mensejajarkan
pandangan dan tersenyum manis dengan rupa yang tertata bagaikan boneka, Shinta
langsung merasa salah tingkah dan tanpa sadar langsung bersembunyi di balik
punggung ayahnya.
Situasinya tidak begitu ia pahami.
Hari ini seharusnya adalah rapat mengenai festival, namun
suasananya justru berubah menyerupai pesta penyambutan untuknya. Shinta membuka
ensiklopedianya dan pura-pura tidak tertarik sambil mencuri dengar.
"Terima kasih atas bantuannya karena kami harus
menginap mendadak kali ini."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa, sepertinya dia juga
akur dengan cucu perempuan kami... Hoho, pantas saja, akhir-akhir ini aku bisa
melihat ekspresi dalam tarian Saki mulai berkembang."
"N, Nenek~!"
Tampaknya anak perempuan itu adalah teman Saki sang
sepupu, dan ia sempat tinggal di Tsukinose ini dulu.
Kemudian sang nenek menundukkan kepala kepadanya karena
merasa bersalah tidak bisa melakukan apa pun di masa lalu, membuat anak
perempuan itu memasang ekspresi agak kesulitan.
Shinta tidak begitu mengerti detailnya.
Namun ia tahu bahwa anak itu sangat sopan, ramah,
dewasa, dan disayangi oleh orang-orang dewasa. Ia bagaikan seorang idol cilik.
"Ah, ini oleh-oleh. Ini buatan tempat kerja
paruh waktuku, silakan dicicipi!"
Lalu anak perempuan itu mengeluarkan sekotak kue di atas
meja dan membukanya.
Shinta membelalakkan matanya.
Nerikiri yang dihiasi bunga-bunga musim panas
warna-warni.
Kohakutou yang berkilauan bagaikan permata.
Kinjigyokukan yang mengurung kembang api di dalam
agar-agar berbentuk kubah.
Semuanya adalah wagashi yang begitu indah hingga sulit
dipercaya kalau itu adalah makanan.
Shinta juga diberikan bagiannya oleh orang dewasa, namun
ia hanya menatapnya lekat-lekat tanpa menyentuhnya sama sekali.
"Shinta-kun, tidak dimakan? Kamu tidak suka jenis
kue seperti ini?"
"…!?"
Entah sudah berapa lama ia menatapnya?
Tak lama kemudian, anak perempuan itu bertanya dengan
wajah penasaran.
Karena ia tiba-tiba mendekat dan mendekatkan wajahnya
yang cantik, Shinta tanpa sadar menutupi wajahnya yang memerah menggunakan
ensiklopedia.
Lalu suara terkejut terdengar dari balik buku,
"Ah!".
Ketika ia mengangkat wajahnya dengan ragu-ragu karena
penasaran, tampak sosok anak perempuan itu dengan mata yang berbinar-binar.
Melihat sisi kekanak-kanakan yang bertolak belakang
dengan kedewasaannya sesaat lalu, Shinta pun dibuat berdebar-debar dan tidak
tahu harus berbuat apa.
"Miyama! Gambar di sampul itu kumbang Miyama, kan!?
Wah, Shinta-kun juga suka Miyama, ya!?"
"Eh... ah, un..."
"Bagus ya, Miyama! Bentuk
rahangnya yang melengkung tajam itu keren banget! Dulu aku sering menangkapnya,
lho! Shinta-kun pernah menangkapnya belum?"
"......Belum."
"Eeeh, sayang banget! Begini, kita pasang
perangkap di malam hari... ah benar, ayo kita pasang perangkap sekarang juga! Hei,
hei, Saki-chan, apa ada stocking bekas pakai!?"
"Ha, Haruki-san!?"
Saat Shinta merasa kebingungan, anak perempuan itu malah
menyeret Saki sang sepupu dan terus melanjutkan pembicaraannya.
"Ngomong-ngomong soal perangkap, kalau kita
memasukkan botol plastik yang sudah dimodifikasi ke dalam sungai, kita bisa
menangkap ikan sebanyak ini, lho!"
Ia tidak bisa melepaskan pandangan dari anak perempuan
yang berbicara dengan antusias itu.
Meskipun apa yang dibicarakannya sama persis dengan apa
yang diketahui Shinta dari buku, entah mengapa dadanya berdegup kencang luar
biasa.
Sebuah rasa euforia yang asing, sensasi seolah
pandangannya tiba-tiba terbuka lebar.
Itu adalah emosi pertama yang dirasakan oleh Shinta.
"Makanya, ayo pergi, Shinta-kun!"
"Un!"
Lalu Shinta tanpa ragu menyambut uluran tangan anak
perempuan itu.
Di tengah-tengah tatapan hangat para orang dewasa yang
memperhatikan mereka, pada hari itu Shinta berlari keluar dan memperluas
dunianya dengan begitu luas.



Post a Comment