Chapter 5
Hayato Bodoh!
Suatu hari
sepulang sekolah, di sebuah supermarket terdekat.
Hayato
Kirishima mendengar suara seperti lonceng yang kini sudah terasa familier.
"Oh."
"…Yo."
Jawabannya
terasa canggung, dan itu wajar—dia tertangkap basah sedang melakukan tindakan
yang memalukan. Sambil berjongkok di lorong alat tulis dan mainan, dia sedang
sibuk mengaduk-ngaduk barang.
"Mainan
koleksi?"
"Bukan,
ini cuma…"
Dia
memeriksanya dengan teliti—mengambil satu per satu, mengguncangnya untuk
memeriksa isi, dan menekan kotaknya untuk menebak isinya. Benar-benar serius.
Haruki
Nikaidou tentu tidak akan melewatkan pemandangan ini. Sambil menyeringai
seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia memerhatikan Hayato yang
tampak panik.
"Kebetulan
sekali kita bertemu di sini! Bertemu denganmu di luar sekolah rasanya aneh.
Masih pakai seragam pula, jadi kamu mau langsung pulang?"
"Hm,
fosil dinosaurus dan batu permata… Oh iya, kamu dulu suka sekali mengumpulkan
batu-batu aneh."
"Benar,
aku tadi sedang di tengah-tengah belanja! Harus cepat selesai dan
kembali!"
"Aku
membuat diorama toko kelontong era Showa pakai barang-barang ini."
"…Serius?"
"Yup,
lihat ini."
Haruki
menunjukkan ponselnya. Sebuah toko kayu reot dengan tanda bertuliskan cola,
dipenuhi permen retro, mesin penjual otomatis, gacha, lemari es es krim, hingga
jaring serangga—nostalgia era Showa yang kental.
"Itu
toko Nenek Murao!"
"Kan?
Kubangun dari ingatan."
"Hebat,
bahkan bagian tanah dan pohonnya… Bagaimana caranya?"
"Toko
serba ada. Papan, tanah liat, bubuk warna, lem, selotip, kuas—semuanya ada di
sana."
"Tidak
mungkin, toko serba ada! Itu nyata, bukan legenda perkotaan!"
"Ada
satu di dekat stasiun… Tunggu, itu yang bikin kamu kaget!?"
"Yah…
tapi kamu benar-benar membuat ini pakai mainan…"
"Susah,
tahu. Aku tadinya mau lemari es es krim, tapi malah dapat bangku terus… Ugh,
aku jadi mempertanyakan arti probabilitas…"
"Ehm,
Haruki-san…?"
Mata Haruki
kehilangan kilauannya, ekspresinya kosong namun tetap tersenyum—jelas-jelas
sudah tidak waras. Hayato secara insting merasakan rawa-rawa yang menariknya
masuk, membuat hawa dingin merayapi punggungnya. Dia pun dengan tenang
mengembalikan mainan itu ke rak.
"Tidak
jadi beli? Seri stan festival pedesaan ini terlihat menggoda."
"Enggak,
belanja! Ayo kembali belanja, Haruki!"
"Tidaaak,
mainannya!"
Dengan
menyeret paksa Haruki si penunggu rawa itu pergi, Hayato akhirnya belajar satu
hal: mainan koleksi adalah sebuah perangkap.
Setelah
belanja buru-buru, mereka pergi dengan kelelahan yang tidak biasa.
"Fiuh,
hampir saja… Aku nyaris terjerumus ke rawa baru…"
"Batasi
dirimu… Hm?"
Muatan
Hayato sangat ringan: ayam, konjak, rebung untuk chikuzenni malam ini, ditambah
filet salmon. Anak kecil pun bisa membawanya.
Sebaliknya,
Haruki membawa terlalu banyak barang, kesulitan menyeimbangkan kantong
belanjaannya.
Jadi, wajar
saja bagi Hayato untuk bertindak.
"Sini,
biar kubawa—ugh, berat. Ini juga."
"Hayato!?"
"Apa?
Bawa sisanya."
"Oh…
oke."
"Kebanyakan
barang beku. Ayo cepat."
Sambil
setengah memaksa, dia mengambil kantong belanjaannya dan mendesaknya untuk
segera pulang. Haruki tertegun dan bingung.
Di sekolah,
anak-anak lain menawarkan diri untuk membawakan barangnya, selalu dengan motif
tersembunyi. Bantuan Hayato—yang murni karena melihatnya kesulitan—adalah hal
baru. Di Tsukino-se, mengabaikan seseorang yang membutuhkan akan membuatmu
menjadi bahan gosip satu desa. Itu sudah menjadi kebiasaan.
Namun bagi
Haruki, itu bukan sekadar kebiasaan.
Hatinya
bergejolak dengan rasa terkejut, kebahagiaan, kebingungan, dan pertanyaan, yang
memaksanya untuk memerhatikan Hayato.
"Kamu
selalu belanja sebanyak ini?"
"Ehm,
ya. Aku pembeli grosir."
"Begitu
ya."
"Ya…"
"…"
"…"
Keheningan
melingkupi mereka. Mereka berjalan berdampingan seperti biasa, kini dengan
perbedaan tinggi sebahu. Haruki mencuri pandang ke arah wajahnya, namun Hayato
terus melangkah maju, profil wajahnya yang biasa saja entah kenapa justru
membuatnya kesal.
Dia ingin
berbicara namun juga ragu, perasaan kompleksnya terus bergelayut saat mereka
berjalan di senja hari. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar,
memberikan ketenangan yang aneh.
(Kurang
ajar memang si Hayato ini.)
Mereka tiba
di rumahnya yang gelap dan kosong. Selama tujuh tahun, tidak ada seorang pun
yang menyambutnya di rumah suram ini. Pulang bersama Hayato terasa begitu
asing.
"Kita
sudah sampai. Di mana harus kutaruh ini?"
"Kubukakan
pintunya, taruh saja di depan pintu masuk."
"Mengerti…
Aku pulang."
"Tunggu!"
"Hm?"
Kata-kata
itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan, jujur apa adanya, membuat dirinya
sendiri merasa gelisah.
"Nomor!
Benar, nomor teleponmu atau ID SNS! Kita belum bertukar kontak!"
"Oh…
maaf."
"…Apa?"
Kata-katanya
yang terburu-buru dibalas dengan jawaban yang membuat pikirannya mendadak
kosong. Penolakan adalah hal yang tidak masuk akal.
Otaknya
menolak untuk memprosesnya, rasa kesepian yang terpendam mendadak muncul ke
permukaan, membuat hatinya terasa nyeri. Merasa ada sesuatu yang sangat penting
akan terlepas darinya, dia pun—
"Sebenarnya
aku tidak punya ponsel pintar…"
"Hayato,
kamu BODOH!!"
Teriakan itu, yang lahir dari rasa lega, terdengar lebih keras dari sebelumnya.



Post a Comment