NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 1 Chapter 5

Chapter 5

Hayato Bodoh!


Suatu hari sepulang sekolah, di sebuah supermarket terdekat.

Hayato Kirishima mendengar suara seperti lonceng yang kini sudah terasa familier.

"Oh."

"…Yo."

Jawabannya terasa canggung, dan itu wajar—dia tertangkap basah sedang melakukan tindakan yang memalukan. Sambil berjongkok di lorong alat tulis dan mainan, dia sedang sibuk mengaduk-ngaduk barang.

"Mainan koleksi?"

"Bukan, ini cuma…"

Dia memeriksanya dengan teliti—mengambil satu per satu, mengguncangnya untuk memeriksa isi, dan menekan kotaknya untuk menebak isinya. Benar-benar serius.

Haruki Nikaidou tentu tidak akan melewatkan pemandangan ini. Sambil menyeringai seperti anak kecil yang mendapat mainan baru, dia memerhatikan Hayato yang tampak panik.

"Kebetulan sekali kita bertemu di sini! Bertemu denganmu di luar sekolah rasanya aneh. Masih pakai seragam pula, jadi kamu mau langsung pulang?"

"Hm, fosil dinosaurus dan batu permata… Oh iya, kamu dulu suka sekali mengumpulkan batu-batu aneh."

"Benar, aku tadi sedang di tengah-tengah belanja! Harus cepat selesai dan kembali!"

"Aku membuat diorama toko kelontong era Showa pakai barang-barang ini."

"…Serius?"

"Yup, lihat ini."

Haruki menunjukkan ponselnya. Sebuah toko kayu reot dengan tanda bertuliskan cola, dipenuhi permen retro, mesin penjual otomatis, gacha, lemari es es krim, hingga jaring serangga—nostalgia era Showa yang kental.

"Itu toko Nenek Murao!"

"Kan? Kubangun dari ingatan."

"Hebat, bahkan bagian tanah dan pohonnya… Bagaimana caranya?"

"Toko serba ada. Papan, tanah liat, bubuk warna, lem, selotip, kuas—semuanya ada di sana."

"Tidak mungkin, toko serba ada! Itu nyata, bukan legenda perkotaan!"

"Ada satu di dekat stasiun… Tunggu, itu yang bikin kamu kaget!?"

"Yah… tapi kamu benar-benar membuat ini pakai mainan…"

"Susah, tahu. Aku tadinya mau lemari es es krim, tapi malah dapat bangku terus… Ugh, aku jadi mempertanyakan arti probabilitas…"

"Ehm, Haruki-san…?"

Mata Haruki kehilangan kilauannya, ekspresinya kosong namun tetap tersenyum—jelas-jelas sudah tidak waras. Hayato secara insting merasakan rawa-rawa yang menariknya masuk, membuat hawa dingin merayapi punggungnya. Dia pun dengan tenang mengembalikan mainan itu ke rak.

"Tidak jadi beli? Seri stan festival pedesaan ini terlihat menggoda."

"Enggak, belanja! Ayo kembali belanja, Haruki!"

"Tidaaak, mainannya!"

Dengan menyeret paksa Haruki si penunggu rawa itu pergi, Hayato akhirnya belajar satu hal: mainan koleksi adalah sebuah perangkap.

Setelah belanja buru-buru, mereka pergi dengan kelelahan yang tidak biasa.

"Fiuh, hampir saja… Aku nyaris terjerumus ke rawa baru…"

"Batasi dirimu… Hm?"

Muatan Hayato sangat ringan: ayam, konjak, rebung untuk chikuzenni malam ini, ditambah filet salmon. Anak kecil pun bisa membawanya.

Sebaliknya, Haruki membawa terlalu banyak barang, kesulitan menyeimbangkan kantong belanjaannya.

Jadi, wajar saja bagi Hayato untuk bertindak.

"Sini, biar kubawa—ugh, berat. Ini juga."

"Hayato!?"

"Apa? Bawa sisanya."

"Oh… oke."

"Kebanyakan barang beku. Ayo cepat."

Sambil setengah memaksa, dia mengambil kantong belanjaannya dan mendesaknya untuk segera pulang. Haruki tertegun dan bingung.

Di sekolah, anak-anak lain menawarkan diri untuk membawakan barangnya, selalu dengan motif tersembunyi. Bantuan Hayato—yang murni karena melihatnya kesulitan—adalah hal baru. Di Tsukino-se, mengabaikan seseorang yang membutuhkan akan membuatmu menjadi bahan gosip satu desa. Itu sudah menjadi kebiasaan.

Namun bagi Haruki, itu bukan sekadar kebiasaan.

Hatinya bergejolak dengan rasa terkejut, kebahagiaan, kebingungan, dan pertanyaan, yang memaksanya untuk memerhatikan Hayato.

"Kamu selalu belanja sebanyak ini?"

"Ehm, ya. Aku pembeli grosir."

"Begitu ya."

"Ya…"

"…"

"…"

Keheningan melingkupi mereka. Mereka berjalan berdampingan seperti biasa, kini dengan perbedaan tinggi sebahu. Haruki mencuri pandang ke arah wajahnya, namun Hayato terus melangkah maju, profil wajahnya yang biasa saja entah kenapa justru membuatnya kesal.

Dia ingin berbicara namun juga ragu, perasaan kompleksnya terus bergelayut saat mereka berjalan di senja hari. Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar, memberikan ketenangan yang aneh.

(Kurang ajar memang si Hayato ini.)

Mereka tiba di rumahnya yang gelap dan kosong. Selama tujuh tahun, tidak ada seorang pun yang menyambutnya di rumah suram ini. Pulang bersama Hayato terasa begitu asing.

"Kita sudah sampai. Di mana harus kutaruh ini?"

"Kubukakan pintunya, taruh saja di depan pintu masuk."

"Mengerti… Aku pulang."

"Tunggu!"

"Hm?"

Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa dipikirkan, jujur apa adanya, membuat dirinya sendiri merasa gelisah.

"Nomor! Benar, nomor teleponmu atau ID SNS! Kita belum bertukar kontak!"

"Oh… maaf."

"…Apa?"

Kata-katanya yang terburu-buru dibalas dengan jawaban yang membuat pikirannya mendadak kosong. Penolakan adalah hal yang tidak masuk akal.

Otaknya menolak untuk memprosesnya, rasa kesepian yang terpendam mendadak muncul ke permukaan, membuat hatinya terasa nyeri. Merasa ada sesuatu yang sangat penting akan terlepas darinya, dia pun—

"Sebenarnya aku tidak punya ponsel pintar…"

"Hayato, kamu BODOH!!"

Teriakan itu, yang lahir dari rasa lega, terdengar lebih keras dari sebelumnya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close