NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 4 Interlude II

Interlude 2

Aku Ingin──


Berbeda dengan di desa, semut bernyanyi di kota justru mencengkeram dinding luar bangunan alih-alih pepohonan hutan, berbunyi kencang sejak pagi hari.

Di kawasan perumahan tempat para semut bernyanyi itu, tepatnya di salah satu sudut rumah tradisional Jepang yang tampak kuno, berdiri sebuah area cuci tangan.

Minamo memasang ekspresi serius di depan cermin, berjuang setengah mati sembari memegang sikat dan karet gelang rambut.

"Uuuu, apa ini terlihat aneh..."

Gumamannya lolos, dibalut dengan warna kecemasan.

Sosok yang terpantul di cermin adalah dirinya sendiri dengan rambut ikal melingkar yang ditata setengah dikuncir.

Kesucian dan kesan dewasa berdampingan, menonjolkan daya tariknya.

Gaya rambut ini biasanya ditata oleh Mayumi, ibu Hayato.

Belakangan ini, ia juga diajari oleh Haruki dan berlatih agar bisa melakukannya sendiri.

Rambut yang dikuncir di bagian belakang berayun-ayun gelisah.

"B- sebentar lagi aku harus pergi."

Ucapnya seraya berganti pakaian seragam lalu keluar rumah.

Begitu melangkah keluar, sebuah suara sapaan penuh semangat berbunyi "Wuf!" dari halaman rumah sebelah.

Ketika ia mengalihkan pandangan, Renton si collie berbulu kasar berlari mendekat ke pagar sambil mengibaskan ekornya.

"Renton, selamat pagi. Hari ini panas sekali, ya~"

"Wuf! Wuf-wuf, waf!"

"Ara, Minamo-chan, selamat pagi... Wah, wah, wah, wah! Hari ini gaya rambutmu manis sekali!"

"Amami-san, selamat pagi! Um, apa ini terlihat aneh?"

"Tidak, sama sekali tidak! Ufufu, sangat cocok untukmu. Mau ke sekolah sekarang?"

"Ya, ada kegiatan klub."

"Ara, ara, ara, kegiatan klub! Masa muda sekali... Fufu, hati-hati di jalan."

"Baik!"

Menerima ucapan dari sang tetangga yang menunjukkan senyuman sangat indah, Minamo berjalan menyusuri jalan sekolah menuju kebun bunga sekolah.

Kira-kira, perawatan seperti apa yang kubutuhkan hari ini?

Meskipun memikirkan hal itu, karena gaya rambutnya berbeda dari biasanya, ia sedikit mengkhawatirkan pandangan orang sekitar dan merasa gelisah. Langkah kakinya jadi tanpa sadar berjalan lebih cepat.

Begitu melewati gerbang sekolah, sorak-sorai penuh semangat terdengar dari lapangan.

Meskipun sedang libur musim panas, ada banyak siswa selain Minamo yang mengunjungi sekolah untuk kegiatan klub dan sebagainya.

"Baiklah!"

Setibanya di kebun bunga, Minamo mengepalkan tangan di depan dadanya erat-erat dan menyemangati dirinya sendiri.

Berbagai sayuran musim panas sedang berada di puncak masa panen pada periode ini. Mereka selalu mearangkan banyak bunga.

Selain itu, jika lengah, tempat ini akan langsung dipenuhi rumput liar, sehingga perawatan teliti tidak boleh dilewatkan.

Ditambah lagi, kabarnya badai juga sedang mendekat. Persiapan untuk menghadapi hal itu juga diperlukan.

Sekilas dilihat, sepertinya tidak ada hasil panen untuk hari ini. Sebagai gantinya, ia melakukan perawatan seperti memangkas dahan dan daun sayuran musim panas yang tumbuh subur karena vitalitas tinggi, serta mencabuti rumput liar.

Melihat kondisi kebun bunga yang penampilannya berangsur-angsur menjadi semakin rapi, ia tersenyum tipis karena merasa hal itu mirip dengan merawat rambutnya sendiri.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya secara menyeluruh, ia menghembuskan napas lega dan menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan.

Tepat pada saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering menandakan panggilan masuk.

"Ara? ...Halo, Haruki-san?"

"Yaho, sudah lama tidak jumpa Minamo-chan, sekarang lagi apa? Baik-baik saja? Eh, jangan-jangan di luar? Sibuk ya?"

Itu dari Haruki. Suaranya diwarnai oleh kegembiraan dengan tingkat semangat yang luar biasa tinggi.

Minamo tersenyum pahit, bertanya-tanya apakah ada hal baik yang terjadi, lalu menghentikan pekerjaannya dan berpindah ke tempat yang teduh.

"Aku baru saja selesai merawat sayuran di kebun bunga. Sisanya untuk persiapan menghadapi badai... tapi, apakah ada sesuatu terjadi?"

"Iya, iya, begini, dengar ya, ini luar biasa! Kelahiran! Domba! Dari kemarin siang terus-menerus! Di luar musim jadi repot sekali, semuanya panik, sampai harus begadang!"

"Wah!"

"Tidak ada persiapan apa-apa, persalinannya sulit, dan harus pergi memanggil dokter hewan jauh-jauh. Bukan cuma Kakek Gen saja, tapi semua orang sekampung jadi ikut heboh! Dan baru saja semuanya akhirnya selesai!"

Rupanya dari siang kemarin hingga sekarang, Haruki terus mendampingi kelahiran domba tersebut.

Bagi Haruki pun, ini tampaknya menjadi kejadian yang tak terduga dan tak terlupakan.

Masih dalam balutan saiasana antusias yang belum mereda, ia menceritakan situasi saat itu dengan penuh semangat, 'Aku mengumpulkan jerami banyak sekali!', 'Kami menariknya dari perut induk domba dengan tali seperti sedang tarik tambang!', 'Di Tsukinose, ini baru kelahiran domba yang ketiga kalinya!'.

Bayangan Haruki yang sedang berbicara sambil menggunakan gestur tubuh di seberang telepon terlintas di benak Minamo, membuat wajahnya ikut tersenyum hangat. Rupanya peristiwa itu telah berkembang menjadi acara besar yang melibatkan seluruh desa Tsukinose.

"Semuanya bekerja dengan sangat keras. Hayato-san diminta tolong melakukan berbagai hal, Saki-chan menjadi pilar utama untuk urusan bantuan di balik layar... tapi, aku benar-benar panik... meski begitu, saat momen mereka lahir itu benar-benar luar biasa. Bersamaan dengan fajar, wah, semuanya mengangkat tangan dan bersorak gembira, sampai-sampai aku meneteskan air mata."

"Begitu ya. Kamu turut menyaksikan detik-detik kelahiran suatu nyawa."

Itu pastilah hal yang jauh lebih berat dari yang Haruki ceritakan, dan merupakan sesuatu yang penuh keajaiban.

Minamo menyipitkan mata, merenungkan hal itu sambil memandangkan bunga-bunga sayuran musim panas yang mekar dengan indah di kebun.

Jika mengenang kembali rasa terharu saat buah pertama tumbuh, ia sangat memahami perasaan Haruki yang ingin menceritakannya kepada seseorang. Berbagi perasaan itu dengannya meninggalkan kesan mendalam di lubuk hatinya.

"Ya, meskipun lahir karena salah perhitungan sepertinya halnya diriku, tapi semua orang tetap merasa gembira..."

"Haruki-san...?"

Tiba-tiba Haruki bergumam pelan. Nada suaranya terasa sangat hampa, tanpa warna emosi yang bisa terbaca. Tidak, rasanya lebih seperti sesuatu yang sedang ditekan mati-matian.

Minamo menahan napas mendengar kata-kata yang terlontar itu. Dadanya terasa sesak.

Ia tahu tentang keadaan keluarga Haruki.

Oleh karena itu, sebagai seorang teman, ia ingin mengatakan sesuatu.

Namun kata-kata itu tidak kunjung ditemukan.

Meskipun kepalanya berputar sia-sia, ia berusaha keras memeras pikirannya.

"K- Kakekku akan segera keluar dari rumah sakit lho!"

"Eh?"

"Ibu Hayato-san juga, dalam waktu dekat ini, um...!"

"...Aha! Ya, begitulah. Begitu ya. .........Terima kasih ya, Minamo-chan."

"Haruki-san..."

"Fuaah~f, hu. Aku juga jadi sangat mengantuk. Maaf ya, nanti aku hubungi lagi."

"Ah..."

Sambungan telepon terputus tanpa menunggu jawaban Minamo. Jelas sekali bahwa Haruki sedang berusaha menjaga perasaan orang lain.

Haa, sebuah desahan dengan nada suara yang menyedihkan lolos dari bibirnya.

Saat ia mendongak ke langit, matahari yang tadinya berada tepat di atas kepala tertutup oleh awan kapas, menjatuhkan bayangan ke tanah.

Bersamaan dengan itu, lonceng pertanda waktu siang berbunyi.

"Nah, aku harus membereskannya."

Minamo yang mengumpulkan tekadnya kembali segera membungkus dahan pangkas serta rumput liar ke dalam kantong sampah, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat pembuangan.

Di balik gedung sekolah, tempat pembuangan sampah itu bahkan pada hari biasa jarang dikunjungi oleh para siswa. Terlebih lagi sekarang adalah libur musim panas, sehingga suasananya semakin sepi.

Oleh karena itu, ia sama sekali tidak menyangka akan ada seseorang di sana.

"Kenapa bisa begini!?"

"Itu, aku sebenarnya punya seseorang yang kucintai di tempat lain..."

"Itu bohong! Berbeda dari rumor yang beredar, aku tahu betul apa yang sebenarnya Kazuteru-kun rasakan terhadap Nikaidou-san!"

Orang-orang yang ada di sana adalah sepasang pria dan wanita yang tampak sedang berdebat sengit seperti pasangan yang sedang bertengkar.

Tempat ini juga terkenal sebagai spot pengakuan cinta yang populer. Minamo pernah melihat pemandangan serupa beberapa kali dan sudah cukup terbiasa. Terutama dalam kasus di mana si pria bernama Kazuteru.

Biasanya ia akan menahan napas dan memilih lewat begitu saja, namun ia terkejut oleh penyebutan nama Nikaidou yang jelas-jelas merujuk pada Haruki, membuat bahunya terlonjak kaget dan menjatuhkan kantong sampah di kakinya dengan suara gedebuk. Tentu saja, mereka berdua juga menyadari kehadiran Minamo.

"S-Siapa!?"

"...Kamu sepertinya anggota klub berkebun yang sama dengan Hayato-kun."

"A- anu itu, a-aku hanya membuang sampah..."

Minamo memasang ekspresi canggung sembari memungut kantong sampah yang terjatuh dan mengangkatnya, memberikan isyarat bahwa ia tidak berniat mengintip. Mereka bukanlah orang yang tidak tahu bahwa Minamo tidak memiliki niat buruk dari ekspresinya.

Di tengah udara yang terasa canggung, tawa kering Minamo yang berbunyi ahaha bergema.

"...Aku tidak akan menyerah."

"Senpai Takakura!"

"...Ah."

Meninggalkan kata-kata itu, siswi kelas dua──Senpai Takakura membalikkan badan dan pergi.

Minamo juga tahu tentang reputasi perempuan itu dari rumor.

Sebagai anggota klub drama, seorang nona dari keluarga terpandang, dan juara bertahan kontes kecantikan tahun lalu, sosoknya bahkan saat berjalan pergi pun tetap terlihat anggun.

Meskipun ia merasa berada di tempat yang salah, ia tetap terpesona melihatnya. Pantas saja ia adalah orang terkenal di tingkat kelas dua.

Namun, selain begitu tergila-gila pada Kazuteru, terlihat pula bahwa hubungan mereka bukanlah hubungan biasa.

Jika diingat kembali, ia pernah melihat perempuan itu menyatakan cinta kepada Kazuteru sebanyak dua kali sebelumnya.

Kemungkinan besar ada keadaan yang sangat rumit di antara mereka berdua.

Mungkin kecanggungan itu terpampang jelas di wajah Minamo, karena Kazuteru lantas memberikan satu senyuman pahit untuk mencairkan suasana. Ia berbalik menghadap Minamo.

"Ahaha, aku memperlihatkan pemandangan yang aneh, ya. Um, aku akan senang sekali kalau kamu bisa melupakan kejadian tadi? ...Kalau begitu."

Ucap Kazuteru sambil melambaikan tangan ringan, berniat meninggalkan tempat itu.

"A- anu, tunggu sebentar...!"

"Eh!? U- um...?"

Namun Minamo secara refleks justru menahan Kazuteru.

Kazuteru terkejut, begitu pula dengan Minamo, di mana ujung kalimatnya diwarnai sepenuhnya oleh kebingungan.

Pada dasarnya, Minamo tidak memiliki titik temu secara langsung dengan Kazuteru. Paling-paling hanya sebatas topik pembicaraan Haruki atau Hayato, paling jauh ia adalah teman dari seorang teman.

Terlebih lagi, Minamo sudah sering melihat adegan Kazuteru menolak para gadis di tempat ini. Itu bukanlah hal yang langka. Meskipun begitu, alasan ia menahannya khusus pada hari ini adalah...

"Kaiki-san saat ini, memasang ekspresi menyakitkan yang sama seperti Haruki-san dan Hayato-san...!"

Itu adalah ekspresi yang berusaha menahan sesuatu di dalam hati dengan putus asa, sama seperti mereka.

Entah mengapa, Minamo tidak bisa mengabaikannya.

Terutama karena ia baru saja selesai menelepon Haruki tadi.

Kazuteru tertegun, matanya terbuka lebar. Kemudian ia menengadah ke langit dan menghela napas panjang.

"Gawat juga, itu adalah kalimat pembunuh paling ampuh untukku saat ini."

Kazuteru menyerah sambil mengangkat kedua tangannya ringan seraya bergumam demikian.

 

Beberapa waktu setelah kejadian itu.

Minamo dibawa oleh Kazuteru menuju ke sebuah kafe tertentu.

"Tempat ini..."

Bangunan toko bernuansa tradisional Jepang, dengan seragam pelayan yang khas berupa rok Yabane-hakama yang lalu-lalang.

Tempat ini sering menjadi topik perbincangan hangat di kelas Minamo, yaitu toko manisan Jepang Shiro.

Tentu saja Minamo juga sering melihat betapa populernya tempat itu ketika ia pergi menjenguk kakeknya.

Namun, meskipun hari libur, karena ini adalah hari biasa dan sudah lewat jam puncak makan siang, beberapa kursi yang kosong terlihat di sana-sini.

"Mengobrol sambil berdiri juga tidak baik, kurasa tempat yang bisa membuat kita tenang adalah pilihan yang tepat... Um, karena aku sudah membuatmu berjalan cukup jauh, bagian ini aku yang bayar ya."

"T- tidak, kalau soal itu, tidak usah repot-repot..."

"Haha, tidak apa-apa, tidak apa-apa."

"U- anu..."

Minamo dengan terburu-buru mengejar punggung Kazuteru yang melangkah masuk ke dalam toko dengan terbiasa.

Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam toko tersebut. Bukan berarti ia tidak tertarik.

Bagi Minamo yang cenderung tertutup, masuk ke dalam ruang kafe bernuansa modis sendirian adalah rintangan yang cukup tinggi.

Ia melirik Kazuteru sekilas.

Pria tampan menyegarkan yang berbadan tinggi semampai, yang sepanjang perjalanan menarik perhatian para wanita yang berpapasan dengannya. Faktanya, saat ini pun ia mengumpulkan tatapan penuh ketertarikan dari dalam kafe. Berdiri di sampingnya membuat rasa gugup semakin sulit dihindari.

"Selamat da──eh, Kazuteru!? Apalagi membawa anak perempuan!?"

"Halo, Iori-kun. Mengenai dia ini, yah, ada sedikit urusan."

"Eh, ah, anu, mohon bantuannya."

"Jangan menunduk begitu, pelanggan!"

Mereka disambut dengan suara terkejut begitu melewati tirai noren.

Seorang pelayan berambut cerah yang tampak akrab dengan Kazuteru──Iori.

Namun Minamo tidak memiliki hubungan apa pun dengan Iori. Ia hanya bisa memahami dari interaksi di hadapannya bahwa mereka adalah sahabat dekat.

Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?

Saat Minamo merasa kebingungan dalam situasi ini, Iori yang kebetulan melihat wajah Kazuteru tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar, memasang ekspresi serius, lalu menggaruk kepalanya dengan gestur menyerah.

"Ah, soalnya... di sudut bagian dalam sana, kalau di situ bisa disembunyikan dari pandangan orang."

"Terima kasih banyak, Iori-kun, terima kasih."

"Sama-sama, nanti jelaskan alasannya padaku, ya?"

"Selama batas yang bisa diceritakan, ya."

Ia kemudian mengantarkan mereka ke tempat yang sulit dilihat dari pintu masuk toko. Berjarak dari pelanggan lain, sehingga suara percakapan mereka tidak akan terdengar. Ini adalah kursi yang paling pas untuk membicarakan hal-hal yang rumit.

Begitu melepas sepatu loafer dan duduk di kursi, Kazuteru menyerahkan buku menu kepadanya.

"Wah!"

Hal yang menyambut pandangannya adalah aneka manisan bergaya Jepang yang penuh warna.

Mulai dari kingyogyokyu berupa ikan mas yang berenang di dalam akuasarium, daifuku buah musim panas seperti semangka dan mangga, hingga Rakugan yang meniru bentuk bunga musim seperti bunga hortensia.

Minamo memancarkan binar di matanya melihat keindahan dan kemewahan tersebut.

Beberapa saat kemudian, kerutan muncul di antara kedua alisnya.

Pilihan menunya terlalu banyak hingga ia merasa bingung harus memilih yang mana.

"Parfait Matcha Kuzukiri sepertinya direkomendasikan."

"Feh?"

"Sensasi lembut saat menelan kuzukiri berpadu dengan kesegarannya, serta kepahitan dan kemanisan matcha yang terasa sangat bernuansa musim panas dan enak, begitu pernah diceritakan padaku."

"Ah, ya, kalau begitu aku pesan itu saja."

"Permisi, Parfait Matcha Kuzukiri dua porsi──"

Begitu Kazuteru menawarkan rekomendasi seolah memberikan ban penyelamat, Minamo langsung menyetujuinya karena ia memang sedang kebingungan.

Sambil Kazuteru memesan, Minamo kembali mengedarkan pandangannya ke dalam ruangan toko.

Tiang dan balok hitam berbalut cat Urushi, dinding putih yang kontras dengannya menciptakan suasana tenang, dan seragam bergaya modern Jepang dengan rok Yabane-hakama yang berlalu-lalang di ruangan itu.

Begitu ya, wajar saja tempat ini menjadi bahan pembicaraan. Ia bahkan berpikir ingin mencoba mengenakan seragam itu sesekali.

Bersamaan dengan pemikiran tersebut, Minamo menarik-narik ujung rambut depannya.

Apakah aku baik-baik saja? Apakah penampilanku tidak aneh?

Minamo yang biasanya jauh dari kata modis merasa bersyukur karena menata rambutnya dengan gaya ini hari ini, di sisi lain ia tidak bisa menahan diri untuk membandingkan penampilannya dengan pelanggan lain yang tampak berkilau.

"Ngomong-ngomong, gaya rambutmu berbeda dari biasanya, ya."

"Eh!? A- anu, apa ini... terlihat aneh?"

"Tidak sama sekali! Sangat cocok dan manis."

"! Auuu..."

Ketika Kazuteru memuji gaya rambutnya dengan senyuman ramah yang memikat hati, dalam sekejap wajah Minamo merona merah karena rasa malu, membuat bahunya menciut kecil.

Ia tidak sanggup menatap wajah Kazuteru secara langsung, jemarinya meremas-remas lututnya dengan gelisah.

Namun, ia sudah dipuji dengan tulus. Ia harus mengucapkan terima kasih──saat ia memberanikan diri mendongak dengan perasaan takut-takut, pandangannya bertemu dengan Kazuteru yang memasang ekspresi seolah berkata "aku baru saja membuat kesalahan".

"Ah, itu, maaf... Kuharap kamu mendengarkannya tanpa merasa terganggu, tapi maksudku memuji tadi bukan berarti berniat menggoda atau semacamnya, hanya saja aku mengatakannya karena memang merasa begitu, eh, anu..."

"Feh!? U- anu, aku tidak biasa dipuji seperti itu, jadi aku terkejut sekaligus merasa malu..."

"B- begitu, kalau begitu baguslah! Haha!"

"A- ahaha..."

Kazuteru dan Minamo terlibat dalam percakapan canggung yang sama sekali tidak nyambung. Keduanya menampilkan senyuman kaku.

"Um, aku sebenarnya selalu berhati-hati, tapi entah kenapa tergantung orangnya, cara penerimaannya bisa berbeda, atau kadang malah memberikan harapan yang keliru..."

"Jangan-jangan, Senpai Takakura tadi juga...?"

"...Ah, soalnya dia itu, punya banyak hal rumit sejak masa SMP."

Kazuteru mengerutkan keningnya dengan ekspresi pahit karena repot.

Bagi Minamo, pemandangan itu sekilas tumpang tindih dengan ekspresi mencela diri sendiri yang kadang-kadang ditunjukkan oleh Haruki.

Meski begitu, ia tidak tahu harus berkata apa. Faktanya, hari ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan benar bersama Kazuteru.

Suasana hening yang misterius tercipta.

Namun kesunyian itu langsung buyar oleh suara ceria yang dibalut rasa jenuh.

"Wajah apa yang kalian pasang itu, Kazuteru?"

"!? T- Iori-kun."

"Um, itu...………… Waaah!"

"Silakan, Parfait Matcha Kuzukiri, menunggu lama."

Minamo menatap Parfait Matcha Kuzukiri yang disajikan di hadapannya, menggenggam kedua tangan di depan dada sambil memancarkan binar di matanya.

Kuzukiri, Shiratama, dan Anko yang ditumpuk berlapis-lapis, dipermanis dengan es krim matcha serta wijen hitam dan krim segar, menciptakan kontras warna hijau, putih, dan hitam yang cerah, menyuguhkan nuansa sejuk musim panas.

Pantas saja hidangan ini direkomendasikan.

Iori tersenyum pahit lalu segera kembali ke bagian dalam toko. Sepertinya ia sama sekali tidak berniat mencuri dengar.

Apakah sudah boleh dimakan? Sambil memikirkan hal itu, Minamo melirik wajah Kazuteru sekilas, dan mendapati Kazuteru tersenyum ramah seolah mempersilakan sambil mengangkat sendok parfait bertangkai panjang.

"Selamat makan... Mnnn!?"

Sensasi pertama yang dirasakan di dalam mulutnya adalah tingkat dingin yang pas.

Rasa panas dari tubuhnya yang gerah mereda, lalu rasa pahit manis matcha yang menyegarkan menyebar di rongga mulut. Tekstur kuzukiri yang kenyal dan licin juga sangat menggugah selera.

"Enak sekali~!"

"Iya, kan? Ini juga enak. Fufu, pantas saja dia begitu antusias menceritakan rasanya."

Ucap Kazuteru sambil mengembangkan senyuman di pipinya, seolah sedang mengenang sesuatu.

Sepertinya ia sedang mengingat kembali saat-saat dirinya direkomendasikan menu ini.

Orang yang merekomendasikannya itu pastilah seseorang yang sangat spesial, membuat orang yang melihatnya pun ikut tersenyum tipis karena tersihir oleh senyuman hangatnya. Senyuman itu mirip seperti ekspresi Haruki saat membicarakan tentang Hayato.

"Ah, jangan-jangan orang yang merekomendasikan ini adalah seseorang yang spesial bagi Kaidou-san?"

"Ngh!? Kehokh, keh-keh-keh, mnn!"

"A- apa kamu tidak apa-apa!?"

Begitu Minamo melontarkan kata-kata sesuai apa yang ia rasakan, Kazuteru tersedak hebat. Ia batuk-batuk berkali-kali hingga air mata menggenang di sudut matanya, dan wajahnya memerah.

Minamo menjadi panik menghadapi reaksi tak terduga dari Kazuteru tersebut.

Ia merasa telah salah paham lagi, membuat rambut belakangnya melompat-lompat gelisah.

Kehokh... Huft, sudah tidak apa-apa. Um, aku terkejut karena tiba-tiba ditanya begitu... Memang benar kami memiliki hubungan yang agak spesial, dan kurasa dia adalah anak yang baik, tapi kami bukan berada di posisi seperti itu..."

"E? Begitukah?"

"......Ya."

Meskipun Kazuteru tersenyum saat mengatakannya, namun ada bayangan suram yang sedikit terbesit di wajahnya. Rasanya mustahil untuk menerima ucapannya secara mentah-mentah.

Ketika Minamo memasang ekspresi cemas dan bingung, Kazuteru meletakkan satu tangan di dahinya dan mendesah pelan. Ia menggelengkan kepalanya pelan ke kiri dan kanan, lalu kembali menatap Minamo.

"Aku sendiri, tidak begitu mengerti tentang berpacaran dengan seseorang atau jatuh cinta. Lagipula, kurasa aku tidak punya kualifikasi untuk terlibat dengan siapa pun."

"Kaidou-san...?"

"...Pernahkah kamu mendengar rumor tentangku?"

"Um, itu, aku hanya tahu kalau kamu sangat populer..."

"...Waktu SMP dulu, aku pernah berkencan dengan tiga orang sekaligus."

"......Eh?"

Wajah Minamo berubah muram karena rasa jijik.

Bayangan yang tiba-tiba melintas di benaknya adalah rumah kakeknya yang sepi seorang diri, serta wajah sang ayah yang tidak pernah menampakkan diri di rumah.

Melihat ekspresi Minamo yang begitu terpukul, kini giliran Kazuteru yang menjadi pihak yang kebingungan setengah mati.

"R- rumor tetaplah rumor! Maksudku, situasinya memang memaksa seolah-olah aku dianggap berselingkuh dengan tiga orang, tapi aku sama sekali tidak berniat melakukan hal semacam itu, dan justru meminta bantuan mereka agar bisa putus, tapi malah terlihat seolah-olah aku membagi cinta pada tiga orang, padahal faktanya aku tidak pernah berselingkuh atau semacamnya!"

"E, ah, iya! M- maafkan aku, aku salah paham dan..."

"A, ahaha... Ah, tapi benar juga ya, meskipun aku mengatakannya sendiri, yah. Aku memang pria yang buruk."

Kazuteru merangkkai kata-kata pembelaan dengan putus asa, tampak sangat serius hingga terlihat lucu. Sikap itu mengingatkan Minamo pada temannya, Haruki.

"...Kusut."

"Mitake-san...?"

Minamo tidak tahu masa lalu seperti apa yang ia miliki.

Namun, meskipun Kazuteru terlihat sempurna tanpa cela, pada kenyataannya ia sama canggungnya dengan Haruki, dan sangat terlihat bahwa ia hanyalah seorang pria yang sangat kaku dan jujur.

Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa membencinya, sehingga tawa tanpa sadar lolos dari bibirnya.

"Fufu, maafkan aku. Tapi, kelihatannya kamu sangat berbeda dari para gadis yang digosipkan itu, dan hubungan kalian kelihatannya juga baik."

"Entahlah... Waktu dia merekomendasikan tempat ini, dia hanyalah salah satu dari sekumpulan orang banyak, dan um, kurasa dia tidak membenciku, tapi..."

Kazuteru menunjukkan ekspresi yang sedikit cemas.

Minamo kembali mengerjap-nerjap matanya keheranan.

Tanpa perlu dikatakan lagi, Kazuteru memang sangat populer. Begitu berbicara dengannya seperti ini, pesona dari penampilan dan perilakunya serta perhatiannya kepada orang lain sangat terasa, wajar jika para siswi di kelas histeris. Faktanya, ia sendiri sering menyaksikan adegan penolakan terhadap siswi lain.

Itulah sebabnya, fakta bahwa pria seperti dia mengkhawatirkan reaksi dari seseorang tertentu terasa begitu mengejutkan.

Rupanya, orang itu adalah sosok yang benar-benar istimewa baginya.

"Kamu menyukainya, ya?"

"Su...!"

Kazuteru kehabisan kata-kata.

Namun sesaat kemudian, ia meletakkan tangan di dadanya dan melontarkan kata-kata dengan nada pahit.

"...Bahkan sebelum aku menyukainya atau semacamnya, anak itu punya orang lain yang disukainya."

"Feh?"

"Meskipun orangnya sendiri berusaha melupakannya dengan menganggap 'dulu pernah ada orang yang disukai' sebagai masa lalu, tapi, dia adalah anak yang sangat baik, dan sebagai pihak ketiga aku justru punya perasaan yang kuat untuk ingin mendukungnya..."

"Mendukung, ya..."

"Mirip seperti mendoakan kebahagiaan seorang idola atau oshiko, mungkin."

"Fufu, kalau dikatakan begitu, aku jadi sedikit bisa memahaminya."

Minamo teringat saat dirinya bertemu dengan Haruki yang basah kuyup di taman pada malam hari.

Seorang gadis yang canggung, menceritakan rahasianya, dan menjadi temannya.

Anak itu pasti adalah sosok yang memiliki arti serupa bagi Kazuteru.

Sambil mereka berbicara seperti itu, tak terasa mangkuk parfait telah kosong.

"Yah, Senpai Takakura itu juga, tapi sebelumnya aku pernah membuat berbagai kesalahan terkait masalah percintaan... Makanya untuk sementara waktu, kurasa hal semacam itu tidak usah dulu."

"Kesalahan, ya."

"Ya, kesalahan. Perasaan orang lain jadi tidak bisa kupahami dengan baik... Lagipula──"

Bersamaan dengan bunyi dentingan sendok yang memukul gelas kaca, Kazuteru menyuarakan isi hatinya.

"Daripada cinta atau pacar, aku lebih menginginkan ikatan dengan seseorang, atau sesuatu yang pasti seperti seorang teman."

"Teman..."

Senyuman yang terukir di wajah Kazuteru saat mengatakan itu adalah ekspresi penuh damba yang begitu menyilaukan dan menyayat hati.

Namun, itu adalah wajah yang sangat indah.

Ikatan──kata itu juga menusuk dada Minamo.

Saat Minamo kehilangan kata-kata, Kazuteru kembali memasang senyuman ramahnya yang biasa, lalu bangkit berdiri.

"Nah, sepertinya aku terlalu lama mengobrol, ya? Um, ini sebagian besar isinya mirip keluhan, tapi terima kasih sudah mau mendengarkan."

"T- tidak, anu, aku kan hanya mendengarkan... Ah, kalau tidak keberatan, nanti aku bisa jadi tempat cerita lagi!"

Tanpa sadar Minamo mengucapkan kata-kata itu secara spontan.

Kazuteru tertegun sejenak, mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tersenyum mengangguk seolah ada sesuatu yang mencerahkan pemahamannya.

"Ah, begitu ya. Sifat Mitake-san yang seperti itu mirip sekali dengan Hayato-kun. Makanya aku jadi tanpa sadar banyak bicara, ya?"

"Feh!?"

"Haha, kalau begitu nanti kalau ada apa-apa aku akan numpang mengeluh lagi, ya. Kalau begitu!"

"...Ah!"

Begitu mengucapkan itu, Kazuteru memanfaatkan kelengahan Minamo yang sedang membeku karena terkejut untuk mengambil nota, menyelesaikan pembayaran, lalu melangkah keluar meninggalkan toko.

Minamo yang tertinggal hanya bisa tertegun beberapa saat sambil membuat rambut belakangnya melompat-lompat kecil kebingungan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close