Interlude
2
Aku
Ingin──
Berbeda dengan di desa, semut bernyanyi di kota
justru mencengkeram dinding luar bangunan alih-alih pepohonan hutan, berbunyi
kencang sejak pagi hari.
Di kawasan perumahan tempat para semut bernyanyi itu,
tepatnya di salah satu sudut rumah tradisional Jepang yang tampak kuno, berdiri
sebuah area cuci tangan.
Minamo memasang ekspresi serius di depan cermin,
berjuang setengah mati sembari memegang sikat dan karet gelang rambut.
"Uuuu, apa ini terlihat aneh..."
Gumamannya lolos, dibalut dengan warna kecemasan.
Sosok yang terpantul di cermin adalah dirinya sendiri
dengan rambut ikal melingkar yang ditata setengah dikuncir.
Kesucian dan kesan dewasa berdampingan, menonjolkan
daya tariknya.
Gaya rambut ini biasanya ditata oleh Mayumi, ibu
Hayato.
Belakangan ini, ia juga diajari oleh Haruki dan
berlatih agar bisa melakukannya sendiri.
Rambut yang dikuncir di bagian belakang berayun-ayun
gelisah.
"B- sebentar lagi aku harus pergi."
Ucapnya seraya berganti pakaian seragam lalu keluar
rumah.
Begitu melangkah keluar, sebuah suara sapaan penuh
semangat berbunyi "Wuf!" dari halaman rumah sebelah.
Ketika ia mengalihkan pandangan, Renton si collie
berbulu kasar berlari mendekat ke pagar sambil mengibaskan ekornya.
"Renton, selamat pagi. Hari ini panas sekali,
ya~"
"Wuf! Wuf-wuf, waf!"
"Ara, Minamo-chan, selamat pagi... Wah, wah, wah,
wah! Hari ini gaya rambutmu manis sekali!"
"Amami-san, selamat pagi! Um, apa ini terlihat
aneh?"
"Tidak, sama sekali tidak! Ufufu, sangat cocok
untukmu. Mau ke sekolah sekarang?"
"Ya, ada kegiatan klub."
"Ara, ara, ara, kegiatan klub! Masa muda sekali...
Fufu, hati-hati di jalan."
"Baik!"
Menerima ucapan dari sang tetangga yang menunjukkan
senyuman sangat indah, Minamo berjalan menyusuri jalan sekolah menuju kebun
bunga sekolah.
Kira-kira, perawatan seperti apa yang kubutuhkan hari
ini?
Meskipun memikirkan hal itu, karena gaya rambutnya
berbeda dari biasanya, ia sedikit mengkhawatirkan pandangan orang sekitar dan
merasa gelisah. Langkah kakinya jadi tanpa sadar berjalan lebih cepat.
Begitu melewati gerbang sekolah, sorak-sorai penuh
semangat terdengar dari lapangan.
Meskipun sedang libur musim panas, ada banyak siswa
selain Minamo yang mengunjungi sekolah untuk kegiatan klub dan sebagainya.
"Baiklah!"
Setibanya di kebun bunga, Minamo mengepalkan tangan di
depan dadanya erat-erat dan menyemangati dirinya sendiri.
Berbagai sayuran musim panas sedang berada di puncak masa
panen pada periode ini. Mereka selalu mearangkan banyak bunga.
Selain itu, jika lengah, tempat ini akan langsung
dipenuhi rumput liar, sehingga perawatan teliti tidak boleh dilewatkan.
Ditambah lagi, kabarnya badai juga sedang mendekat.
Persiapan untuk menghadapi hal itu juga diperlukan.
Sekilas dilihat, sepertinya tidak ada hasil panen untuk
hari ini. Sebagai gantinya, ia melakukan perawatan seperti memangkas dahan dan
daun sayuran musim panas yang tumbuh subur karena vitalitas tinggi, serta
mencabuti rumput liar.
Melihat kondisi kebun bunga yang penampilannya
berangsur-angsur menjadi semakin rapi, ia tersenyum tipis karena merasa hal itu
mirip dengan merawat rambutnya sendiri.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya secara menyeluruh, ia
menghembuskan napas lega dan menyeka keringat di dahinya dengan punggung
tangan.
Tepat pada saat itu, ponselnya tiba-tiba berdering
menandakan panggilan masuk.
"Ara? ...Halo, Haruki-san?"
"Yahoー,
sudah lama tidak jumpa Minamo-chan, sekarang lagi apa? Baik-baik saja? Eh,
jangan-jangan di luar? Sibuk ya?"
Itu dari Haruki. Suaranya diwarnai oleh kegembiraan
dengan tingkat semangat yang luar biasa tinggi.
Minamo tersenyum pahit, bertanya-tanya apakah ada hal
baik yang terjadi, lalu menghentikan pekerjaannya dan berpindah ke tempat yang
teduh.
"Aku baru saja selesai merawat sayuran di kebun
bunga. Sisanya untuk persiapan menghadapi badai... tapi, apakah ada sesuatu
terjadi?"
"Iya, iya, begini, dengar ya, ini luar biasa! Kelahiran!
Domba! Dari kemarin siang terus-menerus! Di luar musim jadi repot sekali,
semuanya panik, sampai harus begadang!"
"Wah!"
"Tidak ada persiapan apa-apa, persalinannya sulit,
dan harus pergi memanggil dokter hewan jauh-jauh. Bukan cuma Kakek Gen saja,
tapi semua orang sekampung jadi ikut heboh! Dan baru saja semuanya akhirnya
selesai!"
Rupanya dari siang kemarin hingga sekarang, Haruki terus
mendampingi kelahiran domba tersebut.
Bagi Haruki pun, ini tampaknya menjadi kejadian yang tak
terduga dan tak terlupakan.
Masih dalam balutan saiasana antusias yang belum mereda,
ia menceritakan situasi saat itu dengan penuh semangat, 'Aku mengumpulkan
jerami banyak sekali!', 'Kami menariknya dari perut induk domba dengan tali
seperti sedang tarik tambang!', 'Di Tsukinose, ini baru kelahiran domba yang
ketiga kalinya!'.
Bayangan Haruki yang sedang berbicara sambil menggunakan
gestur tubuh di seberang telepon terlintas di benak Minamo, membuat wajahnya
ikut tersenyum hangat. Rupanya peristiwa itu telah berkembang menjadi acara
besar yang melibatkan seluruh desa Tsukinose.
"Semuanya bekerja dengan sangat keras. Hayato-san
diminta tolong melakukan berbagai hal, Saki-chan menjadi pilar utama untuk
urusan bantuan di balik layar... tapi, aku benar-benar panik... meski begitu,
saat momen mereka lahir itu benar-benar luar biasa. Bersamaan dengan fajar,
wah, semuanya mengangkat tangan dan bersorak gembira, sampai-sampai aku
meneteskan air mata."
"Begitu ya. Kamu turut menyaksikan detik-detik
kelahiran suatu nyawa."
Itu pastilah hal yang jauh lebih berat dari yang Haruki
ceritakan, dan merupakan sesuatu yang penuh keajaiban.
Minamo menyipitkan mata, merenungkan hal itu sambil
memandangkan bunga-bunga sayuran musim panas yang mekar dengan indah di kebun.
Jika mengenang kembali rasa terharu saat buah pertama
tumbuh, ia sangat memahami perasaan Haruki yang ingin menceritakannya kepada
seseorang. Berbagi perasaan itu dengannya meninggalkan kesan mendalam di lubuk
hatinya.
"Ya, meskipun lahir karena salah perhitungan
sepertinya halnya diriku, tapi semua orang tetap merasa gembira..."
"Haruki-san...?"
Tiba-tiba Haruki bergumam pelan. Nada suaranya terasa
sangat hampa, tanpa warna emosi yang bisa terbaca. Tidak,
rasanya lebih seperti sesuatu yang sedang ditekan mati-matian.
Minamo menahan napas mendengar kata-kata yang
terlontar itu. Dadanya terasa sesak.
Ia tahu tentang keadaan keluarga Haruki.
Oleh karena itu, sebagai seorang teman, ia ingin
mengatakan sesuatu.
Namun kata-kata itu tidak kunjung ditemukan.
Meskipun kepalanya berputar sia-sia, ia berusaha keras
memeras pikirannya.
"K- Kakekku akan segera keluar dari rumah sakit
lho!"
"Eh?"
"Ibu Hayato-san juga, dalam waktu dekat ini,
um...!"
"...Aha! Ya, begitulah. Begitu ya. .........Terima
kasih ya, Minamo-chan."
"Haruki-san..."
"Fuaah~f, hu. Aku
juga jadi sangat mengantuk. Maaf ya, nanti aku hubungi lagi."
"Ah..."
Sambungan telepon terputus tanpa menunggu jawaban Minamo.
Jelas sekali bahwa Haruki sedang berusaha menjaga perasaan orang lain.
Haa, sebuah desahan dengan nada suara yang menyedihkan
lolos dari bibirnya.
Saat ia mendongak ke langit, matahari yang tadinya berada
tepat di atas kepala tertutup oleh awan kapas, menjatuhkan bayangan ke tanah.
Bersamaan dengan itu, lonceng pertanda waktu siang
berbunyi.
"Nah, aku harus membereskannya."
Minamo yang mengumpulkan tekadnya kembali segera
membungkus dahan pangkas serta rumput liar ke dalam kantong sampah, lalu
melangkahkan kakinya menuju tempat pembuangan.
Di balik gedung sekolah, tempat pembuangan sampah itu
bahkan pada hari biasa jarang dikunjungi oleh para siswa. Terlebih lagi
sekarang adalah libur musim panas, sehingga suasananya semakin sepi.
Oleh karena itu, ia sama sekali tidak menyangka akan ada
seseorang di sana.
"Kenapa bisa begini!?"
"Itu, aku sebenarnya punya seseorang yang kucintai
di tempat lain..."
"Itu bohong! Berbeda dari rumor yang beredar, aku
tahu betul apa yang sebenarnya Kazuteru-kun rasakan terhadap
Nikaidou-san!"
Orang-orang yang ada di sana adalah sepasang pria dan
wanita yang tampak sedang berdebat sengit seperti pasangan yang sedang
bertengkar.
Tempat ini juga terkenal sebagai spot pengakuan cinta
yang populer. Minamo pernah melihat pemandangan serupa beberapa kali dan sudah
cukup terbiasa. Terutama dalam kasus di mana si pria bernama Kazuteru.
Biasanya ia akan menahan napas dan memilih lewat
begitu saja, namun ia terkejut oleh penyebutan nama Nikaidou yang jelas-jelas
merujuk pada Haruki, membuat bahunya terlonjak kaget dan menjatuhkan kantong
sampah di kakinya dengan suara gedebuk. Tentu saja, mereka berdua juga
menyadari kehadiran Minamo.
"S-Siapa!?"
"...Kamu sepertinya anggota klub berkebun yang sama
dengan Hayato-kun."
"A- anu itu, a-aku hanya membuang sampah..."
Minamo memasang ekspresi canggung sembari memungut
kantong sampah yang terjatuh dan mengangkatnya, memberikan isyarat bahwa ia
tidak berniat mengintip. Mereka bukanlah orang yang tidak tahu bahwa Minamo
tidak memiliki niat buruk dari ekspresinya.
Di tengah udara yang terasa canggung, tawa kering
Minamo yang berbunyi ahaha bergema.
"...Aku tidak akan menyerah."
"Senpai Takakura!"
"...Ah."
Meninggalkan kata-kata itu, siswi kelas dua──Senpai
Takakura membalikkan badan dan pergi.
Minamo juga tahu tentang reputasi perempuan itu dari
rumor.
Sebagai anggota klub drama, seorang nona dari keluarga
terpandang, dan juara bertahan kontes kecantikan tahun lalu, sosoknya bahkan
saat berjalan pergi pun tetap terlihat anggun.
Meskipun ia merasa berada di tempat yang salah, ia tetap
terpesona melihatnya. Pantas saja ia adalah orang terkenal di tingkat kelas
dua.
Namun, selain begitu tergila-gila pada Kazuteru, terlihat
pula bahwa hubungan mereka bukanlah hubungan biasa.
Jika diingat kembali, ia pernah melihat perempuan itu
menyatakan cinta kepada Kazuteru sebanyak dua kali sebelumnya.
Kemungkinan besar ada keadaan yang sangat rumit di antara
mereka berdua.
Mungkin kecanggungan itu terpampang jelas di wajah
Minamo, karena Kazuteru lantas memberikan satu senyuman pahit untuk mencairkan
suasana. Ia berbalik menghadap Minamo.
"Ahaha, aku memperlihatkan pemandangan yang aneh,
ya. Um, aku akan senang sekali kalau kamu bisa melupakan kejadian tadi? ...Kalau begitu."
Ucap Kazuteru sambil melambaikan tangan ringan,
berniat meninggalkan tempat itu.
"A- anu, tunggu sebentar...!"
"Eh!? U- um...?"
Namun Minamo secara refleks justru menahan Kazuteru.
Kazuteru terkejut, begitu pula dengan Minamo, di mana
ujung kalimatnya diwarnai sepenuhnya oleh kebingungan.
Pada dasarnya, Minamo tidak memiliki titik temu secara
langsung dengan Kazuteru. Paling-paling hanya sebatas topik pembicaraan Haruki
atau Hayato, paling jauh ia adalah teman dari seorang teman.
Terlebih lagi, Minamo sudah sering melihat adegan
Kazuteru menolak para gadis di tempat ini. Itu bukanlah hal yang langka.
Meskipun begitu, alasan ia menahannya khusus pada hari ini adalah...
"Kaiki-san saat ini, memasang ekspresi menyakitkan
yang sama seperti Haruki-san dan Hayato-san...!"
Itu adalah ekspresi yang berusaha menahan sesuatu di
dalam hati dengan putus asa, sama seperti mereka.
Entah mengapa, Minamo tidak bisa mengabaikannya.
Terutama karena ia baru saja selesai menelepon Haruki
tadi.
Kazuteru tertegun, matanya terbuka lebar. Kemudian ia
menengadah ke langit dan menghela napas panjang.
"Gawat juga, itu adalah kalimat pembunuh paling
ampuh untukku saat ini."
Kazuteru menyerah sambil mengangkat kedua tangannya
ringan seraya bergumam demikian.
Beberapa waktu setelah kejadian itu.
Minamo dibawa oleh Kazuteru menuju ke sebuah kafe
tertentu.
"Tempat ini..."
Bangunan toko bernuansa tradisional Jepang, dengan
seragam pelayan yang khas berupa rok Yabane-hakama yang lalu-lalang.
Tempat ini sering menjadi topik perbincangan hangat di
kelas Minamo, yaitu toko manisan Jepang Shiro.
Tentu saja Minamo juga sering melihat betapa populernya
tempat itu ketika ia pergi menjenguk kakeknya.
Namun, meskipun hari libur, karena ini adalah hari biasa
dan sudah lewat jam puncak makan siang, beberapa kursi yang kosong terlihat di
sana-sini.
"Mengobrol sambil berdiri juga tidak baik, kurasa
tempat yang bisa membuat kita tenang adalah pilihan yang tepat... Um, karena
aku sudah membuatmu berjalan cukup jauh, bagian ini aku yang bayar ya."
"T- tidak, kalau soal itu, tidak usah
repot-repot..."
"Haha, tidak apa-apa, tidak apa-apa."
"U- anu..."
Minamo dengan terburu-buru mengejar punggung Kazuteru
yang melangkah masuk ke dalam toko dengan terbiasa.
Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam toko
tersebut. Bukan berarti ia tidak tertarik.
Bagi Minamo yang cenderung tertutup, masuk ke dalam
ruang kafe bernuansa modis sendirian adalah rintangan yang cukup tinggi.
Ia melirik Kazuteru sekilas.
Pria tampan menyegarkan yang berbadan tinggi
semampai, yang sepanjang perjalanan menarik perhatian para wanita yang
berpapasan dengannya. Faktanya, saat ini pun ia mengumpulkan tatapan penuh
ketertarikan dari dalam kafe. Berdiri di sampingnya membuat rasa gugup semakin
sulit dihindari.
"Selamat da──eh, Kazuteru!? Apalagi membawa anak
perempuan!?"
"Halo, Iori-kun. Mengenai dia ini, yah, ada sedikit
urusan."
"Eh, ah, anu, mohon bantuannya."
"Jangan menunduk begitu, pelanggan!"
Mereka disambut dengan suara terkejut begitu melewati
tirai noren.
Seorang pelayan berambut cerah yang tampak akrab dengan
Kazuteru──Iori.
Namun Minamo tidak memiliki hubungan apa pun dengan Iori.
Ia hanya bisa memahami dari interaksi di hadapannya bahwa mereka adalah sahabat
dekat.
Lalu, apa yang harus kulakukan sekarang?
Saat Minamo merasa kebingungan dalam situasi ini, Iori
yang kebetulan melihat wajah Kazuteru tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar,
memasang ekspresi serius, lalu menggaruk kepalanya dengan gestur menyerah.
"Ah, soalnya... di sudut bagian dalam sana, kalau di
situ bisa disembunyikan dari pandangan orang."
"Terima kasih banyak, Iori-kun, terima kasih."
"Sama-sama, nanti jelaskan alasannya padaku,
ya?"
"Selama batas yang bisa diceritakan, ya."
Ia kemudian mengantarkan mereka ke tempat yang sulit
dilihat dari pintu masuk toko. Berjarak dari pelanggan lain, sehingga suara
percakapan mereka tidak akan terdengar. Ini adalah kursi yang paling pas untuk
membicarakan hal-hal yang rumit.
Begitu melepas sepatu loafer dan duduk di kursi, Kazuteru
menyerahkan buku menu kepadanya.
"Wah!"
Hal yang menyambut pandangannya adalah aneka manisan
bergaya Jepang yang penuh warna.
Mulai dari kingyogyokyu berupa ikan mas yang berenang di
dalam akuasarium, daifuku buah musim panas seperti semangka dan mangga, hingga Rakugan
yang meniru bentuk bunga musim seperti bunga hortensia.
Minamo memancarkan binar di matanya melihat keindahan dan
kemewahan tersebut.
Beberapa saat kemudian, kerutan muncul di antara kedua
alisnya.
Pilihan menunya terlalu banyak hingga ia merasa bingung
harus memilih yang mana.
"Parfait Matcha Kuzukiri sepertinya
direkomendasikan."
"Feh?"
"Sensasi lembut saat menelan kuzukiri berpadu dengan
kesegarannya, serta kepahitan dan kemanisan matcha yang terasa sangat bernuansa
musim panas dan enak, begitu pernah diceritakan padaku."
"Ah, ya, kalau begitu aku pesan itu saja."
"Permisi, Parfait Matcha Kuzukiri dua porsi──"
Begitu Kazuteru menawarkan rekomendasi seolah memberikan
ban penyelamat, Minamo langsung menyetujuinya karena ia memang sedang
kebingungan.
Sambil Kazuteru memesan, Minamo kembali mengedarkan
pandangannya ke dalam ruangan toko.
Tiang dan balok hitam berbalut cat Urushi, dinding
putih yang kontras dengannya menciptakan suasana tenang, dan seragam bergaya
modern Jepang dengan rok Yabane-hakama yang berlalu-lalang di ruangan
itu.
Begitu ya, wajar saja tempat ini menjadi bahan
pembicaraan. Ia bahkan berpikir ingin mencoba mengenakan seragam itu sesekali.
Bersamaan dengan pemikiran tersebut, Minamo menarik-narik
ujung rambut depannya.
Apakah aku baik-baik saja? Apakah penampilanku tidak
aneh?
Minamo yang biasanya jauh dari kata modis merasa
bersyukur karena menata rambutnya dengan gaya ini hari ini, di sisi lain ia
tidak bisa menahan diri untuk membandingkan penampilannya dengan pelanggan lain
yang tampak berkilau.
"Ngomong-ngomong, gaya rambutmu berbeda dari
biasanya, ya."
"Eh!? A- anu, apa ini... terlihat aneh?"
"Tidak sama sekali! Sangat cocok dan manis."
"! Auuu..."
Ketika Kazuteru memuji gaya rambutnya dengan senyuman
ramah yang memikat hati, dalam sekejap wajah Minamo merona merah karena rasa
malu, membuat bahunya menciut kecil.
Ia tidak sanggup menatap wajah Kazuteru secara langsung,
jemarinya meremas-remas lututnya dengan gelisah.
Namun, ia sudah dipuji dengan tulus. Ia harus mengucapkan
terima kasih──saat ia memberanikan diri mendongak dengan perasaan takut-takut,
pandangannya bertemu dengan Kazuteru yang memasang ekspresi seolah berkata
"aku baru saja membuat kesalahan".
"Ah, itu, maaf... Kuharap kamu mendengarkannya tanpa
merasa terganggu, tapi maksudku memuji tadi bukan berarti berniat menggoda atau
semacamnya, hanya saja aku mengatakannya karena memang merasa begitu, eh,
anu..."
"Feh!? U- anu, aku tidak biasa dipuji seperti itu,
jadi aku terkejut sekaligus merasa malu..."
"B- begitu, kalau begitu baguslah! Haha!"
"A- ahaha..."
Kazuteru dan Minamo terlibat dalam percakapan
canggung yang sama sekali tidak nyambung. Keduanya menampilkan senyuman kaku.
"Um, aku sebenarnya selalu berhati-hati, tapi
entah kenapa tergantung orangnya, cara penerimaannya bisa berbeda, atau kadang
malah memberikan harapan yang keliru..."
"Jangan-jangan, Senpai Takakura tadi juga...?"
"...Ah, soalnya dia itu, punya banyak hal rumit
sejak masa SMP."
Kazuteru mengerutkan keningnya dengan ekspresi pahit
karena repot.
Bagi Minamo, pemandangan itu sekilas tumpang tindih
dengan ekspresi mencela diri sendiri yang kadang-kadang ditunjukkan oleh
Haruki.
Meski begitu, ia tidak tahu harus berkata apa.
Faktanya, hari ini adalah pertama kalinya ia berbicara dengan benar bersama
Kazuteru.
Suasana hening yang misterius tercipta.
Namun kesunyian itu langsung buyar oleh suara ceria
yang dibalut rasa jenuh.
"Wajah apa yang kalian pasang itu, Kazuteru?"
"!? T- Iori-kun."
"Um, itu...………… Waaah!"
"Silakan, Parfait Matcha Kuzukiri, menunggu
lama."
Minamo menatap Parfait Matcha Kuzukiri yang disajikan di
hadapannya, menggenggam kedua tangan di depan dada sambil memancarkan binar di
matanya.
Kuzukiri, Shiratama, dan Anko yang ditumpuk
berlapis-lapis, dipermanis dengan es krim matcha serta wijen hitam dan krim
segar, menciptakan kontras warna hijau, putih, dan hitam yang cerah,
menyuguhkan nuansa sejuk musim panas.
Pantas saja hidangan ini direkomendasikan.
Iori tersenyum pahit lalu segera kembali ke bagian
dalam toko. Sepertinya ia sama sekali tidak berniat mencuri dengar.
Apakah sudah boleh dimakan? Sambil memikirkan hal
itu, Minamo melirik wajah Kazuteru sekilas, dan mendapati Kazuteru tersenyum
ramah seolah mempersilakan sambil mengangkat sendok parfait bertangkai panjang.
"Selamat makan... Mnnn!?"
Sensasi pertama yang dirasakan di dalam mulutnya
adalah tingkat dingin yang pas.
Rasa panas dari tubuhnya yang gerah mereda, lalu rasa
pahit manis matcha yang menyegarkan menyebar di rongga mulut. Tekstur kuzukiri
yang kenyal dan licin juga sangat menggugah selera.
"Enak sekali~!"
"Iya, kan? Ini juga enak. Fufu,
pantas saja dia begitu antusias menceritakan rasanya."
Ucap Kazuteru sambil mengembangkan senyuman di
pipinya, seolah sedang mengenang sesuatu.
Sepertinya ia sedang mengingat kembali saat-saat
dirinya direkomendasikan menu ini.
Orang yang merekomendasikannya itu pastilah seseorang
yang sangat spesial, membuat orang yang melihatnya pun ikut tersenyum tipis
karena tersihir oleh senyuman hangatnya. Senyuman itu mirip seperti ekspresi
Haruki saat membicarakan tentang Hayato.
"Ah, jangan-jangan orang yang merekomendasikan
ini adalah seseorang yang spesial bagi Kaidou-san?"
"Ngh!? Kehokh, keh-keh-keh, mnn!"
"A- apa kamu tidak apa-apa!?"
Begitu Minamo melontarkan kata-kata sesuai apa yang ia
rasakan, Kazuteru tersedak hebat. Ia batuk-batuk berkali-kali hingga air mata
menggenang di sudut matanya, dan wajahnya memerah.
Minamo menjadi panik menghadapi reaksi tak terduga dari
Kazuteru tersebut.
Ia merasa telah salah paham lagi, membuat rambut
belakangnya melompat-lompat gelisah.
Kehokh... Huft, sudah tidak apa-apa. Um, aku terkejut
karena tiba-tiba ditanya begitu... Memang benar kami memiliki hubungan yang
agak spesial, dan kurasa dia adalah anak yang baik, tapi kami bukan berada di
posisi seperti itu..."
"E? Begitukah?"
"......Ya."
Meskipun Kazuteru tersenyum saat mengatakannya, namun ada
bayangan suram yang sedikit terbesit di wajahnya. Rasanya mustahil untuk
menerima ucapannya secara mentah-mentah.
Ketika Minamo memasang ekspresi cemas dan bingung,
Kazuteru meletakkan satu tangan di dahinya dan mendesah pelan. Ia menggelengkan
kepalanya pelan ke kiri dan kanan, lalu kembali menatap Minamo.
"Aku sendiri, tidak begitu mengerti tentang
berpacaran dengan seseorang atau jatuh cinta. Lagipula, kurasa aku tidak punya
kualifikasi untuk terlibat dengan siapa pun."
"Kaidou-san...?"
"...Pernahkah kamu mendengar rumor
tentangku?"
"Um, itu, aku hanya tahu kalau kamu sangat
populer..."
"...Waktu SMP dulu, aku pernah berkencan dengan
tiga orang sekaligus."
"......Eh?"
Wajah Minamo berubah muram karena rasa jijik.
Bayangan yang tiba-tiba melintas di benaknya adalah
rumah kakeknya yang sepi seorang diri, serta wajah sang ayah yang tidak pernah
menampakkan diri di rumah.
Melihat ekspresi Minamo yang begitu terpukul, kini
giliran Kazuteru yang menjadi pihak yang kebingungan setengah mati.
"R- rumor tetaplah rumor! Maksudku, situasinya
memang memaksa seolah-olah aku dianggap berselingkuh dengan tiga orang, tapi
aku sama sekali tidak berniat melakukan hal semacam itu, dan justru meminta
bantuan mereka agar bisa putus, tapi malah terlihat seolah-olah aku membagi
cinta pada tiga orang, padahal faktanya aku tidak pernah berselingkuh atau
semacamnya…!"
"E, ah, iya! M- maafkan aku, aku salah paham
dan..."
"A, ahaha... Ah, tapi benar juga ya, meskipun aku
mengatakannya sendiri, yah. Aku memang pria yang buruk."
Kazuteru merangkkai kata-kata pembelaan dengan putus asa,
tampak sangat serius hingga terlihat lucu. Sikap itu mengingatkan Minamo pada
temannya, Haruki.
"...Kusut."
"Mitake-san...?"
Minamo tidak tahu masa lalu seperti apa yang ia miliki.
Namun, meskipun Kazuteru terlihat sempurna tanpa cela,
pada kenyataannya ia sama canggungnya dengan Haruki, dan sangat terlihat bahwa
ia hanyalah seorang pria yang sangat kaku dan jujur.
Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa membencinya,
sehingga tawa tanpa sadar lolos dari bibirnya.
"Fufu, maafkan aku. Tapi, kelihatannya kamu sangat
berbeda dari para gadis yang digosipkan itu, dan hubungan kalian kelihatannya
juga baik."
"Entahlah... Waktu dia merekomendasikan tempat ini,
dia hanyalah salah satu dari sekumpulan orang banyak, dan um, kurasa dia tidak
membenciku, tapi..."
Kazuteru menunjukkan ekspresi yang sedikit cemas.
Minamo kembali mengerjap-nerjap matanya keheranan.
Tanpa perlu dikatakan lagi, Kazuteru memang sangat
populer. Begitu berbicara dengannya seperti ini, pesona dari penampilan dan
perilakunya serta perhatiannya kepada orang lain sangat terasa, wajar jika para
siswi di kelas histeris. Faktanya, ia sendiri sering menyaksikan adegan
penolakan terhadap siswi lain.
Itulah sebabnya, fakta bahwa pria seperti dia
mengkhawatirkan reaksi dari seseorang tertentu terasa begitu mengejutkan.
Rupanya, orang itu adalah sosok yang benar-benar istimewa
baginya.
"Kamu menyukainya, ya?"
"Su...!"
Kazuteru kehabisan kata-kata.
Namun sesaat kemudian, ia meletakkan tangan di dadanya
dan melontarkan kata-kata dengan nada pahit.
"...Bahkan sebelum aku menyukainya atau semacamnya,
anak itu punya orang lain yang disukainya."
"Feh?"
"Meskipun orangnya sendiri berusaha melupakannya
dengan menganggap 'dulu pernah ada orang yang disukai' sebagai masa lalu, tapi,
dia adalah anak yang sangat baik, dan sebagai pihak ketiga aku justru punya
perasaan yang kuat untuk ingin mendukungnya..."
"Mendukung, ya..."
"Mirip seperti mendoakan kebahagiaan seorang idola
atau oshiko, mungkin."
"Fufu, kalau dikatakan begitu, aku jadi sedikit bisa
memahaminya."
Minamo teringat saat dirinya bertemu dengan Haruki yang
basah kuyup di taman pada malam hari.
Seorang gadis yang canggung, menceritakan rahasianya, dan
menjadi temannya.
Anak itu pasti adalah sosok yang memiliki arti serupa
bagi Kazuteru.
Sambil mereka berbicara seperti itu, tak terasa mangkuk
parfait telah kosong.
"Yah, Senpai Takakura itu juga, tapi sebelumnya aku
pernah membuat berbagai kesalahan terkait masalah percintaan... Makanya untuk
sementara waktu, kurasa hal semacam itu tidak usah dulu."
"Kesalahan, ya."
"Ya, kesalahan. Perasaan orang lain jadi tidak bisa
kupahami dengan baik... Lagipula──"
Bersamaan dengan bunyi dentingan sendok yang memukul
gelas kaca, Kazuteru menyuarakan isi hatinya.
"Daripada cinta atau pacar, aku lebih menginginkan
ikatan dengan seseorang, atau sesuatu yang pasti seperti seorang teman."
"Teman..."
Senyuman yang terukir di wajah Kazuteru saat mengatakan
itu adalah ekspresi penuh damba yang begitu menyilaukan dan menyayat hati.
Namun, itu adalah wajah yang sangat indah.
Ikatan──kata itu juga menusuk dada Minamo.
Saat Minamo kehilangan kata-kata, Kazuteru kembali
memasang senyuman ramahnya yang biasa, lalu bangkit berdiri.
"Nah, sepertinya aku terlalu lama mengobrol, ya? Um,
ini sebagian besar isinya mirip keluhan, tapi terima kasih sudah mau
mendengarkan."
"T- tidak, anu, aku kan hanya mendengarkan... Ah,
kalau tidak keberatan, nanti aku bisa jadi tempat cerita lagi!"
Tanpa sadar Minamo mengucapkan kata-kata itu secara
spontan.
Kazuteru tertegun sejenak, mengerjap-ngerjapkan matanya,
lalu tersenyum mengangguk seolah ada sesuatu yang mencerahkan pemahamannya.
"Ah, begitu ya. Sifat Mitake-san yang seperti itu
mirip sekali dengan Hayato-kun. Makanya aku jadi tanpa sadar banyak bicara,
ya?"
"Feh!?"
"Haha, kalau begitu nanti kalau ada apa-apa aku akan
numpang mengeluh lagi, ya. Kalau begitu!"
"...Ah!"
Begitu mengucapkan itu, Kazuteru memanfaatkan kelengahan
Minamo yang sedang membeku karena terkejut untuk mengambil nota, menyelesaikan
pembayaran, lalu melangkah keluar meninggalkan toko.
Minamo yang tertinggal hanya bisa tertegun beberapa saat
sambil membuat rambut belakangnya melompat-lompat kecil kebingungan.



Post a Comment