Chapter 1
Kata-kata yang
Melekat di Dalam Kepala
Hayato
terkadang masih memimpikan momen saat pertama kalinya ia bertemu dengan Haruki.
Matahari
bersinar terik, membakar permukaan kulit.
Paduan
suara jangkrik yang memekakkan telinga, disusul udara panas mengepul dari atas
tanah.
Bunga-bunga
matahari bermekaran di mana-mana, bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi,
menyanyikan musim panas dengan begitu bersemangat hingga rasanya hampir
menyesakkan.
Ia ingat
betul saat itu adalah hari yang sangat panas.
"Diam,
tenanglah, pergi sana."
Kalimat
paling tua dari Haruki yang terkubur begitu dalam di dalam ingatannya.
Ekspresi
suram, seolah menyerah pada keadaan, mata keruh yang menolak kehadiran orang
lain, tubuh yang memancarkan rasa tidak puas namun dalam diam memohon untuk
diperhatikan sembari memeluk kedua lututnya di luar sana.
Pemandangan
itu benar-benar mengusik ketenangannya.
Maka Hayato
pun dengan paksa menarik Haruki untuk ikut dengannya.
Melihat
wajah terkejut gadis itu, ia tersenyum miring penuh kepuasan.
Ia sudah
lupa apa yang dikatakan Haruki setelah kejadian itu.
Namun ia
ingat betul bahwa momen tersebut adalah awal dari segalanya.
Mereka
mungkin sering bertengkar. Gadis itu mungkin melontarkan berbagai macam omelan.
Namun di
tengah pegunungan, mereka berlomba memetik stroberi liar, membandingkan ukuran
udang karang yang tertangkap di sungai, memamerkan pedang mainan dari kayu
sisa, lalu saling membenturkannya satu sama lain.
Itulah
sebabnya kenangan Hayato bersama Haruki selalu dipenuhi oleh senyuman.
Hayato
menatap ke bawah pada diri mereka di masa kecil yang bermain dengan begitu
gembira, seolah-olah ia sedang melihatnya dari kejauhan.
(Tapi,
Haruki…)
Ya, Hayato
sangat sadar kalau ini hanyalah sebuah mimpi.
Dua anak
kecil yang bermain dan tertawa dalam pemandangan pedesaan seharusnya terasa
begitu menghangatkan hati.
Seharusnya
memang begitu.
"Aku
ini, tahu kan, anak haram dari Takura Mao."
Tiba-tiba,
ia teringat kembali kalimat yang diakui Haruki padanya. Jantungnya mulai
berdegup kencang dengan liar.
Di
hadapannya berdiri Haruki, tertawa polos tanpa beban.
Bayangan
itu bertumpuk dengan ekspresi suram yang sesekali ditunjukkan gadis itu di masa
lalu.
(Ah,
sialan!)
Pasti,
bahkan sejak masa itu pun, Haruki sudah sangat memahami situasinya sendiri.
Ia merasa
begitu bodoh karena bisa berlarian ke sana kemari tanpa beban, sama sekali
tidak menyadari apa pun.
Tapi.
Sekalipun begitu.
"Aku
ingin menjadi cukup kuat agar bisa menjadi seseorang yang benar-benar istimewa
untukmu, Hayato."
Rahasia itu
tidak dibagikan atas dasar keinginan untuk dikasihani.
Suara gadis
itu pada hari itu, saat mendeklarasikannya padanya, kembali melintas terang di
dalam kepalanya.
Tanpa
kegelapan, tanpa bayangan, yang ada hanyalah sebuah tekad bulat yang jernih,
tegas, dan indah.
Mengingatnya
membuat jantungnya kembali berdegup kencang, hingga ia tidak kuasa untuk
meneriakkan nama gadis itu.
"—Haruki!"
"M-Mya!?"
"…Hah?"
Terperanjat
bangun dari tidurnya, Hayato mengeluarkan suara kebingungan saat suara itu
mencapai indra pendengarannya.
Matanya
yang masih mengantuk menangkap sosok Haruki yang entah kenapa sedang memegang
seragam sekolah miliknya.
Hal itu
sama sekali tidak masuk akal.
Haruki
berpakaian rapi seperti biasa, namun wajahnya membeku bagaikan anak kecil yang
tertangkap basah sedang berbuat usil, sementara matanya bergerak liar ke sana
kemari.
Masih
terbuai sisa-sisa mimpi, tatapan Hayato perlahan berubah menjadi datar tanpa
ekspresi.
Suara yang
meluncur dari mulutnya terdengar ketus dan merendah.
"…Apa
yang sedang kamu lakukan?"
"B-Belum
ngapa-ngapain kok!?"
"Kenapa
pegang seragamku?"
"T-Tidak,
maksudku, pelembut kainnya wangi banget, dan deterjennya bersih banget,
kan!?"
"Haruki…?"
"Ahh!
Aku mau pergi membangunkan Hime-chan!"
"Hei,
tunggu!"
Mengucapkan
kalimat itu, Haruki menyumpalkan seragam tersebut ke dada Hayato lalu bergegas
kabur keluar kamar dengan panik.
(Ya ampun,
Haruki… Ah benar juga, aku kan memberinya kunci cadangan, ya?)
Melihat
punggung yang familier itu berlari menjauh, Hayato merasakan gelombang kelegaan
mendalam bercampur rasa geli yang konyol, lalu terkekeh pelan pada dirinya
sendiri.
Rasanya
sungguh aneh.
"Kyaah!
K-Kenapa Haru-chan ada di sini!?"
"Wahahahaha!"
Dari kamar
sebelah, terdengar suara riang antara Haruki dan Himeko.
Kemeja
seragam yang disodorkan padanya tadi memiliki sedikit kerutan akibat genggaman
erat Haruki.
Aroma manis
samar, berbeda dari aroma miliknya sendiri, menggelitik indra penciumannya,
membuat jantungnya berdegup kencang. Sama seperti kemeja itu, dahi Hayato ikut
berkerut dalam garis-garis lipatan.
Mengabaikan
suara berisik Haruki dan Himeko, Hayato mulai beranjak menyiapkan sarapan.
Waktu pagi
hari sangatlah berharga.
Memang
waktu yang biasa, namun bukan berarti ia punya banyak kelonggaran.
Menu utama
pagi ini adalah telur orak-arik.
Ia
mencampurkan keju krim potong dadu serta cincangan sisa herba seperti ketumbar
ke dalam adonan telur, membumbuinya dengan garam, lada, serta susu, lalu
mengaduknya menggunakan spatula kayu di atas api sedang-kecil hingga bertekstur
creamy.
Ia
menyiramnya dengan saus cabai manis buatan sendiri, yang dibuat dengan cara
memanaskan cuka, gula, mirin, doubanjiang, bawang putih, serta larutan tepung
maizena di dalam microwave.
Itu adalah
hidangan yang langsung membangkitkan selera makan bahkan di pagi hari musim
panas yang terik.
Disajikan
dengan salad potong, roti panggang, dan minuman sesuai selera, sarapan itu
tampak sama lezatnya seperti rasanya.
Bahkan
Haruki tampak terpaku, matanya mengerjap cepat melihat hidangan itu tersaji
dalam waktu singkat.
"Ada
apa, Haruki? Nggak mau makan?"
"Hah?
T-Tidak, aku makan kok! Itadakimasu!"
"Onii,
ambilkan aku susu, susu!"
"Iya,
iya. Haruki, kopi saja kan?"
"Ya,
dengan banyak susu… Eh, Hime-chan cuma minum susu?"
"Aku
kan masih dalam masa pertumbuhan… Aku setidaknya harus mencapai tinggi
rata-rata, kalau tidak nanti—Eh, kok Haru-chan! Ada apa denganmu pagi
ini!?"
Himeko,
seolah baru menyadarinya, memelototi Haruki lalu berganti menatap Hayato dengan
ekspresi kesal.
Wajahnya
menunjukkan sedikit kerutan cemberut, dan melihat Haruki buru-buru mengalihkan
pandangan, sepertinya ia telah dibangunkan dengan cara yang aneh. Himeko
menggosok lehernya sambil gelisah.
Itu adalah
pertanyaan yang sulit dijawab oleh Hayato.
Penyusupan
mendadak Haruki juga di luar dugaan baginya.
Melirik ke
arah Haruki, mata mereka saling bertatapan dengan kikuk, lalu keduanya kompak
tersenyum getir.
Situasi ini
memang sedikit di luar kewajaran.
Namun
melihat ekspresi bersalah Haruki, sepertinya gadis itu hanya ingin memberikan
kejutan atau hal sepele semacam itu. Bagi Haruki, tindakan ini mungkin hanyalah
bentuk lanjutan dari kebiasaan usilnya.
Menyadari
bahwa gadis itu merasa cukup nyaman untuk bertindak santai hingga mau bersandar
padanya membuat sudut bibir Hayato melunak.
"Aku
memberikan kunci cadangan ke Haruki. Berbeda dengan Tsukinose, kita kan tidak
boleh meninggalkan pintu tidak terkunci, iya kan?"
"Oh,
iya benar juga. Pantas saja. Aku masih belum terbiasa dan terkadang lupa
mengunci pintu."
"Cih,
dan kamu malah santai saja… Haha…"
Kebiasaan
keamanan di Tsukinose sangatlah khas pedesaan, terlalu longgar hingga
kelewatan. Mereka biasanya hanya mengunci pintu saat pergi dalam perjalanan
jauh.
Lagi pula,
orang-orang di sana tidak pernah menekan bel pintu—mereka hanya akan langsung
membuka pintu sambil meneriaki pemilik rumah.
"Yah,
meskipun begitu… nyam."
Himeko,
menelan gigitan terakhir roti panggangnya dengan susu, menghela napas panjang
lalu menatap Hayato dan Haruki dengan tatapan datar sambil mengangkat bahunya.
"Duh,
Onii dan Haru-chan dari dulu memang selalu dekat banget ya."
"Bukan
begitu maksudnya!"
"…Tuh
kan lihat?"
"…"
Himeko,
yang merasa jengkel, menghela napas dramatis lalu berdiri, seolah ia sudah
menyerah menghadapi mereka berdua.
"Terima
kasih atas makanannya."
Udara yang
tertinggal di ruangan itu terasa begitu kaku.
Hayato
melirik Haruki dengan tatapan menegur, sementara gadis itu menunjukkan ekspresi
bersalah sambil menjulurkan lidah merah mudanya namun tetap mengeluarkan suara
riang.
"Haha,
aku cuma mau mencoba adegan klise seperti membangunkan teman masa kecil ala
manga atau anime."
"…Lain
kali, lakukan itu padaku saja."
"Nanti
Hime-chan ngambek lho, kan?"
"Ya,
benar juga sih."
Ucapan yang
sama sekali tidak merasa bersalah dan senyuman tanpa beban itu membuat jantung
Hayato berdegup kencang karena alasan yang berbeda dari mimpinya tadi.
Menjejalkan
makanan dan kopi ke dalam mulutnya seperti yang dilakukan Himeko, Hayato
merasakan sesuatu yang tertinggal, bagaikan ampas yang meluap keluar.
"…Itu
curang."
"Hm?
Kamu bilang sesuatu?"
"Ah,
bukan apa-apa."
Melihat
sahabat masa kecilnya itu melahap telur orak-arik dengan gembira, Hayato
menutupinya dengan senyuman getir.
Usai
sarapan, Hayato buru-buru bersiap lalu meninggalkan apartemen bersama Haruki
dan Himeko.
Langit
bagian timur bersih tanpa awan, matahari musim panas menunjukkan eksistensinya
dengan berani sejak pagi, memicu keringat seketika. Panas yang lembap melekat
pada tubuh, memperberat suasana hati dan langkah kaki mereka.
Namun
energi Haruki dan Himeko tetap tinggi, tidak gentar sedikit pun menghadapi
teriknya musim panas.
"Oh
ya, omong-omong, dietku berhasil! Berat badanku turun lima kilo dari rekor
tertingginya!"
"Mana
bisa begitu, curang banget Haru-chan! Aku baru turun tiga kilo, padahal kita
makan makanan yang sama, grrr… Oh, kalau kamu gimana, Onii?"
"Entah
lah. Aku kan tidak sedang diet, jadi aku bahkan tidak menimbang berat
badan."
Rupanya,
kesuksesan diet mereka turut mendongkrak mood kedua gadis itu.
Himeko
sedikit tidak puas dengan hasil pencapaiannya, namun baik ia maupun Haruki
berada dalam kisaran ±1 kg dari berat badan asal mereka, dan Hayato sama sekali
tidak melihat perbedaan secara visual. Responsnya pun keluar setengah hati.
Namun
bahkan Hayato pun tersenyum tipis.
(Kalau
dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita berangkat sekolah bertiga bersama.)
Melihat
adik perempuan dan sahabat masa kecilnya mengobrol seru tentang perjuangan diet
mereka, ia memikirkan hal itu.
Berjalan
bersama bukanlah hal yang langka, namun mengenakan seragam sekolah dan
mengobrol santai di pagi buta terasa sedikit istimewa.
"Jadi,
mumpung dietnya sudah selesai, aku mau makan sesuatu yang manis, tahu! Tapi
tentu saja, aku akan tetap hati-hati biar tidak naik lagi."
"Aku
mau bas-chee! Basque cheesecake! Onii, buatkan yang versi rendah
gula ya!"
"Kenapa
jadi aku yang harus membuatnya?"
"Ya
karena kamu kan Hayato."
"Karena
kamu Onii."
"Benar
kan?"
"Haa…"
Bagaimanapun
juga, mood Haruki yang bagus adalah hal yang baik bagi Hayato. Terutama
setelah ia mengetahui rahasia besar gadis itu. Sudut matanya melembut secara
alami.
Namun ada
satu masalah lain.
Mungkin
karena euforia kesuksesan dietnya, energi gadis itu terlalu berlebihan hari
ini.
"Hei,
aku lewat jalur sini ya. Sampai nanti!"
"Jangan
sampai ketiduran di kelas."
"Sampai
jumpa nanti, Hime-chan!"
Bahkan
setelah berpisah dengan Himeko di jalan utama, energi Haruki tidak surut, terus
mengobrol dengan Hayato menggunakan nada akrab seperti biasanya.
"Hei,
di rumahmu ada peralatan buat bikin kue, kan? Kita bisa beli bahan-bahannya di
supermarket, atau kita harus ke toko khusus?"
"Haruki,
itu tidak masalah tapi, eh, kamu tahu kan…?"
Hayato,
yang sebenarnya senang mendengar obrolan antusias itu, memotongnya dan
memberikan isyarat mata agar gadis itu melihat sekeliling.
Sekolah
sudah semakin dekat, dan para siswa yang mengenakan seragam yang sama dengan
Hayato dan Haruki mulai bermunculan.
Dan mereka
semua menatap ke arah mereka, seolah baru saja melihat sesuatu yang langka atau
luar biasa seperti tsuchinoko.
"Oh…"
Haruki,
seolah baru menyadarinya, mengerutkan kening lalu mencuri pandang ke arah
ekspresi wajah Hayato.
Nikaidou
Haruki adalah seorang gadis populer.
Hal itu
sangat mudah dilupakan ketika mereka sedang berdua saja, namun gadis itu
sebenarnya adalah sosok yang anggun dan memesona, unggul dalam akademik maupun
olahraga, bersikap lembut dan sopan pada semua orang namun selalu menyapa
dengan senyuman anggun dari jarak tertentu—sebuah bunga di puncak yang tinggi.
Itulah citra palsu, topeng penyamaran, yang diproyeksikan oleh Haruki.
Bagaimana
mungkin jika gadis itu menunjukkan senyuman yang belum pernah dilihat siapa pun
kepada seorang anak laki-laki (Hayato) sambil mengajaknya mengobrol akrab?
Terlebih
lagi pagi ini, rambut Hayato tidak ditata rapi seperti versi modis yang sempat
diurus oleh Himeko. Rambut berantakan bedhead-nya berdiri tegak.
Situasi ini
mustahil luput dari perhatian. Beberapa orang bahkan sudah mulai berbisik-bisik
menyebarkan gosip.
Tidak
terbiasa menjadi pusat perhatian dengan tatapan penasaran seperti itu, Hayato
menghela napas pasrah.
Namun ia
ragu untuk menegur Haruki, mengingat gadis itu sedang berusaha untuk berubah.
"Dengar,
kalau terlalu akrab dalam waktu singkat nanti bisa menimbulkan masalah, tahu,
Nikaidou-san?"
"…Ya,
kamu benar."
Haruki
bergumam lesu, menundukkan pandangannya lalu melangkah mundur menjaga jarak.
Hati Hayato
terasa tertusuk melihat reaksi itu, namun tidak ada hal lain yang bisa ia
perbuat.
Menggaruk
tengkuknya kasar, ia melambaikan tangan santai seolah berkata "sampai
jumpa" lalu mempercepat langkah meninggalkan area tersebut.
Melihat
punggung pemuda itu menjauh, Haruki bergumam pelan.
"Kamu
benar. Aku harus menaklukkan benteng luar terlebih dahulu."
Ekspresinya
tampak serius, namun menyunggingkan senyuman penuh tantangan, seolah sedang
merencanakan sesuatu.
Jam
istirahat siang pun tiba.
Suasana
kelas langsung berdengung ramai saat para siswa bergerak bebas ke sana kemari.
Biasanya
Hayato akan langsung menuju ke markas rahasia mereka, namun hari ini ia merasa
bingung harus berbuat apa.
Alasannya
tentu saja karena Haruki.
Belakangan
ini, topeng kucing gadis itu mulai sering terlepas, dan ia secara tidak wajar
menjadi sangat akrab dengan para siswi lain.
Ketika
Haruki yang tampak melamun dan sesekali menghela napas sarat kemelaman didekati
dengan pertanyaan seperti, "Ada apa, Nikaidou-san?" atau "Kalau
ada masalah, kamu bisa cerita ke kita," hal itu murni gabungan antara rasa
peduli dan rasa penasaran. Di pusat kerumunan itu tampak Isami Ema, pacar
sekaligus teman masa kecil Mori.
"Tidak
apa-apa kok, bukan apa-apa."
Namun
jawaban Haruki hanyalah senyuman mengelak dengan wajah yang tampak gelisah.
Bagi orang
luar, ia tampak seperti gadis yang sedang mabuk kepayang karena cinta, namun
Hayato yang mengamati dari profil sampingnya hanya merasakan firasat buruk.
Ia melirik
ke arah gadis itu sekali lagi.
Bahkan saat
ini pun, tanpa sadar Haruki sedang memutar-mutar ujung rambut panjangnya sambil
menghela napas hangat.
Sesekali ia
mencuri pandang ke arah Hayato, dan saat mata mereka bertemu, gadis itu akan
memberikan senyuman canggung.
Beberapa
siswi bermata tajam menyadari gelagat itu dan langsung berkerumun
berbisik-bisik di sudut kelas.
(Apa yang
harus kulakukan…)
Hayato
menghela napas ragu, hendak melangkah ketika Mori tiba-tiba mendekatinya dengan
senyuman santai.
"Yo,
Kirishima, jarang-jarang nih kulihat kayak gini. Belum tahu mau makan siang
apa?"
"Mori…
Ya, aku tidak bawa bento hari ini, jadi masih mikir-mikir. Kalau ke koperasi
sekolah pasti sudah keburu antre, kantin juga sepertinya penuh."
Itu adalah
isyarat tidak langsung bagi Haruki bahwa ia akan pergi belakangan karena harus
mengurus makan siangnya lebih dulu.
Mori, yang
dengan tajam menangkap lirikan mata Hayato ke arah Haruki, menyipitkan matanya
penuh minat.
"Omong-omong,
kudengar tadi pagi kamu jalan bareng Nikaidou dengan akrab banget ya?"
"!?!
Eh, bukan, itu, anu…"
Hayato
langsung merasakan beban tatapan seluruh isi kelas seketika tertuju padanya.
Insiden
pagi tadi sudah mulai menjadi bahan gosip kecil.
Terlebih
lagi dengan sikap Haruki yang blak-blakan, bagaimana mungkin hal itu tidak
menarik perhatian?
Terutama
karena banyak yang melihatnya menarik paksa Haruki hari itu saat insiden
pernyataan cinta Kazuki.
Otaknya
berputar panik mencari alasan. Jika ia tidak mengatakan sesuatu yang masuk
akal, rentetan pertanyaan tidak akan berhenti, bukan hanya dari Mori saja.
Matanya
berpapasan dengan Haruki yang mengerutkan kening cemas, membuat Hayato
menggaruk kepalanya sambil menghela napas.
"Yah,
sebenarnya sih…"
"Sebenarnya
apa?"
"Aku
tadi sedang mengajarinya trik mencegah makanan anjing dicuri oleh rusa liar di
pedesaan."
"Hah?
Anjing? Makanan dicuri… sama rusa…?"
"Pfft!
Uhuk, uhuk, uhuk… Heh… Hahaha…"
Haruki
meledakkan tawa mendengar alasan ngawur Hayato, menelungkupkan wajahnya di atas
meja dengan bahu yang bergetar hebat berusaha menahan tawa. Sepertinya ia geli
sendiri mendengar cerita itu.
Suasana
kelas mendadak jatuh dalam keheningan total.
Namun
melihat reaksi Haruki yang tampak natural, mereka perlahan mulai
mempercayainya.
"Oh,
jadi begitu rupanya. Wah, repot juga ya."
"Iya,
rusa kan hewan dilindungi jadi tidak bisa asal diusir. Lagian mereka itu pintar
dan ramah, tidak pernah merusak ladang, tapi sasarannya malah makanan
anjing."
Cerita
Hayato berhasil memancing ketertarikan mereka ke arah yang sama sekali berbeda.
Membagikan
kisah lucu dari Tsukinose yang sering menjadi bahan tertawaan lokal berhasil
mengalihkan fokus mereka. Haruki di sebelah sana masih mati-matian menahan
tawanya.
(…Berhasil
lolos?)
Saat Hayato
menghela napas lega dalam hati, sesosok wajah yang familier mendekat.
"Kelihatannya
obrolan yang seru nih, Hayato-kun."
"Kazuki…
Ini cuma obrolan trivia soal pedesaan kok, bukan hal penting."
"Justru
hal-hal begitu yang seru. Iya kan, Nikaidou-san?"
"Mph!"
Kazuki
datang dengan senyuman ramah khasnya, berdiri tepat di samping meja Hayato.
Haruki
langsung mengangkat kepalanya, memasang sikap pasang badan.
Perhatian
seisi kelas kembali terkonsentrasi ke arah mereka.
"Aku
tidak merasa begitu… Ngomong-ngomong, ada perlu apa, Kaidou-kun?"
"Memangnya
tidak boleh kalau aku cuma mau menemui Nikaidou-san?"
"Aku
tidak punya hal untuk dibicarakan denganmu, jadi tolong pergi sana."
"Sayang
sekali, ditolak lagi. Gimana nih, Hayato-kun?"
"…Entahlah."
Haruki
menolak Kazuki dengan senyuman sopan namun dingin, sementara pemuda itu balas
menyengir kecut penuh kekecewaan.
Lalu,
seolah tidak enak badan, Kazuki menepuk pundak Hayato akrab.
Hayato
menerimanya secara natural. Pipi Haruki tampak berkedut kesal.
Jarak
kedekatan antara Hayato dan Kazuki kini terlihat jauh lebih dekat dibanding
sebelumnya.
Mori, yang
menangkap perubahan dinamika itu, berbicara dengan mata berbinar penasaran.
"'Hayato-kun'
dan 'Kazuki', ya… Sejak kapan kalian berdua jadi akrab begini?"
"Haha,
baru-baru ini saja. Waktu kami main bareng, dia menyelamatkanku dari situasi
pelik, ya kan?"
"Wah,
yang bener? Jadi nggak bisa ngebayangin."
"Dia
tadi cukup keren sih."
"…Aku
tidak melakukan hal spesial apa-apa, dan itu bukan masalah besar."
Hayato
menjawab dengan tatapan masam, namun Kazuki justru tersenyum lebar, menunjukkan
rasa nyaman yang jelas. Terlihat sekali pemuda itu sudah sangat menyukai
Hayato. Jika Kazuki adalah seekor anjing, ekornya pasti sudah bergoyang-goyang
riang.
Beberapa
siswi menjerit tertahan, mencium aroma vibe bromance yang kental.
Namun tidak
semua orang menyukai pemandangan itu.
"Kaidou,
terlalu akrab cuma karena kalian sempat dekat sebisa mungkin jangan sampai
merepotkan Hayato-kun, tahu? Ya kan?"
"Eh…
Nikaidou… san…?"
Haruki,
dengan senyuman yang dipaksakan di wajahnya, menyelak di antara Hayato dan
Kazuki. Gerakannya sangat mulus tanpa cela.
Tatapan
mata mereka saling beradu—senyuman mengintimidasi milik Haruki dan senyuman
usil milik Kazuki.
Tekanan
atmosfer yang diciptakan oleh keduanya sukses menyelimuti seisi ruangan kelas.
"Memangnya
separah itu ya? Bukannya ini kedekatan yang normal antar teman?"
"Menurutku
harus ada batasannya juga. Coba lihat, Hayato-kun sampai kaget begitu. Iya
kan?"
"Hah?
Uh, tidak juga sih, aku biasa aja…"
"Haha,
kalau Nikaidou-san mau lebih akrab, mungkin sebaiknya bersikap lebih
jujur—"
"Kaidou!"
"—Aw!"
Tiba-benar
Haruki, dengan bibir cemberut, menendang tulang kering Kazuki dengan cukup
keras.
Gadis itu
bertingkah laku bagaikan anak kecil yang sedang ngambek. Seisi kelas melongo
tak percaya.
Namun
seringai di wajah Kazuki justru semakin lebar.
Haruki,
yang semakin kesal melihat reaksi itu, mengerucutkan bibirnya lalu memalingkan
wajah.
Menangkap
tatapan itu, Hayato menepuk keningnya yang berdenyut pusing, lalu menghela
napas pasrah.
"Kazuki,
kamu ini memang idiot… Dan Nikaidou—"
"Haruki."
"Nikai…"
"Ha-ru-ki!"
"Haruki…
san…"
"Bagus."
Saat Haruki
bertingkah kekanak-kanakan, interaksi luar biasa itu sukses membuat Mori dan
yang lainnya tertegun kebingungan.
"Ada
apa sebenarnya ini…?"
"Tunggu,
bukannya kemarin-kemarin ada hubungan antara Kaidou-kun dan
Nikaidou-san…?"
"Bukannya
Kirishima sendiri yang menarik paksa Nikaidou-san hari itu?"
Spekulasi-spekulasi
liar mulai bermunculan memenuhi udara kelas.
Baru
menyadari kecerobohannya sendiri, Haruki mengeluarkan suara "Mya!"
namun buru-buru menelannya mentah-mentah.
Kazuki
mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.
Hayato,
dengan tangan menempel di keningnya, bangkit berdiri, membisikkan kata
"Idiot" tepat di telinga Haruki, lalu melangkah pergi keluar kelas.
Sebuah
ruangan di gedung sekolah lama.
Tempat
perlindungan dari hiruk-pikuk kekacauan di dalam kelas.
Markas
rahasia milik Hayato dan Haruki.
Dua helaan
napas terdengar saling bersahutan.
"Sebenarnya
apa yang kamu lakukan tadi, Haruki?"
"T-Tapi…"
Sesaat
kemudian, Hayato dan Haruki menyusul ke tempat ini dengan waktu kedatangan yang
selang-seling.
Hayato
mengunyah katsu sandwich dari koperasi sekolah, sementara Haruki memakan
onigiri minimarket, mendiskusikan kekacauan yang baru saja terjadi di kelas.
Semua itu
mungkin adalah hasil dari usaha Haruki sendiri, sesuai dengan deklarasinya
malam itu.
Melihat
ekspresi lesu gadis itu, sepertinya ia sadar kalau dirinya sudah bertindak
terlalu jauh.
Ia bergumam
pelan.
"…Kaidou."
"Kazuki?"
"Dia
itu… terlalu mudah masuk ke tempat yang dulu biasanya ditempati oleh diriku
yang lama…"
"Itu
hal yang wajar. Malah aneh kalau dirimu yang sekarang masih bersikap begitu
lengket."
"Muu…"
Rupanya, ia
tetap tidak menyukai tindakan Kazuki sebelumnya.
Melirik ke
arah Haruki yang duduk di sampingnya.
Duduk di
atas bantal duduk dengan pose feminin yang jarang ia perlihatkan, menunduk
lesu, gadis itu tampak begitu mempesona dan menggemaskan.
Rambut
panjang berkilau yang tergerai indah, berbeda dari masa lalunya, jemputan kaki
jenjang yang terbalut seragam musim panas, serta bibir mungil yang sedikit
mengerucut saat ia melahap sisa onigirinya.
Hayato
menelan air liurnya susah payah.
Biasanya ia
bisa mengabaikan hal semacam itu, namun ketulusan sikap gadis akhir-akhir ini
membuat sangat sadar bahwa ia kini berhadapan dengan seorang gadis remaja.
Tiba-tiba,
duduk berdua saja di dalam ruangan kosong ini terasa begitu menyesakkan.
Namun entah
kenapa, tangannya bergerak sendiri hendak menyentuh gadis itu, sebelum ia
buru-buru menggaruk tengkuknya untuk menutupi salah tingkah.
"Kamu
ini, tahu kan, sekarang sudah jadi seorang gadis, Haruki."
"…Hayato?"
"Bukannya
apa-apa, maksudku, situasinya kan sudah beda sekarang, jadi ada hal-hal yang
harus lebih kamu jaga, kan?"
"…Ya,
kamu benar juga sih. Susah ya."
"…Makanya
itu."
Haruki meregangkan kedua tangannya ke atas, menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menatap lurus ke luar jendela.
Suasana
hening yang pekat melingkupi udara.
Matahari
bersinar dengan cemerlang di langit biru tanpa awan, melemparkan
bayangan-bayangan gelap dari markas rahasia.
"Menjadi
seorang gadis… aku tidak begitu memahaminya. Aku belum benar-benar terhubung
dengan siapa pun di sini. Kalau kamu, Hayato?"
"Kamu
tahu sendiri kan seperti apa Tsukinose itu. Satu-satunya teman sebayaku ya cuma
temannya Himeko."
"Oh,
benar juga, gadis kuil itu ya? Pendiam, sopan, mirip boneka."
"Dia
memang sering ngobrol dengan Himeko, tapi setiap kali aku menyapa atau
mengajaknya bicara, dia pasti langsung kabur."
"Kabur?
Emangnya apa yang kamu lakukan, Hayato? Tunggu, jangan-jangan kamu memamerkan
kumbang tanduk sambil pasang muka sombong?"
"Aku
bukan kamu! Cewek normal mana yang tertarik sama kumbang tanduk!"
"Mereka
melewatkan 70 persen esensi hidup kalau nggak tahu pesona bentuk kepala kumbang
itu!"
"Mustahil
ada yang mikir begitu!"
"Haha!"
Namun
membicarakan masa lalu selalu berhasil memancing tawa, dengan cepat menghapus
suasana suram yang sempat tercipta.
Saat Hayato
menghela napas lega, Haruki mencondongkan tubuhnya ke depan sambil memasang
senyuman usil khasnya.
"Sayang
banget kamu ditolak sama cewek, ya?"
"B-Bukan,
bukan begitu… Dia mungkin mikir aku agak aneh, tapi dia berbagi resep diet,
jadi kalau dia benci aku, dia nggak bakal ngelakuin itu kan?"
"Oh,
begitu ya ceritanya?"
"Mungkin
karena Himeko ikut dilibatkan… Oh ya, dia juga sempat mengirimiku fotonya
memakai pakaian tarian kagura tahun ini."
"Tarian
kagura?"
"Buat
festival musim panas… Nih, lihat."
"!
…Ini…"
Mengintip
ke layar ponsel Hayato, Haruki terkesiap dan membeku di tempatnya.
"Keren,
kan? Dan bukan cuma itu… Ah, maaf, soalnya kamu dan festival musim panas…"
"Hah!?
T-Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma terkejut saja."
"Terkejut?"
"Dia
tersenyum seperti…"
Rasa
terkejut atau kebingungan mewarnai suara Haruki.
Saat Hayato
mencoba mengintip ekspresi wajahnya, bel peringatan untuk kelas siang berbunyi
nyaring.
"—Ayo
kembali."
"…Iya."
Diiringi
senyuman penuh teka-teki dari Haruki, mereka meninggalkan markas rahasia
tersebut.
Setibanya
kembali di kelas, Haruki langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan
bertubi-tubi mengenai insiden saat jam istirahat siang tadi.
Dikelilingi
oleh para siswi, dibombardir pertanyaan, dan ditatap oleh para siswa laki-laki
dengan tatapan memohon yang hampir terlihat seperti orang berduka.
Hayato
mengamati dari kejauhan dengan kening berkerut.
Tatapan
para siswa laki-laki mendadak berubah tajam ketika mengarah kepadanya, membuat
ia hanya bisa menghela napas melihat perubahan sikap mereka yang begitu
dramatis.
Pertanyaan
dari para siswi pun terdengar lebih seperti mereka sedang menikmati reaksi
Haruki yang tampak panik dan merona malu.
Situasinya
hampir mirip seperti sedang menggoda maskot kelas.
Namun salah
satu siswa berkomentar, "Aku nggak nyangka bakal lihat anak SMA main
kagome-kagome," membuat Hayato mendengus geli di tengah kekesalannya.
"A-Aku
ada urusan, jadi aku duluan ya!"
Begitu bel
sekolah usai, Haruki langsung kabur melesat keluar kelas.
Kelelahan
karena terus-menerus digoda dan diinterogasi, ia melarikan diri bagaikan seekor
kelinci ketakutan.
Hayato
memperhatikan kepergiannya, menyambar tasnya dengan senyuman kecut, lalu
memainkan kunci rumahnya—tanpa gantungan kunci—di telapak tangannya. Itu adalah
kunci utama yang ia simpan di rumah, sebagai tindakan berjaga-jaga.
(Ampun deh,
dia sendiri yang cari gara-gara, dasar idiot.)
Bergumam
pada diri sendiri, ia teringat senyuman ramah Haruki yang tampak salah tingkah
di bawah tatapan semua orang, membuat tenggorokannya mengeluarkan tawa kecil
yang lembut.
"Yo,
udah mau langsung pulang?"
"Mori,
ya. Aku harus belanja bahan makan malam sekalian mau mampir ke suatu
tempat."
"Oh?
Padahal aku mau minta kamu bayar utang."
"…Anggap
saja itu sebagai bantuan."
"Aku
tunggu lho ya."
Hayato
sedikit merinding mendengar Mori dengan santainya menagih utang, namun ia
menepisnya dengan senyuman kecut, teringat akan bantuan yang ia terima siang
tadi. Melambaikan tangan dengan ringan, ia meninggalkan kelas.
Absennya
introgasi intens yang biasanya mengarah kepadanya—berbeda jauh dengan
Haruki—sepenuhnya berkat jasa Mori dan Kazuki.
Mori dengan
lihai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mudah dijawab untuk mengalihkan
rasa penasaran orang-orang, sementara obrolan Kazuki tentang kedekatan mereka
tempo hari berhasil mengalihkan fokus ke arah suara nyanyian datar Hayato, yang
berujung pada keharusannya bernyanyi tadi.
Itu memang
cara menggoda yang berbeda, tapi ia harus mengakui bahwa ia berhutang budi yang
cukup besar pada mereka berdua.
Memikirkan
hal itu, Hayato melangkah menuju stasiun, menuju ke sebuah toko kunci yang
pernah ia datangi tepat setelah mereka pindah ke kota ini.
"Oh,
Hayato-kun ternyata sudah pergi…"
Kazuki
melangkah masuk ke dalam kelas tepat saat Hayato baru saja keluar.
Mengedarkan
pandangan ke sekeliling namun tidak menemukan sosok yang dicarinya, ia sedikit
mengerutkan kening.
Mori yang
menyadarinya langsung melambaikan tangan santai.
"Dia
lagi ada urusan. Jarang-jarang nih kamu mampir ke sini selepas sekolah.
Bukannya ada kegiatan klub?"
"Minggu
ujian sudah dekat sih, jadi… Eh, Hayato-kun beneran sudah pergi ya…"
"…Kazuki?"
Mori
menatap Kazuki yang tampak ragu-ragu dengan tatapan penasaran.
Kazuki
mengangkat bahu canggung sambil melirik ke arah Isami Ema yang sedang asyik
mengobrol dengan sekelompok siswi.
"Ini
cuma masalah waktu saja."
Kazuki
memberi isyarat kepada Mori, lalu secara diam-diam memperlihatkan layar
ponselnya.
Mata Mori
membelalak lebar, sebelum akhirnya ia mengeluarkan tawa kering.
"Ini
kan… Haha."
"Kirimannya
dari anak SMP, Torikai-san, yang punya kakak perempuan."
Layar
ponsel itu menampilkan foto Hayato dengan pakaian berbeda, sedang omeli oleh
Himeko tepat di depan bioskop.
Meskipun
sedang dimarahi, ekspresi Himeko justru tampak cemberut manja, sementara Hayato
berusaha membujuknya.
Kedekatan
mereka terlihat begitu jelas. Pemandangan itu sangat mirip dengan sikap yang
sering ditunjukkan Haruki kepada orang lain.
Apa yang
akan terjadi kedepannya tentu masih menjadi tanda tanya.
Mori dan
Kazuki saling bertukar senyuman kecut sambil mengangkat bahu bersamaan.
Selepas jam
sekolah, Haruki kabur meninggalkan kelas.
Menghindari
keramaian, langkah kakinya secara alami membawanya menuju petak bunga di bagian
belakang sekolah.
Melihat
sepasang rambut keriting familier yang tampak naik turun di sana, ia langsung
tersenyum lebar dan berlari menghampiri.
"Hei,
Minamo-chan, mau ke petak bunga ya?"
"Oh,
Haruki-san. Iya, aku berencana mau mencabut rumput liar."
"Aku
bantu ya!"
"Wah,
silakan, terima kasih banyak."
Minamo
tersenyum lembut kepada Haruki yang telah menanggalkan topeng gadis
sempurnanya, lalu menyodorkan sebuah topi jerami sambil berkata, "Nanti
kamu bisa kepanasan." Haruki membalas, "Mungkin aku harus beli
punyaku sendiri ya," dan keduanya tertawa kecil bersama.
Di musim
seperti ini, rumput liar akan tumbuh dengan sangat cepat jika dibiarkan begitu
saja.
Namun
perawatan rutin membuatnya tetap mudah dikendalikan.
Mereka juga
memanen beberapa buah tomat yang sudah matang.
"Omong-omong,
kalau terong dipetiknya pagi hari, tapi kalau tomat enakan sore hari, ya?"
"Sepertinya
itu berkaitan dengan proses fotosintesis."
"Fotosintesis?
Yang proses tumbuhan menyerap karbon dioksida lalu menghasilkan oksigen
itu?"
"Iya
benar. Tanaman menggunakan air dan nutrisi untuk membentuk pati serta gula,
jadi kalau dipanen sore hari rasanya jadi lebih manis. Kalau pagi hari,
kesegarannya yang lebih unggul."
"Wah,
pantas saja… Ternyata ada alasannya ya."
Minamo
menjawab pertanyaan Haruki sambil membalik-balik halaman buku catatan kecilnya.
Ia
menangkap secercah keraguan di balik suara Haruki saat gadis itu dengan santai
memetik tomat menggunakan gunting tanaman.
Baru saja
mengetahui sebuah rahasia besar yang tidak mudah dibagikan pada orang lain,
Minamo sempat ragu sejenak, mengepalkan kedua tangannya, lalu mencondongkan
tubuh untuk menatap lekat wajah Haruki.
"Ada
sesuatu yang sedang mengganggumu?"
"Hah?
Oh, anu… Apakah itu bisa dibilang masalah?"
"Tentang
Kirishima-san?"
"Haha,
bukan begitu juga sih, atau mungkin iya… Entahlah, aku bingung."
"Begitu
ya…"
Haruki
sendiri merasa kesulitan untuk merangkai kata-kata penjelasannya.
Keduanya
kompak mengerutkan kening, lalu saling melempar senyuman getir.
Merasa
sedikit tidak enak hati karena Minamo begitu baik mau mendengarkan keluh
kesahnya, Haruki dalam hati berpikir bahwa inilah alasan kenapa gadis di
depannya ini adalah orang yang berhati sangat baik.
Melirik
sekilas ke bawah, ia tanpa sengaja memperhatikan pakaian olahraga Minamo yang
menonjolkan ukuran dadanya yang cukup berisi.
Posisi
tubuhnya saat itu semakin mempertegas bentuk volumenya.
Mata Haruki
membelalak lebar.
(Besar
banget!)
Membandingkannya
dengan milik sendiri, ia jadi teringat saat meminjam baju olahraga Minamo tempo
hari dan mendapati ada ruang kosong yang longgar di bagian dada.
Saat Minamo
memiringkan kepalanya dengan bingung sambil menyentuh dagu, dadanya ikut
berguncang pelan, memicu berbagai pertanyaan konyol di benak Haruki seperti:
Apa sih isi di dalam sana? Apakah mereka bisa mengapung di dalam air bak mandi?
Apakah bentuknya benar-benar sama persis seperti milikku!?—semuanya tercetak
jelas di wajah Haruki.
Pemandangan
itu benar-benar terlalu luar biasa untuk dicerna.
Postur
tubuh Minamo yang mungil membuat kontras ukuran itu semakin terlihat mencolok.
Sangat
sulit untuk memalingkan pandangan dari sana.
"…Haruki-san?"
Menyadari
ekspresi serius Haruki yang tengah menatapnya, Minamo menatap balik dengan
pandangan cemas, membuat Haruki buru-buru menggelengkan kepalanya panik sambil
mencari-cari alasan.
"A-Anu,
tidak kok, aku tadi cuma sedang memikirkan soal kewanitaan."
"Kewanitaan?"
"Maksudku,
pada dasarnya aku ini kan tidak punya sisi feminin yang kuat… Hei, jangan
tertawa ya, Minamo-chan!"
"Hehe,
maaf, cuma rasanya agak lucu saja kalau 'bunga di puncak yang tinggi' yang
sering dibicarakan orang-orang ternyata sedang khawatir soal sisi
femininnya."
"Itu
kan cuma topeng belaka… Oh ya benar juga. Gadis itu tersenyum dengan begitu
indah, sampai-sampai hal itu terus mengusik pikiranku…"
"Haruki-san…?"
Ia kembali
teringat pada gadis berbusana miko yang ditunjukkan oleh Hayato.
Senyuman
asing yang belum pernah ia lihat itu terus terukir di dalam kepalanya.
Hal itu
membuatnya merasa terganggu, dan di saat yang sama, ia sangat ingin tahu lebih
banyak tentang gadis itu.
Minamo yang
mengamati kebingungannya tiba-tiba bertepuk tangan pelan sambil tersenyum
cerah.
"Kenapa
tidak coba ajak dia mengobrol dulu?"
"Mengobrol?"
"Buktinya,
dengan mengobrol denganku, kamu jadi bisa lebih mengenalku, kan."
"Minamo-chan…
Ya, mungkin kamu benar. Tapi bagaimana caranya—"
Di tengah
kalimatnya, Haruki teringat pada momen saat Hayato dulu menarik paksa dirinya
keluar ketika ia masih kecil dan hanya bisa meringkuk memeluk lutut sendirian.
Sosok orang
berharga yang mendekatinya tanpa perlu berpikir terlalu rumit.
Ia pun
terkekeh pelan.
"Kamu
benar juga. Bisa tolong bantu aku mencari cara bagaimana membangun koneksi itu,
Minamo-chan?"
"Tentu
saja, serahkan padaku!"
Keduanya
tertawa bersama.
Di bawah
teriknya sinar matahari sore, sesi konsultasi kecil di antara mereka berdua pun
berlanjut semakin hangat.
Hayato tiba
di rumah jauh lebih lambat dari biasanya.
Waktu sudah
jauh melewati jam kepulangan sekolah, namun matahari musim panas masih
menggantung tinggi, dengan langit sebelah barat yang masih menyisakan rona biru
tipis.
"Aku
pulang."
"Mm,
selamat datang kembali, Onii. Hari ini tumben pulangnya agak terlambat."
"Tadi
harus mampir bikin kunci duplikat baru. Sekalian belanja bahan buat makan
malam."
"Hmm."
Himeko
menyambut kepulangannya di ruang tamu namun tidak menoleh ke arahnya,
memberikan respons setengah hati. Perhatian gadis itu sepenuhnya terpaku pada
layar televisi.
Acara yang
sedang ditonton adalah serial anime dari film bioskop yang sempat mereka tonton
bersama tempo hari, yang sepertinya dipinjam dari Haruki.
"…Jangan
terlalu memforsir diri."
"Aku
tahu."
Hayato
menghela napas melihat adiknya yang sibuk persiapan ujian, lalu berjalan
melangkah menuju dapur untuk membongkar kantong belanjaan.
(Duh, anak
itu benar-benar si Haruki…)
Memikirkan
kembali insiden saat jam istirahat siang tadi, ia berjalan menuju kamarnya
sambil membawa tas, bersiap untuk menceramahi gadis itu habis-habisan.
"…Hah?"
"~~!?!"
Begitu
pintu kamarnya dibuka, ia langsung membeku kaget di tempat.
Tanpa
alasan yang jelas, Haruki sedang berada di tengah-tengah kegiatannya melepas
kemeja seragam sekolah.
Satu lengan
bajunya sudah terlepas, menyebarkan pemandangan setengah terbuka yang terekspos
di depan matanya.
Hayato
menelan ludahnya susah payah.
Kulitnya
yang mulus dan tembus pandang, garis tulang selangka, lekuk pinggang yang
ramping, hingga pusar perutnya—bagian-bagian yang biasanya tersembunyi itu
menampilkan keindahan rapuh dan kekanak-kanakan yang khas dari seorang gadis
remaja seumurannya.
Terlebih lagi, tonjolan samar yang terbalut pakaian dalam berwarna putih tulang dengan aksen kerut yang anggun dan manis—berbeda dari model yang ia lihat hari sebelumnya—membuat pemandangan itu mustahil untuk dialihkan, bahkan bagi seseorang selain Hayato sekalipun.
Setelah
beberapa saat terdiam dalam keheningan, wajah mereka memerah bersamaan saat
pikiran masing-masing kembali pulih.
"M-Maafkan
aku!"
Hayato
buru-buru membanting pintu tertutup, membuang muka seolah-olah ia tidak boleh
melihat pemandangan itu.
Jantungnya
berdegup begitu kencang hingga ia takut Haruki bisa mendengarnya menembus daun
pintu, sementara telinganya yang peka menangkap suara gemerisik kain yang
bergesekan dengan jelas.
Bayangan
Haruki yang panik menarik kemejanya untuk menutupi tubuh saat ia menutup pintu
terukir kuat di dalam benaknya.
(Ada apa
sebenarnya ini…)
Ia sama
sekali tidak bisa memahaminya.
Kenapa?
Untuk apa gadis itu berada di kamarnya? Berbagai pertanyaan berputar di
kepalanya.
Namun,
lebih dari itu, sosok tubuh proporsional gadis itu membuatnya sangat menyadari
kehadiran Haruki sebagai seorang wanita, membuatnya salah tingkah sendiri.
Bayangan itu pasti akan terus terngiang di kepalanya untuk waktu yang cukup
lama.
Beberapa
saat kemudian, pintu itu perlahan terbuka, dan Haruki mengintip keluar dengan
ekspresi bersalah.
"M-Maaf
ya sudah memperlihatkan pemandangan yang memalukan tadi…"
"Tidak,
tidak apa-apa… Apa kamu sedang berganti pakaian?"
"Iya,
seragam sekolah kan agak kaku, lagian udaranya panas, kan?"
Sambil
berputar memperlihatkan penampilannya, Haruki memamerkan pakaian yang
dipakainya: sebuah tunik tanpa lengan dengan ujung bermotif bunga serta rok
mini yang mengembang.
Pakaian itu
kasual, mirip seperti pakaian santai di rumah, namun cukup manis untuk sekadar
berjalan-jalan sebentar keluar.
Pemandangan
sebelumnya membuat Hayato semakin menyadari Haruki sebagai seorang gadis,
sehingga ia mengalihkan pandangannya. Ucapannya pun keluar dengan nada ketus.
"Aku
ngerti sih, tapi… kenapa harus di kamarku?"
"Kamar
Hime-chan takutnya bikin baju kita tertukar nanti… Oh ya, aku juga sempat
meninggalkan beberapa barang di sini."
"Tanpa
izin dariku?"
"Fufufu.
Oh, kalau kamu penasaran, kamu boleh coba pakai kok. Baru-baru ini aku sadar,
ternyata menjadi seorang gadis itu cukup menyenangkan juga."
"Mana
mungkin, dan ukurannya juga nggak bakal muat."
"Badanmu
makin tinggi besar saja ya, Hayato."
Haruki
tersenyum tanpa beban, berjinjit untuk membandingkan tinggi badan mereka dengan
gestur tangannya.
Tingkah
laku khas gadis itu membuat Hayato merasa dipermainkan, menyisakan rasa jengkel
yang tidak nyaman.
Maka,
didorong oleh rasa gengsi yang aneh.
Ia
melontarkan kalimat yang biasanya tidak akan pernah ia ucapkan.
"Hari
ini kamu pakai baju yang agak manis lho, beda dari biasanya."
"~~!?!"
Wajah
Haruki berubah menjadi merah padam, membeku kaget dengan mata membelalak lebar.
Hayato
menyeringai puas, merasa menang dengan serangan balik itu, namun respons gadis
itu justru di luar dugaannya.
"…Apa
itu terlihat aneh?"
"!?!!?"
Tatapan
cemas penuh harap yang mendongak menatapnya itu membuatnya kehilangan kendali,
kini ganti dirinya yang salah tingkah.
"T-Tidak,
bukan begitu… Menurutku itu cocok kok."
"Beneran…?
Jadi, anu, dibanding baju waktu hari bioskop kemarin, kira-kira mana yang lebih
cocok buat aku…?"
"Hah…
Y-Yang, eh, dua-duanya sama-sama, ya, bagus kok."
"Oh,
begitu… Kalau begitu, antara baju yang itu sama yang ini, mana yang lebih kamu
suka…?"
"Haruki…!?
Eh, itu kan, anu…"
Hayato
mencoba mengambil kembali kendali situasi, namun usahanya sia-sia. Ia tidak
sanggup menatap mata gadis itu. Atmosfer yang membuat frustrasi menyelimuti
mereka berdua.
Ini sama
sekali bukan dirinya.
Namun di
saat yang sama, ia tidak bisa menampik bahwa situasi ini tidak begitu
buruk—sebuah bukti nyata betapa dalam pengaruh gadis itu terhadap dirinya tanpa
ia sadari.
"Onii,
aku lapar—Kalian berdua lagi ngapain sih?"
"!?!"
Kemunculan
Himeko secara tiba-tiba, yang baru saja selesai menonton animenya, merusak
suasana tegang itu.
Hayato dan
Haruki buru-buru melangkah saling menjauh, memasang akting mencurigakan sejenak
sebelum akhirnya saling bertukar pandang dan mengangguk kompak.
"K-Kami
lagi ngobrolin mau masak apa buat makan malam."
"I-Iya,
dietnya kan sudah selesai, tapi kita tetap khawatir kalau berat badan bakal
naik lagi… Hime-chan, ada permintaan menu?"
"Daging!"
Itu adalah
pemahaman tanpa kata yang hanya bisa terjalin di antara Hayato dan Haruki.
Himeko
memang sangat mudah ditebak.
Keduanya
menghela napas lega bersamaan.
Saat
Himeko, dengan suasana hati yang riang, berbalik untuk kembali melanjutkan
animenya, Haruki tiba-tiba mengeluarkan seruan keras, "Ah!"
"Tunggu,
Hime-chan!"
"Ada
apa, Haru-chan?"
"Aku
mau minta tolong sedikit nih—”
Himeko
mengerjap bingung mendengar permintaan tak terduga dari Haruki, namun ia
mengangguk patuh sambil berkata, "Boleh saja, emangnya apa?"
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment