NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 3 Chapter 1

Chapter 1

Kata-kata yang Melekat di Dalam Kepala


Hayato terkadang masih memimpikan momen saat pertama kalinya ia bertemu dengan Haruki.

Matahari bersinar terik, membakar permukaan kulit.

Paduan suara jangkrik yang memekakkan telinga, disusul udara panas mengepul dari atas tanah.

Bunga-bunga matahari bermekaran di mana-mana, bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi, menyanyikan musim panas dengan begitu bersemangat hingga rasanya hampir menyesakkan.

Ia ingat betul saat itu adalah hari yang sangat panas.

"Diam, tenanglah, pergi sana."

Kalimat paling tua dari Haruki yang terkubur begitu dalam di dalam ingatannya.

Ekspresi suram, seolah menyerah pada keadaan, mata keruh yang menolak kehadiran orang lain, tubuh yang memancarkan rasa tidak puas namun dalam diam memohon untuk diperhatikan sembari memeluk kedua lututnya di luar sana.

Pemandangan itu benar-benar mengusik ketenangannya.

Maka Hayato pun dengan paksa menarik Haruki untuk ikut dengannya.

Melihat wajah terkejut gadis itu, ia tersenyum miring penuh kepuasan.

Ia sudah lupa apa yang dikatakan Haruki setelah kejadian itu.

Namun ia ingat betul bahwa momen tersebut adalah awal dari segalanya.

Mereka mungkin sering bertengkar. Gadis itu mungkin melontarkan berbagai macam omelan.

Namun di tengah pegunungan, mereka berlomba memetik stroberi liar, membandingkan ukuran udang karang yang tertangkap di sungai, memamerkan pedang mainan dari kayu sisa, lalu saling membenturkannya satu sama lain.

Itulah sebabnya kenangan Hayato bersama Haruki selalu dipenuhi oleh senyuman.

Hayato menatap ke bawah pada diri mereka di masa kecil yang bermain dengan begitu gembira, seolah-olah ia sedang melihatnya dari kejauhan.

(Tapi, Haruki…)

Ya, Hayato sangat sadar kalau ini hanyalah sebuah mimpi.

Dua anak kecil yang bermain dan tertawa dalam pemandangan pedesaan seharusnya terasa begitu menghangatkan hati.

Seharusnya memang begitu.

"Aku ini, tahu kan, anak haram dari Takura Mao."

Tiba-tiba, ia teringat kembali kalimat yang diakui Haruki padanya. Jantungnya mulai berdegup kencang dengan liar.

Di hadapannya berdiri Haruki, tertawa polos tanpa beban.

Bayangan itu bertumpuk dengan ekspresi suram yang sesekali ditunjukkan gadis itu di masa lalu.

(Ah, sialan!)

Pasti, bahkan sejak masa itu pun, Haruki sudah sangat memahami situasinya sendiri.

Ia merasa begitu bodoh karena bisa berlarian ke sana kemari tanpa beban, sama sekali tidak menyadari apa pun.

Tapi. Sekalipun begitu.

"Aku ingin menjadi cukup kuat agar bisa menjadi seseorang yang benar-benar istimewa untukmu, Hayato."

Rahasia itu tidak dibagikan atas dasar keinginan untuk dikasihani.

Suara gadis itu pada hari itu, saat mendeklarasikannya padanya, kembali melintas terang di dalam kepalanya.

Tanpa kegelapan, tanpa bayangan, yang ada hanyalah sebuah tekad bulat yang jernih, tegas, dan indah.

Mengingatnya membuat jantungnya kembali berdegup kencang, hingga ia tidak kuasa untuk meneriakkan nama gadis itu.

"—Haruki!"

"M-Mya!?"

"…Hah?"

Terperanjat bangun dari tidurnya, Hayato mengeluarkan suara kebingungan saat suara itu mencapai indra pendengarannya.

Matanya yang masih mengantuk menangkap sosok Haruki yang entah kenapa sedang memegang seragam sekolah miliknya.

Hal itu sama sekali tidak masuk akal.

Haruki berpakaian rapi seperti biasa, namun wajahnya membeku bagaikan anak kecil yang tertangkap basah sedang berbuat usil, sementara matanya bergerak liar ke sana kemari.

Masih terbuai sisa-sisa mimpi, tatapan Hayato perlahan berubah menjadi datar tanpa ekspresi.

Suara yang meluncur dari mulutnya terdengar ketus dan merendah.

"…Apa yang sedang kamu lakukan?"

"B-Belum ngapa-ngapain kok!?"

"Kenapa pegang seragamku?"

"T-Tidak, maksudku, pelembut kainnya wangi banget, dan deterjennya bersih banget, kan!?"

"Haruki…?"

"Ahh! Aku mau pergi membangunkan Hime-chan!"

"Hei, tunggu!"

Mengucapkan kalimat itu, Haruki menyumpalkan seragam tersebut ke dada Hayato lalu bergegas kabur keluar kamar dengan panik.

(Ya ampun, Haruki… Ah benar juga, aku kan memberinya kunci cadangan, ya?)

Melihat punggung yang familier itu berlari menjauh, Hayato merasakan gelombang kelegaan mendalam bercampur rasa geli yang konyol, lalu terkekeh pelan pada dirinya sendiri.

Rasanya sungguh aneh.

"Kyaah! K-Kenapa Haru-chan ada di sini!?"

"Wahahahaha!"

Dari kamar sebelah, terdengar suara riang antara Haruki dan Himeko.

Kemeja seragam yang disodorkan padanya tadi memiliki sedikit kerutan akibat genggaman erat Haruki.

Aroma manis samar, berbeda dari aroma miliknya sendiri, menggelitik indra penciumannya, membuat jantungnya berdegup kencang. Sama seperti kemeja itu, dahi Hayato ikut berkerut dalam garis-garis lipatan.

Mengabaikan suara berisik Haruki dan Himeko, Hayato mulai beranjak menyiapkan sarapan.

Waktu pagi hari sangatlah berharga.

Memang waktu yang biasa, namun bukan berarti ia punya banyak kelonggaran.

Menu utama pagi ini adalah telur orak-arik.

Ia mencampurkan keju krim potong dadu serta cincangan sisa herba seperti ketumbar ke dalam adonan telur, membumbuinya dengan garam, lada, serta susu, lalu mengaduknya menggunakan spatula kayu di atas api sedang-kecil hingga bertekstur creamy.

Ia menyiramnya dengan saus cabai manis buatan sendiri, yang dibuat dengan cara memanaskan cuka, gula, mirin, doubanjiang, bawang putih, serta larutan tepung maizena di dalam microwave.

Itu adalah hidangan yang langsung membangkitkan selera makan bahkan di pagi hari musim panas yang terik.

Disajikan dengan salad potong, roti panggang, dan minuman sesuai selera, sarapan itu tampak sama lezatnya seperti rasanya.

Bahkan Haruki tampak terpaku, matanya mengerjap cepat melihat hidangan itu tersaji dalam waktu singkat.

"Ada apa, Haruki? Nggak mau makan?"

"Hah? T-Tidak, aku makan kok! Itadakimasu!"

"Onii, ambilkan aku susu, susu!"

"Iya, iya. Haruki, kopi saja kan?"

"Ya, dengan banyak susu… Eh, Hime-chan cuma minum susu?"

"Aku kan masih dalam masa pertumbuhan… Aku setidaknya harus mencapai tinggi rata-rata, kalau tidak nanti—Eh, kok Haru-chan! Ada apa denganmu pagi ini!?"

Himeko, seolah baru menyadarinya, memelototi Haruki lalu berganti menatap Hayato dengan ekspresi kesal.

Wajahnya menunjukkan sedikit kerutan cemberut, dan melihat Haruki buru-buru mengalihkan pandangan, sepertinya ia telah dibangunkan dengan cara yang aneh. Himeko menggosok lehernya sambil gelisah.

Itu adalah pertanyaan yang sulit dijawab oleh Hayato.

Penyusupan mendadak Haruki juga di luar dugaan baginya.

Melirik ke arah Haruki, mata mereka saling bertatapan dengan kikuk, lalu keduanya kompak tersenyum getir.

Situasi ini memang sedikit di luar kewajaran.

Namun melihat ekspresi bersalah Haruki, sepertinya gadis itu hanya ingin memberikan kejutan atau hal sepele semacam itu. Bagi Haruki, tindakan ini mungkin hanyalah bentuk lanjutan dari kebiasaan usilnya.

Menyadari bahwa gadis itu merasa cukup nyaman untuk bertindak santai hingga mau bersandar padanya membuat sudut bibir Hayato melunak.

"Aku memberikan kunci cadangan ke Haruki. Berbeda dengan Tsukinose, kita kan tidak boleh meninggalkan pintu tidak terkunci, iya kan?"

"Oh, iya benar juga. Pantas saja. Aku masih belum terbiasa dan terkadang lupa mengunci pintu."

"Cih, dan kamu malah santai saja… Haha…"

Kebiasaan keamanan di Tsukinose sangatlah khas pedesaan, terlalu longgar hingga kelewatan. Mereka biasanya hanya mengunci pintu saat pergi dalam perjalanan jauh.

Lagi pula, orang-orang di sana tidak pernah menekan bel pintu—mereka hanya akan langsung membuka pintu sambil meneriaki pemilik rumah.

"Yah, meskipun begitu… nyam."

Himeko, menelan gigitan terakhir roti panggangnya dengan susu, menghela napas panjang lalu menatap Hayato dan Haruki dengan tatapan datar sambil mengangkat bahunya.

"Duh, Onii dan Haru-chan dari dulu memang selalu dekat banget ya."

"Bukan begitu maksudnya!"

"…Tuh kan lihat?"

"…"

Himeko, yang merasa jengkel, menghela napas dramatis lalu berdiri, seolah ia sudah menyerah menghadapi mereka berdua.

"Terima kasih atas makanannya."

Udara yang tertinggal di ruangan itu terasa begitu kaku.

Hayato melirik Haruki dengan tatapan menegur, sementara gadis itu menunjukkan ekspresi bersalah sambil menjulurkan lidah merah mudanya namun tetap mengeluarkan suara riang.

"Haha, aku cuma mau mencoba adegan klise seperti membangunkan teman masa kecil ala manga atau anime."

"…Lain kali, lakukan itu padaku saja."

"Nanti Hime-chan ngambek lho, kan?"

"Ya, benar juga sih."

Ucapan yang sama sekali tidak merasa bersalah dan senyuman tanpa beban itu membuat jantung Hayato berdegup kencang karena alasan yang berbeda dari mimpinya tadi.

Menjejalkan makanan dan kopi ke dalam mulutnya seperti yang dilakukan Himeko, Hayato merasakan sesuatu yang tertinggal, bagaikan ampas yang meluap keluar.

"…Itu curang."

"Hm? Kamu bilang sesuatu?"

"Ah, bukan apa-apa."

Melihat sahabat masa kecilnya itu melahap telur orak-arik dengan gembira, Hayato menutupinya dengan senyuman getir.

Usai sarapan, Hayato buru-buru bersiap lalu meninggalkan apartemen bersama Haruki dan Himeko.

Langit bagian timur bersih tanpa awan, matahari musim panas menunjukkan eksistensinya dengan berani sejak pagi, memicu keringat seketika. Panas yang lembap melekat pada tubuh, memperberat suasana hati dan langkah kaki mereka.

Namun energi Haruki dan Himeko tetap tinggi, tidak gentar sedikit pun menghadapi teriknya musim panas.

"Oh ya, omong-omong, dietku berhasil! Berat badanku turun lima kilo dari rekor tertingginya!"

"Mana bisa begitu, curang banget Haru-chan! Aku baru turun tiga kilo, padahal kita makan makanan yang sama, grrr… Oh, kalau kamu gimana, Onii?"

"Entah lah. Aku kan tidak sedang diet, jadi aku bahkan tidak menimbang berat badan."

Rupanya, kesuksesan diet mereka turut mendongkrak mood kedua gadis itu.

Himeko sedikit tidak puas dengan hasil pencapaiannya, namun baik ia maupun Haruki berada dalam kisaran ±1 kg dari berat badan asal mereka, dan Hayato sama sekali tidak melihat perbedaan secara visual. Responsnya pun keluar setengah hati.

Namun bahkan Hayato pun tersenyum tipis.

(Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita berangkat sekolah bertiga bersama.)

Melihat adik perempuan dan sahabat masa kecilnya mengobrol seru tentang perjuangan diet mereka, ia memikirkan hal itu.

Berjalan bersama bukanlah hal yang langka, namun mengenakan seragam sekolah dan mengobrol santai di pagi buta terasa sedikit istimewa.

"Jadi, mumpung dietnya sudah selesai, aku mau makan sesuatu yang manis, tahu! Tapi tentu saja, aku akan tetap hati-hati biar tidak naik lagi."

"Aku mau bas-chee! Basque cheesecake! Onii, buatkan yang versi rendah gula ya!"

"Kenapa jadi aku yang harus membuatnya?"

"Ya karena kamu kan Hayato."

"Karena kamu Onii."

"Benar kan?"

"Haa…"

Bagaimanapun juga, mood Haruki yang bagus adalah hal yang baik bagi Hayato. Terutama setelah ia mengetahui rahasia besar gadis itu. Sudut matanya melembut secara alami.

Namun ada satu masalah lain.

Mungkin karena euforia kesuksesan dietnya, energi gadis itu terlalu berlebihan hari ini.

"Hei, aku lewat jalur sini ya. Sampai nanti!"

"Jangan sampai ketiduran di kelas."

"Sampai jumpa nanti, Hime-chan!"

Bahkan setelah berpisah dengan Himeko di jalan utama, energi Haruki tidak surut, terus mengobrol dengan Hayato menggunakan nada akrab seperti biasanya.

"Hei, di rumahmu ada peralatan buat bikin kue, kan? Kita bisa beli bahan-bahannya di supermarket, atau kita harus ke toko khusus?"

"Haruki, itu tidak masalah tapi, eh, kamu tahu kan…?"

Hayato, yang sebenarnya senang mendengar obrolan antusias itu, memotongnya dan memberikan isyarat mata agar gadis itu melihat sekeliling.

Sekolah sudah semakin dekat, dan para siswa yang mengenakan seragam yang sama dengan Hayato dan Haruki mulai bermunculan.

Dan mereka semua menatap ke arah mereka, seolah baru saja melihat sesuatu yang langka atau luar biasa seperti tsuchinoko.

"Oh…"

Haruki, seolah baru menyadarinya, mengerutkan kening lalu mencuri pandang ke arah ekspresi wajah Hayato.

Nikaidou Haruki adalah seorang gadis populer.

Hal itu sangat mudah dilupakan ketika mereka sedang berdua saja, namun gadis itu sebenarnya adalah sosok yang anggun dan memesona, unggul dalam akademik maupun olahraga, bersikap lembut dan sopan pada semua orang namun selalu menyapa dengan senyuman anggun dari jarak tertentu—sebuah bunga di puncak yang tinggi. Itulah citra palsu, topeng penyamaran, yang diproyeksikan oleh Haruki.

Bagaimana mungkin jika gadis itu menunjukkan senyuman yang belum pernah dilihat siapa pun kepada seorang anak laki-laki (Hayato) sambil mengajaknya mengobrol akrab?

Terlebih lagi pagi ini, rambut Hayato tidak ditata rapi seperti versi modis yang sempat diurus oleh Himeko. Rambut berantakan bedhead-nya berdiri tegak.

Situasi ini mustahil luput dari perhatian. Beberapa orang bahkan sudah mulai berbisik-bisik menyebarkan gosip.

Tidak terbiasa menjadi pusat perhatian dengan tatapan penasaran seperti itu, Hayato menghela napas pasrah.

Namun ia ragu untuk menegur Haruki, mengingat gadis itu sedang berusaha untuk berubah.

"Dengar, kalau terlalu akrab dalam waktu singkat nanti bisa menimbulkan masalah, tahu, Nikaidou-san?"

"…Ya, kamu benar."

Haruki bergumam lesu, menundukkan pandangannya lalu melangkah mundur menjaga jarak.

Hati Hayato terasa tertusuk melihat reaksi itu, namun tidak ada hal lain yang bisa ia perbuat.

Menggaruk tengkuknya kasar, ia melambaikan tangan santai seolah berkata "sampai jumpa" lalu mempercepat langkah meninggalkan area tersebut.

Melihat punggung pemuda itu menjauh, Haruki bergumam pelan.

"Kamu benar. Aku harus menaklukkan benteng luar terlebih dahulu."

Ekspresinya tampak serius, namun menyunggingkan senyuman penuh tantangan, seolah sedang merencanakan sesuatu.

Jam istirahat siang pun tiba.

Suasana kelas langsung berdengung ramai saat para siswa bergerak bebas ke sana kemari.

Biasanya Hayato akan langsung menuju ke markas rahasia mereka, namun hari ini ia merasa bingung harus berbuat apa.

Alasannya tentu saja karena Haruki.

Belakangan ini, topeng kucing gadis itu mulai sering terlepas, dan ia secara tidak wajar menjadi sangat akrab dengan para siswi lain.

Ketika Haruki yang tampak melamun dan sesekali menghela napas sarat kemelaman didekati dengan pertanyaan seperti, "Ada apa, Nikaidou-san?" atau "Kalau ada masalah, kamu bisa cerita ke kita," hal itu murni gabungan antara rasa peduli dan rasa penasaran. Di pusat kerumunan itu tampak Isami Ema, pacar sekaligus teman masa kecil Mori.

"Tidak apa-apa kok, bukan apa-apa."

Namun jawaban Haruki hanyalah senyuman mengelak dengan wajah yang tampak gelisah.

Bagi orang luar, ia tampak seperti gadis yang sedang mabuk kepayang karena cinta, namun Hayato yang mengamati dari profil sampingnya hanya merasakan firasat buruk.

Ia melirik ke arah gadis itu sekali lagi.

Bahkan saat ini pun, tanpa sadar Haruki sedang memutar-mutar ujung rambut panjangnya sambil menghela napas hangat.

Sesekali ia mencuri pandang ke arah Hayato, dan saat mata mereka bertemu, gadis itu akan memberikan senyuman canggung.

Beberapa siswi bermata tajam menyadari gelagat itu dan langsung berkerumun berbisik-bisik di sudut kelas.

(Apa yang harus kulakukan…)

Hayato menghela napas ragu, hendak melangkah ketika Mori tiba-tiba mendekatinya dengan senyuman santai.

"Yo, Kirishima, jarang-jarang nih kulihat kayak gini. Belum tahu mau makan siang apa?"

"Mori… Ya, aku tidak bawa bento hari ini, jadi masih mikir-mikir. Kalau ke koperasi sekolah pasti sudah keburu antre, kantin juga sepertinya penuh."

Itu adalah isyarat tidak langsung bagi Haruki bahwa ia akan pergi belakangan karena harus mengurus makan siangnya lebih dulu.

Mori, yang dengan tajam menangkap lirikan mata Hayato ke arah Haruki, menyipitkan matanya penuh minat.

"Omong-omong, kudengar tadi pagi kamu jalan bareng Nikaidou dengan akrab banget ya?"

"!?! Eh, bukan, itu, anu…"

Hayato langsung merasakan beban tatapan seluruh isi kelas seketika tertuju padanya.

Insiden pagi tadi sudah mulai menjadi bahan gosip kecil.

Terlebih lagi dengan sikap Haruki yang blak-blakan, bagaimana mungkin hal itu tidak menarik perhatian?

Terutama karena banyak yang melihatnya menarik paksa Haruki hari itu saat insiden pernyataan cinta Kazuki.

Otaknya berputar panik mencari alasan. Jika ia tidak mengatakan sesuatu yang masuk akal, rentetan pertanyaan tidak akan berhenti, bukan hanya dari Mori saja.

Matanya berpapasan dengan Haruki yang mengerutkan kening cemas, membuat Hayato menggaruk kepalanya sambil menghela napas.

"Yah, sebenarnya sih…"

"Sebenarnya apa?"

"Aku tadi sedang mengajarinya trik mencegah makanan anjing dicuri oleh rusa liar di pedesaan."

"Hah? Anjing? Makanan dicuri… sama rusa…?"

"Pfft! Uhuk, uhuk, uhuk… Heh… Hahaha…"

Haruki meledakkan tawa mendengar alasan ngawur Hayato, menelungkupkan wajahnya di atas meja dengan bahu yang bergetar hebat berusaha menahan tawa. Sepertinya ia geli sendiri mendengar cerita itu.

Suasana kelas mendadak jatuh dalam keheningan total.

Namun melihat reaksi Haruki yang tampak natural, mereka perlahan mulai mempercayainya.

"Oh, jadi begitu rupanya. Wah, repot juga ya."

"Iya, rusa kan hewan dilindungi jadi tidak bisa asal diusir. Lagian mereka itu pintar dan ramah, tidak pernah merusak ladang, tapi sasarannya malah makanan anjing."

Cerita Hayato berhasil memancing ketertarikan mereka ke arah yang sama sekali berbeda.

Membagikan kisah lucu dari Tsukinose yang sering menjadi bahan tertawaan lokal berhasil mengalihkan fokus mereka. Haruki di sebelah sana masih mati-matian menahan tawanya.

(…Berhasil lolos?)

Saat Hayato menghela napas lega dalam hati, sesosok wajah yang familier mendekat.

"Kelihatannya obrolan yang seru nih, Hayato-kun."

"Kazuki… Ini cuma obrolan trivia soal pedesaan kok, bukan hal penting."

"Justru hal-hal begitu yang seru. Iya kan, Nikaidou-san?"

"Mph!"

Kazuki datang dengan senyuman ramah khasnya, berdiri tepat di samping meja Hayato.

Haruki langsung mengangkat kepalanya, memasang sikap pasang badan.

Perhatian seisi kelas kembali terkonsentrasi ke arah mereka.

"Aku tidak merasa begitu… Ngomong-ngomong, ada perlu apa, Kaidou-kun?"

"Memangnya tidak boleh kalau aku cuma mau menemui Nikaidou-san?"

"Aku tidak punya hal untuk dibicarakan denganmu, jadi tolong pergi sana."

"Sayang sekali, ditolak lagi. Gimana nih, Hayato-kun?"

"…Entahlah."

Haruki menolak Kazuki dengan senyuman sopan namun dingin, sementara pemuda itu balas menyengir kecut penuh kekecewaan.

Lalu, seolah tidak enak badan, Kazuki menepuk pundak Hayato akrab.

Hayato menerimanya secara natural. Pipi Haruki tampak berkedut kesal.

Jarak kedekatan antara Hayato dan Kazuki kini terlihat jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.

Mori, yang menangkap perubahan dinamika itu, berbicara dengan mata berbinar penasaran.

"'Hayato-kun' dan 'Kazuki', ya… Sejak kapan kalian berdua jadi akrab begini?"

"Haha, baru-baru ini saja. Waktu kami main bareng, dia menyelamatkanku dari situasi pelik, ya kan?"

"Wah, yang bener? Jadi nggak bisa ngebayangin."

"Dia tadi cukup keren sih."

"…Aku tidak melakukan hal spesial apa-apa, dan itu bukan masalah besar."

Hayato menjawab dengan tatapan masam, namun Kazuki justru tersenyum lebar, menunjukkan rasa nyaman yang jelas. Terlihat sekali pemuda itu sudah sangat menyukai Hayato. Jika Kazuki adalah seekor anjing, ekornya pasti sudah bergoyang-goyang riang.

Beberapa siswi menjerit tertahan, mencium aroma vibe bromance yang kental.

Namun tidak semua orang menyukai pemandangan itu.

"Kaidou, terlalu akrab cuma karena kalian sempat dekat sebisa mungkin jangan sampai merepotkan Hayato-kun, tahu? Ya kan?"

"Eh… Nikaidou… san…?"

Haruki, dengan senyuman yang dipaksakan di wajahnya, menyelak di antara Hayato dan Kazuki. Gerakannya sangat mulus tanpa cela.

Tatapan mata mereka saling beradu—senyuman mengintimidasi milik Haruki dan senyuman usil milik Kazuki.

Tekanan atmosfer yang diciptakan oleh keduanya sukses menyelimuti seisi ruangan kelas.

"Memangnya separah itu ya? Bukannya ini kedekatan yang normal antar teman?"

"Menurutku harus ada batasannya juga. Coba lihat, Hayato-kun sampai kaget begitu. Iya kan?"

"Hah? Uh, tidak juga sih, aku biasa aja…"

"Haha, kalau Nikaidou-san mau lebih akrab, mungkin sebaiknya bersikap lebih jujur—"

"Kaidou!"

"—Aw!"

Tiba-benar Haruki, dengan bibir cemberut, menendang tulang kering Kazuki dengan cukup keras.

Gadis itu bertingkah laku bagaikan anak kecil yang sedang ngambek. Seisi kelas melongo tak percaya.

Namun seringai di wajah Kazuki justru semakin lebar.

Haruki, yang semakin kesal melihat reaksi itu, mengerucutkan bibirnya lalu memalingkan wajah.

Menangkap tatapan itu, Hayato menepuk keningnya yang berdenyut pusing, lalu menghela napas pasrah.

"Kazuki, kamu ini memang idiot… Dan Nikaidou—"

"Haruki."

"Nikai…"

"Ha-ru-ki!"

"Haruki… san…"

"Bagus."

Saat Haruki bertingkah kekanak-kanakan, interaksi luar biasa itu sukses membuat Mori dan yang lainnya tertegun kebingungan.

"Ada apa sebenarnya ini…?"

"Tunggu, bukannya kemarin-kemarin ada hubungan antara Kaidou-kun dan Nikaidou-san…?"

"Bukannya Kirishima sendiri yang menarik paksa Nikaidou-san hari itu?"

Spekulasi-spekulasi liar mulai bermunculan memenuhi udara kelas.

Baru menyadari kecerobohannya sendiri, Haruki mengeluarkan suara "Mya!" namun buru-buru menelannya mentah-mentah.

Kazuki mengangkat bahu sambil tersenyum kecut.

Hayato, dengan tangan menempel di keningnya, bangkit berdiri, membisikkan kata "Idiot" tepat di telinga Haruki, lalu melangkah pergi keluar kelas.

Sebuah ruangan di gedung sekolah lama.

Tempat perlindungan dari hiruk-pikuk kekacauan di dalam kelas.

Markas rahasia milik Hayato dan Haruki.

Dua helaan napas terdengar saling bersahutan.

"Sebenarnya apa yang kamu lakukan tadi, Haruki?"

"T-Tapi…"

Sesaat kemudian, Hayato dan Haruki menyusul ke tempat ini dengan waktu kedatangan yang selang-seling.

Hayato mengunyah katsu sandwich dari koperasi sekolah, sementara Haruki memakan onigiri minimarket, mendiskusikan kekacauan yang baru saja terjadi di kelas.

Semua itu mungkin adalah hasil dari usaha Haruki sendiri, sesuai dengan deklarasinya malam itu.

Melihat ekspresi lesu gadis itu, sepertinya ia sadar kalau dirinya sudah bertindak terlalu jauh.

Ia bergumam pelan.

"…Kaidou."

"Kazuki?"

"Dia itu… terlalu mudah masuk ke tempat yang dulu biasanya ditempati oleh diriku yang lama…"

"Itu hal yang wajar. Malah aneh kalau dirimu yang sekarang masih bersikap begitu lengket."

"Muu…"

Rupanya, ia tetap tidak menyukai tindakan Kazuki sebelumnya.

Melirik ke arah Haruki yang duduk di sampingnya.

Duduk di atas bantal duduk dengan pose feminin yang jarang ia perlihatkan, menunduk lesu, gadis itu tampak begitu mempesona dan menggemaskan.

Rambut panjang berkilau yang tergerai indah, berbeda dari masa lalunya, jemputan kaki jenjang yang terbalut seragam musim panas, serta bibir mungil yang sedikit mengerucut saat ia melahap sisa onigirinya.

Hayato menelan air liurnya susah payah.

Biasanya ia bisa mengabaikan hal semacam itu, namun ketulusan sikap gadis akhir-akhir ini membuat sangat sadar bahwa ia kini berhadapan dengan seorang gadis remaja.

Tiba-tiba, duduk berdua saja di dalam ruangan kosong ini terasa begitu menyesakkan.

Namun entah kenapa, tangannya bergerak sendiri hendak menyentuh gadis itu, sebelum ia buru-buru menggaruk tengkuknya untuk menutupi salah tingkah.

"Kamu ini, tahu kan, sekarang sudah jadi seorang gadis, Haruki."

"…Hayato?"

"Bukannya apa-apa, maksudku, situasinya kan sudah beda sekarang, jadi ada hal-hal yang harus lebih kamu jaga, kan?"

"…Ya, kamu benar juga sih. Susah ya."

"…Makanya itu."

Haruki meregangkan kedua tangannya ke atas, menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menatap lurus ke luar jendela.




Suasana hening yang pekat melingkupi udara.

Matahari bersinar dengan cemerlang di langit biru tanpa awan, melemparkan bayangan-bayangan gelap dari markas rahasia.

"Menjadi seorang gadis… aku tidak begitu memahaminya. Aku belum benar-benar terhubung dengan siapa pun di sini. Kalau kamu, Hayato?"

"Kamu tahu sendiri kan seperti apa Tsukinose itu. Satu-satunya teman sebayaku ya cuma temannya Himeko."

"Oh, benar juga, gadis kuil itu ya? Pendiam, sopan, mirip boneka."

"Dia memang sering ngobrol dengan Himeko, tapi setiap kali aku menyapa atau mengajaknya bicara, dia pasti langsung kabur."

"Kabur? Emangnya apa yang kamu lakukan, Hayato? Tunggu, jangan-jangan kamu memamerkan kumbang tanduk sambil pasang muka sombong?"

"Aku bukan kamu! Cewek normal mana yang tertarik sama kumbang tanduk!"

"Mereka melewatkan 70 persen esensi hidup kalau nggak tahu pesona bentuk kepala kumbang itu!"

"Mustahil ada yang mikir begitu!"

"Haha!"

Namun membicarakan masa lalu selalu berhasil memancing tawa, dengan cepat menghapus suasana suram yang sempat tercipta.

Saat Hayato menghela napas lega, Haruki mencondongkan tubuhnya ke depan sambil memasang senyuman usil khasnya.

"Sayang banget kamu ditolak sama cewek, ya?"

"B-Bukan, bukan begitu… Dia mungkin mikir aku agak aneh, tapi dia berbagi resep diet, jadi kalau dia benci aku, dia nggak bakal ngelakuin itu kan?"

"Oh, begitu ya ceritanya?"

"Mungkin karena Himeko ikut dilibatkan… Oh ya, dia juga sempat mengirimiku fotonya memakai pakaian tarian kagura tahun ini."

"Tarian kagura?"

"Buat festival musim panas… Nih, lihat."

"! …Ini…"

Mengintip ke layar ponsel Hayato, Haruki terkesiap dan membeku di tempatnya.

"Keren, kan? Dan bukan cuma itu… Ah, maaf, soalnya kamu dan festival musim panas…"

"Hah!? T-Tidak, tidak apa-apa. Aku cuma terkejut saja."

"Terkejut?"

"Dia tersenyum seperti…"

Rasa terkejut atau kebingungan mewarnai suara Haruki.

Saat Hayato mencoba mengintip ekspresi wajahnya, bel peringatan untuk kelas siang berbunyi nyaring.

"—Ayo kembali."

"…Iya."

Diiringi senyuman penuh teka-teki dari Haruki, mereka meninggalkan markas rahasia tersebut.

Setibanya kembali di kelas, Haruki langsung diberondong dengan berbagai pertanyaan bertubi-tubi mengenai insiden saat jam istirahat siang tadi.

Dikelilingi oleh para siswi, dibombardir pertanyaan, dan ditatap oleh para siswa laki-laki dengan tatapan memohon yang hampir terlihat seperti orang berduka.

Hayato mengamati dari kejauhan dengan kening berkerut.

Tatapan para siswa laki-laki mendadak berubah tajam ketika mengarah kepadanya, membuat ia hanya bisa menghela napas melihat perubahan sikap mereka yang begitu dramatis.

Pertanyaan dari para siswi pun terdengar lebih seperti mereka sedang menikmati reaksi Haruki yang tampak panik dan merona malu.

Situasinya hampir mirip seperti sedang menggoda maskot kelas.

Namun salah satu siswa berkomentar, "Aku nggak nyangka bakal lihat anak SMA main kagome-kagome," membuat Hayato mendengus geli di tengah kekesalannya.

"A-Aku ada urusan, jadi aku duluan ya!"

Begitu bel sekolah usai, Haruki langsung kabur melesat keluar kelas.

Kelelahan karena terus-menerus digoda dan diinterogasi, ia melarikan diri bagaikan seekor kelinci ketakutan.

Hayato memperhatikan kepergiannya, menyambar tasnya dengan senyuman kecut, lalu memainkan kunci rumahnya—tanpa gantungan kunci—di telapak tangannya. Itu adalah kunci utama yang ia simpan di rumah, sebagai tindakan berjaga-jaga.

(Ampun deh, dia sendiri yang cari gara-gara, dasar idiot.)

Bergumam pada diri sendiri, ia teringat senyuman ramah Haruki yang tampak salah tingkah di bawah tatapan semua orang, membuat tenggorokannya mengeluarkan tawa kecil yang lembut.

"Yo, udah mau langsung pulang?"

"Mori, ya. Aku harus belanja bahan makan malam sekalian mau mampir ke suatu tempat."

"Oh? Padahal aku mau minta kamu bayar utang."

"…Anggap saja itu sebagai bantuan."

"Aku tunggu lho ya."

Hayato sedikit merinding mendengar Mori dengan santainya menagih utang, namun ia menepisnya dengan senyuman kecut, teringat akan bantuan yang ia terima siang tadi. Melambaikan tangan dengan ringan, ia meninggalkan kelas.

Absennya introgasi intens yang biasanya mengarah kepadanya—berbeda jauh dengan Haruki—sepenuhnya berkat jasa Mori dan Kazuki.

Mori dengan lihai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mudah dijawab untuk mengalihkan rasa penasaran orang-orang, sementara obrolan Kazuki tentang kedekatan mereka tempo hari berhasil mengalihkan fokus ke arah suara nyanyian datar Hayato, yang berujung pada keharusannya bernyanyi tadi.

Itu memang cara menggoda yang berbeda, tapi ia harus mengakui bahwa ia berhutang budi yang cukup besar pada mereka berdua.

Memikirkan hal itu, Hayato melangkah menuju stasiun, menuju ke sebuah toko kunci yang pernah ia datangi tepat setelah mereka pindah ke kota ini.

"Oh, Hayato-kun ternyata sudah pergi…"

Kazuki melangkah masuk ke dalam kelas tepat saat Hayato baru saja keluar.

Mengedarkan pandangan ke sekeliling namun tidak menemukan sosok yang dicarinya, ia sedikit mengerutkan kening.

Mori yang menyadarinya langsung melambaikan tangan santai.

"Dia lagi ada urusan. Jarang-jarang nih kamu mampir ke sini selepas sekolah. Bukannya ada kegiatan klub?"

"Minggu ujian sudah dekat sih, jadi… Eh, Hayato-kun beneran sudah pergi ya…"

"…Kazuki?"

Mori menatap Kazuki yang tampak ragu-ragu dengan tatapan penasaran.

Kazuki mengangkat bahu canggung sambil melirik ke arah Isami Ema yang sedang asyik mengobrol dengan sekelompok siswi.

"Ini cuma masalah waktu saja."

Kazuki memberi isyarat kepada Mori, lalu secara diam-diam memperlihatkan layar ponselnya.

Mata Mori membelalak lebar, sebelum akhirnya ia mengeluarkan tawa kering.

"Ini kan… Haha."

"Kirimannya dari anak SMP, Torikai-san, yang punya kakak perempuan."

Layar ponsel itu menampilkan foto Hayato dengan pakaian berbeda, sedang omeli oleh Himeko tepat di depan bioskop.

Meskipun sedang dimarahi, ekspresi Himeko justru tampak cemberut manja, sementara Hayato berusaha membujuknya.

Kedekatan mereka terlihat begitu jelas. Pemandangan itu sangat mirip dengan sikap yang sering ditunjukkan Haruki kepada orang lain.

Apa yang akan terjadi kedepannya tentu masih menjadi tanda tanya.

Mori dan Kazuki saling bertukar senyuman kecut sambil mengangkat bahu bersamaan.

Selepas jam sekolah, Haruki kabur meninggalkan kelas.

Menghindari keramaian, langkah kakinya secara alami membawanya menuju petak bunga di bagian belakang sekolah.

Melihat sepasang rambut keriting familier yang tampak naik turun di sana, ia langsung tersenyum lebar dan berlari menghampiri.

"Hei, Minamo-chan, mau ke petak bunga ya?"

"Oh, Haruki-san. Iya, aku berencana mau mencabut rumput liar."

"Aku bantu ya!"

"Wah, silakan, terima kasih banyak."

Minamo tersenyum lembut kepada Haruki yang telah menanggalkan topeng gadis sempurnanya, lalu menyodorkan sebuah topi jerami sambil berkata, "Nanti kamu bisa kepanasan." Haruki membalas, "Mungkin aku harus beli punyaku sendiri ya," dan keduanya tertawa kecil bersama.

Di musim seperti ini, rumput liar akan tumbuh dengan sangat cepat jika dibiarkan begitu saja.

Namun perawatan rutin membuatnya tetap mudah dikendalikan.

Mereka juga memanen beberapa buah tomat yang sudah matang.

"Omong-omong, kalau terong dipetiknya pagi hari, tapi kalau tomat enakan sore hari, ya?"

"Sepertinya itu berkaitan dengan proses fotosintesis."

"Fotosintesis? Yang proses tumbuhan menyerap karbon dioksida lalu menghasilkan oksigen itu?"

"Iya benar. Tanaman menggunakan air dan nutrisi untuk membentuk pati serta gula, jadi kalau dipanen sore hari rasanya jadi lebih manis. Kalau pagi hari, kesegarannya yang lebih unggul."

"Wah, pantas saja… Ternyata ada alasannya ya."

Minamo menjawab pertanyaan Haruki sambil membalik-balik halaman buku catatan kecilnya.

Ia menangkap secercah keraguan di balik suara Haruki saat gadis itu dengan santai memetik tomat menggunakan gunting tanaman.

Baru saja mengetahui sebuah rahasia besar yang tidak mudah dibagikan pada orang lain, Minamo sempat ragu sejenak, mengepalkan kedua tangannya, lalu mencondongkan tubuh untuk menatap lekat wajah Haruki.

"Ada sesuatu yang sedang mengganggumu?"

"Hah? Oh, anu… Apakah itu bisa dibilang masalah?"

"Tentang Kirishima-san?"

"Haha, bukan begitu juga sih, atau mungkin iya… Entahlah, aku bingung."

"Begitu ya…"

Haruki sendiri merasa kesulitan untuk merangkai kata-kata penjelasannya.

Keduanya kompak mengerutkan kening, lalu saling melempar senyuman getir.

Merasa sedikit tidak enak hati karena Minamo begitu baik mau mendengarkan keluh kesahnya, Haruki dalam hati berpikir bahwa inilah alasan kenapa gadis di depannya ini adalah orang yang berhati sangat baik.

Melirik sekilas ke bawah, ia tanpa sengaja memperhatikan pakaian olahraga Minamo yang menonjolkan ukuran dadanya yang cukup berisi.

Posisi tubuhnya saat itu semakin mempertegas bentuk volumenya.

Mata Haruki membelalak lebar.

(Besar banget!)

Membandingkannya dengan milik sendiri, ia jadi teringat saat meminjam baju olahraga Minamo tempo hari dan mendapati ada ruang kosong yang longgar di bagian dada.

Saat Minamo memiringkan kepalanya dengan bingung sambil menyentuh dagu, dadanya ikut berguncang pelan, memicu berbagai pertanyaan konyol di benak Haruki seperti: Apa sih isi di dalam sana? Apakah mereka bisa mengapung di dalam air bak mandi? Apakah bentuknya benar-benar sama persis seperti milikku!?—semuanya tercetak jelas di wajah Haruki.

Pemandangan itu benar-benar terlalu luar biasa untuk dicerna.

Postur tubuh Minamo yang mungil membuat kontras ukuran itu semakin terlihat mencolok.

Sangat sulit untuk memalingkan pandangan dari sana.

"…Haruki-san?"

Menyadari ekspresi serius Haruki yang tengah menatapnya, Minamo menatap balik dengan pandangan cemas, membuat Haruki buru-buru menggelengkan kepalanya panik sambil mencari-cari alasan.

"A-Anu, tidak kok, aku tadi cuma sedang memikirkan soal kewanitaan."

"Kewanitaan?"

"Maksudku, pada dasarnya aku ini kan tidak punya sisi feminin yang kuat… Hei, jangan tertawa ya, Minamo-chan!"

"Hehe, maaf, cuma rasanya agak lucu saja kalau 'bunga di puncak yang tinggi' yang sering dibicarakan orang-orang ternyata sedang khawatir soal sisi femininnya."

"Itu kan cuma topeng belaka… Oh ya benar juga. Gadis itu tersenyum dengan begitu indah, sampai-sampai hal itu terus mengusik pikiranku…"

"Haruki-san…?"

Ia kembali teringat pada gadis berbusana miko yang ditunjukkan oleh Hayato.

Senyuman asing yang belum pernah ia lihat itu terus terukir di dalam kepalanya.

Hal itu membuatnya merasa terganggu, dan di saat yang sama, ia sangat ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu.

Minamo yang mengamati kebingungannya tiba-tiba bertepuk tangan pelan sambil tersenyum cerah.

"Kenapa tidak coba ajak dia mengobrol dulu?"

"Mengobrol?"

"Buktinya, dengan mengobrol denganku, kamu jadi bisa lebih mengenalku, kan."

"Minamo-chan… Ya, mungkin kamu benar. Tapi bagaimana caranya—"

Di tengah kalimatnya, Haruki teringat pada momen saat Hayato dulu menarik paksa dirinya keluar ketika ia masih kecil dan hanya bisa meringkuk memeluk lutut sendirian.

Sosok orang berharga yang mendekatinya tanpa perlu berpikir terlalu rumit.

Ia pun terkekeh pelan.

"Kamu benar juga. Bisa tolong bantu aku mencari cara bagaimana membangun koneksi itu, Minamo-chan?"

"Tentu saja, serahkan padaku!"

Keduanya tertawa bersama.

Di bawah teriknya sinar matahari sore, sesi konsultasi kecil di antara mereka berdua pun berlanjut semakin hangat.

Hayato tiba di rumah jauh lebih lambat dari biasanya.

Waktu sudah jauh melewati jam kepulangan sekolah, namun matahari musim panas masih menggantung tinggi, dengan langit sebelah barat yang masih menyisakan rona biru tipis.

"Aku pulang."

"Mm, selamat datang kembali, Onii. Hari ini tumben pulangnya agak terlambat."

"Tadi harus mampir bikin kunci duplikat baru. Sekalian belanja bahan buat makan malam."

"Hmm."

Himeko menyambut kepulangannya di ruang tamu namun tidak menoleh ke arahnya, memberikan respons setengah hati. Perhatian gadis itu sepenuhnya terpaku pada layar televisi.

Acara yang sedang ditonton adalah serial anime dari film bioskop yang sempat mereka tonton bersama tempo hari, yang sepertinya dipinjam dari Haruki.

"…Jangan terlalu memforsir diri."

"Aku tahu."

Hayato menghela napas melihat adiknya yang sibuk persiapan ujian, lalu berjalan melangkah menuju dapur untuk membongkar kantong belanjaan.

(Duh, anak itu benar-benar si Haruki…)

Memikirkan kembali insiden saat jam istirahat siang tadi, ia berjalan menuju kamarnya sambil membawa tas, bersiap untuk menceramahi gadis itu habis-habisan.

"…Hah?"

"~~!?!"

Begitu pintu kamarnya dibuka, ia langsung membeku kaget di tempat.

Tanpa alasan yang jelas, Haruki sedang berada di tengah-tengah kegiatannya melepas kemeja seragam sekolah.

Satu lengan bajunya sudah terlepas, menyebarkan pemandangan setengah terbuka yang terekspos di depan matanya.

Hayato menelan ludahnya susah payah.

Kulitnya yang mulus dan tembus pandang, garis tulang selangka, lekuk pinggang yang ramping, hingga pusar perutnya—bagian-bagian yang biasanya tersembunyi itu menampilkan keindahan rapuh dan kekanak-kanakan yang khas dari seorang gadis remaja seumurannya.

Terlebih lagi, tonjolan samar yang terbalut pakaian dalam berwarna putih tulang dengan aksen kerut yang anggun dan manis—berbeda dari model yang ia lihat hari sebelumnya—membuat pemandangan itu mustahil untuk dialihkan, bahkan bagi seseorang selain Hayato sekalipun.




Setelah beberapa saat terdiam dalam keheningan, wajah mereka memerah bersamaan saat pikiran masing-masing kembali pulih.

"M-Maafkan aku!"

Hayato buru-buru membanting pintu tertutup, membuang muka seolah-olah ia tidak boleh melihat pemandangan itu.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut Haruki bisa mendengarnya menembus daun pintu, sementara telinganya yang peka menangkap suara gemerisik kain yang bergesekan dengan jelas.

Bayangan Haruki yang panik menarik kemejanya untuk menutupi tubuh saat ia menutup pintu terukir kuat di dalam benaknya.

(Ada apa sebenarnya ini…)

Ia sama sekali tidak bisa memahaminya.

Kenapa? Untuk apa gadis itu berada di kamarnya? Berbagai pertanyaan berputar di kepalanya.

Namun, lebih dari itu, sosok tubuh proporsional gadis itu membuatnya sangat menyadari kehadiran Haruki sebagai seorang wanita, membuatnya salah tingkah sendiri. Bayangan itu pasti akan terus terngiang di kepalanya untuk waktu yang cukup lama.

Beberapa saat kemudian, pintu itu perlahan terbuka, dan Haruki mengintip keluar dengan ekspresi bersalah.

"M-Maaf ya sudah memperlihatkan pemandangan yang memalukan tadi…"

"Tidak, tidak apa-apa… Apa kamu sedang berganti pakaian?"

"Iya, seragam sekolah kan agak kaku, lagian udaranya panas, kan?"

Sambil berputar memperlihatkan penampilannya, Haruki memamerkan pakaian yang dipakainya: sebuah tunik tanpa lengan dengan ujung bermotif bunga serta rok mini yang mengembang.

Pakaian itu kasual, mirip seperti pakaian santai di rumah, namun cukup manis untuk sekadar berjalan-jalan sebentar keluar.

Pemandangan sebelumnya membuat Hayato semakin menyadari Haruki sebagai seorang gadis, sehingga ia mengalihkan pandangannya. Ucapannya pun keluar dengan nada ketus.

"Aku ngerti sih, tapi… kenapa harus di kamarku?"

"Kamar Hime-chan takutnya bikin baju kita tertukar nanti… Oh ya, aku juga sempat meninggalkan beberapa barang di sini."

"Tanpa izin dariku?"

"Fufufu. Oh, kalau kamu penasaran, kamu boleh coba pakai kok. Baru-baru ini aku sadar, ternyata menjadi seorang gadis itu cukup menyenangkan juga."

"Mana mungkin, dan ukurannya juga nggak bakal muat."

"Badanmu makin tinggi besar saja ya, Hayato."

Haruki tersenyum tanpa beban, berjinjit untuk membandingkan tinggi badan mereka dengan gestur tangannya.

Tingkah laku khas gadis itu membuat Hayato merasa dipermainkan, menyisakan rasa jengkel yang tidak nyaman.

Maka, didorong oleh rasa gengsi yang aneh.

Ia melontarkan kalimat yang biasanya tidak akan pernah ia ucapkan.

"Hari ini kamu pakai baju yang agak manis lho, beda dari biasanya."

"~~!?!"

Wajah Haruki berubah menjadi merah padam, membeku kaget dengan mata membelalak lebar.

Hayato menyeringai puas, merasa menang dengan serangan balik itu, namun respons gadis itu justru di luar dugaannya.

"…Apa itu terlihat aneh?"

"!?!!?"

Tatapan cemas penuh harap yang mendongak menatapnya itu membuatnya kehilangan kendali, kini ganti dirinya yang salah tingkah.

"T-Tidak, bukan begitu… Menurutku itu cocok kok."

"Beneran…? Jadi, anu, dibanding baju waktu hari bioskop kemarin, kira-kira mana yang lebih cocok buat aku…?"

"Hah… Y-Yang, eh, dua-duanya sama-sama, ya, bagus kok."

"Oh, begitu… Kalau begitu, antara baju yang itu sama yang ini, mana yang lebih kamu suka…?"

"Haruki…!? Eh, itu kan, anu…"

Hayato mencoba mengambil kembali kendali situasi, namun usahanya sia-sia. Ia tidak sanggup menatap mata gadis itu. Atmosfer yang membuat frustrasi menyelimuti mereka berdua.

Ini sama sekali bukan dirinya.

Namun di saat yang sama, ia tidak bisa menampik bahwa situasi ini tidak begitu buruk—sebuah bukti nyata betapa dalam pengaruh gadis itu terhadap dirinya tanpa ia sadari.

"Onii, aku lapar—Kalian berdua lagi ngapain sih?"

"!?!"

Kemunculan Himeko secara tiba-tiba, yang baru saja selesai menonton animenya, merusak suasana tegang itu.

Hayato dan Haruki buru-buru melangkah saling menjauh, memasang akting mencurigakan sejenak sebelum akhirnya saling bertukar pandang dan mengangguk kompak.

"K-Kami lagi ngobrolin mau masak apa buat makan malam."

"I-Iya, dietnya kan sudah selesai, tapi kita tetap khawatir kalau berat badan bakal naik lagi… Hime-chan, ada permintaan menu?"

"Daging!"

Itu adalah pemahaman tanpa kata yang hanya bisa terjalin di antara Hayato dan Haruki.

Himeko memang sangat mudah ditebak.

Keduanya menghela napas lega bersamaan.

Saat Himeko, dengan suasana hati yang riang, berbalik untuk kembali melanjutkan animenya, Haruki tiba-tiba mengeluarkan seruan keras, "Ah!"

"Tunggu, Hime-chan!"

"Ada apa, Haru-chan?"

"Aku mau minta tolong sedikit nih—”

Himeko mengerjap bingung mendengar permintaan tak terduga dari Haruki, namun ia mengangguk patuh sambil berkata, "Boleh saja, emangnya apa?"



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close