Chapter 3
Tidak Bisa Mengatakannya dengan Baik
Sebuah
bulan sabit tipis yang mulai memudar tampak menggantung tinggi di langit
menjelang tengah malam.
Jalanan utama
kota tetap ramai oleh deru mobil dan truk meskipun hari sudah larut malam.
Di dalam kamar
sebuah apartemen khusus lajang berlantai lima di dekat sana, Saki sedang
bermalas-malasan di atas tempat tidurnya sambil menggulir layar ponselnya untuk
membaca obrolan grup.
"Masih panas
banget sih, tapi kan ini festival musim gugur, jadi! Harus milih motif yukata
yang cocok, kan?"
"Aku sudah
cek secara online—ada artikel lengkap tentang padu padan yukata musim gugur
lho."
"Tapi
besok itu obral akhir musim panas, kan? Apa mereka bakal punya nuansa musim gugur?"
"Kalau
iya, barangnya bakal cepat habis terjual... Ini sudah kayak perang!"
"Ugh,
perutku malah mules gini."
"Haru-chan,
tidurkan saja dirimu. Mau
aku mampir buat nyeret kamu keluar besok?"
"Eep!?"
"…Heh."
Saki
terkikik geli membaca obrolan usil itu sambil memiringkan tubuhnya.
Obrolan
grup itu terasa seperti biasa, namun tidak seperti sebelum liburan musim panas,
topik-topik yang dibahas—seperti merencanakan jalan-jalan dan belanja
bersama—membuatnya merasa jauh lebih dekat dengan Himeko dan Haruki.
Mungkin itu
karena rencana-rencana tersebut adalah ajakan untuk bertemu secara langsung.
Pandangannya
beralih ke luar jendela, mengarah ke bangunan apartemen keluarga Kirishima.
Ia bisa berjalan
ke sana sekarang juga jika ia mau; jaraknya begitu dekat.
"Ooh, mereka
juga punya sandal, baju renang, dan barang-barang musim panas lainnya
lho!"
"Hime-chan,
kamu kan nggak bakal pakai benda-benda itu sekarang, iya kan? Lagian, tren mode
bakal ganti tahun depan."
"Ugh,
sialan..."
Topik
obrolan telah bergeser dari yukata ke barang-barang lainnya, dengan Himeko yang
kini berada di posisi diserang.
Saki
tersenyum tipis melihat keusilan mereka, lalu membuka mesin pencari di
ponselnya dan mengetik kata kunci yukata.
Beraneka
ragam motif warna-warni membanjiri layar ponselnya, dan ia mengerutkan kening
sambil bergumam pelan.
"Sebenarnya
apa sih yang bagus?"
Ia belum
pernah memilih yukata seperti ini sebelumnya—yang jelas berbeda dari piyama
biasa yang ia kenakan. Ia sama sekali tidak punya petunjuk bagaimana cara
memilihnya, padahal ia ingin terlihat imut agar bisa mendapatkan pujian.
Sambil
terdiam sejenak, ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan posisi duduknya, dan
berdiri di depan cermin rias ukuran penuh miliknya.
Di sana
terpantul bayangan dirinya dengan gaya rambut kepang dua yang sudah sangat ia
kenal.
Setelah
memandangnya cukup lama, ia melepas ikatan kepang rambutnya, membiarkan ujung
rambutnya yang sedikit bergelombang jatuh terurai melewati bahunya.
"Apakah...
seperti ini?"
Dengan
jemari yang terasa canggung, ia menata rambutnya menjadi model setengah diikat
dengan volume yang agak mengembang, meniru gaya rambut seorang gadis yang
pernah ia temui saat berbelanja sebelumnya.
Tatanan itu
memang berantakan, namun bayangan di cermin memperlihatkan sisi dirinya yang
benar-benar baru, membuat pipinya merona malu.
Tidak jelek
juga, batinnya.
Kira-kira
apa yang akan dikatakan Hayato jika melihatnya seperti ini? Membayangkannya
saja sudah membuat sekujur tubuhnya terasa geli.
Pandangannya
mendarat pada seperangkat alat rias baru di atas meja belajarnya, yang dibeli
atas dorongan Himeko dan Haruki saat mereka berbelanja tempo hari. Ia bergumam
penuh pertimbangan.
Kenapa
tidak mencoba berdandan total sekalian untuk membuatnya terpesona?
Ia mencari
artikel pemula riasan wajah di SMP dan menemukan hasil pencarian tentang cara
mengubah penampilan, lalu mengekliknya.
Sambil
membaca sekilas artikel tersebut sembari melirik peralatan makeup-nya, ia
merasa tersesat di tengah istilah-istilah asing, meraba-raba dalam kebingungan.
Gadis yang
menirukan gaya rambutnya waktu itu juga tampak mahir berdandan dengan sempurna.
Melihat
foto-foto lamanya yang tampak biasa saja, Saki baru menyadari betapa
terampilnya gadis itu dan berharap ia bisa meminta saran darinya.
Lalu ia
teringat perkataan gadis itu, "Aku punya seseorang yang aku sukai."
Gadis itu pasti
telah mengubah penampilannya demi menarik perhatian pujaan hatinya.
Sayangnya gadis
itu menghilang begitu saja di tengah kekacauan waktu itu.
Hanya sebuah
pertemuan yang berlalu begitu cepat.
Kendati demikian,
Saki tidak bisa melupakannya, merasa ada ikatan yang aneh di antara mereka.
Ia membisikkan
harapannya tanpa sadar.
"…Kapan-kapan
aku ingin kita bertemu lagi."
◇◇◇
Di sebuah kawasan
pemukiman pinggiran kota yang telah direvitalisasi, jalan-jalan perumahan yang
tertata rapi perlahan melebur ke dalam malam yang semakin larut, sementara
lampu-lampu rumah mulai padam satu persatu.
Di salah satu
rumah yang masih menyalakan lampu, Kazuki duduk di sofa ruang tamu sambil
mengetik ponselnya dengan riang. Obrolan grup sedang ramai membicarakan rencana
berbelanja yukata untuk besok.
'…Himeko memaksa
kita semua harus pakai yukata.'
'Ema bilang pakai
yukata bareng-bareng terus nulis plakat ema bakal bawa keberuntungan atau
semacam itulah.'
'Sepertinya besok
kita harus pilih sendiri.'
'Ya, tapi aku
bahkan nggak tahu model apa saja yang ada atau bagaimana cara milihnya.'
'Cewek-cewek
punya banyak pilihan warna yang cerah. Oh, sebenarnya aku agak tertarik sama
hal-hal begini.'
Iori membagikan
foto yukata yang mencolok—dengan motif yang terang, potongan leher rendah, dan
obi yang dramatis, mirip seperti yang dikenakan oleh seorang oiran. Pakaian itu
pasti akan menarik perhatian semua orang di festival nanti.
Kazuki sedang
merenungkan balasan ketika Hayato ikut nimbrung dalam obrolan.
'Desainnya
terlalu mencolok. Sepertinya cuma cocok dipakai orang-orang tertentu saja.'
'Haha, iya! Tapi
kamu kadang bisa lihat cewek-cewek yang pede pakai gaya begini, kan?'
'Ngomong-ngomong
soal itu, kakakku pernah pakai model mirip gitu tahun lalu.'
'Mana mungkin!
Kakak Kazuki berani juga ya. Kalau kakakku... ah, nggak cocok... Hayato benar,
model itu pemilih banget.'
Membayangkan Iori
yang meringis ngeri, Kazuki tersenyum kecil.
Itu adalah
obrolan khas antar teman, namun enam bulan lalu, ia bahkan tidak pernah
membayangkan bisa melakukan ini. Ia tadinya berencana menjaga jarak dengan
kehidupan SMA dan hanya melewatinya begitu saja.
Dirinya yang dulu
pasti tidak akan percaya.
'Tapi kalau kakak
Kazuki yang pakai gaya itu... Aku nggak kenal siapa pun yang mirip begitu, jadi
agak susah dibayangkan.'
'Haha, tapi
Isami-san punya postur tubuh atletis yang seimbang—dia mungkin bakal cocok
memakainya.'
'…Huh, kalau kamu
ngomong begitu, sepertinya iya juga.'
'…Kalau
keluargaku yang pakai, itu cukup meyakinkan sih.'
'Kan? Jujur saja,
aku pikir cuma orang seperti MOMO yang bisa membawakannya.'
"!"
MOMO—nama
panggung kakaknya—membuat Kazuki tersentak kaget.
'MOMO? Siapa itu?
Kazuki kenal dia?'
'Hm,
seorang model. Terkenal banget di kalangan cewek seumuran kita.'
'Ya,
Kazuki tahu lah. Dia sering banget nongol di majalah-majalah Ema. Punya aura
tersendiri—langsung narik perhatian.'
'Eh,
Himeko mungkin tahu sih.'
Kazuki
merasa tidak tenang, dihantui secercah rasa bersalah.
Karena itulah, ia
mengalihkan topik pembicaraan ke hal lain.
'Pokoknya, Iori,
kalau kamu suka gaya itu, apa itu yang mau kamu suruh Isami-san pakai besok?'
'Aku sih pengen
lihat dia pakai itu, tapi rasanya terlalu berlebihan. Kurang lebih udah kayak
cosplay.'
'Tapi tetap saja,
Iori, bukankah lebih baik kalau kamu mengutarakan apa yang kamu suka? Kayak
hari ini, ada beberapa hal yang nggak bakal sampai kalau kamu nggak ngomong
langsung. Aku tadinya nggak tahu kalau Haruki benci terong sampai dia ngomong
sendiri. Ternyata dia cuma belum pernah mencobanya—sekarang malah ketagihan
terong goreng dan sering minta dibikinin.'
'…Ya,
benar juga sih. Sial, Himeko-chan baru saja memberi kita pelajaran berharga
tadi.'
"…"
Kazuki
teringat kembali pada kejadian Himeko di kedai hidangan penutup hari itu.
Kata-katanya
yang blak-blakan menembus ketegangan antara Iori dan Ema terasa begitu
mendebarkan, memicu rasa kagum di hatinya—mirip seperti saat kejujuran Hayato
menampar perasaannya di masa lalu.
Maka, ia
mengetikkan perasaannya ke dalam obrolan grup.
'Himeko-chan
benar-benar adiknya Hayato-kun. Mereka mirip banget.'
'Tunggu
dulu, Kazuki, aku nggak terima disamakan sama dia.'
'…Nggak
kok, mereka berdua memang cukup mirip, terutama dari segi kepribadian.'
'Kamu
juga, Iori!?'
Kazuki
bisa membayangkan wajah Hayato yang sedang kesal.
Obrolan
itu terus bergulir dengan balasan seperti 'Mirip pas mereka sama-sama ngincer
diskon' dan 'Jangan samakan aku sama dia yang heboh sendiri soal berat badan
setelah kebanyakan makan.'
Kazuki
mengamati aksi saling balas pesan itu, lalu menatap langit-langit kamar,
membiarkan tubuhnya merosot di atas sofa sambil mengembuskan napas berat.
Sesuatu
bergolak di dalam dadanya.
Menutup
matanya, wajah Himeko yang tampak sedikit muram terbayang di benaknya.
"Aku
menyesal karena tidak berani bicara..."
Kata-katanya,
dipadukan dengan ekspresi sendu itu, terus membekas di ingatannya.
Mengingat kembali
ucapan gadis itu, "Aku punya seseorang yang aku sukai" di kolam
renang dengan ekspresi yang sama, dadanya mendadak terasa nyeri.
Ia tidak tahu apa
alasannya.
Namun perasaan
itu terasa tidak mengenakkan, jadi ia menggelengkan kepalanya untuk mengusir
pikiran tersebut lalu bangkit berdiri. Berjalan menuju dapur, ia menyalakan
mesin espresso untuk menjernihkan suasana hatinya.
Sebuah suara
memanggilnya.
"Kazuki?"
Itu adalah
kakaknya, Momoka, mengenakan kaus tanpa lengan dan celana pendek, sedang
menggaruk perutnya dengan rambut yang berantakan—jelas sama sekali belum siap
jika harus tampil di depan umum. Kazuki tersenyum kecut.
"Kak... Lagi
bikin minuman. Mau pesan sesuatu?"
"Biasanya."
"Paham."
Ia mulai meracik
latte langganan kakaknya itu dengan takaran susu yang sedikit lebih banyak.
Momoka merebahkan
diri di sofa, memindahkan saluran TV sebelum akhirnya beralih ke situs streaming.
Sesaat kemudian, ia bergumam dengan nada bosan, "Nggak ada yang
seru..."
"Sudah malam
sih. Ada tontonan online yang bagus?"
"Film hiu.
Lumayan keren. Hiu ladang bunga matahari ngelawan chupacabra atau apalah
itu."
…Haha.
Kazuki tertawa
hambar, meletakkan cangkir lattenya di atas meja kopi.
Alih-alih
membalas, Momoka justru menatap tajam ke arahnya, ragu-ragu sejenak sebelum
membuka suara.
"Ngobrol
sama kamu sepertinya bakal lebih seru... Lagi ada masalah sama teman cewek yang
kamu suka?"
"!?"
Pertanyaan itu
membuatnya membeku di tempat.
Tatapan kakaknya
begitu tajam, seolah mampu menembus isi hatinya.
Ia nyaris
melangkah mundur namun berusaha tetap tenang, lalu menjawab dengan nada wajar.
"Kenapa
Kakak ngomong begitu?"
…Kamu pasang
ekspresi kesakitan tadi, mirip kayak waktu itu.
Kakaknya
memalingkan wajah, dengan bulu mata yang menurun. Kazuki menahan napas sambil
mengerjap.
Waktu itu—ketika
ia dikhianati dan dikecewakan.
Momoka rupanya
sedang mengkhawatirkannya dengan cara khas seorang kakak.
Karena itu, ia
memaksakan diri mengeluarkan nada suara yang ceria dan lembut.
"Nggak
apa-apa kok, nggak ada hal seperti itu. Kami tadi cuma ngobrolin soal rencana
pergi ke festival musim gugur pakai yukata. Aku kan belum pernah pakai, jadi agak bingung
milihnya."
…Begitu
ya.
"Besok mau
belanja. Masih harus mikirin modelnya, jadi aku duluan ke kamar ya."
"…"
Ia mengucapkannya
dengan cepat, menyambar cangkir lattenya, lalu bergegas meninggalkan ruang
tamu.
…Rasanya itu
terdengar seperti sebuah alasan untuk menghindar, batinnya menyadari.
◇◇◇
Lewat tengah
malam, tatkala suasana rumah sudah sunyi, Airi—dengan wajah polos tanpa riasan,
rambut diikat ke belakang, dan mengenakan kacamata—duduk di meja belajarnya
dengan buku-buku terbuka lebar.
Pensil di
tangannya tidak bergerak sama sekali, sementara buku catatannya sebagian besar
masih kosong. Ekspresi wajahnya tampak tegang, sesekali dipecah oleh embusan
napas berat.
Ia sudah bersikap
seperti ini setiap malam belakangan ini.
Dadanya terasa
begitu sesak dan nyeri.
Kaido Kazuki.
Anak laki-laki
yang telah bersedia pura-pura menjadi pacarnya demi menjauhkan para pengganggu.
Semua itu berawal
dari rasa geram.
Ia benci melihat
Kazuki—yang baik hati, kikuk, dan bodoh—diperlakukan secara tidak adil, atau
melihat orang-orang yang dulu mengabaikannya tiba-tiba bersikap akrab setelah
penampilan pemuda itu berubah.
Ia ingin
membuktikan kemampuan pemuda itu kepada mereka semua.
Untuk menunjukkan
betapa hebatnya sosok Kazuki sebenarnya.
Sebuah
hubungan palsu yang diperhitungkan (berdasarkan kontrak).
Kazuki
adalah pacar pura-pura yang sempurna.
Di
sekolah, sepulang kelas, hingga di toko-toko sekitar—pemuda itu memenuhi semua
ekspektasinya, dan mereka mungkin terlihat seperti pasangan ideal. Ia tidak bisa menyangkal ada sedikit rasa
bangga karena bisa memamerkannya.
Ia bahkan merawat
diri dan mempercantik penampilannya demi bisa berjalan berdampingan dengan
pemuda itu.
Namun di hari
kelulusan SMP, kata-kata pemuda itu terngiang kembali di kepalanya.
"Kontraknya
sudah selesai, kan? Aku mau sekolah di SMA yang lebih jauh, jadi kamu sudah
bebas sekarang. Terima kasih untuk semuanya."
Sebuah ucapan
perpisahan yang dingin dan formal.
Semua itu adalah
akibat perbuatannya sendiri.
Ia telah
memanfaatkan pemuda itu.
Mungkin ia memang
sudah bertindak keterlaluan.
Ia tidak pernah
benar-benar membuka diri untuk memahami pemuda itu.
Barulah saat itu
ia menyadari bahwa senyuman yang selalu tersungging di bibir Kazuki hanyalah
sebuah topeng, dengan mata yang tampak kosong karena kepasrahan, tidak pernah
benar-benar melihat ke arahnya. Selalu begitu, bahkan saat berstatus sebagai
pacar penu-paranya.
Disertai rasa
nyeri yang menghujam dada, ia akhirnya mengerti.
Ia ingin melihat
senyuman tulus yang sesungguhnya—senyuman yang pertama kali ditunjukkan pemuda
itu saat mereka bertemu.
Namun ia justru
tidak mampu memunculkan senyuman itu.
Pada detik itu
juga, ia menyadari bahwa ia telah jatuh cinta pada pemuda itu.
"Kenapa aku
bisa..."
Ponselnya
bergetar menandakan pesan masuk.
Siapa yang
mengirim pesan larut malam begini? Ia melirik sekilas dan melihat nama Momoka
tertera di layar.
Momoka adalah
tipe orang yang santai, jadi menerima pesan larut malam bukanlah hal
aneh—biasanya berisi video lucu, rekomendasi toko panekuk, atau detail
pertemuan yang tidak jelas.
Karena penasaran
apa isinya kali ini, Airi membuka pesan tersebut dan terkesiap membaca kalimat
tak terduga di dalamnya.
‘Bisa kita
ngobrol sebentar soal Kazuki?’
Pikirannya
langsung kosong seketika. Ia baru saja memikirkan pemuda itu, membuat pesan
tersebut terasa begitu menohok.
Momoka tidak
pernah membahas tentang Kazuki dengan cara seperti ini sebelumnya. Airi bahkan
tidak bisa membayangkan apa sebenarnya maksud dari pesan itu.
Jemarinya yang
gemetar sempat mengetik kata ‘Ada’ dan ‘Tumben banget’ sebelum akhirnya ia
hapus kembali. Pikirannya berputar kacau, bingung bagaimana harus merespons.
Akhirnya,
didorong oleh kepanikan yang kian memuncak, ia menekan tombol panggil sambil
mendekatkan tangan ke dadanya.
"…Yo,
Airin."
"Momocchi-senpai,
ada apa sebenarnya dengan Kazukichi?"
"Hm, mungkin
aku salah paham sih, tapi... bisa dibilang begitu."
"Momocchi-senpai!"
"!"
Mendengar hela
napas tajam Momoka di seberang telepon berhasil menarik kesadaran Airi kembali.
Ia bahkan tidak
menyadari betapa paniknya ia tadi, suaranya yang terlalu kencang bahkan
mengejutkan dirinya sendiri, terutama karena Momoka tampak ragu-ragu dan tidak
biasanya begitu lambat langsung pada intinya.
"…"
"…"
Keheningan yang
canggung meliputi sambungan telepon itu.
Airi ternyata
jauh lebih tegang dari yang ia duga.
Sambil
bergumam "Um" dan "Begini", ia berbicara perlahan.
"…Ada apa
sebenarnya?"
"Nggak ada
apa-apa sih... Mungkin cuma perasaan cemas-ku saja."
"Maksud
Kakak?"
"Dia
kelihatan agak murung. Kayak... waktu itu."
"…Huh?"
"Bagaimana
kalau teman-teman SMA-nya membully—”
"Nggak
mungkin. Hal itu mustahil terjadi."
Airi
langsung memotong ucapannya dengan tegas.
Dari
hasil perbincangannya dengan teman-teman Kazuki, ia tahu betul bahwa mereka
bukanlah tipe orang yang suka merendahkan orang lain. Sikap Kazuki belakangan
ini juga menjadi bukti nyata hal tersebut.
Bukan
hanya soal teman-temannya.
Ia
teringat saat tak sengaja berpapasan dengan mereka belum lama ini, ketika
seorang pria mabuk mencoba mengganggu mereka.
Kepercayaan
diri Kazuki yang tidak tergoyahkan pada teman-temannya serta senyuman
tulusnya—sesuatu yang tidak pernah ia lihat bahkan semasa SMP—begitu menonjol.
Sebuah
senyuman yang tidak pernah bisa ia munculkan selama ia berstatus sebagai pacar
penu-paranya.
Itu pasti karena
ikatan di antara mereka adalah sesuatu yang nyata.
Lalu, bayangan
gadis yang mengaku menyukai seseorang melintas di benaknya.
Gadis itu begitu
jujur dan apa adanya.
Tidak seperti
dirinya, gadis itu pasti bisa mengucapkan kata-kata yang tepat.
Siapa sebenarnya
orang yang disukai gadis itu?
Rasa sakit yang
tajam menusuk dada Airi.
Keraguan dan
secercah harapan bergelung menjadi satu, memenuhinya dengan rasa takut
sekaligus keterdesakan yang luar biasa.
Ia ingin segera
bertindak, namun masa lalunya sebagai pacar pura-pura terus memberatkan
langkahnya.
Suara Momoka yang
terdengar begitu serius akhirnya memecah keheningan.
"Aku
ingin bertemu dengan teman-teman Kazuki."



Post a Comment