Chapter 3
Burung
Sayap Seirama, Cabang Pohon yang Bertaut
Beberapa waktu setelah keributan kelahiran domba.
Gunung di Tsukinose pada hari itu terasa begitu sunyi,
namun di waktu yang sama juga menyisakan ketegangan yang samar di udara.
Tepat saat matahari mulai condong ke arah gunung di
sebelah barat.
Kamar Saki, salah satu ruangan di rumah keluarga Murao
yang terletak di sebelah kuil di bagian tengah gunung.
Di sana, Haruki dan Saki sedang menggerakkan tangan
mereka dengan ekspresi serius di tengah suasana yang dipenuhi ketegangan
layaknya suasana gunung. Di lantai dekat mereka berserakan kain, tali, dan
berbagai peralatan menjahit.
"Ehm, potong kainnya sedikit lebih besar
menyesuaikan pola, lalu..."
Barang yang sedang dibuat oleh Haruki adalah dompet
ponsel lipat.
Ia sedang mencocokkan kain bermotif kucing calico dengan
pola kertas lalu memotongnya secara hati-hati.
"Ugh, keras sekali, tapiii~!"
Barang yang sedang dibuat oleh Saki adalah sebuah apron.
Proses pembuatannya sendiri sebenarnya sederhana, tetapi
karena terasa terlalu biasa, ia berjuang keras mencoba menjahitkan sulaman
berbentuk rubah secara manual.
Masing-masing dari barang tersebut adalah hadiah ulang
tahun untuk Hayato. Sambil sesekali saling mencocokkan apakah cara pembuatan
yang mereka cari di internet sudah benar, mereka melanjutkan pekerjaan.
Tepat pada saat itu, angin kencang bertiup kencang di
luar.
Jendela berderit keras seolah dihantam oleh angin,
bersamaan dengan itu, cahaya senja yang kemerahan menyusup masuk ke dalam
kamar, seolah awan-awan telah tersapu bersih.
"Wah, sudah sore!"
"Ngh~, lanjutannya kita sambung malam nanti saja,
ya."
Mengikuti perkataan Saki, Haruki menghentikan tangannya
lalu mengangkat kedua lengannya dan meregangkan tubuhnya lebar-lebar hingga
bahunya berbunyi "krik".
Sejak datang ke Tsukinose, ia memanfaatkan waktu senggang
untuk melanjutkan pembuatan kerajinan tangan ini, dan hari ini ia terus bekerja
tanpa henti sejak siang hari. Haruki menatap dompet ponsel yang bentuknya sudah
mulai terlihat rapi sambil bergumam penuh kesan.
"Hm, sebentar lagi selesai, ya."
"Ngomong-ngomong... Kakak, apa dia akan
menerimanya dengan baik?"
"...Eh?"
Tiba-tiba, Saki menghentikan tangannya pada apron
yang belum selesai dan melontarkan kata-kata yang memancarkan keraguan.
Suara aneh lolos dari mulut Haruki, dan matanya pun
terbuka lebar.
Mendapatkan tatapan seperti itu dari Haruki, Saki
buru-buru merangkai kata-kata pembelaan.
"I-ini pertama kalinya aku memberikan hadiah seperti
ini, dan sampai sekarang kami juga hampir tidak pernah punya titik interaksi,
jadi aku khawatir kalau tiba-tiba memberikannya nanti akan dianggap
aneh..."
"Hmm, Hayato itu kan suka pakai sabun atau handuk
hadiah gratisan, atau piring hadiah dari kupon undian, jadi kurasa dia tipe
yang suka barang-barang fungsional seperti ini dan bakal senang-senang saja
kok?"
"Itu... meskipun dia menerimanya, tapi karena ini
dari Hime-chan atau lebih tepatnya dari temannya adik perempuan, aku takut dia
malah merasa tidak enak dan jadi terpaksa memakainya atau malah tidak dipakai
sama sekali..."
"Ahaha, Hayato itu nggak punya kepekaan sampai harus
peduli siapa yang memberinya barang saat memakainya, pokoknya selama masih bisa
dipakai ya dipakai semua kok!"
Haruki tertawa terkekeh-kekeh sambil melambaikan
tangannya pelan, membuat Saki sedikit mengerutkan alisnya dan menyipitkan mata,
lalu melontarkan suara yang diwarnai sedikit rasa iri.
"...Bisa mengatakannya dengan seyakin itu, aku jadi
merasa sedikit iri."
"Ah..."
Haruki mendadak kehabisan kata-kata di situ.
Di dalam retinanya, Saki tampak begitu kesepian.
Meskipun ingin menegurnya, ia tidak tahu harus berkata
apa. Alisnya berkerut dalam.
"M-maafkan aku, tiba-tiba ngomong hal aneh
begitu...!"
"Tidak-tidak, anu itu, eh..."
Melihat Saki menunduk malu dengan ekspresi sedih,
Haruki berusaha keras merangkai kata-kata di dalam kepalanya, namun tidak ada
satu pun kalimat yang tepat muncul.
Hmm, ia bergumam sejenak sambil berpikir. Ia kembali
menatap Saki.
Meskipun masih menyisakan kesan keanak-anakan,
wajahnya yang cantik dan tertata, berpadu dengan warna kulit serta rambutnya
yang cerah, menjadikannya seorang gadis jelita yang memancarkan nuansa
misterius.
Meskipun dadanya tidak sebesar Minamo, bentuk
tubuhnya tetap proporsional dan tertata dengan baik.
Kepribadiannya serius dan hangat, tidak hanya
mendukung Hayato dari balik layar maupun secara langsung, tetapi ia juga sering
melihat sendiri bagaimana Saki sangat dicintai oleh para penduduk Tsukinose.
Ya, dia adalah anak yang baik.
Jika dilihat dari sudut pandang orang lain,
pendekatan Saki kepada Hayato tergolong sangat halus dan tidak mencolok.
Kata-kata langsung yang mereka tukarkan terhitung
sedikit, tetapi dalam urusan memasak atau barbekyu, ia selalu menyiapkan
peralatan yang diperlukan di dekatnya, atau saat domba melahirkan ia
menghubungi dokter hewan dan rumah yang memiliki perlengkapan untuk melakukan
persiapan dari belakang layar secara diam-diam tanpa sepengetahuan Hayato.
Bagi Hayato sendiri, hal itu mungkin sulit disadari.
Tetapi jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga yang
berada selangkah lebih jauh, sudah sangat jelas bahwa Saki menaruh perhatian
besar padanya.
Perasaan di dalam dadanya terasa rumit. Justru karena
itulah ada hal yang membuatnya penasaran, hingga perasaan yang membuncah dengan
cepat itu tiba-tiba berubah bentuk dan melompat keluar dari bibirnya.
"Saki-chan, sejak kapan kamu mulai... perhatian sama
Hayato?"
"!? Eh, anu, u~... m, sejak kapannya sendiri sih
samar-samar, tapi kalau pemicunya..."
"Pemicunya?"
"Iya..."
Wajah Saki berubah menjadi merah padam dalam sekejap.
Ia bergerak gelisah seraya menggambar huruf di atas
tatami menggunakan jari telunjuknya.
Ia melirik sesekali, tampak malu-malu, namun di sisi lain
ia memamerkan harta berharga miliknya dengan sedikit rasa bangga, seolah ingin
mengatakan bahwa hal ini adalah rahasia dari orang lain.
"......Aku pernah dipuji."
"Eh...?"
"Kagura yang kulakukan tanpa tahu untuk apa
tujuannya, dibilang indah dan keren oleh seseorang untuk pertama kalinya, dan
orang itu adalah Kakak."
"...! Begitu, ya..."
Saki tersenyum malu-malu sambil meletakkan tangan di
dadanya dan memejamkan mata.
Itu adalah senyuman yang begitu indah hingga membuat
orang terpana──lalu ia mengerutkan alisnya dengan nada mencela diri sendiri.
"Hal sesederhana itu. Tapi bagiku itu hal yang
sangat besar... ahaha, bodoh banget, ya."
"Uuun, nggak kok, nggak sama sekali!"
Haruki secara refleks meraih dan menggenggam tangan
Saki erat-erat.
Suasana yang mengalir di antara mereka mendadak
terasa begitu panas.
Namun, ia tidak tahu harus mengucapkan apa. Dadanya
terasa nyeri dan sesak.
Satu hal yang pasti, bagi Haruki, ia tidak bisa
menganggap Saki—yang memendam perasaan setulus ini—sebagai urusan orang lain.
"Nih, lihat deh, Haru-neechan!"
““…!?””
Pada saat itu, pintu fusuma kamar Saki tiba-tiba terbuka
dengan keras. Keduanya buru-buru mengambil jarak.
Sosok yang muncul adalah Kinta.
Di tangannya terlihat sebuah akuakarium kecil yang
dihiasi pasir serta kerikil menyerupai taman, dengan beberapa ekor kepiting
sungai yang sedang merayap di dalamnya.
"Kinta-kun, Akuakarium Kepiting Sungainya sudah
jadi, ya."
"Iya, mahakarya!"
"Wah, lucu sekali."
Ini adalah ide yang sempat disarankan oleh Haruki agar
Kinta memiliki tempat untuk menaruh kepiting sungai yang berhasil ditangkapnya.
Rupanya selama Haruki dan Saki membuat hadiah, Kinta
sibuk mengerjakan hal ini.
"Kolam yang dilingkari batu ini bagian
terbaiknya──!"
Sikapnya yang sedikit malu-malu namun memancarkan rasa
bangga itu sangat mirip dengan sang sepupu, Saki.
Haruki dan Saki saling berpandangan sambil melepaskan
tawa kecil, lalu tersenyum satu sama lain.
Demi menyelesaikan hadiah ulang tahun tersebut, hari itu
mereka kembali bekerja keras hingga larut malam.
Tanpa sadar, Haruki berdiri di sebuah ruang abu-abu yang
temaram.
Ia menengok ke sekeliling, tetapi tidak ada apa-apa, ia
sendirian di dunia ini.
Ia merasakan sesak napas di dadanya.
Untuk melarikan diri dari perasaan itu, ia ingin pergi ke
suatu tempat yang bukan di sini.
Tetapi ia tidak tahu harus berbuat apa.
Di tengah udara berat yang melilit tubuhnya, ia terus
menunduk dan berusaha menggapai sesuatu dengan putus asa bagaikan orang yang
meronta di dalam air.
Namun tidak ada satupun yang bisa ia raih.
Hal sia-sia itu terus berulang.
Tidak ada satu pun yang terpampang di matanya, dan
hatinya semakin terkikis.
"Haruki, lewat sini!"
"──Eh?"
Tiba-tiba, tangannya digenggam erat.
Tanpa mempedulikan Haruki yang kebingungan, ia ditarik
secara paksa.
Ia mendongak untuk melihat siapa pelakunya, dan cahaya
pun menerobos masuk──
"──Mimpi."
Kesadaran Haruki akhirnya kembali ke permukaan.
Entah apakah hari sudah hampir fajar, celah tirai kedap
cahaya menyalurkan secercah sinar matahari pagi yang lemah dan baru saja
terbit.
Ketika ia mengedarkan pandangan dengan kepala yang masih
pening karena baru bangun tidur, sebuah kamar tradisional Jepang asing yang
temaram menyapa penglihatannya. Di atas meja rendah terdapat apron dan dompet
ponsel.
Barang-barang itu adalah hasil karya yang ia selesaikan
bersama Saki hingga larut malam kemarin.
"Oh begitu, benar juga... eh, tunggu, Saki-chan
mana...?"
Barulah pada saat itu Haruki teringat bahwa ia tidur di
kamar Saki semalam.
Tetapi pemilik kamar itu tidak ada di tempat. Futonnya sudah dilipat dengan rapi.
Ia memeriksa waktu dan mendapati hari masih belum
menunjukkan pukul enam pagi. Sebenarnya ini masih waktu yang pas untuk tidur
kembali, tetapi rasa mengantuknya sudah menguap entah ke mana.
Lebih dari itu, ia mengkhawatirkan keberadaan Saki. Ia melangkah keluar kamar secara perlahan.
"Gelap banget..."
Ia bergumam pelan. Lorong masih gelap dan sunyi
senyap, membuat pijakannya terasa tidak pasti.
Haruki menyentuh dinding sebagai pegangan sambil
melangkah dengan waspada mengamati sekitar.
Namun, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan orang
di kamar manapun.
Setibanya di area pintu masuk, ia menyadari bahwa sandal
milik Saki tidak ada di rak.
"Apa dia pergi ke luar... ah, uwopp!"
Begitu pintu depan dibuka, angin kencang berembus kencang
hingga membuat rambut panjang Haruki berhamburan.
Ketika ia mendongak ke langit, awan mendung yang pekat
tampak berarak cepat dari arah selatan.
"Ah benar juga, waktu itu Minamo-chan juga bilang
kalau badai sedang mendekat, ya..."
Haruki berjalan melewati halaman kuil sambil menahan
rambutnya agar tidak tersapu angin.
Pohon-pohon berderit gelisah diterpa angin, dan bangunan
kuil tua itu mengeluarkan suara erangan pelan. Suara itu terdengar seolah
sedang meratapi kedatangan badai.
Di tengah suasana gunung yang menampilkan pemandangan
agak menyeramkan itu, bangunan utama kuil tampak berdiri dengan tenang.
Haruki melangkah mendekatinya seolah ditarik oleh suatu
kekuatan──
"…!?"
──Lalu sedetik kemudian, ia terpaku dan menahan napas
saat atmosfer di sekitarnya berubah menjadi begitu suci.
Pandangannya tertuju ke bagian dalam bangunan utama,
tepatnya di atas lantai kayu yang berada di depan altar pada area yang lebih
tinggi.
Di sanalah Saki, seorang gadis misterius berbusana Miko,
menarikan tarian Kagura, membuat kesadaran Haruki tersedot sepenuhnya ke
dalam dunia yang diciptakan oleh gadis itu.
Lengan baju yang terayun anggun, langkah kaki yang
dibawakan secara khidmat, diselingi dengan suara lonceng Rin yang
jernih. Serta ekspresi Saki yang berubah-ubah.
Ritual keagamaan. Tarian yang dipersembahkan kepada dewa
penjaga.
Seharusnya memang seperti itu, tetapi entah mengapa di
mata Haruki tontonan itu tampak seperti sebuah drama.
Sebuah kisah tragis tentang dewa bumi yang jatuh cinta
kepada dewa surgawi yang mengunjungi dan memakmurkan tanah ini, sebelum
akhirnya pergi meninggalkan tempat itu. Kisah cinta seorang gadis yang tidak
bisa menahan rasa rindunya meskipun ia tahu perpisahan itu pasti akan datang.
Perasaan yang membakar jiwa, keraguan yang menyiksa
akibat posisi mereka, serta ketakutan akan perpisahan yang tak terhindarkan.
Semua emosi itu digambarkan dengan begitu jelas oleh Saki
seorang diri.
Ia merasa terpesona.
Bahkan untuk sekadar bernapas pun ia lupa, terpaku
menyaksikannya.
Tubuhnya kaku seolah terpaku di tempat, tidak bisa
mengalihkan pandangan.
Ah, pantas saja Hayato memujinya.
Di sana terpancar panas dan gairah nyata yang tidak
mungkin bisa diciptakan hanya melalui teknik akting semata.
Dibandingkan dengan penampilannya sendiri, betapa
dangkalnya apa yang ia miliki selama ini.
Ia merasa sekujur tubuhnya terbakar oleh pijaran cahaya
yang dilepaskan oleh Saki.
Hal yang terlintas kembali di benaknya adalah kata-kata
semalam.
"......Aku pernah dipuji."
Dan wajah Saki pada saat itu begitu cantik dan manis,
sangat cocok diasosiasikan dengan kata gadis seutuhnya. Sekalipun ia mencoba
untuk menirukan ekspresi tersebut, hasilnya pasti hanya akan menjadi tiruan
murahan.
──Ya, ia menyadarinya secara naluriah.
Karena perasaan yang terkandung di dalam tarian itu
adalah──
"──Ah."
Jantung Haruki berdegup kencang. Dadanya bergemuruh
hingga terasa nyeri.
Ia menggertakkan giginya, mencengkeram erat bagian dada
kemejanya, dan dalam gerakan refleks itu ia menyenggol sapu yang tersandar
hingga jatuh.
"Siapa di situ──!?"
"......!"
Saki menyadari keberadaannya.
Pikiran di dalam kepalanya kacau bagaikan badai,
membuatnya sulit berpikir jernih.
Sebenarnya tidak ada masalah besar sekiranya ia ketahuan
berada di sini.
Namun Haruki tidak tahu harus memasang ekspresi seperti
apa.
Itulah sebabnya ia memilih untuk berbalik dan berlari
melarikan diri dari tempat itu.
"Apa yang sedang kulakukan..."
Meninggalkan kuil, Haruki berjalan tanpa tujuan di area
Tsukinose.
Berbeda dari perkotaan, jalanan yang tidak diaspal itu
dipenuhi oleh batu-batu kerikil kecil yang berserakan.
Ketika ia menendang ringan salah satu batu yang menarik
perhatiannya dengan ujung sepatu, batu itu terpental dan hilang di antara
rumput liar pematang sawah.
Ia menghela napas panjang lalu menengadah ke langit, di
mana langit biru utara yang tadinya tampak begitu jernih kini mulai terkikis
oleh awan tipis yang datang bersama udara lembab dari barat daya.
Sinar matahari terasa lemah, dan desa itu terasa sangat
sunyi.
Ia melewati kandang ayam yang biasanya selalu bising,
tetapi meskipun ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya, suasana di sana terasa
begitu sepi.
"......Ah."
Ia tadinya berniat berjalan tanpa tujuan. Namun
pemandangan yang menyambut pandangan Haruki adalah area persimpangan lima jalan
yang membentang di berbagai sudut Tsukinose, di sudut lapangan kosong, tepat di
samping satu-satunya kotak pos di desa ini.
Ia mencengkeram erat bagian dada kemejanya hingga
berkerut.
Tempat ini adalah lokasi di mana Haruki kecil dahulu
mencari tempat bernaung, namun tidak bisa pergi ke mana-mana, dan hanya bisa
duduk memeluk lututnya sendiri.
Dan juga──
"Haruki?"
"Hayato...?"
Pada saat itu, suara decitan rem sepeda berbunyi nyaring.
Ketika ia mengarahkan pandangannya ke asal suara, sosok
Hayato terlihat di sana.
Keduanya saling mengerjap-ngerjapkan mata dengan ekspresi
terkejut seolah melihat hantu.
"Ada apa tumben sekali pagi-pagi begini di sini?
Jalan-jalan? Tapi pakaianmu masih baju tidur begitu."
"Ah, ahaha, ya sekadar jalan-jalan saja. Hayato
sendiri kenapa pagi-pagi buta begini?"
"Aku mau mengecek ladang Kakek Gen. Maklum, Kakek
tinggal sendiri, jadi kalau ada badai aku selalu bantu persiapan
pencegahannya."
"Eh, begitu ya. Khas Hayato banget, deh."
"Khas aku maksudnya apa."
"Ya sesuai arti kalimatnya, ahah."
Haruki tertawa kecil sambil tersenyum simpul.
Melihat ke dalam keranjang sepedanya, ia mendapati
sarung tangan kerja dan sekop kecil miliknya.
Hayato mengerutkan alisnya dengan ekspresi keheranan.
"Ngomong-ngomong, Minamo-chan kemarin juga
bilang mau bersiap menghadapi badai. Hei, persiapan badai itu sebenarnya
ngapain saja sih?"
"Menumpuk tanah di sekitar tanaman supaya tidak
tumbang, melancarkan saluran air, memasang jaring pelindung angin, memperkuat
tiang penyangga, lalu memanen apa saja yang sudah bisa dipetik, ya kurang lebih
seperti itulah."
"Begitu yaー"
Haruki melipat tangan di dada sambil mengangguk
paham. Mendengarnya saja sudah terdengar melelahkan.
Jika begitu, bantuan tenaga sebanyak apapun tentu
tidak akan ada yang terbuang sia-sia.
Lagipula, ia baru saja kabur dari kuil tanpa pamit.
Mengatakan bahwa ia membantu persiapan badai ladang akan
memberikannya alasan yang pas saat kembali ke rumah Saki nanti.
"Hei, Haya... Hayato...?"
Ketika Haruki mendongak dan memanggilnya, ia menyadari
pandangan Hayato terarah ke sebelah kotak pos.
Tatapan matanya tampak begitu serius dan tajam, dipenuhi
oleh nuansa kerinduan, membuat dada Haruki bergetar hebat.
"......"
"......"
Entah mengapa mereka berdua mendadak terdiam seribu
bahasa.
Keduanya hanya terpaku menatap tempat itu dalam diam.
Mereka pasti sedang memikirkan hal yang sama.
"Dulu, aku pertama kalinya ketemu Haruki di sini,
kan."
"......Iya, aku ingat banget."
"Tempat ini, di satu sisi adalah tempat paling
mencolok di Tsukinose."
"Dulu aku duduk melukiskan tampang minta dikasihani
sambil memeluk lutut di tempat seperti ini, bodoh banget ya."
"Waktu pertama lihat, aku sempat mikir, 'Nih anak
apa-apaan?'."
"......Ahaha."
Hayato tertawa kecil penuh kepahitan.
Haruki yang teringat masa lalu itu ikut tersenyum pahit
dengan wajah merona merah.
Kalau dibilang masa anak-anak ya memang benar, tapi ia
merasa kelakuannya dulu sungguh kekanak-kanakan.
Ia merasa begitu menderita, begitu sesak, tidak bisa
mempercayai siapapun, tetapi di sisi lain sangat ingin ditolong oleh seseorang.
Saat itu, ia tidak tahu harus berbuat apa selain duduk di
tempat ini.
Lalu, apa yang ia rasakan ketika pertama kali disapa oleh
Hayato?
"Waktu itu, aku merasa... sebal banget sama
Haruki."
"Hayato?"
"Kenapa dia pasang muka seolah menyerah pada
segalanya, kenapa dia mengeluarkan aura semalang itu, dan sebenarnya apa sih
yang bikin dia kesal, gitu."
"Itu..."
Tiba-tiba Hayato mendekatkan wajahnya untuk mengintip
ekspresi Haruki.
Dengan tatapan mata tajam nan serius yang dipenuhi warna
kerinduan, sama seperti tadi.
Setelah mengamatinya sejenak, Hayato menyunggingkan
senyuman usil.
"Dan entah kenapa, Haruki yang sekarang juga bikin
aku sebal, nih!"
"Hya!?"
Lalu lengannya ditarik secara paksa hingga ia terdorong
mendekat.
Sebelum ia sempat kebingungan karena disuruh duduk di
boncengan belakang sepeda, Hayato langsung mengayuh pedal sepedanya tanpa
mempedulikan kebingungan Haruki.
"Pegang yang bener, yaー!"
"Hayatoー!?"
Membonceng Haruki di sepedanya, Hayato mengayuh pedal
dengan penuh semangat.
Jalanan yang tidak diaspal sempurna itu berguncang
tidak stabil.
Meskipun begitu, Hayato melaju dengan kecepatan yang
cukup tinggi.
Kotak pos itu dengan cepatnya tertinggal di belakang,
digantikan oleh pemandangan sawah hijau asri yang membentang di sekeliling
mereka.
Haruki mengeratkan pegangannya pada pinggang Hayato
agar tidak terjatuh, lalu berseru melayangkan protes.
"Woi, Hayato, kecepatan banget tahu
tidak!?"
"Kalau nggak cepat nanti nggak bisa jaga
keseimbangan!"
"Terus kenapa malah lewat jalan pertanian begini
sih!?"
"Ya iyalah, kalau kita boncengan di jalan raya nanti
bisa ditangkap polisi!"
"Di sini jangankan polisi, patroli saja pakai relawan pamong praja desa, lagian pos polisi terdekat kan harus melewati beberapa gunung dulu tahu!"
"Ha-ha, benar juga!"
"Sumpah ya ampunー!"
Di tengah obrolan tersebut, sepeda terus membawa
Haruki dan Hayato melaju.
Kemudian, sebuah sungai kecil tampak di depan mata.
Sebuah jembatan kecil untuk pejalan kaki yang tidak asing
di daerah ini, dengan tinggi setara gudang penyimpanan dari permukaan air, dan
panjang seukuran jalur penyeberangan dua jalur.
"Ngomong-ngomong Haruki, dulu kamu sering banget
melompat dari jembatan itu ke sungai! Sambil pasang pose aneh lagi!"
"…! A-
itu... i-itu karena aku nonton acara TV terus..."
"Ha-ha, aku juga sampai ikut diseret melompat dan
basah kuyup!"
"K- kesegarannya tuh luar biasa lho, makanya aku
mikir kalau hal ini harus diajarin ke Hayato juga!"
"Kalau dipikir-pikir sekarang, itu hal yang cukup
berbahaya yaー!"
"A- anak kecil kan memang begituuu!"
Ketika diungkit kembali masa kecilnya dengan nada
menggoda, Haruki mengeratkan genggaman tangannya di pinggang Hayato sebagai
bentuk protes.
Mungkin merasa tingkah Haruki itu lucu, Hayato
menggelengkan bahunya sambil tertawa kecil lalu melewati jembatan tersebut.
Ia melaju menyusuri jalan di tepi gunung dengan
membelakangi sungai, menuju ke arah timur tempat perkotaan berada.
Tak lama kemudian, sebuah pabrik terbengkalai
berukuran sebesar sekolah yang terbuat dari atap seng serta area penyimpanan
material terlihat.
"Nostalgia banget, ya! Tempat itu tadinya pabrik
pengolahan kayu atau semacamnya, kan? Kita sering banget menyelinap masuk ke
dalam buat eksplorasi!"
"Bukankah Hayato dulu sempat hobi bikin pedang
kayu dari sisa bahan bangunan?"
"Iya, bikin berbagai macam pedang, eh tapi
Haruki juga bikin barang yang dekorasinya ribet banget, kan? Kalau tidak salah Dark Star Shining Sword Claiomh Solais Asuramuru!"
"Kyaaaaaaaー!!??! Padahal itu masa laluku tapi kenapa kamu masih ingat, dan lagi
Hayato sendiri kan juga bikin Mistilteinn Juggernaut X1OA! X1OA
itu dapat dari mana asalnya?!"
"…!?
I- itu kan cuma anu, anu, anu! Lagian mending kita lupakan saja masa
itu!?"
"Padahal kamu sendiri yang bawa-bawa topik ini, ya
ampunー!"
"Ha-ha, a-hahahaha!"
"…………Aha!"
Tanpa sadar, saat mereka melewati pabrik terbengkalai
itu, keduanya sudah tertawa bersama. Sama seperti di masa lalu.
Setelah itu, mereka terus mengayuh sepeda sambil membahas
hal-hal konyol.
Dari pemandangan yang terlihat di atas sepeda, jumlah
rumah penduduk semakin lama semakin berkurang.
Segera setelahnya, sebuah kuil persimpangan kecil yang
terletak dekat pintu masuk jalan pegunungan di pinggiran desa mulai terlihat.
Itu adalah kuil kecil yang sudah ada sejak zaman dulu,
hanya berupa atap yang menaungi enam patung Jizo.
Tempat itu adalah kaki gunung yang mengelilingi
Tsukinose, dengan deretan pohon-pohon lebat membentang di belakangnya.
Hayato menghentikan sepedanya di sana lalu turun, dan
Haruki mengikuti tindakannya.
Lalu Hayato menyipitkan matanya, bergumam pelan dengan
nada suara yang terdengar begitu bernostalgia.
"Ngomong-ngomong, kita pernah lho lari sampai sini
demi mengejar domba Kakek Gen yang kabur. Untung saja dombanya tidak kabur ke
arah gunung."
"Enam Jizo di kuil persimpangan ini, konon katanya
berada di perbatasan pemukiman manusia dan bertugas menjaga desa. Makanya
mungkin domba-domba itu cuma berani sampai batas sini."
"Mungkin juga ya, tapi kamu tahu banyak juga ya,
khas murid teladan. Ngomong-ngomong, Himeko yang waktu itu disuruh pergi
manggil Kakek Gen sempat nyasar di tengah jalan, kan."
"Iya benar, waktu dia ketemu Kakek Gen pas lagi
nangis-nangisnya, dia langsung diajak naik mobil pikap bersamaan."
"Habis itu, pas pulang ke rumah dia masih nangis gak
berhenti-berhenti, 'Dombaaa, tersesaattt, uwaaaan', sampai-sampai dia dimarahin
gara-gara bikin adiknya nangis."
"Aha, ekspresinya waktu itu langsung terbayang di
kepalaku."
Menutup mata, bayangan yang terprotes di balik kelopak
matanya adalah Hayato yang dimarahi oleh sang ibu Mayumi dengan mata
berkaca-kaca, serta Himeko yang menangis tanpa henti di sampingnya. Pemandangan
itu pasti sering dijumpai di keluarga mana pun.
Hanya dengan membayangkannya saja sudah terasa begitu
menghangatkan hati. Sudut bibirnya pun melunak.
Namun sebaliknya, bagaimana dengan diriku di masa lalu?
"Lagi-lagi pulang dengan pakaian kotor begini!
Kamu tidak tahu betapa repotnya mencuci pakaian, ya!"
Tinju kuku sang kakek dan nenek melayang diiringi
omelan.
Pipi yang terasa panas, serta lorong yang gelap.
Empat pasang mata yang memandang rendah tanpa emosi.
Tidak ada satupun kenangan manis yang tertinggal.
Sudah berapa kali ia menyelinap keluar rumah di malam
hari demi mencari sisa-sisa kenangan siang hari, lalu menuju ke markas rahasia
di kuil.
Tanpa sadar, ia mengepalkan tinjunya. Alis di wajahnya
yang menunduk terukir kerutan dalam.
Lalu saat ia membuka mata, tatapannya beradu dengan
Hayato yang sedang mengintip ke arahnya.
"Aku tuh ya, sejak Haruki pergi, jadi mulai naik
sepeda, badan jadi lebih besar, staminanya nambah, dan jadi paham geografi.
Bisa pergi ke mana saja. ......Tapi, cuma itu doang. Kalau sendirian, aku nggak
ngapa-ngapain dan nggak bisa berbuat apa-apa."
"Eh, ah... iya?"
"Kalau dipikir-pikir, kuil persimpangan ini, pabrik
terbengkalai tadi, dan berbagai tempat di dalam gunung... bahkan di kota
seberang sana juga sama. Karaoke, bioskop, kolam renang, sampai kerja paruh
waktu. Kapan pun aku pergi ke tempat baru atau melakukan hal baru, aku selalu
bareng sama Haruki."
"Haya, to...?"
Hayato bergumam dengan sedikit nada mencela diri sendiri,
lalu saat ia tiba-tiba mengerutkan alisnya, ia menggaruk-garuk kepalanya dengan
kasar. Kemudian ia mengarahkan pandangannya ke arah pegunungan di hadapan yang
memisahkan desa tersebut.
Ekspresinya tidak bisa dilihat oleh Haruki. Ia pun ikut
mengalihkan pandangannya ke arah gunung.
Gunung yang besar. Lebih tinggi dari gunung manapun yang
pernah ia lihat di kota, dan menjadi pembatas antara dunia luar dengan
Tsukinose.
"Aku ini... pasti orang kerdil yang nggak bisa
ngapa-ngapain kalau sendirian. Tapi... eh, makanya, sekarang ayo kita coba
pergi menyeberangi gunung ini, Partner!"
"…………Eh?"
Mendengar ajakan yang tiba-tiba itu, Haruki
mengerjap-ngerjapkan matanya.
Itu adalah usulan yang mendadak dan sama sekali tidak
masuk akal.
Hayato yang berbalik menghadapnya menampilkan senyuman
usil yang polos seperti anak kecil.
Sungguh sama sekali tidak bisa dimengerti.
Tetapi ketika ia dipanggil dengan sebutan Partner dan
sebuah tangan diulurkan, tanpa ragu ia secara refleks menyambutnya. Mustahil
baginya untuk menolak.
Dan yang terpenting, ia paling tidak mengerti mengapa
jantungnya sendiri malah berdegup kencang meluap-luap.
"YOSH, berangkatー!"
"Eh, sebentar, tunggu duluー!"
Tangannya ditarik, dan roda sepeda kembali berputar.
Gunung yang mengelilingi Tsukinose, salah satu jalur
lintasan pegunungan yang melewatinya.
Menelusuri jalan menanjak yang berkelok-kelok itu, Hayato
mengayuh pedal sepedanya sambil menggertakkan gigi.
"Ughuaaaahhhhhoooohhhh!"
"Kamu tidak apa-apa!? Aku turun saja, ya!?"
"Nggak, nggak apa-apa! Lagian kalau nurunin Haruki
di sini rasanya kayak ngaku kalah!"
"Aha, kalau dibilang begitu rasanya aku jadi paham
sampai nggak bisa komentar apa-apa!"
Berdiri di atas pijakan kaki belakang dan meletakkan
tangan di pundak Hayato, Haruki tertawa.
Ini adalah jalan yang baru pertama kali ia lewati.
Entah ini jalan setapak hutan atau jalan prefektur,
jalannya tidak diaspal maupun dirawat dengan benar, bahkan sesekali batu-batu
sebesar bola basket menghalangi jalan mereka.
Melintasi jalur yang begitu terjal itu, Haruki dan Hayato
mengayuh sepeda sambil tertawa seolah menganggapnya lucu.
Di bawah, terbentang lembah, sungai, dan pepohonan tanpa
batas.
Jantungnya berdebar antusias melihat pemandangan asing.
Tawa meruap secara alami dari dalam diri.
Ini benar-benar sebuah petualangan.
Langit timur masih membentang biru jernih, dan cahaya
matahari yang mulai naik ke puncak langit menyusup menembus celah-celah
pepohonan. Tiupan angin dari barat daya yang berhembus sesekali juga menjadi
angin penunjang.
"Uwah!?"
"Kyaa!?"
Tiba-tiba seekor rusa melompat keluar dari dalam hutan.
Hayato dengan panik menarik rem darurat, dan Haruki
melompat turun seolah terbang ke belakang.
Rusa itu pun terkejut dan membeku di tempat, membuat
keduanya saling bertatapan.
Namun hal itu hanya berlangsung sesaat, rusa tersebut
melirik mereka sekilas lalu melompat masuk ke dalam semak-semak di sisi lembah.
Hayato yang sempat terpana sesaat bergumam pelan.
"...Nggak nyangka bakal disetir ugal-ugalan sama
rusa."
"Pufft! Ngomong apa sih Hayato, disetir
ugal-ugalan sama rusa!"
"Hal kayak gini cuma ada di Tsukinose sih,
ha-ha."
"Iya benar, kan jalanan desa, aha!"
Haruki dan Saki saling bertukar pandang lalu tertawa
bersama.
Ini pasti akan menjadi bahan cerita kenang-kenangan yang
bagus saat kembali ke kota nanti.
Setelah puas tertawa, mereka menegakkan kembali sepeda
dan bersiap untuk menjalankannya lagi.
Namun memulai perjalanan berboncengan di jalur menanjak
ternyata cukup sulit.
Setelah mengulang uji coba penuh perjuangan, mereka
akhirnya berhasil melaju kembali dengan cara akrobatik di mana Haruki mendorong
bagasi belakang dari bawah untuk menambah kecepatan lalu melompat naik.
"Keterampilanmu hebat juga, atau lebih tepatnya kamu
ini monyet!"
"Heh, siapa yang kamu bilang monyet, gorila,
ceroboh!?"
"Aku nggak bilang sejauh itu!"
"Enak saja, tadi kamu ngomong begitu di dalam
hati!"
"Mana bisa isi hatiku dibaca! Kalau bisa dibaca,
coba tebak apa yang lagi aku pikirin sekarang!"
"'Kalau pakai motor matic pasti lebih gampang nanjak
bukit gini... Pokoknya harus cepet-cepet ambil SIM terus beli motor matic, yang
bekas aja yang murah!' begitu, kan!?"
"...Hampir tepat sasaran, maksudku kenapa kamu bisa
tahu."
"Fuhihi, aku tadi juga mikirin hal yang sama
soalnya."
"Begitu ya! Yah, kalau ada motor matic pasti kita
bisa pergi jauh dengan lebih gampang ketimbang pakai sepeda."
"...Maksudnya itu, kita bisa bolak-balik antara kota
dan desa pedesaan gitu?"
"Soal itu... entahlah ya."
Hayato tidak bisa langsung menjawabnya.
Butuh waktu sekitar setengah hari jika menggunakan kereta
cepat dan bus secara bergantian. Jika menggunakan mobil butuh waktu seharian
penuh. Meskipun bukan berarti tidak mungkin menggunakan motor matic, tapi pasti
harus menginap semalam di suatu tempat. Perjalanan itu saja sudah terasa
seperti liburan kecil.
Begitu jauh jarak antara kota dan desa.
Begitu pula jarak yang memisahkan Haruki dan Hayato.
Dan begitu pula jarak yang akan tercipta antara dirinya
dan Saki dalam beberapa hari ke depan.
Tiba-tiba ia teringat tarian Kagura Saki dan
ekspresinya saat itu.
Kira-kira seberapa besar perasaan yang ia curahkan dalam
tarian tersebut?
Ia teringat masa-masa ketika baru saja pindah ke kota.
Ibu yang tidak pernah pulang ke rumah.
Rumah yang gelap dan hanya dihuni seorang diri.
Sekolah dasar tempat ia merasakan kesepian meskipun
berada di tengah keramaian.
Ia tidak punya tempat bernaung.
Ia ingin bertemu dengan Hayato.
Disertai perasaan membakar jiwa, ia memeluk lututnya,
tenggelam dalam hari-hari menggelikan yang terdistorsi dengan cara membenamkan
diri dalam belajar, game, dan hobi demi mengalihkan perhatian dari semua itu.
Tapi. Meskipun begitu.
Kerinduan, kesepian, kecemasan, dan
keputusasaan──meskipun memendam semua itu, Saki tetap menarikan tarian Kagura
tersebut.
...Dengan mencurahkan hati yang murni.
Seberapa besar ia sebenarnya merindukan Hayato?
Memikirkan hal itu membuat dadanya terasa nyeri. Ia tidak bisa menganggapnya sebagai urusan orang lain.
Di hadapannya, Hayato sedang memutar pedal dengan
sekuat tenaga.
Melalui telapak tangan yang diletakkan di bahunya,
denyut ototnya terasa begitu nyata.
Punggung yang lebar.
Jika mengingat kembali memori masa kecilnya, punggung
inilah yang selalu ia lihat.
Tanpa sadar, ia mempererat cengkeraman tangan di bahu
itu seolah tidak ingin melepaskannya. Perasaannya meluap keluar.
"...Tsukinose itu, ternyata memang jauh,
ya."
"Iya, jauh ya."
"Kalau sekolah sudah mulai nanti, kita nggak
bakal bisa gampang ketemu Saki-chan lagi, ya."
"Berikutnya bakal masuk musim dingin."
"Empat bulan itu lama banget, kan..."
Ucap Haruki sambil mendongak ke langit. Awan tipis
yang mendesak dari barat daya kini menutupi separuh langit. Mereka melaju ke
timur seolah melarikan diri darinya.
Tidak ada percakapan, hanya terdengar suara roda
sepeda berputar berderik.
Di tengah keheningan itu, Hayato melontarkan kalimat
pelan.
Keduanya mendadak terdiam.
"Haruki kelihatannya sudah akrab banget ya sama...
Murao-san itu."
"......Eh?"
"Yah, maksudku dia kan nginap di kuil bukan di
rumahku, terus keliatannya kalian juga ngelakuin macem-macem hal..."
"Hayato...?"
"Entah gimana ya, maksudku, Minamo-chan juga sih,
tapi nambah teman kan bukan hal yang buruk, jadi, ah sudahlah!"
"Uwah!?"
Nadanya terdengar agak ketus.
Lalu ia tiba-tiba bangkit berdiri dan mengayuh pedal
dengan tenaga yang jauh lebih kuat. Telinganya tampak memerah entah karena apa.
Saat Haruki sedang tertegun melihat tingkah itu,
seiring dengan pemahaman yang merayap naik, muncul emosi yang membuncah di
dalam dadanya. Sudut bibirnya melunak.
"Aha, ahahahaha! Ada apa? Jangan-jangan Hayato
lagi cemburu? Betul begitu?"
"Hah!? N- nggak kok, itu, maksudku tuh
ya..."
"Hmm, ini maksudnya 'karena para cewek kumpul
bareng, aku merasa nggak terima kayak dibikin tersingkir', gitu ya?"
"......Nggak usah baca isi pikiranku dong!"
"Fufu, aha! Hayato ternyata punya sisi imut juga, yaー"
"Dih, berisik banget!"
Saat Haruki tertawa, Hayato semakin bernafsu meningkatkan
kecepatan sepedanya.
Itu jelas-jelas cara Hayato menyembunyikan rasa malunya.
Keduanya mengguncang bahu di atas sepeda yang
berguncang tak stabil.
Senyuman itu kembali terukir di wajah mereka.
Sepeda yang melaju kencang akhirnya mencapai puncak
gunung dan melewati jalur lintasannya.
"Ini... kan..."
"......Keren banget."
Dan pemandangan yang menyambut pandangan mereka membuat
mereka menahan napas seketika.
Permukaan air terbentang tanpa batas di depan mata.
Sebuah danau yang begitu raksasa, mungkin cukup untuk
menampung seluruh desa Tsukinose ke dalamnya. Berkilau bagaikan permata di
bawah terpaan matahari pagi.
Mereka tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan
seperti ini di tengah gunung.
Tanpa aba-aba, keduanya turun dari sepeda dan terpaku
menyaksikannya hingga melupakan kata-kata.
Keterkejutan, kegemparan, kegembiraan, kekaguman,
berbagai emosi bergejolak dan bercampur aduk di dada.
Pasti seperti inilah rasanya saat seseorang tak sengaja
menemukan harta karun yang tersembunyi.
"Hayato, lihat, di sebelah sana!"
"Bangunan itu... ah, begitu ya. Tempat ini, waduk
ya... ngomong-ngomong aku kayaknya sempat belajar tentang ini waktu SD."
"Danau buatan, ya... tapi tetap saja besar
banget."
"Iya ya..."
"Air ini nantinya ngalir sampai ke laut,
kan?"
"Seharusnya sih begitu... tapi di tengah gunung
begini, rasanya sama sekali nggak bisa dibayangkan."
"Apalagi airnya ini dipakai buat menopang
kehidupan jutaan orang yang tinggal di hilir, kan?"
"...Aku jadi pusing mikirinnya."
"...Aku juga."
Meskipun mencoba mengumpulkan pengetahuan dan hal-hal
yang mereka ketahui untuk memahami pemandangan di hadapan mereka, hal itu tetap
tidak berujung pada hasil yang pas.
Kolam renang yang mereka datangi beberapa hari lalu
memang besar, tapi volume air di sini sama sekali tidak ada apa-apanya
dibanding tempat itu. Sungguh menakjubkan. Sulit dipercaya bahwa tempat sebesar
ini dibuat oleh tangan manusia.
Meskipun merasa takjub, tatapan mereka tetap terpaku pada
danau buatan tersebut.
Lalu mereka berdiri membeku dalam keheningan.
Matahari pagi menyinari Haruki dan kawan-kawan, dan angin
yang berhembus kencang menciptakan riak air di danau buatan itu.
Dibandingkan dengan bentangan megah di hadapan ini,
betapa kecilnya eksistensi manusia?
Ia dilanda kecemasan hingga pijakannya terasa goyah.
Ketika ia mengalihkan pandangan secara spontan, punggung
Hayato tertangkap oleh matanya.
Punggung yang sampai tadi──tidak, jika dipikir-pikir
sejak masa kecilnya selalu ia lihat.
Tangan kanannya bergerak seolah ditarik oleh magnet,
menggenggam bagian punggung kemeja itu.
"──ki."
Lalu Haruki melontarkan kata-kata yang bahkan tidak ia
duga sendiri.
Ia mengerjap-ngerjapkan mata seolah tidak percaya.
Hayato menoleh dengan ekspresi penuh keheranan, lalu
mengintip wajahnya.
"Haruki?"
"Eh? Ah, bukan, itu, aku tuh! Punggung ini! Sejak
dulu selalu ditarik paksa sama Hayato, jadi rasanya lewat punggung itu aku udah
melihat berbagai hal kayak sekarang..."
"Emangnya aku sering menyeretmu ya?"
"Iya, makanya aku tuh... suka sama punggung
Hayato yang kayak gitu..."
"......! S- so-so ya."
"Fufu."
Mendengar kata-kata Haruki, Hayato yang memerah
wajahnya menggaruk-garuk kepala, lalu melontarkan gumaman "ah" atau
"ugh" sambil mengembalikan pandangannya ke depan.
Haruki meletakkan tangan di dadanya dan berdiri
berdampingan dengannya.
Lalu Hayato menurunkan tangannya dan menghela napas
panjang. Ia menyipitkan mata perlahan.
"Pemandangan ini, luar biasa ya. Pasti bakal jadi
kenangan yang nggak bakal bisa aku lupakan selamanya."
"Iya, benar. Aku juga mikir gitu."
"Tapi ya, pemandangan ini pasti nggak bakal kulihat
kalau nggak ada Haruki. Karena Haruki adalah partner petualanganku, makanya aku
bisa menemukannya."
"Hayato...?"
Lalu Hayato tersenyum.
Dengan senyuman polos tanpa beban yang sama seperti saat
mereka masih anak-anak.
Dengan ekspresi yang sama persis seperti dulu ketika ia
memanggil Haruki sebagai partner dan membawanya berkelana ke mana-mana.
Ah, senyuman ini pasti hanya diperlihatkan kepada Haruki
seorang.
Makanya Haruki pun ikut tersenyum simpul, menampilkan
seringai usil yang sama seperti di masa kecilnya.
Jantungnya berdegup kencang.
Lalu Hayato, dengan sedikit rona malu, merangkai
kata-kata dengan terbata-bata.
"A- e-ehm, begitulah, Haruki keliatan lebih manis
kalau senyum kayak gitu, atau lebih tepatnya aku... suka, ...maksudnya..."
"Feh!? Eh... ah...!"
Mendengar pernyataan yang dilontarkan secara tiba-tiba
itu, kepalanya mendadak kosong dan ia tertegun. Namun saat kata-kata itu
meresap perlahan ke dalam dadanya, ia menyadari darahnya berdesir naik hingga
rasanya ubun-ubunnya akan mengeluarkan uap panas.
Sepertinya Hayato juga merasakan hal yang sama; keduanya
sama-sama menundukkan wajah dengan rona merah bagaikan kepiting rebus,
menyisakan keheningan yang canggung di antara mereka.
Dadanya bergemuruh hebat.
Tapi sama sekali bukan perasaan yang buruk.
Kemudian Hayato menggaruk pipinya dengan jari telunjuk
secara canggung, dan berniat mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Haruki
seperti biasa dengan gerakan yang begitu natural──namun Haruki refleks meraih
dan menghentikan tangan itu.
"...Haruki?"
"Kalau itu, tidak boleh."
"Nggak boleh apanya..."
Hayato menunjukkan ekspresi kebingungan karena sama
sekali tidak menyangka akan dilarang.
Lalu Haruki mengerutkan alisnya dengan ekspresi serba
salah, dan membisikkan alasannya dengan nada suara yang sulit dijelaskan.
"Kalau sekarang diperlakukan sama kayak Hime-chan,
aku bisa jadi cewek beneran soalnya."
Itu adalah kalimat yang rasanya bahkan tidak ia pahami
sendiri.
Tetapi itulah satu-satunya alasan yang bisa ia ucapkan.
Hayato mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa saat, lalu
mengalihkan pandangannya sambil bergumam, "Sori ya."
Haruki membalas, "Bukannya Hayato yang salah
sih...", dan keduanya kembali menatap permukaan air bersama-sama.
Di danau buatan itu terlukis pantulan gunung dan langit
yang terbalik, berkilau indah di bawah terpaan matahari pagi.
Huh, ia menghela napas panjang.
Mencengkeram erat lengan baju Hayato, Haruki merapalkan
permohonannya dengan nada ragu-ragu.
"Nih, Hayato. Ada tempat yang pengen kutuju
bareng-bareng."
Matahari di langit timur mulai tertutup oleh lapisan awan
tipis.
Tiupan angin juga bertambah kencang dari waktu ke waktu.
Beberapa jam lagi, mereka pasti akan diterjang badai
besar.
"Belakangan ini sering banget dengar masalah
rumah kosong di pedesaan, ya."
"Tempat ini..."
"Iya, rumah tempat kakek-nenekku dulu tinggal."
Tempat yang ia datangi bersama Hayato adalah rumah yang
pernah ditinggali oleh Haruki di masa lalu.
Bangunan terbesar di Tsukinose, dan tampak begitu kuno.
Sebagian kaca jendelanya pecah, membiarkan angin berembus masuk menerobos
celah.
Kondisinya sudah separah rumah terbengkalai dengan
halaman yang ditumbuhi rumput liar di mana-mana.
Hingga saat ini pun bangunan itu sesekali berderit
diguncang angin, memancing rasa cemas membayangkan apa yang akan terjadi jika
badai besar menghantamnya secara langsung.
"......"
"......"
Haruki mencengkeram erat ujung kemejanya.
Tidak ada kenangan indah sama sekali di rumah ini.
Meskipun begitu, melihat kondisinya yang jauh lebih mengenaskan dibanding di
dalam ingatannya, ada emosi yang meluap dari dalam dada dan sulit untuk
diproses.
Ia sendiri tidak tahu pasti mengapa ia ingin datang ke
tempat ini.
Satu hal yang pasti, ia tidak akan pernah datang ke sini
sendirian.
Namun kenyataannya, masa lalu itulah yang membentuk
dirinya yang sekarang.
Dengan ekspresi rumit, ia menghela napas panjang.
Lalu suara hantaman benda terdengar dari sampingnya.
Saat ia menoleh, Hayato sedang menegakkan standar
sepedanya, lalu mengarahkan pandangannya ke arah pegunungan di kejauhan──ke
tempat yang dulu mereka jadikan arena bermain bertajuk Perang Pilar Batu
yang pembangunannya diprakarsai oleh keluarga Nikaidou sebelum akhirnya
terbengkalai. Ia bergumam dengan nada suara yang luar biasa serius.
"Aku pengen tahu tentang Haruki di masa itu."
"Hayato..."
Jantungnya berdegup kencang dan ia menahan napas.
Ia menarik ke bawah ujung kemejanya yang masih ia
cengkeram erat.
Ia kehabisan kata-kata. Tidak tahu harus merespons apa.
Bagaimanapun juga, itu adalah bagian dari diri Haruki
yang selama ini selalu ia hindari.
Menyadari hal-hal yang saling melilit di dalam dadanya,
ia mencoba memeras kata-kata.
"Kurasa itu bukan cerita yang menarik buat
didengar."
"Meskipun begitu, karena ini tentang Haruki. Aku
juga pengen jadi seseorang yang benar-benar spesial bagimu."
"......!?"
Untuk sesaat kepalanya menjadi kosong. Bahunya terlonjak
kaget.
Itu adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh Haruki
kepada Hayato di masa lalu.
Ketika ia menoleh, Hayato menatapnya lekat-lekat,
menyalurkan sorot mata yang begitu lurus tanpa keraguan. Pandangan mereka pun
saling mengunci.
Itu adalah deklarasi bahwa ia akan melangkah melewati
batas, menerobos masuk ke area yang selama ini mereka biarkan menggantung
samar.
"......Ah, cara ngomong begitu curang banget,
tahu."
"Aku cuma pengen tahu dengan benar."
"......"
"......"
Akalnya memahami bahwa cepat atau lambat ia memang harus
menghadapinya demi melangkah maju.
Ha, ia menghela napas panjang seolah menyerah.
"Sini ikut."
Lalu ia melangkahkan kaki memasuki area tanah pekarangan
itu.
Hayato mengikutinya dalam diam dari belakang. Mereka
melewati pintu masuk bangunan utama dan melangkah menuju gudang tanah liat
(dozo) di sampingnya. Gudang itu memiliki struktur yang jauh lebih kuno
dibanding bangunan utamanya.
Pohon di sampingnya juga sudah sangat tua dan besar,
memancarkan aura zaman yang begitu kental.
Begitulah, kedua bangunan itu sama-sama tampak reyot.
Bukan hanya plester dinding (urushi) gudang tanah liat
itu yang sudah terkelupas sejak lama, kerangka bambu bulat di beberapa bagian
bahkan terekspos keluar tanpa penutup.
Jendela kecil di lantai dua kehilangan jeruji besi serta
kacanya, membiarkan bagian dalam terekspos terpaan angin luar.
Justru karena strukturnya yang besar dan kokoh,
pemandangan bagian demi bagian yang mulai lapuk itu menyisakan kesan yang
begitu nelangsa.
"Hmm, kira-kira masih kuat nggak ya? ...Hopp!"
"…!?
A- hei, Haruki!"
Setelah mengamati tubuhnya sendiri dan pohon di sebelah
gudang tersebut untuk memastikan sesuatu, Haruki mengabaikan seruan protes
Hayato dan memanjat naik dengan gerakan lincah yang sudah terbiasa.
Dengan gerakan tanpa ragu ia meraih jendela yang rusak,
sempat terhenti sesaat karena merasa sedikit tersangkut, namun akhirnya
berhasil menyelipkan tubuhnya ke dalam. Semuanya terjadi dalam sekejap mata.
Saat Hayato berdiri terpaku karena terkejut di tempatnya,
suara teriakan Haruki 'Nwaaaー!?'
terdengar dari dalam gudang, disusul suara benda berjatuhan dengan gaduh dan
berisik.
Beberapa detik kemudian, suara berderit nyaring terdengar
saat salah satu pintu gudang terbuka.
Haruki mengintip keluar dengan wajah meringis karena
menanggung malu, berhiaskan sarang laba-laba dan debu tebal.
"Ehm, kuncinya... tidak dikunci..."
"......Pfft! Ahahahahaha!"
"Woi, jangan ketawa dongー!"
Haruki memalingkan wajahnya dengan bibir yang mengerucut
cemberut.
Melihat ekspresi itu, Hayato menenangkannya dengan
berkata, "Maaf, maaf ya," membuat Haruki menghela napas,
"Fuuh." Membuka lebar pintu gudang tanah liat, Haruki mempersilakan
Hayato masuk.
"Selamat datang di kamar lamaku yang dulu."
"Kamar, ya..."
"Tempat ini tidak banyak berubah, ya."
"…………!"
Hayato tanpa sadar mengerutkan keningnya melihat
pemandangan yang langsung menyambut indra penglihatannya.
Bau apek dan lembap yang menusuk hidung mungkin
disebabkan oleh jendela yang sudah rusak.
Bagian dalamnya temaram, biarkan debu beterbangan di
antara garis-garis cahaya yang menyusup masuk.
Balok-balok kayu yang tampak seolah bisa runtuh kapan
saja, serta dinding tanah liat yang kerangka bulatnya terekspos begitu saja
sama seperti di bagian luar.
Berbagai perabotan seperti lemari laci dan meja yang
sekilas saja sudah terlihat rusak diletakkan di sana-sini.
Piring-piring pecah serta peralatan pertanian berbahan
kayu yang memberikan kesan kuno, seolah baru saja dilihat dari halaman buku
pelajaran sekolah.
Gudang itu benar-benar menceritakan bagaimana
barang-barang yang jelas tidak berguna ditimbun begitu saja di dalamnya.
Jika mendongak ke atas, terdapat bagian lantai dua
menyerupai loteng, dengan cahaya yang menyusup masuk dari berbagai celah.
Sangat mudah membayangkan apa yang akan terjadi jika hujan turun.
Tempat ini sama sekali tidak pantas disebut sebagai
tempat tinggal manusia.
Terutama jika itu adalah seorang anak kecil.
Mengabaikan Hayato yang tertegun, Haruki menyunggingkan
senyum pahit dengan wajah tanpa ekspresi, lalu mengarahkan pandangannya ke
suatu sudut.
"Di sana tempat tidurnya. Yah, mungkin lebih tepat
disebut sarang atau tempat persembunyian, sih."
"......"
Yang ada di sana adalah beberapa tatami tua yang
ditumpuk.
Permukaannya sudah compang-camping dan berserat, dengan
bekas terbakar matahari serta noda di mana-mana.
Di dekatnya terdapat handuk-handuk usang dan robek, yang
sepertinya dulu digunakan sebagai pengganti kasur lantai.
Selain itu, terdapat perabotan rumah tangga yang relatif
masih lumayan dibanding sekitarnya serta sebuah paraven yang berfungsi sebagai
penyekat, menata tempat itu hingga menyerupai wujud sebuah kamar.
"Tempat ini sebenarnya terhubung dengan bangunan
utama, lho."
"......Tapi, itu..."
"............Un."
"......"
Hayato menelan kata-katanya dengan ekspresi masam.
Tangannya mengepal begitu erat hingga nyaris kehilangan aliran darah. Gigi
gerahamnya terkatup rapat, membuat wajahnya berkerut tegang.
Benar seperti yang dikatakan Haruki, pintu yang mengarah
ke bangunan utama memang terlihat.
Namun, sebagian besar jalannya tertutup oleh lemari laci
yang ukurannya mustahil bisa dipindahkan oleh seorang anak kecil.
Melihat celah yang tersisa, jangankan orang dewasa,
anak-anak pun akan kesulitan untuk lewat.
Pemandangan itu secara nyata menggambarkan hubungan
antara Haruki dan kakek-neneknya.
Namun, Haruki merangkai kata-katanya seolah-olah itu
bukan masalah besar.
"Aku dulu selalu tersenyum di hadapan kakek dan
nenek."
"......Ha?"
"Bagaimanapun juga, aku tidak pernah kekurangan
makanan, tempat tidur, bahkan pakaian dan kamar mandi. Yah, rasanya aku sudah
makan roti manis seumur hidupku, sih."
Di situ Haruki memotong kalimatnya, lalu memungut tempat
sampah silinder berbahan plastik yang roboh dan membalikkannya. Beberapa
kantong plastik kotor berjatuhan dari dalamnya.
Ia lalu melanjutkan kata-katanya dengan nada mencela diri
sendiri.
"Meskipun begitu, aku juga sering dibilang
menyeramkan karena selalu tersenyum. Yah, kalau dipikir-pikir sekarang, memang
benar begitu, sih."
"Mana mungkin..."
Hayato hendak mengatakan sesuatu, namun Haruki
berbalik untuk memotongnya sambil menampilkan senyuman canggung.
"Karena kalau aku terus tersenyum dalam situasi
apa pun, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku. Makanya, bahkan setelah
pindah ke kota pun, aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum. Di depan Ibu, di
depan semua orang di sekolah, dan tentu saja di lingkungan sekitar."
"Haruki, itu kan..."
"Un, benar. Aku berusaha menjadi anak baik yang
disukai semua orang, mulai melakukan perhitungan dan akting seperti itu, hingga
akhirnya aku menjadi diriku yang sekarang, menjadi Nikaidou Haruki."
Mengatakan itu, Haruki tersenyum kaku seolah pembicaraan
ini sudah selesai.
Menekan perasaan sendiri, menciptakan topeng senyuman
demi melewati masa-masa sulit dengan mulus──itulah akar yang membentuk Haruki
saat ini. Sebuah teknik bertahan hidup yang ditemukan oleh Haruki kecil.
Mendengar akhir cerita Haruki, Hayato meletakkan tangan
di dadanya dengan ekspresi seperti raksasa lalu mencengkeramnya kuat-kuat.
Ia kemudian menghela napas panjang dan sedikit bergetar,
mencoba meredakan gejolak di dadanya.
"Hayato...?"
"Bukan apa-apa, kok..."
"Mana mungkin bukan apa-apa..."
"............"
"......Begitu ya."
Haruki mengintip wajah Hayato dengan ekspresi agak
terkejut, lalu tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Atau lebih tepatnya, ekspresi wajah itu sudah
menceritakan segalanya, sehingga kata-kata tidak lagi diperlukan.
Lebih baik jika ia tidak mencoba merangkainya menjadi
setengah-setengah.
Ia hanya menerima masa lalu Haruki apa adanya.
Hal itu jauh melebihi segalanya, membuat hatinya merasa
bahagia.
Hayato mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar, mencoba
menyampaikan perasaan di dalam hatinya, lalu perlahan merangkai kata-kata.
"......Entahlah, aku tidak begitu paham, tapi,
rasanya tidak apa-apa kalau Haruki menjadi sedikit egois."
"Egois...?"
Mendengar kata-kata itu, ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Tanpa disengaja, itu adalah kata-kata yang sama persis
seperti yang ia ucapkan kepada Saki beberapa hari lalu.
Namun, karena tidak tahu apa maksudnya, ia sama sekali
tidak menangkap poin utamanya.
Saat ia memiringkan kepala kebingungan, Hayato memasang
ekspresi semakin rumit sambil mengerang.
"Kalau dipikir-pikir kembali, mulai dari tempat
perlindungan di sekolah, jam istirahat siang, main game sepulang sekolah,
Haruki selalu mengalah untuk hal-hal sepele... ah, makanya! Maksudku tuh ya!
Kalau kamu mengucapkan permintaan yang tidak masuk akal, masa depan di mana aku
pasti akan direpotkan olehmu itu terlihat sangat jelas! Jadi, lupakan ucapan
tadi!"
"Sebentar, apa maksudnya itu!?"
"Hahahaha, ya begitu deh!"
"Moo~!"
Suasana akrab seperti biasanya kembali mengalir di antara
mereka.
Ekspresi wajah keduanya pun ikut melunak.
Hati mereka juga terasa sedikit lebih tenang.
Itulah sebabnya Haruki tanpa sadar melontarkan isi hati
yang selama ini ia pendam.
"Nih, Hayato. Boleh aku bertanya satu hal
saja?"
"Langsung bersikap egois, ya?"
"Egois... hmm, entahlah, aku juga tidak tahu.
Sebenarnya akhir-akhir ini aku sering memikirkan satu hal."
"Hal yang kamu pikirkan?"
Di situ Haruki memotong kalimatnya.
Ia menegakkan punggungnya, meletakkan tangan di dada,
lalu berhadapan langsung dengan Hayato.
"Diriku yang sekarang ini, apakah benar-benar
diriku yang sebenarnya?"
"......Eh?"
Hayato terbelalak, menahan napasnya.
Ditatap sepasang manik mata yang semakin membesar, Haruki
menyadari kerutan terbentuk di keningnya.
Itu pasti pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Terlebih
lagi, bahkan di dalam diri Haruki sendiri tidak ada jawaban yang pasti.
Namun, itu adalah hal yang terus ia pikirkan.
Dirinya saat berada di hadapan Hayato pun,
jangan-jangan──
Itu adalah pemikiran yang konyol. Namun, ada saat-saat di
mana sekali ia mulai memikirkannya, ia tidak bisa berhenti.
Terutama ketika ia sangat memikirkan keberadaan Saki.
"......"
"......"
Entah apakah isi hati Haruki tersampaikan kepada Hayato,
suasana berubah drastis menjadi hening canggung.
Hayato memasang berbagai ekspresi mulai dari wajah
bingung, cemas, hingga masam, berganti-ganti bagaikan seratus wajah.
Haruki tersenyum kecil sambil membatin, Ekspresinya
benar-benar mudah ditebak, ya.
Jika dipikir-pikir, mungkin itu adalah pertanyaan usil
yang dilontarkannya.
Ia menggelengkan kepala untuk mengalihkan pikiran dan
hendak membuka mulut──ketika ia mendengar sesuatu.
"Haru──"
"Syut! ......Kamu dengar suara sesuatu?"
"......Bukan suara angin di luar, kan?"
"Un...... lantai dua?"
Suara itu terdengar kecil dan tipis, namun berhasil
mencuri perhatian di dalam lubuk hatinya.
Suara itu meresap dan mencubit bagian rapuh di dalam
dadanya.
Sejujurnya ia merasa sedikit terusik, namun entah
mengapa ia merasa tidak bisa mengabaikannya begitu saja.
Tergugah oleh emosi tersebut, ia mencari sumber suara
dan melangkah naik ke lantai dua.
Ia mempertajam penglihatannya semaksimal mungkin dan
memasang telinga baik-baik.
"…!"
"Aku dengar!"
"Aku juga dengar, itu di sebelah sana!"
"......Eh?"
Celah di antara tumpukan barang yang roboh dan
berserakan saat Haruki menerobos masuk tadi.
Manik mata yang mulai terbiasa dengan kegelapan
menangkap sosok tersebut.
"Anak kucing...?"
"............Mii."
Anak kucing yang sangat kecil, seukuran telapak
tangan, dengan bulu campuran warna hitam, cokelat, dan putih. Apakah induknya
masuk melalui jendela tempat Haruki masuk tadi lalu melahirkannya di sini?
Namun, tidak ada jejak induk kucing di mana pun.
Apakah ia ditinggalkan, ataukah induknya mengalami
nasib sial saat pergi mencari makanan? Tidak ada yang tahu.
Satu-satunya hal yang pasti adalah, anak kucing itu
berbaring lemas dan mengerahkan sisa-sisa tenaga kecilnya untuk merengek,
"Mii, mii," mengeluarkan suara tangisan yang begitu putus asa.
"…………"
Saat Haruki dengan hati-hati mengangkatnya, tubuh
anak kucing itu terasa sangat dingin.
Apakah ia belum bisa mengatur suhu tubuhnya sendiri? Ia
bisa merasakan kehangatan sekaligus kehidupan yang perlahan-lahan memudar dari
telapak tangannya. Ia bisa merasakannya. Meskipun begitu, anak kucing itu
dengan putus asa mencoba mencengkeramnya dengan kuku-kukunya yang geli, memohon
lewat suara tangisannya yang hampir padam.
"Ba, ba, ba, ba, bagaimana ini, Hayato, anak kucing
ini, dia ingin hidup, makanya dia mengeong dan sadar, tapi badannya kecil,
lemah, dan dingin! Hei... hei!"
"Haruki! Tenangkan dirimu!"
"Kalau begini terus anak ini akan...! Aku, harus
bagaimana, apa yang harus kulakukan... aku tidak tahu, aku tidak tahuuu, hik,
badannya sekecil ini, padahal dia tidak bisa berbuat apa-apa, harusnya ada
seseorang, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak mau... aku tidak
mauuu!"
Haruki, yang menumpuk bayangan anak kucing itu pada
dirinya sendiri, benar-benar kehilangan kendali. Pikirannya berputar-putar
tanpa henti, tidak mampu mengejar emosi yang meluap-luap, hingga akhirnya ia
dikuasai suasana dan mulai menangis. Ia menangis sejadi-jadinya.
Hanya ada rasa tanggung jawab semu yang berputar di dalam
kepalanya, bahwa ia harus melakukan sesuatu terhadap nyawa yang berada di
telapak tangannya. Hayato mengguncang bahunya dan memanggil namanya, namun
entah mengapa ia tidak bisa memahaminya.
Kepalanya sangat kacau balau oleh berbagai pikiran dan
emosi, membuat pemandangan di depannya menjadi gelap gulita.
"Kamu ini, bodoh!"
"…!?"
Namun pada saat itu, sebuah hantaman keras mendarat di
kepalanya, membuatnya langsung sadar kembali.
"Sakit sekali, aduh! Dasar kepala batu!"
"Eh, astaga, Hayato...?"
"Eh, astaga, Hayato, bukan begitu! Cepat ambil napas
dalam-dalam dulu, ayo hirup, keluarkan, cepat!"
"U, un... fuuh, haa... fuuuh, haaa..."
Sambil mengatur napas seperti yang diperintahkan, bidang
pandangnya mulai kembali jernih. Dahi yang terasa perih berhasil mendinginkan
kepalanya.
Di hadapannya, Hayato sedang mencengkeram kedua pipi
Haruki dengan air mata yang menggenang di sudut matanya.
Rupanya ia baru saja menanduk kepalanya. Benar-benar tindakan yang sangat mencerminkan diri Hayato.
Namun, tatapan mata itu memancarkan kesungguhan yang
begitu kuat, tidak memberi ruang untuk membantah, dan entah mengapa justru
membuatnya merasa tenang.
"Haruki, kita akan selamatkan anak kucing itu."
"......Un!"
Terbawa oleh senyuman tanpa rasa takut yang ditunjukkan
Hayato, Haruki mengangguk dengan penuh keyakinan.
Sama sekali tidak ada dasar yang kuat.
Namun, yang pasti, ia sudah merasa yakin bahwa anak
kucing itu akan selamat.
◇◇◇
Gouuu, angin kencang menghantam bangunan
rumah.
Langit mendung kelabu, menyembunyikan sang matahari.
"Kira-kira Haruki-san pergi ke mana, ya..."
Saki berjalan mondar-mandir di sekitar kuil sambil
menengok ke sana kemari, mencari keberadaan Haruki yang tidak kunjung terlihat.
Namun, yang ia temui hanyalah para kerabat dan warga desa
yang sibuk mempersiapkan festival yang sudah di depan mata serta bersiap
menghadapi badai.
Ia sempat bertanya kepada mereka, namun tidak ada yang
tahu.
Tidak ada pekerjaan khusus yang dibebankan kepada Saki
selaku penari Kagura.
Saat ia berjalan tanpa tujuan di tengah suasana yang
terasa begitu sibuk, ponselnya tiba-tiba berdering. Layar ponselnya menampilkan
nama orang yang sangat ia dambakan, Hayato. Jantungnya berdegup kencang saat ia
buru-buru mengetuk layar.
『Murao-san,
kucingnya lemas dan kecil, dia mengeong, cepat tolong lakukan sesuatu.』
"Ka- Kakak!?"
『Sekarang
di depan gudang di tempat Nikaidou, anginnya kencang, naik sepeda, anak
kucingnya sedang dipegang Haruki.』
"A- anu, tolong tenang dulu!? Um, sekarang kalian
di mana, terus──"
Suara yang disampaikan dengan datar itu terdengar
sangat tenang, namun isinya benar-benar kacau.
Meskipun bingung, Saki berusaha mengorek situasi
tersebut dengan sabar.
Rupanya mereka baru saja menyelamatkan anak kucing
yang sedang melemah.
Setelah berhasil mendapatkan informasi tersebut, Saki
memutuskan untuk segera bergabung dengan Hayato dan Haruki. Kanata, yang
memasang ekspresi muram, turut berlari kecil mengikutinya.
Tempat pertemuan mereka adalah kotak pos di tengah
desa. Tempat paling mencolok di Tsukinose.
"Kakak! Haruki-san!"
"Murao-san!" / "Saki-chan!"
"Anak kucing itu...!"
Begitu melihat anak kucing yang didekap erat oleh Haruki
di dadanya, punggung Saki langsung meremang.
Tubuhnya lemas tak bergerak, bulu-bulunya terkulai seolah
tidak memancarkan kehidupan sama sekali.
Napasnya yang begitu lemah menandakan ia bisa berhenti
kapan saja, bayangan kematian yang pekat sudah mengintai di dekatnya.
Tidak lama lagi, nyawa kecil ini pasti akan tersapu
lenyap ke suatu tempat yang tak terjangkau.
Perpisahan tak terduga yang terjadi dua bulan lalu
tiba-tiba terlintas di benaknya, membangkitkan emosi masa itu dan membuatnya
tertegun──pada saat itu, lengan baju miko Saki ditarik dengan kencang.
"Kak."
Kanata memasang wajah yang hampir menangis. Manik matanya
bergetar penuh kecemasan.
──Kita harus menyelamatkannya.
Pandangan mata Saki bertemu dengan Hayato dan Haruki,
lalu mereka saling mengangguk. Tatapan itu menyampaikan bahwa perasaan mereka
sama.
Namun, bukan berarti mereka langsung memiliki rencana
yang cemerlang.
Saki dan yang lainnya baru berusia 14 dan 15 tahun.
Kanata bahkan baru berusia 7 tahun.
Hanya keheningan yang bercampur rasa frustrasi dan
cemas yang mengalir di antara mereka. Padahal waktu adalah musuh utama bagi
anak kucing itu.
Kepalan tangan yang digenggam erat membuat
kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.
"Oiii, Haya-boy! Dan Haru-boy, Saki-boy,
Kanata-boy...?"
"Eh, apa-apaan kalian berkumpul di tempat sempit
begini? Bukankah sebentar lagi ada badai?"
“““““““…!?????””””””
Tepat pada saat itu, Kenhachi datang mengendarai
mobil pikap. Istrinya duduk di kursi penumpang sebelah.
"Hmm? Ada apa dengan anak-anak Kirishima
ini?"
"Meeeh~"
"Oh, Saki-chan, urusan di kuil sudah beres? Bukankah
Kanata-kun tahun ini jadi pemeran utama?"
"Membuat rencana jahat sampai hari badai... eh
tunggu sebentar, anak kucing itu!?"
"Kamu tidak apa-apa!? Kelihatannya lemas
sekali!?"
"Sebentar-sebentar, ada apa sebenarnya ini!?"
Tidak hanya itu, Kakek Gen yang bersama dombanya serta
para warga desa keniran yang berada di ladang sekitar berdatangan satu per satu
karena penasaran. Mereka pasti merasa khawatir melihat Saki dan yang lainnya
berdiri dengan ekspresi muram di tempat umum.
Topik pembicaraan langsung beralih ke anak kucing
yang digendong Haruki.
Tempat itu mendadak menjadi riuh.
"…………Mii."
Pada saat itu, Saki menangkap suara tangisan kecil dari
anak kucing tersebut.
Suara yang dikeluarkan dengan mengerahkan sisa-sisa
tenaga demi membakar sisa hidupnya, seolah memohon pertolongan.
Berbeda dengan Saki yang biasanya hanya bisa melihat
tanpa bisa berkata apa-apa, anak kucing itu berjuang mati-matian untuk
menyampaikan perasaannya.
Matanya terbuka lebar.
"A- anu…!"
Sebelum ia sadar, ia sudah bersuara lantang.
Keributan mereda dan tatapan di sekitarnya terpusat
padanya.
Emosinya meluap lebih dulu hingga ia tanpa sadar
bersuara. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Namun Saki balas menatap sekeliling dengan mantap, lalu
mulai merangkai kata-kata dengan sungguh-sungguh.
"Gen-san, apakah Anda bisa menghubungi dokter hewan
yang membantu kita saat domba melahirkan beberapa hari lalu!?"
"A- ah. Tapi tempat itu sebagian besar mengurus
hewan ternak... ah, bukan waktunya memikirkan hal itu! Baiklah, aku akan
keluarkan mobilnya! Haruki-chan, bawa si kecil itu ikut bersama!"
"U- un!"
"Meeeh!"
"A- aku juga ikut!"
"Kanata-kun juga!? Yah sudahlah, ayo naik!"
"Kenhachi-san, tolong antarkan aku berbelanja
makanan kucing atau barang-barang lain yang sepertinya dibutuhkan! Aku akan
cari tahu sekarang!"
"Saki-chan!?"
"Dengar, Nak, bawa Saki-chan pergi sekarang... tapi
bagaimana dengan uangnya!?"
"Ah, ambil saja dompetku sekalian!"
"Memangnya tidak apa-apa!?"
"Gahhha, tidak apa-apa, urusan begitu saja! Lagian
bagaimana dengan ladangmu dan Gen-san..."
"Kalau soal itu, aku yang akan keliling mengeceknya!
Dari awal aku memang sudah berniat keluar rumah!"
"Serahkan padamu, Nak Kirishima!"
Berawal dari perkataan Saki, gelombang besar tercipta dan
pembicaraan langsung menemui titik terang. Semuanya terjadi dalam sekejap.
Suasananya berubah menjadi seperti festival. Dan sosok yang berdiri di pusatnya
adalah Saki.
Serta Saki, selaku miko kuil yang telah terikat secara
turun-temurun di tanah ini, merangkum seluruh pendapat dan perasaan warga
menjadi satu lewat kata-katanya.
"Mari kita selamatkan anak kucing ini!"
"Ouw!" / "Baiklah!" /
"Serahkan!" / "Jangan terlalu bersemangat, Kakek!" /
"Aku tidak tahu lagi kalau encokmu kambuh!" / "Siapa juga yang
akan kambuh!" / "Gahahaha!"
Dan bertolak belakang dengan suara-suara yang
bersahut-sahutan itu, hati setiap orang kini telah menyatu.
◇◇◇
Zazazaa, badai angin merajam permukaan tanah
diiringi suara gemuruh yang keras.
Gunung Tsukinose pun bernyanyi dan menari di tengah
terpaan badai seolah merayakan pesta pora yang gila.
Langit tertutup oleh awan hitam yang tebal, menjatuhkan
bayangan gelap ke seluruh dunia meskipun hari masih belum terlalu sore.
Di tengah situasi tersebut, Hayato mengayuh sepedanya
dalam kondisi sekujur tubuh basah kuyup.
"Sialan!"
Pekerjaan di ladang setidaknya sudah bisa diselesaikan
setengah jalan.
Namun, karena diguyur hujan dan belum makan siang,
tubuhnya terasa sangat lelah. Pedal sepedanya pun terasa sangat berat.
Meskipun begitu, jika ia tidak menggerakkan tubuhnya,
rasa cemas akan terus menghantuinya.
Bagaimana keadaan anak kucing itu sekarang?
Ia belum menerima kabar apa pun sejak saat itu.
"Aku pulangー!"
Begitu sampai di rumah, ia langsung menuju kamar mandi
sambil meninggalkan jejak genangan air di sepanjang koridor.
Setelah menggosok tubuhnya dengan sigap, berganti
pakaian, dan merebus air untuk mandi, ia akhirnya bisa sedikit bernapas lega.
Pada saat itulah ponselnya berdering.
『Kakak, anak
itu selamat!』
"Murao-san! Begitu ya, syukurlah kalau
begitu!"
『Suasananya
masih sibuk, tapi aku harus menghubungi yang lain juga!』
"Ah, nanti ceritakan lebih detail padanya,
ya."
『Baik!』
Panggilan itu terputus bersamaan dengan helaan napas
lega yang terlepas dari mulutnya.
Begitu rasa tegangnya mengendur, rasa lelah yang luar
biasa langsung menimpa tubuhnya.
Tubuhnya sedikit bergidik kedinginan, kepalanya juga
terasa berat. Ia mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala untuk mengusir
rasa penat itu.
"Kaka, sudah pulangー?"
Dari ruang keluarga, suara Himeko terdengar menyadari
kepulangan Hayato.
Di balik nada bicaranya yang terkesan biasa saja,
terselip sedikit warna kecemasan.
Meski terlihat begitu, Himeko sebenarnya anak yang
cukup kesepian.
Mengingat kejadian tentang ibu mereka di masa lalu,
hari-hari hujan seperti ini selalu terasa berat baginya.
Itulah sebabnya Hayato berusaha mengerahkan tenaga untuk
memunculkan nada suara yang ceria.
"Ya, persiapan di ladang tadi sedikit memakan waktu.
Selain itu, ada... eh...?"
Namun, yang keluar dari tenggorokannya hanya suara parau.
Dunia mendadak miring.
Tubuhnya terasa seberat timah, dan rasa dingin mulai
menusuk tulang.
Ia harus mengatakan sesuatu──namun hal itu tidak
tercapai, dan tubuhnya ambruk ke lantai disertai suara debuman keras,
melepaskan kesadarannya begitu saja.
◇◇◇
"──Baik, terima kasih banyak juga, Gen-san. ......Fuuuh, apakah semuanya sudah beres?"
Saki baru saja selesai menelepon orang-orang yang
berkaitan dengan anak kucing tadi untuk mengucapkan terima kasih dari telepon
rumah di koridor.
Koridor terasa agak temaram, diiringi suara badai yang
menghantam atap rumah.
Saki kembali ke kamarnya sambil menghela napas pelan.
Di salah satu sudut kamar, anak kucing itu meringkuk di
dalam kotak kardus yang dialasi selimut, bernapas teratur dengan suara suu-suu.
Pemandangan yang sangat tenang dan menggemaskan itu pasti akan membuat siapa
saja yang melihatnya tersenyum simpul.
"…………"
Meskipun begitu, Haruki menatap anak kucing tersebut
dengan ekspresi kaku.
Pintu geser terbuka dengan suara katan, dan
Saki memunculkan wajahnya.
Saki melunakkan ekspresinya melihat wajah tidur si
anak kucing, lalu duduk di sebelah Haruki dan mulai berbicara.
"Dia tidur dengan sangat nyenyak. Um, kalau
tidak salah tadi itu karena hipoglikemia dan dehidrasi, ya?"
"Un, sepertinya dia tidak makan dan minum sama
sekali sejak tadi. Makanya, kalau dihangatkan dan diberi susu khusus kucing,
dia akan baik-baik saja. Katanya anak ini jauh lebih tangguh dan kuat dari yang
kita duga."
"Begitu ya. Syukurlah ya, Nyan-chan...
fufu."
Sambil berkata demikian, Saki dengan ragu-ragu
menyentuh telinga anak kucing yang sedang tidur itu menggunakan jari
telunjuknya.
Seketika itu juga, si anak kucing menggerakkan
telinganya dengan kedutan kecil karena merasa geli, membuat Saki berseru,
"Waa!", sambil membelalakkan matanya kagum.
Sebuah nyawa yang begitu kecil.
Saki melembutkan sudut matanya, merasa lega dari
lubuk hati yang paling dalam karena semuanya berakhir baik.
Mereka membuat kehebohan besar dengan mengandalkan
banyak orang. Namun, orang-orang yang ditelepon untuk mengucapkan terima kasih
semuanya mengatakan bahwa mereka bersyukur bisa membantu. Melihat
anak kucing di hadapannya sekarang, ia sangat merasakan hal yang sama.
"Saki-chan, maafkan aku..."
"Eh?"
Saat Saki sedang menyipitkan mata, ia tiba-tiba meminta
maaf.
Ketika Saki mengintip wajah samping Haruki untuk mencari
tahu apa yang terjadi, ia melihat Haruki menatap anak kucing itu sambil
menyisipkan bayangan muram.
Menyadari tatapan Saki, Haruki bergumam lemas sambil
memaksakan sebuah senyuman.
"Itu, karena keegoisanku, aku malah menyeret banyak
orang, padahal aku sendiri tidak melakukan apa-apa selain merasa panik, dan
hanya merepotkan orang lain saja... aku benar-benar minta maaf."
Haruki membungkuk dalam-dalam.
Bahunya menyusut kecil dan sedikit bergetar.
Ia terlihat seperti anak kecil yang takut dimarahin──dan
tiba-tiba, bayangan Haruki kecil yang mendekap lutut di tengah hamparan bunga
matahari yang disinari cahaya bulan berkelebat di benaknya.
Sosok yang tidak akan pernah bisa dijangkau meskipun
diinginkan, namun juga tidak bisa direlakan, tumpang tindih dalam pandangannya.
Itulah sebabnya Saki secara refleks langsung memeluk erat
kepala Haruki.
"Ini sama sekali bukan merepotkan."
"Sa- Saki-chan!?"
"Aku menolongnya karena aku ingin menolong. Aku,
Hime-chan, Kakak, Kanata, Kakek Gen, Kenhachi-san, dokter hewan... dan pastinya
para domba itu juga... Haruki-san hanyalah pemicunya saja."
"Begitu, ya...?"
"Apakah ada orang yang menunjukkan wajah tidak suka?
Apakah ada orang yang berpikir lebih baik jika anak kucing itu lenyap? Apakah
ada orang yang tidak merasa senang saat tahu dia selamat?"
"U- uun, semua orang bilang syukurlah..."
Saki mengelus lembut kepala Haruki yang ia peluk, seolah
ingin menyampaikan perasaannya agar sampai. Haruki sempat merenggangkan bahunya
karena terkejut sesaat, namun ia segera melemaskan tubuhnya bagaikan kucing
yang kehilangan rasa waspadanya, lalu menyerahkan diri sepenuhnya.
Setelah beberapa saat berada dalam posisi tersebut,
Haruki yang wajahnya masih membenamkan diri di dada Saki, mencengkeram erat
ujung baju Saki.
"Tapi aku terus memikirkannya... kalau di rumahku,
aku tidak bisa memeliharanya karena takut ketahuan Ibu, dan di rumah Hayato kan
apartemen jadi tidak boleh bawa hewan peliharaan! Aku menolongnya hanya karena
keegoisanku sendiri, demi memuaskan egoku, tapi aku begitu tidak bertanggung
jawab! Aku ini, sungguh, benar-benar orang yang sangat buruk!"
Haruki berteriak seolah sedang menghukum dirinya sendiri.
Nada suara itu menunjukkan berbagai emosi tanpa arah yang
bergejolak di dalam dadanya.
Saki mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Haruki seperti
itu──lalu merengutkan alisnya.
Ia kemudian mendaratkan ketukan ringan di kepala Haruki.
"Eits!"
"…!?"
"Haruki-san ini bodoh."
"Saki, chan...?"
Giliran Haruki yang mengangkat wajahnya dan
mengerjap-ngerjapkan mata ke arah Saki, yang kini memasang ekspresi seolah
sedikit marah.
Saki kemudian menggenggam kedua tangan Haruki seolah
merangkkumnya erat-erat, sambil tetap mengangkat sebelah alisnya, ia merangkai
kata-kata dengan nada menasihati.
"Jangan menanggung semuanya sendirian dan mencoba
melakukan segala sesuatunya sendiri. Kami semua yang akan mencarikan keluarga
angkat untuk anak kucing ini. Atau apa, menurutmu kami ini orang-orang yang
tidak bisa diandalkan?"
"B- bukan begitu! Tapi, mengandalkan..."
"Kakek Gen bilang, 'Di rumahku sudah penuh
dengan domba, tidak mungkin nambah kucing lagi sekarang,' dan istri
Kenhachi-san juga sedang menghubungi banyak orang. Ayahku bahkan sampai serius
mencari cara merawat kucing di internet. Kita tidak perlu mengkhawatirkan anak
kucing ini lagi."
"Ta- tapi, itu..."
"Kalau kamu masih merasa khawatir, jadikan ini
sebagai 'utang budi', dan nanti tolong tolong aku saat aku sedang dalam
kesulitan atau bersikap egois. ...Bagaimana?"
"…………"
Begitu Saki mengulurkan jari kelingkingnya, Haruki
menatap jari itu lekat-lekat sebelum akhirnya dengan ragu-ragu melilitkan
kelingkingnya. Saat Saki tersenyum manis, Haruki pun membalasnya dengan
senyuman malu-malu.
Lalu Haruki menghela napas panjang, haaa, seolah
mengeluarkan berbagai macam perasaan yang memenuhi dadanya.
"Saki-chan ini, benar-benar anak yang baik
seperti yang Hayato bilang, ya."
"Eh?"
Mendengar pujian yang tiba-tiba meluncur dari mulut
Haruki, jantung Saki berdegup kencang.
Haruki mempererat tautan jari kelingking mereka, lalu
menatap lurus ke dalam manik mata Saki.
"Makanya, aku menyukai Saki-chan."
"…!?
E- eeto, aku juga menyukai Haruki-san, kok...?"
"Kamu begitu cantik, manis, dan baik hati... kalau
saja aku ini seorang anak laki-laki, aku pasti sudah jatuh cinta pada
Saki-chan."
"A- anu... auuu..."
Kata-kata Haruki yang begitu jernih tanpa keraguan jatuh
tepat di lubuk hati Saki.
Terlebih lagi, ketika ia dihujani pujian oleh seorang
gadis cantik seperti Haruki, jantungnya bergemuruh hebat hingga ia tidak bisa
menenangkan diri.
Saat Saki menunduk dengan wajah memerah dan uap mengepul
dari kepalanya, Haruki tersenyum kecil, lalu memasang ekspresi seolah teringat
sesuatu.
"Apakah Hayato juga berpikiran sama?"
"Eh?"
"Sebentar, aku akan mencoba memerankannya, ya."
"Haruki, san...?"
Begitu Haruki mengatakan itu, suasana di sekitarnya
berubah dalam sekejap.
Perubahan itu begitu jelas hingga bisa dirasakan oleh
kulit.
"──Murao-san."
"…!?"
Saki membelalakkan matanya lebar-lebar.
Yang terpantul di dalam manik matanya adalah rambut
panjang yang berkilau, tubuh ramping dengan kulit putih yang mulus. Serta
seorang gadis cantik berwajah tegas yang memancarkan kesan anggun dan manis.
Suara yang terucap pun terdengar begitu jernih dan
manis bagaikan dentang lonceng perak. Seharusnya memang begitu.
Meskipun begitu──ia terlihat seperti itu. Sosok itu
benar-benar terlihat di matanya.
Saat Saki dilanda kebingungan, Haruki tersenyum
lembut, lalu mengelus pipinya perlahan menggunakan tangan yang tidak bertaut
kelingking. Bulu kuduknya meremang dan punggungnya bergetar.
Tubuhnya menegang karena rasa gugup, dan ia sedikit
bergidik, namun Haruki menatap Saki dengan tatapan mata yang begitu penuh kasih
sayang. Tidak hanya kelingking, jari-jarinya yang lain pun mulai terjalin
dengan cara yang memikat.
"Murao-san terlihat sangat cantik, ya."
"Eh, a...!"
Akibat kalimat yang dilontarkan Haruki, kepalanya
mendadak mendidih dalam sekejap. Kesadaran dan jalan pikirannya tersapu bersih,
dan seolah memanfaatkan celah itu, Haruki mendekatkan wajahnya hingga Saki
secara refleks menengadahkan kepala ke belakang dan menopang tubuhnya dengan
sebelah tangan di lantai untuk menghindar.
Melihat Saki yang seperti itu, Haruki tersenyum kecil
penuh misteri.
"Manis sekali."
"Ha──"
──ruki, ia ingin merangkai nama itu, namun bagaimanapun
juga nama tersebut tidak kunjung keluar dari mulutnya.
Sosok yang tumpang tindih adalah──.
Dadanya bergemuruh begitu keras hingga terasa sakit.
Kesadarannya mulai mengabur.
Meskipun itu adalah kalimat yang sama seperti sebelumnya,
ia sama sekali tidak bisa menerimanya dengan arti yang sama.
"Murao-san, seperti yang kubilang tadi, aku
menyukaimu."
"Ah...!"
Setelah Haruki berkata demikian dan mengelus bahunya,
tangan itu menyusup masuk dari kerah yukata lalu membelai tulang selangkanya.
Seketika itu juga, suara desahan manis yang bahkan
tidak ia duga keluar dari mulut Saki sendiri.
Di dalam manik matanya yang terbelalak lebar,
terlihat sosok Haruki yang sedang menjilat bibirnya sendiri dengan ujung lidah
merah jambunya.
Wajah itu tampak begitu dipenuhi dengan nuansa
erotis, namun juga memancarkan aura buas yang sarat akan hasrat.
Jika ia didekati oleh Haruki yang berada dalam wujud
seperti itu dan dibisiki tepat di telinganya, sisa-sisa kewarasan dan keraguan
yang ada pasti akan langsung buyar, lalu ia akan didorong jatuh begitu saja ke
atas lantai.
"Kamu benar-benar manis."
"……!"
Ia menelan ludah mendengar nada suara yang sedikit
berubah itu.
Haruki menindihnya, sementara satu tangannya mengunci
jari-jari mereka agar tetap bertaut di atas tatami.
Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, namun Saki langsung
mengalihkan pandangannya karena rasa malu.
Tubuhnya terasa sangat panas.
Ia mengeluarkan napas tersengal-sengal.
Ia sadar bahwa saat ini pasti ia sedang memasang wajah
yang sangat tidak senonoh.
Telinganya yang menjadi sangat peka menangkap suara gokuri,
suara seseorang yang sedang menelan air liur karena berhadapan dengan sesuatu
yang terlihat sangat lezat.
Lalu, ketika jari Haruki menyentuh dagunya, secara alami
ia memejamkan mata dan menyodorkan bibirnya──
『~~~~♪』
“…!?”
Pada saat itulah, ponsel Saki tiba-tiba berdering.
Kedua orang yang baru saja kembali sadar itu langsung
terlonjak dan mengambil jarak karena terkejut.
"P- panggilannya masuk, Saki-chan!"
"Eh, ah, iya, benar juga!"
Mereka sengaja berbicara dengan suara lantang untuk
menutupi kecanggungan yang seketika melanda.
Mereka benar-benar hampir terhanyut sepenuhnya oleh
suasana yang diciptakan oleh Haruki.
Sambil menekan dadanya yang berdegup kencang seperti
lonceng alarm, ia memeriksa layar ponselnya. Itu dari
Himeko.
"Halo, Hime-chan?"
『──
Tolong, tolong aku, bagaimana ini Saki-chan, Kakak...! Dia pingsan, lalu
matanya tidak mau... U- uuuua!』
"Hi- Hime-chan!?"
Suara itu terdengar sangat panik. Isak tangis Himeko juga terdengar di ujung sambungan.
Entah ke mana sisa-sisa hawa panas tadi, pikiran Saki
mendingin seketika.
Apakah terjadi sesuatu pada Hayato?
Bayangan masa lalu tiba-tiba melintas di benaknya.
Kekuatannya menguat pada genggamannya di ponsel.
Satu kali tarikan napas dalam. Pertama-tama, ia harus
tetap tenang dan memahami situasi.
"Hime-chan, dengarkan aku──"
Meskipun ia berusaha berbicara dengan nada se-tenang
mungkin, tiba-tiba ponsel di tangannya direbut begitu saja oleh Haruki.
"Hime-chan, sekarang kamu di mana!? Ada di
rumah!?"
『Eh...
ah, Haru-chan... un. Di rumah.』
"Baiklah, aku akan ke sana sekarang, tunggu
sebentar!"
"Haru-chan!?" / "Ha- Haruki-san!?"
Begitu Haruki memastikan hal itu pada Himeko, ia langsung
melesat keluar kamar.
Saki sempat tertegun sejenak melihat tindakan nekat itu,
namun ia buru-buru bangkit untuk menyusul.
Di luar, badai angin menderu kencang membawa butiran air
hujan yang berhamburan.
Meskipun baru saja membuka pintu depan, cipratan air
hujan sudah langsung membasahi kaki Saki.
Namun di tengah cuaca seperti itu, Haruki berlari tanpa
sedikit pun keraguan.
Punggungnya menghilang dalam sekejap mata.
Ia tidak sama dengan Saki yang hanya bisa berdiri
mematung dan kebingungan.
Ia juga harus mengejarnya──di tengah rasa cemas yang
didorong oleh perasaan tersaingi itu, suara dari ponsel yang masih tergenggam
erat menyadarkannya kembali.
『Saki-chaan...』
"…!"
Ia menghela napas panjang, fuuu~, melepaskan
segala beban di dadanya, lalu mengalihkan fokusnya.
Bayangan yang melintas di benaknya adalah wajah
Himeko saat pertama kali diajak bicara, wajah anak itu yang kehilangan
kata-kata dan ekspresi.
Saki sadar bahwa dirinya adalah orang yang lamban
dalam bertindak.
Bahkan jika ia mengejar Haruki sekarang pun, ia mungkin
tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya akan menjadi beban. Saki mengepalkan
tangannya lebih erat pada ponsel.
"Hime-chan, beri tahu aku semuanya, ya?
Pertama-tama, apa yang terjadi dengan Kakak?"
『Dia,
pingsan, dipanggil berkali-kali pun tidak bangun...』
"Begitu... di mana dia pingsan?"
『Di, di
koridor, posisi tengkurap...』
"Kapan kamu menemukannya?"
『Baru saja,
dia pulang di tengah hujan, berjalan ke arah kamar mandi, lalu aku mengajaknya
bicara, tapi beberapa detik kemudian terdengar suara dosat, dan setelah
itu...』
"Bagaimana dengan pernapasannya?"
『…………
Terdengar kasar dan sepertinya kesakitan.』
"Bagaimana dengan suhu tubuhnya?"
『Panas
sekali.』
"Begitu, aku mengerti... tunggu sebentar ya,
Hime-chan. Aku akan mengurusnya."
『U, un!』
Menjelang badai tadi, ia teringat pada keributan soal
anak kucing.
Pasti sampai sesaat sebelum badai datang, Hayato sedang
melakukan berbagai persiapan di ladang.
Dan Hayato pasti memaksakan diri hingga jatuh sakit.
Ah, benar-benar sifat yang sangat mencerminkan
seorang kakak.
Sambil mematikan sambungan telepon, ia mulai mencari
barang-barang yang mungkin diperlukan di internet.
"Obat penurun panas pasti ada persediaan di
rumah... lembar pendingin, minuman berisotonik, jelly juga sepertinya ada di
kulkas... Ibuu!"
Bukan berarti ia bisa berlari paling cepat dan
melakukan segalanya.
Ia tahu betul betapa tidak berdayanya dirinya. Namun,
ia pasti bisa melakukan sesuatu.
Ya, jika tenaganya kurang, ia tinggal meminjam tenaga
orang lain.
Ia tidak boleh terus-menerus hanya diam menonton seperti
sebelumnya. Ia harus mengulurkan tangannya.
Saki berpikir keras, memikirkan apa yang bisa ia lakukan
dengan caranya sendiri.
◇◇◇
Kesadaran Hayato berada dalam kondisi kacau.
Sesaat sebelum melepaskan kesadaran, hal yang pertama
kali melintas di matanya adalah wajah Himeko, sang adik, yang berubah menjadi
begitu pucat.
Pemandangan itu tiba-tiba membangkitkan ingatan tentang
masa lalu, ketika Himeko yang cengeng itu kehilangan suaranya.
Sebuah kenangan yang ia kurung di dasar hatinya, hal yang
sudah berusaha ia lupakan, namun rasanya mustahil untuk bisa dilupakan begitu
saja.
Mungkin semua itu terjadi karena ia mendengarkan masa
lalu Haruki, atau mungkin juga karena insiden anak kucing tadi.
Lima tahun lalu, hari ketika Ibu pingsan untuk pertama
kalinya.
Meskipun hari itu bukan karena badai, tapi hujan turun
begitu deras seperti hari ini.
Ia ingat sedang menghabiskan waktu di perpustakaan,
menunggu sampai hujannya reda sebelum akhirnya memutuskan pulang.
Setibanya di rumah, pemandangan yang Hayato saksikan
adalah sang Ibu yang tergeletak tak berdaya di lantai dan Himeko yang berdiri
mematung di hadapannya.
Ia sudah tidak begitu mengingat detail kecilnya.
Yang masih tertanam kuat dalam ingatannya adalah saat ia
panik menelepon Ayah, dan seluruh desa Tsukynose menjadi gempar persis seperti
kekacauan anak kucing tadi.
Untungnya operasi darurat tersebut berhasil, dan
semua orang di desa merasa lega. Tentu saja, Hayato pun menyambutnya dengan
rasa syukur yang luar biasa.
Namun, hanya Himeko satu-satunya yang tidak
menunjukkan ekspresi bahagia.
Bahkan sebaliknya, rona wajahnya sama sekali tidak
berubah, segala macam emosi seolah lenyap dari wajahnya, dan ia sama sekali
tidak berbicara. Tidak, lebih tepatnya ia tidak bisa berbicara.
Himeko mengurung diri dalam cangkangnya dan
kehilangan suaranya demi melindungi hatinya sendiri dari syok akibat Ibu yang
pingsan.
Jika dilihat dari luar, ia mungkin tampak seperti
orang yang sedang bersedih.
Namun, hanya Hayato yang berada di dekatnyalah yang
menyadari keanehan pada diri Himeko.
Tentu saja, sebagai anak kecil ia mencoba berbagai
cara untuk memperbaiki keadaan.
Berharap bisa membuat adiknya ceria, ia membuat
markas rahasia tiga tingkat dari kardus di dalam rumah, membentangkan futon
memenuhi ruang tamu agar mereka bisa tidur bersama, atau mencoba membuat
hamburg dengan memasukkan berbagai macam bahan makanan serakah ke dalamnya.
Namun, Himeko tidak memberikan reaksi apa pun.
Meski begitu, Hayato tetap sabar menemani Himeko.
Karena dia adalah adiknya.
Dan juga karena, setelah Haruki pergi, Himeko adalah
satu-satunya orang terdekat seusianya yang bisa iaandalkan.
Hari itu.
Akhir musim panas.
Saat ia percaya bahwa hari-hari yang menyenangkan dan
penuh kepolosan akan terus berlanjut selamanya.
Karena ia akhirnya mengerti bahwa ada hal-hal di dunia
ini yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatannya sendiri.
Dan karena ia sudah tahu bahwa keseharian yang selama ini
dianggap biasa bisa runtuh begitu saja dalam sekejap tanpa tanda-tanda apa pun.
Itulah sebabnya ia mengulurkan tangannya dengan putus
asa.
Agar Himeko bisa tetap menjadi Himeko.
Namun, seolah menertawakan Hayato, betapapun ia
mengulurkan tangannya, harapan itu terus lolos berhamburan dari sela-sela
jarinya.
Himeko tetap tidak berubah.
Hayato benar-benar merasa tidak berdaya.
Pandangannya perlahan menggelap.
Warna-warna di dunia ini seolah memudar.
Karena itulah hatinya begitu terkikis, hingga ia tidak
punya pilihan selain bergantung pada sesuatu.
Itu terjadi sepada suatu hari sepulang sekolah.
Kurang lebih saat angin musim dingin mulai bertiup.
Gunung-gunung mengubah warna daun-daunnya dengan cerah
sebelum akhirnya berguguran.
Menggerakkan kakinya tanpa arah mengikuti kata hati,
tempat yang ia tuju adalah sebuah kuil di tengah Gunung Tsukynose.
Tempat itu juga yang secara sengaja ia hindari sejak
Haruki pergi.
Namun di sisi lain, tempat itu menyimpan kenangan kuat
tentang sesuatu yang berkilau terang.
Hal itulah yang terus membayangi benak Hayato.
Bahkan dengan pemikiran kekanak-kanakannya, ia
berpikir bahwa ia hanya bisa memohon kepada para dewa──ia merenungkan hal itu
samar-samar.
Kuil yang baru ia kunjungi lagi sejak festival musim
panas itu terasa begitu bernostalgia sekaligus menyedihkan, sebuah pemandangan
yang asing bagi Hayato, membuatnya ragu untuk melangkah masuk.
Lagi pula, ia datang ke sana tanpa tujuan yang jelas.
Namun, ketika melihat seorang gadis──Saki──yang menari
berputar-putar dengan anggun sambil membawa sapu lidi di halaman kuil, ia
seketika menahan napas dan terpaku di tempat.
『────』
Ia tidak mengerti arti dari tarian itu.
Namun ia tahu bahwa gadis itu sedang berusaha dengan
putus asa mencari sesuatu dan mencoba mengulurkan tangannya.
──Begitu penuh keputusasaan, berulang-ulang,
terus-menerus.
Karena itulah sosok penuh tekad itu menusuk relung hati
Hayato.
Seketika sebuah cahaya menyorot di hadapannya, dan sadar
tidak sadar ia sudah berlari menghampiri.
『Tolong
buat Himeko, adikku, bisa tersenyum lagi!』
『Ehes!?』
Jika tiba-tiba didekati oleh seseorang yang tidak
dikenal, tangannya digenggam erat, lalu diberi permintaan seperti itu, wajar
saja jika siapa pun akan mundur ketakutan, bukan hanya Saki.
Itu adalah tindakan yang sangat impulsif.
Namun bagi Hayato saat itu, ia tidak punya pilihan selain
bergantung pada Saki.
『Kumohon,
tolong selamatkan Himeko! Dia anak yang cengeng, aku berusaha melakukan apa
pun, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa──』
Entah apa sebenarnya yang ia katakan saat itu. Ingatannya
sudah sangat kabur.
Ia hanya ingat bagaimana ia memohon dengan sangat agar
adiknya, Himeko, bisa diselamatkan. Serta ekspresi Saki yang terkejut dan
kebingungan.
Ah, pokoknya ia harus segera bangun.
Meskipun tubuhnya sudah jauh lebih besar dibanding masa
itu, Himeko tetaplah anak yang penakut dan kesepian.
Saat ini dia pasti sedang menangis ketakutan.
Jangan-jangan seperti dulu──
Hanya dengan membayangkan wajah itu saja sudah membuat
dadanya terasa sesak.
──Mengingat kembali saat Haruki pergi.
Itulah sebabnya ia memaksa kesadarannya untuk bangkit
kembali.
"Himeko... apa kamu menangis...?"
"Tidak kok."
"………… Eh?"
Saat ia berhasil menyadarkan kembali kesadarannya, hal
pertama yang menyambut matanya adalah langit-langit ruang tamu yang tampak
familiar namun terasa asing. Serta Saki yang, entah kenapa, mengenakan yukata
sederhana.
Ia sama sekali tidak memahami situasinya.
Meski ia mencoba memeras otaknya dengan putus asa,
pikirannya terasa tumpul dan tidak mau berputar dengan benar.
Saat ia mencoba bangkit, tubuhnya terasa sangat berat,
dan ketika ia mengeluarkan suara erangan kecil, Saki memasang wajah khawatir
lalu menahan tubuhnya dengan kedua tangan.
"Tetaplah berbaring seperti itu. Suhu tubuhmu tadi
lumayan tinggi."
"Eeto, Murao-san...?"
"Iya, aku Murao Saki."
"Kenapa... ah, Himeko mana!"
"Fufu, yang pertama dicari ternyata Himeko-chan ya. Jangan khawatir, dia sekarang sedang mandi bersama Haruki-san."
"Haruki dan mandi...?"
Kening Hayato tanpa sadar mengerut.
Himeko dan Haruki mandi bersama──entah kenapa
pemandangan itu terasa bisa dibayangkan sekaligus tidak masuk akal di
kepalanya. Ditambah lagi kepalanya yang terasa berat membuat pikirannya semakin
kacau. Kali ini ia mengerang pelan dengan arti yang berbeda dari sebelumnya.
Mendengar itu, Saki mengeluarkan tawa kecil.
"Haruki-san mendengar kalau Kakak pingsan, jadi
dia langsung lari keluar tanpa menggunakan payung..."
"…Anak bodoh itu."
"Waktu aku kejar pakai mobil, dia sudah basah
kuyup... Aku sempat mengeringkannya di dalam mobil sih, tapi Himeko kaget
begitu melihat kondisi Haruki, jadi dia langsung menyeretnya ke kamar
mandi."
"Ampun deh... tapi itu memang sangat mirip Haruki.
...Begitu ya, jadi Himeko baik-baik saja, ya..."
"Meskipun tadi dia sempat ngambek sedikit sih."
Hayato menghela napas lega.
Barulah saat itu ia mulai menyadari situasi yang sedang
dihadapinya sekarang.
Mengingat kembali ingatannya, ia ingat mulai dari pulang
ke rumah dengan basah kuyup akibat badai setelah mengurus persiapan di ladang,
hingga berganti pakaian di dekat kamar mandi. Rupanya di situlah tenaganya
habis dan ia pingsan, lalu Himeko memanggil bantuan dan membawanya ke ruang
tamu. Membayangkan bahwa dirinyalah yang diangkut oleh Haruki dan yang lainnya
membuat wajahnya terasa sedikit panas.
Ia tidak tahu apakah pakaian dan rambutnya yang lembap
ini karena air hujan atau karena keringat.
Tubuhnya terasa lemas, kepalanya panas dan pusing. Ini
adalah gejala klasik awal masuk angin.
Jika dipikir-pikir lagi, mulai dari kepindahan mendadak,
kehidupan baru di perkotaan, kesibukan mengurus pekerjaan rumah tangga setiap
hari, hingga kembali ke Tsukynose dan bersenang-senang sepuasnya. Ditambah
dengan insiden anak kucing dan persiapan ladang menghadapi badai, yang
merupakan kerja fisik berat pertamanya setelah sekian lama. Wajar saja jika ia
kelelahan dan jatuh sakit, bahkan jika itu bukan Hayato sekalipun.
Meskipun begitu, situasi saat ini terjadi semata-mata
karena ia salah memperhitungkan manajemen fisiknya sendiri.
Kali ini, rasa malu membuatnya menghela napas panjang
dengan arti yang berbeda dari sebelumnya, haaa.
"Um, apa kamu baik-baik saja? Aku sudah menyiapkan
obat penurun panas... ah, tapi lebih baik isi perutmu dulu... ada minuman
jelly, apa kamu mau?"
"Eh, ah, terima kasih."
"Mau aku ganti juga lembar pendingin di
dahimu?"
"Sejak kapan... ah, biar aku lakukan sendiri."
"Serahkan saja padaku."
"Ah, iya."
Saki tersenyum manis dan dengan telaten merawatnya.
Mulai dari membantunya bangun, menyerahkan minuman
jelly, obat, dan air putih, hingga membenahi selimut sampai ke bahu dan
mengganti lembar pendingin setelah ia tidur.
Dirawat seperti itu oleh sahabat adiknya terasa
sangat memalukan, namun ketika Saki berkata dengan nada tegas yang tidak
membantah, "Pasien yang sedang flu harus menurut dan dirawat dengan
baik", ia jadi tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Suasana canggung tercipta di antara mereka.
Bagaimanapun, ia tidak tahu harus membicarakan apa.
Mencari topik pembicaraan pun nihil. Pikirannya sedang
tumpul.
Seorang kakak laki-laki dan sahabat adiknya.
Jarak di antara mereka terasa dekat sekaligus jauh.
Situasi seperti ini sama sekali tidak pernah terbayangkan
saat ia masih tinggal di Tsukynose.
Namun anehnya, sama sekali tidak ada rasa canggung yang
berlebihan.
Bahkan sebaliknya, entah mengapa ia merasakan sesuatu
yang mirip dengan rasa nostalgia.
Apakah pernah terjadi hal serupa di masa lalu?
Ia mencoba menggali ingatannya dengan putus asa, namun
sekali lagi, sepertinya demam membuat kepalanya diselimuti kabut sehingga ia
tidak bisa mengingatnya dengan benar. Kening Hayato kembali berkerut.
Saat itu, terdengar suara cipratan air dari arah kamar
mandi disusul dengan teriakan Haruki, "Kya!?"
Entah apa yang sedang mereka lakukan, sepertinya Himeko
bersenang-senang dengan cukup bersemangat, membuat Saki tersenyum pahit saat
mata mereka saling bertemu.
"Yah, selama Himeko baik-baik saja, tidak
apa-apa."
Begitu Hayato berucap dengan nada ketus, Saki menyipitkan
mata dan tersenyum kecil.
"Sudah kuduga dari dulu, tapi kamu sedikit terlalu
overprotektif pada Himeko ya."
"…!?
Begitu, ya? Yah, dia kan adikku jadi itu hal yang wajar, lagi pula Himeko itu
ceroboh dan suka merepotkan."
Jantungnya berdegup kencang mendengar penilaian yang sama
persis seperti yang pernah diucapkan oleh Haruki dulu.
Bagi Hayato sendiri, ia tidak pernah berniat untuk
bersikap seperti itu.
Namun Saki menyipitkan matanya semakin dalam, sudut
bibirnya melengkung membentuk senyuman.
"Makanya Himeko sangat menyayangi Kakak, ya."
"...Apa dia benar-benar menyayangiku?"
"Fufu, aku jadi sedikit iri pada Himeko. Aku juga
ingin punya saudara seperti Kakak."
"…!?
Eeeto..."
"Eh, ah...!"
Mendengar ucapan spontan dari Saki, keduanya mendadak
merona merah dan membuang muka ke arah berlawanan.
Kepalanya semakin terasa panas dan tidak bisa berpikir
jernih.
Namun perasaannya tidak buruk. Dadanya terasa begitu
geli.
"...Aku tidak sebaik yang kamu kira dalam menjaga
atau mendukung Himeko. Aku bukan orang hebat."
"Mana mungkin..."
"Makanya Murao-san, kalau boleh jujur... aku ingin
kamu melanjutkan sekolah ke SMA di sini, di kota."
"…………………… Eh?"
Mata Saki terbuka lebar, bulat sempurna.
Itu pasti kata-kata yang terucap begitu saja akibat
pengaruh demam tinggi yang menderanya.
"Himeko itu, seperti yang kamu tahu, orangnya
ceroboh. Bukan cuma Himeko, Haruki juga... tapi aku... entahlah, rasanya kalau
ada Murao-san di dekat sini, aku merasa tenang dan semuanya akan baik-baik
saja."
"Kakak...?"
"Murao-san sudah sejak lama selalu memintaku
melakukan hal-hal yang tidak bisa kulakukan sendiri, makanya..."
Kelemahan Hayato ikut bercampur di dalam kata-kata itu.
Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia sangat menyadari betapa tidak berdayanya dirinya.
Serta keputusasaan itu.
Namun, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa ia ceritakan
kepada orang lain.
Jenis hal yang sama sekali tidak boleh ia tunjukkan di
hadapan Himeko, maupun Haruki.
Ia sedang mengekspos bagian rapuh dari lubuk hatinya
yang paling dalam.
Mungkin ini semua karena pengaruh demam.
Namun, justru karena lawan bicaranya adalah Saki, ia jadi
bisa melepaskan semua itu.
"Bei, gitu... dulu juga..."
Ia merasa sempat mengingat kembali masa lalu yang
terlupakan di dalam mimpinya tadi.
Namun garis tepi kenangan itu perlahan memudar seolah
dilelehkan oleh demam.
Sesuatu yang seharusnya sangat berharga. Ia mengulurkan
tangannya dengan putus asa agar hal itu tidak menghilang.
Namun lumpur pekat melilit pergelangan kakinya.
Otaknya menjadi panas dan pernapasannya menjadi semakin
kasar.
Seketika itu juga, Saki meletakkan tangannya yang sejuk
di dahi Hayato dan mengelusnya.
Sentuhan itu memberikan ketenangan yang aneh, membuat
tubuhnya terasa ringan seketika.
"Sekarang tidurlah dulu. Kalau tidak, penyakitmu
tidak akan sembuh, tahu."
"Eh? Ah, aa..."
"Apa ada hal lain yang kamu inginkan?"
"Malam ini, tetaplah di sini... temani aku."
"Karena Himeko akan kesepian, kan."
"......Bukan, kurasa aku... juga..."
"…!"
Panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
Hayato kehilangan kesadaran sebelum sempat menyelesaikan
kalimatnya.
"──Selamat malam."
Hanya suara Saki yang ia bisikkan di akhir yang
tertinggal di telinganya──
──Selamat malam.
Gumam Saki itu perlahan tenggelam dan teredam oleh suara
derasnya hujan yang menghantam atap rumah.
Ia perlahan menarik tangannya dari dahi Hayato, lalu
meletakkan tangan itu di atas dadanya sendiri.
"……Uu……suu……"
Tidak lama kemudian, suara napas Hayato yang teratur
mulai terdengar.
Meskipun wajahnya masih tampak kemerahan karena demam,
ekspresinya terlihat jauh lebih tenang.
"Kakak..."
Namun sebaliknya, ekspresi Saki justru terlihat rumit.
Bibirnya terkatup rapat, cengkeramannya pada bagian kerah
yukata menguat hingga menimbulkan kerutan.
"Aku juga ingin melanjutkan SMA di sana..."
Bahunya bergetar kecil seolah sedang menahan sesuatu.
Itu adalah keinginan terbesar dari lubuk hati Saki.
Bersamaan dengan gumaman itu, setetes air mata jatuh
membasahi punggung tangannya yang sedang mencengkeram yukata.
Suara hujan yang menghantam atap mendominasi seluruh
ruangan.
Sudah berapa lama ia menatap wajah Hayato?
Tak lama kemudian, Saki menghela napas hangat, lalu
mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.
Lalu ia menatap lekat-lekat bibir Hayato yang sedang
bernapas teratur, dan seolah ditarik oleh suatu kekuatan, ia mendekatkan
bibirnya yang berwarna merah muda itu──
"…"
Tepat pada saat itu, Haruki yang menyaksikan rentetan
kejadian tersebut dari balik pintu fusuma langsung mengalihkan pandangan dan
tubuhnya. Ia tidak sanggup melihatnya lagi.
Koridor yang temaram. Di tengah badai hujan yang
menghantam berbagai sudut rumah, ia menyandarkan punggungnya perlahan ke
dinding.
Dadanya bergemuruh ngilu.
Dengan gigi terkatup rapat, ia mencengkeram kuat-kuat
bagian dada kemeja Hayato yang dipinjamkannya saat ia menginap di apartemen
tempo hari, kemeja yang diberikan Himeko usai mandi, hingga menimbulkan
kerutan.
Ia seharusnya sudah tahu tentang perasaan Saki.
Perasaan yang tertinggal dan terabaikan di Tsukynose.
Namun meskipun mengetahuinya, keterkejutan saat melihat
luapan perasaan itu secara langsung ternyata sangat sulit untuk ia bendung.
Terutama karena ia langsung membandingkannya dengan
tindakan yang akan ia ambil sendiri dalam situasi yang sama.
Kata-kata Saki yang terucap tadi juga terus
berputar-putar di kepalanya dan tidak mau pergi.
Jarak dari Tsukynose ke stasiun terdekat memerlukan waktu
dua jam lebih perjalanan sekali jalan.
Karena jarak yang jauh itu, banyak orang yang memilih
meninggalkan desa begitu lulus SMP atau masuk SMA.
Kalaupun tidak, mereka biasanya bersekolah di wilayah
prefektur yang sama di kaki gunung, atau paling tidak di prefektur tetangga.
Sudah menjadi kebiasaan umum untuk bersekolah di tempat
yang memungkinkan mereka kembali ke rumah orang tua saat akhir pekan tiba.
Anak SMA memang bukan lagi anak kecil.
Namun mereka juga belum bisa disebut sebagai orang
dewasa sepenuhnya.
Mungkin karena itulah mereka masih harus berada di
dalam jangkauan pengawasan dan perlindungan orang tua.
Sebaliknya, jarak antara kota besar dan Tsukynose
sangatlah jauh.
Sangat, sangat jauh.
Haruki sendiri sangat memahami betapa jauhnya jarak itu
karena ia mengalaminya langsung.
Itulah sebabnya dadanya terasa ngilu.
Itu bukanlah jarak yang bisa ditempuh dengan mudah untuk
sekadar bolak-balik berkunjung. Biaya hidup dan sewa tempat tinggal pun sangat
berbeda antara pedesaan dan kota besar.
Faktanya, Hayato dan yang lainnya hanya bisa kembali ke
desa saat liburan musim panas tiba.
Betapa besar tekad dan perasaan yang ia pendam hingga
sanggup melontarkan keinginan untuk pergi ke kota besar.
Terlebih lagi, hal itu diucapkan agar tidak didengar oleh
Hayato──
Ia menggigit bibirnya erat-erat.
Haruki meredam napas dan langkah kakinya, lalu
meninggalkan tempat itu.
Setibanya kembali di ruang tamu, ia mendapati Himeko
sedang mengeringkan rambutnya menggunakan pengering rambut.
Begitu menyadari kehadiran Haruki, Himeko menoleh dengan
tatapan membuang muka dan bertanya dengan nada kaku.
"...Bagaimana keadaan Kakak?"
Haruki berdeham pelan, "Ehm."
Ia langsung mengenakan topeng senyumnya agar
ekspresinya yang sebenarnya tidak terlihat.
"Dia tidur dengan nyenyak kok. Sepertinya
demamnya hanya karena kelelahan, jadi setelah tidur dan bangun besok, dia pasti
sudah pulih seperti biasa."
"......真是的, Kakak benar-benar tidak bisa mengatur kesehatannya sendiri! Padahal
biasanya dia suka ngomel-ngomel!"
Mendengar kata-kata Haruki, suasana tegang di sekitar
Himeko perlahan mencair. Mungkin merasa lega, ia kembali mengomel dengan nada
ceria seperti biasanya.
Haruki tersenyum canggung, ahahaha, lalu memegang
sehelai rambutnya sendiri yang masih terasa lembap.
"Nih, Himeko-chan. Boleh aku pinjam hairdryer-nya
sesudah kamu?"
"Un, boleh. Lagian ini baru saja selesai, jadi biar
aku yang keringkan rambutmu."
"Eh? Ah, un..."
Begitu mendengar itu, Himeko langsung berdiri, bergeser
ke belakang Haruki, menekan bahunya agar duduk di atas bantalan lantai.
Lalu sambil memegang helaian rambut Haruki, ia mulai
menggerakkan pengering rambut dengan tiupan hangat sambil bersenandung kecil.
"Rambut Haru-chan panjang banget ya. Merawatnya
pasti susah, kan?"
"Ahaha, karena sudah sejak pindah dari Tsukynose ke
kota, jadi aku sudah terbiasa."
"Wah... tapi halus banget, cantik."
"Ahaha, terima kasih."
"Rambut panjang juga bagus ya. Terasa seperti cewek banget."
"…………Un."
Mendengar kata-kata Himeko tentang "cewek",
Haruki menggumam menanggapinya dengan samar.
Sudut bibirnya sedikit berkedut. Ia merasa lega
karena Himeko tidak melihat wajahnya.
Tanpa percakapan berarti setelah itu, ia menyerahkan
rambutnya untuk diurus oleh Himeko.
Gerakan tangan Himeko begitu lembut seolah sedang
memperlakukan barang pecah belah, dan mengingat sikapnya yang biasa, hal itu
terasa begitu janggal sekaligus mengharukan.
Tak lama kemudian, suara pengering rambut itu
berhenti. Rambutnya sudah benar-benar kering.
Mungkin karena dikerjakan dengan lebih teliti dari
biasanya, sensasi saat jari-jari tangan menyisir rambutnya terasa sangat
lembut.
"Nah, sudah selesai."
"Terima kasih, Hime... Hime-chan!?"
"Aku senang banget waktu kamu berlari datang
kemari..."
Tiba-tiba Himeko memeluknya erat dari belakang.
Kecemasan itu terasa jelas terpancar dari tubuhnya
yang sedikit bergetar.
Semangat yang ditunjukkannya tadi mungkin hanyalah
pura-pura belaka.
Haruki menumpangkan tangannya di atas tangan Himeko
yang melingkar di tubuhnya.
Berbeda dengan Hayato, ia bisa merasakan kehangatan
dari sentuhan tangan yang kecil dan lembut itu, tidak banyak berubah dari
masa-masa saat mereka masih tinggal di Tsukynose dulu.
"...Aku sempat takut, jangan-jangan Kakak juga akan
pergi meninggalkan kami."
"Tidak apa-apa kok, Himeko-chan. Hal seperti itu
tidak akan terjadi."
"Un, aku tahu, tapi..."
"Himeko-chan ini benar-benar anak yang sangat
menyayangi kakaknya ya dari dulu."
"...Enggak juga, kurasa itu hal yang
normal."
"Aha."
"...Ugh, Haru-chan ini ya!"
Mendengar tawa kecil Haruki pada Himeko yang tampak
cemberut, gadis itu mempererat dekapannya seolah melayangkan protes.
Haruki menepuk lengannya dua kali dengan ringan untuk
menenangkan, "Iya, iya", lalu bangkit berdiri untuk berhadapan
langsung dengannya.
Lalu, seolah ingin meyakinkannya, ia meniru gaya Hayato
dan melemparkan senyuman kepada Himeko.
"『Tenang
saja, Himeko.』"
"…………"
Setelah itu, ia mengacak-acak rambut Himeko dengan
sedikit kasar dan sengaja.
──Seperti yang selalu Hayato lakukan padanya.
Himeko sedikit tersenyum senang sambil melayangkan protes
kecil, "Ugh, padahal rambutku sudah dirapikan."
Badai di luar masih terus meniupkan angin kencang dan hujan lebat ke seluruh penjuru desa Tsukynose.



Post a Comment