Chapter 1
Transaksi
Berhadapan dengan Takura Mao berarti, mau tidak mau, aku
harus menatap lurus-lurus hal yang selama ini kuabaikan dan mengenal diriku
sendiri.
Meskipun aku sudah membulatkan tekad dengan penuh
semangat, Haruki langsung membentur tembok penghalang.
Itu terjadi sesaat setelah ia kembali dari Hokuriku.
"Hah, bagaimana ini..."
Suara bingung Haruki yang sedang duduk di tepi ranjang
sambil memegang ponselnya menggema di kamarnya yang kini sudah tampak seperti
kamar gadis biasa pada umumnya.
Sudah diputuskan bahwa ia akan menghadapi ibunya, tetapi
masalahnya adalah ia tidak bisa menghubungi sang ibu tercinta.
Jangankan panggilan telepon, pesan yang dikirimkannya
memang terbaca, tetapi sama sekali tidak ada tanggapan.
Mengingat selama ini Haruki tidak pernah berusaha
mendekati ibunya, ia juga tidak tahu cara lain untuk menghubunginya.
Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya
dikejar-kejar oleh orang-orang dari dunia hiburan.
Berpikir bahwa Takura Mao pasti bernaung di bawah suatu
agensi tertentu, ia mencoba mencarinya di internet dan mendapati bahwa ibunya
ternyata mengelola agensi independen.
Tentu saja, satu-satunya talent yang bernaung di bawahnya
adalah Takura Mao.
Meskipun ada formulir kontak dan ia telah menyampaikan
niatnya untuk berbicara, sepertinya ia tidak bisa berharap banyak akan mendapat
balasan.
Ia langsung menemui jalan buntu.
Namun, tidak ada pilihan untuk menyerah di sini.
"Kalau dalam situasi seperti ini, Hayato pasti akan
bilang, 'Ayo kita datangi langsung saja!'"
Membayangkan pemandangan itu secara jelas membuat Haruki
terkikik geli.
Kalau begitu, apa yang harus dilakukan sudah jelas.
Jika telepon dan pesan tidak tersambung, ia tinggal
mendatangi langsung di hadapannya.
Soal bagaimana caranya, ia bisa memikirkannya nanti.
Ia akan membuka jalannya sendiri.
Karena Hayato pasti akan melakukan hal itu.
Entah kenapa, Haruki merasa situasinya sudah sangat
konyol hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.
Takura Mao tampil dalam berbagai drama sebagai seorang
aktris.
Haruki beberapa kali tanpa sengaja pernah melihat lokasi
syutingnya.
Selain itu, sebagai model, ibunya juga membintangi
berbagai iklan komersial mulai dari produk pakaian, makanan ringan, biro
perjalanan, kartu kredit, barang-barang kebutuhan sehari-hari, hingga berbagai
layanan langganan.
Jika ia tidak bisa menghubungi ibunya secara langsung, ia
hanya perlu mendekatinya secara tidak langsung.
Berpikir begitu, Haruki memutuskan untuk mencari rumah
produksi atau studio tempat drama dan iklan yang dibintangi ibunya dibuat
baru-baru ini, lalu mendatangi tempat-tempat itu secara langsung.
Apakah ini bisa disebut beruntung, video tentang Haruki
sempat menjadi kehebohan besar di dalam industri, sehingga wajahnya cukup
dikenal di mana-mana.
Meskipun datang tanpa membuat janji temu, ia tidak diusir
dan justru didengarkan, mungkin karena ia adalah anak Takura Mao.
Hasilnya, meskipun mereka memahami situasinya,
pihak-pihak perusahaan mengatakan tidak bisa memberikan informasi kontak sang
ibu dengan alasan kepatuhan perusahaan atau corporate compliance.
Yah, itu sudah pasti.
Ia sendiri sadar bahwa apa yang dilakukannya ini tidak
masuk akal.
Namun, ia tidak punya waktu untuk memedulikan harga diri
lagi.
Ia mendatangi satu per satu perusahaan hiburan yang ada.
Usahanya selalu berakhir dengan tangan kosong, tetapi
tindakan Haruki yang berkeliling menanyakan tentang Takura Mao ini tetap
memiliki arti tersendiri.
Mengingat ibunya selalu berkata agar ia menunggu dengan
menjadi anak baik, jika ibunya tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang,
mungkin saja ibunya akan merasa kesal dan mencarinya untuk menegur.
Jika memang begitu, itu justru menguntungkan.
Ia sudah berhenti menjadi anak rahasia Takura Mao
yang hanya bisa menunggu dengan patuh.
Lagi pula, dunia hiburan sepertinya adalah dunia yang
kecil.
Belum ada seminggu Haruki wara-wiri ke berbagai tempat,
rumor tentang putri Takura Mao yang berkeliling menanyakan keberadaan sang ibu
langsung menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru.
Hari itu, ketika Haruki mengunjungi kantor penerbit
majalah tempat Takura Mao baru saja menjadi modelnya, beberapa editor
menyambutnya seolah-olah sudah menunggunya dan langsung membawanya ke ruang
rapat, lalu menjamunya dengan kue-kue teh yang cukup mahal.
Seperti biasa, mereka mengatakan tidak bisa memberikan
informasi pribadi, tetapi sebagai gantinya mereka menceritakan bagaimana etos
kerja sang ibu.
Di sana pun, mereka menceritakan kembali tentang
kemampuan ekspresi Takura Mao yang sangat beragam dan berbeda dari orang lain,
kehadirannya yang mampu menguasai seluruh ruangan, serta bagaimana
artikel-artikel yang mereka tulis dipenuhi dengan semangat setelah terinspirasi
oleh hal itu.
Begitu pula di tempat-tempat lainnya.
Setiap orang yang pernah bekerja bersama ibunya di lokasi
syuting selalu memuji dan mengagumi etos kerjanya.
Begitulah besarnya energi yang dipancarkan oleh Takura
Mao, sosok yang terus aktif di garis depan dunia hiburan.
Itu adalah sisi wajah ibunya yang sama sekali tidak
diketahui oleh Haruki.
Rasa bingung membuatnya tidak tahu bagaimana harus
menerima kenyataan itu.
Namun, ia sama sekali tidak merasa benci, dan justru
semakin ingin tahu lebih banyak tentang ibunya yang begitu memesona banyak
orang di tempat kerja.
Setelah mendengarkan berbagai cerita itu selama sekitar
satu jam dan membawa tekad baru, Haruki keluar dari ruang rapat.
Begitu melangkah keluar ke koridor, ia tanpa diduga
berpapasan dengan seseorang yang familier.
"Hah, Bibi?!"
"Hah, siapa yang Bibi, bocah tengik!"
Mata Mari membelalak karena terkejut dan heran, lalu
ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Haruki dengan lancang.
Gadis itu adalah Mari, gadis yang sempat ia temui di
Taman Kastil Tsuruga di Hokuriku tempo hari.
Merasa kesal karena kembali dipanggil Bibi seperti
saat itu, Haruki menatapnya balik dengan permusuhan yang terpancar jelas.
Namun, Mari tidak terlihat peduli sama sekali, ia
berkacak pinggang dan menatap Haruki dari atas sampai bawah secara saksama.
"Bibi, lagi apa di tempat seperti ini? Agen
independen? Ah, mumpung lagi ramai dibicarakan begini, memang saat yang tepat
buat cari panggung sih."
Menyadari sesuatu dari cara bicara Mari, Haruki
membelalakkan matanya lalu balik bertanya.
"Eh, jangan-jangan kamu tahu siapa aku...?"
Mendengar itu, Mari mengedipkan matanya beberapa kali
sebelum menghela napas panjang tanda jenuh.
"Hah, ya mana mungkin aku tidak tahu putrinya Takura
Mao. Di generasi yang sama di industri ini, tidak ada yang
tidak tahu tentangmu, Bibi. Yah, waktu ketemu di Hokuriku dulu aku memang
sempat kaget kenapa kamu ada di sana, tapi aku langsung tahu dalam sekali lihat
kok."
Mari mendengus bangga dengan ekspresi angkuh.
Artinya, bahkan setelah mengetahui bahwa Haruki
adalah putri dari Takura Mao—sosok yang dipuja sekaligus ditakuti di dunia
hiburan—Mari tetap memanggilnya Bibi.
Nyali anak ini benar-benar besar.
Atau mungkin dia memang anak yang membangkang.
Merasa diremehkan apa pun alasannya, wajah Haruki
berkedut kesal, lalu ia melancarkan sentilan dahi yang kuat ke jidat Mari yang
sedang tersenyum menyebalkan.
"Heh, kalau begitu kamu tahu kan kalau aku ini
lebih tua darimu, ya, kan!"
"Aduh sakit?! Barusan apa-apaan sih, Bibi!"
"Siapa yang Bibi, siapa!"
"Ya soalnya Bibi itu memang Bibi, sih!"
"Kamu ini...!"
Sambil memegangi dahinya yang memerah, Mari
memperlihatkan taringnya dan balas membentak.
Kali ini gilirannya Haruki yang berkacak pinggang,
mencondongkan tubuh ke depan, dan menatap tajam ke arahnya.
Keduanya saling mendesis bagaikan binatang buas sambil
saling melempar tatapan tajam, menciptakan suasana yang terasa berbahaya.
Tiba-tiba, suara tawa kecil yang terdengar geli memecah
ketegangan di antara mereka.
"Fufu, baguslah kalau kalian akur."
"Siapa yang akur──eh."
Ketika Haruki secara refleks mengalihkan kata-kata
sanggahannya ke arah sumber suara, ia melihat seorang pria paruh baya yang
tidak asing lagi, yaitu kakak tirinya, Sakurajima Seiji.
Mari berbicara kepada Seiji yang memasang senyum agak
dibuat-buat.
"Paman, urusannya sudah selesai?"
Haruki mengerutkan kening melihat Mari yang memanggil
Seiji dengan sebutan "paman", sementara Seiji justru menjawabnya
dengan senyuman pahit.
"Ah, sudah selesai. Tapi respons mereka agak
meragukan, ya. Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak akan mendapat jawaban
positif."
"Begitu ya, ah, terserahlah."
Mari menjawab dengan ketus, tetapi wajahnya menunjukkan
ekspresi seolah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
Mari buru-buru membuang muka seolah tidak ingin orang
lain melihat ekspresi tersebut.
Meskipun Haruki tidak tahu urusan apa yang membawa mereka
ke tempat ini, situasinya sepertinya tidak berjalan begitu baik.
Melihat interaksi barusan, apakah Seiji berencana untuk
memproduseri Mari selanjutnya?
Haruki kembali mengamati Mari dari dekat.
Meskipun masih menyisakan kesan keanak-anakan, struktur
wajahnya sudah sangat tertata, dan proporsi tubuhnya pun tidak ada celahnya.
Dari segi usia, tinggi badannya sepertinya masih bisa
bertambah sedikit lagi, jadi ada banyak hal yang bisa diharapkan darinya.
Ia pun teringat kejadian di Hokuriku tempo hari.
Kemampuan ekspresi Mari yang bisa mengimbanginya bahkan
saat Haruki mengerahkan kemampuan penuh patut diacungi jempol.
Meskipun masih dalam tahap perkembangan, potensi
peningkatannya masih sangat besar.
Selain itu, ia juga tahu bahwa anak ini sangat serius
dalam menghadapi pekerjaannya.
Pantas saja Seiji sampai melirik bakatnya.
Jika saja Haruki tidak tahu betapa menyebalkannya
kepribadian anak ini, ia pasti sudah memberikan dukungan penuh dari lubuk
hatinya.
Saat itu, Seiji tiba-tiba melemparkan pertanyaan kepada
Haruki seolah itu adalah hal yang biasa.
"Jadi, ada keperluan apa Haruki-kun datang ke
sini?"
"Ah, aku... itu..."
Haruki mendadak gelagapan dan kehabisan kata-kata,
bingung harus menjawab apa.
Lagi pula, ini adalah urusan antara dirinya dan sang ibu.
Namun, Seiji bukanlah orang luar sepenuhnya.
Ia juga tahu bahwa Seiji memiliki kaitan dan benang merah
yang rumit dengan ibunya.
Saat Haruki terdiam, Seiji mengangkat ujung bibirnya
seolah bisa membaca isi pikiran Haruki.
"Yah, sudah pasti kamu datang ke sini untuk mencoba
menghubungi Mao-kun, kan?"
"I-Itu..."
"Ada banyak rumor yang beredar, lho. Katanya
putri Takura Mao sedang berkeliling mencari ibunya."
"......Begitu ya."
Ia terlalu ceroboh.
Jika dipikirkan sedikit saja, sudah pasti gerak-gerik
Haruki akan langsung sampai ke telinga Seiji, bukan ibunya.
Haruki merasa agak canggung jika harus berurusan
dengan Seiji.
Awalnya, ia sempat berpikir untuk meminta bantuan
Seiji terkait masalah ibunya.
Namun, memori saat Seiji mengungkapkan hubungan
keluarga mereka dan mengajaknya masuk ke dunia hiburan selalu terlintas kembali
di benaknya.
Pria itu sempat merendahkan dirinya sendiri sebagai
orang yang tidak kompeten, lalu tiba-tiba mengubah sikap tenangnya yang
bagaikan seorang pria berpendidikan menjadi terobsesi hingga setengah histeris
saat memuji dan merekrut bakat Haruki.
Mengingat ayahnya adalah seorang aktor legendaris
yang hebat, sangat jelas bahwa Seiji menyimpan semacam kompleks inferioritas
terhadap dunia hiburan yang berasal dari bakat itu sendiri.
Fakta bahwa ia mendefinisikan dirinya sebagai orang
yang tidak memiliki apa-apa adalah bukti dari hal tersebut.
Sekarang setelah ia bersentuhan dengan sisi kelam
yang tersembunyi itu, pria di hadapannya ini justru tampak semakin berusaha
menutupi niat aslinya dengan senyuman palsu.
Selain itu, fakta bahwa Seiji tidak pernah
mendekatinya lagi sejak insiden festival malam juga terasa mencemaskan.
Jelas sekali ada maksud tersembunyi yang disiapkannya
terhadap dunia hiburan.
Jika ia mengandalkan pria ini, imbalan seperti apa yang
nantinya akan diminta darinya?
Intinya, pria ini tidak bisa dipercaya.
Itulah sebabnya Haruki memilih untuk tidak pernah
berhubungan dengan kakak tirinya ini.
Namun, apa yang diucapkan oleh Seiji berikutnya adalah
sesuatu yang tidak boleh Haruki lewatkan begitu saja.
"Kalau dengan cara seperti itu, kamu tidak akan
pernah bisa sampai ke tempat Mao-kun."
"Eh, maksudnya..."
Saat Haruki menatapnya dengan penuh kecurigaan untuk
meminta penjelasan lebih lanjut, Seiji mengangkat bahunya dan menjawab.
"Artinya seperti yang kudengar. Pertahanan Mao-kun
itu terkenal sangat ketat, dia dengan tegas menolak segala bentuk kontak di
luar urusan pekerjaan. Di lokasi syuting pun, jika ada yang mencoba
membicarakan hal di luar pekerjaan, dia akan mengabaikannya secara total.
Itulah sebabnya meskipun ada banyak gosip yang beredar, tidak ada satu pun yang
berhasil mengorek informasi tentang Mao-kun sampai tuntas. Karena sangat sulit
dihubungi, pihak produksi pun sering mengeluh betapa susahnya sekadar mengirimkan
tawaran pekerjaan padanya. Aku berani pastikan, tidak peduli seberapa keras
Haruki-kun berusaha, dengan cara ini kamu tidak akan pernah bisa menemui
Mao-kun."
"Kalau begitu, aku akan mendatangi langsung
tempat syutingnya──"
"Kamu mungkin memang putri Takura Mao, tapi
statusmu tetaplah orang awam. Jika sang pemeran menolak, mustahil
bagimu untuk bisa masuk ke lokasi."
"Ugh...!"
"Dan siapa pun itu, akan sangat sulit untuk menemui
Mao-kun saat ini."
"Kenapa?"
"Aku dengar sejak beberapa minggu lalu, Mao-kun
telah menolak semua tawaran pekerjaan baru."
"......?"
Haruki mengerutkan kening dan menggertakkan gigi
belakangnya.
Mengingat etos kerja ibunya yang ia dengar dari
orang-orang di industri ini, apa yang dikatakan Seiji sepertinya memang benar.
Ia tadinya berpikir bahwa sekadar menemui ibunya
bukanlah hal yang sulit, tetapi ternyata dugaannya meleset jauh.
Tentu saja, akan menjadi kebohongan jika ia bilang
dirinya tidak sempat merasa optimis bahwa sebagai anak dan ibu, mereka bisa
langsung bertemu kapan saja.
Melihat Haruki yang terdiam seribu bahasa, Seiji
akhirnya berbicara dengan nada yang sedikit memprovokasi.
"Sebagai anak yang cerdas, kamu pasti sudah tahu
apa yang harus dilakukan sekarang, kan?"
"T-Tapi, itu..."
Sampai di titik ini, pilihan cara yang tersisa untuk
bisa menemui ibunya sangatlah terbatas.
Namun, cara itu terasa terlalu berlebihan dan konyol.
Langkah itu juga terasa begitu tidak nyata.
Namun, Seiji merentangkan kedua tangannya secara
berlebihan seolah sedang berakting di panggung teater, lalu membujuk Haruki.
"Aku akan katakan sekali lagi. Haruki-kun, maukah
kamu datang ke dunia hiburan?"
"......Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa
bertemu Ibu?"
"Begitulah. Untuk bisa bertemu Takura Mao, kamu
harus berdiri di panggung yang sama."
"Hah, itu benar-benar pemikiran yang tidak masuk
akal. Beradu akting dengan Takura Mao adalah mimpi di siang bolong."
Ingin berbicara dengan Takura Mao berarti ia harus
mendaki ke puncak ketinggian yang sama di dunia hiburan.
Hal itu terdengar seperti khayalan anak kecil.
Rasanya mustahil bisa diwujudkan.
Meskipun begitu, Seiji justru melontarkan senyuman
buas dan mengatakannya dengan mantap.
"Aku bisa melakukannya."
"Hah... Hebat sekali kamu bicara begitu dengan
penuh keyakinan."
"Karena aku percaya diri. Aku bisa membuat
Haruki-kun bersinar hingga menyaingi Takura Mao. Jika sampai
gagal, penyebabnya pasti karena kurangnya usaha dari Haruki-kun sendiri."
Tatapan mata Seiji yang berbicara seolah sedang kerasukan
sesuatu memancarkan pijar api yang kelam.
Melihat hal itu, Haruki memasang ekspresi jengkel dan
menjawab.
"Provokasi murahan."
"Jadi, bagaimana keputusanmu?"
"Baiklah, aku ikuti permainanmu."
"Baguslah, aku menyambutmu dengan senang hati."
"......Terima kasih. Ah, begitu tujuan untuk menemui
Ibu sudah tercapai, aku akan langsung keluar, ya."
"Ah, silakan saja, tidak masalah."
Meskipun mendengarkan ucapan Haruki yang terkesan kurang
ajar itu, Seiji tetap bersikap santai sambil memasang senyum mencurigakan
sembari mengulurkan tangannya.
Keraguan itu memang ada.
Namun, fakta bahwa tidak ada cara lain selain ini juga
merupakan sebuah kenyataan.
Dengan jeda sesaat, Haruki menyambut uluran tangan itu.
Sekarang, tidak ada jalan untuk mundur lagi.
Begitu melepaskan tangan itu, Seiji memberitahunya
dengan ekspresi yang mendadak serius.
"Menurutku, ini adalah surat tantangan dari
Mao-kun."
"Hah, surat tantangan?"
"Lagi pula, Haruki-kun memang sebaiknya lebih
mengenal dunia tempat Mao-kun berada sekarang."
"Maksudnya?"
"Kamu akan segera mengetahuinya. Karena Haruki-kun
adalah manusia dari sisi dunia yang sama dengan Mao-kun."
Mendengar ucapan yang begitu samar itu, Haruki memasang
ekspresi tidak senang seolah berkata bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti.
Kendati demikian, ia tidak berniat untuk mendesak
jawabannya lebih jauh.
Tujuannya tetap satu, yaitu bertemu dengan sang ibu.
Haruki tiba-tiba teringat satu hal yang mengganjal di
hatinya, lalu ia bertanya kepada Seiji.
"Lalu, bagaimana cara Paman membawaku ke hadapan
Ibu?"
"Pertama-tama, kita buat sensasi dulu. Tingkatkan
popularitasmu, tunjukkan eksistensimu di dunia hiburan, sampai Takura Mao tidak
bisa mengabaikanmu lagi."
"Wah, cara klise, ya. Lalu, secara spesifiknya
bagaimana?"
"Aku sudah memutuskannya. Kamu akan membentuk unit
idol berdua dengan Mari-kun."
"Tunggu, Paman apa-apaan sih?!"
Mendengar hal itu, Mari mengeluarkan suara terkejut
seolah-olah itu adalah berita yang baru pertama kali ia dengar, lalu ia
mendesak Seiji.
Seiji berkata kepada Mari dengan nada membimbing.
"Mari-kun juga tahu situasi saat ini, kan? Bahwa
akan sangat sulit jika kamu berjalan sendirian mulai sekarang."
tapi..."
"Itu... tapi!"
"Mari-kun sendiri bahkan memuji habis-habisan
Haruki-kun saat pemotretan di Hokuriku tadi, dan dari segi kemampuan pun dia
tidak punya cela. Bukankah kamu sendiri mengakui hal itu?"
"Umu... Baiklah, aku mengerti! Kalau cuma harus satu
grup dengan Bibi itu, kan, asal aku sekelompok dengannya!"
Mendengar Mari mengangguk dengan ekspresi enggan dan kembali memanggilnya “Bibi”, urat di pelipis Haruki berkedut sambil melayangkan protes kepada mereka berdua.
"Mana mungkin aku bisa akur dengan orang yang
memanggilku Bibi," ucap Haruki.
Ganti mendengus dan membuang muka, Seiji justru menegur
Haruki dengan ekspresi agak kerepotan mewakili Sengetsu Mari.
"Ah, soal itu... panggilan 'Bibi' dari Mari-kun ini
sebenarnya ada sedikit alasan yang meringankan, jadi bisakah kamu memaklumi dan
memaafkannya?"
"Eh, jujur saja itu sama sekali tidak bisa."
Seiji mengabaikan reaksi keberatan Haruki dan melanjutkan
perkataannya.
"Aku perkenalkan kembali, ya. Anak ini adalah
Sengetsu Mari, keponakan dari kakak perempuanku. Singkatnya, hubungan kami
adalah paman dan keponakan."
"......Eh?"
Mata Haruki perlahan-lahan membelalak lebar.
Sebagai keponakan dari Seiji yang merupakan kakak tiri
Haruki, itu berarti ia juga adalah keponakan bagi Haruki sendiri.
Menghadapi Haruki yang terkejut hingga mematung, Mari
memasang wajah usil lalu menjulurkan ujung lidahnya dengan kenes.
"Mohon kerjasamanya, Bi-- Maksudku, Tante."



Post a Comment