NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 10 Chapter 1

Chapter 1

Transaksi


Berhadapan dengan Takura Mao berarti, mau tidak mau, aku harus menatap lurus-lurus hal yang selama ini kuabaikan dan mengenal diriku sendiri.

Meskipun aku sudah membulatkan tekad dengan penuh semangat, Haruki langsung membentur tembok penghalang.

Itu terjadi sesaat setelah ia kembali dari Hokuriku.

"Hah, bagaimana ini..."

Suara bingung Haruki yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang ponselnya menggema di kamarnya yang kini sudah tampak seperti kamar gadis biasa pada umumnya.

Sudah diputuskan bahwa ia akan menghadapi ibunya, tetapi masalahnya adalah ia tidak bisa menghubungi sang ibu tercinta.

Jangankan panggilan telepon, pesan yang dikirimkannya memang terbaca, tetapi sama sekali tidak ada tanggapan.

Mengingat selama ini Haruki tidak pernah berusaha mendekati ibunya, ia juga tidak tahu cara lain untuk menghubunginya.

Ia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya dikejar-kejar oleh orang-orang dari dunia hiburan.

Berpikir bahwa Takura Mao pasti bernaung di bawah suatu agensi tertentu, ia mencoba mencarinya di internet dan mendapati bahwa ibunya ternyata mengelola agensi independen.

Tentu saja, satu-satunya talent yang bernaung di bawahnya adalah Takura Mao.

Meskipun ada formulir kontak dan ia telah menyampaikan niatnya untuk berbicara, sepertinya ia tidak bisa berharap banyak akan mendapat balasan.

Ia langsung menemui jalan buntu.

Namun, tidak ada pilihan untuk menyerah di sini.

"Kalau dalam situasi seperti ini, Hayato pasti akan bilang, 'Ayo kita datangi langsung saja!'"

Membayangkan pemandangan itu secara jelas membuat Haruki terkikik geli.

Kalau begitu, apa yang harus dilakukan sudah jelas.

Jika telepon dan pesan tidak tersambung, ia tinggal mendatangi langsung di hadapannya.

Soal bagaimana caranya, ia bisa memikirkannya nanti.

Ia akan membuka jalannya sendiri.

Karena Hayato pasti akan melakukan hal itu.

Entah kenapa, Haruki merasa situasinya sudah sangat konyol hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak.

Takura Mao tampil dalam berbagai drama sebagai seorang aktris.

Haruki beberapa kali tanpa sengaja pernah melihat lokasi syutingnya.

Selain itu, sebagai model, ibunya juga membintangi berbagai iklan komersial mulai dari produk pakaian, makanan ringan, biro perjalanan, kartu kredit, barang-barang kebutuhan sehari-hari, hingga berbagai layanan langganan.

Jika ia tidak bisa menghubungi ibunya secara langsung, ia hanya perlu mendekatinya secara tidak langsung.

Berpikir begitu, Haruki memutuskan untuk mencari rumah produksi atau studio tempat drama dan iklan yang dibintangi ibunya dibuat baru-baru ini, lalu mendatangi tempat-tempat itu secara langsung.

Apakah ini bisa disebut beruntung, video tentang Haruki sempat menjadi kehebohan besar di dalam industri, sehingga wajahnya cukup dikenal di mana-mana.

Meskipun datang tanpa membuat janji temu, ia tidak diusir dan justru didengarkan, mungkin karena ia adalah anak Takura Mao.

Hasilnya, meskipun mereka memahami situasinya, pihak-pihak perusahaan mengatakan tidak bisa memberikan informasi kontak sang ibu dengan alasan kepatuhan perusahaan atau corporate compliance.

Yah, itu sudah pasti.

Ia sendiri sadar bahwa apa yang dilakukannya ini tidak masuk akal.

Namun, ia tidak punya waktu untuk memedulikan harga diri lagi.

Ia mendatangi satu per satu perusahaan hiburan yang ada.

Usahanya selalu berakhir dengan tangan kosong, tetapi tindakan Haruki yang berkeliling menanyakan tentang Takura Mao ini tetap memiliki arti tersendiri.

Mengingat ibunya selalu berkata agar ia menunggu dengan menjadi anak baik, jika ibunya tahu apa yang sedang ia lakukan sekarang, mungkin saja ibunya akan merasa kesal dan mencarinya untuk menegur.

Jika memang begitu, itu justru menguntungkan.

Ia sudah berhenti menjadi anak rahasia Takura Mao yang hanya bisa menunggu dengan patuh.

Lagi pula, dunia hiburan sepertinya adalah dunia yang kecil.

Belum ada seminggu Haruki wara-wiri ke berbagai tempat, rumor tentang putri Takura Mao yang berkeliling menanyakan keberadaan sang ibu langsung menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru.

Hari itu, ketika Haruki mengunjungi kantor penerbit majalah tempat Takura Mao baru saja menjadi modelnya, beberapa editor menyambutnya seolah-olah sudah menunggunya dan langsung membawanya ke ruang rapat, lalu menjamunya dengan kue-kue teh yang cukup mahal.

Seperti biasa, mereka mengatakan tidak bisa memberikan informasi pribadi, tetapi sebagai gantinya mereka menceritakan bagaimana etos kerja sang ibu.

Di sana pun, mereka menceritakan kembali tentang kemampuan ekspresi Takura Mao yang sangat beragam dan berbeda dari orang lain, kehadirannya yang mampu menguasai seluruh ruangan, serta bagaimana artikel-artikel yang mereka tulis dipenuhi dengan semangat setelah terinspirasi oleh hal itu.

Begitu pula di tempat-tempat lainnya.

Setiap orang yang pernah bekerja bersama ibunya di lokasi syuting selalu memuji dan mengagumi etos kerjanya.

Begitulah besarnya energi yang dipancarkan oleh Takura Mao, sosok yang terus aktif di garis depan dunia hiburan.

Itu adalah sisi wajah ibunya yang sama sekali tidak diketahui oleh Haruki.

Rasa bingung membuatnya tidak tahu bagaimana harus menerima kenyataan itu.

Namun, ia sama sekali tidak merasa benci, dan justru semakin ingin tahu lebih banyak tentang ibunya yang begitu memesona banyak orang di tempat kerja.

Setelah mendengarkan berbagai cerita itu selama sekitar satu jam dan membawa tekad baru, Haruki keluar dari ruang rapat.

Begitu melangkah keluar ke koridor, ia tanpa diduga berpapasan dengan seseorang yang familier.

"Hah, Bibi?!"

"Hah, siapa yang Bibi, bocah tengik!"

Mata Mari membelalak karena terkejut dan heran, lalu ia menudingkan jari telunjuknya ke arah Haruki dengan lancang.

Gadis itu adalah Mari, gadis yang sempat ia temui di Taman Kastil Tsuruga di Hokuriku tempo hari.

Merasa kesal karena kembali dipanggil Bibi seperti saat itu, Haruki menatapnya balik dengan permusuhan yang terpancar jelas.

Namun, Mari tidak terlihat peduli sama sekali, ia berkacak pinggang dan menatap Haruki dari atas sampai bawah secara saksama.

"Bibi, lagi apa di tempat seperti ini? Agen independen? Ah, mumpung lagi ramai dibicarakan begini, memang saat yang tepat buat cari panggung sih."

Menyadari sesuatu dari cara bicara Mari, Haruki membelalakkan matanya lalu balik bertanya.

"Eh, jangan-jangan kamu tahu siapa aku...?"

Mendengar itu, Mari mengedipkan matanya beberapa kali sebelum menghela napas panjang tanda jenuh.

"Hah, ya mana mungkin aku tidak tahu putrinya Takura Mao. Di generasi yang sama di industri ini, tidak ada yang tidak tahu tentangmu, Bibi. Yah, waktu ketemu di Hokuriku dulu aku memang sempat kaget kenapa kamu ada di sana, tapi aku langsung tahu dalam sekali lihat kok."

Mari mendengus bangga dengan ekspresi angkuh.

Artinya, bahkan setelah mengetahui bahwa Haruki adalah putri dari Takura Mao—sosok yang dipuja sekaligus ditakuti di dunia hiburan—Mari tetap memanggilnya Bibi.

Nyali anak ini benar-benar besar.

Atau mungkin dia memang anak yang membangkang.

Merasa diremehkan apa pun alasannya, wajah Haruki berkedut kesal, lalu ia melancarkan sentilan dahi yang kuat ke jidat Mari yang sedang tersenyum menyebalkan.

"Heh, kalau begitu kamu tahu kan kalau aku ini lebih tua darimu, ya, kan!"

"Aduh sakit?! Barusan apa-apaan sih, Bibi!"

"Siapa yang Bibi, siapa!"

"Ya soalnya Bibi itu memang Bibi, sih!"

"Kamu ini...!"

Sambil memegangi dahinya yang memerah, Mari memperlihatkan taringnya dan balas membentak.

Kali ini gilirannya Haruki yang berkacak pinggang, mencondongkan tubuh ke depan, dan menatap tajam ke arahnya.

Keduanya saling mendesis bagaikan binatang buas sambil saling melempar tatapan tajam, menciptakan suasana yang terasa berbahaya.

Tiba-tiba, suara tawa kecil yang terdengar geli memecah ketegangan di antara mereka.

"Fufu, baguslah kalau kalian akur."

"Siapa yang akur──eh."

Ketika Haruki secara refleks mengalihkan kata-kata sanggahannya ke arah sumber suara, ia melihat seorang pria paruh baya yang tidak asing lagi, yaitu kakak tirinya, Sakurajima Seiji.

Mari berbicara kepada Seiji yang memasang senyum agak dibuat-buat.

"Paman, urusannya sudah selesai?"

Haruki mengerutkan kening melihat Mari yang memanggil Seiji dengan sebutan "paman", sementara Seiji justru menjawabnya dengan senyuman pahit.

"Ah, sudah selesai. Tapi respons mereka agak meragukan, ya. Sepertinya kita tidak bisa berharap banyak akan mendapat jawaban positif."

"Begitu ya, ah, terserahlah."

Mari menjawab dengan ketus, tetapi wajahnya menunjukkan ekspresi seolah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Mari buru-buru membuang muka seolah tidak ingin orang lain melihat ekspresi tersebut.

Meskipun Haruki tidak tahu urusan apa yang membawa mereka ke tempat ini, situasinya sepertinya tidak berjalan begitu baik.

Melihat interaksi barusan, apakah Seiji berencana untuk memproduseri Mari selanjutnya?

Haruki kembali mengamati Mari dari dekat.

Meskipun masih menyisakan kesan keanak-anakan, struktur wajahnya sudah sangat tertata, dan proporsi tubuhnya pun tidak ada celahnya.

Dari segi usia, tinggi badannya sepertinya masih bisa bertambah sedikit lagi, jadi ada banyak hal yang bisa diharapkan darinya.

Ia pun teringat kejadian di Hokuriku tempo hari.

Kemampuan ekspresi Mari yang bisa mengimbanginya bahkan saat Haruki mengerahkan kemampuan penuh patut diacungi jempol.

Meskipun masih dalam tahap perkembangan, potensi peningkatannya masih sangat besar.

Selain itu, ia juga tahu bahwa anak ini sangat serius dalam menghadapi pekerjaannya.

Pantas saja Seiji sampai melirik bakatnya.

Jika saja Haruki tidak tahu betapa menyebalkannya kepribadian anak ini, ia pasti sudah memberikan dukungan penuh dari lubuk hatinya.

Saat itu, Seiji tiba-tiba melemparkan pertanyaan kepada Haruki seolah itu adalah hal yang biasa.

"Jadi, ada keperluan apa Haruki-kun datang ke sini?"

"Ah, aku... itu..."

Haruki mendadak gelagapan dan kehabisan kata-kata, bingung harus menjawab apa.

Lagi pula, ini adalah urusan antara dirinya dan sang ibu.

Namun, Seiji bukanlah orang luar sepenuhnya.

Ia juga tahu bahwa Seiji memiliki kaitan dan benang merah yang rumit dengan ibunya.

Saat Haruki terdiam, Seiji mengangkat ujung bibirnya seolah bisa membaca isi pikiran Haruki.

"Yah, sudah pasti kamu datang ke sini untuk mencoba menghubungi Mao-kun, kan?"

"I-Itu..."

"Ada banyak rumor yang beredar, lho. Katanya putri Takura Mao sedang berkeliling mencari ibunya."

"......Begitu ya."

Ia terlalu ceroboh.

Jika dipikirkan sedikit saja, sudah pasti gerak-gerik Haruki akan langsung sampai ke telinga Seiji, bukan ibunya.

Haruki merasa agak canggung jika harus berurusan dengan Seiji.

Awalnya, ia sempat berpikir untuk meminta bantuan Seiji terkait masalah ibunya.

Namun, memori saat Seiji mengungkapkan hubungan keluarga mereka dan mengajaknya masuk ke dunia hiburan selalu terlintas kembali di benaknya.

Pria itu sempat merendahkan dirinya sendiri sebagai orang yang tidak kompeten, lalu tiba-tiba mengubah sikap tenangnya yang bagaikan seorang pria berpendidikan menjadi terobsesi hingga setengah histeris saat memuji dan merekrut bakat Haruki.

Mengingat ayahnya adalah seorang aktor legendaris yang hebat, sangat jelas bahwa Seiji menyimpan semacam kompleks inferioritas terhadap dunia hiburan yang berasal dari bakat itu sendiri.

Fakta bahwa ia mendefinisikan dirinya sebagai orang yang tidak memiliki apa-apa adalah bukti dari hal tersebut.

Sekarang setelah ia bersentuhan dengan sisi kelam yang tersembunyi itu, pria di hadapannya ini justru tampak semakin berusaha menutupi niat aslinya dengan senyuman palsu.

Selain itu, fakta bahwa Seiji tidak pernah mendekatinya lagi sejak insiden festival malam juga terasa mencemaskan.

Jelas sekali ada maksud tersembunyi yang disiapkannya terhadap dunia hiburan.

Jika ia mengandalkan pria ini, imbalan seperti apa yang nantinya akan diminta darinya?

Intinya, pria ini tidak bisa dipercaya.

Itulah sebabnya Haruki memilih untuk tidak pernah berhubungan dengan kakak tirinya ini.

Namun, apa yang diucapkan oleh Seiji berikutnya adalah sesuatu yang tidak boleh Haruki lewatkan begitu saja.

"Kalau dengan cara seperti itu, kamu tidak akan pernah bisa sampai ke tempat Mao-kun."

"Eh, maksudnya..."

Saat Haruki menatapnya dengan penuh kecurigaan untuk meminta penjelasan lebih lanjut, Seiji mengangkat bahunya dan menjawab.

"Artinya seperti yang kudengar. Pertahanan Mao-kun itu terkenal sangat ketat, dia dengan tegas menolak segala bentuk kontak di luar urusan pekerjaan. Di lokasi syuting pun, jika ada yang mencoba membicarakan hal di luar pekerjaan, dia akan mengabaikannya secara total. Itulah sebabnya meskipun ada banyak gosip yang beredar, tidak ada satu pun yang berhasil mengorek informasi tentang Mao-kun sampai tuntas. Karena sangat sulit dihubungi, pihak produksi pun sering mengeluh betapa susahnya sekadar mengirimkan tawaran pekerjaan padanya. Aku berani pastikan, tidak peduli seberapa keras Haruki-kun berusaha, dengan cara ini kamu tidak akan pernah bisa menemui Mao-kun."

"Kalau begitu, aku akan mendatangi langsung tempat syutingnya──"

"Kamu mungkin memang putri Takura Mao, tapi statusmu tetaplah orang awam. Jika sang pemeran menolak, mustahil bagimu untuk bisa masuk ke lokasi."

"Ugh...!"

"Dan siapa pun itu, akan sangat sulit untuk menemui Mao-kun saat ini."

"Kenapa?"

"Aku dengar sejak beberapa minggu lalu, Mao-kun telah menolak semua tawaran pekerjaan baru."

"......?"

Haruki mengerutkan kening dan menggertakkan gigi belakangnya.

Mengingat etos kerja ibunya yang ia dengar dari orang-orang di industri ini, apa yang dikatakan Seiji sepertinya memang benar.

Ia tadinya berpikir bahwa sekadar menemui ibunya bukanlah hal yang sulit, tetapi ternyata dugaannya meleset jauh.

Tentu saja, akan menjadi kebohongan jika ia bilang dirinya tidak sempat merasa optimis bahwa sebagai anak dan ibu, mereka bisa langsung bertemu kapan saja.

Melihat Haruki yang terdiam seribu bahasa, Seiji akhirnya berbicara dengan nada yang sedikit memprovokasi.

"Sebagai anak yang cerdas, kamu pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan sekarang, kan?"

"T-Tapi, itu..."

Sampai di titik ini, pilihan cara yang tersisa untuk bisa menemui ibunya sangatlah terbatas.

Namun, cara itu terasa terlalu berlebihan dan konyol.

Langkah itu juga terasa begitu tidak nyata.

Namun, Seiji merentangkan kedua tangannya secara berlebihan seolah sedang berakting di panggung teater, lalu membujuk Haruki.

"Aku akan katakan sekali lagi. Haruki-kun, maukah kamu datang ke dunia hiburan?"

"......Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bertemu Ibu?"

"Begitulah. Untuk bisa bertemu Takura Mao, kamu harus berdiri di panggung yang sama."

"Hah, itu benar-benar pemikiran yang tidak masuk akal. Beradu akting dengan Takura Mao adalah mimpi di siang bolong."

Ingin berbicara dengan Takura Mao berarti ia harus mendaki ke puncak ketinggian yang sama di dunia hiburan.

Hal itu terdengar seperti khayalan anak kecil. Rasanya mustahil bisa diwujudkan.

Meskipun begitu, Seiji justru melontarkan senyuman buas dan mengatakannya dengan mantap.

"Aku bisa melakukannya."

"Hah... Hebat sekali kamu bicara begitu dengan penuh keyakinan."

"Karena aku percaya diri. Aku bisa membuat Haruki-kun bersinar hingga menyaingi Takura Mao. Jika sampai gagal, penyebabnya pasti karena kurangnya usaha dari Haruki-kun sendiri."

Tatapan mata Seiji yang berbicara seolah sedang kerasukan sesuatu memancarkan pijar api yang kelam.

Melihat hal itu, Haruki memasang ekspresi jengkel dan menjawab.

"Provokasi murahan."

"Jadi, bagaimana keputusanmu?"

"Baiklah, aku ikuti permainanmu."

"Baguslah, aku menyambutmu dengan senang hati."

"......Terima kasih. Ah, begitu tujuan untuk menemui Ibu sudah tercapai, aku akan langsung keluar, ya."

"Ah, silakan saja, tidak masalah."

Meskipun mendengarkan ucapan Haruki yang terkesan kurang ajar itu, Seiji tetap bersikap santai sambil memasang senyum mencurigakan sembari mengulurkan tangannya.

Keraguan itu memang ada.

Namun, fakta bahwa tidak ada cara lain selain ini juga merupakan sebuah kenyataan.

Dengan jeda sesaat, Haruki menyambut uluran tangan itu.

Sekarang, tidak ada jalan untuk mundur lagi.

Begitu melepaskan tangan itu, Seiji memberitahunya dengan ekspresi yang mendadak serius.

"Menurutku, ini adalah surat tantangan dari Mao-kun."

"Hah, surat tantangan?"

"Lagi pula, Haruki-kun memang sebaiknya lebih mengenal dunia tempat Mao-kun berada sekarang."

"Maksudnya?"

"Kamu akan segera mengetahuinya. Karena Haruki-kun adalah manusia dari sisi dunia yang sama dengan Mao-kun."

Mendengar ucapan yang begitu samar itu, Haruki memasang ekspresi tidak senang seolah berkata bahwa dirinya sama sekali tidak mengerti.

Kendati demikian, ia tidak berniat untuk mendesak jawabannya lebih jauh.

Tujuannya tetap satu, yaitu bertemu dengan sang ibu.

Haruki tiba-tiba teringat satu hal yang mengganjal di hatinya, lalu ia bertanya kepada Seiji.

"Lalu, bagaimana cara Paman membawaku ke hadapan Ibu?"

"Pertama-tama, kita buat sensasi dulu. Tingkatkan popularitasmu, tunjukkan eksistensimu di dunia hiburan, sampai Takura Mao tidak bisa mengabaikanmu lagi."

"Wah, cara klise, ya. Lalu, secara spesifiknya bagaimana?"

"Aku sudah memutuskannya. Kamu akan membentuk unit idol berdua dengan Mari-kun."

"Tunggu, Paman apa-apaan sih?!"

Mendengar hal itu, Mari mengeluarkan suara terkejut seolah-olah itu adalah berita yang baru pertama kali ia dengar, lalu ia mendesak Seiji.

Seiji berkata kepada Mari dengan nada membimbing.

"Mari-kun juga tahu situasi saat ini, kan? Bahwa akan sangat sulit jika kamu berjalan sendirian mulai sekarang." tapi..."

"Itu... tapi!"

"Mari-kun sendiri bahkan memuji habis-habisan Haruki-kun saat pemotretan di Hokuriku tadi, dan dari segi kemampuan pun dia tidak punya cela. Bukankah kamu sendiri mengakui hal itu?"

"Umu... Baiklah, aku mengerti! Kalau cuma harus satu grup dengan Bibi itu, kan, asal aku sekelompok dengannya!"

Mendengar Mari mengangguk dengan ekspresi enggan dan kembali memanggilnya “Bibi”, urat di pelipis Haruki berkedut sambil melayangkan protes kepada mereka berdua.




"Mana mungkin aku bisa akur dengan orang yang memanggilku Bibi," ucap Haruki.

Ganti mendengus dan membuang muka, Seiji justru menegur Haruki dengan ekspresi agak kerepotan mewakili Sengetsu Mari.

"Ah, soal itu... panggilan 'Bibi' dari Mari-kun ini sebenarnya ada sedikit alasan yang meringankan, jadi bisakah kamu memaklumi dan memaafkannya?"

"Eh, jujur saja itu sama sekali tidak bisa."

Seiji mengabaikan reaksi keberatan Haruki dan melanjutkan perkataannya.

"Aku perkenalkan kembali, ya. Anak ini adalah Sengetsu Mari, keponakan dari kakak perempuanku. Singkatnya, hubungan kami adalah paman dan keponakan."

"......Eh?"

Mata Haruki perlahan-lahan membelalak lebar.

Sebagai keponakan dari Seiji yang merupakan kakak tiri Haruki, itu berarti ia juga adalah keponakan bagi Haruki sendiri.

Menghadapi Haruki yang terkejut hingga mematung, Mari memasang wajah usil lalu menjulurkan ujung lidahnya dengan kenes.

"Mohon kerjasamanya, Bi-- Maksudku, Tante."



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close