Chapter 2
Perasaan
yang Retak, Sama Seperti Masa Lalu
Saat itu masih pagi buta, dan selubung malam masih
menyelimuti dengan pekat.
Hayato, didesak oleh desakan yang ada, menatap langit
timur tempat bintang-bintang masih berkedip melalui jendela dengan matanya yang
masih mengantuk.
Beberapa saat kemudian, dunia mulai memutih, dan
seolah-olah hendak membakar segala sesuatunya dalam sekejap, langit menyala
dengan warna merah menyala.
Itu adalah pemandangan fajar yang begitu cemerlang.
Benar-benar sangat indah.
Begitu indahnya hingga membuat mereka lupa cara bernapas
dan rasa mengantuk pun terbang seketika.
Namun, berlawanan dengan Haruki yang menyipitkan mata
dengan penuh keharuan, Hayato mendengihkan napas sambil memasang tatapan tajam.
"Hebat ya, Hayato. Aku sepertinya baru mengerti arti
fajar musim panas yang digunakan sebagai kata musim."
"Begitu ya, memang hebat. Tapi sadarilah kalau aku
diseret bangun sepagi ini hanya untuk diperlihatkan hal ini."
Haruki menyeringai lebar sambil membuka jendela
lebar-lebar. Hayato memijat pelipisnya.
Matahari terbit di musim panas yang hanya bisa
disaksikan pada detik-detik peralihan dari malam ke pagi serta di musim ini,
pastinya adalah pemandangan yang indah. Bahkan Hayato pun baru pertama kali
melihatnya.
Namun, jika melihat jam, hari masih belum pukul lima
pagi, waktu yang jelas-jelas sangat aneh.
Ruangan yang masih temaram, dan Haruki yang berada di
hadapannya.
Meskipun Haruki mengenakan pakaian yang sama persis
seperti dulu, yaitu hanya kemeja dan celana pendek, bentuk tubuhnya yang telah
tumbuh besar jelas berbeda dari masa kecilnya, membuatnya merasa sangat salah
tingkah.
Kata-kata Himeko semalam melintas di benaknya.
Jika memikirkan hal itu, bagian dalam dadanya terasa
rumit, namun ketika ia berpikir bahwa melakukan hal seperti ini hanya karena
ini adalah Hayato, entah mengapa rasa senang juga ikut membuncah, sehingga demi
menutupi rasa malunya dengan sedikit nada mencemooh pada diri sendiri, ia
sengaja membuka mulutnya lebar-lebar dan menguap satu kali. Lalu, ia
menggaruk-garuk kepalanya yang berantakan karena tidur dengan kasar.
"Haruki, apa kamu tidak berpikir kalau ini
merepotkan?"
"Eh, bukankah tidak apa-apa merepotkan sebanyak
apapun?"
"Itu kan…… ampun deh."
"M-Maaf ya, mendadak datang sepagi ini……
m-merepotkan ya……"
"M-Murao-san!?"
Mendengar suara yang tak terduga itu, ia terpaku
dengan wajah bodoh dan mulut yang masih menganga lebar.
Ketika ia mengarahkan pandangannya ke asal suara,
Saki tampak berdiri dengan canggung di dekat pintu masuk ruangan.
Ia terlihat malu-malu dengan wajah yang merona merah,
entah karena cahaya fajar atau bukan, membuat jantungnya berdegup kencang dan
ia menjadi salah tingkah.
"Anu itu, etto, Himeko pasti masih tidur, dan...
uwaa, maaf ya dengan rambut berantakan sehabis bangun tidur begini!"
"Tidak, hal itu malah terasa langka, lagipula
kami berdua yang salah karena mendadak datang pagi-pagi buta begini."
"Atau malah, Hayato, reaksimu beda banget pas
aku yang datang tadi!?"
"Haruki itu ada kasus sebelumnya, tahu!"
"Kasus apa maksudnya!?"
"A, ahaha……"
Mungkin untuk menyembunyikan rasa malunya, suara Hayato
pada Haruki terdengar sedikit ketus.
Bagi Hayato, Saki adalah sosok yang spesial dalam arti
yang berbeda dari Haruki.
Salah satu dari sedikit anak sebayanya di Tsukinose.
Sahabat adiknya.
Serta gadis yang menarikan tarian Kagura di festival
setiap tahunnya.
Kejutan saat pertama kali melihat tarian Kagura itu masih
terekam jelas di ingatannya.
Diayunkan oleh rembulan, bintang-bintang, serta api
unggun, tarian itu melukiskan kisah kuno yang fantastis sekaligus misterius.
Panggung pertama yang Hayato saksikan, sesuatu yang bisa
disebut sebagai sebuah pertunjukan teater.
Ia begitu terpukau oleh dahsyatnya penampilan itu hingga
sosok Saki pada masa itu masih terpatri jelas di benaknya.
Terlebih lagi, yang membawakannya adalah Saki yang
biasanya pemalu dan pendiam, membuat dampaknya semakin luar biasa.
"Haru-necha, cepat ayo?"
"…! S-Shinta……?"
Pada saat itu, seorang anak laki-laki kecil
memunculkan wajahnya dari balik punggung Saki. Ia berjalan
tergesa-gesa mendekati Haruki, lalu menarik-narik ujung bajunya dengan pelan.
Seorang bocah berbadan kurus dengan rambut berwarna cokelat muda yang sama
seperti Saki.
Shinta Murao, sepupu Saki yang berusia tujuh tahun lebih
muda darinya.
Sama seperti sang sepupu, ia memiliki kepribadian yang
pendiam dan merupakan tipe anak yang menghabiskan waktu dengan membaca buku
secara tenang di sekolah maupun tempat lain. Hayato pun jarang melihatnya
berkeliaran bermain di luar.
Itulah sebabnya Hayato merasa jauh lebih terkejut
mendapati Shinta ikut datang dibandingkan dengan Saki.
Selain itu, bagi seorang anak kecil, ini adalah jam tidur
yang sangat menyiksa.
Ketika Hayato mengalihkan pandangannya kembali kepada
Haruki yang kelihatannya mengetahui situasi ini, ia dibalas dengan senyongan
penuh kemenangan.
"Fufu, sebenarnya semalam aku sudah memasang
perangkap kumbang, lho!"
"Kubikin sama Haru-necha!"
"Sejak kapan, atau lebih tepatnya, tumben sekali
Shinta tertarik..."
"Karena aku tadi menceritakan soal kumbang
Miyama!"
"Bangun pagi, semangat!"
"A, ahaha……"
Meskipun menggosok-gosok matanya karena mengantuk, Shinta
menarik-narik ujung baju Haruki dengan napas memburu dan mendesaknya.
Saat ia melirik ke arah Saki, gadis itu membalas dengan
senyuman pahit yang penuh rasa bersalah. Sepertinya ia datang untuk menemani
Shinta.
Mengingat usia mereka yang terpaut jauh dari Shinta,
Hayato memang jarang berinteraksi dengannya sehingga tidak tahu harus bersikap
bagaimana. Namun, melihat Shinta yang bersenang-senang di hadapannya, ia jadi
teringat pada masa kecilnya sendiri.
Hari ini, kembali merasakan jiwa kekanak-kanakan
sepertinya bukan ide yang buruk.
"Tunggu sebentar, aku akan segera ganti
baju."
"Oke. Ah, bagaimana dengan Hime-chan?"
"……Mana mungkin Himeko bangun jam begini. Lagi
pula dia bakal ngamuk karena badmood."
"Ahaha, benar juga ya."
Lalu mereka saling bertatapan dan tertawa kecil.
Setelah itu, Hayato dengan gesit berganti pakaian, lalu
keluar rumah bersama Haruki dan yang lainnya.
Udara pagi di Tsukinose terasa sejuk dan dingin, sangat
berbeda dengan kota.
Langit bagian timur masih berwarna kemerahan, sementara
ke arah langit barat tercipta gradasi warna dari fajar menuju biru nila, dan
sedikit bintang yang masih berkelip menghiasi langit. Dari arah pegunungan,
suara sekor cicak yang datang terlalu cepat menyapa mereka.
Sambil menikmati pemandangan ladang dan sawah di
sepanjang jalan setapak yang disinari matahari pagi dan perlahan-lahan berubah
warna dari malam ke pagi, mereka berjalan menuju suatu tempat di area
pegunungan.
Langkah kaki Haruki dan Shinta yang berjalan di depan
tampak begitu ringan, sementara Hayato dan Saki yang membawa kandang serangga
tua berjalan membuntuti dari jarak yang agak jauh.
"Kalau ngomongin musim panas di pedesaan, emang
paling pas itu menangkap serangga ya, di kota benar-benar nggak kelihatan!
Semoga saja ada Miyama di perangkapnya, atau bahkan Kabuto!"
"Waktu kita masih anak-anak pun, Kabuto dan Miyama
itu termasuk langka lho. Rasanya kita cuma bisa nangkepin cicak doang."
"Menangkap serangga, baru pertama kali……!"
Obrolan mereka mengalir hangat sambil membayangkan
perangkap yang telah dipasang.
Kalau dipikir-pikir kembali, ini mungkin pengalaman
menangkap serangga pertama kalinya sejak Haruki pindah rumah.
Karena sudah lama tidak melakukannya, entah kenapa Hayato
juga merasa sangat antusias.
"……Ah."
"Hopp! Kamu tidak apa-apa, Murao-san?"
"──!? Eh, anu iya, itu, tidak apa-apa, kok……"
Pada saat itu, Saki tiba-tiba kehilangan keseimbangan dan
nyaris terjatuh.
Meskipun Hayato dengan sigap meraih dan menopang
tubuhnya, hal itu membuat Saki justru memeluk lengannya.
Ketika Hayato menengadah untuk melihat kondisinya, mata
Saki yang sedikit sayu tampak diwarnai oleh rasa mengantuk karena kurang tidur,
membuat Hayato melemparkan senyum pahit sambil bergumam, "Yah, namanya
juga pagi-pagi buta."
Seketika itu pula, wajah Saki langsung merona merah
karena rasa malu, dan ia buru-buru melepaskan diri.
"Aduh Hayato, jangan usik Saki-chan dong?"
"Eh, anu itu, bukan begitu maksudku……"
"T-Tidak usah ngadi-ngadi ya! Ah
sudahlah, ayo kita jalan duluan!"
Mendengar godaan dari Haruki yang melihat kejadian
tersebut, Saki tampak salah tingkah dan mulai berjalan dengan langkah
terburu-buru karena tidak tahan.
Shinta sempat menatap bergantian wajah Haruki dan Hayato
sejenak, namun karena rasa penasarannya terhadap perangkap serangga jauh lebih
besar, ia kembali mengejar punggung Hayato.
Haruki dan Saki saling bertukar pandangan, lalu terkekeh
pelan.
Tempat yang dituju oleh Hayato dan kawan-kawan adalah
sebuah hutan sekunder di lereng gunung yang terletak agak jauh dari kuil Saki.
Di dekat pintu masuk, ditanam pohon pasang, pohon pasang
beech, dan pohon konara, yang dulunya merupakan salah satu tempat bermain
mereka.
Meskipun jalan setapak kehutanan yang sudah jarang
digunakan kini telah dibuka, jalan yang belum diaspal itu tetap tampak liar dan
membuat kaki mudah tersandung.
Shinta yang masih kecil tampak kesulitan untuk berjalan
di jalur tersebut.
"Shinta, ayo pegangan tangan sama Kakak?"
"Nggak, mau! Jalan sendiri!"
Saki yang merasa khawatir mengulurkan tangannya, namun
ditolak karena Shinta mungkin merasa malu.
Ia tampak jauh lebih penasaran dengan kondisi
perangkapnya, lalu berlari mendahului.
Saki menghela napas seolah berkata "ampun deh",
sementara Haruki di sebelah tersenyum simpul.
Karena perangkap itu dipasang sejak semalam, lokasinya
tidak terlalu jauh di dalam hutan. Begitu memasuki area hutan sekunder,
perangkap berwarna cokelat yang digantungkan di batang pohon langsung terlihat.
"A-……"
"…………Ah."
"Yah, hal seperti ini wajar terjadi sih……"
"B-Begitu ya……"
Suara kekecewaan mereka berdua berpadu.
Perangkap serangga berupa irisan pisang yang direndam
dalam shochu dan cola di dalam stoking itu ternyata tidak membuahkan hasil;
alih-alih kumbang Miyama atau Kabuto yang diincar, sekumpulan semut dan kumbang
kerabat justru mengerubunginya. Rupanya umpan itu juga sangat lezat bagi
serangga jenis lain.
Kegagalan semacam ini adalah hal yang sering mereka
alami sejak kecil. Hayato hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil pasrah.
"……Jadi mau bagaimana?"
"Kalau kita balik sekarang, rasanya seperti mengaku
kalah……!"
"Aku sih mengerti perasaanmu, tapi..."
"Miyama, nggak ada?"
"Nggak, kita cari! Kalau ingatanku tidak salah, di
agak ke dalam sana harusnya ada pohon pasang besar yang kelihatan bagus!"
"Ooh!"
"Hei tunggu Haruki, itu ingatan dari berapa tahun
lalu memangnya!?"
Haruki yang mendadak membakar semangat jiwa kompetitifnya
keluar dari jalur setapak dan menerobos semak-semak ke dalam hutan sekunder.
Shinta mengejar punggungnya, sementara Hayato dan Saki buru-buru ikut menyusul
di belakang.
Di dalam hutan sekunder, berbagai macam tumbuhan liar
tumbuh lebat, membuat perjalanan menjadi sulit karena dahan dan daun-daun terus
mengenai sekujur tubuh. Karena ia memaksa menerobos tempat seperti itu, bagian
tangan dan kaki Haruki yang terbuka mulai memunculkan goresan-goresan luka
kecil. Ia pasti berpikir untuk melakukan hal yang sama persis seperti masa
lalu.
Namun, Haruki yang sekarang adalah seorang gadis cantik,
sangat berbeda ketika Hayato menganggapnya sebagai anak laki-laki. Bagaimana
kalau sampai meninggalkan bekas luka──kening Hayato berkerut memikirkan hal
itu.
"Hei Haruki, bagaimana kalau kita putar balik saja?
Kalaupun mau lanjut, setidaknya kita siap-siap dulu."
"Hmm, benar juga sih…… ah, itu! Itu dia, lihat
itu!"
"Itu kan……"
Tepat pada saat Hayato melontarkan usulan tersebut.
Di ujung jari Haruki ditunjukkan sebuah pohon dengan
lubang besar yang samar-samar masih tersisa dalam ingatannya.
Pohon itu sangat besar. Lubang pohonnya berada jauh di
atas tingkat pandangan mata, mungkin setinggi jendela lantai dua?
"Biar kulihat ke sana sebentar ya!"
"Woi, tunggu sebentar……, dikira monyet apa."
"Hayatoー!
Suaramu kedengaran lhoー!"
Tanpa mengindahkan teriakan peringatan Hayato, Haruki
langsung berlari. Gaya memanjat pohonnya sangat lincah tanpa menunjukkan
tanda-tanda penurunan kemampuan fisik. Ia mengibaskan rambut panjangnya yang
berbeda dari masa kecilnya bagaikan ekor, lalu memanjat dengan gesit.
Mengingat ia dulu sering memanjat pohon seukuran itu,
kepalanya tahu bahwa Haruki pasti baik-baik saja. Namun, perasaan cemas tetap
saja bergejolak di dalam dadanya.
Lagipula, jika dulu Hayato tidak akan berpikir panjang
dan pasti ikut memanjat bersama Haruki.
Tak lama kemudian, Haruki yang telah mencapai lubang
pohon berseru, "Ah!".
"Ada, ada di sana, kumbang Miyama!"
Sepertinya target yang dicari memang ada di sana.
Punggungnya terlihat bergerak-gerak gelisah.
Lalu apa yang harus kulakukan…… saat Hayato sedang
bimbang, sebuah bayangan kecil melompat ke arah pohon.
"Miyama, mau lihat!"
““Shinta!?””
Suara Hayato dan Saki berpadu.
Sebuah tindakan yang sangat berani, jauh dari sifat
Shinta yang biasanya.
Meniru Haruki, Shinta memanjat ke atas dengan gerakan
yang jauh lebih gesit dari perkiraan.
Mungkin ini adalah pertama kalinya ia memanjat pohon.
Cara ia menggerakkan tangan dan kakinya tampak canggung,
membuat kecemasan kini beralih pada keselamatannya.
"Shinta-kun bahaya lho!? S-Saat memanjat, usahakan
tangan dan kaki mengait di tiga titik berbeda ya!?"
Haruki yang menyadari keberadaan Shinta karena teriakan
mereka berdua, tampak terkejut sekaligus memberikan nasihat cara memanjat
pohon.
Mereka hanya bisa berdiri mengawasi.
Namun, melihat senyuman begitu cerah di wajah Shinta,
niat untuk menghentikannya sama sekali tidak ada.
"Aku tidak tahu…… anak itu, bisa selarut itu……"
"Aku juga…… sungguh di luar dugaan……"
Ada rasa deja vu yang aneh.
Ingatan itu membawanya kembali pada dirinya sendiri di
masa lalu.
(Ngomong-ngomong……)
Ia teringat betapa bingungnya ia ketika harus bermain
sendirian setelah Haruki pindah rumah. Bahkan jika ia melakukan hal yang sama,
ia ingat rasanya begitu hampa karena hanya sendirian.
Shinta pastinya belum pernah bermain bersama-sama dalam
kelompok sebelumnya.
Itulah sebabnya ia pasti menjadi begitu bersemangat.
Lalu, saat ia menyipitkan mata dengan rasa kagum pada
Shinta yang melompat ke pohon tanpa ragu-ragu.
"…!?"
"S-Shinta!?"
"Bahaya! ──Aduh……"
Shinta yang sudah memanjat sampai dekat lubang pohon
mendadak terpeleset karena kurang konsentrasi.
Hayato yang sigap langsung menangkapnya di bawah, namun
tubuh mereka terhempas kuat membentur tanah dengan suara gedebuk.
"Shinta!? A-Anak muda, kamu tidak apa-apa!?"
"Aku sih tidak apa-apa, separah ini…… haha, lagipula
Shinta masih kecil dan ringan juga."
"Eh…… ah……"
"Duh, apa yang kamu lakukan sih, Shinta!"
Saki berlari mendekat dengan wajah panik sambil memarahi
Shinta dengan mata berkaca-kaca. Namun Shinta sendiri tampak kebingungan
memahami situasi yang terjadi dan hanya bisa kebingungan. Air mata mulai
menggenang di pelupuk matanya.
"Murao-san, tenanglah. Aku juga sering jatuh dari
pohon waktu kecil. Shinta juga tidak terluka, kan?"
"Y, ya……"
"T-Tapi Kakak……"
"Hopp!"
"Haruki!?”
“Haruki-san!?”
“Haru-necha!?"
Pada saat itu, Haruki melompat turun dari pohon sambil
berseru.
Ia tersenyum lebar seolah-olah kejadian tadi bukan
apa-apa. Tindakannya benar-benar mendadak.
Meskipun merasa kesal, Hayato bergumam dalam hati,
"Dasar benar-benar mirip monyet," yang membuat Haruki sesaat
meliriknya dengan tatapan tidak senang, lalu ia menyela di antara sepupu dan
adik laki-laki keluarga Murao itu, dan tiba-tiba mengacak-ngacak rambut Shinta
dengan kasar.
"Ooh, Shinta-kun, hebat banget! Hebat sekali karena
tidak menangis meskipun tadi jatuh, kalau Hayato dulu malah nangis histeris
gara-gara kumbang Kabutonya lepas!"
"Haru-necha?"
"T-Tunggu, hei, Haruki! Cerita kapan dan yang mana
itu!??"
"Eh, Kakak, menangis histeris……?"
"M-Murao-san, jangan percaya padanya."
"Uhihi."
Hayato merona malu karena masa lalunya tiba-tiba
dibongkar. Saki membelalakkan matanya melihat reaksi tersebut. Shinta pun
tampak tercengang kebingungan.
Namun Haruki menunjukkan senyuman polosnya, lalu
menyelipkan kumbang Miyama yang baru ditangkap ke dalam genggaman tangan
Shinta.
"Untuk Shinta-kun yang hebat, kumbang Miyama ini
kupersembahkan."
"Eh, boleh!? Padahal ini kan tangkapan
Haru-necha!?"
"Boleh-boleh, membawanya pulang ke kota sepertinya
agak susah juga."
"M-Makasi──h"
Sebagai pengganti jawaban, bunyi perut keroncongan yang
menggemaskan terdengar nyaring. Di tengah-tengah Shinta yang tampak malu-malu,
suara tawa kecil mulai menyebar dan mencairkan suasana. Haruki yang menyadari
tatapan tajam Hayato tersenyum penuh kenakalan sambil menjulurkan sedikit ujung
lidah merah mudanya.
Senyuman itu sudah sangat akrab sejak ia kecil. Meskipun
begitu, jantungnya tetap berdegup kencang.
"Aduh, perutku lapar juga, jadi sebaiknya kita balik
ke rumah saja."
"Benar juga, siapa tahu Hime-chan juga sudah
bangun."
"Ah, tunggu ya Hayato, Saki-chan juga. Shinta-kun,
ayo ikut?"
"Un!"
Lalu Hayato mengarahkan langkah kakinya kembali pulang ke
rumah untuk menyamarkan debaran di dadanya.
"Aku pulang."
Suara kecil Hayato terserap ke dalam suasana lorong masuk
yang masih temaram, lalu disusul oleh tiga suara kecil bergumam,
"Permisi," dari belakang.
Namun tidak ada jawaban. Rupanya Himeko belum bangun.
Tentu saja, ia berbicara dengan suara pelan karena yakin Himeko belum bangun
tidur.
Omong-omong, mereka pergi tadi tanpa mengunci pintu. Di
Tsukinose, orang-orang sangat jarang mengunci pintu rumah. Itulah sebabnya
Haruki dan Saki bisa masuk begitu saja.
Hayato langsung menuju ke dapur. Karena sejak pagi mereka
sudah berjalan kaki cukup jauh, perutnya pun terasa lapar. Sambil memegang
perutnya yang kosong, ia membuka lemari untuk memikirkan menu sarapan apa yang
harus dibuat.
Sayang sekali, sebagian besar bahan makanan sudah banyak
dibuang sebelum pindah rumah, jadi tidak banyak tersisa barang bagus.
Yang ada hanyalah bahan penyimpan lama seperti garam,
gula, lada, dan minyak, ditambah beberapa makanan instan serta makanan kaleng
untuk cadangan.
Ditambah lagi, ada sayuran musim panas pemberian
Kiku-jisan dari kemarin yang dibawa oleh Saki.
Ia melipat tangan dan bergumam, "Hmm."
Tiba-tiba, sebuah suara ragu-ragu terdengar dari belakangnya.
"A-Anu~,
apa ada yang bisa kubantu?"
"Murao-san?"
Itu adalah Saki. Hayato merasa terkejut dengan sosok yang
tidak disangka-sangka itu, lalu melirik sekilas ke arah ruang keluarga, di mana
Haruki dan Shinta sedang serius mengamati kumbang Miyama di dalam kandang
serangga.
Mengingat Himeko masih tidur, Saki pasti merasa bosan
tidak ada kerjaan.
Sambil tersenyum pahit, ia berbalik menghadap Saki.
Hari ini Saki tidak mengenakan seragam SMP ataupun pakaian miko yang biasa ia
kenakan, melainkan atasan lengan frill-sleeve berdesain elegan dengan
rok tulle model midi-length yang menutupi lututnya dengan sempurna. Busana
itu memberikan kesan dewasa pada Saki yang memiliki warna kulit pucat.
Meskipun tidak terlalu terbuka, pakaian itu memberikan
kesan segar yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Pakaian itu sepertinya sengaja disiapkan khusus untuk
hari kepulangan Himeko ke Tsukinose ini.
Ia merasa ragu jika harus mengotori pakaian yang tampak
masih baru itu untuk persiapan sarapan, dan saat ia sedang merenungkan di mana
letak apron yang biasa dipakai Himeko untuk pelajaran tata boga, menu untuk
pagi ini pun terlintas di kepalanya.
"Aku tahu, tolong cuci dan potong sayuran ini dulu
ya…… tapi sebelumnya karena rumah ini ditinggal kosong, sebaiknya
piring-piringnya kita cuci dulu ya?"
"Baik!"
Lalu mereka mulai memasak bersama.
Pertama-tama terong dipotong memanjang lalu diiris
setengah bulan, sedangkan mentimun diiris tipis-tipis dan dimasukkan ke dalam
mangkuk untuk diremas bersama garam. Setelah layu, peras airnya, lalu campurkan
kaleng makarel rebus yang sudah dibuang kuahnya menggunakan minyak wijen.
Tambahkan tomat yang dipotong tak beraturan, okra rebus,
serta daun shiso yang diiris tipis-tipis di atasnya, maka selesailah salad
segar makarel dan sayuran musim panas yang tetap membangkitkan selera makan di
pagi hari yang terik. Disantap dengan kecap asin wasabi sepertinya juga enak.
Karena hidangan itu saja belum cukup, ia menyiapkan kue
bolu berisi pisang yang dibelinya di stasiun untuk bekal kembali ke Tsukinose,
lalu menatanya di atas aluminium foil yang diolesi mentega untuk dipanggang
menggunakan pemanggang roti.
Seketika itu juga, aroma manis langsung menyebar, dan
dari ruang keluarga terdengar dua suara perut keroncongan yang menggemaskan.
Hayato dan Saki saling bertukar pandangan lalu tertawa bersama.
Rupanya bukan hanya Haruki dan Shinta saja yang
terpancing oleh aroma tersebut, suara langkah kaki menuruni tangga juga
terdengar mendekat.
"Kakak, aku lapar~……
eh, kenapa semuanya ada di sini!?"
Begitu tiba di ruang keluarga, rambut tidur Himeko yang
berantakan tampak berdiri tegak karena terkejut.
Sambil menikmati sarapan bersama di meja rendah ruang
keluarga, Himeko melontarkan keluhan dengan tatapan tajam.
"Keterlaluan banget! Aku kaget karena semua orang
sudah datang dari pagi, atau setidaknya bilang-bilang dulu dong…… ini pasti gara-gara ulah isengnya Haru-chan lagi, kan!?"
"M-Maaf ya, karena sudah 7 tahun jadi aku terlalu
bersemangat……"
Himeko sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa
kesalnya yang cemberut.
Namun, alih-alih benar-benar marah, ia lebih terlihat
merajuk karena merasa dikucilkan.
Bahkan sekarang pun Himeko masih cemberut sambil berkata,
"Sebenarnya aku sih nggak begitu tertarik sama urusan tangkap-menangkap
serangga."
"M-Mengira Hime-chan masih tidur, jadi
kupikir……"
"Makanya bilang dulu~~!"
Hayato menghela napas melihat usaha Haruki yang berusaha
mati-matian meredakan amarah Himeko, sementara ia sendiri melanjutkan
sarapannya seolah tidak peduli. Rupanya sikap Hayato itu tidak berkenan di hati
Himeko, sehingga ia mengerucutkan bibirnya dan melemparkan teguran dengan suara
protes.
"Kakak juga, bisakah sedikit mengendalikan tali
kekang Haru-chan──eh, siku lengan Kakak kenapa bisa begitu!?"
"Hm? Apaan ini? ……Tergores di suatu tempat kali
ya?"
Himeko refleks mencondongkan tubuhnya ke depan dan
menunjuk bekas luka lecet di siku Hayato.
Luka itu memerah kehitaman dengan luas setara dua koin
uang logam 500 yen yang disandingkan, terlihat cukup menyakitkan secara visual.
Namun rasanya tidak sesakit kelihatannya, bahkan Hayato sendiri baru
menyadarinya sekarang. Rupanya luka itu tercipta saat ia menolong Shinta tadi.
"Duh Kakak, itu beneran nggak apa-apa?"
"Wwah, Hayato, itu luka yang lumayan parah
lho."
"Yah, mestinya sih nggak apa-apa. Diberi air liur
juga nanti sembuh sendiri──"
"Tidak boleh!"
Berniat mengatakan bahwa luka seperti ini bukan masalah
besar──ucapan Hayato terpotong oleh suara nyaring Saki.
Dengan ketangkasan dan sifat tegas yang sama sekali tidak
disangka dari sosoknya yang biasanya lembut, Saki langsung menarik Hayato ke
dapur untuk membersihkan lukanya. Bahkan Hayato pun tidak mampu menyembunyikan
rasa terkejutnya.
Ç"Murao-san? Anu, lukanya tidak apa-apa kok……"
"Tidak terlihat baik-baik saja! Duh~, tolong tunjukkan lukanya dengan
benar ke sini~!"
"A, baik."
Saki tidak memberi ruang untuk menolak. Setelah
membersihkan lukanya, ia dengan cekatan menyeka airnya menggunakan
handkerchief, lalu merawat lukanya menggunakan cairan antiseptik portabel dan
salep yang ia ambil dari dalam pouch.
Persiapannya benar-benar sangat matang.
Dan itu adalah sisi diri Saki yang tak terduga.
"Maaf ya, gara-gara Shinta……"
"……Ah."
Namun, penjelasan itu membuat segalanya menjadi masuk
akal.
Kotak P3K darurat yang tersimpan di dalam pouch,
serta plester luka ukuran besar mencolok dengan ilustrasi rubah berdesain chibi
yang lucu menempel di sikunya sekarang. Sebenarnya, untuk siapa perlengkapan
itu awalnya disiapkan?
Hayato menyadari sisi lain dari Saki yang baru, membuat
bibirnya mengukir senyuman tipis.
"Ya sudah, plester lukanya tolong sering-sering
diganti ya."
"Ah, anu itu, terima kasih ya."
"Iya, sama-sama……"
"Murao-san ini ternyata benar-benar seperti seorang
kakak ya."
"Feh?"
Seorang kakak perempuan. Saki membelalakkan matanya
kebingungan karena tidak mengerti maksud dari perkataan Hayato.
Begitu Hayato tersenyum hangat dan mengalihkan
pandangannya kepada Shinta yang sedang lahap menyantap sarapannya di ruang
keluarga, wajah Saki langsung merona merah seketika.
Terkadang bersikap agak memaksa, dan telaten merawat
orang lain──itu adalah wujud Saki sebagai seorang kakak sepupu, dan bagi
Hayato, hal itu terasa sangat menghangatkan hati sekaligus menumbuhkan rasa
kedekatan tersendiri sebagai sesama anak sulung yang memiliki adik.
"Begitu ya, pantas saja kamu bisa diandalkan."
"Eh!? A, tidak, itu, anu~!"
Saki menjadi salah tingkah dan berseru panik karena
tidak tahu bagaimana harus merespon tatapan mata Hayato. Mendengar suara
keributan itu, Haruki dan Himeko melongokkan kepala ke dapur dengan ekspresi
penasaran.
"Hayato lagi ngapain sih? Jangan bilang kamu
sedang merayu Saki-chan lagi?"
"Kakak, jangan-jangan kamu mencoba merayu Saki-chan
lagi ya!? ……Sungguh membagongkan."
"Bukannya beda. Aku cuma bilang kalau Murao-san itu
punya tingkat girly yang tinggi, tidak seperti Haruki dan Himeko."
"Sebentar ya Kakak! Jangan samakan aku dengan
Haru-chan yang tingkat girly-nya sudah hancur lebur!"
"Hime-chan!? Tapi kan Hayato, manusia itu punya
bidang yang bagus dan bidang yang buruk dibanding orang lain lho!?"
"A, auu……"
Saki pun akhirnya ikut terseret ke dalam perdebatan yang
biasa terjadi itu.
Shinta yang duduk sendirian di luar lingkaran sambil
mengamati situasi tersebut tampak memasang ekspresi bingung, lalu berbicara
pada capit kumbang Miyama di dalam kandang serangga.
"……Girly-ryoku?"
Setelah sarapan, saat kami membereskan peralatan makan
dan menarik napas santai sambil menikmati teh, tiba-tiba Haruki mengangkat
tangannya seolah berkata, "Ya!"
"Ayo pergi ke sungai!"
"Sungai?"
"Un, ayo kita pergi ke sungai untuk menangkap ikan.
Nah, lihat ini!"
"Itu…… dibuat sejak kapan?"
"Di rumah Saki-chan sejak kemarin?"
"Bukannya tadi cuma mau menangkap serangga……"
Lalu, alat penangkap ikan dari botol plastik berukuran
dua liter yang dulu sering dibuat oleh Hayato, dikeluarkan oleh Haruki dari
suatu tempat.
Bagian tutup botol plastik dipotong dan dipasang kembali
secara terbalik, sebuah perangkap buatan sendiri yang biasa disebut selbin,
membuat ikan mudah masuk tapi sulit keluar.
Tentu saja, beberapa lubang dibuat di bagian dalam agar
aroma umpan yang memancing ikan dapat menyebar.
"Umpan bentuk bola-bola juga sudah kubuat!"
"Shinta juga?"
Shinta, yang dengan liciknya membawa perlengkapan
bagiannya sendiri, datang ke samping Haruki sambil terengah-engah dan bahkan
melakukan high-five.
Melihat sosok penuh pengharapan itu, sangat sulit untuk
menolak.
Saki, yang pandangannya bertemu dengan Hayato, juga
tersenyum pahit.
"Hmm, Haru-chan dan yang lainnya mau ke sungai ya……
kalau begitu, kita berdua mau bagaimana, Saki-chan?"
"Feh?"
Pada saat itu, Himeko melontarkan kata-kata tersebut
sambil meregangkan tubuh dan menguap.
Saki, yang diajak bicara, membelalakkan matanya seolah
berkata, "Eh?"
Kemudian Haruki membalas kata-kata Himeko dengan nada
suara penasaran.
"Eh, Hime-chan dan yang lainnya tidak ikut?"
"Sungai itu kan tempat yang sering kamu dan Kakak
mainkan dulu, kan? Di dekat sana tidak ada tempat teduh, pasti panas, dan kulit
kita bisa terbakar matahari. Lagipula, kan ada Kakak juga selain Haru-chan,
jadi pasti tidak apa-apa, kan, Saki-chan?"
"Eh, tidak, anu itu……"
Himeko dengan terang-terangan memasang wajah tidak suka
sambil menyebutkan alasan-alasan mengapa ia tidak ingin pergi.
Saki merenungkan apa yang harus dilakukan sambil
mengalihkan pandangannya antara Himeko dan Haruki.
Sedangkan Shinta, tampaknya sudah terlanjur tertarik pada
sungai, terlihat asyik memeriksa perangkap dan umpan dengan teliti.
Melihat situasi tersebut, Haruki mengangkat bahu ke arah
Himeko dan menggelengkan kepala dengan ekspresi lelah.
"Kamu tidak mengerti, Hime-chan."
"Ha? Apa maksudmu, Haru-chan?"
Mendengar provokasi terang-terangan itu, Himeko
mengerutkan keningnya dengan tidak suka.
Lalu Haruki memasang ekspresi yang semakin kecewa,
dan memberitahukan hal itu dengan nada suara seolah-olah sedang memancing emosi
Himeko.
"Rekreasi outdoor."
"…!?"
"Benar, apa yang akan kita kunjungi mulai
sekarang adalah rekreasi outdoor yang sama sekali tidak bisa kalian
rasakan jika hanya tinggal di kota, tahu?"
"…!? Eh, tapi kan……"
"Hime-chan, apa kamu tidak menyadarinya karena
terlalu dekat? Bukankah aktivitas di sungai itu bukan cuma memasang perangkap
untuk menangkap ikan?"
"B-Begitu sih, tapi……"
"Canyoning dan shower climbing untuk menikmati
aliran sungai pegunungan, kalau pergi agak ke arah gunung kita bahkan bisa dive
di tempat yang dalam, kan? Selain itu, barbekyu dengan ikan iwana atau yamame
yang dipancing menggunakan rekreasi fishing, pasti punya kesan estetik
yang diidam-idamkan orang kota."
"Ca- canyoning dan shower climbing, diidamkan
dan estetik!? ……Hm, benar juga sih, itu bisa jadi bahan cerita tentang apa yang
kulakukan setelah liburan usai nanti…… kan, kan, Saki-chan!?"
"A, ahaha……"
Mendengar istilah asing seperti canyoning serta
kata-kata tentang pamer dan kesan estetik, Himeko langsung berbinar-binar dan
mulai gelisah.
Saki, yang dimintai persetujuan, melepaskan tawa
hampa melihat sikap sahabatnya yang berubah dalam sekejap, namun ia juga
menyiratkan nada suara khas Himeko seperti biasanya.
Lalu Haruki memejamkan satu matanya dengan wajah
penuh percaya diri, sambil mengacungkan jempolnya.
Hayato menggaruk-garuk kepalanya dan bergumam dengan
tatapan tajam.
"Itu kan cuma mendaki ke area jurang, melompat
ke area bebatuan, dan memancing di sungai, kan……"
Setelah itu, Haruki memejamkan satu matanya dengan
jenaka dan sedikit menjulurkan ujung lidah merah mudanya.
Hayato dan kawan-kawan yang meninggalkan kediaman
keluarga Kirishima berjalan menuju bagian hulu, sambil melirik ke arah sungai
yang mengalir di antara jalan prefektur yang tidak terlalu mulus dan tepi
gunung.
Lebar aliran air sungainya mirip seperti jalan di
kawasan perumahan kota dengan arus yang tenang, dan kedalamannya bahkan tidak
sampai merendam lutut. Skalanya bisa dibilang seperti kali kecil atau anak
sungai, salah satu cabang yang mengalir ke sungai besar di seberang gunung.
Meskipun masih pagi, sengatan matahari musim panas terasa
begitu kuat dan membakar kulit secara perlahan.
Karena kepanasan, butiran keringat sebesar biji jagung
tampak menggenang di dahi setiap orang.
Namun langkah kaki semua orang terasa begitu ringan dan
penuh semangat. Obrolan-obrolan sepele pun mulai mencair.
"Oh iya Saki-chan, belakangan ini aku pergi ke
restoran sushi konveyor bersama Kakak lho."
"Restoran sushi konveyor!? Tempat sushi
yang berputar-putar itu~!?"
"Hebat banget lho…… bukan cuma jenis sushinya
saja, menu pendampingnya juga lengkap banget, ada kentang goreng, ayam karaage,
sampai kue…… benar-benar terasa seperti full course..."
"Wah, full course sushi! ……Himeko-chan,
kamu benar-benar sudah jadi wanita kota ya……"
"Hm, sushi!? Hayato, kapan kalian pergi tanpa
memberitahuuukuh!"
"Waktu masa ujian kemarin. Soalnya aku benar-benar
nggak punya waktu luang buat masak setiap hari."
"Haru-chan sih, waktu masa ujian kemarin memang
jarang datang ke rumah yaー"
"Gunuuu……"
Omong-omong, selera Himeko adalah ikan tuna, salmon,
udang, dan tamago; benar-benar lidah anak kecil.
Di tengah-tengah obrolan itu, mereka akhirnya melihat
tempat di mana aliran sungai membentuk lengkungan besar.
Mungkin karena berada di tikungan, lebar sungai di sini
juga menjadi lebih luas, dan di bagian dalamnya terbentang area tepi sungai
seluas lapangan olahraga yang dipenuhi banyak batu.
Ini adalah tempat
yang sangat cocok sebagai basis kegiatan outdoor dan populer di kalangan
penduduk Tsukinose. Inilah destinasi tujuan mereka hari ini.
Saat itu, angin berhembus sepoi-sepoi dari gunung di
seberang sungai.
Angin yang membawa kelembapan udara terasa begitu dingin,
seketika meredakan panas yang bersarang di tubuh Hayato dan kawan-kawan hingga
keringat mereka pun mengering.
Mereka menyipitkan mata menikmati kenyamanan tersebut.
"Wah, kangen banget! Tempat ini juga tidak
berubah sama sekaliー!"
"Ah, hei Haruki!"
Haruki, yang matanya berbinar-binar dan diliputi
perasaan emosional setelah 7 tahun tidak berkunjung, langsung berlari menuju
tepi sungai, lalu melemparkan batu yang dipungutnya ke arah permukaan air
dengan penuh semangat.
Menimbulkan suara pi-chon pi-chon sambil
menciptakan riak air, batu itu melompat di atas permukaan air dengan mudahnya
hingga lebih dari 10 pantulan.
Haruki berbalik dengan mendengus bangga dan wajah
penuh kemenangan.
Sepertinya ia ingin bilang kalau kemampuannya belum
tuntas.
"Nah kan, meskipun sudah lama tidak latihan,
segini mah gampang?"
"Oh? Kalau begitu, mau kuberi contoh?"
"Hm!?"
Hayato, yang menerima tantangan itu, meluncurkan batu
ke sungai dengan tenang namun penuh percaya diri.
Batu miliknya juga memantul pi-chon pi-chon
tidak kalah dari Haruki, meski melompat dengan sedikit lebih bertenaga.
Jika dilihat dari samping, jumlah pantulannya hampir
seimbang. Namun Hayato membalas Haruki dengan senyuman penuh kebanggaan.
Wajah Haruki berkerut kesal dengan suara gerutuan.
"Meskipun aku sudah lama tidak melakukannya, tapiy,
jumpaiku dua pantulan lebih banyak lho?"
"I- itu tadi cuma pemanasan saja tahu!? Coba lihat,
jangan sampai kamu terkejut melihat keahlianku yang sesungguhnya, ya!"
"Oh? Berani juga kamu, mau bertaruh esラムネ (Ramune)?"
"Fufun, tantangan diterima!"
Lalu dimulailah kompetisi melempar batu di air (mizukiri)
secara tiba-tiba.
Hayato dan Haruki bergantian melempar batu ke sungai,
membuatnya melompat-lompat di atas permukaan air bagaikan makhluk hidup.
Mungkin karena mulai terbiasa lagi, jumlah pantulan batu
dari keduanya semakin lama semakin bertambah banyak.
Gemercik air sungai dan suara ketukan ringan di permukaan
air membentuk ritme tersendiri, membuat pertarungan semakin memanas.
"Tuh kan, lemparanku tadi melompat satu tingkat
lebih banyak!"
"Ah, iya benar juga. Tapi jarak lemparanku secara
keseluruhan jauh lebih jauh ke seberang lho."
"Gugigi……"
"Ahahha!"
"Muuu! Kakak sama Haru-chan lagi ngapain sih!"
““…!?””
Himeko, yang baru sadar kembali, melontarkan protes
dengan suara lantang kepada mereka berdua.
Ia berdiri berkacak pinggang dengan dada membusung,
sementara Saki di sampingnya tersenyum pahit.
Hayato dan Haruki juga mengalihkan pandangan dengan
ekspresi canggung karena salah tingkah.
Suasana canggung yang tak bisa dijelaskan itu tiba-tiba
dirobek oleh suara cipratan air dobon, dobon.
"Hiyah! Mumu~~n,
hiyah!"
Ketika mereka mengalihkan pandangan ke sumber suara,
tampak Shinta sedang melempar batu ke arah sungai. Sepertinya ia terinspirasi
dari aksi mizukiri yang dilakukan Haruki dan Hayato.
Namun batu yang dilempar secara overhand itu tidak
memantul di permukaan air, melainkan langsung tenggelam sia-sia ke dasar
sungai. Shinta pun tampak mengerutkan keningnya.
Melihat hal itu, Hayato memungut sebuah batu dan
mengajaknya bicara.
"Shinta, kalau melempar batu usahakan pilih yang
pipih seperti ini. Akan lebih baik kalau ada sudutnya supaya jarimu bisa
mengait. Lalu saat melempar, pastikan posisinya sejajar dengan permukaan air
sambil memperhatikan putarannya…… seperti ini, nah!"
"…!?
Eh, e-etto, begini……………………waaah!"
Meniru Hayato yang mengajarkan trik dan memberikan
contoh, Shinta kembali melempar batu ke sungai.
Kali ini, berbeda dari sebelumnya, batu tersebut memantul
dua kali pi-chon pi-chon.
Jumlahnya hanya dua kali. Masih jauh tertinggal dari
Hayato dan Haruki.
Namun, batu itu benar-benar memantul.
"Bagus juga kalau melemparnya dari posisi serendah
mungkin. Seperti ini sambil berlutut satu kaki. Coba lakukan?"
"Begini, hiyah! ……Wa, waaah~!"
"O, hebat sekali Shinta."
"B, Berhasil memantul! Banyak! Melompat!"
Dan kali ini batu itu memantul sebanyak empat kali.
Shinta mengangkat kedua tangannya diiringi sorakan gembira, melompat kegirangan
dengan seluruh tubuhnya.
Saki menyipitkan mata melihat pemandangan itu dan
mengawasinya dengan senyuman hangat, ketika tiba-tiba Haruki yang berada di
dekatnya menarik ujung bajunya dengan pelan.
"Saki-chan juga, ayo kita coba."
"Fe!? Ah, anu itu, aku……"
"……Hayato itu, seperti yang kamu lihat, jago
mengajar lho. Dulu aku juga pernah diajari olehnya, kan."
"E…… ah…… iya!"
Saki, yang menangkap maksud Haruki, ditarik oleh Haruki
dan mulai berlari kecil.
"Ah, Haru-chan dan Saki-chan! Tunggu dulu,
duuh!"
Himeko, yang hampir ditinggal sendirian, buru-buru
menyusul keduanya dengan ekspresi pasrah.
Tanpa disadari, kompetisi mizukiri telah dimulai.
Orang yang paling antusias adalah Shinta, ……dan juga
Himeko.
"Lihat, apa kamu lihat tadi!? Pantulannya
benar-benar sampai tujuh kali, kan! Kudapat duluan, kan!"
"Mumu, enam kali adalah dinding pembatas yang
besar……"
"H-Hime-chan, bahaya lho kalau kamu melompat-lompat
di situ~! Shinta juga jangan pergi jauh-jauh
cari batu sendiri~!"
Mengabaikan suara kekhawatiran Saki, Himeko dan Shinta
tampak semakin asyik melempar batu karena merasa semakin seru saat jumlah
pantulannya bertambah seiring mereka memperbaiki cara melemparnya.
Omong-omong, jika membahas jumlah pantulan Saki, itu
adalah cara lempar yang membuat orang paham betul bahwa setiap orang punya
bakat dan bidangnya masing-masing.
Sepertinya ia adalah pemilik tingkat koordinasi motorik
yang setara dengan tidak bisa melakukan gyaku-agari (pull-over bar
horizontal).
"Wah! Berhasil, sampai tujuh kali, memantul! Hei
hei, Hime-neechan lihat tadi kan!"
"Ooh, Shinta-kun hebat juga ya. Aku juga tidak mau
kalah, target selanjutnya 10 pantulan! Ngomong-ngomong,
Stone Skimming ini ternyata dalam juga ya……"
"Ston-skimi?"
Stone Skimming,
Shinta-kun.
"A, ahaha……"
Himeko memamerkan wajah penuh rasa bangga kepada
Shinta dengan pelafalan bahasa asing yang sok fasih.
Pemandangan itu tidak hanya diamati oleh Saki yang
berada tepat di sampingnya, tetapi juga oleh Hayato dan Haruki dari kejauhan
sambil tersenyum pahit.
"Hei, Hayato."
"Hm?"
"Aku ini, terkadang benar-benar mengkhawatirkan
masa depan Himeko lho……"
"……Kebetulan sekali, aku juga."
Omong-omong, alasan Himeko mulai melakukan mizukiri
adalah karena provokasi trivia dari Haruki yang entah dari mana didapatnya, "Kamu
tidak mau mencobanya? Padahal di Skotlandia olahraga rekreasi tepi air ini
disebut Stone Skimming, dan bahkan kejuaraan dunia pun diadakan, lho."
Himeko memang selalu mudah dibujuk seperti biasa.
Lalu Hayato teringat sesuatu dan bertanya.
"Oh iya soal perangkap ikan, bagaimana?"
"Ah, Shinta-kun sedang asyik bermain mizukiri
ya…… hmm, karena ada beberapa, bagaimana kalau kita pasang
bagian kita dulu saja? Biar kutemui mereka untuk bilang sebentar ya.
Ooi──"
"Okelah, kutitip ya."
Hayato yang melihat Haruki berjalan ke arah Himeko dan
kawan-kawan, memutuskan untuk masuk ke sungai terlebih dahulu dengan masih
mengenakan sandal pantai miliknya.
"Dingin banget!?"
Air sungai yang merendam hingga ke bagian tulang kering
terasa jauh lebih dingin dari perkiraan, membuat suaranya spontan terpekik.
Namun, ketika panas yang terperangkap di dalam tubuh
akibat sengatan cuaca Agustus terlepas dari ujung kaki ke dalam sungai, ia
menyipitkan mata menikmati kenyamanan tersebut.
Dan setelah puas menikmati kesegaran sejenak, ia
mengamati kondisi dasar sungai untuk mencari lokasi yang tepat guna meletakkan
perangkap, lalu memindahkan beberapa batu untuk menyiapkan area agar
perangkapnya tidak terbawa arus. Pekerjaan yang cukup melelahkan.
Setelah selesai menyiapkan tempat untuk meletakkan
perangkap, sambil menghela napas lega dan menyeka keringat di kening
menggunakan punggung tangan, sebuah suara bernada ragu-ragu memanggilnya.
"A- Kakak, aku juga mau ikut membantu~!"
"Murao-san? Eh, di mana Haruki?"
"Ah, ahaha……"
Saki tampak berjalan ke arahnya sambil mengangkat sebelah
tangan. Di belakangnya, Haruki terlihat sedang melempar batu dengan penuh
percaya diri setelah dielu-elukan oleh Himeko dan Shinta. Peribahasa "niat
hati ingin membalas, malah ikut terjerumus" benar-benar pas menggambarkan
situasi ini. Rupanya Saki merasa tersisih di sana. Hayato pun melepaskan senyum
pahit.
Lalu Saki melepas sandal mule di tepi sungai,
mengangkat sedikit ujung roknya dan hendak masuk ke dalam air, sehingga Hayato
buru-buru berteriak untuk mencegahnya.
"Tunggu, Murao-san! Bahaya!"
"Feh? Ah…… kyaf!?"
"Kuh…… semoga sempat!"
Arus sungainya tenang dan kedalamannya juga dangkal.
Itulah sebabnya Saki mungkin berpikir ingin berjalan
dengan telanjang kaki agar sandal mule-nya tidak basah.
Namun dasar sungai tidak semahal yang dibayangkan.
Bisa jadi ada batu tajam atau pecahan kaca, dan meskipun berjalan di tempat
yang datar sekalipun, permukaannya terasa licin akibat lumut dan sebagainya.
Benar saja, Saki menginjak lumut yang licin sehingga
keseimbangannya hilang secara drastis, namun pada detik-detik terakhir Hayato
berhasil menarik lengannya dan mendekapnya ke dalam pelukan.
"Fuh…… kamu tidak apa-apa, Murao-san?"
"Eh, ah, tidak itu………!?"
"…!?
T- tenanglah karena tidak apa-apa, jadi pegangan yang erat."
"T- tapi ini terlalu dekat, berpelukan……!?"
Saki sudah sepenuhnya berada dalam dekapan lengan
Hayato. Berada dalam posisi dipeluk oleh orang yang disukainya membuat kepala
Saki mendadak panas dalam sekejap.
Akibat rasa malu yang tak terelakkan, ia menjadi
salah tingkah, kebingungan, dan meronta-ronta untuk melepaskan diri.
Mengingat kondisi pijakan yang buruk, Hayato pun ikut
kehilangan keseimbangan.
"Aduh!"
"Kyaf!?"
Dobon, suara cipratan air yang cukup besar
terdengar.
Hayato yang menjatuhkan diri ke belakang demi memperkecil
dampak benturan, akhirnya terduduk di dasar sungai.
Saki turut terjatuh bersama, namun ia ditarik dari bawah
ketiaknya oleh Hayato agar tidak basah kuyup, sehingga ia hanya berlutut dengan
bagian ujung rok yang terangkat basah di bagian bawahnya saja. Di sisi lain,
setengah bagian kemeja Hayato basah kuyup, sementara celana pendeknya bahkan
mungkin basah sampai ke pakaian dalam.
Saki tidak bisa langsung memahami situasi apa yang baru
saja terjadi, namun ia buru-buru melepaskan diri, mengerjap-ngerjapkan mata,
dan mematung dalam kebingungan.
Hayato dan Saki saling bertatapan saat duduk terduduk di
dalam sungai. Pemandangan yang benar-benar konyol.
Setelah itu, Hayato tiba-tiba tertawa lepas karena merasa
situasi ini begitu menggelikan.
"Aha, ahahahahahahaha!"
"K- Kakak!?"
"Dipikir-pikir kamu adalah sosok kakak perempuan
yang bisa diandalkan, tapi ternyata Murao-san punya sisi ceroboh juga ya."
"Auuu……"
Ketika ditertawakan oleh sang pujaan hati dengan nada
suara bernada menggoda, Saki menciutkan diri sambil memerah wajahnya.
Melihat reaksi Saki tersebut, Hayato berdiri dengan
ekspresi canggung karena merasa sedikit terlalu berlebihan menggoda.
"Ah anu itu, maaf ya. Tidak
ada yang terluka, kan?"
"Eh, ah, ya, berkat bantuanmu..."
"Begitu ya. Syukurlah kalau begitu."
Lalu ia tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya.
Saki sempat tidak mengerti arti uluran tangan itu,
dan pandangannya mondar-mandir antara tangan dan wajah Hayato untuk memastikan
apakah ia boleh meraihnya.
Ketika Hayato yang tersenyum pahit semakin
mengulurkan tangannya untuk mengajak, Saki juga dengan ragu-ragu berniat
menyambutnya──
"……Hayato, hidungmu besar sebelah tuh."
"…dingin banget!?"
"Hyaft!?"
Pryak! Air disiramkan dengan kuat ke wajah
Hayato.
Ketika ia menoleh karena terkejut ke arah datangnya
cipratan air tersebut, tampak Haruki memegang pistol air dari bambu yang terasa
begitu bernostalgia.
Dan tanpa bersuara dengan ekspresi cemberut, ia terus
menembakkan air ke arah wajah Hayato.
Kejadian itu terjadi begitu saja. Situasinya
sama sekali tidak bisa dipahami.
Namun Hayato bukan tipe orang yang hanya pasrah
diperlakukan begitu saja.
"Awas kamu ya, kena pembalasanku!"
"Hehen, tidak bakal kenaaa!"
Meskipun berniat menyendok air sungai dengan kedua
tangannya untuk membalas, Hayato berhasil dielakkan dengan lincah dan Haruki
menjaga jarak ke area tepi sungai.
Dari jarak out-range itu, ia langsung melancarkan
serangan balasan seolah-olah itu adalah hadiah.
"Kalau begini caranya!"
"Hm!?"
Namun Hayato dengan terampil membuat bulatan air
menggunakan telapak tangannya, lalu melemparkannya dengan lemparan overhand.
Hayato memercikkan air bagaikan senapan shotgun.
Haruki menjaga jarak dan membidik serta menembak bagaikan senapan rifle.
Pertempuran itu berjalan sengit tanpa ada yang mau
mengalah. Namun keseimbangan itu perlahan mulai runtuh.
Hayato bisa mengisi ulang amunisi air tepat di kakinya,
sedangkan Haruki tidak bisa.
Pistol air bambu itu kehabisan amunisi air dalam waktu
yang tidak terlalu lama.
Melihat senjata yang tidak bisa menembak itu, Hayato
tersenyum licik. Namun Haruki membalas senyuman itu dengan seringai serupa.
"Pasukan Shinta, tolong hambat pergerakan Hayato
sampai aku selesai mengisi ulang air!"
"Yes, mam! Hiyyaaa!"
"Uwof!?"
Hayato terkejut karena tiba-tiba disiram air oleh Shinta
yang muncul di belakangnya.
Saat ia menoleh, tampak Shinta dilengkapi pistol air
bambu yang sama persis seperti milik Haruki.
Di saat Hayato lengah karena kecolongan, Haruki telah
selesai mengisi amunisi airnya dengan cepat dan kembali menyerang.
Dihimpit oleh dua orang bersenjata, Hayato pun
perlahan-lahan terdesak ke sudut.
"Fufu, saatnya membayar pajak, ya Hayato."
"Bersiaplah!"
"Kuh, kalau begini terus…… eh, itu kan!"
Tanpa sengaja pandangannya menangkap sebuah pistol air
bambu cadangan yang menyembul keluar dari ransel Shinta tempat mereka
meletakkan perangkap tadi di tepi sungai. Hayato
menyeringai lebar.
Haruki yang menyadari arti pandangan dan senyuman itu
langsung berteriak.
"Ah, senjatanya ketahuan! Pertahankan, Pasukan
Shinta, tembak! Hujani tembakan!"
"Hiyya, hiyyaa!"
"Haha, kalau ada senjatanya aku juga tidak
akan……!"
Hayato melompat keluar dari sungai dan berlari lurus
menuju ke arah ransel.
Haruki dan Shinta berusaha mencegahnya dengan panik
sambil menciptakan rentetan tembakan air ke segala arah.
Suasana menegang. Ini adalah momen penentuan.
"…………Ah."
"Eh…… u…… ah……"
"Hi- Himeko……"
Namun momen itu berakhir secara mendadak.
"……Haru-chan? Shinta-kun? Kakak tercinta?"
Suara yang dikeluarkan bagaikan bergema dari dasar bumi
itu berasal dari Himeko, yang menjadi korban empuk dari rentetan tembakan air.
Ia basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki,
rambut dan pakaiannya benar-benar hancur berantakan.
Lalu setelah melepaskan senyuman suram, ia melangkah
dengan suara katsu-katsu menghampiri ransel untuk mengambil senjata,
membuat Hayato, Haruki, dan Shinta bergidik ngeri merinding di punggung mereka
dan mundur ke belakang.
"Pa- Pasukan Shinta, jadikan Hayato sebagai perisai
lalu kita berbalik arah dan kabur!"
"A, aisirー!"
"Woi, tunggu, sebentar, Harukiー, Shintaー!?"
Hayato yang didorong punggungnya oleh kedua orang itu
tersandung ke depan, sementara di hadapannya sudah berdiri sang adik dengan
ekspresi bagaikan sesosok iblis.
Haruki dan Shinta sudah kabur kocar-kacir duluan tanpa
menoleh.
Hayato yang merasa tidak mau rugi sendirian juga
buru-buru membalikkan badan dan kabur.
"Wooooi, tungguuu!"
Lalu kejar-kejaran ala hantu dimulai berkat teriakan
murka Himeko.
Saki yang memperhatikan pemandangan itu dengan mulut
ternganga, lama-kelamaan mendapati tawa kecilnya ikut membuncah saat mendengar
suara teriakan seru dari semuanya. Sama seperti Hayato tadi.
Sebelum ia menyadarinya, ia sudah ikut berlari. Menuju ke
arah tempat di mana mereka semua tertawa lepas.
"Hime-chaa~n, Haru-san, Kaka~k, Shinta~, semuanya
tolong tungguin akuu~!"
Di bawah teriknya matahari musim panas yang bersinar
terang, suara cipratan air terdengar bergema.
Di sekeliling tempat itu dipenuhi suara riuh cicak (semi-shigure)
serta angin sepoi-sepoi yang berembus turun.
Lima suara tawa yang riang terserap ke dalam langit biru
yang luas.
Pukul dua siang ketika matahari bersinar tepat di atas
kepala. Jalanan di sepanjang Sungai Tsukinose.
Jejak tetesan air tampak berbekas di sana-sini.
Semua orang, dengan tingkat kebasahan yang berbeda-beda,
menikmati permainan di sungai tanpa peduli baju mereka basah.
"Yah, sesekali bermain di sungai sampai basah kuyup
begini rasanya menyenangkan juga!"
"Dingin, dan rasanya enak!"
"Duh, Haru-chan sampai masuk ke tengah-tengah
sungai, bikin kaget saja!"
Mereka mengobrol seru sambil tertawa terbahak-bahak.
Selain Hayato yang tadi terpeleset di sungai, orang
yang paling basah kuyup adalah Haruki.
Kemejanya menempel erat di tubuhnya, memperlihatkan
garis lekuk tubuh femininnya serta cami-shirt yang dikenakannya di
dalam.
Karena pemandangan itu benar-benar menguji iman
Hayato, ia sempat berniat mengatakan sesuatu──namun mengurungkannya. Sebagai
gantinya, ia menggaruk-garuk kepalanya yang terasa panas. Mataharinya terik,
pakaian mereka pasti akan segera kering dalam waktu dekat.
Sambil berjalan kembali menyusuri jalan kedatangan
mereka, mereka membicarakan hasil tangkapan yang seharusnya ada di dalam
perangkap.
Ω"Ngomong-ngomong, kita sama sekali
tidak dapat ikan ya, Hayato."
"Kalau kita ribut cipratan air di dekat perangkap
seperti tadi, ikannya juga pasti waspada dan tidak mau mendekat."
"Omong-omong, di sini bukankah ikan ayu atau yamame
bisa dipancing?"
"Ada sih, tapi jumlahnya sedikit. Kalau mau
mengincar itu, lebih baik pergi ke area pemancingan di seberang gunung."
"Tempat itu jauh dan berbayar soalnya ya…… yah,
bukan berarti tidak ada sama sekali yang tersangkut sih?"
Lalu Haruki dan Hayato mengalihkan pandangan mereka ke
botol plastik perangkap yang sedang diamati dengan penuh minat oleh Shinta.
Di dalam botol itu terdapat selusin kepiting sawah (sawagani)
seukuran ibu jari. Itulah satu-satunya hasil tangkapan yang tersangkut di dalam
perangkap.
Ada yang bergerak aktif, ada yang diam tenang, dan ada
pula yang mengangkat sepitnya untuk mengancam begitu melihat wajah mereka;
melihatnya saja sudah terasa begitu unik. Suasana
hangat pun tercipta dan membuat bibir mereka melengkung tersenyum.
"Ya ya, kepiting sawah juga tidak masalah,
kok!"
"Betul juga, gerakannya juga masih aktif, jadi
kita harus merendamnya di air tawar selama semalam untuk membuang kotorannya
dulu."
"Tapi Kak, kalau jumlahnya sebanyak ini,
paling-paling cuma cukup buat porsi camilan satu orang saja, kan?"
"Tunggu, Hayato sama Hime-chan, kalian mau makan
kepiting sawah!?"
““……Eh?””
Seruan kaget Haruki disusul oleh suara kebingungan dari
kakak beradik Kirishima.
Mereka saling bertukar pandangan, dan keheningan tercipta
sesaat.
Lalu Haruki berlari mendekati Shinta seolah-olah tidak
percaya, menatap kepiting sawah di dalam perangkap sambil merangkkai kata
seolah meminta persetujuan.
"Memakan anak-anak kecil yang selucu ini,
keterlaluan sekali kan…… kan, Shinta-kun?"
"Kepiting sawah goreng tepung, rasanya renyah dan
kriuk-kriuk, aku suka."
"Shinta-kun!?"
Namun, jawaban dari Shinta membuat Haruki mematung.
Lalu dengan ekspresi tak percaya, ia mengalihkan
pandangannya kepada Saki, namun Saki hanya membalasnya dengan senyuman penuh
rasa serba salah.
"Bahkan di pesta pun, makanan ini populer sebagai
pendamping bir..."
"Sampai-sampai Saki-chan pun!?"
Rupanya di Tsukinose, kepiting sawah adalah bahan makanan
yang populer.
Kecuali Haruki yang sedang memegangi kepalanya, tawa yang
berusaha menutupi berbagai hal menyebar dari yang lainnya.
Lalu, mungkin karena mereka sedang membicarakan tentang
makanan, suara perut keroncongan milik seseorang terdengar berbunyi. Hari sudah
menunjukkan waktu makan siang.
"Kak, aku lapar. Mau makan apa siang ini?"
"Mau masak apa ya... bagaimanapun juga kita harus
pergi belanja dulu."
"Ah, omong-omong! Hayato, beberapa waktu lalu kamu
bilang kalau punya trik rahasia untuk menyalakan arang saat barbekyu, kan? Aku
jadi penasaran!"
"Waaah, barbekyu!"
"Kak, aku mau makan ayam yang dibungkus daun lalu
dibakar dan dibumbui aneka yogurt! Aku yang bakal mengeluarkan kompornya!"
"T- tolong katakan apa saja yang bisa kubantu!"
"Barbekyu, barbekyu!"
Begitu Haruki dan Himeko mulai berisik membahas barbekyu,
Shinta yang tadinya begitu terpikat pada kepiting sawah pun ikut bergabung ke
dalam obrolan dengan antusias.
Mendapat tatapan penuh pengharapan dari keenam pasang
mata tersebut, Hayato pun merasa cukup kesulitan untuk menolak.
"Kalau mulai dari sekarang, bakal butuh waktu
lumayan lama... ah, iya iya, paham-paham."
"A- aku juga akan membantu~"
"Aku mengandalkanmu, Murao-san. Eh, pertama-tama
kita beli daging di tempat Kanehachi-san yang beternak ayam, untuk sayurannya
sih tidak masalah, tapi kalau herbal... harusnya Kakek Gen menanam beberapa──
ya?"
Pada saat itu, segerombolan domba berbulu putih yang
tampak empuk muncul dari jalan di hadapan mereka. Sekelompok
domba. Di bagian paling belakang tampak sosok Kakek Gen.
Mungkinkah domba-domba itu baru saja dibiarkan
memakan rumput liar di suatu tanah kosong?
Domba-domba peliharaan Kakek Gen sering kali bekerja
sebagai pengganti mesin pemotong rumput. Pemandangan yang sudah lumrah di
Tsukinose.
Meskipun begitu, karena rumput liar pun punya banyak
jenis yang mereka pilih-pilih, efisiensi metode ini sebaiknya tidak perlu
dibahas terlalu dalam.
Konon mereka bahkan lebih menyukai bibit sayuran
daripada rumput liar. Sungguh hewan yang gourmet.
"Meeeeh~!"
"Feh?"
Lalu, seekor domba yang menyadari keberadaan mereka
mengeluarkan satu suara mengaum yang cukup keras.
Domba itu berlari dengan langkah mantap lurus ke arah
Saki, lalu menggosokkan tubuhnya seolah meminta kepalanya untuk dielus.
"Nmeeeh~!"
"Ara? Ara ara ara~!"
"Meh, nmeeh~", "Meeeeh~", "Meh,
meeh~"
"E, eh, sebentar~!?"
Dimulai dari domba pertama yang datang tadi, domba-domba
lainnya turut berdatangan dan mengepung Saki.
Pemandangan seekor domba yang tubuhnya berukuran paling
besar dan berkarakter santai tampak buru-buru menyusul di belakang
kawan-kawannya juga terlihat begitu menggemaskan.
Haruki yang terkejut atas kejadian mendadak itu
mencengkeram ujung kemeja Hayato sambil menunjuk ke arah domba-domba tersebut,
namun bukan hanya Hayato, Himeko dan Shinta pun hanya bisa melepaskan senyum
pahit sambil tertawa kecil.
"S- Saki-chan!? H- Hayato, apa itu tidak
apa-apa!"
"Tidak apa-apa, buktinya domba itu cukup pintar
untuk mengenali Murao-san dan bermanja-manja padanya."
"Nee-chan, sudah biasa."
"Saki-chan, entah kenapa memang sering didekati
domba-domba itu yaー"
Saki, yang kini berada dalam posisi seolah dilempar ke
tengah kawanan domba, dengan penuh semangat membelai mereka, sementara
suara-suara bernada nyaman seperti "Nmeeeh", "Meh, meeh"
terdengar bersahutan.
Rupanya hal ini juga bukan pemandangan yang langka di
Tsukinose.
"Oooih, Pemuda Kirishima, baru pulang dari sungai?
Peribahasa 'pria tampan yang meneteskan air', atau lebih tepatnya, antek-antek
pembuat onar sekarang sudah berubah menjadi wanita cantik yang mempesona ya,
gahahha!"
"Hyat!?"
Kakek Gen yang datang sambil mengangkat tangan dengan
riang tertawa terbahak-bahak melihat Hayato dan Haruki yang sudah basah kuyup
seperti tikus.
Haruki, yang baru menyadari kondisi penampilannya sendiri
berkat teguran Kakek Gen, langsung merona merah dalam sekejap sambil memeluk
tubuhnya sendiri agar dadanya tidak terlihat dan menciutkan diri.
Melihat hal itu, Himeko menghela napas panjang dengan
ekspresi jenuh, Shinta memiringkan kepalanya dengan bingung, sementara Hayato
menorehkan kerutan rumit di antara kedua alisnya sembari melempar topik
pembicaraan untuk mengalihkan suasana hati yang sulit diungkapkan ini.
"Ah itu, bukankah di tempat Kakek Gen ada menanam
timi atau rosemary?"
"Hm? Oh, jumlahnya memang sedikit tapi ada. Kenapa
emangnya?"
"Aku ingin minta sebagian. Rencananya mau dipakai
untuk barbekyu."
"Barbekyu? Ah begitu ya, kan lagi musim panas dan
kalian juga kumpul semua. Kalau begitu dagingnya juga butuh, kan? Biar
kuberitahu Kanehachi-san sekalian, ya?"
Kakek Gen mengeluarkan ponselnya sambil melontarkan nada
bicara bernada menggoda ke arah Hayato.
Namun Hayato mendengus bangga, seolah tidak mau kalah ia
mengeluarkan ponselnya sendiri dan membalas dengan akting ucapan kecewa yang
berlebihan.
"Yah, sebenarnya bisa saja aku yang menghubungi
langsung, tapi aku kan tidak tahu nomornya Kanehachi-san. Kakek Gen, bisa
tolong?"
"O? Kenapa, akhirnya beli ponsel juga rupanya."
"......Mau bagaimana lagi, rasanya cukup merepotkan
kalau tidak punya waktu di kota."
"Gahahha, begitu ya, begitu ya!"
"Iya betul, dengar ini Kakek Gen! Kakak itu
gara-gara tidak punya ponsel sampai-sampai──"
"Betul tuh, si Hayato itu──"
Himeko dan Haruki mulai menceritakan kisah kegagalan
Hayato di masa lalu seolah-olah sedang mengeluh.
Suara tawa Kakek Gen yang menggelegar pun bersahutan
dengan tawa tertahan dari Saki. Dan Hayato, yang mendengar kisah kegagalannya
dibongkar oleh kedua gadis itu, memasang ekspresi salah tingkah.
Saat matahari di zenit sedikit miring condong ke
langit barat.
Sore hari yang sudah agak terlambat untuk dijadikan
waktu makan siang.
Halaman depan kediaman keluarga Kirishima yang
terletak di dataran tinggi wilayah pegunungan tampak sangat ramai dipenuhi
suara riuh, mengepulkan asap putih. Di lahan kosong sebelah rumah yang tidak
diketahui milik siapa, terparkir beberapa truk mini, mobil ringan, dan juga
sepeda.
"Wah, apinya hebat banget! Saki-chan lihat tadi
tidak!? Apinya membubung tinggi mirip pilar api lho!"
"Daging perut babinya berlemak... H- Hime-chan,
cepat balikkan dagingnya~"
"Memanggang marshmallow, menyenangkan
sekali...!"
Di depan kompor tempat bara api dinyalakan, Himeko dan
Shinta tampak bersenang-senang dengan antusias, sementara Saki memperingatkan
mereka dengan perasaan cemas.
Sajian yang sedang dipanggang adalah aneka sayuran
hasil bumi Tsukinose seperti jagung, paprika, bawang bombay, tomat, dan jamur
eringi, serta daging babi hutan. Suara daging yang mendesis berpadu
dengan kobaran api, kepulan asap, dan gelak tawa yang bergema.
"Oooih, tolong ambilkan tambahan bir ke
sinii!"
"Jagungnya bukannya sudah matang ya?"
"Tomat panggang juga sudah bisa dimakan tuh, kan
mentah pun sebenarnya bisa dimakan, gahahha!"
Dan orang-orang yang menikmati barbekyu ini bukan
hanya Hayato dan kawan-kawan saja.
Selepas kejadian tadi, Kakek Gen yang menghubungi
Kanehachi-san si pengusaha peternakan ayam datang berkunjung ke rumah Kirishima
bersama Kanehachi-san, membawa serta daging pesanan dan banyak warga desa
lainnya. Tentu saja, lengkap dengan minuman beralkohol.
Meskipun Hayato sempat terkejut di awal, begitu
diberitahu bahwa bahan makanan yang dibawa melebihi jumlah yang diminta dan
semuanya gratis tanpa harus dibayar, orang yang memegang kendali dompet rumah
tangga tentu tidak kuasa untuk menolak.
Ia justru langsung menyambutnya dengan antusias tanpa
pikir panjang, dan pesta pun dimulai sejak tengah hari bolong begini. Di
Tsukinose yang minim hiburan, sudah menjadi fenomena umum di mana para peserta
pesta akan bertambah dengan sendirinya begitu mencium aroma perayaan.
"Hayato, ini sudah matang belum sih!? Aromanya
yang sedap banget sudah tercium ke mana-mana lho!"
"Ah, sepertinya sebentar lagi sudah bisa."
Di ujung pandangan Haruki yang tampak gelisah tersaji
dua jenis ayam yang menjadi menu utama hari ini.
Grilled Herb Chicken, yaitu ayam yang ditaburi garam
agak banyak, dipanggang di atas bara api sampai kulitnya renyah, lalu dibungkus
dan dipanggang bersama di dalam aluminum foil bersama racikan bumbu herbal
segar yang baru dipetik seperti timi, kemangi, dan rosemary.
Serta Tandoori Chicken, ayam yang direndam dalam saus
yogurt berbalut lumuran garam, merica, air jeruk nipis, parutan jahe, bawang
putih, jintan, ketumbar, kunyit, dan bubuk cabai, kemudian ditusuk sate,
diolesi mentega, lalu dipanggang.
Keduanya tampak sempurna dari segi aroma maupun
penampilan, terlihat sangat menggugah selera.
"Uuuu~, kan kedua ayam itu sudah dipanggang cukup
lama, lho!?"
"Yah, dagingnya pasti sudah matang kok jadi mestinya
aman. Mau coba kubuka satu?"
"Iya iya iya, biar aku saja yang buuk──waaah!"
Begitu Haruki membuka bungkusan aluminum foil tersebut,
aroma tajam menyegarkan yang merupakan perpaduan pekat antara herbal dan ayam
langsung menyebar luas ke sekeliling.
Seketika itu juga, obrolan orang-orang di sekitar
terhenti.
Perhatian semua orang yang tadinya ribut langsung tertuju
pada Grilled Herb Chicken tersebut. Suara tegukan ludah terdengar dari suatu
tempat. Ini benar-benar saat di mana sang bintang utama acara muncul.
"Nah, sebelum itu harus dipotong-potong
dulu."
"Kak, cepataan!"
"K- Kakak, piring kertasnya sudah disiapkan di
sini ya~"
"Hayato, kenapa bagian punyaku lebih sedikit
daripada yang lain!?"
"Iya iya jangan buru-buru, masih banyak yang
dipanggang kok."
Begitu Hayato selesai memotong-motong ayam tersebut,
Haruki dan Himeko langsung mengeluarkan nafsu makan yang luar biasa dan
melahapnya ke dalam perut mereka. Shinta yang terpancing oleh semangat kedua
gadis itu juga ikut menggembungkan pipinya sambil tersedak, lalu menerima air
dari Saki sambil ditepuk-tepuk punggungnya.
Dan bukan hanya para gadis itu saja yang selera
makannya terangsang.
"Oooih Haya-bou, bawakan bagian sini juga satu
porsi!"
"Yang rasanya agak pedas lebih enak sih, soalnya
cocok banget buat pendamping bir!"
"Bener banget!"
"Gahahha!"
"Iya iya, sebentar ya."
Kelompok para orang dewasa yang dipimpin Kakek Gen
juga ikut mendesak minta segera diberi makan.
Hayato tersenyum pahit namun tetap memotong-motong
daging dengan cekatan.
Melayani orang lain seperti ini bukanlah hal yang ia
benci. Sebagian karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya.
Memang benar kalau hal seperti ini merepotkan dan
melelahkan. Meskipun begitu, saat mendengar ucapan seperti "enak",
"mau tambah", atau "ingin makan lagi", hatinya yang
dipenuhi luka-luka lama perlahan terobati dan terisi penuh. Bibirnya melengkung
membentuk senyuman.
"Ah, kalau untuk Kakek Gen dan Kanehachi-san,
biar aku saja yang membawanya ya~"
"Murao-san?"
"Kakak, dari tadi kan sibuk memasak terus jadi
belum sempat makan, kan? Ah, sisa potongan dagingnya biar aku yang urus,
ya~"
"Tapi kalau...... ah."
Sambil berkata begitu, Saki dengan gesit mengambil
piring kertas yang dipegang oleh Hayato. Karena terlalu mendadak, Hayato
membelalakkan matanya kebingungan, namun sebagai gantinya suara keroncongan
dari perutnya berbunyi krukk.
Mendengar itu, Saki melemparkan senyum pahit seolah
berkata "nah kan", membuat Hayato tidak bisa membalas apa pun.
Lalu ia mulai mengambil Grilled Herb Chicken di
hadapannya ke atas piring kertas dan menyantapnya.
"Hmm, enak, buatannya pas."
Bersamaan dengan kulit yang dipanggang renyah serta
limpahan sari daging yang keluar, aroma harum herbal menyebar di dalam
mulutnya.
Makan di bawah langit biru sambil diterpa angin
sepoi-sepoi sembari memandangi ladang pertanian yang membentang luas memberikan
rasa lapang yang luar biasa, membuat kelezatannya semakin berlipat ganda.
Didorong oleh rasa lapar yang melanda, tangannya tidak berhenti menyuap
makanan.
Piringnya kosong dalam sekejap. Sesaat kemudian,
sebuah piring baru disodorkan dari samping. Berisi daging babi hutan dan
sayuran. Porsinya tentu saja banyak.
"Nah, kamu juga harus makan ini, Hayato."
"Haruki."
Rupanya Haruki yang membawakan tambahan porsi untuknya.
Ia lantas duduk di samping Hayato, mulai menyantap jatah
bagian miliknya dan menikmati kelezatannya. Hayato pun mengikuti.
Makan bersama seseorang──bersama Haruki, membuat rasanya
terasa jauh lebih nikmat dari sebelumnya.
"Aku jadi berpikir, barbekyu seperti ini pasti tidak
bisa dilakukan di kota."
"Betul juga, tempat kita kan apartemen, lalu halaman
rumah Haruki juga tidak seluas ini."
"Fufu, lagipula kalau dilakukan di sana, pasti bakal
dikomplain tetangga karena masalah polusi asap."
"Ngomong-ngomong soal asap, sistem pembuangan asap
di restoran Yakiniku itu bagus banget ya."
"Hm, Yakiniku! Aku ingat waktu kamu pergi bersama
Kaidou dan yang lain tanpa mengajak kami! Nanti traktir kami ke sana, ya!"
"Iya iya."
Sambil membicarakan hal-hal sepele seperti itu, mereka
memanggang daging lalu memakannya. Hal itu terus berulang.
Himeko dan Shinta juga makan sambil memegangi perut
mereka yang terasa begah, sementara Kakek Gen dan para orang dewasa yang
mengawasi mereka dengan usil menyuruh agar mereka makan lebih banyak lagi,
sebelum akhirnya ditegur oleh Saki.
Namun, semuanya tersenyum bahagia.
Sambil memandangi pemandangan itu, Haruki tiba-tiba
bergumam pelan tanpa beban.
"Bukan cuma Hayato dan Hime-chan saja, tapi ada
Saki-chan, Shinta-kun, lalu Kakek Gen dan Kanehachi-san...... banyak sekali
orang ya."
"Iya, benar."
"Aku ini, senang bisa datang ke Tsukinose."
"......Haruki?"
Lalu Haruki melepaskan senyuman rumit; antara terlihat
kesulitan namun bahagia, dan sedikit terasa kesepian.
Wajah itu tampak familier, pernah ia lihat di suatu
tempat.
Namun ia tidak bisa mengingatnya dengan baik.
Saat ia mencoba mencari kata-kata untuk diucapkan tetapi
tidak menemukannya, dada Hayato terasa sesak.
Namun, ia harus mengatakan sesuatu──terdorong oleh
perasaan mirip rasa tanggung jawab itu, ia mencoba memaksa kata-kata keluar
dari mulutnya saat insiden itu terjadi.
"Ah itu──"
"Nmeeeeeh, meh, meeeeh~!"
"…!?"
Suara mengaum domba yang terdengar begitu mendesak
merobek suasana yang hampir menjadi berat itu.
Domba yang muncul adalah domba yang tampak tidak
asing.
Bukan hanya Hayato dan kawan-kawan saja yang terkejut
oleh kehadiran penyusup tak terduga tersebut, semua orang saling bertukar
pandang karena kebingungan memikirkan apa yang sedang terjadi.
"Araa? Ada apa ya...... eh?"
"Nmeeeeee, meeeeeeih~!"
"…!? Bukan Saki-chan, tapi aku!?"
Domba itu melewati Saki yang biasanya sangat akrab
dengannya, melangkah lurus menuju Kakek Gen, lalu menggigit dan menarik ujung
pakaiannya.
Domba peliharaan Kakek Gen terkadang memang kabur dan
berjalan-jalan santai sesuka hati.
Tetapi gerak-gerik domba ini terasa tidak biasa.
Rasanya ia ingin menyampaikan sesuatu, tetapi tidak ada
yang tahu apa maksudnya.
Ketika semua orang semakin diliputi kebingungan dan
memiringkan kepala, seseorang yang tadinya pergi dengan sepeda untuk mengambil
tambahan minuman beralkohol berlari kembali dengan wajah pucat pasi seraya
berteriak kencang, "Oooih!"
"Gawat, domba milik Kakek Gen mau
melahirkan!"
"…!?"
Kabar kelahiran domba di luar musim ini sudah lebih dari cukup untuk melunturkan seluruh efek alkohol dari kepala semua orang.



Post a Comment