NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 7 Chapter 1

Chapter 1

Musim Bergulir, Waktu Berubah


Suatu hari Minggu, tidak lama setelah festival musim gugur.

Hayato berada di ruang karaoke dekat stasiun dengan mengenakan ekspresi yang sulit dideskripsikan.

"Hahaha, nyanyian kakaknya Kirishima-chan lucu banget!"

"Ternyata cukup catchy, ya! Maksudku, suaranya terngiang-ngiang di telinga!"

"Iya! Rasanya hampir seperti ciri khas tersendiri, semacam bakat gitu? Bikin ketagihan dengan cara yang aneh!"

"...Terima kasih, kurasa."

Mereka yang menggoda nyanyian Hayato adalah Honoka Torikai dan teman-teman SMP Himeko lainnya. Hayato sadar kalau dia bukan penyanyi yang baik dan tidak keberatan untuk diejek, tapi reaksi mereka tetap saja membuatnya merasa salah tingkah. Sebuah desahan napas berat lolos darinya.

Alasan Hayato berada di tempat karaoke bersama Honoka dan yang lainnya adalah untuk melengkapi jumlah orang agar dapat diskon. Tepat lewat tengah hari, Himeko tiba-tiba mulai membuat keributan, mengatakan bahwa jika mereka membawa cukup banyak teman hari ini, mereka akan mendapatkan diskon 10% untuk tahun depan. Sebagai seseorang yang mengelola keuangan rumah tangga keluarga Kirishima, Hayato sangat memahami betapa berharganya potongan 10% itu. Tanpa adanya dorongan itu, dia tidak akan pernah berpikir untuk ikut bergabung dengan teman-teman adiknya.

Tetap saja, dia merasa tidak cocok berada di sana. Mengenai si pelaku utama, Himeko, dia sedang menatap panel pemilihan lagu, merenungkan apa yang harus dinyanyikan selanjutnya. Ketika Hayato meliriknya dengan tatapan masam, seseorang menepuk pundaknya.

"Hehe, seperti kata gadis-gadis tadi, aku sebenarnya suka nyanyianmu, Hayato-kun. Tempo dan alunan melodinya yang unik—itu punya pesona tersendiri."

"Kalau diucapkan oleh orang yang sempurna dan layak sepertimu, Kazuki, itu terdengar seperti sebuah sarkasme."

Saat Hayato balas melotot dengan kesal, Kazuki mengangkat bahunya sambil bermain-main. Kemudian, dengan memberi isyarat ke depan menggunakan matanya, dia bergumam dengan senyum masam.

"Mana mungkin. Lihat, ke sana."

"...Oh."

Di sana ada Saki, yang didorong oleh seorang teman untuk bernyanyi menggunakan mikrofon.

Jujur saja, nyanyiannya hampir sama bagusnya dengan nyanyian Hayato, tetapi usahanya yang sungguh-sungguh meskipun merasa malu berhasil melembutkan ekspresi setiap orang. Bahkan Honoka and yang lainnya tampak dihangatkan oleh pemandangan itu.

Tepat saat itu, mereka mencapai bagian koor. Mata Himeko berbinar dengan seruan "Ah!" saat dia mendongak dari panel dan mulai ikut bernyanyi. Honoka dan yang lainnya ikut bergabung, terbawa oleh suasana saat itu.

Saki mengerjap kaget karena usaha kelompok yang tiba-tiba itu, tapi tak lama kemudian wajahnya merekah dalam sebuah senyuman. Menyanyi dengan begitu gembira, dia tampil begitu memesona—melebihi bagus atau tidaknya suara bernyanyi—hingga membuat jantung Hayato berdegup kencang.

Saat Hayato mengeluarkan gumaman kagum "Wah," Kazuki bergumam penuh pemikiran.

"Dia manis."

"Apa...!? Maksudku, tentu saja, secara umum, siapa pun yang bernyanyi dengan begitu bahagia... Kazuki?"

"!"

"Oh, eh, iya! Gadis yang tertawa dan bersenang-senang itu terlihat manis, kan?"

"...Benar, ya?"

Merasa seolah-olah isi pikirannya telah dibaca dan diejek, Hayato melayangkan tatapan protes, tapi Kazuki mengerjap kaget, menunjukkan tanda-tanda jelas kebingungan saat matanya beralih ke arah lain.

Bingung dengan reaksi yang tidak terduga itu, Hayato mengerutkan keningnya penuh kecurigaan. Tepat saat itu, Haruki kembali dari bar minuman sambil memegang gelas, lalu berbicara dengan nada jengkel.

"Ada apa, apa kalian berdua sedang merencanakan untuk memikat gadis-gadis SMP atau semacamnya? ...Menyeramkan."

"Mana mungkin! Mereka itu seumuran dengan adikku!"

Secara insting, Hayato membayangkan adiknya Himeko yang pemalas dan ceroboh di rumah, lalu memprotes bahwa itu adalah hal yang tidak masuk akal. Namun Kazuki langsung menimpali dengan nada serius.

"Tapi selisihnya kan cuma satu tahun, kan?"

"Ugh, yah, benar juga sih, tapi..."

Hayato terbata-bata. Saki, sahabat adiknya yang satu tahun lebih muda, adalah seseorang yang diakuinya sebagai gadis yang memesona. Kata-katanya tadi hanyalah alasan yang lemah.

Saat Hayato menggaruk kepalanya untuk menepis rasa canggung itu, Honoka dan yang lainnya, yang menyadari keributan tersebut, angkat bicara.

"Hei, Nikaido-senpai, apa kamu tidak akan bernyanyi?"

"Aku ingin dengar Nikaido-senpai bernyanyi!"

"Aku penasaran banget lagu seperti apa yang akan dipilih Nikaido-senpai!"

Honoka dan yang lainnya dipenuhi oleh rasa penasaran. Kembali saat di SMP, Haruki jauh berbeda dari Hayato yang mereka kenal—seorang murid sempurna dan atlet, bunga tak tersentuh yang anggun dan jelmaan pesona, seseorang yang terlalu mengintimidasi untuk didekati, sebuah objek kekaguman. Jadi, mereka mungkin tidak bisa membayangkan lagu apa yang akan dinyanyikannya.

Haruki, dengan jari di dagunya, melirik Kazuki, Himeko, Saki, dan Honoka, lalu beralih ke Hayato, sedikit mengerutkan kening sebelum melemparkan senyuman nakal.

"Sebagian besar lagu anime, kurasa?"

"Lagu anime!?"

"Itu di luar dugaan!"

"Nikaido-senpai menonton anime!?"

"Haruki-san sangat paham soal anime. Dia sering merekomendasikan berbagai hal kepadaku."

"Iya, dan Haru-chan juga jago banget menyanyi."

"Serius!?"

"Aku ingin dengar!"

"Tolong, kumohon!"

"Baiklah, kalau begitu aku akan menyanyikan satu lagu."

"““Woohoo!””"

Mengambil mikrofon dari Saki, Haruki dengan cepat memasukkan lagu pada panel, berdiri di depan layar, dan berdehem pelan dengan suara "ehem". Dengan isyarat itu, udara di sekitarnya berubah total.

Saat Honoka dan yang lainnya menelan ludah dengan tegang, sebuah melodi yang meriah mulai dimainkan. Haruki memamerkan senyuman cerah sambil bernyanyi dan menari, langsung memicu seruan "Waa!" yang meriah disertai sorak-sorai dan tepuk tangan.

Dari situlah, panggung sepenuhnya menjadi milik Haruki.

Nyanyian dan koreografinya menarik semua orang masuk ke dalam dunia anime, membuat mereka terpikat.

Tentu saja, sesi karaoke tersebut menjadi sangat sukses besar.

Setelah tiga jam penuh bernyanyi, mereka meninggalkan toko dengan matahari yang sudah mulai turun, mewarnai langit barat dengan semburat merah tua.

Udara dingin menyapu kulit Haruki, tapi rasanya sangat menyenangkan di tubuhnya yang masih terasa hangat usai berkaraoke.

Honoka dan yang lainnya, yang masih diliputi rasa antusias, angkat bicara.

"Nikaido-senpai, tadi itu luar biasa!"

"Itu benar-benar mengubah imajgiku tentangmu!"

"Kalau kamu tidak keberatan, kapan-kapan kita main bareng lagi ya... Eh, sudah selambat ini!?"

"Gawat, waktu bimbingan belajarku sebentar lagi mulai!"

"Kita harus pergi!"

Dengan seruan itu, mereka bergegas pergi.

Saat Haruki melambaikan tangan sambil tersenyum masam, Hayato yang tampak kelelahan mengucapkan terima kasih kepada Kazuki di sampingnya.

"Maaf sudah menyeretmu keluar tiba-tiba hari ini. Tapi kamu benar-benar menyelamatkanku. Aku bakal ngeri banget kalau jadi satu-satunya cowok di kelompok tadi."

"Haha, senang bisa membantu. Lagian aku juga tidak mungkin bisa menarik Iori-kun menjauh dari kencannya."

"Iya, benar juga... Tapi jujur, aku sedikit terkejut."

"Tentang apa?"

"Maksudku, kamu biasanya menghindari atau merasa canggung saat berkumpul dengan kelompok yang isinya kebanyakan cewek, kan?"

"Memang benar. Tapi ini permintaan seorang teman, dan setelah kejadian baru-baru ini, aku sudah melepaskan banyak beban."

"Oh, benar juga."

Hayato dan Kazuki tertawa bersama, sementara Haruki memperhatikan mereka berdua dengan ekspresi yang ambigu.

Kejadian baru-baru ini.

Memang benar, banyak hal yang terjadi di festival musim gugur.

Momen-momen itu masih terukir jelas di dalam hati Haruki, mengaduk-aduk dan membuatnya gelisah bahkan hingga saat ini.

Saat wajah Haruki sedikit menegang, Himeko tiba-tiba mengeluarkan suara "Ah!" kecil dan mendekati Kazuki dengan ekspresi serius, lalu berbisik di telinganya.

"Aku tidak bilang ke Honoka-chan dan yang lain soal rahasiamu, tahu?"

"!"

"R-Rahasia apa...?"

Kata-kata Himeko yang tiba-tiba dan penuh teka-teki membuat Kazuki tersentak, memperlihatkan tanda-tanda kepanikan yang jelas.

Merasa lengah dengan reaksi tersebut, Himeko malah terbata-bata.

"K-Kakakmu! Kakakmu!"

"Oh, itu. Aku tadinya sempat berpikir Himeko-chan memegang kartu as atau rahasia tentangku."

"Ugh, emangnya aku ini kamu anggap apa!?"

"Haha, yah, belakangan ini aku memang sering memperlihatkan sisi menyedihkanku ke semua orang."

Ketika Kazuki mengatakannya dengan nada bercanda, Himeko, yang merasa diejek, menggembungkan pipinya. Hayato menimpali, "Iya, mungkin saja," sambil terkekeh, dan Kazuki balas berseru, "Hayato-kun!?" Saki, yang memperhatikan mereka, tidak bisa menahan diri untuk tidak terkikik.

Semua itu tampak seperti candaan biasa di antara mereka. Tidak, dengan Kazuki yang kini memperlihatkan sisi rapuhnya, suasana terasa seolah-olah mereka telah menjadi jauh lebih dekat.

Namun jika diperhatikan baik-baik pada diri Kazuki, seseorang akan menyadari butiran keringat tipis di keningnya, senyumannya yang sedikit kaku, dan matanya yang dengan cemas terus mengikuti gerak-gerik Himeko.

Bagi Haruki, yang sangat mahir menyembunyikan perasaannya sendiri, sangat jelas terlihat bahwa Kazuki sedang berusaha menutupi sesuatu dengan terburu-buru. Dia hanya bisa tersenyum canggung dari kejauhan.

Setelah makan malam di rumah keluarga Kirishima seperti biasa dan berpisah dengan Saki, Haruki berjalan pulang sendirian.

"Hari ini aku pergi karaoke bareng teman-teman di stasiun."

Seperti biasa, Haruki mengirimkan pesan berisi foto saat dia bernyanyi bersama Himeko dan Honoka kepada ibunya, Mao Takura, sebagai laporan tentang hari yang dijalaninya.

Kazuki berbaur secara natural dengan Honoka dan yang lainnya.

Dia menghidupkan suasana dengan lagu-lagu hits, mengangkat topik tentang artis yang mereka nyanyikan, dan merespons obrolan mereka dengan senyuman menawan. Tidak ada gadis yang tidak akan merasa senang dengan perlakuan itu.

Jadi, Kazuki adalah bintang utama hari ini.

Namun hal itu juga bisa mengundang kesalahpahaman. Mungkin Kazuki hari ini adalah dirinya yang sebenarnya, tapi Haruki tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerutkan kening melihat perubahan itu.

Di sisi lain, Kazuki tampak hanya memiliki mata untuk Himeko, hampir tidak memedulikan gadis-gadis yang lain.

"Aku benar-benar jatuh cinta pada seseorang untuk pertama kalinya..."

Kata-kata yang sempat dilontarkan Kazuki pada festival musim gugur muncul kembali di benaknya. Kata-kata itu berbicara dengan fasih bahwa itu bukanlah sekadar perasaan sesaat. Itu sudah pasti benar.

Tidak ada keraguan tentang perasaan Kazuki, namun kebingungan itu—kenapa?—tetap terasa begitu kuat.

Kazuki pasti tahu bahwa mengakui perasaan tersebut bisa menghancurkan dinamika hubungan mereka saat ini. Perilakunya terhadap Himeko hari ini, yang menjaga jarak dengan pas agar tidak menimbulkan kecurigaan, adalah buktinya.

Namun tetap saja. Meskipun begitu.

Mengetahui hal itu, Kazuki memilih untuk berubah dan melangkah maju.

—Sama seperti Saki.

Haruki menekan dadanya yang terasa sakit dan gelisah.

Saat dia memikirkan hal itu, rumahnya mulai terlihat dalam pandangan.

Melihat rumah yang gelap dan tanpa penerangan seperti biasanya, dia melirik ponselnya.

Pesan yang dikirimkan kepada ibunya masih belum menunjukkan tanda dibaca.

Yah, itu sudah biasa. Terkadang butuh waktu beberapa hari untuk mendapatkan tanda centang biru.

Bahkan jika pesan itu terbaca, tidak akan ada balasan. Saat menggulir riwayat pesan, isinya hanya berupa laporan Haruki tentang tempat-tempat yang telah dikunjunginya, bagaikan buku harian yang hambar.

Itu adalah bukti dari menjadi anak baik yang tidak pernah merepotkan ibunya.

Pesan satu arah yang tak berujung itu terasa dingin dan kaku.

"Aku..."

Haruki menggumamkan satu kata itu, menggelengkan kepalanya seolah ingin menepis perasaan suram yang bergolak di dadanya, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.

"...Aku pulang."

Ucapan salam yang sudah biasa dia ucapkan, bagaikan sebuah mantra, terserap secara kesepian ke dalam kegelapan.



Prolog | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close