Prolog
Waktu itu
adalah masa ketika daun-daun musim gugur mulai berguguran.
Dari kota,
kamu bisa melihat pegunungan, dan sebuah sungai besar membelah kota kecil
tersebut.
Sebagian
besar hal bisa ditemukan di pusat kota, sekolah dipenuhi oleh teman-teman, dan
di rumah, kedua orang tuanya bekerja.
Saat akhir
pekan, keluarganya dengan ceria pergi menonton film atau berbelanja. Selama
liburan panjang, mereka akan bepergian.
Begitulah
kehidupan sehari-hari Minamo yang biasa dan lumrah, sampai semuanya tiba-tiba
runtuh pada suatu hari.
"Hei, apa
maksud dari semua ini?!"
"Ini persis
seperti yang terlihat, tapi ini bukan seperti yang kamu pikirkan! Aku sudah
membicarakan hal ini padamu sejak lama!"
"Aku sama
sekali tidak diberitahu tentang ini! Kamu selalu saja—"
"Dan kamu
juga melakukan hal yang sama sejak dulu—"
Ayah dan ibu
saling melontarkan kata-kata amarah.
Tatapan dingin
menyertai kata-kata tak terduga itu.
Di tengah
atmosfer yang menegang, saat mereka berdua bergegas keluar rumah satu demi
satu, Minamo hanya bisa berdiri terpaku sambil menonton tanpa daya.
Sensasi dunia
yang menjadi gelap dan tanah yang runtuh di bawah kakinya adalah sesuatu yang
tidak akan pernah bisa ia lupakan.
Sejak
hari itu, orang tuanya berhenti pulang bersama.
Bukan
berarti Minamo tidak mencoba melakukan apa pun.
Namun, ia
tidak dapat menemukan kata-kata yang bisa sampai ke hati ayah atau ibunya.
Waktu
berlalu dengan rasa hampa, membuat hatinya semakin kosong.
"Minamo,
kamu tidak boleh tinggal di tempat seperti ini! Ayo, kita pergi bersama!"
Kakeknyalah
yang bergegas datang setelah mendengar situasi tersebut, menarik Minamo keluar
dari dunia keputusasaan yang gelap gulita itu.
Rumah
kakeknya, yang telah ia kunjungi tak terhitung berapa kali dan sangat ia kenal.
Pintu
geser dan tirai tua yang sedikit koyak.
Senyum
keriput kakeknya yang terkekeh pelan.
Hal-hal
itu, yang tidak berubah sejak masa kecilnya, perlahan-lahan mencairkan hati
Minamo yang telah membeku.
Semua itu
membuatnya merasa kalau tidak apa-apa untuk berada di sini.
Hidup bersama
sang kakek di kota yang asing adalah sebuah proses coba-coba yang dipenuhi
kebingungan.
Namun, saat ia
berusaha beradaptasi dengan kehidupan baru, terburu-buru pindah sekolah, dan
mengubah pilihan sekolahnya, kesibukan itu menghanyutkan rasa sedihnya.
Tepat ketika ia
berpikir bahwa seiring waktu, ia akan perlahan kembali ke kehidupan normal,
sang kakek pingsan dan harus dirawat di rumah sakit.
"Maafkan
aku, aku akan mencoba pulang secepat yang kubisa..."
Ia mengingat
dengan jelas sang kakek mengatakan itu dengan ekspresi penuh penyesalan di
kamar rumah sakit yang ia datangi dengan terburu-buru. Serta bagaimana ia hanya
bisa berdiri di sana tanpa bisa berbuat apa-apa.
Kenapa keluarga
yang sangat ia cintai terus menjauh darinya?
Jika kata-kata
yang pernah diucapkan ayahnya melintas di benaknya, ia merasa seolah dirinyalah
penyebab dari kesialan ini, membuatnya berpikir mungkin akan lebih baik jika ia
tidak pernah ada, lalu berputar dalam lingkaran pikiran yang gelap.
Sejak saat itu,
Minamo mengurung diri dalam cangkangnya.
Ia ingat terus
tinggal di rumah, selalu memeluk kedua lututnya.
Namun setelah dua
atau tiga hari, sesuatu berubah.
Perutnya berbunyi
dengan kencang. Perutnya benar-benar berbunyi.
Itu wajar saja,
karena ia masih hidup. Terlepas dari perasaannya, tubuhnya berteriak meminta
makanan. Melawan insting itu adalah hal yang sangat sulit.
Mengingat wajah
sedih sang kakek saat melihat Minamo yang mengurung diri, keinginan kuat untuk
tidak membuat kakek menunjukkan ekspresi seperti itu melonjak di dadanya.
Dan rasanya agak
konyol karena perutnya bisa keroncongan bahkan di saat seperti ini.
Dengan kekuatan
yang kembali ke matanya, Minamo perlahan berjalan menuju dapur, mencari sesuatu
untuk dimakan.
"...Ah."
Saat
melakukannya, beberapa sayuran simpanan menggelinding keluar, dan matanya
melebar.
Kapan sayuran ini
dibeli? Tunas-tunas besar menjulang sampai ke lututnya, bahkan menumbuhkan
daun. Ia mengerjap melihat pemandangan kentang yang tidak biasa itu.
Bagian rasional
di dalam pikirannya mengerti bahwa seiring berjalannya waktu, mereka memang
akan berakhir seperti ini.
Namun bentuk tak
terduga ini juga merupakan jati diri sejati mereka sebagai tanaman, yang
membuatnya sadar bahwa sayuran-sayuran ini sedang hidup. Dan seketika itu pula,
ia membayangkan kisah hidup mereka.
Bertunas dengan
rajin di dalam tanah, mendambakan permukaan, berjemur di bawah sinar matahari,
disiram oleh hujan, bersaing dengan yang lain di ladang untuk menghasilkan
buah.
Kemudian, di luar
kehendak mereka, mereka dipanen, dipajang di toko-toko, dibawa ke rumah ini,
merasa antusias hidangan apa yang akan mereka jadikan, hanya untuk dilupakan
dan merajuk, namun tetap berjuang untuk bertunas. Kisah hidup semacam itu.
"...Hehe,
haha, hahahaha!"
Sesuatu
bergemuruh di dalam dadanya, dan ia tertawa.
Ya, mereka hidup.
Sayuran-sayuran ini juga hidup.
Lahir di berbagai
tempat, tiba di sini melalui jalan yang berbeda, namun tetap bertunas tanpa
membusuk.
Seketika itu, ia
merasa berempati dengan sayuran-sayuran ini dan tidak sanggup untuk
membuangnya.
Tetapi mereka
sudah tidak bisa dimakan lagi.
Kemudian, sebuah
ide terlintas di benaknya.
"Apa yang
akan terjadi jika aku menanamnya...?"
Itu adalah rasa
penasaran yang kecil.
Mungkin ia juga
ingin sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.
Pada saat itu,
Minamo memutuskan bahwa ia akan mencoba menanam sayuran di sekolah menengah.



Post a Comment