Interlude 3
Masa Lalu
yang Membelenggu
Berjarak sekitar satu jam naik kereta dari pusat kota,
area ini adalah kawasan pengembangan kembali di pinggiran kota.
Berpusat di stasiun, area layanan komersial yang
memudahkan kehidupan sehari-hari membentang luas di sekitarnya.
Agak jauh dari sana, terdapat kawasan perumahan dengan
tata kota yang rapi dan deretan rumah yang tergolong masih baru.
Di salah satu rumah yang sangat biasa di sana, tepatnya
di ruang tamu, Kazuki tersenyum kecil sambil mengguncang bahunya dengan geli
sembari memegang smartphone.
Di grup chat smartphone miliknya, ikon Kazuki, Hayato,
dan Iori tampak berseliweran.
"Aku demam dan dirawat oleh teman adikku. Rasanya
canggung. Tapi, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atau semacamnya,
menurut kalian apa yang harus kulakukan?"
"Ngomong-ngomong, itu teman Himeko-chan dari
Tsukynose, ya?"
"Oh, kalau begitu, miko yang itu?"
"Benar."
"Kuh, miko! Enak sekali, ya, pakaian miko itu! Aku
juga ingin Ema memakainya!"
"Omong-omong soal baju miko, waktu aku pergi ke
Shine Spirits City kemarin lusa, mereka menjualnya di bagian perlengkapan
pesta, lho. Harganya sekitar 3.000 yen, ya? Ada banyak hal lainnya juga,
seperti perawat atau pakaian China... yah, tapi semua roknya pendek-pendek,
sih."
"…!?
Bagus, lain kali ayo kita pergi membelinya bersama-sama!"
"Kau bodoh, ya. Ah, tapi kalau Iori memperlihatkan
foto Isami-san saat benar-benar memakainya, aku akan ikut."
"B-! I- itu, anu, begituan. Mana
mungkin aku membiarkan pria lain melihat sosoknya yang berpakaian seperti
itu!"
"Kalau begitu, bagaimana kalau foto Iori-kun yang
memakai pakaian itu sebagai pengganti Isami-san?"
"Kazuki!?"
Obrolan itu semakin melenceng jauh dari pertanyaan awal
Hayato, melebar ke topik-topik yang bodoh.
Sebuah percakapan yang tidak penting, biasa saja, dan
tidak memiliki makna khusus.
Namun Kazuki menikmati interaksi ini dari lubuk hatinya.
Meskipun waktu perjalanannya cukup lama, ia merasa senang
telah memilih SMA-nya yang sekarang.
"Ngomong-ngomong, Hayato-kun, apa demammu sudah
sembuh?"
"Aku tidur nyenyak semalaman dan sekarang sudah
benar-benar pulih... tapi, Himeko mengeluarkan perintah agar aku beristirahat
seharian penuh hari ini. Jujur saja, aku agak bosan."
"Yah, itu berarti adikmu masuk akal, ya."
"Itu artinya pekerjaan rumah dan makanan hari ini
diurus oleh Himeko-chan, ya?"
"...Menurutmu dia bisa?"
"Ahahaha!"
Membaca balasan Hayato tersebut, Kazuki tanpa sadar
tertawa lepas di ruang tamu.
Di dalam kepalanya, ia dengan jelas membayangkan Himeko
yang mencoba melakukan pekerjaan rumah dan merawat orang sakit, lalu gagal dan
akhirnya menangis meminta tolong kepada Haruki atau teman-temannya.
Sudut bibirnya pun melunak.
Dan seolah mendukung bayangan itu, di layar smartphone
muncul percakapan seperti, "Begitu, jadi ke miko itu," dan "Oh,
jadi begitu."
"Himeko-chan──"
Ia hendak menanyakan hal tersebut, namun jarinya
tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Benar-benar terhenti.
Bayangan yang tiba-tiba melintas di benaknya bukanlah
wajah Himeko yang biasanya ceria, melainkan ekspresi yang tampak jauh lebih
dewasa dari usianya saat di kolam renang, namun juga terlihat begitu kesepian.
Dadanya bergemuruh ngilu.
Wajahnya berkerut masam.
Jari-jarinya tampak bimbang.
Ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk ditulis.
Adik dari temannya, Hayato.
Hubungan mereka pun baik.
Namun, hanya itu saja.
Bukankah terlalu melewati batas hubungan sebagai teman
kakaknya jika ia secara aktif menanyakan hal-hal tentang gadis itu?
Namun, entah mengapa ia tidak bisa tidak merasa khawatir.
Saat Kazuki sedang merasa gelisah, topik di dalam
smartphone tahu-tengah sudah beralih ke masalah pekerjaan paruh waktu, seperti,
"Pekerjaan paruh waktu sedang keteteran karena bukan cuma aku dan
Nikaidō-san yang libur, tapi ada orang lain juga," dan "Maaf, begitu
aku kembali ke sana aku akan mengambil shift sebanyak mungkin."
"Kazuki?"
"…!?
...Kak?"
"Kamu memasang wajah yang terlihat lucu...
afuh."
"......Ahahaha."
Saat itu, ia tiba-tiba disadarkan oleh suara mengantuk
yang memanggilnya.
Ketika mendongak, ia melihat sosok kakaknya, Momoka, yang
sedang menggaruk perutnya dengan rambut acak-acakan baru bangun tidur.
Sebuah pemandangan yang sangat tidak pantas untuk
diperlihatkan kepada orang lain.
"Hmm... Kazuki, seperti biasa."
"Iya, iya."
Kazuki mengulas senyum pahit sambil mengatakan itu lalu
berjalan menuju dapur, sementara Momoka dengan enaknya merebahkan diri dan
menguasai sofa yang kosong.
Sambil melirik sekilas ke arah kakaknya, ia menyalakan
mesin espresso yang diatur dengan takaran pekat.
Caffè latte dengan tambahan susu yang agak banyak inilah
yang disebut oleh Momoka sebagai "seperti biasa".
Omong-omong, minuman itu dibuat tanpa gula karena ia
mengkhawatirkan kalori.
Sambil memandangi cairan berwarna seperti gambut yang
diekstrak dan buih keemasan yang terbentuk di atasnya, Kazuki melirik jam
sekilas.
Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul 10.30 pagi.
"Pagi sekali untuk ukuran Kakak. Mau pergi main ke
suatu tempat?"
"Uhm... ya, begitulah. ...Ngomong-ngomong Kazuki,
kudengar kamu baru saja menyatakan cinta lalu ditolak, ya?"
Mendengar perkataan Momoka, tangan Kazuki yang sedang
menuangkan susu bergetar kecil.
Keningnya mengerut.
"Ah, iya. Yah, begitulah, ada berbagai hal."
"Rasanya mirip seperti... kejadian waktu itu?"
"......Kurang lebih begitu."
".........Oh, begitu."
Momoka kemudian menghela napas panjang dengan jelas yang
sarat akan makna, fuuuuuuul.
Kejadian waktu itu.
Kegagalan saat masa SMP.
Tentu saja Momoka sebagai kakak mengetahuinya.
Termasuk juga bagaimana akhir dari cerita itu.
Dengan ekspresi tidak nyaman, Kazuki meletakkan Caffè
latte di atas meja rendah di hadapan Momoka.
"Dari siapa Kakak dengar hal itu?"
"Airi. Hayatchi...? Katanya dengar dari
temanmu."
"Ah, Hayato-kun."
".........Hmm, kamu tidak apa-apa?"
Kata-kata yang sangat singkat.
Namun, nada suara itu mengandung warna kekhawatiran.
Tampaknya Momoka tetap memikirkan adiknya dengan cara
seorang kakak.
Karena itulah Kazuki memberikan satu senyuman pahit.
"Ya, mereka semua adalah orang-orang yang
baik."
"Begitu."
"Yah, lagipula kali ini aku juga lebih
berhati-hati."
"......Lalu, apa kamu jadi serius pada salah satu
dari teman-temannya itu?"
"…!?"
Pertanyaan Momoka yang terlalu tajam di luar dugaan
membuat jantung Kazuki berdegup kencang.
Untuk sesaat, isi kepalanya menjadi kosong.
Sementara orang yang bersangkutan sedang berbaring
tengkurap dengan tidak sopan di atas sofa sambil menyeruput Caffè latte-nya
sedikit demi sedikit.
Di tengah pikiran yang berputar-putar dan kacau karena
terkejut, ia bertanya balik sambil menyadari pipinya yang menegang.
"Kenapa?"
"......Entah kenapa, kamu terlihat seperti gadis
yang sedang jatuh cinta, wajahmu jadi sedikit menyebalkan."
"Apaan itu."
"Jangan-jangan, anak yang kamu tembak itu sebenarnya
serius padamu?"
"Bukan, bukan itu. Hubunganku dengan anak itu
bukan seperti itu."
"......Oh ya?"
Kazuki dengan tegas menegaskan bahwa itu tidak benar
sambil mengingat sosok Haruki dalam pikirannya.
Namun jawaban Momoka menyiratkan sesuatu yang seolah
belum sepenuhnya ia yakini.
Pada saat itu, suara bel interkom berbunyi menandakan
kedatangan tamu.
Momoka mengisyaratkan ke arah pintu depan dengan
dagunya sambil berkata, "Hmm," menyuruh Kazuki untuk membukakan
pintu.
Sambil tersenyum pahit melihat kakaknya yang berambut
kusut dan hanya mengenakan kamisol serta celana pendek, Kazuki berjalan ke arah
pintu depan.
Ia membuka kunci pintu dan membukanya.
"Ya, silap──ah."
"──ah."
Suara keterkejutan mereka berpapasan.
Mereka sama-sama membelalakkan mata dan sedikit menegang
di bagian pipi, namun sedetik kemudian keduanya saling menyapa seolah tidak
terjadi apa-apa.
"Yaho, Kazukichi."
"......Selamat datang, Airi."
"Rasanya sudah lama sekali ya kita ketemu di rumah
Kazukichi."
"Karena ada kegiatan klub. Lagi pula jarak
sekolahnya juga jauh."
"Ah, harusnya kamu milih yang dekat kayak aku
aja."
"......Apa Kakak sudah janjian dengannya? Kebetulan
dia sedang berpenampilan yang agak tidak pantas dilihat orang lain, sih."
"Kyahaha, itu kan sudah biasa. Tidak apa-apa
kok~"
Airi mengeluarkan suara tawa yang ceria, lalu dengan
terbiasa menyelinap masuk ke dalam rumah keluarga Kaito mendahului Kazuki.
Kazuki melihat punggung gadis itu dan sedikit mengerutkan
alisnya.
Setibanya di tempat ia melepas sandal mule-nya,
Airi berbalik memutar seolah ia baru saja menyadarinya.
Rambut yang disematkan di sisi kepalanya turut bergoyang
lembut.
"Bagaimana ini? Kemarin aku memilihnya bersama
Momocchi-senpai, lho."
Ia mengenakan kaos bermotif mencolok dengan area kulit
terbuka yang bernuansa musim panas serta celana pendek bergaya sederhana.
Warna-warna yang agak tenang di tengah kemeriahan itu
memberikan kesan Airi yang sedikit lebih dewasa.
"Ya, sangat cocok untukmu."
"Syukurlah kalau begitu."
Mendengar penilaian Kazuki, Airi tersenyum lebar lalu
langsung melangkah menuju ruang tamu.
Begitu melihat Momoka yang tampak meleleh di atas sofa,
ia menempelkan tangan ke dahinya seolah menahan sakit kepala.
"Momocchi-senp... waah..."
"Ooh, Airi. Baru datang langsung "waah",
gak kelewatan tuh?"
"Bukan begitu, rambutmu itu lho gak mungkin banget,
terus gak pakai makeup lagi, lagian hari ini kita kan ada jadwal pertemuan,
kan!? Waktumu cukup gak, terus bajumu gimana udah siap apa belum!?"
"Uhm?"
"Jangan cuma bilang 'uhm'! Catokan rambutmu ada di
kamar kan!? Aku ambilkan, ya!"
"Airi rajin banget, deh."
"Moo~!"
Sambil berkata begitu, Airi berlari tergesa-gesa
menaiki tangga menuju kamar Momoka di lantai dua.
Sementara Momoka tetap bermalas-malasan sambil
melambaikan tangan dengan lemas.
Jika dilihat dari luar, ini adalah potret junior yang
direpotkan oleh senior yang manja.
Namun itu juga adalah bentuk keakraban yang
memperlihatkan kedekatan mereka.
Kazuki tersenyum pahit melihat pemandangan interaksi
yang sudah lama tidak ia saksikan itu, lalu menyalakan kembali mesin espresso.
Dan tepat ketika Momoka menghabiskan Caffè latte-nya
dengan santai, Airi kembali sambil membawa catokan rambut dan pakaian.
"Nah, cepat ganti baju ini!"
"Ooh."
"Eh, jangan ganti baju di sini pas ada
Kazukichi, dong!?"
"Airi kaku banget, deh."
"Bukannya aku yang kaku! Eh
sebentar, celana dalammu! Kelihatan jelas tahu! Kazukichiiii!"
Sambil melakukan percakapan mirip komedi manzai
seperti itu, Momoka mulai berganti pakaian di tempat tanpa memedulikan adik
kandungnya sendiri.
Airi yang panik buru-buru menyelinap di antara keduanya
agar wujud Momoka tidak terlihat oleh Kazuki.
Sambil tersenyum pahit melihat interaksi antara kakak dan
mantan kekasihnya itu, Kazuki menunggu Momoka selesai berganti pakaian, lalu
dengan santai menyajikan secangkir Caffè latte yang baru jadi kepada mereka
berdua.
"Wah, pantas jadi adikku, aku jadi mau tambah."
"Airi suka yang gulanya sedikit kan, ya?"
"Ah, iya... kamu masih ingat, ya. Terima kasih... ya
ampun, sifatmu yang begitu itu gak pernah berubah ya, Kazukichi."
Airi mendekatkan cangkirnya ke bibir, sudut bibirnya
melunak sedikit merasakan rasa yang tidak berubah dari dulu.
Momoka, yang mengamati Airi dengan tatapan setengah
menatap tajam, membusungkan dadanya dengan angkuh lalu berkata.
"Itu hasil didikan keluarga kami."
"......Tapi gara-gara hasil didikan itu, dia malah
bikin cewek-cewek kebingungan lagi dan sempat terjadi macam-macam, lho.
Hayato-tsu bilang begitu tadi~"
"Bahkan, aku jadi penasaran sama anak yang nolak
Kazuki itu. Anaknya seperti apa?"
"Ah, kalau itu aku juga penasaran!"
"E- eeto..."
Didesak oleh Momoka dan Airi, Kazuki merasa kikuk.
Itu bukanlah hal yang patut diceritakan secara
terang-terangan.
Namun mengingat kejadian sebelumnya, kedua orang ini pun
bukan pihak yang sama sekali tidak ada hubungannya.
Sambil sedikit mengerutkan kening, ia memilih
kata-katanya.
"Kalau dari penampilan luarnya, rambut hitam
panjang, lebih berkesan seperti wanita anggun khas Jepang ketimbang dibilang
manis, sih."
"......Cuma penampilannya doang?"
"Meskipun dia memasang topeng seperti anak orang
kaya, aslinya dia itu anak pemberontak alias anak nakal. Suka melakukan hal-hal
konyol diam-diam dari orang lain, dan suka menggoda juga, anak yang
menyenangkan."
Lalu ketika ia mengingat kembali saat-saat mereka bermain
bersama dulu, tenggorokannya bergeming geli.
Airi menatap lekat-lekat wajah Kazuki seolah ingin
memastikan sesuatu.
"Begitu ya, kalian akur, ya?"
"Bisa dibilang begitu, kan? Meskipun mungkin dia
merasa risi dengan keberadaanku."
"Hah? Apaan sih, gak ngerti. ...Terus,
kenapa kamu menyatakan cinta ke anak itu?"
"Kenapa, ya... karena di hati anak itu ada seseorang
yang sangat dicintainya sampai-sampai tidak ada ruang bagiku untuk masuk.
Berkat itu, aku mendapat tamparan yang cukup telus."
Ketika Kazuki tersenyum kecil sambil mengatakan itu,
ekspresi Airi berubah menjadi curiga.
"Hmph, terus, itu ada efeknya?"
".........Setidaknya tidak separah dulu."
Seringan kilat, ia teringat pada Senpai Takakura yang
terus mendekatinya dengan gigih, membuat jawabannya sedikit terlambat.
Airi menyipitkan matanya, lalu memalingkan wajah seolah
pembicaraan ini sudah selesai.
Ia mengambil catokan rambut dan berjalan ke arah Momoka.
Suasana mendadak terasa sedikit canggung.
Merasa tidak nyaman berada di situ, Kazuki menghabiskan
Caffè latte yang diseduh untuk dirinya sendiri lalu berdiri.
Lalu Airi, dari balik punggungnya, melontarkan usulan
dengan nada seolah-olah itu bukan hal yang penting.
"Kalau masih ada orang yang mengganggumu, bagaimana
kalau aku jadi pacar kontrakmu lagi?"
Tubuh Kazuki bergetar hebat lalu membeku.
Bayangan yang terputar kembali di kepalanya adalah wajah
Himeko yang seolah sedang menahan rasa sakit.
Serta kata-kata, "Aku punya orang yang aku
sukai."
Tanpa sadar, ia menekan dadanya dengan tangan.
"Hal itu sudah tidak bisa kulakukan lagi."
Ucapannya terlontar dengan suara getir, namun terdengar
sangat tegas.
Giliran bahu Airi yang berlonjak kaget.
Mata Kazuki membelalak.
Ia sadar nada bicaranya tadi sedikit berlebihan.
"Yah, itu, rasanya terlalu berat kalau harus jadi
pacar dari model populer yang sedang naik daun, Satō Airi."
"......Kurasa tidak begitu kalau kamu adalah
adiknya model karismatik MOMO. Sakura-san juga bilang kalau itu Kazukichi, gak
akan ada masalah."
"Kamu terlalu memujiku. Um, sebenarnya aku harus
pergi kerja paruh waktu sekarang. Maaf, aku duluan."
"...Ah."
Mengatakan itu, Kazuki langsung berlari keluar rumah
seolah-olah sedang melarikan diri.
Di sepanjang jalan menuju stasiun, ia mengetik pesan
di grup chat yang ditujukan untuk Iori.
"Kalau hari ini tenaga kerjanya kurang, apa aku
boleh masuk membantu?"
Di ruang tamu keluarga Kaito setelah kepergian Kazuki,
terdengar helaan napas Momoka yang bisa dibilang dibuat-buat, haaa.
Momoka mengerutkan keningnya dengan ekspresi kesulitan,
lalu melontarkan satu kalimat.
"Airi itu ya... bodoh, ya."
"........."
"Gak jujur, dan tidak pandai mengekspresikan
diri."
"........."
Airi masih mematung sambil memegang rambut Momoka.
Ia menundukkan kebawah, dan bahunya bergetar tipis.
Momoka melepaskan tangan Airi, berbalik perlahan, lalu
mendekap erat Airi ke dalam dadanya.
"Tapi, kamu suka merawat orang, pekerja keras, dan
bersungguh-sungguh... makanya Kakak sangat menyayangi Airi."
"......Un."
Dan Airi membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya ke punggung Momoka secara erat, seolah bermanja-manja padanya.



Post a Comment