NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 4 Interlude III

Interlude 3

Masa Lalu yang Membelenggu


Berjarak sekitar satu jam naik kereta dari pusat kota, area ini adalah kawasan pengembangan kembali di pinggiran kota.

Berpusat di stasiun, area layanan komersial yang memudahkan kehidupan sehari-hari membentang luas di sekitarnya.

Agak jauh dari sana, terdapat kawasan perumahan dengan tata kota yang rapi dan deretan rumah yang tergolong masih baru.

Di salah satu rumah yang sangat biasa di sana, tepatnya di ruang tamu, Kazuki tersenyum kecil sambil mengguncang bahunya dengan geli sembari memegang smartphone.

Di grup chat smartphone miliknya, ikon Kazuki, Hayato, dan Iori tampak berseliweran.

"Aku demam dan dirawat oleh teman adikku. Rasanya canggung. Tapi, kurasa aku harus mengucapkan terima kasih atau semacamnya, menurut kalian apa yang harus kulakukan?"

"Ngomong-ngomong, itu teman Himeko-chan dari Tsukynose, ya?"

"Oh, kalau begitu, miko yang itu?"

"Benar."

"Kuh, miko! Enak sekali, ya, pakaian miko itu! Aku juga ingin Ema memakainya!"

"Omong-omong soal baju miko, waktu aku pergi ke Shine Spirits City kemarin lusa, mereka menjualnya di bagian perlengkapan pesta, lho. Harganya sekitar 3.000 yen, ya? Ada banyak hal lainnya juga, seperti perawat atau pakaian China... yah, tapi semua roknya pendek-pendek, sih."

"!? Bagus, lain kali ayo kita pergi membelinya bersama-sama!"

"Kau bodoh, ya. Ah, tapi kalau Iori memperlihatkan foto Isami-san saat benar-benar memakainya, aku akan ikut."

"B-! I- itu, anu, begituan. Mana mungkin aku membiarkan pria lain melihat sosoknya yang berpakaian seperti itu!"

"Kalau begitu, bagaimana kalau foto Iori-kun yang memakai pakaian itu sebagai pengganti Isami-san?"

"Kazuki!?"

Obrolan itu semakin melenceng jauh dari pertanyaan awal Hayato, melebar ke topik-topik yang bodoh.

Sebuah percakapan yang tidak penting, biasa saja, dan tidak memiliki makna khusus.

Namun Kazuki menikmati interaksi ini dari lubuk hatinya.

Meskipun waktu perjalanannya cukup lama, ia merasa senang telah memilih SMA-nya yang sekarang.

"Ngomong-ngomong, Hayato-kun, apa demammu sudah sembuh?"

"Aku tidur nyenyak semalaman dan sekarang sudah benar-benar pulih... tapi, Himeko mengeluarkan perintah agar aku beristirahat seharian penuh hari ini. Jujur saja, aku agak bosan."

"Yah, itu berarti adikmu masuk akal, ya."

"Itu artinya pekerjaan rumah dan makanan hari ini diurus oleh Himeko-chan, ya?"

"...Menurutmu dia bisa?"

"Ahahaha!"

Membaca balasan Hayato tersebut, Kazuki tanpa sadar tertawa lepas di ruang tamu.

Di dalam kepalanya, ia dengan jelas membayangkan Himeko yang mencoba melakukan pekerjaan rumah dan merawat orang sakit, lalu gagal dan akhirnya menangis meminta tolong kepada Haruki atau teman-temannya.

Sudut bibirnya pun melunak.

Dan seolah mendukung bayangan itu, di layar smartphone muncul percakapan seperti, "Begitu, jadi ke miko itu," dan "Oh, jadi begitu."

"Himeko-chan──"

Ia hendak menanyakan hal tersebut, namun jarinya tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

Benar-benar terhenti.

Bayangan yang tiba-tiba melintas di benaknya bukanlah wajah Himeko yang biasanya ceria, melainkan ekspresi yang tampak jauh lebih dewasa dari usianya saat di kolam renang, namun juga terlihat begitu kesepian.

Dadanya bergemuruh ngilu.

Wajahnya berkerut masam.

Jari-jarinya tampak bimbang.

Ia tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk ditulis.

Adik dari temannya, Hayato.

Hubungan mereka pun baik.

Namun, hanya itu saja.

Bukankah terlalu melewati batas hubungan sebagai teman kakaknya jika ia secara aktif menanyakan hal-hal tentang gadis itu?

Namun, entah mengapa ia tidak bisa tidak merasa khawatir.

Saat Kazuki sedang merasa gelisah, topik di dalam smartphone tahu-tengah sudah beralih ke masalah pekerjaan paruh waktu, seperti, "Pekerjaan paruh waktu sedang keteteran karena bukan cuma aku dan Nikaidō-san yang libur, tapi ada orang lain juga," dan "Maaf, begitu aku kembali ke sana aku akan mengambil shift sebanyak mungkin."

"Kazuki?"

"!? ...Kak?"

"Kamu memasang wajah yang terlihat lucu... afuh."

"......Ahahaha."

Saat itu, ia tiba-tiba disadarkan oleh suara mengantuk yang memanggilnya.

Ketika mendongak, ia melihat sosok kakaknya, Momoka, yang sedang menggaruk perutnya dengan rambut acak-acakan baru bangun tidur.

Sebuah pemandangan yang sangat tidak pantas untuk diperlihatkan kepada orang lain.

"Hmm... Kazuki, seperti biasa."

"Iya, iya."

Kazuki mengulas senyum pahit sambil mengatakan itu lalu berjalan menuju dapur, sementara Momoka dengan enaknya merebahkan diri dan menguasai sofa yang kosong.

Sambil melirik sekilas ke arah kakaknya, ia menyalakan mesin espresso yang diatur dengan takaran pekat.

Caffè latte dengan tambahan susu yang agak banyak inilah yang disebut oleh Momoka sebagai "seperti biasa".

Omong-omong, minuman itu dibuat tanpa gula karena ia mengkhawatirkan kalori.

Sambil memandangi cairan berwarna seperti gambut yang diekstrak dan buih keemasan yang terbentuk di atasnya, Kazuki melirik jam sekilas.

Waktu menunjukkan sedikit lewat pukul 10.30 pagi.

"Pagi sekali untuk ukuran Kakak. Mau pergi main ke suatu tempat?"

"Uhm... ya, begitulah. ...Ngomong-ngomong Kazuki, kudengar kamu baru saja menyatakan cinta lalu ditolak, ya?"

Mendengar perkataan Momoka, tangan Kazuki yang sedang menuangkan susu bergetar kecil.

Keningnya mengerut.

"Ah, iya. Yah, begitulah, ada berbagai hal."

"Rasanya mirip seperti... kejadian waktu itu?"

"......Kurang lebih begitu."

".........Oh, begitu."

Momoka kemudian menghela napas panjang dengan jelas yang sarat akan makna, fuuuuuuul.

Kejadian waktu itu.

Kegagalan saat masa SMP.

Tentu saja Momoka sebagai kakak mengetahuinya.

Termasuk juga bagaimana akhir dari cerita itu.

Dengan ekspresi tidak nyaman, Kazuki meletakkan Caffè latte di atas meja rendah di hadapan Momoka.

"Dari siapa Kakak dengar hal itu?"

"Airi. Hayatchi...? Katanya dengar dari temanmu."

"Ah, Hayato-kun."

".........Hmm, kamu tidak apa-apa?"

Kata-kata yang sangat singkat.

Namun, nada suara itu mengandung warna kekhawatiran.

Tampaknya Momoka tetap memikirkan adiknya dengan cara seorang kakak.

Karena itulah Kazuki memberikan satu senyuman pahit.

"Ya, mereka semua adalah orang-orang yang baik."

"Begitu."

"Yah, lagipula kali ini aku juga lebih berhati-hati."

"......Lalu, apa kamu jadi serius pada salah satu dari teman-temannya itu?"

"!?"

Pertanyaan Momoka yang terlalu tajam di luar dugaan membuat jantung Kazuki berdegup kencang.

Untuk sesaat, isi kepalanya menjadi kosong.

Sementara orang yang bersangkutan sedang berbaring tengkurap dengan tidak sopan di atas sofa sambil menyeruput Caffè latte-nya sedikit demi sedikit.

Di tengah pikiran yang berputar-putar dan kacau karena terkejut, ia bertanya balik sambil menyadari pipinya yang menegang.

"Kenapa?"

"......Entah kenapa, kamu terlihat seperti gadis yang sedang jatuh cinta, wajahmu jadi sedikit menyebalkan."

"Apaan itu."

"Jangan-jangan, anak yang kamu tembak itu sebenarnya serius padamu?"

"Bukan, bukan itu. Hubunganku dengan anak itu bukan seperti itu."

"......Oh ya?"

Kazuki dengan tegas menegaskan bahwa itu tidak benar sambil mengingat sosok Haruki dalam pikirannya.

Namun jawaban Momoka menyiratkan sesuatu yang seolah belum sepenuhnya ia yakini.

Pada saat itu, suara bel interkom berbunyi menandakan kedatangan tamu.

Momoka mengisyaratkan ke arah pintu depan dengan dagunya sambil berkata, "Hmm," menyuruh Kazuki untuk membukakan pintu.

Sambil tersenyum pahit melihat kakaknya yang berambut kusut dan hanya mengenakan kamisol serta celana pendek, Kazuki berjalan ke arah pintu depan.

Ia membuka kunci pintu dan membukanya.

"Ya, silap──ah."

"──ah."

Suara keterkejutan mereka berpapasan.

Mereka sama-sama membelalakkan mata dan sedikit menegang di bagian pipi, namun sedetik kemudian keduanya saling menyapa seolah tidak terjadi apa-apa.

"Yaho, Kazukichi."

"......Selamat datang, Airi."

"Rasanya sudah lama sekali ya kita ketemu di rumah Kazukichi."

"Karena ada kegiatan klub. Lagi pula jarak sekolahnya juga jauh."

"Ah, harusnya kamu milih yang dekat kayak aku aja."

"......Apa Kakak sudah janjian dengannya? Kebetulan dia sedang berpenampilan yang agak tidak pantas dilihat orang lain, sih."

"Kyahaha, itu kan sudah biasa. Tidak apa-apa kok~"

Airi mengeluarkan suara tawa yang ceria, lalu dengan terbiasa menyelinap masuk ke dalam rumah keluarga Kaito mendahului Kazuki.

Kazuki melihat punggung gadis itu dan sedikit mengerutkan alisnya.

Setibanya di tempat ia melepas sandal mule-nya, Airi berbalik memutar seolah ia baru saja menyadarinya.

Rambut yang disematkan di sisi kepalanya turut bergoyang lembut.

"Bagaimana ini? Kemarin aku memilihnya bersama Momocchi-senpai, lho."

Ia mengenakan kaos bermotif mencolok dengan area kulit terbuka yang bernuansa musim panas serta celana pendek bergaya sederhana.

Warna-warna yang agak tenang di tengah kemeriahan itu memberikan kesan Airi yang sedikit lebih dewasa.

"Ya, sangat cocok untukmu."

"Syukurlah kalau begitu."

Mendengar penilaian Kazuki, Airi tersenyum lebar lalu langsung melangkah menuju ruang tamu.

Begitu melihat Momoka yang tampak meleleh di atas sofa, ia menempelkan tangan ke dahinya seolah menahan sakit kepala.

"Momocchi-senp... waah..."

"Ooh, Airi. Baru datang langsung "waah", gak kelewatan tuh?"

"Bukan begitu, rambutmu itu lho gak mungkin banget, terus gak pakai makeup lagi, lagian hari ini kita kan ada jadwal pertemuan, kan!? Waktumu cukup gak, terus bajumu gimana udah siap apa belum!?"

"Uhm?"

"Jangan cuma bilang 'uhm'! Catokan rambutmu ada di kamar kan!? Aku ambilkan, ya!"

"Airi rajin banget, deh."

"Moo~!"

Sambil berkata begitu, Airi berlari tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamar Momoka di lantai dua.

Sementara Momoka tetap bermalas-malasan sambil melambaikan tangan dengan lemas.

Jika dilihat dari luar, ini adalah potret junior yang direpotkan oleh senior yang manja.

Namun itu juga adalah bentuk keakraban yang memperlihatkan kedekatan mereka.

Kazuki tersenyum pahit melihat pemandangan interaksi yang sudah lama tidak ia saksikan itu, lalu menyalakan kembali mesin espresso.

Dan tepat ketika Momoka menghabiskan Caffè latte-nya dengan santai, Airi kembali sambil membawa catokan rambut dan pakaian.

"Nah, cepat ganti baju ini!"

"Ooh."

"Eh, jangan ganti baju di sini pas ada Kazukichi, dong!?"

"Airi kaku banget, deh."

"Bukannya aku yang kaku! Eh sebentar, celana dalammu! Kelihatan jelas tahu! Kazukichiiii!"

Sambil melakukan percakapan mirip komedi manzai seperti itu, Momoka mulai berganti pakaian di tempat tanpa memedulikan adik kandungnya sendiri.

Airi yang panik buru-buru menyelinap di antara keduanya agar wujud Momoka tidak terlihat oleh Kazuki.

Sambil tersenyum pahit melihat interaksi antara kakak dan mantan kekasihnya itu, Kazuki menunggu Momoka selesai berganti pakaian, lalu dengan santai menyajikan secangkir Caffè latte yang baru jadi kepada mereka berdua.

"Wah, pantas jadi adikku, aku jadi mau tambah."

"Airi suka yang gulanya sedikit kan, ya?"

"Ah, iya... kamu masih ingat, ya. Terima kasih... ya ampun, sifatmu yang begitu itu gak pernah berubah ya, Kazukichi."

Airi mendekatkan cangkirnya ke bibir, sudut bibirnya melunak sedikit merasakan rasa yang tidak berubah dari dulu.

Momoka, yang mengamati Airi dengan tatapan setengah menatap tajam, membusungkan dadanya dengan angkuh lalu berkata.

"Itu hasil didikan keluarga kami."

"......Tapi gara-gara hasil didikan itu, dia malah bikin cewek-cewek kebingungan lagi dan sempat terjadi macam-macam, lho. Hayato-tsu bilang begitu tadi~"

"Bahkan, aku jadi penasaran sama anak yang nolak Kazuki itu. Anaknya seperti apa?"

"Ah, kalau itu aku juga penasaran!"

"E- eeto..."

Didesak oleh Momoka dan Airi, Kazuki merasa kikuk.

Itu bukanlah hal yang patut diceritakan secara terang-terangan.

Namun mengingat kejadian sebelumnya, kedua orang ini pun bukan pihak yang sama sekali tidak ada hubungannya.

Sambil sedikit mengerutkan kening, ia memilih kata-katanya.

"Kalau dari penampilan luarnya, rambut hitam panjang, lebih berkesan seperti wanita anggun khas Jepang ketimbang dibilang manis, sih."

"......Cuma penampilannya doang?"

"Meskipun dia memasang topeng seperti anak orang kaya, aslinya dia itu anak pemberontak alias anak nakal. Suka melakukan hal-hal konyol diam-diam dari orang lain, dan suka menggoda juga, anak yang menyenangkan."

Lalu ketika ia mengingat kembali saat-saat mereka bermain bersama dulu, tenggorokannya bergeming geli.

Airi menatap lekat-lekat wajah Kazuki seolah ingin memastikan sesuatu.

"Begitu ya, kalian akur, ya?"

"Bisa dibilang begitu, kan? Meskipun mungkin dia merasa risi dengan keberadaanku."

"Hah? Apaan sih, gak ngerti. ...Terus, kenapa kamu menyatakan cinta ke anak itu?"

"Kenapa, ya... karena di hati anak itu ada seseorang yang sangat dicintainya sampai-sampai tidak ada ruang bagiku untuk masuk. Berkat itu, aku mendapat tamparan yang cukup telus."

Ketika Kazuki tersenyum kecil sambil mengatakan itu, ekspresi Airi berubah menjadi curiga.

"Hmph, terus, itu ada efeknya?"

".........Setidaknya tidak separah dulu."

Seringan kilat, ia teringat pada Senpai Takakura yang terus mendekatinya dengan gigih, membuat jawabannya sedikit terlambat.

Airi menyipitkan matanya, lalu memalingkan wajah seolah pembicaraan ini sudah selesai.

Ia mengambil catokan rambut dan berjalan ke arah Momoka.

Suasana mendadak terasa sedikit canggung.

Merasa tidak nyaman berada di situ, Kazuki menghabiskan Caffè latte yang diseduh untuk dirinya sendiri lalu berdiri.

Lalu Airi, dari balik punggungnya, melontarkan usulan dengan nada seolah-olah itu bukan hal yang penting.

"Kalau masih ada orang yang mengganggumu, bagaimana kalau aku jadi pacar kontrakmu lagi?"

Tubuh Kazuki bergetar hebat lalu membeku.

Bayangan yang terputar kembali di kepalanya adalah wajah Himeko yang seolah sedang menahan rasa sakit.

Serta kata-kata, "Aku punya orang yang aku sukai."

Tanpa sadar, ia menekan dadanya dengan tangan.

"Hal itu sudah tidak bisa kulakukan lagi."

Ucapannya terlontar dengan suara getir, namun terdengar sangat tegas.

Giliran bahu Airi yang berlonjak kaget.

Mata Kazuki membelalak.

Ia sadar nada bicaranya tadi sedikit berlebihan.

"Yah, itu, rasanya terlalu berat kalau harus jadi pacar dari model populer yang sedang naik daun, Satō Airi."

"......Kurasa tidak begitu kalau kamu adalah adiknya model karismatik MOMO. Sakura-san juga bilang kalau itu Kazukichi, gak akan ada masalah."

"Kamu terlalu memujiku. Um, sebenarnya aku harus pergi kerja paruh waktu sekarang. Maaf, aku duluan."

"...Ah."

Mengatakan itu, Kazuki langsung berlari keluar rumah seolah-olah sedang melarikan diri.

Di sepanjang jalan menuju stasiun, ia mengetik pesan di grup chat yang ditujukan untuk Iori.

"Kalau hari ini tenaga kerjanya kurang, apa aku boleh masuk membantu?"

 

Di ruang tamu keluarga Kaito setelah kepergian Kazuki, terdengar helaan napas Momoka yang bisa dibilang dibuat-buat, haaa.

Momoka mengerutkan keningnya dengan ekspresi kesulitan, lalu melontarkan satu kalimat.

"Airi itu ya... bodoh, ya."

"........."

"Gak jujur, dan tidak pandai mengekspresikan diri."

"........."

Airi masih mematung sambil memegang rambut Momoka.

Ia menundukkan kebawah, dan bahunya bergetar tipis.

Momoka melepaskan tangan Airi, berbalik perlahan, lalu mendekap erat Airi ke dalam dadanya.

"Tapi, kamu suka merawat orang, pekerja keras, dan bersungguh-sungguh... makanya Kakak sangat menyayangi Airi."

"......Un."

Dan Airi membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya ke punggung Momoka secara erat, seolah bermanja-manja padanya.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close