NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 7 Chapter 10

Chapter 10

Kalau Soal Diriku Sendiri, Aku Masih Bisa Tahan, Sih


Ketika kamu membenamkan diri dalam persiapan festival budaya, waktu berlalu begitu cepat hingga tanpa disadari.

Sedikit lebih awal dari waktu yang bisa disebut sepulang sekolah.

Hayato dan Haruki, yang menyelinap keluar sekolah di tengah hari, sedang menuju ke rumah Minamo bersama gadis itu setelah berjanji untuk menghabiskan waktu bersama pagi tadi.

"Fiuh, aku senang sekali kalian datang menjemput kami, Minamo-chan..."

"Aku tidak tahu kalau sesi pengepasan kostum bisa menjadi seheboh itu..."

"Haha, suasananya benar-benar panas, ya...?"

Haruki menundukkan bahunya karena kelelahan.

Wajah Hayato tampak terkuras oleh keletihan.

Minamo melepaskan tawa hambar di sisi mereka.

Topik pembicaraan mereka adalah sesi pengepasan kostum yang baru saja usai, yang berubah menjadi kekacauan total mirip neraka jeritan.

Awalnya sesi itu dimaksudkan untuk memeriksa apakah ukuran kostum untuk Kafe Putri Vampir sudah benar.

Namun apa yang diserahkan kepada Haruki justru sebuah gaun dengan kualitas begitu tinggi hingga membuat orang meragukan apakah itu hanya sebuah prototipe kasar, beserta beberapa kostum lain yang tidak pernah didiskusikan sebelumnya. Menurut mereka yang bertanggung jawab, kecintaan mereka terhadap karakter telah meluap begitu saja.

Dan kata-kata penuh semangat itu membakar hati orang-orang dari departemen lain, seperti desain interior dan tata boga.

Perdebatan meletus—mengenai kualitas kerajinan setiap kostum, tuntutan untuk membuat pakaian lagu tertentu, atau apa yang harus dilakukan dengan pakaian band dan seragam pelayan. Suasananya benar-benar gaduh.

Haruki, yang seharusnya memeriksa kualitas kostum, malah dijadikan boneka peraga dan disuruh berpose dalam berbagai gaya. Pada awalnya ia sangat antusias, tetapi setelah lebih dari tiga jam tanpa jeda untuk makan siang dan terus diombang-ambingkan seperti itu, kelelahan adalah hal yang tak terhindarkan.

Terlebih lagi, para staf memiliki intensitas luar biasa yang tidak memberi ruang bagi siapa pun untuk menyela.

Minamo, yang telah menyelesaikan persiapan planetarium, datang untuk memeriksa kelas dan menggunakan alasan itu untuk membantu mereka kabur.

Meski begitu, mereka bertiga berjalan dengan langkah ringan.

Minamo, khususnya, tampak gelisah, bibirnya merekah dalam senyuman kecil saat ia mondar-mandir.

Ketika Hayato dan Haruki, yang terhanyut oleh suasananya, melepaskan tawa kecil, pipi Minamo merona karena malu. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dan mulai berbicara dengan suara yang ceria namun terbata-bata.

"Sudah sejak sekolah dasar ada orang yang datang ke rumahku sepulang sekolah seperti ini. Aku mungkin menjadi terlalu bersemangat, terlepas dari segalanya."

"Ya, begitu kamu masuk SMP, kegiatan klub menjadi serius dan jangkauan aktivitasmu meluas, jadi kamu akhirnya pergi berbelanja atau ke karaoke alih-alih berkunjung ke rumah seseorang... Tunggu, Hayato!"

"A-Aku bahkan belum ngomong apa-apa!"

"Kamu memasang wajah kasihan yang sok hangat, membayangkan aku sebagai anak kesepian yang tidak punya teman waktu SMP, kan?"

"Mana mungkin!"

"Kalau begitu, kamu tidak sedang memikirkan hal itu sama sekali?"

"...Yah, itu."

"Jangan mengalihkan pandangan!"

"Aduh!"

Haruki, menggembungkan pipinya, mencubit pinggang Hayato seolah membalas, dan pemuda itu berlebihan seolah-olah itu terasa sakit.

Itu adalah interaksi yang selaras dan kekanak-kanakan, khas para sahabat masa kecil.

Kini giliran Minamo yang membiarkan pipinya melunak dalam sebuah senyuman.

Hayato, sambil mengusap bagian tubuhnya yang dicubit, berbicara seolah ia baru saja menyadari sesuatu.

"Yah, melihat Himeko membuat semuanya menjadi sangat jelas. Dia selalu pergi makan di luar atau jalan-jalan sepulang sekolah, kan?"

"Hime-chan menjadi sangat tahu banyak soal toko-toko murah nan imut dalam waktu singkat. Sungguh mengejutkan."

"Murah, imut?"

"Petit price. Aksesori, kosmetik, atau pakaian yang terjangkau dan imut."

"Hehe, itu benar juga, ya...? Tapi, aku..."

Wajah Minamo berubah menunjukkan ekspresi yang sedikit bermasalah.

Hayato merasakan sedikit kebat-kebit di hatinya, namun Haruki di sampingnya bergumam dengan tatapan serius, dagunya bertumpu pada tangan.

"Kalau dipikir-pikir, apa sih yang biasanya kalian lakukan kalau nongkrong seperti ini...? Hayato, ada ide?"

"Mana kutahu. Dulu tidak ada anak seusiaku di Tsukino, jadi gagasan pergi ke rumah seseorang sama sekali tidak pernah terlintas di benakku... Minamo, apa yang kamu lakukan waktu SD?"

"Uhm, waktu awal SD dulu, kami membaca buku atau manga bersama, bermain boneka, membuat origami, atau menggambar..."

"Haha, hal-hal itu tidak terdengar seperti sesuatu yang akan kita lakukan di usia sekarang. Manga... aku penasaran manga seperti apa yang kamu baca, tapi itu bukan sesuatu yang bisa kita lakukan bersama-sama. Punya game?"

"Aku baru pindah ke sini tahun ini, jadi aku tidak punya apa-apa. Tapi Kakek punya Go, Shogi, atau Mahjong..."

"Tidak satupun dari permainan itu yang bisa dimainkan untuk tiga orang."

"Ugh, aku tidak tahu aturan untuk satupun dari permainan itu. Tapi aku tahu Hanafuda dari beberapa mini-game."

"Bagaimana kalau kita belajar saja?"

"Tidak mau, itu terlalu berat!"

Saat Hayato dan Haruki berbicara secara bersamaan, tawa menyebar dengan Minamo sebagai pusatnya.

Tidak lama kemudian, rumah Minamo mulai terlihat.

Rumah tradisional Jepang berukuran besar, yang mencolok bahkan di kawasan pinggiran kota ini, mengisyaratkan kekayaan keluarga Mitake.

Merasa sedikit tertekan, mereka dipanggil oleh seseorang dari rumah tetangga.

"Oh, Nyonya Mitake, Minamo-chan sudah pulang! Dan bersama teman-temannya juga!"

"Mmph!"

"Guk!"

"Aku pulang, Kakek, Nyonya Amami! Dan Rento juga!"

Suara itu milik seorang wanita paruh baya yang terlihat ramah. Di sisinya berdiri kakek Minamo dan Rento, seekor anjing Collie berukuran besar yang mengibaskan ekornya dengan riang.

Mereka sepertinya sedang asyik mengobrol.

Wajah kakek Minamo langsung cerah melihat sang cucu, namun begitu melihat Hayato, ekspresinya langsung menegang.

Ia melangkah mendekat dengan langkah lebar, membuat Hayato secara insting mundur ke belakang.

"B-B-B-Bocah sialan! Kenapa kamu ada di sini?!"

"Uhm, sudah lama tidak jumpa."

"Apa kamu sedang mencoba menancapkan taring beracunmu pada Minamo!?"

"Enggak, aku cuma ke sini buat main!"

"Kamu bilang ini cuma permainan bagi Minamo!?"

"Bagaimana bisa jadi begitu!?"

"Kakek, apa yang kakek katakan?!"

Kakek Minamo, dengan wajah memerah karena marah, berteriak, sementara Hayato melambaikan tangan sebagai penolakan.

Kemudian, sang tetangga, Nyonya Amami, tampak menyadari sesuatu dan meninggikan suaranya.

"Kalau dipikir-pikir, baru kali ini Minamo-chan membawa anak laki-laki ke rumah! Aku perhatikan kamu jadi lebih sering merawat rambutmu akhir-akhir ini... Jangan-jangan, anak laki-laki ini adalah orangnya?"

"Nyonya Amami!?"

"Grrr, bocah sialan...!"

"Sudah kubilang bukan begitu!"

"Kalau begitu, apa kamu bilang Minamo tidak imut!?"

"Kakek, hentikan!"

"Haruki, jangan malah mematung di tembok begitu dan katakan sesuatu!"

"Nah, pemandangan kacau ini terlalu menghibur untuk diganggu."

"Menghibur? Hei!"

"Haha... ehem. Ngomong-ngomong, Hayato, bukankah kamu sering menatap bagian dada Minamo yang besar—"

"Eek!?" "Haruki!?" "B-B-B-Bagaimana!?" "Hehe, anak laki-laki."

Hayato memohon bantuan, namun Haruki, yang semakin menjadi-jadi, justru menyiramkan minyak ke dalam api.

Kakek Minamo, dengan wajah semerah gurita rebus, mencengkeram Hayato yang terbata-bata mencoba menenangkannya. Minamo berusaha membelanya, namun tindakan menutupi dadanya dengan tangan justru membuat situasi semakin buruk.

Meski begitu, Haruki dan Nyonya Amami menonton pemandangan itu dengan tatapan hangat nan geli.

Rento juga ikut menggonggong "Guk!" dengan gembira sambil mengibaskan ekornya.

Hayato melotot ke arah Haruki, menggumamkan "Jangan memperburuk keadaan!", namun gadis itu hanya membalas dengan cengiratan usil khasnya, senyuman yang sama saat keusilannya berhasil.

Melirik sekilas ke arah Minamo, Hayato bisa merasakan suasana hati gadis itu sedang bagus.

Suasana yang bising namun meriah, bukanlah atmosfer yang buruk. Berkunjung ke rumah Minamo mungkin sudah sepadan hanya karena hal ini.

"Bocah sialan, hari ini di antara semua hari—"

"...Kakek? —"

Namun pada saat itu, kakek Minamo, pusat dari keributan tersebut, tiba-tiba terdiam dengan wajah serius.

Hayato dan Haruki saling bertukar pandang, bingung dengan perubahan yang begitu mendadak.

Nyonya Amami memiringkan kepalanya, dan Rento melakukan hal yang sama.

Minamo, merasakan kejanggalan, menatap wajah kakeknya, mengikuti arah pandangan sang kakek, dan ekspresinya langsung mengeras.

Atmosfer berubah menjadi tidak nyaman.

Hayato dan Haruki menoleh ke arah yang sedang dilihat oleh Minamo dan kakeknya, lalu melihat sesosok orang.

Seorang paruh baya berjas agak kusut, kurus dan tidak mencolok, dengan ekspresi tanpa emosi yang mengganggu layaknya topeng.

Minamo dan kakeknya tampak semakin canggung. Nyonya Amami mulai gelisah, dan Rento merunduk rendah sambil mengerang pelan.

Hayato dan Haruki, yang tidak memahami situasi, berdiri terdiam saat Minamo, dengan suara yang luar biasa tegas, berbicara kepada pria tersebut.

"...Ayah."

Mendengar kata-kata itu, ekspresi seperti besi milik pria tersebut sedikit retak.

Hayato dan Haruki mengerutkan kening, kesulitan memahami situasi, namun mereka mulai merangkai potongan-potongan teka-teki itu.

Hubungan ayah dan anak itu tampak tidak baik. Masalah yang sedang dihadapi Minamo akhir-akhir ini sepertinya terikat dengan ayahnya.

Sang kakek melangkah maju seolah melindungi cucunya, alisnya terangkat tajam.

"Untuk apa kamu datang ke sini, Kohei?"

Nada pertanyaannya dibalut oleh ketegangan yang pekat.

Namun Kohei, ayah Minamo, mendengus kecil dengan nada bosan.

Ia mengarahkan matanya yang tanpa warna ke arah Minamo.

"Aku cuma datang untuk melihat putri wanita itu."

"Kohei!"

Kata-kata itu membekukan ekspresi setiap orang di sana.

Bahu Minamo tersentak, matanya bergetar penuh kesedihan saat ia menurunkan bulu matanya.

Namun Kohei tampak tidak peduli dengan reaksi putrinya, berbicara kepada sang kakek seolah gadis itu tidak ada di sana.

"...Apa Ayah tidak merasakan apa-apa?"

"Apa yang kamu bicarakan!?"

"Aku tetap tidak bisa menerima keberadaannya di dekatku."

Mata Hayato melebar, dan ia tersentak kaget.

Orang tua yang tidak menyembunyikan perasaan terdistorsinya terhadap anak kandungnya sendiri.

Melihat pemandangan itu, pandangan Hayato secara naluriah beralih ke sang sahabat masa kecil di sisinya, membayangkan perlakuan yang harus ditanggung Haruki pada malam sebelumnya. Pikirannya mendadak kosong dan amarahnya meluap. Fakta bahwa ini adalah masalah keluarga orang lain atau bahwa pria itu adalah ayah dari temannya tidaklah penting—rasa keadilannya mengalahkan segalanya, dan sebelum ia sadar, ia sudah mencengkeram kerah baju Kohei.

"Hei, Anda!"

"Bocah!" "Hayato-san!?"

"Ada apa, Nak? Ini urusan keluarga. Orang luar sebaiknya diam saja."

"Diam saja? Apa-apaan ucapan Anda itu!? Pantaskah Anda mengatakan hal seperti itu kepada Minamo-san, kepada anak kandung Anda sendiri!?"

"...Oh, jadi ini soal itu."

Hayato mencengkeram kerah jas itu dengan kuat, seolah hendak mengangkat pria tersebut dari tanah, emosinya meledak. Minamo dan kakeknya terkesiap kaget atas tindakan nekat dan kasarnya itu. Nyonya Amami menahan napas, dan Rento menggonggong penuh semangat, "Guk!?"

Namun Kohei mengabaikannya dengan ketenangan yang dingin.

Perlahan-lahan ia melepaskan tangan Hayato dan merapikan kerah bajunya, lalu berbicara dengan nada dingin yang tidak berubah, membiarkan emosi keruh di dalam hatinya tumpah ruah.

"Kalau aku bilang aku tidak menganggapnya sebagai anak kandungku... apa itu bisa dimengerti?"

"...Hah?"

Sebuah suara kebingungan meluncur keluar, dan tangan Hayato, yang bersiap mencengkeram kembali, membeku di udara. Makna dari kata-kata itu tidak langsung terserap di kepalanya, dan ia merasa sulit mempercayainya.

Namun kebisuan Minamo dan pandangannya yang teralihkan, bersama dengan ekspresi muram sang kakek, mengonfirmasi kebenaran dari ucapan Kohei.

Hayato merasa pusing, seolah tanah di bawah kakinya berayun.

Awalnya, ia mengira Minamo hanya sedang mengalami perselisihan biasa dengan ayahnya.

Dari sikap gadis itu yang tertekan, ia berasumsi Minamo sedang diperlakukan secara tidak adil.

Namun asumsi itu keliru.

Kohei-lah yang telah dikhianati.

Dialah korbannya.

Seberapa dalam luka emosional yang harus ia tanggung?

Topeng tanpa emosi miliknya tampak seperti perisai untuk melindungi hatinya.

—Bagaimana topeng senyuman yang dikenakan oleh Haruki.

Saat semua orang tampak tenggelam dalam atmosfer yang berat, kakek Minamo berbicara, seolah kesulitan bernapas.

"...Hal itu kan belum tentu benar. Kalian sudah bersama selama ini..."

"Kurasa aku tidak sekejam itu. Aku tidak berniat mengusirnya. Aku akan tetap membiayai sekolah dan kebutuhan hidupnya. Tapi aku hanya ingin memperjelas semuanya."

"Ayah, itu artinya..."

Suara Minamo saat memanggilnya "Ayah" membuat alis Kohei sedikit berkedut.

Mengabaikan hal itu, ia menarik sebuah bungkusan kecil dari tasnya dan mengulurkannya kepada sang gadis.

Minamo, menerimanya dengan penuh kebingungan, melihat tulisan yang tertera di atasnya dan wajahnya langsung pucat.

"Ini alat tes DNA. Mari kita perjelas semuanya."

"Ayah, tapi..."

"Kamu tidak perlu lagi memanggil pria yang bukan ayahmu dengan sebutan 'Ayah', kan?"

"Kohei, kamu—!"

Bagi Minamo, hal itu pasti terasa seperti diserahi surat pemutusan hubungan keluarga.

Tangannya bergetar, dan ia tampak nyaris ambruk.

—!

Seketika itu juga, Hayato merasa malu pada dirinya sendiri. Kemudian ia menyadari satu hal pasti yang bersemayam di dalam dadanya.

Bagi Hayato, para sahabat adalah sosok yang spesial.

Ia tidak boleh membiarkan teman seperti Minamo menunjukkan ekspresi seperti itu.

Sebelum ia sempat memikirkan apa yang harus dilakukan, ia mulai bergegas mendekatinya, namun kata-kata Haruki yang begitu dingin menusuk menembus suasana.

"Aku adalah anak haram yang bahkan tidak tahu siapa ayahku."

"Haruki...?" "Hah?" "...Haruki-san?"

Di tengah konflik ayah dan anak yang menegangkan, pernyataan Haruki mau tidak mau menarik perhatian semua orang.

Keterkejutan, kebingungan, dan rasa heran memenuhi udara saat Haruki membiarkan emosi mentahnya meledak.

"Aku diberi tahu kalau seharusnya aku tidak dilahirkan! Bahkan ibuku sendiri bilang dia menyesal telah melahirkanku! Persetan dengan itu! Apa salahku!? Aku hanya dilahirkan ke dunia ini, jadi kenapa... Jangan main-main dengan kami hanya karena alasan egois kalian!"

Suara Haruki bergetar diiringi air mata saat ia berteriak, tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang di sekitarnya.

Itu adalah luapan kebencian yang ia pendam, emosi yang telah ia tekan begitu lama.

Hayato, membayangkan kepedihan Haruki, merasa dadanya seperti mau runtuh. Ia mengatupkan giginya begitu kuat hingga rasanya nyaris patah, mati-matian menahan diri agar tidak hancur.

"Ayo pergi, Minamo-chan. Kita tidak seharusnya berada di sini!"

"I-Iya!"

Haruki meraih tangan Minamo dan berlari pergi.

Kohei mengeluarkan suara "Uh..." yang terkejut dan berdiri mematung, topeng besi di wajahnya hancur oleh kata-kata Haruki, digantikan oleh keterkejutan yang nyata.

Hayato melirik ke arah pria itu dengan kening berkerut, dan saat ia berbalik untuk pergi, kakek Minamo berbicara dengan nada hampir memohon.

"Bocah! ...Kumohon, jaga Minamo."

"Tentu saja!"

Menerima beban dari kata-kata tulus tersebut, Hayato membalas dengan senyuman garang, seolah ingin mengatakan, "Serahkan padaku," lalu mengejar kedua gadis itu.

Ia menyusul Haruki dan Minamo di depan sebuah taman di kawasan perumahan.

Seolah sedang menunggunya, kedua gadis itu berdiri bergandengan tangan di dekat pintu masuk tanpa bergerak.

"Ha—"

Ia hendak memanggil nama "Ruki" namun menelan sisa ucapannya.

Punggung mereka memancarkan kesedihan begitu mendalam hingga ia ragu untuk bersuara.

Apa yang dipikul oleh Haruki dan Minamo adalah sesuatu yang tidak bisa mereka kendalikan. Dan Hayato, seorang pihak luar, bahkan lebih tidak berdaya lagi.

Namun hal itu bukan alasan untuk tinggal diam. Ia dengan panik mencari sesuatu yang bisa ia lakukan, namun tidak menemukan apa pun, merasakan ketidakberdayaannya sendiri sambil terbakar oleh rasa frustrasi.

Saat Hayato ragu-ragu untuk berbicara, Haruki bergumam dengan nada suram penuh penyesalan.

"Ugh, apa yang sedang kulakukan? Kalau sudah menyangkut Minamo-chan, aku jadi tidak bisa menahan diri..."

Kata-katanya mengisyaratkan bahwa ia bisa bertahan jika itu menyangkut dirinya sendiri, sebuah pengakuan yang merendahkan diri sendiri.

Hal itu juga menyiratkan betapa banyak hal yang telah ditahan oleh Haruki selama ini, membuat Hayato meringis.

Haruki melepaskan helaan napas panjang, memperlihatkan perasaannya yang telah pasrah.

"Meskipun aku menarik Minamo-chan keluar dari sana, itu tidak mengubah apa pun. Faktanya tetap sama, dan tidak ada yang membaik. Kita cuma kabur."

"Itu..."

"Aku ini tidak berdaya."

—!

"Sekalipun kita pergi ke kota antah berantah, apa yang bisa dilakukan oleh seorang anak SMA? Sekolah? Tempat tinggal? Uang? Berhenti sekolah lalu bekerja? Terus, setelah itu apa? ...Kita tetaplah anak-anak yang hanya bisa bertahan hidup berkat belas kasihan orang lain."

Kata-kata Haruki menusuk dada Hayato.

Gadis itu benar sekali.

Ia tahu betul hal itu.

Dibandingkan saat mereka masih anak-anak, tubuh mereka memang sudah bertambah tinggi.

Mereka bisa memasak, bekerja paruh waktu, mendapatkan surat izin mengemudi moped—ada lebih banyak hal yang bisa mereka lakukan.

Mereka bukan lagi anak-anak. Tapi hanya sebatas itu.

Masih begitu sedikit hal yang bisa mereka perbuat, jauh dari kata dewasa.

Ia merasa ngeri pada dirinya sendiri yang begitu kecil dan tidak berdaya.

Frustrasi membuat kepalan tangannya berdarah karena kuku-kukunya menancap terlalu dalam.

Namun pada saat bersamaan, sebuah perasaan yang kuat bergejolak di dalam dadanya.

Berbeda dengan Hayato dan Haruki, Minamo mengangkat tangan mereka yang bertaut dengan senyuman tipis yang malu-malu, berbicara dengan nada ceria.

"Tapi, Haruki-san, kamu sudah menggenggam tanganku."

"Minamo-chan...?"

"Menyadari bahwa ada seseorang yang mau menemaniku, bahkan seseorang sepertiku, membuatku sangat bahagia."

"...Ah."

Mata Haruki melebar.

Senyuman Minamo melelehkan ekspresinya yang tadinya mengeras.

Hayato, menerobos sisa ketegangan yang masih tertinggal, meletakkan tangannya di kepala Haruki lalu mengacak-acak rambutnya, berbicara dengan nada kasualnya yang sengaja dibuat santai.

"Wah, apa-apaan itu?!"

"Dengar, kalau dipikir-pikir, bukankah sudah jelas kalau kita belum bisa berbuat banyak?"

"...Hayato?"

"Aku membuat banyak sekali kesalahan waktu pertama kali belajar memasak atau bekerja di ladang. Kamu tinggal terus mencoba dan membangun apa yang bisa kamu lakukan, kan, partner?"

"Ah... Ya, kamu benar."

Mereka masih belum tahu harus berbuat apa atau bagaimana caranya.

Namun tetap saja, karena mereka adalah teman.

"Tentu saja, ini masalah yang jarang terjadi, jadi aku sama sekali tidak punya petunjuk cara menyelesaikannya."

"Kamu mengatakannya dengan begitu santai, ugh!"

"Hehe, tapi kamu benar, ini masalah yang cukup rumit."

"Bahkan kamu, Minamo-chan!"

Ketika Hayato mengatakannya dengan nada main-main, tawa kecil yang lembut menyebar.

"Bagaimana kalau kita makan di tempatku? Kita harus mengisi perut dulu agar bisa berpikir jernih tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya."

"Uhm, apa tidak apa-apa kalau aku tiba-tiba ikut berkunjung seperti itu?"

"Tidak apa-apa, santai saja. Bukan cuma aku—Saki-chan juga sering datang untuk makan malam, jadi ketambahan satu orang lagi tidak akan membuat perbedaan."

"Itu kan kalimatku!"

"...Ah. Hehe, kalau begitu."




Dengan ucapan itu, mereka melangkah menuju rumah Kirishima sambil menatap lurus ke depan.

(…Ah)

Ada satu hal yang harus Hayato katakan, dan ia melontarkan kata-kata itu begitu saja melewati bahunya.

"Aku senang kamu dilahirkan. Bisa berteman seperti ini, menjalani hari-hari yang menyenangkan... Kalau kamu tidak ada di sini, dunia milikku mungkin akan terasa sangat membosankan."

Ia sadar kalimat itu terdengar gombal dan tidak seperti dirinya biasanya.

Namun itu adalah kejujuran yang tulus dari lubuk hatinya.

Wajahnya mungkin sudah memerah seperti udang rebus.

Ia merasa begitu malu.

Namun perasaan tidak akan sampai kepada orang lain kecuali kamu mengungkapkannya lewat kata-kata.

Saat Hayato menggaruk kepalanya untuk menyembunyikan rasa malu, Haruki menepuk punggungnya dengan keras.

"Aduh! Apa-apaan itu, Haruki?!"

"Mana kutahu! Itu salahmu sendiri!"

"Apa maksudmu berkata begitu?!"

"Hehe, itu akibatnya kalau kamu berulah, Hayato-san."

"Bahkan kamu pun ikut-ikutan, Minamo-san!?"

Haruki mengabaikan protes pemuda itu dan berjalan mendahului mereka. Kedua telinganya, yang terlihat sekilas, tampak memerah.

Bingung mengapa ia justru dipukul, Hayato memajukan bibirnya cemberut, hanya untuk kembali ditegur oleh Minamo.

Ia benar-benar tidak mengerti.

Namun ketika ia menoleh ke belakang, Haruki menjulurkan lidahnya dengan wajah yang sudah bersih dari segala bayang-bayang kesuraman.

Jadi, kata-kata yang ia ucapkan tadi sepertinya bukanlah sebuah kesalahan.

Cengiratan usil gadis itu sama persis dengan sosok Haruki yang dulu ia lihat di Tsukino—senyuman yang sangat dicintai oleh Hayato.

"Haruki, kita akan selamanya menjadi teman!"

Ia tiba-tiba teringat akan kata-kata yang mereka tukarkan sebelum berpisah di masa lalu.

Di dalam hatinya, ia menimbang berbagai hal di atas timbangan.

Haruki di masa lalu dan Haruki di masa kini.

Mereka telah merangkai kenangan yang tak terhitung jumlahnya bersama di berbagai tempat.

Di tepi sungai pedesaan, di dalam hutan, di jalan-jalan setapak di antara ladang.

Di rumah kota, di seluruh penjuru kota, di sekolah.

Selalu di pusat kenangan yang hidup itu, senyuman cerah Haruki mekar dengan indah.

Maka, saat melihat wajah Haruki yang mendung, sama seperti saat pertama kali mereka bertemu, dan menghadapi apa yang bergolak di dalam dadanya, jawabannya datang dengan begitu mudah.

Oh, begitu ya.

Hatiku mulai terasa nyeri.

Alasannya sangat jelas.

Sejak mereka masih anak-anak, ia selalu ingin melihat senyuman gembira Haruki.

Bagi Hayato, teman-teman adalah sosok yang begitu spesial.

Melalui mereka, ia telah mengalami begitu banyak hal, melihat begitu banyak pemandangan, dan menjadi dirinya yang sekarang.

Di Tsukino, di mana tidak ada anak seusia yang bisa dipanggil teman, hal itu sangatlah nyata.

Melakukan sesuatu untuk seorang teman adalah hal yang wajar.

Seperti saat bersama Kazuki selama festival musim gugur.

Ia tidak bisa terus berpura-pura tidak melihat.

Didorong oleh perasaan yang lahir di dalam dadanya, ia bertekad untuk melangkah maju.

Karena ia selalu ingin teman-temannya tersenyum.

Maka ia sangat berharap bisa membantu teman-temannya dan menjadi seseorang yang mampu melakukan hal itu.

Untuk saat ini, semua yang bisa ia lakukan adalah tetap berada di sisi mereka sambil melontarkan candaan biasa.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close