NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tokidoki Bosotto Russia-go de Dereru Tonari no Alya-sa Volume 1 Prolog

Prolog: Tuan Putri yang Penyendiri dan Tetangga yang Malas


SMA Swasta Seirei.

 

Di masa lalu, sekolah ini telah melahirkan banyak alumni yang aktif di dunia politik dan bisnis, sebuah sekolah bertaraf gabungan SMP-SMA-Universitas yang membanggakan tingkat kelulusan deviasi (hensachi) tertinggi di Jepang. Sejarahnya amat panjang, dan konon dulu banyak anak dari kalangan bangsawan serta keluarga terpandang yang bersekolah di sini, menjadikannya sebuah sekolah ternama bertaraf elite dan bersejarah.

 

Para siswa berjalan di sepanjang jalan berderet pohon menuju tempat belajar yang penuh tradisi itu.

 

Mereka berjalan menuju gedung sekolah dengan ramai sambil mengobrol bersama teman dan teman sekelas, tetapi begitu seorang siswi muncul melewati gerbang sekolah, atmosfer di tempat itu seketika berubah.

 

Setiap orang yang melihatnya memperlihatkan rasa terkejut dan kagum yang sama, lalu mengikutinya dengan pandangan mata.

 

"Uwah, siapa gadis itu? Cantik banget."

 

"Kamu tidak tahu? Pas upacara penerimaan kemarin, dia kan yang mewakili murid baru untuk menyampaikan sambutan. Dia itu adiknya Maria-san."

 

"Waktu itu cuma kelihatan dari jauh, sih... Haah, luar biasa. Kalau dilihat dari dekat, rasanya seperti peri."

 

"Bener banget. Padahal sesama perempuan dan dia lebih muda, tapi rasanya agak bikin terintimidasi, ya."

 

Kulit putih transparan yang tidak mungkin dimiliki orang Jepang asli, serta mata biru jernih tajam yang memancarkan kilau bagaikan safir.

 

Dan rambut perak panjang berpola half-up yang berkilauan diterpa sinar matahari pagi.

 

Di dalam fitur wajah berlekuk tegas yang diwarisi dari ayahnya yang orang Rusia, terdapat kecantikan yang memancarkan kelembutan khas orang Jepang yang diwarisi dari ibunya.

 

Selain penampilannya yang tiada dua itu, postur tubuhnya terbilang tinggi untuk ukuran perempuan dengan lengan dan kaki yang jenjang—namun bagian yang harus berisi tetap berisi dan bagian yang harus ramping tetap ramping—sebuah bentuk tubuh sempurna yang seolah menyorotkan idealisme seluruh wanita di dunia.

 

Dengan paduan warna tersebut, nama gadis yang memiliki kecantikan agak tak nyata ini adalah Alisa Mikhailovna Kujou. Sejak pindah ke SMA Seirei ini saat kelas tiga SMP tahun lalu, dia selalu meraih peringkat pertama sejajar di setiap ujian. Ditambah lagi, dia mahir dalam olahraga dan mulai tahun ini menjabat sebagai bendahara OSIS, benar-benar seorang gadis berbakat yang sangat pantas dijuluki manusia sempurna.

 

"Oi, lihat itu."

 

"Eh? Uwoh! Kujou-san! Beruntung banget pagi-pagi begini."

 

"Woi kamu, coba sana sapa dia."

 

"Nggak bisa, nggak bisa! Terlalu segan!"

 

"Oalah, nggak biasanya kamu yang biasa nyapa cewek cantik tanpa pandang bulu jadi begini. Cuma sapaan doang, masa kamu ciut?"

 

"Bego! Levelnya, maksudku dimensinya sudah beda! Kalau ngomong gitu, kamu aja sana yang pergi!"

 

"Nggak mau, ah. Coba-coba hal bodoh terus malah ditandai cowok lain, berabe."

 

Pandangan penuh kekaguman diarahkan padanya dari sekeliling, baik laki-laki maupun perempuan. Sementara semua orang secara alami memperlambat langkah dan menepi ke kiri dan kanan, dia berjalan dengan anggun tanpa memperlihatkan gestur terganggu sedikit pun.

 

Di sana, seorang siswa laki-laki mendekatinya. Melihat sosok tersebut, para siswa di sekitar mulai kasak-kusuk.

 

"Halo, selamat pagi. Pagi yang cerah, ya."

 

Mengucapkan itu dengan ukiran senyum segar, Alisa melirik sekilas ke

arah siswa laki-laki tersebut tanpa menghentikan langkahnya. Setelah mengonfirmasi dari warna dasinya bahwa dia adalah seorang kakak kelas, Alisa membungkuk ringan.

 

"Selamat pagi."

 

"Ya, selamat pagi. Salam kenal, mungkin? Aku Ando dari kelas dua. Aku teman sekelas kakakmu."

 

"Begitu, ya."

 

Siswa laki-laki yang mengaku bernama Ando itu memiliki rambut yang dicat cokelat dan seragam yang sedikit tidak rapi. Aksesori perak yang mengintip dari balik kerah bajunya membuatnya terlihat seperti pemuda rupawan yang modis zaman sekarang, namun tanggapan Alisa sangat dingin.

 

Di saat para siswi di sekitar menjerit histeris melihat senyum manis itu,

Alisa merespons dengan datar tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun.

 

"Aku sering mendengar tentangmu dari kakakmu... Sudah lama aku ingin bertemu denganmu. Bagaimana? Kalau tidak keberatan, mau

makan siang bareng nanti?"

 

"Tidak, terima kasih."

Jawaban instan tanpa memperlihatkan gestur ragu sedikit pun. Melihat respons sedingin es itu, Ando pun hanya bisa tersenyum kecut secara tipis.

 

"Haha... Dingin sekali. Kalau begitu, setidaknya bolehkah kita tukaran kontak? Aku ingin mengenalmu lebih jauh."

 

"Maaf, tapi saya tidak tertarik pada Anda. Jika urusan Anda hanya itu, saya permisi. Ah, lalu satu lagi──"

 

Di situ Alisa mengarahkan pandangannya secara tajam ke arah Ando, lalu mengulurkan jarinya ke arah leher pemuda itu. Mengamati kerlingan mata dan tunjukan jari tipis itu, Ando tanpa sadar menarik kembali senyumnya, membelalakkan mata dan sedikit melebarkan jarak.

 

"...itu melanggar peraturan sekolah."

 

Tanpa memedulikan guncangan emosi pemuda itu, Alisa menunjuk

aksesori perak di leher Ando dan mengucapkannya dengan dingin, lalu berlalu pergi begitu saja setelah menuturkan, "Kalau begitu, permisi."

 

Melihat pemandangan itu, para siswa yang sebelumnya menahan napas sambil menyaksikan kembali riuh berbisik-bisik.

 

"Hebat banget, Ando-senpai yang merupakan salah satu anak kelas dua terpopuler di kalangan cewek langsung ditolak mentah-mentah.

Bener-bener berasa kayak putri yang menyendiri, ya."

 

"Seberapa tinggi sih standar idealnya... Apa ada cowok yang sepadan sama dia?"

 

"Jangan-jangan dari awal dia emang nggak tertarik sama cowok? Sayang banget ya, padahal secantik itu."

 

"Nggak, justru dengan begitu kita bisa tenang karena dia nggak bakal jadi milik siapa-siapa, kan?"

 

"Bener juga. Dalam artian sebagai idola, dia jauh lebih idola daripada idola biasa di luar sana. Rasanya bisa dibilang aku sanggup ngeliatin dia terus. Malah ingin kupuja."

 

"Nggak lah, kalau sampai segitunya kamu jijik banget, tahu. Tapi yah, aku paham perasaannya."

 

Tanpa menyadari percakapan seperti itu sedang berlangsung di belakang punggungnya, Alisa memasuki gedung sekolah, mengganti sepatu di loker, lalu melangkah menuju ruang kelas.

 

Siswa laki-laki yang baru saja ditolaknya dengan mudah itu sudah tidak tersisa lagi di dalam kepalanya.

 

Hal sepele semacam itu, baginya sudah terlalu biasa hingga tidak memiliki nilai untuk disimpan dalam ingatan.

 

Menjadi pusat perhatian maupun didekati oleh seseorang, bagi Alisa hanyalah kepingan dari kehidupan sehari-hari yang biasa. Dan tindakan dirinya yang memperlakukan hal-hal itu dengan dingin, juga merupakan bagian darinya.

 

Sesampainya di kelas, perhatian teman-teman sekelas langsung terpusat pada dirinya yang membuka pintu.

 

Karena ini juga merupakan hal yang terjadi setiap pagi, Alisa tidak memedulikannya dan berjalan menuju kursinya yang berada di barisan paling belakang dekat jendela.

 

Kemudian, setelah menggantungkan tasnya di samping meja, dia melihat ke kursi di sebelah kanannya dengan gerakan kasual.

 

Di sana, hanya karena alasan nama belakang mereka berdekatan, terdapat seorang siswa laki-laki yang telah menjadi tetangga duduknya selama lebih dari satu tahun.

 

Dialah sosok yang mempertahankan posisi yang diirikan oleh banyak siswa laki-laki selama lebih dari satu tahun—posisi di sebelah Alisa yang disanjung sebagai salah satu dari Dua Putri Cantik di kelas satu SMA—Kuze Masachika, saat ini.

 

"............, ......"

 

Sedang menelungkupkan badan di meja, memutuskan untuk tidur

nyenyak sejak pagi-pagi bolong.

 

Melihat wujud yang sangat tidak mencerminkan siswa dari sekolah elite berprestasi itu, Alisa yang tadinya tidak mengubah ekspresi wajah seketika menyipitkan matanya.

 

"Selamat pagi, Kuze-kun."

 

"..."

 

Bahkan terhadap sapaan Alisa, Masachika yang menelungkupkan badan dengan kedua lengan sebagai bantal sama sekali tidak merespons.

Tampaknya, dia tidak sekadar menelungkup di meja, melainkan benar-benar tertidur lelap.

 

Mata Alisa semakin menyempit karena sapaannya diacuhkan, dan teman-teman sekelas yang memperhatikan hal itu membuat kedutan di pipi mereka.

 

Siswa laki-laki di sebelah kanan depan Masachika mencoba memanggil

dengan ragu-ragu, "O-oi, Kuze? Bangun~", tetapi sebelum Masachika terbangun merespons suara itu...

 

Brak!

 

"U-gufh!?"

 

Tiba-tiba, bersamaan dengan suara benturan, meja Masachika bergeser ke samping dengan suara keras, dan Masachika melompat bangun sambil mengeluarkan suara aneh. Alisa yang berdiri di sampingnya baru saja menendang kaki meja dari samping.

Melihat hal itu, para siswa di sekitar secara serempak memalingkan wajah dengan ekspresi "Aah, kan...".

 

Alisa adalah murid teladan yang benar-benar mencerminkan prestasi luar biasa dan tingkah laku terpuji, yang pada dasarnya tidak peduli dan tidak mau campur tangan terhadap orang lain baik dalam arti positif maupun negatif. Namun, kenyataan bahwa dia bertindak sangat keras secara pengecualian terhadap tetangga duduknya yang merupakan perwakilan siswa tidak serius di sekolah ini, sudah menjadi rahasia umum di antara murid seangkatan.

 

Hampir setiap hari, pemandangan Alisa yang memberikan teguran dengan nada tajam sambil terang-terangan menunjukkan rasa hina, serta Masachika yang menanggapinya dengan santai sudah sering terlihat, sehingga semua orang sudah benar-benar terbiasa.

 

"Selamat pagi, Kuze-kun. Nonton anime tengah malam lagi?"

 

Dengan wajah seolah tidak terjadi apa-apa, Alisa kembali menyapa

Masachika yang tampaknya masih belum bisa memahami situasi.

 

Mendengar suara itu, Masachika mengedipkan matanya sambil mendongak menatap ke samping, dan setelah memahami berbagai hal, dia mengedikkan bahunya lalu menyapa balik sambil menggaruk-garuk kepalanya.

 

"Ooh... Selamat pagi, Alya. Yah, begitulah."

 

Nama Alya yang dipanggil Masachika itu adalah nama panggilan kesayangan Alisa di Rusia.

 

Meski ada cukup banyak siswa yang memanggilnya begitu di belakang, tapi murid laki-laki yang memanggilnya dengan nama panggilan kesayangan secara terang-terangan di depan orangnya langsung cuma dia seorang di sekolah ini.

 

Entah hal itu terjadi karena nekatnya Masachika atau karena toleransi Alisa, orang-orang di sekitar tidak ada yang tahu.

 

Padahal dia baru saja ditendang sampai terbangun dari tidurnya, ditambah lagi saat ini sedang ditatap dingin dari atas dengan penuh celaan, tetapi tidak ada raut takut sedikit pun dari sikap Masachika.

 

Dari sikapnya yang santai tanpa beban itu, pandangan yang bercampur antara heran dan kagum berkumpul dari sekeliling, namun Masachika sendiri tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang spesial. Karena... dia menyadarinya.

 

('U-gufh!?' apaan coba? 'U-gufh!?' Pfft, suara aneh macam apa yang keluar tadi.)

 

Di mata Alisa yang menatapnya dari atas tidak ada rasa benci, melainkan bagian dalam matanya justru sedang tertawa sepenuhnya.

 

Bahwa jauh di dalam hatinya, Alisa merasa sangat terhibur melihat dirinya yang melompat bangun sambil mengeluarkan suara aneh.

Namun, Alisa tampaknya sama sekali tidak berpikir kalau isi hatinya itu telah terbongkar, lalu berkata dengan nada heran sambil duduk di kursinya.

 

"Kamu ini tidak ada kapok-kapoknya, ya. Mengurangi waktu tidur demi menonton anime, lalu jadi mengantuk di sekolah kan sudah tidak ada obatnya."

 

"Yah, walau kalau diomongin animenya sendiri sudah selesai jam satu, sih... Tapi sesi tukar kesan setelahnya itu yang lama."

 

"Sesi tukar kesan? Ah, yang menuliskan kesan-kesan di internet itu?"

 

"Bukan? Lewat telepon sama teman otaku. Ya kira-kira dua jam-an."

 

"Kamu bodoh, ya?"

 

Mendengar kata-kata yang dilontarkan dengan mata sipit penuh keheranan dan rasa jijik itu, Masachika mengulas senyum nihilistik sambil mengarahkan pandangannya jauh ke depan.

 

"Fuh... bodoh, ya... Benar juga. Bicara tentang kecintaan pada suatu karya tanpa mengenal waktu dan tempat. Kalau hal itu disebut bodoh, mungkin memang benar begitu..."

 

"Maaf. Tampaknya kamu bukan cuma sekadar bodoh, tapi bodoh yang sudah tidak bisa ditolong lagi."

 

"Alya-san hari ini juga sedang dalam kondisi terbaiknya, ya."

Dada tajam tanpa ampun dari Alisa pun ditangkis Masachika dengan mengangkat bahunya ringan seperti bercanda.

 

Melihat sikap Masachika yang membuat Alisa merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Alisa menggelengkan kepalanya pasrah, dan pada saat itulah bel persiapan yang menandakan tiga menit sebelum homeroom dimulai berbunyi.

 

Para siswa berbondong-bondong kembali ke kursi mereka, dan Alisa pun menghadap ke depan kembali, mulai memindahkan buku pelajaran dan catatan dari dalam tas ke dalam meja.

 

Sebagaimana mestinya sekolah ternama, di antara para siswa yang menunggu guru wali kelas dengan tertib, Masachika merenggangkan badannya lebar-lebar, lalu menguap sekali dengan keras, dan mengedipkan matanya yang berair.

 

Alisa yang memperhatikan keadaan itu dari sudut matanya, menghadap ke arah jendela lalu terkekeh pelan, kemudian membisikkan satu kata dalam bahasa Rusia.

 

Милашка

 

"Ahf, kamu ngomong sesuatu?"

 

"Tidak ada? Aku cuma bilang 'tidak tahu malu'."

 

Dan terhadap gumaman yang tertangkap tajam oleh pendengaran

Masachika itu, Alisa membalasnya dengan wajah tidak tahu apa-apa. Atas pengalihan Alisa, Masachika yang merasa yakin kalau dirinya sedang dikatai soal menguap tadi membalas dengan, "Kalau begitu maaf ya", lalu kali ini menguap sambil menutup mulutnya dengan tangan.

 

Melihat Masachika yang seperti itu, Alisa mengangkat sebelah alisnya

seolah meremehkan, lalu menghadap ke arah jendela lagi dan tersenyum pelan. Sambil menyembunyikan ekspresinya dari Masachika, hatinya bersorak gembira.

 

(Bodoh, sama sekali nggak sadar. Fufu.)

 

Alisa menahan sudut mulutnya yang ingin tersenyum lebar dengan

pura-pura bertopang dagu. Punggung Alisa itu ditatap oleh Masachika dengan pandangan seperti melihat sesuatu yang amat kasihan.

 

(Nggak kok, semuanya kerasa dan nyampe ke aku, tahu?)

 

Alisa tidak tahu.

 

Sebenarnya Masachika itu mengerti bahasa Rusia. Bahwa sikap dere bahasa Rusia yang terkadang dibisikkannya itu semuanya tersampaikan secara utuh kepada orangnya.

 

Dan di balik percakapan mereka berdua yang sekilas sama sekali tidak ada manis-manisnya ini, sebenarnya sedang berlangsung interaksi yang agak konyol dan menggemaskan seperti ini, yang mana tidak ada satu pun siswa di sekitar mereka yang mengetahuinya.



Illustrasi | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close