Penerjemah: Ceruzz
Proffreader: Ceruzz
Chapter 6
Kencan dengan Gadis Suci
Awal Juli.
Aku berjalan menuju restoran keluarga dekat rumah.
Tujuannya untuk belajar mempersiapkan ujian akhir semester.
Bukannya tidak bisa belajar di rumah sih, tapi rasanya kalau belajar di luar bakal lebih lancar…… mungkin.
"……Keputusan yang salah ya."
Baru lima menit keluar rumah, aku langsung menyesal.
Harusnya aku tidak usah keluar di tengah cuaca sepanas ini……
Sambil berkeringat, aku akhirnya sampai juga di restoran keluarga.
Saat sedang mencari meja yang kosong……
"Ah, Saotome toh."
"Aah…… Himuro-kun."
Saotome ada di sana.
Buku referensi tersebar di atas mejanya.
Tampaknya dia juga sedang belajar.
"……Mau duduk?"
Saotome menggeser buku referensinya sedikit untuk memberi ruang di meja.
Kalau tujuannya untuk belajar, harusnya kami tidak berada di meja yang sama supaya bisa lebih fokus.
Tapi tingkat sosialisasiku tidak sedatar itu sampai harus menolak dengan alasan semacam itu.
"Kalau begitu, permisi ya."
Aku duduk di depan Saotome lalu mengambil panel layar sentuh.
Untuk sementara, aku memilih paket drink bar.
Lalu selebihnya……
"Kentang goreng. Kalau kupesan, kamu mau makan tidak?"
"……Nggak usah deh. Aku kan lagi belajar."
Saotome menunjukkan sedikit keraguan sebelum akhirnya menggelengkan kepala.
Kalau Saotome tidak makan, pesan porsi kecil saja kali ya.
Selesai memesan dan mengambil minuman seadanya, aku mulai belajar.
"……"
"……"
Tidak ada obrolan di antara kami.
……Sesekali aku merasakan pandangan Saotome yang kelihatan seperti ingin mengajak bicara, tapi kucoba untuk menahannya.
Aku kan baru saja sampai di restoran keluarga.
Saotome mungkin sudah puas belajar dan mulai merasa bosan, tapi pelajaranku sendiri baru jalan sedikit.
Lalu setelah sekitar lima belas menit berlalu.
Pesanan kentang goreng pun tiba di meja.
Aku menyantap kentang goreng sambil melanjutkan belajar.
Mungkin sekitar lima menit sejak aku mulai makan.
Aku menaikkan pandanganku sedikit dari buku referensi.
Mataku beradu dengan mata Saotome.
"……"
"……"
Dia memalingkan wajahnya dengan canggung.
Tapi tak lama kemudian, pandangannya beralih…… bukan padaku, melainkan tertuju pada kentang goreng.
Raut wajahnya kelihatan sangat menginginkannya.
Dia sempat mencoba membuka mulut beberapa kali, tapi langsung menutupnya kembali seolah berusaha menahannya.
Gara-gara sudah terlanjur bilang "nggak usah", dia jadi gengsi untuk
bilang ingin makan.
Gengsinya tinggi di tempat yang aneh seperti biasa.
"Mau makan?"
"K-kenapa tanya begitu? ……Padahal aku tidak ingin makan lho?"
Saat kucoba menanyainya, dia malah memasang gengsi yang tidak jelas.
Padahal kalau bilang ingin makan secara jujur kan tinggal bilang saja……
"Begitu ya. Ya sudah kalau begitu."
"……Tapi, kalau Himuro-kun tidak sanggup menghabiskannya, bukan berarti aku tidak boleh membantumu memakannya sih?"
"Peka dong."
Raut wajahnya seolah berkata begitu.
Lagipula kalau kurang aku tinggal pesan lagi, jadi membaginya separuh sih tidak masalah buatku.
Tapi karena kelihatan lucu, kucoba untuk mengerjainya sedikit lagi.
"Nggak kok, kalau cuma segini sih aku sanggup menghabiskannya."
"……"
Aku dilototi.
Ekspresi wajahnya seolah memprotes, "Jangan sejahat itu dong."
Memang agak keterlaluan sih jahatnya.
"Kalau mau makan, makan saja kok."
"B-bukannya aku berniat makan sih……"
"Kalau tidak mau, bakal kuhabiskan semuanya tahu."
Aku mengatakannya sambil menatap Saotome.
Seketika itu juga Saotome memalingkan pandangannya dengan canggung.
Lalu dengan wajah yang sedikit merona, dia mengangguk.
"……Mau."
Kemudian dengan raut cemberut, dia mengulurkan tangan ke arah kentang goreng.
Satu batang masuk ke dalam mulutnya.
"……"
Setelah itu dua batang, tiga batang, terus saja masuk ke dalam mulutnya tanpa henti.
Kelihatannya dia sudah tidak bisa berhenti lagi.
……Kalau begini porsiku bakal habis dong.
Pesan kentang goreng tambahan sih bisa saja, tapi mumpung ada
kesempatan, ganti menu lain saja kali ya.
"Aku berniat pesan pizza nih. Kamu mau makan juga?"
"……Kalau Himuro-kun yang pesan sih."
"Kalau popcorn shrimp?"
"……Kalau cuma sedikit saja sih."
Saotome mengangguk sambil menutupi wajahnya pakai buku referensi.
Malah kelihatan lebih malu ketimbang saat sedang tidak memakai celana dalam.
……Pola pikir etikanya bagaimana sih anak ini?
Sambil memiringkan kepala heran, aku memesan menu tambahan lalu kembali belajar.
"……Hei, Himuro-kun."
Mendadak Saotome mengajakku bicara.
Harusnya aku fokus belajar.
Tapi mengabaikan Saotome juga rasanya kurang sopan kan.
……Sambil beralasan begitu di dalam hati, aku mengalihkan pandangan ke arah Saotome.
"Ada apa?"
"Menurutmu hari ini warna apa?"
Saotome mengatakannya dengan wajah yang merona tipis.
Lalu memasang raut wajah yang tampak puas.
……Ternyata hal yang dari tadi ingin disampaikannya itu toh.
Baru kali ini dia mengatakannya secara terang-terangan berhadapan begini.
Tapi warna hari ini ya……
Aku mengalihkan jalan pikiranku dari soal buku referensi ke isi di dalam rok Saotome.
Bukannya aku menghitung jumlahnya sih, tapi warna yang paling sering dipakai di dalam rok Saotome adalah hitam.
Sepertinya dia suka pakaian dalam bernuansa hitam.
Menyusul kemudian warna putih.
Lalu warna biru dan merah.
Warna merah muda ternyata lumayan jarang.
Sesekali ada warna lain seperti kuning atau hijau.
Untuk kemungkinan "tidak pakai", sepertinya kali ini bisa dicoret.
Dari caranya bertanya "menurutmu warna apa?", artinya dia sedang pakai.
Jadi untuk kemungkinannya, warna hitam adalah yang paling tinggi.
Tapi kalau menambahkan kondisi lain, jawabannya bisa berubah.
Misalnya kalau ada pelajaran olahraga, warna putih jadi lebih sering dipakai.
Mungkin kalau warna hitam, tank top atau branya bakal terlalu menerawang jadi bikin malu.
Warna putih juga menerawang sih…… tapi tidak separah warna hitam.
Selain itu tergantung suasana hati hari itu, Saotome suka mengganti warna isi di balik roknya.
Lalu untuk hari ini……
"Merah bukan?"
"……Kenapa berpikir begitu?"
"Buat memicu semangat."
Hari-hari di mana ada hal yang butuh semangat ekstra seperti ujian, rasanya warna merah jadi lebih sering dipakai.
Tentu saja tetap ada pengecualian sih.
"Fuun, begitu ya."
"Jawabannya benar?"
Saat aku bertanya, Saotome memberi isyarat tangan pelan menyuruhku mendekat.
……Padahal kurasa tidak bakal ada orang yang sengaja mencuri dengar juga sih.
Aku memajukan badan lalu mendekatkan telingaku ke arah Saotome.
"Biru."
Hembusan napas Saotome mengelus telingaku.
Kemudian Saotome menyunggingkan senyum lebar.
"Sayang sekali, jawabanmu salah."
"……Gitu ya."
Agak bikin emosi ya.
"Soalnya biar bisa fokus, aku ingin suasana yang agak tenang."
……Memangnya warna pakaian dalam bisa bikin suasana hati jadi
tenang ya?
Tanpa sadar aku memiringkan kepala heran.
"Tapi semangat juga penting kan. Makanya unsur itu juga dimasukkan."
"……Unsur?"
"Yah, itu lho. ……Semacam pakaian dalam keberuntungan."
Saotome mengatakannya dengan raut wajah sok tahu.
"Hee."
Lawan bertandingnya cuma buku referensi, memangnya ada efeknya ya?
Lagian apa hal semacam itu bisa bikin makin bersemangat?
"Menurutmu seperti apa desainnya?"
"U-uung……"
Kalau ditanya desainnya sih……
Mana mungkin aku paham desain pakaian dalam wanita.
Lagian bagiku semuanya kelihatan sama saja.
"Cawat? ……Nggak ding, bercanda."
Melihat pandangan Saotome mendadak dingin, aku buru-buru mengoreksi perkataanku.
Meski begitu, pakaian dalam dengan desain yang bisa bikin makin bersemangat selain cawat tidak ada lagi yang terlintas di pikiranku sih.
"……Hampir benar tapi masih agak jauh kali ya."
"Eh?"
Masa sih, dia beneran pakai cawat!?
Saat aku sedang kebingungan, Saotome memberi isyarat tangan pelan menyuruhku mendekat.
Saat aku memajukan badan……
"T-back."
Saotome membisikkannya.
Aha.
Memang sih kalau dibilang hampir mirip ya mirip…… kali ya?
"Pas hari ujian, aku berniat pakai yang desainnya sama tapi warna
merah lho."
Pakaian dalam keberuntungan T-back warna merah ya.
……Bayanginnya saja bikin dadaku agak berdebar.
"Beralih dari topik itu, Himuro-kun."
"A-apa?"
"Kalau ujian akhir semester sudah selesai, mau tidak jalan denganku?"
"Ja-jalan!?"
Tanpa sadar suaraku agak meninggi.
Kalau diajak jalan tepat setelah membicarakan pakaian dalam keberuntungan, wajar kan kalau aku agak berharap lebih.
Tapi kalau dipikir pakai akal sehat, aku tahu Saotome tidak berniat ke arah sana.
"Maksudmu minta ditemani belanja?"
"Kurang lebih begitu."
Berarti jadi pembawa barang belanjaan ya.
Nggak masalah sih.
Saat aku hendak menjawab begitu……
"Terus, yah, aku merasa ingin sedikit bermain juga sih…… tidak boleh?"
Sambil mendongak, dia memohon seperti itu padaku.
Jantungku rasanya berdegup kencang.
"……Ya tentu saja boleh."
"Baguslah kalau begitu. Kalau begitu pas hari libur setelah ujian selesai ya. Mohon bantuannya."
Saotome tersenyum kelihatan senang.
◆ ◆ ◆
Namaku Sayaka Saotome.
Seorang gadis cantik murid SMA kelas satu.
Seberapa cantiknya aku, aku ini gadis paling cantik nomor dua di
Jepang.
Bicara soal siapa yang paling cantik nomor satu di Jepang, dia adalah kakak tiri satu ayah beda ibu denganku.
Seira Saotome.
Cantik, ramah, dan anggun…… kakak yang sangat kucintai.
Meskipun kakakku seperti itu, belakangan ini sikapnya agak aneh.
"Selamat datang kembali, Kakak. ……Pulangnya lambat ya."
"……Iya."
Sesekali dia pulang terlambat.
Aku dan Kakak bersekolah di sekolah yang sama.
Meskipun Kakak tingkatnya satu tahun di atasku──kelas dua SMA, tapi
jam pulang sekolah harusnya tidak berbeda jauh.
"……Apa Kakak pergi main ke suatu tempat dengan teman?"
"Yah…… bisa dibilang begitu."
Kakak sedikit memalingkan pandangannya.
Raut wajahnya kelihatan canggung.
Selain itu wajahnya agak sedikit memerah.
……Mencurigakan.
"Apa pacar Kakak?"
"Eh?"
Kucoba menanyakannya secara iseng.
Tentu saja aku cuma bercanda sih……
"B-bukan!"
Tidak seperti biasanya, Kakak membantahnya dengan suara agak tinggi.
Padahal biasanya Kakak selalu bersikap cool dan tenang……
"A-orang semesum…… nggak, bukan apa-apa kok."
Semes……
Mesum!?
Kakak yang hampir membocorkan hal yang bikin penasaran itu, tanpa sadar sudah kembali memasang raut wajah tenangnya yang biasa.
"Bukan pacar kok. ……Cuma teman. Jangan bilang ke Kakek dan yang lainnya ya. Nanti mereka berisik."
"……I-iya, tentu saja."
Begitu aku mengangguk, Kakak melangkah pergi begitu saja.
……Firasatku terasa tidak enak.
Setelah beberapa waktu berlalu sejak hari itu, tiba hari libur.
"~♪"
Hari ini Kakak kelihatan bersemangat sekali.
Padahal biasanya kalau pagi hari dia suka kelihatan ketus, tapi khusus hari ini dia malah sampai bergumam menyanyi.
Ditambah lagi dia menyisir rambutnya jauh lebih telaten dari biasanya.
Lalu riasan wajah yang biasanya jarang dilakukannya pun terpasang dengan sangat sempurna.
……Sampai di sini sih masih mending.
Masih bisa diartikan kalau dia mau pergi main sama teman-temannya.
Tapi yang bikin kepikiran adalah pakaiannya.
Baju atasan menerawang dipadu dengan rok mini ketat warna hitam.
Agak sedikit terlalu terbuka.
Penampilannya seolah lebih memperhitungkan pandangan lawan jenis ketimbang sesama jenis.
Biasanya dia tidak pernah memakai pakaian seperti ini.
Fakta kalau dia punya pakaian seperti ini saja sudah bikin kaget.
"Apa ini agak terlalu berani ya? Nggak ah, tapi kalau segini sih……"
Kakak berbisik-bisik sendiri di depan cermin.
Sudah sepuluh menit lebih dia memastikan penampilannya dengan sangat teliti.
Padahal biasanya asal-asalan……
Sepertinya beneran pacar ya.
Pasti begitu.
Mana mungkin di depan teman sesama jenis dia dandan sampai sejauh
ini dan pusing memikirkan pakaian.
Kakak yang kelihatannya tidak tertarik sama cowok pun akhirnya kejatuhan bunga-bunga asmara juga ya.
Jujur saja rasanya rumit.
Ada perasaan tidak rela menyerahkan Kakak tercinta kepada cowok yang tidak jelas asal-usulnya.
Tapi Kakak yang sekarang kelihatan sangat senang.
Kulitnya juga agak memerah…… benar-benar wajah gadis yang sedang jatuh cinta.
……Sebagai adik, harusnya aku mendukung jalan cinta dan kebahagiaan Kakak kan.
Sambil menekan rasa cemburu di hati, aku memberikan dukungan untuk Kakak di dalam hati.
Semangat ya!!
"……Sip."
Bersamaan dengan dukunganku, Kakak mengepalkan tangannya pelan.
Tampaknya dia sudah puas dengan dandannya.
Lalu seolah sebagai sentuhan terakhir, Kakak memasukkan tangannya ke dalam roknya sendiri.
Kemudian dari balik roknya, dia menarik keluar pakaian dalam berenda warna hitam yang kelihatan seksi, lalu menyimpannya di dalam tas.
……Eh?
Eh!?
Eeeeeeh!?!?!? Otakku mendadak membeku.
Sambil bergumam menyanyi, Kakak berjalan melewatinya.
Lalu dia pun berangkat pergi.
Tanpa memakai apa-apa di dalamnya.
"Eh? Ke-kenapa…… ke-kenapa!?"
Aku tidak paham alasannya kenapa tidak memakai pakaian dalam.
Gara-gara panas?
Nggak, mana mungkin.
Lagipula pakaian dalam yang menerawang, berenda, dan minim bahan seperti itu mau dipakai atau tidak dipakai pun harusnya tidak ada pengaruhnya sama sekali ke suhu tubuh.
Masa sih, hobinya Kakak?
Hobi eksibisionis!?
Nggak, mana mungkin!
Soalnya Kakakku yang anggun dan jelita tidak mungkin punya kelainan aneh semacam itu!!
Kalau begitu punya siapa…… jangan-jangan!?
Hobi pacarnya!? Tadi kan bilang mesum……
Nggak, tapi walaupun pacarnya mesum, Kakak tidak punya alasan untuk
patuh begitu saja.
Kalau begitu, jangan-jangan……
"Diancam!?"
Pegangan rahasianya dipegang!?
Lalu dia dijinakkan!?
Mirip seperti di komik mesum!?
M-masa sih……
Bisa seenaknya memperlakukan Kakak yang cantik, anggun, dan jelita itu, bikin iri…… nggak, bukan!! Tak ampun!!
◆ ◆ ◆
Akhir pekan setelah ujian akhir semester usai.
Aku berjanji bertemu dengan Saotome di bundaran depan stasiun.
Beberapa saat melewati waktu janjian, sebuah mobil berhenti di
bundaran.
Lalu dari dalam mobil muncul seorang gadis berambut perak.
"Maaf ya, aku agak terlambat."
Saotome yang muncul sambil mengatakan hal itu mengenakan baju atasan menerawang warna putih dengan rok mini warna hitam.
Di balik baju atasannya, dia memakai tank top hitam, menegaskan kulit putihnya yang mulus di bagian bahu dan lengan atas.
Kaki telanjangnya yang mencuat dari balik rok mini dipadukan dengan
sandal hak tinggi warna krem.
Sangat bergaya khas musim panas……
Tapi pakaiannya agak terlalu terbuka.
Seseorang tidak bakal bisa memakainya kalau tidak percaya diri dengan kulitnya sendiri.
"……Nggak kok, aku juga baru sampai."
Aku menjawab sambil memalingkan pandangan.
Sensasinya agak terlalu kuat sampai-sampai rasanya sulit untuk menatapnya langsung.
"Tidak ada yang mau kamu katakan?"
"Cocok kok. Kamu kelihatan lebih cantik dari biasanya."
"Fuun, pas-pasan banget pujiannya."
Mendengar kesan jujurku, Saotome mendengus pelan.
Namun berlawanan dengan kata-katanya, sudut bibirnya sedikit melonggar, dan dia memainkan rambutnya dengan canggung.
Tampaknya dia merasa malu.
"Ngomong-ngomong, Himuro-kun."
"Apa?"
"Hari ini…… menurutmu bagaimana?"
Saotome bertanya padaku sambil menjepit sedikit rok mininya.
U-uuh.
"……Hitam bukan?"
Pertama-tama, kuanggap dia pasti pakai, bukannya tidak pakai.
Soalnya rok Saotome hari ini lumayan pendek.
Tiap kali Saotome tidak pakai, dia pasti selalu memakai rok yang lebih panjang.
Walau cuma beda tipis, dia bakal memakainya sedikit lebih panjang untuk memperketat pertahanan.
Makanya hari ini dia pasti pakai.
Lalu hari ini Saotome memakai tank top hitam.
Meskipun warna tank top tidak selalu sama dengan bra atau celana dalam, tapi lebih sering disamakan.
Terlebih lagi, Saotome itu suka warna hitam.
Karena hari ini terhitung kencan, tidak aneh kalau dia memilih warna hitam.
Lalu, yah…… itu juga selera pribadiku sih.
"Setengah benar ya."
"……Setengah?"
"Yang ini sih memang hitam."
Saotome mengatakannya sambil menunjuk baju atasan──tank top yang dipakai di balik bajunya.
Secara alami mataku tertuju pada tank top dan belahan dada putih yang
mengintip sekilas.
Aku buru-buru memalingkan mata.
Karena dia memakai baju atasan menerawang, dari luar pun kelihatan kalau tank top-nya warna hitam.
Jadi yang dimaksud Saotome bukan tank top-nya, melainkan bra di baliknya kan.
……Begitu ya, yang atas warna hitam.
Terus kalau yang bawah?
Masa warnanya tidak sama?
Bukankah umumnya satu set atas-bawah itu warnanya sama?
Bukannya aku pernah memikirkan kombinasi warna pakaian dalam wanita sih.
"Kalau yang ini, tadi sebelum berangkat sih warnanya hitam."
Rupanya tebakanku meleset.
"……Aku ingin mencobanya sekali pakai baju bebas."
Saotome mengatakannya sambil menggoyangkan kakinya gelisah.
"Kalau di sekolah kan aman."
"H-ha……?"
Memangnya sekolah itu aman ya?
Yah, setidaknya tidak ada orang mencurigakan atau penjahat kelamin,
jadi terhitung aman kali ya.
"Lindungi aku ya……?"
Saotome mengatakannya sambil mengedipkan sebelah mata pelan.
"Serahkan saja padaku."
Setelah mengatakannya, aku mengulurkan tangan pada Saotome.
Mata Saotome membelalak terkejut, lalu tersenyum malu-malu.
"……Kalau begitu, tolong escort aku ya."
"Aah, tentu saja."
Sambil menggenggam tangannya yang lembut, aku mengangguk.
◇ ◇ ◇
"Lalu pertama-tama kita mau ke mana nih?"
Aku bertanya pada Saotome.
Tujuan utama kencan kali ini kan harusnya belanja……
"Eh? Rencana kencan bukannya disusun oleh pihak cowok?"
……Cewek ini.
Kalau begitu harusnya bilang dari awal dong.
"Bercanda kok. Jangan pasang wajah begitu dong."
Saotome tertawa lalu menunjuk ke arah pusat perbelanjaan di depan
stasiun.
"Aku mau beli baju. Temani ya."
"Mengerti."
Kami pun segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan.
Di dalam pendingin ruangannya terasa dingin dan sejuk.
"Jadi mau beli apa nih?"
"Untuk sementara, kita lihat dari atas dulu."
"……Dari atas?"
Baju bagian atas?
Mendengar pertanyaanku, Saotome menunjuk ke arah langit-langit.
"Dari atas."
……Dari lantai atas toh.
Pusat perbelanjaan ini punya lantai dari lantai enam sampai lantai dua
bawah tanah lho.
Yah, tidak apa-apa sih.
"Selanjutnya ayo ke toko yang ini."
Ucap Saotome sambil melangkah masuk ke toko kelima.
Sejauh ini, baju yang dibeli masih nol.
Dibanding harus membawa tumpukan belanjaan sih memang lebih mending begini, tapi kalau sampai tidak membeli satu potong baju pun rasanya waktu yang dihabiskan sejauh ini untuk apa coba.
……Tentu saja tidak kuucapkan keras-keras.
"Kalau yang ini gimana menurutmu?"
Tanya Saotome sambil memegang gaun terusan bermotif bunga.
"Bagus-bagus saja kan?"
"Jawabannya sama kayak tadi kan."
Mana aku paham bagus tidaknya baju wanita.
Lagipula dasarnya Saotome itu cantik, jadi pakai baju apa saja pasti
cocok.
Makanya jawabanku bakal berakhir sama saja.
"Aku ingin mendengar pendapat jujurmu tahu."
"Aku tidak punya selera mode sama sekali lho. Pengetahuan juga tidak ada."
"Tidak masalah kok. Aku cuma mau dengar buat referensi saja."
Gitu ya.
……Gitu ya, kalau begitu.
"Agak kelihatan kayak baju ibu-ibu sih."
"……Gitu ya. Paham sih maksudmu."
Rupanya Saotome juga merasakan hal yang sama.
Tanpa mencobanya, dia mengembalikan baju itu.
"……Ngomong-ngomong Himuro-kun, ada baju yang kamu suka tidak? Di toko ini."
"Aku tidak punya hobi pakai baju cewek lho."
"Kamu ngomongnya beneran?"
"Jangan melotot dong, cuma bercanda. ……Boleh nih aku yang pilih?"
"Buat referensi saja."
Tapi selera pribadiku ya.
Kalau sampai memilih baju yang aneh banget, bisa-biasa diejek nih.
Ingin memilih baju yang aman dan pasti cocok sih tapi……
"Kalau yang ini gimana?"
"Fuun."
Yang kuambil adalah gaun terusan warna putih.
Tidak ada corak yang mencolok.
Hanya kain putih bersih yang dihiasi renda dan pita saja, gaun terusan yang simpel.
Terlepas dari sifat aslinya, Saotome kan punya penampilan dan atmosfer yang anggun, jadi pasti cocok.
"Cowok memang suka yang begini ya."
Reaksi Saotome terasa datar.
Mungkin bukan seleranya kali ya.
"Baju seperti ini kan cuma bisa kelihatan cocok buat orang yang beneran cantik. Dibanding bilang suka gaun terusan putih, mungkin lebih tepatnya kagum sama wanita yang bisa kelihatan cocok pakai gaun terusan putih kali ya."
Ini murni teori umum, pendapat dari sudut pandang laki-laki.
Bukan berarti aku mengagumi Saotome.
Nggak sih, tapi kalau perasaan ingin melihatnya sih ada.
"Fuun."
"Yah, pilih saja baju yang kamu suka. Lagian toko lain masih banyak
kan."
Ucapku sambil berniat mengembalikan gaun terusan itu.
Namun pergelangan tanganku ditahan oleh Saotome.
"Aku mau coba dulu. Sini."
"Eh? Aah…… oke."
Saotome merebut gaun terusan putih itu dari tanganku lalu menghilang ke dalam kamar ganti.
Suara gesekan baju saat dia berganti pakaian terdengar samar.
Lalu beberapa saat kemudian, tirai kamar ganti terbuka.
"Gimana?"
"Ooh……"
Tanpa sadar suara terkagum terlepas dari mulutku.
Memang beda ya orang yang punya bentuk tubuh dan garis wajah layaknya seorang model.
Dia bisa memakai gaun terusan putih itu dengan sangat sempurna.
……Tapi, rasanya masih ada yang kurang sedikit.
"Bisa tunggu sebentar tidak?"
"Un? Yah, boleh saja sih."
Seingatku di sebelah sana tadi ada yang jual deh.
Ada, ketemu.
Ini dia.
Aku mengambil barang yang kucari lalu bergegas kembali ke tempat Saotome.
"Coba pakai ini."
"Topi jerami? Yah, boleh saja sih."
Dengan raut wajah agak heran, Saotome tetap memakai topi jerami itu.
Rasanya seperti kepingan puzzle yang tadinya kurang akhirnya terpasang dengan pas.
Gadis cantik + gaun terusan putih + topi jerami.
Satu jawaban sempurna telah tercipta.
"Kalau latar belakangnya pantai atau ladang bunga matahari, pasti bakal kelihatan lebih pas lagi tuh."
"Gimana ya, klise banget tahu."
Saotome bergumam pelan sambil memandangi bayangan dirinya di cermin.
Raut wajahnya kelihatan agak rumit.
Mungkin ini memang bukan seleranya.
"Warna tank top-nya harus dipikirkan lagi nih. Kalau menerawang
begini kelihatan norak."
Di balik gaun terusan putihnya, tank top hitam Saotome tampak
menerawang dari luar.
Karena bahannya bukan tipe yang menerawang, memang tidak setransparan baju bebas yang dipakainya tadi sih.
Tapi gaun terusan putih kan pada dasarnya bukan baju yang dirancang untuk memperlihatkan pakaian di dalamnya secara menerawang.
Untuk mempertahankan kesan anggunnya, memang lebih baik kalau tidak menerawang.
Tentu saja, Saotome itu sendiri tidak ada anggun-anggunnya sih.
Tapi baju yang memberikan kesan anggun memang cocok untuknya, dan yang paling utama dia punya atmosfer ke arah sana.
Auranya itu lho yang anggun.
Terlepas dari sifat aslinya.
"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu."
Ucap Saotome lalu menutup tirainya kembali.
Tak lama kemudian, Saotome yang sudah berganti pakaian ke baju bebasnya semula berdiri di sana.
"Nih."
Dengan santai Saotome memasukkan gaun terusan dan topi jerami itu ke dalam keranjang belanjaan yang kupegang.
"……Mau dibeli?"
"Iya. ……Soalnya kupikir tidak buruk juga."
Setelah mengatakannya, Saotome memalingkan wajah.
"Bukannya aku menyesuaikan dengan seleramu lho ya. Jangan salah paham."
Pipi Saotome merona tipis saat mengatakan hal itu.
◇ ◇ ◇
"Bagaimana kalau kita istirahat dulu?"
Waktu menunjukkan pukul sebelas.
Aku mengusulkan hal itu kepada Saotome.
Memang agak kepagian untuk makan siang, tapi kalau tunggu sampai jam dua belas tempatnya bakal ramai.
Kalau mau masuk ke restoran, jam segini pas banget.
"Benar juga. ……Apa ada kandidat restorannya?"
"Gimana ya. Kalau kafe yang estetik sih lumayan ada."
"Kalau begitu serahkan padamu saja. Pilihkan tempat yang bagus ya."
"Jangan terlalu berharap tinggi lho."
Kafe estetik yang umum disukai orang.
Nggak sih, tapi dia kan ternyata suka makanan siap saji juga.
Setelah memikirkan hal itu……
"Restoran khusus omurice? Hee, ada tempat seperti itu ya."
Tempat yang kupilih adalah restoran khusus omurice.
Kalau ini sih dia pasti puas.
"Bagaimana?"
"Boleh juga."
Untunglah responnya positif.
Kami berdua berjalan menuju restoran.
Untuk menuju ke sana, kami harus naik eskalator untuk menuju ke lantai atas……
"Himuro-kun."
"Apa?"
"Lindungi bagian belakangku ya?"
"……Belakang?"
Belum sempat aku memiringkan kepala heran memikirkan maksudnya,
Saotome sudah lebih dulu naik ke eskalator.
Aku menyusul di belakangnya.
Lalu akhirnya aku paham maksudnya.
Roknya berada di batas yang rawan.
Bukan berarti begitu berdiri di belakangnya langsung kelihatan sih, tapi pendeknya pas di batas kalau sengaja diintip dari bawah baru bisa kelihatan.
……Ngomong-ngomong, hari ini dia kan tidak pakai ya.
Teringat kembali fakta yang sempat kulupakan itu, rasa penasaran soal isi di balik roknya mendadak menguasai pikiranku.
"Terima kasih ya."
Begitu turun dari eskalator, Saotome mengedipkan sebelah matanya padaku.
Dilanda rasa bersalah, aku refleks memalingkan pandangan.
Karena kami datang cukup awal, kami bisa langsung dapat tempat duduk di dalam restoran.
"Aku…… pesan yang original saja deh."
"Kalau begitu aku pesan yang gaya Jepang kali ya."
Omurice original dan omurice gaya Jepang.
Kami memesan masing-masing satu porsi.
Makanannya tiba sekitar lima belas menit kemudian.
Aku menggunakan sendok untuk memotong omurice gaya Jepang lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
Dasarnya tetap omurice sih, tapi sesuai namanya yang "gaya Jepang", ada aroma kecap asin dan kaldu yang tercium samar.
Kukira bakal aneh, tapi ternyata tidak buruk juga.
"Yang itu enak?"
"Lumayan."
"Boleh minta satu suap?"
"Boleh kok."
Apa ada piring kecil ya?
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling meja, tapi tidak ada benda semacam itu.
Harus minta ke pelayannya kali ya.
Tepat saat aku memikirkan hal itu dan melihat ke depan, Saotome sudah
membuka mulutnya sambil memajukan badan.
"……"
Setelah berpikir sejenak, aku mengambil sendok baru dari kotak alat makan.
Aku memotong bagian yang belum kumakan di sisi satunya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut Saotome.
"Bagaimana?"
"……Lumayan."
Saotome menjawab setelah mengunyahnya.
Berlawanan dengan kata-katanya, raut wajahnya kelihatan agak cemberut.
Apa kurang enak ya……?
"Aku boleh minta milikmu juga?"
"……Iya, boleh saja kok."
Saotome juga memakai sendok baru lalu memotong omurice miliknya.
Kemudian dia menyodorkan sendok yang berisi omurice itu ke arahku.
"Nggak, taruh di piringku saja……"
"Cepat!"
Sendok itu dipaksa mendekat ke mulutku secara paksa.
Mau tidak mau aku menyambut sendok itu ke dalam mulut lalu
mengunyah omurice-nya.
"Gimana?"
"……Enak."
"Begitu ya. Baguslah kalau begitu."
Ucap Saotome lalu mendengus pelan.
Tampaknya kekesalannya sudah sedikit mereda.
"Habis belanja kita mau ke mana nih?"
"Gimana ya……"
Sambil ngobrol, kami menyantap omurice.
Setelah makan sekitar separuh, aku berniat minum air……
"Ah."
Kleting.
Mengeluarkan suara berdenting, sendokku jatuh ke lantai.
Aku membungkuk lalu memungut sendok yang jatuh di lantai.
Lalu tanpa sengaja, aku menatap ke depan.
Di sana ada kaki putih Saotome.
Saat menaikkan pandanganku sedikit ke atas dari kakinya yang jenjang dan mulus, ada rok yang menutupi separuh pahanya.
Secara alami pandanganku tersedot ke arah bagian dalam roknya
dan……
"Sendoknya ketemu?"
"A-aah…… dapat kok. Aduh!"
Saat aku buru-buru berdiri, kepalaku membentur meja.
"Kamu ngapain sih?"
"……Beneran deh, aku ngapain coba."
Memang beneran deh.
Mencoba mengintip itu tindakan yang tidak baik.
Selesai makan.
Kami kembali berbelanja.
"Selanjutnya aku berniat pergi ke toko yang itu."
"……Aah."
Toko yang ditunjuk Saotome adalah toko pakaian dalam.
Pakaian dalam berwarna-warni yang penuh warna dijual di sana.
"Mau bantu pilihkan bersama?"
Saotome mengatakannya sambil menyunggingkan senyum jahil.
Jelas saja dia cuma bercanda kan.
"Boleh kok."
"……Eh?"
Mendengar jawabanku, wajah Saotome membeku.
Pipinya yang putih merona tipis.
"T-tidak, maksudku, anu……"
"Cuma bercanda kok."
Saat kubalas begitu, tulang keringku langsung ditendang dari bawah.
Lalu dia mendengus dan melangkah sendirian menuju toko.
Padahal yang duluan mengerjai kan dia sendiri……
Beberapa saat kemudian, Saotome kembali dengan kantong kertas di tangannya.
"Nih. Pegangkan."
"Sip."
"Tidak boleh diintip ya?"
"Nggak bakal diintip kok."
"Pake bilang begitu segala. Padahal aslinya penasaran banget kan?"
"Kalau tidak dilihat kan ruang imajinasinya jadi makin luas."
"……Benar juga sih."
Mendengar jawabanku, Saotome menunjukkan raut wajah paham.
Begitu saja sudah cukup nih……?
Toko berikutnya yang kami singgahi adalah toko pakaian renang.
Berbeda dengan toko pakaian dalam yang tadi, di sini pakaian renang pria juga dijual.
"Aku juga boleh sekalian lihat-lihat tidak?"
"Ara? Himuro-kun mau beli juga?"
"Punya milikku rasanya sudah makin lama."
Ukuran bajunya juga sudah tidak pas lagi, warnanya juga sudah mulai pudar.
Bukannya aku peduli soal desain sih, tapi kalau kelihatan kelewat jadul kan tidak bagus.
"Kalau begitu, nanti kalau sudah selesai kumpul di depan toko ya."
"Mengerti."
Aku berjalan menuju area pakaian renang pria.
Aku memilih pakaian renang yang tidak terlalu mencolok dan tidak
terlalu polos.
Sekalian aku juga membeli kacamata renang, krim tabir surya, dan topi renang.
Meskipun begitu belanjaanku masih jauh lebih cepat.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, tepat saat aku berniat mengecek ke dalam, Saotome kembali.
"Maaf ya membuatmu menunggu. ……Bisa tolong bawakan?"
"Boleh-boleh saja sih, tapi barangmu agak banyak ya?"
"Aku beli dua stel. Sama rashguard juga."
"Dua stel?"
Baju renang kan bukannya barang yang sering dipakai berulang kali, rasanya tidak perlu punya banyak-banyak……
"Yang satu stel sih tipe biasa. Yang bisa dipakai buat pelajaran maupun rekreasi."
"Satu stel lagi?"
"……Yang agak berani."
Yang agak berani, ya.
……Jadi penasaran.
Kalau aku mengajak ke laut atau kolam renang, apa dia mau memperlihatkannya padaku?
"Semua belanjaan sudah selesai sih…… tapi kalau mau bubaran sekarang masih agak kepagian ya."
"Benar juga. ……Mau cari tempat buat menghabiskan waktu?"
"Kalau kamu punya rencana, coba kudengar."
Nah, bagusnya bagaimana ya.
Barang bawaan lumayan banyak, aku tidak mau banyak bergerak.
Kalau begitu……
"Bagaimana kalau ke karaoke? Bisa sekalian menaruh barang."
"Karaoke ya. Boleh juga."
Kami menemukan tempat karaoke yang kelihatan murah di dekat sana, lalu masuk.
Kamar yang ditunjukkan pada kami, mungkin karena khusus untuk dua orang, ukurannya tidak terlalu luas.
Begitu aku duduk di sofa, Saotome langsung duduk di sebelahku.
Padahal harusnya duduk di depan kan bisa.
"Pilih duluan saja."
"Ara, terima kasih ya."
Saotome langsung mengoperasikan layar sentuh dan mulai memilih lagu.
Aku memperhatikan layar sentuh dari samping sambil condong menatapnya.
Lalu tanpa sengaja, pandanganku teralih ke bawah……
Paha putih Saotome melompat masuk ke jarak pandangku.
"Hei, Himuro-kun."
"A-apa?"
"……Penasaran banget ya?"
"……Penasaran apa coba?"
Saat aku pura-pura tidak tahu, Saotome terkekeh kesenangan.
Lalu dia sengaja menyilangkan kakinya.
Pandangan mataku mau tidak mau jadi tersedot ke sana.
"Padahal seharian ini kamu memikirkannya terus lho."
"Mana ada aku begitu?"
"Tapi bukannya pas di restoran keluarga tadi kamu mencoba mengintip?"
Glek.
"Bukannya mencoba mengintip."
"Ara. Kalau begitu…… kamu ada niatan mau mengintip kan?"
"……Sedikit tergiur saja."
Saat aku menjawab dengan jujur, Saotome tertawa puas.
Lalu dia menjepit sedikit roknya.
"Kalau kamu bisa menang dariku dalam nilai karaoke, mau kuperlihatkan tidak?"
"……Kamu ngomongnya beneran?"
"Kan lebih menegangkan dan seru, kan? ……Tapi sebagai gantinya."
"Apa?"
"Kalau aku yang menang, turuti permintaanku. Satu saja, apa pun itu."
"……Apa pun ya."
"Tentu saja masih dalam batas wajar ya."
……Batas wajar dari orang yang tidak memakai celana dalam ya.
Setelah berpikir sejenak, aku mengangguk.
"Mengerti. ……Tapi kuperingatkan ya, kata-kata 'nggak jadi deh' tidak berlaku lho."
"Tentu saja."
Dengan begini kami bertanding nilai karaoke.
Dan langsung ke kesimpulannya saja, aku kalah.
Padahal aku sudah hampir menyusul, tapi di tengah-tengah lagu
Saotome mendadak mengeluh "panas nih" lalu melepas kancing baju atasannya, atau sengaja menyilangkan kakinya untuk melakukan gangguan secara terang-terangan.
Kalau begini mah pertandingan yang harusnya bisa menang pun jadi tidak bisa menang.
……Tega banget ya mempermainkan perasaan polos seorang cowok.
"Kalau begitu, tolong turuti permintaanku ya."
Sambil menyunggingkan senyum jahil, Saotome mengatakan hal itu.
Aku pasang kuda-kuda membayangkan permintaan tidak masuk akal
apa yang bakal muncul.
"Panggil aku Seira."
"……Eh?"
"Jangan panggil Saotome, tapi panggil Seira. ……Soalnya aku juga bakal memanggilmu Haruki-kun."
Permintaan Saotome ternyata di luar dugaan.
"Cuma buat hal begini saja kamu mau pakai kesempatannya?"
Saat aku mengucapkannya sambil tertawa canggung, Saotome mendengus pelan lalu memalingkan pipinya.
"……Ini bukan hal sepele tahu. Atau kamu lebih suka kupanggil Seira-sama?"
Pipi Saotome──Seira yang mengatakan hal itu tampak sedikit merona.
……Pasti cuma buat menutupi rasa malunya saja.
"Kalau begitu, Seira. Ke depannya juga, mohon bantuannya ya."
"Iya…… Haruki-kun."
Setelah itu, kami menyanyikan satu lagu duet lalu keluar dari tempat karaoke.
◆ ◆ ◆
Laut atau kolam renang, Haruki-kun lebih suka yang mana ya?
Aku──Seira Saotome memikirkan hal semacam itu sambil berjalan
pulang ke rumah.
Seketika itu juga adikku──Sayaka Saotome langsung melompat keluar.
"Kakak! A-apa Kakak baik-baik saja!?"
"E-eh…… iya, aku pulang."
……Baik-baik saja?
"Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu khawatir?"
"I-itu tuh, anu…… e-eh, itu……"
Apa ada sesuatu yang sulit diucapkan ya.
Sayaka tampak terbata-bata.
"……A-apa Kakak tidak diperlakukan yang aneh-aneh sama pacar Kakak?"
"Eh? ……P-pacar!?"
Aku dan Haruki-kun!?
Aku merasakan wajahku mendadak jadi sangat panas.
"B-bukan kok…… dia b-bukan pacarku atau semacamnya kok!"
"Be-benarkah begitu?"
"J-jangan menyelidik yang tidak-tidak! Kami tidak punya hubungan semacam itu kok!"
Setelah menegaskan hal itu kepada Sayaka, aku bergegas melangkah menuju kamar pribadiku.




Post a Comment