NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tonari no Seki no Seijo-sama wa Ore ni Kossori Sukāto no Naka o Oshiete Kureru V1 Chapter 1

 Penerjemah: Ceruzz

Proffreader: Ceruzz


Chapter 1

Bagian Kuis yang Mendebarkan

──Fyi, ini yang agak menerawang dan seksi lho.


Pada hari saat menerima laporan semacam itu, pikiran mengenai isi di dalam rok Saotome terus membayangiku sampai aku tidak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran.


Tanpa sadar aku hampir saja mencari gambar "yang agak menerawang dan seksi", tapi berusaha menahannya sekuat tenaga.


Malam harinya, aku hanya bisa gelisah sendirian membayangkan sosok 

Saotome yang mengenakan barang "yang agak menerawang dan seksi" itu.


Gara-gara hal tersebut, aku jadi kurang tidur.


……Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi.


Aku memutuskan untuk memblokir kontak Saotome.


Berkat hal itu, hari ini aku bisa menghabiskan waktu dengan tenang, tapi……


"Hei, Himuro-kun. Maksudnya apa ini?"


Jam istirahat siang keesokan harinya.


Saotome sendiri yang datang mengajakku bicara.


Maksudnya apa apanya, tidak ada apa-apa kok.


"Bicara soal apa?"


"……Ayo ikut aku sebentar."


"Nggak ah, kenapa harus……"


"Sudah, ikut saja!"


Suara Saotome bergema di seluruh kelas.


Membuat kami jadi pusat perhatian dengan cara yang aneh.


……Mau bagaimana lagi.


"Iya, iya."


Demi meluruskan masalah dengan Saotome, aku pun berjalan 

mengikutinya dari belakang.


Tujuan kami adalah belakang gudang olahraga.


"Kenapa kamu memblokirku?"


"Biarlah, demi mencegah pesan-pesan tidak jelas masuk."

Tanpa perlu dipikir secara tenang pun, ini sudah termasuk pelecehan seksual.


Mau secantik apa pun dia, bukan berarti dia boleh melakukan pelecehan seksual, kan.


"……Begitu ya."


Seolah tereksekusi oleh alasanku, Saotome mengangguk dengan raut 

wajah serius.


"Benar juga. Maaf ya, selama ini aku sama sekali tidak memikirkan 

perasaanmu."


"O-oh…… Nggak apa-apa, asal kamu sudah mengerti."


Rupanya dia bisa minta maaf secara jujur tanpa banyak ulah.


Yah, kalau begitu aku juga bakal menganggap masalah kemarin-kemarin selesai dan……


"Kalau begitu, mari kita buat bentuk kuis saja."


"Kok bisa malah ke sana!"


Harusnya alurnya itu berhenti, tahu!


Abaikan protesku, Saotome melanjutkan pembicaraan dengan wajah bangga.

"Kesempatannya cuma sekali. Tapi, entah jawabannya benar atau salah, bakal kuberi tahu jawaban yang sebenarnya."


"Kuis semacam itu, memangnya apa untungnya buatku?"


"Bagus sekali kamu menanyakan hal itu."


Saotome memajukan badannya menanggapi pertanyaanku.


"Kalau jawabannya benar, bakal kuperlihatkan jawabannya."


"……Ha?"


"M-makanya…… m-maksudku, bakal kuperlihatkan ke kamu."

Kuperlihatkan.


Memperlihatkan apa?


Kalau dipikir dari konteksnya, pasti pakaian dalam.


"Bercanda, kan."


"Aku tidak bercanda. Kutaruh kehormatan keluarga Saotome sebagai taruhannya."


"Murah amat ya kehormatan keluargamu."


"Sudahlah, tak usah banyak omong. Cepat tebak."


"Haa……"


"Ah iya, hari ini luar biasa lho."


Saotome mengatakannya dengan raut wajah yang merona tipis.


Luar biasa, katanya……


Mendadak, bayangan khayalan semalam melintas di benakku.


"Hitam?"


"Mana mungkin aku memakai warna yang sama selama dua hari."


Saotome mengucapkannya seolah meremehkanku.


Bisa saja kamu pakai lagi, kan!


Gawat, jangan sampai begini.


Bisa-bisa kejadian kemarin terulang lagi kalau terus begini.


"Padahal aku sudah baik-baik memberi petunjuk, kan."



"Nggak tertarik juga tuh. Kalau begitu……"


Aku mencoba mengakhiri pembicaraan secara sepihak dan berniat pergi dari tempat itu.

Namun, Saotome menahan lenganku.


Lalu membisikkannya tepat di samping telingaku.


"Soalnya hari ini, aku tidak pakai."


……Bercanda, kan?


◇ ◇ ◇


──Soalnya hari ini, aku tidak pakai.


Perkataan Saotome terus terngiang-ngiang sampai makan siangku terasa hambar.


Pelajaran jam keempat, tepat setelah istirahat siang.


Lagi-lagi aku tidak bisa fokus belajar.


Tanpa sadar, mataku terus teralih ke arah Saotome.


Seperti biasa, dia mengikuti pelajaran dengan posisi duduk yang tegak 

dan punggung lurus sempurna.


Kaki jenjangnya yang putih tampak mencuat dari balik rok.


Gaya duduknya benar-benar tertutup dan rapat khas wanita anggun.


Tentu saja, bagian dalamnya sama sekali tidak kelihatan.

Tapi, aku tetap penasaran.


"……?"


Begitu menaikkan pandanganku, mataku beradu dengan mata Saotome.


Saotome tersenyum penuh kejahilan.


Rupanya dia menyadari lirikanku.


Merasa canggung, aku langsung memalingkan wajah ke arah papan tulis.


Tapi, gawat juga nih……


Hari ini aku dapat jadwal piket.


Sepulang sekolah nanti pun aku bakal berduaan lagi dengan Saotome.


◇ ◇ ◇


Lalu sepulang sekolah.


"Hari ini mohon bantuannya lagi ya, Himuro-kun."


"……Ngg."


Seperti biasa, kami melanjutkan pekerjaan piket di kelas.


Akan tetapi, rasanya sulit sekali mengalihkan pikiran dari apa yang ada di dalam rok Saotome.


Panjang roknya sendiri memang di atas lutut, cukup pendek layaknya anak SMA jaman sekarang, tapi apa mungkin karena dia seorang nona muda?


Pertahanannya benar-benar kokoh.


Dia sama sekali tidak pernah melangkah lebar-lebar, jadi posisinya 

selalu berada di batas antara kelihatan dan tidak.


Malahan karena itulah, aku jadi makin penasaran.


Tanpa sadar mataku terus mengikutinya.


Dan setiap kali mata kami bertemu, Saotome selalu menyunggingkan senyum jahil.


Sudah, batasku sudah sampai di sini.


"Anu."


Tak sanggup menahannya lagi, aku memberanikan diri menyapa Saotome.


"Ada apa?"


"Sebenarnya apa maksudmu?"

"Maksudnya?"


"……Soal tidak pakai, lalu soal warna."


"Secara singkatnya ya. ……Mungkin bisa dibilang, hobi?"


Hobi, katanya.


Singkatnya dia cuma ingin mengerjai dan mempermainkanku.


Hal itu sendiri sudah kupahami sejak awal. Tapi, masalah utamanya bukan di situ.


"Kenapa harus aku?"


Aku tidak merasa pernah melakukan sesuatu yang bisa membuat Saotome menyukaiku.


Tapi, kalau perlakuan seperti ini terus berlanjut hari demi hari…… wajar kan kalau aku mendadak berpikir, "Apa jangan-jangan dia ada rasa padaku?"


"Lagipula kamu tidak bakal menyebarkannya ke orang lain, kan?"


"Apa kamu tidak berpikir kalau aku bisa saja salah paham lalu nekat 

melakukan sesuatu padamu? Sekarang kita cuma berdua lho di sini."


"Apa? Kamu berniat menyerangku sekarang?"


"……Nggak, bukan begitu juga sih."


"Tuh, kan."


Saotome terkekeh pelan.


Aku juga punya harga diri, jadi tidak mungkin nekat melakukan hal 

semacam itu……


Tapi tetap saja rasanya menyebalkan saat jalan pikiranku bisa dibaca dengan mudah.


"Jujur saja, ini mengganggu. Hentikanlah. Aku merasa tidak nyaman."


"Itu bohong."


"Kenapa kamu berpikir begitu? Memangnya kamu pikir ada cowok yang senang kalau dikasih pelecehan seksual sama cewek yang tidak dia sukai?"


"Padahal tadi memandangiku dengan tatapan lancang begitu. 

Omonganmu tidak sesuai kenyataan ya."


Glek.


"Mana ada aku begitu."


"Ara, masa sih. Apa cuma perasaanku saja ya. Ya sudahlah kalau begitu."


Saotome tertawa kesenangan.


Sialan, cewek ini……


Aku mencoba membalas argumennya, tapi tidak ada kata-kata bagus yang keluar dari mulutku.


Melihatku yang tak berkutik, Saotome tertawa puas lalu menepuk tangannya.


"Nah, urusan ini cukup sampai di sini dulu. ……Ayo selesaikan pekerjaan kita."


"Sebelum itu, boleh aku tanya satu hal?"


"Apa?"


"Apa kamu benar-benar tidak pakai?"


Bagaimana pun caranya, aku ingin memojokkan Gadis Suci bermuka dua ini.


Pikiranku dipenuhi oleh keinginan itu.


"Ara, ternyata kamu penasaran ya? Nah, kira-kira yang mana ya."


"Begitu ya. Berarti cuma bohong kan."


"……Ha?"

Saotome mengerutkan alisnya.


Sikap tenangnya yang tadinya terlihat santai mendadak runtuh.


Dalam hati aku tersenyum puas.


"Kenapa bisa mengambil kesimpulan begitu?"


"Aku tidak yakin kamu punya keberanian sampai sejauh itu."


Jujur saja, aku sebenarnya berpikir kalau dia memang benar-benar tidak memakainya.


Soalnya sebelumnya, dia pernah menaruh celana dalam yang dilepasnya 

di dalam saku (artinya waktu itu dia memang sedang tidak pakai).


Kalau pernah melakukannya sekali, kemungkinan besar dia bakal melakukannya untuk kedua kali.


"Lagipula kamu tidak bisa menegaskannya, itu saja sudah 

mencurigakan. Kamu memang sebenarnya pakai, kan?"


"……Gh."


Saotome menggigit bibirnya kesal, matanya bergerak ke sana kemari.


Dia pasti sedang mencari balasan yang pas.


Lalu setelah terdiam sejenak, dia melotot tajam ke arahku.


"……Sungguhan tahu. Aku tidak pakai. Kalau begini, kamu sudah puas?"


Saotome mengucapkannya sembari melototiku dengan pipi yang sedikit merona merah.


Cukup mengejutkan saat mendengarnya menyatakan hal yang selama ini sengaja dia buat samar secara gamblang begini.


Seolah puas melihat reaksimu yang terkejut, sudut bibir Saotome sedikit melonggar.


"Lalu, buktinya mana?"


"……Eh?"


"Buktipunya mana? Tidak ada, kan. Lagi pula, masalah warna paling juga cuma bohong, kan? Lagian aku juga tidak punya cara buat memastikannya."


Kecuali kalau dia menyingkap roknya dan memperlihatkannya padaku.


Dan Saotome, sang Gadis Suci, tidak mungkin bakal bertindak dan melakukan hal sejauh itu.


Sangat mustahil untuk membuktikan apakah dia memang tidak menggunakannya.


"Guh……"

Tampaknya dia benar-benar kehabisan kata-kata.


"Ka-kamu…… mau, meyakinkannya……?"


Dengan wajah yang merah padam, dia mengatakan hal itu.


……Ha?


"Ka-kamu omong apa sih."


"Yang minta dibuktikan kan kamu sendiri?"


"Nggak, tapi ya bukan berarti……"


"Cuma sebentar saja ya. Bakal kuberi tahu buktinya."


Setelah mengatakan itu, Saotome perlahan-lahan menyingkap roknya.


Paha putihnya yang tampak sehat perlahan-lahan mulai tersingkap.


Dan saat garis roknya mulai mendekati area segitiga……


"……!"


Aku buru-buru memalingkan wajah.


Tanpa sadar, jantungku berdegup kencang.


Setelah menenangkan diri, aku memberanikan diri mengalihkan 

pandangan kembali……


"Yang sengaja tidak melihat itu kamu sendiri lho."


Saotome berada di sana dengan ekspresi menang.


Panjang roknya sudah kembali ke posisi semula.


"Atau kamu masih berniat bilang tidak percaya? Padahal kamu sendiri 

yang memalingkan mata."


"……Aku tidak seburuk itu sampai tidak mau mengaku kalah."


Kalau memang benar-benar tidak pakai, bukannya malah tidak bakal menyingkapnya sama sekali?


Apa dia benar-benar tidak pakai? Atau sebenarnya pakai?


Keraguan dalam diriku justru makin mendalam.


Tapi mungkin hal itu juga bagian dari rencana Saotome.


Sial, harusnya tadi aku tidak usah memalingkan mata……


Padahal harusnya aku bisa melihat pemandangan yang bagus.


"Kalau begitu…… ke depannya juga, mohon bantuannya ya, Himuro-kun?"


"……Terserah kitalah."


Dengan begini, aku malah berakhir harus melayani hobi eksibisionis dari sang Gadis Suci, atau lebih tepatnya, gadis mesum ini.


◇ ◇ ◇


Keesokan harinya.


Begitu tiba di sekolah, aku langsung dipanggil oleh Saotome.


Di tempat biasa, belakang gudang olahraga.


"Hari ini ada apa?"


"Ini, buatmu."


Yang diserahkan Saotome padaku adalah sebuah amplop.


Amplop cokelat biasa tanpa ada yang istimewa.


"Surat cinta?"


"Mana mungkinlah."


"Terus, apa dong?"


"Di situ tertulis warna hari ini."


Malah makin aneh dong kalau begitu.


Aku melototi Saotome, tapi dia sama sekali tidak peduli.


"Kalau begini, kamu tidak bisa dituduh kalau aku berbohong, kan?"


"……Yah, memang benar sih."


"Ayo, tebak."


"……"


──Fufun.


Saotome memasang raut wajah bangga.


"Bisa-bisanya kamu senang banget mengerjaiku begini?"


"Iya, senang banget."


……Sebenarnya, aku bisa saja mengabaikannya begitu saja.


Tapi kalau begitu, yang tersisa cuma kenyataan kalau aku dipermainkan 

sesuka hatinya oleh Saotome.


Itu sungguh menyebalkan.


Lagipula…… aku memang penasaran dengan isi di dalam rok Saotome.


Biar bagaimanapun juga, aku tetap ingin melihatnya.


Soalnya, aku kan laki-laki.


"Merah."


Tidak mungkin kan dia tidak pakai selama dua hari berturut-turut.


Meski begitu, aku juga tidak tahu warna apa.


Makanya aku memilih warna merah yang umum.


"Coba buka."


"……"


Aku mencoba membuka amplop tersebut.


Yang tertulis di dalamnya adalah…… "Biru".


"Hampir saja ya."


Sama sekali tidak hampir.


Merah dan biru itu bertolak belakang.


"Padahal hari ini aku lumayan niat lho. Bikin kecewa saja."


Saotome mengangkat bahunya dengan gaya yang dibuat-buat.

S-sialan, bikin emosi aja……!!


"Kalau begitu, aku menantikan usahamu lagi besok."


Ucap Saotome dari sudut pandangnya yang merasa lebih unggul, lalu dia menunjuk wajahnya sendiri.


"Pikirkan baik-baik tentang diriku, ya."


"Ke-kenapa juga aku harus memikirkanmu……"


"Kalau tidak mau lihat ya tidak apa-apa sih."


Saotome mengatakan hal itu lalu membalikkan badan hendak pergi.


"Ah, benar juga. Mulai besok, jawabannya dikirim lewat pesan saja ya. Jadi, buka blokirnya oke?"


Si-siapa juga yang mau ikut permainanmu!!


◇ ◇ ◇


Malam harinya.


"Ah, sial! Gara-gara penasaran aku jadi tidak bisa tidur!!"


Aku penasaran dengan isi di dalam rok Saotome.


Lebih dari itu, rasanya kesal karena merasa kalah darinya.

Aku ingin sekali membuat wajah sok cantiknya itu memelas.


Bahkan jika itu berarti aku harus menari di atas telapak tangannya……!


──Pikirkan baik-baik tentang diriku, ya.


Perkataan Saotome melintas di benakku.


Intinya, kalau aku memikirkan tentang Saotome dengan sangat dalam, aku bakal tahu warnanya.


Artinya ada pola atau keteraturan tertentu di baliknya.


"……Kalau jawabannya salah total, Saotome juga pasti merasa bosan kan."


Dia itu pemilik apa yang dinamakan "hobi eksibisionis".


Dan menurutku, "hobi eksibisionis" itu semacam dorongan untuk merusak diri sendiri.


Makin tinggi risikonya, mereka bakal makin bergairah.


Jadi kalau tidak ada risiko sama sekali, Saotome juga tidak bakal bisa 

merasa puas.


Makanya pasti tetap ada celah untuk menebaknya dengan benar.


"Kalau tidak salah, warna-warna sejauh ini adalah……"

Aku menuliskan warna-warna yang pernah diberitahukan Saotome sejauh ini di atas kertas.


Lalu mencocokkannya dengan kalender……


Ah……!


◇ ◇ ◇


Keesokan harinya.


Begitu sampai di sekolah, sebuah pesan langsung masuk.


『Terima kasih sudah membuka blokirnya. Tapi, apa kamu semenaruh perhatian itu?』


Tanpa sadar aku menatap ke arah Saotome.


Dia menunjuk roknya sendiri dengan wajah sok hebat.


Rasanya ingin langsung memblokirnya lagi, tapi aku menahannya sekuat tenaga.


『Hari ini bakal kubuktikan kalau aku bisa menebaknya dengan benar』


『Ara, begitu ya. Oh ya, jawabannya ada di dalam mejamu lho』


Aku memasukkan tangan ke dalam meja.


Di dalamnya ada satu amplop cokelat.


『Jawab sebelum pulang sekolah ya』


『Putih, kan』


Aku mengirimkan pesan tersebut.


Pola yang berhasil kudapatkan.


Yaitu keterkaitannya dengan hari.


Senin: Warna hitam.


Selasa: Warna merah.


Rabu: Warna biru.


Kamis: Warna putih.


Jumat: Warna kuning.


Seperti itulah, warna berkaitan erat dengan hari.


Fyi, warna biru muda dianggap biru, dan warna merah muda dianggap merah.


Memang ada "hari di mana dia tidak memakai", tapi kuanggap itu 

sebagai pengecualian semata.


Lalu kemarin adalah hari Rabu, yang berarti warna biru.


Hari ini adalah hari Kamis, jadi…… harusnya warna putih.


Nah, apakah jawabanku benar?


Aku mengalihkan pandangan ke arah Saotome.


Dia terpaku sambil terus menatap ponselnya.


……Fumu.


Aku membuka amplop cokelat itu.


Tulisan di dalamnya adalah……


Warna putih.


Jawabannya benar.


Yess!!


Tanpa sadar aku mengepalkan tangan penuh kemenangan.


Aku menang!!


Aku memamerkan kertas yang ada di dalam amplop cokelat itu kepada 

Saotome.


Dia sudah pulih dari rasa terkejutnya.


Dengan wajah memerah padam, dia melototiku dengan tatapan kesal.


『Lalu, kamu bakal memperlihatkannya padaku, kan?』


Yah, paling juga tidak bakal mau.


Pikirku sambil mengetik pesan tersebut.


Namun Saotome justru memalingkan wajahnya dengan cemberut.


Tampaknya dia memang tidak berniat menepati janji.


Lagipula, dengan begini hubunganku dan Saotome bakal berakhir……


Baru saja aku berpikir begitu, tak berapa lama kemudian.


『……Sepulang sekolah, datanglah ke belakang gudang olahraga』


Saat jam istirahat siang, balasan darinya baru masuk.


Saotome hanya bisa melototiku dengan wajah dongkol tanpa bisa membalas sepatah kata pun.


Ini kemenanganku.


"Bukannya aku tidak penasaran. Tapi ya, lagian itu cuma bohong kan."


"Ah, begitu. Kalau kamu bicara sampai sejauh itu……"


Saotome meremas ujung roknya.


◇ ◇ ◇


Meskipun ragu apakah dia benar-benar mau memperlihatkannya, aku tetap datang ke belakang gudang olahraga.


Di sana tampak Saotome yang sedang bersedekap dengan gaya sok hebat.


"Yah, kupuji keberhasilanmu menjawab dengan benar."


"Makasih banyak deh."


Entah kenapa aku dipuji dengan sikap sok berkuasanya itu.


Sama sekali tidak membuatku senang.


"Jadi, kamu mau memperlihatkannya padaku?"


"Eh? A-aah…… u-ung…… so-soal itu sih……"


Sikap Saotome mendadak berubah jadi tampak canggung.


Rupanya dia memang enggan.


Yah, wajarlah.


"Kalau kamu tidak mau memperlihatkannya juga tidak apa-apa……"


"Bakal kuperlihatkan kok! Kehormatan keluarga…… terserah deh. Tapi 

harga diriku tidak akan membiarkan ini!"


Harga diri yang mana coba.


"Ta-tapi…… ja-jangan ambil foto atau semacamnya ya?"


"Nggak bakal lakukan hal begitu kok…… ta-tapi kamu sungguhan mau 

memperlihatkannya?"


"Y-ya tentulah!"


Setelah mengatakan itu, Saotome clinguk-clinguk menatap sekeliling.


Lalu dengan raut wajah yang seolah siap menerima nasib, dia meremas roknya dengan kedua tangan.


"Cuma tiga detik saja ya."


Begitu mengucapkannya, Saotome menyingkap roknya.


Warnanya putih.


Celana dalam imut berenda putih yang sedikit menerawang.


Si-anak ini, benar-benar memperlihatkannya……!


"Sudah, selesai!"


Tanpa sadar tiga detik rupanya sudah berlalu.


Saotome sudah menurunkan kembali roknya.


Deg-deg-deg.


Sadar-sadar jantungku sudah berdegup kencang.


"Gi-gimana?"


Saotome bertanya padaku dengan wajah yang merah padam.


"Gi-gimana apanya……?"


"M-maksudku…… kesannya."


Ke-kesan……!?


Mana ada kesan buat celana dalam……


"Ya-yah…… kelihatan anggun, terus imut…… mungkin."


"B-begitu ya."


Rupanya jawaban itu sudah cukup baginya.

Entah kenapa Saotome mengangguk dengan ekspresi puas.


"Ka-kalau begitu, sampai jumpa besok!"


"A-aah…… sampai jumpa besok……"


Saotome langsung berlari pergi dalam sekejap.


……Lumayan, dapat pemandangan bagus 


Tapi dengan begini Saotome pasti sudah kapok.


Tidak akan ada lagi yang berikutnya.


Kupikir hubungan kami bakal berakhir sampai di sini…… tapi.


Keesokan harinya.


『Menurutmu hari ini warna apa?』


Rupanya Saotome sama sekali belum kapok.


Aku memasukkan tangan ke dalam meja.


Ada satu amplop cokelat.


Ya-yah…… bolehlah.


Hari ini harusnya warna kuning.

『Kuning』


Aku mengirimkan pesan tersebut.


Lalu……


『Sayang sekali, salah!』


……Apa!?


Aku membuka amplop cokelat itu.


Tulisan di dalamnya…… 『Ungu』.


Si-sialan…… dia mengubah polanya!!


『Pikirkan baik-baik kenapa jawabannmu bisa salah ya』


Tanpa sadar aku menatap ke arah Saotome.


Dia sedang memasang wajah sok hebat sekuat tenaga.


Sialan, bikin emosi saja!!


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close