NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 5 Interlude III

Obrolan Si Kembar! 3

Jahil dan Kebohongan...?


Di tengah pekatnya malam, sebuah keberadaan samar bergerak.

Hikari dan Chikage—Usami bersaudara—bangkit secara serempak dan secara diam-diam menatap wajah tidur Sakuto.

"Dia tidur nyenyak sekali~..."

"Fufu, dia manis sekali~..."

Berbisik dengan pelan, dua bersaudara itu duduk di sisi berlawanan dari futon, menjepit Sakuto di tengah-tengah mereka. Mata mereka terlihat sangat persis seperti kucing yang sedang mengincar mangsanya. Namun meski begitu, Sakuto sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

"Ini pertama kalinya kita semua tidur bersama sejak kita pergi ke pantai, kan?"

"Kita juga melihat wajah tidurnya waktu itu... nishishishi♪"

Tersenyum jahil, Hikari mencubit tepi futon secara lembut.

"Hei, Chii-chan. Kamu ingat apa yang kita lakukan waktu itu?"

"Tentu saja. Kita meninggalkan bekas gigitan cinta di lehernya."

Mereka berdua saling memandang dan tertawa dalam bisikan yang tertahan.

"...Jadi, apa yang akan kita lakukan kali ini?"

"Mari kita lakukan kejahilan tingkat yang lebih tinggi kali ini♪ Sebagai contoh~... Ah!"

Tergugah oleh sebuah ide mendadak, Hikari bertepuk tangan dengan ringan.

Melihat ekspresinya, Chikage mengarahkan mata yang penuh dengan harapan ke arahnya.

"Chii-chan, bagaimana kalau kita melakukan ini? ...—"

Dalam momen-momen seperti ini, ide-ide Hikari biasanya tidak pernah bagus.

Namun, mungkin terdorong oleh energi larut malam, Chikage mengangguk seolah ingin berkata, Ide yang bagus.

"Kalau begitu, mari kita mulai dengan mengulas hal-hal dasarnya—"

Hikari secara lembut mendaratkan bibirnya di pipi Sakuto, dan—cup

"Nfufu..."

Menolak untuk kalah, Chikage secara lembut menekan bibirnya ke pipi Sakuto yang satunya, dan—cup

"...Dia benar-benar sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan terbangun."

"Sakuto benar-benar tipe orang yang tidurnya nyenyak~. Dia imuuut sekali~"

Merekapun tersenyum puas, tetapi mereka tidak berniat untuk berhenti di sana.

"Hei, karena kita punya kesempatan... kenapa kita tidak bersenang-senang sedikit lagi?"

Hikari secara lembut meletakkan tangannya di kancing piyama Sakuto.

"Tunggu... Hii-chan, bukankah kamu menjadi sedikit terlalu bersemangat?"

"Aku cuma jadi sedikit panas"

Secara berhati-hati, namun pasti, kancing-kancing piyamanya terlepas satu per satu. Dadanya perlahan terbuka, menyingkapkan kulit yang sedikit hangat.

"Sakuto-kun... sebenarnya punya tubuh yang sangat bagus, ya?"

"Benar! Aku sendiri tipe gadis yang menyukai otot dada~"

"Aku gadis yang menyukai otot perut, tentu saja."

"Chii-chan, kamu mesum sekali~..."

"K-Kamu melakukan hal yang sama persis...!"

Sambil bertukar gurauan sia-sia semacam itu, ujung jari mereka secara lembut menelusuri kulit Sakuto.

Mereka ragu-ragu selama sepersekian detik tentang apakah mereka harus menekan bibir mereka ke sana. Tapi kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi.

Mereka berdua secara lembut menyandarkan pipi mereka ke dada dan perut Sakuto, dan tepat saat mereka hendak menekan bibir mereka—

"...Enggh, nnggh..."

Sakuto bergeser sedikit dalam tidurnya. Mereka berdua secara instingtif membeku kaku.

"...! Hii-chan, kita harus merapikan kancingnya kembali!"

Panik, mereka mengancingkan kembali piyamanya, tetapi Sakuto tidak terbangun, melainkan kembali ke napasnya yang tenang dan stabil.

Menghela napas lega, mereka berdua menatap wajah tidur Sakuto sekali lagi.

Mendadak, Hikari bergumam pelan.

"Kamu tahu, aku agak ingin hal ini bertahan selamanya~..."

"Aku tahu maksudmu. Aku taruhan setiap hari pasti akan sangat menyenangkan."

Mereka berdua bertukar pandangan dan tersenyum.

Beberapa saat kemudian—Hikari bergumam seolah mendadak mengingat sesuatu.

"Kalau dipikir-pikir, bukankah kamu terkejut dengan cerita tentang ayah Sakuto?"

"Aku terkejut. Ayahnya mendadak menghilang seperti itu... pasti sangat berat bagi Sakuto-kun..."

Chikage mengerutkan dahinya, tetapi Hikari terlihat agak tidak meyakini hal itu.

"Tapi, kamu tahu... kenapa Sakuto berbohong pada Ibu?"

"Berbohong? Kebohongan apa?"

"...Lupakan saja, itu mungkin cuma imajinasiku. —Mari kita tidur juga."

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hikari menarik selimutnya tinggi-tinggi hingga menutupi kepalanya.

Kebohongan yang dikatakan Sakuto—di dalam heningnya malam, sebuah pertanyaan tunggal tetap tertinggal menggantung di udara.

Namun, mungkin masih terlalu dini untuk mengejarnya lebih dalam lagi—



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close