Bab 1: Diriku di Dunia Paralel Ternyata Seorang Gadis Cantik
Aku tahu segalanya tentang dia.
Soalnya, dia adalah aku.
Bad end adalah yang terbaik.
Justru karena tidak terikat pada
kepastian happy end yang naif dan klise, bad end bisa menyajikan ekspresi yang
berani. Menggali hakikat manusia lebih dalam, mengguncang, mengaduk-aduk,
hingga merobek-robek hati penikmatnya.
Oleh karena itu, bad end adalah yang
paling puncak.
Dari film yang baru saja selesai
kutonton, aku kembali menyadari keyakinan itu.
Sekilas tampak seperti film aksi hiburan,
tetapi dari aroma bad end khas yang tercium sejak trailer, ditambah ulasan
media sosial yang kubaca sambil memicingkan mata setelah perilisannya, aku
sudah menduga kalau Infinity Heaven ini baunya bakal bad end.
Sebelum terkena spoiler, aku menyempatkan
diri menontonnya sepulang sekolah, dan ternyata ini benar-benar bad end yang
sempurna.
Indra penciuman bad end-ku memang tidak
pernah salah.
Seandainya tidak ada penonton lain di
dalam bioskop, aku pasti sudah berdiri memberikan standing ovation sambil
menyerukan, "Good bad end! Best bad end!" berulang kali.
"Kenapa coba bukan happy end? Aneh
banget, kan?"
"Penulis skripnya jelek banget.
Dikira kalau bikin bad end bakal langsung bagus apa."
Padahal aku sampai lemas karena begitu
terharu, tetapi penonton lain malah keluar dengan cepat sambil
bersungut-sungut.
Untuk ukuran sore hari di hari kerja,
jumlah penontonnya agak... tidak, bisa dibilang lumayan sepi. Lagipula, aku
sudah melihat dengan mata memicing kalau di media sosial pun film ini dianggap
agak kurang.
Namun, di antara sedikit orang terpilih
yang datang menonton ini, tidak ada satu pun dari mereka yang paham indahnya
bad end.
...Tapi ya, ini sudah biasa.
Kebanyakan orang memang mencari happy
end. Konten yang katanya populer pun kalau berakhir bad end biasanya bakal
langsung kena hujat.
Kalau aku bilang aku suka bad end, aku
cuma bakal ditatap remeh dan diperlakukan seperti hewan langka sambil didatangi
ucapan, "Aneh banget ya~ Tapi ya terserah deh." Bahkan ada juga yang
mengejek, "Cuma sok beda, kan?" Kalau dilihat dari sudut pandangku,
happy end justru yang sok beda dari kenyataan, tahu!? ...Tapi ya, tidak juga
sih.
Bagaimanapun juga, fakta bahwa bad end
sulit diterima orang-orang adalah hal yang sudah biasa, tetapi—
"Masa tidak bisa paham bagusnya bad
end, sih..."
"Masa tidak bisa paham bagusnya bad
end, ya..."
Aku bergumam pelan agar tidak terdengar.
"Malah bad end yang bikin seru
tahu."
"Malah bad end yang bikin seru,
tahu."
Suara gumaman lain terdengar bertumpukan
dengan suaraku.
Tanpa sadar aku menoleh ke arah suara
itu.
Beberapa kursi di sebelah sana, seorang
gadis sedang menatap ke arahku dengan cara yang sama.
Tatapan matanya yang tajam seolah
menembus, dingin hingga membuat gemetar, menancap lurus ke arahku.
Jika mataku yang sering diejek sekadar
galak ini ibarat batu bersudut tajam, maka manik matanya adalah permata yang
dipotong dengan artistik dan dipoles sempurna.
Rambut hitamnya yang seolah menyatu
dengan kegelapan bioskop sejak tadi, terurai lurus dan panjang. Meski sama-sama
rambut hitam, kalau milikku seperti rumput laut berwarna pekat, maka hitamnya
yang berkilau adalah kedalaman samudra antariksa yang dihiasi kilau bintang.
Aksesori rambut berbentuk mawar berwarna
hitam dan perak seolah menjadi simbol dari dirinya yang tajam, dingin, dan
jelita.
Blazer yang tampak tak asing itu berasal
dari SMA yang sama dengannya, dan pita merah yang menghiasi kerah blusnya
menandakan bahwa dia juga murid kelas dua.
Mata sipitnya yang menawan berkedip.
Bibirnya yang tipis namun lembap
mengembuskan napas keraguan yang sangat tipis.
""Bad end yang bagus
ya.""
Kata-kata yang terucap kali ini
benar-benar bertumpukan sepenuhnya.
Aku juga sempat ragu apa yang harus
kukatakan, tetapi waktu pengucapannya pun pas dan sama persis.
"Hahaha."
"Fufufu."
Kami berdua malah terkekeh bersamaan.
Senyumannya yang menurunkan alis,
menyipitkan mata, dan melonggarkan pipi itu membuat kesan dingin tadi serasa
bohong belaka, bahkan menyisakan kelembutan bagaikan kucing yang sedang
bermanja.
"Ternyata kita bisa barengan gitu
ya."
"Dari tadi kita ngomong hal yang
sama mulu sih."
Aku dan dia sama-sama menunjukkan
ekspresi serba salah.
"Filmnya bagus ya. Bad end-nya
mantap banget."
"Perkembangan bad end-nya
benar-benar tanpa ampun. Pas karakter utamanya menaikkan flag di pertengahan
cerita, aku refleks mengepalkan tangan."
"Bagian saat dia menghabisi orang
tak berdosa di pihak musuh, yang jadi pemicu petaka berikutnya itu, kan? Di
bagian itu, aku juga sampai mengepalkan tangan erat-erat."
"Kamu paham?"
"Paham, paham banget!"
Sambil berkata begitu, dia membungkukkan
badannya sekuat tenaga dari kursinya ke arahku, lalu menyodorkan kepalan
tangannya.
Aku pun mengulurkan tanganku sama
jauhnya, hingga kepalan tangan kami beradu tipis dengan pelan.
""More bad!
More hell!""
Sambil memadukan suara, kami melakukan
adu jempol—fist bump—sebanyak tiga kali. Pada benturan terakhir, kami
menekannya agak lebih kuat dengan bunyi puk.
"Ahaha. Kamu beneran ngelakuinnya!
Aku senang banget."
"Kalau nonton film ini, sudah wajar
bakal ngelakuin itu."
Itu adalah gestur dan seruan yang
dilakukan karakter utama dan heroine di momen-momen krusial. Sebuah sumpah
balas dendam terhadap musuh bebuyutan, sekaligus wujud nyata dari ikatan mereka
berdua yang penuh harapan. Namun, saat sang heroine tewas, tidak ada lagi
balasan seperti biasanya, menjadi sebuah payoff yang sempurna secara bad end
karena semakin memperjelas kesendirian sang karakter utama.
"Anu... Kita dari sekolah yang sama,
kan? Sepertinya kita seangkatan juga."
Dia memegang pita merah di kerah bajunya.
"Boleh tidak kalau aku berhenti
pakai bahasa formal?"
"Boleh saja... maksudku, ayo santai
saja."
Meski bilang begitu, aku tetap merasa
gugup. Bicara empat mata dengan seorang gadis adalah hal yang hampir tidak
pernah kualami selain di Klub Sastra.
"Terima kas... makasih ya. Oh, kita
harus segera keluar dari sini."
Karena staf bioskop mulai masuk untuk
membersihkan studio demi pemutaran berikutnya, aku dan dia mengambil tas
masing-masing lalu berdiri dari kursi.
Mata ini tanpa sadar tersita oleh gerakan
rambut hitam panjangnya yang bergoyang dan mengalir indah.
Sebenarnya aku sudah menyadarinya sedikit
demi sedikit, dan rasanya agak tak sopan memikirkan hal seperti ini saat baru
pertama kali bertemu... tapi singkatnya, dia benar-benar tipeku banget.
Paras dan ekspresinya memadukan kesan
dingin sekaligus ramah secara bersamaan, aksesori perak yang mengintip
malu-malu dari ujung lengan blazer beserta jemari lentik di baliknya, kaki
jenjangnya yang terulur dari balik rok motif kotak-kotak, hingga postur
tubuhnya yang tegak lurus dan tampak sangat anggun saat berdiri... bagaimana ya
bilangnya, semuanya benar-benar tepat menembus selera terdalamku.
Mata kami saling beradu.
Gawat, ketahuan kalau aku sedang
memperhatikannya dari atas sampai bawah.
"E-Eh, bukan gitu maksudku—"
"Bukan gitu, bukan gitu kok."
Bahkan kata-kata pembelaan diri kami pun
bertumpukan lagi.
Dia sendiri memalingkan wajahnya dengan
rasa bersalah. Pipinya merona agak kemerahan.
Apakah dia juga sedang memperhatikanku?
Memperhatikan cowok yang cuma sekadar kurus seperti diriku ini? Ah, aku saja
yang terlalu percaya diri.
"Anu..."
Namun, mataku kembali beradu saat dia
memanggil.
"Soal film tadi. Soal bad end
juga... aku masih ingin ngobrol lebih banyak lagi."
"Ah, mmm. Aku juga. Mikir
gitu."
Terlepas dari apa yang kupikirkan tentang
dirinya, itu memang murni dari lubuk hatiku. Ini pertama kalinya aku bertemu
seseorang yang punya selera bad end sepasang ini denganku.
"Syukurlah. Kalau begitu, yuk mampir
ke suatu tempat."
Dengan nada suara yang terdengar gembira,
dia mulai melangkah, dan aku pun berjalan di sampingnya. Kami meninggalkan area
kursi penonton lalu melintasi lobi bioskop.
"Ngomong-ngomong... kita belum
saling kenalan ya."
"Bener juga. Aku Masumi Asahi."
"Eh? Aku Masumi Tsukino loh...
Beneran samaan?"
Aku dan dia sama-sama terperangah.
"Padahal marga Masumi itu rasanya
lumayan langka."
"Masa kita seangkatan tapi tidak
pernah sadar, ya?"
Harusnya setidaknya pernah lihat di suatu
tempat.
Meski begitu, kenyataannya aku sendiri
memang tidak punya ketertarikan pada orang lain selain teman atau kenalan. Aku
sama sekali tidak tahu tentang murid-murid yang tidak pernah sekelas denganku.
"Kalau memanggil 'Masumi-san',
rasanya bakal aneh ya."
"Bener juga. Kalau begitu, boleh
tidak aku panggil nama depan saja? Asahi-kun."
"Boleh kok. Hmmm...
Tsukino-san."
Aku dan Tsukino-san mendadak sama-sama
bungkam.
"Fufu. Langsung panggil nama depan
memang bikin canggung ya. Harus cepat-cepat terbiasa nih."
Kami berdua terang-terangan merasa malu
hingga tanpa sadar tertawa canggung.
"Iya. Aku bakal coba biasakan.
Tsukino-san."
"Aku juga bakal berusaha deh. Mohon
bantuannya ya, Asahi-kun."
Saat sengaja menyebutkan nama depanku
dengan nada dibuat-buat, Tsukino-san memperlihatkan deretan gigi putihnya
sambil tersenyum jahil, bagaikan bocah yang baru saja ketahuan melakukan jahil.
"Kalau begitu, yuk kita mulai bad
end-nya?"
Jujur saja, ekspresinya yang itu juga
sangat sesuai dengan selera favoritku.
◆
◆ ◆
Singkat cerita, setelah itu kami
benar-benar melakukan bad end gila-gilaan.
Aku tidak pernah menyangka bakal
membicarakan bad end sampai dua jam penuh.
Dimulai dari obrolan tentang bagian mana
saja di Infinity Heaven yang terasa bad, berlanjut ke analisis foreshadowing
bad end, sampai mendiskusikan pembangunan karakter yang berujung pada bad end.
Pembicaraan terus bergulir ke karya-karya
bad end lainnya, bahkan kami meluapkan pendapat tentang novel dan komik yang
penilaiannya turun secara tidak adil hanya gara-gara berakhir bad end. Aku
biasanya bicara dengan tempo cepat, tetapi Tsukino-san pun terus bicara sama
cepatnya. Tidak diragukan lagi, hari ini adalah hari di mana aku paling banyak
mengucapkan kata bad end sepanjang hidupku. Kalau memperhitungkan singkatan bad
end, mungkin ini bisa masuk Guinness World Records, walau sepertinya memang belum
pernah ada rekor seperti itu sebelumnya.
Setelah menghabiskan dua jam obrolan bad
end di sebuah kafe dalam mall tempat bioskop berada, aku dan Tsukino-san kini
berjalan berdampingan menyusuri jalanan malam. Suara langkah sepatu loafer kami
berbunyi dengan irama yang serasi.
Dari mal yang terletak di dekat Stasiun
Himurogioka menuju rumah kami di Himurogioka Higashimachi, terdapat jalan
menanjak yang cukup panjang dan landai. Meski berada di sepanjang jalan
nasional yang ramai lalu lintasnya, begitu memasuki pukul sembilan malam,
pejalan kaki yang melintas sudah bisa dihitung dengan jari.
Biarpun sudah bulan Mei, jam segini hawa
udara terasa agak dingin.
Lebih tepatnya, kami memang sudah terlalu
larut mengobrol.
"Rasanya masih belum puas ngobrol
ya. Aku masih mau bad end lagi deh."
"Aku juga mikir gitu. Ini pertama
kalinya aku bisa bad end se-all out ini."
"Sama, aku juga. Boleh juga kamu,
Asahi-kun."
"Tsukino-san yang lebih hebat.
Biasanya kalau aku bicara bad end pakai tempo cepat, lawan bicaraku tidak bakal
bertahan lewat dari satu menit."
Rentang waktu sampai lawan bicara
menyerah dan berkata, "Aduh, tidak paham ah, udah cukup," maksudku.
"Ngomong-ngomong balik ke topik
tadi, Infinity Heaven beneran bagus banget ya. Perkembangan bad end di babak
akhir itu, aku sempat lihat opini di media sosial yang bilang terkesan
mendadak, tapi justru karena mendadak itulah efek bad end-nya jadi makin
berasa, kan?"
"Tepat sekali. Aku biasanya menyebut
perkembangan bad end yang serba mendadak itu dengan istilah Sudden Strike
(Bencana Tak Terduga)."
"Eh!? Ini pertama kalinya aku ketemu
orang selain diriku yang pakai istilah Sudden Strike (Bencana Tak Terduga).
Maksudnya perkembangan mendadak yang benar-benar mengkhianati ekspektasi
penikmatnya, kan? ...Jangan-jangan kamu juga pakai furigana kanji buat istilah
itu?"
"Bohong, kan? Maksud hati bikin
istilah buatan sendiri, masa sampai ke furigananya pun bisa jadi bahasa yang
sama?!"
"Luar biasa. Ini sih namanya
takdir."
Tepat setelah mengucapkannya dengan penuh
antusias, Tsukino-san mendadak menutup mulutnya.
"...Kata 'takdir' mungkin terlalu
sok akrab ya."
"Tidak kok, aku juga sempat berpikir
ini seperti takdir... walau kalau diucapkan keras-keras memang terasa sok akrab
sih."
"Kalau kita berdua sama-sama
memikirkannya, untuk kali ini anggap saja aman... bercanda deh."
Kami refleks tertawa bersama untuk
mencairkan suasana canggung.
Rasa terbawa suasana ini, ditambah
keraguan dan jarak khas orang anti-sosial... sebenarnya memang ada kemiripan
yang terasa seperti takdir di antara kami.
Kami berdua sempat bungkam sejenak sambil
melintasi salah satu terowongan yang banyak dijumpai di kawasan Himurogioka.
Karena kendaraan yang lewat sangat sedikit, suara langkah kaki kami yang
sejajar bergema dengan lumayan nyaring.
"Ah, balik lagi ke topik Sudden
Strike (Bencana Tak Terduga) tadi."
Istilah itu sudah benar-benar menjadi
bahasa bersama kami.
"Film itu, kalau kita lihat
keseluruhan ceritanya dari sudut pandang luas, foreshadowing menuju
perkembangan bad end-nya sebenarnya sudah ditanam dengan sangat rapi sejak awal
cerita, kan?"
"Paham banget. Sampai-sampai kerasa
'bukannya bagian ini dan itu di awal cerita juga foreshadowing?'. Adegan
bapak-bapak tidak dikenal yang memiringkan kepalanya itu juga foreshadowing.
Cuma ya, menurutku cara penyampaiannya memang agak sulit disadari kalau bukan
oleh orang yang biasa menikmati jalan cerita."
"Mungkin begitu. Soalnya dari awal
sampai pertengahan cerita, plotnya berfokus melintasi berbagai dunia paralel,
mendapatkan kemampuan di tiap dunia, lalu menyelamatkan dunia tersebut.
Bentuknya lebih terasa seperti hiburan happy end ketimbang bad end, jadi
orang-orang makin tidak sadar sama foreshadowing bad end-nya."
Tema utama di dalam Infinity Heaven
adalah dunia paralel.
Dunia atau alam semesta itu tidak cuma
ada satu, melainkan berjumlah tak terhingga. Walau kedengarannya seperti
pemikiran yang tidak masuk akal, konsep ini kabarnya cukup masuk akal dalam
fisika teoritis.
Terlepas dari nyata atau tidaknya, di
dalam film tersebut digambarkan sosok yang lalu lalang melintasi berbagai dunia
dengan hukum alam yang berbeda-beda.
Konsep ini menjadi sangat umum terutama
setelah diangkat menjadi tema dalam film-film pahlawan super Marvel. Aku
sendiri suka hal-hal seperti Spider-Verse, terlepas dari akhir ceritanya yang
happy end. Kalau soal dunia paralel, sepertinya itu memang sudah menjadi konsep
yang familier di komik Amerika sejak dulu.
"Melintasi dan menyelamatkan banyak
dunia. Seseorang yang harusnya melakukan hal yang benar, justru membukakan
pintu bad end akibat pembalasan dendam dari lawan yang dulunya musuh... bagian
itu beneran bikin merinding."
"Aku juga sampai merinding."
Aku masih ingin terus mengobrol. Walau
sudah bicara selama dua jam dan lanjut mengobrol di sepanjang jalan pulang, aku
tetap merasa begitu.
Namun, perjalanan ini sudah hampir sampai
di penghujungnya.
Begitu meninggalkan jalan nasional,
rumahku sudah amat dekat. Meski jalur pulang kami sama sampai di sini, tentu
saja pada akhirnya kami harus berpisah di suatu titik.
Setiap kali melangkah, akhir dari
percakapan ini terasa kian mendekat.
Kami bersekolah di tempat yang sama dan
duduk di tingkat yang sama, jadi kami pasti bisa bertemu lagi. Kesempatan untuk
mengobrol sepuasnya masih ada melimpah. Meski begitu, rasa kesepian menjelang
perpisahan tetap tidak bisa ditepis.
Aku dan Tsukino-san belok menyusuri jalan
di luar jalan raya utama.
Rute pulang kami ternyata masih
bertumpukan.
Setidaknya aku harus mengajak bertukar
kontak. Jarak ini mungkin
terasa terlalu sok akrab, tetapi aku
bertaruh pada takdir ikatan bad end kami.
Baru saja aku hendak membuka mulut,
Tsukino-san mendadak menghentikan langkahnya, dan aku pun ikut berhenti.
"Ini rumahku—"
"Ini rumahku—"
Kata-kata kami kembali bertumpukan.
Suara "Eh?" yang terucap pun
saling tumpang tindih, lalu kami memalingkan wajah ke arah rumah yang berdiri
di hadapan kami, rumahku sendiri.
Itu adalah rumah tinggal berdinding
tunggal dengan desain seragam yang tidak memiliki keunikan khusus, tetapi tentu
saja aku tidak mungkin salah mengenali rumahku sendiri.
Pada papan nama keluarga, jelas-jelas
tertulis marga "Masumi".
Bahkan ritme kedipan dari mata kami yang
membulat pun terasa sama persis.
"Masumi Asahi."
"Masumi Tsukino."
Saling sebut nama yang kembali terucap
secara alami itu pun terjadi secara bersamaan.
Hal yang baru kuketahui setelah kejadian
ini adalah:
Aku dan dia merupakan keberadaan yang sama dari dunia paralel.



Post a Comment