Chapter 12
Kalau Kamu Membalikkan Pakunya...?
"Sakuto-kun...
eh? Kenapa...!?"
Saat Sakuto
membuka pintu ruang rapat dengan lebar, Chikage tampak sangat terkejut. Matanya
bahkan berkaca-kaca seperti hendak meneteskan air mata.
Melihat keadaan
Chikage, dada Sakuto terasa nyeri dan sakit. Namun, dia tersenyum untuk
menenangankannya.
"Boleh aku
masuk?"
Sebelum Chikage
sempat menjawab "Silakan,"—
"Eh?
Takayashiki!?"
"Sakuto...!?"
Melihat sosok
Sakuto, Shun dan Yuzuki terperanjat secara bersamaan.
Sudah lama sekali
dia tidak bertemu dengan mereka berdua. Sakuto hanya membungkukkan badannya
sedikit.
Kemudian, saat
dia melangkah mendekati Chikage, gadis itu berbisik pelan di telinganya.
"...Kenapa
kamu datang?"
"Aku pikir
ini saatnya untuk bersikap serius."
"...Eh?"
"Kamu
sedang dalam kesulitan, kan, Chikage? Makanya aku datang. ...Maaf ya, aku
terlambat?"
Sakuto
melemparkan senyuman tanpa beban ke arah Chikage.
"A-Aku
memang senang, tapi... aku senang, tapi—!"
Chikage
berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah cerah, tetapi dia tidak bisa
menutupi semuanya.
Raut
wajahnya memancarkan campuran rasa terkejut dan bahagia yang datang secara
bersamaan hingga tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ini masih
terlalu dini untuk bersenang-senang—
"Selain
itu, aku juga membawa bantuan lain."
"Bantuan...?
Siapa?"
Sosok
yang mengintipkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka adalah—
"Halo,
Chi-chan."
Itu adalah
Hikari. Dia mengulas senyum canggung, seperti seorang anak kecil yang
kenakalannya baru saja ketahuan.
"Hii-chan...!?
Kenapa...?"
"Aku datang
buat membantumu, Chi-chan... cuma bercanda, tahu? Boleh aku masuk juga?"
Sambil berkata
begitu, Hikari mendekati Chikage dan...
"Oh iya, aku
punya oleh-oleh buatmu, Chi-chan—"
Dia mengeluarkan
dua buah Usapyoko dari sakunya, lalu menyerahkan yang berwarna hitam ke tangan
Chikage.
"Usapyoko...?"
"Kita
kembaran... —Nggak deng, maaf ya sudah bikin kamu khawatir selama ini. Aku
sudah menyusahkanmu, jadi sekarang giliranku buat berusaha sebaik mungkin demi
kamu, Chi-chan!"
Air mata seketika
menetes deras dari mata Chikage.
Dia pasti merasa
sangat bahagia karena Hikari rela datang ke sekolah demi dirinya.
"—Sudah lama
tidak bertemu, Takayashiki. Apa yang dilakukan orang luar di sini?"
Shun menyeringai
sambil menatap Sakuto.
"Bukankah
kamu itu si 'Robot Belajar'? Kami tidak membutuhkanmu sekarang, jadi pulang
sana, ya?"
Seketika itu
juga, sorot mata Chikage berubah tajam.
"Apa
maksudmu bicara begitu? Nada bahasamuu itu..."
"Chikage,
nanti akan kujelaskan... Sampingkan hal itu dulu—Matsukaze, maaf ya, tapi aku
dan Hikari bukan orang luar. Kami baru saja memberi tahu Tachibana-sensei secara resmi kalau kami
berpartisipasi sebagai sukarelawan."
"Hah?
Yang benar saja?"
Shun
merengut, memperlihatkan raut wajah yang sangat tidak senang.
"Lagi pula,
anak perempuan itu...?"
"Ehehehe~,
aku kakak perempuannya Chi-chan, Hikari. Salam kenal ya, Matsuda-kun."
"Matsukaze!"
"Oh, begitu
ya. Maaf, maaf."
Hikari berucap
tanpa ada nada penyesalan sedikit pun. Yang tadi itu jelas-jelas disengaja.
"...Ngomong-ngomong,
Matsukaze-kun, apa maksudnya 'robot belajar'?"
"...Hikari!?"
Hikari—sedang
marah.
Wajahnya
memang tersenyum, tetapi aura kemarahan memancar dari sekujur tubuhnya.
Sejauh yang
Sakuto tahu, ini adalah pertama kalinya dia melihat Hikari marah. Gadis itu kemungkinan besar marah
demi dirinya dan Chikage, tapi—
"Seperti
yang kukatakan, dia itu robot yang cuma bisa belajar... Benar kan,
Yuzuki?"
"Eh...
umm, anug..."
Saat Yuzuki
ragu-ragu, Hikari tersenyum cerah seolah-olah telah yakin akan suatu hal.
"Begitu
ya, jadi kamu cemburu?"
"Hah? Kamu
bicara apa barusan...?"
"Aku bilang,
perasaanmu itu adalah kecemburuan, kan?"
Saat Shun
menatapnya dengan tajam, raut wajah Hikari berubah menjadi serius.
"Kamu adalah
tipe orang yang merasa lebih baik dengan cara merendahkan seseorang yang
jelas-jelas lebih unggul darimu, kan? Karena kamu harus terbuai dalam rasa
superioritas, kamu ingin menyimpan orang-orang yang posisinya lebih lemah dan
penakut di sekitarmu. Kamu tidak akan puas kecuali mereka setara atau berada di
bawahmu, kan?"
"Ap...!?"
"Sakuto-kun
adalah contoh yang bagus. Sindiran 'robot belajar' itu... apa kamu tidak sadar
kalau kamu cuma mengakui bahwa dirimu adalah barang rosokan yang bahkan tidak
bisa belajar?"
"Hikari,
tunggu... itu sudah keterlaluan!"
Sakuto
terburu-buru menghentikan Hikari.
Tidak perlu
bicara sejauh itu pada seseorang yang akan diajak bekerja sama dalam acara
gabungan mulai dari sekarang.
"Ada apa
denganamu? Lagi pula, dari tadi kamu oceh terus... Kami ini berasal dari SMP
yang sama dengan Takayashiki. Kami kenal dia lebih lama dari kamu, jadi jangan
ikut campur dalam hubungan kami, paham?"
"Tentu saja
aku bakal ikut campur. Soalnya sekarang, kami punya hubungan yang 'dalam'.
—Meskipun begitu, kamu benar-benar tidak memahami Sakuto-kun sama sekali ya,
padahal kalian dari SMP yang sama?"
"Hah?"
"Bukan, apa
kamu takut untuk memahaminya? Nggak deng, kamu sebenarnya sudah paham. Kamu
menyerangnya karena kamu merasa takut, kan? Tapi, kenapa? Alasan kamu ingin
merasa lebih superior dari Sakuto-kun adalah—"
Hikari menatap
Shun dan Yuzuki bergantian dengan mata menyelidik.
Mereka berdua
menunjukkan raut wajah yang canggung.
Daya pengamatan
Hikari yang luar biasa seperti biasa bahkan membuat Sakuto merasa merinding.
Ya ampun,
seberapa jauh gadis ini bisa melihat situasi—.
"Hikari,
sudah cukup..."
"...Yah,
kalau Sakuto-kun berkata begitu, baiklah."
* * *
Setelah beberapa
saat, ketika suasana sudah sedikit tenang, Sakuto menerima penjelasan mengenai
kemajuan perencanaan sejauh ini dari Chikage.
"—Dan
begitulah hal-hal yang sudah diputuskan sejauh ini."
"Jadi,
dengan kata lain, apakah pemahamanku benar kalau kalian menumpahkan segala
sesuatunya—semuanya—yang harus kalian kerjakan, kepada Chi-chan
manisku...?"
Saat Hikari
tersenyum cerah, Shun dan Yuzuki tampak terintimidasi.
"Hikari,
kamu tidak perlu marah..."
Shun tampaknya
masih sama seperti dulu.
Seorang pemimpin
setengah-setengah yang melemparkan berbagai tanggung jawab kepada pihak lain.
Dia tidak berubah
sedikit pun sejak SMP.
"Meskipun
begitu, rencana ini, yang bener saja...?"
Sakuto merasa
tidak habis pikir.
"Ada
masalah? Kami pikir
anak-anak TK akan senang—"
"Aku
tidak bilang rencana ini buruk. Masalahnya adalah jumlah personel yang bisa kita kerahkan itu terbatas.
Kita bertiga bisa mengatasinya jika rencananya sama seperti Festival Ajisai
tahun lalu, tapi kalian malah memasukkan pertunjukan boneka, turnamen
permainan, dan berbagai hal lainnya... Apa yang ingin kalian lakukan dan apa
yang bisa kalian lakukan adalah dua hal yang berbeda, tahu?"
"Semuanya
akan berhasil kalau kita berusaha keras, kan...!"
"Itu kalau
jumlah kita ada lima orang. Apa yang ingin kalian lakukan dengan tiga orang?
...Kalian tidak berniat menumpahkan berbagai hal kepada Chikage, kan?"
Saat Sakuto
menatapnya dengan tajam, Shun terkejut sejenak sebelum balik menatapnya.
"Ada apa
denganamu? Sejak kapan kamu jadi tipe orang yang bicara seperti itu
padaku?"
Untuk sejenak,
Sakuto merasa terkejut. Dia tidak menyangka Shun akan mengatakan hal seperti
itu secara langsung.
Dulu, saat dia
terus-menerus memandang rendah Sakuto, tidak ada kebutuhan untuk diungkapkan
dengan kata-kata sekalipun.
Mungkin Shun,
secara tak terduga, telah kehilangan ketenangannya juga.
"Hmph... apa
kamu jadi besar kepala karena si kembar itu menyukaimu? Padahal kamu cuma
seorang robot..."
Untuk sejenak,
dia hampir merasa goyah oleh kata-kata itu.
Namun, tidak ada
alasan untuk merasa takut. Ini berbeda dari masa lalu. Sekarang, mereka berdua
ada di sini.
Karena itulah
Sakuto menyatakan hal tersebut dengan penuh rasa percaya diri.
"Aku
bukan robot yang bergerak sesuai keinginanmu."
"A-Ada
apa denganamu, mendadak begini...?"
"Hal
yang sama berlaku untuk Chikage dan Hikari."
Saat dia
mengucapkan hal itu dengan suara rendah, tenaga seolah terkuras dari si kembar
yang tadinya hendak berdiri membela. Nah, kalau begitu—
"Karena
Akademi Arisuyama hanya berpartisipasi dengan satu orang, kalian menuntut agar
kami mengikuti perkataan Akademi Yuki yang memiliki dua orang, kan? Sekarang
kami bertiga. Berdasarkan logikamu, Akademi Yuki yang seharusnya mengikuti
kami, kan?"
"Ugh...
aku tidak bilang begitu..."
"Bahkan
dengan logika sebodoh itu, jika ini mengenai pendapat minoritas melawan
mayoritas, pihak mayoritas tentu saja lebih kuat, kan? Lagi pula, kamu bilang
tidak apa-apa kalau Chikage yang mengambil alih kepemimpinan, kan?"
"Guh...!?"
"Baiklah,
kami yang akan mengambil alih. Kalian akan mengikuti perkataan Akademi Arisuyama, kan?"
Shun tidak bisa
membalas perkataannya dan mengertakkan gigi karena merasa frustrasi.
"...Cuma
bercanda. Lagipula, ini adalah acara gabungan, jadi tidak ada gunanya
memperebutkan rasa superioritas tingkat rendah seperti itu. Kami yang akan
memimpin, tetapi bebannya akan dibagi secara merata antara kedua sekolah.
Bagaimana?"
Kemudian Yuzuki
menarik lengan baju Shun.
"Shun-kun,
sebaiknya kita ikuti saja kata-kata Sakuto dan yang lainnya..."
"Kalau kamu
berkata begitu, Yuzuki, ya sudah..."
Dia sepertinya
setuju dengan enggan setelah dibujuk, tetapi dia mungkin merasa ingin berdecak
kesal.
Namun,
situasinya tidak berubah menjadi di mana dia langsung pulang hanya karena
merasa tidak senang. Tampaknya, dia bukan cowok yang seegois itu.
"Kalau
begitu, Chikage dan Hikari kami yang akan menjadi penggerak utamanya. Chikage
akan memberikan instruksi kepada kita. Hikari akan bergerak bebas. Matsukaze
dan Yuzuki akan bergerak sesuai dengan instruksi dariku dan Chikage. Apakah
tidak apa-apa?"
"Dimengerti!"
"Ya,
serahkan padaku!"
Saat
Chikage dan Hikari setuju sambil tersenyum, Shun bergumam, "Paham..."
Dia sepertinya
tidak punya pilihan lain selain setuju saat ini.
Meskipun
begitu—
"Anu."
Yuzuki mengangkat tangannya sambil sedikit mengerutkan dahi.
"Aku
bisa setuju dengan hal yang barusan, tapi apakah benar-benar tidak apa-apa?
Menyerahkan semuanya kepada mereka berdua..."
Sakuto
mengangguk dengan mantap.
"Ya,
aku bisa menyerahkannya kepada mereka. Jika tidak berhasil, kamu boleh menimpakan semua kesalahannya padaku."
""Sakuto-kun...""
Mereka berdua
menatapnya dengan wajah yang memerah cerah.
Ditambah lagi,
mereka berdua secara sembunyi-sembunyi menggenggam tangannya di bawah meja.
Sakuto ingin menyuruh mereka berhenti karena berbagai hal bisa terbongkar.
"Kamu,
jangan lupakan kata-katamu yang barusan, ya? Kalau tidak berhasil, kamu yang
bertanggung jawab."
"Tentu
saja."
Shun mendengus
seolah merasa hal itu tidak menarik, tetapi Yuzuki juga menunduk dengan raut
wajah tidak senang.
"Kamu
benar-benar... soal mereka berdua... Tidak, sebenarnya, lupakan saja."
Menangkap
apa yang coba disampaikan oleh Yuzuki, Sakuto tersenyum.
"Merek
berdua ini luar biasa. Makanya
aku memercayai mereka lebih dari siapa pun—"
—sebagai pacar
mereka, tentu saja dia menahan diri untuk tidak mengatakannya.
"Kalau
begitu, mari kita mulai—"
Saat Sakuto
mengucapkan hal itu, Chikage berdiri dan berjalan ke depan papan tulis,
sementara Hikari dengan sigap membuka laptop di depannya.
—Dari sana,
segala sesuatunya berjalan dengan kecepatan yang menakjubkan.
Chikage mengelola
seluruh rangkaian acara dengan instruksi yang presisi, Hikari menyelesaikan
tugas-tugas administratif dengan kecepatan kerja yang luar biasa, dan Sakuto
mendukung mereka berdua dari balik layar sambil membagi pekerjaan dengan dua
orang dari Akademi Yuki.
Sakuto melihat
sisi baru dari saudara kembar tersebut.
Chikage memiliki
kemampuan memimpin yang biasanya tidak dia tunjukkan, dan dia dengan cepat
memperlihatkan keterampilan kepemimpinannya. Dia tampaknya sangat cocok untuk
hal-hal seperti ini.
Di sisi lain,
Hikari bertindak sambil membaca dua, tiga, empat langkah ke depan. Karena dia bergerak mendahului dan
melakukan berbagai hal, semua orang merasa sangat terbantu.
Kebetulan,
dipicu oleh partisipasinya dalam acara gabungan ini, Hikari mulai berangkat ke
sekolah sejak pagi hari.
Sedangkan
untuk Chikage, dia menghabiskan hari-harinya dengan ekspresi wajah yang jauh
lebih ceria dari biasanya.
Dan
begitulah, saat pemandangan saudara kembar yang berangkat dan pulang sekolah
bersama serta berhubungan dekat mulai terlihat di sekolah, penilaian
orang-orang di sekitar terhadap mereka tampaknya berubah menjadi lebih baik.
Sakuto
menghabiskan hari-harinya dengan bahagia, berada di antara mereka berdua.
Ada
saat-saat di mana jantungnya berdebar kencang saat di kantin atau setelah
sekolah usai, tetapi pada dasarnya, bagi orang-orang di sekitar, mereka bertiga
hanya terlihat dekat, dan dia hanya sedang dijahili oleh si kembar.
Di sisi
lain, Shun dan Yuzuki, yang datang ke Akademi Arisuyama setelah sekolah usai,
juga mulai mengakui kemampuan dan kepribadian dari saudara kembar tersebut.
Namun,
Shun tampaknya masih belum ingin mengakuinya dari lubuk hati yang paling dalam,
dan bersikap tidak senang saat tidak sedang berbicara dengan Yuzuki.
Dia
terkadang menyulitkan keadaan, tetapi Chikage dan Hikari akan menjelaskannya
secara menyeluruh—dengan kata lain, mereka membantahnya secara telak sampai dia
tidak bisa membalas argumen itu lagi.
Meskipun begitu,
Shun tidak menunjukkan sikap malas-malasan dalam bekerja, jadi Sakuto merasa
sedikit lega.
"Kalau
begitu, aku mau ke ruang guru sebentar—"
Setelah Sakuto
berjalan menuju ruang guru, percakapan ini muncul di antara empat orang yang
tersisa—
"Hei,
Chikage-san, Hikari-san..."
Yuzuki
angkat bicara.
"Apakah
kalian tidak berpikir kalau Sakuto-kun itu orang yang aneh pada
awalnya...?"
""Eh?""
"M-Maksudku...
soalnya dia itu anak yang terasingkan saat SMP..."
Tidak ada
nada penghinaan di dalamnya. Kalau ada, suaranya terdengar seperti sedang
khawatir, dan nada bicaranya mengisyaratkan bahwa dia ingin mengonfirmasi
sesuatu.
"Aneh...
Benarkah? Aneh? Aku menganggapnya sebagai orang yang luar biasa sejak awal.
Hmm... Seseorang yang bisa mengubah dunia? Seperti seorang pahlawan."
"Pahlawan..."
Yuzuki
menunjukkan reaksi refleks terhadap kata itu, tetapi sebelum dia sempat
berpikir, kali ini Chikage yang angkat bicara.
"Sakuto-kun
sangat menyayangi kami. Makanya kami memercayainya dan merasa tenang saat
berada bersamanya. Jadi, dia adalah pahlawan kami. Benar kan?"
"Yup,
yup!"
Si kembar
mengatakannya dengan senyuman berseri-seri, seolah-olah sedang membicarakan
seseorang yang sangat berharga bagi mereka.
Yuzuki
berpikir bahwa si kembar ini dan Sakuto pasti sangat dekat.
"...Apa
bedanya... antara aku dan..."
Suara
gumaman yang diucapkannya tidak terdengar oleh saudara kembar tersebut, tetapi
hanya satu orang, Shun, yang ada di sampingnya, menurunkan pandangannya dengan
raut wajah yang rumit.
* * *
Setelah
itu, Hikari menangani pekerjaan administratif, sementara Sakuto mengurus
berbagai detail kecil lainnya.
Mengikuti
instruksi Chikage, Shun dan Yuzuki ikut membantu, dan persiapan pun berjalan
maju dengan penuh semangat.
Sakuto
menyadari pandangan mata Yuzuki, tetapi dia tidak sengaja mengajak gadis itu
berbicara, melainkan hanya menjalankan tugasnya tanpa emosi.
Dia
menyadari bahwa, secara tak terduga, berada bersama sebagai bertiga membuat
hubungan mereka bertiga lebih kecil kemungkinannya untuk terbongkar.
Dan Sakuto pun
mulai menghadapi masa lalunya sendiri—
"—Sakuto..."
Yuzuki berbicara
padanya secara perlahan di tengah-tengah persiapan sehari sebelumnya.
"Hm?"
"Waktu
pertama kali kita ketemu, aku nggak sempat bilang... tapi, kamu baik-baik aja,
kan?"
"Hm? Yah,
seperti yang kamu lihat..." ujar Sakuto seraya mengulas senyum di
wajahnya.
"Terus, ada
yang kamu butuhkan dariku?"
"Anu, aku
ingin minta maaf atas banyak hal."
"Eh?"
"Maaf ya
karena aku bersikap sangat tidak menyenangkan waktu kita pertama kali ketemu...
Terus waktu kita di SMP... waktu itu—"
"Nggak
apa-apa, yang lalu biarlah berlalu."
Agar tidak
mengungkit masa lalu lagi, Sakuto menyela perkataannya sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong,
gimana sekolahmu? Menyenangkan?"
"I-Iya...
lumayan..."
Ekspresi Yuzuki
tampak sedikit melunak.
"Aku
juga bersenang-senang kok di sekolah ini."
"Begitu
ya... Apa itu berkat si kembar itu?"
"Iya."
Ada satu hal yang
bisa dia katakan dengan penuh rasa percaya diri.
Jika dia tidak
bertemu dengan Hikari dan Chikage, dan jika dia tidak menghabiskan hari-harinya
bersama mereka seperti ini, dia mungkin masih akan terus bersikap sok kuat,
berpura-pura menikmati kehidupannya sebagai karakter figuran.
* * *
Hari Festival
Ajisai pun tiba.
Sakuto bertugas
mengatur lalu lintas dan memberikan petunjuk arah bersama Shun.
Jumlah orang tua
murid yang hadir ternyata sangat banyak; dia mungkin akan kewalahan jika harus
mengurusnya sendirian.
Sementara itu,
ketiga gadis sedang bersama para guru TK untuk menjaga anak-anak.
"Kakak, ke
sini, ke sini! Ayo ikut kami!"
"Kak Hikari!
Ke sini juga, ke sini juga!"
"Ahaha,
tunggu sebentar, semuanya!"
Bukan hal yang
mengejutkan lagi, tetapi Hikari memang sangat populer.
Mengenakan
celemek, caranya tersenyum saat menjaga anak-anak adalah pemandangan yang
sangat luar biasa. Dia cocok menjadi seorang guru TK.
Di sisi lain,
Chikage sangat populer di kalangan anak laki-laki.
"Baiklah,
berbaris yang rapi ya. Kalian
harus menunggu giliran, tahu?"
"""Iiiya!"""
Chikage juga
menunjukkan kemampuan memimpinnya dengan instruksi yang sangat jelas. Tidak
kalah sedikit pun dari Hikari, celemek itu sangat cocok mengenai tubuhnya.
Menyendiri di
sudut ruangan, Yuzuki sedang berbicara dengan seorang anak laki-laki. Dia tersenyum dan mengajak bicara
anak yang tidak bisa bergabung dengan anak-anak TK lainnya.
Sakuto
berpikir bahwa bagian dari diri Yuzuki yang itu masih belum berubah.
Saat dia
sedang memperhatikan mereka bertiga,
"Tak
disangka kalau gadis yang ada di arena permainan itu adalah Hikari
Usami..."
Tachibana
mengajaknya berbicara.
"Usami
bersaudara itu sangat populer. Kusanagi juga pandai merawat orang lain. Baru
saja, para guru TK memintaku agar mengajak mereka datang lagi. Tentu saja, mereka juga memuji kerja
kerasmu dan Matsukaze. Sebagai guru kalian, aku merasa bangga."
"Benarkah?
Bagus kalau begitu, kan?"
"Jadi,
kenapa kamu tersenyum-tersenyum sendiri begitu?"
"A-Aku nggak
tersenyum-tersenyum kok..."
Tachibana
tersenyum tipis.
"Begitu
ya... Ya sudahlah. Bagaimanapun juga, kamu sudah sangat membantu. Sekali
lagi... terima kasih ya, Takayashiki."
"Ah, tidak,
ini belum selesai kok, jadi..."
Sakuto merasa
sedikit malu dan menggaruk ujung hidungnya.
"Ngomong-ngomong,
aku dengar dari si adik Usami. Kamu tidak hanya datang untuk membantu acara
ini, tapi kamu juga menyeret si kakak Usami yang sudah lama membolos sekolah,
kan? Apa yang terjadi
padamu, si anak yang tidak ingin menonjolkan diri? Kenapa tiba-tiba berubah
pikiran?"
"Berubah
pikiran, atau lebih tepatnya... tubuhku bergerak sendiri."
"Begitu
ya... Apakah itu berarti kamu mengikuti perasaan dan hatimu sendiri?"
Tachibana
terkikik, tampak merasa terhibur.
"...Apakah
itu... aneh?"
"Tidak, itu
mungkin reaksi 'normal' yang sering kamu bicarakan. Meskipun 'normal' versi kamu tampaknya berbeda
dari 'normal' versiku..."
"Eh?"
Tachibana
memasang senyuman yang lembut di wajahnya.
"Tidak,
bukan apa-apa... Yang lebih penting, apa kamu sudah bicara baik-baik dengan
Matsukaze dan Kusanagi?"
"Soal
apa?"
"Aku
hanya berpikir, karena kalian berasal dari SMP yang sama, mungkin ada banyak
hal yang ingin dibicarakan. Yah, kalau kalian memang tidak sedekat itu, kurasa
tidak ada yang perlu dibicarakan..."
Sakuto menghela
napas pelan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Dia
meresapi gesekan kertas di dalamnya.
* * *
Setelah
pertunjukan boneka oleh Hikari, Chikage, dan Yuzuki berakhir dengan sukses
besar, mereka melihat anak-anak TK pulang bersama orang tua mereka.
Para
siswa SMA juga seharusnya sudah pulang, tetapi si kembar malah tertahan oleh
para guru TK yang mengajak mereka membicarakan berbagai hal.
Sakuto juga
merasa senang karena kerja keras mereka dipuji, tetapi sepertinya percakapan
itu tidak akan selesai dalam waktu dekat.
Sakuto berjalan
menuju gerbang terlebih dahulu. Tepat saat dia keluar dari TK,
"—Ah...!
Sakuto..."
Yuzuki
memanggilnya.
"Anu...
itu..."
"...?
...Ada apa?"
Di hadapan
Yuzuki yang tampak ragu-ragu, Sakuto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
Di sana ada
sebuah surat yang membuat dia ragu apakah harus memberikannya kepada Yuzuki
atau tidak.
Haruskah dia
memberikan surat ini sekarang? Sepertinya tidak ada waktu lain lagi, tapi—.
Kemudian, Yuzuki
berbicara terlebih dahulu.
"Anu,
aku—"
"—Yuzuki!
—...Hm? Takayashiki?"
Tepat saat Yuzuki
hendak mengatakan sesuatu, Shun tiba.
"Kalian
berdua lagi membicarakan apa?"
Yuzuki
terburu-buru menundukkan wajahnya.
"N-Nggak ada
apa-apa..."
"Iya. Nggak
ada apa-apa kok..."
"Ngomong-ngomong,
Takayashiki, apa kamu baru saja melakukan debut SMA atau semacamnya?"
"Eh?
Kenapa?"
"Soalnya
kamu berubah banyak. Maksudku, kamu beda banget dari waktu SMP..."
Berhadapan dengan
Shun yang berbicara seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya,
Sakuto memberikan senyum pahit.
"Kalau kamu
berpikir begitu, mungkin ini berkat kamu dan Yuzuki?"
"...Hah?"
"Nggak,
bukan apa-apa... Kali ini, bagaimanapun juga, rasanya menyenangkan. Terima kasih ya."
Shun
mendengus "Hmph."
"...Yuzuki,
ayo kita segera pulang."
"I-Iya..."
Merek berdua
mulai berjalan menuju stasiun, tetapi langkah kaki Yuzuki terhenti. Sambil membalikkan badan, dia
menatap Sakuto dengan pandangan mata yang serius.
"Sakuto,
bisakah kita bertemu lagi...?"
Sakuto tersenyum.
"...Kalau
ada kesempatan."
Di tengah jalan,
Yuzuki menoleh ke belakang, merasa cemas akan keadaan Sakuto.
Mungkin ini
terakhir kalinya aku berbicara dengannya, berpikir demikian, Sakuto mendorong
surat di dalam sakunya lebih dalam lagi.
Tatapannn—...—
Tiba-tiba, dia
merasakan tatapan mata dari arah belakang. Hikari dan Chikage sedang menatapnya
dengan mata penuh curiga.
"S-Selamat
atas kerja kerasnya...? A-Ada apa? Ada yang salah...?"
"Kamu dan
Yuzuki-chan kelihatan mencurigakaaan."
"J-Jangan-jangan,
Yuzuki-chan itu mantan pacarmu, Sakuto-kun!?"
"Ah, nggak,
bukan... Yuzuki itu tetangga sekaligus teman masa kecilku. Atau lebih tepatnya,
mantan pacar..."
Kemudian Hikari
dan Chikage saling memandang satu sama lain.
"Eh? Dia
teman masa kecilmu?"
"Iya, kami
tetanggaan. Kami ada di SD dan SMP yang sama, tapi pertama kali kami mengobrol
itu sekitar kelas empat."
"Hmm. Jadi
kalian nggak sedekat itu waktu dulu?"
"Ah,
nggak... kami dulu dekat kok... Aku yang sekarang ini ada berkat Yuzuki."
""Apa
maksudmu?""
Berpikir
bahwa tidak akan menyenangkan jika disalahpahami, Sakuto memutuskan untuk
menceritakan tentang Yuzuki.
"Kalau
begitu, bagaimana kalau kita ngobrol sambil berjalan pulang—"
Dan begitulah
mereka bertiga berjalan berdampingan, seperti yang selalu mereka lakukan, dan
memutuskan untuk mengambil jalan memutar sebentar sebelum pulang ke rumah.
Di sebuah
taman dekat stasiun, mereka bertiga duduk berjejer di atas bangku.
Dan
kemudian, Sakuto mulai menceritakan kepada si kembar tentang kehidupannya
hingga saat ini, tentang apa yang telah terjadi padanya—
* * *
—Dan
begitulah.
Sekitar waktu
Sakuto memasuki tahun ketiganya di SMP.
Dia telah menjadi
benar-benar asing dengan Yuzuki, tetapi dia bekerja keras untuk menjadi seorang
pahlawan.
Tentu saja, dia
sudah tahu, tetapi profesi sebagai seorang "pahlawan" itu tidak ada.
Sebagai gantinya,
dia ingin mendapatkan pekerjaan yang bisa membantu orang lain. Seorang polisi,
pemadam kebakaran, pengacara, dokter—dia berpikir bahwa dia ingin menjadi
sesuatu seperti itu.
Apakah Yuzuki
akan merasa bahagia?
Karena satu
kalimatnya waktu itu, dia mampu berubah menjadi seperti ini. Dia mampu bekerja
keras untuk berubah.
Tidak, bahkan
jauh sebelum itu—.
Pada hari saat
dia pertama kali mengulurkan tangannya, dia merasa bingung ketika gadis itu
tersenyum padanya waktu itu.
Namun sekarang
dia tahu ekspresi seperti apa yang harus ditunjukkan.
Kalau
dipikir-pikir, ulang tahun Yuzuki sudah dekat. Hadiah apa yang harus dia
berikan padanya tahun ini?
Sambil memikirkan
hal-hal seperti itu, Yuzuki berbicara padanya di sekolah. Saat itu pertengahan
Juli, kira-kira seminggu sebelum liburan musim panas dimulai.
"Hei... ada
yang ingin kukatakan padamu setelah pulang sekolah hari ini, Sakuto..."
Wajahnya tampak
agak canggung. Seolah-olah dia sedang menyembunyikan semacam rasa cemas.
Merasakan
sesuatu, Sakuto berjalan ke belakang gedung sekolah setelah jam pelajaran usai.
Yuzuki sudah
menunggu di sana. Dia memiliki raut wajah yang canggung dan tampaknya sedang
ragu-ragu, tapi—
"Hei, aku
sudah menyukaimu sejak lama, Sakuto..."
"Eh...?"
"Maukah
kamu, umm... berpacaran denganku?"
"...Kenapa
mendadak begini?"
Pada saat itu,
entah kenapa, jantungnya berdebar sangat kencang.
Apakah gadis itu
menyukainya? Tidak, bukan itu.
Dia sebenarnya
sudah tahu. Bahwa Yuzuki telah lama menemukan tempat untuk dirinya sendiri yang
berbeda dari tempatnya.
Jadi alasan
jantungnya berdegup kencang hanyalah karena "terkejut," bukan karena
semacam kesalahpahaman yang menguntungkan.
"Umm, itu...
—"
Pada saat itu,
telinga Sakuto menangkap suara renyah yang samar dari kerikil yang terinjak.
Itu bukan Yuzuki, dan itu bukan dirinya; itu adalah suara seseorang di dekat
sana yang menginjak kerikil. Seperti yang dia duga—Sakuto dengan cepat memahami
situasinya.
Sebenarnya, ada
satu frasa yang sering dia dengar di kelas akhir-akhir ini—
"—Mungkinkah,
ada seseorang yang menyuruhmu untuk menyatakan cinta?"
"Eh...?"
"Seperti,
pernyataan cinta permainan hukuman... Apa aku salah?"
"A-Apa...!?"
Mata Yuzuki
membelalak terkejut, dan tubuhnya mulai gemetaran.
Sakuto
tidak mengerti. Apa yang dia takutkan?
Mereka mungkin
memainkan beberapa permainan dengan teman-teman mereka; itu hanya lelucon
ringan. Atau apakah dia dipaksa? Jika demikian, dia harus memperingatkan
orang-orang yang memaksanya.
Oleh karena itu,
dia tidak berniat untuk menyalahkan Yuzuki, dan dia memiliki rasa percaya diri
bahwa karena itu adalah Yuzuki, dia bisa memaafkannya.
Karena gadis itu
adalah teman masa kecilnya yang sangat berharga yang telah menunjukkan jalan
kepadanya.
—Namun, kenapa
dadanya terasa sangat nyeri?
Wajah yang harus
dia tunjukkan padanya di saat seperti ini adalah—ah, benar.
Ketika seseorang
sedang merasa cemas—dia tahu wajah untuk saat-saat seperti ini. Wajah yang
tidak bisa dia buat pada hari saat Yuzuki berbicara padanya. Seperti Yuzuki,
secara alami—
Sejauh yang dia
tahu, Sakuto tersenyum untuk pertama kalinya—sebuah senyuman dari lubuk hatinya
yang paling dalam yang tampaknya penuh perhatian padanya, untuk memaafkannya,
untuk menyemangatinya, dan untuk menyampaikan seluruh rasa terimakasihnya.
Senyuman tanpa
beban dan lembut itu menyentuh sanubari Yuzuki.
"—Sakuto,
umm... aku benar-benar, minta maaf...!"
Yuzuki yang
berwajah pucat membalikkan badan dan berlari pergi.
Dari
balik dinding, suara beberapa anak laki-laki dan perempuan bisa terdengar.
Beberapa suara terdengar bingung, beberapa lagi tertawa.
Sendirian,
ditinggalkan di tempat itu, Sakuto, dengan senyuman yang masih mengembang di
wajahnya, menatap ke arah tempat Yuzuki berdiri beberapa saat yang lalu.
Tiba-tiba,
pandangannya kabur. Tetes demi tetes air jatuh di ujung sepatu Sakuto.
Meskipun
dia sedang tersenyum, entah kenapa, air mata menetes deras.
Kenapa,
bagaimana bisa—apakah karena dia seorang robot dan telah rusak?
Tidak,
bukan itu.
Ah,
benar... Begitu ya... ini adalah—
Ketika dia
akhirnya mengerti, dia merasakan lega yang sangat luar biasa. Saat dia merasa
lega, wajahnya mengkerut.
—Aku bukan
robot lagi, pikirnya.
Ini adalah
sosok dari "orang normal" yang ingin dia capai.
Kalau
begitu, tidak ada lagi alasan untuk bertujuan menjadi seorang pahlawan.
Dia akhirnya
telah menjadi seorang pahlawan.
Seorang
"orang normal" yang sangat biasa, yang akan menangis dengan emosi
yang meluap-luap.
Dia
akhirnya telah menjadi sosok yang dia harapkan demi gadis itu—
* * *
—Ketika Sakuto
selesai menceritakan semuanya hingga saat ini, si kembar mengernyitkan dahi
mereka, tampak merasa sakit hati.
"Hal seperti
itu... hal seperti itu..."
"Itu sungguh
terlalu menyakitkan..."
Sakuto
memasang ekspresi wajah yang tenang.
"Tapi
aku sama sekali tidak menyimpan dendam atau semacamnya kepada Yuzuki. Berkat
kejadian itu, sekarang aku bisa mengekspresikan emosiku sendiri..."
"Mungkin
ini kedengarannya aneh, tapi pernyataan cinta permainan hukuman itulah yang
akhirnya membuatku merasa seperti manusia normal."
Sakuto
mengatakannya dengan nada bicara yang tenang, seolah-olah itu adalah sebuah
kenangan yang indah.
"Hatiku
memang hancur, tapi aku merasa lega saat menyadari bahwa aku memiliki hati yang
bisa hancur."
Setelah
mengatakan hal itu, dia kemudian memasang raut wajah yang tampak canggung.
"Salahku
sendiri sampai Yuzuki memanfaatkanku untuk pernyataan cinta permainan hukuman
itu."
"Kenapa kamu
berpikir begitu...? Orang-orang yang melakukan permainan hukuman itulah yang
jahat..."
Sakuto
menggelengkan kepalanya.
"Soalnya,
dari sudut pandang orang-orang di sekitarku, aku ini seperti robot... Mungkin
tidak bisa dihindari kalau aku dianggap sebagai seseorang yang pantas dijadikan
bahan olokan. Dulu aku seorang penyendiri..."
Kalau mengingat
kembali ke masa lalu, terasa wajar jika dia terpilih sebagai target. Meskipun
begitu, dia tidak menyangka mereka akan menyuruh Yuzuki.
Namun, di dalam
pikiran Sakuto, Yuzuki lebih merupakan seorang korban daripada pelaku. Karena
sifatnya yang penakut, dia mungkin diperintah oleh orang-orang di sekitarnya
dan tidak memiliki pilihan selain menuruti mereka.
Sakuto memastikan
untuk menyampaikan poin penting itu secara hati-hati kepada si kembar sebelum
mengeluarkan barang itu dari sakunya.
"Ini adalah
surat yang kutulis untuk Yuzuki. Aku kehilangan kesempatan untuk memberikannya
padanya, tapi mungkin memang lebih baik kalau aku tidak pernah
memberikannya."
"Apa
yang tertulis di dalamnya?"
"Kabar
terbaru dan rasa terima kasih. Jika bukan karena Yuzuki, aku tidak akan ada di
sini sekarang. Tapi dia mungkin akan merasa kesulitan jika aku memberinya hal
seperti ini sekarang, dan sepertinya itu juga tidak diperlukan lagi,
jadi—"
Sakuto mencoba
merobek surat itu, tetapi...
"Pinjamkan
surat itu padaku—"
Surat itu
tiba-tiba direbut oleh Hikari.
"Hikari? Apa
yang mau kamu lakukan dengan surat itu?"
"Aku yang
akan menyimpannya."
"Kenapa?"
"Ini adalah
surat yang dipenuhi dengan perasaan berhargamu saat ini, kan? Sampai hari di
mana kamu memutuskan untuk memberikannya padanya, aku tidak akan membiarkanmu
merobeknya!"
Melihat Hikari
meninggikan suaranya untuk pertama kali, dia tidak bisa mengatakan
"kembalikan".
Yah, mungkin
tidak apa-apa kalau Hikari yang menyimpannya... meskipun aku mungkin tidak akan
pernah memberikannya pada Yuzuki—
Dan
begitulah, Sakuto menatap Chikage dengan ekspresi yang tenang.
"Aku
mulai menghadiri tempat bimbingan belajar yang sama dengan Chikage setelah
kejadian itu. Agar Yuzuki tidak merasa sakit saat melihat wajahku, aku memilih
tempat yang sedikit lebih jauh."
"Nggak..."
"Yah, pada
akhirnya ini bagus karena membawa kita ke masa sekarang. Aku bertemu Chikage di
sana, dia jadi menyukaiku, dan sekarang kita bisa berpacaran seperti ini."
Air mata menetes
dari mata Chikage.
"Kalau
begitu, alasan kamu tidak berusaha untuk menonjolkan diri, Sakuto-kun,
adalah..."
"Paku
yang menonjol akan ditumbuk. Tapi aku sadar bahwa yang terluka oleh palu itu
selalu orang-orang berharga di sekitarmu. Aku tidak ingin membuat seseorang
merasa sedih karenaku. Seperti Yuzuki, tahu?"
Mempertimbangkan
orang-orang yang berada di bawah ujung paku yang tajam, dia tidak boleh
menyusahkan mereka. Ibunya yang khawatir dan membimbingnya, bibinya Mitsumi,
Yuzuki—dan sekarang, ada Hikari dan Chikage. Setiap dari mereka adalah orang
yang berharga baginya.
Karena
dia melakukan hal-hal yang berbeda dari orang lain, dia tidak boleh menyusahkan
semua orang, siapa pun itu.
Itulah
mengapa dia berpikir bahwa menjadi "normal" saja sudah cukup.
Meringkuk
ketakutan terhadap orang-orang di sekitarnya, dia telah menekan hatinya,
tindakannya, selama ini.
Dan
begitulah, dia menemukan rasa aman dalam tidak menonjolkan diri dan telah
hanyut menyusuri jalan yang lebih mudah.
Dia menyadari
bahwa dia telah melarikan diri dari hari pernyataan cinta permainan hukuman itu
selama ini—.
"Pertemuan
dengan Chikage, dan kemudian bertemu dengan Hikari, telah mengubah caraku
berpikir. Tidak, aku ingin berubah."
"Dengan cara
apa...?"
Hikari berkata
dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku hanya
perlu membalikkan pakunya. ...Sebuah pembalikan pola pikir, mungkin? Jika kamu
membalikkan pakunya, bagian yang tajam ada di atas. Mungkin tidak apa-apa untuk
menjadi begitu tajam sampai tidak ada lagi orang yang tersisa untuk menumbuknya."
"Dengan kata
lain, apa maksudnya...?"
Hikari menyapu
air matanya.
Gadis itu mungkin
paham apa yang coba dia katakan. Dia sangat tajam dengan cara yang menakutkan.
Ada kalanya ketajaman itu membuatnya merinding, tetapi tidak ada alasan lagi
untuk membohonginya.
Dia akan
menghadapi Hikari dan Chikage dengan bersungguh-sungguh—
"Aku akan
berusaha menjadi pacar yang bisa dibanggakan oleh Hikari dan Chikage. Rasanya
menakutkan jika sendirian... jadi aku ingin bersama kalian berdua mulai dari
sekarang. ...Apakah itu... tidak boleh?"
Saat Sakuto
mengucapkan hal itu sambil tersenyum, air mata meledak dari mata Hikari dan
Chikage, dan,
""Uwaaaaaaahhhhhh~~~~~~...—""
mereka memeluknya
dari kedua sisi.
"Hei,
tunggu!? Ada apa!? Kalian berdua...!?"
Dia tidak tahu
kenapa mereka berdua menangis.
Terlebih lagi,
karena mereka berdua menangis terisak-isak dari lubuk hati mereka, dia juga
tidak bisa menanyakan alasannya.
Dia
benar-benar merasa bingung.
Di saat-saat
seperti ini, ekspresi wajah seperti apa yang harus dia tunjukkan?
Ketika seseorang
sedang menangis, benar—dia tahu wajah untuk saat-saat seperti ini.
Itu memang
ekspresi wajah yang dipelajarinya dari Yuzuki.
Namun, itu juga
merupakan ekspresi wajah yang dipelajarinya dari Hikari dan Chikage setelah
itu.
Sakuto tersenyum.
Itu adalah senyuman dari lubuk hatinya yang paling dalam yang tampaknya penuh
perhatian pada mereka, menyemangati mereka, menyayangi mereka, dan menyampaikan
rasa terimakasihnya hingga saat ini serta harapannya mulai dari sekarang.
"—Terima
kasih ya, kalian berdua. Mohon bantuannya mulai dari sekarang."
Dengan senyuman
tanpa beban dan lembut itu, dia terus mengelus kepala mereka berdua sebentar,
sampai mereka berhenti menangis.



Post a Comment