NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Futago Matomete “Kanojo” ni Shinai? Volume 1 Chapter 12

Chapter 12

Kalau Kamu Membalikkan Pakunya...?


"Sakuto-kun... eh? Kenapa...!?"

Saat Sakuto membuka pintu ruang rapat dengan lebar, Chikage tampak sangat terkejut. Matanya bahkan berkaca-kaca seperti hendak meneteskan air mata.

Melihat keadaan Chikage, dada Sakuto terasa nyeri dan sakit. Namun, dia tersenyum untuk menenangankannya.

"Boleh aku masuk?"

Sebelum Chikage sempat menjawab "Silakan,"—

"Eh? Takayashiki!?"

"Sakuto...!?"

Melihat sosok Sakuto, Shun dan Yuzuki terperanjat secara bersamaan.

Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan mereka berdua. Sakuto hanya membungkukkan badannya sedikit.

Kemudian, saat dia melangkah mendekati Chikage, gadis itu berbisik pelan di telinganya.

"...Kenapa kamu datang?"

"Aku pikir ini saatnya untuk bersikap serius."

"...Eh?"

"Kamu sedang dalam kesulitan, kan, Chikage? Makanya aku datang. ...Maaf ya, aku terlambat?"

Sakuto melemparkan senyuman tanpa beban ke arah Chikage.

"A-Aku memang senang, tapi... aku senang, tapi—!"

Chikage berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah cerah, tetapi dia tidak bisa menutupi semuanya.

Raut wajahnya memancarkan campuran rasa terkejut dan bahagia yang datang secara bersamaan hingga tak sanggup diungkapkan dengan kata-kata. Namun, ini masih terlalu dini untuk bersenang-senang—

"Selain itu, aku juga membawa bantuan lain."

"Bantuan...? Siapa?"

Sosok yang mengintipkan kepalanya dari balik pintu yang terbuka adalah—

"Halo, Chi-chan."

Itu adalah Hikari. Dia mengulas senyum canggung, seperti seorang anak kecil yang kenakalannya baru saja ketahuan.

"Hii-chan...!? Kenapa...?"

"Aku datang buat membantumu, Chi-chan... cuma bercanda, tahu? Boleh aku masuk juga?"

Sambil berkata begitu, Hikari mendekati Chikage dan...

"Oh iya, aku punya oleh-oleh buatmu, Chi-chan—"

Dia mengeluarkan dua buah Usapyoko dari sakunya, lalu menyerahkan yang berwarna hitam ke tangan Chikage.

"Usapyoko...?"

"Kita kembaran... —Nggak deng, maaf ya sudah bikin kamu khawatir selama ini. Aku sudah menyusahkanmu, jadi sekarang giliranku buat berusaha sebaik mungkin demi kamu, Chi-chan!"

Air mata seketika menetes deras dari mata Chikage.

Dia pasti merasa sangat bahagia karena Hikari rela datang ke sekolah demi dirinya.

"—Sudah lama tidak bertemu, Takayashiki. Apa yang dilakukan orang luar di sini?"

Shun menyeringai sambil menatap Sakuto.

"Bukankah kamu itu si 'Robot Belajar'? Kami tidak membutuhkanmu sekarang, jadi pulang sana, ya?"

Seketika itu juga, sorot mata Chikage berubah tajam.

"Apa maksudmu bicara begitu? Nada bahasamuu itu..."

"Chikage, nanti akan kujelaskan... Sampingkan hal itu dulu—Matsukaze, maaf ya, tapi aku dan Hikari bukan orang luar. Kami baru saja memberi tahu Tachibana-sensei secara resmi kalau kami berpartisipasi sebagai sukarelawan."

"Hah? Yang benar saja?"

Shun merengut, memperlihatkan raut wajah yang sangat tidak senang.

"Lagi pula, anak perempuan itu...?"

"Ehehehe~, aku kakak perempuannya Chi-chan, Hikari. Salam kenal ya, Matsuda-kun."

"Matsukaze!"

"Oh, begitu ya. Maaf, maaf."

Hikari berucap tanpa ada nada penyesalan sedikit pun. Yang tadi itu jelas-jelas disengaja.

"...Ngomong-ngomong, Matsukaze-kun, apa maksudnya 'robot belajar'?"

"...Hikari!?"

Hikari—sedang marah.

Wajahnya memang tersenyum, tetapi aura kemarahan memancar dari sekujur tubuhnya.

Sejauh yang Sakuto tahu, ini adalah pertama kalinya dia melihat Hikari marah. Gadis itu kemungkinan besar marah demi dirinya dan Chikage, tapi—

"Seperti yang kukatakan, dia itu robot yang cuma bisa belajar... Benar kan, Yuzuki?"

"Eh... umm, anug..."

Saat Yuzuki ragu-ragu, Hikari tersenyum cerah seolah-olah telah yakin akan suatu hal.

"Begitu ya, jadi kamu cemburu?"

"Hah? Kamu bicara apa barusan...?"

"Aku bilang, perasaanmu itu adalah kecemburuan, kan?"

Saat Shun menatapnya dengan tajam, raut wajah Hikari berubah menjadi serius.

"Kamu adalah tipe orang yang merasa lebih baik dengan cara merendahkan seseorang yang jelas-jelas lebih unggul darimu, kan? Karena kamu harus terbuai dalam rasa superioritas, kamu ingin menyimpan orang-orang yang posisinya lebih lemah dan penakut di sekitarmu. Kamu tidak akan puas kecuali mereka setara atau berada di bawahmu, kan?"

"Ap...!?"

"Sakuto-kun adalah contoh yang bagus. Sindiran 'robot belajar' itu... apa kamu tidak sadar kalau kamu cuma mengakui bahwa dirimu adalah barang rosokan yang bahkan tidak bisa belajar?"

"Hikari, tunggu... itu sudah keterlaluan!"

Sakuto terburu-buru menghentikan Hikari.

Tidak perlu bicara sejauh itu pada seseorang yang akan diajak bekerja sama dalam acara gabungan mulai dari sekarang.

"Ada apa denganamu? Lagi pula, dari tadi kamu oceh terus... Kami ini berasal dari SMP yang sama dengan Takayashiki. Kami kenal dia lebih lama dari kamu, jadi jangan ikut campur dalam hubungan kami, paham?"

"Tentu saja aku bakal ikut campur. Soalnya sekarang, kami punya hubungan yang 'dalam'. —Meskipun begitu, kamu benar-benar tidak memahami Sakuto-kun sama sekali ya, padahal kalian dari SMP yang sama?"

"Hah?"

"Bukan, apa kamu takut untuk memahaminya? Nggak deng, kamu sebenarnya sudah paham. Kamu menyerangnya karena kamu merasa takut, kan? Tapi, kenapa? Alasan kamu ingin merasa lebih superior dari Sakuto-kun adalah—"

Hikari menatap Shun dan Yuzuki bergantian dengan mata menyelidik.

Mereka berdua menunjukkan raut wajah yang canggung.

Daya pengamatan Hikari yang luar biasa seperti biasa bahkan membuat Sakuto merasa merinding.

Ya ampun, seberapa jauh gadis ini bisa melihat situasi—.

"Hikari, sudah cukup..."

"...Yah, kalau Sakuto-kun berkata begitu, baiklah."

Setelah beberapa saat, ketika suasana sudah sedikit tenang, Sakuto menerima penjelasan mengenai kemajuan perencanaan sejauh ini dari Chikage.

"—Dan begitulah hal-hal yang sudah diputuskan sejauh ini."

"Jadi, dengan kata lain, apakah pemahamanku benar kalau kalian menumpahkan segala sesuatunya—semuanya—yang harus kalian kerjakan, kepada Chi-chan manisku...?"

Saat Hikari tersenyum cerah, Shun dan Yuzuki tampak terintimidasi.

"Hikari, kamu tidak perlu marah..."

Shun tampaknya masih sama seperti dulu.

Seorang pemimpin setengah-setengah yang melemparkan berbagai tanggung jawab kepada pihak lain.

Dia tidak berubah sedikit pun sejak SMP.

"Meskipun begitu, rencana ini, yang bener saja...?"

Sakuto merasa tidak habis pikir.

"Ada masalah? Kami pikir anak-anak TK akan senang—"

"Aku tidak bilang rencana ini buruk. Masalahnya adalah jumlah personel yang bisa kita kerahkan itu terbatas. Kita bertiga bisa mengatasinya jika rencananya sama seperti Festival Ajisai tahun lalu, tapi kalian malah memasukkan pertunjukan boneka, turnamen permainan, dan berbagai hal lainnya... Apa yang ingin kalian lakukan dan apa yang bisa kalian lakukan adalah dua hal yang berbeda, tahu?"

"Semuanya akan berhasil kalau kita berusaha keras, kan...!"

"Itu kalau jumlah kita ada lima orang. Apa yang ingin kalian lakukan dengan tiga orang? ...Kalian tidak berniat menumpahkan berbagai hal kepada Chikage, kan?"

Saat Sakuto menatapnya dengan tajam, Shun terkejut sejenak sebelum balik menatapnya.

"Ada apa denganamu? Sejak kapan kamu jadi tipe orang yang bicara seperti itu padaku?"

Untuk sejenak, Sakuto merasa terkejut. Dia tidak menyangka Shun akan mengatakan hal seperti itu secara langsung.

Dulu, saat dia terus-menerus memandang rendah Sakuto, tidak ada kebutuhan untuk diungkapkan dengan kata-kata sekalipun.

Mungkin Shun, secara tak terduga, telah kehilangan ketenangannya juga.

"Hmph... apa kamu jadi besar kepala karena si kembar itu menyukaimu? Padahal kamu cuma seorang robot..."

Untuk sejenak, dia hampir merasa goyah oleh kata-kata itu.

Namun, tidak ada alasan untuk merasa takut. Ini berbeda dari masa lalu. Sekarang, mereka berdua ada di sini.

Karena itulah Sakuto menyatakan hal tersebut dengan penuh rasa percaya diri.

"Aku bukan robot yang bergerak sesuai keinginanmu."

"A-Ada apa denganamu, mendadak begini...?"

"Hal yang sama berlaku untuk Chikage dan Hikari."

Saat dia mengucapkan hal itu dengan suara rendah, tenaga seolah terkuras dari si kembar yang tadinya hendak berdiri membela. Nah, kalau begitu—

"Karena Akademi Arisuyama hanya berpartisipasi dengan satu orang, kalian menuntut agar kami mengikuti perkataan Akademi Yuki yang memiliki dua orang, kan? Sekarang kami bertiga. Berdasarkan logikamu, Akademi Yuki yang seharusnya mengikuti kami, kan?"

"Ugh... aku tidak bilang begitu..."

"Bahkan dengan logika sebodoh itu, jika ini mengenai pendapat minoritas melawan mayoritas, pihak mayoritas tentu saja lebih kuat, kan? Lagi pula, kamu bilang tidak apa-apa kalau Chikage yang mengambil alih kepemimpinan, kan?"

"Guh...!?"

"Baiklah, kami yang akan mengambil alih. Kalian akan mengikuti perkataan Akademi Arisuyama, kan?"

Shun tidak bisa membalas perkataannya dan mengertakkan gigi karena merasa frustrasi.

"...Cuma bercanda. Lagipula, ini adalah acara gabungan, jadi tidak ada gunanya memperebutkan rasa superioritas tingkat rendah seperti itu. Kami yang akan memimpin, tetapi bebannya akan dibagi secara merata antara kedua sekolah. Bagaimana?"

Kemudian Yuzuki menarik lengan baju Shun.

"Shun-kun, sebaiknya kita ikuti saja kata-kata Sakuto dan yang lainnya..."

"Kalau kamu berkata begitu, Yuzuki, ya sudah..."

Dia sepertinya setuju dengan enggan setelah dibujuk, tetapi dia mungkin merasa ingin berdecak kesal.

Namun, situasinya tidak berubah menjadi di mana dia langsung pulang hanya karena merasa tidak senang. Tampaknya, dia bukan cowok yang seegois itu.

"Kalau begitu, Chikage dan Hikari kami yang akan menjadi penggerak utamanya. Chikage akan memberikan instruksi kepada kita. Hikari akan bergerak bebas. Matsukaze dan Yuzuki akan bergerak sesuai dengan instruksi dariku dan Chikage. Apakah tidak apa-apa?"

"Dimengerti!"

"Ya, serahkan padaku!"

Saat Chikage dan Hikari setuju sambil tersenyum, Shun bergumam, "Paham..."

Dia sepertinya tidak punya pilihan lain selain setuju saat ini.

Meskipun begitu—

"Anu." Yuzuki mengangkat tangannya sambil sedikit mengerutkan dahi.

"Aku bisa setuju dengan hal yang barusan, tapi apakah benar-benar tidak apa-apa? Menyerahkan semuanya kepada mereka berdua..."

Sakuto mengangguk dengan mantap.

"Ya, aku bisa menyerahkannya kepada mereka. Jika tidak berhasil, kamu boleh menimpakan semua kesalahannya padaku."

""Sakuto-kun...""

Mereka berdua menatapnya dengan wajah yang memerah cerah.

Ditambah lagi, mereka berdua secara sembunyi-sembunyi menggenggam tangannya di bawah meja. Sakuto ingin menyuruh mereka berhenti karena berbagai hal bisa terbongkar.

"Kamu, jangan lupakan kata-katamu yang barusan, ya? Kalau tidak berhasil, kamu yang bertanggung jawab."

"Tentu saja."

Shun mendengus seolah merasa hal itu tidak menarik, tetapi Yuzuki juga menunduk dengan raut wajah tidak senang.

"Kamu benar-benar... soal mereka berdua... Tidak, sebenarnya, lupakan saja."

Menangkap apa yang coba disampaikan oleh Yuzuki, Sakuto tersenyum.

"Merek berdua ini luar biasa. Makanya aku memercayai mereka lebih dari siapa pun—"

—sebagai pacar mereka, tentu saja dia menahan diri untuk tidak mengatakannya.

"Kalau begitu, mari kita mulai—"

Saat Sakuto mengucapkan hal itu, Chikage berdiri dan berjalan ke depan papan tulis, sementara Hikari dengan sigap membuka laptop di depannya.

—Dari sana, segala sesuatunya berjalan dengan kecepatan yang menakjubkan.

Chikage mengelola seluruh rangkaian acara dengan instruksi yang presisi, Hikari menyelesaikan tugas-tugas administratif dengan kecepatan kerja yang luar biasa, dan Sakuto mendukung mereka berdua dari balik layar sambil membagi pekerjaan dengan dua orang dari Akademi Yuki.

Sakuto melihat sisi baru dari saudara kembar tersebut.

Chikage memiliki kemampuan memimpin yang biasanya tidak dia tunjukkan, dan dia dengan cepat memperlihatkan keterampilan kepemimpinannya. Dia tampaknya sangat cocok untuk hal-hal seperti ini.

Di sisi lain, Hikari bertindak sambil membaca dua, tiga, empat langkah ke depan. Karena dia bergerak mendahului dan melakukan berbagai hal, semua orang merasa sangat terbantu.

Kebetulan, dipicu oleh partisipasinya dalam acara gabungan ini, Hikari mulai berangkat ke sekolah sejak pagi hari.

Sedangkan untuk Chikage, dia menghabiskan hari-harinya dengan ekspresi wajah yang jauh lebih ceria dari biasanya.

Dan begitulah, saat pemandangan saudara kembar yang berangkat dan pulang sekolah bersama serta berhubungan dekat mulai terlihat di sekolah, penilaian orang-orang di sekitar terhadap mereka tampaknya berubah menjadi lebih baik.

Sakuto menghabiskan hari-harinya dengan bahagia, berada di antara mereka berdua.

Ada saat-saat di mana jantungnya berdebar kencang saat di kantin atau setelah sekolah usai, tetapi pada dasarnya, bagi orang-orang di sekitar, mereka bertiga hanya terlihat dekat, dan dia hanya sedang dijahili oleh si kembar.

Di sisi lain, Shun dan Yuzuki, yang datang ke Akademi Arisuyama setelah sekolah usai, juga mulai mengakui kemampuan dan kepribadian dari saudara kembar tersebut.

Namun, Shun tampaknya masih belum ingin mengakuinya dari lubuk hati yang paling dalam, dan bersikap tidak senang saat tidak sedang berbicara dengan Yuzuki.

Dia terkadang menyulitkan keadaan, tetapi Chikage dan Hikari akan menjelaskannya secara menyeluruh—dengan kata lain, mereka membantahnya secara telak sampai dia tidak bisa membalas argumen itu lagi.

Meskipun begitu, Shun tidak menunjukkan sikap malas-malasan dalam bekerja, jadi Sakuto merasa sedikit lega.

"Kalau begitu, aku mau ke ruang guru sebentar—"

Setelah Sakuto berjalan menuju ruang guru, percakapan ini muncul di antara empat orang yang tersisa—

"Hei, Chikage-san, Hikari-san..."

Yuzuki angkat bicara.

"Apakah kalian tidak berpikir kalau Sakuto-kun itu orang yang aneh pada awalnya...?"

""Eh?""

"M-Maksudku... soalnya dia itu anak yang terasingkan saat SMP..."

Tidak ada nada penghinaan di dalamnya. Kalau ada, suaranya terdengar seperti sedang khawatir, dan nada bicaranya mengisyaratkan bahwa dia ingin mengonfirmasi sesuatu.

"Aneh... Benarkah? Aneh? Aku menganggapnya sebagai orang yang luar biasa sejak awal. Hmm... Seseorang yang bisa mengubah dunia? Seperti seorang pahlawan."

"Pahlawan..."

Yuzuki menunjukkan reaksi refleks terhadap kata itu, tetapi sebelum dia sempat berpikir, kali ini Chikage yang angkat bicara.

"Sakuto-kun sangat menyayangi kami. Makanya kami memercayainya dan merasa tenang saat berada bersamanya. Jadi, dia adalah pahlawan kami. Benar kan?"

"Yup, yup!"

Si kembar mengatakannya dengan senyuman berseri-seri, seolah-olah sedang membicarakan seseorang yang sangat berharga bagi mereka.

Yuzuki berpikir bahwa si kembar ini dan Sakuto pasti sangat dekat.

"...Apa bedanya... antara aku dan..."

Suara gumaman yang diucapkannya tidak terdengar oleh saudara kembar tersebut, tetapi hanya satu orang, Shun, yang ada di sampingnya, menurunkan pandangannya dengan raut wajah yang rumit.

Setelah itu, Hikari menangani pekerjaan administratif, sementara Sakuto mengurus berbagai detail kecil lainnya.

Mengikuti instruksi Chikage, Shun dan Yuzuki ikut membantu, dan persiapan pun berjalan maju dengan penuh semangat.

Sakuto menyadari pandangan mata Yuzuki, tetapi dia tidak sengaja mengajak gadis itu berbicara, melainkan hanya menjalankan tugasnya tanpa emosi.

Dia menyadari bahwa, secara tak terduga, berada bersama sebagai bertiga membuat hubungan mereka bertiga lebih kecil kemungkinannya untuk terbongkar.

Dan Sakuto pun mulai menghadapi masa lalunya sendiri—

"—Sakuto..."

Yuzuki berbicara padanya secara perlahan di tengah-tengah persiapan sehari sebelumnya.




"Hm?"

"Waktu pertama kali kita ketemu, aku nggak sempat bilang... tapi, kamu baik-baik aja, kan?"

"Hm? Yah, seperti yang kamu lihat..." ujar Sakuto seraya mengulas senyum di wajahnya.

"Terus, ada yang kamu butuhkan dariku?"

"Anu, aku ingin minta maaf atas banyak hal."

"Eh?"

"Maaf ya karena aku bersikap sangat tidak menyenangkan waktu kita pertama kali ketemu... Terus waktu kita di SMP... waktu itu—"

"Nggak apa-apa, yang lalu biarlah berlalu."

Agar tidak mengungkit masa lalu lagi, Sakuto menyela perkataannya sambil tersenyum.

"Ngomong-ngomong, gimana sekolahmu? Menyenangkan?"

"I-Iya... lumayan..."

Ekspresi Yuzuki tampak sedikit melunak.

"Aku juga bersenang-senang kok di sekolah ini."

"Begitu ya... Apa itu berkat si kembar itu?"

"Iya."

Ada satu hal yang bisa dia katakan dengan penuh rasa percaya diri.

Jika dia tidak bertemu dengan Hikari dan Chikage, dan jika dia tidak menghabiskan hari-harinya bersama mereka seperti ini, dia mungkin masih akan terus bersikap sok kuat, berpura-pura menikmati kehidupannya sebagai karakter figuran.

Hari Festival Ajisai pun tiba.

Sakuto bertugas mengatur lalu lintas dan memberikan petunjuk arah bersama Shun.

Jumlah orang tua murid yang hadir ternyata sangat banyak; dia mungkin akan kewalahan jika harus mengurusnya sendirian.

Sementara itu, ketiga gadis sedang bersama para guru TK untuk menjaga anak-anak.

"Kakak, ke sini, ke sini! Ayo ikut kami!"

"Kak Hikari! Ke sini juga, ke sini juga!"

"Ahaha, tunggu sebentar, semuanya!"

Bukan hal yang mengejutkan lagi, tetapi Hikari memang sangat populer.

Mengenakan celemek, caranya tersenyum saat menjaga anak-anak adalah pemandangan yang sangat luar biasa. Dia cocok menjadi seorang guru TK.

Di sisi lain, Chikage sangat populer di kalangan anak laki-laki.

"Baiklah, berbaris yang rapi ya. Kalian harus menunggu giliran, tahu?"

"""Iiiya!"""

Chikage juga menunjukkan kemampuan memimpinnya dengan instruksi yang sangat jelas. Tidak kalah sedikit pun dari Hikari, celemek itu sangat cocok mengenai tubuhnya.

Menyendiri di sudut ruangan, Yuzuki sedang berbicara dengan seorang anak laki-laki. Dia tersenyum dan mengajak bicara anak yang tidak bisa bergabung dengan anak-anak TK lainnya.

Sakuto berpikir bahwa bagian dari diri Yuzuki yang itu masih belum berubah.

Saat dia sedang memperhatikan mereka bertiga,

"Tak disangka kalau gadis yang ada di arena permainan itu adalah Hikari Usami..."

Tachibana mengajaknya berbicara.

"Usami bersaudara itu sangat populer. Kusanagi juga pandai merawat orang lain. Baru saja, para guru TK memintaku agar mengajak mereka datang lagi. Tentu saja, mereka juga memuji kerja kerasmu dan Matsukaze. Sebagai guru kalian, aku merasa bangga."

"Benarkah? Bagus kalau begitu, kan?"

"Jadi, kenapa kamu tersenyum-tersenyum sendiri begitu?"

"A-Aku nggak tersenyum-tersenyum kok..."

Tachibana tersenyum tipis.

"Begitu ya... Ya sudahlah. Bagaimanapun juga, kamu sudah sangat membantu. Sekali lagi... terima kasih ya, Takayashiki."

"Ah, tidak, ini belum selesai kok, jadi..."

Sakuto merasa sedikit malu dan menggaruk ujung hidungnya.

"Ngomong-ngomong, aku dengar dari si adik Usami. Kamu tidak hanya datang untuk membantu acara ini, tapi kamu juga menyeret si kakak Usami yang sudah lama membolos sekolah, kan? Apa yang terjadi padamu, si anak yang tidak ingin menonjolkan diri? Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?"

"Berubah pikiran, atau lebih tepatnya... tubuhku bergerak sendiri."

"Begitu ya... Apakah itu berarti kamu mengikuti perasaan dan hatimu sendiri?"

Tachibana terkikik, tampak merasa terhibur.

"...Apakah itu... aneh?"

"Tidak, itu mungkin reaksi 'normal' yang sering kamu bicarakan. Meskipun 'normal' versi kamu tampaknya berbeda dari 'normal' versiku..."

"Eh?"

Tachibana memasang senyuman yang lembut di wajahnya.

"Tidak, bukan apa-apa... Yang lebih penting, apa kamu sudah bicara baik-baik dengan Matsukaze dan Kusanagi?"

"Soal apa?"

"Aku hanya berpikir, karena kalian berasal dari SMP yang sama, mungkin ada banyak hal yang ingin dibicarakan. Yah, kalau kalian memang tidak sedekat itu, kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan..."

Sakuto menghela napas pelan dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

Dia meresapi gesekan kertas di dalamnya.

Setelah pertunjukan boneka oleh Hikari, Chikage, dan Yuzuki berakhir dengan sukses besar, mereka melihat anak-anak TK pulang bersama orang tua mereka.

Para siswa SMA juga seharusnya sudah pulang, tetapi si kembar malah tertahan oleh para guru TK yang mengajak mereka membicarakan berbagai hal.

Sakuto juga merasa senang karena kerja keras mereka dipuji, tetapi sepertinya percakapan itu tidak akan selesai dalam waktu dekat.

Sakuto berjalan menuju gerbang terlebih dahulu. Tepat saat dia keluar dari TK,

"—Ah...! Sakuto..."

Yuzuki memanggilnya.

"Anu... itu..."

"...? ...Ada apa?"

Di hadapan Yuzuki yang tampak ragu-ragu, Sakuto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.

Di sana ada sebuah surat yang membuat dia ragu apakah harus memberikannya kepada Yuzuki atau tidak.

Haruskah dia memberikan surat ini sekarang? Sepertinya tidak ada waktu lain lagi, tapi—.

Kemudian, Yuzuki berbicara terlebih dahulu.

"Anu, aku—"

"—Yuzuki! —...Hm? Takayashiki?"

Tepat saat Yuzuki hendak mengatakan sesuatu, Shun tiba.

"Kalian berdua lagi membicarakan apa?"

Yuzuki terburu-buru menundukkan wajahnya.

"N-Nggak ada apa-apa..."

"Iya. Nggak ada apa-apa kok..."

"Ngomong-ngomong, Takayashiki, apa kamu baru saja melakukan debut SMA atau semacamnya?"

"Eh? Kenapa?"

"Soalnya kamu berubah banyak. Maksudku, kamu beda banget dari waktu SMP..."

Berhadapan dengan Shun yang berbicara seolah-olah ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, Sakuto memberikan senyum pahit.

"Kalau kamu berpikir begitu, mungkin ini berkat kamu dan Yuzuki?"

"...Hah?"

"Nggak, bukan apa-apa... Kali ini, bagaimanapun juga, rasanya menyenangkan. Terima kasih ya."

Shun mendengus "Hmph."

"...Yuzuki, ayo kita segera pulang."

"I-Iya..."

Merek berdua mulai berjalan menuju stasiun, tetapi langkah kaki Yuzuki terhenti. Sambil membalikkan badan, dia menatap Sakuto dengan pandangan mata yang serius.

"Sakuto, bisakah kita bertemu lagi...?"

Sakuto tersenyum.

"...Kalau ada kesempatan."

Di tengah jalan, Yuzuki menoleh ke belakang, merasa cemas akan keadaan Sakuto.

Mungkin ini terakhir kalinya aku berbicara dengannya, berpikir demikian, Sakuto mendorong surat di dalam sakunya lebih dalam lagi.

Tatapannn—...—

Tiba-tiba, dia merasakan tatapan mata dari arah belakang. Hikari dan Chikage sedang menatapnya dengan mata penuh curiga.

"S-Selamat atas kerja kerasnya...? A-Ada apa? Ada yang salah...?"

"Kamu dan Yuzuki-chan kelihatan mencurigakaaan."

"J-Jangan-jangan, Yuzuki-chan itu mantan pacarmu, Sakuto-kun!?"

"Ah, nggak, bukan... Yuzuki itu tetangga sekaligus teman masa kecilku. Atau lebih tepatnya, mantan pacar..."

Kemudian Hikari dan Chikage saling memandang satu sama lain.

"Eh? Dia teman masa kecilmu?"

"Iya, kami tetanggaan. Kami ada di SD dan SMP yang sama, tapi pertama kali kami mengobrol itu sekitar kelas empat."

"Hmm. Jadi kalian nggak sedekat itu waktu dulu?"

"Ah, nggak... kami dulu dekat kok... Aku yang sekarang ini ada berkat Yuzuki."

""Apa maksudmu?""

Berpikir bahwa tidak akan menyenangkan jika disalahpahami, Sakuto memutuskan untuk menceritakan tentang Yuzuki.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ngobrol sambil berjalan pulang—"

Dan begitulah mereka bertiga berjalan berdampingan, seperti yang selalu mereka lakukan, dan memutuskan untuk mengambil jalan memutar sebentar sebelum pulang ke rumah.

Di sebuah taman dekat stasiun, mereka bertiga duduk berjejer di atas bangku.

Dan kemudian, Sakuto mulai menceritakan kepada si kembar tentang kehidupannya hingga saat ini, tentang apa yang telah terjadi padanya—

—Dan begitulah.

Sekitar waktu Sakuto memasuki tahun ketiganya di SMP.

Dia telah menjadi benar-benar asing dengan Yuzuki, tetapi dia bekerja keras untuk menjadi seorang pahlawan.

Tentu saja, dia sudah tahu, tetapi profesi sebagai seorang "pahlawan" itu tidak ada.

Sebagai gantinya, dia ingin mendapatkan pekerjaan yang bisa membantu orang lain. Seorang polisi, pemadam kebakaran, pengacara, dokter—dia berpikir bahwa dia ingin menjadi sesuatu seperti itu.

Apakah Yuzuki akan merasa bahagia?

Karena satu kalimatnya waktu itu, dia mampu berubah menjadi seperti ini. Dia mampu bekerja keras untuk berubah.

Tidak, bahkan jauh sebelum itu—.

Pada hari saat dia pertama kali mengulurkan tangannya, dia merasa bingung ketika gadis itu tersenyum padanya waktu itu.

Namun sekarang dia tahu ekspresi seperti apa yang harus ditunjukkan.

Kalau dipikir-pikir, ulang tahun Yuzuki sudah dekat. Hadiah apa yang harus dia berikan padanya tahun ini?

Sambil memikirkan hal-hal seperti itu, Yuzuki berbicara padanya di sekolah. Saat itu pertengahan Juli, kira-kira seminggu sebelum liburan musim panas dimulai.

"Hei... ada yang ingin kukatakan padamu setelah pulang sekolah hari ini, Sakuto..."

Wajahnya tampak agak canggung. Seolah-olah dia sedang menyembunyikan semacam rasa cemas.

Merasakan sesuatu, Sakuto berjalan ke belakang gedung sekolah setelah jam pelajaran usai.

Yuzuki sudah menunggu di sana. Dia memiliki raut wajah yang canggung dan tampaknya sedang ragu-ragu, tapi—

"Hei, aku sudah menyukaimu sejak lama, Sakuto..."

"Eh...?"

"Maukah kamu, umm... berpacaran denganku?"

"...Kenapa mendadak begini?"

Pada saat itu, entah kenapa, jantungnya berdebar sangat kencang.

Apakah gadis itu menyukainya? Tidak, bukan itu.

Dia sebenarnya sudah tahu. Bahwa Yuzuki telah lama menemukan tempat untuk dirinya sendiri yang berbeda dari tempatnya.

Jadi alasan jantungnya berdegup kencang hanyalah karena "terkejut," bukan karena semacam kesalahpahaman yang menguntungkan.

"Umm, itu... —"

Pada saat itu, telinga Sakuto menangkap suara renyah yang samar dari kerikil yang terinjak. Itu bukan Yuzuki, dan itu bukan dirinya; itu adalah suara seseorang di dekat sana yang menginjak kerikil. Seperti yang dia duga—Sakuto dengan cepat memahami situasinya.

Sebenarnya, ada satu frasa yang sering dia dengar di kelas akhir-akhir ini—

"—Mungkinkah, ada seseorang yang menyuruhmu untuk menyatakan cinta?"

"Eh...?"

"Seperti, pernyataan cinta permainan hukuman... Apa aku salah?"

"A-Apa...!?"

Mata Yuzuki membelalak terkejut, dan tubuhnya mulai gemetaran.

Sakuto tidak mengerti. Apa yang dia takutkan?

Mereka mungkin memainkan beberapa permainan dengan teman-teman mereka; itu hanya lelucon ringan. Atau apakah dia dipaksa? Jika demikian, dia harus memperingatkan orang-orang yang memaksanya.

Oleh karena itu, dia tidak berniat untuk menyalahkan Yuzuki, dan dia memiliki rasa percaya diri bahwa karena itu adalah Yuzuki, dia bisa memaafkannya.

Karena gadis itu adalah teman masa kecilnya yang sangat berharga yang telah menunjukkan jalan kepadanya.

—Namun, kenapa dadanya terasa sangat nyeri?

Wajah yang harus dia tunjukkan padanya di saat seperti ini adalah—ah, benar.

Ketika seseorang sedang merasa cemas—dia tahu wajah untuk saat-saat seperti ini. Wajah yang tidak bisa dia buat pada hari saat Yuzuki berbicara padanya. Seperti Yuzuki, secara alami—

Sejauh yang dia tahu, Sakuto tersenyum untuk pertama kalinya—sebuah senyuman dari lubuk hatinya yang paling dalam yang tampaknya penuh perhatian padanya, untuk memaafkannya, untuk menyemangatinya, dan untuk menyampaikan seluruh rasa terimakasihnya.

Senyuman tanpa beban dan lembut itu menyentuh sanubari Yuzuki.

"—Sakuto, umm... aku benar-benar, minta maaf...!"

Yuzuki yang berwajah pucat membalikkan badan dan berlari pergi.

Dari balik dinding, suara beberapa anak laki-laki dan perempuan bisa terdengar. Beberapa suara terdengar bingung, beberapa lagi tertawa.

Sendirian, ditinggalkan di tempat itu, Sakuto, dengan senyuman yang masih mengembang di wajahnya, menatap ke arah tempat Yuzuki berdiri beberapa saat yang lalu.

Tiba-tiba, pandangannya kabur. Tetes demi tetes air jatuh di ujung sepatu Sakuto.

Meskipun dia sedang tersenyum, entah kenapa, air mata menetes deras.

Kenapa, bagaimana bisa—apakah karena dia seorang robot dan telah rusak?

Tidak, bukan itu.

Ah, benar... Begitu ya... ini adalah—

Ketika dia akhirnya mengerti, dia merasakan lega yang sangat luar biasa. Saat dia merasa lega, wajahnya mengkerut.

—Aku bukan robot lagi, pikirnya.

Ini adalah sosok dari "orang normal" yang ingin dia capai.

Kalau begitu, tidak ada lagi alasan untuk bertujuan menjadi seorang pahlawan.

Dia akhirnya telah menjadi seorang pahlawan.

Seorang "orang normal" yang sangat biasa, yang akan menangis dengan emosi yang meluap-luap.

Dia akhirnya telah menjadi sosok yang dia harapkan demi gadis itu—

—Ketika Sakuto selesai menceritakan semuanya hingga saat ini, si kembar mengernyitkan dahi mereka, tampak merasa sakit hati.

"Hal seperti itu... hal seperti itu..."

"Itu sungguh terlalu menyakitkan..."

Sakuto memasang ekspresi wajah yang tenang.

"Tapi aku sama sekali tidak menyimpan dendam atau semacamnya kepada Yuzuki. Berkat kejadian itu, sekarang aku bisa mengekspresikan emosiku sendiri..."

"Mungkin ini kedengarannya aneh, tapi pernyataan cinta permainan hukuman itulah yang akhirnya membuatku merasa seperti manusia normal."

Sakuto mengatakannya dengan nada bicara yang tenang, seolah-olah itu adalah sebuah kenangan yang indah.

"Hatiku memang hancur, tapi aku merasa lega saat menyadari bahwa aku memiliki hati yang bisa hancur."

Setelah mengatakan hal itu, dia kemudian memasang raut wajah yang tampak canggung.

"Salahku sendiri sampai Yuzuki memanfaatkanku untuk pernyataan cinta permainan hukuman itu."

"Kenapa kamu berpikir begitu...? Orang-orang yang melakukan permainan hukuman itulah yang jahat..."

Sakuto menggelengkan kepalanya.

"Soalnya, dari sudut pandang orang-orang di sekitarku, aku ini seperti robot... Mungkin tidak bisa dihindari kalau aku dianggap sebagai seseorang yang pantas dijadikan bahan olokan. Dulu aku seorang penyendiri..."

Kalau mengingat kembali ke masa lalu, terasa wajar jika dia terpilih sebagai target. Meskipun begitu, dia tidak menyangka mereka akan menyuruh Yuzuki.

Namun, di dalam pikiran Sakuto, Yuzuki lebih merupakan seorang korban daripada pelaku. Karena sifatnya yang penakut, dia mungkin diperintah oleh orang-orang di sekitarnya dan tidak memiliki pilihan selain menuruti mereka.

Sakuto memastikan untuk menyampaikan poin penting itu secara hati-hati kepada si kembar sebelum mengeluarkan barang itu dari sakunya.

"Ini adalah surat yang kutulis untuk Yuzuki. Aku kehilangan kesempatan untuk memberikannya padanya, tapi mungkin memang lebih baik kalau aku tidak pernah memberikannya."

"Apa yang tertulis di dalamnya?"

"Kabar terbaru dan rasa terima kasih. Jika bukan karena Yuzuki, aku tidak akan ada di sini sekarang. Tapi dia mungkin akan merasa kesulitan jika aku memberinya hal seperti ini sekarang, dan sepertinya itu juga tidak diperlukan lagi, jadi—"

Sakuto mencoba merobek surat itu, tetapi...

"Pinjamkan surat itu padaku—"

Surat itu tiba-tiba direbut oleh Hikari.

"Hikari? Apa yang mau kamu lakukan dengan surat itu?"

"Aku yang akan menyimpannya."

"Kenapa?"

"Ini adalah surat yang dipenuhi dengan perasaan berhargamu saat ini, kan? Sampai hari di mana kamu memutuskan untuk memberikannya padanya, aku tidak akan membiarkanmu merobeknya!"

Melihat Hikari meninggikan suaranya untuk pertama kali, dia tidak bisa mengatakan "kembalikan".

Yah, mungkin tidak apa-apa kalau Hikari yang menyimpannya... meskipun aku mungkin tidak akan pernah memberikannya pada Yuzuki—

Dan begitulah, Sakuto menatap Chikage dengan ekspresi yang tenang.

"Aku mulai menghadiri tempat bimbingan belajar yang sama dengan Chikage setelah kejadian itu. Agar Yuzuki tidak merasa sakit saat melihat wajahku, aku memilih tempat yang sedikit lebih jauh."

"Nggak..."

"Yah, pada akhirnya ini bagus karena membawa kita ke masa sekarang. Aku bertemu Chikage di sana, dia jadi menyukaiku, dan sekarang kita bisa berpacaran seperti ini."

Air mata menetes dari mata Chikage.

"Kalau begitu, alasan kamu tidak berusaha untuk menonjolkan diri, Sakuto-kun, adalah..."

"Paku yang menonjol akan ditumbuk. Tapi aku sadar bahwa yang terluka oleh palu itu selalu orang-orang berharga di sekitarmu. Aku tidak ingin membuat seseorang merasa sedih karenaku. Seperti Yuzuki, tahu?"

Mempertimbangkan orang-orang yang berada di bawah ujung paku yang tajam, dia tidak boleh menyusahkan mereka. Ibunya yang khawatir dan membimbingnya, bibinya Mitsumi, Yuzuki—dan sekarang, ada Hikari dan Chikage. Setiap dari mereka adalah orang yang berharga baginya.

Karena dia melakukan hal-hal yang berbeda dari orang lain, dia tidak boleh menyusahkan semua orang, siapa pun itu.

Itulah mengapa dia berpikir bahwa menjadi "normal" saja sudah cukup.

Meringkuk ketakutan terhadap orang-orang di sekitarnya, dia telah menekan hatinya, tindakannya, selama ini.

Dan begitulah, dia menemukan rasa aman dalam tidak menonjolkan diri dan telah hanyut menyusuri jalan yang lebih mudah.

Dia menyadari bahwa dia telah melarikan diri dari hari pernyataan cinta permainan hukuman itu selama ini—.

"Pertemuan dengan Chikage, dan kemudian bertemu dengan Hikari, telah mengubah caraku berpikir. Tidak, aku ingin berubah."

"Dengan cara apa...?"

Hikari berkata dengan mata yang berkaca-kaca.

"Aku hanya perlu membalikkan pakunya. ...Sebuah pembalikan pola pikir, mungkin? Jika kamu membalikkan pakunya, bagian yang tajam ada di atas. Mungkin tidak apa-apa untuk menjadi begitu tajam sampai tidak ada lagi orang yang tersisa untuk menumbuknya."

"Dengan kata lain, apa maksudnya...?"

Hikari menyapu air matanya.

Gadis itu mungkin paham apa yang coba dia katakan. Dia sangat tajam dengan cara yang menakutkan. Ada kalanya ketajaman itu membuatnya merinding, tetapi tidak ada alasan lagi untuk membohonginya.

Dia akan menghadapi Hikari dan Chikage dengan bersungguh-sungguh—

"Aku akan berusaha menjadi pacar yang bisa dibanggakan oleh Hikari dan Chikage. Rasanya menakutkan jika sendirian... jadi aku ingin bersama kalian berdua mulai dari sekarang. ...Apakah itu... tidak boleh?"

Saat Sakuto mengucapkan hal itu sambil tersenyum, air mata meledak dari mata Hikari dan Chikage, dan,

""Uwaaaaaaahhhhhh~~~~~~...—""

mereka memeluknya dari kedua sisi.

"Hei, tunggu!? Ada apa!? Kalian berdua...!?"

Dia tidak tahu kenapa mereka berdua menangis.

Terlebih lagi, karena mereka berdua menangis terisak-isak dari lubuk hati mereka, dia juga tidak bisa menanyakan alasannya.

Dia benar-benar merasa bingung.

Di saat-saat seperti ini, ekspresi wajah seperti apa yang harus dia tunjukkan?

Ketika seseorang sedang menangis, benar—dia tahu wajah untuk saat-saat seperti ini.

Itu memang ekspresi wajah yang dipelajarinya dari Yuzuki.

Namun, itu juga merupakan ekspresi wajah yang dipelajarinya dari Hikari dan Chikage setelah itu.

Sakuto tersenyum. Itu adalah senyuman dari lubuk hatinya yang paling dalam yang tampaknya penuh perhatian pada mereka, menyemangati mereka, menyayangi mereka, dan menyampaikan rasa terimakasihnya hingga saat ini serta harapannya mulai dari sekarang.

"—Terima kasih ya, kalian berdua. Mohon bantuannya mulai dari sekarang."

Dengan senyuman tanpa beban dan lembut itu, dia terus mengelus kepala mereka berdua sebentar, sampai mereka berhenti menangis.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close