NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 10

Bab 10: Diriku di Dunia Paralel Fotogenik


Ketika terbangun, Tsukino sudah ada di sana.

 

Meskipun semalam rasanya sulit tidur, sepertinya tanpa sadar aku sempat kehilangan kesadaran. Butuh waktu beberapa detik sampai aku benar-benar sadar kalau aku baru saja terbangun. Butuh beberapa detik lagi untuk menyadari bahwa posisi tidur kami yang rapi membuat jarak di antara kami tetap sama seperti saat kami tertidur semalam. Dan barulah setelah itu, aku menyadari bahwa kami saling menatap dengan wajah bangun tidur masing-masing, sementara jari-jemari kami masih saling tertaut.

 

"S-Selamat pagi!"

 

"A-Ah, iya, selamat pagi!"

 

Seketika kami melepaskan pegangan tangan dan bangkit secara

bersamaan, lalu saling memalingkan wajah di atas tempat tidur.

 

"...Suasana tengah malam memang menakutkan, ya."

 

"Seperti yang kuduga dari diriku. Paham betul."

 

"Asahi juga tipe orang yang pas studi wisata atau tahun baru suka bertindak aneh karena euphoria tengah malam?"

 

"Aku tipe yang mendadak teringat kelakuan memalukan itu di saat-saat tak terduga, lalu meringis sambil menutupi wajah."

 

"Seperti yang kuduga dari diriku. Paham banget. Meringis, ya... rasanya aku tidak ingin memahaminya."

 

Setelah beralasan dengan nada bicara yang cepat dan tertawa canggung, kami berdua akhirnya beranjak dari tempat tidur.

 

Begitu bangun dan memeriksa ponsel serta situasi di dalam rumah, kenyataan bahwa aku sedang berada di dunia Tsukino masih belum berubah. Ponselku tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya, dan di rumah ini hanya ada aku dan Tsukino.

 

Persiapan di pagi hari berjalan seperti biasa, hanya saja untuk sarapan kami harus menyiapkannya sendiri.

 

Kemarin saat pergi membeli makan malam, masing-masing dari kami membeli menu sarapan sendiri yang kini tertata di atas meja ruang keluarga. Roti manis, yoghurt, dan salad kecil. Meski tidak berjanji sebelumnya, menu pilihan kami hampir persis sama.

 

"Kalau begini, dari awal kita beli yang bisa dibagi dua saja, ya."

 

"Bedanya cuma rotimu pakai an-butter, sedangkan punyaku selai kacang."

 

"Itu hasil dari kebingunganku saat memilih, tahu."

 

"Seperti yang kuduga dari diriku. Aku juga begitu."

Karena mumpung ada, kami membagi dua rotinya agar bisa menikmati kedua rasanya bersama.

 

Meskipun Ayah dan Ibu tidak ada, suasana sarapan saat ini tidak ada

bedanya dengan saat aku berada di duniaku sendiri. Kami berdua juga sudah selesai berganti pakaian dengan seragam sekolah.

 

Namun, hari ini kami berdua sama sekali tidak berniat pergi ke sekolah.

 

"Seperti yang kubilang kemarin, aku mau pergi ke rumah Paman dulu. Aku pakai seragam supaya dia tenang dan mengira aku bakal pergi ke

sekolah setelah ini."

 

Alasanku sendiri memakai seragam sangat sederhana: pakaian kemarin sudah kucuci. Aku bisa saja meminjam baju seperti halnya piyama, tetapi jujur saja aku merasa segan jika harus memakai pakaian orang tua Tsukino.

 

"Kalau sudah selesai, aku mau gabung lagi dengan Asahi lalu menyusuri rute tanah terlarang yang kemarin. Soalnya tidak ada penyesuaian kondisi seperti yang kualami dulu, jadi aku agak cemas."

 

"Benar juga. Aku sebenarnya ingin ikut ke rumah Pamanmu, tapi sepertinya malah bakal bikin urusannya makin rumit."

 

"Aku akan mengatasinya dengan baik. Dan juga... masih banyak hal yang belum sempat kuceritakan semalam. Soal itu juga... tolong tunggu sebentar lagi, ya."

Tsukino menundukkan pandangannya. Dari raut wajahnya, aku bisa tahu kalau bukan sekadar berdiam diri, melainkan memang banyak hal yang belum sanggup ia utarakan.

 

"Ceritakan padaku nanti. Tapi, sebatas yang tidak membebanimu saja."

 

"Terima kasih. ...Bad end yang paling parah kan sudah kuceritakan kemarin, jadi kamu tidak perlu cemas."

 

Aku tahu ia sedang mencoba berbicara seringan mungkin. Padahal harusnya Tsukino-lah yang paling merasa cemas, dan aku paham betul kalau keadaan ini sama sekali tidak baik-baik saja.

 

"Selagi menunggu, aku harus bagaimana?"

 

"Karena kita tidak tahu apa yang bakal terjadi, sebaiknya Asahi di rumah saja—"

 

Ia menatapku, lalu menurunkan alisnya dengan raut cemas.

 

"Karena aku adalah kamu, aku tahu betul kalau kamu pasti penasaran

dengan dunia di sini, kan?"

 

"Seperti yang kuduga dari diriku. Tapi ya, memang ada risikonya sih."

 

Sama seperti Tsukino yang memperhatikan perbedaan antara dunianya dan duniaku dengan penuh rasa ingin tahu, aku pun memiliki rasa penasaran yang sama.

 

"Kurasa sebaiknya aku tidak menggali terlalu dalam soal apa yang

terjadi satu tahun di masa depan."

 

"Padahal kalau mencatat nomor lotre atau mencari tahu saham yang bakal naik, bisa menguntungkan banget, kan?"

 

"Kalau aku datang ke duniaku sendiri satu tahun ke depan mungkin cara itu bisa dipakai, tapi ini kan dunia paralel, hasilnya pasti beda. Lagipula aku tidak punya uang buat beli saham, dan tidak tahu caranya juga."

 

Lagipula aku bahkan belum tahu apakah bisa kembali ke duniaku sendiri atau tidak.

 

"Pokoknya, kalau cuma jalan-jalan sebentar kurasa tidak masalah. Karena ponselmu tidak bisa dihubungi... kamu harus sudah pulang ke rumah jam dua belas siang, ya."

 

"Aku tidak bakal main terlalu jauh, kok. Malah kalau Pamanmu mendadak marah, justru kamu yang bakal kerepotan, kan?"

 

"Kamu kan tahu sendiri Paman itu orangnya baik, jadi bakal baik-baik

saja."

 

Aku dan Tsukino menyodorkan tinju secara bersamaan di saat yang

persis sama. Tiga kali fist bump.

 

Itu adalah "More bad! More hell!" yang seperti biasanya.

 

◆ ◆ ◆

Karena tidak pergi ke sekolah, kami keluar rumah bersama setelah bersiap-siap dengan santai.

 

Meski dunianya berbeda, kami menyusuri jalan menurun di sepanjang jalan nasional yang sama sekali tidak terasa ada perubahannya, hingga akhirnya tiba di depan stasiun yang sudah sangat kukenal.

 

Setelah berpisah dengan Tsukino yang berjalan menuju rumah

Pamannya, untuk sementara aku memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan pertokoan depan stasiun. Tempat karaoke hingga kedai waralaba makanan cepat saji di sini pun sama persis, hingga aku tidak bisa merasakan perbedaan dunianya.

 

Apakah Tsukino juga merasakan hal yang sama saat memandang kota dari taman pemandangan waktu itu?

 

Karena kami berjalan dengan santai, Green Mall rupanya sudah buka.

 

Secara alami, langkah kakiku tertuju ke arah bioskop.

 

Pantas saja Tsukino sempat mengira tempat ini sama dengan dunianya, tata ruang shopping mall ini memang persis sama, hingga aku bisa sampai ke bioskop tanpa tersesat sedikit pun.

 

Desain bioskop jaringan besar ini, hingga aroma berondong jagung yang gurih dan manis yang menyeruak di udara sama sekali tidak berbeda.

 

Hanya saja, deretan poster film yang sedang tayang benar-benar asing.

Jika menganggap kejadian di dunia ini sama dengan duniaku, berarti ini adalah film-film yang baru akan tayang satu tahun mendatang.

 

"Padahal belum ada informasinya, tapi ternyata dibuat dua bagian, ya..."

 

Aku malah jadi tahu kalau film yang baru diumumkan pembuatannya ternyata tidak selesai dalam satu judul saja.

 

Bagaimanapun juga, tidak mungkin aku menonton film sekarang, jadi setelah mengelilingi area lobi, aku memutar balik langkahku.

 

Turun satu lantai dari area bioskop, di sana terdapat toko buku yang juga sudah sangat kukenal. Karena baru beberapa hari lalu aku mengunjungi toko buku yang sama di duniaku, perbedaan poster di depan toko membuatku sangat sadar bahwa ini adalah toko buku di dunia lain.

 

Dan tanpa disadari, aku sudah berada di dalam toko. Tersedot masuk ke toko buku saat sedang punya waktu luang memang sudah menjadi reaksi refleks sehari-hariku, jadi mau bagaimana lagi.

 

Terlepas dari detailnya, di dunia Tsukino pun judul majalah dan karya-karya populer kelihatannya tidak jauh berbeda. Separuh hatiku enggan terkena spoiler aneh seperti tadi, tetapi separuh lainnya ingin memastikan deretan buku di toko buku dunia paralel ini.

 

Kalah oleh rasa penasaran, langkah kakiku mengarah ke area novel. Dan kemudian—

 

"...!? Kenapa..."

 

Langkahku terhenti mendadak dengan mata membelalak lebar.

 

Aku memastikan kembali benda yang ada di depan mataku. Aku mendekat dan mengamatinya lekat-lekat, lalu memalingkan wajah dan melihatnya lagi, tetapi kenyataannya tetap tidak berubah.

 

Di dinding area novel, terpasang sebuah poster.

 

Sosok yang ada di sana, yang terpampang di poster itu, tak salah lagi adalah Masumi Tsukino.

 

Bunga mawar hitam dan perak yang menghiasi rambut hitam

panjangnya tampak seperti biasa, tetapi kulitnya terlihat jauh lebih pucat dibanding Tsukino yang kukenal, dan eyeshadow tebal makin mempertegas matanya yang dingin membeku. Bibirnya berwarna merah pekat seolah merembeskan darah. Meski fotonya berformat bust-up, gaun hitam dengan ukiran sulaman rumit yang dikenakannya terasa sangat cocok dengannya.

 

Dengan pandangan kelam dan muram yang terlempar ke ruang hampa, tidak ada segaris senyum pun di bibirnya. Sosok itu terlihat seperti Tsukino yang kukenal, namun di saat yang sama bukan Tsukino.

 

Wujudnya seolah memancarkan keindahan dan kerapuhan yang kurasakan semalam.

 

Itu adalah poster buku berjudul Keabadian yang Berlanjut. Penulisnya adalah Mizukagami Owari. Nama pena yang sama persis denganku.

 

Di area novel, buku bertover tebal Keabadian yang Berlanjut dipajang secara mencolok di deretan depan.

 

Artinya, Tsukino... dan diriku di dunia ini telah debut sebagai seorang novelis.

 

Saat menyambungkan ponselku ke Wi-Fi gratis shopping mall dan mencari informasinya di internet, informasi di situs penerbit dapat ditemukan dengan mudah.

 

Keabadian yang Berlanjut adalah novel yang ditulis dengan mengusung

tema kematian kedua orang tua.

 

Padahal baru diterbitkan sekitar setengah tahun yang lalu, tetapi dari hasil pencarian saja sudah terlihat jelas betapa populernya buku ini.

 

Tsukino telah menerima banyak sesi wawancara. Meski aku tidak membaca isi wawancaranya, dari hasil pencarian saja sudah terasa perpaduan antara rasa iba, pujian, hingga rasa simpati dan penolakan terhadap tema yang diusung serta sosok Mizukagami Owari—sebuah pro dan kontra yang nyata.

 

Aku memegang buku ber-cover tebal itu. Sampul bertema warna hitam itu memang terlihat seperti sesuatu yang sangat disukai Tsukino, tetapi aku tidak tahu seberapa jauh seleranya tercermin di sana. Di sampulnya, tergambar seorang gadis yang menoleh di jalanan malam yang bertabur cahaya redup. Bobot yang lebih dari sekadar penampilannya terasa menekan telapak tanganku.

 

Aku ingin membacanya, tetapi di saat yang sama ada rasa ragu yang besar. Yang tertulis di sini adalah sosok Tsukino yang tidak kuketahui.

 

Membacanya tentu menjadi tindakan yang secara sepihak membongkar rahasia yang selama ini disembunyikannya.

 

"Buku itu sangat saya rekomendasikan, lho."

 

Teguran mendadak itu hampir saja membuatku menjatuhkan buku di

tanganku.

 

Saat aku menoleh, seorang staf toko buku bercelemek sedang berdiri sambil tersenyum ramah.

 

Kacamata bulat dan pandangan mata yang lembut. Ekspresi tenang yang ramah, serta rambut hitam yang dikepang satu agar memudahkan pekerjaan.

 

Dan untuk kedua kalinya, aku hampir menjatuhkan buku itu lagi.

 

Itu Nanaha-senpai.

 

Warna dan gaya rambutnya memang berbeda dari Nanaha-senpai yang kukenal, tetapi tak salah lagi, dialah Nanaha-senpai.. Nama keluarga Hananokorozuki yang tertulis di papan namanya juga belum pernah kulihat di tempat lain di kota ini.

"Buku ini sedang banyak dibicarakan, dan Anda pasti sudah tahu kalau penulisnya berasal dari SMA yang sama, kan? Kalau begitu, saya makin merekomendasikannya. Saya pribadi ingin agar ada banyak orang yang membaca buku ini."

 

Senpai mengajakku bicara dengan sikap selayaknya staf kepada pembeli.

 

Aku sempat memperhatikan reaksinya, mencoba mengamati apakah dia akan menyadarinya bahwa aku adalah Asahi Masumi, tetapi tanggapannya murni respons kepada orang yang baru pertama kali ditemui. Tidak seperti kasus Tsukino, penyesuaian kondisi dari dunia ini ternyata memang tidak berlaku padaku.

 

Sejenak aku sempat bertanya-tanya mengapa Nanaha-senpai bekerja sebagai pegawai toko di sini, tetapi jika dipikir-pikir lagi, garis waktu di sini adalah satu tahun di masa depan. Senpai sudah lulus SMA. Sama sekali tidak aneh jika dia bekerja paruh waktu sebagai mahasiswa.

 

"...Buku ini sangat saya rekomendasikan, khususnya buat siswa yang sedang bolos."

 

Dengan senyum ramah, ia membisikkan hal itu pelan padaku.

 

Kalau dipikir-pikir, karena aku masih memakai seragam sekolah, di matanya aku memang terlihat seperti anak yang sedang bolos. Terlepas dari itu, aku bisa merasakan tekanan tak kasatmata yang seolah menyuruhku membeli buku ini ketimbang cuma jalan-jalan tidak jelas.

 

"Buku yang bagus, lho. ...Sebenarnya ini rahasia, tapi saya memesan stok buku ini terlalu banyak."

 

"Apa tidak apa-apa melakukan itu?"

 

Caranya bertindak benar-benar terlalu bebas, sangat khas Nanaha-senpai.

 

"Ini bukan sekadar sales talk karena saya memesannya kebanyakan, lho? Karena bukunya bagus, penjualannya juga tetap lancar kok."

 

Tatapan matanya dari balik kacamata saat melihat buku bertover hitam itu terasa penuh kasih sayang.

 

"...Ah. Kalau keterusan begini, nanti saya bisa dimarahi Manajer. Saya

permisi dulu, ya—"

 

"A-Ah, terima kasih banyak."

 

Nanaha-senpai yang berambut hitam membungkuk sopan, lalu berjalan kembali ke arah kasir sambil membawa tumpukan buku. Setelah itu, ia membuka sebuah majalah dan mulai membacanya.

 

Tampak pemandangan yang sangat khas Nanaha-senpai: ketika Manajer toko datang untuk menegurnya, ia dengan lihai mengelak dan memperdaya sang Manajer dengan alasan yang masuk akal.

 

Melihat Nanaha-senpai yang biasanya hanya membaca novel atau buku referensi kini membaca majalah fesyen terasa cukup langka. Mungkin penampilannya berubah setelah masuk kuliah, atau mungkin saja di luar Klub Sastra dia memang membaca buku-buku seperti itu.

 

Bagaimanapun juga, aku mengambil buku yang ditulis oleh Tsukino lalu berjalan menuju kasir.

 

Sikapnya yang melayani pembeli secara amat alami—seolah berpura-pura tidak sedang melalaikan tugas demi membaca majalah—terlalu mencerminkan sosok Nanaha-senpai. Tidak heran dia adalah orang yang sanggup berpura-pura bahwa rambut peraknya adalah warna rambut aslinya.

 

◆ ◆ ◆

 

Tanpa kusadari, aku telah selesai membacanya.

 

Aku melangkah masuk ke kafe tempat aku dan Tsukino pertama kali mengobrol tentang bad end selama dua jam pada hari pertemuan pertama kami, membuka bukunya—dan membacanya hingga halaman terakhir. Di atas meja, segelas kopi yang diminum separuh kini telah dingin sepenuhnya.

 

Di tengah riuh rendah suara pengunjung lain, aku menghela napas dalam-dalam.

 

Yang tertulis di sana adalah kisah milik Tsukino yang tak kuketahui, ditulis dengan gaya bahasa familiar yang sangat mirip dengan gayaku.

Ini bukanlah novel hiburan seperti light novel yang biasa kutulis. Ini adalah sebuah novel autobiografis yang mencatat secara pekat kehidupan sehari-hari beserta emosi yang hanyut di dalamnya.

 

Meski menggunakan kejadian nyata sebagai modelnya, tokoh utama yang muncul bukanlah Tsukino, dan karakter lain pun ditulis sebagai sosok yang berbeda. Namun, bagiku yang merupakan keberadaan yang sama dengannya, cerita ini terasa hampir seperti nonfiksi murni.

 

Cerita dimulai dari kehidupan sehari-hari seorang siswi SMA yang sangat khas Tsukino. Hari-hari yang bergulir tanpa ada konflik berarti, bahkan terasa sedikit menyenangkan, mendadak disambut oleh kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan mendadak.

 

Sang tokoh utama tetap tinggal di rumah peninggalan keluarganya.

 

Karena mendapat bantuan dari sanak saudara, kehidupan sehari-harinya tidak banyak berubah, dan setelah melewati masa-masa sibuk beberapa saat, ia kembali menjalani hari-hari yang sama seperti biasa. Kehidupannya di sekolah maupun aktivitasnya mendatangi Klub Sastra tetap tidak berubah.

 

Namun, pada suatu pagi di hari Minggu setelah satu bulan berlalu, saat sarapan ia refleks menyapa keluarganya yang sudah tidak ada. Saat itulah ia mendadak menyadari rasa kehilangan yang teramat sangat, lalu menangis histeris.

 

Kehidupan sehari-hari itu perlahan-lahan mulai bergeser dari dunia yang kukenal.

Karakter yang dimodelkan dari Jun mulai mempertanyakan dirinya sendiri: "Apakah novel yang membahagiakan bisa membahagiakan seseorang?" Ia mulai menulis novel selain happy ending, dan frekuensi membaca buku di luar light novel pun makin meningkat.

 

Karakter yang dimodelkan dari Nanaha-senpai mendadak berhenti menulis maupun membaca novel. "Aku jadi tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dengan novel," ucapnya. Saat menginjak kelas tiga, ia menyerahkan kepemimpinan klub kepada Jun dan hengkang lebih awal dari masa pensiun yang seharusnya.

 

Dan sang tokoh utama pun akhirnya keluar dari Klub Sastra. Ia merasa telah merusak klub dan mengubah teman-temannya. Ia tidak sanggup menerima rasa kehilangan dan perubahan yang terjadi. Walau begitu, hari-hari terus berlanjut. Deretan rutinitas yang datar terus berjalan persis seperti di bagian pembuka.

 

Ia tertidur sambil memimpikan dunia yang tidak pernah berubah, tetapi setiap kali terbangun, kenyataan pahit atas rasa kehilangan itu selalu menyambutnya di sana.

 

"Tsukino..."

 

"Ada apa~?"

 

Suara dari arah belakang membuatku hampir saja meluncur jatuh dari

kursi.

 

Saat mendongak, Tsukino ternyata sedang duduk membelakangiku di kursi sebelah. Dengan masih mengenakan seragam sekolah yang sama seperti tadi pagi, ia menatap ke bawah ke arahku yang kini terduduk di lantai.

 

"E-Eh... kenapa bisa ada di sini?"

 

"Kenapa, ya?"

 

Tsukino bangkit berdiri, lalu mengulurkan tangannya sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang putih.

 

"Siapa ya, yang mencuri start untuk mengetahui hal yang belum kuceritakan?"

 

"Ugh... itu... Maaf, ya."

 

"Tidak apa-apa kok. Kalau aku jadi kamu dan menyadari keberadaan buku itu, aku juga pasti bakal membeli dan membacanya."

 

Sambil membantuku berdiri, Tsukino melirik buku ‘Keabadian yang Berlanjut’ yang masih tergeletak di atas meja.

 

"Kembali ke pertanyaanmu. Kenapa aku bisa ada di sini, kan?"

 

Saat aku mengangguk, Tsukino mengarahkan layar ponselnya padaku.

 

Waktu di sana sudah melewati pukul dua siang.

"Yang benar saja!? Ah, tapi kalau membaca satu buku utuh memang bakal memakan waktu segini, sih..."

 

"Padahal aku pulang ke rumah sebelum jam dua belas sesuai janji, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Apa bukuku sampai bikin kamu lupa waktu?"

 

"Soal itu... ya. Aku membacanya tanpa henti."

 

"Padahal kamu sudah tahu semuanya, kan?"

 

Ia menyentuhkan tangannya pada sandaran kursi yang didudukinya tadi.

 

"Sejak kapan kamu di sini? Tidak, lagipula bagaimana kamu bisa tahu aku ada di kafe ini?"

 

"Pertanyaan yang aneh, padahal kamu itu kan aku."

 

Tsukino memalingkan pandangannya ke luar kafe.

 

"Kalau aku terlempar ke dunia paralel satu tahun di masa depan dan punya waktu luang, ke mana aku bakal pergi? Kalau dipikir-pikir begitu, tujuannya bukan taman pemandangan ataupun sekolah, melainkan Green Mall. Waktu pertama kali bertemu Asahi pun, meski belum sadar ini dunia lain, aku tetap menyempatkan diri mengintip bioskop, kan?"

 

"Rasanya cuma tempat ini satu-satunya lokasi di Himurogioka yang benar-benar bisa dipakai buat membunuh waktu, sih."

"Aku paham, tapi itu pemikiran yang terlalu indoor banget, ya."

 

Sambil tertawa canggung, Tsukino meraih barang-barangnya.

 

Aku pun bersiap untuk meninggalkan kafe, lalu mengulurkan tangan mengambil buku Keabadian yang Berlanjut.

 

"Eternal Inferno."

 

Gumamnya membuat tanganku terhenti.

 

"Ide itu terlintas saat aku sedang menulis buku ini. Janjiku untuk membiarkanmu membaca novel yang kutulis suatu saat nanti, ternyata malah terwujud duluan dengan cara seperti ini, ya."

 

Tsukino yang berbicara sambil bercanda itu tampak begitu mirip dengan sosok yang kulihat di poster, Mizukagami Owari yang kelam, indah, dan rapuh.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close