Bab 10: Diriku di Dunia Paralel Fotogenik
Ketika terbangun, Tsukino sudah ada di
sana.
Meskipun semalam rasanya sulit tidur,
sepertinya tanpa sadar aku sempat kehilangan kesadaran. Butuh waktu beberapa
detik sampai aku benar-benar sadar kalau aku baru saja terbangun. Butuh
beberapa detik lagi untuk menyadari bahwa posisi tidur kami yang rapi membuat
jarak di antara kami tetap sama seperti saat kami tertidur semalam. Dan barulah
setelah itu, aku menyadari bahwa kami saling menatap dengan wajah bangun tidur
masing-masing, sementara jari-jemari kami masih saling tertaut.
"S-Selamat pagi!"
"A-Ah, iya, selamat pagi!"
Seketika kami melepaskan pegangan tangan
dan bangkit secara
bersamaan, lalu saling memalingkan wajah
di atas tempat tidur.
"...Suasana tengah malam memang
menakutkan, ya."
"Seperti yang kuduga dari diriku.
Paham betul."
"Asahi juga tipe orang yang pas
studi wisata atau tahun baru suka bertindak aneh karena euphoria tengah
malam?"
"Aku tipe yang mendadak teringat
kelakuan memalukan itu di saat-saat tak terduga, lalu meringis sambil menutupi
wajah."
"Seperti yang kuduga dari diriku.
Paham banget. Meringis, ya... rasanya aku tidak ingin memahaminya."
Setelah beralasan dengan nada bicara yang
cepat dan tertawa canggung, kami berdua akhirnya beranjak dari tempat tidur.
Begitu bangun dan memeriksa ponsel serta
situasi di dalam rumah, kenyataan bahwa aku sedang berada di dunia Tsukino
masih belum berubah. Ponselku tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya, dan di
rumah ini hanya ada aku dan Tsukino.
Persiapan di pagi hari berjalan seperti
biasa, hanya saja untuk sarapan kami harus menyiapkannya sendiri.
Kemarin saat pergi membeli makan malam,
masing-masing dari kami membeli menu sarapan sendiri yang kini tertata di atas
meja ruang keluarga. Roti manis, yoghurt, dan salad kecil. Meski tidak berjanji
sebelumnya, menu pilihan kami hampir persis sama.
"Kalau begini, dari awal kita beli
yang bisa dibagi dua saja, ya."
"Bedanya cuma rotimu pakai
an-butter, sedangkan punyaku selai kacang."
"Itu hasil dari kebingunganku saat
memilih, tahu."
"Seperti yang kuduga dari diriku.
Aku juga begitu."
Karena mumpung ada, kami membagi dua
rotinya agar bisa menikmati kedua rasanya bersama.
Meskipun Ayah dan Ibu tidak ada, suasana
sarapan saat ini tidak ada
bedanya dengan saat aku berada di duniaku
sendiri. Kami berdua juga sudah selesai berganti pakaian dengan seragam
sekolah.
Namun, hari ini kami berdua sama sekali
tidak berniat pergi ke sekolah.
"Seperti yang kubilang kemarin, aku
mau pergi ke rumah Paman dulu. Aku pakai seragam supaya dia tenang dan mengira
aku bakal pergi ke
sekolah setelah ini."
Alasanku sendiri memakai seragam sangat
sederhana: pakaian kemarin sudah kucuci. Aku bisa saja meminjam baju seperti
halnya piyama, tetapi jujur saja aku merasa segan jika harus memakai pakaian
orang tua Tsukino.
"Kalau sudah selesai, aku mau gabung
lagi dengan Asahi lalu menyusuri rute tanah terlarang yang kemarin. Soalnya
tidak ada penyesuaian kondisi seperti yang kualami dulu, jadi aku agak
cemas."
"Benar juga. Aku sebenarnya ingin
ikut ke rumah Pamanmu, tapi sepertinya malah bakal bikin urusannya makin
rumit."
"Aku akan mengatasinya dengan baik.
Dan juga... masih banyak hal yang belum sempat kuceritakan semalam. Soal itu
juga... tolong tunggu sebentar lagi, ya."
Tsukino menundukkan pandangannya. Dari
raut wajahnya, aku bisa tahu kalau bukan sekadar berdiam diri, melainkan memang
banyak hal yang belum sanggup ia utarakan.
"Ceritakan padaku nanti. Tapi,
sebatas yang tidak membebanimu saja."
"Terima kasih. ...Bad end yang
paling parah kan sudah kuceritakan kemarin, jadi kamu tidak perlu cemas."
Aku tahu ia sedang mencoba berbicara
seringan mungkin. Padahal harusnya Tsukino-lah yang paling merasa cemas, dan
aku paham betul kalau keadaan ini sama sekali tidak baik-baik saja.
"Selagi menunggu, aku harus
bagaimana?"
"Karena kita tidak tahu apa yang
bakal terjadi, sebaiknya Asahi di rumah saja—"
Ia menatapku, lalu menurunkan alisnya
dengan raut cemas.
"Karena aku adalah kamu, aku tahu
betul kalau kamu pasti penasaran
dengan dunia di sini, kan?"
"Seperti yang kuduga dari diriku.
Tapi ya, memang ada risikonya sih."
Sama seperti Tsukino yang memperhatikan
perbedaan antara dunianya dan duniaku dengan penuh rasa ingin tahu, aku pun
memiliki rasa penasaran yang sama.
"Kurasa sebaiknya aku tidak menggali
terlalu dalam soal apa yang
terjadi satu tahun di masa depan."
"Padahal kalau mencatat nomor lotre
atau mencari tahu saham yang bakal naik, bisa menguntungkan banget, kan?"
"Kalau aku datang ke duniaku sendiri
satu tahun ke depan mungkin cara itu bisa dipakai, tapi ini kan dunia paralel,
hasilnya pasti beda. Lagipula aku tidak punya uang buat beli saham, dan tidak
tahu caranya juga."
Lagipula aku bahkan belum tahu apakah
bisa kembali ke duniaku sendiri atau tidak.
"Pokoknya, kalau cuma jalan-jalan
sebentar kurasa tidak masalah. Karena ponselmu tidak bisa dihubungi... kamu
harus sudah pulang ke rumah jam dua belas siang, ya."
"Aku tidak bakal main terlalu jauh,
kok. Malah kalau Pamanmu mendadak marah, justru kamu yang bakal kerepotan,
kan?"
"Kamu kan tahu sendiri Paman itu
orangnya baik, jadi bakal baik-baik
saja."
Aku dan Tsukino menyodorkan tinju secara
bersamaan di saat yang
persis sama. Tiga kali fist bump.
Itu adalah "More bad! More
hell!" yang seperti biasanya.
◆
◆ ◆
Karena tidak pergi ke sekolah, kami
keluar rumah bersama setelah bersiap-siap dengan santai.
Meski dunianya berbeda, kami menyusuri
jalan menurun di sepanjang jalan nasional yang sama sekali tidak terasa ada
perubahannya, hingga akhirnya tiba di depan stasiun yang sudah sangat kukenal.
Setelah berpisah dengan Tsukino yang
berjalan menuju rumah
Pamannya, untuk sementara aku memutuskan
untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan pertokoan depan stasiun. Tempat karaoke
hingga kedai waralaba makanan cepat saji di sini pun sama persis, hingga aku
tidak bisa merasakan perbedaan dunianya.
Apakah Tsukino juga merasakan hal yang
sama saat memandang kota dari taman pemandangan waktu itu?
Karena kami berjalan dengan santai, Green
Mall rupanya sudah buka.
Secara alami, langkah kakiku tertuju ke
arah bioskop.
Pantas saja Tsukino sempat mengira tempat
ini sama dengan dunianya, tata ruang shopping mall ini memang persis sama,
hingga aku bisa sampai ke bioskop tanpa tersesat sedikit pun.
Desain bioskop jaringan besar ini, hingga
aroma berondong jagung yang gurih dan manis yang menyeruak di udara sama sekali
tidak berbeda.
Hanya saja, deretan poster film yang
sedang tayang benar-benar asing.
Jika menganggap kejadian di dunia ini
sama dengan duniaku, berarti ini adalah film-film yang baru akan tayang satu
tahun mendatang.
"Padahal belum ada informasinya,
tapi ternyata dibuat dua bagian, ya..."
Aku malah jadi tahu kalau film yang baru
diumumkan pembuatannya ternyata tidak selesai dalam satu judul saja.
Bagaimanapun juga, tidak mungkin aku
menonton film sekarang, jadi setelah mengelilingi area lobi, aku memutar balik
langkahku.
Turun satu lantai dari area bioskop, di
sana terdapat toko buku yang juga sudah sangat kukenal. Karena baru beberapa
hari lalu aku mengunjungi toko buku yang sama di duniaku, perbedaan poster di
depan toko membuatku sangat sadar bahwa ini adalah toko buku di dunia lain.
Dan tanpa disadari, aku sudah berada di
dalam toko. Tersedot masuk ke toko buku saat sedang punya waktu luang memang
sudah menjadi reaksi refleks sehari-hariku, jadi mau bagaimana lagi.
Terlepas dari detailnya, di dunia Tsukino
pun judul majalah dan karya-karya populer kelihatannya tidak jauh berbeda.
Separuh hatiku enggan terkena spoiler aneh seperti tadi, tetapi separuh lainnya
ingin memastikan deretan buku di toko buku dunia paralel ini.
Kalah oleh rasa penasaran, langkah kakiku
mengarah ke area novel. Dan kemudian—
"...!? Kenapa..."
Langkahku terhenti mendadak dengan mata
membelalak lebar.
Aku memastikan kembali benda yang ada di
depan mataku. Aku mendekat dan mengamatinya lekat-lekat, lalu memalingkan wajah
dan melihatnya lagi, tetapi kenyataannya tetap tidak berubah.
Di dinding area novel, terpasang sebuah
poster.
Sosok yang ada di sana, yang terpampang
di poster itu, tak salah lagi adalah Masumi Tsukino.
Bunga mawar hitam dan perak yang
menghiasi rambut hitam
panjangnya tampak seperti biasa, tetapi
kulitnya terlihat jauh lebih pucat dibanding Tsukino yang kukenal, dan
eyeshadow tebal makin mempertegas matanya yang dingin membeku. Bibirnya
berwarna merah pekat seolah merembeskan darah. Meski fotonya berformat bust-up,
gaun hitam dengan ukiran sulaman rumit yang dikenakannya terasa sangat cocok
dengannya.
Dengan pandangan kelam dan muram yang
terlempar ke ruang hampa, tidak ada segaris senyum pun di bibirnya. Sosok itu
terlihat seperti Tsukino yang kukenal, namun di saat yang sama bukan Tsukino.
Wujudnya seolah memancarkan keindahan dan
kerapuhan yang kurasakan semalam.
Itu adalah poster buku berjudul Keabadian
yang Berlanjut. Penulisnya adalah Mizukagami Owari. Nama pena yang sama persis
denganku.
Di area novel, buku bertover tebal
Keabadian yang Berlanjut dipajang secara mencolok di deretan depan.
Artinya, Tsukino... dan diriku di dunia
ini telah debut sebagai seorang novelis.
Saat menyambungkan ponselku ke Wi-Fi
gratis shopping mall dan mencari informasinya di internet, informasi di situs
penerbit dapat ditemukan dengan mudah.
Keabadian yang Berlanjut adalah novel
yang ditulis dengan mengusung
tema kematian kedua orang tua.
Padahal baru diterbitkan sekitar setengah
tahun yang lalu, tetapi dari hasil pencarian saja sudah terlihat jelas betapa
populernya buku ini.
Tsukino telah menerima banyak sesi
wawancara. Meski aku tidak membaca isi wawancaranya, dari hasil pencarian saja
sudah terasa perpaduan antara rasa iba, pujian, hingga rasa simpati dan
penolakan terhadap tema yang diusung serta sosok Mizukagami Owari—sebuah pro
dan kontra yang nyata.
Aku memegang buku ber-cover tebal itu.
Sampul bertema warna hitam itu memang terlihat seperti sesuatu yang sangat
disukai Tsukino, tetapi aku tidak tahu seberapa jauh seleranya tercermin di
sana. Di sampulnya, tergambar seorang gadis yang menoleh di jalanan malam yang
bertabur cahaya redup. Bobot yang lebih dari sekadar penampilannya terasa
menekan telapak tanganku.
Aku ingin membacanya, tetapi di saat yang
sama ada rasa ragu yang besar. Yang tertulis di sini adalah sosok Tsukino yang
tidak kuketahui.
Membacanya tentu menjadi tindakan yang
secara sepihak membongkar rahasia yang selama ini disembunyikannya.
"Buku itu sangat saya
rekomendasikan, lho."
Teguran mendadak itu hampir saja
membuatku menjatuhkan buku di
tanganku.
Saat aku menoleh, seorang staf toko buku
bercelemek sedang berdiri sambil tersenyum ramah.
Kacamata bulat dan pandangan mata yang
lembut. Ekspresi tenang yang ramah, serta rambut hitam yang dikepang satu agar
memudahkan pekerjaan.
Dan untuk kedua kalinya, aku hampir
menjatuhkan buku itu lagi.
Itu Nanaha-senpai.
Warna dan gaya rambutnya memang berbeda
dari Nanaha-senpai yang kukenal, tetapi tak salah lagi, dialah Nanaha-senpai..
Nama keluarga Hananokorozuki yang tertulis di papan namanya juga belum pernah
kulihat di tempat lain di kota ini.
"Buku ini sedang banyak dibicarakan,
dan Anda pasti sudah tahu kalau penulisnya berasal dari SMA yang sama, kan?
Kalau begitu, saya makin merekomendasikannya. Saya pribadi ingin agar ada
banyak orang yang membaca buku ini."
Senpai mengajakku bicara dengan sikap
selayaknya staf kepada pembeli.
Aku sempat memperhatikan reaksinya,
mencoba mengamati apakah dia akan menyadarinya bahwa aku adalah Asahi Masumi,
tetapi tanggapannya murni respons kepada orang yang baru pertama kali ditemui.
Tidak seperti kasus Tsukino, penyesuaian kondisi dari dunia ini ternyata memang
tidak berlaku padaku.
Sejenak aku sempat bertanya-tanya mengapa
Nanaha-senpai bekerja sebagai pegawai toko di sini, tetapi jika dipikir-pikir
lagi, garis waktu di sini adalah satu tahun di masa depan. Senpai sudah lulus
SMA. Sama sekali tidak aneh jika dia bekerja paruh waktu sebagai mahasiswa.
"...Buku ini sangat saya
rekomendasikan, khususnya buat siswa yang sedang bolos."
Dengan senyum ramah, ia membisikkan hal
itu pelan padaku.
Kalau dipikir-pikir, karena aku masih
memakai seragam sekolah, di matanya aku memang terlihat seperti anak yang
sedang bolos. Terlepas dari itu, aku bisa merasakan tekanan tak kasatmata yang
seolah menyuruhku membeli buku ini ketimbang cuma jalan-jalan tidak jelas.
"Buku yang bagus, lho. ...Sebenarnya
ini rahasia, tapi saya memesan stok buku ini terlalu banyak."
"Apa tidak apa-apa melakukan
itu?"
Caranya bertindak benar-benar terlalu
bebas, sangat khas Nanaha-senpai.
"Ini bukan sekadar sales talk karena
saya memesannya kebanyakan, lho? Karena bukunya bagus, penjualannya juga tetap
lancar kok."
Tatapan matanya dari balik kacamata saat
melihat buku bertover hitam itu terasa penuh kasih sayang.
"...Ah. Kalau keterusan begini,
nanti saya bisa dimarahi Manajer. Saya
permisi dulu, ya—"
"A-Ah, terima kasih banyak."
Nanaha-senpai yang berambut hitam
membungkuk sopan, lalu berjalan kembali ke arah kasir sambil membawa tumpukan
buku. Setelah itu, ia membuka sebuah majalah dan mulai membacanya.
Tampak pemandangan yang sangat khas
Nanaha-senpai: ketika Manajer toko datang untuk menegurnya, ia dengan lihai
mengelak dan memperdaya sang Manajer dengan alasan yang masuk akal.
Melihat Nanaha-senpai yang biasanya hanya
membaca novel atau buku referensi kini membaca majalah fesyen terasa cukup
langka. Mungkin penampilannya berubah setelah masuk kuliah, atau mungkin saja
di luar Klub Sastra dia memang membaca buku-buku seperti itu.
Bagaimanapun juga, aku mengambil buku
yang ditulis oleh Tsukino lalu berjalan menuju kasir.
Sikapnya yang melayani pembeli secara
amat alami—seolah berpura-pura tidak sedang melalaikan tugas demi membaca
majalah—terlalu mencerminkan sosok Nanaha-senpai. Tidak heran dia adalah orang
yang sanggup berpura-pura bahwa rambut peraknya adalah warna rambut aslinya.
◆
◆ ◆
Tanpa kusadari, aku telah selesai
membacanya.
Aku melangkah masuk ke kafe tempat aku
dan Tsukino pertama kali mengobrol tentang bad end selama dua jam pada hari
pertemuan pertama kami, membuka bukunya—dan membacanya hingga halaman terakhir.
Di atas meja, segelas kopi yang diminum separuh kini telah dingin sepenuhnya.
Di tengah riuh rendah suara pengunjung
lain, aku menghela napas dalam-dalam.
Yang tertulis di sana adalah kisah milik
Tsukino yang tak kuketahui, ditulis dengan gaya bahasa familiar yang sangat
mirip dengan gayaku.
Ini bukanlah novel hiburan seperti light
novel yang biasa kutulis. Ini adalah sebuah novel autobiografis yang mencatat
secara pekat kehidupan sehari-hari beserta emosi yang hanyut di dalamnya.
Meski menggunakan kejadian nyata sebagai
modelnya, tokoh utama yang muncul bukanlah Tsukino, dan karakter lain pun
ditulis sebagai sosok yang berbeda. Namun, bagiku yang merupakan keberadaan
yang sama dengannya, cerita ini terasa hampir seperti nonfiksi murni.
Cerita dimulai dari kehidupan sehari-hari
seorang siswi SMA yang sangat khas Tsukino. Hari-hari yang bergulir tanpa ada
konflik berarti, bahkan terasa sedikit menyenangkan, mendadak disambut oleh
kematian kedua orang tuanya akibat kecelakaan mendadak.
Sang tokoh utama tetap tinggal di rumah
peninggalan keluarganya.
Karena mendapat bantuan dari sanak
saudara, kehidupan sehari-harinya tidak banyak berubah, dan setelah melewati
masa-masa sibuk beberapa saat, ia kembali menjalani hari-hari yang sama seperti
biasa. Kehidupannya di sekolah maupun aktivitasnya mendatangi Klub Sastra tetap
tidak berubah.
Namun, pada suatu pagi di hari Minggu
setelah satu bulan berlalu, saat sarapan ia refleks menyapa keluarganya yang
sudah tidak ada. Saat itulah ia mendadak menyadari rasa kehilangan yang teramat
sangat, lalu menangis histeris.
Kehidupan sehari-hari itu perlahan-lahan
mulai bergeser dari dunia yang kukenal.
Karakter yang dimodelkan dari Jun mulai
mempertanyakan dirinya sendiri: "Apakah novel yang membahagiakan bisa
membahagiakan seseorang?" Ia mulai menulis novel selain happy ending, dan
frekuensi membaca buku di luar light novel pun makin meningkat.
Karakter yang dimodelkan dari
Nanaha-senpai mendadak berhenti menulis maupun membaca novel. "Aku jadi
tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan dengan novel," ucapnya. Saat
menginjak kelas tiga, ia menyerahkan kepemimpinan klub kepada Jun dan hengkang
lebih awal dari masa pensiun yang seharusnya.
Dan sang tokoh utama pun akhirnya keluar
dari Klub Sastra. Ia merasa telah merusak klub dan mengubah teman-temannya. Ia
tidak sanggup menerima rasa kehilangan dan perubahan yang terjadi. Walau
begitu, hari-hari terus berlanjut. Deretan rutinitas yang datar terus berjalan
persis seperti di bagian pembuka.
Ia tertidur sambil memimpikan dunia yang
tidak pernah berubah, tetapi setiap kali terbangun, kenyataan pahit atas rasa
kehilangan itu selalu menyambutnya di sana.
"Tsukino..."
"Ada apa~?"
Suara dari arah belakang membuatku hampir
saja meluncur jatuh dari
kursi.
Saat mendongak, Tsukino ternyata sedang
duduk membelakangiku di kursi sebelah. Dengan masih mengenakan seragam sekolah
yang sama seperti tadi pagi, ia menatap ke bawah ke arahku yang kini terduduk
di lantai.
"E-Eh... kenapa bisa ada di
sini?"
"Kenapa, ya?"
Tsukino bangkit berdiri, lalu mengulurkan
tangannya sambil menyeringai memperlihatkan giginya yang putih.
"Siapa ya, yang mencuri start untuk
mengetahui hal yang belum kuceritakan?"
"Ugh... itu... Maaf, ya."
"Tidak apa-apa kok. Kalau aku jadi
kamu dan menyadari keberadaan buku itu, aku juga pasti bakal membeli dan
membacanya."
Sambil membantuku berdiri, Tsukino
melirik buku ‘Keabadian yang Berlanjut’ yang masih tergeletak di atas meja.
"Kembali ke pertanyaanmu. Kenapa aku
bisa ada di sini, kan?"
Saat aku mengangguk, Tsukino mengarahkan
layar ponselnya padaku.
Waktu di sana sudah melewati pukul dua
siang.
"Yang benar saja!? Ah, tapi kalau
membaca satu buku utuh memang bakal memakan waktu segini, sih..."
"Padahal aku pulang ke rumah sebelum
jam dua belas sesuai janji, tapi tidak ada siapa-siapa di sana. Apa bukuku
sampai bikin kamu lupa waktu?"
"Soal itu... ya. Aku membacanya
tanpa henti."
"Padahal kamu sudah tahu semuanya,
kan?"
Ia menyentuhkan tangannya pada sandaran
kursi yang didudukinya tadi.
"Sejak kapan kamu di sini? Tidak,
lagipula bagaimana kamu bisa tahu aku ada di kafe ini?"
"Pertanyaan yang aneh, padahal kamu
itu kan aku."
Tsukino memalingkan pandangannya ke luar
kafe.
"Kalau aku terlempar ke dunia
paralel satu tahun di masa depan dan punya waktu luang, ke mana aku bakal
pergi? Kalau dipikir-pikir begitu, tujuannya bukan taman pemandangan ataupun
sekolah, melainkan Green Mall. Waktu pertama kali bertemu Asahi pun, meski
belum sadar ini dunia lain, aku tetap menyempatkan diri mengintip bioskop,
kan?"
"Rasanya cuma tempat ini
satu-satunya lokasi di Himurogioka yang benar-benar bisa dipakai buat membunuh
waktu, sih."
"Aku paham, tapi itu pemikiran yang
terlalu indoor banget, ya."
Sambil tertawa canggung, Tsukino meraih
barang-barangnya.
Aku pun bersiap untuk meninggalkan kafe,
lalu mengulurkan tangan mengambil buku Keabadian yang Berlanjut.
"Eternal Inferno."
Gumamnya membuat tanganku terhenti.
"Ide itu terlintas saat aku sedang
menulis buku ini. Janjiku untuk membiarkanmu membaca novel yang kutulis suatu
saat nanti, ternyata malah terwujud duluan dengan cara seperti ini, ya."
Tsukino yang berbicara sambil bercanda itu tampak begitu mirip dengan sosok yang kulihat di poster, Mizukagami Owari yang kelam, indah, dan rapuh.



Post a Comment