NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 6

Bab 6: Selera Fashion Diriku di Dunia Paralel Benar-Benar Sesuai Fetis


Sisa-sisa warna senja masih membayang di langit yang tertutup awan tipis. Usai menuruni jalan menanjak dari Taman Observasi dan melewati area depan sekolah, kami belok dari jalan raya utama yang menuju stasiun ke jalan yang mengarah ke sisi timur kota.

 

Di tengah jalan, kami sempat beristirahat sekali di minimarket karena aku yang kelelahan. Tsukino sendiri masih tampak sangat segar bugar; kalau begitu, apa kalau aku melatih tubuhku, aku juga bisa jadi sekuat itu?

 

Berbeda dengan area keramaian di depan stasiun atau kawasan

pemukiman di bagian utara dan selatan, area Himurogioka Motomachi tempat kami berada sekarang memiliki deretan rumah-rumah lama yang cukup mencolok. Area dari sini menuju ke depan stasiun konon merupakan kota tua yang sudah ada sebelum proyek pemukiman baru (new town). Khususnya di sekitar sini, kesannya agak tertinggal dan tidak tersentuh pembangunan besar-besaran seperti di depan stasiun.

 

Setelah melangkah beberapa saat, di tengah pemandangan kota tua itu berdiri sebuah kuil. Hutan kecil pengayom yang terlihat dari balik dinding batu yang mengelilingi area, torii batu yang membatasi jalan umum dengan area suci kuil, serta patung Komainu (anjing penjaga kuil) benar-benar memberikan kesan kuil yang sudah berakar di tanah ini sejak zaman dahulu.

 

"Setelah dari Taman Observasi, aku sempat mampir ke sini."

 

Tsukino menghentikan langkahnya lalu memutarkan badannya menghadapku. Rambut hitamnya yang melambai tertinggal sepersekian detik tampak amat cocok bersanding dengan pemandangan kuil di belakangnya.

 

"Ngapain mampir ke sini? Harusnya kan memutar kalau mau pergi ke

depan stasiun."

 

"Sekali-kali kan perlu berdoa ke dewa... Tapi kalau untuk duniaku, rasanya bakal lebih pas kalau kubilang mampir saat sedang jalan-jalan cari ide novel."

 

"Kalau yang itu sih memang sering kulakukan."

 

Saat ide novel tidak kunjung muncul atau jalan cerita macet, berjalan-jalan sebentar terkadang bisa menyelesaikan masalah. Yah, terkadang tidak menyelesaikan apa-apa juga sih.

 

"Kalau di genre fantasi modern, kunci yang menghubungkan dua dunia

biasanya ada di kuil seperti ini, kan?"

 

Aku bersama Tsukino mengintip ke dalam area kuil.

 

Struktur kuil ini tergolong sederhana; di balik torii terdapat Chozuya

(tempat penyucian diri) dan Haiden (bangunan utama tempat berdoa).

 

Ada juga kantor kuil kecil dan gudang, tetapi tidak ada tempat yang kelihatan mencurigakan secara khusus.

 

Papan nama di torii... bukan, istilah resminya Hengaku ya. Di sana tertulis nama "Kuil Himurogioka".

 

"Kalau ada sesuatu yang terjadi saat mampir ke sini, rasanya bakal pas banget... Tapi lagian, kuil ini bukannya dikelola sama keluarganya Nanaha-senpai ya?"

 

Lebih tepatnya, keluarga Nanaha-senpai—keluarga

Hanazuki—menjabat sebagai pengelola kuil (shinshoku). Di kota ini,

keluarga mereka tergolong garis keturunan yang cukup terpandang dan memiliki sejarah panjang. Nanaha-senpai sendiri terkadang terlihat membantu di area kuil mengenakan pakaian miko (gadis kuil).

 

"Hari ini senpai tidak ada ya. Apa masih di sekolah?"

 

"Dia kan tipe orang yang kalau sudah mulai baca buku atau nulis novel

bakal langsung tenggelam ke dunianya sendiri. Tapi mungkin juga dia cuma sudah pulang ke rumah secara biasa."

 

Rumah senpai sendiri berada di Motomachi, walau agak lumayan jauh dari titik ini. Seingatku, pekerjaan miko-nya cuma sebatas membersihkan kuil atau membantu ritual keagamaan sederhana.

 

"Semoga saja ada petunjuk..."

 

"Tapi di dunia nyata rasanya tidak mungkin ada fenomena aneh yang berceceran di mana-mana sih."

 

Tsukino—yang keberadaannya sendiri sudah merupakan fenomena ajaib itu—sedang membaca papan penjelasan tentang dewa yang disembah di kuil ini.

 

"Dewa Sarutahiko... Dewa yang memandu Ninigi-no-Mikoto saat peristiwa Tenson Korin (turunnya cucu dewa matahari ke bumi), dan juga dianggap sebagai dewa perbatasan... Eh?"

 

"Kalau dari penjelasannya, rasanya lumayan ada hubungannya ya."

 

Padahal aku sudah sering pergi ke kuil ini, tetapi aku sama sekali tidak pernah memedulikan dewa apa yang disembah di sini. Kalau saja aku punya ketertarikan pada novel fantasi Jepang atau roman misteri/occultism (denki), mungkin bakal beda cerita.

 

Meski begitu, aku tidak tahu apa-apa lagi selain dari tulisan di papan penjelasan.

 

"Gawat. Harusnya pas ngobrol di klub tadi aku tanyakan saja ke Nanaha-senpai."

 

"Padahal tanpa hal ini pun, senpai kan memang ahlinya fantasi Jepang dan cerita sejarah."

 

"Dia juga tahu banyak soal cerita-cerita misterius di kota ini."

Gara-gara kesan dari kata "dunia paralel", aku jadi tidak bisa menghubungkannya dengan tempat ini.

 

"Besok kan kita ketemu lagi, coba tanyakan secara terselubung tanpa sebut-sebut soal dunia paralel deh. Termasuk legenda di kuil ini, siapa tahu ada cerita yang bisa jadi petunjuk."

 

"Boleh juga. Aku juga sempat kecolongan. Tapi ya, kalau Asahi melupakannya, wajar saja kalau aku juga melupakannya."

 

"Meskipun kita orang yang sama, pasti ada lah efek bias pelaku utama."

 

Untuk sementara, kami melangkah masuk ke dalam area kuil.

 

Sambil mendengarkan suara pijakan kerikil suci (tamajari) yang menyenangkan di bawah kaki, kami mengitari sisi Haiden lalu menembus ke Honden (bangunan tempat dewa bersemayam) di bagian paling dalam.

 

Di bagian belakang kuil, berdiri megah sebuah pohon suci (Goshinboku)

yang sangat besar. Ceruk-ceruk garis pada batang pohon yang dililit tali

Shimenawa itu memancarkan kesucian yang telah melewati rentang waktu yang teramat panjang.

 

"Apa kemarin ada kejadian aneh atau semacamnya?"

 

"Kalau aku tahu, pasti tempat pertama yang kuperiksa adalah tempat kejadian aneh itu."

 

"Memang benar-benar diriku. Bener juga sih."

 

Setelah berkeliling sebentar dan mengitari kuil sekali, tidak ada keanehan apa pun yang terjadi. Hanya ada seorang nenek warga sekitar yang datang berdoa lalu pergi begitu saja. Tentu saja tidak ada portal yang terbuka lebar, dan Dewa Sarutahiko pun tidak mendadak muncul

untuk menuntun jalan.

 

Tanpa perlu bersepakat, kami berdua berjalan menuju Haiden.

 

Setelah memasukkan koin lima ratus yen—agak lumayan berkorban demi berdoa—ke dalam kotak persembahan (saisen-bako), kami membunyikan lonceng, membungkuk dua kali, lalu menepuk tangan dua kali. Setelah itu, kami memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangan. Seingatku Nanaha-senpai pernah bilang kalau tata cara berdoa di tiap tempat bisa berbeda-beda.

 

Bagaimanapun, aku mendengar suara Tsukino yang mengikuti gerakanku di samping.

 

Hal yang kumohonkan tentu saja agar Tsukino bisa kembali ke dunianya.

 

Tsukino akan pulang. Kami tidak akan bisa bertemu dan ngobrol lagi.

 

Hal itulah yang kudoakan.

 

Setelah membungkuk sekali lagi untuk mengakhiri doa, aku membuka mata.

Tsukino yang berdiri di sampingku masih dengan tenang memohonkan sesuatu.

 

Apakah dia sedang berdoa dalam hatinya agar bisa kembali ke dunia asalnya?

 

Melihat sosoknya yang berdoa dengan tulus—berbeda dari parasnya yang dingin maupun ekspresi jahilnya—pikiran itu melintas di benakku.

 

◆ ◆ ◆

 

Penayangan Infinity Heaven cuma dua kali sehari, yaitu di slot sore dan malam.

 

Meskipun baru beberapa hari tayang, kalau begini terus rasanya pemutarannya bakal dihentikan dalam jangka waktu terpendek.

 

Di papan informasi bioskop, aku membandingkan jadwal penayangannya dengan film sekuel anime populer atau film romantis yang memiliki jumlah tayang melimpah.

 

"Sebelum penayangannya usai, aku mau nonton sekali lagi deh."

 

"Semoga saja nanti ada versi streaming-nya."

 

"Bagaimana kalau sekalian beli edisi Bluray/DVD-nya saja?"

 

"Itu pun kalau edisi resminya berhasil dirilis ya..."

Meskipun aku dan Tsukino sangat memujanya, respon masyarakat umum rasanya begitu dingin hingga bikin cemas.

 

"Kalau jam tayang yang bisa ditonton dari sekarang, jatuhnya sudah masuk late show ya."

 

"Anak di bawah umur kan tidak boleh nonton slot itu. Lagian ini bukan waktunya buat nonton film, kan."

 

Sambil ngobrol, kami berjalan meninggalkan bioskop.

 

Setelah meninggalkan kuil, aku dan Tsukino mendatangi Green Mall Himurogioka.

 

Mengandalkan ingatannya, kami menyusuri kembali rute yang dilaluinya kemarin. Walau yang dikunjungi cuma supermarket, toko serba seratus yen, dan area pernak-pernik—tempat-tempat yang terkesan sama sekali tidak ada hubungannya dengan dunia paralel.

 

Secara waktu, kalau kemarin jam segini kami masih berada di dalam bioskop menonton film. Waktu kami sebenarnya masih longgar, tetapi kalau mau terus mencari petunjuk, waktunya sudah tidak cukup.

 

"Kita kan pertama kali bertemu di bioskop ini, apa tidak ada hal yang mencurigakan di sekitar sini?"

 

"Sama sekali tidak ada. Kalau dipaksa-paksakan sih... di dalam studio? Misalnya saat sedang menonton, aku mendadak berpindah ke dunia lain... tapi rasanya agak maksa ya."

Dari sudut pandangku pun, rasanya tidak ada keanehan apa-apa pada layar bioskop.

 

"Ngomong-ngomong, kamu kemarin tidak mampir ke toko buku?"

 

"Kalau diriku yang biasa, pasti bakal mampir sih."

 

Toko buku berada tepat di lantai bawah bioskop. Itu adalah toko buku jaringan besar yang lumayan luas dan koleksinya cukup lengkap. Di saat toko-toko buku di kota mulai tutup satu per satu, aku sangat bersyukur toko ini masih bertahan dengan baik.

 

"Tapi kemarin karena jam pemutaran filmnya sudah mepet, aku tidak sempat masuk."

 

"Padahal biasanya kalau ada waktu luang sedikit sebelum film mulai, kita suka menghabiskan waktu di toko buku ya."

 

"Iya, benar banget. Ujung-ujungnya malah beli buku yang tidak direncanakan."

 

Kami berjalan melintasi depan toko buku yang terletak tepat di dekat eskalator.

 

"Tampilan tokonya bagaimana? Ada bedanya dengan toko buku di duniamu Tsukino?"

 

"Entahlah ya... Karena poster-posternya beda, mungkin buku yang dipajang juga ada sedikit perbedaan. Tapi itu baru kelihatan kalau kita lihat secara detail."

 

"Sepertinya untuk saat ini hal itu tidak terlalu berhubungan ya."

 

Karena kemarin dia tidak masuk ke dalam toko buku, hal itu cuma bakal jadi bahan verifikasi perbedaan dunia paralel saja.

 

"Setelah ini kita mau bagaimana? Langsung pulang ke rumah saja?"

 

"Boleh saja sih, tapi Asahi kakinya tidak pegal?"

 

"Ya tidak selemah itu juga kali. Tapi kalau disuruh ke Taman Observasi lagi sekarang, aku angkat tangan."

 

"Mungkin aku memang harus agak melampiaskan keputusasaan lagi."

 

Tsukino terkekeh pelan. Melampiaskan keputusasaan cuma demi

melatih stamina itu agak berlebihan.

 

"Tapi, kalau ada waktu luang, boleh minta tolong temani sebentar?"

 

Aku mengikuti Tsukino yang berjalan di depan.

 

Suasana Green Mall pada sore hari kerja tidak terlalu ramai. Namun, di tempat yang dituju Tsukino, tampak beberapa kelompok murid yang mampir sepulang sekolah.

"Ini tidak ada hubungannya dengan cara kembali ke dunia asal sih, tapi ada hal yang bikin aku agak kerepotan."

 

"Kalau cuma menemani sih aku tidak keberatan."

 

"Syukurlah. Entah apa alasannya, di rumah Asahi ada kamarku dan barang-barang yang kubutuhkan lengkap tersedia, kan?"

 

"Iya, walau kamu sempat salah bawa buku pelajaran."

 

"Kalau itu kan karena aku salah lihat jadwal."

 

Terlepas dari hal itu, tidak hanya kasur dan meja, baju tidur yang

dipakainya semalam pun sudah disiapkan di kamar itu.

 

"Tapi... agak beda sedikit."

 

"Bedanya bagaimana?"

 

"Baju selain piyama juga disiapkan. Misalnya, kemeja blus cadangan."

 

Tsukino mencubit blus putih yang dikenakannya. Aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi rupanya memang begitu.

 

"Kalau seragam sih tidak masalah karena desainnya sama. Tapi baju bebas yang disiapkan di sana... gimana ya, selera pakaiannya mirip

seperti baju yang dibelikan Ibuku waktu SMP."

"Tipe pakaian yang kalau cuma buat ke minimarket dekat rumah tidak masalah, tapi kalau dipakai ke tempat seperti ini bikin agak sungkan ya?"

 

"Nah, benar. Itu dia maksudku. Memang benar-benar diriku."

 

"Rasanya itu cuma pengalaman umum semua orang deh."

 

"Kalau cara kembali ke duniaku bisa cepat ketemu sih tidak masalah."

 

Kerutan langka muncul di antara kedua alis Tsukino.

 

"Kalau begini terus, aku bakal menghabiskan waktu di dunia paralel pakai baju yang agak janggal. Mana mungkin juga kan tiap hari libur aku pakai seragam terus. Makanya, aku mau lihat-lihat baju."

 

"Kalau begitu ayo kita lihat."

 

Bagaimana kalau aku yang berada di posisinya? Mungkin aku tidak

bakal sepeduli itu.

 

Ini adalah salah satu perbedaan antara aku dan Tsukino yang terkadang kurasakan. Entah karena perbedaan gender atau lingkungan, tapi aku tidak punya alasan untuk menolak.

 

Kami berjalan menyusuri deretan toko pakaian.

 

Siswa-siswi SMA Himurogioka makin sering terlihat. Ada kelompok perempuan yang ramai mengobrol, ada juga pasangan yang tampak seperti sejoli.

 

Harusnya cuma kami berdua yang tahu kalau kami adalah keberadaan yang sama dari dunia paralel. Kalau orang lain melihat kami berjalan bersama begini, apa yang bakal mereka pikirkan? Dan bagaimana dengan perasaan Tsukino sendiri?

 

Aku berpikir sambil memperhatikan Tsukino yang sedang mengintip ke dalam toko.

 

Nggak ah, aku saja yang terlalu berlebihan memikirkannya.

 

"Kalau Asahi, sukanya yang seperti apa?"

 

Pertanyaan mendadak itu membuatku hampir panik.

 

"Seleraku... cuma naik tingkat sedikit dari baju yang dibelikan Ibu waktu SMP."

 

"Bukan itu maksudku, tapi baju seperti apa yang kamu suka kalau

dipakai perempuan?"

 

"Dipakai perempuan? Nggak bisa mendadak begitu dong."

 

"Pasti pernah kan pas lihat perempuan di jalan terus mikir 'wah bajunya bagus ya', atau pas lihat idola atau aktris di TV dan film pakai baju tertentu terus bikin terperangah?"

"Jangan ngomong seolah-olah aku selalu melihat perempuan pakai pikiran mesum dong."

 

Walau aku tidak menampiknya sih.

 

"Tapi kalau dipikir-pikir secara serius, susah juga ya."

 

Aku memandangi deretan toko pakaian di depan kami.

 

Karena ini pusat perbelanjaan yang agak jauh dari pusat kota, tidak ada toko yang gayanya terlalu mencolok. Pilihan yang ada berkisar dari toko pakaian keluarga, toko perlengkapan luar ruangan, hingga toko dengan pakaian yang berkesan bersih dan kasual. Lagipula, aku sama sekali tidak paham soal merek.

 

Namun, mataku terhenti di satu titik. Tidak, kalau diingat-ingat lagi,

setiap kali datang ke sini aku memang suka melirik ke arah sana. Tipe toko yang dimaksud Tsukino seperti "wah bajunya bagus ya" atau "bikin terperangah". Tentu saja bukan dalam arti yang aneh.

 

Pakaian yang dipajang di sana jelas-jelas jauh lebih dominan warna hitam dibandingkan toko lain. Warna hitam dipadu warna ungu pekat, merah tua, sentuhan aksen perak, serta dihiasi motif tajam seperti tengkorak dan kait besi. Meski bernuansa utama seperti itu, ada juga sentuhan elemen yang bertolak belakang seperti renda dan pita.

 

Gaun one-piece, rok berenda, blus, celana pendek, hingga jins dengan efek damage. Jenis pakaian yang dipajang sangat beragam, tetapi semuanya berada di persimpangan antara warna hitam, ornamen tajam, nuansa dekadensi, serta sentuhan manis yang samar.

 

"Oh, begitu ya. Kamu suka yang seperti ini."

 

Wajah Tsukino mendadak menyela tepat di depan mataku. Mata sipitnya menyipit tajam, dan dari balik sudut bibirnya yang terangkat, gigi taringnya yang lancip mengintip samar. Sebuah senyuman tipis nan

jahil seperti iblis kecil.

 

"Kalau begitu aku pilih toko ini ya."

 

"Aku kan belum bilang—"

 

Tanpa memberiku kesempatan untuk ragu, Tsukino melangkah masuk ke dalam toko. Lalu, tanpa banyak ragu, dia memasukkan beberapa pakaian ke dalam keranjang belanja.

 

"Aku ganti baju dulu ya."

 

Pilihannya secepat kilat tanpa menyisakan celah sedikit pun.

 

Tahu-tahu aku sudah berdiri linglung di luar ruang ganti. Berdiri sendirian di dalam toko pakaian perempuan adalah pengalaman pertama bagiku, dan rasanya canggung luar biasa. Pegawai toko yang tersenyum ke arahku ini... apa dia curiga padaku, atau menganggap aku dan Tsukino adalah pasangan kekasih? Dua-duanya sama-sama membingungkan.

Aku mengeluarkan ponsel dan berpura-pura sedang sibuk mengisi waktu, tetapi setiap kali ada pengunjung lain yang lewat di dekatku, aku refleks menjadi canggung. Berdiri tepat di samping ruang ganti membuat suara gesekan kain terdengar samar, jadi aku melangkah mundur beberapa tindak. Walau suaranya masih sedikit terdengar sih.

 

Pokoknya, waktu terasa berjalan sangat lama.

 

"Maaf ya membuatmu menunggu, Asahi."

 

Tsukino mengintipkan wajahnya dari balik ruang ganti. Lalu, dia

menggeser tirai perlahan-lahan.

 

Pakaian itu mirip dengan seragam yang dipakainya tadi, tetapi dasarnya sama sekali berbeda. Kalau dideskripsikan dengan satu kalimat, itu adalah gaun kasual yang mengadaptasi desain seragam sekolah. Mirip seperti kostum grup idola yang diaransemen ke arah gaya yang lebih tajam dan gelap.

 

Blus putih bersihnya dihiasi renda yang anggun dan terkesan murni, tetapi kerah beserta pita di bagian dadanya kontras berwarna abu-abu dan hitam. Roknya yang kaya akan perpaduan renda dihiasi oleh rajutan pita berlapir-lapis, tetapi di balik kesan manisnya, warna hitam mendominasi keseluruhan bagian. Baik blus maupun roknya dihiasi aksen pin perak yang berkilau tajam. Semuanya terasa sangat cocok bersanding dengan rambut hitam panjang milik Tsukino, serta hiasan mawar hitam dan perak di rambutnya. Perpaduan antara nuansa dekadensi, keanggunan, kesan polos yang manis, serta senyuman memikat... pakaian itu terasa begitu menyatu dengan sosok Tsukino sendiri.

 

Di dalam ruang ganti, posturnya yang tegap berdiri tampak begitu memukau hanya dengan memiringkan tubuhnya sedikit.

 

"Bagaimana?"




"Fetish-ku banget."

 

Begitu terucap, aku langsung menyesali kejujuranku, tetapi semuanya sudah terlambat.

 

"Begitu ya... Sebenarnya, aku juga merasakan hal yang sama."

 

Semburat merah muncul di pipi Tsukino yang menundukkan pandangan. Bahkan rona itu tampak bagaikan warna aksen yang mempercantik sosoknya yang dibalut paduan warna hitam dan putih.

 

"Baju bebas pilihan milikku rasanya memang seperti ini. Aku suka yang imut sih, tapi warna hitam dan ornamen bertema dekadensi begini kan rasanya memang berhubungan erat sama bad end. Terlepas dari fetish-mu... ini tidak aneh, kan?"

 

"Mungkin ada pengaruh dari fetish-ku sih, tapi menurutku tanpa itu pun baju ini memang bagus kok."

 

Aku refleks mengacungkan ibu jari.

 

"Begitu ya."

 

Tsukino memutarkan tubuhnya di dalam ruang ganti. Di balik roknya, pita yang menghiasi tampak melambai ceria.

 

"Syukurlah. Kalau begitu aku beli yang ini ya."

 

Usai berputar sekali dan melempar senyuman manis, dia melambaikan tangan lalu menutup kembali tirai ruang ganti.

 

Suara gesekan kain yang kembali terdengar membuatku bergeming tak bisa bergerak di tempat.

 

Beberapa saat kemudian, Tsukino yang sudah berganti kembali ke seragam sekolahnya menyelesaikan pembayaran di kasir. Aku menunggunya, lalu kami melangkah keluar toko bersama-sama.

 

Sambil memeluk kantong kertas berisi bajunya, Tsukino tersenyum malu-malu. Tatapan mata yang diarahkan padaku serta sorot mata yang mendongak itu terasa begitu hangat.

 

"Meskipun jenis kelamin kita beda, aku senang selera Asahi dan seleraku sama persis. Kamu tadi sempat terpesona kan?"

 

"...Habisnya terlalu cocok sama fetish-ku sih."

Tsukino terkekeh pelan.

 

"Kalau begitu, pakaian yang cocok buat Asahi pasti juga sesuai sama fetish-ku deh."

 

"Apa?"

 

Sorot mata Tsukino kini terasa makin hangat, bahkan tampak sedikit

berkaca-kaca.

 

"Asahi mau kan menemaniku sebentar lagi?"

Tsukino menunjuk ke satu arah. Di ujung jarinya berdiri sebuah toko pakaian yang didominasi koleksi pria. Secara arah selera, toko itu sangat mirip dengan toko yang baru saja kami datangi, dengan baju-baju berwarna hitam yang tampak mencolok.

 

Sepertinya aku tidak bakal bisa menolaknya.

 

◆ ◆ ◆

 

Kali ini, ganti aku yang berada di dalam ruang ganti. Sama seperti Tsukino tadi, aku sedang memamerkan hasil coba baju, mengenakan kemeja dan celana jins pilihannya.

 

Berbeda dari pakaian Tsukino yang kaya akan dekorasi, pilihan untukku ini tergolong sangat simpel. Atasan dan bawahan sama-sama didominasi warna hitam, dengan desain ketat yang pas di badanku yang kurus.

 

"Meskipun ini berdasarkan fetish-ku sih..."

 

Sambil memeluk kantong kertas berisi bajunya sendiri, Tsukino mendongak menatapku. Dia memperhatikan penampilanku dengan sangat lekat.

 

"Tapi ini benar-benar cocok buatmu. Tidak rugi aku memilihnya cuma berdasar fetish."

 

"Kriteria pemilihannya cuma fetish doang nih...? Aku juga punya fetish yang sama sih, tapi apa ini tidak terlalu kelewat kental nuansa chuunibyou-nya?"

Pakaian hitam memang sering kupilih, tapi kalau warnanya benar-benar serba hitam begini, sejujurnya ada rasa agak sungkan.

 

"Nggak kok. Kelihatan keren banget."

 

Begitu dipuji secara gamblang begitu, rasanya tidak buruk juga.

 

"Soalnya Asahi itu punya sorot mata yang tajam dan kelihatan keren banget. Terus posturmu juga mantap. Makanya selera yang terkesan chuunibyou penuh begini sama sekali tidak kelihatan aneh."

 

"Padahal mataku cuma galak dan badanku sekadar kurus doang."

 

"Kalau aku... sejak pertama kali bertemu sudah berpikir kalau kamu punya sorot mata yang dingin, tajam, menembus, dan keren banget tahu."

 

Itu adalah kesan yang kurasakan pada Tsukino. Begitu ya. Ternyata

Tsukino juga memikirkan hal seperti itu tentang diriku.

 

Bukannya aku tidak suka, tapi dipuji soal hal yang selama ini tidak

terlalu kupikirkan secara positif membuatku merasa geli sampai ingin bergeliut.

 

"Terlepas dari apakah sorot mataku kelihatan oke atau tidak... kalau dibilang begitu, mau tidak mau aku harus belilah."

 

"Eh, uangmu cukup kan? Aku benar-benar memilihnya secara spontan loh."

"Untung aku bawa uang agak lebih."

 

Yah, kenyataannya pas-pasan banget sih, jadi untuk sementara waktu aku harus menjalani hidup super hemat.

 

"Tsukino sendiri bagaimana? Tempat ini kan harusnya dunia lain."

 

"Aku juga untung bawa uang agak lebih. Malah begitu sadar kalau aku membawa uang ke dunia lain, hal itu terasa lebih menakutkan buatku."

 

"Roda ekonomi tidak bakal hancur cuma gara-gara ini, jadi harusnya aman-aman saja."

 

"Kalau gitu, aku sekalian beli sepatu juga deh."

 

"Seingatku aku tidak pernah menyuruhmu melunjak deh."

 

Misalnya ada kecemasan kalau nomor seri uang kertasnya sama lalu dianggap uang palsu. Tapi ya, kemungkinannya teramat sangat kecil, jadi harusnya tidak masalah.

 

Bagaimanapun juga, setelah menyelesaikan belanjaan, kami melangkah keluar dari Green Mall. Terlepas dari itu, Tsukino ternyata benar-benar membeli sepatu baru.

 

Sepulang sekolah, kami berjalan sampai ke ujung utara kota di Taman Observasi lalu kembali lagi ke sini. Rasa lelah akibat menyusuri rute yang biasanya tidak pernah kutempuh dengan berjalan kaki mulai menghimpit pelan.

Di akhir bulan Mei hari memang terasa panjang, tetapi kini sinar matahari senja sudah lenyap tanpa wujud, digantikan oleh bulan yang terbit berbalut awan tipis di langit.

 

Di tangan aku dan Tsukino menggantung beberapa kantong kertas berisi baju-baju baru. Padahal niat awalnya mencari cara agar Tsukino bisa pulang, tetapi kami malah mendapatkan hasil yang sama sekali tidak ada hubungannya.

 

Menyusuri jalan pulang ke rumah sambil membawa barang-barang belanjaan begini mendadak terasa seperti kencan sepulang sekolah, menghadirkan sedikit rasa canggung dan bersalah.

 

"Pada akhirnya hari ini kita tidak mendapatkan petunjuk apa-apa. Kita harus menyusun rencana yang lebih konkret. Besok coba kita tanyakan ke Nanaha-senpai soal kuil itu. Siapa tahu ada asal-usul atau cerita tertentu dari tempat-tempat yang kita datangi."

 

"Bener juga. Terima kasih ya, Asahi."

 

"Nggak ah, aku kan belum bisa membantu banyak."

 

Ponsel Tsukino sampai detik ini masih belum bisa tersambung ke dunia asalnya. Rasa cemas kian menumpuk karena kami tidak tahu harus berbuat apa.

 

Tsukino memang tidak menunjukkannya secara terang-terangan, tetapi tersesat di dunia lain pasti membuatnya merasa sangat cemas. Kalau aku berada di posisinya, aku pasti bakal merasakan hal yang sama.

"Jangan terlalu dipikirkan. Setidaknya untuk saat ini aku tidak mengalami kesulitan apa-apa kok. Aku tinggal di rumah yang sama dengan Asahi, di sekolah pun keberadaanku diakui, terus aku juga sudah beli baju dan sepatu baru."

 

Dia mengangkat kantong kertas belanjaannya ke udara.

 

"Makanya ya. Mulai jam segini kita harus memikirkan hal yang lain."

 

"Hal yang lain?"

 

Tsukino mengangguk lalu mengangkat alisnya.

 

"Pertarungan novel. Kita berdua bakal menyajikan bad end gabungan

buat mengalahkan Jun. Kamu kan selama ini selalu kalah dari dia?"

 

"Kamu tahu juga ya. Soalnya novel buatan Jun itu memang seru banget, kecuali bagian akhir ceritanya yang bukan bad end."

 

Cerita bad end memang hampir selalu sulit diterima di Klub Sastra kami.

 

Biasanya kami bakal kalah usai menerima evaluasi seperti

 

"Perkembangan di babak akhimya terlalu menyakitkan" atau "Harusnya

bakal lebih bagus kalau tidak berakhir bad end".

 

"Kita harus menang ya, Asahi."

 

"Tentu saja. Pakai bad end buatan kita berdua."

 

""More bad! More hell!""

 

Sambil memegang kantong kertas belanjaan, kami melakukan fist bump beberapa kali.

 

Kantong-kantong kertas berisi pakaian yang didominasi warna hitam itu saling bertabrakan, menimbulkan suara renyah yang terdesir pelan.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close