Bab 6: Selera Fashion Diriku di Dunia Paralel Benar-Benar Sesuai Fetis
Sisa-sisa warna senja masih membayang di
langit yang tertutup awan tipis. Usai menuruni jalan menanjak dari Taman
Observasi dan melewati area depan sekolah, kami belok dari jalan raya utama
yang menuju stasiun ke jalan yang mengarah ke sisi timur kota.
Di tengah jalan, kami sempat beristirahat
sekali di minimarket karena aku yang kelelahan. Tsukino sendiri masih tampak
sangat segar bugar; kalau begitu, apa kalau aku melatih tubuhku, aku juga bisa
jadi sekuat itu?
Berbeda dengan area keramaian di depan
stasiun atau kawasan
pemukiman di bagian utara dan selatan,
area Himurogioka Motomachi tempat kami berada sekarang memiliki deretan
rumah-rumah lama yang cukup mencolok. Area dari sini menuju ke depan stasiun
konon merupakan kota tua yang sudah ada sebelum proyek pemukiman baru (new
town). Khususnya di sekitar sini, kesannya agak tertinggal dan tidak tersentuh
pembangunan besar-besaran seperti di depan stasiun.
Setelah melangkah beberapa saat, di
tengah pemandangan kota tua itu berdiri sebuah kuil. Hutan kecil pengayom yang
terlihat dari balik dinding batu yang mengelilingi area, torii batu yang
membatasi jalan umum dengan area suci kuil, serta patung Komainu (anjing
penjaga kuil) benar-benar memberikan kesan kuil yang sudah berakar di tanah ini
sejak zaman dahulu.
"Setelah dari Taman Observasi, aku
sempat mampir ke sini."
Tsukino menghentikan langkahnya lalu
memutarkan badannya menghadapku. Rambut hitamnya yang melambai tertinggal
sepersekian detik tampak amat cocok bersanding dengan pemandangan kuil di
belakangnya.
"Ngapain mampir ke sini? Harusnya
kan memutar kalau mau pergi ke
depan stasiun."
"Sekali-kali kan perlu berdoa ke
dewa... Tapi kalau untuk duniaku, rasanya bakal lebih pas kalau kubilang mampir
saat sedang jalan-jalan cari ide novel."
"Kalau yang itu sih memang sering
kulakukan."
Saat ide novel tidak kunjung muncul atau
jalan cerita macet, berjalan-jalan sebentar terkadang bisa menyelesaikan
masalah. Yah, terkadang tidak menyelesaikan apa-apa juga sih.
"Kalau di genre fantasi modern,
kunci yang menghubungkan dua dunia
biasanya ada di kuil seperti ini,
kan?"
Aku bersama Tsukino mengintip ke dalam
area kuil.
Struktur kuil ini tergolong sederhana; di
balik torii terdapat Chozuya
(tempat penyucian diri) dan Haiden
(bangunan utama tempat berdoa).
Ada juga kantor kuil kecil dan gudang,
tetapi tidak ada tempat yang kelihatan mencurigakan secara khusus.
Papan nama di torii... bukan, istilah
resminya Hengaku ya. Di sana tertulis nama "Kuil Himurogioka".
"Kalau ada sesuatu yang terjadi saat
mampir ke sini, rasanya bakal pas banget... Tapi lagian, kuil ini bukannya
dikelola sama keluarganya Nanaha-senpai ya?"
Lebih tepatnya, keluarga
Nanaha-senpai—keluarga
Hanazuki—menjabat sebagai pengelola kuil
(shinshoku). Di kota ini,
keluarga mereka tergolong garis keturunan
yang cukup terpandang dan memiliki sejarah panjang. Nanaha-senpai sendiri
terkadang terlihat membantu di area kuil mengenakan pakaian miko (gadis kuil).
"Hari ini senpai tidak ada ya. Apa
masih di sekolah?"
"Dia kan tipe orang yang kalau sudah
mulai baca buku atau nulis novel
bakal langsung tenggelam ke dunianya
sendiri. Tapi mungkin juga dia cuma sudah pulang ke rumah secara biasa."
Rumah senpai sendiri berada di Motomachi,
walau agak lumayan jauh dari titik ini. Seingatku, pekerjaan miko-nya cuma
sebatas membersihkan kuil atau membantu ritual keagamaan sederhana.
"Semoga saja ada petunjuk..."
"Tapi di dunia nyata rasanya tidak
mungkin ada fenomena aneh yang berceceran di mana-mana sih."
Tsukino—yang keberadaannya sendiri sudah
merupakan fenomena ajaib itu—sedang membaca papan penjelasan tentang dewa yang
disembah di kuil ini.
"Dewa Sarutahiko... Dewa yang
memandu Ninigi-no-Mikoto saat peristiwa Tenson Korin (turunnya cucu dewa
matahari ke bumi), dan juga dianggap sebagai dewa perbatasan... Eh?"
"Kalau dari penjelasannya, rasanya
lumayan ada hubungannya ya."
Padahal aku sudah sering pergi ke kuil
ini, tetapi aku sama sekali tidak pernah memedulikan dewa apa yang disembah di
sini. Kalau saja aku punya ketertarikan pada novel fantasi Jepang atau roman
misteri/occultism (denki), mungkin bakal beda cerita.
Meski begitu, aku tidak tahu apa-apa lagi
selain dari tulisan di papan penjelasan.
"Gawat. Harusnya pas ngobrol di klub
tadi aku tanyakan saja ke Nanaha-senpai."
"Padahal tanpa hal ini pun, senpai
kan memang ahlinya fantasi Jepang dan cerita sejarah."
"Dia juga tahu banyak soal
cerita-cerita misterius di kota ini."
Gara-gara kesan dari kata "dunia
paralel", aku jadi tidak bisa menghubungkannya dengan tempat ini.
"Besok kan kita ketemu lagi, coba
tanyakan secara terselubung tanpa sebut-sebut soal dunia paralel deh. Termasuk
legenda di kuil ini, siapa tahu ada cerita yang bisa jadi petunjuk."
"Boleh juga. Aku juga sempat
kecolongan. Tapi ya, kalau Asahi melupakannya, wajar saja kalau aku juga
melupakannya."
"Meskipun kita orang yang sama,
pasti ada lah efek bias pelaku utama."
Untuk sementara, kami melangkah masuk ke
dalam area kuil.
Sambil mendengarkan suara pijakan kerikil
suci (tamajari) yang menyenangkan di bawah kaki, kami mengitari sisi Haiden
lalu menembus ke Honden (bangunan tempat dewa bersemayam) di bagian paling
dalam.
Di bagian belakang kuil, berdiri megah
sebuah pohon suci (Goshinboku)
yang sangat besar. Ceruk-ceruk garis pada
batang pohon yang dililit tali
Shimenawa itu memancarkan kesucian yang
telah melewati rentang waktu yang teramat panjang.
"Apa kemarin ada kejadian aneh atau
semacamnya?"
"Kalau aku tahu, pasti tempat
pertama yang kuperiksa adalah tempat kejadian aneh itu."
"Memang benar-benar diriku. Bener
juga sih."
Setelah berkeliling sebentar dan
mengitari kuil sekali, tidak ada keanehan apa pun yang terjadi. Hanya ada
seorang nenek warga sekitar yang datang berdoa lalu pergi begitu saja. Tentu
saja tidak ada portal yang terbuka lebar, dan Dewa Sarutahiko pun tidak
mendadak muncul
untuk menuntun jalan.
Tanpa perlu bersepakat, kami berdua
berjalan menuju Haiden.
Setelah memasukkan koin lima ratus
yen—agak lumayan berkorban demi berdoa—ke dalam kotak persembahan
(saisen-bako), kami membunyikan lonceng, membungkuk dua kali, lalu menepuk
tangan dua kali. Setelah itu, kami memejamkan mata dan menangkupkan kedua tangan.
Seingatku Nanaha-senpai pernah bilang kalau tata cara berdoa di tiap tempat
bisa berbeda-beda.
Bagaimanapun, aku mendengar suara Tsukino
yang mengikuti gerakanku di samping.
Hal yang kumohonkan tentu saja agar
Tsukino bisa kembali ke dunianya.
Tsukino akan pulang. Kami tidak akan bisa
bertemu dan ngobrol lagi.
Hal itulah yang kudoakan.
Setelah membungkuk sekali lagi untuk
mengakhiri doa, aku membuka mata.
Tsukino yang berdiri di sampingku masih
dengan tenang memohonkan sesuatu.
Apakah dia sedang berdoa dalam hatinya
agar bisa kembali ke dunia asalnya?
Melihat sosoknya yang berdoa dengan
tulus—berbeda dari parasnya yang dingin maupun ekspresi jahilnya—pikiran itu
melintas di benakku.
◆
◆ ◆
Penayangan Infinity Heaven cuma dua kali
sehari, yaitu di slot sore dan malam.
Meskipun baru beberapa hari tayang, kalau
begini terus rasanya pemutarannya bakal dihentikan dalam jangka waktu
terpendek.
Di papan informasi bioskop, aku
membandingkan jadwal penayangannya dengan film sekuel anime populer atau film
romantis yang memiliki jumlah tayang melimpah.
"Sebelum penayangannya usai, aku mau
nonton sekali lagi deh."
"Semoga saja nanti ada versi
streaming-nya."
"Bagaimana kalau sekalian beli edisi
Bluray/DVD-nya saja?"
"Itu pun kalau edisi resminya
berhasil dirilis ya..."
Meskipun aku dan Tsukino sangat
memujanya, respon masyarakat umum rasanya begitu dingin hingga bikin cemas.
"Kalau jam tayang yang bisa ditonton
dari sekarang, jatuhnya sudah masuk late show ya."
"Anak di bawah umur kan tidak boleh
nonton slot itu. Lagian ini bukan waktunya buat nonton film, kan."
Sambil ngobrol, kami berjalan
meninggalkan bioskop.
Setelah meninggalkan kuil, aku dan
Tsukino mendatangi Green Mall Himurogioka.
Mengandalkan ingatannya, kami menyusuri
kembali rute yang dilaluinya kemarin. Walau yang dikunjungi cuma supermarket,
toko serba seratus yen, dan area pernak-pernik—tempat-tempat yang terkesan sama
sekali tidak ada hubungannya dengan dunia paralel.
Secara waktu, kalau kemarin jam segini
kami masih berada di dalam bioskop menonton film. Waktu kami sebenarnya masih
longgar, tetapi kalau mau terus mencari petunjuk, waktunya sudah tidak cukup.
"Kita kan pertama kali bertemu di
bioskop ini, apa tidak ada hal yang mencurigakan di sekitar sini?"
"Sama sekali tidak ada. Kalau
dipaksa-paksakan sih... di dalam studio? Misalnya saat sedang menonton, aku
mendadak berpindah ke dunia lain... tapi rasanya agak maksa ya."
Dari sudut pandangku pun, rasanya tidak
ada keanehan apa-apa pada layar bioskop.
"Ngomong-ngomong, kamu kemarin tidak
mampir ke toko buku?"
"Kalau diriku yang biasa, pasti
bakal mampir sih."
Toko buku berada tepat di lantai bawah
bioskop. Itu adalah toko buku jaringan besar yang lumayan luas dan koleksinya
cukup lengkap. Di saat toko-toko buku di kota mulai tutup satu per satu, aku
sangat bersyukur toko ini masih bertahan dengan baik.
"Tapi kemarin karena jam pemutaran
filmnya sudah mepet, aku tidak sempat masuk."
"Padahal biasanya kalau ada waktu
luang sedikit sebelum film mulai, kita suka menghabiskan waktu di toko buku
ya."
"Iya, benar banget. Ujung-ujungnya
malah beli buku yang tidak direncanakan."
Kami berjalan melintasi depan toko buku
yang terletak tepat di dekat eskalator.
"Tampilan tokonya bagaimana? Ada
bedanya dengan toko buku di duniamu Tsukino?"
"Entahlah ya... Karena
poster-posternya beda, mungkin buku yang dipajang juga ada sedikit perbedaan.
Tapi itu baru kelihatan kalau kita lihat secara detail."
"Sepertinya untuk saat ini hal itu
tidak terlalu berhubungan ya."
Karena kemarin dia tidak masuk ke dalam
toko buku, hal itu cuma bakal jadi bahan verifikasi perbedaan dunia paralel
saja.
"Setelah ini kita mau bagaimana?
Langsung pulang ke rumah saja?"
"Boleh saja sih, tapi Asahi kakinya
tidak pegal?"
"Ya tidak selemah itu juga kali.
Tapi kalau disuruh ke Taman Observasi lagi sekarang, aku angkat tangan."
"Mungkin aku memang harus agak
melampiaskan keputusasaan lagi."
Tsukino terkekeh pelan. Melampiaskan
keputusasaan cuma demi
melatih stamina itu agak berlebihan.
"Tapi, kalau ada waktu luang, boleh
minta tolong temani sebentar?"
Aku mengikuti Tsukino yang berjalan di
depan.
Suasana Green Mall pada sore hari kerja
tidak terlalu ramai. Namun, di tempat yang dituju Tsukino, tampak beberapa
kelompok murid yang mampir sepulang sekolah.
"Ini tidak ada hubungannya dengan
cara kembali ke dunia asal sih, tapi ada hal yang bikin aku agak
kerepotan."
"Kalau cuma menemani sih aku tidak
keberatan."
"Syukurlah. Entah apa alasannya, di
rumah Asahi ada kamarku dan barang-barang yang kubutuhkan lengkap tersedia,
kan?"
"Iya, walau kamu sempat salah bawa
buku pelajaran."
"Kalau itu kan karena aku salah
lihat jadwal."
Terlepas dari hal itu, tidak hanya kasur
dan meja, baju tidur yang
dipakainya semalam pun sudah disiapkan di
kamar itu.
"Tapi... agak beda sedikit."
"Bedanya bagaimana?"
"Baju selain piyama juga disiapkan.
Misalnya, kemeja blus cadangan."
Tsukino mencubit blus putih yang
dikenakannya. Aku tidak terlalu memperhatikannya, tapi rupanya memang begitu.
"Kalau seragam sih tidak masalah
karena desainnya sama. Tapi baju bebas yang disiapkan di sana... gimana ya,
selera pakaiannya mirip
seperti baju yang dibelikan Ibuku waktu
SMP."
"Tipe pakaian yang kalau cuma buat
ke minimarket dekat rumah tidak masalah, tapi kalau dipakai ke tempat seperti
ini bikin agak sungkan ya?"
"Nah, benar. Itu dia maksudku.
Memang benar-benar diriku."
"Rasanya itu cuma pengalaman umum
semua orang deh."
"Kalau cara kembali ke duniaku bisa
cepat ketemu sih tidak masalah."
Kerutan langka muncul di antara kedua
alis Tsukino.
"Kalau begini terus, aku bakal
menghabiskan waktu di dunia paralel pakai baju yang agak janggal. Mana mungkin
juga kan tiap hari libur aku pakai seragam terus. Makanya, aku mau lihat-lihat
baju."
"Kalau begitu ayo kita lihat."
Bagaimana kalau aku yang berada di
posisinya? Mungkin aku tidak
bakal sepeduli itu.
Ini adalah salah satu perbedaan antara
aku dan Tsukino yang terkadang kurasakan. Entah karena perbedaan gender atau
lingkungan, tapi aku tidak punya alasan untuk menolak.
Kami berjalan menyusuri deretan toko
pakaian.
Siswa-siswi SMA Himurogioka makin sering
terlihat. Ada kelompok perempuan yang ramai mengobrol, ada juga pasangan yang
tampak seperti sejoli.
Harusnya cuma kami berdua yang tahu kalau
kami adalah keberadaan yang sama dari dunia paralel. Kalau orang lain melihat
kami berjalan bersama begini, apa yang bakal mereka pikirkan? Dan bagaimana
dengan perasaan Tsukino sendiri?
Aku berpikir sambil memperhatikan Tsukino
yang sedang mengintip ke dalam toko.
Nggak ah, aku saja yang terlalu
berlebihan memikirkannya.
"Kalau Asahi, sukanya yang seperti
apa?"
Pertanyaan mendadak itu membuatku hampir
panik.
"Seleraku... cuma naik tingkat
sedikit dari baju yang dibelikan Ibu waktu SMP."
"Bukan itu maksudku, tapi baju
seperti apa yang kamu suka kalau
dipakai perempuan?"
"Dipakai perempuan? Nggak bisa
mendadak begitu dong."
"Pasti pernah kan pas lihat
perempuan di jalan terus mikir 'wah bajunya bagus ya', atau pas lihat idola
atau aktris di TV dan film pakai baju tertentu terus bikin terperangah?"
"Jangan ngomong seolah-olah aku
selalu melihat perempuan pakai pikiran mesum dong."
Walau aku tidak menampiknya sih.
"Tapi kalau dipikir-pikir secara
serius, susah juga ya."
Aku memandangi deretan toko pakaian di
depan kami.
Karena ini pusat perbelanjaan yang agak
jauh dari pusat kota, tidak ada toko yang gayanya terlalu mencolok. Pilihan
yang ada berkisar dari toko pakaian keluarga, toko perlengkapan luar ruangan,
hingga toko dengan pakaian yang berkesan bersih dan kasual. Lagipula, aku sama
sekali tidak paham soal merek.
Namun, mataku terhenti di satu titik.
Tidak, kalau diingat-ingat lagi,
setiap kali datang ke sini aku memang
suka melirik ke arah sana. Tipe toko yang dimaksud Tsukino seperti "wah
bajunya bagus ya" atau "bikin terperangah". Tentu saja bukan
dalam arti yang aneh.
Pakaian yang dipajang di sana jelas-jelas
jauh lebih dominan warna hitam dibandingkan toko lain. Warna hitam dipadu warna
ungu pekat, merah tua, sentuhan aksen perak, serta dihiasi motif tajam seperti
tengkorak dan kait besi. Meski bernuansa utama seperti itu, ada juga sentuhan
elemen yang bertolak belakang seperti renda dan pita.
Gaun one-piece, rok berenda, blus, celana
pendek, hingga jins dengan efek damage. Jenis pakaian yang dipajang sangat
beragam, tetapi semuanya berada di persimpangan antara warna hitam, ornamen
tajam, nuansa dekadensi, serta sentuhan manis yang samar.
"Oh, begitu ya. Kamu suka yang
seperti ini."
Wajah Tsukino mendadak menyela tepat di
depan mataku. Mata sipitnya menyipit tajam, dan dari balik sudut bibirnya yang
terangkat, gigi taringnya yang lancip mengintip samar. Sebuah senyuman tipis
nan
jahil seperti iblis kecil.
"Kalau begitu aku pilih toko ini
ya."
"Aku kan belum bilang—"
Tanpa memberiku kesempatan untuk ragu,
Tsukino melangkah masuk ke dalam toko. Lalu, tanpa banyak ragu, dia memasukkan
beberapa pakaian ke dalam keranjang belanja.
"Aku ganti baju dulu ya."
Pilihannya secepat kilat tanpa menyisakan
celah sedikit pun.
Tahu-tahu aku sudah berdiri linglung di
luar ruang ganti. Berdiri sendirian di dalam toko pakaian perempuan adalah
pengalaman pertama bagiku, dan rasanya canggung luar biasa. Pegawai toko yang
tersenyum ke arahku ini... apa dia curiga padaku, atau menganggap aku dan
Tsukino adalah pasangan kekasih? Dua-duanya sama-sama membingungkan.
Aku mengeluarkan ponsel dan berpura-pura
sedang sibuk mengisi waktu, tetapi setiap kali ada pengunjung lain yang lewat
di dekatku, aku refleks menjadi canggung. Berdiri tepat di samping ruang ganti
membuat suara gesekan kain terdengar samar, jadi aku melangkah mundur beberapa
tindak. Walau suaranya masih sedikit terdengar sih.
Pokoknya, waktu terasa berjalan sangat
lama.
"Maaf ya membuatmu menunggu,
Asahi."
Tsukino mengintipkan wajahnya dari balik
ruang ganti. Lalu, dia
menggeser tirai perlahan-lahan.
Pakaian itu mirip dengan seragam yang
dipakainya tadi, tetapi dasarnya sama sekali berbeda. Kalau dideskripsikan
dengan satu kalimat, itu adalah gaun kasual yang mengadaptasi desain seragam
sekolah. Mirip seperti kostum grup idola yang diaransemen ke arah gaya yang
lebih tajam dan gelap.
Blus putih bersihnya dihiasi renda yang
anggun dan terkesan murni, tetapi kerah beserta pita di bagian dadanya kontras
berwarna abu-abu dan hitam. Roknya yang kaya akan perpaduan renda dihiasi oleh
rajutan pita berlapir-lapis, tetapi di balik kesan manisnya, warna hitam
mendominasi keseluruhan bagian. Baik blus maupun roknya dihiasi aksen pin perak
yang berkilau tajam. Semuanya terasa sangat cocok bersanding dengan rambut
hitam panjang milik Tsukino, serta hiasan mawar hitam dan perak di rambutnya.
Perpaduan antara nuansa dekadensi, keanggunan, kesan polos yang manis, serta
senyuman memikat... pakaian itu terasa begitu menyatu dengan sosok Tsukino
sendiri.
Di dalam ruang ganti, posturnya yang
tegap berdiri tampak begitu memukau hanya dengan memiringkan tubuhnya sedikit.
"Bagaimana?"
"Fetish-ku banget."
Begitu terucap, aku langsung menyesali
kejujuranku, tetapi semuanya sudah terlambat.
"Begitu ya... Sebenarnya, aku juga
merasakan hal yang sama."
Semburat merah muncul di pipi Tsukino
yang menundukkan pandangan. Bahkan rona itu tampak bagaikan warna aksen yang
mempercantik sosoknya yang dibalut paduan warna hitam dan putih.
"Baju bebas pilihan milikku rasanya
memang seperti ini. Aku suka yang imut sih, tapi warna hitam dan ornamen
bertema dekadensi begini kan rasanya memang berhubungan erat sama bad end.
Terlepas dari fetish-mu... ini tidak aneh, kan?"
"Mungkin ada pengaruh dari fetish-ku
sih, tapi menurutku tanpa itu pun baju ini memang bagus kok."
Aku refleks mengacungkan ibu jari.
"Begitu ya."
Tsukino memutarkan tubuhnya di dalam
ruang ganti. Di balik roknya, pita yang menghiasi tampak melambai ceria.
"Syukurlah. Kalau begitu aku beli
yang ini ya."
Usai berputar sekali dan melempar
senyuman manis, dia melambaikan tangan lalu menutup kembali tirai ruang ganti.
Suara gesekan kain yang kembali terdengar
membuatku bergeming tak bisa bergerak di tempat.
Beberapa saat kemudian, Tsukino yang
sudah berganti kembali ke seragam sekolahnya menyelesaikan pembayaran di kasir.
Aku menunggunya, lalu kami melangkah keluar toko bersama-sama.
Sambil memeluk kantong kertas berisi
bajunya, Tsukino tersenyum malu-malu. Tatapan mata yang diarahkan padaku serta
sorot mata yang mendongak itu terasa begitu hangat.
"Meskipun jenis kelamin kita beda,
aku senang selera Asahi dan seleraku sama persis. Kamu tadi sempat terpesona
kan?"
"...Habisnya terlalu cocok sama
fetish-ku sih."
Tsukino terkekeh pelan.
"Kalau begitu, pakaian yang cocok
buat Asahi pasti juga sesuai sama fetish-ku deh."
"Apa?"
Sorot mata Tsukino kini terasa makin
hangat, bahkan tampak sedikit
berkaca-kaca.
"Asahi mau kan menemaniku sebentar
lagi?"
Tsukino menunjuk ke satu arah. Di ujung
jarinya berdiri sebuah toko pakaian yang didominasi koleksi pria. Secara arah
selera, toko itu sangat mirip dengan toko yang baru saja kami datangi, dengan
baju-baju berwarna hitam yang tampak mencolok.
Sepertinya aku tidak bakal bisa
menolaknya.
◆
◆ ◆
Kali ini, ganti aku yang berada di dalam
ruang ganti. Sama seperti Tsukino tadi, aku sedang memamerkan hasil coba baju,
mengenakan kemeja dan celana jins pilihannya.
Berbeda dari pakaian Tsukino yang kaya
akan dekorasi, pilihan untukku ini tergolong sangat simpel. Atasan dan bawahan
sama-sama didominasi warna hitam, dengan desain ketat yang pas di badanku yang
kurus.
"Meskipun ini berdasarkan fetish-ku
sih..."
Sambil memeluk kantong kertas berisi
bajunya sendiri, Tsukino mendongak menatapku. Dia memperhatikan penampilanku
dengan sangat lekat.
"Tapi ini benar-benar cocok buatmu.
Tidak rugi aku memilihnya cuma berdasar fetish."
"Kriteria pemilihannya cuma fetish
doang nih...? Aku juga punya fetish yang sama sih, tapi apa ini tidak terlalu
kelewat kental nuansa chuunibyou-nya?"
Pakaian hitam memang sering kupilih, tapi
kalau warnanya benar-benar serba hitam begini, sejujurnya ada rasa agak
sungkan.
"Nggak kok. Kelihatan keren
banget."
Begitu dipuji secara gamblang begitu,
rasanya tidak buruk juga.
"Soalnya Asahi itu punya sorot mata
yang tajam dan kelihatan keren banget. Terus posturmu juga mantap. Makanya
selera yang terkesan chuunibyou penuh begini sama sekali tidak kelihatan
aneh."
"Padahal mataku cuma galak dan
badanku sekadar kurus doang."
"Kalau aku... sejak pertama kali
bertemu sudah berpikir kalau kamu punya sorot mata yang dingin, tajam,
menembus, dan keren banget tahu."
Itu adalah kesan yang kurasakan pada
Tsukino. Begitu ya. Ternyata
Tsukino juga memikirkan hal seperti itu
tentang diriku.
Bukannya aku tidak suka, tapi dipuji soal
hal yang selama ini tidak
terlalu kupikirkan secara positif
membuatku merasa geli sampai ingin bergeliut.
"Terlepas dari apakah sorot mataku
kelihatan oke atau tidak... kalau dibilang begitu, mau tidak mau aku harus
belilah."
"Eh, uangmu cukup kan? Aku
benar-benar memilihnya secara spontan loh."
"Untung aku bawa uang agak
lebih."
Yah, kenyataannya pas-pasan banget sih,
jadi untuk sementara waktu aku harus menjalani hidup super hemat.
"Tsukino sendiri bagaimana? Tempat
ini kan harusnya dunia lain."
"Aku juga untung bawa uang agak
lebih. Malah begitu sadar kalau aku membawa uang ke dunia lain, hal itu terasa
lebih menakutkan buatku."
"Roda ekonomi tidak bakal hancur
cuma gara-gara ini, jadi harusnya aman-aman saja."
"Kalau gitu, aku sekalian beli
sepatu juga deh."
"Seingatku aku tidak pernah
menyuruhmu melunjak deh."
Misalnya ada kecemasan kalau nomor seri
uang kertasnya sama lalu dianggap uang palsu. Tapi ya, kemungkinannya teramat
sangat kecil, jadi harusnya tidak masalah.
Bagaimanapun juga, setelah menyelesaikan
belanjaan, kami melangkah keluar dari Green Mall. Terlepas dari itu, Tsukino
ternyata benar-benar membeli sepatu baru.
Sepulang sekolah, kami berjalan sampai ke
ujung utara kota di Taman Observasi lalu kembali lagi ke sini. Rasa lelah
akibat menyusuri rute yang biasanya tidak pernah kutempuh dengan berjalan kaki
mulai menghimpit pelan.
Di akhir bulan Mei hari memang terasa
panjang, tetapi kini sinar matahari senja sudah lenyap tanpa wujud, digantikan
oleh bulan yang terbit berbalut awan tipis di langit.
Di tangan aku dan Tsukino menggantung
beberapa kantong kertas berisi baju-baju baru. Padahal niat awalnya mencari
cara agar Tsukino bisa pulang, tetapi kami malah mendapatkan hasil yang sama
sekali tidak ada hubungannya.
Menyusuri jalan pulang ke rumah sambil
membawa barang-barang belanjaan begini mendadak terasa seperti kencan sepulang
sekolah, menghadirkan sedikit rasa canggung dan bersalah.
"Pada akhirnya hari ini kita tidak
mendapatkan petunjuk apa-apa. Kita harus menyusun rencana yang lebih konkret.
Besok coba kita tanyakan ke Nanaha-senpai soal kuil itu. Siapa tahu ada
asal-usul atau cerita tertentu dari tempat-tempat yang kita datangi."
"Bener juga. Terima kasih ya,
Asahi."
"Nggak ah, aku kan belum bisa
membantu banyak."
Ponsel Tsukino sampai detik ini masih
belum bisa tersambung ke dunia asalnya. Rasa cemas kian menumpuk karena kami
tidak tahu harus berbuat apa.
Tsukino memang tidak menunjukkannya
secara terang-terangan, tetapi tersesat di dunia lain pasti membuatnya merasa
sangat cemas. Kalau aku berada di posisinya, aku pasti bakal merasakan hal yang
sama.
"Jangan terlalu dipikirkan.
Setidaknya untuk saat ini aku tidak mengalami kesulitan apa-apa kok. Aku
tinggal di rumah yang sama dengan Asahi, di sekolah pun keberadaanku diakui,
terus aku juga sudah beli baju dan sepatu baru."
Dia mengangkat kantong kertas
belanjaannya ke udara.
"Makanya ya. Mulai jam segini kita
harus memikirkan hal yang lain."
"Hal yang lain?"
Tsukino mengangguk lalu mengangkat
alisnya.
"Pertarungan novel. Kita berdua
bakal menyajikan bad end gabungan
buat mengalahkan Jun. Kamu kan selama ini
selalu kalah dari dia?"
"Kamu tahu juga ya. Soalnya novel
buatan Jun itu memang seru banget, kecuali bagian akhir ceritanya yang bukan
bad end."
Cerita bad end memang hampir selalu sulit
diterima di Klub Sastra kami.
Biasanya kami bakal kalah usai menerima
evaluasi seperti
"Perkembangan di babak akhimya
terlalu menyakitkan" atau "Harusnya
bakal lebih bagus kalau tidak berakhir
bad end".
"Kita harus menang ya, Asahi."
"Tentu saja. Pakai bad end buatan
kita berdua."
""More bad! More
hell!""
Sambil memegang kantong kertas belanjaan,
kami melakukan fist bump beberapa kali.
Kantong-kantong kertas berisi pakaian yang didominasi warna hitam itu saling bertabrakan, menimbulkan suara renyah yang terdesir pelan.



Post a Comment