NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Heikou Sekai no Jibun ga Konomi no Bishoujo de Kuse mo Onaji Datta node Koi shite Shimatta Volume 1 Chapter 9

Bab 9: Tentang Diriku di Dunia Paralel


Lampu dapat menyala tanpa kendala. Aku melangkah mengelilingi bagian dalam rumah yang kini terang benderang. Sebuah pemandangan asing di tengah tata ruang yang sangat kukenal. Debu menumpuk cukup

tebal di atas rak sepatu, sudut koridor, dan beberapa daun pintu.

 

Barang-barang yang ada di sini jauh lebih sedikit dibanding rumah yang kutinggali.

 

Kamar milikku di lantai dua terawat dengan sangat bersih. Meja belajar, rak buku, dan tempat tidur berjajar rapi. Namun, masing-masing furnitur itu memiliki detail yang sedikit berbeda.

 

Di sebelahnya, kamar yang sebelumnya dipakai oleh Tsukino kini kembali menjadi gudang penyimpanan. Lapisan debunya jauh lebih tebal dibanding di koridor, bahkan sampai bisa meninggalkan jejak kaki jika diinjak.

 

Setelah memastikan keadaan lantai atas, aku kembali ke ruang keluarga.

 

Lantai, meja, dan sofa di sini telah dibersihkan dengan rapi, menghadirkan aroma kehidupan yang familiar. Di atas meja, berdiri sebuah bingkai foto.

 

Foto itu menampilkan Ayah dan Ibu. Akan tetapi, jenis kelamin mereka berlawanan dengan yang kukenal. Bukan dalam artian berdandan silang atau menyamar, melainkan benar-benar versi pertukaran gender dari fitur wajah asli mereka—persis seperti diriku dan Tsukino. Di foto itu terlihat Ayah yang tampak awet muda dan Ibu dengan tatapan mata yang tajam.

 

Lalu, di antara mereka berdua, berdiri seorang anak perempuan

berambut hitam yang menggendong tas randoseru. Wajahnya yang tersenyum malu-malu diapit kedua orang tuanya tampak jauh lebih dewasa dibanding usianya. Jejak raut wajah dari mata tajam itu tak salah lagi adalah milik Tsukino.

 

Aku langsung memahami arti dari pemandangan itu. Namun, aku menolak untuk mencernanya. Aku bahkan tidak berniat menanyakannya pada Tsukino.

 

Aku hanya berdiri terpaku di ruang keluarga rumah Masumi yang tak kukenal ini.

 

"Aku baru saja menelepon. Aku diamuk habis-habisan, tapi ya wajar saja sih karena aku menghilang tanpa kabar selama tiga hari."

 

Tsukino masuk sambil menggenggam ponselnya.

 

"Aku harus berbohong agak karangan..." Suaranya yang terkesan masam

mendadak terhenti saat ia menyadari apa yang sedang kulihat. Ia

melangkah mendekati meja, lalu mengelus kaca bingkai foto itu dengan jari putihnya. Baru saat itulah aku menyadari bahwa bingkai itu terawat

sangat baik tanpa ada noda maupun debu sedikit pun.

 

"Ketahuan juga, ya. Kalau aku jadi kamu, dari ini saja pasti langsung paham."

 

Tsukino membalikkan badannya menghadapku. Rambut hitamnya berayun, membuat hiasan mawar di rambutnya berpendar redup di bawah sorotan lampu ruang keluarga. Matanya yang tajam memicing dengan ekspresi jahil yang terkesan mengolok-olok, tetapi terasa sangat kering.

 

"Ini duniaku, dan ini rumahku."

 

Dengan senyum tipis, ia mengutarakan kenyataan yang tak bisa lagi dibantah.

 

"Ayah dan ibuku meninggal karena kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas biasa tanpa drama apa pun."

 

Aku menatap sekilas foto di bingkai itu.

 

"Sekarang aku diurus oleh Paman. Karena aku tidak mau pindah dari rumah ini dan masih ada uang peninggalan orang tua, aku tinggal sendirian di sini."

 

Artinya, orang yang ditelepon Tsukino barusan adalah Pamannya yang tinggal di Higashimachi.

 

"Aku tidak tahu harus bicara bagaimana jadi aku memilih diam. Hari saat aku bertemu dengan Asahi, alasanku pergi ke rumah Paman adalah untuk menandatangani dokumen. Selain itu... sekalian ziarah ke makam."

 

"Begitu. Makam keluarga kita memang di dekat rumah Paman."

Tempat itu juga dekat dari taman tempat kami mengetik kibor bersama tadi.

 

"Maaf ya. Aku benar-benar tidak bisa bilang kalau aku sedang ziarah. Tolong maafkan aku, setidaknya kenyataan bahwa makam itu ada di sana membuktikan kalau tempat ini memang duniaku."

 

Hal itu... mau bagaimana lagi.

 

Mendadak, hatiku merasa gelisah. Rasa cemas berulang yang membawa rasa sakit tajam menyeruak, seolah jantungku sedang dicengkeram oleh tangan es.

 

Di karya fiksi, perlakuan terhadap dunia paralel sangat beragam. Salah satunya adalah kasus di mana keberadaan yang sama di dunia paralel pasti menempuh garis hidup yang serupa.

 

"Aku paham kok. Namanya juga diriku. Kamu pasti khawatir soal Ayah dan Ibu di duniamu, kan?"

 

"...Seperti yang kuduga dari diriku. Kamu paham betul, ya."

 

"Kelihatan jelas di wajahmu. Lagipula... kalau aku di posisimu, aku juga pasti memikirkannya. Tapi, kamu bisa agak tenang sedikit."

 

Tsukino melangkah perlahan menuju arah televisi. Pandanganku secara alami mengikutinya.

 

"Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan saat aku kelas satu SMA."

 

"Kalau garis hidup kita serupa, artinya hal itu sudah terlewati di duniamu?"

 

Sekarang adalah musim semi tahun kedua.

 

"Bisa jadi begitu. Dan ada satu hal lagi yang belum kuberitahukan. Aku juga butuh waktu sebentar untuk menyadarinya, jadi tolong maafkan aku soal yang satu ini juga."

 

Sambil bersandar pada televisi di sudut ruangan, Tsukino menunjuk jam digital yang terletak di rak TV.

 

"Masumi Tsukino yang ini sekarang murid kelas tiga SMA. Aku satu tahun lebih tua dari Asahi, dan garis waktu di dunia ini berada satu tahun di depan."

 

Mataku pasti membelalak lebar saat ini. Jam yang ditunjukkan Tsukino menampilkan angka tahun yang berada satu tahun di depan jika dihitung secara kalender Masehi. Padahal tanggal dan waktunya hampir tidak bergeser sama sekali.

 

"Tunggu dulu. Yang benar? Warna pita seragammu bukannya menandakan kita seangkatan?"

"Warna pita kan ditentukan saat pertama kali masuk sekolah. Jadi mau kelas dua atau kelas tiga, warnanya akan tetap sama."

 

Ia menyentuh kerah blusnya. Saat ini ia mengenakan pakaian yang kami beli saat jalan berdua, tetapi jika memakai seragam, pita merah akan menghiasi bagian tersebut. Warna merah di duniaku menandakan siswa kelas dua, tetapi di dunia Tsukino, warna itu sudah menjadi milik siswa kelas tiga.

 

"Kalau begitu, bagaimana dengan bioskop? Kenapa kamu menonton

Infinity Heaven? Apa film itu tidak tayang di dunia ini?"

 

"Di situ letak kesalahpahaman besarnya. Di duniaku, Infinity Heaven adalah film yang tayang tahun lalu, dan saat itu karena ada berbagai hal, aku tidak sempat menontonnya. Lalu saat aku lewat di depan bioskop di dunia Asahi, film itu terpajang di daftar tayang. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengira itu penayangan ulang."

 

"Kebetulan seperti itu...?"

 

"Aku ingin menganggapnya sebagai takdir yang dilahirkan oleh bad ending. Untuk sementara, apa kamu bisa mempercayaiku?"

 

"Tidak ada alasan bagimu untuk berbohong, dan tidak ada alasan juga bagiku untuk tidak mempercayai Tsukino."

 

"Terima kasih. Tapi siapa tahu ini trik di mana aku menyetel ulang jamnya saat kamu pergi ke lantai dua tadi? Untuk apa juga aku melakukan itu, ya?"

"Ditanya begitu aku juga bingung."

 

Jika kondisi rumah ini juga bagian dari trik, rasanya terlalu niat dan berlebihan.

 

"Pembicaraannya jadi melenceng. Intinya, yang ingin kukatakan adalah... waktu yang kulewati setelah Ayah dan Ibu tiada, dan waktu Asahi sejak titik yang sama, adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda.

Ini memang bukan jaminan bahwa hal yang sama tidak akan terjadi padamu di masa depan... Ah, padahal aku ingin menyampaikannya dengan lebih baik."

 

Aku bisa merasakan dengan sangat jelas betapa Tsukino mengkhawatirkanku. Namun—

 

"Yang paling berat di sini kan kamu, Tsukino. ...Maaf. Aku bahkan tidak menyadarinya dari awal."

 

Tsukino memicingkan matanya. Antara merasa kesepian atau merasa senang, aku tidak bisa membedakan yang mana.

 

"Kalau boleh jujur, ya..."

 

Ia bergumam pelan lalu menundukkan pandangannya.

 

"Aku sempat berpikir sedikit. Kalau kita adalah keberadaan yang sama, kenapa Ayah dan Ibu di dunia Asahi masih hidup? Aku jadi takut, jangan-jangan nanti mereka juga akan meninggal. Bahkan... mungkin sempat terlintas di benakku kalau itu tidak adil."

Di ruang keluarga duniaku, kami berempat duduk mengelilingi meja makan. Saat itu, Tsukino yang mengunyah roti dengan raut bahagia dari lubuk hatinya... sebenarnya sedang merasakan kebahagiaan atas hal apa?

 

"Tapi setelah aku memeriksa sejarah dan tren di duniamu, aku jadi paham. Peristiwa besar di dunia, kejadian-kejadian kecil di negara ini, tren tidak penting, sampai streamer yang sedang hits pun hampir tidak ada bedanya. Namun, kejadian-kejadian kecil di sekitar kita punya banyak perbedaan, jadi mungkin hal-hal berskala lokal seperti ini berbeda di tiap dunia paralel. Makanya, kalau kedua Orang Tua di duniamu tetap sehat-sehat saja, aku pun akan ikut senang."

 

Tsukino terkekeh pelan.

 

"Kamu tahu Canon Event di Spider-Verse, kan?"

 

"Kejadian di mana di dunia paralel mana pun, Spider-Man pasti mengalami tragedi. Dan kalau ada orang dari dunia lain yang mencoba menghentikannya, dunia itu akan hancur... yang seperti itu, kan?"

 

"Karena itu adalah kejadian penting bagi dunia. Tapi, kehidupan kita berdua berbeda walau kita keberadaan yang sama, dan tragedi itu tidak pasti terjadi. Padahal kedua dunia ini hampir tidak ada bedanya. Apa pun yang terjadi pada kita atau orang-orang di sekitar kita, atau bahkan jika seseorang menghilang, tidak akan memberikan pengaruh besar pada sejarah. Mau aku, Asahi, Ayah, atau Ibu... tidak ada artinya dan tidak memiliki nilai apa pun bagi dunia."

Tsukino mendadak menghentikan kalimatnya lalu menarik napas dalam-dalam.

 

Saat ia mendongak, ia menurunkan alisnya dengan raut malu-malu.

 

"Umm. Maksudku... dari yang kurasakan, sepertinya kita tidak akan mengalami kejadian yang sama secara Canon Event... Ah, pembicaraannya jadi melenceng lagi, dan ini agak susah ditanggapi, ya."

 

"Kalimat 'agak susah ditanggapi' itu sendiri sudah susah ditanggapi, tahu."

 

Kami saling pandang lalu tertawa.

 

Aku hanya berpura-pura menyesuaikan diri dengannya, tetapi hatiku sama sekali tidak tertawa. Aku seolah paham, namun di saat yang sama tidak mengerti apa yang dipikirkan Tsukino hingga ia memasang senyum itu.

 

Diriku dan Tsukino, yang tadinya kuingat sebagai keberadaan yang sama persis, ternyata menempuh jalan yang sepenuhnya berbeda di balik sekat dunia ini.

 

◆ ◆ ◆

 

Ruang keluarga yang diterangi lampu tidur menyisakan garis-garis bentuk dalam keremangan. Tampilan angka di alat-alat elektronik dan jam terlihat begitu mencolok, sementara dengung mesin pendingin es yang tak pernah berhenti terdengar lebih keras dari biasanya.

Pemandangan ruang keluarga yang seharusnya sudah tidak asing ini terasa sangat berbeda antara malam-malam saat aku terbangun untuk minum teh, dengan saat aku tidur terlentang berselimutkan kain di atas sofa.

 

Setelah kejadian tadi, aku dan Tsukino pergi ke minimarket terdekat untuk membeli makanan malam yang sederhana. Kami memang sangat lapar, tapi karena situasi sedang seperti ini, rasanya hampir tidak ada rasa yang tersisa di lidah.

 

Lalu, aku mencoba memeriksa apakah ponselku bisa terhubung. Namun, anehnya, hasilnya benar-benar berbeda dari kasus Tsukino. Ponselku berada dalam status tanpa kontrak, bahkan tidak bisa digunakan untuk bertukar pesan dengan Tsukino. Aku hanya bisa menyambungkannya ke internet jika ada jaringan Wi-Fi.

 

Saat Tsukino datang ke duniaku, dia hanya tidak bisa terhubung dengan dunianya yang asli, sementara seluruh fungsi ponselnya tetap bekerja normal. Penyesuaian kondisinya sama persis seperti orang yang mengontrak ponsel di duniaku.

 

Rasanya penyesuaian dari sisi dunia ini terhadap keberadaanku jauh lebih tipis. Tetapi, untuk saat ini belum ada cara untuk mencari tahu bagaimana status keberadaanku di sini. Kalaupun ingin bertanya pada Jun atau Nanaha-senpai di dunia ini, harinya sudah terlalu malam.

 

Kemungkinan bahwa titik temu antara kedua dunia berada di suatu

tempat di Himurogioka Higashimachi terasa semakin tinggi, tetapi karena waktu sudah melewati pukul sebelas malam, penyelidikan mau tidak mau harus ditunda sampai besok.

 

Hasilnya, setelah selesai mandi, di sinilah aku berada. Aku meminjam piyama milik ayah Tsukino. Karena jenis kelamin orang tua kami terbalik, memakai piyama milik ibu Tsukino yang di dunia ini menjadi seorang laki-laki terasa sedikit rumit, walau setidaknya ukurannya lumayan pas di tubuhku.

 

Tsukino sudah kembali ke kamarnya sejak tadi. Suara langkah kaki dari lantai dua juga tidak terdengar lagi.

 

Terlempar seorang diri ke dunia yang bukan miliknya. Membawa rahasia yang tak bisa diceritakan bahkan kepada keberadaan yang sama, lalu berjalan ke sana kemari demi menggantungkan sedikit harapan untuk pulang... sudah pasti tubuh dan mentalnya luar biasa lelah.

 

Kalau aku sendiri... bagaimana, ya? Ada rasa cemas apakah aku bisa kembali ke duniaku yang asli, tapi kenyataan bahwa aku sedang berada di dunia lain masih belum terasa nyata. Aku hanya tidak bisa tidur.

 

—Begitu pikirku.

 

Namun, rasa kantuk datang lebih cepat dari dugaan. Di tengah udara beraroma familiar tetapi sedikit berbeda ini, ingatan tentang apa yang terjadi hari ini, kejadian sejak bertemu Tsukino, serta kenangan yang berputar-putar perlahan menjadi samar.

Suara pintu ruang keluarga yang terbuka pelan mendadak menarik kembali kesadaranku.

 

Tanpa kusadari jam sudah menunjukkan lewat pukul dua pagi, rupanya aku sempat tertidur sebentar.

 

Aku mengarahkan pandangan ke suara langkah sandal yang pelan di lantai ruang keluarga.

 

"Membangunkanmu, ya. Maaf."

 

Dalam kegelapan yang tipis, Tsukino berdiri mengenakan piyama. Mungkin karena baru bangun dari tempat tidur, rambutnya yang agak berantakan bisa terlihat jelas bahkan hanya dengan cahaya lampu tidur.

 

"Tidak... aku sendiri tidak tahu tadi sedang tidur atau tidak."

 

"Aku sama sekali tidak bisa tidur."

 

Tsukino mengangkat bahunya pelan. Piyama yang dikenakannya terasa agak berbeda dari yang biasa ia pakai di duniaku. Piyama bernuansa warna hitam yang mirip dengan baju yang kami beli bersama, dihiasi frill dan pita yang mencolok. Ornamen pita merahnya terlihat jelas meski di dalam gelap.

 

Mata kami mendadak bertemu.

 

"Kamu melihatnya, kan? Cocok tidak?"

 

Lebih tepatnya, pandanganku tertangkap basah.

 

"Cocok kok. Dan terasa banget kesan bad end-nya."

 

"Memang benar-benar diriku. Konsepnya memang memadukan imut dan bad end."

 

Aku tidak bilang kalau itu imut, walau dalam hati memikirkannya.

 

Tsukino berjongkok di depan sofa tempatku menegakkan separuh

badan. Pandangan kami kini sejajar. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat jarak di antara kami makin terkikis.

 

"Dibanding piyama yang kupakai di dunia Asahi, kamu lebih suka yang ini, kan?"

 

"...Seperti yang kuduga dari diriku. Tepat sekali. Itu selera spesifikku."

 

Karena tahu berbohong pun pasti akan ketahuan, aku mengatakannya sejujur mungkin. Rasa malu membuat telingaku, bahkan dahi, terasa panas membara.

 

Tsukino sendiri memalingkan wajahnya. Walau tidak semerah warna pita di piyamanya, aku merasa pipinya memerah hebat.

 

Di dalam hati, aku merasa sedikit lega karena kami masih saling terhubung sebagai keberadaan yang sama.

 

Tsukino menunduk tanpa berani menatap mataku. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi tidak ada kata yang terucap.

 

"Umm, kamu..."

 

Suara yang bersusah payah ia keluarkan secara terputus-putus itu begitu lirih, hampir terkikis oleh helaan napas dan detak jantung.

 

Profil wajah Tsukino yang memalingkan pandangan mendadak tersiram cahaya. Dari celah gorden, sinar bulan yang hampir purnama menyeruak masuk.

 

“...Aku mau kamu... tidur bersamaku.”

 

Bisikan suaranya yang hampir tak terdengar itu menampilkan raut wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya—begitu rapuh. Matanya yang tertunduk tampak berkaca-kaca, mempertegas warna putih kulitnya di atas pipinya yang memerah. Bibirnya gemetar halus.

 

"Tidur bersama itu..."

 

Tsukino menggelengkan kepalanya. Gesturnya saat mengacak rambutnya sendiri terlihat seperti anak kecil.

 

"Aku tidak bisa tidur. Mendadak jadi tidak bisa tidur sama sekali."

 

Ia bergumam pelan.

 

"Sejak Ayah dan Ibu tiada, aku selalu bisa tidur sendirian di rumah ini sampai sekarang. Di rumah Asahi pun, padahal itu dunia lain, aku heran kenapa bisa tidur seperti biasa. Tapi... hari ini tidak bisa."

 

Air mata yang tergenang di matanya memantulkan pendar cahaya bulan.

 

"Karena aku sudah melihat dunia tempat Ayah dan Ibu berada, tempat yang tidak berubah sedikit pun dari masa itu, tempat yang memiliki semua hal yang telah hilang dariku. Makanya, rasa kesepian itu mendadak menyerang dan aku tidak sanggup menahannya."

 

Di dunia tanpa Ayah dan Ibu ini, apa yang dipikirkan Tsukino saat sarapan, saat makan malam, dan saat tidur sendirian?

 

"Kalau... kalau Asahi tidak keberatan."

 

Ujung jari Tsukino menyentuh tanganku. Dari jemarinya yang ragu-ragu dan seolah bisa terlepas kapan saja itu, terasa suhu tubuhnya yang lebih dingin daripada tubuhku.

 

"Malam ini saja tidak apa-apa. Maukah kamu tidur bersamaku di kamarku?"

 

Aku menggenggam tangan Tsukino.

 

Matanya yang bergetar berkedip lebar, lalu setitik air mata jatuh dari sudut matanya.

 

"...Kamar itu kan kamar milikku juga, jadi tidak ada yang aneh. Lagipula, ini cuma aku yang tidur bersama diriku sendiri."

 

Aku sendiri sadar kalau kalimat itu tidak jelas ditujukan untuk siapa.

 

Bibir Tsukino terangkat sedikit membentuk garis senyum.

 

Saat aku bangkit dari sofa, jemari Tsukino yang tadinya menyentuh

tanganku berganti menjepit pelan ujung lengan piyamaku.

 

Dalam diam, aku mengikuti langkah Tsukino yang membelakangiku menuju koridor. Di tengah kegelapan, lengan bajuku ditarik menaiki

tangga hingga sampai di kamar yang seharusnya sudah kukenal.

 

Penerangan kamar hanya mengandalkan lampu tidur, tetapi karena gorden tertutup rapat, suasananya terasa lebih gelap dibanding ruang

keluarga.

 

Tsukino tidak melepaskan ujung jarinya. Kami berjalan lurus menuju tempat tidur.

 

Di bawah cahaya yang samar, tempat tidur yang berantakan dengan

selimut yang tersingkap tertangkap oleh mataku. Aku mau tidak mau menyadari bekas-bekas tempat Tsukino berbaring sampai detik tadi.

 

"Tempatnya agak sempit, tapi silakan."

 

"Ukurannya kan aku sudah tahu."

Tsukino terkekeh pelan lalu duduk di tepi tempat tidur. Aku yang lengan bajunya masih dijepit pun ikut menuruti gerakannya.

 

Jarak di antara kami begitu dekat hingga lengan kami saling bersentuhan. Di atas tempat tidur, kehangatan tubuh Tsukino masih tersisa dengan lembut.

 

Tsukino tidak menatap ke arahku. Aku pun tidak sanggup menatapnya.

 

"Aku di bagian dalam saja, ya?"

 

"Ya. Kalau Tsukino tidak keberatan."

 

Ia mengangguk, merayap di atas tempat tidur single yang sempit itu, lalu berbaring sedekat mungkin ke arah dinding. Aku menirukan

gerakannya, berbaring di sudut tempat tidur di sisi sebaliknya. Tsukino masih belum melepaskan jarinya dari lengan bajuku.

 

"Selimutnya bagaimana? Terlalu panas tidak?"

 

"Nanti malah masuk angin kalau tidak dipakai, kita pakai separuh saja."

 

Di tengah situasi seperti ini, kami malah bertukar kata secara teramat biasa.

 

Tsukino menarik selimut hingga menutupi area perut kami. Rasanya kehangatan tubuhnya meresap sampai ke sini.

 

Malam di akhir bulan Mei seharusnya masih menyisakan hawa dingin, tetapi sekarang rasanya hangat bukan main. Aku tidak tahu apakah ini karena berbaring di dalam selimut yang sama dengan Tsukino, atau karena rasa panas yang membakar dari dalam diriku sendiri. Hanya saja, aku berharap tidak mengeluarkan keringat.

 

Aku dan Tsukino saling membelakangi. Meski di atas tempat tidur yang

sempit, masih ada sedikit celah di antara kami. Walau begitu, ujung jari

Tsukino tetap tidak melepaskan lengan piyamaku.

 

"Besok, ya. Sebenarnya aku ingin langsung pergi mencari cara agar Asahi bisa pulang. Tapi aku harus pergi ke rumah Paman terlebih dahulu."

 

"Soalnya kamu tidak ada kabar selama tiga hari penuh. Tentu saja dia menyuruhmu datang langsung."

 

Percakapan yang terus mengalir sambil saling membelakangi.

 

"Hampir saja aku datang ke rumahmu, tahu."

 

"Aku paham perasaan pamanmu, tapi itu bahaya juga... Kuharap posisiku di sini bisa diatur dengan situasi yang pas seperti waktu giliranmu, sih."

 

Mengingat soal gudang dan ponsel, kurasa situasinya bakal berbeda dari saat Tsukino datang kemari.

 

"Makanya, tunggu sampai aku pulang, ya. Sebagai gantinya, aku bakal coba korek-korek informasi tentang bagaimana perlakuan orang-orang terhadap Asahi."

 

"Maaf ya. Merepotkanmu."

 

"...Ini sepenuhnya salahku."

 

Percakapan itu terhenti. Suara Tsukino yang bergerak di atas kasur terdengar menembus punggungku. Tanpa perlu berbalik pun, aku tahu kalau dia yang tadinya berada di dekat dinding kini bergeser mendekat ke arahku.

 

"Kalau di ujung sana, nanti kamu bisa jatuh dari kasur lho."

 

"Aku tidak merasa punya kebiasaan tidur yang separah itu."

 

Namun, karena kami belum pernah tidur berdua di atas kasur sekecil ini sebelumnya, aku pun menuruti peringatan Tsukino. Aku sedikit demi sedikit menggeser posisiku yang tadinya nyaris terjerembab di tepi kasur menuju ke tengah, mendekat ke arah Tsukino.

 

Gerakan itu membuat tangan Tsukino yang tadinya menjepit ujung lengan bajuku terlepas. Di balik selimut, jemari kami saling bersentuhan. Jemarinya yang sedikit berkeringat mengusap telapak tanganku, lalu perlahan menggenggam tanganku. Aku refleks membalas genggaman itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan punggung yang saling membelakangi, hanya tangan kami yang saling bertumpuk. Ujung jemari kami bergerak saling meraba, memastikan sentuhan satu sama lain.

 

Tubuh dan kepalaku terasa panas. Padahal tenggorokanku tidak haus, tetapi bagian dalam mulutku mendadak terasa kering. Di balik punggungku, Tsukino melepaskan embusan napas yang amat pelan.

 

Tsukino kembali bergerak. Jarak yang tadinya memisahkan kami kian

menipis.

 

Punggung Tsukino menabrak punggungku.

 

"Ah..."

 

Bersamaan dengan suara lirih itu, punggung kami sempat menjauh sejenak. Namun, setelah itu punggung kami perlahan bersentuhan kembali. Dan kali ini, posisinya dibiarkan menempel begitu saja.

 

Melalui lapisan kain yang tipis, kehangatan, embusan napas, keringat tipis, hingga debar jantungnya tersalurkan padaku.

 

Tsukino tidak bergerak lagi. Aku pun tidak bisa bergerak. Dan jujur saja,

aku tidak ingin bergerak.

 

Hanya waktu yang terus berjalan. Di dalam rumah yang hanya dihuni

oleh kami berdua, satu-satunya suara yang terdengar adalah suara kota dari kejauhan, derit halus yang dikeluarkan oleh struktur rumah, serta suara debar napas aku dan Tsukino yang berada tepat di dekat sini.

"...Boleh aku... menghadap ke arah sana?" bisik Tsukino. Suaranya terdengar begitu sayu, jauh berbeda dari nada bicaranya yang biasanya selalu terdengar tegas dan jelas.

 

"Soal itu, silakan saja."

 

Suara tangan Tsukino yang terlepas dan tubuhnya yang berputar pelan terdengar. Aku pun ikut membalikkan badan menghadap ke arah

Tsukino.

 

Aku hampir bersuara dan refleks menahan napas.

 

Wajah Tsukino berada tepat di hadapanku. Jarak yang tadinya memisahkan kami saat pertama kali merebahkan diri di kasur sudah

lenyap sepenuhnya. Embusan napasnya menerpa ujung hidungku.

 

Aroma mouthwash yang familier tercium samar.

 

Sorot mata tajam yang biasanya selalu menghiasinya kini tidak terlihat;

yang ada hanyalah sepasang mata sayu bagaikan orang setengah mengantuk yang menatapku. Bibir Tsukino melonggar, dan suara "fufu" terlepas dari celahnya.

 

Keberadaan yang sama yang harusnya setahun lebih tua dariku itu tersenyum polos bagaikan seorang anak kecil.

 

Tsukino kembali meraih tanganku. Tangan yang sempat terlepas sesaat tadi demi membalikkan badan kini digenggamnya dengan jauh lebih erat.

"Senang rasanya," ucapnya dengan suara meleleh, sambil berkedip berkali-kali karena mengantuk.

 

Tangan Tsukino yang lain, ujung jemarinya, terulur meraba ke arahku di tengah temaram cahaya kebiruan.

 

Aku tak kuasa menahan desahan. Ujung jemari Tsukino dengan lembut mengusap bagian leherku.

 

"Jakun. Bagian ini adalah bad end-mu, Asahi... Fetish."

 

Meski matanya tampak setengah mengantuk, ada kehangatan yang menyala di dalam manik matanya. Sentuhan kukunya yang terasa keras, dingin, dan menggelitik di leherku membuat seluruh tubuhku bergidik

tipis.

 

"Boleh kugilir membalasnya?"

 

Sambil tetap menyentuh jakunku, Tsukino memiringkan kepalanya. Kerah bajunya yang agak berantakan menyingkap leher putihnya yang bersinar kebiruan di dalam gelap, menampakkan pembuluh darahnya yang menyembul samar.

 

Seolah mendesakku, ujung jemarinya membuat lingkaran-lingkaran kecil di leherku.

 

"Kalau begitu, giliranku membalas."

 

Tanpa kuasa untuk melawan, aku pun mengulurkan tangan yang bebas untuk menyentuh leher Tsukino.

 

Kenyamanan dari suhu tubuhnya yang terasa lebih dingin dariku, sentuhan yang lembut dan halus, serta sensasi keringat tipis yang tersangkut di ujung jariku langsung menyapa indraku. Saat kuusap dengan ragu-ragu, Tsukino mengembuskan napas pelan seolah merasa nyaman. Detak kehidupan yang berbeda dari sekadar gerakan tubuhnya tersalurkan dengan samar.

 

"Bad end milik Tsukino. Dan fetish-ku."

 

Sambil tetap saling menyentuh bagian leher masing-masing—aku menyentuh lehernya, dan dia menyentuh leherku—kami saling bertatapan lekat.

 

"Teruslah melihatku. Sentuh aku. Sampai aku tertidur."

 

Sambil merengek dan mengusap-usap tangan kami yang tergenggam,

Tsukino sepertinya sudah hampir benar-benar tertidur. Setiap kali dia berkedip, kelopak matanya terpejam semakin lama, dan tekanan dari jemarinya yang menyentuh leherku perlahan mulai melemah.

 

"Aku kan ada di sini. Tidak bakal kemana-mana. Jadi tenanglah."

 

"Iya... Terima kasih, ya. Kamu benar-benar diriku..."

 

Kalimat itu tidak tuntas diucapkan, digantikan oleh embusan napasnya yang dalam dan teratur.



Meskipun kelopak matanya masih bergerak-gerak halus, Tsukino mulai mengeluarkan napas tidur yang tenang. Tangan kami yang saling bertaut dan jemarinya yang masih menyentuh leherku tetap berada di tempatnya.

 

Sebaliknya, aku... justru semakin terjaga.

 

"Mana mungkin bisa tidur kalau begini..."

 

Meski tubuhku sudah lelah, rasa kantuk itu telah menghilang tanpa sisa.

 

Seluruh tubuhku masih terasa panas, sementara jantungku terus berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.

 

Mau bagaimana lagi, aku pun memilih memandangi wajah tidurnya.

 

Tangan kami yang saling menggenggam maupun tanganku yang

menyentuh lehernya tidak sanggup kulepaskan. Ada sedikit rasa bersalah, tetapi mau bagaimana lagi.

 

Wajah tidurnya yang tenang kini sudah tidak menyisakan kesepian yang

terlihat saat dia datang ke ruang tamu tadi. Namun, dari sosok Tsukino yang tampak begitu polos sekarang, kesan rapuh seolah-olah dia bisa menghilang kapan saja tetap tidak bisa dihilangkan.

 

Aku dan Tsukino itu sama. Selama ini aku selalu meyakini hal tersebut, tetapi sekarang aku benar-benar menyadari bahwa masih ada begitu banyak sisi dari Tsukino yang belum kuketahui.

 

Rasa kantuk itu masih belum juga datang.



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close