Bab 9: Tentang Diriku di Dunia Paralel
Lampu dapat menyala tanpa kendala. Aku
melangkah mengelilingi bagian dalam rumah yang kini terang benderang. Sebuah
pemandangan asing di tengah tata ruang yang sangat kukenal. Debu menumpuk cukup
tebal di atas rak sepatu, sudut koridor,
dan beberapa daun pintu.
Barang-barang yang ada di sini jauh lebih
sedikit dibanding rumah yang kutinggali.
Kamar milikku di lantai dua terawat
dengan sangat bersih. Meja belajar, rak buku, dan tempat tidur berjajar rapi.
Namun, masing-masing furnitur itu memiliki detail yang sedikit berbeda.
Di sebelahnya, kamar yang sebelumnya
dipakai oleh Tsukino kini kembali menjadi gudang penyimpanan. Lapisan debunya
jauh lebih tebal dibanding di koridor, bahkan sampai bisa meninggalkan jejak
kaki jika diinjak.
Setelah memastikan keadaan lantai atas,
aku kembali ke ruang keluarga.
Lantai, meja, dan sofa di sini telah
dibersihkan dengan rapi, menghadirkan aroma kehidupan yang familiar. Di atas
meja, berdiri sebuah bingkai foto.
Foto itu menampilkan Ayah dan Ibu. Akan
tetapi, jenis kelamin mereka berlawanan dengan yang kukenal. Bukan dalam artian
berdandan silang atau menyamar, melainkan benar-benar versi pertukaran gender
dari fitur wajah asli mereka—persis seperti diriku dan Tsukino. Di foto itu
terlihat Ayah yang tampak awet muda dan Ibu dengan tatapan mata yang tajam.
Lalu, di antara mereka berdua, berdiri
seorang anak perempuan
berambut hitam yang menggendong tas
randoseru. Wajahnya yang tersenyum malu-malu diapit kedua orang tuanya tampak
jauh lebih dewasa dibanding usianya. Jejak raut wajah dari mata tajam itu tak
salah lagi adalah milik Tsukino.
Aku langsung memahami arti dari
pemandangan itu. Namun, aku menolak untuk mencernanya. Aku bahkan tidak berniat
menanyakannya pada Tsukino.
Aku hanya berdiri terpaku di ruang
keluarga rumah Masumi yang tak kukenal ini.
"Aku baru saja menelepon. Aku diamuk
habis-habisan, tapi ya wajar saja sih karena aku menghilang tanpa kabar selama
tiga hari."
Tsukino masuk sambil menggenggam
ponselnya.
"Aku harus berbohong agak
karangan..." Suaranya yang terkesan masam
mendadak terhenti saat ia menyadari apa
yang sedang kulihat. Ia
melangkah mendekati meja, lalu mengelus
kaca bingkai foto itu dengan jari putihnya. Baru saat itulah aku menyadari
bahwa bingkai itu terawat
sangat baik tanpa ada noda maupun debu
sedikit pun.
"Ketahuan juga, ya. Kalau aku jadi
kamu, dari ini saja pasti langsung paham."
Tsukino membalikkan badannya menghadapku.
Rambut hitamnya berayun, membuat hiasan mawar di rambutnya berpendar redup di
bawah sorotan lampu ruang keluarga. Matanya yang tajam memicing dengan ekspresi
jahil yang terkesan mengolok-olok, tetapi terasa sangat kering.
"Ini duniaku, dan ini rumahku."
Dengan senyum tipis, ia mengutarakan
kenyataan yang tak bisa lagi dibantah.
"Ayah dan ibuku meninggal karena
kecelakaan. Kecelakaan lalu lintas biasa tanpa drama apa pun."
Aku menatap sekilas foto di bingkai itu.
"Sekarang aku diurus oleh Paman.
Karena aku tidak mau pindah dari rumah ini dan masih ada uang peninggalan orang
tua, aku tinggal sendirian di sini."
Artinya, orang yang ditelepon Tsukino
barusan adalah Pamannya yang tinggal di Higashimachi.
"Aku tidak tahu harus bicara
bagaimana jadi aku memilih diam. Hari saat aku bertemu dengan Asahi, alasanku
pergi ke rumah Paman adalah untuk menandatangani dokumen. Selain itu...
sekalian ziarah ke makam."
"Begitu. Makam keluarga kita memang
di dekat rumah Paman."
Tempat itu juga dekat dari taman tempat
kami mengetik kibor bersama tadi.
"Maaf ya. Aku benar-benar tidak bisa
bilang kalau aku sedang ziarah. Tolong maafkan aku, setidaknya kenyataan bahwa
makam itu ada di sana membuktikan kalau tempat ini memang duniaku."
Hal itu... mau bagaimana lagi.
Mendadak, hatiku merasa gelisah. Rasa
cemas berulang yang membawa rasa sakit tajam menyeruak, seolah jantungku sedang
dicengkeram oleh tangan es.
Di karya fiksi, perlakuan terhadap dunia
paralel sangat beragam. Salah satunya adalah kasus di mana keberadaan yang sama
di dunia paralel pasti menempuh garis hidup yang serupa.
"Aku paham kok. Namanya juga diriku.
Kamu pasti khawatir soal Ayah dan Ibu di duniamu, kan?"
"...Seperti yang kuduga dari diriku.
Kamu paham betul, ya."
"Kelihatan jelas di wajahmu.
Lagipula... kalau aku di posisimu, aku juga pasti memikirkannya. Tapi, kamu
bisa agak tenang sedikit."
Tsukino melangkah perlahan menuju arah
televisi. Pandanganku secara alami mengikutinya.
"Ayah dan Ibu mengalami kecelakaan
saat aku kelas satu SMA."
"Kalau garis hidup kita serupa,
artinya hal itu sudah terlewati di duniamu?"
Sekarang adalah musim semi tahun kedua.
"Bisa jadi begitu. Dan ada satu hal
lagi yang belum kuberitahukan. Aku juga butuh waktu sebentar untuk
menyadarinya, jadi tolong maafkan aku soal yang satu ini juga."
Sambil bersandar pada televisi di sudut
ruangan, Tsukino menunjuk jam digital yang terletak di rak TV.
"Masumi Tsukino yang ini sekarang
murid kelas tiga SMA. Aku satu tahun lebih tua dari Asahi, dan garis waktu di
dunia ini berada satu tahun di depan."
Mataku pasti membelalak lebar saat ini.
Jam yang ditunjukkan Tsukino menampilkan angka tahun yang berada satu tahun di
depan jika dihitung secara kalender Masehi. Padahal tanggal dan waktunya hampir
tidak bergeser sama sekali.
"Tunggu dulu. Yang benar? Warna pita
seragammu bukannya menandakan kita seangkatan?"
"Warna pita kan ditentukan saat
pertama kali masuk sekolah. Jadi mau kelas dua atau kelas tiga, warnanya akan
tetap sama."
Ia menyentuh kerah blusnya. Saat ini ia
mengenakan pakaian yang kami beli saat jalan berdua, tetapi jika memakai
seragam, pita merah akan menghiasi bagian tersebut. Warna merah di duniaku
menandakan siswa kelas dua, tetapi di dunia Tsukino, warna itu sudah menjadi
milik siswa kelas tiga.
"Kalau begitu, bagaimana dengan
bioskop? Kenapa kamu menonton
Infinity Heaven? Apa film itu tidak
tayang di dunia ini?"
"Di situ letak kesalahpahaman
besarnya. Di duniaku, Infinity Heaven adalah film yang tayang tahun lalu, dan
saat itu karena ada berbagai hal, aku tidak sempat menontonnya. Lalu saat aku
lewat di depan bioskop di dunia Asahi, film itu terpajang di daftar tayang.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengira itu penayangan ulang."
"Kebetulan seperti itu...?"
"Aku ingin menganggapnya sebagai
takdir yang dilahirkan oleh bad ending. Untuk sementara, apa kamu bisa
mempercayaiku?"
"Tidak ada alasan bagimu untuk
berbohong, dan tidak ada alasan juga bagiku untuk tidak mempercayai
Tsukino."
"Terima kasih. Tapi siapa tahu ini
trik di mana aku menyetel ulang jamnya saat kamu pergi ke lantai dua tadi?
Untuk apa juga aku melakukan itu, ya?"
"Ditanya begitu aku juga
bingung."
Jika kondisi rumah ini juga bagian dari
trik, rasanya terlalu niat dan berlebihan.
"Pembicaraannya jadi melenceng.
Intinya, yang ingin kukatakan adalah... waktu yang kulewati setelah Ayah dan
Ibu tiada, dan waktu Asahi sejak titik yang sama, adalah dua hal yang
sepenuhnya berbeda.
Ini memang bukan jaminan bahwa hal yang
sama tidak akan terjadi padamu di masa depan... Ah, padahal aku ingin
menyampaikannya dengan lebih baik."
Aku bisa merasakan dengan sangat jelas
betapa Tsukino mengkhawatirkanku. Namun—
"Yang paling berat di sini kan kamu,
Tsukino. ...Maaf. Aku bahkan tidak menyadarinya dari awal."
Tsukino memicingkan matanya. Antara
merasa kesepian atau merasa senang, aku tidak bisa membedakan yang mana.
"Kalau boleh jujur, ya..."
Ia bergumam pelan lalu menundukkan
pandangannya.
"Aku sempat berpikir sedikit. Kalau
kita adalah keberadaan yang sama, kenapa Ayah dan Ibu di dunia Asahi masih
hidup? Aku jadi takut, jangan-jangan nanti mereka juga akan meninggal.
Bahkan... mungkin sempat terlintas di benakku kalau itu tidak adil."
Di ruang keluarga duniaku, kami berempat
duduk mengelilingi meja makan. Saat itu, Tsukino yang mengunyah roti dengan
raut bahagia dari lubuk hatinya... sebenarnya sedang merasakan kebahagiaan atas
hal apa?
"Tapi setelah aku memeriksa sejarah
dan tren di duniamu, aku jadi paham. Peristiwa besar di dunia,
kejadian-kejadian kecil di negara ini, tren tidak penting, sampai streamer yang
sedang hits pun hampir tidak ada bedanya. Namun, kejadian-kejadian kecil di
sekitar kita punya banyak perbedaan, jadi mungkin hal-hal berskala lokal
seperti ini berbeda di tiap dunia paralel. Makanya, kalau kedua Orang Tua di
duniamu tetap sehat-sehat saja, aku pun akan ikut senang."
Tsukino terkekeh pelan.
"Kamu tahu Canon Event di
Spider-Verse, kan?"
"Kejadian di mana di dunia paralel
mana pun, Spider-Man pasti mengalami tragedi. Dan kalau ada orang dari dunia
lain yang mencoba menghentikannya, dunia itu akan hancur... yang seperti itu,
kan?"
"Karena itu adalah kejadian penting
bagi dunia. Tapi, kehidupan kita berdua berbeda walau kita keberadaan yang
sama, dan tragedi itu tidak pasti terjadi. Padahal kedua dunia ini hampir tidak
ada bedanya. Apa pun yang terjadi pada kita atau orang-orang di sekitar kita,
atau bahkan jika seseorang menghilang, tidak akan memberikan pengaruh besar
pada sejarah. Mau aku, Asahi, Ayah, atau Ibu... tidak ada artinya dan tidak
memiliki nilai apa pun bagi dunia."
Tsukino mendadak menghentikan kalimatnya
lalu menarik napas dalam-dalam.
Saat ia mendongak, ia menurunkan alisnya
dengan raut malu-malu.
"Umm. Maksudku... dari yang
kurasakan, sepertinya kita tidak akan mengalami kejadian yang sama secara Canon
Event... Ah, pembicaraannya jadi melenceng lagi, dan ini agak susah ditanggapi,
ya."
"Kalimat 'agak susah ditanggapi' itu
sendiri sudah susah ditanggapi, tahu."
Kami saling pandang lalu tertawa.
Aku hanya berpura-pura menyesuaikan diri
dengannya, tetapi hatiku sama sekali tidak tertawa. Aku seolah paham, namun di
saat yang sama tidak mengerti apa yang dipikirkan Tsukino hingga ia memasang
senyum itu.
Diriku dan Tsukino, yang tadinya kuingat
sebagai keberadaan yang sama persis, ternyata menempuh jalan yang sepenuhnya
berbeda di balik sekat dunia ini.
◆
◆ ◆
Ruang keluarga yang diterangi lampu tidur
menyisakan garis-garis bentuk dalam keremangan. Tampilan angka di alat-alat
elektronik dan jam terlihat begitu mencolok, sementara dengung mesin pendingin
es yang tak pernah berhenti terdengar lebih keras dari biasanya.
Pemandangan ruang keluarga yang
seharusnya sudah tidak asing ini terasa sangat berbeda antara malam-malam saat
aku terbangun untuk minum teh, dengan saat aku tidur terlentang berselimutkan
kain di atas sofa.
Setelah kejadian tadi, aku dan Tsukino
pergi ke minimarket terdekat untuk membeli makanan malam yang sederhana. Kami
memang sangat lapar, tapi karena situasi sedang seperti ini, rasanya hampir
tidak ada rasa yang tersisa di lidah.
Lalu, aku mencoba memeriksa apakah
ponselku bisa terhubung. Namun, anehnya, hasilnya benar-benar berbeda dari
kasus Tsukino. Ponselku berada dalam status tanpa kontrak, bahkan tidak bisa
digunakan untuk bertukar pesan dengan Tsukino. Aku hanya bisa menyambungkannya
ke internet jika ada jaringan Wi-Fi.
Saat Tsukino datang ke duniaku, dia hanya
tidak bisa terhubung dengan dunianya yang asli, sementara seluruh fungsi
ponselnya tetap bekerja normal. Penyesuaian kondisinya sama persis seperti
orang yang mengontrak ponsel di duniaku.
Rasanya penyesuaian dari sisi dunia ini
terhadap keberadaanku jauh lebih tipis. Tetapi, untuk saat ini belum ada cara
untuk mencari tahu bagaimana status keberadaanku di sini. Kalaupun ingin
bertanya pada Jun atau Nanaha-senpai di dunia ini, harinya sudah terlalu malam.
Kemungkinan bahwa titik temu antara kedua
dunia berada di suatu
tempat di Himurogioka Higashimachi terasa
semakin tinggi, tetapi karena waktu sudah melewati pukul sebelas malam,
penyelidikan mau tidak mau harus ditunda sampai besok.
Hasilnya, setelah selesai mandi, di
sinilah aku berada. Aku meminjam piyama milik ayah Tsukino. Karena jenis
kelamin orang tua kami terbalik, memakai piyama milik ibu Tsukino yang di dunia
ini menjadi seorang laki-laki terasa sedikit rumit, walau setidaknya ukurannya
lumayan pas di tubuhku.
Tsukino sudah kembali ke kamarnya sejak
tadi. Suara langkah kaki dari lantai dua juga tidak terdengar lagi.
Terlempar seorang diri ke dunia yang
bukan miliknya. Membawa rahasia yang tak bisa diceritakan bahkan kepada
keberadaan yang sama, lalu berjalan ke sana kemari demi menggantungkan sedikit
harapan untuk pulang... sudah pasti tubuh dan mentalnya luar biasa lelah.
Kalau aku sendiri... bagaimana, ya? Ada
rasa cemas apakah aku bisa kembali ke duniaku yang asli, tapi kenyataan bahwa
aku sedang berada di dunia lain masih belum terasa nyata. Aku hanya tidak bisa
tidur.
—Begitu pikirku.
Namun, rasa kantuk datang lebih cepat
dari dugaan. Di tengah udara beraroma familiar tetapi sedikit berbeda ini,
ingatan tentang apa yang terjadi hari ini, kejadian sejak bertemu Tsukino,
serta kenangan yang berputar-putar perlahan menjadi samar.
Suara pintu ruang keluarga yang terbuka
pelan mendadak menarik kembali kesadaranku.
Tanpa kusadari jam sudah menunjukkan
lewat pukul dua pagi, rupanya aku sempat tertidur sebentar.
Aku mengarahkan pandangan ke suara
langkah sandal yang pelan di lantai ruang keluarga.
"Membangunkanmu, ya. Maaf."
Dalam kegelapan yang tipis, Tsukino
berdiri mengenakan piyama. Mungkin karena baru bangun dari tempat tidur,
rambutnya yang agak berantakan bisa terlihat jelas bahkan hanya dengan cahaya
lampu tidur.
"Tidak... aku sendiri tidak tahu
tadi sedang tidur atau tidak."
"Aku sama sekali tidak bisa
tidur."
Tsukino mengangkat bahunya pelan. Piyama
yang dikenakannya terasa agak berbeda dari yang biasa ia pakai di duniaku.
Piyama bernuansa warna hitam yang mirip dengan baju yang kami beli bersama,
dihiasi frill dan pita yang mencolok. Ornamen pita merahnya terlihat jelas
meski di dalam gelap.
Mata kami mendadak bertemu.
"Kamu melihatnya, kan? Cocok
tidak?"
Lebih tepatnya, pandanganku tertangkap
basah.
"Cocok kok. Dan terasa banget kesan
bad end-nya."
"Memang benar-benar diriku.
Konsepnya memang memadukan imut dan bad end."
Aku tidak bilang kalau itu imut, walau
dalam hati memikirkannya.
Tsukino berjongkok di depan sofa tempatku
menegakkan separuh
badan. Pandangan kami kini sejajar. Ia
mencondongkan tubuhnya, membuat jarak di antara kami makin terkikis.
"Dibanding piyama yang kupakai di
dunia Asahi, kamu lebih suka yang ini, kan?"
"...Seperti yang kuduga dari diriku.
Tepat sekali. Itu selera spesifikku."
Karena tahu berbohong pun pasti akan
ketahuan, aku mengatakannya sejujur mungkin. Rasa malu membuat telingaku,
bahkan dahi, terasa panas membara.
Tsukino sendiri memalingkan wajahnya.
Walau tidak semerah warna pita di piyamanya, aku merasa pipinya memerah hebat.
Di dalam hati, aku merasa sedikit lega
karena kami masih saling terhubung sebagai keberadaan yang sama.
Tsukino menunduk tanpa berani menatap
mataku. Bibirnya bergerak beberapa kali, tetapi tidak ada kata yang terucap.
"Umm, kamu..."
Suara yang bersusah payah ia keluarkan
secara terputus-putus itu begitu lirih, hampir terkikis oleh helaan napas dan
detak jantung.
Profil wajah Tsukino yang memalingkan
pandangan mendadak tersiram cahaya. Dari celah gorden, sinar bulan yang hampir
purnama menyeruak masuk.
“...Aku mau kamu... tidur bersamaku.”
Bisikan suaranya yang hampir tak
terdengar itu menampilkan raut wajah yang belum pernah kulihat
sebelumnya—begitu rapuh. Matanya yang tertunduk tampak berkaca-kaca,
mempertegas warna putih kulitnya di atas pipinya yang memerah. Bibirnya gemetar
halus.
"Tidur bersama itu..."
Tsukino menggelengkan kepalanya.
Gesturnya saat mengacak rambutnya sendiri terlihat seperti anak kecil.
"Aku tidak bisa tidur. Mendadak jadi
tidak bisa tidur sama sekali."
Ia bergumam pelan.
"Sejak Ayah dan Ibu tiada, aku
selalu bisa tidur sendirian di rumah ini sampai sekarang. Di rumah Asahi pun,
padahal itu dunia lain, aku heran kenapa bisa tidur seperti biasa. Tapi... hari
ini tidak bisa."
Air mata yang tergenang di matanya
memantulkan pendar cahaya bulan.
"Karena aku sudah melihat dunia
tempat Ayah dan Ibu berada, tempat yang tidak berubah sedikit pun dari masa
itu, tempat yang memiliki semua hal yang telah hilang dariku. Makanya, rasa
kesepian itu mendadak menyerang dan aku tidak sanggup menahannya."
Di dunia tanpa Ayah dan Ibu ini, apa yang
dipikirkan Tsukino saat sarapan, saat makan malam, dan saat tidur sendirian?
"Kalau... kalau Asahi tidak
keberatan."
Ujung jari Tsukino menyentuh tanganku.
Dari jemarinya yang ragu-ragu dan seolah bisa terlepas kapan saja itu, terasa
suhu tubuhnya yang lebih dingin daripada tubuhku.
"Malam ini saja tidak apa-apa.
Maukah kamu tidur bersamaku di kamarku?"
Aku menggenggam tangan Tsukino.
Matanya yang bergetar berkedip lebar,
lalu setitik air mata jatuh dari sudut matanya.
"...Kamar itu kan kamar milikku
juga, jadi tidak ada yang aneh. Lagipula, ini cuma aku yang tidur bersama
diriku sendiri."
Aku sendiri sadar kalau kalimat itu tidak
jelas ditujukan untuk siapa.
Bibir Tsukino terangkat sedikit membentuk
garis senyum.
Saat aku bangkit dari sofa, jemari
Tsukino yang tadinya menyentuh
tanganku berganti menjepit pelan ujung
lengan piyamaku.
Dalam diam, aku mengikuti langkah Tsukino
yang membelakangiku menuju koridor. Di tengah kegelapan, lengan bajuku ditarik
menaiki
tangga hingga sampai di kamar yang
seharusnya sudah kukenal.
Penerangan kamar hanya mengandalkan lampu
tidur, tetapi karena gorden tertutup rapat, suasananya terasa lebih gelap
dibanding ruang
keluarga.
Tsukino tidak melepaskan ujung jarinya.
Kami berjalan lurus menuju tempat tidur.
Di bawah cahaya yang samar, tempat tidur
yang berantakan dengan
selimut yang tersingkap tertangkap oleh
mataku. Aku mau tidak mau menyadari bekas-bekas tempat Tsukino berbaring sampai
detik tadi.
"Tempatnya agak sempit, tapi
silakan."
"Ukurannya kan aku sudah tahu."
Tsukino terkekeh pelan lalu duduk di tepi
tempat tidur. Aku yang lengan bajunya masih dijepit pun ikut menuruti
gerakannya.
Jarak di antara kami begitu dekat hingga
lengan kami saling bersentuhan. Di atas tempat tidur, kehangatan tubuh Tsukino
masih tersisa dengan lembut.
Tsukino tidak menatap ke arahku. Aku pun
tidak sanggup menatapnya.
"Aku di bagian dalam saja, ya?"
"Ya. Kalau Tsukino tidak
keberatan."
Ia mengangguk, merayap di atas tempat
tidur single yang sempit itu, lalu berbaring sedekat mungkin ke arah dinding.
Aku menirukan
gerakannya, berbaring di sudut tempat
tidur di sisi sebaliknya. Tsukino masih belum melepaskan jarinya dari lengan
bajuku.
"Selimutnya bagaimana? Terlalu panas
tidak?"
"Nanti malah masuk angin kalau tidak
dipakai, kita pakai separuh saja."
Di tengah situasi seperti ini, kami malah
bertukar kata secara teramat biasa.
Tsukino menarik selimut hingga menutupi
area perut kami. Rasanya kehangatan tubuhnya meresap sampai ke sini.
Malam di akhir bulan Mei seharusnya masih
menyisakan hawa dingin, tetapi sekarang rasanya hangat bukan main. Aku tidak
tahu apakah ini karena berbaring di dalam selimut yang sama dengan Tsukino,
atau karena rasa panas yang membakar dari dalam diriku sendiri. Hanya saja, aku
berharap tidak mengeluarkan keringat.
Aku dan Tsukino saling membelakangi.
Meski di atas tempat tidur yang
sempit, masih ada sedikit celah di antara
kami. Walau begitu, ujung jari
Tsukino tetap tidak melepaskan lengan
piyamaku.
"Besok, ya. Sebenarnya aku ingin
langsung pergi mencari cara agar Asahi bisa pulang. Tapi aku harus pergi ke
rumah Paman terlebih dahulu."
"Soalnya kamu tidak ada kabar selama
tiga hari penuh. Tentu saja dia menyuruhmu datang langsung."
Percakapan yang terus mengalir sambil
saling membelakangi.
"Hampir saja aku datang ke rumahmu,
tahu."
"Aku paham perasaan pamanmu, tapi
itu bahaya juga... Kuharap posisiku di sini bisa diatur dengan situasi yang pas
seperti waktu giliranmu, sih."
Mengingat soal gudang dan ponsel, kurasa
situasinya bakal berbeda dari saat Tsukino datang kemari.
"Makanya, tunggu sampai aku pulang,
ya. Sebagai gantinya, aku bakal coba korek-korek informasi tentang bagaimana
perlakuan orang-orang terhadap Asahi."
"Maaf ya. Merepotkanmu."
"...Ini sepenuhnya salahku."
Percakapan itu terhenti. Suara Tsukino
yang bergerak di atas kasur terdengar menembus punggungku. Tanpa perlu berbalik
pun, aku tahu kalau dia yang tadinya berada di dekat dinding kini bergeser
mendekat ke arahku.
"Kalau di ujung sana, nanti kamu
bisa jatuh dari kasur lho."
"Aku tidak merasa punya kebiasaan
tidur yang separah itu."
Namun, karena kami belum pernah tidur
berdua di atas kasur sekecil ini sebelumnya, aku pun menuruti peringatan
Tsukino. Aku sedikit demi sedikit menggeser posisiku yang tadinya nyaris
terjerembab di tepi kasur menuju ke tengah, mendekat ke arah Tsukino.
Gerakan itu membuat tangan Tsukino yang
tadinya menjepit ujung lengan bajuku terlepas. Di balik selimut, jemari kami
saling bersentuhan. Jemarinya yang sedikit berkeringat mengusap telapak
tanganku, lalu perlahan menggenggam tanganku. Aku refleks membalas genggaman
itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan
punggung yang saling membelakangi, hanya tangan kami yang saling bertumpuk.
Ujung jemari kami bergerak saling meraba, memastikan sentuhan satu sama lain.
Tubuh dan kepalaku terasa panas. Padahal
tenggorokanku tidak haus, tetapi bagian dalam mulutku mendadak terasa kering.
Di balik punggungku, Tsukino melepaskan embusan napas yang amat pelan.
Tsukino kembali bergerak. Jarak yang
tadinya memisahkan kami kian
menipis.
Punggung Tsukino menabrak punggungku.
"Ah..."
Bersamaan dengan suara lirih itu,
punggung kami sempat menjauh sejenak. Namun, setelah itu punggung kami perlahan
bersentuhan kembali. Dan kali ini, posisinya dibiarkan menempel begitu saja.
Melalui lapisan kain yang tipis,
kehangatan, embusan napas, keringat tipis, hingga debar jantungnya tersalurkan
padaku.
Tsukino tidak bergerak lagi. Aku pun
tidak bisa bergerak. Dan jujur saja,
aku tidak ingin bergerak.
Hanya waktu yang terus berjalan. Di dalam
rumah yang hanya dihuni
oleh kami berdua, satu-satunya suara yang
terdengar adalah suara kota dari kejauhan, derit halus yang dikeluarkan oleh
struktur rumah, serta suara debar napas aku dan Tsukino yang berada tepat di
dekat sini.
"...Boleh aku... menghadap ke arah
sana?" bisik Tsukino. Suaranya terdengar begitu sayu, jauh berbeda dari
nada bicaranya yang biasanya selalu terdengar tegas dan jelas.
"Soal itu, silakan saja."
Suara tangan Tsukino yang terlepas dan
tubuhnya yang berputar pelan terdengar. Aku pun ikut membalikkan badan
menghadap ke arah
Tsukino.
Aku hampir bersuara dan refleks menahan
napas.
Wajah Tsukino berada tepat di hadapanku.
Jarak yang tadinya memisahkan kami saat pertama kali merebahkan diri di kasur
sudah
lenyap sepenuhnya. Embusan napasnya
menerpa ujung hidungku.
Aroma mouthwash yang familier tercium
samar.
Sorot mata tajam yang biasanya selalu
menghiasinya kini tidak terlihat;
yang ada hanyalah sepasang mata sayu
bagaikan orang setengah mengantuk yang menatapku. Bibir Tsukino melonggar, dan
suara "fufu" terlepas dari celahnya.
Keberadaan yang sama yang harusnya
setahun lebih tua dariku itu tersenyum polos bagaikan seorang anak kecil.
Tsukino kembali meraih tanganku. Tangan
yang sempat terlepas sesaat tadi demi membalikkan badan kini digenggamnya
dengan jauh lebih erat.
"Senang rasanya," ucapnya
dengan suara meleleh, sambil berkedip berkali-kali karena mengantuk.
Tangan Tsukino yang lain, ujung
jemarinya, terulur meraba ke arahku di tengah temaram cahaya kebiruan.
Aku tak kuasa menahan desahan. Ujung
jemari Tsukino dengan lembut mengusap bagian leherku.
"Jakun. Bagian ini adalah bad
end-mu, Asahi... Fetish."
Meski matanya tampak setengah mengantuk,
ada kehangatan yang menyala di dalam manik matanya. Sentuhan kukunya yang
terasa keras, dingin, dan menggelitik di leherku membuat seluruh tubuhku
bergidik
tipis.
"Boleh kugilir membalasnya?"
Sambil tetap menyentuh jakunku, Tsukino
memiringkan kepalanya. Kerah bajunya yang agak berantakan menyingkap leher
putihnya yang bersinar kebiruan di dalam gelap, menampakkan pembuluh darahnya
yang menyembul samar.
Seolah mendesakku, ujung jemarinya
membuat lingkaran-lingkaran kecil di leherku.
"Kalau begitu, giliranku
membalas."
Tanpa kuasa untuk melawan, aku pun
mengulurkan tangan yang bebas untuk menyentuh leher Tsukino.
Kenyamanan dari suhu tubuhnya yang terasa
lebih dingin dariku, sentuhan yang lembut dan halus, serta sensasi keringat
tipis yang tersangkut di ujung jariku langsung menyapa indraku. Saat kuusap
dengan ragu-ragu, Tsukino mengembuskan napas pelan seolah merasa nyaman. Detak
kehidupan yang berbeda dari sekadar gerakan tubuhnya tersalurkan dengan samar.
"Bad end milik Tsukino. Dan
fetish-ku."
Sambil tetap saling menyentuh bagian
leher masing-masing—aku menyentuh lehernya, dan dia menyentuh leherku—kami
saling bertatapan lekat.
"Teruslah melihatku. Sentuh aku.
Sampai aku tertidur."
Sambil merengek dan mengusap-usap tangan
kami yang tergenggam,
Tsukino sepertinya sudah hampir
benar-benar tertidur. Setiap kali dia berkedip, kelopak matanya terpejam
semakin lama, dan tekanan dari jemarinya yang menyentuh leherku perlahan mulai
melemah.
"Aku kan ada di sini. Tidak bakal
kemana-mana. Jadi tenanglah."
"Iya... Terima kasih, ya. Kamu
benar-benar diriku..."
Kalimat itu tidak tuntas diucapkan, digantikan oleh embusan napasnya yang dalam dan teratur.
Meskipun kelopak matanya masih bergerak-gerak halus, Tsukino mulai mengeluarkan napas tidur yang tenang. Tangan kami yang saling bertaut dan jemarinya yang masih menyentuh leherku tetap berada di tempatnya.
Sebaliknya, aku... justru semakin
terjaga.
"Mana mungkin bisa tidur kalau
begini..."
Meski tubuhku sudah lelah, rasa kantuk
itu telah menghilang tanpa sisa.
Seluruh tubuhku masih terasa panas,
sementara jantungku terus berdetak jauh lebih cepat dari biasanya.
Mau bagaimana lagi, aku pun memilih
memandangi wajah tidurnya.
Tangan kami yang saling menggenggam
maupun tanganku yang
menyentuh lehernya tidak sanggup
kulepaskan. Ada sedikit rasa bersalah, tetapi mau bagaimana lagi.
Wajah tidurnya yang tenang kini sudah
tidak menyisakan kesepian yang
terlihat saat dia datang ke ruang tamu
tadi. Namun, dari sosok Tsukino yang tampak begitu polos sekarang, kesan rapuh
seolah-olah dia bisa menghilang kapan saja tetap tidak bisa dihilangkan.
Aku dan Tsukino itu sama. Selama ini aku
selalu meyakini hal tersebut, tetapi sekarang aku benar-benar menyadari bahwa
masih ada begitu banyak sisi dari Tsukino yang belum kuketahui.
Rasa kantuk itu masih belum juga datang.



Post a Comment