NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Oshi Heroine wa ~ Tensei Shita Mobu no Ore o Hitorijime Shitai Rashii ~ Shitsuren shita Hiroin o Sasaetara Jojo ni Omoku Natteitta ~ Volume 1 Epilog

Epilog:「Heroine Favorit Ingin Memilikku Seorang Diri」


Aku menatap jari kelingking Bun-kun yang berjalan di sampingku.

 

Jari kelingkingnya terikat erat dalam genggaman tanganku.

 

Kamu tahu tidak? Menggenggam jari kelingking erat-erat itu adalah psikologi tindakan yang berasal dari rasa ingin memonopoli…… keinginan untuk tidak melepaskan, tidak mau menyerahkannya kepada siapa pun, dan ingin menjadikannya milik sendiri sepenuhnya.

 

Makanya, sebenarnya aku nggak menggenggamnya cuma karena 『entah kenapa』, tahu?

 

Alasanku berbohong kepada Bun-kun adalah karena aku tidak mau perasaan ini terbongkar.

 

Pasti kalau aku mengutarakan perasaan ini, Bun-kun bakal menerima diriku meski dengan sedikit kebingungan.

 

Namun, bagaimana jika seandainya dia malah membenciku? Begitu memikirkan kemungkinan itu, aku jadi takut. Takut sekali sampai rasanya nggak tahan.

 

Selalu berusaha sekuat tenaga, begitu jujur dan lurus hingga menyilaukan, selalu mengulurkan tangan kapan saja, dan bersikap sangat perhatian.

Aku menyukai Bun-kun yang seperti itu. Tetapi, tahu tidak? Melebihi dari perasaan itu……

 

Aku ingin memonopoli dirimu sendirian.

 

Habisnya, Bun-kun itu terlalu baik ke semua orang.

 

Awalnya, kukira kebaikan itu cuma ditujukan kepadaku. Kukira, setidaknya terhadapku, kamu bersikap spesial.

 

Karena itulah, saat kamu mendengarkan keluh kesahku yang sedang terpukul karena patah hati, rela menyamar jadi cewek, bahkan sampai membolos pelajaran cuma demi datang mencariku, selalu berdiri di pihakku………… dan terus menopangku selama ini. Kukira memang

begitu kenyataannya.

 

Namun, ternyata hal itu salah.

 

Di mata Bun-kun, aku ternyata cuma 『salah satu dari sekian banyak orang yang kamu perlakukan dengan baik』. Saat melihatmu melompat masuk ke kolam comberan tanpa ragu demi Sasahara-senpai, aku benar-benar disadarkan oleh kenyataan itu.

 

Senyuman lembut yang membuatku ingin menangis itu, tangan yang selalu terulur kapan saja, serta kata-kata penuh perhatian yang diucapkan dengan tulus. Semuanya ternyata bukan hanya milikku seorang.

 

Bun-kun memang menyebutku sebagai sosok 『oshi』, tetapi itu bukanlah perlakuan spesial yang aku inginkan.

 

Aku…… ingin menjadi sosok yang paling dekat dengan Bun-kun, yang paling berarti bagimu, yang menempati tempat paling dalam di hatimu, hingga saat kamu hendak menolong orang lain pun keberadaanku tetap terlintas di sudut pikiranmu…… Aku ingin menjadi sosok yang benar-benar spesial bagimu.

 

Sebenarnya, aku ingin kamu cuma melihat ke arahku saja…… Setiap kali Bun-kun berusaha sekuat tenaga demi orang lain, aku selalu merasa cemas tak tenang.

 

Namun, melihat orang yang kesulitan lalu berpura-pura tidak tahu, atau tidak mau berusaha sekuat tenaga demi seseorang, Bun-kun yang seperti itu bukanlah Bun-kun yang mengenalku.

 

Aku menyukai dirimu yang bisa bersikap baik dan bersungguh-sungguh kepada siapa saja.

 

Maaf ya? Perasaan ini terlalu berat, kan? Merepotkan sekali, ya?

 

Tapi, alasanku sampai jadi begini kan gara-gara Bun-kun sendiri, tahu?

 

Kamu sudah mengubah seluruh hidupku. Ini sama sekali bukan hal yang berlebihan.

 

Perasaanku, begitu pula masa depanku……

 

Harus bagaimana ya? Kalau sudah sampai begini…… Bun-kun harus bertanggung jawab, kan?

 

Dunia tanpa Bun-kun di sisiku…… aku nggak akan sanggup menanggungnya.

 

Makanya, jari kelingking yang sudah kugenggam ini tak akan pernah kulepaskan.

 

"Hei, Bun-kun."

 

"Nn?"

 

Mulai sekarang dan seterusnya…… bersamaku. Selalu, selalu, selalu.

 

“Selamanyaaa, teruslah bersamaku, ya?"



Previous Chapter | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close