NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Tenkou-saki no Seiso Karen na Bishoujo Volume 11 Interlude I

Interlude 1

Awal Musim Panas


Musim hujan telah usai, dan musim panas benar-benar tiba.

Menurut prakiraan cuaca, musim panas tahun ini bakal terasa sangat terik.

Berbagai media menyuarakan imbauan untuk melakukan pencegahan sengatan panas.

Pada awal tahun ini, Haruki melakukan debut idola yang sangat spektakuler.

Semua itu demi berhadapan dan berbicara langsung dengan ibunya, aktris hebat bernama Takura Mao.

Haruki melesat cepat di jalur menuju ketenaran, yang sempat memicu kerenggangan antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Namun, berkat bantuan orang-orang itu dan banyak pihak lainnya, dia berhasil berhadapan dengan ibunya saat proses syuting film.

Meski sempat terjadi insiden, Haruki menyampaikan perasaannya secara jujur kepada sang ibu lewat akting mereka.

Berkat hal itu, kerenggangan antara ibu dan anak yang terjadi sebelumnya tampaknya telah sirna.

Kendati demikian, dalam proses menuju ke sana, banyak orang yang terlibat, banyak hal yang berubah, dan situasi di sekitar mereka menjadi urusan yang besar.

Sementara itu untuk Saki, yang tampil sebagai pengganti Haruki di Live Awal Musim Panas—sebuah gerbang utama bagi para idola pendatang baru—dia masih menjadi bahan pembicaraan di mana-mana sebagai "siapa gadis itu?", padahal dia cuma tampil satu kali.

Menurut Mari dan Kazuki, tawaran yang masuk tidak ada habisnya, terutama dari orang-orang industri hiburan.

Tampaknya, bahkan dari sudut pandang profesional pun, tarian Saki benar-benar memukau.

Sebagai seseorang yang sudah lama mengenal Saki, aku merasa sedikit bangga.

Namun, gosip tidak bakal bertahan selamanya.

Lagi pula, Haruki juga sudah mencapai tujuannya.

Mulai sekarang, dia cuma perlu perlahan-lahan kembali ke kehidupan sehari-harinya.

Tepat saat aku memikirkan hal itu—

Pengumuman tentang film perpisahan Takura Mao yang berjudul Senjin, serta kabar bahwa Takura Mao sendiri harus dirawat di rumah sakit dirilis secara bersamaan, hingga memicu kegemparan di dunia luar.

Sedikit sebelum kabar rawat inap Mao diumumkan, Haruki datang sendiri ke sekolah dan membeberkannya kepada semua orang di markas rahasia.

"Ibu kena penyakit parah, katanya."

Kabar itu menjadi guncangan hebat bagi Hayato dan yang lainnya.

Menilik ekspresi Haruki yang layu dan tidak bergairah, kondisinya jelas tidak bisa dibuat main-main.

Tidak ada yang menyangka kalau Mao menderita penyakit serius, membuat semua orang kehilangan kata-kata.

Tentu saja. Masalah ini terlalu sensitif.

Hayato juga pernah mengalami kejadian saat ibunya mendadak pingsan dan harus dirawat di rumah sakit sebanyak dua kali.

Rasa syok saat segalanya mendadak gelap di depan mata kala itu, kecemasan dan keputusasaan karena tidak tahu harus berbuat apa, serta perasaan tak berdaya lantaran tidak bisa berbuat apa-apa terhadap penyakit tersebut—dia yakin tidak akan pernah bisa melupakannya.

Namun, dia sama sekali tidak tahu harus menyampaikan kata-kata apa kepada Haruki, hingga membuatnya diselimuti rasa frustrasi.

Tampaknya hal yang sama juga dirasakan oleh orang lain yang memiliki pengalaman serupa.

Pada akhirnya, yang bisa mereka katakan hanyalah meminta Haruki untuk berbicara pada mereka jika terjadi sesuatu.

Akan tetapi, Himeko berbeda.

Malam itu juga, segera setelah mendengar tentang Mao dari Hayato, Himeko langsung berlari keluar dari rumah Kirishima dengan pakaian yang sedang dikenakannya.

Hayato buru-buru mengejarnya, tetapi adiknya itu menghentikannya dengan suara yang tidak biasa dan sangat serius, "Jangan ikut, Nii-chan! Serahkan masalah ini padaku!"

Terpaku oleh kesungguhan dan tekad kuat dalam nada bicaranya, Hayato tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa memercayakannya kepada Himeko.

Setelah itu, dia tidak tahu apa yang dibicarakan Himeko dengan Haruki.

Namun keesokan harinya, entah karena kata-kata dan perasaan Himeko berhasil mencapainya, pancaran cahaya di mata Haruki telah kembali.

Lalu, Haruki menyampaikan sebuah permintaan kepada semua orang.

"Mulai sekarang, aku mau sebisa mungkin sering menjenguk Ibu. Karena itu, aku minta bantuan kalian untuk urusan sekolah dan Twinkle."

Tentu saja, tidak ada seorang pun yang menolak usulan itu.

Semua orang berniat mendukung Haruki, baik secara terang-terangan maupun dari balik layar.

Meski begitu, hal yang bisa mereka lakukan memang terbatas.

Lebih dari itu, mereka cuma merasa senang karena Haruki mau mengandalkan mereka seperti ini.

Tentu saja, kalau Haruki minta bantuan apa pun, mereka berniat untuk langsung datang menghampiri.

Pasti bukan cuma Hayato, tetapi yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Dia punya keyakinan kuat soal itu.

Tanpa disadari, dia telah mendapatkan banyak teman yang terikat oleh hubungan yang begitu erat.

Omong-omong, dia pernah bertanya kepada Himeko tentang apa yang sebenarnya dia katakan kepada Haruki.

Himeko merengut kesal, menghela napas panjang yang sengaja dikencangkan, lalu mengawalinya dengan, "Yah, ini soal Haru-chan," sebelum akhirnya menjawab dengan enggan.

"Aku cuma bilang, 'Kamu bakal menyesal kalau lari. Kalau kamu lari, itu bakal selalu jadi bekas luka dan terus mengganggumu. ...Aku dulu pernah menyesalinya.'"

Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu terasa nyata.

Himeko pasti punya pemikirannya sendiri saat ibu mereka pingsan dulu.

Saat itu, perasaan dan kata-kata yang tersimpan di dalam hati Himeko sepertinya berhasil bergema di hati Haruki.

Begitulah, Haruki mengurangi porsi kegiatannya bersama Twinkle dan mulai sering menjenguk Mao yang dirawat di rumah sakit.

Hayato dan yang lainnya berusaha menjaga kehidupan sehari-hari mereka di sekolah agar tetap sama seperti sebelumnya sambil terus mengawasi Haruki.

Seiring hari-hari yang terus bergulir seperti itu, liburan musim panas pun tiba.



Prolog | ToC | Next Chapter

0

Post a Comment

close