Interlude 1
Awal Musim Panas
Musim
hujan telah usai, dan musim panas benar-benar tiba.
Menurut
prakiraan cuaca, musim panas tahun ini bakal terasa sangat terik.
Berbagai media
menyuarakan imbauan untuk melakukan pencegahan sengatan panas.
Pada awal tahun
ini, Haruki melakukan debut idola yang sangat spektakuler.
Semua itu demi
berhadapan dan berbicara langsung dengan ibunya, aktris hebat bernama Takura
Mao.
Haruki melesat
cepat di jalur menuju ketenaran, yang sempat memicu kerenggangan antara dirinya
dan orang-orang di sekitarnya. Namun, berkat bantuan orang-orang itu dan banyak
pihak lainnya, dia berhasil berhadapan dengan ibunya saat proses syuting film.
Meski sempat
terjadi insiden, Haruki menyampaikan perasaannya secara jujur kepada sang ibu
lewat akting mereka.
Berkat hal itu,
kerenggangan antara ibu dan anak yang terjadi sebelumnya tampaknya telah sirna.
Kendati demikian,
dalam proses menuju ke sana, banyak orang yang terlibat, banyak hal yang
berubah, dan situasi di sekitar mereka menjadi urusan yang besar.
Sementara itu
untuk Saki, yang tampil sebagai pengganti Haruki di Live Awal Musim
Panas—sebuah gerbang utama bagi para idola pendatang baru—dia masih menjadi
bahan pembicaraan di mana-mana sebagai "siapa gadis itu?", padahal
dia cuma tampil satu kali.
Menurut Mari dan
Kazuki, tawaran yang masuk tidak ada habisnya, terutama dari orang-orang
industri hiburan.
Tampaknya, bahkan
dari sudut pandang profesional pun, tarian Saki benar-benar memukau.
Sebagai seseorang
yang sudah lama mengenal Saki, aku merasa sedikit bangga.
Namun,
gosip tidak bakal bertahan selamanya.
Lagi pula, Haruki
juga sudah mencapai tujuannya.
Mulai sekarang,
dia cuma perlu perlahan-lahan kembali ke kehidupan sehari-harinya.
Tepat saat aku
memikirkan hal itu—
Pengumuman
tentang film perpisahan Takura Mao yang berjudul Senjin, serta kabar bahwa
Takura Mao sendiri harus dirawat di rumah sakit dirilis secara bersamaan,
hingga memicu kegemparan di dunia luar.
Sedikit sebelum
kabar rawat inap Mao diumumkan, Haruki datang sendiri ke sekolah dan
membeberkannya kepada semua orang di markas rahasia.
"Ibu kena
penyakit parah, katanya."
Kabar itu menjadi
guncangan hebat bagi Hayato dan yang lainnya.
Menilik ekspresi
Haruki yang layu dan tidak bergairah, kondisinya jelas tidak bisa dibuat
main-main.
Tidak ada yang
menyangka kalau Mao menderita penyakit serius, membuat semua orang kehilangan
kata-kata.
Tentu saja.
Masalah ini terlalu sensitif.
Hayato juga
pernah mengalami kejadian saat ibunya mendadak pingsan dan harus dirawat di
rumah sakit sebanyak dua kali.
Rasa syok saat
segalanya mendadak gelap di depan mata kala itu, kecemasan dan keputusasaan
karena tidak tahu harus berbuat apa, serta perasaan tak berdaya lantaran tidak
bisa berbuat apa-apa terhadap penyakit tersebut—dia yakin tidak akan pernah
bisa melupakannya.
Namun, dia sama
sekali tidak tahu harus menyampaikan kata-kata apa kepada Haruki, hingga
membuatnya diselimuti rasa frustrasi.
Tampaknya hal
yang sama juga dirasakan oleh orang lain yang memiliki pengalaman serupa.
Pada akhirnya,
yang bisa mereka katakan hanyalah meminta Haruki untuk berbicara pada mereka
jika terjadi sesuatu.
Akan tetapi,
Himeko berbeda.
Malam itu juga,
segera setelah mendengar tentang Mao dari Hayato, Himeko langsung berlari
keluar dari rumah Kirishima dengan pakaian yang sedang dikenakannya.
Hayato buru-buru
mengejarnya, tetapi adiknya itu menghentikannya dengan suara yang tidak biasa
dan sangat serius, "Jangan ikut, Nii-chan! Serahkan masalah ini
padaku!"
Terpaku oleh
kesungguhan dan tekad kuat dalam nada bicaranya, Hayato tidak bisa berkata-kata
dan hanya bisa memercayakannya kepada Himeko.
Setelah itu, dia
tidak tahu apa yang dibicarakan Himeko dengan Haruki.
Namun keesokan
harinya, entah karena kata-kata dan perasaan Himeko berhasil mencapainya,
pancaran cahaya di mata Haruki telah kembali.
Lalu, Haruki
menyampaikan sebuah permintaan kepada semua orang.
"Mulai
sekarang, aku mau sebisa mungkin sering menjenguk Ibu. Karena itu, aku minta
bantuan kalian untuk urusan sekolah dan Twinkle."
Tentu saja, tidak
ada seorang pun yang menolak usulan itu.
Semua orang
berniat mendukung Haruki, baik secara terang-terangan maupun dari balik layar.
Meski
begitu, hal yang bisa mereka lakukan memang terbatas.
Lebih dari itu,
mereka cuma merasa senang karena Haruki mau mengandalkan mereka seperti ini.
Tentu saja, kalau
Haruki minta bantuan apa pun, mereka berniat untuk langsung datang menghampiri.
Pasti bukan cuma
Hayato, tetapi yang lainnya juga merasakan hal yang sama. Dia punya keyakinan
kuat soal itu.
Tanpa disadari,
dia telah mendapatkan banyak teman yang terikat oleh hubungan yang begitu erat.
Omong-omong, dia
pernah bertanya kepada Himeko tentang apa yang sebenarnya dia katakan kepada
Haruki.
Himeko merengut
kesal, menghela napas panjang yang sengaja dikencangkan, lalu mengawalinya
dengan, "Yah, ini soal Haru-chan," sebelum akhirnya menjawab dengan
enggan.
"Aku
cuma bilang, 'Kamu bakal menyesal kalau lari. Kalau kamu lari, itu bakal selalu
jadi bekas luka dan terus mengganggumu. ...Aku dulu pernah menyesalinya.'"
Kalimat
itu diucapkan dengan keyakinan yang begitu terasa nyata.
Himeko pasti
punya pemikirannya sendiri saat ibu mereka pingsan dulu.
Saat itu,
perasaan dan kata-kata yang tersimpan di dalam hati Himeko sepertinya berhasil
bergema di hati Haruki.
Begitulah, Haruki
mengurangi porsi kegiatannya bersama Twinkle dan mulai sering menjenguk Mao
yang dirawat di rumah sakit.
Hayato dan yang
lainnya berusaha menjaga kehidupan sehari-hari mereka di sekolah agar tetap
sama seperti sebelumnya sambil terus mengawasi Haruki.
Seiring hari-hari yang terus bergulir seperti itu, liburan musim panas pun tiba.
Prolog | ToC | Next Chapter



Post a Comment