Epilog
Pada pagi-pagi sekali, aku sudah berada di depan
pintu gerbang akademi.
Karena baru jam empat pagi, tidak ada seorang pun
di sekitar.
Atas perintahku, Girimehkala dan yang lainnya
telah melakukan pembersihan vampir, hingga tak ada satu pun vampir yang tersisa
di bumi ini.
Kenyataan itu membuat masyarakat gempar bukan
main.
Khususnya fakta bahwa hunter rank S, 【Glorious】, dan sekretaris
jenderal partai berkuasa di Jepang telah mengkhianati kemanusiaan, yang pada
awalnya memicu kecaman dari seluruh dunia.
Namun, saat asosiasi hunter mengumumkan bahwa
hampir seluruh menteri dan perdana menteri bersama keluarga Akizuki telah
bekerja sama membongkar kasus tersebut, kecaman itu langsung lenyap seketika.
Sebagai gantinya, para murid SMA Kazatsuki yang
telah melindungi kemanusiaan dan memusnahkan vampir kini dielu-elukan sebagai
pahlawan.
Sepertinya Girimehkala dan yang lainnya bekerja
sama dengan keluarga Akizuki serta pemerintah negara ini untuk menyiarkan
rekaman aksi mereka ke seluruh dunia.
Terutama para murid yang benar-benar mengakhiri
perang melawan vampir, seperti Mashiro, Tatsuwa, Karina, Ran, Sakuraba, Arima,
dan Akira, mereka tampak tak henti-hentinya menerima undangan tampil di TV.
Dengan demikian, meski masih menyisakan beberapa
masalah seperti perawatan bagi mereka yang sempat ditawan oleh vampir, dunia
ini telah kembali menjadi dunia yang tenang seperti sedia kala.
Omong-omong, Makoto sepertinya sempat bertarung
sengit serba habis-habisan dengan para petinggi aliansi dewi, tetapi sekarang
dia sudah cukup beradaptasi.
Shirou, sejak hasil imbangnya melawan Asura,
menjadi sangat akrab dengannya dan saban hari pergi minum-minum bersama.
Lagipula, si Asura itu bagaimanapun juga adalah
seorang murid di dunia ini, jadi aku ingin dia lebih tahu diri sedikit.
Dan akhirnya, hari untuk meninggalkan tempat ini
pun tiba.
Bukan hanya Mashiro, Arisa, Takeshi, dan Makoto,
bahkan kepada Karina, Ran, serta Tatsuwa pun aku tidak memberi tahu bahwa aku
akan pergi meninggalkan tempat ini hari ini.
Burung yang hendak terbang tidak
menyisalkan jejak keruh. Kami berdua sama-sama tidak ingin tenggelam dalam
sentimentalitas yang aneh.
Aku membungkuk dalam-dalam ke arah
gedung sekolah SMA Kazatsuki.
Boleh dikatakan, walau hanya dalam
waktu singkat, aku telah melewati waktu yang sangat bermakna di sini.
Saat menyusuri jalan menurun yang
panjang di depan pintu gerbang akademi, Tatsuwa tampak berdiri terdiam di
pinggir jalan.
Tatsuwa telah benar-benar tumbuh
dewasa. Dia sudah sepenuhnya menjadi kakak bagi Akito dan Mikan, serta saban
hari terus tekun menjalani pelatihan sebagai seorang hunter.
Tatsuwa memilih untuk terus hidup
bersama sebagai saudara dengan Akito dan Mikan mulai sekarang.
Katanya, setelah lulus SMA, dia
berencana tinggal bersama bertiga, ditambah Karina jadi berempat.
"Ada apa pagi-pagi
begini?"
"Guru mau pulang ke dunia
asal, kan? Saya mendengarnya
dari Asta-sama."
Bocah itu, benar-benar melakukan
hal yang tidak perlu...
"Benar. Mulai sekarang aku akan kembali ke
dunia asal. Tatsuwa, kau juga jaga dirimu baik-baik."
Aku mengangkat tangan kanan dan
berjalan melewati samping Tatsuwa.
"Guru, Anda adalah
pahlawanku! Aku pasti akan menjadi hunter terkuat di dunia ini! Jadi, terima
kasih banyak atas semuanya selama ini!"
Suara tangis Tatsuwa terdengar
dari balik punggungku. Astaga,
sampai kapan pun, mentalnya tetap saja masih kanak-kanak.
Namun, ini memang ucapan perpisahan terakhirku
untuk sang murid.
"Tatsuwa, kau sekarang sudah tidak apa-apa.
Percayalah pada jalanmu sendiri dan terjanglah maju!"
Aku mengangkat tangan kanan dan
berteriak dengan suara keras.
"Kain-kun!"
Saat berjalan di tengah kota, aku
dipanggil oleh dua orang yang tak terduga.
"Kalian berdua juga mendengarnya dari
Asta?"
"Ka-kami dari Nemesis-sama..."
Mereka berdua benar-benar
melakukan hal yang sangat tidak perlu.
"Ayo, Ran, ini yang
terakhir!"
Punggung Ran didorong oleh Karina
hingga dia berjalan ke hadapanku.
"Kamu mau pulang
sekarang?"
Tanyanya dengan wajah menunduk.
"Benar. Walau singkat, ini
sangat menyenangkan. Kalian berdua juga jaga diri baik-baik."
Tepat ketika aku menyampaikan kata-kata perpisahan
dan hendak memunggungi mereka berdua—
"Hilang begitu saja, tidak
bakal kumaafkan!"
Tiba-tiba, Ran mencengkeram kerah
bajuku dengan tangan kanannya dan menarikku mendekat. Lalu, dia memelukku dan
menciumku.
"..."
Saat aku masih terpana oleh
kejadian yang sangat mendadak itu, Ran melepaskan dirinya dariku. Dia menaruh
tangan kirinya di pinggang, menunjukku dengan jari telunjuk kanannya, lalu—
"Kamu harus pasti kembali! Ini janji!"
Setelah berteriak begitu, dia
membalikkan badan dan berlari kecil pergi.
"Begitulah jalannya. Pastikan kamu kembali,
ya."
Karina melambaikan tangan kanannya lalu berlari
menyusul Ran.
Aku sampai di taman tempat pertama kali aku
menapakkan kaki di dunia ini.
Di tengah lapangan olahraga taman terdapat
lingkaran sihir yang dibentangkan oleh Asta, dan Asta sendiri berdiri di
sampingnya.
"Kau sudah melakukan banyak hal yang tidak
perlu, ya?"
"Apa maksudmu?"
Dia memalingkan wajahnya dan bersiul. Ya sudahlah.
Berkat Asta dan Nemesis, aku jadi bisa menyampaikan salam terakhir kepada
Tatsuwa, Ran, dan Karina.
"Meninggalkan rumah selama setahun, apakah
Faf baik-baik saja?"
Aku menanyakan fakta yang paling penting bagiku
saat ini, yang terasa menakutkan hingga aku tidak berani menyentuhnya.
Karena terjadi berbagai hal yang melibatkan
asosiasi pusat, aku tiba di tempat ini tepat setelah aku berniat untuk terus
berada di samping Faf. Jujur saja, aku sangat cemas.
"Satu tahun di sini sama dengan beberapa jam
di Lemuria, begitulah formulasi sihirnya. Jadi, kamu tidak perlu
khawatir."
Mendengar kata-kata Asta, aku seperti mendapatkan
secercah cahaya di tengah malam yang gelap dan mengembuskan napas lega yang
panjang.
"Kalau begitu, syukurlah. Mari kita
pergi."
Aku menoleh menatap pemandangan kota Tokyo lalu
melangkah menuju lingkaran sihir.
Kudengar pasangan Mikage Takeshi dan Mikage Sakuya
berniat untuk tetap tinggal di bumi ini dan melanjutkan pekerjaan sebagai
hunter. Tentu saja Makoto, Shirou, dan Pahlawan Mashiro juga sama.
Kenangan tentang Tsukishiro Kain dan Mikage Umi
tampaknya telah tumbuh menjadi jauh lebih besar bagiku daripada yang
kubayangkan.
Terbukti, perpisahan dengan Takeshi, Makoto, dan
terutama pahlawan itu terasa sangat berat bagi diriku.
Begitu memasuki lingkaran sihir, aku—
"Mashiro-chan, daa-dah."
Melambaikan tangan kanan dan merangkai kata
perpisahan. Sangat memalu-malukan, dan sama sekali bukan diriku.
Namun, setidaknya untuk terakhir kali, aku
memutuskan untuk menuruti perasaanku sebagai Mikage Umi.
Pemandangan di sekelilingku
terdistorsi, dan aku pun tiba di gua terdalam 【Dead City of Flowers】. Orang-orang
yang tampaknya adalah staf Guild Hunter sedang merawat para anggota tim
pahlawan yang terkapar. Kalau dipikir-pikir, memang baru beberapa jam berlalu
sejak kami menghilang.
Nah, seperti yang diduga aku merasa
lelah, dan Faf juga sudah menunggu. Mengenai masalah Pahlawan Mashiro juga
membutuhkan penjelasan kepada Guild Hunter.
Maaf saja, tetapi biarlah kuserahkan
hal ini pada staf guild lalu aku pulang. Tepat ketika aku membalikkan badan dan
hendak keluar dari gua—
"Tunggu dulu, Umi, kamu mau
pulang tanpa membantu sedikit pun!?"
Suara yang tak asing terdengar di
telingaku. Itu adalah suara dari seseorang yang seharusnya baru saja kuucapkan
salam perpisahan dengannya.
Saat aku refleks menoleh, Pahlawan
Mashiro sedang bertolak pinggang dengan kedua tangannya sambil mendelik
menatapku.
"Ha? Mashiro-chan!? Kenapa kamu ada di
sini!?"
Aku pasti sangat panik. Tanpa sadar aku malah
menjawab dengan gaya bahasa Mikage Umi.
"Kenapa katamu? Mana mungkin aku bisa tinggal
di bumi yang sudah aman sendirian dengan meninggalkan Hijiri dan Satoru!"
"Tidak, tapi jalan antara tempat ini dan bumi
itu cuma satu arah! Kamu mungkin tidak akan pernah bisa kembali lagi,
tahu!?"
"Sepertinya begitu! Tapi walau begitu, apa
kamu menganggapku sebagai orang tega yang bakal menelantarkan temanku
sendiri!?"
Gawat. Dia sudah berubah ke mode
sangat tidak menyenangkan.
"Bukan, aku tidak bilang
begitu! Aku tidak bilang begitu, tapi bagaimana dengan Arisa!?"
"Aah, Arisa, ya. Arisa!"
Saat Mashiro mengangkat tangan kanan dan
mengeraskan suaranya—
"Kain-oniichan!"
Anak iblis itu, Arisa, berlari kecil menghampiriku
dengan raut wajah gembira lalu memelukku erat. Asu dan Min, dua pelayan yang
tadinya sedang bekerja, juga membungkukkan badan padaku.
"Arisa juga ikut datang..."
Kepalaku agak kacau. Yah, tentu saja. Kurpikir dia
juga berada di bumi.
"Arisa akan tinggal
bersamaku. Boleh, kan?"
"Maaf. Aku sedang sangat
bingung dengan berbagai hal."
Di saat aku berusaha merapikan situasi aneh ini
sambil mengelus kepala Arisa—
"Omong-omong, Kazuha, adik perempuan Satoru,
juga diputuskan untuk ikut kurawat."
Mashiro menyampaikan laporan susulan dengan
senyuman jahil seperti anak nakal.
"Kazuha? Maksudmu Mizoguchi Kazuha!?"
"Benar. Karena dia tidak punya kerabat di
bumi, dia berharap untuk datang ke Lemuria tempat kakaknya, Satoru, berada. Sekarang dia juga sedang membantu
di luar."
"Semuanya benar-benar tidak
masuk akal. Lagipula,
bagaimana aku harus menjelaskan hal ini pada Takeshi dan Tante Sakuya!? Tidak,
justru karena tidak bisa dijelaskan makanya ini jadi masalah!"
Saat aku memegangi kepala karena situasi yang
terlampau keterlaluan—
"Ayah juga jangan malas-malasan, bergerak
yang sigap!"
Mashiro menegur seorang pria tampan berambut hitam
yang sedang mengangkut ember untuk pertolongan pertama.
"Ha? Takeshi!?"
Itu adalah sahabatku yang seharusnya menjalankan
profesi hunter di bumi.
"Tidak, anu..."
Kepada Takeshi yang tampak canggung—
"Halo-halo, Umi-chaaann. Kalau tanganmu
sedang luang, tolong bantu angkut mereka yaa."
Dari luar gua, seorang wanita mengenakan kimono,
Tante Sakuya, masuk lalu mengedipkan sebelah matanya meminta bantuan dariku.
"Asta, apa maksudnya ini?"
"Ini semua karena gara-gara buku petunjuk
yang tidak bermutu itu."
Mendengar jawaban Asta yang tidak menyenangkan,
aku segera memeriksa 【Compendium】 milikku.
Di halaman terakhir tertulis Behemoth
(Takemikazuchi), dan pada nama bawahannya tercantum nama Tante Sakuya, Mafuyu,
dan Shirou.
"Haha... begitu ya."
Sepertinya aku dikerjai lagi oleh buku petunjuk
itu.
Mashiro berjalan ke hadapanku lalu menggenggam
tangan kananku—
"Nah, ayo cepat kita angkut
orang-orang yang terluka!"
Berteriak dengan senyuman polos
yang sangat cerah.



Post a Comment