Prolog
Tiga bulan telah berlalu sejak
insiden teror di Akademi St.Clan. Insiden itu membuat konflik terpendam antara
ras Elf dan Manusia menjadi nyata, baik di Akademi St.Clan maupun Akademi
Ouboro.
Pada awalnya, suasana di dalam Akademi
St.Clan terasa sangat mencekam. Namun, setelah Libra yang menjadi kanker
penyebab semua ini disingkirkan, keadaan tampaknya mulai kembali seperti
sebelum insiden teror terjadi.
Beberapa hari yang lalu, aku sempat
berbicara dengan Avery yang juga merupakan ketua yayasan Akademi St.Clan.
Dia menegaskan dengan penuh percaya
diri bahwa para siswa akan segera membangun hubungan yang lebih baik dari
sebelumnya.
Sepertinya, pengelolaan Akademi
St.Clan berjalan dengan sangat lancar.
Tentu saja, yang berjalan lancar
hanyalah hubungan antara dua ras, Elf dan Manusia, di dalam Akademi St.Clan
saja.
Di antara siswa Akademi St.Clan dan
Akademi Ouboro, masih ada hubungan superioritas yang rumit seperti biasanya. Akan tetapi, standar nilai yang dulunya
mutlak itu perlahan mulai memudar.
Ada beberapa alasan di balik hal
ini. Pertama, kelompok rasis
seperti Kuko telah disingkirkan sepenuhnya.
Hasilnya, tidak ada lagi guru maupun siswa Akademi
St.Clan yang melontarkan kata-kata hinaan secara terang-terangan.
Selain itu, kepindahan banyak siswa dari Akademi
Ouboro ke Akademi St.Clan tampaknya turut berkontribusi dalam meredakan
ketegangan hubungan ini.
Faktor yang lebih besar dari itu mungkin adalah
kepindahan Torula dan kelompoknya, yang merupakan siswa dengan nilai tertinggi.
Kepindahan mereka dari Akademi St.Clan ke Akademi
Ouboro telah mengubah hierarki mutlak tersebut.
Dalam hal ini, andai saja Torula dan yang lainnya
merasa terhina atau terpuruk karena pindah ke Akademi Ouboro, dominasi mutlak Akademi
St.Clan tidak akan goyah sedikit pun.
Namun nyatanya, Torula dan teman-temannya justru
sangat gembira bisa pindah ke Akademi Ouboro.
Pada kelas gabungan antara kedua akademi yang
baru-baru ini diadakan kembali, mereka dengan antusias menyebarkan berbagai
macam cerita.
Akibatnya, terjadilah kejadian langka di mana
banyak siswa Akademi St.Clan yang justru memohon agar bisa mengikuti kelas di
Akademi Ouboro.
Meskipun ada banyak liku-liku seperti ini,
kehidupan di Akademi Ouboro tampaknya terus melangkah maju dengan pasti.
"Kakak! Tolong ajari aku
bagian yang tadi!"
Setelah kelas sihir berakhir,
Torula mendatangi mejaku dengan mata berbinar sambil membawa buku pelajaran
sihir.
Dia membuka halaman tertentu di bukunya dan
memohon seperti itu.
"Ah, rapalan mantramu salah. Coba lafalkan
seperti ini. Kekuatan dan akurasinya pasti akan meningkat."
Aku menuliskan perbaikan rapalan itu di buku
pelajaran Torula.
"Hebat sekali, Kakak! Aku benar-benar
berterima kasih!"
Dia menyampaikan rasa terima kasihnya. Karena
Torula memohon agar aku melatih seni bela dirinya, aku sempat melatihnya
sedikit di waktu luang.
Sejak saat itu, dia mulai memanggilku 'Kakak' dan
anehnya menjadi sangat akrab denganku.
"Curang kau, Torula! Selanjutnya
giliranku!"
"Tidak, aku duluan!"
Teman-teman Elf Torula berebut mendesak maju
dengan buku pelajaran di tangan masing-masing. Sebelumnya, Torula merapalkan
mantra dengan sangat berantakan.
Aku hanya mengoreksinya sedikit, tapi malah
berakhir menjadi situasi seperti ini.
"Aku mengerti. Aku mengerti, jadi jangan
terburu-buru, aku akan mengajari kalian semua."
Parahnya lagi, setelah mendengar kata-kataku pada
Torula dan yang lainnya...
"Ka-Kalau begitu, aku juga!"
"Aku juga ingin diajari!"
Siswa-siswa lain pun ikut berkumpul dan memohon
padaku. Sejujurnya,
situasi ini benar-benar di luar dugaanku.
Lagipula, aku pada dasarnya tidak bisa menggunakan
sihir. Normalnya,
tidak ada yang mau belajar sihir dari orang sepertiku.
Meskipun begitu, aku sudah
telanjur menyanggupinya dengan mudah. Bisa dibilang, ini adalah akibat dari
perbuatanku sendiri.
"Kalau pengetahuan seadanya
milikku ini sudah cukup, aku akan mengajari kalian dengan benar. Jadi,
menunggulah sesuai giliran."
Satu per satu, aku mendengarkan
bagian mana yang membuat para siswa kesulitan. Aku mengajari mereka seteliti
mungkin.
Setelah aku akhirnya selesai
menjawab semua pertanyaan dari teman sekelas dan mengambil napas lega, Shou
mendekati mejaku.
"Kai, fakta bahwa kamu ini
seorang pendekar pedang sudah tidak masuk akal lagi."
Dia melontarkan pendapatnya dengan
nada tak habis pikir.
"Aku setuju. Pengetahuan
sihir Kai pasti setara dengan Penyihir Tingkat Satu Babel atau Penyihir Istana
Kerajaan Amelia!"
Sialnya, Rose ikut campur dalam
percakapan kami dan melontarkan omong kosong yang mustahil seperti itu.
"Tidak, tidak, mana mungkin
seperti itu!"
Shou langsung menyangkalnya sambil
mengibaskan tangan kirinya kuat-kuat.
"Benar! Tidak mungkin para
penyihir di dunia ini memiliki tingkat serendah itu!"
Aku juga sangat setuju dengan
Shou. Pengetahuanku pada dasarnya hanyalah pengetahuan dari buku sihir yang
digali dari Easy Dungeon itu.
Hal semacam itu seharusnya
hanyalah pengetahuan umum yang pasti diketahui oleh penyihir kelas atas. Para
penyihir terkemuka di dunia pasti akan tersinggung jika disamakan denganku yang
awam dan tak bisa menggunakan sihir ini.
Lagipula, ini semua karena Rose
yang selalu membesar-besarkan sesuatu, makanya aku berakhir seperti ini. Aku
benar-benar ingin dia lebih menahan diri.
"Entah kenapa, obrolan ini
terasa tidak nyambung sampai tahap yang mengerikan."
Mendengar gumaman Shou yang
terdengar kurang puas, aku membalasnya.
"Lebih penting dari itu,
Shou, apa yang akan kamu lakukan pada liburan panjang kali ini?"
Sebentar lagi, Babel akan memasuki
liburan musim panas yang panjang. Itulah sebabnya seluruh kelas terlihat sangat
bersemangat hari ini.
Mereka pasti akan memanfaatkan
liburan ini untuk bersenang-senang.
"Aku... ada sedikit urusan. Sepertinya, aku
akhirnya bisa mencapai tujuanku."
Emosi kelam dan kuat sekilas terlihat dari diri
Shou. Rose yang berada di sampingku menahan napas dan meremas mantelku.
"Begitu, ya. Sebagai orang luar, aku tidak
punya niat untuk mencampuri cara hidupmu. Tapi, jangan terlalu terobsesi,
ya."
Karena salah satu bawahanku juga memiliki sorot
mata yang serupa, aku bisa menebak garis besar tujuan Shou. Kemungkinan besar,
ini soal balas dendam.
Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa
mengutuk orang lain hanya akan menggali dua kuburan? Hasrat balas dendam yang
terlalu kuat hanya akan menghancurkan hidup orang itu sendiri.
Tentu saja, aku tahu Shou tidak bisa berhenti. Aku
juga sadar bahwa dia harus menyelesaikannya.
Yang kutakutkan adalah, Shou mungkin akan
melupakan hal yang paling berharga baginya demi balas dendam.
"Ya, aku akan mengatasinya sebaik mungkin.
Lalu, bagaimana denganmu sendiri, Kai? Apa yang akan kamu lakukan?"
Shou terang-terangan mengalihkan pembicaraan.
Sepertinya dia memang sudah membuta akan sekitarnya.
Aku tidak ingin melihat pemuda dengan masa depan
cerah jatuh ke dalam kegelapan. Sebisa mungkin aku tidak ingin ikut campur,
tetapi mungkin inilah saatnya aku harus bergerak.
"Entahlah, mungkin aku akan memanfaatkan
liburan ini untuk jalan-jalan bersama Faf. Mengajak Gil dan yang lainnya
sepertinya ide yang bagus."
Sebentar lagi, upacara perkenalan Feista akan
diadakan di Babel ini. Ini adalah acara besar pertama sejak Feista didirikan.
Sebagai bentuk apresiasi, mengusulkan liburan
bersama Gil dan Char mungkin ide yang menarik. Apalagi Char belum pernah bisa
meninggalkan Northground sebelumnya, jadi aku yakin dia akan sangat senang.
Terkait hal ini, setelah insiden di Northground
berakhir, aku telah memerintahkan bawahanku untuk melepaskan atau memperkuat Magic
Item yang menyatu dengan tubuh Char.
Meski ditangani oleh para pecandu pembuat item
dari Pendaftaran Subjugasi yang punya keterampilan tak masuk akal, masalah ini
ternyata sangat sulit untuk dipecahkan.
Namun pada akhirnya, perkuatan Magic Item
yang berbaur dengan Char telah selesai. Kini, dia sudah bisa meninggalkan
Northground.
Tinggal menentukan tujuan perjalanannya saja...
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu pulang
kampung ke Lamur? Kai
juga sudah hampir setahun tidak pulang, kan?"
Tepat pada saat itu, Rose
mengajukan usul yang tak terduga.
Bagiku, Lamur adalah kampung
halaman masa lalu yang telah kubuang jauh-jauh hari.
Sepanjang masa kecilku, aku
dianiaya hampir setiap hari di sana, jadi aku sama sekali tidak punya rasa
sayang pada tempat itu.
Jika ada orang-orang yang
membuatku peduli terkait Lamur, mereka hanyalah Rena, Keith dan keluarganya,
Lyra, Lumine, dan Kakek.
Aku tidak punya kenangan indah di
sana, jadi pikiran untuk pulang kampung tidak pernah terlintas di benakku.
"Benar juga. Mengunjungi
kakek mungkin bukan ide yang buruk."
Meskipun aku menjawab begitu, aku sama sekali
tidak berniat untuk kembali.
Memang benar aku sudah lama tidak pulang, tapi itu
hanya perasaanku saja.
Bagi Kakek dan yang lainnya, ini baru beberapa
tahun berlalu.
Kalau aku pulang sekarang, aku malah takut membuat
mereka khawatir.
"Kalau begitu, aku juga akan ikut."
Tumben sekali Rose bersikeras seperti ini.
"Hmm, aku tidak keberatan. Mari kita
berkunjung bersama nanti."
"Iya!"
Aku tersenyum masam melihat Rose mengangguk
kegirangan, lalu kembali bersuara.
"Sudah waktunya untuk kelas praktik
selanjutnya. Ayo kita
pergi."
Aku bangkit dari tempat dudukku
dan mendesak mereka berdua.
◇◆◇
Distrik Kedua Babel, tempat
tinggal sementara bagi para bangsawan dari berbagai negara.
Di salah satu sudutnya, berdirilah kediaman Putri
Kedua Louise Loto Amelia.
Bunga-bunga yang bermekaran di taman, air mancur
di tengahnya, serta bangunan tua di bagian belakang memberikan nuansa fantastis
bagi siapa pun yang berkunjung.
Di dalam ruang tamu bangunan empat lantai
tersebut, Louise tengah menunggu kedatangan seseorang.
"Aku benar-benar tidak
menyangka akan bekerja sama dengan mereka..."
Ketika Louise meluapkan
perasaannya secara terus terang, seseorang menanggapi.
"Aku sependapat. Aku yakin
sekali mereka akan bersekutu dengan monster itu."
Seorang pemuda berambut putih
dengan mata menyipit tajam yang duduk di hadapannya ikut menimpali.
Dia adalah tangan kanan Louise,
pria yang dikenal sebagai pemburu terkuat, Isaac Giesdoor.
"Ah, mereka pasti berubah
pikiran setelah mendengar reputasinya, kan? Gara-gara dia, reputasi negara kita jadi hancur
berantakan. Itu sudah wajar!"
Rasa jijik yang kuat tergambar jelas di wajah
Louise saat ia melontarkan kata-kata itu.
"Aku setuju dengan itu. Namun saat ini,
hampir semua bangsawan tingkat tinggi telah menyatakan dukungan mereka pada
monster itu."
"Seberapa banyak kita bisa menjatuhkan
dukungan mereka dalam pidato opini publik mendatang akan menjadi kunci
kemenangan kita. Demi hal itu..."
"Kita harus menarik simpati pahlawan yang
sangat populer di kalangan bangsawan tinggi, ya. Menyedihkan sekali rasanya
jika kita tidak bisa merebut takhta tanpa bantuan para pengkhianat negara yang
tidak kompeten itu."
Louise mengeluh sambil bersandar
di sofa dan menatap langit-langit.
"..."
Isaac menatapnya dalam diam sambil
tersenyum. Melihat sikapnya
itu, Louise bertanya.
"Ada apa?"
Louise mengerutkan keningnya dengan curiga dan
mendesaknya.
"Bukan apa-apa. Lebih penting lagi, apa yang
akan kita lakukan terkait upacara pendirian Negara Monster mendatang?"
"Maksudmu negara konyol itu? Karena para
petinggi dari berbagai negara akan hadir, tentu saja aku juga akan
datang."
"Apakah Anda sudah mendengar rumor tentang
pemimpin baru Negara Monster itu?"
"Ya, itu bukan sekadar rumor, tapi kebenaran.
Baru saja, utusan dari negara baru Feista datang mengantarkan surat undangan
ini dengan sangat sopan."
Louise melemparkan benda mirip kartu dari tangan
kirinya ke atas meja. Isaac memungutnya dan memeriksanya.
"Ketua Dewan Jenderal, Gilbert
Loto Amelia... Dia yang begitu menjunjung tinggi supremasi bangsawan kini
menjadi Raja Monster... Rasanya sulit untuk dipercaya."
"Ya, jika melihat perilaku Kakak akhir-akhir
ini, aku sangat memahami perasaanmu itu. Namun, dia baru beralih ke supremasi
bangsawan dalam beberapa tahun terakhir ini."
"Jika dibandingkan dengan Kakak di masa lalu,
hal ini tidak terlalu mengejutkan. Yang jauh lebih membuatku penasaran adalah
tindakan Kakak Rose. Tepatnya, tentang Royal Guard miliknya itu."
"Kai Heineman... kah..."
Saat nama itu terucap, ekspresi emosi yang kuat
dan tak terbantahkan sekilas melintas di wajah sang pemburu terkuat.
"Dia itu kuat, kan?"
"Ya, sangat kuat. Berdasarkan informasi yang
kami dapatkan, tidak diragukan lagi bahwa dia adalah dalang di balik berdirinya
Feista kali ini. Jangan pernah berpikir bahwa dia itu tidak kompeten."
"Aku tahu. Tapi sungguh, ini telah menjadi
situasi yang di luar nalar. Aku sudah punya firasat buruk sejak mendengar bahwa
perdana menteri monster itu yang akan mengambil keputusan..."
Louise mengucapkannya dengan penuh
kebencian.
"Ya. Fakta bahwa pria sinting
itu bergerak secara terang-terangan pasti memiliki makna yang dalam."
"Penunjukan Kai Heineman, sang penguasa
mutlak, sebagai Royal Guard. Pembebasan sang pangeran monster Knut,
serta partisipasinya dalam pemilihan raja. Semua situasi yang sangat rumit saat
ini mungkin sudah direncanakan oleh pria itu."
Begitu mendengar ucapan Isaac yang terdengar
lelah, senyum di wajah Louise lenyap seketika. Dan kemudian—
"Apakah kamu berniat mengatakan bahwa dia
menjadi Royal Guard wanita itu juga merupakan skenario yang ditulis oleh
Johannes?"
Louise bertanya pada Isaac dengan suara yang
membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Namun,
melihat keadaan para Putri saat ini, sangat mudah membayangkan bahwa situasi
ini adalah tepat seperti yang diharapkan sang Perdana Menteri."
Isaac menegaskan hal itu dengan raut wajah muram.
"...Jadi semuanya masih dalam batas
perhitungannya, ya... Ini
benar-benar membuatku muak..."
Louise meraih cangkir di depannya
dan menyesapnya dengan anggun, seolah berusaha menenangkan hatinya.
"Apakah Tuan Putri pernah bertemu dengannya
di masa lalu?"
Isaac menyilangkan kedua lengannya dan bertanya
sambil memejamkan sebelah matanya.
"Ya, dulu Kakek pernah meminta Maria menjadi
pengawalku. Dialah yang menjadi teman bermainku saat itu. Tapi sepertinya, dia
sudah benar-benar melupakanku."
Louise menjawab dengan nada yang entah mengapa
terdengar kesepian.
"Apakah Putri Rose juga bertemu dengannya
saat itu?"
"Mereka berdua sudah sama-sama lupa,
sih..."
Louise menegaskannya dengan sikap dingin.
"Soal Maria yang menjadi pengawal Anda, kapan
tepatnya hal itu terjadi?"
"...Aku tidak mengingatnya
dengan jelas. Lebih dari itu, sepertinya orang yang kita tunggu sudah
tiba."
Louise menghentikan pembicaraan secara paksa. Ia mendesak Isaac dan bangkit dari
tempat duduknya.
Segera setelah itu, pintu ruangan diketuk. Seorang
kepala pelayan masuk dan melapor.
"Pahlawan Mashiro telah
tiba."
Dia melapor dengan penuh hormat.
"Persilakan dia masuk."
"Baiklah."
Kepala pelayan itu membungkuk sekali, lalu keluar.
"Pahlawan Mashiro, selamat datang di
kediamanku."
Louise memegang ujung roknya dan membungkuk
memberi salam.
"Ah, sudah lama tak berjumpa, Louise."
Mashiro membalas sapaan Louise dengan seadanya.
"Ya, lama tidak bertemu."
Atas isyarat dari Louise, mereka berdua duduk di
sofa.
"Kita sama-sama sibuk. Mari langsung ke
intinya. Selama kau menyetujui persyaratan kami, kami siap bekerja sama."
Louise tersenyum mendengar tawaran
dari Mashiro ini.
"Melanjutkan perang dengan
para Iblis, kan? Tapi dengan berdirinya Feista, bukankah secara fisik hal itu
sudah tidak mungkin dilakukan?"
"Aku tidak mengakui
berdirinya negara semacam itu. Karena itulah, perang bisa tetap dilanjutkan."
"..."
Louise meminum tehnya dalam diam sambil tetap
tersenyum pada Mashiro yang menjawab seakan-akan hal itu sudah sewajarnya.
Menggantikan Louise yang bungkam...
"Tuan Mashiro, kami tidak berniat menaiki
kapal karam hanya untuk memuaskan hasrat balas dendam pribadimu."
Isaac menanggapi dengan nada yang
tertahan.
"Kalau begitu, tidak ada kerja sama di antara
kita."
Mashiro beranjak berdiri. Namun, seorang pria
tampan berambut merah dengan potongan two-block, Paladin Hijiri, tidak beranjak
sedikit pun dan hanya meminum teh yang disajikan.
"Hijiri?"
Mashiro mengerutkan alisnya dan mempertanyakan
maksud Hijiri.
"Duduklah, Mashiro. Pembicaraan kita belum
selesai."
Hijiri memerintah Mashiro dengan nada mutlak.
Sikap Hijiri yang bahkan enggan menatapnya membuat anggota rombongan tim
pahlawan lainnya saling berpandangan dengan kebingungan.
"Hijiri!"
Mendengar Mashiro membentak marah...
"Kubilang duduklah, Mashiro! Kalau kau tidak
bisa tetap tenang bahkan untuk melakukan hal ini, aku tidak akan bisa lagi
mengikutimu!"
Hijiri berteriak tanpa membalas tatapannya.
Melihat sikap Hijiri, Mashiro mengerjapkan mata karena terkejut. Akan tetapi,
tak lama kemudian seluruh tubuhnya sedikit bergetar menahan amarah.
"Hijiri..."
Terhadap Mashiro yang mengerang penuh kekesalan...
"Akan kukatakan sekali lagi. Duduk."
"..."
Mashiro menggemeretakkan gigi belakangnya
mendengar perintah sepihak Hijiri. Namun kali ini, ia duduk kembali dengan
tenang.
"Mari kita hentikan tawar-menawar yang tidak
berguna dan bicaralah dari hati ke hati. Mengingat upacara pendirian Feista
akan tetap diadakan, semua rumor yang beredar di luaran sana pastilah benar.
Dengan kata lain—"
Hijiri melirik singkat ke arah Mashiro yang masih
merajuk, lalu memotong kalimatnya.
"Wilayah Raja Iblis dari Negara Kegelapan dan
Negara Kabut telah digabungkan ke dalam Feista."
Isaac melengkapi ucapan Hijiri.
"Ya, dan karena upacara diadakan di Babel,
fondasi lobi-lobi dengan negara-negara lain kemungkinan besar sudah
diselesaikan."
Pernyataan Hijiri tersebut membuat ruangan riuh
seperti dahan pohon willow yang tertiup angin.
"Cakupan lobi ini tidak hanya meliputi
jajaran atas tiap negara, tetapi juga menyentuh para petinggi Kerajaan Amelia.
Terlebih lagi, dengan dukungan dari pimpinan setiap negara, Pihak Gereja pun
tidak akan bisa banyak melawan."
"Salah melangkah sedikit saja, Gereja
berisiko dicabut izin misinya dari berbagai negara. Dalam situasi di mana
protes sekecil apa pun tak tertoleransi ini, kalau kita nekat menentang
berdirinya negara dan memicu peperangan, kita akan menjadi musuh dunia. Benar
begitu, kan?"
"Benar. Kita akan dianggap sebagai penjahat
kejam yang membantai warga tak bersalah yang disebut monster, dan menjadi musuh
dunia. Kalau itu sampai terjadi, kehancuran kitalah yang menanti."
"Itulah sebabnya, untuk saat ini kami juga
ingin memantau perkembangan situasi."
Mendengar penegasan Hijiri ini, Mashiro menggigit
bibir bawahnya dengan frustrasi. Namun kali ini, ia tidak melontarkan sanggahan
apa pun.
"Biar saya tanya terus terang. Apa sebenarnya
yang diinginkan oleh pihak Pahlawan?"
Untuk menjawab pertanyaan Isaac...
"Tidak ada yang khusus. Terus-terusan
terobsesi mengalahkan Ras Iblis dan monster tidak akan memberikan keuntungan
sedikit pun bagi kami."
"Meski begitu, tak bisa dimungkiri juga bahwa
kami tidak bisa sepenuhnya mempercayai mereka. Oleh karena itu, kami ingin
mengumpulkan rekan sejawat secara diam-diam sebagai persiapan jika
sewaktu-waktu mereka lepas kendali."
Hijiri menyilangkan tangannya dan membalas dengan
nada serius.
"Maksudmu, Feista suatu saat akan lepas
kendali?"
Louise yang sedari tadi tutup mulut kini
menyuarakan keraguannya pada Hijiri.
"Aku tidak berkata sejauh itu. Kalau mereka
tidak mengamuk, ya sudah tidak masalah. Kami hanya tidak bisa menelan mentah-mentah
gerak-gerik mereka. Kalian sendiri juga berpikiran sama, kan?"
"Ya, negara ideal bagi para
monster dan Ras Iblis. Perselisihan antara kami dan Ras Iblis tidaklah sekecil
itu sampai kami bisa begitu saja memercayainya. Kalau begitu tujuannya, kupikir kita bisa saling
bekerja sama."
Mendengar ucapan Louise...
"Kalau bicara soal niat asli para petinggi
dari berbagai negara, mereka pasti tidak ingin mengakui keberadaan organisasi
merepotkan semacam Feista ini."
Hijiri juga mengangguk pelan seraya menambahkan
penjelasan.
"Tentu saja. Justru karena itulah, terbentuk
makna dari kerja sama kita."
"Tepat sekali. Sepertinya kita sudah mencapai
kesimpulan. Untuk sementara waktu, kita akan saling bergandeng tangan.
Sepakat?"
"Tentu, mari kita bekerja sama demi
mewujudkan cita-cita yang kita yakini masing-masing."
Louise berdiri dan mengulurkan tangan kanannya
pada Mashiro.
Mashiro berdiri tanpa menatapnya, lalu beranjak
keluar ruangan tanpa menyambut uluran tangan itu.
"Maaf. Mashiro sendiri masih belum bisa
menerima sepenuhnya masalah kali ini."
"Aku memakluminya."
Anggota tim Pahlawan lainnya pun membungkuk hormat
kepada Louise yang masih tersenyum, kemudian mereka ikut undur diri.
Ketika semua orang telah meninggalkan ruangan...
"Orang-orang bodoh..."
Louise bergumam pelan.
"Bicara tentang upacara
pendirian Feista tadi—"
Ia kembali menoleh pada Isaac,
lalu mulai merundingkan langkah mereka selanjutnya.
◇◆◇
Kawasan permukiman elit di Distrik
Kedua Babel.
"Upacara itu, pasti akan
berakhir rusuh..."
Ketika Raja Amelia—Edward Loto Amelia—mengeluhkan
hal itu...
"Pangeran Knut dan Pahlawan Mashiro akan
hadir. Sudah pasti akan terjadi setidaknya satu keributan kecil."
Tanggapan Perdana Menteri Kerajaan Amelia,
Johannes, yang terlalu datar itu membuat kemarahan Edward mendidih.
"Kau sendirilah yang
mengizinkan mereka berdua hadir! Selama mereka ada di sana, upacara itu sudah pasti akan kacau balau!"
"Terlebih lagi, Kai tidak akan menghadiri
upacara kali ini. Ini berarti, sama sekali tidak ada yang mampu menghentikan
tindakan mereka berdua!"
Pada pertemuan dengan para pemimpin dunia
sebelumnya, Edward telah merasakan kembali secara langsung betapa mengerikannya
seorang Kai Heineman.
Sikap Avery, Ratu negara Elf agung Lorelei saat
ini, masih bisa dipahami. Ia pasti sudah mendengar cerita mengenai Kai dari
kerabatnya, Inea.
Namun, bahkan penguasa tertinggi dari negara
adidaya Butou, Musashi, serta Kaisar Amnes dari Kekaisaran Gritnil pun
terang-terangan menunjukkan ketakutan mereka pada Kai.
Secara khusus, Kaisar Amnes adalah seorang legenda
hidup yang dijuluki Kaisar Penakluk.
Ia adalah penguasa murni yang posisinya
jelas-jelas jauh berada di atas Edward.
Tapi bahkan sosok seperti Amnes pun terus
meringkuk dan gemetaran layaknya anak kelinci dari awal hingga akhir pertemuan.
Kemungkinan besar, semua orang yang hadir di sana
dalam hati mereka sebenarnya tidak ingin berpartisipasi dalam pertemuan
tersebut.
Namun, jika mereka tidak hadir, itu bisa berujung
pada kehancuran negara mereka sendiri.
Aku yakin, seluruh pihak yang datang sangat
menyadari bahaya tersebut dan mempertaruhkan nyawa mereka demi hadir di rapat
itu.
Di tengah kondisi semacam itu, mustahil
kesepakatan yang telah dibuat bisa dirombak hanya karena bualan Knut atau
Pahlawan Mashiro di hari upacara.
Kesimpulan dari rapat itu sudah mutlak. Masalahnya
adalah, jika Kai tidak ada di acara, Knut atau Pahlawan Mashiro bisa saja
menghasut bangsawan tingkat tinggi Kerajaan Amelia untuk mengklaim kendali atas
Feista.
Apabila itu terjadi, situasinya akan menjadi
sangat kacau. Tentu
saja, negara-negara lain yang gentar pada sang monster Kai hanya akan diam
mengamati.
Kemungkinan terburuknya adalah
Kerajaan Amelia nekat menuntut kepemimpinan atas Feista, dan seandainya saja
tuntutan itu diamini oleh mayoritas pihak yang hadir, hal itu akan resmi
menjadi kebijakan bagi seluruh Kerajaan Amelia.
Jika skenario itu terjadi, perang melawan Feista
tak bisa dihindari.
Kai adalah pria yang selalu menepati kata-katanya.
Dia pasti akan mencap Kerajaan Amelia sebagai
musuh, dan negara-negara lain akan berpihak pada Feista.
Pada saat itulah, riwayat Kerajaan Amelia akan
tamat.
Singkat kata, mengizinkan Knut dan Mashiro untuk
hadir adalah langkah paling buruk dan ceroboh yang bisa mempercepat runtuhnya
Kerajaan Amelia jika salah sedikit saja.
"Kalau begitu, haruskah kita membatalkan
kehadiran mereka berdua sekarang juga?"
"Mana mungkin kita bisa melakukan hal semacam
itu sekarang! Kalau kita melarang mereka hadir, kita tidak akan pernah tahu apa
yang bakal diperbuat Knut, apalagi si Pahlawan itu!"
Knut tidak memercayai prinsip kemurnian darah yang
diagung-agungkan para bangsawan tinggi, ia pada dasarnya memegang prinsip bahwa
kekuatan adalah segalanya.
Namun, tujuan akhirnya adalah utopia yang berpusat
pada Ras Manusia.
Dia menganut ideologi busuk yang menyatakan bahwa
negara-negara Ras Manusia harus bersatu membentuk sebuah negara tunggal,
sementara ras-ras lainnya dikelola dan dikendalikan sebagai negara bawahan.
Ideologi adiknya ini berakar dari pemikiran cacat
bahwa Ras Manusia adalah makhluk yang terlalu lemah, tidak berbakat, bodoh,
serta tidak tertolong, sehingga merekalah yang harus diselamatkan.
Pemikiran yang sekilas tampak kontradiktif ini
entah mengapa mendapatkan dukungan fanatik dari para kesatria muda dan aparat
penegak hukum.
Bagi Knut, negara monster ini jelas sangat
bertolak belakang dengan cita-citanya. Ia tidak mungkin bisa menoleransinya.
Pria seperti Knut pasti akan memprovokasi para
bangsawan tingkat atas demi merampas kekuasaan Feista.
Pahlawan Mashiro pun pasti tidak akan keberatan
dengan rencana tersebut.
Kalau itu sampai terjadi, hal ini bukan hanya bisa
memicu perang saudara, melainkan juga ikut menyeret Feista yang berstatus
negara baru.
Edward sangat paham seberapa mirip
adiknya itu dengan monster. Pria sepertinya tak berani membayangkan apa jadinya
bila Knut dan Kai saling berhadapan di medan pertarungan.
Yang pasti, masa depan yang
menanti di ujung sana hanyalah lautan mayat tak terhitung jumlahnya beserta
kehancuran Kerajaan Amelia.
Sebagai seorang Raja, ia sama sekali tak bisa
menoleransi skenario seperti itu.
"Mohon maaf sebelumnya, tetapi jika kita
menolak kehadiran mereka, mereka hanya akan memicu kekacauan secara diam-diam.
Jika demikian, bukankah lebih baik kita memperjelas semuanya di depan mata
publik?"
"Meskipun hal itu akan mengakibatkan
perpecahan total?"
"Dari awal, hubungan dengan mereka itu
bagaikan air dan minyak, tak akan pernah bisa menyatu. Kita ini memang sudah
hancur sejak awal."
"Itu mungkin saja benar, tapi apa untungnya
repot-repot menyiramkan minyak ke dalam kobaran api?!"
"Tentu saja, itu dilakukan agar kita bisa
secara resmi mengatur ulang perebutan takhta ini dari awal."
"Kalau begitu, kenapa sampai memanggil
Mashiro juga!? Dengan tersingkirnya Gil kali ini, dia seharusnya sudah tidak
ada hubungannya lagi dengan Perang Tahta!?"
"Saya sudah menyampaikan bahwa kita akan
memulai ulang dari awal."
Tanpa merusak ekspresi besi yang seperti biasanya,
Johannes menjawab dengan nada seolah itu hal yang wajar.
"Makanya, aku bertanya apa hubungannya
memulai ulang dari awal dengan menyuruh Mashiro menghadiri upacara!?"
"Saat ini, perbedaan kekuatan dalam Perang
Tahta sudah terlalu besar hingga permainannya tidak akan berjalan. Oleh karena
itu, saya telah mengambil satu tindakan."
Laki-laki ini dengan santainya mengucapkan hal
yang sungguh tidak masuk akal.
"Johannes, maksudmu kamu sendiri yang ikut
campur!?"
Sungguh tidak bisa dipercaya. Pria yang tampak
seperti perwujudan keadilan dan kejujuran itu ikut campur dalam Perang Tahta
ini.
Hal itu benar-benar sangat sulit dipercaya.
"Yah, itu hanya sekadar saran untuk kubu
tertentu."
"Dan itu ada hubungannya dengan kehadiran
Sang Pahlawan di upacara kali ini?"
"Ya. Walau terbilang agak tidak
langsung."
"Kamu pasti tidak akan
memberitahuku hal yang lebih spesifik, kan?"
"Mohon maaf yang
sebesar-besarnya."
Johannes menegakkan tubuhnya, lalu menundukkan
kepala.
Sudah kuduga. Namun, jika Johannes sampai harus
turun tangan, berarti perbedaan kekuatan perang yang terjadi memang benar-benar
tidak bisa diatasi hanya dengan usaha individu semata.
Di sini muncul satu pertanyaan. Hal yang sejak
tadi mengganjal bagaikan duri di dalam tenggorokan, yaitu—
"Apakah Perang Tahta yang sedang berlangsung
sekarang benar-benar bertujuan untuk memilih raja?"
Sebelumnya Johannes pernah berkata bahwa tujuan
dan hakikat dari Perang Tahta itu sendiri telah berubah drastis.
Aku tidak bisa mengusir perasaan bahwa permainan
yang berlangsung saat ini hanyalah mengatasnamakan Perang Tahta demi tujuan
besar lainnya.
Johannes menyunggingkan sudut bibirnya, membentuk
senyuman tipis.
"Saya bersumpah Perang Tahta ini adalah
pertarungan sungguhan demi memilih raja yang sejati, dengan mempertaruhkan jiwa
dan harga diri masing-masing."
Dia menegaskan hal itu.
"Memilih raja yang sejati, ya."
Jika begitu, ada satu hal yang
tidak masuk akal. Yaitu fakta bahwa Johannes menyebut Gil sebagai raja yang
sejati.
Jika dia memang pantas menjadi raja sejati, justru
seharusnya Gil makin diikutkan dalam Perang Tahta.
"Apakah tujuan dan hakikat Perang Tahta sudah
berubah drastis... Tidak mungkin, kan..."
Hal semenggelikan itu tidak mungkin terjadi.
Aku menggelengkan kepala kuat-kuat ke kiri dan ke
kanan, menepis pikiran yang mendadak terlintas itu.
"Yang Mulia. Kalau begitu, untuk upacara tiga
hari lagi, mohon jalankan sesuai rencana."
"Aah, aku mengerti."
Bagaimanapun juga, tidak ada cara lain selain
melewati upacara itu dengan selamat.
Setelah Johannes memberi hormat dan melangkah
keluar ruangan, para menteri pun menyusul keluar satu per satu setelah memberi
penghormatan.
Wibawa dan karisma ini.
Jika Johannes menjadi raja dan memegang
pemerintahan, negara ini pasti akan jauh lebih baik.
Aku selalu berpikir begitu. Namun, pria ini selalu
memilih berada di balik layar dan tidak pernah mau tampil ke depan.
"Hal-hal di dunia ini memang tidak pernah
berjalan sesuai keinginan..."
Edward mengucapkan kalimat yang sudah berkali-kali
dia ulang, sebuah kalimat yang rasanya tak ubahnya seperti kekalahan.
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari
dilaksanakannya upacara pendirian negara Faesta.
Para tamu undangan berdatangan satu demi satu ke
Aula Besar Babel yang menjadi lokasi acara.
Penguasa tertinggi dari berbagai negara yang
menggerakkan dunia hadir di sana, mulai dari Ratu Negeri Elf Lorelei saat ini,
Avery; Wakil Raja dari negara besar di timur, Butou, yaitu Musashi; hingga
Kaisar Kekaisaran Glitnir, Amnes.
Mungkin hanya Raja Negeri Dwarf yang memiliki
dendam dengan Kai saja yang tidak hadir.
(Kumohon, bersikaplah tenang!)
Sambil merasakan lambungnya yang melilit nyeri,
Edward menyuarakan harapan tulusnya dengan berbisik pelan, entah untuk yang ke
berapa kalinya.
Pendirian Faesta telah disetujui oleh petinggi
Kerajaan Amelia, Kekaisaran Glitnir dengan wilayah terluasnya, negara besar Elf
Lorelei, negara besar timur Butou, serta faksi Kepala Akademi Babel saat ini
dan petinggi Guild Hunter.
Hanya sedikit pihak di dunia ini yang sanggup
menentang kehendak negara-negara besar tersebut. Lebih tepatnya, hal itu
mustahil dilakukan kecuali seluruh negara lain bersatu menentang pendirian ini.
Lagi pula, para petinggi negara-negara itu
bukannya bodoh. Mereka pasti sudah mendengar kabar bahwa negara-negara besar
telah memberikan persetujuan.
Oleh karena itulah, perasaan yang dimiliki para
hadirin pemegang tampuk pemerintahan dunia hanyalah rasa ingin tahu yang sangat
kuat.
Tidak ada satu pun yang berpikir upacara ini akan
ditolak, dan semua orang menahan napas sambil memaku pandangan ke arah pintu
masuk.
Lalu, orang-orang yang paling membuat Edward
pusing dalam upacara ini pun menunjukkan batang hidungnya.
Yang melangkah masuk ke dalam ruangan adalah
rombongan Pahlawan Kerajaan Amelia—kelompok Mashiro.
Gadis cantik berambut hitam berkilau yang panjang
di paling depan adalah Pahlawan Mashiro.
Di belakangnya menyusul pria rupawan berambut
merah dengan gaya two-block, sang Paladin Hijiri, serta pemuda tampan
berambut hitam yang merupakan Sage Satoru.
Di saat yang sama, ada sosok tak terduga di
samping Mashiro.
Sosok itu adalah putri kedua Edward, Putri Kedua
Louise, bersama Royal Guard-nya yang merupakan hunter terkuat, Isak
Guizedor.
Melihat situasi itu, apakah berarti Louise dan
rombongan Pahlawan Mashiro telah bekerja sama...?
"Johannes, jadi inikah hal yang kamu campuri
itu?"
Saat aku menoleh ke belakang dan bertanya pada
Johannes, pria berbadan besar berambut hitam yang siaga di sana,
"Entahlah, bagaimana ya?"
Sambil mengulum senyum, Johannes memberikan
jawaban ambigu yang bisa diartikan seperti apa saja.
Memang benar, meskipun ada hunter terkuat Isak
Guizedor di pihak mereka, faksi lain yang dihadapi adalah adik kandungnya yang
bereputasi buruk, Cnut, serta monster terkuat dalam sejarah, Kai Heinemann.
Cnut dan Kai Heinemann sudah berada jauh di luar
batasan ras manusia.
Meskipun berada di puncak dunia hunter, Isak yang
masih dikategorikan sebagai manusia biasa jelas memiliki perbedaan kekuatan
yang cukup lumayan.
Tampaknya Johannes menarik Pahlawan Mashiro, yang
sama-sama berstatus monster, ke kubu Louise demi menyeimbangkan keadaan.
Seorang pemuda tampan berbadan tinggi dengan
rambut merah panjang yang mengenakan pakaian putih megah bersahaja lengkap
dengan selempang merah besar dari bahu ke pinggang menampakkan diri.
Di belakangnya menyusul pria berambut pendek yang
berotot dengan tatapan tajam, serta wanita cantik berambut hitam bergaun maid.
Dia adalah adik kandungku, Cnut.
Cnut berjalan mendekat hingga ke samping Edward,
lalu duduk di sebelahnya. Dan—
"Hai, Kakanda. Bagaimana kabarmu?"
Dia mengucapkan kalimat penuh kepalsuan seperti
itu.
"Berkat dirimu, sepertinya
lambungku sebentar lagi akan berlubang karena stres."
Bahkan terhadap sindiran Edward
itu,
"Ya, ya, yang penting Kakanda
kelihatan sehat."
Tanpa merasa terganggu sedikit pun, Cnut menjawab
dengan kalimat asal-asalan seperti itu.
"Omong-omong, Kakanda, apakah Royal
Guard-nya Rose hadir?"
"Tidak, Rose dan Royal Guard-nya
menyatakan tidak bisa hadir."
Ketidakhadiran Kai Heinemann di
upacara ini. Hal itu adalah satu-satunya kecemasan dalam acara ini, sekaligus
sumbu ledak menuju kehancuran Kerajaan Amelia.
Aku benar-benar berdoa agar acara
ini bisa berakhir dengan selamat.
"Absen, ya... Sayang sekali.
Padahal aku ingin melihat seperti apa orang yang sudah melakukan pencucian otak
sejahat itu pada Gil."
Wajahnya memang tersenyum, tapi matanya sama
sekali tidak menyiratkan tawa.
Sejak kecil, Cnut adalah satu-satunya di antara
anak-anak kandung Edward yang terkesan memperhatikan Gil.
Dan Gil yang sama itu, kali ini justru menyatakan
diri akan menjadi raja para monster dan iblis.
Bagi Cnut yang menganut supremasi ras manusia, Kai
Heinemann tentu sosok yang sangat tidak bisa diampuni.
"Tokoh utama hari ini telah tiba."
Johannes berbisik di telinga
Edward untuk melaporkan. Sesaat kemudian, sorak-sorai geger membahana di
seluruh ruangan.
Di ujung arah pandang semua orang,
tampak seorang pemuda tampan berambut pirang menampakkan diri, didampingi oleh
dua orang pengikut serta beberapa monster dan iblis.
Gilbert naik ke atas panggung Aula
Besar dan duduk di kursi panjang yang berada di bagian dalam.
Di sampingnya duduk seorang gadis
manis berambut hitam dengan telinga kucing dan dua ksatria muda, lalu para
monster dan iblis pun ikut mengambil tempat duduk mereka masing-masing secara
berurutan.
—Apakah itu benar-benar Gilbert,
anakku?
Itulah kesan jujur Edward saat
melihat sosok Gilbert.
Pakaian Gilbert tidak lagi bergaya
bangsawan norak dengan banyak hiasan berlebihan seperti dulu, melainkan setelan
pakaian hitam dengan jaket bermotif sulaman indah.
Dipadukan dengan gesturnya yang
gagah berwibawa, tampilannya benar-benar sangat pantas menjadi seorang raja
dari suatu negara.
Gilbert sebelum menerima ujian
dari Kai Heinemann hanyalah sesosok anak kecil yang masih menyisakan
kekanak-kanakan dan keluguan.
Dia sama sekali bukan tipe orang yang bisa
membawakan diri seperti itu.
"Kalau begitu, pembawa acara untuk upacara
pendirian negara Faesta kali ini akan dipandu oleh saya, Inea."
Mantan Kepala Akademi Tertinggi Babel, Inea,
berdiri di atas panggung dan mengucapkan hal yang benar-benar mengejutkan bagai
petir di siang bolong.
Dalam sekejap, ruangan menjadi riuh bagaikan
jangkrik yang dipanggang.
Tentu saja begitu. Inea Lenlen Lorelei.
Mantan Ratu Negeri Lorelei, sekaligus mantan
Kepala Akademi Tertinggi di Kota Akademi Babel.
Sosok legenda hidup yang telah mengukir berbagai
pencapaian agung sejak ratusan tahun lalu.
Sosok sekelas dirinya dipaksa pensiun begitu saja
hanya karena mengganggu Kai Heinemann saat ujian masuk Babel.
Menurut laporan dari Badan Intelijen, sejak saat
itu dia beraktivitas sebagai salah satu pengajar biasa di Akademi Ouboro,
akademi dengan tingkat akademis terendah di Babel.
Inea yang seperti itu tiba-tiba menjabat sebagai
pembawa acara upacara pendirian Faesta.
Hal ini memiliki arti yang sangat
besar.
Inea adalah pahlawan besar bagi
Negeri Lorelei.
Jika sampai terjadi kekacauan di
upacara ini, itu akan mencoreng namanya, dan jika buruknya terjadi, dia bisa
kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.
Alasan mengapa senyum Ratu Avery
tampak kaku sejak tadi kemungkinan besar adalah karena hal ini.
Begitu pula dengan para bangsawan
dari berbagai negara yang hadir hari ini, tidak sedikit di antara mereka yang
semasa sekolah di Babel pernah diajari sihir oleh Inea.
Ditambah lagi, murid langsung Inea
adalah pahlawan hunter, Ralph Excel.
Dengan kata lain, selama Inea yang
menjadi pembawa acara, tidak ada yang bisa bertindak gegabah di upacara ini.
Pasalnya, jika sampai memicu
masalah, sudah dipastikan pelakunya akan dimusihi oleh hampir semua orang yang
ada di tempat ini.
Di dunia yang luas ini, hanya ada
satu orang yang sanggup meminta Inea menjadi pembawa acara upacara. Orang itu
adalah Kai Heinemann.
Tampaknya monster itu memanfaatkan
momentum upacara ini untuk membungkam semua pendapat negatif terhadap monster
dan iblis.
Yah, mengingat betapa cerdasnya
Kai Heinemann yang mengerikan itu, mungkin dia juga memikirkan hal-hal lain
yang bahkan tidak sanggup dibayangkan oleh Edward.
"Kalau begitu, pertama-tama, mohon kata
sambutan pembuka dari Pahlawan Mashiro-sama."
"—!?"
Kegemparan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya
langsung pecah. Edward sendiri hampir saja menyemburkan tawa.
Menyuruh Mashiro, yang memiliki kebencian mendalam
pada iblis dan monster, memberikan kata sambutan pembuka di saat seperti ini
sungguh bukan tindakan orang berakal sehat.
Orang yang sanggup memikirkan pemilihan peran gila
seperti ini jumlahnya sangat terbatas.
Saat mengalihkan pandangan ke arah sosok yang
diduga menjadi dalangnya, pria itu sedang mengamati perkembangan situasi dengan
senyuman licik. Melihat ekspresinya, sudah tidak salah lagi.
Johannes-lah yang merencanakan hal ini.
"..."
Dia pasti bahkan tidak diberi tahu sama sekali
sebelumnya.
Mashiro sempat melongo beberapa saat dengan wajah
cengong, sebelum akhirnya menatap Gilbert dan rombongannya dengan tatapan
seolah menatap musuh bebuyutan pembunuh orang tuanya.
"Kuhahaha! Perutku sakit! Aku tidak tahu
siapa yang memikirkannya, tapi ini benar-benar pemilihan peran yang sangat
kocak!"
Cnut bertepuk tangan dan tertawa
terbahak-bahak di sampingnya. Senyum palsu seperti boneka yang biasanya dia
pakai telah lenyap.
Dia pasti tertawa dari lubuk hatinya.
Meski begitu, Edward sama sekali tidak
mengerti—dan tidak ingin mengerti—jalan pikiran orang yang masih bisa tertawa
di situasi genting nan menegangkan seperti ini.
"..."
Melihat Mashiro yang bersedekap dengan wajah penuh
kemarahan tanpa bergerak sedikit pun, Hijiri dan Isak membisikkan sesuatu ke
telinganya.
Raut wajahnya makin garang, namun dia
menggelengkan kepala lalu berdiri dan berjalan menuju panggung.
Setelah naik ke panggung, dia menggebrak mimbar
kecil dengan kedua tangannya. Dan—
"Mendirikan negara atau apa
terserah kalian! Aku tidak mengakui keberadaan monster dan iblis! Karena itu, aku juga sama sekali tidak
akan pernah mengakui negara bernama Faesta ini! Jika kalian terbukti sedikit
saja membahayakan umat manusia, demi harga diriku, aku akan membasmi kalian
sampai tuntas. Tanpa menyisakan satu ekor pun! Sekian!"
Setelah meneriakkan kalimat yang dalam arti
tertentu sudah bisa diduganya, dia pun turun dari panggung.
Di tengah Aula Besar yang mendadak hening, Inea
naik ke atas panggung tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun, bahkan alisnya
pun tidak terangkat.
"Sambutan dari Mashiro-sama telah selesai.
Selanjutnya adalah kata sambutan dari Pemimpin Majelis Agung Negara Faesta yang
resmi berdiri hari ini, Gilbert-dono."
Atas ucapan Inea, Gilbert pun berdiri.
Seolah perkataan Mashiro memang sudah berada dalam
batas prediksinya, dia melangkah ke atas panggung dengan mengulum senyum.
"Hoo..."
Cnut yang tadinya tertawa terbahak-bahak pun tanpa
sadar sudah menghentikan tawanya dan menatap Gil dengan raut wajah serius.
Edward sangat memahami perasaan Cnut saat ini.
Ketenangan sekelas ini sama sekali tidak
mencerminkan Gilbert yang belum matang itu.
Sejak awal, rasanya ini bukan lagi masalah
sederhana seputar pendidikan ideologi atau sejenisnya.
"Kepada para hadirin yang berkumpul di sini,
terima kasih banyak atas kehadirannya di upacara pendirian negara kami, Faesta.
Saya adalah Pemimpin Majelis Agung Faesta, Gilbert Roto Amelia. Baru saja saya
menerima kata-kata penyemangat yang sangat berharga dari Pahlawan Mashiro-sama,
tetapi ada hal yang juga harus saya sampaikan kepada Anda sekalian."
Gil jeda sejenak, melayangkan
pandangannya mengedari sekeliling. Dan—
"Di negara kami, Faesta, baik
ras manusia, iblis, maupun monster, semuanya bisa hidup bebas tanpa
dibeda-bedakan. Di sana tidak ada tatanan sosial tak berguna dan tidak
produktif seperti kaum bangsawan, juga tidak ada ajaran aneh seperti Gereja
Pusat yang merupakan perwujudan dari diskriminasi. Sebuah tempat di mana semua
orang bisa tersenyum dan hidup dengan damai. Kami tidak akan pernah menolak siapa pun, tidak
akan memusuhi maupun menentang. Akan tetapi, jika Anda sekalian mencoba merebut
dari kami, kami akan bertarung dengan segenap tenaga. Bahkan jika seluruh dunia
menjadi musuh kami."
Dia mendeklarasikannya, meresapi setiap patah kata
yang diucapkannya.
Setelah keheningan sejenak, tampaknya para hadirin
baru sanggup mencerna ucapan Gil.
"Jangan bercanda! Beraninya
kamu menyebut harga diri kami tak berguna!"
"Meskipun kamu seorang
pangeran, hal ini tidak bisa diampuni!"
"Maksud kalian, kalian adalah
musuh dari Dewa Ares kami, begitu!?"
Seruan amarah membahana
berturut-turut dari para bangsawan Kerajaan Amelia yang diizinkan hadir.
Di tengah badai kata-kata
penolakan terhadap Faesta yang bagaikan puyuh, para hadirin di pihak Faesta
semuanya tetap tenang, wajah mereka sama sekali tidak berubah mendengar
bentakan-bentakan itu. Mereka
pasti sudah memperhitungkan situasi ini sejak awal.
"Harap tenang! Harap tenang semuanya! Harap
te—"
Inea melayangkan teguran kerasnya, namun caci maki
dan teriakan marah itu sama sekali tidak mereda.
"Bocah-bocah tengil! Aku
bilang tenang, ya tenang!"
Suara Inea yang membahana bak gong
pecah terdengar bersamaan dengan tinju kanannya yang melesak ke dalam mimbar.
Seketika itu juga, seluruh suara dari para
bangsawan lenyap tanpa sisa.
Mungkin karena mereka tidak pernah bermimpi
sedikit pun akan mendengar ucapan sekasar itu dari mulut Inea.
Semua orang menatap Inea dengan melongo.
"Saya tegaskan sekali lagi, kami tidak
berniat untuk memusuhi Anda sekalian dari pihak kami. Jika Anda sekalian bersedia duduk di meja yang
bernama diskusi, kami akan dengan senang hati menyambutnya. Hanya itu yang bisa
saya janjikan."
Meskipun dihujani makian sebanyak
itu, Gil tetap tersinggung sembari membungkuk kecil, lalu turun dari panggung
dan kembali duduk di kursinya semula.
"Demikianlah kata sambutan dari Pemimpin
Majelis Agung Faesta, Gilbert-sama. Selanjutnya, mari kita laksanakan Upacara
Pengesahan Pendirian Faesta oleh Raja Kerajaan Amelia selaku negara pengayom,
Edward-sama."
Inea melemparkan pandangan penuh arti kepada
Edward.
Sesuai dugaan, sempat terjadi percekcokan, tetapi
jika hanya sampai di tingkat ini saja, itu sudah bersyukur sekali.
Sebaiknya ini diselesaikan dengan
cepat untuk memangkas potensi konflik internal atau perselisihan di masa depan.
Tepat ketika Edward berdiri dengan
sigap dan hendak melangkah menuju panggung—
"Sampaikan keberatan!"
Seorang bangsawan berbadan besar
dan berambut pendek yang dipenuhi luka di sekujur tubuhnya berdiri dengan
menghentak dan berseru lantang.
Bangsawan bertubuh bongsor yang
menyampaikan keberatan tersebut adalah Count Tappo, antek dari Faksi Duke Toad
yang dulu disebut-sebut sebagai dalang belakang layar Faksi Gilbert.
Saat ini faksi tersebut telah
menjadi kekuatan terbesar yang mendukung Cnut, dan Count Tappo adalah salah
satu bangsawan yang terkenal sengit di antara mereka.
"Ada apa? Mengenai pendirian Faesta, bukankah
pihak petinggi Kerajaan Amelia kalian sudah menyetujuinya? Rasanya sekarang
bukan wewenang kalian lagi untuk ikut campur, kan?"
Kepada Inea yang bertanya dengan nada enggan,
Count Tappo menyunggingkan bibirnya dengan pongah dan berkata,
"Negara pengayom Faesta adalah tanah air
kami, Kerajaan Amelia! Kami, para bangsawan tinggi yang merupakan inti dari
pemerintahanlah yang berhak menentukan hidup dan matinya Faesta! Bukankah
begitu!?"
Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar
dengan berlebihan untuk meminta persetujuan dari para bangsawan Kerajaan
Amelia.
"Benar sekali!"
"Faesta adalah milik Kerajaan Amelia kita!
Artinya, itu adalah kepunyaan kami, para bangsawan! Karena itu, terserah kami
ingin memperlakukannya seperti apa!"
"Pangeran Gilbert yang tidak memiliki hak
waris takhta tidak berhak atas hal itu!"
Melihat para bangsawan tinggi berseru
berturut-turut, Count Tappo mengangguk puas lalu berkata,
"Lihat, ada begitu banyak
persetujuan. Pahlawan-dono, kami yang memegang hak untuk menguasai Faesta.
Tidak masalah bagimu, kan?"
Saat dia bertanya kepada Pahlawan
Mashiro,
"Kalau kalian bisa
mengelolanya dengan benar, aku tidak keberatan. Tapi kalau terasa ada bahaya
sekecil apa pun, kami sendiri yang akan membasminya secara langsung."
Mashiro memberikan jawaban yang
sama ngawurnya.
Orang-orang ini, apa mereka
benar-benar paham dengan situasi dunia saat ini?
Alasan mengapa begitu banyak
pejabat penting dari berbagai negara hadir di tempat ini adalah untuk merayakan
lahirnya negara raksasa yang berpusat pada monster dan iblis yang muncul secara
mendadak, serta untuk menjalin kontak dengan sosok yang menciptakan keajaiban
bernama Faesta ini.
Di dunia ini, informasi adalah
nyawa. Mengenai pendirian negara Faesta oleh iblis dan monster, mereka tentu
sudah mengantongi informasi bahwa negara-negara besar dan Guild Hunter telah
menyetujuinya.
Lalu, para bangsawan Kerajaan Amelia hendak
merampasnya? Tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir hal itu mungkin
dilakukan.
Terbukti, para pejabat tinggi yang
hadir hanya mengamati perkembangan situasi dengan raut tertarik.
Mereka pasti bermaksud menggunakan kesempatan ini
untuk mengetahui siapa sosok yang akan mengendalikan jalannya arus situasi.
Secara tersirat, hal ini juga menunjukkan fakta
ironis bahwa yang diprioritaskan oleh negara-negara lain bukanlah Kerajaan
Amelia, melainkan negara baru Faesta.
Bagaimanapun juga, kekuatan militer Negeri
Kegelapan saja sudah setara dengan Kerajaan Amelia.
Ditambah lagi dengan kekuatan
tempur Negeri Kabut dan para monster.
Dari segi kekuatan militer saja,
ini tak ubahnya dengan lahirnya negara militer terbesar di dunia.
Lalu soal skala ekonomi, hasil
dari menyerap dua wilayah Raja Iblis, Negeri Kegelapan dan Negeri Kabut,
berpotensi melampaui Butou yang merupakan salah satu negara terkaya nomor satu
atau dua di dunia.
Andai Edward berada di posisi para pejabat tinggi
negara lain pun, dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti mereka.
Singkatnya, para bangsawan tinggi itu hanya sedang
mempermalukan diri sendiri sembari memberikan informasi berharga secara
cuma-cuma kepada para pejabat tinggi negara lain.
Yah, bagaimanapun juga, di belakang para bangsawan
itu ada Cnut.
Cnut adalah monster yang memiliki legenda pernah
menghancurkan sebuah negara kecil sendirian.
Mengingat Cnut ada di tempat ini, bagi para
bangsawan tinggi, mereka tentu merasa seolah mendapat dukungan yang sangat
kuat.
Rasa marahnya terhadap para bangsawan bodoh itu
sudah melampaui batas hingga berubah menjadi rasa kasihan, tetapi Edward adalah
Raja Kerajaan Amelia saat ini.
Dia adalah penyelenggara upacara ini.
Edward memiliki tugas untuk menyelesaikan upacara
ini dengan selamat.
Tepat saat Edward hendak membuka mulut untuk
menenangkan keadaan—
"Oi, jangankan cuma seorang Count! Tindakan
lancangmu di hadapan Raja kami benar-benar pantas dihukum mati!"
Tindakan keterlaluan yang sama sekali mengabaikan
Raja Edward saat ini rupanya telah membuat kesabaran Komandan Ksatria Pengawal,
Geralt, akhirnya habis. Dia
memegang hulu pedangnya dan hendak melangkah maju.
"Tidak boleh begitu. Geralt-kun, masa tidak bisa menang adu
argumen lalu malah menggunakan kekerasan?"
Ternyata dia benar-benar maju.
Cnut berdiri dari kursinya sembari mengulum senyum licik.
Para anggota senior Ksatria
Pengawal pernah menyaksikan sendiri saat Cnut membantai pasukan besar seorang
diri. Mereka pasti sangat sadar bahwa mereka bukan tandingannya.
Meski begitu, demi melindungi
harga diri sang Raja, Edward, para anggota Ksatria Pengawal berkumpul di
samping Geralt dan semuanya mencabut pedang dari sarungnya, memasang kuda-kuda
bertarung.
"Arah, mau bertarung, nih~?
Aku sih sama sekali tidak masalah."
Jika sudah begini, Cnut tidak akan
berhenti meskipun Edward mencoba menghentikannya.
Sebaliknya, Edward juga sama
sekali tidak bisa menyuruh Geralt dan yang lainnya untuk mundur. Tentu saja,
ada kekhawatiran bahwa hal itu bisa dianggap sebagai bentuk dukungan Edward
terhadap dominasi bangsawan tinggi atas Faesta.
Namun lebih dari itu, dia tidak
boleh mengabaikan para bawahan yang mencoba mempertaruhkan nyawa demi
melindungi harga diri dan posisinya. Baik sebagai seorang raja, maupun sebagai
seorang pria!
"Bagaimana, nih,
Kakanda~?"
Cnut bajingan itu, jadi ini yang
dia incar.
Inea yang diharapkan bisa menjadi
penolong justru tampak bersikap tidak peduli dan hanya mengamati pergerakan
mereka. Kemungkinan besar, hal yang diminta oleh Kai Heinemann hanyalah menjadi
pembawa acara upacara ini, dan selebihnya bukan urusannya lagi.
"Gil..."
Dalam situasi yang kian memanas
dan bisa meledak kapan saja, gadis berambut hitam dengan telinga kucing di
sampingnya memeluk Gil dan menatapnya dengan raut cemas. Melihat gelagat itu,
jangan-jangan dia adalah kekasih Gil atau semacamnya?
Tepat ketika pemikiran tidak pada tempatnya itu
terlintas di benak Edward,
"Shar, tidak apa-apa. Serahkan pada kami. Tetre,
Somni."
Gil mengusap lembut kepala gadis berambut hitam
itu, menyuruhnya tetap duduk, lalu berdiri dari kursinya. Kemudian, dia memberi
isyarat singkat kepada dua pemuda yang menonton jalan situasi dengan penuh
minat di sampingnya, Tetre dan Somni.
"Mengerti."
Tetre mematahkan sendi-sendi
jarinya hingga berbunyi sembari berdiri,
"Siap!"
Somni juga mengangguk mantap lalu
menyusul Tetre.
"Pangeran Gilbert, Anda sudah
tidak lagi memiliki hak waris takhta—"
Tepat saat Count Tappo berteriak
dengan wajah menang, bayangan Gil menghilang seketika, lalu tahu-tahu dia sudah
mencengkeram kerah baju Count Tappo dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Untuk kroco sepertimu
sebaiknya diam sebentar."
Gil memerah di bagian mata, dan
embun kemerahan yang bisa dilihat dengan mata telanjang mulai bocor dari
seluruh tubuhnya.
Uap itu melilit Count Tappo,
mengambil wujud seekor ular raksasa yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.
"Hiiih!"
Mengeluarkan jeritan kecil, Count
Tappo memutar bola matanya ke atas dan jatuh pingsan.
"Tumbang hanya dengan Skill
intimidasi tingkat ini... Benar-benar tidak bisa diandalkan. Prajurit baru
Feista bahkan tidak ada yang sampai pingsan."
Mendengus jijik, Gil melemparkan
sang Count ke lantai seperti membuang sampah, lalu mengalihkan pandangannya
sejenak ke arah Mashiro dan yang lainnya sebelum menatap Knut. Dan kemudian—
"Paman, hentikan sandiwara
ini. Sesuai dengan yang baru saja kudeklarasikan, aku adalah Ketua Dewan
Jenderal Feista, dan mereka telah mempercayakan seluruh otoritas penuh Feista
kepadaku. Aku, Gilbert Loto Amelia, mendeklarasikan hal ini."
Gil menghentikan kalimatnya dan
mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Feista adalah negara kami.
Kami sama sekali tidak akan mengakui pemerintahan dari kalian para bangsawan
yang tidak kompeten. Mundur dan lepaskan tangan kalian dari Feista, jika kalian
tidak ingin mempermalukan diri sendiri lebih jauh lagi."
Di tengah suara kemarahan para
bangsawan tingkat tinggi akibat perkataan Gil yang begitu merendahkan, Knut
memadamkan seluruh emosinya dan menghentikannya dengan tangan kanan.
Dan kemudian—
"Kau ini siapa?"
Dia melontarkan pertanyaan yang jawabannya sudah
sangat jelas di depan mata.
"Aku adalah keponakanmu, Gilbert, Paman. Tapi
yah, dalam kasusku, aku sudah mengulang waktu sampai rasanya begitu jauh.
Mungkin bisa dibilang aku telah terlahir kembali. Keraguan Paman mungkin tidak
sepenuhnya meleset."
"Lakukan. Tapi jangan bunuh dia."
Knut memberi perintah kepada dua
orang pengikutnya.
"Dimengerti!"
"Baik!"
Pria berambut pendek dengan
tatapan mata tajam yang menjadi pengikut Knut dan seorang wanita cantik
berwajah pelayan berambut hitam mencabut senjata masing-masing, lalu melesat
kencang menuju Gil.
Hanya dalam sekejap mata, tepat di
hadapan Gil, pria berambut pendek bermata tajam dan wanita cantik berwajah
pelayan itu telah ditangkap dengan kuncian mati oleh Tetol and Somni.
"Ha?"
Suara terkejut meluncur dari mulut
Edward. Edward sendiri memiliki pemahaman dasar tentang seni bela diri.
Namun, gerakan kedua pengikut Knut itu sama sekali
tidak bisa ia lihat walau sedikit pun.
Mereka berdua justru dengan mudahnya dilumpuhkan
oleh tangan dua anak laki-laki yang tampak tidak punya tenaga. Apakah kenyataan
seperti itu memang ada?
Namun faktanya—
"Lepaskan aku!"
"Sialan!"
Wanita pelayan dan pria berambut pendek itu
berteriak dengan ekspresi putus asa, berusaha melepaskan diri dari kungkungan.
"Menyebalkan."
"Bikin risih."
Suara Tetol dan Somni berpadu dengan selaras,
membuat dua pengikut Knut itu memutar bola matanya ke atas dan kehilangan
seluruh tenaga mereka.
"Kukatakan sekali lagi. Paman, mundur."
Di dalam Aula Besar Babel yang terasa sunyi secara
tidak wajar, menanggapi ultimatum terakhir Gil ini, Knut menghela napas panjang
tanpa ekspresi lalu membuang muka dari Gil.
Begitu Tetol dan Somni melepaskan kuncian mereka,
Knut menjentikkan jarinya dengan pelan. Dua pengikutnya langsung sadar,
menggelengkan kepala, dan bangkit berdiri.
"Ayo pergi."
Setelah mendesak kedua pengikutnya yang masih
tampak kebingungan, Knut meninggalkan aula besar tersebut.
"Pelindung kalian sepertinya sudah pergi,
lalu apa yang akan kalian lakukan?"
Mendengar pertanyaan Gil, para bangsawan tingkat
tinggi Kerajaan Amelia yang baru saja menyadari arti dari tatapan di sekeliling
mereka yang mengarah pada diri mereka, buru-buru meninggalkan tempat itu dengan
panik.
"Kalau begitu, karena urusan kita sudah
selesai, mari kita laksanakan ritual pengesahan pendirian Feista."
Menghadapi seruan Inea yang tak memberi ruang
untuk membantah, tidak ada seorang pun yang melontarkan keberatan—tidak, mereka
bahkan tidak bisa membegitunya.
Bahkan Pahlawan Mashiro sendiri hanya bisa duduk
terdiam di kursinya dengan ekspresi tercengang tanpa mampu menggerakkan satu
jari pun.
"Tidak masalah, kan, Yang
Mulia Raja Edward?"
"A-Ah, benar. Mari kita lanjutkan kembali
ritualnya."
Edward mengangguk merespons
konfirmasi dari Inea, dan ritual pun dilanjutkan.
◇◆◇
Tempat itu adalah kediaman Kaisar Kekaisaran Gritnil
di Babel.
Di salah satu ruangannya, Enam Jendral Berkuda
berkumpul lengkap.
"Apa-apaan ini! Rencananya tidak seperti ini!
Bukankah Gilbert Loto Amelia seharusnya adalah Pangeran gagal yang tenggelam
dalam bakat dan kekuasaan?! Itu adalah wadah seorang penguasa sejati tanpa
diragukan lagi!"
Kaisar Amnes berteriak dengan amarah yang seolah
membakar langit.
Kemarahannya tidak dapat ditekan.
Wajar saja. Awalnya ada dua rencana yang diajukan,
yaitu kebijakan rekonsiliasi dengan Kerajaan Amelia dan penculikan Saint
Rosemary.
Namun, karena mengetahui bahwa calon Raja
berikutnya adalah Gilbert si bodoh yang tidak tertolong, mereka memutuskan
untuk menjalankan rencana penculikan sang Saint.
Jika Pangeran Gilbert memiliki bakat kepemimpinan
sehebat itu, ia pasti akan menyambutnya sebagai penerus dengan cara apa pun.
"Tidak, beberapa waktu lalu dia memang masih
seorang pangeran bodoh yang tidak punya kekuatan. Hal yang mendidik jasmani dan
rohaninya menjadi manusia super seperti itu adalah kekuatan Kai Heineman. Benar-benar pria yang berada di
level berbeda! Sungguh menarik!"
Pria berbaju hitam, Four, tampak
bersemangat, entah karena merasa antusias yang tidak biasa.
"Mohon ampun, Yang Mulia,
saya juga sependapat dengan Tuan Four. Tuan Kai, Beliau adalah sosok yang
berada di tingkat berbeda dalam segala arti. Jika itu Beliau, mengubah pangeran
bodoh tentu saja adalah hal yang sangat mudah!"
Kata-kata yang diucapkan Ramnela
sambil berlutut itu dipenuhi dengan hasrat yang begitu kuat, hingga sangat
mudah dibaca bahwa jiwanya sudah sepenuhnya runtuh dari tulangnya.
Biasanya, dia akan menghukum
tindakan seperti itu sebagai bentuk penghinaan.
Namun, hal itu tentu berbeda
cerita jika pihak yang telah memikat Ramnela adalah Kai Heineman.
"Kai Heineman, ya... kalau itu dia, mungkin
saja memang benar..."
Sialnya, Amnes adalah seorang penguasa mutlak
sejati. Oleh karena itu, ketika berhadapan langsung dengannya, mau tidak mau ia
pasti akan memahaminya.
Kai Heineman, pria itu tanpa diragukan lagi adalah
seorang Transcenden, makhluk yang melampaui batas kemanusiaan.
Terlebih lagi, dia adalah Dewa Tertinggi yang
bahkan melampaui Four dengan telak. Ini bukan lagi masalah kekuatan semata.
Hanya dengan fakta bahwa ia bisa berbicara secara
setara dengan dewa mengerikan seperti itu, Amnes bahkan merasa ada bagian dari
dirinya yang terasa terpuaskan.
"Kufufu... tidak disangka dalam waktu singkat
seperti itu dia bisa mengangkat orang bodoh yang tak tertolong sampai ke ranah
yang sama dengan diriku. Bisa dibilang, dia adalah dewa sejati buatan alam yang
lahir di dunia yang membosankan ini."
Menanggapi kata-kata Four yang bernada bagaikan
nyanyian...
"Anda salah. Beliau dulunya
adalah seorang manusia. Orang
itu melampaui batasan ras manusia hanya dengan kekuatan miliknya sendiri."
Ramnela membantah dengan nada bicara yang penuh
gairah.
"Hmm, Ramnela, kenapa kau bisa berpikir
begitu?"
Untuk pertama kalinya, Four menghilangkan
senyumannya dan bertanya kepada Ramnela.
"Aku yakin setelah berbicara
langsung dengannya."
"Melampaui batas manusia
dengan wujud manusianya, ya... secara teori hal itu mungkin. Tapi, itu paling
pol hanya sebatas mendapatkan status kedewaan. Memperoleh tingkat keilahian
sebanyak itu adalah hal yang sama sekali tidak terpikirkan. Namun, kenyataannya..."
Sambil bergumam tenggelam di
dunianya sendiri...
"Yang Mulia, aku setuju bahwa
Kai adalah manusia. Kakeknya
adalah teman lamaku. Aku pernah bertemu dengannya sekali di masa lalu."
Sang Kaisar Pedang, Ashburn Gastrea, bergumam
sembari mengusap janggut putih panjangnya, seolah sedang mengenang masa lalu.
"Apakah itu benar?!"
Amnes mencondongkan tubuhnya dari singgasananya.
"Tidak mungkin salah."
Ashburn menjawab seketika dengan nada suara tanpa
ketegangan.
"Jika Kai Heineman dulunya adalah manusia,
urusannya jadi lebih mudah! Jika kita bisa menjalin ikatan pernikahan dengan
salah satu putriku, kekaisaran kita akan aman! Kita harus memikirkan siapa yang
harus dikirim ke sisi Kai Heineman yang ada di Babel!"
"Mengenai hal itu..."
Ketika Ramnela mengangkat tangan kanannya dengan
ragu-ragu, Four dengan terang-terangan membuang muka.
Melihat reaksi itu, timbul firasat
buruk yang teramat kuat.
"Ada apa?!"
"Ramnela dan yang lainnya
tidak sengaja membicarakan tentang Kai Heineman di depan sang gadis tomboi, dan
dia jadi tertarik. Dengar ya, aku bahkan sudah menghentikannya."
"Gadis tomboi...
jangan-jangan anak itu? Apakah
dia pergi mendatangi Kai Heineman?"
Ini adalah situasi terburuk. Amnes bahkan sudah
menyerah untuk mengendalikan anak itu karena mustahil dilakukan. Jika anak itu
sampai membuat Kai Heineman tidak senang—
"Yang Mulia Putri Eris sudah bergabung dengan
Akademi Ouboro di Babel."
Ramnela melontarkan kalimat yang setara dengan
keputusasaan bagi Amnes.
Melihat Amnes yang terdiam membuka dan menutup
mulutnya karena situasi yang terlalu luar biasa...
"Amnes, tidak perlu khawatir. Zigniel yang
sedang buron telah menjadi bawahan Kai Heineman, jadi atas keputusanku, aku
mengampuni kejahatannya dan menjadikannya pengawal Eris. Bukankah itu keputusan
yang bagus?"
Four melontarkan strategi penyelamatan yang luar
biasa dengan nada bicara santai seolah bukan apa-apa.
"Tentu saja! Kerja bagus,
Four!"
Four memang bisa diandalkan. Dia
adalah pria yang merupakan perwujudan dari kompetensi.
Jika Zigniel menjadi bawahannya,
mereka bisa menjalin hubungan dengan Kai Heineman. Zigniel dan Eris adalah
teman seangkatannya di Akademi Ksatria Sihir Kekaisaran terbesar di Ibukota
Kekaisaran.
Selain Amnes dan Four, Zigniel
adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara secara setara dengan Eris.
Dengan adanya Zigniel, mungkin dia
bisa mengendalikan Eris. Ini benar-benar penempatan orang yang tepat di posisi
yang tepat.
"Aduh, aduh, cucu bodoh itu
akhirnya dimaafkan, ya? Kalau begitu, sepertinya tidak ada artinya bagiku untuk
kembali aktif."
"Tidak, laporan menyebutkan
bahwa Kai Heineman tidak bisa bersikap keras di depan kakeknya. Lagi pula,
Ashburn, dia menilai tinggi kemampuanmu. Akan lebih mudah membangun hubungan
yang setara dan baik jika kau maju langsung sebagai salah satu dari Enam
Jendral Berkuda. Aku ingin kau terus melanjutkan tugasmu."
Four langsung menolak perkataan
Ashburn.
"Baiklah kalau begitu. Untuk
tanah air dan Yang Mulia, silakan gunakan tubuh tua ini sampai habis."
Menanggapi ucapan Ashburn yang
terdengar mirip sebuah sindiran...
"Terima kasih, kesatriaku yang setia. Aku
akan memberikan penghargaan yang layak kepada kalian keluarga Gastrea."
Amnes mengucapkan kata-kata yang sempat tertinggal
di masa lalu.
Ashburn menatap wajah Amnes sejenak, lalu...
"...Rasanya membuat rindu. Yang Mulia saat
ini adalah sosok yang cerdas, lembut, namun memiliki keberanian liar—sosok diri
Anda di masa lalu yang begitu kita dambakan dan impikan."
Sambil tersenyum, ia menyampaikan kesan
mendalamnya.
◇◆◇
―Kawasan permukiman elit di bagian utara Babel.
Upacara telah usai, dan rombongan pahlawan telah
kembali ke kediaman mereka.
"Apa maksudnya semua ini!"
Suara kebingungan Sang Sage Satoru menggema di
seluruh rumah, namun tidak ada seorang pun yang membuka mulut. Wajar saja,
karena tidak seorang pun di tempat ini yang memiliki kelonggaran mental untuk
itu.
"Mari kita berhenti melakukan pelarian diri
dari kenyataan. Pangeran Gilbert dan kedua kesatria itu sangat kuat. Jauh lebih
kuat daripada siapa pun yang ada di aula tadi."
Mendengar perkataan pemburu terkuat, Isaac
Giesdoor, semua orang menunjukkan ekspresi seolah baru saja menggigit serangga
pahit. Sebab, setiap dari mereka menyadari bahwa ucapan Isaac tidak ada yang
bohong.
"Lagipula, sejak kapan Gil sekuat itu? Bukan,
bukan cuma Gil. Gerakan kedua kesatria itu juga tidak masuk akal. Kalau ada
monster seperti itu di sisinya, kita bahkan tidak perlu repot-repot bersekutu
dengan mereka."
Mashiro akhirnya membuka mulut yang sedari tadi ia
kunci. Ekspresinya
begitu tegang, sama sekali tidak mencerminkan dirinya yang biasa.
"Tekanan intimidasi Gil waktu itu... Kalau
ucapan Gil benar, itu pasti adalah Skill. Tapi ini pertama kalinya aku
melihat kekuatan yang begitu luar biasa."
Paladin Hijiri bergumam sambil mengusap dagunya
yang berbentuk bagus.
"Apa yang kau bicarakan, itu
kan Gil! Dia keras kepala,
egois, tapi di sisi lain sangat lemah. Bukankah seharusnya dia memang seperti
itu!"
Mendengar teguran Satoru yang terdengar putus
asa...
"Satoru, tidak ada seorang pun di sini yang
berpikir kalau Gil yang sekarang itu lemah. Bukan cuma kekuatannya saja. Dari
cara dia bertindak pun, dia bukan lagi Gil yang dulu. Dia benar-benar orang
yang berbeda."
Menanggapi perkataan Hijiri yang bernada
menasihati...
"Tidak! Gil tetaplah Gil!"
Satoru mengeluarkan suara melengking lalu berlari
keluar ruangan.
"Tuan Satoru!"
Seorang ksatria wanita hendak mengejarnya dengan
ekspresi khawatir, namun...
"Biarkan dia sendiri dulu."
Hijiri memberi instruksi dengan wajah lelah,
namun...
"Tapi, Tuan Hijiri..."
Ksatria wanita itu tampak ragu-ragu.
"Biarkan saja tidak apa-apa. Pergilah."
Isaac memberi izin dengan ekspresi tenang.
"B-Baik!"
Ksatria wanita itu membungkuk lalu berjalan cepat
keluar ruangan.
"Kalau begitu, aku juga pergi. Saat sedang
merasa down, paling pas itu bersenang-senang biar pikirannya teralihkan."
"Kamu kan memang cuma mau
bersenang-senang aja, kan?"
"Bisa dibilang begitu."
Sambil melontarkan candaan ringan seperti itu, dua
kesatria lainnya turut meninggalkan ruangan.
"Dia memang sangat disukai, ya."
Menanggapi ucapan Isaac yang terdengar seperti
gumaman seorang diri...
"Yah, Satoru memang bicaranya kasar, tapi
aslinya dia serius, polos, dan tidak bisa berbohong."
Ujar Hijiri sambil melirik sekilas ke arah Mashiro
dengan ekspresi sedih. Lalu—
"Lalu, bagaimana dengan kekuatan Kakak Gil
dan Tetol itu?"
Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise, secara paksa
mengembalikan topik pembicaraan yang sempat melenceng.
"Alasannya tidak diketahui. Tapi, seperti
kata Tuan Isaac, Gil dan yang lainnya lebih kuat daripada kita."
"Apakah itu berarti... bahkan lebih kuat dari
Tuan Mashiro?"
Seorang ksatria senior bertanya dengan nada yang
dipenuhi kecemasan.
"Ya, bahkan lebih kuat dari Mashiro. Jujur
saja, aku bahkan tidak bisa menangkap gerakan kedua pengikut Knut. Padahal,
mereka dengan sangat mudah dikuasai oleh dua kesatria milik Gil. Bahkan Mashiro
pun tidak bisa melakukan gerakan seperti itu. Iya kan, Mashiro?"
"Ya, kurasa rumor bahwa Gil dan dua kesatria
itu telah menaklukkan Raja Iblis Procyon adalah kebenaran. Begitulah
kenyataannya."
Ruangan mendadak riuh berkat penegasan Mashiro.
Wajar saja, karena hal itu sama artinya dengan lahirnya monster yang melampaui
Raja Iblis ke dunia ini.
Terlebih lagi, monster itu
mendeklarasikan dirinya sebagai Raja para monster dan Ras Iblis. Ini adalah
situasi terburuk bagi Mashiro dan kelompoknya.
"Gil sebelumnya memang lemah,
sampai-sampai dia ditahan atas percobaan pembunuhan terhadap Ksatria Pelindung
Somni dan ksatria magang Tetol. Setelah kejadian itu, pasti ada sesuatu yang
terjadi padanya. Dan pihak yang menahannya adalah—"
Melihat Hijiri yang menggantungkan
kalimatnya...
"Perdana Menteri, begitu ya.
Yah, kalau monster tua itu yang ikut campur, aku jadi paham."
Mashiro menjawabnya.
"Lalu, pada akhirnya akan jadi seperti apa
perebutan takhta ini? Apakah kemenangan mutlak akan jatuh ke tangan Kakak
tertua yang kuat itu?"
Louise mengangkat pertanyaan
terbesar mengenai perang suksesi takhta dengan nada menyindir.
"Tidak, sepertinya tidak akan
begitu. Aku belum mendengar kabar bahwa hak suksesi takhta yang dibekukan oleh
Perdana Menteri telah dipulihkan. Kita bisa menganggap Gil telah keluar dari perang suksesi takhta pada saat
dia menjadi Raja Feista."
Mendengar pendapat Hijiri yang terdengar seperti
sebuah kepastian ini...
"Kalau begitu, perang takhta pada dasarnya
telah mengerucut kepada Kakak Rose, Paman Knut, dan aku. Pada akhirnya,
situasinya sama sekali tidak berubah, ya."
Sambil menikmati tehnya dengan anggun, Louise
menganalisis situasi yang kacau ini secara ringkas.
"Benar. Sebagai pengganti faksi Gilbert yang
telah disingkirkan dari perang takhta, ancaman baru bernama faksi Knut telah
muncul. Malu untuk diakui, tapi aku bahkan tidak mampu mengikuti pergerakan
bawahan Pangeran Knut. Kekurangan kekuatan kita sekali lagi telah telanjang
bulat."
"Aku setuju dengan itu. Yang terpenting,
kalah dalam hal kekuatan dari negara monster dan Ras Iblis adalah hal yang sama
sekali tidak bisa dimaafkan."
Mendengar Mashiro berucap dengan ekspresi penuh
kebencian...
"Pihak Gereja Pusat secara diam-diam meminta
kontak dengan kita, apa yang sebaiknya kita lakukan?"
Menanggapi permintaan pendapat dari ksatria senior
paruh baya tersebut...
"Gereja Pusat sudah berjanji untuk bekerja
sama dengan kita. Mengingat mereka meminta pertemuan lagi di atas kondisi itu,
tujuannya pasti soal masalah pendirian Feista kali ini."
Menanggapi gumaman Mashiro...
"Sembilan puluh sembilan persen begitu.
Orang-orang itu pasti sedang panik luar biasa."
Hijiri menimpali.
"Bagi Gereja Pusat, negara monster dan Ras
Iblis yang setara dengan musuh dewa pastinya tidak akan pernah bisa dimaafkan.
Tidak diragukan lagi mereka sedang panik melebihi kita. Jika waktunya pas, kita
bisa mendapatkan dukungan maksimal dari pihak Gereja. Pertanyaannya, apakah
kita bisa melawan mereka hanya dengan mengandalkan bantuan Gereja?"
"Kami mendapatkan kekuatan pertama kami juga
dari sana. Kali ini pun mereka pasti memiliki kartu truf penyelamat. Tapi,
masalahnya tetap ada."
"Ya, aku mengerti. Maksudmu seperti yang
dikatakan Hijiri sebelumnya, jangan mempercayai mereka sepenuhnya, kan?"
"Benar. Pada akhirnya orang-orang itu pasti
akan memusuhi kita."
"Aku juga setuju dengan
itu."
"Kalau kalian sudah paham sejauh itu, aku
tidak punya hal lain untuk dikatakan lagi."
Begitu mengatakannya, Hijiri menutup kelopak
matanya, menyilangkan kedua lengannya, dan terdiam.
Mashiro bangkit dari sofa, menyapu pandangannya ke
arah semua orang, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.
"Kita adalah para penjaga umat manusia! Kita
memiliki misi untuk melindungi umat manusia dari ancaman bernama Ras Iblis dan
monster! Tidak peduli seberapa kuat musuh kita, kita pasti akan mengumpulkan
kekuatan yang lebih besar dari itu dan memusnahkan mereka!"
Dia mendeklarasikan tekadnya.
Saat itu juga, sorotan penuh semangat dari para
ksatria berkobar di dalam ruangan. Suara itu bergetar hebat, seolah-olah sedang
berusaha menutupi rasa cemas yang mendalam.
◇◆◇
Kembali ke rumah mewah di kawasan permukiman elit
yang menjadi tempat tinggal mereka selama di Babel bersama dua pengikutnya,
Knut duduk di sofa berbuka kulit binatang dan menyilangkan tangannya.
Wajahnya serius, sama sekali tidak menyisakan
kesan santai seperti biasanya.
'Ada apa? Bukankah itu tidak seperti dirimu
biasanya?'
Charybdis tiba-tiba muncul dan
bertanya kepada partnernya, Knut.
'Ada sedikit masalah merepotkan.'
'Masalah merepotkan?'
'Gil, keponakanku, telah menjadi lebih kuat
daripada aku yang berada dalam kondisi ini.'
'Hah! Mana mungkin! Bahkan dengan kekuatanmu yang
sangat dibatasi saat ini, kau memiliki kekuatan setingkat dewa rendahan, tahu!'
'Makanya kukatakan, Gil telah melangkah ke ranah
kita. Itulah yang kumaksud. Terlebih lagi, dua ksatria baru yang menjadi
pengikutnya juga berada di tingkat yang sama secara bersamaan.'
'Mana mungkin bodoh sekali—'
Charybdis tertawa meremehkan lewat hidungnya,
namun melihat Knut yang sama sekali tidak menunjukkan senyuman, Charybdis
mengubah nada suaranya menjadi serius.
'Apakah... itu benar?'
'Dua pengikutku dengan mudahnya ditekan oleh dua
ksatria miliknya. Terlebih lagi, tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun.'
'...'
'...'
Melihat pria berambut pendek dan wanita berpelayan
yang menunduk dengan ekspresi frustrasi sambil menggigit bibir bawah mereka,
Charybdis berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata.
'Knut, aku tadinya mengira kau adalah mutasi
monster yang muncul di antara ras manusia, tapi kenyataannya kau mungkin adalah
hasil dari genetik kebangkitan.'
'Genetik kebangkitan?'
'Itu adalah fenomena di mana darah para dewa yang
bercampur dengan nenek moyang di masa lalu tiba-tiba muncul kembali setelah
beberapa generasi.
Jika itu alasannya, maka penjelasan mengenai
kekuatan supernatural yang bangkit pada diri mu dan keponakanmu secara
bersamaan menjadi masuk akal.
Dua ksatria pengikutnya itu mungkin telah menjadi
bagian dari keluarga atau bawahan keponakanmu.'
'Genetik kebangkitan, ya... begitu ya, darahku
tidak salah lagi. Kalau begitu, kita bisa menyimpulkan bahwa masalah kali ini
tidak ada hubungannya dengan Kai Heineman. Bisa kita anggap begitu, kan?'
'Kai Heineman? Ah, anak manusia yang sempat kau
khawatirkan itu? Aku sudah menyelidikinya sendiri, tapi aku tidak merasakan
kekuatan yang berarti. Dia pastilah cuma anak kecil biasa.'
'Cuma anak kecil biasa, ya... begitu, kalau begitu
kita tidak perlu melakukan kewaspadaan berlebihan, kan?'
Mungkin karena telah mencapai kesimpulan yang bisa
diterima secara akal sehat, ketegangan yang membakar seperti api di diri Knut
telah lenyap, dan ia kembali bersikap santai seperti sediakala.
(Para bajingan bodoh...)
Loki yang tadinya diam menyaksikan interaksi
antara Knut dan Charybdis bergumam pelan dengan nada kecil.
'Hm? Loki, kau bilang sesuatu tadi?'
Menanggapi pertanyaan Charybdis...
'Tidak, tidak, tida—k, aku hanya merasa sangat
kagum dari lubuk hatiku yang paling dalam, betapa hebatnya darah Tuan Knut
itu.'
Loki menjawab sambil
berputar-putar menari dan bernyanyi.
'Tentu saja. Aku sebenarnya ingin
memusnahkan darah berbahaya semacam itu sedapat mungkin. Bagaimana? Keponakanmu
yang bernama Gilbert itu, perlukah aku yang menghabisinya? Kalau sekarang, dia
pasti bisa dibunuh dengan mudah.'
Menanggapi usulan Charybdis ini,
Knut memalingkan wajahnya dengan sudut yang tidak wajar.
Aura merah pekat yang memancar
bagaikan badai dari diri Knut membuat bangunan tersebut berderit retak, dan
kedua pengikutnya pun menelan ludah dengan susah payah.
Satu-satunya orang yang tetap
memasang senyuman aneh tanpa rasa takut hanyalah Loki.
'Charybdis, jika kau berani melakukan itu, akan
kubunuh kau seketika.'
Knut merendahkan suaranya melontarkan ancaman
penuh dendam.
'Aku sudah menduga kau akan menjawab begitu. Kalau
begitu, kita biarkan dia bebas untuk saat ini?'
Charybdis bertanya sambil
mengangkat bahunya. Seketika
itu juga, Knut kembali ke sifat aslinya.
'Tentu saja. Gil adalah keponakanku yang imut dan
manis. Suatu hari nanti dia pasti akan kembali ke sisiku. Kita hanya perlu
bersabar sampai saat itu. Tapi, dari kejadian kali ini, terbukti juga bahwa
kekurangan kekuatan di kubu kita memang nyata. Tentu saja, termasuk diriku
sendiri.'
Mengangguk dengan mantap, ia bangkit dari sofa.
'Dengan kekuatan aslimu, itu seharusnya bukan
ancaman yang besar... kehati-hatianmu itu sudah pada tingkat yang tidak
normal.'
'Begitukah. Bagaimanapun juga, aku berniat untuk
melahap emosi negatif dan mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi.'
'Emosi negatif, ya. Secara spesifik, apa yang akan
kau lakukan?'
'Mencari mata air tempat emosi negatif itu
terpancar. Hei, Charybdis, jika itu kau, kau pasti mengerti, kan?'
'Medan perang... jadi kau berniat menciptakan satu
lagi?'
Meskipun tertutup topeng sehingga tidak terlihat
jelas, dia pasti sedang tersenyum. Charybdis bertanya pada Knut dengan nada
antusias seolah-olah mereka hendak pergi piknik.
'Aku akan menciptakan neraka paling menakjubkan di
dunia ini! Saling membunuh, dibunuh, saling membenci, dibenci, itulah akar dari
kekuatanku dan alasan eksistensiku!'
Knut merentangkan kedua tangannya lalu berteriak.
Begitu Loki keluar dari rumah mewah tersebut...
'Kai Heineman cuma anak kecil? Betapa naifnya orang-orang itu.'
Sambil melirik kembali ke arah
rumah mewah dari balik bahunya, ia melontarkan kata-kata penghinaan. Ia segera memasukkan tangannya ke dalam
saku lalu berjalan menuju jalan sempit.
Di dalam kegelapan gang sempit, dua sosok pria dan
wanita berlutut di hadapannya.
Satu orang adalah wanita yang mengenakan penutup
wajah, dan satu lagi adalah pria bertubuh besar berambut hijau yang tampak
seperti buas.
'Bagaimana hasil upacara Feista?'
'Mengenai hal itu...'
'Jangankan menyusup, kalian bahkan
tidak sempat melihatnya, begitu?'
'......Ya.'
Melihat wanita bertutup wajah
bernama Hell itu mengangguk dengan ekspresi penuh penyesalan, Loki menghela
napas panjang.
Hell tidak bisa berbuat apa-apa. Dari fakta itu saja, tingkat kekuatan
musuh sudah bisa diukur dengan jelas.
'Dengan ini sudah pasti. Di balik Feista adalah
eksistensi yang setara dengan kita, Pasukan Jahat. Dan Kai Heineman yang
mengendalikan mereka. Setidaknya, orang itu adalah eksistensi yang berada di
ranah yang sama denganku.'
'Eksistensi yang berada di ranah yang sama dengan
Tuan Loki...'
Suara Hell yang mengulang perkataan itu terdengar
kaku, dan bagian mulut di balik penutup wajahnya sedikit bergetar. Wajar saja.
Loki adalah mantan penguasa generasi lama.
Dia memiliki kekuatan di kelas terkuat di antara
Enam Jendral Besar. Jika dikatakan bahwa orang itu setara atau bahkan lebih
kuat dari Loki, mustahil jika tidak merasa takut.
'Apakah dia senjata pamungkas Pasukan Surga?'
Pria bertubuh besar mirip buas, Jormungandr,
memastikan pada Loki. Meskipun dia tidak menunjukkan rasa takut yang jelas
seperti Hell, suaranya tetap kehilangan wibawa seperti biasanya.
'Entahlah. Bisa jadi tidak meleset jauh, atau
mungkin memang benar begitu.'
Kenyataannya, Kai Heineman hanya memiliki dua
kemungkinan.
Kemungkinan pertama adalah seperti yang dikatakan
Jormungandr—kartu As yang baru saja diperoleh oleh pihak Surga.
Berdasarkan intuisi Loki, kekuatan eksistensi itu
setara dengan Deus, dewa terkuat di antara Enam Dewa Surgawi, atau Poseidon,
dewa yang ditakuti sebagai yang terkuat sekaligus paling mengerikan di Pasukan
Surga.
Keduanya adalah tipe lawan di mana Loki sendirian
akan kesulitan menang. Setidaknya mereka berada di level di mana ia tidak bisa
melawan kecuali jika Lucifer dimanifestasikan.
Kemungkinan kedua jauh lebih buruk. Kemungkinan di
mana para penguasa dari generasi lama telah terlepas dari segel mereka.
Mereka adalah tipe orang-orang yang dulunya memicu
Perang Besar hanya demi keisengan semata.
Jika segel mereka benar-benar telah terlepas dan
mereka dilepaskan ke dunia saat ini, maka kita tidak punya waktu untuk saling
bertarung antara Surga dan Pasukan Jahat.
Jika kita tidak segera menyegel mereka dengan
kekuatan penuh Surga dan Pasukan Jahat, semua dunia akan kembali dipermainkan
sebagai mainan mereka.
Meskipun begitu, jika mereka adalah penguasa
generasi lama, dunia ini seharusnya sudah menjadi jauh lebih kacau dari
sekarang.
Setidaknya mereka tidak akan
membuat negara yang terdengar konyol seperti Feista. Kemungkinan ini bisa dikesampingkan untuk
sementara waktu.
Kai Heineman pastilah senjata buatan Surga.
Hell telah melaporkan bahwa kutukan di rumah
sebelumnya lenyap secara tidak wajar karena intervensi dari Kai Heineman.
Namun, orang itu memanfaatkan
monster dan Ras Iblis untuk mendirikan sebuah negara.
Hal ini terasa sedikit tidak wajar
sebagai tindakan dari pihak Surga. Orang itu adalah sebuah iregularitas di
antara pihak Surga.
Ya, kupikir dia adalah eksistensi
yang condong ke arah Tartarus—yang jauh lebih berbahaya daripada Poseidon yang
sulit diurus, atau bahkan hampir mendekati pihak Jahat.
Jika memang begitu, ada banyak
cara yang bisa dilakukan.
'Tuan Loki, apa yang harus kami lakukan
selanjutnya?' Hell,
'Hell, cobalah memulihkan komunikasi
dengan markas besar Pasukan Jahat. Secara bersamaan, tolong selidiki titik
singularitas juga. Jormungandr, kau lakukan investigasi terhadap dunia ini
termasuk reruntuhan, serta kumpulkan orang-orang kuat. Namun, sampai identitas
mereka jelas, jangan pernah terlibat dengan kekuatan Kai Heineman. Ini adalah
perintah.'
Menelan ludah dengan susah payah,
kedua sosok itu mengangguk dengan kuat dan menundukkan kepala mereka
dalam-dalam.
'Tapi, Tuan Loki, apa yang harus kita lakukan
dengan kelompok bodoh bernama Knut itu? Kita mungkin tidak sengaja menusuk
sarang lebah dan memancing ular keluar, tahu.'
Hell menanyakan kekhawatiran yang sangat wajar dan
harus diperhitungkan.
'Jika orang-orang itu membuat kekacauan, kita
tinggal kabur dengan seluruh kekuatan secepat mungkin. Melakukan hal seperti
itu setidaknya masih dalam batas kemampuanku.'
Kalau dipikir-pikir sekarang, Mara mungkin sudah
dikalahkan oleh Kai Heineman, sama seperti tiga orang lainnya yaitu Asura dan
kawan-kawan.
Bagaimanapun juga, Kai Heineman adalah kuda hitam
sejati.
Bentrokan frontal adalah hal yang
tabu sampai kita mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang dirinya.
Bergerak secara diam-diam di balik layar adalah pilihan terbaik.
Jika hanya Loki seorang, tidak
sulit untuk menyerahkan segalanya pada sekelompok orang tidak tahu diri seperti
Knut atau Charybdis, lalu kabur begitu saja.
Selama Loki dan yang lainnya masih
hidup, pihak Jahat belum kalah. Kita bisa melakukannya. Seharusnya memang
begitu.
'Wujudkanlah cita-cita kejahatan
kita!'
'Baik!'
'Siap laksanakan!'
Begitu mendengar teriakan serentak
dari suara Loki, kedua sosok itu melesat dan menghilangkan wujud mereka.
'Aku pasti akan melakukannya.'
Loki menggumamkan kata-kata itu seolah untuk
meyakinkan dirinya sendiri.
Illustrasi | ToC | Chapter 1



Post a Comment