NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Saijaku Hakugai Made Sareta Kedo - Chou Nankan Meikyuu de 10 Mannen Shuugyoushita Kekka Volume 9 Prolog

Prolog


Tiga bulan telah berlalu sejak insiden teror di Akademi St.Clan. Insiden itu membuat konflik terpendam antara ras Elf dan Manusia menjadi nyata, baik di Akademi St.Clan maupun Akademi Ouboro.

Pada awalnya, suasana di dalam Akademi St.Clan terasa sangat mencekam. Namun, setelah Libra yang menjadi kanker penyebab semua ini disingkirkan, keadaan tampaknya mulai kembali seperti sebelum insiden teror terjadi.

Beberapa hari yang lalu, aku sempat berbicara dengan Avery yang juga merupakan ketua yayasan Akademi St.Clan.

Dia menegaskan dengan penuh percaya diri bahwa para siswa akan segera membangun hubungan yang lebih baik dari sebelumnya.

Sepertinya, pengelolaan Akademi St.Clan berjalan dengan sangat lancar.

Tentu saja, yang berjalan lancar hanyalah hubungan antara dua ras, Elf dan Manusia, di dalam Akademi St.Clan saja.

Di antara siswa Akademi St.Clan dan Akademi Ouboro, masih ada hubungan superioritas yang rumit seperti biasanya. Akan tetapi, standar nilai yang dulunya mutlak itu perlahan mulai memudar.

Ada beberapa alasan di balik hal ini. Pertama, kelompok rasis seperti Kuko telah disingkirkan sepenuhnya.

Hasilnya, tidak ada lagi guru maupun siswa Akademi St.Clan yang melontarkan kata-kata hinaan secara terang-terangan.

Selain itu, kepindahan banyak siswa dari Akademi Ouboro ke Akademi St.Clan tampaknya turut berkontribusi dalam meredakan ketegangan hubungan ini.

Faktor yang lebih besar dari itu mungkin adalah kepindahan Torula dan kelompoknya, yang merupakan siswa dengan nilai tertinggi.

Kepindahan mereka dari Akademi St.Clan ke Akademi Ouboro telah mengubah hierarki mutlak tersebut.

Dalam hal ini, andai saja Torula dan yang lainnya merasa terhina atau terpuruk karena pindah ke Akademi Ouboro, dominasi mutlak Akademi St.Clan tidak akan goyah sedikit pun.

Namun nyatanya, Torula dan teman-temannya justru sangat gembira bisa pindah ke Akademi Ouboro.

Pada kelas gabungan antara kedua akademi yang baru-baru ini diadakan kembali, mereka dengan antusias menyebarkan berbagai macam cerita.

Akibatnya, terjadilah kejadian langka di mana banyak siswa Akademi St.Clan yang justru memohon agar bisa mengikuti kelas di Akademi Ouboro.

Meskipun ada banyak liku-liku seperti ini, kehidupan di Akademi Ouboro tampaknya terus melangkah maju dengan pasti.

"Kakak! Tolong ajari aku bagian yang tadi!"

Setelah kelas sihir berakhir, Torula mendatangi mejaku dengan mata berbinar sambil membawa buku pelajaran sihir.

Dia membuka halaman tertentu di bukunya dan memohon seperti itu.

"Ah, rapalan mantramu salah. Coba lafalkan seperti ini. Kekuatan dan akurasinya pasti akan meningkat."

Aku menuliskan perbaikan rapalan itu di buku pelajaran Torula.

"Hebat sekali, Kakak! Aku benar-benar berterima kasih!"

Dia menyampaikan rasa terima kasihnya. Karena Torula memohon agar aku melatih seni bela dirinya, aku sempat melatihnya sedikit di waktu luang.

Sejak saat itu, dia mulai memanggilku 'Kakak' dan anehnya menjadi sangat akrab denganku.

"Curang kau, Torula! Selanjutnya giliranku!"

"Tidak, aku duluan!"

Teman-teman Elf Torula berebut mendesak maju dengan buku pelajaran di tangan masing-masing. Sebelumnya, Torula merapalkan mantra dengan sangat berantakan.

Aku hanya mengoreksinya sedikit, tapi malah berakhir menjadi situasi seperti ini.

"Aku mengerti. Aku mengerti, jadi jangan terburu-buru, aku akan mengajari kalian semua."

Parahnya lagi, setelah mendengar kata-kataku pada Torula dan yang lainnya...

"Ka-Kalau begitu, aku juga!"

"Aku juga ingin diajari!"

Siswa-siswa lain pun ikut berkumpul dan memohon padaku. Sejujurnya, situasi ini benar-benar di luar dugaanku.

Lagipula, aku pada dasarnya tidak bisa menggunakan sihir. Normalnya, tidak ada yang mau belajar sihir dari orang sepertiku.

Meskipun begitu, aku sudah telanjur menyanggupinya dengan mudah. Bisa dibilang, ini adalah akibat dari perbuatanku sendiri.

"Kalau pengetahuan seadanya milikku ini sudah cukup, aku akan mengajari kalian dengan benar. Jadi, menunggulah sesuai giliran."

Satu per satu, aku mendengarkan bagian mana yang membuat para siswa kesulitan. Aku mengajari mereka seteliti mungkin.

Setelah aku akhirnya selesai menjawab semua pertanyaan dari teman sekelas dan mengambil napas lega, Shou mendekati mejaku.

"Kai, fakta bahwa kamu ini seorang pendekar pedang sudah tidak masuk akal lagi."

Dia melontarkan pendapatnya dengan nada tak habis pikir.

"Aku setuju. Pengetahuan sihir Kai pasti setara dengan Penyihir Tingkat Satu Babel atau Penyihir Istana Kerajaan Amelia!"

Sialnya, Rose ikut campur dalam percakapan kami dan melontarkan omong kosong yang mustahil seperti itu.

"Tidak, tidak, mana mungkin seperti itu!"

Shou langsung menyangkalnya sambil mengibaskan tangan kirinya kuat-kuat.

"Benar! Tidak mungkin para penyihir di dunia ini memiliki tingkat serendah itu!"

Aku juga sangat setuju dengan Shou. Pengetahuanku pada dasarnya hanyalah pengetahuan dari buku sihir yang digali dari Easy Dungeon itu.

Hal semacam itu seharusnya hanyalah pengetahuan umum yang pasti diketahui oleh penyihir kelas atas. Para penyihir terkemuka di dunia pasti akan tersinggung jika disamakan denganku yang awam dan tak bisa menggunakan sihir ini.

Lagipula, ini semua karena Rose yang selalu membesar-besarkan sesuatu, makanya aku berakhir seperti ini. Aku benar-benar ingin dia lebih menahan diri.

"Entah kenapa, obrolan ini terasa tidak nyambung sampai tahap yang mengerikan."

Mendengar gumaman Shou yang terdengar kurang puas, aku membalasnya.

"Lebih penting dari itu, Shou, apa yang akan kamu lakukan pada liburan panjang kali ini?"

Sebentar lagi, Babel akan memasuki liburan musim panas yang panjang. Itulah sebabnya seluruh kelas terlihat sangat bersemangat hari ini.

Mereka pasti akan memanfaatkan liburan ini untuk bersenang-senang.

"Aku... ada sedikit urusan. Sepertinya, aku akhirnya bisa mencapai tujuanku."

Emosi kelam dan kuat sekilas terlihat dari diri Shou. Rose yang berada di sampingku menahan napas dan meremas mantelku.

"Begitu, ya. Sebagai orang luar, aku tidak punya niat untuk mencampuri cara hidupmu. Tapi, jangan terlalu terobsesi, ya."

Karena salah satu bawahanku juga memiliki sorot mata yang serupa, aku bisa menebak garis besar tujuan Shou. Kemungkinan besar, ini soal balas dendam.

Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa mengutuk orang lain hanya akan menggali dua kuburan? Hasrat balas dendam yang terlalu kuat hanya akan menghancurkan hidup orang itu sendiri.

Tentu saja, aku tahu Shou tidak bisa berhenti. Aku juga sadar bahwa dia harus menyelesaikannya.

Yang kutakutkan adalah, Shou mungkin akan melupakan hal yang paling berharga baginya demi balas dendam.

"Ya, aku akan mengatasinya sebaik mungkin. Lalu, bagaimana denganmu sendiri, Kai? Apa yang akan kamu lakukan?"

Shou terang-terangan mengalihkan pembicaraan. Sepertinya dia memang sudah membuta akan sekitarnya.

Aku tidak ingin melihat pemuda dengan masa depan cerah jatuh ke dalam kegelapan. Sebisa mungkin aku tidak ingin ikut campur, tetapi mungkin inilah saatnya aku harus bergerak.

"Entahlah, mungkin aku akan memanfaatkan liburan ini untuk jalan-jalan bersama Faf. Mengajak Gil dan yang lainnya sepertinya ide yang bagus."

Sebentar lagi, upacara perkenalan Feista akan diadakan di Babel ini. Ini adalah acara besar pertama sejak Feista didirikan.

Sebagai bentuk apresiasi, mengusulkan liburan bersama Gil dan Char mungkin ide yang menarik. Apalagi Char belum pernah bisa meninggalkan Northground sebelumnya, jadi aku yakin dia akan sangat senang.

Terkait hal ini, setelah insiden di Northground berakhir, aku telah memerintahkan bawahanku untuk melepaskan atau memperkuat Magic Item yang menyatu dengan tubuh Char.

Meski ditangani oleh para pecandu pembuat item dari Pendaftaran Subjugasi yang punya keterampilan tak masuk akal, masalah ini ternyata sangat sulit untuk dipecahkan.

Namun pada akhirnya, perkuatan Magic Item yang berbaur dengan Char telah selesai. Kini, dia sudah bisa meninggalkan Northground.

Tinggal menentukan tujuan perjalanannya saja...

"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu pulang kampung ke Lamur? Kai juga sudah hampir setahun tidak pulang, kan?"

Tepat pada saat itu, Rose mengajukan usul yang tak terduga.

Bagiku, Lamur adalah kampung halaman masa lalu yang telah kubuang jauh-jauh hari.

Sepanjang masa kecilku, aku dianiaya hampir setiap hari di sana, jadi aku sama sekali tidak punya rasa sayang pada tempat itu.

Jika ada orang-orang yang membuatku peduli terkait Lamur, mereka hanyalah Rena, Keith dan keluarganya, Lyra, Lumine, dan Kakek.

Aku tidak punya kenangan indah di sana, jadi pikiran untuk pulang kampung tidak pernah terlintas di benakku.

"Benar juga. Mengunjungi kakek mungkin bukan ide yang buruk."

Meskipun aku menjawab begitu, aku sama sekali tidak berniat untuk kembali.

Memang benar aku sudah lama tidak pulang, tapi itu hanya perasaanku saja.

Bagi Kakek dan yang lainnya, ini baru beberapa tahun berlalu.

Kalau aku pulang sekarang, aku malah takut membuat mereka khawatir.

"Kalau begitu, aku juga akan ikut."

Tumben sekali Rose bersikeras seperti ini.

"Hmm, aku tidak keberatan. Mari kita berkunjung bersama nanti."

"Iya!"

Aku tersenyum masam melihat Rose mengangguk kegirangan, lalu kembali bersuara.

"Sudah waktunya untuk kelas praktik selanjutnya. Ayo kita pergi."

Aku bangkit dari tempat dudukku dan mendesak mereka berdua.

◇◆◇

Distrik Kedua Babel, tempat tinggal sementara bagi para bangsawan dari berbagai negara.

Di salah satu sudutnya, berdirilah kediaman Putri Kedua Louise Loto Amelia.

Bunga-bunga yang bermekaran di taman, air mancur di tengahnya, serta bangunan tua di bagian belakang memberikan nuansa fantastis bagi siapa pun yang berkunjung.

Di dalam ruang tamu bangunan empat lantai tersebut, Louise tengah menunggu kedatangan seseorang.

"Aku benar-benar tidak menyangka akan bekerja sama dengan mereka..."

Ketika Louise meluapkan perasaannya secara terus terang, seseorang menanggapi.

"Aku sependapat. Aku yakin sekali mereka akan bersekutu dengan monster itu."

Seorang pemuda berambut putih dengan mata menyipit tajam yang duduk di hadapannya ikut menimpali.

Dia adalah tangan kanan Louise, pria yang dikenal sebagai pemburu terkuat, Isaac Giesdoor.

"Ah, mereka pasti berubah pikiran setelah mendengar reputasinya, kan? Gara-gara dia, reputasi negara kita jadi hancur berantakan. Itu sudah wajar!"

Rasa jijik yang kuat tergambar jelas di wajah Louise saat ia melontarkan kata-kata itu.

"Aku setuju dengan itu. Namun saat ini, hampir semua bangsawan tingkat tinggi telah menyatakan dukungan mereka pada monster itu."

"Seberapa banyak kita bisa menjatuhkan dukungan mereka dalam pidato opini publik mendatang akan menjadi kunci kemenangan kita. Demi hal itu..."

"Kita harus menarik simpati pahlawan yang sangat populer di kalangan bangsawan tinggi, ya. Menyedihkan sekali rasanya jika kita tidak bisa merebut takhta tanpa bantuan para pengkhianat negara yang tidak kompeten itu."

Louise mengeluh sambil bersandar di sofa dan menatap langit-langit.

"..."

Isaac menatapnya dalam diam sambil tersenyum. Melihat sikapnya itu, Louise bertanya.

"Ada apa?"

Louise mengerutkan keningnya dengan curiga dan mendesaknya.

"Bukan apa-apa. Lebih penting lagi, apa yang akan kita lakukan terkait upacara pendirian Negara Monster mendatang?"

"Maksudmu negara konyol itu? Karena para petinggi dari berbagai negara akan hadir, tentu saja aku juga akan datang."

"Apakah Anda sudah mendengar rumor tentang pemimpin baru Negara Monster itu?"

"Ya, itu bukan sekadar rumor, tapi kebenaran. Baru saja, utusan dari negara baru Feista datang mengantarkan surat undangan ini dengan sangat sopan."

Louise melemparkan benda mirip kartu dari tangan kirinya ke atas meja. Isaac memungutnya dan memeriksanya.

"Ketua Dewan Jenderal, Gilbert Loto Amelia... Dia yang begitu menjunjung tinggi supremasi bangsawan kini menjadi Raja Monster... Rasanya sulit untuk dipercaya."

"Ya, jika melihat perilaku Kakak akhir-akhir ini, aku sangat memahami perasaanmu itu. Namun, dia baru beralih ke supremasi bangsawan dalam beberapa tahun terakhir ini."

"Jika dibandingkan dengan Kakak di masa lalu, hal ini tidak terlalu mengejutkan. Yang jauh lebih membuatku penasaran adalah tindakan Kakak Rose. Tepatnya, tentang Royal Guard miliknya itu."

"Kai Heineman... kah..."

Saat nama itu terucap, ekspresi emosi yang kuat dan tak terbantahkan sekilas melintas di wajah sang pemburu terkuat.

"Dia itu kuat, kan?"

"Ya, sangat kuat. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan, tidak diragukan lagi bahwa dia adalah dalang di balik berdirinya Feista kali ini. Jangan pernah berpikir bahwa dia itu tidak kompeten."

"Aku tahu. Tapi sungguh, ini telah menjadi situasi yang di luar nalar. Aku sudah punya firasat buruk sejak mendengar bahwa perdana menteri monster itu yang akan mengambil keputusan..."

Louise mengucapkannya dengan penuh kebencian.

"Ya. Fakta bahwa pria sinting itu bergerak secara terang-terangan pasti memiliki makna yang dalam."

"Penunjukan Kai Heineman, sang penguasa mutlak, sebagai Royal Guard. Pembebasan sang pangeran monster Knut, serta partisipasinya dalam pemilihan raja. Semua situasi yang sangat rumit saat ini mungkin sudah direncanakan oleh pria itu."

Begitu mendengar ucapan Isaac yang terdengar lelah, senyum di wajah Louise lenyap seketika. Dan kemudian—

"Apakah kamu berniat mengatakan bahwa dia menjadi Royal Guard wanita itu juga merupakan skenario yang ditulis oleh Johannes?"

Louise bertanya pada Isaac dengan suara yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Aku tidak tahu sampai sejauh itu. Namun, melihat keadaan para Putri saat ini, sangat mudah membayangkan bahwa situasi ini adalah tepat seperti yang diharapkan sang Perdana Menteri."

Isaac menegaskan hal itu dengan raut wajah muram.

"...Jadi semuanya masih dalam batas perhitungannya, ya... Ini benar-benar membuatku muak..."

Louise meraih cangkir di depannya dan menyesapnya dengan anggun, seolah berusaha menenangkan hatinya.

"Apakah Tuan Putri pernah bertemu dengannya di masa lalu?"

Isaac menyilangkan kedua lengannya dan bertanya sambil memejamkan sebelah matanya.

"Ya, dulu Kakek pernah meminta Maria menjadi pengawalku. Dialah yang menjadi teman bermainku saat itu. Tapi sepertinya, dia sudah benar-benar melupakanku."

Louise menjawab dengan nada yang entah mengapa terdengar kesepian.

"Apakah Putri Rose juga bertemu dengannya saat itu?"

"Mereka berdua sudah sama-sama lupa, sih..."

Louise menegaskannya dengan sikap dingin.

"Soal Maria yang menjadi pengawal Anda, kapan tepatnya hal itu terjadi?"

"...Aku tidak mengingatnya dengan jelas. Lebih dari itu, sepertinya orang yang kita tunggu sudah tiba."

Louise menghentikan pembicaraan secara paksa. Ia mendesak Isaac dan bangkit dari tempat duduknya.

Segera setelah itu, pintu ruangan diketuk. Seorang kepala pelayan masuk dan melapor.

"Pahlawan Mashiro telah tiba."

Dia melapor dengan penuh hormat.

"Persilakan dia masuk."

"Baiklah."

Kepala pelayan itu membungkuk sekali, lalu keluar.

"Pahlawan Mashiro, selamat datang di kediamanku."

Louise memegang ujung roknya dan membungkuk memberi salam.

"Ah, sudah lama tak berjumpa, Louise."

Mashiro membalas sapaan Louise dengan seadanya.

"Ya, lama tidak bertemu."

Atas isyarat dari Louise, mereka berdua duduk di sofa.

"Kita sama-sama sibuk. Mari langsung ke intinya. Selama kau menyetujui persyaratan kami, kami siap bekerja sama."

Louise tersenyum mendengar tawaran dari Mashiro ini.

"Melanjutkan perang dengan para Iblis, kan? Tapi dengan berdirinya Feista, bukankah secara fisik hal itu sudah tidak mungkin dilakukan?"

"Aku tidak mengakui berdirinya negara semacam itu. Karena itulah, perang bisa tetap dilanjutkan."

"..."

Louise meminum tehnya dalam diam sambil tetap tersenyum pada Mashiro yang menjawab seakan-akan hal itu sudah sewajarnya.

Menggantikan Louise yang bungkam...

"Tuan Mashiro, kami tidak berniat menaiki kapal karam hanya untuk memuaskan hasrat balas dendam pribadimu."

Isaac menanggapi dengan nada yang tertahan.

"Kalau begitu, tidak ada kerja sama di antara kita."

Mashiro beranjak berdiri. Namun, seorang pria tampan berambut merah dengan potongan two-block, Paladin Hijiri, tidak beranjak sedikit pun dan hanya meminum teh yang disajikan.

"Hijiri?"

Mashiro mengerutkan alisnya dan mempertanyakan maksud Hijiri.

"Duduklah, Mashiro. Pembicaraan kita belum selesai."

Hijiri memerintah Mashiro dengan nada mutlak. Sikap Hijiri yang bahkan enggan menatapnya membuat anggota rombongan tim pahlawan lainnya saling berpandangan dengan kebingungan.

"Hijiri!"

Mendengar Mashiro membentak marah...

"Kubilang duduklah, Mashiro! Kalau kau tidak bisa tetap tenang bahkan untuk melakukan hal ini, aku tidak akan bisa lagi mengikutimu!"

Hijiri berteriak tanpa membalas tatapannya. Melihat sikap Hijiri, Mashiro mengerjapkan mata karena terkejut. Akan tetapi, tak lama kemudian seluruh tubuhnya sedikit bergetar menahan amarah.

"Hijiri..."

Terhadap Mashiro yang mengerang penuh kekesalan...

"Akan kukatakan sekali lagi. Duduk."

"..."

Mashiro menggemeretakkan gigi belakangnya mendengar perintah sepihak Hijiri. Namun kali ini, ia duduk kembali dengan tenang.

"Mari kita hentikan tawar-menawar yang tidak berguna dan bicaralah dari hati ke hati. Mengingat upacara pendirian Feista akan tetap diadakan, semua rumor yang beredar di luaran sana pastilah benar. Dengan kata lain—"

Hijiri melirik singkat ke arah Mashiro yang masih merajuk, lalu memotong kalimatnya.

"Wilayah Raja Iblis dari Negara Kegelapan dan Negara Kabut telah digabungkan ke dalam Feista."

Isaac melengkapi ucapan Hijiri.

"Ya, dan karena upacara diadakan di Babel, fondasi lobi-lobi dengan negara-negara lain kemungkinan besar sudah diselesaikan."

Pernyataan Hijiri tersebut membuat ruangan riuh seperti dahan pohon willow yang tertiup angin.

"Cakupan lobi ini tidak hanya meliputi jajaran atas tiap negara, tetapi juga menyentuh para petinggi Kerajaan Amelia. Terlebih lagi, dengan dukungan dari pimpinan setiap negara, Pihak Gereja pun tidak akan bisa banyak melawan."

"Salah melangkah sedikit saja, Gereja berisiko dicabut izin misinya dari berbagai negara. Dalam situasi di mana protes sekecil apa pun tak tertoleransi ini, kalau kita nekat menentang berdirinya negara dan memicu peperangan, kita akan menjadi musuh dunia. Benar begitu, kan?"

"Benar. Kita akan dianggap sebagai penjahat kejam yang membantai warga tak bersalah yang disebut monster, dan menjadi musuh dunia. Kalau itu sampai terjadi, kehancuran kitalah yang menanti."

"Itulah sebabnya, untuk saat ini kami juga ingin memantau perkembangan situasi."

Mendengar penegasan Hijiri ini, Mashiro menggigit bibir bawahnya dengan frustrasi. Namun kali ini, ia tidak melontarkan sanggahan apa pun.

"Biar saya tanya terus terang. Apa sebenarnya yang diinginkan oleh pihak Pahlawan?"

Untuk menjawab pertanyaan Isaac...

"Tidak ada yang khusus. Terus-terusan terobsesi mengalahkan Ras Iblis dan monster tidak akan memberikan keuntungan sedikit pun bagi kami."

"Meski begitu, tak bisa dimungkiri juga bahwa kami tidak bisa sepenuhnya mempercayai mereka. Oleh karena itu, kami ingin mengumpulkan rekan sejawat secara diam-diam sebagai persiapan jika sewaktu-waktu mereka lepas kendali."

Hijiri menyilangkan tangannya dan membalas dengan nada serius.

"Maksudmu, Feista suatu saat akan lepas kendali?"

Louise yang sedari tadi tutup mulut kini menyuarakan keraguannya pada Hijiri.

"Aku tidak berkata sejauh itu. Kalau mereka tidak mengamuk, ya sudah tidak masalah. Kami hanya tidak bisa menelan mentah-mentah gerak-gerik mereka. Kalian sendiri juga berpikiran sama, kan?"

"Ya, negara ideal bagi para monster dan Ras Iblis. Perselisihan antara kami dan Ras Iblis tidaklah sekecil itu sampai kami bisa begitu saja memercayainya. Kalau begitu tujuannya, kupikir kita bisa saling bekerja sama."

Mendengar ucapan Louise...

"Kalau bicara soal niat asli para petinggi dari berbagai negara, mereka pasti tidak ingin mengakui keberadaan organisasi merepotkan semacam Feista ini."

Hijiri juga mengangguk pelan seraya menambahkan penjelasan.

"Tentu saja. Justru karena itulah, terbentuk makna dari kerja sama kita."

"Tepat sekali. Sepertinya kita sudah mencapai kesimpulan. Untuk sementara waktu, kita akan saling bergandeng tangan. Sepakat?"

"Tentu, mari kita bekerja sama demi mewujudkan cita-cita yang kita yakini masing-masing."

Louise berdiri dan mengulurkan tangan kanannya pada Mashiro.

Mashiro berdiri tanpa menatapnya, lalu beranjak keluar ruangan tanpa menyambut uluran tangan itu.

"Maaf. Mashiro sendiri masih belum bisa menerima sepenuhnya masalah kali ini."

"Aku memakluminya."

Anggota tim Pahlawan lainnya pun membungkuk hormat kepada Louise yang masih tersenyum, kemudian mereka ikut undur diri.

Ketika semua orang telah meninggalkan ruangan...

"Orang-orang bodoh..."

Louise bergumam pelan.

"Bicara tentang upacara pendirian Feista tadi—"

Ia kembali menoleh pada Isaac, lalu mulai merundingkan langkah mereka selanjutnya.

◇◆◇

Kawasan permukiman elit di Distrik Kedua Babel.

"Upacara itu, pasti akan berakhir rusuh..."

Ketika Raja Amelia—Edward Loto Amelia—mengeluhkan hal itu...

"Pangeran Knut dan Pahlawan Mashiro akan hadir. Sudah pasti akan terjadi setidaknya satu keributan kecil."

Tanggapan Perdana Menteri Kerajaan Amelia, Johannes, yang terlalu datar itu membuat kemarahan Edward mendidih.

"Kau sendirilah yang mengizinkan mereka berdua hadir! Selama mereka ada di sana, upacara itu sudah pasti akan kacau balau!"

"Terlebih lagi, Kai tidak akan menghadiri upacara kali ini. Ini berarti, sama sekali tidak ada yang mampu menghentikan tindakan mereka berdua!"

Pada pertemuan dengan para pemimpin dunia sebelumnya, Edward telah merasakan kembali secara langsung betapa mengerikannya seorang Kai Heineman.

Sikap Avery, Ratu negara Elf agung Lorelei saat ini, masih bisa dipahami. Ia pasti sudah mendengar cerita mengenai Kai dari kerabatnya, Inea.

Namun, bahkan penguasa tertinggi dari negara adidaya Butou, Musashi, serta Kaisar Amnes dari Kekaisaran Gritnil pun terang-terangan menunjukkan ketakutan mereka pada Kai.

Secara khusus, Kaisar Amnes adalah seorang legenda hidup yang dijuluki Kaisar Penakluk.

Ia adalah penguasa murni yang posisinya jelas-jelas jauh berada di atas Edward.

Tapi bahkan sosok seperti Amnes pun terus meringkuk dan gemetaran layaknya anak kelinci dari awal hingga akhir pertemuan.

Kemungkinan besar, semua orang yang hadir di sana dalam hati mereka sebenarnya tidak ingin berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.

Namun, jika mereka tidak hadir, itu bisa berujung pada kehancuran negara mereka sendiri.

Aku yakin, seluruh pihak yang datang sangat menyadari bahaya tersebut dan mempertaruhkan nyawa mereka demi hadir di rapat itu.

Di tengah kondisi semacam itu, mustahil kesepakatan yang telah dibuat bisa dirombak hanya karena bualan Knut atau Pahlawan Mashiro di hari upacara.

Kesimpulan dari rapat itu sudah mutlak. Masalahnya adalah, jika Kai tidak ada di acara, Knut atau Pahlawan Mashiro bisa saja menghasut bangsawan tingkat tinggi Kerajaan Amelia untuk mengklaim kendali atas Feista.

Apabila itu terjadi, situasinya akan menjadi sangat kacau. Tentu saja, negara-negara lain yang gentar pada sang monster Kai hanya akan diam mengamati.

Kemungkinan terburuknya adalah Kerajaan Amelia nekat menuntut kepemimpinan atas Feista, dan seandainya saja tuntutan itu diamini oleh mayoritas pihak yang hadir, hal itu akan resmi menjadi kebijakan bagi seluruh Kerajaan Amelia.

Jika skenario itu terjadi, perang melawan Feista tak bisa dihindari.

Kai adalah pria yang selalu menepati kata-katanya.

Dia pasti akan mencap Kerajaan Amelia sebagai musuh, dan negara-negara lain akan berpihak pada Feista.

Pada saat itulah, riwayat Kerajaan Amelia akan tamat.

Singkat kata, mengizinkan Knut dan Mashiro untuk hadir adalah langkah paling buruk dan ceroboh yang bisa mempercepat runtuhnya Kerajaan Amelia jika salah sedikit saja.

"Kalau begitu, haruskah kita membatalkan kehadiran mereka berdua sekarang juga?"

"Mana mungkin kita bisa melakukan hal semacam itu sekarang! Kalau kita melarang mereka hadir, kita tidak akan pernah tahu apa yang bakal diperbuat Knut, apalagi si Pahlawan itu!"

Knut tidak memercayai prinsip kemurnian darah yang diagung-agungkan para bangsawan tinggi, ia pada dasarnya memegang prinsip bahwa kekuatan adalah segalanya.

Namun, tujuan akhirnya adalah utopia yang berpusat pada Ras Manusia.

Dia menganut ideologi busuk yang menyatakan bahwa negara-negara Ras Manusia harus bersatu membentuk sebuah negara tunggal, sementara ras-ras lainnya dikelola dan dikendalikan sebagai negara bawahan.

Ideologi adiknya ini berakar dari pemikiran cacat bahwa Ras Manusia adalah makhluk yang terlalu lemah, tidak berbakat, bodoh, serta tidak tertolong, sehingga merekalah yang harus diselamatkan.

Pemikiran yang sekilas tampak kontradiktif ini entah mengapa mendapatkan dukungan fanatik dari para kesatria muda dan aparat penegak hukum.

Bagi Knut, negara monster ini jelas sangat bertolak belakang dengan cita-citanya. Ia tidak mungkin bisa menoleransinya.

Pria seperti Knut pasti akan memprovokasi para bangsawan tingkat atas demi merampas kekuasaan Feista.

Pahlawan Mashiro pun pasti tidak akan keberatan dengan rencana tersebut.

Kalau itu sampai terjadi, hal ini bukan hanya bisa memicu perang saudara, melainkan juga ikut menyeret Feista yang berstatus negara baru.

Edward sangat paham seberapa mirip adiknya itu dengan monster. Pria sepertinya tak berani membayangkan apa jadinya bila Knut dan Kai saling berhadapan di medan pertarungan.

Yang pasti, masa depan yang menanti di ujung sana hanyalah lautan mayat tak terhitung jumlahnya beserta kehancuran Kerajaan Amelia.

Sebagai seorang Raja, ia sama sekali tak bisa menoleransi skenario seperti itu.

"Mohon maaf sebelumnya, tetapi jika kita menolak kehadiran mereka, mereka hanya akan memicu kekacauan secara diam-diam. Jika demikian, bukankah lebih baik kita memperjelas semuanya di depan mata publik?"

"Meskipun hal itu akan mengakibatkan perpecahan total?"

"Dari awal, hubungan dengan mereka itu bagaikan air dan minyak, tak akan pernah bisa menyatu. Kita ini memang sudah hancur sejak awal."

"Itu mungkin saja benar, tapi apa untungnya repot-repot menyiramkan minyak ke dalam kobaran api?!"

"Tentu saja, itu dilakukan agar kita bisa secara resmi mengatur ulang perebutan takhta ini dari awal."

"Kalau begitu, kenapa sampai memanggil Mashiro juga!? Dengan tersingkirnya Gil kali ini, dia seharusnya sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Perang Tahta!?"

"Saya sudah menyampaikan bahwa kita akan memulai ulang dari awal."

Tanpa merusak ekspresi besi yang seperti biasanya, Johannes menjawab dengan nada seolah itu hal yang wajar.

"Makanya, aku bertanya apa hubungannya memulai ulang dari awal dengan menyuruh Mashiro menghadiri upacara!?"

"Saat ini, perbedaan kekuatan dalam Perang Tahta sudah terlalu besar hingga permainannya tidak akan berjalan. Oleh karena itu, saya telah mengambil satu tindakan."

Laki-laki ini dengan santainya mengucapkan hal yang sungguh tidak masuk akal.

"Johannes, maksudmu kamu sendiri yang ikut campur!?"

Sungguh tidak bisa dipercaya. Pria yang tampak seperti perwujudan keadilan dan kejujuran itu ikut campur dalam Perang Tahta ini.

Hal itu benar-benar sangat sulit dipercaya.

"Yah, itu hanya sekadar saran untuk kubu tertentu."

"Dan itu ada hubungannya dengan kehadiran Sang Pahlawan di upacara kali ini?"

"Ya. Walau terbilang agak tidak langsung."

"Kamu pasti tidak akan memberitahuku hal yang lebih spesifik, kan?"

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya."

Johannes menegakkan tubuhnya, lalu menundukkan kepala.

Sudah kuduga. Namun, jika Johannes sampai harus turun tangan, berarti perbedaan kekuatan perang yang terjadi memang benar-benar tidak bisa diatasi hanya dengan usaha individu semata.

Di sini muncul satu pertanyaan. Hal yang sejak tadi mengganjal bagaikan duri di dalam tenggorokan, yaitu—

"Apakah Perang Tahta yang sedang berlangsung sekarang benar-benar bertujuan untuk memilih raja?"

Sebelumnya Johannes pernah berkata bahwa tujuan dan hakikat dari Perang Tahta itu sendiri telah berubah drastis.

Aku tidak bisa mengusir perasaan bahwa permainan yang berlangsung saat ini hanyalah mengatasnamakan Perang Tahta demi tujuan besar lainnya.

Johannes menyunggingkan sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis.

"Saya bersumpah Perang Tahta ini adalah pertarungan sungguhan demi memilih raja yang sejati, dengan mempertaruhkan jiwa dan harga diri masing-masing."

Dia menegaskan hal itu.

"Memilih raja yang sejati, ya."

Jika begitu, ada satu hal yang tidak masuk akal. Yaitu fakta bahwa Johannes menyebut Gil sebagai raja yang sejati.

Jika dia memang pantas menjadi raja sejati, justru seharusnya Gil makin diikutkan dalam Perang Tahta.

"Apakah tujuan dan hakikat Perang Tahta sudah berubah drastis... Tidak mungkin, kan..."

Hal semenggelikan itu tidak mungkin terjadi.

Aku menggelengkan kepala kuat-kuat ke kiri dan ke kanan, menepis pikiran yang mendadak terlintas itu.

"Yang Mulia. Kalau begitu, untuk upacara tiga hari lagi, mohon jalankan sesuai rencana."

"Aah, aku mengerti."

Bagaimanapun juga, tidak ada cara lain selain melewati upacara itu dengan selamat.

Setelah Johannes memberi hormat dan melangkah keluar ruangan, para menteri pun menyusul keluar satu per satu setelah memberi penghormatan.

Wibawa dan karisma ini.

Jika Johannes menjadi raja dan memegang pemerintahan, negara ini pasti akan jauh lebih baik.

Aku selalu berpikir begitu. Namun, pria ini selalu memilih berada di balik layar dan tidak pernah mau tampil ke depan.

"Hal-hal di dunia ini memang tidak pernah berjalan sesuai keinginan..."

Edward mengucapkan kalimat yang sudah berkali-kali dia ulang, sebuah kalimat yang rasanya tak ubahnya seperti kekalahan.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, hari dilaksanakannya upacara pendirian negara Faesta.

Para tamu undangan berdatangan satu demi satu ke Aula Besar Babel yang menjadi lokasi acara.

Penguasa tertinggi dari berbagai negara yang menggerakkan dunia hadir di sana, mulai dari Ratu Negeri Elf Lorelei saat ini, Avery; Wakil Raja dari negara besar di timur, Butou, yaitu Musashi; hingga Kaisar Kekaisaran Glitnir, Amnes.

Mungkin hanya Raja Negeri Dwarf yang memiliki dendam dengan Kai saja yang tidak hadir.

(Kumohon, bersikaplah tenang!)

Sambil merasakan lambungnya yang melilit nyeri, Edward menyuarakan harapan tulusnya dengan berbisik pelan, entah untuk yang ke berapa kalinya.

Pendirian Faesta telah disetujui oleh petinggi Kerajaan Amelia, Kekaisaran Glitnir dengan wilayah terluasnya, negara besar Elf Lorelei, negara besar timur Butou, serta faksi Kepala Akademi Babel saat ini dan petinggi Guild Hunter.

Hanya sedikit pihak di dunia ini yang sanggup menentang kehendak negara-negara besar tersebut. Lebih tepatnya, hal itu mustahil dilakukan kecuali seluruh negara lain bersatu menentang pendirian ini.

Lagi pula, para petinggi negara-negara itu bukannya bodoh. Mereka pasti sudah mendengar kabar bahwa negara-negara besar telah memberikan persetujuan.

Oleh karena itulah, perasaan yang dimiliki para hadirin pemegang tampuk pemerintahan dunia hanyalah rasa ingin tahu yang sangat kuat.

Tidak ada satu pun yang berpikir upacara ini akan ditolak, dan semua orang menahan napas sambil memaku pandangan ke arah pintu masuk.

Lalu, orang-orang yang paling membuat Edward pusing dalam upacara ini pun menunjukkan batang hidungnya.

Yang melangkah masuk ke dalam ruangan adalah rombongan Pahlawan Kerajaan Amelia—kelompok Mashiro.

Gadis cantik berambut hitam berkilau yang panjang di paling depan adalah Pahlawan Mashiro.

Di belakangnya menyusul pria rupawan berambut merah dengan gaya two-block, sang Paladin Hijiri, serta pemuda tampan berambut hitam yang merupakan Sage Satoru.

Di saat yang sama, ada sosok tak terduga di samping Mashiro.

Sosok itu adalah putri kedua Edward, Putri Kedua Louise, bersama Royal Guard-nya yang merupakan hunter terkuat, Isak Guizedor.

Melihat situasi itu, apakah berarti Louise dan rombongan Pahlawan Mashiro telah bekerja sama...?

"Johannes, jadi inikah hal yang kamu campuri itu?"

Saat aku menoleh ke belakang dan bertanya pada Johannes, pria berbadan besar berambut hitam yang siaga di sana,

"Entahlah, bagaimana ya?"

Sambil mengulum senyum, Johannes memberikan jawaban ambigu yang bisa diartikan seperti apa saja.

Memang benar, meskipun ada hunter terkuat Isak Guizedor di pihak mereka, faksi lain yang dihadapi adalah adik kandungnya yang bereputasi buruk, Cnut, serta monster terkuat dalam sejarah, Kai Heinemann.

Cnut dan Kai Heinemann sudah berada jauh di luar batasan ras manusia.

Meskipun berada di puncak dunia hunter, Isak yang masih dikategorikan sebagai manusia biasa jelas memiliki perbedaan kekuatan yang cukup lumayan.

Tampaknya Johannes menarik Pahlawan Mashiro, yang sama-sama berstatus monster, ke kubu Louise demi menyeimbangkan keadaan.

Seorang pemuda tampan berbadan tinggi dengan rambut merah panjang yang mengenakan pakaian putih megah bersahaja lengkap dengan selempang merah besar dari bahu ke pinggang menampakkan diri.

Di belakangnya menyusul pria berambut pendek yang berotot dengan tatapan tajam, serta wanita cantik berambut hitam bergaun maid.

Dia adalah adik kandungku, Cnut.

Cnut berjalan mendekat hingga ke samping Edward, lalu duduk di sebelahnya. Dan—

"Hai, Kakanda. Bagaimana kabarmu?"

Dia mengucapkan kalimat penuh kepalsuan seperti itu.

"Berkat dirimu, sepertinya lambungku sebentar lagi akan berlubang karena stres."

Bahkan terhadap sindiran Edward itu,

"Ya, ya, yang penting Kakanda kelihatan sehat."

Tanpa merasa terganggu sedikit pun, Cnut menjawab dengan kalimat asal-asalan seperti itu.

"Omong-omong, Kakanda, apakah Royal Guard-nya Rose hadir?"

"Tidak, Rose dan Royal Guard-nya menyatakan tidak bisa hadir."

Ketidakhadiran Kai Heinemann di upacara ini. Hal itu adalah satu-satunya kecemasan dalam acara ini, sekaligus sumbu ledak menuju kehancuran Kerajaan Amelia.

Aku benar-benar berdoa agar acara ini bisa berakhir dengan selamat.

"Absen, ya... Sayang sekali. Padahal aku ingin melihat seperti apa orang yang sudah melakukan pencucian otak sejahat itu pada Gil."

Wajahnya memang tersenyum, tapi matanya sama sekali tidak menyiratkan tawa.

Sejak kecil, Cnut adalah satu-satunya di antara anak-anak kandung Edward yang terkesan memperhatikan Gil.

Dan Gil yang sama itu, kali ini justru menyatakan diri akan menjadi raja para monster dan iblis.

Bagi Cnut yang menganut supremasi ras manusia, Kai Heinemann tentu sosok yang sangat tidak bisa diampuni.

"Tokoh utama hari ini telah tiba."

Johannes berbisik di telinga Edward untuk melaporkan. Sesaat kemudian, sorak-sorai geger membahana di seluruh ruangan.

Di ujung arah pandang semua orang, tampak seorang pemuda tampan berambut pirang menampakkan diri, didampingi oleh dua orang pengikut serta beberapa monster dan iblis.

Gilbert naik ke atas panggung Aula Besar dan duduk di kursi panjang yang berada di bagian dalam.

Di sampingnya duduk seorang gadis manis berambut hitam dengan telinga kucing dan dua ksatria muda, lalu para monster dan iblis pun ikut mengambil tempat duduk mereka masing-masing secara berurutan.

—Apakah itu benar-benar Gilbert, anakku?

Itulah kesan jujur Edward saat melihat sosok Gilbert.

Pakaian Gilbert tidak lagi bergaya bangsawan norak dengan banyak hiasan berlebihan seperti dulu, melainkan setelan pakaian hitam dengan jaket bermotif sulaman indah.

Dipadukan dengan gesturnya yang gagah berwibawa, tampilannya benar-benar sangat pantas menjadi seorang raja dari suatu negara.

Gilbert sebelum menerima ujian dari Kai Heinemann hanyalah sesosok anak kecil yang masih menyisakan kekanak-kanakan dan keluguan.

Dia sama sekali bukan tipe orang yang bisa membawakan diri seperti itu.

"Kalau begitu, pembawa acara untuk upacara pendirian negara Faesta kali ini akan dipandu oleh saya, Inea."

Mantan Kepala Akademi Tertinggi Babel, Inea, berdiri di atas panggung dan mengucapkan hal yang benar-benar mengejutkan bagai petir di siang bolong.

Dalam sekejap, ruangan menjadi riuh bagaikan jangkrik yang dipanggang.

Tentu saja begitu. Inea Lenlen Lorelei.

Mantan Ratu Negeri Lorelei, sekaligus mantan Kepala Akademi Tertinggi di Kota Akademi Babel.

Sosok legenda hidup yang telah mengukir berbagai pencapaian agung sejak ratusan tahun lalu.

Sosok sekelas dirinya dipaksa pensiun begitu saja hanya karena mengganggu Kai Heinemann saat ujian masuk Babel.

Menurut laporan dari Badan Intelijen, sejak saat itu dia beraktivitas sebagai salah satu pengajar biasa di Akademi Ouboro, akademi dengan tingkat akademis terendah di Babel.

Inea yang seperti itu tiba-tiba menjabat sebagai pembawa acara upacara pendirian Faesta.

Hal ini memiliki arti yang sangat besar.

Inea adalah pahlawan besar bagi Negeri Lorelei.

Jika sampai terjadi kekacauan di upacara ini, itu akan mencoreng namanya, dan jika buruknya terjadi, dia bisa kehilangan kepercayaan dari rakyatnya.

Alasan mengapa senyum Ratu Avery tampak kaku sejak tadi kemungkinan besar adalah karena hal ini.

Begitu pula dengan para bangsawan dari berbagai negara yang hadir hari ini, tidak sedikit di antara mereka yang semasa sekolah di Babel pernah diajari sihir oleh Inea.

Ditambah lagi, murid langsung Inea adalah pahlawan hunter, Ralph Excel.

Dengan kata lain, selama Inea yang menjadi pembawa acara, tidak ada yang bisa bertindak gegabah di upacara ini.

Pasalnya, jika sampai memicu masalah, sudah dipastikan pelakunya akan dimusihi oleh hampir semua orang yang ada di tempat ini.

Di dunia yang luas ini, hanya ada satu orang yang sanggup meminta Inea menjadi pembawa acara upacara. Orang itu adalah Kai Heinemann.

Tampaknya monster itu memanfaatkan momentum upacara ini untuk membungkam semua pendapat negatif terhadap monster dan iblis.

Yah, mengingat betapa cerdasnya Kai Heinemann yang mengerikan itu, mungkin dia juga memikirkan hal-hal lain yang bahkan tidak sanggup dibayangkan oleh Edward.

"Kalau begitu, pertama-tama, mohon kata sambutan pembuka dari Pahlawan Mashiro-sama."

"—!?"

Kegemparan yang jauh lebih dahsyat dari sebelumnya langsung pecah. Edward sendiri hampir saja menyemburkan tawa.

Menyuruh Mashiro, yang memiliki kebencian mendalam pada iblis dan monster, memberikan kata sambutan pembuka di saat seperti ini sungguh bukan tindakan orang berakal sehat.

Orang yang sanggup memikirkan pemilihan peran gila seperti ini jumlahnya sangat terbatas.

Saat mengalihkan pandangan ke arah sosok yang diduga menjadi dalangnya, pria itu sedang mengamati perkembangan situasi dengan senyuman licik. Melihat ekspresinya, sudah tidak salah lagi.

Johannes-lah yang merencanakan hal ini.

"..."

Dia pasti bahkan tidak diberi tahu sama sekali sebelumnya.

Mashiro sempat melongo beberapa saat dengan wajah cengong, sebelum akhirnya menatap Gilbert dan rombongannya dengan tatapan seolah menatap musuh bebuyutan pembunuh orang tuanya.

"Kuhahaha! Perutku sakit! Aku tidak tahu siapa yang memikirkannya, tapi ini benar-benar pemilihan peran yang sangat kocak!"

Cnut bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak di sampingnya. Senyum palsu seperti boneka yang biasanya dia pakai telah lenyap.

Dia pasti tertawa dari lubuk hatinya.

Meski begitu, Edward sama sekali tidak mengerti—dan tidak ingin mengerti—jalan pikiran orang yang masih bisa tertawa di situasi genting nan menegangkan seperti ini.

"..."

Melihat Mashiro yang bersedekap dengan wajah penuh kemarahan tanpa bergerak sedikit pun, Hijiri dan Isak membisikkan sesuatu ke telinganya.

Raut wajahnya makin garang, namun dia menggelengkan kepala lalu berdiri dan berjalan menuju panggung.

Setelah naik ke panggung, dia menggebrak mimbar kecil dengan kedua tangannya. Dan—

"Mendirikan negara atau apa terserah kalian! Aku tidak mengakui keberadaan monster dan iblis! Karena itu, aku juga sama sekali tidak akan pernah mengakui negara bernama Faesta ini! Jika kalian terbukti sedikit saja membahayakan umat manusia, demi harga diriku, aku akan membasmi kalian sampai tuntas. Tanpa menyisakan satu ekor pun! Sekian!"

Setelah meneriakkan kalimat yang dalam arti tertentu sudah bisa diduganya, dia pun turun dari panggung.

Di tengah Aula Besar yang mendadak hening, Inea naik ke atas panggung tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun, bahkan alisnya pun tidak terangkat.

"Sambutan dari Mashiro-sama telah selesai. Selanjutnya adalah kata sambutan dari Pemimpin Majelis Agung Negara Faesta yang resmi berdiri hari ini, Gilbert-dono."

Atas ucapan Inea, Gilbert pun berdiri.

Seolah perkataan Mashiro memang sudah berada dalam batas prediksinya, dia melangkah ke atas panggung dengan mengulum senyum.

"Hoo..."

Cnut yang tadinya tertawa terbahak-bahak pun tanpa sadar sudah menghentikan tawanya dan menatap Gil dengan raut wajah serius.

Edward sangat memahami perasaan Cnut saat ini.

Ketenangan sekelas ini sama sekali tidak mencerminkan Gilbert yang belum matang itu.

Sejak awal, rasanya ini bukan lagi masalah sederhana seputar pendidikan ideologi atau sejenisnya.

"Kepada para hadirin yang berkumpul di sini, terima kasih banyak atas kehadirannya di upacara pendirian negara kami, Faesta. Saya adalah Pemimpin Majelis Agung Faesta, Gilbert Roto Amelia. Baru saja saya menerima kata-kata penyemangat yang sangat berharga dari Pahlawan Mashiro-sama, tetapi ada hal yang juga harus saya sampaikan kepada Anda sekalian."

Gil jeda sejenak, melayangkan pandangannya mengedari sekeliling. Dan—

"Di negara kami, Faesta, baik ras manusia, iblis, maupun monster, semuanya bisa hidup bebas tanpa dibeda-bedakan. Di sana tidak ada tatanan sosial tak berguna dan tidak produktif seperti kaum bangsawan, juga tidak ada ajaran aneh seperti Gereja Pusat yang merupakan perwujudan dari diskriminasi. Sebuah tempat di mana semua orang bisa tersenyum dan hidup dengan damai. Kami tidak akan pernah menolak siapa pun, tidak akan memusuhi maupun menentang. Akan tetapi, jika Anda sekalian mencoba merebut dari kami, kami akan bertarung dengan segenap tenaga. Bahkan jika seluruh dunia menjadi musuh kami."

Dia mendeklarasikannya, meresapi setiap patah kata yang diucapkannya.

Setelah keheningan sejenak, tampaknya para hadirin baru sanggup mencerna ucapan Gil.

"Jangan bercanda! Beraninya kamu menyebut harga diri kami tak berguna!"

"Meskipun kamu seorang pangeran, hal ini tidak bisa diampuni!"

"Maksud kalian, kalian adalah musuh dari Dewa Ares kami, begitu!?"

Seruan amarah membahana berturut-turut dari para bangsawan Kerajaan Amelia yang diizinkan hadir.

Di tengah badai kata-kata penolakan terhadap Faesta yang bagaikan puyuh, para hadirin di pihak Faesta semuanya tetap tenang, wajah mereka sama sekali tidak berubah mendengar bentakan-bentakan itu. Mereka pasti sudah memperhitungkan situasi ini sejak awal.

"Harap tenang! Harap tenang semuanya! Harap te—"

Inea melayangkan teguran kerasnya, namun caci maki dan teriakan marah itu sama sekali tidak mereda.

"Bocah-bocah tengil! Aku bilang tenang, ya tenang!"

Suara Inea yang membahana bak gong pecah terdengar bersamaan dengan tinju kanannya yang melesak ke dalam mimbar.

Seketika itu juga, seluruh suara dari para bangsawan lenyap tanpa sisa.

Mungkin karena mereka tidak pernah bermimpi sedikit pun akan mendengar ucapan sekasar itu dari mulut Inea.

Semua orang menatap Inea dengan melongo.

"Saya tegaskan sekali lagi, kami tidak berniat untuk memusuhi Anda sekalian dari pihak kami. Jika Anda sekalian bersedia duduk di meja yang bernama diskusi, kami akan dengan senang hati menyambutnya. Hanya itu yang bisa saya janjikan."

Meskipun dihujani makian sebanyak itu, Gil tetap tersinggung sembari membungkuk kecil, lalu turun dari panggung dan kembali duduk di kursinya semula.

"Demikianlah kata sambutan dari Pemimpin Majelis Agung Faesta, Gilbert-sama. Selanjutnya, mari kita laksanakan Upacara Pengesahan Pendirian Faesta oleh Raja Kerajaan Amelia selaku negara pengayom, Edward-sama."

Inea melemparkan pandangan penuh arti kepada Edward.

Sesuai dugaan, sempat terjadi percekcokan, tetapi jika hanya sampai di tingkat ini saja, itu sudah bersyukur sekali.

Sebaiknya ini diselesaikan dengan cepat untuk memangkas potensi konflik internal atau perselisihan di masa depan.

Tepat ketika Edward berdiri dengan sigap dan hendak melangkah menuju panggung—

"Sampaikan keberatan!"

Seorang bangsawan berbadan besar dan berambut pendek yang dipenuhi luka di sekujur tubuhnya berdiri dengan menghentak dan berseru lantang.

Bangsawan bertubuh bongsor yang menyampaikan keberatan tersebut adalah Count Tappo, antek dari Faksi Duke Toad yang dulu disebut-sebut sebagai dalang belakang layar Faksi Gilbert.

Saat ini faksi tersebut telah menjadi kekuatan terbesar yang mendukung Cnut, dan Count Tappo adalah salah satu bangsawan yang terkenal sengit di antara mereka.

"Ada apa? Mengenai pendirian Faesta, bukankah pihak petinggi Kerajaan Amelia kalian sudah menyetujuinya? Rasanya sekarang bukan wewenang kalian lagi untuk ikut campur, kan?"

Kepada Inea yang bertanya dengan nada enggan, Count Tappo menyunggingkan bibirnya dengan pongah dan berkata,

"Negara pengayom Faesta adalah tanah air kami, Kerajaan Amelia! Kami, para bangsawan tinggi yang merupakan inti dari pemerintahanlah yang berhak menentukan hidup dan matinya Faesta! Bukankah begitu!?"

Dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan berlebihan untuk meminta persetujuan dari para bangsawan Kerajaan Amelia.

"Benar sekali!"

"Faesta adalah milik Kerajaan Amelia kita! Artinya, itu adalah kepunyaan kami, para bangsawan! Karena itu, terserah kami ingin memperlakukannya seperti apa!"

"Pangeran Gilbert yang tidak memiliki hak waris takhta tidak berhak atas hal itu!"

Melihat para bangsawan tinggi berseru berturut-turut, Count Tappo mengangguk puas lalu berkata,

"Lihat, ada begitu banyak persetujuan. Pahlawan-dono, kami yang memegang hak untuk menguasai Faesta. Tidak masalah bagimu, kan?"

Saat dia bertanya kepada Pahlawan Mashiro,

"Kalau kalian bisa mengelolanya dengan benar, aku tidak keberatan. Tapi kalau terasa ada bahaya sekecil apa pun, kami sendiri yang akan membasminya secara langsung."

Mashiro memberikan jawaban yang sama ngawurnya.

Orang-orang ini, apa mereka benar-benar paham dengan situasi dunia saat ini?

Alasan mengapa begitu banyak pejabat penting dari berbagai negara hadir di tempat ini adalah untuk merayakan lahirnya negara raksasa yang berpusat pada monster dan iblis yang muncul secara mendadak, serta untuk menjalin kontak dengan sosok yang menciptakan keajaiban bernama Faesta ini.

Di dunia ini, informasi adalah nyawa. Mengenai pendirian negara Faesta oleh iblis dan monster, mereka tentu sudah mengantongi informasi bahwa negara-negara besar dan Guild Hunter telah menyetujuinya.

Lalu, para bangsawan Kerajaan Amelia hendak merampasnya? Tidak ada satu pun dari mereka yang berpikir hal itu mungkin dilakukan.

Terbukti, para pejabat tinggi yang hadir hanya mengamati perkembangan situasi dengan raut tertarik.

Mereka pasti bermaksud menggunakan kesempatan ini untuk mengetahui siapa sosok yang akan mengendalikan jalannya arus situasi.

Secara tersirat, hal ini juga menunjukkan fakta ironis bahwa yang diprioritaskan oleh negara-negara lain bukanlah Kerajaan Amelia, melainkan negara baru Faesta.

Bagaimanapun juga, kekuatan militer Negeri Kegelapan saja sudah setara dengan Kerajaan Amelia.

Ditambah lagi dengan kekuatan tempur Negeri Kabut dan para monster.

Dari segi kekuatan militer saja, ini tak ubahnya dengan lahirnya negara militer terbesar di dunia.

Lalu soal skala ekonomi, hasil dari menyerap dua wilayah Raja Iblis, Negeri Kegelapan dan Negeri Kabut, berpotensi melampaui Butou yang merupakan salah satu negara terkaya nomor satu atau dua di dunia.

Andai Edward berada di posisi para pejabat tinggi negara lain pun, dia pasti akan melakukan hal yang sama seperti mereka.

Singkatnya, para bangsawan tinggi itu hanya sedang mempermalukan diri sendiri sembari memberikan informasi berharga secara cuma-cuma kepada para pejabat tinggi negara lain.

Yah, bagaimanapun juga, di belakang para bangsawan itu ada Cnut.

Cnut adalah monster yang memiliki legenda pernah menghancurkan sebuah negara kecil sendirian.

Mengingat Cnut ada di tempat ini, bagi para bangsawan tinggi, mereka tentu merasa seolah mendapat dukungan yang sangat kuat.

Rasa marahnya terhadap para bangsawan bodoh itu sudah melampaui batas hingga berubah menjadi rasa kasihan, tetapi Edward adalah Raja Kerajaan Amelia saat ini.

Dia adalah penyelenggara upacara ini.

Edward memiliki tugas untuk menyelesaikan upacara ini dengan selamat.

Tepat saat Edward hendak membuka mulut untuk menenangkan keadaan—

"Oi, jangankan cuma seorang Count! Tindakan lancangmu di hadapan Raja kami benar-benar pantas dihukum mati!"

Tindakan keterlaluan yang sama sekali mengabaikan Raja Edward saat ini rupanya telah membuat kesabaran Komandan Ksatria Pengawal, Geralt, akhirnya habis. Dia memegang hulu pedangnya dan hendak melangkah maju.

"Tidak boleh begitu. Geralt-kun, masa tidak bisa menang adu argumen lalu malah menggunakan kekerasan?"

Ternyata dia benar-benar maju. Cnut berdiri dari kursinya sembari mengulum senyum licik.

Para anggota senior Ksatria Pengawal pernah menyaksikan sendiri saat Cnut membantai pasukan besar seorang diri. Mereka pasti sangat sadar bahwa mereka bukan tandingannya.

Meski begitu, demi melindungi harga diri sang Raja, Edward, para anggota Ksatria Pengawal berkumpul di samping Geralt dan semuanya mencabut pedang dari sarungnya, memasang kuda-kuda bertarung.

"Arah, mau bertarung, nih~? Aku sih sama sekali tidak masalah."

Jika sudah begini, Cnut tidak akan berhenti meskipun Edward mencoba menghentikannya.

Sebaliknya, Edward juga sama sekali tidak bisa menyuruh Geralt dan yang lainnya untuk mundur. Tentu saja, ada kekhawatiran bahwa hal itu bisa dianggap sebagai bentuk dukungan Edward terhadap dominasi bangsawan tinggi atas Faesta.

Namun lebih dari itu, dia tidak boleh mengabaikan para bawahan yang mencoba mempertaruhkan nyawa demi melindungi harga diri dan posisinya. Baik sebagai seorang raja, maupun sebagai seorang pria!

"Bagaimana, nih, Kakanda~?"

Cnut bajingan itu, jadi ini yang dia incar.

Inea yang diharapkan bisa menjadi penolong justru tampak bersikap tidak peduli dan hanya mengamati pergerakan mereka. Kemungkinan besar, hal yang diminta oleh Kai Heinemann hanyalah menjadi pembawa acara upacara ini, dan selebihnya bukan urusannya lagi.

"Gil..."

Dalam situasi yang kian memanas dan bisa meledak kapan saja, gadis berambut hitam dengan telinga kucing di sampingnya memeluk Gil dan menatapnya dengan raut cemas. Melihat gelagat itu, jangan-jangan dia adalah kekasih Gil atau semacamnya?

Tepat ketika pemikiran tidak pada tempatnya itu terlintas di benak Edward,

"Shar, tidak apa-apa. Serahkan pada kami. Tetre, Somni."

Gil mengusap lembut kepala gadis berambut hitam itu, menyuruhnya tetap duduk, lalu berdiri dari kursinya. Kemudian, dia memberi isyarat singkat kepada dua pemuda yang menonton jalan situasi dengan penuh minat di sampingnya, Tetre dan Somni.

"Mengerti."

Tetre mematahkan sendi-sendi jarinya hingga berbunyi sembari berdiri,

"Siap!"

Somni juga mengangguk mantap lalu menyusul Tetre.

"Pangeran Gilbert, Anda sudah tidak lagi memiliki hak waris takhta—"

Tepat saat Count Tappo berteriak dengan wajah menang, bayangan Gil menghilang seketika, lalu tahu-tahu dia sudah mencengkeram kerah baju Count Tappo dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Untuk kroco sepertimu sebaiknya diam sebentar."




Gil memerah di bagian mata, dan embun kemerahan yang bisa dilihat dengan mata telanjang mulai bocor dari seluruh tubuhnya.

Uap itu melilit Count Tappo, mengambil wujud seekor ular raksasa yang mengangkat kepalanya tinggi-tinggi.

"Hiiih!"

Mengeluarkan jeritan kecil, Count Tappo memutar bola matanya ke atas dan jatuh pingsan.

"Tumbang hanya dengan Skill intimidasi tingkat ini... Benar-benar tidak bisa diandalkan. Prajurit baru Feista bahkan tidak ada yang sampai pingsan."

Mendengus jijik, Gil melemparkan sang Count ke lantai seperti membuang sampah, lalu mengalihkan pandangannya sejenak ke arah Mashiro dan yang lainnya sebelum menatap Knut. Dan kemudian—

"Paman, hentikan sandiwara ini. Sesuai dengan yang baru saja kudeklarasikan, aku adalah Ketua Dewan Jenderal Feista, dan mereka telah mempercayakan seluruh otoritas penuh Feista kepadaku. Aku, Gilbert Loto Amelia, mendeklarasikan hal ini."

Gil menghentikan kalimatnya dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Feista adalah negara kami. Kami sama sekali tidak akan mengakui pemerintahan dari kalian para bangsawan yang tidak kompeten. Mundur dan lepaskan tangan kalian dari Feista, jika kalian tidak ingin mempermalukan diri sendiri lebih jauh lagi."

Di tengah suara kemarahan para bangsawan tingkat tinggi akibat perkataan Gil yang begitu merendahkan, Knut memadamkan seluruh emosinya dan menghentikannya dengan tangan kanan.

Dan kemudian—

"Kau ini siapa?"

Dia melontarkan pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas di depan mata.

"Aku adalah keponakanmu, Gilbert, Paman. Tapi yah, dalam kasusku, aku sudah mengulang waktu sampai rasanya begitu jauh. Mungkin bisa dibilang aku telah terlahir kembali. Keraguan Paman mungkin tidak sepenuhnya meleset."

"Lakukan. Tapi jangan bunuh dia."

Knut memberi perintah kepada dua orang pengikutnya.

"Dimengerti!"

"Baik!"

Pria berambut pendek dengan tatapan mata tajam yang menjadi pengikut Knut dan seorang wanita cantik berwajah pelayan berambut hitam mencabut senjata masing-masing, lalu melesat kencang menuju Gil.

Hanya dalam sekejap mata, tepat di hadapan Gil, pria berambut pendek bermata tajam dan wanita cantik berwajah pelayan itu telah ditangkap dengan kuncian mati oleh Tetol and Somni.

"Ha?"

Suara terkejut meluncur dari mulut Edward. Edward sendiri memiliki pemahaman dasar tentang seni bela diri.

Namun, gerakan kedua pengikut Knut itu sama sekali tidak bisa ia lihat walau sedikit pun.

Mereka berdua justru dengan mudahnya dilumpuhkan oleh tangan dua anak laki-laki yang tampak tidak punya tenaga. Apakah kenyataan seperti itu memang ada?

Namun faktanya—

"Lepaskan aku!"

"Sialan!"

Wanita pelayan dan pria berambut pendek itu berteriak dengan ekspresi putus asa, berusaha melepaskan diri dari kungkungan.

"Menyebalkan."

"Bikin risih."

Suara Tetol dan Somni berpadu dengan selaras, membuat dua pengikut Knut itu memutar bola matanya ke atas dan kehilangan seluruh tenaga mereka.

"Kukatakan sekali lagi. Paman, mundur."

Di dalam Aula Besar Babel yang terasa sunyi secara tidak wajar, menanggapi ultimatum terakhir Gil ini, Knut menghela napas panjang tanpa ekspresi lalu membuang muka dari Gil.

Begitu Tetol dan Somni melepaskan kuncian mereka, Knut menjentikkan jarinya dengan pelan. Dua pengikutnya langsung sadar, menggelengkan kepala, dan bangkit berdiri.

"Ayo pergi."

Setelah mendesak kedua pengikutnya yang masih tampak kebingungan, Knut meninggalkan aula besar tersebut.

"Pelindung kalian sepertinya sudah pergi, lalu apa yang akan kalian lakukan?"

Mendengar pertanyaan Gil, para bangsawan tingkat tinggi Kerajaan Amelia yang baru saja menyadari arti dari tatapan di sekeliling mereka yang mengarah pada diri mereka, buru-buru meninggalkan tempat itu dengan panik.

"Kalau begitu, karena urusan kita sudah selesai, mari kita laksanakan ritual pengesahan pendirian Feista."

Menghadapi seruan Inea yang tak memberi ruang untuk membantah, tidak ada seorang pun yang melontarkan keberatan—tidak, mereka bahkan tidak bisa membegitunya.

Bahkan Pahlawan Mashiro sendiri hanya bisa duduk terdiam di kursinya dengan ekspresi tercengang tanpa mampu menggerakkan satu jari pun.

"Tidak masalah, kan, Yang Mulia Raja Edward?"

"A-Ah, benar. Mari kita lanjutkan kembali ritualnya."

Edward mengangguk merespons konfirmasi dari Inea, dan ritual pun dilanjutkan.

◇◆◇

Tempat itu adalah kediaman Kaisar Kekaisaran Gritnil di Babel.

Di salah satu ruangannya, Enam Jendral Berkuda berkumpul lengkap.

"Apa-apaan ini! Rencananya tidak seperti ini! Bukankah Gilbert Loto Amelia seharusnya adalah Pangeran gagal yang tenggelam dalam bakat dan kekuasaan?! Itu adalah wadah seorang penguasa sejati tanpa diragukan lagi!"

Kaisar Amnes berteriak dengan amarah yang seolah membakar langit.

Kemarahannya tidak dapat ditekan.

Wajar saja. Awalnya ada dua rencana yang diajukan, yaitu kebijakan rekonsiliasi dengan Kerajaan Amelia dan penculikan Saint Rosemary.

Namun, karena mengetahui bahwa calon Raja berikutnya adalah Gilbert si bodoh yang tidak tertolong, mereka memutuskan untuk menjalankan rencana penculikan sang Saint.

Jika Pangeran Gilbert memiliki bakat kepemimpinan sehebat itu, ia pasti akan menyambutnya sebagai penerus dengan cara apa pun.

"Tidak, beberapa waktu lalu dia memang masih seorang pangeran bodoh yang tidak punya kekuatan. Hal yang mendidik jasmani dan rohaninya menjadi manusia super seperti itu adalah kekuatan Kai Heineman. Benar-benar pria yang berada di level berbeda! Sungguh menarik!"

Pria berbaju hitam, Four, tampak bersemangat, entah karena merasa antusias yang tidak biasa.

"Mohon ampun, Yang Mulia, saya juga sependapat dengan Tuan Four. Tuan Kai, Beliau adalah sosok yang berada di tingkat berbeda dalam segala arti. Jika itu Beliau, mengubah pangeran bodoh tentu saja adalah hal yang sangat mudah!"

Kata-kata yang diucapkan Ramnela sambil berlutut itu dipenuhi dengan hasrat yang begitu kuat, hingga sangat mudah dibaca bahwa jiwanya sudah sepenuhnya runtuh dari tulangnya.

Biasanya, dia akan menghukum tindakan seperti itu sebagai bentuk penghinaan.

Namun, hal itu tentu berbeda cerita jika pihak yang telah memikat Ramnela adalah Kai Heineman.

"Kai Heineman, ya... kalau itu dia, mungkin saja memang benar..."

Sialnya, Amnes adalah seorang penguasa mutlak sejati. Oleh karena itu, ketika berhadapan langsung dengannya, mau tidak mau ia pasti akan memahaminya.

Kai Heineman, pria itu tanpa diragukan lagi adalah seorang Transcenden, makhluk yang melampaui batas kemanusiaan.

Terlebih lagi, dia adalah Dewa Tertinggi yang bahkan melampaui Four dengan telak. Ini bukan lagi masalah kekuatan semata.

Hanya dengan fakta bahwa ia bisa berbicara secara setara dengan dewa mengerikan seperti itu, Amnes bahkan merasa ada bagian dari dirinya yang terasa terpuaskan.

"Kufufu... tidak disangka dalam waktu singkat seperti itu dia bisa mengangkat orang bodoh yang tak tertolong sampai ke ranah yang sama dengan diriku. Bisa dibilang, dia adalah dewa sejati buatan alam yang lahir di dunia yang membosankan ini."

Menanggapi kata-kata Four yang bernada bagaikan nyanyian...

"Anda salah. Beliau dulunya adalah seorang manusia. Orang itu melampaui batasan ras manusia hanya dengan kekuatan miliknya sendiri."

Ramnela membantah dengan nada bicara yang penuh gairah.

"Hmm, Ramnela, kenapa kau bisa berpikir begitu?"

Untuk pertama kalinya, Four menghilangkan senyumannya dan bertanya kepada Ramnela.

"Aku yakin setelah berbicara langsung dengannya."

"Melampaui batas manusia dengan wujud manusianya, ya... secara teori hal itu mungkin. Tapi, itu paling pol hanya sebatas mendapatkan status kedewaan. Memperoleh tingkat keilahian sebanyak itu adalah hal yang sama sekali tidak terpikirkan. Namun, kenyataannya..."

Sambil bergumam tenggelam di dunianya sendiri...

"Yang Mulia, aku setuju bahwa Kai adalah manusia. Kakeknya adalah teman lamaku. Aku pernah bertemu dengannya sekali di masa lalu."

Sang Kaisar Pedang, Ashburn Gastrea, bergumam sembari mengusap janggut putih panjangnya, seolah sedang mengenang masa lalu.

"Apakah itu benar?!"

Amnes mencondongkan tubuhnya dari singgasananya.

"Tidak mungkin salah."

Ashburn menjawab seketika dengan nada suara tanpa ketegangan.

"Jika Kai Heineman dulunya adalah manusia, urusannya jadi lebih mudah! Jika kita bisa menjalin ikatan pernikahan dengan salah satu putriku, kekaisaran kita akan aman! Kita harus memikirkan siapa yang harus dikirim ke sisi Kai Heineman yang ada di Babel!"

"Mengenai hal itu..."

Ketika Ramnela mengangkat tangan kanannya dengan ragu-ragu, Four dengan terang-terangan membuang muka.

Melihat reaksi itu, timbul firasat buruk yang teramat kuat.

"Ada apa?!"

"Ramnela dan yang lainnya tidak sengaja membicarakan tentang Kai Heineman di depan sang gadis tomboi, dan dia jadi tertarik. Dengar ya, aku bahkan sudah menghentikannya."

"Gadis tomboi... jangan-jangan anak itu? Apakah dia pergi mendatangi Kai Heineman?"

Ini adalah situasi terburuk. Amnes bahkan sudah menyerah untuk mengendalikan anak itu karena mustahil dilakukan. Jika anak itu sampai membuat Kai Heineman tidak senang—

"Yang Mulia Putri Eris sudah bergabung dengan Akademi Ouboro di Babel."

Ramnela melontarkan kalimat yang setara dengan keputusasaan bagi Amnes.

Melihat Amnes yang terdiam membuka dan menutup mulutnya karena situasi yang terlalu luar biasa...

"Amnes, tidak perlu khawatir. Zigniel yang sedang buron telah menjadi bawahan Kai Heineman, jadi atas keputusanku, aku mengampuni kejahatannya dan menjadikannya pengawal Eris. Bukankah itu keputusan yang bagus?"

Four melontarkan strategi penyelamatan yang luar biasa dengan nada bicara santai seolah bukan apa-apa.

"Tentu saja! Kerja bagus, Four!"

Four memang bisa diandalkan. Dia adalah pria yang merupakan perwujudan dari kompetensi.

Jika Zigniel menjadi bawahannya, mereka bisa menjalin hubungan dengan Kai Heineman. Zigniel dan Eris adalah teman seangkatannya di Akademi Ksatria Sihir Kekaisaran terbesar di Ibukota Kekaisaran.

Selain Amnes dan Four, Zigniel adalah satu-satunya orang yang bisa berbicara secara setara dengan Eris.

Dengan adanya Zigniel, mungkin dia bisa mengendalikan Eris. Ini benar-benar penempatan orang yang tepat di posisi yang tepat.

"Aduh, aduh, cucu bodoh itu akhirnya dimaafkan, ya? Kalau begitu, sepertinya tidak ada artinya bagiku untuk kembali aktif."

"Tidak, laporan menyebutkan bahwa Kai Heineman tidak bisa bersikap keras di depan kakeknya. Lagi pula, Ashburn, dia menilai tinggi kemampuanmu. Akan lebih mudah membangun hubungan yang setara dan baik jika kau maju langsung sebagai salah satu dari Enam Jendral Berkuda. Aku ingin kau terus melanjutkan tugasmu."

Four langsung menolak perkataan Ashburn.

"Baiklah kalau begitu. Untuk tanah air dan Yang Mulia, silakan gunakan tubuh tua ini sampai habis."

Menanggapi ucapan Ashburn yang terdengar mirip sebuah sindiran...

"Terima kasih, kesatriaku yang setia. Aku akan memberikan penghargaan yang layak kepada kalian keluarga Gastrea."

Amnes mengucapkan kata-kata yang sempat tertinggal di masa lalu.

Ashburn menatap wajah Amnes sejenak, lalu...

"...Rasanya membuat rindu. Yang Mulia saat ini adalah sosok yang cerdas, lembut, namun memiliki keberanian liar—sosok diri Anda di masa lalu yang begitu kita dambakan dan impikan."

Sambil tersenyum, ia menyampaikan kesan mendalamnya.

◇◆◇

―Kawasan permukiman elit di bagian utara Babel.

Upacara telah usai, dan rombongan pahlawan telah kembali ke kediaman mereka.

"Apa maksudnya semua ini!"

Suara kebingungan Sang Sage Satoru menggema di seluruh rumah, namun tidak ada seorang pun yang membuka mulut. Wajar saja, karena tidak seorang pun di tempat ini yang memiliki kelonggaran mental untuk itu.

"Mari kita berhenti melakukan pelarian diri dari kenyataan. Pangeran Gilbert dan kedua kesatria itu sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada siapa pun yang ada di aula tadi."

Mendengar perkataan pemburu terkuat, Isaac Giesdoor, semua orang menunjukkan ekspresi seolah baru saja menggigit serangga pahit. Sebab, setiap dari mereka menyadari bahwa ucapan Isaac tidak ada yang bohong.

"Lagipula, sejak kapan Gil sekuat itu? Bukan, bukan cuma Gil. Gerakan kedua kesatria itu juga tidak masuk akal. Kalau ada monster seperti itu di sisinya, kita bahkan tidak perlu repot-repot bersekutu dengan mereka."

Mashiro akhirnya membuka mulut yang sedari tadi ia kunci. Ekspresinya begitu tegang, sama sekali tidak mencerminkan dirinya yang biasa.

"Tekanan intimidasi Gil waktu itu... Kalau ucapan Gil benar, itu pasti adalah Skill. Tapi ini pertama kalinya aku melihat kekuatan yang begitu luar biasa."

Paladin Hijiri bergumam sambil mengusap dagunya yang berbentuk bagus.

"Apa yang kau bicarakan, itu kan Gil! Dia keras kepala, egois, tapi di sisi lain sangat lemah. Bukankah seharusnya dia memang seperti itu!"

Mendengar teguran Satoru yang terdengar putus asa...

"Satoru, tidak ada seorang pun di sini yang berpikir kalau Gil yang sekarang itu lemah. Bukan cuma kekuatannya saja. Dari cara dia bertindak pun, dia bukan lagi Gil yang dulu. Dia benar-benar orang yang berbeda."

Menanggapi perkataan Hijiri yang bernada menasihati...

"Tidak! Gil tetaplah Gil!"

Satoru mengeluarkan suara melengking lalu berlari keluar ruangan.

"Tuan Satoru!"

Seorang ksatria wanita hendak mengejarnya dengan ekspresi khawatir, namun...

"Biarkan dia sendiri dulu."

Hijiri memberi instruksi dengan wajah lelah, namun...

"Tapi, Tuan Hijiri..."

Ksatria wanita itu tampak ragu-ragu.

"Biarkan saja tidak apa-apa. Pergilah."

Isaac memberi izin dengan ekspresi tenang.

"B-Baik!"

Ksatria wanita itu membungkuk lalu berjalan cepat keluar ruangan.

"Kalau begitu, aku juga pergi. Saat sedang merasa down, paling pas itu bersenang-senang biar pikirannya teralihkan."

"Kamu kan memang cuma mau bersenang-senang aja, kan?"

"Bisa dibilang begitu."

Sambil melontarkan candaan ringan seperti itu, dua kesatria lainnya turut meninggalkan ruangan.

"Dia memang sangat disukai, ya."

Menanggapi ucapan Isaac yang terdengar seperti gumaman seorang diri...

"Yah, Satoru memang bicaranya kasar, tapi aslinya dia serius, polos, dan tidak bisa berbohong."

Ujar Hijiri sambil melirik sekilas ke arah Mashiro dengan ekspresi sedih. Lalu—

"Lalu, bagaimana dengan kekuatan Kakak Gil dan Tetol itu?"

Putri Kedua Kerajaan Amelia, Louise, secara paksa mengembalikan topik pembicaraan yang sempat melenceng.

"Alasannya tidak diketahui. Tapi, seperti kata Tuan Isaac, Gil dan yang lainnya lebih kuat daripada kita."

"Apakah itu berarti... bahkan lebih kuat dari Tuan Mashiro?"

Seorang ksatria senior bertanya dengan nada yang dipenuhi kecemasan.

"Ya, bahkan lebih kuat dari Mashiro. Jujur saja, aku bahkan tidak bisa menangkap gerakan kedua pengikut Knut. Padahal, mereka dengan sangat mudah dikuasai oleh dua kesatria milik Gil. Bahkan Mashiro pun tidak bisa melakukan gerakan seperti itu. Iya kan, Mashiro?"

"Ya, kurasa rumor bahwa Gil dan dua kesatria itu telah menaklukkan Raja Iblis Procyon adalah kebenaran. Begitulah kenyataannya."

Ruangan mendadak riuh berkat penegasan Mashiro. Wajar saja, karena hal itu sama artinya dengan lahirnya monster yang melampaui Raja Iblis ke dunia ini.

Terlebih lagi, monster itu mendeklarasikan dirinya sebagai Raja para monster dan Ras Iblis. Ini adalah situasi terburuk bagi Mashiro dan kelompoknya.

"Gil sebelumnya memang lemah, sampai-sampai dia ditahan atas percobaan pembunuhan terhadap Ksatria Pelindung Somni dan ksatria magang Tetol. Setelah kejadian itu, pasti ada sesuatu yang terjadi padanya. Dan pihak yang menahannya adalah—"

Melihat Hijiri yang menggantungkan kalimatnya...

"Perdana Menteri, begitu ya. Yah, kalau monster tua itu yang ikut campur, aku jadi paham."

Mashiro menjawabnya.

"Lalu, pada akhirnya akan jadi seperti apa perebutan takhta ini? Apakah kemenangan mutlak akan jatuh ke tangan Kakak tertua yang kuat itu?"

Louise mengangkat pertanyaan terbesar mengenai perang suksesi takhta dengan nada menyindir.

"Tidak, sepertinya tidak akan begitu. Aku belum mendengar kabar bahwa hak suksesi takhta yang dibekukan oleh Perdana Menteri telah dipulihkan. Kita bisa menganggap Gil telah keluar dari perang suksesi takhta pada saat dia menjadi Raja Feista."

Mendengar pendapat Hijiri yang terdengar seperti sebuah kepastian ini...

"Kalau begitu, perang takhta pada dasarnya telah mengerucut kepada Kakak Rose, Paman Knut, dan aku. Pada akhirnya, situasinya sama sekali tidak berubah, ya."

Sambil menikmati tehnya dengan anggun, Louise menganalisis situasi yang kacau ini secara ringkas.

"Benar. Sebagai pengganti faksi Gilbert yang telah disingkirkan dari perang takhta, ancaman baru bernama faksi Knut telah muncul. Malu untuk diakui, tapi aku bahkan tidak mampu mengikuti pergerakan bawahan Pangeran Knut. Kekurangan kekuatan kita sekali lagi telah telanjang bulat."

"Aku setuju dengan itu. Yang terpenting, kalah dalam hal kekuatan dari negara monster dan Ras Iblis adalah hal yang sama sekali tidak bisa dimaafkan."

Mendengar Mashiro berucap dengan ekspresi penuh kebencian...

"Pihak Gereja Pusat secara diam-diam meminta kontak dengan kita, apa yang sebaiknya kita lakukan?"

Menanggapi permintaan pendapat dari ksatria senior paruh baya tersebut...

"Gereja Pusat sudah berjanji untuk bekerja sama dengan kita. Mengingat mereka meminta pertemuan lagi di atas kondisi itu, tujuannya pasti soal masalah pendirian Feista kali ini."

Menanggapi gumaman Mashiro...

"Sembilan puluh sembilan persen begitu. Orang-orang itu pasti sedang panik luar biasa."

Hijiri menimpali.

"Bagi Gereja Pusat, negara monster dan Ras Iblis yang setara dengan musuh dewa pastinya tidak akan pernah bisa dimaafkan. Tidak diragukan lagi mereka sedang panik melebihi kita. Jika waktunya pas, kita bisa mendapatkan dukungan maksimal dari pihak Gereja. Pertanyaannya, apakah kita bisa melawan mereka hanya dengan mengandalkan bantuan Gereja?"

"Kami mendapatkan kekuatan pertama kami juga dari sana. Kali ini pun mereka pasti memiliki kartu truf penyelamat. Tapi, masalahnya tetap ada."

"Ya, aku mengerti. Maksudmu seperti yang dikatakan Hijiri sebelumnya, jangan mempercayai mereka sepenuhnya, kan?"

"Benar. Pada akhirnya orang-orang itu pasti akan memusuhi kita."

"Aku juga setuju dengan itu."

"Kalau kalian sudah paham sejauh itu, aku tidak punya hal lain untuk dikatakan lagi."

Begitu mengatakannya, Hijiri menutup kelopak matanya, menyilangkan kedua lengannya, dan terdiam.

Mashiro bangkit dari sofa, menyapu pandangannya ke arah semua orang, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Kita adalah para penjaga umat manusia! Kita memiliki misi untuk melindungi umat manusia dari ancaman bernama Ras Iblis dan monster! Tidak peduli seberapa kuat musuh kita, kita pasti akan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar dari itu dan memusnahkan mereka!"

Dia mendeklarasikan tekadnya.

Saat itu juga, sorotan penuh semangat dari para ksatria berkobar di dalam ruangan. Suara itu bergetar hebat, seolah-olah sedang berusaha menutupi rasa cemas yang mendalam.

◇◆◇

Kembali ke rumah mewah di kawasan permukiman elit yang menjadi tempat tinggal mereka selama di Babel bersama dua pengikutnya, Knut duduk di sofa berbuka kulit binatang dan menyilangkan tangannya.

Wajahnya serius, sama sekali tidak menyisakan kesan santai seperti biasanya.

'Ada apa? Bukankah itu tidak seperti dirimu biasanya?'

Charybdis tiba-tiba muncul dan bertanya kepada partnernya, Knut.

'Ada sedikit masalah merepotkan.'

'Masalah merepotkan?'

'Gil, keponakanku, telah menjadi lebih kuat daripada aku yang berada dalam kondisi ini.'

'Hah! Mana mungkin! Bahkan dengan kekuatanmu yang sangat dibatasi saat ini, kau memiliki kekuatan setingkat dewa rendahan, tahu!'

'Makanya kukatakan, Gil telah melangkah ke ranah kita. Itulah yang kumaksud. Terlebih lagi, dua ksatria baru yang menjadi pengikutnya juga berada di tingkat yang sama secara bersamaan.'

'Mana mungkin bodoh sekali—'

Charybdis tertawa meremehkan lewat hidungnya, namun melihat Knut yang sama sekali tidak menunjukkan senyuman, Charybdis mengubah nada suaranya menjadi serius.

'Apakah... itu benar?'

'Dua pengikutku dengan mudahnya ditekan oleh dua ksatria miliknya. Terlebih lagi, tanpa bisa melakukan perlawanan sedikit pun.'

'...'

'...'

Melihat pria berambut pendek dan wanita berpelayan yang menunduk dengan ekspresi frustrasi sambil menggigit bibir bawah mereka, Charybdis berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata.

'Knut, aku tadinya mengira kau adalah mutasi monster yang muncul di antara ras manusia, tapi kenyataannya kau mungkin adalah hasil dari genetik kebangkitan.'

'Genetik kebangkitan?'

'Itu adalah fenomena di mana darah para dewa yang bercampur dengan nenek moyang di masa lalu tiba-tiba muncul kembali setelah beberapa generasi.

Jika itu alasannya, maka penjelasan mengenai kekuatan supernatural yang bangkit pada diri mu dan keponakanmu secara bersamaan menjadi masuk akal.

Dua ksatria pengikutnya itu mungkin telah menjadi bagian dari keluarga atau bawahan keponakanmu.'

'Genetik kebangkitan, ya... begitu ya, darahku tidak salah lagi. Kalau begitu, kita bisa menyimpulkan bahwa masalah kali ini tidak ada hubungannya dengan Kai Heineman. Bisa kita anggap begitu, kan?'

'Kai Heineman? Ah, anak manusia yang sempat kau khawatirkan itu? Aku sudah menyelidikinya sendiri, tapi aku tidak merasakan kekuatan yang berarti. Dia pastilah cuma anak kecil biasa.'

'Cuma anak kecil biasa, ya... begitu, kalau begitu kita tidak perlu melakukan kewaspadaan berlebihan, kan?'

Mungkin karena telah mencapai kesimpulan yang bisa diterima secara akal sehat, ketegangan yang membakar seperti api di diri Knut telah lenyap, dan ia kembali bersikap santai seperti sediakala.

(Para bajingan bodoh...)

Loki yang tadinya diam menyaksikan interaksi antara Knut dan Charybdis bergumam pelan dengan nada kecil.

'Hm? Loki, kau bilang sesuatu tadi?'

Menanggapi pertanyaan Charybdis...

'Tidak, tidak, tida—k, aku hanya merasa sangat kagum dari lubuk hatiku yang paling dalam, betapa hebatnya darah Tuan Knut itu.'

Loki menjawab sambil berputar-putar menari dan bernyanyi.

'Tentu saja. Aku sebenarnya ingin memusnahkan darah berbahaya semacam itu sedapat mungkin. Bagaimana? Keponakanmu yang bernama Gilbert itu, perlukah aku yang menghabisinya? Kalau sekarang, dia pasti bisa dibunuh dengan mudah.'

Menanggapi usulan Charybdis ini, Knut memalingkan wajahnya dengan sudut yang tidak wajar.

Aura merah pekat yang memancar bagaikan badai dari diri Knut membuat bangunan tersebut berderit retak, dan kedua pengikutnya pun menelan ludah dengan susah payah.

Satu-satunya orang yang tetap memasang senyuman aneh tanpa rasa takut hanyalah Loki.

'Charybdis, jika kau berani melakukan itu, akan kubunuh kau seketika.'

Knut merendahkan suaranya melontarkan ancaman penuh dendam.

'Aku sudah menduga kau akan menjawab begitu. Kalau begitu, kita biarkan dia bebas untuk saat ini?'

Charybdis bertanya sambil mengangkat bahunya. Seketika itu juga, Knut kembali ke sifat aslinya.

'Tentu saja. Gil adalah keponakanku yang imut dan manis. Suatu hari nanti dia pasti akan kembali ke sisiku. Kita hanya perlu bersabar sampai saat itu. Tapi, dari kejadian kali ini, terbukti juga bahwa kekurangan kekuatan di kubu kita memang nyata. Tentu saja, termasuk diriku sendiri.'

Mengangguk dengan mantap, ia bangkit dari sofa.

'Dengan kekuatan aslimu, itu seharusnya bukan ancaman yang besar... kehati-hatianmu itu sudah pada tingkat yang tidak normal.'

'Begitukah. Bagaimanapun juga, aku berniat untuk melahap emosi negatif dan mencapai tingkat yang lebih tinggi lagi.'

'Emosi negatif, ya. Secara spesifik, apa yang akan kau lakukan?'

'Mencari mata air tempat emosi negatif itu terpancar. Hei, Charybdis, jika itu kau, kau pasti mengerti, kan?'

'Medan perang... jadi kau berniat menciptakan satu lagi?'

Meskipun tertutup topeng sehingga tidak terlihat jelas, dia pasti sedang tersenyum. Charybdis bertanya pada Knut dengan nada antusias seolah-olah mereka hendak pergi piknik.

'Aku akan menciptakan neraka paling menakjubkan di dunia ini! Saling membunuh, dibunuh, saling membenci, dibenci, itulah akar dari kekuatanku dan alasan eksistensiku!'

Knut merentangkan kedua tangannya lalu berteriak.

Begitu Loki keluar dari rumah mewah tersebut...

'Kai Heineman cuma anak kecil? Betapa naifnya orang-orang itu.'

Sambil melirik kembali ke arah rumah mewah dari balik bahunya, ia melontarkan kata-kata penghinaan. Ia segera memasukkan tangannya ke dalam saku lalu berjalan menuju jalan sempit.

Di dalam kegelapan gang sempit, dua sosok pria dan wanita berlutut di hadapannya.

Satu orang adalah wanita yang mengenakan penutup wajah, dan satu lagi adalah pria bertubuh besar berambut hijau yang tampak seperti buas.

'Bagaimana hasil upacara Feista?'

'Mengenai hal itu...'

'Jangankan menyusup, kalian bahkan tidak sempat melihatnya, begitu?'

'......Ya.'

Melihat wanita bertutup wajah bernama Hell itu mengangguk dengan ekspresi penuh penyesalan, Loki menghela napas panjang.

Hell tidak bisa berbuat apa-apa. Dari fakta itu saja, tingkat kekuatan musuh sudah bisa diukur dengan jelas.

'Dengan ini sudah pasti. Di balik Feista adalah eksistensi yang setara dengan kita, Pasukan Jahat. Dan Kai Heineman yang mengendalikan mereka. Setidaknya, orang itu adalah eksistensi yang berada di ranah yang sama denganku.'

'Eksistensi yang berada di ranah yang sama dengan Tuan Loki...'

Suara Hell yang mengulang perkataan itu terdengar kaku, dan bagian mulut di balik penutup wajahnya sedikit bergetar. Wajar saja. Loki adalah mantan penguasa generasi lama.

Dia memiliki kekuatan di kelas terkuat di antara Enam Jendral Besar. Jika dikatakan bahwa orang itu setara atau bahkan lebih kuat dari Loki, mustahil jika tidak merasa takut.

'Apakah dia senjata pamungkas Pasukan Surga?'

Pria bertubuh besar mirip buas, Jormungandr, memastikan pada Loki. Meskipun dia tidak menunjukkan rasa takut yang jelas seperti Hell, suaranya tetap kehilangan wibawa seperti biasanya.

'Entahlah. Bisa jadi tidak meleset jauh, atau mungkin memang benar begitu.'

Kenyataannya, Kai Heineman hanya memiliki dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama adalah seperti yang dikatakan Jormungandr—kartu As yang baru saja diperoleh oleh pihak Surga.

Berdasarkan intuisi Loki, kekuatan eksistensi itu setara dengan Deus, dewa terkuat di antara Enam Dewa Surgawi, atau Poseidon, dewa yang ditakuti sebagai yang terkuat sekaligus paling mengerikan di Pasukan Surga.

Keduanya adalah tipe lawan di mana Loki sendirian akan kesulitan menang. Setidaknya mereka berada di level di mana ia tidak bisa melawan kecuali jika Lucifer dimanifestasikan.

Kemungkinan kedua jauh lebih buruk. Kemungkinan di mana para penguasa dari generasi lama telah terlepas dari segel mereka.

Mereka adalah tipe orang-orang yang dulunya memicu Perang Besar hanya demi keisengan semata.

Jika segel mereka benar-benar telah terlepas dan mereka dilepaskan ke dunia saat ini, maka kita tidak punya waktu untuk saling bertarung antara Surga dan Pasukan Jahat.

Jika kita tidak segera menyegel mereka dengan kekuatan penuh Surga dan Pasukan Jahat, semua dunia akan kembali dipermainkan sebagai mainan mereka.

Meskipun begitu, jika mereka adalah penguasa generasi lama, dunia ini seharusnya sudah menjadi jauh lebih kacau dari sekarang.

Setidaknya mereka tidak akan membuat negara yang terdengar konyol seperti Feista. Kemungkinan ini bisa dikesampingkan untuk sementara waktu.

Kai Heineman pastilah senjata buatan Surga.

Hell telah melaporkan bahwa kutukan di rumah sebelumnya lenyap secara tidak wajar karena intervensi dari Kai Heineman.

Namun, orang itu memanfaatkan monster dan Ras Iblis untuk mendirikan sebuah negara.

Hal ini terasa sedikit tidak wajar sebagai tindakan dari pihak Surga. Orang itu adalah sebuah iregularitas di antara pihak Surga.

Ya, kupikir dia adalah eksistensi yang condong ke arah Tartarus—yang jauh lebih berbahaya daripada Poseidon yang sulit diurus, atau bahkan hampir mendekati pihak Jahat.

Jika memang begitu, ada banyak cara yang bisa dilakukan.

'Tuan Loki, apa yang harus kami lakukan selanjutnya?' Hell,

'Hell, cobalah memulihkan komunikasi dengan markas besar Pasukan Jahat. Secara bersamaan, tolong selidiki titik singularitas juga. Jormungandr, kau lakukan investigasi terhadap dunia ini termasuk reruntuhan, serta kumpulkan orang-orang kuat. Namun, sampai identitas mereka jelas, jangan pernah terlibat dengan kekuatan Kai Heineman. Ini adalah perintah.'

Menelan ludah dengan susah payah, kedua sosok itu mengangguk dengan kuat dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam.

'Tapi, Tuan Loki, apa yang harus kita lakukan dengan kelompok bodoh bernama Knut itu? Kita mungkin tidak sengaja menusuk sarang lebah dan memancing ular keluar, tahu.'

Hell menanyakan kekhawatiran yang sangat wajar dan harus diperhitungkan.

'Jika orang-orang itu membuat kekacauan, kita tinggal kabur dengan seluruh kekuatan secepat mungkin. Melakukan hal seperti itu setidaknya masih dalam batas kemampuanku.'

Kalau dipikir-pikir sekarang, Mara mungkin sudah dikalahkan oleh Kai Heineman, sama seperti tiga orang lainnya yaitu Asura dan kawan-kawan.

Bagaimanapun juga, Kai Heineman adalah kuda hitam sejati.

Bentrokan frontal adalah hal yang tabu sampai kita mendapatkan informasi yang lebih akurat tentang dirinya. Bergerak secara diam-diam di balik layar adalah pilihan terbaik.

Jika hanya Loki seorang, tidak sulit untuk menyerahkan segalanya pada sekelompok orang tidak tahu diri seperti Knut atau Charybdis, lalu kabur begitu saja.

Selama Loki dan yang lainnya masih hidup, pihak Jahat belum kalah. Kita bisa melakukannya. Seharusnya memang begitu.

'Wujudkanlah cita-cita kejahatan kita!'

'Baik!'

'Siap laksanakan!'

Begitu mendengar teriakan serentak dari suara Loki, kedua sosok itu melesat dan menghilangkan wujud mereka.

'Aku pasti akan melakukannya.'

Loki menggumamkan kata-kata itu seolah untuk meyakinkan dirinya sendiri.



Illustrasi | ToC | Chapter 1

0

Post a Comment

close