NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Suki Datta Ko wo Meido ni Shitara Volume 1 Chapter 18

Chapter 18

Keraguan Maid


"Sepertinya kamu tidak makan banyak hari ini, Keiji-kun."

"Iya, cuma sedikit."

Menu utama malam ini adalah salmon meunière.

Rasanya ringan namun dibumbui dengan pas, kulitnya garing dan harum, serta sangat lezat. Makanan itu sangat enak, tapi...

"Perutku agak tidak enak. Tapi kurasa sebentar lagi juga sembuh."

"Begitukah. Seharusnya aku membuat menu yang lebih ramah di perut," kata Sayaka dengan nada kecewa sembari mulai membereskan piring-piring.

Aku hampir tidak sanggup menghabiskan makanan yang disajikan, tapi aku tidak minta tambah nasi ataupun sup.

"Aku mau balik ke kamar dan berbaring sebentar. Aku baik-baik saja, jadi tolong urus bersih-bersihnya ya, Sayaka."

"..."

"Hm? Ada apa, Sayaka?"

Sayaka menatapku dengan tatapan penuh arti.

Atau lebih tepatnya, apakah dia sedang mengamatiku dari atas sampai bawah?

"Ah, bukan apa-apa. Ya sudah, silakan berbaring dan istirahat. Kalau kamu butuh obat lambung atau minum, panggil aku kapan saja."

"Ya."

Rumah besar ini sangat luas, jadi setiap kamar dilengkapi dengan interkom.

Aku bisa menghubungi kamar-kamar tersebut dari kamarku lewat interkom, begitu juga dengan ruang tamu, ruang makan, dan dapur.

Meski aku tidak pernah menggunakannya sama sekali.

Walaupun dia seorang Maid, aku merasa tidak enak kalau memanggilnya begitu saja secara lancang...

Entah karena aku ini setengah rakyat jelata, tapi aku sama sekali tidak bisa bertindak layaknya seorang bangsawan.

"Tidak apa-apa kalau memang tidak bisa," gumamku, lalu kembali ke kamar dan menutup pintu.

Kemudian, aku merebahkan diri di atas tempat tidur.

Baru saja aku merasa resmi merekrut Sayaka sebagai seorang maid, sekarang aku malah direpotkan oleh kedatangan seorang nona muda dari keluarga Maritsuji.

Maritsuji Anri itu... aku tidak cukup hebat untuk tidak merasa gugup atau kelelahan karenanya.

Dan entah kenapa, dia dan Sayaka malah saling bersitegang.

"Ugh... perutku..."

Tidak disangka aku malah terkena sakit perut akibat stres di usia muda begini.

Mungkin menjalani hidup tanpa beban sebagai seorang sampah jauh lebih baik...

"Mungkin aku harus minum obat... tidak, aku mau minum teh hangat saja."

Aku perlahan bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan kamar.

Aku sebenarnya bisa menghubungi Sayaka lewat interkom, tapi aku tetap merasa tidak enak kalau harus memanggil seseorang hanya untuk secangkir teh.

Meskipun aku tumbuh di lingkungan rumah tangga yang selalu dikelilingi Maid, aku heran dengan kepekaan kaum rakyat jelataku ini.

"Ah, Sayaka mungkin sudah selesai bersih-bersih sekarang."

Sekitar tiga puluh menit telah berlalu saat aku melamun dan berbaring tadi.

Sayaka kemungkinan besar sudah selesai membersihkan rumah dan kembali ke kamarnya.

Kalau begitu, aku akan membuat teh sendiri saja.

"...Hm?"

Dalam perjalanan menuju dapur, langkahku terhenti di tengah lorong.

Sepertinya aku mendengar sesuatu dari arah ruang makan...

"Lagipula, karena aku seorang maid, tuanku adalah yang utama. Keiji-kun adalah orang yang harus dihibur. Bukan nona muda berhati hitam itu."

Kira-kira siapa yang dia maksud sebagai nona muda berhati hitam itu? Maki?

"Aku penasaran soal hal seperti ini. Keiji-kun mungkin bakal jijik melihatnya. Aku tidak begitu mengerti apa yang dipikirkan para cowok... sebenarnya cowok itu apa, sih?"

Entah kenapa, terdengar seperti dia sedang menjelek-jelekkan semua cowok, tapi sebenarnya apa yang sedang dia lakukan?

Rasanya aneh kalau terus menguping, jadi aku membuka pintu ruang makan untuk melihatnya.

"Sayaka, apa yang sedang kamu—"

"S-Selamat datang, Master-nyan."

"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan!?"

"Ah!?"

Di sisi lain pintu itu terdapat seorang maid bertelinga kucing.

Ya, seorang maid bertelinga kucing.

"K-K-K-K-K-K-K-Keiji... kun!"

"Apa boleh aku panggil kamu Sayaka...?"

Maid bertelinga kucing di hadapanku ini begitu berbeda dari dirinya yang biasanya sampai-sampai aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya.

Rambut semi-panjang berwarna cokelat muda miliknya dibiarkan tergerai, dan dia mengenakan bando telinga kucing.

Berbeda dari seragam maid-nya biasanya, bagian dadanya terbuka lebar, dan roknya sangat pendek hingga paha mulusnya hampir terlihat sepenuhnya.

Sebagai pelengkap, sebuah ekor palsu tampak mencuat dari balik roknya.

Bagaimana cara ekor itu dipasang?

"...Hei, Sayaka. Boleh aku ambil fotonya?"

"Kalau kamu mengambil fotoku, jiwaku bakal melayang keluar dari tubuh... karena kaget."

"Memangnya separah itu!?"

Justru akulah yang paling kaget di sini!

Selain berdandan sebagai maid kucing, tangannya ditekuk seperti gerakan kucing memanggil, satu kakinya diangkat, dan dia memasang pose yang sangat dinamis.

Di satu sisi, dia adalah maid kucing yang sempurna.

Tampaknya timing saat aku membuka pintu dan Sayaka memasang pose itu terjadi bersamaan.

Timing ini juga rasanya pas banget...

meskipun ini pasti jadi hal paling mengenaskan bagi Sayaka.

"I-Ini! Aku tadinya cuma mau menyembuhkanmu, Keiji-kun! Aku cuma iseng mencoba kostum cosplay yang kubeli di pusat perbelanjaan!"

"Kamu benar-benar melakukannya hanya karena iseng."

Dan dia sepertinya mengira aku akan sembuh berkat kostum ini.

" Posisim8u juga sempurna banget. Jangan-jangan ini bukan pertama kalinya kamu pakai baju itu?"

"A-Aku cuma pernah mencobanya sekali sebelumnya. Aku tidak meriset posenya di internet atau semacamnya kok."

"Kamu merisetnya, ya..."

Yah, tentu saja posenya jadi terlihat begitu imut tanpa bisa diungkapkan dengan kata-kata.




Aku benar-benar ingin mengambil foto.

"H-Hei, sampai kapan kamu mau melotot terus! Aku tidak akan memaafkanmu, Master!"

"Memangnya dosanya sebesar itu sampai-sampai Master pun tidak dimaafkan!?"

Justru akulah yang bingung sebenarnya sedang dipertontonkan apa di sini.

"Lagipula, berapa lama lagi kamu mau bertahan dengan pose seperti itu..."

"Hah? Ah, kyaa... aah!"

"Ah!"

Sayaka, yang sepertinya baru tersadar kalau dia masih memperagakan pose kucing, buru-buru mencoba berdiri tegak dan malah terjatuh.

Itu akibatnya kalau bergerak mendadak...

"H-Hei, Sayaka."

"Nnngh... pantatku sakit... hei, kamu melihat ke mana sih!?"

Sayaka terjatuh dengan posisi terduduk, dan bagian dalam roknya terlihat sangat jelas.

Paha mulusnya yang berisi dan tampak empuk, serta celana dalam warna merah muda yang di luar dugaan sangat imut, terpampang tanpa aling-aling.

"M-Moo!"

Dengan gerakan cepat, Sayaka langsung duduk bersimpuh dan menahan roknya.

Ugh, padahal aku bahkan belum melihatnya sedetik pun.

Celana dalam sang maid bertelinga kucing yang super imut itu langsung tersembunyi dalam sekejap.

"...Keiji-kun, aku belum memberikan pelayanan yang seperti itu ya. Sebanyak apa pun gaji yang kuterima, aku tidak bakal mau melakukannya, mengerti?"

"A-Aku tahu kok."

Sayaka menatapku tajam dengan kedua pipinya yang agak merona, dan aku pun terburu-buru mengangguk.

Aku sendiri sudah menyangsikan keputusanku mempekerjakan teman sekelas perempuan sebagai maid.

Kalau sampai aku menuntut "pelayanan" di luar batas tugas seorang maid, tamatlah riwayatku sebagai manusia.

Hm? Apa Sayaka baru saja bilang "belum"?

Aku tidak bisa mengabaikan kata itu begitu saja... apa boleh aku menganggapnya punya arti yang lebih dalam?

"Duh... pantatku sakit."

"Perutku juga masih sakit, tahu."

"Hatiku juga ikut sakit."

"B-Begitu ya."

Kurasa seluruh rentetan kejadian dari awal sampai akhir ini adalah kegagalan Sayaka sendiri, alias hancur karena ulahnya sendiri.

Sayaka berdiri sambil memegangi bagian belakang seragam maid rok mininya.

"J-Jadi, kamu datang untuk apa, Keiji-kun?"

"Oh, ah. Aku tadi berpikir untuk minum teh hangat."

"B-Baiklah. Pergilah ke ruang tamu. Nanti kubawakan ke sana."

"Oke, terima kasih."

Aku ingin minta teh yang hangat-hangat kuku dan agak encer, tapi Sayaka pasti sudah paham.

Saat aku hendak meninggalkan ruang makan, aku menyadari wajah Sayaka masih memerah, dan dia tetap memegangi roknya.

"Kamu boleh ganti baju dulu kok."

"...Biar saja, aku akan membawakanmu teh sebagai maid bertelinga kucing spesial."

"Ooh, itu baru yang terbaik!"

"Kamu benar-benar sampah..."

"...Ya, aku memang sampah."

Aku hanya bisa mengangguk setuju.

"Duh, dasar mesum."

"Mesum!?"

Seorang maid yang mencoba memberikan pelayanan dengan kostum telinga kucing, dan seorang master yang tiba-tiba disuguhi pemandangan itu hingga tak sengaja mengintip celana dalamnya.

Aku ingin orang ketiga menghakimi siapa di antara kami yang sebenarnya mesum.

Bagaimanapun juga, mempekerjakan seorang gadis sebagai Maid berarti insiden-insiden seperti ini memang bakal terjadi.

Aku akan berusaha menjaga kesopanan sebagai seorang master, lagipula, cuma ada kami berdua di kediaman tua ini.



Chapter 17 | ToC | Chapter 19

0

Post a Comment

close