Chapter 23
Keramahan Maid
Keesokan harinya di ruang kelas—
Hisaka Sayaka datang ke sekolah seperti
biasa dan duduk di kursinya seperti biasa pula.
Dengan raut wajah dinginnya yang biasa,
dia mengabaikan orang-orang di sekitarnya seolah menegaskan bahwa itu
"bukan urusanku."
Tampaknya dia berakting seolah-olah
insiden menangis di ruang kelas tidak pernah terjadi.
"Hisaka benar-benar bermuka
badak ya? Apa kamu tidak berpikir begitu juga?"
"...Kalau soal muka badak,
kamu juga tidak berhak bicara begitu, Fujikawa."
Entah kenapa, Fujikawa sedang
duduk di kursi di depanku sembari membalikkan badan menghadapku.
Sebuah kain kasa berukuran besar
tertempel di pipi kirinya, tampak begitu menyakitkan.
Menyakitkan memang, tapi orang
yang melukainya tidak lain adalah aku sendiri.
"Hei, apa kamu sudah lupa apa yang
terjadi kemarin? Apa kamu dipukul begitu keras sampai memorimu hilang?"
"Aku cuma kena pukul di wajah sekali.
Tentu saja aku ingat betul. Aku tidak akan pernah melupakan ingatan yang begitu
menyenangkan sekaligus begitu memalukan itu. Kiyomiya, suatu hari nanti aku
akan membunuhmu."
"Silakan saja datang dan bunuh aku
kapan pun kamu mau."
Aku dan Fujikawa sama-sama memasang senyum
palsu di permukaan.
Kami pasti terlihat cukup mengerikan di
mata orang-orang di sekitar kami.
Lagipula, satu kelas sudah tahu kalau
Fujikawa dulunya memperlakukanku seperti sampah dan aku hanya bersikap
tersenyum sambil menahannya.
"Fujikawa."
"Waduh!"
Tiba-tiba saja, Sayaka sudah berdiri di
sampingku.
Lalu, dia menatap tajam ke arah Fujikawa.
"Fujikawa, singkirkan badanmu. Itu
kursiku."
"Ini bukan kursi Sayaka juga
kali."
Itu adalah kursi milik seorang siswa
bernama Shimazaki.
"Hmph, akrab banget ya. Seorang rakyat jelata dan seekor
sampah setengah rakyat jelata."
Fujikawa berkata penuh kebencian
lalu bangkit berdiri dari kursi itu.
"Tapi tetap saja, Hisaka,
kelompokku bakal menyambutmu dengan tangan terbuka kok. Benar juga, kami memang
tidak bisa menjadikanmu anggota resmi, tapi mungkin kami bisa mempekerjakanmu
memakai seragam maid. Hahaha."
"Menjadi maid-mu itu
benar-benar di luar pilihan."
Sayaka, tidak seperti biasanya,
memberikan senyuman cerah kepada Fujikawa.
"Aku adalah maid-nya
Kiyomiya-kun—maid-nya Keiji-kun."
"...Hah. Seorang Hisaka tidak mungkin
bisa jadi maid keluarga Kiyomiya. Putra dari kepala keluarga ini mungkin cuma
begini, tapi keluarga Kiyomiya adalah keluarga bergengsi yang setara dengan
keluarga Toyohara dan Maritsuji."
"Aku tahu betul soal itu."
Saat Sayaka membalasnya dengan senyuman,
Fujikawa terlihat terintimidasi lalu berjalan menjauh.
"H-Hei, itu kalimat yang lumayan
berbahaya untuk diucapkan."
"Tidak mungkin dia bakal
mengira itu benar."
Apa Sayaka merasa hal ini agak lucu?
"Tapi, jadi aku bahkan tidak pantas
untuk menjadi maid keluarga Kiyomiya, ya?"
"Y-Yah... entahlah."
Memang benar kalau tidak jarang bagi
keluarga bergengsi untuk memiliki maid, dan banyak keluarga yang sangat
selektif mengenai status para Maid mereka.
"Keluarga pelayan" yang telah
mengabdi kepada suatu keluarga selama turun-temurun memang masih ada, dan
kalaupun tidak ada, mereka kebanyakan mempekerjakan kerabat dan jarang
mempekerjakan orang asing.
Aku penasaran apakah sebaiknya aku
membeberkan saja bahwa Sayaka adalah putri dari mantan Maid keluarga Kiyomiya.
"Kamu benar, itu tidak
penting. Kita sudah resmi membuat musuh dengan si mesum itu—maksudku, Fujikawa.
Apa yang bakal kamu lakukan?"
"Membuat musuh dengan
Fujikawa sendiri bukanlah masalah besar."
Apa aku baru saja mengatakan
sesuatu yang bakal membuatku dalam masalah besar kalau sampai ada yang
mendengarnya di ruang kelas yang ramai ini?
"Masalahnya adalah aku sudah
menunjukkan diri bahwa aku bukan lagi diriku yang dulu. Kalau aku terus begini,
aku tidak akan bisa bertahan di Sōshūkan..."
Paku yang mencuat bakal dipukul
jatuh.
Kalau kamu tidak ingin dipukul
jatuh, kamu harus punya keberanian yang bakal membuat orang-orang yang
mendatangi dengan palu menjadi gentar.
Pengaruh nama Kiyomiya memang
tidak kecil, tapi fakta bahwa aku tidak diakui sebagai pewaris oleh keluarga
Kiyomiya adalah fakta yang sudah rahasia umum, jadi aku tidak bisa
mengandalkannya.
"Fujikawa sepertinya
berpeluang besar bakal membalas. Bodoh banget dia, padahal dia sudah dihajar
waktu mengeroyokku berlima."
"Menghajarnya saja tidak ada
artinya."
Ucapku dengan tegas.
"Baik kita maupun Fujikawa dan
kelompoknya tidak bisa membicarakan insiden kekerasan itu. Aku bakal dihukum
kalau sekolah sampai tahu, dan itu juga cerita yang memalukan buat mereka.
Kalau aku mau menjatuhkan Fujikawa, aku harus melakukannya secara terbuka,
bukan dengan kekerasan sembunyi-sembunyi."
"Ada banyak kesempatan untuk bersaing
dalam ujian dan acara di sekolah."
"Kita perlu menambah sekutu."
Ujian memang pertarungan individu, tapi
acara sekolah—misalnya kalau ada kesempatan untuk unggul dari Fujikawa dan
kelompoknya di festival olahraga atau festival budaya, aku tidak boleh
melewatkannya.
Aku harus mempersiapkan diri agar selalu
siap kapan pun kesempatan itu muncul.
"Aku sekutumu, Keiji-kun."
"Ya, keberadaan Hisaka Sayaka adalah
hal yang besar."
Tidak perlu diragukan lagi soal
itu.
Seorang siswa teladan yang berhasil
mempertahankan posisi teratas di Sōshūkan ini selama satu tahun, sekaligus
satu-satunya siswa penerima beasiswa.
Bahkan setelah kuota beasiswanya dicabut
secara paksa, dia tetap bertahan di sekolah dengan membayar biaya sekolah yang
tidak bisa dibilang murah.
Kalau Hisaka Sayaka ada di sisiku, dia
bakal jadi pendorong rasa gentar bagi orang-orang yang berniat memukulku dengan
palu.
"Tapi kita butuh lebih banyak orang.
Maritsuji bukan musuh maupun sekutu."
"Bagi saya dia terlihat seperti
musuh."
Jadi Sayaka dan Maritsuji Anri masih
saling bersitegang ya.
Apa aku bakal terjebak di tengah-tengah
dan terkena imbasnya?
"Kalau begitu, kelompok Kiyomiya yang
sekarang cuma berisi aku, Sayaka, dan Maki."
"Aku ikut terseret dalam hal
ini juga!?"
Maki, yang tadinya mengawasi kami
secara sembunyi-sembunyi, melepaskan jeritan.
Lalu, dia melangkah lebar menuju
mejaku.
"Maki, seberapa banyak yang
kamu dengar?"
"Sesuatu tentang maid,
sesuatu tentang kelompok Kiyomiya. Kalian berdua bicaranya terlalu bergumam.
Kalian kan masih muda, bicaralah yang keras."
"Kenapa kamu malah bersikap
sok hebat begitu padahal cuma menguping? Lagipula, Maki. Kamu punya waktu tidak
setelah pulang sekolah hari ini?"
"Hmm, kencan... kah?"
"Mana mungkin kamu punya pacar,
Maki."
"Kamu sudah berhenti jadi sampah dan
malah jadi tidak peka!?"
Maki menggebrakkan tangannya ke mejaku.
"Bahkan kalau kamu punya acara kencan
pun, batalkan saja. Maki, datanglah ke rumahku setelah pulang sekolah."
"Dulu kamu menolak keras, sekarang
kamu malah mengundangku?"
"Tentu saja, aku ini seorang
Kiyomiya. Aku akan menjamu tamuku dengan benar."
"Baiklah, boleh juga. Aku bakal
menantikan jamuan darimu."
Maki mengangguk lalu berjalan menjauh dari
mejaku.
"Sayaka."
"Ya."
Saat aku memanggilnya, Sayaka mendekatkan
telinganya ke bibirku.
"Kamu dengar sendiri kan
tadi. Kita kedatangan tamu
hari ini."
"Dimengerti."
Seperti yang diharapkan dari
seorang siswa teladan, dia sepertinya langsung paham apa yang ingin kukatakan.
Tugas seorang maid tidak akan
mungkin berjalan kalau tidak bisa membaca pikiran tuannya.
"Selamat datang, Sogano
Maki-sama."
"...Keiji, apa-apaan ini?"
Maki berdiri tercengang di pintu masuk
Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya.
Dia tampak terkejut oleh Sayaka yang
menyambutnya sebagai seorang maid. Yah, tentu saja dia bakal terkejut.
"Ah, Sayaka. Kamu tidak perlu terlalu
sopan dengan temanku. Terutama dengan yang satu ini, kamu bisa panggil nama
panggilannya saja."
"Um, tidak perlu terlalu
formal kok, Maki."
"Sikapmu sudah seperti seorang tuan
tanah saja, Hisaka-san!"
"Cuma bercanda, Maki-san. Izinkan
saya memperkenalkan diri sekali lagi. Saya adalah Hisaka Sayaka, seorang maid
yang melayani Keiji-kun di Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya."
Sayaka membungkuk hormat memberi hormat
hormat khas maid, sambil memegang ujung rok di atas lututnya.
Mungkin karena dia sudah membungkuk
berkali-kali, dia jadi makin mahir melakukannya.
"Ruang tamu saja sudah cukup untuk
hari ini. Sayaka, tolong buatkan teh untuk kami."
"Sesuai perintah."
"...Kamu mendidiknya dengan
baik ya."
Maki memasang raut wajah yang
rumit saat memperhatikan Sayaka berjalan menuju dapur sendirian.
Ini mungkin ekspresi yang bakal
dibuat orang-orang saat melihat teman sekelas mereka bekerja sebagai seorang
maid.
"Jangan-jangan dia sudah ada
di sini waktu aku datang sebelumnya? Aku mencium bau wanita, tahu."
"Mencium bau? Tajam banget
penciumanmu?"
"Bau itu cuma kiasan. Cuma
saja, untuk ukuran orang yang tinggal sendirian, rumah ini terlalu rapi, dan
aku merasakan sentuhan wanita dari cara rumah ini dirapikan."
"..."
Maki bukan cuma jago berkomunikasi, tapi
dia juga punya intuisi yang tajam.
Aku tadinya berpura-pura hidup sendirian
dengan membuat ruang tamu berantakan, tapi mungkin kepura-puraan yang amatir
itu malah membuatnya curiga.
Bagaimanapun juga, aku mungkin tidak bakal
bisa menyembunyikan keberadaan maid Sayaka darinya.
Bersama Maki, kami pindah ke ruang tamu
dan duduk di sofa di seberang meja.
"Aku sudah cukup kaget waktu kamu
meninggalkan kediaman utama keluargamu dan pindah ke rumah besar kuno begini.
Tapi tidak disangka kamu malah mempekerjakan gadis cantik sebagai maid. Kamu
pikir kamu ini siapa, Keiji?"
"Kamu kan sudah menyelidiki
kepindahanku. Masa kamu tidak tahu kalau aku mempekerjakan seorang maid?"
"Mana mungkin aku tahu soal itu
kecuali kalau aku memasang kamera pengawas. Ah, Keiji-san, boleh aku pinjam
kamar mandimu?"
"Apa-apaan dengan gaya bicara nona
muda itu! Apa kamu berencana memasang kamera!?"
"Cih, ketahuan ya." Maki mulai
bangkit dari sofa, lalu duduk kembali.
"Aku bertaruh hal-hal menarik terjadi
di rumah besar ini setiap hari... tapi ini masalah harga diri seorang perantara
informasi untuk tidak memasang kamera atau mikrofon."
"Kita punya sistem keamanan,
tahu?"
Kalau kami menemukan kamera tersembunyi
atau alat penyadap, aku bakal benar-benar menuntutmu meski kamu adalah teman
sekelas.
"Tapi ini hal besar, kan? Punya teman sekelas sebagai maid. Apa
tidak apa-apa membeberkan hal ini kepadaku? Bisa dibilang, akulah satu-satunya
orang yang seharusnya tidak kamu beri tahu soal ini, kan?"
"Kamu adalah temanku sebelum menjadi
seorang perantara informasi. Kita kan bukan baru kenal kemarin atau hari
ini," tegasku dengan mantap.
Maki adalah gadis yang misterius, termasuk
soal keluarganya, tapi aku tahu betul kepribadiannya.
Dia tidak akan pernah melakukan apa pun
yang bakal merugikan teman-temannya.
"Keiji, kamu tahu..."
"Hm?"
"Maaf membuat kalian menunggu lama,
Keiji-san, Maki-san."
Tepat saat Maki hendak mengatakan sesuatu,
Sayaka memasuki ruang tamu.
"Ah, apa aku mengganggu?"
"Tidak, tidak, tidak apa-apa kok.
Teh, teh, aku haus nih."
"..."
Tampaknya Maki menelan kembali sisa
kata-katanya.
"Oh, Hisaka-san. Kenapa cangkirnya
cuma ada dua dan kuenya cuma ada dua?"
"Saya adalah seorang maid. Saya akan
menikmati bagian saya nanti."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa kok. Aku mau minum teh sambil memandangi
maid yang cantik."
"Tamunya sudah bicara begitu.
Sayaka, tolong duduklah."
"Sejujurnya, gyaru yang satu
ini..." gumam Sayaka pelan lalu duduk di sampingku.
Entah kenapa, mendapati seorang maid
cantik di sampingku terasa menekan.
"Untuk saat ini, mari kita bicarakan
kejadian beberapa hari terakhir. Sayaka, apa tidak apa-apa kalau aku
menceritakan tentang dirimu juga?"
"Silakan. Aku bakal mempercayai siapa
pun yang kamu percayai, Keiji-kun."
"Bukankah itu pertanyaan
barusan?"
"Perasaanmu saja, Maki-san."
Sayaka telah sepenuhnya beralih ke nada
bicaranya di ruang kelas. Gadis ini sering sekali mengubah nada bicaranya.
"Kalau dipikir-pikir, kamu sekarang
memanggilku dengan nama depan ya, Hisaka-san?"
"Ah, maaf. Itu karena Keiji-kun
selalu memanggilmu Maki, Maki, seolah-olah kamu itu ceweknya."
"Kamu membuatnya terdengar buruk cuma
karena memanggil teman dengan akrab..."
Meskipun dia seorang maid, dia
terkadang memberikan sindiran-sindiran kecil kepadaku.
"Ya, kamu boleh memanggilku
Maki."
"Terima kasih, Maki-san. Kamu boleh
memanggilku Sayaka-sama."
"Jadi, Sa-chan, apa kamu benar-benar
melayani Keiji?"
"Aku benar-benar melayani Keiji-kun. Bukan sebagai cosplayer atau Maid maid
cafe, tapi sebagai maid sungguhan."
Apakah ini semacam aksi saling menjajaki
di antara para gadis?
"Maid sungguhan, ya... bahkan di
keluarga kelas atas pun, maid 'profesional' itu langka belakangan ini.
Sepertinya sudah tidak banyak lagi maid yang tinggal di rumah majikannya,
kan?"
"Kamu paham betul soal situasi
keluarga kelas atas ya, Maki. Dulu ada seorang profesional juga di samping
ketua yayasan."
"Ah... Kino. Wanita itu, dia dulunya
musuh keluarga Toyohara, tapi sekarang dia bekerja di bawah naungan
mereka."
"Apa, kamu kenal Kino-san,
Maki?"
"Tentu saja, aku ini perantara
informasi jadi aku tahu betul seberapa menakutkannya keluarga Toyohara."
"Aku kaget kamu tahu banyak
soal mereka. Jangan ikut campur ke sarang tawon yang berbahaya..."
Lagipula ada pepatah yang
mengatakan rasa ingin tahu bisa membunuh kucing.
"Yah, makanya aku mau memberi tahu
situasi kita padamu. Karena kamu tahu nilai dari sebuah informasi lebih baik
dari siapa pun. Karena ini informasi penting, kamu tidak bakal sembarangan
membeberkannya."
Ada risiko informasi ini bakal dijual,
tapi Maki kemungkinan besar bakal menanganinya dengan hati-hati.
Lagipula, kalau aku bisa mendapatkan
seorang perantara informasi di pihakku, hal itu sepadan dengan mengambil
beberapa risiko.
"Kalau begitu, aku bakal memberi tahu
situasi kita. Kurasa aku sudah membeberkan sebagian besarnya dengan
memperlihatkan rumah besar ini padamu."
Mulai dari pencabutan beasiswa Sayaka,
hingga aku yang secara resmi mempekerjakannya sebagai maid, perkelahianku
dengan Fujikawa, dan keputusanku untuk terjun ke dalam perselisihan faksi di
sekolah.
"Hmm, perselisihan faksi di Sōshūkan,
ya? Jujur saja, itu sih neraka."
"Hah, begitu ya? Aku tidak
benar-benar merasa ada yang bergerak di balik layar."
"Itu tidak terjadi di permukaan. Ada
rumor kalau terjadi perbutan Sa-chan di bawah permukaan."
"Untukku?" Sayaka terlihat
bingung.
"Yah, kamu kan siswa nomor satu di
tingkat ini. Sebenarnya, bukan cuma satu dua orang yang menawarkan diri untuk
membayar biaya sekolah Sa-chan ke pihak sekolah."
"Apa...!? Tunggu, apa cerita itu
beneran!"
Itu sedikit—tidak, sangat mengejutkan.
Di Sōshūkan, mungkin ada banyak siswa yang
bisa mengeluarkan uang satu juta yen tanpa mengandalkan orang tua mereka.
Tapi tetap saja, itu bukan jumlah yang
sedikit bagi seorang siswa, dan mereka tidak akan menawarkan untuk membayarnya
tanpa alasan yang kuat.
"Jadi ada cowok-cowok yang ingin
mendapatkan Sayaka sampai segitunya..."
"Lagipula dia cantik. Kalau mereka
bisa mendapatkan Sa-chan, mereka dengan senang hati bakal membayar biaya
sekolahnya."
"Benar-benar sekumpulan orang
sombong, mencoba membeli seseorang dengan uang."
"..."
Apa maid yang satu ini baru saja
menyindirku secara kasual?
"Jadi, kalau Keiji dan Sa-chan
membentuk kelompok, dampaknya pada sekolah mungkin bakal lebih besar dari yang
kalian bayangkan. Sōshūkan, terguncang sampai ke akar-akarnya! Atau semacam
itulah."
"Dan kalau perantara informasi Maki
bergabung, dampaknya bakal makin besar..."
"Aku belum bilang mau
bergabung lho, tahu?"
Tidak, kamu ikut bergabung. Aku
tidak akan membiarkanmu lolos.
Setelah memberi tahu sejauh ini,
aku tidak akan membiarkanmu bilang "tidak jadi."
"Demi melindungi keselamatan serta
kehidupan sekolahku dan Sayaka, kita tidak bisa cuma bertahan saja. Kalau kita
menekan kelompok lain, itu bakal membimbing kita menuju keselamatan."
"Kamu punya jalan pikiran yang berani
banget ya, Keiji. Tapi
aku tidak benci sih."
Maki mengerang sambil mengelus
pipinya.
"Kedengarannya menarik
juga... aku mulai merasakan batasan bergerak sendirian... hmm, dengan nama
Kiyomiya dan kemampuan Hisaka Sayaka... begitu ya..."
"..."
Sepertinya Maki sedang membuat
beberapa kalkulasi licik di dalam kepalanya.
Tapi kesimpulannya sudah jelas.
Aku mengenal Maki dengan baik, kecuali soal latar belakangnya.
"Baiklah, Keiji, Sa-chan, aku
ikut gabung."
"Seperti yang diharapkan dari
Maki, kamu cepat mengambil keputusan."
"Tapi tentu saja, ada
syaratnya."
Maki menyeringai lalu bangkit berdiri.
"Rumah besar ini luas banget,
kan?"
"Hah? Apa lagi sekarang?"
"Berikan aku salah satu kamarnya. Aku
mau pindah ke sini hari ini!"
"Apa!?"
Chapter 22 | ToC | Chapter 24



Post a Comment