Chapter 4
Maid Sekolah
Di Akademi Sōshūkan, hampir setiap bulan selalu ada ujian.
Sekolah ini mengikuti sistem tiga semester tradisional, dengan ujian reguler yang terdiri dari dua ujian tengah semester dan dua ujian akhir, ditambah ujian akhir tahun, sehingga totalnya ada lima.
Selain itu, ada juga tes kemahiran di bulan-bulan yang tidak memiliki ujian reguler.
Secara teknis, tes kemahiran tidak memengaruhi nilaimu, tetapi di Sōshūkan, hasil dari setiap ujian akan ditempel di lorong lantai pertama gedung sekolah.
Hanya nama-nama dari 100 siswa teratas saja yang dicantumkan.
Karena ada sekitar dua ratus siswa per angkatan, hanya separuh nama yang dipajang.
"Bukankah 50 besar saja sudah cukup? Memajang 100 besar ini sama saja dengan intimidasi," gumamku dalam hati.
Tes kemahiran diadakan tepat setelah tahun ajaran baru dimulai.
Selepas jam sekolah, hasilnya ditempel, dan para siswa berkumpul untuk mengecek apakah nama mereka ada di dalam daftar dan berapa peringkat mereka.
"Hei, Kiyomiya."
"Fujikawa..."
Orang yang tiba-tiba muncul di belakangku adalah seorang siswa laki-laki tinggi dengan rambut cokelat yang tertata rapi.
Namanya adalah Fujikawa Kōtarō, seorang teman sekelas yang sudah kukenal sejak SD.
Lagi pula, di sekolah swasta berbasis jalur eskalator, sebagian besar siswanya sudah saling kenal sejak lama.
"Kali ini... Kiyomiya Keiji, peringkat ke-100, ya? Haha, tepat di tengah-tengah lagi, sempurna."
"Tentu saja," aku mengangguk pada Fujikawa.
"Aku tidak mau berada di peringkat bawah dan harus mengikuti kelas remedial, tapi aku juga tidak mau belajar mati-matian sampai masuk jajaran peringkat atas. Aksi keseimbangan ini cukup mengesankan, kan menurutmu?"
"Kiyomiya, apa kamu sengaja mengincar posisi tengah?"
"Aku tahu batasan kemampuanku. Tidak peduli seberapa keras aku berusaha, kemampuanku paling-paling hanya berada di papan atas kelas menengah. Jadi, aku mengincar posisi tepat di tengah tanpa harus berlebihan."
"Kamu... akan lebih baik kalau kamu berusaha sekuat tenaga daripada berakhir di peringkat bawah."
Fujikawa menatapku dengan ekspresi sangat jengkel.
Tidak ada kelas remedial untuk tes kemahiran, tapi pendirianku mengenai ujian memang persis seperti yang kujelaskan tadi.
Aku tahu dari sudut pandang orang luar, aku terlihat seperti sedang main-main.
"Hahaha, bagaimanapun juga aku adalah seorang 'Kiyomiya'. Aku akan mendapat masalah besar kalau dimarahi, jadi aku berusaha sedikit."
"Cuma sedikit? Kamu mencoreng nama baik keluarga Kiyomiya. Kenapa kamu malah cengangas-cengenges seperti orang bodoh, dasar sampah?"
Sampah, ya...
Tidak peduli apa yang dia katakan, persis seperti yang digambarkan Fujikawa, aku hanya terus "cengangas-cengenges seperti orang bodoh."
"Kalau kamu seorang 'Kiyomiya', setidaknya kamu harus masuk 50 besar. Bukan kamu yang akan ditertawakan, melainkan ayahmu."
"Ayahku sudah menyerah pada putranya yang tidak berguna ini. Selama nilaiku tidak masuk peringkat bawah, dia tidak akan komplain. Jadi, aku bertindak sesukaku."
Kenyataannya, aku belum pernah diceramahi oleh ayahku mengenai nilai sekolahku.
"Aku dapat peringkat kedua kali ini. Bukan bermaksud pamer, sih."
Fujikawa berpenampilan menarik dan punya nilai yang bagus, serta sudah menjadi andalan tim bola basket sejak SMP.
Tentu saja, latar belakang keluarganya juga sangat luar biasa, dan posisinya dalam hierarki sekolah tergolong tinggi.
Dia memiliki sisi yang agak... bukan, bahkan cenderung arogan yang begitu menonjol, tapi tipe orang yang arogan bukanlah pemandangan langka di sekolah ini.
"Keluarga Fujikawa adalah cabang dari keluarga Kiyomiya jika ditarik jauh ke belakang. Serius deh, rasanya menyedihkan sekali mengetahui orang sepertimu adalah pewaris langsung dari keluarga utama Kiyomiya."
"Kalau kamu melacak garis keluarga sejauh itu, hampir setiap siswa di sekolah ini masih kerabat. Jangan terlalu dipikirkan."
Memang benar keluarga Fujikawa bercabang dari keluarga Kiyomiya pada masa lalu yang jauh.
Namun, keluarga-keluarga terpandang saling terhubung dan bercabang melalui pernikahan silang atau dengan mengirim anak-anak untuk diadopsi ke keluarga lain.
Di Sōshūkan, ada banyak sekali kasus siswa yang masih bersaudara jika silsilah mereka dilacak kembali.
"Hih, aku yang berasal dari keluarga cabang bisa mendapat peringkat kedua, sedangkan kamu dari keluarga utama malah mendapat peringkat ke-100. Sungguh sepotong sampah yang menyedihkan."
"Hahaha."
Meskipun dia menghinaku separah itu, aku hanya menertawakannya.
Dia memang tidak salah tentang diriku yang adalah seorang sampah, lagipula.
"Hih, apa yang kamu tertawakan? Sini kamu, Kiyomiya. Akan kutanamkan sedikit keberanian ke dalam dirimu."
"Aku sudah muak dengan pertandingan bola basket. Terakhir kali, kamu memaksaku bermain bersamamu selama tiga puluh menit."
Aku hanya pernah bermain bola basket saat pelajaran olahraga, aku bahkan tidak yakin apakah aku memahami peraturannya dengan baik.
Dengan kata lain, Fujikawa ingin mempermainkanku di kandangnya sendiri.
"Kalau mau main basket, sana main dengan teman-temanmu."
"Hei, hei, apakah peringkat ke-100 sedang menentang peringkat ke-2?"
"Apakah peringkat ujian menentukan status sosial kita? Mari kita tentukan lewat silsilah keluarga. Posisiku lebih tinggi."
"Jangan mempermainkanku! Kiyomiya, apa kamu tidak punya rasa malu!?"
"Aku lebih baik tidak punya malu daripada harus masuk ke pertandingan yang merepotkan."
"Kamu anak dari... Lagi pula, meskipun kamu seorang Kiyomiya, kamu hanyalah—"
"Kiyomiya-kun, apa yang sedang kamu lakukan?"
"..."
Orang yang kebetulan lewat di sana adalah Hisaka Sayaka.
Tatapan di balik kacamata berbingkai hitamnya tampak lebih tajam dari biasanya.
"H-Hisaka..."
Fujikawa sedikit merasa gentar.
Sepertinya bahkan seorang Fujikawa yang berkulit tebal pun tidak bisa tetap tenang di hadapan kecantikan luar biasa ini.
"Ah, hasil tes kemahiran. Kiyomiya-kun, peringkat ke-100... Cepatlah susul levelku."
"Kamu menyuruhku melewati sembilan puluh sembilan orang?"
Sōshūkan penuh dengan anak-anak dari keluarga terpandang, jadi tentu saja mereka belajar dengan giat.
Banyak dari mereka yang memang sudah cerdas secara alami, dan ditambah lagi mereka adalah orang-orang yang pekerja keras, jadi melampaui mereka adalah tugas yang sangat sulit.
"Hisaka, jangan ikut campur—tidak, kurasa Kiyomiya tidak penting. Aku kalah lagi darimu kali ini."
"Kalah?"
"Aku benci mengatakannya, tapi aku berada di peringkat kedua. Hisaka peringkat pertama."
"Begitu ya. Kalau begitu, aku punya hak untuk memberimu perintah, bukan?"
"Ugh...!"
Fujikawa tepat diserang di bagian yang paling menyakitkan... atau lebih tepatnya.
"Hei, Sayaka. Kamu mendengarkan percakapan kami dari tadi, kan?"
Bertanya "apa yang sedang kamu lakukan" dengan wajah tanpa dosa begitu, padahal kamu sudah tahu semuanya sejak awal.
"Fujikawa, maukah kamu mundur dengan tenang? Kami berdua punya tempat yang harus dikunjungi."
"Apa...?"
"Ayo pergi, Kiyomiya-kun, ikuti aku."
"Apakah peringkat pertama juga punya hak untuk memerintah peringkat ke-100?"
"Kalau kamu bisa mengalahkanku, kamu boleh memerintahku melakukan apa saja. Dan omong-omong, aku tidak sedang bercanda."
Bisikan-bisikan mulai menyebar di kerumunan, terutama di kalangan para siswa laki-laki.
Bahkan di antara sekian banyak siswi cantik, Hisaka Sayaka sangat terkenal karena kecantikannya.
Mendengar bahwa mereka bisa memerintahnya melakukan apa saja, sepertinya tidak ada satupun anak laki-laki yang tidak merasa terguncang.
"Hei, Kiyomiya... jangan terlalu besar kepala."
"Aku tidak berbuat apa-apa, kan?"
Setelah membalas Fujikawa, aku menyamakan langkahku di samping Sayaka yang sudah mulai berjalan mendahului.
Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Sayaka, tapi selama aku bisa menjauh dari Fujikawa, aku tidak peduli.
◇ Meninggalkan area sekolah, Sayaka berjalan di depan, dan aku mengikuti di belakangnya.
"Sayaka, kamu tadi menyelamatkanku. Sialan si Fujikawa itu sudah menggangguku sejak dulu."
"Sepertinya dia benar-benar tidak menyukaimu, Kiyomiya-kun."
"Fujikawa berasal dari keluarga baik-baik, tapi dia tetap berada di bawah keluarga Kiyomiya. Bukan berarti aku peduli dengan semua itu."
"Bagi sebagian orang, itu adalah hal yang penting. Apakah Fujikawa tidak menyukaimu karena kamu adalah seorang Kiyomiya tapi berada di posisi yang ambigu?"
"Yah, sepertinya begitu."
Aku langsung mengakuinya.
"Bagaimanapun juga, aku adalah apa yang kalian sebut sebagai 'anak haram'."
Benar sekali, aku adalah satu-satunya anak dari kepala keluarga Kiyomiya, namun aku bukanlah pewarisnya.
Kamu juga bisa menyebutku anak di luar nikah, tapi tidak satupun dari sebutan itu terdengar menyenangkan, jadi aku tidak menggunakannya secara terang-terangan.
Singkatnya, ayah dan ibu kandungku tidak menikah secara resmi.
Alasannya bukanlah rahasia yang harus disembunyikan, itu karena ibuku adalah seorang "rakyat biasa" dan status sosial mereka tidak cocok.
Konon katanya saat ini sudah tidak ada lagi bangsawan atau rakyat biasa, tapi pada kenyataannya, tembok status sosial itu sepertinya masih ada.
Ayahku tidak mampu membuat klan Kiyomiya menyetujui pernikahannya dengan ibuku, dan tampaknya, hal maksimal yang bisa dia lakukan adalah mengakui secara resmi anak yang lahir dari hubungan mereka.
Di kalangan kaum elit, sulit untuk menyembunyikan hal semacam ini sepenuhnya.
Hal itu terkenal di dalam klan Kiyomiya, dari sana menyebar ke keluarga cabang, lalu ke kerabat mereka, dan sekarang, setiap anak yang bersekolah di Sōshūkan mengetahuinya.
"Pada akhirnya, semua orang memang menyukai skandal yang bagus, ya?"
"Majalah gosip laku keras, dan aku dengar artikel skandal di internet mendapatkan banyak page views."
"Wah, kamu sendiri cukup tahu banyak, Sayaka."
Sayaka tidak menunjukkan tanda-tanda keterkejutan atas ucapanku.
Seberapa pun dinginnya Sayaka, jika dia baru saja mengetahui rahasia kelahiranku sekarang, dia tidak akan bisa bertindak setenang ini.
"Bukan berarti aku mendengarnya dari rumor sekolah. Aku diajari hal-hal mendasar tentang keluarga Kiyomiya."
"Kupikir juga begitu."
Tidak sulit untuk mengetahui bahwa aku adalah anak haram dari keluarga Kiyomiya jika kamu berniat mencarinya.
Akan terasa jauh lebih tidak wajar jika putri dari mantan Maid Kiyomiya tidak mengetahuinya.
"Hal itu tidak ada hubungannya denganku. Dari sudut pandang rakyat biasa, siapa ibumu tidaklah penting."
"Ini mungkin pertama kalinya aku mendengar sudut pandang seorang rakyat biasa."
"Ibumu adalah orang biasa, kan?"
"Rupanya begitu, dia bukan orang kaya atau dari keluarga baik-baik. Kenapa, kamu tertarik?"
"Tidak juga," jawab Sayaka datar.
Bahkan jika dia bilang dia tertarik, ibuku meninggal sebelum aku sempat mengingatnya, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Nyaris tidak ada hal yang bisa kujelaskan.
"Mengenai dirimu, Kiyomiya-kun, dari sudut pandangku, kamu hanyalah tuan muda kaya yang dimanja dan malas, yang tidak pernah merasakan kesulitan."
"Ha? Bukannya diejek karena menjadi anak haram itu lebih buruk daripada ini?"
Jangan-jangan Sayaka membenciku?
Memiliki seseorang yang membenciku melayaniku sebagai seorang maid... hal itu mungkin terdengar sedikit mendebarkan.
"Kamu memasang wajah seolah sedang memikirkan hal bodoh."
"Ha!?"
"Kalau kamu memikirkan hal-hal bodoh, kamu akan tetap bodoh. Menjadi masalah besar kalau kamu terus mendapat peringkat ke-100."
"...Kamu juga bilang hal serupa tadi. Apakah aku mendapat peringkat ke-100 atau ke-200, apa urusannya denganmu, Sayaka?"
Yam, itu ada urusannya. Itu—oh, tempat ini sepertinya bagus."
"Hm?"
Sayaka tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke arah sebuah bangunan di tepi jalan.
Itu adalah supermarket yang letaknya paling dekat dengan Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya.
"Tunggu, apa kamu serius tadi waktu bilang kita punya tempat yang harus dikunjungi?"
"Itu bukan sekadar alasan untuk membawamu keluar dari sana. Maukah kamu menemaniku sebentar?"
"Ya."
Singkatnya, dia hanya ingin aku menemaninya berbelanja.
Jika Sayaka benar-benar akan mulai mengerjakan pekerjaan rumah tangga dengan serius, dia memang harus berbelanja.
"Teijō Imai... supermarket kelas atas yang terkenal."
"Ini adalah satu-satunya supermarket di dekat rumahku. Yang lainnya agak jauh. Kamu bisa membeli bahan makanan di minimarket, tapi kalau untuk belanja serius, di sinilah tempatnya."
Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya terletak di area perumahan kelas atas.
Bukan hanya supermarket, tapi sangat sedikit toko populer yang ada di sekitarnya.
"..."
"Hm? Sayaka, kamu tidak mau masuk?"
"Kiyomiya-kun, kamu masuk duluan saja. Kalau rakyat biasa sepertiku yang masuk duluan, aku bisa-bisa diusir."
"Mana mungkin supermarket diskriminatif seperti itu ada di zaman sekarang!"
Tempat itu akan langsung viral di media sosial dan dihujat habis-habisan.
"Aku juga belum pernah masuk ke supermarket ini sebelumnya, aku mendapatkan semua bahan makananku dari minimarket sampai hari ini."
"Jadi orang kaya pun berbelanja di minimarket."
"Itu prasangka yang cukup besar. Bahkan anak-anak di sekolah kita pun pergi ke minimarket. Serta kafe waralaba dan tempat makanan cepat saji."
"Kalau orang kaya hanya berbelanja di tempat-tempat murah, ekonominya tidak akan berputar—Wha!?"
Tiba-tiba, Sayaka yang berada di belakangku mencengkeram bahuku.
"P-P ada apa dengan tiba-tiba...?"
Kamu tidak punya uang? J-Jangan bilang kamu tidak sanggup membayarku... kamu menipiku!?"
"Tunggu, tunggu!"
Seorang wanita berpenampilan elegan yang hendak masuk ke supermarket menatapku tajam dengan mata menyelidik.
"Kata-kata macam apa itu. Bukan, aku tidak berencana mempekerjakan maid... tapi tentu saja, aku punya cukup uang untuk mempekerjakan seorang Maid. Biaya perawatan untuk mansion besar itu dibiayai oleh keluarga Kiyomiya. Membayar biaya tenaga kerja masih sangat sanggup kami lakukan."
"Fiuh... aku sempat khawatir kamu cuma mempermainkanku. Kamu harus membayarku dengan benar."
"Pilih kata-katamu dengan benar!"
Wanita dari tadi sedang mengeluarkan ponselnya! Apa dia sedang menelepon polisi!?
"M-Mari kita masuk saja, Sayaka!"
"Oh, benar juga. Kita mau belanja."
Kami berjalan berdampingan, melewati wanita itu dan masuk ke dalam toko. Kita aman, kan?
"Begitu ya, bagian dalamnya tidak terlalu berbeda dari supermarket biasa."
"..."
Dia mengucapkannya dengan suara pelan, tapi aku berharap dia membisikkan kalimat tadi agar tidak didengar orang lain.
Sayaka mengambil keranjang belanja dan masuk ke area penjualan.
"Ah, aku saja yang membawakan keranjangnya."
Aku merebut keranjang itu dari tangan Sayaka.
Dia pasti akan bilang kalau dialah yang harus membawanya karena dia seorang maid, jadi aku harus bertindak tegas di sini.
"Kupikir Teijō Imai punya banyak toko kecil, tapi tempat ini ternyata cukup luas."
"Ah, pantas saja kalau kamu berpikir begitu."
Ada cabang Teijō Imai di gedung dekat kediaman utama keluargaku, tapi sepertinya aku ingat tempat itu tidak begitu besar.
"Pilihan barangnya bagus, dan kualitasnya juga sepertinya bagus. Meskipun harganya tidak begitu ramah di kantong."
"Orang kaya harus menjaga ekonomi tetap berputar, kan? Yah, aku tidak akan pelit soal urusan makanan, tapi aku juga tidak akan boros."
"B-Bolehkah aku membeli apa saja yang aku mau?"
"Ha? Oh, ya, silakan saja."
Itu bukanlah uang yang kudapatkan sendiri, jadi aku tidak bisa bertindak terlalu sombong.
Mata Sayaka tampak berbinar-binar saat dia melihat produk-produk yang dipajang.
Di sekolah, matanya selalu terlihat seperti wanita salju...
"Kiyomiya-kun, kamu lebih suka daging atau ikan?"
"Ha? Uh, umm... aku tidak membenci keduanya."
"Kalau begitu, mari kita buat dua hidangan, satu daging dan satu ikan."
"T-Tunggu! H-Hari ini aku lagi ingin makan daging!"
Gadis ini benar-benar tidak tahu arti kata moderasi!
Memintanya membuat dua hidangan utama itu terlalu berlebihan. Dan lagi—
"Apakah kamu benar-benar akan memasak untukku, Sayaka?"
"Ini hanya bentuk permohonan kerja, jadi aku tidak akan meminta gaji dulu."
"Bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah, punya teman sekelas perempuan yang memasak untukku..."
"Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena telah membiarkanku tinggal di sini. Ditambah lagi, kamu bisa menentukan gajiku setelah melihat kinerjaku."
"Kita bahkan melompati tahap penerimaan kerja dan langsung membicarakan kompensasi!"
Jika aku lengah sedikit saja, dia akan mengarahkan pembicaraannya tanpa sempat aku sadari.
"Daging... semuanya adalah daging kelas atas yang belum pernah kulihat sebelumnya."
"Harganya memang mahal. Di supermarket biasa, sebagian besar daging harganya paling tidak sepertiga dari harga ini."
"Yah, sudahlah. Karena aku bisa berbelanja sepuasku di toko seperti ini hari ini, rasanya sia-sia kalau tidak menikmatinya."
"M-Menikmatinya?"
Apakah menyenangkan bagi seorang siswi SMA berbelanja di supermarket?
Sepertinya Sayaka benar-benar menikmati pekerjaannya sebagai maid.
Dan begitulah, aku menuruti Sayaka yang tampak ceria dan berkeliling menjelajahi seluruh toko—
"B-Berat sekali...!"
"Sudah kubilang aku saja yang membawanya, kan?"
"T-Tidak, aku tidak mungkin membiarkan seorang gadis membawa ini."
Dua tas belanja ramah lingkungan yang sangat berat, penuh sesak dengan bahan makanan.
Rupanya Sayaka membawa dua tas belanja lipat di dalam tasnya.
Sepertinya dia sudah menghitung jumlah bahan makanan yang harus dibeli agar pas dan muat ke dalam tas-tas tersebut.
"Kira-kira apakah ini juga yang disebut sebagai ibu rumah tangga yang pandai berbelanja..."
"Kiyomiya-kun, aku ini seorang maid sebelum aku menjadi seorang gadis."
"Ha? Whoa!"
Sayaka telah meraih salah satu pegangan tas belanja yang kupegang di tangan kiri dan mengangkatnya.
Beban itu menjadi jauh lebih ringan, tapi—
"Berat segini tidak akan melukai harga diri seorang anak laki-laki, bukan? Aku rasa aku adalah pilihan yang menguntungkan sebagai seorang maid yang penuh perhatian."
"...Akan kupertimbangkan."
"Terima kasih," ucap Sayaka dengan tenang, disertai senyum tipis di wajahnya.
Langka sekali, melihat Sayaka tersenyum—atau apakah aku hanya membayangkannya saja?
"Tapi tetap saja."
"Apa?"
"Bukankah rasanya kita belanja bahan makanan bersama ini lebih mirip seperti pasangan suami istri daripada tuan dan maid?"
"..."
Sayaka menatapku tajam.
Untuk ukuran orang sepertimu yang bahkan berpikir bisa menjadi pasangan dengan wanita secantik aku, kamu benar-benar percaya diri.
Aku merasa itulah yang sedang dia ucapkan lewat matanya. Aku akui ada banyak rasa paranoia yang tercampur di sana.
"Mulai sekarang, aku akan berbelanja sendiri. Aku ini mahir dalam bidang akademik maupun olahraga, tahu. Membawa tas berat bukanlah masalah bagiku."
"Kalau dipikir-pikir, kamu memang jago olahraga juga, ya."
Aku pernah dengar bahwa Hisaka Sayaka bukan hanya juara kelas secara akademik, tapi dia juga mengungguli para siswa atletis dalam tes kebugaran jasmani.
Dia mungkin benar-benar sanggup membawa tas belanja seberat ini sendirian.
"Akan menjadi masalah kalau kamu mengucapkan hal bodoh seperti 'pasangan suami istri' itu."
"Hm...?"
Kupikir dia menatapku tajam lagi, tapi entah kenapa, pipi Sayaka merona merah, dan dia mengalihkan pandangannya.
Mungkin dia tidak terbiasa membicarakan hal-hal tentang anak laki-laki dan perempuan.
"Ayo kita pulang cepat. Aku harus melakukan yang terbaik untuk memasak makan malam. Aku akan membuatmu makan sampai kekenyangan."
"Ini bukan porsi untuk satu kali makan, kan!?"
Sayaka, yang masih memegang pegangan tas belanja, mulai berjalan dengan langkah cepat.
Aku tidak bisa menebak apakah dia sedang berusaha menyembunyikan rasa malunya atau memang serius, tapi aku pasti bisa menantikan porsi daging yang banyak untuk makan malam nanti.
Namun—
Hanya bisa menyantap masakan rumahan buatan Hisaka Sayaka saja sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia.
Sebenarnya, aku sudah menyukai Hisaka Sayaka sejak lama.



Post a Comment