Chapter 06
Maid Tidak Terbiasa Dikhawatirkan
"Sayaka, kamu nggak apa-apa?"
Begitu jam pelajaran olahraga selesai, aku
menunggu Sayaka kembali ke kelas. Aku menariknya ke lorong sepi yang berada di
bagian belakang, lalu memeluknya erat-erat.
"Aku melihat pelajaran olahraga tadi.
Apa mereka melakukan hal lain padamu?"
"Um, tunggu sebentar. A-Apa-apaan...
ini?"
Wajah Sayaka memerah saat ia mendongak
menatapku.
"Aku cuma khawatir banget sama kamu,
Sayaka."
"T-Tolong, tunggu dulu! Kamu
kan bukan tipe orang yang gampang cemas... Ah, k-kamu boleh memelukku, tapi
sedikit lebih lembut, dong...!"
"Ah, maaf."
Kulonggarkan dekapan lenganku pada Sayaka.
"T-Tapi kenapa tiba-tiba
begini..."
"Aku jadi cemas kalau nggak
memelukmu."
"Ngomong apa sih...
K-Keiji-kun, tubuhmu ternyata kekar juga, ya..."
"Hm? Ya, lagipula aku memang
berolahraga sedikit."
Aku sempat melupakan hal itu dan
memeluknya sekuat tenaga karena rasa cemas yang teramat sangat. Aku mendekap
Sayaka dengan lembut selama beberapa saat, lalu melepaskannya dengan berat
hati.
"Fuh..."
"Jangan mendesah lega begitu.
A-Aku memang mengizinkannya barusan, tapi bukan berarti kamu bisa memelukku
sesuka hati."
Sayaka yang wajahnya masih merona
melayangkan tatapan tajam padaku.
"Sekarang ini di luar jam kerjaku,
jadi pelukan tadi jatuhnya layanan cuma-cuma."
"Kalau begitu, nanti kubayar terpisah
sebagai opsi berbayar."
"Kamu ini bicaranya sama sekali nggak
imut, ya."
"Kamu sendiri yang mulai bicara nggak
imut duluan."
Gawat, padahal niatku datang untuk
menenangkan Sayaka, tapi ujung-ujungnya kami malah kembali ke dinamika obrolan
biasa.
Nggak, kalau Sayaka berada dalam bahaya,
aku harus melindunginya apa pun yang terjadi.
Secara teknis, aku sudah menyatakan
perasaan padanya, kan?
Rasanya seperti aku menembaknya di tengah
kekacauan seputar pembicaraan pertunangan dengan Maritsuji, tapi ketulusanku
seharusnya sudah tersampaikan.
Entah fakta bahwa dia adalah anak kandung
keluarga Kiyomiya ataupun masalah ini, Sayaka selalu bertingkah seolah tak
terjadi apa-apa setiap kali ada peristiwa besar yang menimpanya.
Padahal di sini aku merasa khawatir
setengah mati.
"Aku benar-benar baik-baik saja. Atau
lebih tepatnya, keadaannya tidak banyak berubah dari sebelumnya. Lagipula sejak
dulu aku praktis diabaikan oleh murid-murid perempuan lainnya."
"Diabaikan, katamu... Kalau
menurutku, kamu itu lebih terkesan menyendiri dengan angkuh, Sayaka."
"Begitu menurutmu? Yah, bahkan
sampai sekarang pun cuma Maki-san satu-satunya murid perempuan yang kuajak
bicara."
"Jangan menghapus keberadaan
Maritsuji begitu saja, dong."
Kedua orang ini benar-benar tidak
pernah akur.
"Aku mau kembali ke kelas sekarang. Kamu berniat tobat dari fase
sampahmu itu, kan? Membolos kelas itu tidak baik."
"Iya, aku tahu."
Aku berjalan mendahului Sayaka.
"Ah, permainan basketmu tadi
luar biasa banget. Dribble sama tembakanmu sama-sama
spektakuler."
"Aksi seperti itu mudah saja
dilakukan. Pada akhirnya, mereka semua hanyalah gadis-gadis manja yang terbiasa
hidup terlindung."
"Tak ada satu pun dari mereka yang
rela mengorbankan fisik demi mengejar bola sepertiku, makanya aku jadi
kelihatan menonjol."
"Aku tahu refleksmu bagus, Sayaka,
tapi ternyata kamu juga memang jago olahraga bola, ya."
"Itu ajaran ibuku. 'Otak dan
keterampilan rumah tangga memang penting, tapi yang paling utama adalah
kekuatan fisik. Selama kamu punya kekuatan untuk melindungi diri sendiri, kamu
bisa melewati hampir semua hal di dunia ini,' begitu katanya."
"Ibumu ini orang yang berbahaya atau
bagaimana, sih...?"
Hisaka Tsukasa, ya.
Kalau dipikir-pikir, aku hanya pernah
melihat wanita yang disebut sebagai ibu Sayaka itu lewat selembar foto.
Itu adalah foto dirinya yang mengenakan
seragam maid, berdiri berdampingan bersama ayahku.
Kupikir dia sangat cantik, seperti yang
diharapkan dari sosok ibunya Sayaka—tunggu, bukan begitu. Dia kan bukan ibu kandung Sayaka.
"Wanita itu ibu kandungku,
kan..."
"Kamu lupa, ya? Tidak apa-apa, kamu
boleh melupakannya terus. Ayahmu adalah Kiyomiya Takatsugu, hanya itu yang
perlu kamu ingat."
"...Yah, secara hukum memang
begitu."
Aku belum pernah melihat kartu
keluargaku sendiri, tapi kemungkinan besar aku terdaftar resmi sebagai anak
kandung Kiyomiya Takatsugu.
Andai tidak begitu, para kerabat
keluarga Kiyomiya pasti sudah melenyapkan keberadaanku sejak lama.
Sebab, klan Kiyomiya dipenuhi oleh
paman, bibi, dan para tetua yang menakutkan.
Dibandingkan mereka, Hisaka Tsukasa sama
sekali tidak ada seram-seramnya—
"...Hm?"
"Ada apa? Menatap wajahku lekat-lekat
begitu. Kalau kamu melihatnya terlalu lama, kujadikan opsi berbayar lho, tahu
nggak?"
"Kamu ini benar-benar nggak
ada manis-manisnya, ya? Bukan
apa-apa, aku cuma berpikir kalau kamu dan Hisaka Tsukasa nggak mirip sama
sekali—"
"Berpikir, katamu? Sudah sewajarnya
kalau kami tidak mirip, kan."
Benar juga, mereka tidak punya hubungan
darah, jadi wajar saja kalau wajah keduanya tidak mirip. Namun—
"Kamu dan maid di foto itu punya aura
yang mirip. Terutama kesan dingin yang membuat orang lain susah mendekat."
"Aku pun tidak berniat menyebut
diriku orang yang ramah atau mudah bergaul, tapi perkataanmu tadi tidak
terdengar seperti pujian, tuh."
"Nggak, aku lagi memujimu kok.
Bukannya aura menyendiri yang angkuh itu bagus? Rasanya aku ingin kamu tetap
menjadi dirimu yang sekarang selamanya, Sayaka."
"Menjijikkan."
"Kamu mengatakannya langsung di depan
mukaku?!"
Hinaannya benar-benar khas cewek
SMA!
Padahal kamu memang cewek SMA, sih!
"Karena dibesarkan olehnya, wajar
saja kalau kepribadian kami mirip. Mental ibuku juga kelewat kuat, jadi bagi
putrinya ini, perundungan dari para gadis hanyalah seperti hembusan angin
sepoi-sepoi."
"..."
Mengenal kepribadian Sayaka, kurasa dia
tidak akan mau mengaku sejujurnya sekalipun keadaan terasa berat baginya.
Meski demikian, hal yang paling merepotkan
adalah dia benar-benar tampak tidak terganggu sama sekali...
"Keiji-kun, aku menghargai
kekhawatiranmu, tapi kamu tidak perlu memikirkannya. Aku cuma tidak dioper bola
saat pelajaran olahraga, hanya itu. Masalah sepele begitu bahkan belum sampai
taraf perundungan."
"Memang benar, tapi pemilihan
waktunya mencurigakan."
Aku terganggu karena perlakuan kasar yang
terang-terangan ini dimulai tepat setelah kami membentuk faksi.
Sikap Fujikawa juga terlihat
mencurigakan...
"Posisi kamu di faksi kita memang
paling rentan, Sayaka. Kamu jadi sasaran empuk."
"Dulu aku sempat hampir dikeluarkan
dari sekolah, tapi Master-ku yang baik hati ini menyelamatkanku, jadi aku pasti
akan baik-baik saja. Yang
lebih penting lagi—"
"Hm?"
Sayaka menatap mataku lekat-lekat.
"Kamu sendiri selalu
dirundung karena statusmu sebagai anak haram keluarga Kiyomiya, kan? Bukannya
bermaksud lancang, tapi aku ingin kamu lebih mencemaskan dirimu sendiri
ketimbang orang lain."
"Secara teknis aku ini tetap putra
kepala keluarga Kiyomiya. Mungkin karena itulah perundungan mereka hanya sampai
di batas tertentu, karena status anak Kiyomiya bertindak sebagai perisai.
Tapi—"
"Aku tahu apa yang mau kamu katakan,
Keiji-kun. Kamu mau bilang kalau aku tidak akan dirundung seandainya
mengungkapkan statusku sebagai anak Kiyomiya? Kamu terlalu naif,
Keiji-kun."
"Naif?"
Seperti yang diharapkan dari siswi
peringkat atas, kepekaannya ini sangat membantu.
"Kamu pernah diseret ke ruang
klub basket dan nyaris dipukuli sampai babak belur, kan? Perlakuan seperti itu
tidak bisa disebut 'hanya sampai di batas tertentu', melainkan sudah layak
dilaporkan ke polisi."
"..."
Maksud Sayaka, sekalipun dia
mengungkapkan bahwa dirinya anak kandung keluarga Kiyomiya, dia tetaplah
berstatus anak haram. Posisinya tidak akan jauh berbeda dari keadaannya
sekarang.
"Bukan begitu, aku paham kok.
Mari kita sudahi perdebatan
soal siapa di antara kita yang merupakan anak keluarga Kiyomiya."
"Ayo kita sudahi."
"Pokoknya kamu harus tetap waspada
terhadap orang lain untuk sementara waktu, Sayaka. Masih mending kalau cuma
berhenti di urusan tidak dioper bola, tapi hal-hal semacam ini biasanya
cenderung memburuk. Aku juga bakal mengawasimu di kelas, tapi—"
Ponsel pintarku bergetar, lalu kukeluarkan
benda itu dari saku. Ada pesan LINE masuk dari Maki—sebuah foto baru saja
dikirimkan.
"Ini kan..."
Itu adalah foto tepat di saat Sayaka
melakukan tembakan melompat yang spektakuler tadi.
Dadanya yang montok tampak memantul hebat,
dan keliman kaos olahraganya tersingkap hingga memperlihatkan perutnya yang
putih mulus.
Karena mengenakan celana pendek, paha
putihnya pun tampak begitu menyilaukan—tunggu, bukan itu intinya.
Saat dilihat dalam bentuk foto seperti
ini, bagian bawah bajunya ternyata tersingkap jauh lebih tinggi dari dugaanku,
dan dadanya memantul dengan sangat memukau.
"Dari Maki-san? Ya ampun, gadis di
foto ini manis sekali."
"Sifat percaya dirimu itu makin hari
makin luar biasa saja, ya. Kata Maki, foto ini sedang beredar luas di kalangan
murid laki-laki dengan kecepatan tinggi."
"Sekali bocor, hal semacam ini pasti
langsung menyebar dalam sekejap," ucap Sayaka tenang seraya menatap foto
dirinya sendiri lekat-lekat.
"Ini jelas-jelas foto candid
mesum... Padahal membawa ponsel ke pelajaran olahraga itu dilarang."
"Ada banyak murid yang tidak
mematuhi aturan itu. Selalu ada beberapa orang yang membawanya setiap saat, dan
guru-guru pun tutup mata selama tidak mengganggu jalannya pelajaran."
"Kurasa anak laki-laki juga sering
melakukannya. Tapi
tetap saja, foto ini diambil dengan sudut yang sangat pas."
"Ponsel pintar zaman sekarang
memang menakutkan, ya."
"Mungkin mereka mengekstrak
gambar diam dari rekaman video."
"Mereka benar-benar berhasil
menemukan dan mengambil momen krusial yang tepat. Hah, inilah sebabnya kaum
pria selalu..."
"Hm? Kamu nggak marah,
Sayaka?"
Dia tetaplah sosok Hisaka-san yang
dingin di sekolah seperti biasanya.
Dia bahkan tidak melayangkan
tatapan jijik seperti sedang melihat sampah, yang sesekali biasa ia arahkan
padaku.
"Lagipula mereka tidak
mengambil foto pakaian dalam atau tubuh telanjangku. Tentu saja, satu-satunya
orang yang kuperlihatkan pakaian dalam atau tubuh telanjangku hanyalah Master
seorang, jadi hal itu seharusnya tidak cuma memuaskan hasrat seksualmu,
melainkan juga hasrat monopolimu."
"Dua-duanya sama sekali belum
terpuaskan! Berikan
aku lebih—tunggu, bukan begitu maksudku."
"Kamu boleh menyelesaikan kalimatmu
tadi, lho. Kamu bebas mengatakan apa pun padaku karena aku ini maid-mu; aku
sungguh tidak keberatan."
"Ya mana bisa kulakukan."
Mengatakan "Puaskan hasratku lebih
banyak lagi" bakal terdengar sangat parah sekalipun cuma bercanda.
"Mengingat mereka murid sekolah ini,
sepertinya mereka tidak akan menyebarkan foto itu ke luar. Pelakunya pasti
seorang murid, jadi bukankah mereka hanya akan menyimpannya di lingkungan
sekolah saja?"
"Di sekolah biasa, pasti ada satu
atau dua orang idiot yang bertindak bodoh, tapi bagaimanapun juga ini adalah
Sōshūkan."
Kecuali Sayaka, setiap murid di sini
memikul beban nama besar keluarga di pundak mereka.
Jika foto yang diambil diam-diam itu bocor
ke media sosial hingga memicu kehebohan besar dan pelakunya teridentifikasi,
nama keluarga mereka akan tercoreng.
"Kalau begitu, aku tidak terlalu
mempermasalahkannya. Aku yakin anak laki-laki juga ingin melihat foto gadis
cantik."
"Yang mengambil foto ini
kemungkinan besar perempuan."
"Hah?"
"Waktu pelajaran tadi, lapangan putra
dan putri kan dipisahkan oleh jaring, bukan? Foto ini tidak diambil menembus
jaring. Dan aku sangat ragu ada anak laki-laki yang cukup bodoh untuk menerobos
ke area putri demi mengambil foto diam-diam."
"Masuk akal juga. Kamu cukup
jeli."
"Sayaka, apa kamu sendiri tidak
merasa terguncang sedikit pun? Siapa pun pasti bakal menyadari hal seperti
ini."
"..."
"Ada kemungkinan masalah ini bakal
makin parah. Kalau pelakunya perempuan..."
Aku sebenarnya tidak ingin
membayangkannya, tapi andai pelakunya perempuan, mereka bahkan bisa saja
merekam Sayaka diam-diam saat sedang berganti pakaian di ruang ganti.
Mereka memang tidak mungkin menyebarkan
foto semacam itu di lingkungan sekolah, tapi tetap saja...
"Kiyomiya-san! Hisaka-san!"
Tiba-tiba saja, Maritsuji datang melangkah
dari ujung lorong seberang. Berbeda dengan langkah anggunnya yang melayang
pelan seperti biasa, derap kakinya terdengar begitu terburu-buru dan kasar.
"Waduh, Maritsuji?!"
"Apa kalian sudah melihat ini?"
"Iya..."
Di layar ponsel yang diacungkan Maritsuji,
terpampang foto tembakan Sayaka tadi.
"Ini foto yang diambil secara
sembunyi-sembunyi, kan... Aku bahkan bisa merasakan nuansa mesum di dalamnya.
Kiyomiya-san, apa foto ini membuatmu terangsang?"
"Jangan jadikan aku tolak
ukur buat menentukan sesuatu itu mesum atau tidak, dong."
"Ah, mohon maaf. Tampaknya aku sedang
sedikit emosi."
"Kenapa Anda begitu emosi,
Maritsuji-san? Anda kan membenciku?"
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun
merendahkanmu melalui cara-cara yang tidak adil."
Maritsuji tidak menjawab pertanyaan apakah
dia membenci Sayaka atau tidak. Namun tampak jelas bahwa dari lubuk hati
terdalam, ia benar-benar murka atas tindakan pemotretan diam-diam tersebut.
"Tidak apa-apa. Biar aku yang
menangani masalah ini, jadi tolong tenanglah."
"Hiiy..."
Maritsuji merengkuh Sayaka—meskipun karena
tubuh Maritsuji lebih mungil, pemandangan itu lebih terlihat seperti dia sedang
menempel erat pada Sayaka.
"A-Ada apa dengan Anda,
Maritsuji-san? Dari
sekian banyak orang, justru Anda..."
"Ah, mohon maaf. Aku hanya
terbawa dorongan sesaat."
"...Mengejutkan sekali Anda
bisa bertindak spontan hanya karena diriku."
"Apa itu mengganggumu?"
"Tentu saja tidak. Terima kasih
banyak."
"...T-Tidak perlu berterima kasih.
Aku adalah putri keluarga Maritsuji yang terhormat; aku pantang memaafkan
ketidakadilan."
"Bukankah posisiku ini musuh
Anda?"
"Siapa dirimu itu tidak penting,
Hisaka-san. Aku harus bertindak demi menjaga martabat keluarga Maritsuji."
Sosok tubuh mungil Maritsuji yang
mengatakannya dengan raut bermartabat itu anehnya terlihat jauh lebih besar.
Sayaka kemungkinan juga melihatnya dengan
cara yang persis sama.
"Kiyomiya-san, begitu kamu menemukan
pelakunya, tolong bawa orang itu ke hadapanku."
"K-Kamu mau membunuhnya?"
"Aku sungguh ingin tahu secara
mendetail apa sebenarnya pandanganmu terhadap diriku, Kiyomiya-san. Kami ini
keluarga Maritsuji, bangsawan dari segala bangsawan; kami takkan pernah
menggunakan cara-cara kasar seperti kekerasan."
Maritsuji melayangkan tatapan tajam ke
arahku sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Benar, pelakunya kemungkinan seorang
perempuan, jadi aku ingin menghindari tindakan kasar."
"Kalau begitu, kita akan menggelar
pesta minum teh di ruang teh keluargaku dan menyuruhnya berpartisipasi."
"Pesta minum teh?"
"Benar, kita akan menyuruh si pelaku
datang mengenakan kimono. Jika dia memang murid sekolah ini, dia pasti memiliki
satu atau dua potong kimono."
"Menghadiri pesta minum teh dengan
mengenakan kimono... sewajarnya itu berarti harus duduk bersimpuh dalam posisi seiza,
kan?"
"Ini akan menjadi pesta minum teh
santai antarteman saja, namun kami tetap akan memintanya mematuhi etika paling
mendasar. Ngomong-ngomong, meskipun aku lemah dalam olahraga dan kurang
stamina, aku sanggup duduk dalam posisi seiza selama lima hingga enam
jam berturut-turut tanpa bergerak."
"...Ngomong-ngomong, apa ruang teh
keluargamu dilengkapi pendingin ruangan, Maritsuji-san?"
"Di luar cuacanya sudah cukup panas,
jadi ini pasti akan menjadi cobaan yang sangat berat."
"..."
Perlahan-lahan, seulas senyum mulai
mengembang di wajah Maritsuji.
Duduk seiza selama lima sampai enam
jam di ruang teh yang panas tanpa AC?
Siksaan semacam itu justru membuat
kekerasan fisik terasa jauh lebih mendingan.
"Aku mulai merasa kasihan pada
pelakunya."
Aku sangat setuju dengannya.



Post a Comment