Chapter 09
Maid Menjadi Target
Beberapa hari kemudian, saat jam istirahat
siang—
Setelah memakan bento-ku di area depan
pintu menuju atap, aku kembali ke kelas.
Seperti biasa, Sayaka sedang duduk
sendirian sambil membaca buku paperback dengan tenang.
"…Sayaka, ada hal aneh yang
terjadi?"
"Kamu menanyakan hal itu
padaku setiap hari akhir-akhir ini. Tidak ada apa-apa kok, benar."
"Begitu ya."
Secara pribadi, aku lebih suka terus
berada di dekat Sayaka selama di sekolah kalau bisa.
Namun, Sayaka secara blak-blakan berkata
kepadaku, "Rasanya meresahkan kalau harus terus berduaan bahkan di
sekolah."
Ada benarnya juga; mengingat kami tinggal
di atap yang sama, kalau aku terus menempelinya di sekolah, dia pasti akan
merasa risih.
"Kurasa aku tadi cuma terlalu
overthinking? Mungkin
tidak ada arti mendalam di balik kamu yang sama sekali tidak dioper bola saat
basket juga."
"Belum tentu."
Prat, Sayaka menutup buku
paperback-nya. Sebuah pembatas buku terselip rapi di dalamnya.
"Sebenarnya, hal kecil memang
terjadi kemarin."
"Eh? Kalau dipikir-pikir,
kemarin kamu pulang terlambat dan bilang mau 'belanja ala gadis', kan?"
Sayaka biasanya langsung pulang
dari sekolah atau paling mampir sebentar ke supermarket, jadi jarang sekali dia
pulang terlambat karena urusannya sendiri.
"Sejujurnya, aku diajak oleh para
gadis di kelas kita untuk pergi ke karaoke."
"Karaoke!?"
"Kamu sampai kaget
begitu?"
"Yah, karena berbagai alasan…
Pertama, kamu tidak terlihat seperti tipe orang yang pergi ke karaoke, Sayaka.
Dan kamu diajak oleh para gadis di kelas kita? Kamu diajak dan benar-benar
menerimanya?"
"Ya, kalau aku menolak, itu sama
artinya aku kabur."
"Tidak, kurasa menolak ajakan karaoke
bukan masalah besar sama sekali…?"
Dia membicarakannya seolah-olah itu
masalah menang atau kalah, padahal kan cuma karaoke.
"Dalangnya adalah para gadis dari
kelompok Fujikawa. Mereka semua adalah siswi tahun pertama tipe atletis.
Sepertinya itu adalah bagian dari pelecehan dari kelompok Fujikawa."
"Jadi itu sebabnya kamu tidak kabur…
Tunggu, bukan, justru itulah kenapa kamu seharusnya mengabaikan mereka lalu
kabur, kan?"
Jadi mereka adalah anggota yang sama yang
melecehkannya saat pertandingan basket.
"Para gadis dari kelompok Fujikawa
mengumpulkan para anggotanya. Mereka semua adalah gadis-gadis yang pandai
bernyanyi."
"Gadis-gadis yang pandai bernyanyi?
Apa tujuannya?"
"Layaknya Sōshūkan, hampir 100 persen
para siswi di sini belajar piano. Mereka punya pendengaran nada dan ritme yang
bagus, bahkan ada seseorang yang mempelajari musik vokal, jadi mereka
benar-benar jago. Hampir
semuanya mencetak skor di atas 90 poin."
"I-Itu sih pelecehan yang
sepele banget. Apa rencana mereka untuk mencetak skor tinggi di karaoke lalu
menertawakanmu saat kamu mendapat skor rendah, Sayaka?"
Kurasa itu berarti mereka tidak
cukup bodoh untuk melakukan pelecehan yang meninggalkan bukti fisik, tapi…
"Selain itu, mereka memaksaku
menyanyikan lagu tingkat kesulitan tinggi yang bahkan para profesional pun
kesulitan untuk mendapat skor tinggi. Mereka mungkin berpikir 'Beruntung kalau
dia ternyata tuli nada, tapi bagaimanapun juga tidak mungkin dia bisa
mengalahkan kita'."
Sayaka meletakkan satu tangan di dadanya
dan—
"~~~~♪ ~~~~~~~♪"
"Kamu jago banget nyanyinya!"
Meskipun kami berada di dalam kelas,
Sayaka tidak mempedulikannya, bernyanyi dengan volume yang cukup besar.
Teman sekelas kami juga terkejut dan
menatap ke arah Sayaka—tapi begitu Sayaka selesai menyanyikan satu bagian
korus…
"Yah, levelnya kurang lebih
begini. Bagaimana menurutmu?"
"Aku cuma pernah mendengarmu
bersenandung sebelumnya, tapi suaramu ternyata bagus banget."
"B-Bersenandung? M-Mana
mungkin aku menyanyikan hal semacam itu."
Aku pernah mendengar Sayaka
bersenandung di saat-saat langka ketika dia sedang dalam suasana hati yang
sangat baik, itu pun baru sekitar dua kali.
Kurasa suaranya bagus waktu itu,
tapi saat dia bernyanyi normal seperti ini, kemampuannya sudah setara
profesional.
"Aku bukan cuma pintar,
atletis, dan berpenampilan menarik. Aku bisa melakukan hampir semua hal dengan
sempurna."
"…Jadi itu adalah salah
perhitungan di pihak para gadis itu ya."
Jika dia bisa bernyanyi sebaik
ini, setidaknya mereka tidak akan bisa menjadikannya bahan tertawaan.
"Ekspresi tercengang di wajah
para gadis itu waktu itu… Hehe, menggemaskan sekali, tahu."
"Hei, dialek Kyoto milik
Maritsuji menular kepadamu!"
Dialek Kyoto milik Maritsuji itu
hanya keluar saat dia hendak menjerumuskan seseorang ke dalam teror, lho.
Sebenarnya seberapa parah kamu
membuat Maritsuji kesal!?
"Oh, mohon maaf. Sejujurnya,
aku memang telah menjadi subjek dari berbagai pelecehan sepele. Mengambil
pembatas buku dari buku paperback-ku, mencabut buku catatanku saja dari
tumpukan PR yang dikumpulkan, sering mengarahkan ponsel kepadaku untuk mengambil
foto rahasia, hal-hal semacam itu."
"Tunggu, tunggu, aku sudah
bilang padamu untuk melapor kalau terjadi sesuatu, kan?"
"Itu artinya itu cuma bentuk
pelecehan sepele. Karaoke kemarin sebenarnya sudah cukup untuk membuatku
bernyanyi sepuas hati dan melampiaskan stres. Pada akhirnya—rencanamu berhasil,
kan."
"…Entahlah berhasil atau tidak."
Rencana yang kupikirkan untuk melindungi
Sayaka—kupikir itu agak berisiko.
"Berkat Maki-san, sepertinya hal ini
menyebar ke seluruh sekolah."
"Sudah kuduga dari seorang
informan."
Sayaka mengoperasikan ponselnya dan
menampilkan sebuah foto.
"Ini foto yang bagus banget,
lho. Kamu jago juga mengambil
foto, Keiji-kun. Kamu begitu lihai sampai membuatku berpikir kalau kamu sering
mengambil foto para gadis."
"Terdengar buruk banget! Aku
cuma mengambilnya secara normal!"
Tentu saja, aku hampir tidak
pernah mengambil foto para gadis.
Hanya pada beberapa kesempatan ketika Maki
memaksaku mengambil fotonya.
"Rasanya aneh mengatakan ini langsung
di depanmu, tapi subjeknya memang bagus. Siapa pun bisa mengambil foto yang bagus
dengan objek seperti itu."
Itu adalah foto Sayaka berseragam
yang berdiri di samping Kiyomiya Hiromichi—Hiro-niisan, yang juga mengenakan
seragamnya.
Latar belakangnya adalah dinding
biasa yang tidak mencolok, membuat lokasi aslinya mustahil dikenali.
Sayaka memasang senyuman langka di
wajahnya, sementara Niisan tersenyum gugup sambil sedikit malu-malu menunjukkan
tanda damai.
"Ya, kalau dilihat-lihat
lagi, ini foto yang bagus."
Sudah rahasia umum di sekolah
bahwa aku dan Sayaka belakangan ini akur, dan sudah jadi pengetahuan umum kalau
aku dan Hiro-niisan adalah kerabat.
Jadi sepertinya tidak akan mengherankan
kalau aku mengambil foto berdua antara Sayaka dan Hiro-niisan.
"Ya ampun, berfoto dengan gadis imut
seperti ini membuatku jadi tersipu."
Niisan merasa malu tapi tampak senang saat
difoto.
Reaksinya mirip seperti anak SMP
yang polos…
Tidak mungkin ada orang yang
melihat foto berdua ini lalu merasa kalau Sayaka telah direbut dariku.
Yah, perasaan pribadiku sih tidak penting,
walau bagaimana pun.
"Dengan foto ini, orang-orang akan
berpikir kalau Sayaka berada di bawah perlindungan kandidat terkuat calon
kepala keluarga Kiyomiya berikutnya."
"Kamu jadi pria yang licik ya,
Keiji-kun."
"Aku sudah meminta izin Niisan dengan
benar untuk membagikannya ke orang lain, tahu."
Aku merasa sedikit bersalah karena
memanfaatkan Hiro-niisan yang berpikiran polos itu, tapi—
Berkat foto berdua Sayaka dan Niisan,
serangan terhadap Sayaka tidak sampai meningkat, dan tampaknya masalah ini
mereda dengan hanya sebatas pelecehan ringan.
Jika keadaannya terus seperti ini,
bukankah masalah ini akan mereda dalam waktu dekat—?
"Namun, bolehkah aku berbicara dari
pengalaman pribadiku sendiri?"
"Pengalaman pribadi?"
"Aku sudah pintar, atletis, dan
berpenampilan menarik sejak kecil, tapi—"
"Bukankah itu cuma pamer alih-alih
pengalaman pribadi?"
"Meskipun begitu, aku dulunya pendiam
dan payah dalam bersosialisasi."
"Apakah kekurangan kemampuan sosialmu
itu benar-benar cuma karena kamu pendiam?"
Aku bisa dengan mudah membayangkan kalau
masalahnya terletak di bagian kepribadianmu yang lain, tahu?
"Aku kadang-kadang menjadi korban
hal-hal yang mirip perundungan. Berbicara dari pengalaman itu—orang-orang
semacam itu tidak akan pernah berhenti merundung. Faktanya, jika kamu
menghalangi jalan mereka, mereka hanya akan mencoba merundungmu dengan metode
yang berbeda."
“…Apa?”
"Perundungan yang bisa terselesaikan
secara dramatis berkat campur tangan guru atau orang tua adalah cerita yang
hanya ada di dalam fiksi. Pola yang paling umum adalah hal itu akan terus
berlanjut sampai kedua belah pihak benar-benar kehilangan kontak satu sama
lain."
"Sayaka, jangan bilang kalau alasanmu
pindah ke Sōshūkan adalah…"
"Itu adalah instruksi dari ibuku. Dia
bilang kalau aku menjadi siswi beasiswa di Sōshūkan, uang kuliahku akan
digratiskan sepenuhnya, dan aku bisa memilih jalur karier yang bagus."
"…Kalau begitu tidak apa-apa."
Syukurlah, Sayaka ternyata bukan tipe
orang yang kabur setelah kalah dari perundungan.
Sayaka memiliki kemampuan sehebat itu;
mana mungkin hal semacam itu benar terjadi.
"Meski begitu, itu berarti masih
terlalu cepat untuk bersantai."
Lagi pula, kita baru saja membentuk faksi
dan belum menghasilkan apa-apa.
Yam, kamu harus fokus memperluas Seishinkai,
Keiji-kun. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan pelecehan yang diarahkan padaku.
Kalau dipikir-pikir, aku malah tidak sabar melihat jenis serangan menyedihkan
apa lagi yang akan mereka coba selanjutnya.
"Kamu terlalu tangguh."
Tidak diragukan lagi bahwa Sayaka lebih
rentan menghadapi situasi berbahaya daripada Maki atau Maritsuji, tapi dia
benar-benar bisa menyelesaikan sebagian besar hal sendirian.
Namun—
"Sayaka, aku tidak bisa begitu saja
mengabaikan kenyataan bahwa kamu satu-satunya yang menjadi target—"
"Keiji-kun!"
Tiba-tiba, Sayaka berdiri dan mengulurkan
tangannya ke arahku.
Plak!
Sebuah suara bergema seperti cambuk yang
menghantam lantai, dan aku menoleh.
"Bola basket?"
"Keamanan di kelas ini benar-benar
buruk ya."
Sebuah bola basket melayang terbang dari
belakangku, dan tampaknya Sayaka telah menangkapnya untukku.
"Apa maksud dari semua ini,
Fujikawa?"
Sayaka dengan cekatan memutar-mutar bola
di jari telunjuknya dengan suara berdengung.
Dia benar-benar punya banyak trik
tersembunyi.
"Ah, salahku, salahku. Aku
tadi cuma main lempar-lemparan di koridor, dan bolanya malah melayang sampai ke
sini."
“…Fujikawa.”
Sosok yang memasuki kelas adalah
Fujikawa Kōtarō.
Dia menyeringai, bahkan tidak
berusaha menyembunyikan fakta bahwa dia sengaja mengarahkanku.
"Sayaka, kembalikan bolanya
padanya."
Sayaka mengangguk lalu melemparkan
bola itu kembali ke arah Fujikawa.
"Maaf ya, Hisaka. Terima kasih sudah
menangkapnya. Kalau sampai aku menghantam kepala Tuan Muda keluarga Kiyomiya,
keluarga Fujikawa milikku yang merupakan cabang dari keluarga cabang ini tidak
akan bisa lolos dengan mudah."
"…"
Fujikawa tahu betul bahwa menghantam
kepalaku dengan bola tidak akan menimbulkan masalah apa pun.
"Ngomong-ngomong, Kiyomiya. Kamu itu
benar-benar sampah, ya?"
"Ada apa tiba-tiba begini?"
Fujikawa mendekati bangku-ku dan
mendudukkan pantatnya di atas meja milik seseorang.
"Mempekerjakan teman sekelas sebagai
maid di rumahmu sendiri itu selera yang sangat buruk, tahu?"
"…Apa yang sedang kamu
bicarakan?"
"Percuma saja mencoba berkelit. Kami
punya buktinya."
Fujikawa mengeluarkan ponselnya dan
menampilkan sebuah foto di layar.
Di dalam foto itu—terlihat Sayaka,
mengenakan seragam maid-nya, membawa tas belanja di kedua tangannya, dan
memasuki Kediaman Tua Keluarga Kiyomiya.
Fujikawa menggeser layarnya,
menampilkan foto demi foto.
Dia sengaja menunjukkan Sayaka
memasuki Kediaman Tua lewat gambar foto alih-alih menggunakan video.
"Kalau dipikir-pikir, aku
baru ingat. Keluarga utama Kiyomiya punya tradisi di mana anak-anak mereka
meninggalkan rumah utama untuk tinggal di kediaman luar. Jadi kamu tinggal
sendirian di Kediaman Tua—tidak, kamu tinggal sendirian bersama seorang maid."
"…Itu kan pengambilan foto
secara diam-diam."
"Betul sekali, fotografi
rahasia adalah hal yang buruk. Silakan, laporkan saja ke sekolah, tuntut aku, lakukan apa pun yang kamu
mau."
Fujikawa kemungkinan besar yakin kalau
kami tidak akan memperpanjang masalah ini.
Karena kenyataannya, jika kami membuat
keributan, pihak yang akan dirugikan bukanlah kelompok Fujikawa—melainkan
Sayaka.
Bekerja sebagai maid di rumah teman
sekelas.
Sudah wajar jika para siswa di sekolah
akan membiarkan imajinasi mereka liar.
"…Jadi akhirnya ketahuan juga
ya."
"Hei."
Meskipun begitu, benar adanya bahwa ini
adalah situasi yang tidak bisa kami elak lagi.
Aku tidak tahu siapa yang membuntuti
Sayaka dan mengambil foto pada saat-saat krusial, tapi—ini benar-benar
pelecehan yang kelewatan.
Apakah akan lebih baik jika aku tidak
ceroboh membocorkan foto berdua dengan Hiro-niisan, dan membiarkannya terus
menerima pelecehan ringan saja?
Tentu saja, terlepas dari apakah itu
ringan atau berat, sama sekali tidak mungkin aku bisa berdiam diri dan menonton
Sayaka dilecehkan.
Pertama-tama, aku harus menghadapi masalah
pelecehan besar-besaran ini—
Chapter 8 | ToC | Chapter 10



Post a Comment