Chapter 21
Maid Tidak Bisa Mengkhianati
Panggung untuk Festival Hōki
diadakan di auditorium sekolah—yang terpisah dari gedung olahraga. Keberadaan
"kursi VIP" tepat di depan panggung memberikan tekanan yang luar
biasa besar.
Bukan cuma Ketua Yayasan Toyohara
yang necis yang duduk di kursi VIP itu, melainkan di sebelahnya juga ada—
Seorang pria tua yang mengenakan
kimono hitam, kepalanya dicukur plontos rapi seperti seorang biksu, memegang
kipas lipat dan entah kenapa memakai kacamata hitam.
Kepala keluarga Maritsuji saat
ini—yang dijuluki sang "Gozen", sosok terhormat yang berada di puncak
tertinggi masyarakat bangsawan.
Beliau tampak seperti kakek-kakek
berusia sekitar tujuh puluh atau delapan puluh tahun, namun punggungnya tegak
lurus sempurna tanpa menyisakan celah sedikit pun. Hawa udara di sudut itu saja
sudah terasa sangat berbeda... benar-benar menegangkan.
Ngomong-ngomong, pria paruh baya di
sebelahnya adalah ayahnya Hiro-niisan, tapi mungkin karena terintimidasi oleh
tekanan sang Gozen, dia tampak menciut. Dia adalah pria ambisius yang berencana
mendudukkan putranya sebagai pewaris keluarga utama Kiyomiya, tapi dengan sifat
sepenakut itu, apa nggak mustahil?
"Lagi ngapain, Keiji? Sebentar lagi
giliran kita, lho."
Saat aku sedang mengintip ke arah kursi
VIP dari sisi panggung, Maki muncul di belakangku. Di atas panggung sana,
"Kelompok Riset Drama Klasik" sedang menampilkan pertunjukan penuh
penghayatan dari karya sastra era Heian terkenal yang dipadatkan menjadi
ringkasan sepuluh menit.
"Iya, cuma lagi melihat sang
Gozen sebentar. Beliau bukan orang yang bisa kamu lihat setiap hari, kan?"
"Ah, aku juga agak pengin
mengambil foto sih, tapi rasanya aku bakal kena kutuk kalau nekat. Lagipula aku
nggak bakal bisa mengunggahnya, dan malah bakal dimarahi kalau sampai
melakukannya."
Apa kamu bakal dimarahi oleh ayah
kandungmu yang identitasnya baru saja terbongkar tadi, Maki-san?
"Kalian berdua memperlakukan kakekku
seperti hewan langka saja..."
"Ah, Anri-chan."
"Waduh, kalau begitu kuserahkan
sisanya pada kalian berdua anak muda, ya."
Kali ini Maritsuji yang muncul, dan Maki
langsung kabur seperti kelinci ketakutan.
Untuk saat ini, karena berbicara di sisi
panggung tidak baik bagi Kelompok Riset Drama Klasik, kami pindah ke tempat
yang agak jauh dari panggung. Area di sana agak remang-remang, dan berhubung
berbahaya bagi Maritsuji yang tidak atletis, aku menggandeng tangannya dan
menuntunnya berjalan.
"Terima kasih banyak. Jadi, bagaimana
kesanmu terhadap kakekku?"
"Entah kenapa beliau memakai kacamata
hitam... Mungkin kalau dilepas, ternyata matanya imut banget atau
semacamnya."
"Justru sebaliknya."
"..."
Itu penjelasan yang sangat singkat, tapi
aku paham betul apa maksudnya. Artinya sang Gozen punya tatapan mata yang
begitu mengerikan sampai-sampai memakai kacamata hitam justru jauh lebih baik.
"Aku juga tahu soal rumor
tentang kakekku. Tapi beliau sebenarnya bukan orang yang semenakutkan seperti
kata semua orang, kok."
"Kuharap memang begitu demi
keselamatanku."
Sang Gozen konon adalah orang yang
tidak pernah memperlihatkan sisi lembutnya bahkan kepada anak atau cucunya
sendiri, tapi kabarnya Maritsuji Anri inilah satu-satunya kerabat yang
dimanjakan oleh pria tua menakutkan itu.
Dan tunangan Anri-chan itu adalah aku...
Bukankah salah langkah sedikit saja bisa membuat nyawaku melayang?
Sejujurnya, sang Gozen yang tampak rapuh
seperti pohon kering itu jauh lebih menakutkan ketimbang Ryūdouji yang berotot.
Untuk sementara waktu, berhubung statusku orang yang terluka, aku duduk di
kursi tanpa sandaran yang diletakkan di dekat situ.
"Ah, Maritsuji, seragam sailor
itu cocok banget buatmu."
"Eh? Ah, terima kasih."
Seragam lama Sōshūkan yang sempat
disinggung Ketua Yayasan Toyohara tadi—
Maritsuji mengenakan seragam lama
itu, sebuah seragam sailor berwarna biru tua.
Roknya panjang hingga di bawah
lutut, membuatnya kelihatan agak kuno, namun anehnya sangat serasi dikenakan
oleh Maritsuji. Maki tadi juga mengenakan seragam sailor, sedangkan aku
mengenakan seragam berkerah tinggi.
Seragam biasa jelas tidak cocok
sebagai kostum untuk tarian tradisional Seishinkai, dan pakaian istana
bangsawan terlalu anakronistis hingga mungkin cuma bakal terlihat seperti cosplay
kalau kami kenakan, jadi Maki membawakan seragam-seragam lama ini entah dari
mana. Entah dari mana, atau lebih tepatnya... sumbernya kemungkinan besar
adalah Ketua Yayasan Toyohara.
"Anu, mohon maaf mengganggu.
Maritsuji-san, apa ada waktu sebentar?"
"Iya, ada apa? Kiyomiya-san, aku
permisi sebentar."
Seorang murid yang tampak seperti panitia
pelaksana Festival Hōki membawa Maritsuji pergi. Tampaknya ada cukup banyak
orang dewasa yang ingin menyapanya.
Aku sebenarnya berada di posisi yang mirip
dengan Maritsuji, tapi sepertinya tidak ada orang dewasa yang secara khusus
ingin menyapaku.
"Keiji-kun."
"...Datang untuk menyapaku
juga?"
Sosok yang muncul dalam kondisi siap
tampil tentu saja adalah maid-ku, Sayaka. Dia juga mengenakan seragam sailor,
dan itu terlihat sangat cocok untuknya tanpa diduga.
Penampilan sekolahnya yang sederhana
dengan kacamata dan rambut kepang dua juga berpadu sempurna dengan seragam sailor
bergaya kuno tersebut.
"Ngomong apa sih? Lebih penting lagi,
untuk sekarang aku akan pura-pura tidak melihat apa-apa, tapi kamu harus pergi
ke rumah sakit begitu penampilan di panggung selesai."
"Nggak sesakit itu kok, dan kalau
cuma dikompres—"
"Kamu harus ke rumah sakit."
"...Iya."
Aku tidak bisa menolak kalau dia sudah
mengatakannya dengan begitu tenang dan tegas.
"Kita akan meminta mereka memeriksa
seluruh tubuhmu sampai tuntas. Terluka berkali-kali tanpa kapok begini, pasti
ada yang salah dengan dirimu."
"Nggak ada yang salah, kok. Ini baru
kedua kalinya aku terluka."
"Mayoritas orang menghabiskan seumur
hidup mereka tanpa pernah terluka dalam perkelahian. Kamu terluka dua kali
dalam waktu singkat, jadi kamu itu nggak normal."
"...Siapa pun pasti pernah luka
ringan sesekali, kan."
"Dalam kasusmu, ini bukan
sekadar lecet. Bukan cuma
kakimu, di sini juga kena, kan?"
"Aduh...!"
Sayaka mencengkeram pergelangan tangan
kananku lalu mengangkatnya perlahan.
"K-Kok kamu bisa tahu?"
Karena aku menahan ayunan pukulan telak
Ryūdouji tadi, wajar saja kalau aku tidak lolos tanpa luka.
"Soalnya gerakan lenganmu kelihatan
kaku, apalagi kita kan selalu bersama sepanjang waktu di sekolah dan di rumah.
Kalau gerak-gerik Keiji-kun berbeda dari biasanya, aku bisa langsung
tahu."
"Seperti yang diharapkan dari
seorang maid..."
Kalau Sayaka sedang tidak enak
badan, apa aku bakal sanggup menyadarinya juga?
"Tepat sekali, aku ini
maid-mu dan kamulah hal yang paling penting bagiku. Jadi... apa yang harus
kulakukan, haruskah kucegah kamu naik ke atas panggung?"
"Kumohon ampuni aku soal yang satu
itu. Kalau debut faksi kita gagal di sini, kita takkan bisa bangkit lagi untuk
waktu yang lama."
Rencanaku untuk tobat dari fase
sampah pun bakal tertunda berat.
"Aku sudah dengar dari
Maki-san kalau kamu menghajar orang yang kelihatan seperti berandalan bernama
Ryūdouji."
"Dia bukan berandalan... Aku
cuma pakai sedikit trik pintar dan entah bagaimana bisa mengatasinya."
"Mama—Hisaka Tsukasa juga jago
berkelahi karena di kawasan tempat kami tinggal dulu ada banyak preman, bahkan
pernah suatu kali Mama melumpuhkan beberapa pria yang sedang berkelahi. Padahal
waktu itu usianya sudah hampir tiga puluh tahun, tapi dia memang sekuat
itu."
"...Kira-kira apa kekuatan fisikku
ini juga warisan darinya, ya?"
Kalau dipikir-pikir, sejak kecil aku juga
memang berbakat secara alami dalam bidang olahraga...
"Setelah itu, dia pura-pura terluka
dan memeras uang damai dari pria-pria yang sudah dia hajar."
"Punchline-nya kejam
banget."
Orang-orang mirip preman itu jelas salah
memilih lawan, ya.
"Lagipula aku bukannya suka kekerasan
fisik kok, jadi aku pasti bakal menahan diri."
"Kuharap kamu memang melakukannya.
Tapi apa rencanamu sekarang, mengingat kamu adalah ketua faksi yang bakal
mengenakan pakaian itu dan mengambil posisi tengah?"
"Posisi tengah, ya..."
Kita kan bukan grup idola, jadi sebenarnya
tidak ada istilah 'posisi tengah' atau semacamnya. Meskipun begitu, dalam
koreografi buatan Maki, aku memang diatur untuk menari di tengah-tengah anggota
lainnya.
Tepat di samping kami ada gantungan
besar... yang tampaknya disebut rak kimono, dan sebuah jaket haori emas
mencolok tergantung di sana.
Sebagai ketua, aku seharusnya mengenakan
haori emas yang kelewat mencolok ini di atas seragam berkerah tinggiku lalu
menari.
Bukannya ini terlalu mencolok mata...?
"Yah, mau bagaimana lagi selain
kulakukan. Cuma menari sekali saja pasti bisa kutahan karena bagaimanapun juga
aku ini laki-laki."
"...Pola pikir yang ketinggalan zaman
sekali. Hanya karena kamu laki-laki, bukan berarti kamu harus menahan semuanya
demi gengsi yang keras kepala, lho."
Sayaka berdiri di sampingku dan menatap
lurus ke arahku.
"Membentuk faksi itu sama sekali
bukan dirimu. Keiji-kun tobat dari fase sampah memang harapanku, tapi dari tadi
kamu terus melakukan hal-hal yang tidak mencerminkan dirimu, kenapa?"
"Mana mungkin Sayaka yang pintar
nggak tahu jawabannya, kan?"
Kuberanikan diriku—lalu
menggenggam tangan Sayaka. Sayaka tidak membalas genggamanku, tapi dia juga
tidak mencoba menepisnya.
Untuk saat ini, itu saja sudah cukup.
"Entah tujuanku menjadi kepala
keluarga Kiyomiya, atau menyerahkan posisi itu pada Hiro-niisan lalu kabur dari
masyarakat bangsawan, memiliki kekuatan tetaplah pilihan terbaik. Soalnya untuk
kabur sekalipun, kamu tetap butuh kekuatan."
Bahkan sebagai anak haram sekalipun,
selama aku masih menyandang posisi sebagai putra kepala keluarga, keluarga
Kiyomiya takkan membiarkanku lolos.
Kedengarannya memang bertolak belakang,
tapi itulah yang pasti bakal terjadi.
"Yah, untuk saat ini, lagipula aku
ingin terus mempekerjakan seorang maid tertentu. Aku akan mempertahankan
posisiku sebagai putra kepala keluarga Kiyomiya, setidaknya agar aku punya
cukup uang untuk itu."
"Aku paham. Kamu ini benar-benar
tidak jujur dengan perasaanmu, ya."
"Bukannya kamu sendiri juga
begitu!"
Kamu sendiri orang yang jalan pikirannya
masih tidak bisa kubaca.
Dia tampaknya ingin mendudukkanku sebagai
kepala keluarga Kiyomiya, padahal posisi itu kan hak yang seharusnya dimiliki
oleh Sayaka sendiri, bukan?
Terlebih lagi, kekayaan dan kekuasaan
tanpa batas mengalir deras dari posisi itu, tahu. Normalnya siapa pun pasti
bakal menginginkannya, kan?
"Yah, satu-satunya hal yang kupahami
adalah kenyataan bahwa Keiji-kun menyukaiku, kurasa."
"Bisa-bisanya kamu mengungkit hal itu
lagi sekarang?!"
Padahal tadi kamu sama sekali tidak
menyinggungnya!
"Aku tahu Keiji-kun sedang berusaha
keras demi diriku, makanya aku juga akan melakukan apa pun yang kubisa demi
dirimu. Aku tidak hanya akan melayanimu sebagai maid di rumah besar, melainkan
juga membaktikan diriku untukmu di sekolah."
"M-Membaktikan diri..."
"Apa aku perlu memberimu ciuman
sebagai hadiah kerja kerasmu? Kali ini, kamu mau ciuman yang sungguhan
alih-alih cuma di dekat bibir?"
"I-Itu sih... lain kali saja!"
"...Penakut."
"...Maaf."
Tapi mana mungkin kami berciuman di sisi
panggung tempat orang-orang bisa melihat kami begini, kan?
"Tapi kalau kamu bersedia
mendengarkan perintahku, ada sesuatu yang ingin kusuruh kamu lakukan."
"Dasar mesum."
"Kan sudah kubilang bukan
begitu! Bukan itu
maksudku..."
Ada satu hal yang hanya bisa dilakukan
oleh Sayaka seorang.
Unggul dalam bidang akademis maupun
olahraga, sempurna sebagai seorang maid, serta diam-diam merupakan sang ojou-sama
pewaris garis darah keluarga Kiyomiya.
Tepat seperti yang sempat disinggung
Shizu-senpai tempo hari, Sayaka memang mirip denganku. Karena harus dia dan
hanya dialah yang sanggup melakukannya, aku akan memberikan perintah ini
padanya.
"Sayaka, bertukarlah tempat
denganku."
Alunan musik yang anggun mulai
berkumandang. Di atas panggung yang disinari lampu sorot, Maki muncul lebih
dulu.
Mengenakan seragam sailor biru
tuanya, dia menari dengan penuh tenaga sementara rok panjangnya berkibar
mengiringi gerakannya.
Itu adalah tarian autentik yang
jelas-jelas bakal mengungguli telak tarian yang kemungkinan bakal ditampilkan
kelompok Fujikawa nanti.
Ck.
Tiba-tiba terdengar suara decakan lidah,
dan saat aku menoleh, Fujikawa sedang berdiri sendirian menatap ke arah
panggung.
Maju terus, Maki. Kalau melihat tarianmu,
kelompok Fujikawa bahkan takkan sanggup jadi tandingan.
Tampaknya Maki sama sekali tidak
mengendurkan latihannya meski sudah berhenti menari sejak bangku SMP.
Maki yang biasanya selalu memamerkan kaki
jenjangnya yang indah dengan rok mini, hari ini menari dengan begitu bertenaga
tanpa memperlihatkan pahanya sama sekali.
Para penonton tampak berbisik-bisik,
kemungkinan karena tarian modern mendadak muncul padahal acara ini dipromosikan
sebagai tarian tradisional.
Namun tarian Maki barusan hanyalah aksi
pembuka untuk mengecoh perhatian mereka—menurut penuturan si gadis itu sendiri.
Pertunjukan sesungguhnya baru dimulai sekarang.
"Ayo maju, Maritsuji,
Shizu-senpai."
"I-Iya. Aku akan berusaha
agar tidak tersandung."
"Sh-Shizu juga bakal berusaha
sebaik mungkin supaya nggak jadi beban...!"
Sambil menuntun Maritsuji yang
tidak atletis dan Shizu-senpai yang penakut, aku melangkah keluar menuju
panggung.
Bahkan jika dinilai dengan sopan
pun gerakan mereka tidak bisa dibilang bagus, tapi awalnya kusuruh mereka
menirukan gerakanku.
Begitu tubuh mereka sudah lemas, kusuruh
Maki menari untuk memandu mereka.
Tentu saja mustahil bagi Maritsuji dan
Shizu-senpai untuk meniru gerakan Maki secara sempurna, namun berhasil meniru
tiga puluh persennya saja sudah lebih dari cukup.
Di barisan paling depan bangku penonton,
kakek botak berkacamata hitam itu duduk tak bergerak sama sekali dengan kedua
tangan bertumpu di lututnya.
Aku benar-benar tidak tahu emosi apa yang
sedang berkecamuk di dalam hatinya saat menyaksikan tarian cucu kesayangannya
itu.
Ketua Yayasan Toyohara yang duduk di
sebelahnya juga menatap anak rahasianya—tarian putrinya dengan raut wajah yang
luar biasa tenang. Pria
tua dan pria paruh baya ini benar-benar kelewat seram.
Aku di sini menari dengan wajah
datar sambil menahan rasa sakit di lengan kanan dan kaki kananku, jadi tolong
jangan pancarkan aura semengerikan itu dari barisan depan.
Meski begitu, keadaan ini masih jauh
lebih baik—daripada harus menari di posisi tengah.
"Aku bakal menyimpan dendam
padamu seumur hidupku."
Kudengar suara itu bergumam lirih.
Kemungkinan besar suara itu tidak terdengar sampai ke luar panggung.
Mengibaskan haori emasnya—orang
terakhir melompat masuk ke atas panggung.
Mengenakan haori emas di atas
seragam sailor biru tuanya, sosok yang tampil di atas panggung tentu
saja adalah Sayaka.
Sembari menari, ia melepaskan
kacamatanya lalu melemparnya ke sisi panggung—kemudian, ia juga melepas ikatan
kepang dua rambutnya.
"Ooh," seruan kagum
langsung bergemuruh dari bangku penonton.
Sayaka yang menanggalkan
penyamaran sederhananya di sekolah terlihat seperti orang yang benar-benar
berbeda, mungkin sebagian karena pengaruh haori emas dan seragam sailor-nya.
Dia tampak terlalu cantik, anggun,
dan begitu memesona—
Kalau boleh, bahkan aku sendiri ingin
pindah ke kursi penonton dan menyaksikannya dari barisan terdepan.
Dengan lengan dan kakiku yang
nyaris tak bisa digerakkan, aku membutuhkan seorang pengganti—
Sehebat apa pun tarian Maki, dia
bukan diriku, dan seanggun apa pun gerak-gerik Maritsuji, dia tetap bukan
diriku.
Satu-satunya orang yang bisa
menggantikan posisiku, satu-satunya yang sanggup bertukar tempat denganku,
hanyalah Sayaka seorang.
Sayaka mengibaskan haori emasnya,
melayang dengan begitu megah di udara panggung.
Bagaikan bidadari kahyangan yang
membubung tinggi ke angkasa—
Begitu cantik dan anggun.
"Oooooh," sorak penonton
bahkan terdengar jauh lebih riuh dibandingkan sebelumnya.
Ya, itu dia, Sayaka...!
Teknik spesial yang dipercayakan
Maki kepada "Center"—bukan, teknik agung, "Heaven's
Reversal."
Sungguh ironis karena dia bisa
menirukannya dengan presisi tinggi justru karena dia adalah Maid eksklusifku,
yang menyaksikan kuamalkan latihan itu setiap hari persis di sampingku di
Kediaman Lama Keluarga Kiyomiya.
Sayaka bisa bertindak sebagai
penggantiku karena dia adalah ojou-sama sejati dari keluarga Kiyomiya, dan
karena dia adalah Maidku.
Tidak disangka kita akhirnya
mengonfirmasi makna dari identitas kita yang tertukar di panggung seperti ini.
Kita, yang tertukar tepat setelah
lahir, bertukar posisi sekali lagi di atas panggung ini.
Karena ayahku tidak ada di sini,
sepertinya tidak ada orang lain yang menyadari makna di balik semua ini.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan
pertarungan melawan kelompok Fujikawa.
Fakta bahwa Hisaka Sayaka menari
dengan begitu indah di atas panggung ini—
Itulah satu-satunya hal yang memiliki arti
bagiku.
Chapter 20 | ToC | Chapter 22




Post a Comment