Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 5
Raja Naga
Sehari setelah menyelesaikan pertarungan hidup dan mati melawan si mata satu, Ryo datang kembali ke medan pertempuran kemarin.
Bukan karena ada alasan tertentu, hanya sekadar dorongan hati. Baru setelah kembali, melihat, dan mengingat, dia benar-benar merasakan kemenangan.
Namun di sana, tidak ada kebahagiaan...
Di hadapan Ryo yang demikian, sesuatu turun dari langit.
Hanya sekali pandang, benaknya seketika menjadi putih kosong.
Kecuali satu kata.
Yang dilihatnya,
Naga...
Seekor naga berkilau merah, panjang tubuhnya mencapai 50 meter.
Pikiran yang sempat kosong itu mulai berputar cepat beberapa detik kemudian.
Kenapa ada naga di tempat seperti ini? Tidak, itu tidak penting sekarang. Aku harus kabur. Tidak, apa aku bisa kabur? Tidak mungkin. Bagaimana pun, ini mustahil. Melawannya? Tidak, mustahil. Sekalipun dunia jungkir balik, melawan naga adalah hal yang tidak mungkin. Kelas kehidupannya terlalu jauh berbeda. Bukan main, hanya dengan ujung kelingkingnya, aku bisa terbunuh.
Karena otaknya sibuk berpikir keras itulah, Ryo tidak menyadari suara yang masuk.
Kamu, manusia di sana.
Suara yang bergema langsung dalam pikirannya.
Hmm? Apa ini cara berbicara lewat telepati yang benar kepada manusia? Terlalu lama sampai aku lupa. Manusia, apa kamu tidak mendengar suaraku?
“Eh? Apa? Sepertinya aku mendengar sesuatu?”
Ryo akhirnya sadar kembali.
Hoo, ternyata kamu bisa mendengar suaraku. Aku ini naga yang berdiri tepat di depanmu.
“Telepati... Ah, maaf, aku terlalu gugup. Aku bisa mendengar suaramu.”
Baguslah, bagus. Maaf sudah mengejutkanmu. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu. Apa kamu tahu tentang seekor burung yang berevolusi dari Assassin Hawk di sekitar sini?
“Eh...”
Dia sangat tahu. Bahkan terlalu banyak tahu. Itu pasti si mata satu yang dia bunuh kemarin.
Namun menutup-nutupinya jelas tidak akan berguna. Ryo pun sadar, jika ketahuan berbohong, akibatnya bisa fatal.
“Ya, aku tahu.”
Maka Ryo menceritakan segalanya dengan jujur.
Tentang perseteruannya dengan Assassin Hawk bermata satu, hingga apa yang terjadi di sini kemarin.
“Jika dia adalah bawahanmu atau kerabatmu, maafkan aku. Aku sungguh minta maaf.”
Ryo menundukkan kepalanya.
Hmm, begitu ya. Jadi kamu yang membunuhnya.
Setelah berpikir sejenak, naga itu kembali bersuara—meski dalam telepati.
Bukan, dia bukan bawahanku. Hanya saja, aku merasa keberadaannya yang begitu kuat tiba-tiba lenyap kemarin. Jika salah satu naga lain yang memakannya, aku akan tahu. Tapi rupanya bukan itu. Jadi aku turun dari gunung untuk memastikan penyebabnya.
Ia menoleh ke arah pegunungan di timur.
Ya, ternyata memang benar. Di gunung yang pernah Ryo pikir “mungkin ada naga di sana”, memang benar-benar ada naga.
“Jadi begitu. Assassin Hawk bermata satu itu memang aku yang bunuh.”
Kalau begitu misteri ini terpecahkan. Itu memang evolusi langka, baru pertama kalinya dalam ratusan tahun terjadi di hutan ini. Tapi sungguh, kamu bisa mengalahkannya ya. Dia sempat menetralkan sihir, bukan?
“Ya, benar! Sungguh keterlaluan! Aku ini penyihir, tapi menghadapi penetralan sihir itu tidak adil.”
Naga itu mengangguk-angguk.
Lalu matanya beralih ke pinggang Ryo.
Apa yang kamu selipkan di pinggangmu itu... Sungguh benda yang langka.
“Pinggangku?”
Ryo mengeluarkan Murasame dan memperlihatkannya.
Pada titik ini, rasa takutnya terhadap naga sudah lenyap. Mungkin dia memang lebih berani dari yang dia kira.
Oh, ternyata benar. Itu pedang Raja Peri.
“Raja Peri? Pedang ini kudapatkan dari Dullahan yang muncul tiap malam di danau rawa utara...”
Dalam cerita rakyat Irlandia, Dullahan memang dianggap peri.
Aku tidak tahu apa itu Dullahan, tapi jika dia yang memberimu pedang itu, maka dialah Raja Peri. Dan di hutan ini, seingatku, yang tinggal adalah Raja Peri Air.
“Ah, aku memang penyihir atribut air, jadi mungkin karena itu aku diberi pedang ini. Berkat pedang ini, aku bisa selamat kemarin.”
Begitu, jadi kamu penyihir air. Tidak heran Raja Peri senang denganmu. Dan tentu saja, kamu diajari sihir air olehnya, bukan?
“Eh? Tidak... Yang dia ajarkan hanyalah ilmu pedang. Aku bahkan belum pernah melihatnya menggunakan sihir.”
Apa? Penyihir air, tapi diajari ilmu pedang, bukan sihir? Hmm, entahlah. Aku pun tidak benar-benar mengerti, tapi mungkin memang begitu hubungan kalian. Bagaimanapun juga, dia sama sepertiku, dia sudah hidup ratusan ribu tahun. Pasti dia punya alasan tersendiri. Yang pasti, kalau kamu diberi pedang, itu berarti kamu sangat disukai olehnya. Itu bukan hal yang buruk.
Naga itu tertawa, entah apa yang membuatnya lucu.
“Maaf, bolehkah aku menanyakan sesuatu?”
Hmm? Silakan, tanya apa saja.
Naga itu mengangguk dengan tenang.
“Aku ingin tahu tentang ukuran dan hakikat Hutan Rondo ini.”
Pertanyaanmu sungguh umum. Tapi baiklah. Hutan ini, Rondo... Ya, dulu memang disebut begitu. Ukurannya sulit kukatakan, karena aku tak tahu ukuran yang kalian—manusia—pakai.
“Ah, ya, tentu saja... Maaf.”
Hmmm, tapi jika diperkirakan, luasnya kira-kira sebesar sebuah benua kecil. Dahulu memang disebut Sub-Benua Rondo.
“Benua...”
Itu sungguh sulit dibayangkan oleh Ryo.
Dia hanya meminta “tempat yang sunyi untuk hidup tenang” pada Michael palsu... Tapi dia tak pernah menyangka sebesar itu.
Sub-benua ini dikelilingi laut di timur, selatan, dan barat. Sementara di utara, ada dua jajaran pegunungan. Satu membentang dari barat laut ke tenggara, lalu satu lagi melintang dari timur ke barat, seolah menutup rapat bagian utara. Karena itu, manusia dari wilayah utara tak pernah bisa masuk. Sejauh yang kutahu, kamu satu-satunya manusia di Sub-Benua Rondo ini.
Naga itu tertawa keras bergemuruh.
“Jadi, dunia ini benar-benar terpisah begitu jauhnya...”
Kamu bahkan tidak tahu? Lalu sebenarnya dari mana kamu berasal?
Tidak ada alasan untuk menyembunyikannya, jadi Ryo pun menjelaskan bahwa dia adalah manusia yang bereinkarnasi dari dunia lain.
Hmm, sungguh jarang... Sesekali memang ada yang datang dari dunia lain, tapi...
Saat itu, raungan besar terdengar dari arah timur.
Hmm, maaf, aku dipanggil. Padahal aku ingin berbincang lebih lama, tapi kita pasti akan bertemu lagi.
Dia bersiap untuk terbang.
“Ah, tunggu. Setidaknya, bolehkah aku tahu namamu? Namaku Ryo.”
Ryo, ya. Aku Lewin. Sampai jumpa lagi, Ryo. Oh ya, jangan pernah mendekati gunung timur. Ada naga yang menyerang tanpa alasan.
Begitu mengatakan itu, Lewin terbang menuju langit timur.
“Huh... Naga itu luar biasa. Dan dia mungkin hanya penjaga yang berpatroli. Jika itu saja sudah begitu menggetarkan, aku tak bisa membayangkan seperti apa pemimpin di gunung itu. Aku harus benar-benar menjauhinya.”
Dia bertekad kuat dalam hatinya.
Sementara itu, Raja Naga Lewin yang terbang ke arah timur bergumam.
Manusia yang aneh. Atau bahkan, apa dia benar-benar manusia? Selama hidup ratusan ribu tahun, baru kali ini aku melihat yang seperti itu. Jangan-jangan mutasi atau evolusi? Aku tidak pernah mendengar yang seperti itu... Heh, bagaimanapun, menarik sekali. Bahkan setelah hidup selama ini, masih ada hal yang tak kupahami... Tak heran Raja Peri menaruh minat. Ribuan tahun sejak dia terbawa ke sub-benua ini... mungkin karena itu dia bersemangat bertemu sesuatu yang baru. Aku mengerti. Tapi lebih baik jangan ikut campur. Sayang jika merusaknya. Akan lebih menyenangkan mengawasinya sebagai penonton. Wahahaha!
Ryo akan bertemu Lewin lagi—tapi itu masih jauh di masa depan.
Dan malam itu, dia tetap berlatih ilmu pedang bersama Dullahan yang tampaknya adalah Raja Peri.
Ya, tentang diajari sihir air... Tentu saja itu tetap tidak terjadi.



Post a Comment