NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 4

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 4

Kesatria Tanpa Kepala

Sejak Ryo dibuat pingsan di dalam laut, kira-kira satu tahun telah berlalu.

Namun hingga kini, Pembekuan Darah masih belum pernah berhasil. Mustahil bisa sukses hanya dalam setahun. Meski begitu, latihan kendali sihir tetap dia lakukan setiap hari tanpa absen. 

Kini, dia bahkan sudah mampu mencairkan daging beku buatan Michael palsu hanya dalam sekejap. 

Dalam beberapa bulan terakhir, Ryo setiap malam pergi ke sebuah tempat. Lokasinya berada di tepi danau, tepat di tengah rawa besar yang membentang jauh setelah Hutan Utara. 

Ketika bulan mencapai titik tertinggi di langit, ia muncul.

Seorang kesatria tanpa kepala, menunggangi kuda tanpa kepala. Mereka menyebutnya Dullahan. Namun, Dullahan yang muncul di rawa itu tidak pernah membawa kepalanya di tangan kiri. 

Mengapa kesatria tanpa kepala ada di Hutan Rondo?

Apakah dulu pernah ada sebuah kerajaan yang berjaya di sini? Namun, sama sekali tak ada bekas permukiman manusia, tak pernah dia melihat satu pun benda buatan manusia. 

Di Bumi, Dullahan aslinya adalah peri Irlandia, bukan roh kesatria... Jika begitu, mungkin saja ia sebenarnya peri atau makhluk serupa yang hanyut dan berakhir di Hutan Rondo. Begitulah Ryo berspekulasi sekenanya. 

Bagi Ryo, keberadaan Dullahan adalah sebagai guru pedang.

Tentu saja, karena tidak punya kepala, dia tak pernah berbicara. 

Namun setiap kali Ryo mengangkat pedangnya—meski sebenarnya hanya pedang kayu yang diperkuat dengan lapisan es agar lebih tahan lama—Dullahan pun mengangkat pedangnya. Seakan berkata, “Lagi...? Kamu ini memang merepotkan.” 

Tentu, itu semua hanya imajinasi Ryo semata.


Dan pertarungan pedang pun dimulai.

Dullahan bahkan tidak tercatat dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula. Artinya, ia bukanlah “monster” atau levelnya terlalu tinggi untuk masuk edisi itu. Jika dilihat dari kemungkinan untuk bisa dikalahkan, bagi Ryo sekarang jelas mustahil. 

Dullahan tak pernah menggunakan sihir. Maka Ryo pun tidak. Satu-satunya sihir yang dia kenakan hanyalah Ice Armor sebagai pelindung tubuh. 

Tetapi, kemampuan pedangnya saja sudah luar biasa.

Dan, yang lebih mengesalkan, penuh sikap menggurui. 

“Anggap saja aku sedang memberimu latihan.” 

Begitulah rasanya... Meskipun tanpa kepala, tentu saja ia tetap diam. 

Setiap kali Ryo menerima tiga serangan yang dianggap fatal, Dullahan selalu berhenti dan berpaling.

“Pergilah, lalu datang lagi.”

Seolah-olah itu yang dia katakan. 

Apa yang akan terjadi bila Ryo berhasil memberikan tiga serangan fatal kepadanya, masih misteri. Ryo bahkan belum pernah memberinya satu pun serangan...

Meski begitu, belakangan waktu pertarungan semakin panjang. Dulu, di awal, dia selalu kalah hanya dalam hitungan detik. Sekarang, bisa bertahan hingga satu jam. 

Tentu banyak hal yang mengecewakan.

Dalam seni bela diri, ilmu pedang, bahkan dalam permainan, peningkatan keterampilan bertarung melawan manusia hanya bisa diperoleh lewat pengalaman langsung, melalui berkali-kali duel, lalu mengubah pengalaman itu menjadi pengetahuan dan insting gerak tubuh. 

Dari sisi itu, Ryo sangat beruntung bisa mendapat pengalaman semacam ini. Kalau tidak, dia hanya bisa berlatih ayunan pedang seorang diri. Namun, lawannya adalah Dullahan. 

Salah satu hal terpenting dalam duel adalah pernapasan. Bukan hanya mengatur napas sendiri, tetapi juga membaca napas lawan.

Namun, Dullahan tidak bernapas... Lebih tepatnya, dia bahkan tidak punya kepala! 

Maka Ryo tak bisa mempelajari gerakan pernapasan lawan. 

Lalu ada soal gerakan kaki, atau kuda-kuda.

Dalam semua bentuk pertarungan, gerakan kaki sangatlah penting. Dalam duel, gerakan kaki bisa jadi kunci untuk membaca langkah lawan. 

Karena itu, dalam kendo dan kenjutsu, orang memakai hakama. 

Dengan hakama, orang dapat menyembunyikan gerakan kaki nereka, memberi mereka keuntungan besar. Ryo ingin mempelajarinya dari Dullahan. Tapi perbedaan kemampuannya terlalu jauh. Dullahan hampir tidak bergerak dari tempatnya.

Bukan berarti benar-benar tak bergerak, hanya saja sikapnya mirip seorang guru kendo yang sedang meladeni anak-anak... Ya, Ryo masih diperlakukan seperti bocah. 

“Artinya, aku harus jadi lebih kuat agar dia benar-benar bergerak!” 

Tentu saja ada sisi baiknya.

Dalam bela diri, latihan seorang diri biasanya membuat seseorang condong pada serangan. 

Itu tidak cukup.

Terutama di dunia Phi, di mana hidup dan mati dipertaruhkan, mengabaikan pertahanan adalah kedunguan. Dalam hal ini, melatih diri untuk menangkis atau menghindari serangan Dullahan sebelum membalasnya adalah pengalaman yang sangat praktis. 

Meski sebenarnya Ryo belum sepenuhnya mengerti. 

Namun malam ini berbeda.

Tubuhnya bergerak lebih tajam dari biasanya, instingnya membaca serangan lebih tepat. 

Mungkin karena itu, setelah menerima serangkaian tebasan, dia berhasil melangkah setengah tapak untuk menghindari serangan terakhir—tebasan menebas bambu lurus ke bawah—dan berhasil menebas lengan kanan Dullahan. 

Tentu, jika lawannya manusia atau monster biasa, lengannya pasti sudah terpotong. Tapi lengan Dullahan tetap utuh. Justru pedang Dullahan yang menebas hingga rendah itu, berbalik bagai Tsubame Gaeshi, menyayat tubuh Ryo secara miring dari bawah. 

Seperti biasa, Ryo tumbang setelah menerima serangan ketiga yang mematikan. 

Ice Armor melindunginya dari luka fisik. Tetapi rasa kalah itulah yang membuatnya jatuh tersungkur. 

Biasanya, setelah itu Dullahan akan menyarungkan pedang, menunggang kuda tanpa kepala, lalu lenyap.

Namun, malam ini berbeda. 

Ia mendekati Ryo yang tergeletak, lalu mengeluarkan sebilah pisau aneh dengan bentuk tidak lazim. 

Panjangnya sekitar 20 sentimeter. Di antara gagang dan bilahnya, ada bagian menonjol sepanjang 10 sentimeter, semacam pelindung tangan yang indah seperti tsuba pada katana. Gagangnya sendiri panjang, lebih dari 20 sentimeter. 

Ryo segera sadar.

Panjang gagang itu sama dengan pedang kayu yang dia gunakan, kira-kira 24 sentimeter. 

Dullahan menggenggam gagang pisau dengan tangan kiri, lalu menempelkan tangan kanan pada pangkal bilahnya. Seakan ada bilah tak terlihat di sana, ia menggerakkan tangan kanan sepanjang garis itu. 

Dan, mengikuti gerakan tangannya, bilah air muncul. 

“Pedang air...” 

Saat Dullahan menyalurkan energi sihir, bilah itu membeku, menjadi pedang es. 

“Jadi panjang gagang itu untuk ini.” 

Kemudian Dullahan menghilangkan bilah esnya, lalu menyerahkannya pada Ryo. 

“Apa maksudmu aku harus mempelajari ini?” 

Saat Ryo menerimanya, Dullahan menunggang kuda tanpa kepala seperti biasa, lalu lenyap. 

“Betapa fantasinya...”


Bahkan dalam perjalanan pulang, berkali-kali Ryo menumbuhkan bilah es pada pedang itu. Dan pedang tersebut, sungguh menakutkan, membiarkan sihir mengalir tanpa hambatan sedikit pun. Seakan memang dibuat khusus untuk dirinya. 

Benar-benar, bisa disebut sebagai pedang yang diperuntukkan bagi penyihir atribut air. 

Setibanya di batas penghalang rumah, dia segera memunculkan bilah es lalu mengayunkannya. Kali ini, dia membentuknya seperti pedang katana atau bokken, dengan bilah tunggal yang melengkung. Entah kenapa, hanya itu yang dia inginkan. 

Namun bentuk itu membuatnya khawatir tentang titik keseimbangan.

Dalam katana, atau pedang apa pun, posisi titik keseimbangan menentukan perbedaan dalam kendali. Tentu saja, tidak ada yang bisa dikatakan benar mutlak soal di mana seharusnya titik keseimbangan itu berada. 

Itu semua tergantung siapa yang menggunakannya. Tergantung juga pada tujuan penggunaannya. 

Pada dasarnya, katana yang menekankan kendali dibuat dengan titik keseimbangan yang dekat dengan tangan. Namun ada batasannya juga. Karena bagian pisau adalah es sementara bagian gagang pisau terbuat dari logam, Ryo sempat cemas bagaimana mengatur keseimbangannya. Tapi ternyata, bagian gagangnya jauh lebih ringan dari dugaannya. 

Dengan menumbuhkan bilah sepanjang 70 sentimeter, lalu menyesuaikan sedikit ketebalan bilah demi keseimbangan, hasilnya justru sempurna. 

“Oke. Dengan ini aku mungkin bisa yah... Bukan menang melawan Dullahan, tapi setidaknya mendaratkan satu serangan!” 

Ryo tahu betul kekuatan lawannya. 

“Kalau dia memberikannya padaku pada tahap ini, artinya dengan pedang ini aku boleh menyerangnya sesuka hati. Dia tidak akan lenyap berapa kali pun aku menyerang. Jadi aku bisa menghantamnya tanpa ragu. Pasti itu maksudnya.” 

...Ternyata, dia belum benar-benar memahami perbedaan kekuatan di antara mereka berdua. 

Keesokan harinya, tentu saja, di tepi danau kembali terlihat sosok Ryo dan Dullahan beradu pedang.


* * *


Dalam pertarungan pedang melawan Dullahan, Ryo mulai mendapatkan kepercayaan diri dalam bertarung dengan pedang... Meskipun, sebaik-baiknya, dia hanya mampu mendaratkan satu tebasan setiap hari. Meski begitu, rasa percaya diri itu tetap tumbuh. 

Dia juga merasa kendali sihirnya meningkat cukup pesat... Walau sampai sekarang, dia masih belum berhasil menggunakan Pembekuan Darah. Bahkan, dia tidak tahu apa itu benar-benar mungkin dilakukan atau tidak. 

Bagaimanapun, Ryo berpikir sudah waktunya menguji perkembangan dirinya. 

Itu adalah jalan yang tak bisa dia hindari. 

Sejak pertama kali dibuat pingsan waktu itu, Ryo belum pernah masuk ke laut lagi. Dia memperoleh garam dengan mengambil air laut dari daratan lalu menguapkannya, tanpa pernah benar-benar menyelam. Jika ingin makan ikan, dia cukup dengan ikan sungai. 

Ya, jalan yang tak bisa dihindari itu adalah pertarungan di dalam laut.

Perebutan kendali sihir melawan bola umpan... Dia harus memenangkan ini! 

Memang benar waktu itu dia berhasil menghalau bola umpan. Namun itu hanya karena serangan kejutan, setelah sama sekali tak mampu melawan dalam perebutan kendali sihir. Tapi ke depannya, untuk bisa hidup di dunia Phi, cara seperti itu takkan cukup. 

Untuk memperoleh keyakinan diri, pada akhirnya dia hanya bisa menumpuk pengalaman keberhasilan. 

Ryo berdiri di bebatuan, menatap tajam ke arah laut. Penampilannya sama dengan waktu lalu, senjatanya hanyalah tombak bambu bergagang pisau yang dia genggam di tangan kanan. Di samping cawat, sandal, dan pedang es pemberian Dullahan—yang dia juluki Murasame—dia tinggalkan di daratan. 

Dia sengaja bersikeras dengan perlengkapan yang sama seperti sebelumnya. 

“Baiklah, ayo mulai!” 

Dia melompat, lalu langsung menusuk ikan terdekat dengan tombak bambu. Kali ini, dia tidak lagi punya niat untuk menikmati pemandangan seperti sebelumnya. Latihan yang dia jalani membuat stamina dan kapasitas paru-parunya meningkat, namun tetap saja dia hanya mampu bertahan sekitar lima menit di dalam air. 

Mungkin itu memang batas dari seorang manusia... Hanya segelintir orang dengan limpa yang berkembang luar biasa yang kabarnya bisa bertahan lebih dari sepuluh menit, tapi tentu saja, itu bukan sesuatu yang bisa dia harapkan. 

Kalau begitu, lebih baik segera menyeret pertarungan ke dalam genggaman. 

Begitu dia menusuk ikan, dunia pun berubah, sama seperti waktu itu. Dari depan muncul bola umpan, tepat seperti yang dia harapkan. 

Dan segera dia mendapati dirinya tak mampu menggerakkan air dengan tangan maupun kaki. 

Pertama-tama, rebut kembali kendali air di sekitar tangan dan kaki. 

Dengan sekadar membayangkan, kendalinya terpental.

Namun bagi Ryo yang kini memiliki kemampuan kendali sihir jauh melampaui sebelumnya, cukup dengan sedikit tambahan energi sihir pada bayangan di benaknya, dia sudah bisa kembali merasakan genggaman air di sekitarnya. 

Bagus! Sekarang giliranku membalasnya. 

Kini saatnya Ryo menyerang.

Dia membayangkan dalam kepalanya. Dia membayangkan air laut tempat bola umpan berada tunduk sepenuhnya di bawah kendalinya, sehingga makhluk-makhluk pembentuk bola umpan kehilangan kemampuan bergerak. 

World is Mine. 

Begitu mantra itu terucap dalam hati, bola umpan mulai terdistorsi. Para makhluk penyusunnya tak lagi mampu mengendalikan posisi dan gerakan mereka sendiri. 

Apa aku bisa membekukannya juga? Peti Es.

Umpan bola yang terdistorsi itu pun membeku.

Yang membeku bukanlah makhluk-makhluk itu sendiri, melainkan air laut di sekitar mereka. Sebelumnya di darat, Ryo bahkan tidak bisa membekukan area dalam jarak 10 sentimeter dari tubuh monster. Tapi kini, bahkan terhadap monster yang terkenal memiliki kendali tinggi atas sihir air, dia berhasil membekukan sekitarnya. 

Ryo merasa sangat puas dengan hasil itu.

Tanpa perlu mengayunkan tombak bambu, dia berhasil melumpuhkan seluruh bola umpan, berkat kekuatan kendali sihir yang dia latih selama ini. 

Karena itulah, mungkin wajar jika dia terlambat menyadari kemunculan seekor cumi-cumi raksasa tepat di hadapannya. Sama seperti sebelumnya, setelah menjatuhkan lawan, dia lengah dan diserang udang hingga pingsan. Kali ini pun, polanya sama. Ya, tak ada yang bisa dia lakukan soal itu. 

Cumi-cumi raksasa... Mungkinkah itu makhluk legendaris dari Bumi yang disebut Kraken? Panjang tubuhnya mencapai 40 meter. 

Namun kali ini, reaksinya lebih cepat begitu dia sadar. 

Ice Wall, 5 lapis.

Begitu lapisan terpasang, sesuatu menabraknya dan Ice Wall langsung hancur. 

Ice Wall 5 lapis dihancurkan dalam satu serangan!? 

Itu sungguh di luar dugaan. 

Ice Wall, 5 lapis. Ice Wall, 5 lapis. Ice Wall, 5 lapis. 

Dia membentangkan tiga rangkap sekaligus.

Namun kali ini, bahkan sebelum sempat bertahan, dinding-dinding itu terkoyak dan lenyap. 

Kraken dengan mudah merebut kendali Ice Wallyang sudah dia tenun dengan kendali sihir yang ditempa lewat latihan keras. 

Peti Es.

Dia mencoba kembali sihir pembekuan area yang barusan dia gunakan pada bola umpan, menyelimuti sekitar Kraken dengan es. 

Namun es itu hanya muncul sekejap, lalu lenyap dan kembali menjadi air laut. Kendali sihirnya direbut Kraken.


Ini mustahil. Lebih baik aku kabur saja. Water Jet, 32. 

Dari telapak kakinya, Water Jet menyembur keluar, menjadi alat pelarian darurat. Tampaknya bahkan Kraken pun tidak menduganya. 

Dia berhasil meloloskan diri. 

Dengan cepat dia mengenakan sandal, meraih kain pinggang dan Murasame, lalu berlari pulang secepat kilat. 

Baru ketika sudah masuk ke dalam lingkaran penghalang rumah, dia akhirnya bisa menarik napas lega. 

“Laut itu menakutkan...”


“Kali ini aku memang kalah lagi dari Kraken yang muncul belakangan, tapi aku menang mutlak melawan bola umpan. Ya, sudah jelas aku berkembang. Hanya saja, aku bertemu Kraken terlalu cepat. Itu pasti bos yang seharusnya kuhadapi setelah jadi lebih kuat.” 

Perbedaan tingkat kendali sihirnya dengan bola umpan sungguh terasa, tak bisa tidak. Itu berarti, kendali sihirnya masih bisa terus diasah...mungkin. 

“Kesimpulannya, aku memang harus lebih banyak berlatih. Kalau sebelumnya aku membuat Pagoda Lima Tingkat, mulai sekarang targetnya adalah Tokyo Skytree.” 

Entah mengapa ada yang terasa sangat keliru dari keputusan itu, tapi begitulah Ryo.


* * *


Ryo tidak selalu hanya bertarung.

Ya, tujuan keberadaannya di sini adalah untuk menikmati kehidupan yang tenang.

“Sebuah hidup santai yang selalu diiringi pertempuran menghadapi kematian.”

Jika itu adalah slogannya, siapa pun tentu tak akan pernah berpikir untuk hidup santai di pedesaan. 

Bicara soal hidup santai, yang pertama terlintas adalah “makanan”. Dalam gambaran Ryo yang penuh dengan bias, hidup santai berarti “makanan”. Dan yang memperkaya hidangan utama berupa masakan daging...

Pertama, rempah-rempah. Dia mengeringkan merica yang dipetiknya, hingga akhirnya berhasil menciptakan lada hitam.

Selain itu, ada pula yang disebut lada hijau, yakni merica yang diasinkan atau dibekukan lalu dikeringkan. Di Asia Tenggara, biasanya lada hijau digunakan sebagai bahan tumisan, namun Ryo membuat lada hijau dengan cara diasinkan. Ketika mencoba membuat versi pengeringan beku, hasilnya hanya menjadi benda kering biasa.

Dia hanya melakukan pengeringan... Bagian bekunya diabaikan, dan hasilnya hanyalah sekadar barang kering. 

Di antara semua makanan, mungkin yang paling terasa semakin berlimpah dibandingkan dulu adalah buah-buahan.

Ada ichizuku yang mirip buah tin, rindou yang seakan-akan sebuah apel, dan baru-baru ini dia menemukan mangga yang benar-benar seperti mangga.

Semua itu tercatat dalam Ensiklopedia Tanaman: Edisi Pemula.

Namun, ada juga buah-buahan yang tidak tercatat di sana. Pepaya, loquat, dan yang mengejutkan adalah semangka!

Pepaya dan loquat yang tumbuh liar masih bisa dimengerti, tapi semangka yang berbuah di alam liar sungguh tak terduga. Ukurannya jauh lebih kecil daripada jenis semangka apa pun yang pernah dilihatnya di Jepang, hampir tak ada manisnya, dan penampilannya sebelum dibelah lebih mirip labu ketimbang semangka... Tapi saat dibelah, daging merah khas semangka muncul dari dalamnya. 

Saat membelahnya dan melihat daging merah itu, Ryo terharu hingga meneteskan air mata.

Meski karena tiadanya rasa manis, dia juga meneteskan air mata lain—dengan perasaan yang berbeda. 

Namun, dalam menjalani hidup santai, ada satu masalah besar.

Sampai sekarang, dia belum pernah menemukan satu pun tanaman penawar racun. Meski sudah mencari sejauh ini, dia tidak menemukannya. Apakah mungkin vegetasi di sini berbeda? Dalam catatan, memang tidak tertulis bahwa tanaman itu hanya tumbuh di daerah dingin...

Mungkin saja Hutan Rondo terlalu hangat—bahkan bisa disebut beriklim tropis—sehingga tanaman itu tidak tumbuh di sini. 

Dan sama seperti kekhawatiran awalnya, hal itu juga berlaku pada kedelai. Kedelai pun tak dia temukan.

Untuk shoyu, dia menggantinya dengan kecap ikan. Meski agak berbeda dengan shoyu yang biasa dia makan di Jepang, perbedaannya masih dalam batas wajar, seolah ada jenis shoyu semacam itu di daerah tertentu. Sama sekali bukan masalah.

Tetapi untuk miso, itu benar-benar mustahil. Tanpa kedelai, miso tidak mungkin bisa dibuat, Ryo pun sudah menyerah dalam hati.


Dan terakhir, bahan makanan pokok, beras.

Dalam hati Ryo, sebuah proyek tengah berjalan. 

Nama Proyek: Rencana Pembangunan Sawah di Hutan Rondo.

Seperti namanya, proyek itu bertujuan menata sawah dan menanam padi. Dia pernah sekali mencoba mengembangkan sawah, tetapi dia gagal.

Karena tidak memiliki sihir atribut tanah atau alat untuk membuat sawah, dia mencoba menurunkan Icicle Lance dari langit, bahkan mencoba meledakkannya seperti ledakan uap untuk membuka lahan...

Saat itu, dia gagal total, hanya menunda masalahnya... Namun, cepat atau lambat, masalah itu harus dia hadapi secara langsung. Dia tidak bisa menghindarinya.

Dan waktunya menghadapi itu adalah hari ini. 

Pertama, dia menyiapkan sebidang tanah berbentuk persegi dengan sisi 60 meter, tepat di batas penghalang.

Di setiap sudut dia menancapkan tombak es, lalu menghubungkannya dengan sulur tanaman. Fungsinya sebagai pengganti garis air, benang yang dipakai untuk membuat garis datar... Ya, bagian dalam sulur itu akan dijadikan sawah. 

Langkah pertama dalam pengembangan sawah... Tentu saja dengan menggali tanah, menghancurkannya hingga halus, lalu membuatnya seperti ladang. Kemudian, mengalirkan air agar seluruh permukaan tanah basah. Pada tahap ini, bagian dasar tanah masih berlubang-lubang, sehingga berapa pun banyak air dituangkan, air itu tak akan bertahan.

Biasanya, dengan mengisi air lalu mengaduk tanah dan lumpur menggunakan traktor atau kerbau, lubang-lubang itu akan tertutup sedikit demi sedikit. 

Namun, pada percobaan sebelumnya, Ryo sudah buntu sejak tahap pertama, yaitu menggali tanah. 

“Aku berbeda dengan diriku yang dulu!”

Kali ini, semangat berkobar di seluruh tubuh Ryo. 

“Ice Wall.”

Bagian dalam sulur dia kelilingi sepenuhnya dengan Ice Wall.

Dan dimulailah pesta air dan es. 

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.” 

Dari ketinggian 40 meter, tombak-tombak es tercipta satu demi satu, lalu jatuh bebas ke lahan sawah. Hujan tombak berkecepatan tinggi dan berjumlah masif.

Jika tombak tak cukup, maka hantam saja dengan lebih banyak tombak!

Sebuah solusi dengan kekuatan brutal. 

Tentu dia tidak mengira masalahnya bisa selesai hanya dengan itu. 

“Water Jet, 128.”

“Water Jet, 128.”

“Water Jet, 128.”

“Water Jet, 128.”

“Water Jet, 128.” 

Semburan Water Jet raksasa, diluncurkan berturut-turut, menghancurkan bongkahan tanah menjadi butiran halus.

Tombak es yang jatuh dari langit dan semburan air dari jarak dekat. Dilihat dari kejauhan, pemandangannya mungkin tampak sangat indah dan fantastis.

Namun kenyataannya... hanya tanah, tanah, dan tanah...

Tanah yang terlempar, hancur berkeping-keping oleh semburan air. 

Pemandangan itu berlangsung sekitar sepuluh menit.

Ratusan kali melancarkan sihir berturut-turut ternyata sangat membebani tubuh Ryo. Dia berlutut dengan satu kaki, mengatur ulang napasnya. Bahkan pada pertarungan melawan monster, dia belum pernah melancarkan serangan bergelombang sebesar ini.

Tentu saja, hal itu hanya mungkin karena lawannya adalah tanah yang tidak bergerak. 

Permukaan lahan yang dihujani sihir sudah tidak terlihat seperti tanah semula. Terkoyak, hancur, tercampur—seakan-akan baru saja diolah traktor yang membolak-balikkan tanah. 

“Ya, kira-kira begini cukup.”

Tahap pertama selesai.


Selanjutnya, mengisi air untuk membasahi seluruh tanah.

Di Jepang, sawah yang sudah diperbaiki lahannya bisa dialiri air sesuka hati hanya dengan memutar keran. Tentu saja, itu berkat puluhan tahun hingga berabad-abad pembayaran biaya distrik perbaikan lahan yang nyaris abadi. Belum lagi iuran asosiasi pengairan yang harus terus dibayarkan.

Namun meski begitu, kemudahan memperoleh air tanpa khawatir kekeringan adalah berkah besar dalam bercocok tanam.

Sejak dahulu, bencana kelaparan di berbagai belahan dunia sering disebabkan oleh kekurangan air. 

Tetapi di sini, ada seorang pria yang bisa memasok air kapan saja, secara cuma-cuma.

Betapa menakjubkan!

Tak diragukan lagi, pekerjaan terbaik seorang penyihir atribut air adalah pertanian! 

“Langsung all-in. Squall!”

Biasanya dia memakai Squall untuk seketika membersihkan kabut beracun dari Kitesnake, atau untuk menyirami tanaman di halaman seperti ichizuku. Kali ini, hujan itu turun di atas lahan seluas 60 meter persegi. Pemandangan itu, dengan derasnya air yang mengguyur, nyaris tampak seperti kekerasan. 

Pemandangan penuh kekerasan itu berlangsung sekitar dua menit.

Hanya dengan itu saja, tanah sudah menjadi sangat berlumpur. Sedikit air juga mulai menggenang.

Namun, bila dibiarkan, air itu akan segera meresap ke bawah tanah, dan lahan kembali kering seperti ladang. Seharusnya, pada tahap ini traktor digunakan untuk mengaduk tanah dan lumpur. 

Tetapi Ryo tentu tidak punya alat semacam itu.

Namun, tentu saja, tanpa itu pun tak masalah! 

“Ice Wall dua tingkat.”

Biasanya, Ice Wall tingginya hanya 2 meter. Tetapi Ice Wall dua tingkat memiliki tinggi dua kali lipat, yakni 4 meter.

Itu dilakukan agar aman dari cipratan lumpur. 

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.”

“Icicle Lance, 256.” 

Kali ini, tombak es diciptakan lebih rendah, sekitar 30 meter di atas lahan, lalu berjatuhan ke sawah.

Prinsipnya tetap sama.

Jika tidak ada traktor, maka hujamkan saja lebih banyak tombak!

Sesekali dia melafalkan Squall untuk menambah pasokan air, lalu terus menurunkan Icicle Lance demi mengaduk lumpur.

Dibandingkan dengan hujan tombak es saat pembukaan lahan, kali ini Ryo menembakkan Icicle Lance dengan tempo yang jauh lebih lambat, selama 30 menit penuh.

Sejauh mana dasar tanah yang berlubang itu telah tertutup, dia sendiri tidak tahu. Namun tampaknya lumpur-lumpur sudah menjadi cukup halus.

Langkah terakhir adalah meratakan permukaan lumpur di bawah air. Jika dibiarkan bergelombang, itu akan menjadi masalah.

Sebab, bila benih padi ditanam dan air dialirkan, ada bagian yang bisa tenggelam seluruhnya oleh air. 

“Ya, demi bibit padi juga penting... Eh? Bibit...?”

Ryo tertegun.

“Bibitnya... Aku tidak menyiapkannya...”

Benar, sebelum sawah benar-benar disiapkan, seharusnya dia sudah menumbuhkan bibit dari gabah selama kurang lebih sebulan di tempat terpisah.

Namun... Ryo sama sekali belum menyiapkan bibit. 

Dia jatuh berlutut, menundukkan kepala dengan putus asa. Segala persiapan sawah hari ini menjadi sia-sia belaka.

“T-Tidak, ini tidak sepenuhnya sia-sia. Setidaknya aku sudah memastikan bahwa sawah ini bisa disiapkan. Ya, tidak sia-sia... Tidak sia-sia... Aku ingin percaya begitu.”

Tetap dengan kepala tertunduk, Ryo tidak segera bisa berdiri kembali.


Setelah itu, hari-hari berlalu cukup banyak... Hingga akhirnya Ryo kembali berhadapan dengan takdirnya.

Untuk ketiga dan yang terakhir kalinya...


Seperti biasa, saat dia pergi berburu daging di Hutan Timur, sesuatu itu muncul di hadapannya.

“Ice Shield.”

Ryo merasakan datangnya serangan sihir tak kasatmata dari depan, sebuah serangan atribut angin, lalu menahannya dengan Ice Shield. Musuh pun sepertinya tidak berniat mengakhiri nyawanya dengan satu serangan itu. 

Sosok itu menampakkan diri.

Satu matanya tertutup...

“Assassin Hawk yang itu? Tidak, warnanya hitam legam, dan yang pasti ukurannya lebih besar daripada yang pernah kulihat sebelumnya...” 

Ya, burung itu adalah Assassin Hawk, musuh yang sudah dua kali bertarung mati-matian melawannya.

Pertama kali, Ryo menghancurkan mata kanannya.

Kedua kali, dia mengalahkan murid yang dibawanya.

Bagi Ryo, itulah musuh pertama yang membuatnya benar-benar sadar akan kematian. Bukan hanya sekali, tapi dua kali.

Mereka berdua merasakan ikatan nasib. Namun kini, tekanannya berbeda. Seperti halnya penampilan yang berubah, wibawa dan bahkan keberadaannya pun... Hal-hal itu kini terasa berbeda, seolah-olah menjadi hal yang berbeda. 

“Tak diragukan lagi, ia menjadi jauh lebih kuat. Mungkin ia berevolusi? Bagaimanapun, ia takkan membiarkanku kabur. Dan aku pun tidak berniat untuk lari! Ice Armor.” 

Dia memang tak bisa melihatnya langsung, tapi dari distorsi udara terlihat jelas bahwa sesuatu meluncur ke arahnya dari mata yang tersisa itu.

Air Slash yang diperkuat? Ice Wall 5 lapis! 

Namun, Ice Wall 5 lapis itu hancur dalam sekali kena. Serangan Air Slash terus menghujani Ryo. Dia menghindar dari serangan tak kasatmata itu, sembari tak pernah melepaskan pandangan dari mata tunggal tersebut.

Berkali-kali, serangan jarak jauh itu ditembakkan.

Dan berkali-kali pula Ryo berhasil menghindar.

Keseimbangan itu bertahan sekitar 3 menit. 

Saat Air Slash berikutnya dilepaskan, sosok bermata satu itu menghilang.

Ice Wall, 10 lapis!

Lapisan pertahanan yang bahkan lebih kuat dari Ice Wall 5 lapis pun langsung dipanggil. Bersamaan dengan Air Slash, musuh menerobos maju. 

“Serbuan Breakdown! Sihir angin benar-benar punya teknik yang mengagumkan!”

Sebuah teknik yang bahkan penyihir atribut angin dari kalangan manusia pun sulit melakukannya. 

Ryo menahan serangan terjangan itu dengan Ice Wall, lalu segera melancarkan serangan balasan.

Icicle Lance, 16!

Dari tanah, tombak es ditembakkan ke arah mata tunggal itu. 

Namun dia menghindar, seolah menolak hukum aerodinamika, dengan gerakan menyamping yang sekejap. Lalu, sayap kanannya diayunkan bak pukulan hook seorang petinju, menghantam Ice Wall 7 lapis. 

“Bahaya!”

Ryo refleks merunduk. 

Suara tajam terdengar.

Sayap itu menebas dinding es, lalu menyapu udara tepat di atas kepala Ryo yang merunduk. 

“Jadi kamu juga bisa bertarung jarak dekat...”

Ryo merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ketajaman sayap itu begitu mengerikan. 

Dari jarak dekat, serangan Air Slash ditembakkan bertubi-tubi.

Ryo bertahan dengan terus menciptakan Ice Wall.

Namun dia bukan orang yang akan kalah hanya dengan bertahan. 

Entah sejak kapan, dia sudah memanggil 16 Icicle Lance di udara. Semuanya jatuh lurus dari atas. Dengan kecepatan serangan jarak jauh ditambah percepatan gravitasi, tombak es itu menjadi senjata tercepat.

Namun si mata satu itu bahkan bisa menghindarinya. Ia melompat mundur ringan, seakan hanya melangkah mundur biasa. 

Seolah ia berkata, “Aku sudah melihat teknik itu sebelumnya.”

Benar, dulu memang Icicle Lance dari udara berhasil membunuh muridnya. Tapi kini, tombak itu jauh lebih cepat daripada waktu itu...

Pertarungan kembali pada titik seimbang.

Namun tiba-tiba, atmosfer di sekitar si mata satu berubah. 

Dalam sekejap, Ice Wall dan Ice Armor yang melindungi tubuh Ryo menghilang.

“Sial. Ice Armor!”

Dia mencoba memanggilnya lagi, tapi Ice Armor tak juga tercipta. 

“Aku kehilangan kendali sihirku!”

Dia buru-buru mencoba merebut kembali kendali sihirnya... Tetapi ada yang berbeda. Kali ini tak ada sensasi tertolak yang biasa terasa.

Jika diingatnya dengan baik, saat bertarung dengan bola umpan atau Kraken pun, meski kendalinya direbut, dia masih bisa menciptakan Ice Wall. Hanya saja, yang sudah tercipta diambil alih.

Namun sekarang, bahkan dia pun tak bisa menciptakannya. 

Seakan-akan sihir itu sendiri tidak pernah ada.

Atau, seolah-olah sihirnya benar-benar dinetralkan. 

“Jangan-jangan, ini adalah penetral sihir...?”

Dia tak tahu apakah hal seperti itu sungguh ada.

Namun itulah satu-satunya penjelasan yang masuk akal. Dan jika benar, ini sangat berbahaya. 

Water Jet, 16!

Tapi tetap saja, Water Jet tak bisa keluar. 

“Ia berevolusi kemudian menjadi merepotkan seperti ini...”

Dalam Ensiklopedia Sihir: Edisi Pemula, tidak ada satu kata pun tentang Assassin Hawk yang memiliki kemampuan “penetral sihir”. 

Saat itu, si mata satu mulai mengumpulkan sesuatu.

Apa lagi itu... Sihir angin tingkat tinggi... Sihir angin? Atau jangan-jangan... 

Ryo menengadah ke langit. Refleks, dia menjatuhkan tombak bambu berpisau yang dipegangnya di tangan kanan. Apakah itu sekadar kebetulan, ataukah hasil dari naluri bertarung yang terasah oleh latihannya melawan Dullahan setiap hari, dia pun tak tahu. 

Sekejap kemudian, langit memancarkan cahaya, dan petir menyambar turun.

Bukan ke arah Ryo yang sudah menghindar, melainkan tepat ke tombak bambu yang berdiri tegak. Walaupun begitu, Ryo yang berada di dekatnya tetap terpental oleh dampaknya. 

Namun dia segera bangkit. Sedikit saja dia memberi celah, si mata satu itu akan menyerbu.

Mungkin ia melihat Ryo yang sempat goyah saat berdiri. Atau mungkin ia yakin bahwa sihirnya sudah tersegel dan senjata pun hilang, sehingga melepaskan petir itu untuk menyingkirkan senjatanya. 

Si mata satu itu menerjang.

Ryo berguling ke kiri, menghindari serangan, sambil mencabut pedang Murasame di pinggangnya.

Begitu terhunus, bilah es muncul, disapu menyamping ke arah musuh. Kali ini, si mata satu itu tampak terkejut. Ia mundur selangkah lebih jauh dari biasanya. Meski begitu, ia tidak lagi mundur lebih jauh. 

Jelas, ia berniat mengakhiri pertarungan ini dalam jarak dekat.

Itu pun merupakan sesuatu yang Ryo sendiri inginkan.

Dengan sihir yang tersegel, satu-satunya jalan untuk bertahan hidup hanyalah pertempuran jarak dekat. Namun, meski semua sihirnya terhenti, entah mengapa Murasame masih mampu menumbuhkan bilah es.

Alasannya tetap menjadi misteri, tetapi kini bukan waktunya untuk memikirkannya. 

Si mata satu itu memiliki hook yang sanggup menebas Ice Wall 10 lapis. Belum lagi kemungkinan teknik lain yang belum diperlihatkan.

Ryo harus menajamkan seluruh sarafnya.

Ya, persis seperti ketika dia bertarung melawan Dullahan. 

Namun begitu dia sadar, rasa tertekan yang sempat menekan dada lenyap.

Ini adalah hal yang biasa dia lakukan.

Dia mengangkat Murasame ke posisi tengah, bersiap dalam kuda-kuda. 

Setelah sejenak hening.

Si mata satu itu mengayunkan hook kanan dan kiri sambil melayang di udara tepat di hadapannya.

Ryo menangkisnya dengan hati-hati menggunakan Murasame. Dia tidak menghindar, melainkan menahan. 

Dan benar saja, meski hook itu mampu mengiris Ice Wall 10 lapis, bilah es Murasame mampu menahannya. Tak retak, tak pecah, bahkan tak terkelupas sedikit pun. 

Dari paruh burung itu, sesuatu meluncur ke arah mata Ryo.

Dia segera menggerakkan kepalanya, menghindari serangan itu. Kemungkinan besar, itu sejenis dengan serangan Air Slash.

Artinya, elang itu bisa melancarkan serangan bukan hanya dari sayap, melainkan juga dari paruhnya. 

Namun Ryo tidak membiarkan pikirannya terbelenggu oleh hal itu. Bila dia terpaku, pandangan sejatinya akan terhalang.

Pertarungan jarak dekat dengan si mata satu ini memang menyulitkan. 

Hook kanan, hook kiri, lalu Air Slash dari paruh. Dan kini, satu per satu bulu sayapnya beterbangan seperti shuriken. Kecepatan bulu shuriken itu tidak seberapa, tapi menambah jumlah serangan di tengah jarak dekat... Itu saja sudah cukup merepotkan. 

Seandainya Ryo tidak berfokus penuh untuk bertahan, dia sudah lama hancur. Namun sekalipun bervariasi, serangan-serangan itu tetap tak mampu menembus pertahanannya.


Serangan si mata satu, pertahanan Ryo. Itu terus berulang sejak awal pertarungan jarak dekat.

Mungkin karena frustrasi pada pertahanan yang tak tergoyahkan, hook kanan si mata satu menjadi sedikit terlalu lebar. Ryo langsung memanfaatkannya. 

Dia menahan hook itu sedikit lebih jauh ke depan dari biasanya, di titik di mana tenaga musuh belum penuh, lalu memantulkannya balik.

Dengan keseimbangan yang terguncang, Ryo menyapu bilah Murasame ke arah leher musuh. 

Si mata satu itu segera mundur jauh, tapi Ryo menginjak maju dan menusuk.

Air Slash panik yang ditembakkan dari paruh ditepisnya dengan ujung pedang, lalu datanglah serangan menusuk beruntun, dua kali, tiga kali. 

Namun, semua itu berhasil dihindari si mata satu.

Begitu tusukan ketiga juga dielakkan, Ryo sengaja menghentikan serangannya sekejap. 

Seakan menunggu saat itu, si mata satu melancarkan hook kiri ke arah kepala Ryo.

Dan Ryo tidak menahannya. 

Dia justru menarik kaki kiri yang berada di belakang, setengah langkah mundur, memindahkan berat tubuh ke sana.

Dengan langkah dan perpindahan pusat gravitasi itu, dia menghindar. 

Kemudian, berat tubuhnya dialihkan ke kaki kanan yang melangkah lebar ke depan. Tangan kanannya meninggalkan Murasame, sementara tangan kiri menyorongkan pedang itu jauh ke depan. 

Satu tusukan dengan tangan kiri.

Ryo merasakan hentakan yang pasti menjalar dari genggaman tangan kirinya. 

Tusukan itu menembus tepat di bawah paruh, kira-kira setara dengan tenggorokan pada manusia.

Luka yang benar-benar fatal. 

Si mata satu itu roboh ke tanah dan mengalirlah darah dari paruhnya, namun elang itu tak pernah melepaskan pandangannya dari Ryo. Di dalam mata itu, api kebencian masih menyala. 

“Benar. Aku memang mengambil matamu, dan merenggut nyawa muridmu. Kamu tetap kalah meski sudah bertarung sekuat tenaga, mana mungkin itu bisa kamu terima begitu saja.” 

Meski mendekat tanpa ragu, Ryo tetap tak menurunkan kewaspadaannya.

“Setidaknya, karena bertemu denganmu aku bisa tumbuh. Kamu yang menjadi pemicu pertumbuhanku, untuk itu aku berterima kasih. Demi melunasi dendammu, demi muridmu, kamu bahkan berevolusi. Atas kebanggaan itu, aku memberimu penghormatan, dengan mengakhiri ini.” 

Hari itu, satu benang takdir pun berakhir.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close