NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Bonus Chapter Edisi Digital

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Bonus Cerita Pendek Edisi Digital

Abel dan Kapal Penyelundup

Menurut rencana awal, seharusnya dia bersembunyi di dalam sebuah tong, menunggu hingga malam di gudang kapal, lalu bergerak di dalam kapal untuk mencari bukti begitu hari gelap.

Jadwal keberangkatan kapal adalah keesokan paginya.

Karena itu, rencana tersebut semestinya berjalan tanpa masalah. 


Namun... 


“Bagaimana bisa begini...”

Abel bergumam pelan.


Malam telah sepenuhnya turun, menyelimuti sekitarnya dalam kegelapan pekat.

Laut di malam hari tampak hitam.

Lebih hitam dari apa pun.

Benar-benar kelam tanpa batas.


Dalam jarak pandang, tak ada cahaya dari daratan, itu berarti kapal ini sudah jauh ke lepas pantai, sampai daratan pun tak lagi terlihat. 


Waktu seharusnya tepat.

Matahari di pelabuhan Whitnash terbenam sekitar pukul 18.00 lewat sedikit.

Dia sudah memeriksa jam saku dan memastikan keluar dari tong tepat pukul 18.30.

Memang, pada saat itu dia sempat merasa kapal agak ramai.

Menurut informasi yang dia dapat, sebagian besar awak kapal sudah turun ke darat, dan yang tersisa di dalam hanya sedikit.

Namun, kenyataannya jumlah orang di kapal terasa lebih banyak dari perkiraannya.

Meski begitu, dia pikir mungkin saja mereka sedang bersiap untuk keberangkatan esok pagi.


Ternyata dia salah.

Kapal itu telah berlayar lebih cepat dari jadwal, itulah sebabnya suasana menjadi begitu gaduh.


Abel adalah seorang petualang peringkat B yang terdaftar di kerajaan.

Artinya, dia termasuk di antara petualang terbaik yang dimiliki negeri itu.

Para petualang menerima misi melalui guild, dan setelah menyelesaikannya, mereka akan mendapat bayaran. 


Kali ini, misinya adalah memperoleh bukti adanya perdagangan gelap dengan negara tetangga.

Bukti itu harus menunjukkan bahwa seorang bangsawan tinggi dari kerajaan terlibat dalam penyelundupan tersebut.

Namun, melihat situasi sekarang, bahkan jika dia berhasil menemukan buktinya, rasanya mustahil dia bisa keluar dari kapal ini dengan selamat. Abel hanya bisa menghela napas panjang. 


Kapal ini, yang dirancang untuk berlayar di laut lepas, berukuran cukup besar.

Mungkin panjangnya sekitar 60 meter, dengan tiga tiang layar yang berdiri tegak.

“Foremast, mainmast, mizzenmast... Kalau tidak salah begitu,” gumam Abel, mengingat pelajaran lama sambil mengintip dari balik bayangan ke arah tiang-tiang itu.

Dua tiang pertama, foremast dan mainmast, memakai layar melintang, sedangkan tiang paling belakang, mizzenmast, dipasangi layar memanjang.

Layar melintang digunakan untuk menangkap angin dari belakang, sementara layar memanjang berguna untuk menempuh arah melawan angin.

Tampaknya kapal penyelundup ini dilengkapi dengan keduanya. 

Tentu saja, walau layar memanjang memungkinkan kapal bergerak melawan arah angin, kapal layar tetap tidak bisa berlayar lurus ke arah angin datang.

Kapal harus menempuh jalur zigzag melawan arah angin agar bisa maju ke arah yang diinginkan.

Sudut zigzag itu disebut sudut pendakian angin, dan semakin kecil sudut yang bisa dicapai, semakin baik pula kinerja kapal tersebut.

Dibandingkan dengan kliper—puncak kesempurnaan kapal layar di Bumi—kapal ini tampak gempal dan berat, namun di dunia Phi pada masa ini, bentuk seperti itu sudah dianggap standar untuk kapal samudra.

Jika seseorang dari Bumi yang paham soal kapal melihatnya, mungkin dia akan berkata, “Ini kapal kerakah, ya!”

Meski bentuknya tambun, justru karena itu daya angkutnya sangat besar.


Dari balik bayangan tempatnya bersembunyi, telinga Abel menangkap percakapan para awak kapal.

“Meski begitu, Kapten, tadi cukup berbahaya juga, ya.”

“Benar. Untung saja kita sudah memuat barang, air, dan perbekalan sejak siang. Tak kusangka para penjaga pelabuhan Whitnash berniat menutup pelabuhan.”

“Kali ini muatan kita lumayan berisiko, Kapten. Apa mereka tahu tentang ‘permata’ itu?”

“Tidak. Sepertinya mereka mengejar harta karun yang dicuri dari keluarga kerajaan. Mereka pasti mendapat kabar bahwa benda itu hendak diselundupkan ke luar negeri. Karena itu mereka nekat menutup pelabuhan.”

Kapten yang berbicara itu tertawa rendah.

Anak buahnya, yang mendengar, menjawab dengan nada terkejut.

“K-Kita membawa barang berbahaya seperti itu juga?”

“Kita sama sekali tak boleh tertangkap, mengerti?”

“Baik, Kapten...”

“Meski begitu...”

Kapten itu mengerutkan kening, melanjutkan ucapannya.

“Sejujurnya, aku tidak ingin berlayar pada waktu seperti ini.”

“Ya... Sepertinya badai memang akan datang.”

Seorang anak buah menatap langit dan menjawab.

“Kalau kita sudah sejauh ini ke laut lepas, mereka tak akan bisa mengejar, kan?”

Kapten terdiam sejenak, lalu berteriak lantang.

“Dengar semua! Badai datang! Lipat semua layar!”

Dengan perintah itu, para awak kapal segera bergerak dengan tergesa-gesa.


“Badai... Sial, jangan bercanda.”

Abel menggerutu dengan wajah lebih tegang daripada sang kapten.

Dia saja belum tahu bagaimana cara melarikan diri, dan kini badai pun akan datang. Apa yang bisa dia lakukan?

Selama ini, Abel tidak pernah mabuk laut.

Namun, dia tahu betul dari cerita orang bahwa guncangan kapal di tengah badai benar-benar tak terbayangkan.

Bahkan pelaut yang berpengalaman pun bisa muntah dibuatnya.

Dan sekarang dia harus bertahan hidup di tengah situasi seperti itu, mencari bukti, lalu melarikan diri dari kapal ini...

“Ini benar-benar gawat.”

Gumamnya itu tak sampai ke telinga siapa pun.


Untuk sementara, Abel kembali ke ruang kargo.

Tempat lain dipenuhi para awak kapal, sementara di ruang kargo hanya ada tumpukan barang.

Tentu saja, jika muatan di atasnya bergeser dan menimpanya, dia tidak akan selamat.

Terlebih kapal ini akan segera diterjang badai.

Namun, tak ada tempat lain untuk bersembunyi.

Beruntung, muatan tampak terikat sangat kuat.

Kapal yang berlayar di laut lepas memang selalu memastikan hal itu, karena jika muatan bergeser, hukuman dari pemilik kapal bisa sangat berat. 

Hal pertama yang dilakukan Abel adalah mengikat tubuhnya sendiri.

Dengan tali yang dia ambil di perjalanan dan sebuah hammock, dia mengikat tubuhnya ke dinding ruang kargo.

Menggantung di udara adalah pilihan terburuk, bahkan orang yang tidak mabuk laut pun bisa dibuat muntah karenanya.

Cara paling dasar untuk mencegah mabuk laut adalah duduk bersandar rapat ke dinding, terutama hingga bagian belakang kepala menempel.

Kepala yang terayun bebas hanya akan membuat guncangan kapal terasa berlipat di dalam tengkorak. 

Apa yang dilakukan Abel adalah versi yang lebih ekstrem dari itu.

Dia tahu kapal pasti akan berguncang hebat begitu badai datang.

Yang penting adalah mencegah guncangan itu menggoyang tubuhnya lebih hebat lagi, dan mencegah dirinya terpental ke sana kemari di dalam ruang kargo. Karena itu, dia mengikat dirinya kuat-kuat demi bertahan hidup di tengah badai yang akan segera datang.


Begitu tubuh Abel selesai dia ikat dengan kuat, guncangan kapal mulai terasa semakin hebat.

Pada saat itu, suara para awak kapal di atas geladak sudah tak terdengar lagi.

Yang bergema di dalam ruang kargo hanyalah suara ombak yang menghantam lambung kapal—atau derit kayu kapal yang seolah menjerit.

Ruang kargo gelap gulita.

Dalam kegelapan itu, kapal berguncang hebat hingga membuat tubuh seolah melayang di udara, lalu dihantam keras ke permukaan laut beberapa meter di bawahnya.

Kadang, gerakannya begitu ekstrem hingga terasa seolah kapal akan terbalik.

Tubuh Abel yang terikat pada dinding kapal bergoyang bersama setiap hentakan kapal itu.


Guncangan baru mereda setelah entah berapa jam berlalu.

Begitu dia melepas ikatannya dan melihat jam, jarumnya menunjukkan pukul tiga sore.

“Butuh waktu lama juga.”

Badai mulai menghantam sejak larut malam, jadi tampaknya kapal itu terguncang selama sekitar dua belas jam.

Ketika dia mengintip dari balik pintu ruang kargo, suara langkah para awak kapal yang berlarian di atas geladak terdengar jelas. 

“Cepat! Perbaiki kemudi dan tiang layar!”

“Sial, kita terbawa jauh ke selatan...”

“Ini arus laut yang belum pernah kutemui sebelumnya. Tanpa layar dan kemudi, kita hanya bisa terbawa begitu saja...”

“Posisi pasti baru bisa kita ketahui nanti malam, saat bintang-bintang terlihat.” 

Arus laut yang bahkan para pelaut pun tak tahu? Jangan-jangan aku tidak akan pernah bisa kembali... 

Abel merasa hatinya tenggelam.

Namun, kenyataannya, tragedi yang menimpanya baru saja dimulai.


Dia kembali ke ruang kargo, mencari makanan di antara tumpukan muatan, lalu mengisi perutnya.

Setelah itu, dia menunggu malam tiba—waktu di mana dia bisa bergerak lebih leluasa.

Berjalan-jalan di dalam kapal pada siang hari jelas terlalu berisiko.

Namun saat malam, sebagian besar awak kapal pasti akan tidur, hanya beberapa yang berjaga.

Masalahnya, kapten kemungkinan besar akan tetap berada di kabinnya, tempat di mana Abel menduga bukti penyelundupan disimpan.

Meski begitu, tak ada pilihan lain.

Jika harus, dia akan menjatuhkan sang kapten dengan cepat dan diam-diam.

Dia sudah meneguhkan tekadnya. 

Namun, saat malam tiba dan dia bersiap untuk bergerak keluar dari ruang kargo, suara yang tidak ingin dia dengar lagi terdengar dari atas. 

“Badai datang lagi!” 

Apa? Lagi? 

Itu berarti, ini adalah badai kedua sejak dia berada di kapal ini.


Dan badai kali ini jauh lebih buruk dari yang sebelumnya.

Kapal berguncang dengan keras luar biasa.

Seperti sebelumnya, Abel mengikat tubuhnya pada dinding ruang kargo, namun kali ini kapal itu sendiri meloncat dan menghantam ombak berulang kali.

Dia bahkan mendengar dengan jelas suara kayu besar patah.

Sesuatu di atas geladak pecah.

Kemungkinan besar... 

Salah satu dari tiga tiang layar itu.


Ketika badai kedua akhirnya berlalu, Abel mengintip dari lorong menuju geladak.

Pemandangan di luar sungguh mengerikan.

Tiga tiang layar yang dulu berdiri tegak kini semuanya patah dari pangkalnya—tidak ada satu pun yang tersisa.

Dari percakapan para awak kapal yang dia dengar, cukup banyak di antara mereka yang tersapu ke laut.

Dan di tengah kekacauan itu, kapten sendiri tampak memberi perintah langsung untuk memperbaiki kapal. 

Sekaranglah waktunya! 

Jika kapten ada di geladak, berarti kabin kapten kosong.

Abel ada di kapal ini demi mendapatkan bukti penyelundupan.

Dia belum tahu apakah nanti bisa selamat mencapai daratan atau tidak, tapi saat ini, yang bisa dia lakukan hanyalah menjalankan tugasnya.

Jika dia gagal menemukan bukti itu setelah melalui dua badai, semua yang dia alami akan sia-sia.


Kabin kapten berada di buritan kapal.

Dan bukti itu, mengejutkannya, sangat mudah ditemukan.

Tersimpan di dalam laci meja kapten.

Lacinya terkunci, tetapi bagi Abel, membuka kunci sederhana seperti itu bukanlah masalah.

Dia memang seorang ahli pedang, namun tangannya terampil layaknya pencuri. 

Namun, saat dia hendak meninggalkan ruangan, pintu terbuka.

Seorang pria masuk—orang yang sebelumnya dia dengar berbicara dengan kapten di geladak. 

“Hei! Apa yang kamu... Guh!” 

Suara pria itu keras secara alami.

Abel segera menerjang dan menghantam ulu hatinya dengan tinju, tetapi sudah terlambat. 


Para awak kapal di dekat situ segera menyadari ada sesuatu yang terjadi.


Meski begitu, bahkan di atas kapal yang berguncang, teknik pedang Abel tetap tajam.

Dia bergerak memanfaatkan dinding dan perabot sebagai penghalang agar tidak dikepung.

Dia tidak pernah membiarkan musuh berada di belakangnya.

Selama semua lawan berada di bidang pandangnya, dia masih bisa mengatasinya, berapa pun jumlah mereka.

Perbedaan kemampuan antara Abel dan para awak kapal begitu jelas. 

Namun, jumlah tetaplah kekuatan.

Dan ini adalah kapal mereka, wilayah mereka. Bagi Abel, tempat ini adalah medan asing. 

Dia tidak boleh lengah.


Jika memungkinkan, dia menjatuhkan lawan tanpa bertukar satu tebasan pun.

Jika tidak, dia bertahan satu langkah lalu menjatuhkan lawan dari keseimbangannya.

Menghindar lalu menumbangkan.

Menahan lalu mengalirkan serangan hingga lawan jatuh.

Abel sepenuhnya fokus. 

Namun, rasa lelah tetap menumpuk, tak peduli sekuat apa pun seseorang.

Sebagai petualang peringkat B, stamina Abel berada di antara yang terbaik, namun pertarungan di atas geladak yang berguncang jauh lebih melelahkan daripada bertarung di darat.

Dia telah menjatuhkan lebih dari empat puluh orang, wajar saja bila tubuhnya mulai melemah. 

Dan seolah menunggu saat itu, dua orang lawan terakhir kini berdiri di depannya.

Salah satunya adalah kapten.

Yang satu lagi adalah pria yang tidak dia kenal—namun dari caranya memegang pedang, Abel tahu dia seorang ahli pedang.

Gerakannya begitu alami.

Mungkin dialah penjaga khusus untuk menghadapi situasi seperti ini.

Kapal penyelundup pasti sesekali harus berhadapan dengan bajak laut di laut terbuka.

Bahkan mungkin, melawan kapal perang kerajaan.

Dalam situasi seperti itu, mereka membutuhkan orang yang bisa menyelesaikan masalah dengan kekuatan.

Maka tak aneh jika kapal ini memiliki orang seperti dia.


Kapten berdiri di belakang, sementara sang ahli pedang maju satu langkah.

Abel sudah letih, namun ini bukan waktunya memikirkan rasa lelah. 

Ahli pedang itu maju selangkah, menusuk dengan cepat.

Abel menangkis dengan pedangnya.

Tebasan dan tusukan lawan begitu tajam, dan gerakan mundurnya pun cepat.

Dari itu saja Abel langsung paham, orang ini sangat terampil.

Jika dia terburu-buru mengakhiri pertarungan karena kelelahan, justru dia yang akan kalah... Perbedaan kemampuan mereka tidaklah jauh. Ini pertarungan yang benar-benar tipis. 

Begitu tekad bulat, yang tersisa hanyalah bertarung.


Lawannya menyerang, dan Abel menahan.

Lawannya terus menekan, dan Abel terus menerima serangan.

Dia hanya bertahan, dengan sesekali mengayunkan serangan ringan sebagai pengalih.

Tujuannya bukan untuk melukai, tapi untuk menarik lawan ke dalam jurang kelelahan yang sama dengannya. 

Aliran pedang yang Abel kuasai terkenal di ibu kota, gaya bertarung yang sederhana, efisien, dan sekaligus indah dalam kesederhanaannya.

Namun inti sejatinya terletak pada “pertarungan lumpur”.

Ketika kedua belah pihak sama-sama lelah, gaya Abel yang hemat gerak akan selalu bertahan paling akhir... Itu adalah salah satu rahasia dari alirannya.

Sesungguhnya, rahasia sejati dalam seni pedang tidaklah megah atau indah, itu adalah hasil dari pencarian mutlak akan kekuatan.

 

Namun perhatian Abel tidak pernah lepas dari sang kapten yang masih berdiri diam.

Tangan kanannya disembunyikan di belakang, kemungkinan menggenggam pisau lempar atau senjata kecil lain.

Jika dia lengah dan serangan itu datang di saat yang salah, akibatnya fatal. 

Namun...

Kapten itu tidak bisa bergerak.

Hanya dengan tatapan Abel, tubuhnya terkunci oleh rasa gentar.

Sebuah teknik yang hanya dimiliki oleh ahli pedang sejati. 

Keadaan pun memasuki kebuntuan, tapi bagi Abel, ini adalah situasi yang ideal.

Dengan tatapan dia menahan kapten, sementara sang ahli pedang perlahan dia seret ke dalam kelelahan... Segalanya kini berada dalam genggamannya.


Dan akhirnya... Ketika pedang lawan terlepas dari tangannya karena kelelahan, pedang Abel menembus dadanya tanpa jeda. 

Sang kapten hanya bisa terpaku, bahkan setelah melihat pemandangan itu.


Seharusnya itu bisa menjadi kemenangan mutlak untuk Abel.


Seharusnya begitu. Namun... Kehancuran datang secara tiba-tiba.

Tanpa tanda apa pun, kapal itu melonjak.

Ya, melonjak ke atas.

Seperti terombang-ambing dan terangkat oleh gelombang di tengah badai... Padahal laut di sekeliling mereka sedemikian tenangnya, tanpa riak sedikit pun. 

Tiga orang yang masih bertarung di geladak, termasuk Abel, serta para awak kapal yang sebelumnya telah dikalahkannya—semuanya terpental di atas kapal.

Pada saat itu juga, Abel melihatnya.

Makhluk yang telah menghantam kapal hingga terangkat dari laut. 

Dia mengenalinya—atau, lebih tepatnya, dia mengenali versi kecilnya. Dia pernah menyebutnya sebagai cumi-cumi.

Namun, cumi-cumi yang dia kenal, sebesar-besarnya, hanya sepanjang lengan manusia.

Sedangkan yang satu ini, bawah permukaan laut, jauh lebih besar daripada kapal mereka yang panjangnya enam puluh meter. 

“Kraken...”

Kata itu lolos begitu saja dari bibir Abel.

Lalu dia berbisik lirih, “Padahal aku hanya membuat sebagian besar awak kapal pingsan agar kapal ini masih bisa berlayar, ternyata sia-sia juga.” 


Dan dengan kata-kata itu sebagai penutup, tubuh Abel terlempar keluar kapal, menghantam permukaan laut, lalu tenggelam ke dalam kedalaman samudra yang gelap...


Previous Chapter | ToC | 

Post a Comment

Post a Comment

close