Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 7
Ryo dan Abel
“Baiklah, kalau begitu mari kita berangkat.”
Setelah melakukan pemeriksaan terakhir agar tak ada barang yang tertinggal, Ryo menyampaikan itu pada Abel.
“Ah, baiklah, ayo pergi.”
Keduanya hanya membawa perlengkapan ringan.
Sejak awal, Abel memang tak memiliki barang bawaan karena dia korban selamat dari kapal karam. Yang tersisa hanyalah pakaian, dompet, zirah ringan, dan pedang. Sedangkan Ryo membawa jubah dan mantel pemberian Dullahan, sehelai kain pinggang, sandal, dua bilah pisau, serta bumbu-bumbu.
Karena mereka akan menembus hutan, semakin sedikit bawaan maka semakin baik.
“Pada dasarnya, semua bahan makanan akan kita peroleh di tempat tujuan. Untuk bumbu, aku membawa garam dan lada hitam, sementara air bisa kuhasilkan sendiri. Jadi kita akan berburu binatang, mengalahkan monster, atau memakan buah yang tumbuh liar. Bagaimanapun juga, hutan ini penuh dengan kehidupan, jadi kurasa tidak akan ada masalah.”
“Oke.”
“Kalau kita sedikit lebih jauh pergi ke utara, kita akan ketemu rawa besar. Sampai ke sana aku cukup sering pergi, jadi aku tahu situasinya seperti apa. Untuk saat ini, sepertinya tak ada lagi monster yang berbahaya yang muncul.”
Sambil berkata begitu, di benak Ryo terlintas kembali pertemuan pertamanya dengan Assassin Hawk bermata satu. Saat itu, dia juga menemuinya di hutan bagian utara ini.
“Begitu ya. Kalau begitu, untuk sementara mari kita menuju ke rawa itu.”
Begitu melewati batas penghalang, keduanya melangkah tanpa banyak bicara.
Ryo larut dalam kenangan tentang rumah yang sudah lama ditinggalinya, sementara Abel sibuk memikirkan dirinya. Tak tahan dengan keheningan, akhirnya Abel yang lebih dulu membuka mulut.
“Ryo, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Hmm? Ada apa?”
“Yah, inimungkin pertanyaan ini agak lancang. Kalau kamu tak ingin menjawabnya, tak apa... Tadi malam, kamu pergi ke mana?”
Meskipun ragu, rasa ingin tahunya jauh lebih besar, dan bila tak ditanyakan, dia akan terus dihantui kegelisahan itu.
“Ah, tidak masalah. Tadi malam aku pergi menemui guruku, untuk berpamitan karena akan pergi cukup lama.”
“Gurumu? Jadi jubah dan mantel itu, dari beliau?”
“Ya, benar. Beliau memberikannya padaku sebagai tanda perpisahan.”
Jubah dan mantel itu memang indah, hasil jahitan yang sangat baik. Namun, Abel merasakan kejanggalan.
Sejak kecil dia telah terbiasa dikelilingi barang-barang indah dan bernilai, sehingga matanya terlatih menilai keunggulan suatu benda. Dan naluri itu berbisik padanya.
Apa barang itu ada efek sihir tertentu?
Meski begitu, dia tak bisa memastikannya.
“Apa benda itu punya efek khusus?”
Pada umumnya, pertanyaan semacam ini dianggap tabu. Namun, di antara rekan satu tim, hal itu tidak berlaku. Mengetahui kemampuan, senjata, dan perlengkapan masing-masing adalah hal penting agar bisa bekerja sama di medan pertempuran.
Walaupun alasan Abel sebenarnya hanyalah rasa penasaran yang ingin segera terjawab.
“Hmm, kurasa tidak ada. Guruku pun tidak mengatakan apa pun.”
Dullahan memang tak pernah mengucapkan sepatah kata pun. Wajar saja, karena dia tak memiliki kepala.
“Begitu ya...”
Jika pemiliknya sendiri tak tahu, maka tak ada lagi yang bisa digali. Abel tidak puas, tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
Tak lama, mereka pun tiba di rawa besar di utara.
“Kita akan memutar dari sisi kiri, lewat barat, untuk menuju ke utara. Setelah itu, aku sendiri tak begitu tahu wilayahnya, jadi kita harus lebih berhati-hati.”
“Baik, aku mengerti.”
Abel mengangguk.
“Entah kenapa, kebanyakan penyihir berbicara dengan sangat runtut. Teman-temanku dulu begitu juga, bahkan kenalan para penyihir di kampung halamanku pun sama saja. Dan sekarang, kamu pun begitu, Ryo.”
“Begitukah? ...Aku sendiri belum pernah bertemu penyihir lain, jadi aku tidak bisa memastikan...”
Sebenarnya bukan hanya penyihir lain. Bahkan manusia lain pun, Abel adalah orang pertama yang aku temui...
Ryo tersenyum getir dalam hati.
Mereka memutar melewati rawa besar itu, dan ketika sampai di sisi utara pun, tidak satu monster pun mereka temui.
Perjalanan dilanjutkan lebih jauh ke utara. Saat siang sudah bergeser ke sore, hampir menjelang senja, akhirnya mereka bertemu monster.
“Itu Lesser Boar, bukan?”
“Seperti yang kubilang kemarin, biar aku yang urus. Kamu cukup menonton dari belakang, Ryo.”
Abel menghunus pedangnya dan bersiap. Ryo menurut, berdiri di belakangnya.
Dalam benaknya, terlintas kembali pertarungan pertamanya di dunia Phi.
Ya, lawan pertamaku juga Lesser Boar. Saat itu, untuk pertama kalinya aku merasakan niat membunuh, dan tubuhku tak bisa bergerak. Pada akhirnya, aku membunuhnya dengan kombinasi Ice Burn, Icicle Lance, lalu menusuknya berkali-kali dengan tombak bambu... Ah, sudah lama sekali itu.
Saat Ryo tenggelam dalam kenangan, pertarungan pun dimulai.
Lesser Boar menyerbu ke arah Abel.
“Jurus: Side Step.”
Dengan gerakan sekecil mungkin, Abel menghindar ke samping tepat sebelum benturan.
Dan seiring dia berkelit,
“Jurus: Tusukan Penuh.”
Pedangnya menembus telinga kiri Lesser Boar, menembus hingga ke otak. Monster itu roboh tanpa bisa melawan.
Yang terkejut justru Ryo. Bukan karena kelihaian gerakannya, melainkan sesuatu yang baru dia ketahui.
Jurus bela diri? Apa itu? Barusan, gerakan menghindar dan tusukan ke telinga itu, ya? Jadi di Phi ada hal semacam itu juga?
“Huh, dengan ini lauk malam sudah ditentukan. Hmm? Ada apa, Ryo?”
“Ah, tidak, aku baru pertama kali melihat sesuatu yang disebut jurus bela diri.”
“Oh, begitu. Wajar, penyihir memang tak menggunakannya. Itu khusus untuk mereka yang bertarung dengan senjata... Bisa dibilang teknik bertarung.”
“Begitu rupanya...”
Ryo mengangguk mantap.
“Bagaimanapun juga, sebentar lagi senja. Mari bersiap untuk berkemah. Lesser Boar ini kutusuk lewat telinga, jadi darahnya keluar dengan sendirinya. Itu berarti sudah seperti melalui proses pengeluaran darah...”
“Ya, benar. Ah, baru kuingat, tidak jauh di belakang ada pohon besar dengan lubang di batangnya. Mari kita berkemah di depannya. Ada cukup ruang untuk membuat perapian.”
Ryo mulai memikirkan hal paling penting.
Ya, yang paling penting: makanan.
“Matamu tajam sekali. Kalau begitu, mari kita potong bagian yang bisa dimakan dan bawa.”
Abel menghunus pisau, siap membedah di tempat.
“Kalau begitu, aku akan mengumpulkan ranting kering sambil kembali ke sana, lalu membuat api.”
Ryo memang piawai menyalakan api, meskipun dia adalah penyihir atribut air.
Daging paha Lesser Boar yang dipanggang di atas api terasa begitu lezat. Garam dan lada hitam membentuk kombinasi rasa yang sempurna. Satu-satunya penyesalan hanyalah ketiadaan nasi. Meski sudah cukup kenyang, Ryo tetap merasakan kekosongan di hatinya.
Abel tampaknya puas sepenuhnya, tanpa merasa ada yang kurang.
Mungkin perbedaan ini karena Ryo terbiasa hidup menetap hingga kemarin, sedangkan Abel selalu menjalani hidup sebagai petualang.
Tak disangka, hanya setengah hari setelah meninggalkan rumah, Ryo sudah merasa rindu... Betapa pentingnya nasi dalam sebuah hidangan... Baru benar-benar terasa saat dia kehilangannya.
Seandainya tadi aku memaksa membawa sedikit beras walau agak membebaniku...
Ryo sendiri tidak tahu bagaimana dia akan membawa beras dengan kondisi yang sekarang. Yang jelas, nasi itu penting. Ketika dia kembali nanti, dia pasti akan merawatnya dengan baik.
* * *
“Kalau begitu, aku akan tidur lebih dulu. Kurasa aku tidak akan tertidur lelap, tapi kalau ada apa-apa, jangan ragu untuk membangunkanku.”
Mengucapkan itu, Abel masuk ke dalam rongga pohon besar. Berdasarkan perhitungan bulan malam ini, setelah bulan melewati titik puncaknya, Ryo yang akan membangunkan Abel.
Nah, sekarang ada waktu luang. Daripada bosan, sebaiknya aku melatih kendali sihir.
Hari ini mereka berjalan seharian penuh, dan bahkan tidak bertarung sama sekali, jadi kekuatan sihirnya masih berlimpah. Dia tidak tahu seberapa banyak sihir bisa pulih setelah tidur sebentar nanti, tapi menghabiskan sedikit energi untuk latihan kendali sihir seharusnya bisa dipulihkan... Begitulah yang Ryo kira.
Dulu, saat berlatih kendali sihir, dia sering membuat pagoda lima tingkat raksasa atau Tokyo Skytree dari es di halaman. Namun, belakangan ini, dia lebih suka membuat versi mini dari Tokyo Tower.
Seperti kebanyakan hal, mengecilkan sesuatu jauh lebih sulit daripada memperbesarnya.
Membuat sesuatu dalam ukuran kecil menuntut berbagai keterampilan, mulai dari rancangan hingga pengerjaan, semua membutuhkan ketelitian.
Dalam sihir, ketelitian itu disebut kendali.
Membuat Tokyo Skytree raksasa memang membutuhkan energi sihir dalam jumlah besar. Namun, jika berbicara soal kendali, Ryo merasa bahwa membuat Tokyo Tower berukuran sangat kecil justru lebih melatih dirinya.
Bagaimanapun, itu adalah latihan kesukaannya, jadi dia tidak merasa keberatan.
Dengan sengaja memperlambat gerakan, dia membangun Tokyo Tower dengan garis es yang lebih tipis dari benang.
Dia membuatnya serentak dengan tangan kanan, tangan kiri, kaki kanan, dan kaki kiri. Satu tubuh saja sudah tidak lagi cukup untuk disebut latihan. Latihan haruslah memberi beban. Walau terasa menyenangkan, menyusun menu latihan yang tetap memberi tekanan selalu penting, di zaman mana pun, kan?
Saat Ryo membentuk Tokyo Tower di telapak tangan dan di ujung jarinya, beberapa monster tertarik oleh bau mereka dan mendekat.
Abel memang untuk membangunkannya kalau ada masalah. Namun, besok mereka masih harus berjalan jauh, jadi lebih baik Abel bisa tidur dengan tenang.
Dengan pemikiran itu, Ryo memutuskan untuk menanganinya sendiri. Apalagi, musuh kali ini tidak kuat, jadi dia bahkan tidak perlu bergerak dari tempatnya.
Cukup dengan menembakkan Water Jet, menembus dari telinga kanan ke telinga kiri monster.
Baru saja Abel menunjukkan hal yang sama pada Lesser Boar tadi siang—menusuk lewat telinga. Ryo pun sudah tahu dari pengalaman bahwa bagian itu mudah ditembus.
Dengan begitu, dia bisa mengalahkan monster tanpa menimbulkan suara keras, tanpa mengganggu tidur Abel.
Monster yang mati dia biarkan begitu saja. Tak lama, monster lain akan datang dan membawanya pergi.
Sebelum darah yang tercecer memancing lebih banyak monster ke sekitar, bangkai itu sudah lenyap.
Hutan malam memanglah tempat seperti itu.
Untuk persiapan sarapan esok hari, Ryo hanya menyimpan seekor Lesser Rabbit. Sisanya dia serahkan pada hukum rimba. Bila perut mereka kenyang, monster-monster itu pun tak akan repot-repot menyerang dirinya dan Abel.
Saat giliran jaga berganti, Abel duduk di depan api unggun.
Di sampingnya, tergeletak bangkai Lesser Rabbit yang ditangkap Ryo, dengan bekas darah mengalir dari telinganya.
Tusukan pisau ke telinga, ya? Lumayan juga... Tidak, tunggu. Melawan Lesser Rabbit, menusuk telinga dengan pisau? Itu bukan sekadar lumayan, itu agak tidak masuk akal. Biasanya mereka kabur begitu didekati. Apa dia begitu mahir menyembunyikan kehadirannya? Bukannya dia lebih cocok disebut pengguna pisau sejati ketimbang penyihir? Tak heran dia bisa bertahan hidup sendirian di hutan ini.
Sambil menambahkan ranting kering ke api, Abel mengambil kendi es dan cangkir es yang sudah disiapkan Ryo.
Dan ini juga, entah sejak kapan dia menyiapkan kendi dan cangkir ini. Katanya, kalau aku haus saat dia tidur, aku bisa minum. Tapi, bagaimana dengan sihirnya? Sebelum makan tadi, dia bahkan membuat semacam pancuran dari atas kepala, katanya sebagai pengganti mandi... Kalau ditambah ini semua, seharusnya dia sudah menghabiskan cukup banyak energi sihir... Tapi aku tak melihat tanda-tanda dia kehabisan tenaga... Hmm, aku tidak mengerti.
Dia melirik ke arah Ryo yang terlelap, terbungkus jubah di dalam rongga pohon.
Jubah itu... Benda itu jelas bukan barang biasa... Pasti sesuatu yang tak bisa dibuat oleh tangan manusia. Dan dia mendapatkannya sebagai hadiah perpisahan dari gurunya? Sebenarnya siapa gurunya itu? Waktu dia bilang hendak pamitan karena akan pergi lama, aku kira dia hendak menemui arwah seseorang yang dulu tinggal bersamanya. Tapi kalau dia mendapat benda semacam itu, jelas orang yang ditemuinya bukan arwah... Tapi juga bukan dari manusia... Lalu apa? Seekor naga, atau makhluk legendaris semacamnya? Atau justru sebaliknya—karena mustahil dibuat manusia, mungkin memang pemberian arwah atau entitas serupa...? Tidak, tapi kalau begitu...
Pikirannya berputar tanpa arah, pertanyaan yang berulang tanpa jawaban. Tapi begitulah, waktu berjaga memang sering terisi dengan renungan kosong.
Sementara itu, langit di timur mulai memucat.
Hampir bersamaan, Ryo pun bangun.
“Selamat pagi, Abel.”
“Selamat pagi juga.”
Malam itu, hingga fajar menyingsing, Abel sama sekali tidak pernah diserang monster.
* * *
Setelah memakan Lesser Rabbit yang ditangkap Ryo, keduanya mulai berjalan ke arah utara. Tentu saja, tidak ada jalan di sana, hanya hutan belantara. Ada jalur samar yang mungkin bekas jalan hewan, tetapi sama sekali bukan jalur yang mudah dilewati.
Barisan mereka Abel yang memimpin di depan, sedangkan Ryo di belakang.
Itu atas usul Abel, agar jika tiba-tiba diserang monster, dirinya sebagai ahli pedang bisa segera menanggapi.
Bagi Ryo yang mengikuti sambil membuat Tokyo Tower mini di kedua telapak tangannya, dia hanya perlu mengawasi belakang. Jika dia berjalan di depan, maka dia harus memperhatikan bukan hanya bagian belakang, tetapi juga depan sekaligus, dan itu akan membuatnya lebih cepat lelah.
Hari itu sejak pagi, mereka lumayan sering diserang monster.
Namun, yang menyerang hanyalah monster lemah seperti Lesser Rabbit, Lesser Boar, atau Lesser Snake.
“Ryo, monster yang kita kalahkan biarkan saja. Nanti mendekati tengah hari, barulah kita jadikan salah satunya makan siang.”
“Baik.”
Dari monster seperti Lesser Rabbit dan Lesser Boar, bisa diambil batu sihir dari sekitar jantung mereka. Batu itu digunakan untuk alkimia, tetapi batu sihir dari monster dengan nama “Lesser” ukurannya kecil, kualitasnya buruk, dan hampir tidak punya manfaat.
Karena itu, para petualang biasanya tidak mengambil batu sihir Lesser. Selain tak bisa dijual, menghabiskan waktu untuk mengambilnya hanya buang-buang tenaga.
Barulah jika monster dengan tingkatan “Greater” atau lebih tinggi, batu sihirnya akan dibeli dengan harga lumayan... Namun, sejauh perjalanan Ryo dan Abel, mereka belum pernah bertemu dengan monster tingkatan Greater.
Semua pertarungan ditangani oleh Abel. Ryo hanya mengamati pergerakan Abel dari belakang.
Kemarin dia baru tahu tentang sesuatu yang disebut jurus bela diri.
Itu adalah hal yang sangat menarik perhatiannya.
Tentu saja, Ryo tidak bisa menggunakannya. Bahkan Dullahan, yang selama ini melatih pedangnya, sepertinya juga tidak pernah menggunakannya... Tentu saja, mungkin hanya Ryo yang tidak mampu melihatnya...
Namun, setiap kali Abel melancarkan jurus bela diri, sepotong tubuhnya memancarkan cahaya putih. Saat melakukan Jurus: Side Step, kedua kakinya yang bercahaya. Saat menggunakan Jurus: Tusukan Penuh, tangan yang menggenggam pedang dan tubuh bagian atasnya bersinar.
Akan tetapi, selama 20 tahun pertarungannya dengan Dullahan, tak pernah sekalipun tubuh Dullahan bersinar seperti itu.
Kalau begitu, berarti Dullahan memang tidak menggunakan jurus bela diri. Jika tanpa jurus sekalipun bisa mencapai tingkat kekuatan sebesar itu, mungkin jurus itu memang tidak diperlukan. Namun, tetap saja, melihat langsung teknik yang belum pernah dia saksikan sebelumnya, membuat hatinya terusik.
Lagipula, teknik dengan nama “Jurus: ...” lalu dipakai untuk membalikkan keadaan seketika... Bukankah itu terlihat sangat keren!?
Itulah yang biasa disebut membangkitkan semangat remaja dalam dirinya.
Di sisi lain, Abel tentu sadar bahwa Ryo memperhatikan pertarungannya dengan penuh minat.
Tertarik dengan gaya bertarung ahli pedang, ya? Yah, ada juga bagian yang bisa dipelajari untuk pertarungan dengan pisau...
Bagi Abel, pemahaman itu sebatas itu saja.
Sejak kecil, dia sudah terbiasa diperhatikan. Dia dibesarkan dengan julukan si jenius pedang. Dia memang sempat belajar sihir, tapi sihir tidak cocok dengannya. Karena itu dia sepenuhnya tenggelam dalam dunia pedang, berlatih dari pagi hingga malam, hingga akhirnya menguasai beberapa jurus bela diri.
Sebagai anak kedua, dia tidak perlu mewarisi urusan keluarga.
Karena itu, begitu menginjak usia dewasa, 18 tahun, dia segera menjadi petualang. 8 tahun telah berlalu, dan kini dia sudah cukup terkenal sebagai petualang peringkat B.
Menjelang tengah hari.
Ryo dan Abel keluar ke sebuah tempat terbuka di dalam hutan. Meski hutan ini begitu lebat, ada kalanya terdapat lapangan terbuka semacam ini. Sama seperti tempat di mana Ryo pertama kali disergap Assassin Hawk bermata satu.
Clang!
Abel mencabut pedang dan menebas ke depan, menangkis sesuatu yang tak terlihat.
Sesuatu yang tak kasat mata...
“Assassin Hawk!” teriak Ryo dari belakang.
Saat Abel menengadah, seekor elang raksasa mengepakkan sayapnya di udara, menatap ke arah mereka.
“Barusan itu sihir atribut angin,” jelas Ryo sambil berlari dan berdiri sejajar dengan Abel.
“Assassin Hawk, huh, merepotkan. Kalau bersama kelompokku, kami pasti langsung kabur masuk hutan. Bagaimana menurutmu?”
“Sayangnya, itu tidak mungkin. Dari belakang ada Normal Boar, dan di depan, di dalam hutan, ada monster yang belum pernah kutemui.”
“Serius? Kita dikepung tiba-tiba? Atau ini jebakan?”
Ryo berpikir sejenak, lalu menggeleng.
“Tidak, sepertinya hanya kebetulan. Meski mungkin saja lapangan ini memang jadi wilayah perburuan Assassin Hawk.”
Tempat pertama kali Ryo diserang Assassin Hawk bermata satu juga lapangan terbuka semacam ini. Elang itu tahu betul bahwa di tempat terbuka seperti ini, keunggulannya bisa dimaksimalkan.
“Lalu, apa yang kita lakukan?”
“Monster di hutan depan kita abaikan dulu. Kalau bertarung di sini, mungkin dia tidak akan muncul.”
“Oke. Artinya kita harus mengalahkan Assassin Hawk dan Normal Boar di sini.”
Abel menghela napas kecil. Kedua musuh itu sama-sama merepotkan.
“Aku akan menghadapi Assassin Hawk, Abel, kamu lawan Normal Boar.”
Abel terkejut mendengar pembagian itu. Serangan Air Slash dan terjangan Assassin Hawk bisa membunuhnya sekalipun dia berhati-hati.
“Tidak, tapi...”
“Assassin Hawk bertarung di udara. Itu sulit untuk seorang ahli pedang sepertimu. Tapi aku penyihir atribut air, jadi aku lebih unggul dalam pertahanan.”
Ryo tersenyum sambil melanjutkan, “Siang ini, kita bisa memilih, mau makan daging burung atau daging babi hutan.”
Sambil berkata begitu, Ryo berjalan ke arah Assassin Hawk.
“Tch... Baiklah. Aku akan mengalahkan Normal Boar secepatnya dan segera menyusulmu. Jangan mati, ya.”
Mengucapkan itu, Abel berlari ke arah belakang.
“Abel, jangan sampai terburu-buru lalu terluka,” suara Ryo mengejarnya.
Biasanya, bila Abel bertarung melawan Normal Boar bersama kelompoknya, Warren sang perisai akan menerima terjangan Normal Boar, lalu serangan sihir dari Lynn, penyihir atribut angin, dan serangan pedang Abel akan menghabisinya.
Namun kali ini, tidak ada Warren.
Selain itu, bila terlalu banyak membuang waktu, Ryo bisa saja kalah oleh Assassin Hawk.
“Aku harus mengalahkannya dengan cepat.”
Normal Boar sudah masuk ke dalam visi Abel.
“Ryo, aku terkesan kamu bisa merasakan kehadiran monster dari jauh... Tidak, itu urusan nanti. Sekarang aku harus berkonsentrasi, kalau tidak aku yang akan celaka.”
Melihat manusia yang datang menyerang, Normal Boar menciptakan dua bongkahan batu dan meluncurkannya.
“Takkan kena! Jurus Pedang: Ketiadaan Jejak!”
Itu adalah salah satu jurus pedang tingkat tinggi, khusus untuk ahli pedang, dan termasuk yang paling sulit dikuasai. Jurus Pedang: Ketiadaan Jejak adalah teknik untuk menghindari semua serangan jarak jauh, termasuk sihir, hanya dengan gerakan sekecil mungkin.
Sambil menghindar dengan Ketiadaan Jejak, kecepatan Abel menuju Normal Boar sama sekali tidak berkurang.
Normal Boar menundukkan kepalanya.
Abel tahu. Babi akan menundukkan kepala sebelum menyerbu. Biasanya, dia akan menunggu terjangan itu, lalu sesaat sebelum benturan, menghindar ke samping dengan Side Step.
Namun kali ini dia tak punya waktu, karena dirinya pun sedang menyerbu ke arah babi.
Mengukur waktunya amat sulit.
“Tak ada pilihan, aku harus mengorbankan Side Step.”
Saat dia bergumam begitu, sosok Normal Boar lenyap.
Terjangan dengan kecepatan tak tertandingi dibanding Lesser Boar menghampirinya.
“Jurus Pedang: Putaran Diam!”
Sebuah teknik untuk menghindari serangan musuh yang menyerbu titik buta, berputar 450 derajat menggunakan kaki kanan sebagai poros, lalu dengan momentum itu, menusukkan pedang ke sisi kiri lawan.
Pedang sihir Abel yang berkilau merah menusuk tepat sasaran, menembus telinga kiri Normal Boar.
“Gyaaaaaahhh!”
Terdengar jeritan kematian Normal Boar yang menggema, namun bersamaan dengan tumbangnya monster itu, Abel juga jatuh berlutut dengan satu kaki.
Mengeluarkan jurus pedang berturut-turut, bahkan bagi ahli pedang yang dijuluki jenius, menimbulkan kelelahan luar biasa.
Tapi dia tak punya waktu untuk beristirahat. Di lapangan tadi, Ryo sedang bertarung melawan Assassin Hawk.
Dengan sisa tenaga, Abel bangkit, menarik napas panjang, menenangkan pernapasannya, lalu berlari kembali menuju lapangan.
Tentu saja, dia tak bisa berlari secepat saat menyerbu Normal Boar, namun dia tetap bergegas. Dan di sana...
Ryo sedang mengiris leher Assassin Hawk dengan pisau, mengeluarkan darahnya.
“Oh, selamat datang kembali, Abel.”
“Ah... Aku kembali? Kamu mengalahkannya?”
“Ya, aku baru saja mulai mengeluarkan darahnya. Monster yang ada di hutan depan sepertinya sudah masuk lebih dalam.”
Mendengar itu, Abel roboh, jatuh berlutut.
“Hah? Abel? Kamu terluka?” Ryo panik melihatnya.
“Tidak, aku baik-baik saja. Tak ada luka. Aku hanya lelah sedikit.”
Setidaknya, keduanya selamat... Begitulah Abel menganggapnya.
* * *
“Ayo, makan siang kita hari ini ayam bakar ala bandit dan pipi babi panggang.”
Keduanya adalah hidangan daging panggang.
“Abel, lada hitam juga punya efek memulihkan tenaga, jadi makanlah banyak-banyak.”
“O-Oke.”
Ryo menikmati rasa daging ayam yang sudah lama tak dia rasakan.
Dibandingkan dengan kelinci atau babi hutan, monster jenis burung jarang sekali ditemui.
Abel pun, meski banyak yang mengganjal pikirannya, tahu bahwa memanfaatkan kesempatan untuk makan ketika bisa makan adalah kemampuan penting bagi seorang petualang. Dia pun menyantap dengan lahap.
Untuk beberapa lama, hanya suara kunyahan mereka berdua yang terdengar di lapangan itu.
Saat selesai makan, bahkan Abel yang sudah sangat letih karena dua kali mengeluarkan jurus pedang, merasakan lelahnya berangsur hilang. Setelah meneguk habis air yang disiapkan Ryo, keduanya menghembuskan napas puas.
“Andai saja sekarang menjelang sore, aku benar-benar ingin berkemah di sini saja, saking puasnya.”
Ryo terkekeh kecil mendengar kata-kata Abel.
“Tapi kamu harus segera bergabung dengan teman-temanmu, bukan?”
“Meski begitu, perjalanan ini sepertinya akan memakan waktu berminggu-minggu, kan? Tak ada gunanya terburu-buru.”
“Itu benar juga, karena kita tidak tahu berapa lama perjalanannya. Tapi setidaknya, kita masih bisa berjalan setengah hari lagi, jadi ayo lanjutkan.”
Sambil berkata begitu, Ryo berdiri.
“Ya, kita tak punya pilihan lain.”
Abel pun ikut berdiri.
“Ayolah, bukannya perjalanan ini untuk mengantarmu kembali pada teman-temanmu...”
“Hei, Ryo, soal pertempuran tadi...”
Formasi mereka tetap sama seperti biasa, Abel di depan dan Ryo di belakang. Karena hutan begitu rimbun, bila terlalu jauh bisa saja mereka terpisah, jadi Ryo berjalan tepat di belakang Abel.
“Ya, ada apa?”
“Bagaimana kamu menangkis serangan Assassin Hawk tadi? Bukannya dia punya sihir angin tak terlihat dan juga serangan terjangan? Apalagi terjangannya mustahil bisa dihindari hanya dengan mengandalkan mata telanjang.”
Abel menatap ke depan, berbicara sambil berjalan.
“Aku menangkisnya dengan sihir air, sebuah mantra yang menciptakan dinding es bernama Ice Wall.”
“Oh, jadi ada sihir seperti itu.”
“Abel, coba lihat ke belakang.”
Abel menoleh. Ryo ada tepat di belakangnya, cukup dekat hingga bisa diraih bila mengulurkan tangan. Tapi... Ada sesuatu yang terasa aneh.
“Hmm? Ini...”
Tok, tok.
Abel menyadari keberadaan Ice Wall, lalu mengetuknya seperti mengetuk pintu.
“Benar-benar transparan sekali.”
“Ya, hampir tak terlihat, bukan?”
Jadi begitu, Assassin Hawk menabrak dinding transparan ini lalu mati sendiri, rupanya.
Abel menyimpulkan begitu, lalu melanjutkan bicara.
“Sihir air ternyata hebat juga. Sayangnya, aku tak punya kenalan yang bisa menggunakannya, jadi aku tak pernah tahu.”
Para penyihir yang dia kenal hanya menguasai api, angin, tanah, dan cahaya. Keempat atribut itu cukup sering ditemui, tapi air dan kegelapan sangat jarang. Kegelapan sangatlah khusus, bahkan di seluruh negara-negara tengah hampir tak ada pengguna atribut itu. Sedangkan air...
“Dulu aku pernah dengar katanya sihir air tak cocok untuk pertempuran. Tapi nyatanya sangat berguna. Dasar kakek tua, kalau aku bertemu lagi dengannya, akan kuprotes dia.”
“Huh? Abel, kamu ngomong apa?”
“Ah, tidak, cuma ngomong sendiri. Jangan dihiraukan.”
Namun Ryo sedang memikirkan hal lain. Tentang monster yang berada di hutan di depan lapangan tempat dia bertarung dengan Assassin Hawk. Setidaknya, itu bukanlah monster yang pernah dia temui sebelumnya.
Saat pertempurannya dengan Assassin Hawk dimulai, monster itu tidak muncul ke lapangan, malah kembali masuk ke dalam hutan. Dari perasaannya, sepertinya bukan monster yang besar.
Sekarang mereka melewati area di mana monster itu sempat dia rasakan, namun tak ada pohon yang patah. Andai ukurannya besar, tentu pepohonan di hutan lebat ini sudah banyak yang tumbang.
Yah, memikirkannya terlalu jauh pun tak ada gunanya.
Kalau memang tak ada gunanya untuk dipikirkan, lebih baik tak usah dipikirkan.
Itu salah satu keahlian Ryo.
* * *
“Ada suara dari depan.”
Abel berbisik pada Ryo. Ryo pun mengangguk membalas.
Beberapa langkah kemudian, hutan membuka diri dan di kejauhan tampak rawa-rawa membentang. Di sana, berdiri sosok yang bukan manusia, bukan pula babi hutan atau kelinci, melainkan makhluk lain.
Tingginya dua meter, berjalan dengan dua kaki. Wajahnya seperti kadal, tubuhnya ditutupi sisik, dengan ekor ramping menjuntai. Di tangannya tergenggam tombak putih sepanjang tubuhnya sendiri.
“Lizardman...”
Abel mengerutkan kening saat mengucapkannya.
Lizardman hidup berkelompok. Itu berarti, besar kemungkinan ada perkampungan mereka di balik rawa ini.
“Lizardman... Monster yang hidup berkelompok di rawa. Saat dewasa, ekornya lepas dan dijadikan tombak. Mereka tidak bisa berkomunikasi dengan manusia, dan akan menyerang begitu melihat manusia. Karena salah satu makanan kesukaan mereka adalah organ dalam manusia.”
Abel menoleh pada Ryo dengan wajah terkejut.
“Kamu tahu banyak juga. Apa kamu pernah bertarung melawan Lizardman?”
“Itu tertulis di buku di rumahku, Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula. Aku sendiri belum pernah melawannya.”
Ryo menggeleng sambil menjawab.
“Lizardman memang tidak bisa menggunakan sihir, tapi di rawa mereka lawan yang merepotkan. Dan karena selalu bergerombol, pasti ada banyak dari mereka. Kita harus memutar.”
Tentu saja, Ryo tidak keberatan. Mereka pun bergerak ke arah barat, melawan arah angin.
Mereka berjalan cukup jauh, hingga benar-benar menjauh dari rawa, lalu kembali mengarah ke utara. Tidak ada yang tahu seberapa luas rawa itu, tapi keduanya sama-sama berpikir lebih baik menjauh sejauh mungkin.
Namun... Rencana itu hancur begitu saja.
“Abel, sepertinya kita sudah tercium oleh Lizardman.”
“Serius? Kita tahan mereka di sini.”
Hutan di sekitar begitu rapat. Setidaknya, mereka tidak sedang di rawa, jadi Lizardman seharusnya tidak terlalu menyulitkan bila sendirian.
“Abel, jangan khawatirkan aku. Bertarunglah seperti biasa.”
“O-Oke. Jangan memaksakan diri. Gunakan tembok es itu dengan baik.”
Entah kenapa Abel merasa Ryo akan baik-baik saja.
Toh dia sudah hidup sendirian di hutan ini. Tugas utamaku hanya menahan mereka di depan, membunuh mereka sebanyak mungkin, agar tidak ada yang sampai ke belakang.
Sambil berpikir begitu, barisan depan Lizardman muncul.
“Karena jumlah mereka tidak diketahui, aku harus hemat menggunakan jurus.”
Abel maju menyerang, mengayunkan pedangnya menyapu mendatar, menebas satu Lizardman. Gerakannya berlanjut menusuk ke kanan, menewaskan yang kedua.
Seterusnya, Abel bergerak cepat, tidak memberi kesempatan dikepung, dengan mudah menjatuhkan Lizardman satu demi satu.
Tanpa menggunakan jurus sekalipun, Abel tetap seorang ahli pedang yang ulung.
Hebat sekali. Dia sama sekali tidak terlihat gentar. Gerakan itu jelas bukan ilmu pedang asal-asalan, tapi gerakan yang ditempa sejak kecil melalui latihan yang disiplin...
Ryo benar-benar terkesan.
Di hadapannya ada sosok ahli pedang sejati, yang telah menumpuk latihan dan kerja keras tanpa henti.
Namun, bahkan Abel tak bisa menghentikan semuanya. Dua ekor Lizardman berhasil lolos ke arah Ryo.
“Jangan khawatir!”
Ryo berteriak kepada Abel.
Abel sempat melirik, lalu kembali menebas musuh di sekitarnya.
“Icicle Lance, 2.”
Dua tombak es melesat dari tangan Ryo, menembus tepat di dahi kedua Lizardman.
“Sudah lama rasanya aku tidak menembakkan Icicle Lance.”
Ketika pertempuran mulai mendekati akhir, sesuatu yang berbeda muncul di antara Lizardman.
“Abel, ada yang besar ikut mendekat bersama mereka.”
“Apa?”
Sambil tetap menebas tanpa henti, Abel melirik ke arah datangnya musuh. Yang muncul adalah...
“Lizard King! Kenapa dia juga harus keluar? Dia seharusnya hanya berdiam diri di sarangnya!”
Lizard King... Jenis Lizardman yang hanya ada satu di tiap kelompok, bukan hasil evolusi atau perubahan spesies, melainkan sekadar pemimpin. Mirip raja atau kepala desa dalam dunia manusia.
Namun, yang menjadi Lizard King adalah individu paling besar dan paling kuat. Karena itulah dialah pemimpinnya.
“Tersisa empat ekor biasa dan satu Lizard King. Agak merepotkan.”
“Abel, biar kamu yang hadapi Lizard King. Sisanya biar aku habisi dengan sihir.”
“Tidak, kamu tidak punya tongkat...”
“Icicle Lance, 4.”
Empat tombak es meluncur dari tangan Ryo, menancap tepat di dahi empat Lizardman.
“Hah?”
Abel ternganga.
“Barusan ada empat tombak... Kurasa Lynn pernah bilang sihir itu tidak bisa ditembakkan secara beruntun... Atau memang sihir air berbeda? Itu bukan tembakan beruntun, tapi... Huh?”
“Abel, Lizard King sudah mendekat.”
Ucapan Ryo membuat Abel sadar kembali.
“Benar juga. Aku pikirkan itu nanti. Sekarang, kita tumbangkan Lizard King dulu.”
Dalam pertarungan satu lawan satu, dan selama bukan di rawa, bahkan Lizard King pun bukan tandingan Abel.
Namun, dengan mayat Lizardman bertumpuk di sekitar, mereka tak bisa beristirahat lama. Maka mereka berdua pindah agak ke utara sambil meneguk air.
“Air, datanglah. Cawan, muncullah.”
Hanya karena terdengar keren, Ryo mengucapkan seolah-olah mantra ketika menyiapkan air di depan Abel.
Abel menatap dengan mata setengah menyipit, tapi tetap meminum air sambil berjalan.
“Hei, Ryo.”
“Ada apa, Abel?”
“Tadi malam, waktu ka,u menyiapkan air di kendi, bukannya mantranya ‘Air, lahirlah’?”
“Eh...”
Mata Ryo bergerak gelisah.
“A-Apa iya? Mungkin kamu cuma salah dengar?”
Gerak-geriknya jelas mencurigakan, membuat semua ucapannya kehilangan bobot.
“Ya sudahlah. Lalu, soal tombak es tadi, apa itu sebenarnya?”
“Yang tadi itu? Yah... Itu Icicle Lance, sihir air.”
“Bukan, maksudku, kenapa tadi keluar empat tombak sekaligus?”
“Ya, karena aku memang menembakkan empat tombak. Begitulah sihir itu. Jadi, kalau kamu tanya apa itu... Aku tak bisa menjawab selain itu.”
Abel berpikir sejenak, mencari cara bertanya yang lebih tepat. Akhirnya, dia menyampaikan apa yang diketahuinya.
“Temanku, penyihir angin, pernah bilang sihir itu hanya bisa sekali keluar dalam satu mantra. Tapi barusan, kamu melontarkan empat sekaligus. Bukannya itu aneh?”
Namun Ryo menjawab dengan penuh keyakinan.
“Aku tidak tahu soal sihir angin, tapi untuk sihir air, itu hal biasa. Tidak ada masalah sama sekali.”
“B-Begitu, ya...”
Melihat ekspresi Ryo yang begitu percaya diri, Abel tak bisa berkata lain.
Setelah berjalan sekitar setengah jam dari lokasi pertempuran, mereka menemukan bagian hutan yang agak terbuka. Berdasarkan pengalaman, tempat seperti itu biasanya sarangnya Assassin Hawk, tapi setelah menunggu sebentar dan tak ada tanda-tanda elang itu, mereka memutuskan bermalam di sana.
“Untuk makan malam... Lizardman tidak enak dimakan, kan?”
“Benar. Rasanya benar-benar busuk. Karena itu semua bangkainya tadi kutinggalkan.”
“Sudah kuduga... Kalau begitu biar aku berburu sesuatu. Abel, tolong siapkan kayu kering dan api.”
Abel, yang kini sama sekali tak meragukan kemampuan sihir Ryo, menerima usulan itu. Untuk urusan berburu, jelas penyihir lebih unggul daripada ahli pedang.
“Baiklah. Aku akan menunggu hasil buruannya.”
Abel mulai mengumpulkan ranting kering.
Ryo pun melangkah masuk ke dalam hutan.
Haa... Sebaiknya aku konsisten menggunakan “Air, datanglah” saja untuk mantraku.
Yang dipikirkannya, sungguh hal yang sama sekali tidak penting.
Ryo tanpa banyak kesulitan menemukan seekor Normal Rabbit, lalu menewaskannya dengan Water Jet. Lebih dari itu, di tempat dia menaklukkannya,d ia juga menemukan pohon loquat.
“Oh, sekarang kita punya tambahan buah sebagai pencuci mulut.”
Membawa Normal Rabbit dan buah loquat penuh di kedua tangannya, Ryo kembali ke tempat perkemahan. Di sana, Abel baru saja kembali setelah mengumpulkan ranting kering.
“Abel, hari ini kita punya buah sebagai pencuci mulut.”
“Oh, ohh. Tapi buah itu... Aku belum pernah melihatnya.”
“Eh? Jadi di sekitar sini tidak dimakan, ya? Di kampung halamanku, ini disebut loquat, dan biasa dimakan.”
“Namanya saja baru pertama kali kudengar. Aromanya manis. Aku menantikannya.”
Abel meletakkan tumpukan ranting yang dipeluknya, lalu mulai menyalakan api unggun.
“Pitcher, muncullah. Cawan, muncullah. Air, datanglah.”
Ryo melafalkan mantra itu, lalu menuangkan air ke dalam cawan, kemudian memberikannya pada Abel yang sedang menghidupkan api unggun.
“Nah, Abel. Mantranya adalah ‘Air, datanglah’. Kamu dengar tadi, kan? Itulah yang benar.”
“Eh? Apa maksudmu...”
“Mantranya adalah ‘Air, datanglah’. Mengerti?”
“Ah, iya...”
Begitulah, Ryo kini telah mendapatkan kepercayaan diri dalam mendesakkan kehendaknya.



Post a Comment