NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 8

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 8

Tembok

Keesokan harinya, keduanya melanjutkan perjalanan mereka ke utara dengan lancar.

Masalah baru menghadang mereka menjelang siang. 

“Tembok ya...”

“Benar... Tembok.” 

Di hadapan mereka terbentang rangkaian tebing batu, panjang tanpa celah hingga ke timur dan barat, serta menjulang lebih dari seratus meter tingginya. Tak ada kata lain untuk menyebutnya selain tembok. 

“Ini mustahil untuk didaki, kan?”

“Benar, bagian atasnya bahkan menjorok keluar. Setidaknya aku tidak mungkin bisa mendakinya.” 

Yang dimaksud menjorok keluar adalah bentuk tebing yang melebihi sembilan puluh derajat, miring ke arah mereka. Untuk mendakinya dengan tangan kosong, diperlukan keterampilan panjat tebing tingkat tinggi. 

“Tch. Seandainya ada penyihir atribut angin, pasti gampang memanjat ini!”

“Tidak juga, penyihir angin pun takkan bisa, bukan?” 

Abel membayangkan wajah Lynn, anggota kelompoknya yang menguasai sihir angin, lalu mencoba menilik kemungkinan dia mampu mendaki dinding ini.

Ya, tetap saja mustahil. 

“Tidak ada pilihan lain, kita harus berjalan ke timur atau barat, mencari jalan keluar.”

“Entah kenapa... Rasanya, ke mana pun kita pergi, hanya firasat buruk yang menunggu...” 

Ryo hanya mengutarakan apa yang dirasakannya, meski tanpa dasar jelas. 

“Begitukah? Kalau begitu, kita tentukan dengan koin.” 

Abel mengeluarkan sekeping uang tembaga dari dompetnya. 

“Jika sisi depan, kita ke timur. Jika belakang, ke barat.” 

Dia lalu menjentikkan koin itu dengan ibu jarinya, menangkapnya kembali, dan membuka telapak tangannya. 

“Sisi depan. Jadi kita ke timur.”

“Baiklah, mari menuju timur.” 

Ryo mengangguk, namun matanya terpaku pada koin di tangan kiri Abel. 

“Ryo, ada apa dengan koin ini?”

“Tidak, hanya saja, ini pertama kalinya aku melihat uang.” 

Benar, sejak berada di dunia Phi ini, Ryo belum pernah melihat uang sepeser pun.

Sejak reinkarnasinya, dia hidup sendirian, tak pernah membutuhkan, apalagi menyentuh uang. 

“Ah...” 

Namun Abel salah paham, mengira Ryo berasal dari kemiskinan hingga tak pernah bersentuhan dengan uang.

Dia teringat penampilan Ryo saat pertama kali bertemu yang hanya mengenakan kain pinggang dan sandal. Abel menganggap semua itu karena kemiskinan. 

“Abel, boleh aku melihat koin itu sebentar?” 

Yang diberikan Abel adalah uang tembaga, pecahan terkecil dari mata uang kerajaan.

Di negara-negara tengah, satuan mata uang disebut florin. Meski tiap kerajaan mencetak koin mereka sendiri, satuannya sama. 

Dulu ada banyak mata uang berbeda, tetapi kini satu florin setara dengan satu keping uang tembaga yang dipakai untuk berbagai transaksi dan jual beli.

Abel menjelaskan demikian. 

Mirip seperti ducat, satuan mata uang yang dulu digunakan luas di Eropa, dari Abad Pertengahan hingga awal zaman modern.

Dengan perbandingan itu, Ryo menerima penjelasan Abel dengan mudah. 

Koin tembaga yang diberi Abel bergambar wajah seorang pria pada sisi depan, dan pahatan bunga di sisi belakang. 

“Itu adalah uang tembaga satu florin dari Kerajaan Knightley, tempat tinggalku.”

“Knightley! Nama yang terdengar gagah sekali!” 

Ryo teringat seorang aktris di Bumi yang namanya mirip itu. Dia begitu cantik! Semangat Ryo pun melonjak. 

“O-Oh. Wajah di koin itu adalah potret Yang Mulia Raja Stafford IV, sedangkan bunga di belakangnya adalah bunga lili, lambang keluarga kerajaan.”

“Stafford Knightley... Nama yang benar-benar cocok untuk tokoh utama, keren sekali!”

“Y-Ya, meskipun sebenarnya ada nama tengah dan lain-lain...”

Gumaman terakhir Abel sama sekali tak masuk ke telinga Ryo. 

Seorang pria, berapa pun usianya, tetap saja tukang halu.

...Meski menyebut nama raja dengan istilah halu terdengar tidak sopan.


Mengetahui nama kerajaan yang mereka tuju—Kerajaan Knightley—dan terpikat dengan bunyinya, Ryo semakin bersemangat.

Abel tentu saja senang melihat Ryo menaruh kesan baik pada tanah airnya, meski tak bisa disangkal, tatapannya pada Ryo kini penuh nuansa seolah melihat seseorang yang agak menyedihkan. 

Dengan wajah gembira, Ryo menatap koin itu sambil berjalan di sisi tembok ke arah timur. Abel berjalan di sampingnya. 

“Ngomong-ngomong Abel, kamu bilang florin dipakai di negara-negara tengah, kan? Jadi Kerajaan Knightley termasuk salah satunya?”

“Benar, bahkan salah satu dari tiga kerajaan besar.” 

Abel mengangguk dalam. 

“Tiga kerajaan besar... Bagaimana yang dua lainnya?”

“Kekaisaran Debuhi dan Federasi Hundaru.”

“Debuhi...”

Ryo mengerutkan wajahnya. 

“Ada masalah dengan kekaisaran itu?”

“Bukan, hanya saja namanya jelek...” 

Wajah Ryo semakin tertekuk saat menjawab. 

“O-Oh... Jadi, itu tolok ukur penting bagimu, Ryo...”

Tatapan Abel kembali seperti sedang memandang seseorang yang menyedihkan. 

Namun Ryo berbicara penuh semangat. 

“Nama negara juga penting bagi rakyatnya! Siapa yang mau dengan bangga berkata, ‘Aku rakyat Debuhi’? Mana mungkin... Jangan-jangan nama kaisarnya pun Debuhi atau semacamnya, dengan tubuh gempal...” 

Abel menggeleng sambil menjawab. 

“Tidak, nama keluarga kekaisaran adalah Bornemissa. Kaisar Rupert VI dari keluarga Bornemissa, Kekaisaran Debuhi. Usianya sudah melewati lima puluh, tapi tubuhnya tetap tegap tanpa lemak sedikit pun, sekeras baja.”

“Kalau begitu kenapa tidak ganti nama negaranya!?” 

Ryo berteriak.

Itu bukan karena selera pribadinya.

Dia berteriak demi rakyat kekaisaran yang harus memanggul nama menyedihkan itu. 

Debuhi benar-benar tidak layak... Setidaknya diacak hurufnya jadi anagram... Tapi “Hidebu” juga... Tidak masuk akal.


* * *


Keduanya berjalan mengikuti tembok.

Sejak sekitar dua jam berjalan, tembok itu perlahan mulai menjadi lebih rendah.

“Tembok memang semakin rendah sedikit demi sedikit, tapi masih belum bisa dipanjat.”

“Sulit memang. Tapi jangan terburu-buru, kalau kita terus berjalan begini, mungkin akan ada jalan keluar.”

Tingginya sudah berkurang hingga sekitar 30 meter, namun tetap saja tampak mustahil untuk dipanjat.

Seakan-akan ada sebuah laser raksasa yang mengukirnya. Mungkin, kalau penyihir dengan atribut cahaya, mereka bisa menggunakan sihir semacam itu.

Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan yang muncul dalam hatinya.

Meski pun diucapkan lantang, tentu tak akan ada yang mampu menjawabnya.


Setelah berjalan lagi sekitar satu jam, tiba-tiba, tembok itu pun lenyap.

“Akhirnya tembok ini berakhir juga.”

“Dan di baliknya bukan hutan, melainkan padang rumput, ya.”

Selain bongkahan batu setinggi sekitar 1 meter yang tersebar di sana-sini, seperti yang dikatakan Ryo, sejauh mata memandang hanya ada padang rumput. Mengingat mereka berjalan melewati hutan lebat hingga bertemu tembok itu, ini sungguh perubahan yang besar.

“Pemandangannya memang terbuka... Tapi ya, percuma juga memikirkannya terlalu jauh. Bagaimanapun, kita hanya bisa terus menuju ke utara.”

“Kalau begitu mari kita lanjutkan.”

Ketika keduanya melangkah masuk ke padang rumput dan berjalan sekitar 30 menit, terdengar bunyi dentingan.

Clang.

Abel yang berjalan di depan, sambil mencabut pedang, menebas sesuatu yang meluncur ke arahnya.

“...Batu?” gumam Abel.

Itulah awalnya. Dari depan, batu-batu sebesar ibu jari mulai beterbangan, menyerang Abel bertubi-tubi. Dia menghindar, atau menebasnya dengan pedang, sambil memicingkan mata ke arah depan. Dari sebuah batu setinggi 2 meter, terlihat jelas asal serangan itu.

“Ice Wall.”

Sebuah dinding es muncul di hadapan Abel, diciptakan oleh Ryo.

Dengan adanya Ice Wall itu, Abel tak perlu lagi khawatir pada batu yang beterbangan, sehingga dia bisa lebih leluasa mengamati ke depan.

“Ryo, ini gawat. Sepertinya kita masuk ke sarang Rock Golem.”

“Golem punya sarang?”

Ryo yang berada di belakang pun berlari mendekat ke Abel.

“Tempat di mana golem muncul secara berkelompok, para petualang menyebutnya sarang. Dan kelihatannya di sinilah tempatnya. Aku sendiri juga baru pertama kali mengalaminya.”

Meskipun tahu secara teori, ada hal-hal yang tak bisa diatasi hanya dengan pengetahuan.

“Makhluk yang mirip batu itu Rock Golem?”

“Ya, benar.”

“Tadinya aku pikir golem itu bentuknya lebih mirip manusia, punya tangan dan kaki...”

Itu karena pengetahuan Ryo berasal dari Bumi.

Walaupun begitu, tak ada catatan sejarah di Bumi yang pernah membuktikan keberadaan golem.

Golem sendiri, pada mulanya, adalah boneka tanah liat yang bergerak, muncul dalam tradisi Yahudi. Namun kisah tentang tanah yang diberi jiwa untuk bergerak atau bahkan menjadi manusia, ada dalam banyak mitos dan legenda di seluruh dunia. Bisa jadi, dulu di Bumi juga pernah ada golem...

“Ah, kalau golem yang digerakkan dengan alkimia, memang bentuknya seperti itu. Aku pernah dengar, ada sebuah negeri di barat yang bahkan memiliki pasukan golem. Tapi golem yang muncul secara alami, bentuknya bisa bermacam-macam... Jadi golem di tempat ini, ya bentuknya seperti batu itu.”

Begitu Abel selesai berbicara, dia berbalik ke belakang dan menebas sekali lagi.

Slash.

Dari arah belakang pun, batu beterbangan menyerang.

“Ice Wall.”

Ryo menciptakan Ice Wall di belakang juga.

“Ngomong-ngomong, di jalur yang tadi kita lewati juga ada batu-batu semacam itu. Jangan-jangan mereka terbangun?”

“Jadi maksudnya mereka memang sengaja memancing kita, lalu menyerang dari depan dan belakang? Untuk sekumpulan gumpalan tanah, otak mereka lumayan juga.”

“Kamu bisa mengalahkan golem itu dengan pedang?”

Kebetulan, jenis golem sama sekali tidak tercatat dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, sehingga Ryo tak punya pengetahuan tentangnya.

“Aku belum pernah coba, jadi aku tak tahu.”

“Ya, sudah kuduga.”

“Yah, mungkin ini pengalaman bagus. Aku akan coba serang satu yang dekat. Ryo, tetap di sini.”

Mengatakan itu, Abel keluar dari celah Ice Wall depan-belakang, berlari menuju Rock Golem yang ada di sisi kanan depan.

Memang, meski tampak seperti batu biasa, Rock Golem itu perlahan mendekat.

Batu, berarti ia tak bisa dipotong dengan water jet biasa. Kalau abrasive jet mungkin bisa menembusnya... Tapi itu bukan serangan instan... Akan kucoba nanti.

Sementara Ryo memikirkan hal itu, Abel sudah melancarkan serangan pada satu Rock Golem.

“Jurus: Tusukan Penuh.”

Begitu mendekat, dia mengaktifkan teknik itu dan menusukkan pedang.

Chop.

Pedang sihir milik Abel, ditambah efek jurusnya, menembus tubuh Rock Golem. Sekaligus, dia menebas menyamping.

Kalau makhluk hidup biasa, tentu itu sudah mengakhiri nyawanya... Namun, golem itu malah memperbaiki bagian yang terbelah.

“Brengsek.”

Abel menendang golem yang sedang memperbaiki diri itu hingga terjatuh, lalu kembali ke Ice Wall. Dia hanya ingin mengulur sedikit waktu sebelum golem itu sempat kembali melontarkan batu. Jika dia ditembak dari belakang saat berlari, dia akan sulit menghindar.

Ternyata, golem yang terguling memang tak bisa menembakkan batu. Dengan begitu, Abel berhasil kembali dengan selamat ke Ice Wall.

“Gawat, mereka bisa menyembuhkan diri.”

“Ya, aku lihat sendiri. Jumlah golem yang bergerak sekarang, termasuk yang barusan kamu serang, ada tujuh di depan, lima di belakang.”

“Totalnya dua belas... Untuk kabur dengan berlari, tempat ini terlalu terbuka.”

“Ya, mustahil untuk lari. Hmm, aku mau coba satu serangan. Boleh aku coba?”

Ryo mendongak ke langit.

“Silakan. Aku juga sudah kehabisan ide.”

“Kalau begitu, Ice Wall 10 lapis.”

Begitu Ryo melafalkan mantra, sebuah Ice Wall muncul 40 meter di udara, tepat di atas dua golem di depan.

Lalu jatuh.

Ledakan memekakkan telinga, tanah dan rumput terhambur beberapa meter ke atas.

Berkat Ice Wall pelindung, Ryo dan Abel sama sekali tak terluka, namun tempat jatuhnya Ice Wall 10 lapis itu hancur berantakan.

Dan tentu saja, Rock Golem yang seharusnya berada di bawahnya... Tak bersisa sedikit pun.

“Senjata massal itu menakutkan.”

Apa yang dilakukan Ryo sebenarnya sederhana. Dia hanya menciptakan Ice Wall di langit, lalu menjatuhkannya.

Dibuat 10 lapis karena dia berpikir, tentu membuatnya lebih berat...

Mulai dari Icicle Lance yang dijatuhkan dari atas, hingga serangan ini—sepertinya Ryo memang suka membuat sesuatu jatuh dari langit.

Itu tak masalah bagi Ryo, tapi Abel hanya terdiam membeku. Butuh lima detik untuk bisa bergerak kembali.

“R-Ryo... Barusan itu apa?”

“Ah, ini Ice Wall yang ada di depan kita. Aku buat saja di udara, lalu menjatuhkannya. Sederhana sekali, tapi berhasil.”

Ryo tersenyum manis, seakan untuk menenangkan Abel.

Padahal hasilnya jauh lebih mengerikan dari perkiraan, namun lebih baik dia bersikap seolah semua itu memang sesuai rencana agar terlihat lebih keren.

“Kelihatannya dua golem sudah hancur. Sisanya juga akan kukalahkan dengan cara yang sama.”

Setelahnya, Ryo kembali menciptakan Ice Wall 10 lapis di udara, menjatuhkannya satu demi satu, menghancurkan Rock Golem dengan menekannya ke tanah.

Namun Ryo memperhatikan, ada satu golem yang berhenti bergerak, golem yang sempat ditendang Abel sebelumnya.

“Abel, sejauh ini udah 11 golem sudah tumbang.”

“11? Hah? Bukannya ada 12?”

“Ya, tapi yang pertama kamu tendang itu, sekarang tidak bergerak lagi.”

Ryo menunjuk golem itu.

“Benar juga... Dia tidak bergerak.”

Mereka pun menghapus Ice Wall pelindung, lalu mendekati golem yang ditendang Abel.

Abel menyentuhkan ujung pedangnya pelan-pelan ke tubuh golem, namun tak ada reaksi sama sekali.

“Kenapa tidak bergerak...”

“Mungkin karena tendangan luar biasamu, fungsinya berhenti total. Kamu seharusnya berhenti jadi ahli pedang dan beralih menjadi petarung tangan kosong!”

“Petarung tangan kosong apaan. Lagi pula, tendanganku tidak sehebat itu.”

Tendangan Abel sebenarnya bukanlah tendangan untuk memberikan kerusakan, melainkan hanya untuk menjatuhkan. Lebih mirip dorongan telapak kaki... Kalau dilihat sepintas, mungkin bisa dibandingkan dengan kenka kick dalam gulat profesional.

Kalau lawannya manusia, dan tendangan itu mendarat di ulu hati, mungkin masih bisa memberi luka. Tapi pada golem batu seperti ini, jelas tendangan semacam itu tak akan mampu melukainya.

“Mungkinkah...”

Ryo berjongkok, lalu mulai memeriksa dengan saksama bagian bawah Rock Golem, yaitu sisi yang semestinya menempel pada tanah. Dia menduga, golem menerima suplai energi dari tanah, dan hanya bagian bawahnya itulah yang bisa menyerap energi itu.

Dasar pengetahuannya berasal dari pengisian daya nirkabel pada ponsel. Dia selalu berpikir, seandainya teknologi itu bisa dipasang di lantai atau dinding rumah, maka tak perlu lagi ada colokan listrik untuk peralatan rumah tangga... Dan melihat golem yang terbalik dan berhenti bergerak ini, dia kembali teringat pemikiran lamanya di Bumi.

Dan benar saja, ada sesuatu pada golem itu.

“Abel, lihat ini.”

Ryo menunjukkan bagian itu padanya.

“Ini... Batu sihir?”

Dari bagian bawah golem yang tadinya menempel di tanah, samar-samar tampak sebuah batu sihir berwarna kuning.

“Bagaimana kalau kita coba keluarkan dari dalam golem?”

“Ya. Tapi Rock Golem ini keras sekali. Aku bisa menembusnya dengan Tusukan Penuh, tapi...”

“Tidak masalah. Memang agak lama, tapi aku punya sihir atribut air yang cocok untuk ini. Abrasive Jet.”

Abrasive Jet, sihir yang tadinya dianggap tak berguna untuk melawan Rock Golem, justru sangat cocok untuk membongkar mereka perlahan.

Karena tidak tahu seberapa besar batu sihir yang tertanam, Ryo hati-hati mengikis batu di sekitarnya.

Sekitar lima menit kemudian, mereka berhasil mengeluarkannya. Sebuah batu sihir kuning sebesar telapak tangan.

“Ini... Cukup besar.”

Bahkan Abel, yang sudah menewaskan banyak monster dan mengumpulkan tak terhitung banyaknya batu sihir, terkejut melihat ukuran batu itu.

Nilai sebuah batu sihir ditentukan oleh ukuran, warna, dan tingkat kejernihannya.

Semakin besar, semakin berharga. Umumnya, semakin kuat monster, semakin besar pula batu sihirnya.

Warnanya menunjukkan atribut sihir. Merah untuk api, biru untuk air.

Dan tingkat kejernihan menunjukkan berapa lama monster itu hidup dan seberapa banyak pengalaman yang dimilikinya. Semakin pekat warnanya, semakin tinggi nilainya.

“Dari segi ukuran, ini yang terbesar yang pernah kulihat. Warnanya kuning, jadi atributnya pasti tanah. Dan tingkat kejernihannya pun menakjubkan. Sepertinya golem ini sudah lama sekali menjaga tempat ini, mengalahkan banyak monster yang masuk.”

Abel berkata sambil memandangi batu sihir itu.

“Wah, ini hasil rampasan kali ini. Kamu saja yang simpan.”

“Aku?”

“Ya. Bajuku tidak punya kantong.”

“Uh, ya, oke.”


Ryo juga memeriksa Rock Golem yang dihancurkannya dengan Ice Wall, tapi batu sihir mereka sudah hancur berkeping-keping.

“Cara ini gagal, ya.”

Ryo menunduk lesu.

“Tidak juga. Kalau tidak kita hancurkan, justru kita yang sudah mati... Untuk bertahan hidup, itu memang perlu. Lagipula, kita juga tidak tahu sebelumnya kalau mereka punya batu sihir.”

“Benar juga. Bertahan hidup dulu, urusan untung-rugi belakangan.”

Ucapan seorang pria yang pernah menerima gaji tahunan triliunan yen dan bahkan menjatuhkan Bank Inggris, terlintas dalam benak Ryo. Dia mengangguk dalam-dalam.

“Masih ada beberapa golem yang diam di kejauhan... Apa yang akan kita lakukan?”

Rock Golem yang menyerang mereka tadi hanyalah yang berada di sekitar sini. Lebih jauh ke arah barat, tampak masih banyak bongkahan batu yang belum bergerak.

“Hmm... Jujur saja, aku takut menimbulkan masalah yang lebih besar, jadi sebaiknya jangan kita usik. Lagi pula, kalau kantongmu penuh dengan batu sihir sebesar ini, repot juga, kan?”

“Yah, soal kantong tidak masalah. Tapi aku setuju soal risiko. Mari segera bergerak ke utara.”

Mereka pun mulai melangkah ke utara.

“Kalau dipikir-pikir, jalur yang kita tempuh sepanjang tembok itu ternyata bagian atas sarang Rock Golem, ya.”

“Kalau dari posisinya, memang begitu. Kenapa bisa begitu, aku juga tidak tahu.”

“Mungkin ada semacam energi sihir khusus yang keluar dari tanah... Atau bisa juga ada yang sengaja memasang perangkap.”

Ryo berkata dengan gaya seorang detektif.

“Seseorang...? Rasanya mustahil ada manusia di tempat seperti ini.”

“Tidak harus manusia, kan?”

Mata Ryo berkilat seolah bersinar.

“Maksudmu, elf atau dwarf?”

“Hmm...”

Sambil melirik Abel, Ryo mengangkat bahu dengan ekspresi “ya ampun”.

“Hei, jangan lihat aku seperti sedang melihat orang bodoh.”

“Maksudku, bukan manusia. Bisa saja iblis atau semacamnya.”

“Iblis... Apa itu?”

“Eh? Apa?”

Di bagian akhir Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, ada tambahan berjudul Edisi Khusus yang konon disisipkan oleh Michael palsu. 

Di sana tertulis tentang naga dan iblis. Ryo berpikir, kalau sampai ditulis dengan begitu rinci, berarti pengetahuan itu umum bagi manusia yang hidup di dunia Phi.

Abel sendiri, waktu menjelaskan tentang negara-negara pusa tengah, menunjukkan pengetahuan yang cukup dalam. Ryo mengira, paling tidak, pengetahuan Abel melebihi rata-rata orang di dunia ini.

Namun sekarang, Abel bahkan tidak tahu apa itu iblis...

“Abel, kamu tahu naga?”

“Tentu. Meski aku belum pernah melihatnya langsung, aku tahu itu makhluk legendaris.”

Padahal kenyataannya naga memang ada. Tapi Ryo memilih tidak mengatakan itu. Dia merasa lebih baik disimpan saja.

“Kalau begitu, kamu pernah dengar tentang Devil atau Demon?”

“Devil, ya. Itu musuh para dewa dan malaikat, bukan?”

Jadi mereka mengenalnya sebagai Devil...

Namun, Ryo merasa ada sesuatu yang janggal. Kalau begitu, kenapa Michael palsu menulisnya sebagai “iblis” dan bukan “Devil”?

Dan deskripsinya pun aneh, “Mereka bukan malaikat jatuh... Asal-usulnya tidak diketahui.”

Aneh juga... Yah, dipikirkan pun tak ada gunanya.

“Jadi menurutmu, Ryo, Rock Golem ini mungkin dipasang oleh Devil?”

“Kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan itu, kan?”

Tentu saja dia hanya asal bicara tanpa dasar apa pun.

“Ngomong-ngomong, kamu tadi menyebut elf atau dwarf, kan?”

“Ya. Dan langsung saja, seorang penyihir air tertentu menatapku dengan pandangan merendahkan.”

Abel menatap Ryo dengan kesal.

“Abel, kalau kamu terlalu terikat pada hal-hal kecil seperti itu, kamu tak akan pernah jadi ahli pedang yang hebat.”

“Aku gak mau dengar itu darimu!” 

Lewat beberapa kali melintasi ambang kematian, keduanya kini benar-benar telah menjadi rekan seperjuangan.

Sebagai rekan seperjalanan, itu adalah hal yang baik.

“Baiklah, pokoknya, ceritakan padaku tentang para elf dan dwarf.”

Tanpa menghiraukan suara bentakan Abel, Ryo tetap memprioritaskan rasa penasarannya.

“...Dwarf cukup sering ada di kota. Bagaimanapun juga, banyak dari mereka yang memiliki keterampilan pandai besi yang luar biasa. Mungkin sepertiga dari para pandai besi yang andal adalah dwarf. Selain itu, cukup banyak juga yang menjadi petualang. Karena mereka memiliki kekuatan fisik yang besar, kebanyakan dari mereka berperan sebagai barisan depan.”

“Begitu ya. Sesuai dengan yang kubayangkan.”

“Bayangan macam apa yang kamu punya...? Berbeda dengan dwarf, jumlah elf sangat sedikit. Hampir tidak pernah terlihat di dalam kota. Di kota Lung, yang menjadi basis aktivitas kami, hanya ada satu orang elf petualang, dan mungkin dialah satu-satunya elf di sana. Kebanyakan dari mereka membangun pemukiman di dalam hutan dan jarang keluar. Di Kerajaan Knightley, di hutan sebelah barat, ada sebuah pemukiman di mana mereka berkumpul dan hidup bersama.”

“Hmm, itu juga sesuai dengan bayanganku.”

“Makanya, bayangan apa maksudmu itu!”

Nada Abel terdengar separuh marah, separuh putus asa.


Setelah melewati sarang Rock Golem, keduanya berjalan cukup jauh. Mereka ingin segera menjauh dari sarang berbahaya itu, dan karena medan yang dilalui berupa padang rumput, bukannya hutan, langkah mereka pun secara alami menjadi lebih cepat.

Ketika matahari mulai condong, mereka tiba di sebuah sungai.

“Hari ini kita berkemah di sekitar sini.”

“Oke. Makan malamnya ikan sungai panggang dengan garam, ya.”

“Ah, bagus itu. Kalau begitu, biar aku yang urus ikannya.”

Biasanya, karena bahan makanan berupa Lesser Rabbit atau binatang buruan lain, Ryo sang penyihir yang lebih sering keluar berburu. Namun kali ini, Abel yang menawarkan diri untuk menangani.

“Apa kamu yakin bisa?”

“Hei, hentikan tatapan penuh kecurigaan itu. Perlu kamu tahu, bahkan saat aku masih bersama kelompokku dulu, akulah yang biasa menangkap ikan.”

“Baiklah, kalau begitu aku serahkan padamu. Aku sendiri akan mengumpulkan ranting kering.”

Setelah berkata begitu, Ryo pergi mencari kayu bakar, sementara Abel menuju ke sungai.

“Sungguh... Aku ini sebenarnya ahli dalam urusan menangkap ikan.”

Abel melepas sepatunya, menggulung ujung celananya, lalu mencabut pedang dari pinggangnya. Dia melangkah masuk ke sungai hingga setinggi lutut.

Dia berdiri di dalam aliran air, menunggu dengan tenang.

Kemudian, tiba-tiba dia menusukkan pedangnya ke permukaan sungai. Saat pedang itu diangkat, seekor ikan dengan tepat tertusuk pada ujungnya.

“Bagus.”

Dengan cara yang sama, Abel terus memperoleh persediaan makan malam mereka.


Sudah lama mereka tidak menyantap ikan panggang. Hanya dibumbui dengan garam sederhana, namun rasanya sungguh lezat.

Baik Ryo maupun Abel memang menyukai daging, tapi...

“Sesekali makan ikan ternyata menyenangkan juga. Enak sekali.”

“Benar. Semua ini karena kamu berhasil mendapatkan bahan makanannya. Aku terkesan.”

Ryo menundukkan kepala sambil berkata begitu.

“Yah, asal kamu mengerti, itu sudah cukup.”

Abel sedikit tersipu malu.

“Ikan sungai memang istimewa. Berbeda sekali dengan ikan laut, berbeda.”

“Aneh, bukannya saat itu kamu menolongku di tepi laut? Apa kamu membenci laut?”

“Ya, dulu aku hampir terbunuh di sana...”

“Padahal kamu bisa menggunakan sihir atribut air sehebat itu, tapi kamu bisa hampir terbunuh... Apa yang kamu hadapi?”

“Kraken.”

Ucap Ryo mantap, seakan mengikat sumpah dalam hati, suatu hari dia pasti akan menumbangkan Kraken itu.

“Apa? Jadi kamu juga pernah diserang Kraken? Tapi saat itu kamu kan tidak punya perahu... Oh, apa perahunya dihancurkan oleh Kraken?”

“Tidak. Aku bertarung satu lawan satu dengan Kraken di dalam laut, dan aku kalah.”

“...Aku benar-benar tidak mengerti apa yang baru saja kamu katakan.”

“Tentu saja bukan karena aku mau melawannya. Tapi ada pertarungan yang tidak bisa dihindari oleh seorang pria, kamu tahu? Nah, itu salah satunya.”

Ryo mengangguk mantap, seolah mendapat ide yang bagus.

“Kala itu aku kalah karena sendirian. Tapi sekarang ada kamu di sini. Kalau begitu, bahkan Kraken pun bisa kita hadapi! Saat kita sampai di laut nanti, mari kita tantang Kraken bersama, di bawah laut! Tanding ulang!”

“Ah, ya, Ryo, semangatlah. Aku akan mendukungmu dari pantai! Kalau urusan memberi semangat, serahkan padaku. Walau kelihatannya begini, aku ahli dalam hal itu!”

“Kamu penakut... Lemah banget...”

“Wajar aja!”

Malam pun kian larut di Sub-Benua Rondo.


Keesokan paginya.

Seperti biasa, penjagaan malam dibagi dua, paruh pertama dilaksanakan Ryo, paruh kedua dilaksanakan Abel. Saat Ryo bangun, Abel tidak ada di dekat api unggun.

Sedikit jauh dari sana, dia melihat Abel sedang mengayunkan pedang.

Gerakannya begitu anggun, nyaris pantas disebut sebagai tarian pedang. Perlahan, tanpa sedikit pun jeda atau keraguan, pedangnya meluncur dengan gerakan yang terukur.

Gerakan itu sama sekali berbeda dengan kendo maupun seni pedang Jepang yang dikenal Ryo. Namun, bahkan bagi Ryo yang sama sekali awam terhadap ilmu pedang di dunia Phi, gerakan itu begitu memesona.

Itu adalah pedang yang dibangun di atas fondasi dasar, tanpa pernah sekalipun melalaikan latihan. Sebuah hasil yang dicapai melalui bakat alami sekaligus kerja keras. Mungkin beginilah wujud nyata ketika seseorang dianugerahi keduanya sekaligus.

Mungkin Abel sendiri tidak pernah berpikir, “Aku sudah berusaha keras!” ...Bagi dirinya, itu adalah hal biasa, sesuatu yang wajar. Dia hanya mengayunkan pedang... Dan dari luar terlihat jelas sebagai usaha tanpa henti.

Namun, usaha keras tidak selalu membawa hasil yang diinginkan, tepat pada waktu yang diharapkan. Karena itu ada orang yang berkata, “Tak peduli seberapa keras kamu berusaha, kamu akan gagal.”

Itu adalah kenyataan yang menyedihkan.

Tetapi, Ryo percaya. Bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Benar, hasil yang diinginkan mungkin tidak datang pada saat yang diharapkan. Tetapi buah dari usaha itu, cepat atau lambat, pasti akan kembali pada dirinya.

Meski begitu, tetap ada orang-orang yang tidak akan mengerti, sekalipun sudah diucapkan berulang kali. Pada akhirnya, mungkin manusia memang tidak bisa memahami sesuatu yang belum pernah mereka alami sendiri. Manusia percaya pada apa yang ingin mereka percayai... Mungkin memang begitulah sifat mereka.

Andai saja mereka bisa melihat langsung sosok seperti Abel, mungkin sedikit banyak pandangan mereka akan berubah—itulah yang dipikirkan Ryo, sembari menatap tarian pedang Abel. Terpikat, terkagum-kagum, namun pada saat yang sama, tanpa sadar Ryo menganalisis setiap gerakan Abel dan menyimpannya dalam ingatan. 

“Oh, Ryo, kamu sudah bangun rupanya.”

Rangkaian gerakan berakhir, dan Abel menyapa Ryo.

Tentu saja, Abel sudah sejak tadi menyadari bahwa Ryo memperhatikannya. Namun karena Ryo hanya menonton dengan tenang, dan dirinya sendiri ingin terus menggerakkan tubuh, dia pun tetap melanjutkan ayunan pedang itu. Dilihat orang bukanlah hal yang asing baginya sejak lama, sehingga sama sekali tidak membuatnya terganggu. 

“Luar biasa. Aku selalu merasa gerakan pedangmu itu indah, tapi ternyata benar-benar begitu halus dan menawan.”

Ryo memuji tanpa tedeng aling-aling, tulus dari lubuk hatinya.

“Ah, sudahlah. Tubuhku hanya terbiasa karena sudah melakukannya sejak lama. Aku akan pergi sebentar ke sungai untuk membasuh keringat.”

Ah, jadi karena ada sungai di sini, dia melakukan latihan pagi. Dengan mandi di sungai, Abel tak perlu repot memintaku menggunakanShower. Dia ternyata memikirkan hal-hal seperti itu. 

Sarapan pun berupa ikan panggang yang ditangkap Abel ketika mandi.

Sarapan adalah hal yang penting. Sebuah kebenaran yang tak berubah dari masa ke masa, di mana pun juga. 

“Kelihatannya sungai ini mengalir dari arah utara. Bagaimana kalau kita mengikuti alirannya ke hulu?”

“Ya, aku juga berpikir begitu.” 

Mungkin saja...

Dengan pemikiran itu, Ryo memutuskan untuk membagi sebagian informasi dengan Abel.

“Abel, tanah tempat kita berada ini dikelilingi laut di tiga sisi: timur, selatan, dan barat.”

“Ah, jadi itulah sebabnya kita harus menuju ke utara.”

“Benar. Namun, di utara terdapat pegunungan. Ada pegunungan yang membentang dari timur ke barat, ditambah satu lagi yang terhubung dengannya. Akibatnya, Sub-Benua Rondo ini seakan tertutup dari utara. Katanya, manusia tinggal di balik pegunungan itu, di sisi utaranya.” 

Mendengar itu, Abel menatap dengan curiga.

“Ryo, bukan aku meragukanmu, tapi... Dari siapa kau mendapat informasi itu?”

“Sebaiknya kamu tidak usah menanyakan itu. Cukup tahu saja bahwa informasi itu dari sosok yang melampaui akal manusia.” 

Ryo menatap Abel lurus-lurus. Dalam keadaan seperti ini, tatapan sering kali berbicara lebih banyak daripada kata-kata. Tak boleh berpaling.

Melihat kesungguhan itu, Abel mengangguk sekali.

“Baiklah, kalau itu yang kamu bilang, aku akan percaya. Lagi pula, kita tidak punya sumber informasi lain yang bisa diandalkan.”

“Terima kasih, Abel.”

Ryo menundukkan kepala.

“Tidak, akulah yang seharusnya berterima kasih. Kalau kamu mengatakannya sekarang, berarti kamu mengira sungai yang mengalir ke utara ini mungkin berasal dari pegunungan itu, bukan?”

“Benar. Meski tetap saja itu hanya kemungkinan. Untuk saat ini, kita akan bergerak ke utara, tapi pada akhirnya kita harus pikirkan cara menyeberangi pegunungan tersebut. Tolong simpan itu di benakmu.”

“Dimengerti.” 

Keduanya pun berjalan ke arah utara, menyusuri tepi sungai.

Tak lama, mereka berjumpa dengan seekor Horn Bison yang sedang minum. Ryo segera teringat, dulu di dekat rumahnya dia pernah melihat binatang itu menusukkan tanduknya pada seekor buaya di sungai, monster lembu dengan tanduk mengerikan.

Horn Bison itu tanpa ampun diburu oleh Abel, dan menjadi santapan siang hari mereka. 

Saat melihat Horn Bison itu, Ryo tiba-tiba teringat sesuatu. Benar, dulu di sungai itu juga ada piranha. Namun, sepertinya di sungai ini tak ada ikan ganas semacam itu. Kalau ada, tentu semalam Abel sudah jadi santapan piranha. Baru kali ini Ryo menyadari betapa mengerikannya permintaan yang dia berikan pada Abel waktu itu. 

“Hei, Ryo.”

“Eh, ah, ada apa, Abel?”

“Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, kan? Sesuatu yang tidak mengenakkan.” 

Esper kah dia!?

Dalam benaknya, Ryo seakan melihat dirinya sendiri dengan wajah bergaya komik, kaget setengah mati. 

Namun, dalam situasi seperti ini, tak ada pilihan selain mengelak.

Ya, tatapan mata sering lebih jujur daripada kata-kata. Tak boleh berpaling.

“A-Aku tidak tahu apa yang maksudmu.”

“Matamu memang terlihat tegas, tapi keringatmu keluar, suaramu bergetar, jadi aku bisa menebaknya dengan jelas.” 

Abel menatap Ryo dengan sorot mata setengah menyipit, penuh kecurigaan.

Setelah itu pun Ryo terus berusaha keras untuk mengelak, namun beberapa saat kemudian dia menyerah, lalu menceritakan pada Abel tentang Horn Bison dan juga soal piranha.

“Jadi ada ikan mengerikan seperti itu juga rupanya...”

“Tentu saja, bukan berarti aku tahu lalu dengan sengaja menjadikanmu sebagai tumbal.”

“Jelas saja... Yah, kemarin dan tadi pagi pun tak ada ikan semacam itu terlihat, jadi mungkin sungai ini memang bebas darinya... Tapi, Ryo, apa tidak ada hal lain yang sebaiknya kamu sampaikan padaku? Jangan-jangan kamu masih menyembunyikan informasi yang bisa mengancam nyawaku? Sungguh tidak apa-apa, kan?”

“Tidak apa-apa. Semua informasi sudah kuberikan padamu.” 

Tentu saja itu bohong.

Tentang naga, tentang Dullahan—satu pun tak dia ceritakan.

Namun itu semua adalah keputusan yang Ryo ambil setelah mempertimbangkan bahwa lebih baik tidak memberitahukannya, sehingga berbeda dengan soal piranha, yang memang murni dia lupakan.

Begitulah Ryo menilai dan memutuskannya sendiri. 

Sore itu, saat mereka mencari bahan makanan di sungai, sudah bisa ditebak bahwa Abel turun ke sungai dengan sikap jauh lebih waspada daripada hari sebelumnya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close