Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 11
Menuju Kota
“Baiklah, jalan raya ini... Ke kanan? Atau kiri?”
“Kiri, kita maju ke barat.”
Atas pertanyaan Ryo, Abel menjawab dengan nada penuh keyakinan tertentu.
Begitu menuruni gunung dan tiba di jalan raya yang membentang ke timur dan barat, Abel bisa menebak gunung apa yang barusan mereka lewati.
Itu pasti Pegunungan Neraka. Ada daerah di kaki gunung itu di mana orc dan ogre hidup. Bahkan para petualang pun, kecuali dalam keadaan terpaksa, tidak akan mendekat. Dengan kata lain, kami baru saja menyeberangi Pegunungan Neraka... Sungguh, aku cukup terkejut kami masih bisa selamat.
Gunung yang menjulang di selatan itu dikenal di negeri-negeri tengah sebagai Pegunungan Neraka. Dikatakan tak seorang pun pernah menyeberanginya, dan penduduk biasa sama sekali takkan mendekat. Bahkan petualang sekalipun, kecuali jika mendapat misi, hampir tak pernah berani ke sana. Tugas yang berhubungan dengan Pegunungan Neraka pun biasanya dibiarkan terbengkalai untuk waktu yang lama.
Konon dahulu gunung itu punya nama lain, tapi kini tak seorang pun lagi yang mengingatnya. Semua orang hanya menyebutnya Pegunungan Neraka.
“Ngomong-ngomong, Abel, kamu kan petualang peringkat B, ya?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Apa sih untungnya mendaftar di Guild Petualang?”
Ryo akhirnya bertanya tentang hal yang sudah lama mengganjal.
Selama hidup sendirian dengan gaya santai, informasi tentang guild sama sekali tak berguna. Tapi kini, karena sudah kembali ke wilayah perkotaan, dia merasa perlu tahu. Lagi pula, Guild Petualang sudah jadi ciri khas cerita dunia lain. Entah akan mendaftar atau tidak, setidaknya dia tak rugi menyimpan informasi.
“Begini, kalau kamu terdaftar di guild, kamu bebas dari pajak masuk kota di seluruh negeri. Bisa keluar-masuk kota mana pun tanpa masalah. Kartu identitas guild juga berlaku sebagai identitas. Selain itu, guild membeli batu sihir atau bagian tubuh monster dengan harga lebih tinggi dibanding pasar biasa. Minimal, pasti lebih untung dibanding menjual di kota.”
“Wah, bagus sekali itu.”
“Dan satu lagi, guild bisa menyimpan kelebihan uangmu.”
“Kelebihan uang?”
“Ya, maksudnya uang yang tidak kamu pakai sehari-hari. Saat masih pemula, biasanya uang yang masuk langsung habis. Tapi kalau sudah naik peringkat dan penghasilan lebih banyak, hadiah dari misi bisa cukup besar. Ada kalanya uangmu jadi berlebih. Guild bisa menyimpannya untukmu. Kamu sendiri pasti sadar, tidak bijak membawa seluruh hartamu dalam perjalanan, kan?”
Jadi semacam bank. Cukup mengejutkan...
“Kalau uang itu disimpan, bisa ditarik dari kota lain juga?”
“Kalau masih di dalam negeri, bisa ditarik dari guild mana saja.”
“Hebat sekali.”
Ryo terkesima. Pasti orang yang menciptakan sistem itu seorang jenius.
Jelas, uang titipan itu diputar guild sebagai investasi di berbagai bidang. Tak ada dunia yang hanya sekadar “menyimpan uang” tanpa menggunakannya. Bank, perusahaan asuransi, semua tujuannya sama: dana investasi.
Kalau di dunia Eropa, Bank San Giorgio berdiri tahun 1148. Jadi tidak mustahil bila dunia Phi ini sudah punya lembaga serupa...
“Abel, tadi kamu bilang kamu bisa menarik uang dari guild mana saja di dalam negeri. Jadi sebenarnya guild itu organisasi negara, atau lembaga independen yang ada di banyak negara dan tak tunduk pada pemerintah?”
Dalam banyak kisah dunia lain, guild digambarkan punya cabang di seluruh dunia, independen dari pengaruh negara.
“Setahuku—ini untuk negeri-negeri tengah saja—guild memang disebut independen, tapi kenyataannya mereka hidup berdampingan dengan negara. Meski begitu, kartu guild berlaku lintas negara di kawasan ini. Jadi berpindah antarnegara pun tak masalah. Oh, dan saat perang, guild kadang menyewakan petualang sebagai tentara bayaran. Terutama kerajaan ini, karena petualangnya banyak. Katanya kerajaan memang memberi permintaan resmi pada guild.”
“Perang, ya... Yah, pastinya lebih murah ketimbang menggerakkan kseatria.”
Ryo mengangkat bahu sambil berkata itu.
“Cara bicaramu bikin kesal... Memang, itu misi resmi, jadi petualang boleh memilih ikut atau tidak. Tapi kalau negeri sendiri jatuh ke tangan musuh, uang yang kamu titipkan di guild pun nasibnya tidak jelas. Bisa saja dirampas negara penjajah. Jadi pada akhirnya, mau tak mau kamu harus bertempur.”
“Sungguh kejam, menjadikan uang sebagai sandera... Guild, negara, bahkan kamu pun, Abel, semuanya keterlaluan!”
“Kenapa aku ikut disalahkan!?”
Entah kenapa Abel ikut terseret. Tapi sejak dia jadi rekan seperjuangan Ryo, hal itu sudah tak terhindarkan...
Sepanjang hari mereka berjalan, hingga sore, akhirnya tampak sebuah kota di kejauhan.
“Abel, aku melihat kota.”
“Ya, akhirnya. Kurasa itu kota Khayradi.”
Ryo menoleh kaget.
“Bagaimana kamu bisa tahu?”
Wajar dia terkejut. Tak ada papan nama, tak ada penunjuk jalan, bahkan tak ada orang yang mereka temui untuk bertanya. Lagi pula, tempat mereka turun dari gunung begitu terpencil, bagaimana Abel bisa menebak kotanya?
“Sebagai petualang, aku sudah mengunjungi banyak kota. Apalagi kalau di kerajaan ini, hampir semuanya kukenal.”
Abel berkata dengan nada sedikit malu.
“Jadi itu kota Kerajaan Knightley...”
“Ya, betul.”
“Syukurlah bukan Kekaisaran Debuhi.”
“Berapa kali harus kukatakan, kekaisaran itu di utara... Kota Khayradi ini ada di ujung tenggara kerajaan. Memang kecil, tapi kalau dari sini berjalan ke barat laut sehari saja, kita sampai ke kota tujuan kita, Lung.”
Abel menatap jauh melampaui Khayradi, seakan membayangkan sesuatu.
“Lung... Itu kota tujuanmu, kan?”
“Ya. Ryo, kalau kamu mau mendaftar jadi petualang, lebih baik jangan di Khayradi. Daftarlah di Lung.”
“Eh? Kenapa?”
“Lung adalah kota terbesar di perbatasan, banyak orang dan barang berkumpul di sana. Seperti yang kubilang, di sana juga ada satu-satunya dungeon di negeri-negeri tengah. Karena itu, guild di Lung lebih berpengaruh. Kalau kamu terdaftar di sana, akan lebih mudah mengurus macam-macam urusan di kota. Meski katanya semua setara, pada kenyataannya, petualang lokal selalu lebih diutamakan.”
Mendengar itu, Ryo mengangguk.
“Paham. Oh, tapi, bagaimana dengan identitas saat masuk kota Khayradi?”
“Itu gampang, aku jadi penjaminmu. Aku petualang peringkat B, jadi tak masalah. Pajak masuk kota satu koin perak, aku yang bayar.”
“Abel... Kamu sungguh orang yang baik! Tentu saja, aku selalu berpikir begitu sejak awal. Sungguh, aku serius!”
Abel menatapnya dengan pandangan curiga, namun segera menegakkan sikapnya kembali.
“Ngomong-ngomong, Ryo. Di kota Khayradi ini kita hanya menginap semalam, tapi ada makanan yang wajib kamu coba. Aku ingin kamu merasakannya.”
Mereka tiba di gerbang timur kota Khayradi tepat sebelum matahari terbenam.
Sesuai saran Abel, Ryo mengenakan jubah menutupi tas yang disandangnya. Abel sendiri menyembunyikan tasnya di balik mantel. Dalam tas mereka tersimpan banyak batu sihir wyvern—barang yang terlalu mencolok jika sampai terlihat.
Berkat itu, mereka berhasil masuk kota tanpa masalah. Abel sebagai petualang peringkat B menjamin identitas Ryo, lalu membayar pajak masuk satu koin perak. Itu saja sudah cukup.
Bagi Ryo, yang sempat mengharapkan adegan klise seperti penjaga kota bersikap arogan, lalu timbul keributan hingga atasan penjaga datang menyelesaikan masalah—keadaan yang terlalu mulus ini terasa agak mengecewakan.
Sedikit saja, hanya sedikit sekali, dia merasa kecewa.
Penginapan itu adalah tempat yang selalu digunakan Abel setiap kali dia mendapat misi di Khayradi.
“Di sini ada ruang makan di lantai satu, dan di sanalah kita bisa mencicipi makanan yang kumaksud.”
Setelah menyelesaikan urusan kamar, mereka langsung menuju ruang makan di lantai bawah dan duduk di salah satu meja.
“Selamat datang. Apa yang ingin Anda pesan?”
Seorang gadis dengan penampilan sederhana namun penuh pesona menghampiri mereka untuk mencatat pesanan.
“Kari, satu untukku dan satu untuknya,” kata Abel dengan pelafalan yang entah mengapa terdengar sangat bergaya.
“Baik, segera datang.”
Gadis itu lalu kembali ke dapur.
“Kalau masih kurang nanti, silakan pesan yang lain. Oh, makan malam ini aku yang bayar.”
“Abel! Kamu benar-benar orang yang baik sekali!”
Orang yang mentraktir jelaslah orang baik.
Setidaknya, dibandingkan orang yang tidak mentraktir, mereka yang melakukannya pasti lebih baik, bukan?
Mungkin mereka hanya sekitar dua menit menunggu.
Dari arah dapur, tercium sebuah aroma—begitu familiar, namun penuh bumbu harum—sebuah godaan yang langsung membangkitkan selera makan.
Tidak mungkin, aroma ini...
Saat Ryo tengah berpikir demikian, gadis tadi kembali dengan kedua tangannya membawa piring besar.
“Terima kasih sudah menunggu, ini kari.”
Yang tersaji di hadapan mereka adalah... Kuah kuning kental penuh rempah... Yang dituangkan di atas nasi putih yang mengepul hangat.
“Jangan bilang ini nasi kari...”
Benar, tepat di depan mata Ryo kini tersaji salah satu makanan nasional Jepang—nasi kari.
Kari... Bukannya ini makanan wajib di kisah-kisah reinkarnasi? Tapi biasanya, sang tokoh utama harus melewati banyak penderitaan, menempuh waktu lama, berkeliling dunia, hingga akhirnya berhasil menciptakan kembali rasa itu. Dan di dunia Phi ini ternyata sudah ada sejak awal...
“Ketika kamu menghidangkan nasi di Hutan Rondo waktu itu, aku langsung teringat kari. Ayo, kita makan.”
“Uh, oke...”
Dengan getaran halus pada bibir yang tak seorang pun dapat melihatnya, Ryo menyendok sedikit kari itu dengan sendok, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Satu suapan.
Ya, tak salah lagi—itu benar-benar nasi kari.
Bahkan dengan tingkat kesempurnaan yang menakutkan. Seandainya disajikan di meja makan rumah Jepang sekalipun, tak akan terasa janggal sama sekali.
Bagi Ryo, ini adalah kari pertama dalam kurun waktu 20 tahun (menurut perasaannya).
Pelan-pelan, namun tanpa henti, sendok itu terus bergerak menuju mulutnya.
“Ryo, kalau kamu suka, silakan tambah lagi.”
“!”
Ucapan Abel itu bagaikan kabar gembira dari surga bagi Ryo.
“Aku mau nambah!”
“S-Syukurlah kamu menyukainya,” ucap Abel, sedikit terkejut dengan semangat yang begitu meluap dari Ryo.
Tak lama kemudian, Abel juga menambah porsi, dan akhirnya keduanya menutup malam dengan makan malam yang amat memuaskan.
“Abel, soal kari yang kita makan kemarin, apa di Lung juga ada?”
Pertanyaan itu sangatlah penting. Jika hidangan itu hanya bisa disantap di Khayradi, maka mungkin lebih baik menjadikan kota ini sebagai pusat kegiatan, bukan Lung.
“Ah, di Lung kita juga bisa makan kari. Memang, beberapa rempah untuk kuah kuning yang dituangkan di atasnya hanya bisa didapat di sekitar Khayradi, jadi ada tempat yang harganya agak mahal. Tapi Lung adalah kota terbesar di perbatasan, banyak toko bersaing di sana, jadi tingkat kulinernya juga tinggi. Kari bisa ditemukan hampir di semua kota di selatan kerajaan.”
“Ohh, itu luar biasa!”
“Sepertinya kamu benar-benar suka, ya.”
Ryo mengangguk mantap.
“Ya, rasanya sungguh lezat.”
Suatu hari, jika dia kembali ke Hutan Rondo, dia pasti akan mencoba membuatnya lagi di sana... Demikianlah Ryo bersumpah dalam hati.
Keesokan paginya, mereka berangkat meninggalkan Khayradi.
“Abel, kari kemarin benar-benar luar biasa. Itu ide yang sangat gemilang.”
“O-Oh... Syukurlah kamu senang.”
“Tapi Abel, kalau kamu bisa menyembunyikan informasi sepenting kari, bukan berarti masih ada rahasia besar lain yang kau simpan?”
“Eh, bukan begitu maksudku, aku tidak benar-benar menyembunyikannya...”
“Tidak, aku tahu. Kamu punya banyak sekali rahasia. Aku tahu itu!”
“Eh...”
Ryo menyesuaikan kacamatanya dengan gaya dramatis, menatap Abel seolah-olah dia seorang jaksa dingin di ruang sidang... Abel sendiri mulai berkeringat dingin, terlalu banyak hal yang terlintas di kepalanya.
“Sebetulnya kamu suka makanan manis, kan! Ayo, cepat berikan semua informasi tentang makanan manis di kota ini!”
Dengan hentakan, dia mengacungkan tangan kanannya lurus, menunjuk tepat ke wajah Abel.
“U-Uh... Ya, oke, akan kupikirkan...”
“Eehh...”
Abel menghela napas, agak jengkel tapi juga lega. Sebaliknya, Ryo tampak sangat kecewa.
Meski dengan percakapan aneh itu, keduanya tetap melanjutkan perjalanan. Karena keduanya bertubuh kuat, jarak yang biasanya ditempuh sehari penuh berhasil mereka lalui hanya sampai tengah hari. Mereka tiba di sebuah bukit rendah, dari mana pemandangan kota Lung terbentang di hadapan.
“Astaga...”
Pemandangan itu sungguh tak terbayangkan.
Dari kaki bukit hingga sejauh mata memandang, hamparan gandum yang menguning menanti masa panen. Dan di tengahnya berdiri sebuah kota raksasa.
Bukan lagi sekadar kota—itu jelas pantas disebut sebuah metropolitan. Temboknya tinggi dan besar, melingkupi pemukiman yang mungkin dihuni oleh ratusan ribu jiwa. Bahkan di luar tembok pun tampak banyak rumah, kemungkinan besar milik para petani.
“Jadi ada juga yang tinggal di luar tembok, ya?”
“Benar. Lahan pertanian memang berada di luar. Katanya dulu para petani juga tinggal di dalam tembok, tapi karena jarak ke ladang menyulitkan, akhirnya mereka membangun rumah di luar. Karena itu, pintu gerbang Lung tidak pernah ditutup di malam hari.”
Ryo terperangah.
Dalam banyak kisah dunia lain, bahkan di Bumi pada Abad Pertengahan, pintu gerbang kota hampir selalu ditutup saat malam tiba.
“Apa gak bahaya?”
“Patroli di sini jauh lebih banyak daripada kota lain. Karena itu, untuk ukuran kota sebesar ini, tingkat kriminalitasnya masih cukup rendah.”
Setelah puas menatap pemandangan, mereka menuruni bukit menuju gerbang selatan kota. Waktu sudah lewat tengah hari, saat yang cukup sepi untuk keluar-masuk kota, sehingga hanya ada para penjaga di sana.
“Hah? Abel?”
Seorang penjaga yang tampaknya mengenal Abel menatapnya dengan terkejut.
“Oh, Nimuru. Sudah lama sekali.”
“Bukan cuma lama, orang-orang bilang kamu hilang tanpa jejak...”
“Ya, begitulah. Tapi aku berhasil pulang dengan selamat.”
Abel tersenyum sambil berkata begitu.
“B-Begitu ya. Terus, siapa temanmu ini?”
Nimuru menoleh ke arah Ryo.
“Dia penyelamat nyawaku.”
“Ohh! Terima kasih banyak sudah menolong Abel!”
Nimuru langsung menggenggam tangan Ryo dan mengayunkannya keras-keras ke atas dan ke bawah.
“Meski begitu, kalian tetap harus membayar pajak masuk kota...”
“Aku yang akan bayar.”
Abel mengeluarkan kartu guild-nya, lalu menyerahkan satu keping perak untuk pajak masuk Ryo.
“Ya, diterima.”
Setelah memastikan semuanya, Nimuru tersenyum lebar, senyum tulus yang seolah memancar.
“Selamat datang kembali, Abel.”
Ryo hanya diam menyaksikan itu, namun dalam hatinya ada rasa iri yang samar.
Punya tempat untuk pulang. Punya seseorang yang menyambut dengan kata “selamat datang kembali.”
Bagi Ryo yang selama ini hidup sendirian di Hutan Rondo, hal itu terasa begitu asing. Dia tak pernah merindukan sesuatu seperti itu sebelumnya, tapi melihat Abel dan Nimuru, hatinya sedikit merasa sepi.
Syukurlah, Abel.
Pemandangan itu juga menandai berakhirnya sebuah perjalanan.
Permintaan Abel pada Ryo adalah mengawal dirinya sampai kota Lung. Dan kini, mereka sudah sampai.
Begitu mereka melangkah melewati gerbang, misi itu pun selesai.
“Ryo, ayo langsung ke guild. Kamu ingin mendaftar jadi petualang, kan?”
“Ya. Aku memang ingin mencoba menjadi petualang. Lagipula, lebih cepat mendaftar akan lebih baik.”
“Kalau sekarang, aku bisa memberimu rekomendasi untuk naik peringkat saat pendaftaran.”
Ryo memiringkan kepala.
“Naik peringkat?”
“Ya. Biasanya, saat mendaftar pertama kali, semua orang mulai dari peringkat F. Tapi kalau ada rekomendasi dari petualang peringkat B ke atas, bisa langsung daftar di peringkat E atau D. Aku akan merekomendasikanmu, jadi kamu bisa mulai dari peringkat D.”
“Kalau daftar di peringkat D, apa keuntungannya?”
“Kamu bisa langsung menerima misi dengan peringkat lebih tinggi. Semakin tinggi peringkat, semakin besar hadiahnya. Yah, meski kupikir kamu tidak akan kesulitan soal uang.”
Abel melirik ke arah tas Ryo.
“Oh, maksudmu batu sihir wyvern? Apa benda itu memang sangat berharga?”
Ryo benar-benar tidak tahu nilainya. Baginya, wyvern hanyalah makhluk yang jatuh dengan dua tembakan Icicle Lance. Tanpa susah payah, dia mendapatkan batu sihir yang kini disebut bernilai tinggi, dia sulit untuk mengerti itu.
Tapi Abel mengangguk tegas.
“Butuh setidaknya dua puluh orang untuk menjatuhkan satu ekor wyvern. Makhluk itu sangat merepotkan, jadi batunya nyaris tak pernah muncul di pasaran. Karena itu, nilainya tak bisa ditentukan dengan harga biasa.”
“Begitu ya... Tapi, kalau jumlahnya sebanyak ini, apa tidak akan menjatuhkan harga di pasar?”
Kelangkaan adalah hal terpenting dalam menilai sebuah barang.
“Itu serahkan saja pada guild. Mereka tahu cara mengaturnya agar tidak jatuh nilainya.”
Di tengah obrolan itu, keduanya tiba di tujuan mereka.
Guild Petualang Lung.
Lung, kota terbesar di perbatasan. Satu-satunya kota di negara-negara tengah yang memiliki dungeon, sehingga bahkan para petualang dari negeri lain berkumpul di sini demi menantangnya. Dan tentu saja, guild petualang di kota ini pun menjadi yang terbesar di perbatasan.
Bangunan tiga lantai dari batu, dengan tampilan luar yang amat megah.
Mereka berdua melangkah masuk melewati pintu masuknya yang besar. Karena waktu sudah lewat tengah hari, suasana di dalam tampak sepi. Biasanya, pagi hari ketika menerima permintaan, atau sore hari saat laporan dan penukaran hasil misi, guild ini penuh sesak layaknya medan perang.
Namun, keheningan itu segera dipecahkan oleh suara lantang.
“Abel!”
Itu suara salah satu pegawai resepsionis.
Seorang perempuan, kira-kira berusia 20 tahun. Rambut cokelatnya diikat ekor kuda, tubuhnya ramping, tingginya lebih rendah satu kepala dibanding Ryo. Dia mengenakan pakaian sederhana tapi penuh selera.
“Halo, Nina.”
Teriakan Nina seketika membuat para petualang yang sedang berada di ruang makan sebelah menoleh keluar.
“Eh, itu beneran Abel, kan?”
“Selamat datang kembali, Abel!”
“Kami kira kamu sudah mati, sialan!”
Lebih dari sepuluh petualang mendekat, memenuhi sekeliling Abel untuk merayakan kembalinya dia dengan selamat. Semua petualang di Lung sudah tahu bahwa Abel dinyatakan hilang, dan mereka benar-benar mengkhawatirkannya.
Di kota sebesar Lung sekalipun, petualang peringkat B sangatlah langka. Di antara mereka, kelompok Pedang Merah yang dipimpin Abel adalah salah satu yang paling populer.
Abel sendiri, seorang ahli pedang jenius yang konon sudah selevel peringkat A.
Rihya, pendeta Dewi Cahaya, yang kabarnya bisa menggunakan pertahanan mutlak.
Warren si Tak Tumbang, perisai terkuat yang disebut sebagai puncak dari semua pengguna tameng di kerajaan.
Dan Lynn, meski masih muda dibanding ketiganya, kemampuan sihirnya sebanding dengan penyihir istana.
Keempatnya adalah sosok yang menjadi idola para petualang. Tak heran bila sang pemimpin akhirnya kembali, semua orang langsung mengerumuninya.
Ryo hanya bisa menatap pemandangan itu dengan silau, sama seperti saat di gerbang kota.
Dia benar-benar populer, ya. Kalau aku bisa tetap akur dengannya, mungkin ada untungnya juga.
Ryo terkadang memang berpikir dengan perhitungan.
Abel lama dikelilingi oleh para petualang, tapi akhirnya dia mencari celah untuk mendekat ke arah Ryo. Berdiri di sampingnya, dia kemudian memperkenalkan.
“Ini Ryo. Dia penyelamatku. Kalau bukan karena dia, aku takkan bisa kembali ke Lung. Dan mulai sekarang, dia akan mendaftar sebagai petualang di kota ini. Dia akan jadi salah satu dari kita. Jadi kuminta kalian semua juga berteman dengannya.”
Justru Ryo yang terkejut.
Hei, kita nggak pernah bicarakan itu sebelumnya! Dia menoleh sekilas ke Abel di sampingnya, lalu kembali menatap ke depan. Semua petualang tampak menunggunya untuk bicara.
“Ah, namaku Ryo. Mohon kerjasamanya.”
Dia menundukkan kepala.
“Oh, salam kenal, Ryo.”
“Terima kasih sudah menyelamatkan Abel.”
Ucapan-ucapan itu disertai dengan tepukan keras di bahunya. Itu semua adalah tanda sambutan, juga ungkapan terima kasih karena telah membantu Abel pulang.
“Nina, tolong urus pendaftaran petualang Ryo.”
Kata Abel, sambil membawa Ryo ke meja resepsionis. Pada saat itu, para petualang yang tadinya merayakan kepulangan Abel pun satu per satu kembali ke ruang makan, melanjutkan makanan mereka yang sempat terbengkalai.
Kini, di sekitar meja resepsionis hanya tersisa Nina, Abel, dan Ryo.
“Nina, untuk pendaftaran Ryo, aku akan jadi pihak yang merekomendasikannya. Aku ingin dia langsung mendaftar di peringkat D.”
Mata Nina membelalak kaget.
Tentu saja, sistem kenaikan peringkat melalui rekomendasi memang ada. Di Lung, itu terjadi kira-kira sekali dalam setahun. Namun, sejauh ini, belum pernah ada satu pun anggota Pedang Merah—termasuk Abel sendiri—yang menjadi pemberi rekomendasi.
“Tentu saja itu boleh, tapi, sesuai aturan, bila sistem rekomendasi dipakai, kami perlu bukti yang layak untuk mendukungnya. Bagaimana dengan itu?”
“Ya, aku sudah tahu. Soal itu juga, sebenarnya ada beberapa hal yang ingin kubicarakan langsung dengan guildmaster... Bisa sekarang?”
“Seharusnya tidak masalah. Waktu makan siang tadi beliau masih sibuk bergulat dengan tumpukan dokumen di ruangannya.”
Nina tersenyum tipis.
“Aku akan memanggil guildmaster. Sementara itu, silakan menuju ruang tamu di dalam.”
Dia pun memandu keduanya ke ruang tamu, lalu segera menuju ruangan guildmaster.
Tak lama kemudian, terdengar suara berat bergema dari arah luar.
“Apa katamu!?”
Disusul suara langkah tergesa-gesa menghentak lantai. Pintu didorong dengan keras, dan seorang pria raksasa berwajah garang masuk dengan terburu-buru.
“Abel... Syukurlah...”
Pria itu langsung jatuh berlutut, tubuhnya yang besar terdorong oleh emosinya.
“Guildmaster, maaf sudah membuatmu khawatir. Tapi aku berhasil kembali.”
“Sungguh... Waktu kudengar kamu hilang, rasanya jantungku mau copot.”
Dia bangkit, lalu duduk di kursi besar yang jelas dibuat khusus untuk tubuhnya yang masif.
“Baik, sebelum lanjut, siapa penyihir di sebelahmu ini...?”
Dia menoleh ke arah Ryo.
“Dia Ryo. Penyelamatku.”
“Begitu ya. Aku Hugh McGrath, guildmaster Lung. Terima kasih sudah menolong Abel.”
Ucap Hugh, sambil berdiri dan menundukkan kepala pada Ryo. Rupanya panggilan “gilmas” yang dipakai Abel hanyalah singkatan dari “guildmaster”.
“Ah, tidak, kebetulan saja. Jangan terlalu dipikirkan.”
Ryo pun buru-buru berdiri dan membalas dengan menundukkan kepala.
“Begini, guildmaster. Ryo ingin mendaftar jadi petualang di kota ini, tapi aku ingin merekomendasikannya agar langsung naik peringkat.”
Mendengar itu, Hugh melirik Nina yang masih berdiri di dekat pintu.
Nina mengangguk, lalu berkata, “Saya belum sempat menjelaskan. Abel bilang ingin bicara langsung dengan guildmaster soal itu.”
Karena Hugh langsung berlari tadi, alasannya memang belum sempat disampaikan.
“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu, Ryo, untuk naik peringkat saat pendaftaran, perlu ada bukti nyata bahwa kmau memang pantas mendapatkannya...”
Hugh berhenti bicara, kembali menoleh pada Nina. Sorot matanya jelas, sebuah tanda halus untuk menyuruhnya keluar.
“Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya akan kembali ke meja resepsionis. Bila ada keperluan, silakan panggil.”
Nina pun menunduk dan meninggalkan ruangan.
Abel membuka percakapan lebih dulu.
“Pertama-tama, Ryo ini lebih kuat dariku.”
Kata-kata itu membuat Hugh dan Ryo sendiri terbelalak.
“Yang benar saja...”
“Abel... Jangan-jangan perutmu bermasalah gara-gara daging kering siang tadi?”
Abel menghela napas panjang.
“Ya, memang dia suka bercanda. Tapi soal kekuatannya, itu fakta. Selain itu, kami juga membawa sesuatu yang didapat dari perjalanan kembali ke Lung.”
Dari dalam tasnya, Abel mengeluarkan sejumlah batu sihir dan meletakkannya di atas meja. Jumlahnya, 25 buah.
“Batu sihir apa ini? Warnanya hijau, berarti atribut angin... Tapi ukurannya luar biasa besar, warnanya juga pekat. Batu sebesar ini, jangan bilang, ini milik wyvern...?”
“Betul. Batu sihir wyvern. Jumlah yang sama juga dimiliki Ryo.”
Ketika Abel berkata demikian, Ryo pun meletakkan tasnya di atas meja.
“Mustahil... Seekor wyvern sebesar ini, dari mana kamu mendapatkannya...? Tidak, ini adalah masalah yang harus ditangani dengan seluruh kekuatan kita... Kalau tidak, negara bisa hancur...”
Hugh berkata dengan suara serak, seakan-akan diperas keluar. Nyaris seperti bisikan.
“Soal itu tak perlu kamu khawatirkan. Wyvern ini kami buru di tanah selatan Pegunungan Neraka.”
“Pegunungan Neraka? Apa, Pegunungan Neraka yang itu? Kenapa bisa kamu ada di tempat seperti itu?”
“Kapal kami terbawa arus... Dan akhirnya terdampar di daratan luas yang lebih jauh ke selatan dari Pegunungan Neraka. Dari sanalah kami menyeberangi pegunungan itu untuk kembali. Di sisi selatan pegunungan tersebut, ada banyak sekali wyvern. Yah, begitulah ceritanya.”
Abel menjelaskan sambil mengangkat bahunya. Ceritanya memang banyak yang dia singkat.
Yang terpenting untuk disampaikan adalah bahwa kawanan wyvern itu tidak akan segera menyerang umat manusia, dan bahwa di masa depan takkan mudah lagi mendapatkan batu sihir wyvern dalam jumlah sebanyak ini.
“Aku mengerti. Jadi maksudmu, kamu ingin menjualnya melalui jaringan guild agar harga pasar tidak jatuh. Begitu, kan?”
“Seperti yang diharapkan dari seorang guildmaster. Cepat menangkap maksudku, sungguh membantu.”
Kalau semua batu sihir itu dijual sekaligus di Lung, harga pasar pasti akan anjlok. Belum lagi, orang-orang pasti akan meneliti dari mana batu sihir sebanyak itu bisa didapatkan. Namun, bila memanfaatkan jaringan guild untuk menjualnya ke kota lain, ibu kota kerajaan, bahkan mungkin sebagai komoditas dagang ke negara lain, kecurigaan semacam itu bisa dihindari.
Itulah maksud sebenarnya.
“Aku paham. Ini akan memakan sedikit waktu, tapi aku akan bertanggung jawab untuk menjualnya. Bahkan keluarga kerajaan pun pasti mau membelinya.”
Saat mendengar itu, wajah Abel sedikit saja mengernyit.
“Kurasa satu buah akan segera dibeli oleh tuan wilayah. Jadi dalam dua atau tiga hari, hasil penjualan itu bisa segera masuk. Untuk keuntungan kalian berdua, apakah akan dibagi setengah-setengah?”
“Tidak, empat banding enam. Bagian empat untukku, enam untuk Ryo.”
“Abel, tidak bisa begitu. Kita bagi rata.”
Mendengar kata-kata Ryo, Abel menggeleng pelan.
“Ryo, aku belum sempat membalas budi padamu yang sudah menolongku. Lagi pula, ini juga merupakan hadiah atas tugas mengantarku sampai ke sini. Jadi terimalah, demi menjaga kehormatanku.”
Abel berkata begitu sambil menundukkan kepala, meski tetap duduk.
“Abel...”
“Ryo, Abel sudah sejauh ini memintanya. Terimalah, demi menjaga harga dirinya sebagai lelaki.”
Hugh pun ikut mendorong keputusan Abel.
“...Baiklah. Kalau begitu, dengan rasa terima kasih, aku akan menerimanya.”
Setelah mencatat ukuran dan jumlah batu sihir itu, Hugh menyimpannya di dalam brankas ruang kerjanya. Saat itulah terdengar suara langkah kaki berlari di koridor.
Bersamaan dengan itu, terdengar pula suara Nina.
“Tunggu dulu semuanya, tolong! Mereka masih sedang mengobrol...”
Langkah kaki yang kini terdengar jauh lebih ringan daripada langkah Hugh tadi mendekat, dan pintu pun terbuka dengan keras. Yang berdiri di sana adalah seorang penyihir wanita bertubuh mungil, mengenakan jubah hitam dan memegang tongkat besar di tangan kirinya.
“Abel... Syukurlah...”
Begitu berkata, penyihir itu langsung jatuh berlutut, tubuhnya ambruk.
Aku merasa pernah melihat pemandangan seperti ini...
Ryo sempat berpikiran agak tidak sopan.
“Lynn, maaf sudah membuatmu khawatir.”
Dia adalah Lin, penyihir atribut angin dari kelompok Abel, Pedang Merah.
Menyusul dari belakangnya, masuklah seorang wanita berbalut pakaian pendeta putih, serta seorang pria raksasa yang membawa perisai raksasa di punggungnya.
“Abel...”
Suara indah pendeta itu, bagaikan dentingan lonceng, juga terdengar oleh Ryo.
“Rihya, Warren, aku kembali.”
“Ya... Selamat datang kembali, Abel.”
Dengan mata berkaca-kaca, Rihya menyambutnya. Lynn bahkan sudah menangis tersedu-sedu. Sementara Warren diam, tapi wajahnya jelas memancarkan rasa lega. Melihat ketiganya dengan ekspresi berbeda, Abel hanya bisa tersenyum kecut.
Bukan hanya Ryo, semua orang di ruangan itu pun sempat bingung harus menampilkan wajah seperti apa.
“Abel, kamu pasti punya banyak cerita yang harus dibagi. Silakan gunakan ruangan ini. Ryo, Nina, mari kita urus administrasi di tempat lain.”
Dengan itu, Hugh membawa Ryo dan Nina keluar dari ruang pertemuan.
Mereka masuk ke ruang kerja guildmaster.
Hugh duduk dengan santai di kursi besar ruang tamu.
“Huhh... Suasana seperti tadi memang bukan gayaku. Ryo, duduklah juga. Nina, karena Ryo akan didaftarkan di peringkat D, tolong bawakan perlengkapan registrasi ke sini.”
“Baik, guildmaster.”
Nina lalu keluar untuk bersiap. Tinggallah Ryo berdua dengan guildmaster yang bertubuh besar dan berwajah keras.
“Peringkat D, apa itu tidak masalah?”
“Tidak apa-apa. Setelah diperlihatkan batu sihir wyvern sebanyak itu, tidak ada alasan untukku menolaknya.”
Hugh tertawa lebar.
“Yah, bagaimanapun, Abel yang memberikan pukulan terakhir.”
“Aku sudah tahu kemampuan Abel. Dia memang jenius. Tapi bagaimanapun juga, dia tetap seorang ahli pedang. Justru karena aku tahu betul kemampuannya, aku tahu dia tak mungkin menumbangkan wyvern sendirian. Itu artinya, kamu punya kekuatan luar biasa yang bisa mengangkat kekuatan Abel hingga cukup untuk melawan wyvern. Kamu jelas layak didaftarkan sebagai petualang peringkat D.”
Dengan tawa lebar, Hugh menepuk keras bahu Ryo.
Tulangnya sampai berderit...
“Oh? Ryo, kamu penyihir kan? Tapi tubuhmu cukup terlatih juga rupanya.”
Hugh baru menyadarinya saat menepuk bahu Ryo dengan keras.
“Aku sering berburu sendirian. Kalau sampai kehabisan stamina dan tak bisa bertarung lagi, itu berbahaya.”
Mendengar itu, Hugh mengangguk berulang-ulang.
“Benar sekali! Betul sekali! Sekuat apa pun jurus atau sihirmu, kalau kehabisan tenaga, tamat riwayatmu. Tapi anak-anak muda zaman sekarang tak mengerti itu.”
Dari sana, pembicaraan Hugh berlanjut menjadi keluhan panjang tentang generasi muda belakangan ini, serta tekadnya agar guild lebih menekankan pentingnya stamina. Meski begitu, Hugh sendiri sebenarnya masih berusia pertengahan tiga puluh.
Setelah keluhannya berlarut-larut, terdengar ketukan di pintu.
“Silakan masuk.”
“Permisi. Guildmaster, saya sudah membawa perlengkapan registrasi.”
Nina, resepsionis yang tadi keluar, masuk sambil membawa baki berisi kristal besar dan beberapa alat lainnya.
“Baiklah, Nina. Tolong urus pendaftaran Ryo. Ryo, cukup ikuti instruksi Nina. Aku harus bergulat dengan tumpukan dokumen.”
Hugh pun kembali ke mejanya.
“Perkenalkan kembali, Tuan Ryo. Saya Nina, staf dari Guild Petualang Lung. Mohon kerja samanya.”
“Senang berkenalan denganmu. Aku Ryo. Senang bisa bekerja sama juga.”
Mereka berdua saling bertukar salam dengan sopan. Salam yang benar memang penting.
“Kalau begitu, pertama saya akan melakukan wawancara singkat. Saya akan bertanya, mohon jawabannya.”
“Baik.”
Di ceritaku yang pernah kubaca, biasanya diberikan kertas untuk menuliskan nama, lalu ditanya “Apakah perlu dituliskan oleh orang lain?”, dan dijawab “Tidak, aku bisa menulis sendiri”. Mungkin karena kejadian seperti itu sering terjadi, sekarang pihak guild yang langsung mencatat datanya.
Tampaknya berbeda dari cerita isekai yang biasa diketahui Ryo...
“Nama Anda Ryo, benar? Apa benar Anda seorang penyihir?”
“Ya, aku penyihir.”
“Apa atribut sihir Anda?”
“Air.”
“Tempat tinggal... Sepertinya belum ada, ya?”
“Benar, aku baru saja tiba di kota ini.”
“Selama 300 hari sejak registrasi, Anda bisa tinggal di asrama yang terhubung dengan guild. Nanti, kalau hidup sudah stabil, biasanya pindah keluar. Selain itu, ini juga membantu untuk menjalin hubungan dengan petualang muda lainnya.”
Nina menyodorkan selembar kertas berisi penjelasan tentang asrama ke hadapan Ryo.
“Selama 300 hari pertama, Anda bisa masuk kapan saja, dan keluar kapan saja juga. Jadi silakan pertimbangkan sebagai salah satu pilihan tempat tinggal.”
“Akan kupikirkan.”
Kertas ini... Rasanya tak mungkin ada mesin cetak di dunia ini... Tapi tetap saja, mereka punya banyak salinan dengan isi yang sama. Misteri lagi...
Sejak tiba di dunia Phi, Ryo hanya terus bertambah banyak pertanyaan yang belum terjawab.
“Selain itu, Anda belum pernah masuk ke dungeon sebelumnya, bukan?”
“Ya, belum pernah.”
“Di guild, setiap bulan kami mengadakan kelas khusus untuk pemula dungeon. Isinya meliputi poin-poin penting yang harus diperhatikan di dalam dungeon, barang-barang yang bisa dikumpulkan, nilai tukarnya, serta pelatihan dasar untuk petualang pemula di luar dungeon juga. Semua itu bisa dipelajari secara gratis. Jika Anda berencana untuk masuk ke dungeon, saya sangat menyarankan Anda mengikuti kelas itu.”
“Saya ingin ikut!”
Ryo langsung menyambar kesempatan itu.
“Kelas bulan ini akan dimulai lusa. Selama lima hari, setiap harinya materinya berbeda. Jadi akan baik kalau Anda bisa hadir lima hari penuh.”
Nina berkata begitu sambil tersenyum manis. Senyum yang begitu memikat, sampai-sampai Hugh, yang mengamati dari mejanya, ikut mengangguk puas—tentu saja diam-diam.
“Kalau begitu, saya akan mendaftarkan Anda untuk kelas tersebut. Lusa, datanglah ke ruang kuliah di lantai tiga guild ini sebelum pukul sembilan pagi.”
“Sembilan pagi?”
Sembilan, sama seperti di Bumi?
“Ya. Di alun-alun ada menara jam, Anda bisa melihat waktu di sana. Di kota Lung, lonceng menara jam akan berbunyi pada pukul sembilan, dua belas, tiga, dan enam.”
Sepertinya memang sembilan yang sama dengan Bumi.
“Baik, sesi wawancara sudah selesai. Selanjutnya, giliran pendaftaran diri Anda.”
“Pendaftaran diri saya?”
“Ya. Tolong letakkan tangan Anda di atas kristal ini.”
Ryo menurut, meletakkan tangan kanannya di atas kristal yang dibawa Nina.
“Registrasi.”
Ketika Nina berbisik, kristal itu mulai bercahaya. Ryo merasa sedikit sekali, sangat sedikit, energi sihirnya tersedot. Cahaya kristal lalu berkumpul, masuk ke kartu yang dipegang Nina, dan meledak kecil sebelum menghilang.
“Tuan Ryo, sekarang boleh lepaskan tangan Anda. Terima kasih.”
Ryo pun melepaskan tangannya. Tidak ada perubahan terasa pada dirinya.
Nina memeriksa kartu yang sempat bercahaya tadi. Setelah selesai, dia menyerahkannya pada Ryo.
“Silakan, ini adalah kartu guild Anda. Kartu ini juga berfungsi sebagai identitas, jadi jika hilang segera laporkan ke guild. Biaya penerbitan ulang adalah sepuluh ribu Florin, atau setara satu keping koin emas. Jadi harap berhati-hati.”
Ryo menerima kartu itu dan memeriksa isinya. Tertulis namanya, peringkat petualang D, dan afiliasinya di Kerajaan Knightley, Lung.
Hanya itu saja.
“Ada pertanyaan?”
“Ya, maaf, satu hal. Dari Abel aku mendengar bahwa guild bisa menyimpan uang, dan bisa diambil dari guild manapun di seluruh negeri. Apakah benar?”
“Betul sekali. Anda bisa mengatakannya di loket, lalu diproses di ruang khusus. Identifikasi dilakukan menggunakan kristal yang tadi dipakai untuk registrasi.”
“Jadi kristal itu terhubung dengan seluruh negeri...?”
Luar biasa.
Inilah fantasi. Inilah sihir.
Sistem daring yang baru terwujud di Bumi pada zaman modern, di dunia Phi ini sudah lama berjalan!
“Ya, bisa dikatakan begitu.”
Nina mengangguk pelan.
Saat itu terdengar ketukan di pintu. Nina menoleh ke arah Hugh, sang guildmaster.
“Silakan masuk.”
Hugh menjawab tanpa mengangkat wajah dari tumpukan dokumen. Yang masuk adalah Abel beserta anggota kelompok Pedang Merah.
“Guildmaster, terima kasih sudah meminjamkan ruang pertemuan. Kami sudah selesai, jadi akan pulang.”
Abel melapor pada Hugh.
“Oh, jangan dipikirkan.”
“Guildmaster, Nina, malam ini pukul 18.00 kami akan mengadakan pesta syukuran untuk kepulangan Abel di Penginapan Gelombang Emas. Tolong datang ya”
Kali ini yang berbicara adalah Lynn, sang penyihir.
“Tentu saja, Ryo adalah tamu utama. Kehadirannya wajib.”
Abel menambahkan sambil tersenyum licik.
“Eh...”
Ryo terdiam kaku.
“Penginapan Gelombang Emas adalah tempat kami selalu menginap. Kamar untukmu juga sudah kami siapkan. Jadi meski kamu mabuk, tidak masalah.”
“Bukan berarti itu aman...”
“Pokoknya, kamu harus ikut, Ryo. Sebelum itu, ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu.”
Abel berkata begitu sambil menoleh ke arah Nina.
“Registrasi sudah selesai. Jika tidak ada lagi pertanyaan dari Tuan Ryo, semuanya beres.”
“Kalau ada pertanyaan, biar aku yang jawab nanti. Oke, ayo Ryo.”
Abel langsung menarik Ryo untuk berdiri.
“Kalau begitu, kami duluan ke penginapan untuk bersiap.”
Pendeta Rihya berkata begitu, lalu dia, Lynn, dan Warren meninggalkan ruangan.
“Kalau begitu, Guildmaster, aku pinjam Ryo dulu.”
“Ah, Guildmaster, Nona Nina, terima kasih banyak atas bantuannya.”
Ryo membungkuk dalam-dalam.
“Tidak usah sungkan. Sekarang kamu resmi jadi petualang kota Lung. Mulai sekarang mari kita saling membantu.”
Hugh mengangkat satu tangan, sementara Nina membalas dengan menundukkan badan sopan. Abel pun membawa Ryo keluar.
“Kalau begitu, Guildmaster, saya juga kembali ke loket.”
“Baik, terima kasih.”
Nina meninggalkan ruangan.
Tinggallah Hugh McGrath, sang Guildmaster, seorang diri di ruang kerjanya.
“Aaaaaah, syukurlah...”
Suaranya lirih, tak sampai terdengar keluar, namun penuh dengan perasaan yang menumpuk.
“Waktu aku melaporkan Abel hilang... Suasananya sungguh berat, aku tak ingin merasakan itu lagi. Syukurlah dia benar-benar kembali... Astaga... Sampai terbawa arus ke sisi lain Pegunungan Neraka... Itu jelas situasi tanpa harapan... Baik bagi Abel, maupun bagiku...”
Sampai di situ, Hugh merebahkan wajahnya ke meja kerjanya.
“Sudahlah, aku tak mau lagi menerima misi penyelidikan penyelundupan. Asal dia tetap di daratan saja sudah cukup. Selama masih dalam jangkauan pedangnya, nyaris tak ada yang bisa mengalahkannya... Bahkan di dungeon pun mungkin bisa bertahan. Tapi di lautan itu benar-benar berbahaya. Iya, benar... Aku juga harus berterima kasih pada Ryo yang membawanya kembali. Benar-benar penyelamat... Kalau dia tidak kembali, aku pasti sudah kehilangan nyawaku... Ah, sebaiknya segera kulaporkan kepulangannya.”
Dengan itu, Hugh mengaktifkan alat komunikasi alkimia yang terpasang di lemari.
“Abel, kita mau pergi ke mana?”
Begitu mereka keluar dari guild, Abel yang menggandeng Ryo berjalan menyusuri jalan utama ke arah utara.
“Sebenarnya, ini soal imbalan dari permintaan pengawalan itu...”
“Hmm? Tapi bukannya untuk itu sudah diputuskan akan dibayar dengan batu sihir?”
“Ah, iya. Tapi ini berbeda. Waktu pertama kali aku memintamu untuk mengawal sampai ke Lung... Aku sudah berniat, begitu sampai di kota, aku ingin membelikanmu pakaian dan tongkat sebagai imbalannya...”
Sambil diam-diam memperhatikan reaksi Ryo, Abel pun memulai penjelasannya.
“Ah, maksudku, bukan berarti aku merendahkanmu. Kalau-kalau kamu memang suka dengan pakaian dari kulit yang kamu kenakan itu, juga sandalmu, aku tidak bermaksud menjelekkan...”
“Tak perlu sungkan. Sandal masih bisa ditoleransi, tapi aku juga sadar betul, pakaian seperti ini di balik jubah jelas tidak pantas untuk dipakai berjalan di kota.”
Ryo berkata sambil tersenyum kecut. Memang, sekalipun sejak datang ke Phi dia hidup sendirian, namun di Bumi dia sudah hidup 19 tahun sebagai manusia normal.
“Dan soal kulit ini, bukannya aku menyukainya. Aku hanya tak bisa membuat pakaian karena di Hutan Rondo aku gagal mendapatkan benang. Jadi kalau ada yang mau membelikan pakaian, tentu aku akan senang mengikutinya.”
“Begitu, ya! Baiklah, kalau begitu kita pilihkan beberapa setel pakaian. Satu untuk sehari-hari, dan satu yang agak bagus juga.”
Abel bicara lega. Dia sempat khawatir ucapannya akan terdengar seolah-olah meremehkan pakaian Ryo. Karena itu, kelancaran percakapan ini membuatnya merasa sangat lega.
“Tapi Abel, kalau pakaian aku bisa mengerti. Lalu tongkat, apa maksudmu?”
“Ya, kamu kan penyihir, tapi kamu tidak punya tongkat, bukan?”
“Benar, aku penyihir, tapi aku tidak punya tongkat. Dan tanpa tongkat pun aku bisa memakai sihir.”
Ryo menjawab sambil memiringkan kepalanya.
“Tapi aku dengar, kalau punya tongkat, kekuatan sihirmu bisa meningkat...”
Sambil mengatakannya, Abel teringat pada sihir Ryo.
Meningkat? Padahal sihirnya sudah lebih dari cukup...
“Begitu, ya. Tapi aku memang tidak terbiasa memakai tongkat. Kalau butuh bertarung jarak dekat, aku pakai pedang.”
Mendengar itu, Abel terbelalak.
“Pedang? Jadi kamu bisa menggunakan pedang? Bukan sekadar pisau di pinggangmu itu?”
“Hah? Aku tidak pernah bilang? Aku pernah bilang kan, kalau penyihir angin bisa melakukan tiga bayangan lalu Sonic Blade dengan serangan terobosan. Kalau tak bisa bertarung dengan pedang, mana mungkin bisa melakukan terobosan?"
“O-Oh... Maksudmu Serbuan Breakdown itu, ya. Aku kira itu cuma bercanda.”
“Jahat sekali...”
Sambil bercakap, mereka tiba di sebuah toko pakaian. Bangunannya tidak mewah, tapi berjajar pakaian dengan selera yang baik.
“Tempat ini bukan toko pakaian mahal, tapi jahitannya bagus, modelnya juga oke, jadi cukup populer. Pakaianku pun dipesan di sini.”
“Pakaianmu memang tahan lama, Abel. Buktinya, dari Hutan Rondo sampai ke Lung tetap awet.”
“T-Tahan lama... Yah, itu memang pakaian untuk kegiatan sehari-hari. Tidak mudah robek, itu betul.”
Setelah menghabiskan waktu sekitar dua jam, mereka berhasil memesan satu set pakaian untuk langsung dipakai hari itu juga, ditambah tiga set lainnya untuk dijahitkan.
Keluar dari toko, keduanya mulai berjalan menuju Penginapan Gelombang Emas.
“Hei, Ryo. Kamu yakin tidak butuh tongkat?”
“Aku yakin. Aku tidak terbiasa memakainya. Seperti yang kubilang tadi, kalaupun bertarung, aku lebih memilih pedang.”
“Baiklah, kalau begitu, asal kamu yakin...”
Abel tiba-tiba berhenti melangkah.
“Abel, kenapa berhenti? Nanti kutinggal kamu.”
“Hei, kamu kan tidak tahu lokasi penginapannya. Bukan itu maksudku. Ryo, kamu tidak sedang membawa pedang, kan?”
Abel menatap pinggang dan punggung Ryo.
“Oh, ini.”
Ryo menunjukkan Muramasa pemberian Dullahan, yang dalam keadaan normal tampak seperti pisau tanpa bilah.
“Eh. Itu... Apa benar itu pedang? Bukannya itu pisau yang selalu kamu selipkan di pinggang? ...Hah?”
Dari manapun dilihat, itu jelas sebuah pisau. Memang gagangnya panjang dan agak tidak seimbang, tapi tetap saja, itu pisau. Tak seorang pun selain Ryo yang akan menyebutnya pedang.
“Itu tidak penting. Justru aku ingin bertanya padamu. Tadi kamu bilang, kalau ada pertanyaan, kamu yang akan menjawabnya, bukan Nina?”
“Ah... Iya, aku bilang begitu. Memangnya ada yang mau kamu tanyakan?”
“Aku baru sadar, ada banyak hal mendasar yang aku sama sekali tidak tahu.”
“Hal mendasar?”
“Ya. Misalnya, berapa lama satu hari berlangsung, atau satuan hal lainnya.”
Wajah Abel menegang.
“Abel, kamu pasti mengira aku ini orang yang cukup berpengetahuan, kan? Maaf kalau mengecewakan.”
“Eh, tidak. Justru aku pikir kamu memang tidak punya pengetahuan dasar. Tapi ternyata jauh lebih parah daripada yang kukira...”
“Parah banget! Di dunia ada pepatah: mengetahui bahwa dirimu tidak tahu adalah bentuk kebijaksanaan. Jadi kebodohanku ini bukan kebodohan biasa, tapi kebijaksanaan dalam ketidaktahuan!”
“O-Oh... Gimana ya... Terdengar lebih seperti kebodohan semata, daripada kebijaksanaan dalam ketidaktahuan... ”
Sambil menghela napas, Abel pun mulai menjelaskan. Memang, Abel adalah orang yang sangat baik hati.
Pada dasarnya, hampir segalanya di sini sama seperti di Bumi.
Satu hari terdiri dari 24 jam, satu minggu tujuh hari, satu bulan sekitar 30 hari... Hanya saja, adanya bulan Februari dengan 28 hari dan bahkan tahun kabisat, benar-benar di luar dugaan.
Satuan panjang pun sama—meter, kilometer, gram, semua sama persis dengan yang ada di Bumi—meskipun bukan gaya Amerika.
Sebaliknya, andai saja satuan berat di sini memakai galon atau semacamnya, Ryo pasti akan terkejut.
Namun, sampai sejauh ini, mulai dari masalah nasi kari hingga hal-hal seperti ini, Ryo sudah semakin yakin, pasti pernah ada seseorang dari Bumi yang bereinkarnasi atau berpindah ke dunia ini, lalu meninggalkan jejak perubahan.
Sebuah firasat kini telah berubah menjadi kepastian.
“Yah, mungkin memang sulit untuk langsung memahami semuanya. Tapi soal satuan dan semacamnya, pelan-pelan saja menghafalnya, kan?”
Abel berkata demikian.
“Tidak, aku sudah menghafalnya semua dengan sempurna.”
“Kamu ini jenius kah?”
Sudah pasti Ryo bisa menghafalnya. Bagaimanapun, satuannya sama persis dengan yang ada di Bumi.
“Selain itu, aku diberitahu kalau dalam 300 hari setelah mendaftar di guild, aku bisa menggunakan asrama guild.”
“Oh, itu cukup praktis. Kami juga dulu sering memanfaatkannya waktu awal-awal jadi petualang.”
Abel menengadah ke langit, seolah bernostalgia.
“Kalau begitu, besok aku juga akan pindah ke sana. Lagipula, aku sudah mendaftar untuk ikut kuliah dasar penjelajahan dungeon yang akan dimulai lusa.”
“Itu pelatihan yang baru ada tiga tahun belakangan ini. Tapi dengar-dengar, berkat itu angka kematian pemula jauh menurun. Jadi pasti isinya lumayan praktis. Ryo, kemampuan sihirmu memang luar biasa, tapi pengetahuanmu... Yah, terutama soal hal-hal dasar, jelas kurang. Jadi kupikir itu bagus untukmu.”
“Abel... Hanya karena kamu sendiri kurang paham soal hal-hal dasar, jangan samakan aku denganmu, ya.”
Ryo mengangkat bahu, menarik napas panjang dengan wajah pasrah.
“Tunggu sebentar. Kamu jelas-jelas tidak punya pengetahuan dasar, Ryo. Kalau dibandingkan denganmu, aku ini masih lebih waras darimu.”
“Itu persis sama dengan orang mabuk yang ngotot bilang ‘Aku tidak mabuk, kok’. Cukup merepotkan.”
“Entah kenapa, kalau kamu yang bilang itu, aku jadi kesal sekali rasanya...”
Dengan wajah tak puas, Abel menggeleng kecil.
“Dulu, ada orang bijak yang berkata, mendefinisikan berarti membatasi.”
“H-Hah?”
“Kalau kita terlalu terikat pada yang disebut pengetahuan dasar, maka daya imajinasi pun ikut terbatas.”
“Uh...”
“Artinya, tidak punya pengetahuan dasar bukanlah sesuatu yang selalu buruk. Bagus, kan, Abel.”
“Kenapa aku yang kena sindir!? Jelas-jelas kamu jauh lebih tidak tahu banyak hal daripada aku!”
Abel bersungut-sungut, lalu menambahkan, “Yah... Tapi jujur saja, bersama orang yang tidak tahu hal-hal dasar itu melelahkan sekali.”
Sambil berkata begitu, Abel melirik Ryo dengan tatapan menyipit.
“Kenapa melihatku sambil bilang begitu? Aku ini normal!”
“Itu lagi-lagi terdengar seperti orang mabuk yang membantah dirinya mabuk.”
“Ugh... Abel, kamu sudah mulai bisa menyindir, ya...”
Wajah Ryo jelas bukan wajah kagum, melainkan ekspresi penuh kekesalan. Dia lalu mendadak mengubah topik.
“Ngomong-ngomong, aku mau tanya hal lain. Di kota ini, ada perpustakaan gak?”
Meski agak kaget dengan perubahan mendadak itu, Abel sempat berpikir sebentar sebelum menjawab. Memang, Abel adalah orang baik.
“Ada dua perpustakaan besar. Yang di selatan, isinya buku-buku yang lebih mudah dipahami, cocok untuk masyarakat umum, dari berbagai bidang. Kalau kamu mau dapat pengetahuan dasar, pergilah ke perpustakaan selatan. Letaknya satu blok ke arah selatan dari guild. Sementara yang di utara, isinya buku-buku khusus, bukan untuk orang awam... Tapi kalau kamu sudah punya dasar di bidang tertentu, itu mungkin cocok.”
“Kalau yang di selatan itu perlu biaya atau semacam izin khusus?”
“Tidak. Semua orang boleh masuk. Hanya saja, waktu masuk kamu harus menitipkan 2.000 florin, dua koin perak besar, sebagai jaminan di meja resepsionis. Kalau tidak ada masalah, saat keluar akan dikembalikan separuhnya, 1.000 florin. Tapi kalau kamu merusak buku, jaminan hangus, bahkan bisa ditagih ganti rugi tambahan.”
Sambil bercakap begitu, keduanya pun tiba di Penginapan Gelombang Emas.
Keesokan paginya, Ryo terbangun oleh dentang jam sembilan.
Dia berada di kamar penginapan Gelombang Emas, yang sudah dipinjamkan oleh Abel dan kelompok Pedang Merah.
Sekilas dia ingat, setelah mabuk berat, dia digendong masuk kemari sambil bersandar di bahu Abel.
“Kepala pusing... Mabuk...”
Di Bumi, Ryo tidak pernah mengalaminya. Maklum, dia masih di bawah umur dan belum pernah minum alkohol. Tapi setidaknya dia tahu teorinya.
Di sinilah alkohol pertamanya sejak berada di Phi.
Minuman pertamanya di Phi adalah ale—semacam bir. Setelah itu, dia dipaksa minum berbagai macam minuman keras... Hingga akhirnya tak lagi ingat apa saja yang dia telan.
Pesta syukuran kepulangan Abel digelar meriah. Semua orang bergantian hadir untuk merayakan kembalinya Abel, yang sangat populer. Dan karena Ryo dianggap sebagai penyelamat nyawa Abel, dia pun jadi bintang utama. Dia disambut hangat oleh banyak orang hingga tak habis-habis. Saking ramainya, bahkan rekan-rekan Abel di Pedang Merah—Rihya, Lynn, dan Warren—nyaris tidak kebagian waktu untuk berbincang dengannya.
Setelah meminum air hasil sihir, membereskan diri, dan membawa semua barang, Ryo pun keluar dari kamar. Sesuai rencana, dia hendak pindah ke asrama guild.
Di lantai bawah, pemandangan mayat bergelimpangan seperti di medan perang... Untungnya tidak sampai begitu. Penginapan Gelombang Emas tetap berfungsi sejak pagi untuk melayani tamu sarapan, baik tamu penginapan maupun pengunjung biasa. Maka para petualang mabuk semalam sudah dipaksa dipindahkan, bukan ke luar, tapi digeser ke sudut ruangan, didudukkan di kursi. Meski sebenarnya, mereka tetap terkulai tertidur di atas meja.
“Bekas-bekas para kesatria setelah perang...”
Ryo berbisik pelan, lalu berjalan menuju meja resepsionis, tempat sang nyonya penginapan berdiri.
“Selamat pagi, Ryo. Sarapan akan segera disiapkan. Silakan pilih kursi yang disuka.”
“Kalau begitu, tolong ya. Oh, dan setelah ini aku akan pindah ke asrama guild, jadi sekalian minta dibuatkan tagihan...”
“Tidak perlu, semuanya sudah dibayar Abel.”
Sang nyonya tersenyum hangat, lalu masuk ke dapur.
Abel... Dia memang orang yang baik.
Orang yang mentraktir adalah orang baik.
Setidaknya, lebih baik daripada orang yang tidak mau mentraktir.
Sarapan sederhana berupa roti putih, sup kental, dan keju, namun rasanya lezat dan bisa diisi ulang sesuka hati. Ryo pun makan dengan puas, lalu segera berangkat menuju guild.
Begitu tiba, suasananya terasa seperti sisa badai. Udara penuh bekas keributan, tapi juga ada semacam kelegaan karena semuanya sudah reda. Rupanya perebutan permintaan misi pagi tadi baru saja usai. Para petualang yang mengambil misi sudah pergi. Sebagian lain langsung menuju dungeon tanpa perlu misi guild.
Bagi Ryo, yang belum pernah menyaksikan hiruk-pikuk pagi di guild, suasana ini hanya bisa disebut sebagai aneh dan sulit dimengerti.
Para resepsionis jelas kelelahan. Namun mereka tetap profesional, menyambut Ryo dengan senyum saat dia mendekat ke meja. Meja yang dia hampiri ternyata milik Nina.
“Selamat pagi, Tuan Ryo. Ada keperluan apa hari ini?”
Sebenarnya meja siapa pun tak masalah. Tapi dibandingkan wajah baru, lebih baik memilih Nina, yang kemarin sudah membantu proses registrasi.
“Selamat pagi. Aku ingin masuk ke asrama guild yang kemarin kamu jelaskan.”
“Baik. Saat ini ada sekitar 30 orang yang tinggal di sana. Beberapa sedang di dungeon, tapi biasanya mereka tidak masuk setiap hari, jadi pasti ada yang tinggal. Kamar tidurnya berisi enam orang, ada ruang bersama yang bisa dipakai sesuka hati. Kebetulan sekarang ada meja resepsionis yang kosong, jadi mari saya antar.”
Sambil berkata begitu, Nina pun keluar dari balik meja resepsionis.
Nina keluar dari pintu masuk guild dan memutar ke belakang. Ryo mengikuti dari belakang.
“Ngomong-ngomong, Tuan Ryo, terima kasih sudah bekerja keras di pesta syukuran Abel kemarin. Saya lihat, sepanjang malam Anda ditahan oleh Lar dan terus dipaksa minum, ya.”
Sambil berkata begitu, Nina terkekeh kecil.
“Dia itu menganggap Abel seperti kakak kandungnya sendiri... Jadi dia sangat berterima kasih pada Anda.”
Lar adalah seorang ahli pedang, pemimpin kelompok peringkat C bernama Switchback.
Karena Abel yang begitu dia hormati berhutang nyawa pada Ryo, Lar menumpahkan rasa terima kasih yang begitu berlebihan sepanjang pesta minum... Tanpa henti.
Tentu saja, karena Ryo adalah tamu utama yang menyelamatkan Abel, banyak orang pun ikut menuangkan minuman dan menyajikan makanan padanya. Namun, Lar tetap saja terus-menerus mengucapkan terima kasih.
“Ya... Aku senang dihargai, tapi jujur saja, aku minum terlalu banyak.”
Ryo menjawab dengan senyum kecut.
“Di bagian penjualan guild tersedia ramuan penawar racun. Kalau mabuk Anda masih parah, sebaiknya nanti Anda beli satu.”
“Mabuk bisa disembuhkan dengan ramuan penawar racun...?”
Hari demi hari, pengetahuan Ryo bertambah.
“Betul. Saya sendiri belum pernah coba, tapi kabarnya itu sudah umum di kalangan para petualang.”
Asrama guild terletak di belakang gedung utama. Bangunannya kokoh dari batu, sama megahnya dengan gedung utama, dua lantai.
“Apa ada aturan tertentu di asrama? Seperti jam malam, misalnya.”
“Tidak ada. Anda bisa keluar masuk kapan saja, setiap hari. Justru karena itu, pengelolaan barang pribadi sepenuhnya tanggung jawab masing-masing. Fasilitasnya ada kamar tidur berisi enam orang, toilet bersama, ruang mandi bersama, dan ruang santai dengan dapur. Tidak ada pengurus, jadi semuanya murni tanggung jawab sendiri.”
“Itu... Cukup nekat juga, ya.”
“Dulu ada pengurus, tapi karena satu dan lain hal, sekarang tidak ada. Hanya urusan kebersihan saja yang diserahkan ke pihak luar. Ada sebuah perusahaan yang dikelola mantan petualang, mereka mengurus banyak kebersihan kota termasuk guild.”
Begitu, jadi setelah pensiun dari petualangan, cara mencari nafkahnya seperti itu. Kalau semasa aktif sudah banyak kenalan di kota, pasti mudah dapat pekerjaan.
“Kamar Anda nomor sepuluh. Saat ini penghuninya ada dua orang: Nils dan Eto. Mereka berdua membentuk kelompok dan sedang menjelajahi dungeon. Ini kamarnya.”
Nina menunjuk sebuah pintu. Di sampingnya tergantung dua papan nama kayu bertuliskan Nils dan Eto.
“Setiap penghuni menaruh papan nama di sini. Saya sudah menyiapkan papan bertuliskan Ryo, jadi saya pasang sekarang, ya.”
Nina dengan cekatan menggantungkan papan nama itu. Dia tampak sangat terampil, jelas seorang pegawai yang bisa diandalkan. Setelah itu, dia mengetuk pintu.
“Silakan masuk.”
Sebuah suara terdengar dari dalam.
“Oh, rupanya sedang ada orangnya.”
Nina membuka pintu dan melangkah masuk.
“Permisi. Saya Nina, staf guild. Rupanya Nils dan Eto ada di sini.”
Di dalam, ada seorang pria berambut cokelat sekitar 20 tahun dengan tubuh kekar sedang push-up, dan seorang pria bertubuh ramping dengan jubah pendeta putih sedang membaca dokumen.
“N-Nina... S-S-Selamat siang!”
Pria kekar itu menjawab dengan terbata-bata.
“Kebetulan sekali. Ini Ryo, mulai hari ini dia akan tinggal di kamar 10. Mohon kerjasamanya, ya.”
“Aku Ryo. Senang berkenalan dengan kalian.”
Ryo membungkuk sopan.
“Aku Nils. Ini Eto. Senang berkenalan, Ryo.”
Nils berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat. Eto, tetap duduk, tapi mengangkat satu tangan sambil menunduk ringan ke arah Ryo.
Setelah perkenalan singkat itu, Nina mengangguk dan berkata, “Kalau begitu, saya kembali ke meja resepsionis. Ryo, kuliah besok sudah saya daftarkan. Jangan sampai terlambat... Meski dari sini pasti tidak akan terlambat, ya.”
Sambil tersenyum manis, Nina meninggalkan mereka menuju gedung utama guild.
“Ah... Nina memang cantik sekali...”
Begitu Nina pergi, Nils bergumam lirih.
“Lagi-lagi, Nils. Bukan hanya Nina, semua resepsionis itu punya banyak sekali pengagum. Tidak mungkin kamu bisa bersaing.”
Eto menahan tawa sambil berkata.
“Aku tahu! Tapi kan impian setiap pria itu suatu hari jadi besar dan menikahi wanita cantik!”
Kalau ini dunia modern di Bumi, ucapan semacam itu pasti menuai hujatan dari segala arah. Namun di dunia Phi, hal itu sama sekali tidak jadi masalah.
“Beberapa resepsionis bahkan menikah dengan bangsawan. Petualang biasa sama sekali tak dipandang.”
Bukan kesetaraan gender, malah tampaknya resepsionis memiliki kedudukan sosial jauh lebih tinggi dibanding para petualang.
“Sudahlah, abaikan saja. Kamu Ryo, kan? Kita satu kamar, jadi sebaiknya saling panggil nama saja. Tidak perlu formal. Kami juga ingin dipanggil begitu.”
“Oke, tidak masalah.”
“Bagus. Sebenarnya kami agak cemas, tak tahu siapa yang bakal jadi teman sekamar berikutnya. Enam ranjang, tapi baru dua orang yang ada, jadi jelas akan ada penghuni baru. Untunglah orangnya sepertimu, orang normal.”
“Betul. Coba kalau yang masuk itu tipe seperti Dan dari Kamar 1, pasti repot.”
Eto dan Nils sama-sama mengangguk-angguk.
“Ah, rupanya masalah seperti itu memang ada juga ya...”
Memang, di zaman dan dunia mana pun, masalah seperti itu selalu ada.
“Oh iya, aku seorang ahli pedang, Eto ini pendeta. Kalau kamu Ryo, pasti penyihir, ya?”
“Ya, aku penyihir.”
“Sudah kuduga!”
Nils tertawa lebar.
“Tadi Nina bilang kamu ikut kuliah mulai besok. Itu berarti kuliah dungeon, kan?”
“Benar. Aku akan ikut kursus pemula selama lima hari.”
“Ah, itu sangat berguna. Berkat itu, kami masih hidup sampai sekarang.”
Nils kembali tertawa lepas.
Setelah itu, Ryo banyak mendengar cerita tentang kota dari keduanya.
30 menit berlalu. Tiba-tiba pintu kembali diketuk.
“Masuk saja.”
Nils menjawab, lalu Nina masuk lagi.
“Maaf mengganggu. Ada petualang baru yang mendaftar di guild dan ingin tinggal di asrama.”
Seorang anak lelaki belasan tahun masuk mengikuti Nina.
“Amon. Senang berkenalan dengan kalian.”
“Aku Nils. Itu Eto. Dan ini Ryo.”
“Amon juga akan ikut kursus pemula besok. Jadi, Ryo, tolong dampingi dia.”
Setelah berkata begitu, Nina kembali ke gedung utama guild.
“Ah, Nina memang cantik...”
Eto melirik Ryo seolah berkata, “Tuh kan, benar.” Ryo mengangguk setuju. Melihat itu, Nils cemberut.
“Ya ampun, biarlah. Ngomong-ngomong, Amon masih muda sekali. Pasti belum dewasa, ya?”
Di negeri-negeri tengah, usia dewasa ditetapkan pada 18 tahun.
“Benar, umurku masih 16 tahun. Tapi keluargaku sudah tiada. Jadi, untuk bisa hidup, aku memilih jadi petualang dan datang ke kota Lung.”
“Hampir semua kisahnya begitu.”
Eto menimpali ringan.
Apa seorang pendeta juga bisa sampai menderita seperti itu? Jadi penasaran...
Ryo bertanya-tanya, tapi dia menahan diri karena merasa belum saatnya untuk mengorek lebih jauh.
“Ryo juga baru pindah ke asrama, katanya mulai besok ikut kursus.”
“Ya, aku akan ikut kursus lima hari. Jadi, Amon, mohon kerja samanya.”
“Sama-sama, mohon bimbingannya juga.”
“Kalau begitu, kami berdua akan masuk ke dungeon. Ryo, Amon, semoga sukses dengan kuliah kalian juga, ya.”
Mengucapkan itu, Nils dan Eto pun berangkat menyelam ke dalam dungeon.
Sarapan pagi mereka santap bersama di ruang makan yang terhubung dengan guild. Rasanya tidak kalah dengan hidangan di Penginapan Gelombang Emas, bahkan bisa dibilang sangat lezat. Terlebih lagi, harganya murah meriah, sungguh patut disyukuri.
Bahkan ada kebebasan untuk mengambil porsi tambahan sesuka hati.
Baik sarapan di penginapan maupun sarapan di ruang makan guild, kenyataan bahwa keduanya menyediakan makanan sepuasnya adalah anugerah besar bagi Ryo. Rasanya mirip dengan buffet sarapan di hotel bisnis di Bumi.
Sarapan memang amatlah penting.
Ryo dan Amon makan dengan lahap, lalu menuju ruang kuliah di lantai tiga gedung utama guild. Ruangan itu menyerupai auditorium universitas, dengan bangku yang tersusun bertingkat semakin tinggi ke arah belakang. Jam hampir menunjuk pukul 09.00, tinggal lima menit lagi lonceng akan berdentang, namun baru ada sekitar sepuluh orang di dalam. Keduanya duduk di barisan kedua dari depan.
Jumlahnya lebih sedikit dari yang kukira.
Namun dalam lima menit terakhir, hampir dua puluh orang masuk, hingga akhirnya sekitar 30 peserta duduk di kursi masing-masing.
Dengan begitu, dimulailah kuliah khusus pemula dungeon yang akan berlangsung selama lima hari.
“Mustahil itu bisa terjadi!”
Saat Ryo bersama Amon mengikuti kuliah pemula, para anggota Pedang Merah tengah berada di ruang makan guild.
Awalnya, mereka hanya hendak membicarakan jadwal esok hari, namun obrolan bergeser ke kisah kembalinya Abel, lalu ke soal sihir atribut air milik Ryo.
“Tapi, meski kamu bilang mustahil... Faktanya itu memang terjadi.”
Ketika Abel menjelaskan tentang sihir Ryou, dia langsung dibantah mentah-mentah oleh Lynn, penyihir angin.
“Memang benar ada sihir bernama Ice Wall dalam elemen air. Tapi itu tipis sekali, sampai-sampai bisa ditebas dengan Air Slash elemen angin. Itu saja sudah jelas. Dan kamu bilang tembok es itu bisa diciptakan di udara, lalu dijatuhkan dari sana? Itu sama sekali tak masuk akal!”
Lynn menegaskan dengan garpu di tangannya.
“Dengar ya. Sihir itu hanya bisa dipanggil di sekitar penggunanya. Entah itu atribut air, angin, bahkan api—semuanya sama saja. Jadi mustahil menciptakan sihir atau memunculkan fenomena sihir jauh dari posisi penggunanya.”
“Ah, iya...”
Abel tak bisa berkata apa-apa menghadapi aura menekan Lynn.
“Sudahlah, Lynn. Tenangkan dirimu sedikit. Bagaimanapun, setidaknya begitulah yang terlihat oleh Abel, bukan?
Rihya menenangkan Lynn yang terbakar semangat sambil tersenyum kecut.
“Tapi kamu juga tahu kan? Sihir hanya bisa diciptakan dekat dengan penggunanya. Itu hukum paling dasar. Tapi Abel ini...”
“Benar juga. Bahkan sihir cahaya pun hanya bisa dibuat di sekitar pengguna. Untuk menyembuhkan pun hanya bisa dilakukan pada yang berada di dekatnya. Kalau bisa menyembuhkan orang dari kejauhan, tentu akan sangat praktis... Tapi jelas itu mustahil.”
Rihya mengangguk sambil menimbang-nimbang.
“Ya begitulah... Pokoknya, saat itu memang terjadi. Dan batu sihir kuning ini kudapat dari golem waktu itu.”
Abel lalu menunjukkan batu sihir kuning sebesar telapak tangan, hasil dari Rock Golem.
“Tapi ini benar-benar batu sihir yang besar. Jadi, apa yang akan kamu lakukan dengan itu?
“Sebenarnya Ryo bilang, karena aku yang mengalahkannya, maka aku boleh melakukan apa saja mengenai batu ini...”
Memang benar Abel yang menumbangkan Rock Golem itu dengan tendangan, lalu mengambil batu sihir tersebut.
“Aku tahu, kamu merasa tidak enak pada Ryo. Tapi untuk batu sebesar ini, pasti pihak kerajaan akan menginginkannya. Dan tentu saja, tidak mungkin hanya dijual lalu hasilnya dibagi dua, kan?”
“Itu dia masalahnya...”
Abel menghela napas dalam.
“Hmm? Tapi kalau dipersembahkan ke kerajaan, bukannya akan diberi bayaran? Nah, separuh uang itu tinggal diberikan ke Ryo saja, kan?”
Lynn ikut menyela, seolah tak mengerti apa yang sulit dari situ.
“Memang bisa dapat uang, tapi harus ada laporan siapa saja yang menerima bagian itu. Dan di situ, aku akan terpaksa menyebut nama Ryo... Memang benar dia sudah terdaftar di guild petualang kota Lung, tapi bukan berarti dia bersumpah setia pada Kerajaan Knightley. Dengan bakat sehebat itu, bisa jadi para bangsawan akan berusaha menariknya ke pihak kerajaan.”
“Kalau pun cerita Abel dilebih-lebihkan, usaha untuk merekrutnya pasti tetap ada. Tapi, apa buruknya kalau memang begitu?”
Lynn mengangguk-angguk sambil mengajukan pertanyaan.
“Jadi, tidak ada sedikit pun kepercayaan padaku... Tapi memang benar, kalau Ryo menolak dan tidak mau terikat, maka orang sehebat dia bisa saja meninggalkan Lung, bahkan pindah ke negeri lain...”
“Ah, ya, itu jelas kerugian besar bagi kota Lung. Dan karena Lung berada dalam wilayah Kerajaan Knightley, tentu itu juga kerugian besar bagi kerajaan. Terutama kalau sampai dia pergi ke pihak Kekaisaran. Itu yang paling buruk.”
“Tidak, mustahil dia pergi ke Kekaisaran.”
Hanya dalam hal itu, Abel bisa menyatakan dengan yakin.
“Kenapa kamu begitu yakin bukan Kekaisaran?”
“Iya, kalau bicara lawan kerajaan, bukannya Kekaisaran yang paling mungkin?”
Rihya dan Lynn serempak mengajukan pertanyaan.
“Nama resmi Kekaisaran itu Kekaisaran Debuhi.”
Mendengar penjelasan Abel, keduanya mengangguk-angguk.
“Ryo bilang, nama negara Debuhi terdengar jelek. Karena itu, dia tidak suka Kekaisaran. Jadi dia pasti tidak akan ke sana.”
“...Hah?”
Rihya dan Lynn jelas tidak bisa memahami logika itu.
Hanya karena nama negaranya terdengar buruk, maka dia tidak akan ke sana.
Meski sulit dimengerti, tapi mungkin itu prinsip yang tak bisa ditawar bagi Ryo...
Abel entah kenapa merasa yakin akan hal itu.
“Selama Abel tidak ada, kami tidak turun ke dungeon, kami hanya mengerjakan beberapa permintaan di permukaan. Itu pun hanya yang benar-benar tak bisa ditolak.”
“Ah, maafkan aku, semuanya.”
Abel menundukkan kepala.
“Yang penting kamu bisa kembali dengan selamat. Dan soal bayaran dari misi itu, sudah kubagi empat sama rata dan masukkan ke rekening masing-masing. Coba periksa nanti.”
“Tidak, aku kan tidak ikut dan malah merepotkan. Seharusnya kalian bertiga saja yang dapat bagian.”
“Apa-apaan, tentu tidak bisa begitu.”
“Betul.”
Lynn ikut mengangguk, dan Warren yang sejak tadi diam hanya memberikan anggukan singkat.
“Baiklah... Ah, benar juga, aku juga ada pemasukan. Dalam perjalanan pulang, aku sempat menumbangkan monster. Memang aku tak sempat mengambil batu sihir atau materialnya, tapi batu sihir wyvern sempat kuambil. Itu sudah kutitipkan pada guildmaster untuk dijual. Begitu uangnya masuk ke rekening, akan kubagikan juga.
“...Apa?”
“...Wyvern?”
“...”
Ketiganya sama sekali tak bisa langsung mencerna kata-kata itu.
Dan wajar saja.
Wyvern adalah jenis monster yang baru bisa dikalahkan setelah mengumpulkan lebih dari 20 petualang peringkat C. Dan mereka berhasil menumbangkan monster seperti itu...
“Abel, apa kamu sempat membantu menaklukkan wyvern di perjalanan?”
Rihya melontarkan pertanyaan yang wajar.
“Tidak. Seperti yang tadi kukatakan, aku kembali dengan melintasi Pegunungan Neraka. Nah, sisi selatan gunung itu ternyata menjadi sarang wyvern. Jadi, kami terpaksa melawan mereka sambil kembali. Lagipula, menumbangkan wyvern lalu tidak mengambil inti sihirnya itu terlalu sayang, jadi khusus wyvern, kami pungut inti sihirnya.”
“Jadi maksudmu... Hanya kamu dan Ryo berdua yang menumbangkan wyvern?”
Membayangkan pemandangan itu saja membuat wajah Rihya dan Lynn seketika pucat.
“Ya. Ryo menembus sayapnya dengan tombak es, lalu saat jatuh, aku menancapkan serangan menembus mata hingga tembus sempurna.”
“Menembus sayap? Tapi wyvern punya lapisan pelindung angin yang menyelimuti seluruh tubuhnya. Sihirnya seharusnya terpental, bukan...?”
Lynn bergumam dengan wajah tak percaya, seakan bertanya pada dirinya sendiri.
“Hmm? Benar juga ya. Tapi entah bagaimana, tombak es itu berhasil menembusnya.”
Abel ikut mengerutkan kening.
“Sihir sekuat itu... Bahkan Guru Hilarion pun tak mungkin bisa melakukannya.”
Lynn menggelengkan kepala, menyangkal.
“Benar. Orang yang bisa melakukan hal seperti itu mungkin hanya penyihir legendaris yang disebut Penyihir Ledakan Api.”
“Ya, Penyihir Ledakan Api dari Kekaisaran...”
Baik Rihya maupun Lynn hanya mendengarnya sebatas rumor.
Katanya, dengan sekali serang, dia mampu membakar hidup-hidup seribu prajurit Kerajaan.
Katanya, dengan sekali serang, dia mampu membuat seekor wyvern meledak berkeping-keping.
Katanya, dengan sekali serang, dia mampu melenyapkan kota yang dipertahankan pasukan pemberontak.
Terus terang, mendengar itu saja sudah sulit dipercaya, itulah kesan Rihya dan Lynn... Namun, setidaknya kabar bahwa dia benar-benar membakar seribu prajurit Kerajaan adalah fakta yang tak terbantahkan. Dengan demikian, jelas dia penyihir yang amat mengerikan.
“Penyihir Ledakan Api... Dia adalah orang yang sama sekali tak ingin kutemui di medan perang.”
Abel, setelah berkelana bersama Ryo, akhirnya merasakan dalam-dalam bahwa penyihir adalah lawan yang tak boleh dihadapi.
Sebelumnya, dia tak pernah merasa demikian. Lynn, rekan satu kelompoknya, bisa dibilang salah satu penyihir berlevel tinggi di Kerajaan. Namun, bahkan bila harus berhadapan dengan Lynn sekalipun, Abel yakin bisa menumbangkannya tanpa kesulitan berarti.
Bahkan melawan salah satu penyihir terhebat Kerajaan, si Kakek Tua Hilarion, Abel tahu itu akan menjadi pertempuran sulit. Namun, pada akhirnya dia tetap percaya dirinya lah yang akan berdiri tegak.
Tapi Ryo berbeda. Dia merepotkan.
Pertama, dia bisa menciptakan sihir tanpa perlu mantra.
Entah untuk apa, kadang-kadang dia justru memilih melafalkan mantra terlebih dahulu. Namun, bahkan Abel sadar kalau mantranya asal-asalan.
Mungkin hanya karena ingin terlihat keren atau alasan konyol lainnya.
Dan tebakan itu benar adanya.
Meski begitu, Ryo tetap bisa menghasilkan sihir tanpa mantra, dan kecepatan ciptanya tak masuk akal. Jika dia membuat tembok es itu, Abel sendiri tak yakin teknik andalannya, Tusukan Penuh, mampu menghancurkannya. Apalagi, dari balik tembok es, Ryo masih bisa menyerang dengan tombak es.
Itu benar-benar tak adil!
Di tahap itu saja, Abel sudah tak menemukan cara apa pun untuk mengalahkannya.
Lebih parah lagi, sesampainya di kota ini, Ryo dengan enteng berkata, “Aku juga bisa bertarung jarak dekat.”
Aku lagi gak bercanda. Hanya kemampuan sihirnya saja aku tak bisa menemukan celah, sekarang dia bilang juga ahli dalam pertarungan jarak dekat... Ya, tak salah lagi, Ryo adalah eksistensi di luar batas. Dia sendiri adalah anomali luar biasa.
Dan di Kekaisaran, katanya, ada seorang lagi penyihir yang berada di luar batas.
Penyihir Ledakan Api.
Ya... Penyihir adalah lawan yang sama sekali tak boleh dijadikan musuh.
Previous Chapter | ToC |




Post a Comment