NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 10

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 10

Di Atas Gunung

Rangkaian gunung raksasa menjulang di hadapan Ryo dan Abel.

Hal pertama yang terlintas di benak Ryo saat melihatnya adalah Himalaya. Pegunungan yang memisahkan anak benua India dengan daratan Eurasia. Gunung tertinggi di dunia, Everest—dalam bahasa Tibet disebut Chomolungma, puncak para dewa.

Di sanalah, seandainya ini adalah Bumi, manusia akan mencoba melakukan pendakian tanpa oksigen, sesuatu yang amatlah sulit. Terlebih lagi, tanpa perlengkapan yang memadai. Namun, bahkan di Bumi sekalipun, ada seorang biksu agung Nepal yang pernah bertahan 32 jam di puncak Everest, dan 11 jam di antaranya tanpa tabung oksigen.

Kalau begitu... Bagi seseorang yang telah ditempa oleh Phi, seharusnya mendaki tanpa oksigen bukanlah hal mustahil... Mungkin. 


Ada satu hal yang membuat Abel heran—daya tahan tubuh Ryo.

Abel adalah seorang petualang peringkat B sekaligus seorang ahli pedang. Staminanya, termasuk daya tahan, jelas berada di jajaran teratas umat manusia.

Namun Ryo, seorang penyihir, mampu mengimbanginya tanpa masalah. Memang, tak bisa disamaratakan, tetapi secara umum, penyihir bukanlah orang-orang yang memiliki stamina yang tinggi. Bahkan jika mereka adalah petualang, dibandingkan dengan pengguna pedang, tubuh mereka jauh lebih rapuh.

Kenyataannya, Lynn, rekan Abel yang seorang penyihir angin, sangat parah kondisinya. Terutama dalam hal ketahanan, bahkan bila dibandingkan dengan seorang pendeta di kelompok yang sama, dia jauh lebih buruk.

Namun...

Namun Ryo berbeda. Dia bisa mengikuti ritme perjalanan Abel tanpa kesulitan, bahkan tanpa berkeringat. Dan sekalipun langsung masuk ke dalam pertempuran setelah itu, dia tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Untuk seorang penyihir, bisa dibilang ini adalah sesuatu yang tidak wajar. 

“Ryo.”

“Ada apa, Abel?” 

Ketinggian mereka masih bisa disebut kaki gunung. Tidak ada alasan untuk mengurangi percakapan demi menghemat oksigen.

“Ryo, walau kamu ini penyihir, staminamu lumayan juga.” 

Mendengar itu, Ryo menyunggingkan senyum penuh percaya diri.

“Kamu sadar juga ya, Abel. Saat hidup sendiri, aku banyak melatih staminaku. Aku bahkan bisa bertarung selama 5 jam penuh tanpa masalah.”

“Tidak, sebentar. Bukannya energi sihirmu bisa habis?”

Kamu kan seorang penyihir, sanggah Abel dalam hati. 

“Yah, intinya aku percaya diri dengan staminaku. Jadi, jangan khawatir soal aku, cukup berjalan dengan tempomu sendiri, Abel.”

“Wow, percaya diri sekali kamu.”

“Tentu saja. Ahli pedang peringkat B biasa pun, jelas bukan tandinganku.” 

Entah kenapa, Ryo malah memancing.

“Heh, kalau kamu menantang, ayo saja! Aku terima tantanganmu.”

Abel pun terpancing.

“Hmph, sekalipun kamu berdiri dengan kedua tangan penuh daging kering, sama sekali gak bikin aku takut.”

“Kamu juga sama!” 

Dengan canda bodoh semacam itu, keduanya terus melangkah menuju pegunungan.


Saat matahari hampir mencapai titik tertinggi, mereka berdua merasakan tekanan luar biasa.

“Apa itu...” Abel menoleh ke kiri dan kanan. 

Namun, jawabannya turun dari langit.

“Griffon...” 

Hanya dengan kata itu, tubuh Abel seketika membeku.

Ryo pun sama, tertundukkan oleh aura dan kehadiran Griffon yang begitu mendominasi, tak sanggup bergerak sedikit pun.


Griffon.

Sang Penguasa Langit, Malaikat Maut di Angkasa, Yang Merajai Cakrawala... Memiliki banyak julukan sebagai penguasa mutlak di langit. Jika di darat ada Behemoth yang berkuasa, maka di udara, tak lain adalah Griffon. Makhluk mengerikan dengan tubuh atas elang dan tubuh bawah singa. Panjang tubuhnya mungkin sekitar 10 meter. Tapi ukuran bukanlah hal penting—di hadapan keberadaannya yang luar biasa, angka itu tak lagi berarti.

Dan kini, makhluk itu turun tepat di depan mereka, menatap keduanya tanpa berkedip. 

20 detik berlalu sebelum akhirnya Ryo tersadar kembali.

Tiba-tiba terlintas ide di benaknya, dia perlahan melemparkan daging kering di tangan kanannya ke arah Griffon. 

Pak!

Dengan paruhnya, Griffon menangkap daging itu dengan sempurna, lalu memakannya dengan cekatan. 

Melihat itu, Abel juga mulai sadar.

Ryo kemudian melemparkan daging kering di tangan kirinya. Kali ini Griffon membuka mulut lebar-lebar, menangkapnya langsung dengan rahang, lalu mengunyahnya perlahan. 

Begitu selesai, tatapan Griffon berpaling jelas ke arah daging kering di tangan Abel.

“Abel, daging kering.” 

Ryo berbisik pelan, cukup agar Abel mendengarnya.

Abel, tergerak oleh dorongan itu, melemparkan daging keringnya dari tangan kanan dan kiri. 

Griffon melahap semuanya, lalu, seolah merasa puas, mengepakkan sayapnya sekali, terbang tinggi, dan lenyap entah ke mana.


Keduanya lama tak bisa bergerak.

Barulah 5 menit setelah Griffon pergi, gelombang suara keluar dari mulut mereka. 

“Abel, kita beruntung masih hidup.”

“Benar.” 

Mereka duduk di bawah akar pohon besar, berusaha menenangkan diri.

“Meski begitu, berani juga kamu melemparkan daging kering itu.”

Abel memuji keputusan cepat Ryo.

“Setidaknya, aku ingin menunjukkan bahwa kita bukan musuhnya. Kebetulan aku sedang memegang daging kering. Lagipula, aku yakin Griffon bukanlah pembenci daging.”

“Luar biasa, pilihan yang tepat.” 

Abel memuji tanpa ragu, membuat Ryo jadi malu.

“Meski begitu... Sungguh luar biasa kehadirannya.”

“Ya, benar-benar mengerikan. Behi-chan juga hebat, tapi waktu itu posisinya jauh. Sekarang, dia muncul tepat di depan mata...”

“Untung saja dia tidak menjadi lawan.”

“Kalau sampai dia jadi musuh kita, jelas mustahil kita bisa menang.” 

Ryo mengangguk-angguk kecil.

“Itu bukan lawan yang bisa dihadapi manusia...”

“Daripada melawan Griffon, aku lebih pilih menghadapi 6 ekor Wyvern sekaligus.”

“Tidak, dua-duanya sama-sama buruk.” 

Kebetulan sudah waktunya makan siang, jadi mereka mengeluarkan daging kering dari tas dan mulai makan. Meski begitu, mereka tetap menoleh ke sekeliling, berjaga-jaga.

Kalau tiba-tiba Griffon itu kembali, bisa jadi bencana. 

“Behi-chan, Griffon... Ada begitu banyak monster di dunia ini, ya.”

Ryo bergumam, merasa sedikit lega.

“Behemoth, begitu juga Griffon, sudah ratusan tahun tak ada laporan manusia yang melihatnya. Wilayah ini jelas sangat tidak biasa.”

“Menyebutnya tidak biasa, apa itu tidak berlebihan? Mungkin manusia saja yang kurang berusaha.”

“Berusaha apanya!” 

Akhirnya, mereka bisa bercanda lagi.

“Kurasa pegunungan utara itu yang jadi penghalang agar Behemoth maupun Griffon tidak masuk ke wilayah manusia.”

“Benar juga. Apalagi, di daerah sini makanan berlimpah, jadi mereka tak perlu repot-repot menyeberang gunung.”

“Bahkan bagi Griffon sekalipun, melewati pegunungan itu pasti sangat berat.”

“Dan meskipun begitu, masih ada seorang ahli pedang yang ingin menyeberanginya...”

Ryo menghela napas panjang, jelas ingin menyindirnya.

“Maafkan aku! Tapi mau bagaimana lagi. Aku memang terdampar dari laut, tapi tak mungkin aku kembali lewat laut.” 

Karena di laut, ada Kraken.

“Di darat ada Behi-chan, di laut ada Kraken, di udara ada Griffon... Darat, laut, udara, lengkap sudah.”

“Lengkap-lengkap matamu!”


Pada sore hari di mana mereka bertemu dengan griffon, keduanya kembali menghadapi masalah yang tidak kalah merepotkan.

Sambil bersembunyi di balik sebuah batu besar, mereka hanya berani sedikit menampakkan kepala untuk mengintip ke depan. Di sana, ada dua ekor wyvern yang tengah mencabik-cabik sesuatu yang sepertinya seekor babi hutan. 

“Ini semua karenamu Abel. Wyvern-wyvern itu beneran datang dari sana.”

“Aku tidak pernah mau ini terjadi!” 

Keduanya berbisik tajam. 

“Tidak ada jalan untuk memutar. Apa kita tunggu saja sampai mereka selesai makan?”

“Sepertinya mereka akan menyadari keberadaan kita lebih dulu. Lagi pula, tidak ada jaminan kalau tidak akan muncul wyvern yang ketiga.”

“Ryo... Jangan bilang kamu berniat melawan mereka?” 

Abel menatap Ryo dengan wajah masam. 

Dan reaksi itu wajar saja.

Biasanya, untuk menaklukkan seekor wyvern saja dibutuhkan setidaknya 20 petualang kelas C atau lebih, dengan banyak penyihir atribut api yang memiliki daya serang tinggi. Semakin banyak, semakin baik. Dan sekarang? Hanya seorang ahli pedang dan seorang penyihir atribut air? Melawan dua ekor sekaligus? 

Itu sama saja mau cari mati. 

“Mungkin di depan nanti, kita akan sering bertemu dengan wyvern. Kita tidak bisa menghindari pertarungan. Jadi, melawan mereka di sini—saat hanya ada dua ekor—aku rasa bukan hal buruk.”

“Bukan ‘hanya dua ekor’, tapi ‘sudah dua ekor’, lebih tepatnya...”

Meski begitu, Abel tahu ada benarnya juga perkataan Ryo.

Wyvern yang menyerang Behemoth kemarin jumlahnya enam ekor. Dibanding itu, dua ekor saja seharusnya...

Dia buru-buru menggeleng keras.

“Seekor saja udah merepotkan.”

Dia mengucapkannya lantang, untuk mengusir pikiran aneh yang sempat terlintas. 

“Tapi tetap saja...”

Ya, tetap saja.

Mereka sudah memutuskan untuk menyeberangi pegunungan ini agar bisa kembali ke kota. Cepat atau lambat, mereka pasti harus menghadapi wyvern.

Mereka sudah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Bukan hanya Behemoth yang dikerubungi, tapi sekarang juga ada dua ekor wyvern tepat di depan mata. Hampir bisa dipastikan bahwa wyvern bertebaran di seluruh pegunungan ini. 

“Sepertinya memang tidak ada pilihan lain.” 

Abel pun membulatkan tekadnya. 

“Kalau kita harus mengalahkan dua ekor itu, bagaimana caranya?”

“Kalau mereka sudah dipaksa turun ke tanah, apa mereka tetap menyulitkan?”

“Tidak juga. Kalau di darat, mereka masih bisa melepaskan tebasan angin dari sayapnya, tapi mereka tidak bisa menggunakan Sonic Blade. Cakar melengkungnya memang berbahaya, dan tubuhnya dilindungi sihir angin, jadi dengan pedang sulit untuk menembusnya. Tapi matanya tidak terlindungi. Jadi, selama mereka ada di darat, kita bisa membidiknya. Daripada mereka terbang yang sulit untuk diraih dengan pedang, jelas di darat jauh lebih mudah.” 

Mendengar itu, Ryo berpikir sebentar, lalu mengangguk mantap.

“Untungnya, aku punya sihir atribut air yang tepat untuk itu.”


Abel segera menarik pedang dan bersiap menerjang kapan saja.

“Kalau begitu, ayo kita mulai, Abel.”

Abel mengangguk, menajamkan pandangan ke arah dua wyvern yang masih sibuk mengoyak daging babi hutan, sama sekali belum menyadari bahaya. 

“Wahai tombak es yang menembus segalanya, turunlah dari langit dan tembuslah musuhku. Icicle Lance, 4!” 

Empat tombak es terbentuk di udara, tanpa suara. Tentu saja, Ryo menambahkan mantra hanya karena terdengar keren, bukan karena itu diperlukan.

Begitu terbentuk, tombak-tombak itu segera meluncur turun, menembus masing-masing sayap wyvern, lalu menancapkannya ke tanah. 

“Gyaaaaahhh!!” 

Jeritan melengking wyvern menggema. 

Bersamaan dengan Ryo melafalkan mantra, Abel melompat keluar dari balik batu.

Di hadapannya, kedua wyvern sudah terpasak sayapnya ke tanah oleh tombak-tombak es yang tak menghilang. Mereka tidak bisa mengibaskan sayap untuk melepaskan tebasan angin, atau menyerang Abel dengan cakar. Kepala mereka pun kini berada di posisi yang bisa dijangkau pedang. 

“Sekali serang. Jurus: Tusukan Penuh.” 

Pedang merah berkilau menembus mata kiri wyvern pertama, merobek bola matanya hingga mencapai otak. Wyvern itu roboh tanpa sempat mengeluarkan jeritan terakhir.

Tanpa membuang waktu, Abel langsung menancapkan pedang merah yang sama ke mata kanan wyvern kedua. 

“Guhhh...”

Wyvern itu sempat mengeluarkan suara parau terakhir, lalu jatuh tak bernyawa. 

Begitu semua berakhir, kemenangan mereka sungguh mutlak. 

“Gabungan Icicle Lance lalu terjangan Abel... Ya, ini kombinasi yang bagus untuk dipakai lagi.”

“Benar, mengejutkan sekali betapa mudahnya tadi.”

“Jadi kamu merasa tidak puas? Kamu ingin pertarungan berdarah, jiwa saling menggerus, pertaruhan hidup mati di ujung tanduk? Baiklah, aku catat.” 

Ryo pura-pura menulis catatan di udara. 

“Tidak, tunggu! Pertarungan tadi sudah sempurna! Luar biasa! Kita terus gunakan cara ini!” 

Abel buru-buru meraih kedua bahu Ryo, mengangguk-angguk keras sambil memuji. 

“Kalau begitu, kita lanjut dengan cara ini.”

“Bagus. Oh ya, sejauh ini kita tidak ambil apa pun karena monsternya tidak seberapa. Tapi wyvern berbeda. Kita sebaiknya ambil batu sihirnya. Harganya bisa luar biasa tinggi.” 

Sambil berkata begitu, Abel langsung menusukkan pisau ke bagian dada dekat jantung wyvern. 

“Kalau begitu, aku urus yang satunya.” 

Ryo berjalan ke arah wyvern kedua.

Dah lama juga, akhirnya pisau buatan Mikael bakal unjuk gigi lagi... Itulah pikir Ryo, tapi dia menyimpannya dalam hati. 

Benar juga, di buku Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula yang Michael palsu siapkan, wyvern memang tidak ada. Wajar kalau Behemoth dan Griffon tidak masuk, tapi ternyata wyvern pun tidak dianggap level pemula, ya... 

Sambil berpikir begitu, Ryo mengeluarkan batu sihir dari dalam tubuh wyvern. 

“Lumayan besar juga.” 

Tidak sebesar batu sihir golem, tapi tetap sebesar kepalan tangan, berwarna hijau tua indah berkilauan. 

Kalau ini benar-benar zamrud, mungkin nilainya puluhan juta yen... 

Itu hanya perkiraan iseng dari Ryo. 

“Ya, ini kualitas tinggi. Ukuran dan warnanya saja sudah cukup membuat harganya selangit.”

“Itu kalau kita berhasil sampai ke kota.”

“Ugh... ” 

Komentar singkat Ryo menusuk hati Abel. 

“Untuk amannya, masing-masing kita bawa satu. Aku juga punya tas, jadi tidak masalah.” 

Dengan begitu, keduanya kini memiliki cara yang aman dan cepat untuk mengalahkan wyvern.


* * *


Walau gunung-gunung itu setinggi 7.000 meter. Namun, itu bukan berarti mereka harus mendaki sampai ketinggian 7.000 meter untuk menyeberangi pegunungan ini. Aliran air dari salju yang mencair mengikis sebagian jalur, menjadikannya lebih rendah, dan jalur seperti itu kadang terbentang hingga ke kaki gunung.

Meski begitu, Ryo memperkirakan mereka tetap harus mendaki setidaknya sampai ketinggian 4.000 meter. Pada ketinggian 4.000 meter... Mungkin saja mereka masih aman dari penyakit ketinggian. 

Namun, di sepanjang jalan, mereka terus-menerus diserang.

Ya, oleh wyvern. Pegunungan ini bisa disebut sarang wyvern, saking banyaknya yang hidup di sini. 

Setelah menumbangkan dua ekor di kaki gunung, Abel seakan kehilangan kendali dalam menghadapi wyvern. Dia bersumpah untuk membunuh semua yang muncul di hadapan mereka.

“Kamu ini memang gila tarung...”

“Diam! Toh mereka akan menyerang kita, jadi tidak ada bedanya melawannya sekarang atau nanti. Lagi pula, meski kita membunuh mereka yang datang, masih banyak wyvern di seluruh pegunungan ini. Jadi ayo kita hajar habis-habisan sambil jalan!” 

Wyvern yang menyerbu ditusuk Ryo dengan Icicle Lance hingga sayapnya terpaku ke tanah, lalu Abel menusuk mata mereka dengan pedangnya, langsung menghancurkan otak. Dengan kombinasi itu, banyak wyvern yang mereka binasakan.

Yang memakan waktu justru pengambilan batu sihir, lebih lama daripada pertarungannya.

Isi tas mereka yang awalnya berkurang karena daging kering yang dimakan, kini terisi kembali oleh batu sihir wyvern dengan kecepatan yang hampir sama.


Begitu mereka mencapai ketinggian sekitar 3.000 meter, serangan wyvern berhenti. Yang menggantikan bahaya kali ini adalah dingin yang menusuk tulang.

Namun, berkat mantel dan perlengkapan lain yang mereka peroleh dari babi hutan, keduanya tidak terlalu menderita. Akhirnya mereka mencapai punggungan, dan melihat tanah di sisi utara pegunungan itu.

Mereka tiba di salah satu jalur terendah, dan itu terjadi tepat tujuh hari setelah mereka menumbangkan wyvern pertama. 


“Kita akhirnya sampai di punggungan juga.”

“Ya. Cuaca cerah membuat pemandangannya luar biasa.”

Seperti kata Abel, pemandangan itu sungguh menakjubkan.

Sedikit menengadah, langit biru membentang tanpa batas. Mengarahkan pandangan ke depan, horizon tempat biru langit bertemu dengan hijau tanah luas.

Namun di tepi kanan pandangan mereka, sesuatu bergerak.

Saat Ryoumelirik, dia melihat sosok wanita bertelanjang dada... Terbang di udara. Tapi lengannya berbentuk sayap, dan kakinya menyerupai burung pemangsa.

“Abel... Ada wanita aneh datang ke arah kita.”

“Hah?” 

Ryo menunjuk ke kanan, Abel menoleh, lalu wajahnya menegang.

“Harpy...”

Yang mendekat bukan manusia, melainkan monster. Dan mereka datang bergerombol.

“Abel, dari arah kiri juga ada...”

Saat Ryo menunjuk ke sisi lain, sekawanan harpy juga datang dari sana.

“Ryo, lihat baik-baik... Mereka juga ada di depan dan belakang.”

Abel berbisik sambil menyapu pandangan ke sekeliling.

“Aku melihatnya...” 

Tanpa sadar, mereka sudah terkepung. Seekor harpy menerjang Abel.

Pedang menebas secepat kilat.

Abel menarik pedang dari sarungnya dan menebas harpy itu dalam sekali ayunan, lalu segera bergeser ke sisi Ryo. 

“Ice Wall, 5 Lapis.”

Ryou langsung menegakkan dinding es yang melingkupi mereka berdua. Abel memang sudah mengantisipasi langkah itu, makanya dia bergerak mendekat. Setelah sebulan lebih menjelajah bersama, kerja sama mereka sudah jauh meningkat. 

“Harpy menyerang dengan mencakar dinding ini pakai kaki mereka...”

Di luar, kawanan harpy mengepak di udara sambil menendang keras dinding es dengan cakar burung pemangsa mereka. Namun perhatian Abel justru tertuju pada hal lain: bangkai harpy yang baru saja dia tebas.

“Mereka... Memakan rekannya yang mati...”

“Ya... Mereka mencabik-cabiknya.” 

Pemandangan menjijikkan itu seolah membuka secercah ide di benak Ryo.

“Icicle Lance, 8.” 

Delapan tombak es muncul di luar dinding, menusuk delapan harpy sekaligus, membuat mereka lumpuh. Seketika kawanan lainnya berbalik menyerang yang terkapar itu. Rupanya, rasa lapar mereka lebih kuat daripada rasa takut. 

“Pemandangan yang sangat mengerikan sedang berlangsung.”

“Dan orang yang menciptakannya malah berkata dengan nada datar, seakan tidak peduli.”

“Itu hanya perasaanmu.” 

Abel hanya bisa mendesah, sambil melirik dengan enggan kawanan harpy yang kini saling memangsa. 

“Kalau kita ulang terus cara ini, mungkin kita bisa berhasil?” 

Saat Abel berbisik, pekikan tajam melengking memecah udara. Seketika, kawanan harpy yang tadi mencabik-cabik bangkai berhenti dan terbang menjauh.

Mereka turun ke tanah, mengepung lingkaran lebih rapat di sekitar Ryo dan Abel yang masih terlindungi dinding es. Jumlahnya sekitar 40 ekor. 

Barisan itu terbelah, dan dari belakang muncul seekor harpy yang berbeda. Tubuhnya hitam pekat dari kepala sampai kaki, matanya merah menyala, dan sayapnya berkilau seperti diselimuti serbuk emas. 

“Itu jelas bosnya...”

Ryo berbisik, tapi Abel hanya menatap terdiam, matanya terbelalak.

“Abel?”

“Ah, iya. Itu tampaknya Harpy Queen. Aku sendiri cuma pernah dengar dari rumor...” 

Begitu Abel selesai bicara, sang ratu mengepakkan sayap kanannya.

Tanpa berpikir, Ryo dan Abel langsung menunduk. Itu bukan hasil logika, melainkan naluri. 

Sreeeet. 

Serangan tak kasat mata menghantam. Dinding es terbelah, angin tajam melintas di atas kepala mereka. 

“Satu tebasan itu bisa menembus Ice Wall 5 Lapis...”

Ryo menatap Harpy Queen dengan wajah campuran terkejut dan geram. 

“Ryo...”

Abel memandangnya khawatir. Wajar saja—mereka terkepung 40 harpy, ditambah seekor ratu yang mampu mematahkan pertahanan mereka dengan sekali serang. 

“Tapi, justru momen menyerang itulah kesempatan kita untuk melawan. Ice Wall Package, 5 Lapis.” 

Ryo kembali memunculkan dinding es. Ekspresi Harpy Queen berubah ragu—seolah tak percaya dinding yang baru saja dia hancurkan muncul lagi. 

“Skakmat” 

Begitu Ryo berbisik, ratusan tombak es muncul di langit tanpa suara, lalu jatuh bebas seperti hujan maut.

“Gyaaaaaaahhhh!” 

Jeritan panik menggema. Kawanan harpy meronta dalam pusaran kematian. 

Sambil menghindari serangan angin tak kasat mata, Ryo menciptakan 256 Icicle Lance di ketinggian, lalu menjatuhkannya. 

Dinding es kali ini bukan untuk bertahan, melainkan untuk melindungi mereka berdua dari hujan es buatan sendiri. 

Saat semua selesai, kawanan harpy telah tumbang. Yang tersisa hanya sang Harpy Queen. Meski masih berdiri, sayap emasnya rusak parah, mustahil dia bisa terbang lagi. Wajahnya dipenuhi kebencian. 

“Biar aku yang menghabisinya.” 

Abel berkata mantap, matanya tak lepas dari sang ratu, seolah ingin menanggung kebencian itu seorang diri.

Ryo mengangguk dan menghentikan dinding es. Abel maju perlahan dengan pedang di tangan. Bagi mata awam, langkahnya terlihat santai. Namun sejatinya, setiap urat tubuhnya tegang, bersikap waspada. 

Dan benar saja... 

Saat jaraknya tinggal setengah dari posisi Ryo, Harpy Queen bergerak sangat halus. Tapi Abel menangkapnya. 

“Jurus Pedang: Ketiadaan Jejak.” 

Tubuh Abel seakan bergeser samar.

Dia menghindari serangan tak kasat mata, lalu secepat kilat mendekat, masuk ke dalam jarak serang. 

Dengan satu tebasan yang menyilang.

Dia memenggal kepala ratu. 

“Luar biasa.” 

Ryo mengangguk sekali, memuji Abel dengan tulus.


Setelah itu, tanpa ada masalah berarti, keduanya mulai menuruni gunung.

Pertarungan tadi memang tidak berlangsung lama, namun sekalipun singkat, rasa lelah tetap menumpuk. Nyawa yang terus berada dalam bahaya saja sudah cukup untuk membuat tenaga tubuh manusia terkuras. 

“Untuk sementara, kita istirahat di dekat pohon itu.”

Meski keduanya seakan memiliki stamina tanpa batas, tetap saja istirahat yang cukup diperlukan. 

“Sepertinya besok kita sudah bisa turun sepenuhnya dari gunung ini... Tapi kita tidak tahu ke arah mana.”

“Benar juga. Bagaimanapun, kita harus mencari kota atau desa terdekat untuk memastikan di mana sebenarnya kita berada.”

“Ya. Semoga kita masih di dalam wilayah Kerajaan Knightley, tapi ada kemungkinan juga tidak.”

“Jangan-jangan Kekaisaran Debuhi!” 

Ryo berkata dengan wajah sangat tidak suka.

“Tidak, kekaisaran itu terletak lebih jauh ke utara dari kerajaan. Jadi kemungkinan itu tidak ada.” 

Mendengar jawaban Abel, Ryou menghela napas lega lalu meneguk air.

“Syukurlah.”

“Kenapa sih kamu sebegitu bencinya dengan kekaisaran...”

“Abel, jangan salah paham. Aku sama sekali tidak membenci kekaisaran. Yang kubenci hanyalah nama kekaisaran itu!”

“Ah iya, benar juga...”

Abel menatap Ryo dengan pandangan yang biasanya ditujukan kepada orang yang agak menyedihkan. 

“Pokoknya, besok setelah turun gunung, kita lanjut saja ke arah utara. Meski tidak ada kota atau desa, pasti ada jalan raya. Dan kalau sudah berada di jalan raya, tinggal ikuti ke salah satu arah, cepat atau lambat kita akan sampai di permukiman.” 

Setelah menyepakati rencana garis besar untuk hari berikutnya, keduanya bergantian beristirahat.


Keesokan harinya.

Pagi-pagi sekali mereka berhasil turun sepenuhnya dari gunung. Dalam perjalanan turun mereka sempat mengamati horizon, namun tak terlihat adanya kota atau desa. Karena itu, sesuai rencana, mereka bergerak ke utara hingga menemukan jalan raya. Selama perjalanan, mereka bahkan tidak bersua seekor pun monster. 

“Abel, kamu kelihatan bosan sekali.”

“Ya, karena sama sekali tidak ada monster. Berbeda sekali dengan sisi gunung yang tadi.”

“Itu justru normal. Yang tidak normal di sini.”

“Tidak, menurutku itu tetap salah, Ryo...” 

Abel menggeleng perlahan sambil menyangkal.

“Satu langkah maju sudah diserbu wyvern, di kejauhan terlihat Behi-chan, dan kalau sedikit lengah, seekor griffon bisa saja turun tepat di depan mata.”

“Sungguh, tempat macam apa itu, sisi gunung sana... Aku masih hidup sampai sekarang pun rasanya seperti mukjizat.”

“Abel, jangan lupa. Perjalanan tidak berakhir sampai kita tiba di rumah. Jangan lengah.”

“Uh, y-ya... Benar juga. Jadi itu semacam ekspedisi, ya...” 

Tatapan Abel menerawang jauh, seakan sedang merenungi perjalanan panjangnya.

Padahal semua bermula hanya dari penyusupan ke kapal penyelundup. Rasanya sudah lama sekali berlalu... Padahal kenyataannya baru sekitar satu bulan. 

“Abel, lihat. Itu jalan raya, bukan?”

Panggilan Ryo membuat Abel tersadar. Saat dia menoleh, memang benar, di sana terbentang jalan raya. 

Di zaman ini, bahkan jalan raya utama di negara-negara tengah benua pun tidak pernah diaspal. Paling jauh, hanya tanah yang dipadatkan agar kereta kuda bisa melintas.

Namun tetap saja, keberadaan jalan raya menandakan satu hal—bahwa mereka akhirnya kembali memasuki wilayah peradaban. 

“Ya, tidak salah lagi, ini jalan raya.”

Suara Abel bergetar tanpa disadarinya. 


Itu karena dia sungguh merasakan, akhirnya mereka kembali ke wilayah tempat manusia hidup.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close