NWQA9y4fvqTQ9rz5lZU0Ky7avuunQd0OpkNmfOuq
Bookmark
📣 IF YOU ARE NOT COMFORTABLE WITH THE ADS ON THIS WEB, YOU CAN JUST USE AD-BLOCK, NO NEED TO YAPPING ON DISCORD LIKE SOMEONE, SIMPLE. | JIKA KALIAN TIDAK NYAMAN DENGAN IKLAN YANG ADA DIDALAM WEB INI, KALIAN BISA MEMAKAI AD-BLOCK AJA, GAK USAH YAPPING DI DISCORD KAYAK SESEORANG, SIMPLE. ⚠️

Mizu Zokusei no Mahoutsukai V1 Part 1 Chapter 2

 Penerjemah: Chesky Aseka

Proffreader: Chesky Aseka


Chapter 2

Ke Luar Batas Penghalang

Hari ke-12 di Phi.

Akhirnya, dia berhasil menghasilkan Icicle Lance hampir seketika, dengan kecepatan yang bahkan tak sampai satu detik. Meski begitu, tombak es itu masih juga enggan meluncur.

Namun demikian, kini setidaknya ada secercah harapan. Harapan apa?

Tentu saja, harapan untuk keluar dari balik penghalang. 

Harapan itu memang muncul, tapi persiapannya belum selesai. Hal yang paling mendesak adalah memastikan cara untuk memulihkan luka.

Dalam kisah-kisah klasik tentang reinkarnasi dunia lain, jawabannya jelas, dengan ramuan. Bahan-bahan tanaman untuk membuat ramuan sudah tertulis dalam Ensiklopedia Tumbuhan: Edisi Pemula. Akan tetapi, Ryo tidak yakin bisa menyiapkan bahan selain tumbuhan.

Namun melangkah ke luar perisai tanpa sarana pemulihan apa pun bukanlah keberanian, melainkan kebodohan. 

Meski efeknya tidak setara dengan ramuan, ada tanaman yang jika ditumbuk lalu ditempelkan pada luka bisa membantu penyembuhan. Pertama-tama, dia harus mengamankan tumbuhan-tumbuhan itu dari dalam penghalang.

Jika berhasil, besok dia bisa keluar. 

Menurut Ensiklopedia Tumbuhan: Edisi Pemula, tumbuhan yang paling bisa diandalkan untuk menyembuhkan luka adalah sebuah rumput bernama Rumput Kizuguchi, namanya persis menggambarkan kegunaannya.

Katanya, penduduk biasa yang sulit memperoleh ramuan sering memakainya. 

Rumput Kizuguchi itu tumbuh tepat di belakang rumah. Begitu lebat, hingga bisa disebut hamparan.

“Luar biasa. Sesekali mengalami mode mudah seperti ini tak masalah! Seandainya saja Icicle Lance juga bisa menyelesaikan masalah dengan mudah begini...”

Kalimat yang, bila terdengar oleh delapan puluh persen penduduk Phi yang tak bisa sihir, mungkin akan menimbulkan amarah besar. 

Namun ada satu tumbuhan lagi yang ingin dia dapatkan, rumput penawar racun. Bila direbus dan diminum, rumput itu akan menetralkan racun. Sayangnya, tumbuhan itu tak ada di dalam penghalang. Dia harus mencarinya begitu melangkah keluar nanti.

Dua target utamanya di luar penghalang adalah batu api dan rumput penawar racun. Setelah itu, dia akan menentukan apakah dia mampu berburu dan memperoleh makanan. 

Senjata fisiknya hanyalah sebilah pisau yang disiapkan Michael palsu.

Pisau sepanjang dua puluh sentimeter, cukup besar untuk ukuran pisau, tetapi sebagai senjata, pisau itu memaksa penggunanya mendekat terlalu dekat pada musuh.

Jujur saja, Ryo tak yakin dirinya mampu bertarung sejauh itu. 

Jarak yang panjang lebih aman.

“Panjang tombak memberi rasa aman pada prajurit.”

Begitu kata Raja Iblis Surga Keenam, Oda entah siapa namanya... Mungkin. 

Dia memutuskan membuat tombak dari pisau itu. Bukan dengan sihir air, melainkan secara fisik.

Dia menemukan bambu, atau setidaknya sesuatu yang terlihat persis seperti bambu, lalu memotongnya sepanjang yang dia inginkan. Bambu itu saja sudah bisa dipakai sebagai tombak, tetapi karena dia punya pisau, dia membelah ujung bambu itu, menyelipkan pisau di dalamnya, lalu mengikatnya dengan sulur-sulur agar tak jatuh.

Nantinya, saat hendak keluar, dia akan memperkuat bagian itu dengan es. 

Bukan tombak enam meter ala prajurit Owari, melainkan sekitar dua setengah meter, tombak yang cukup praktis untuk digunakan.

Tiga tombak terkenal di Jepang, katanya, panjangnya luar biasa. Nihongo panjangnya 3.2 meter, Otegine panjangnya 3.8 meter, dan Tonbogiri bahkan lebih dari 6 meter. Panjang seperti itu jelas mustahil untuk Ryo yang amatir. 

Dia bisa saja memakai tombak es sebagai senjata fisik. Namun dalam pertarungan, apa pun bisa terjadi. Dalam situasi hidup-mati, belum tentu dia mampu membangkitkan es dengan tenang. 

“Baiklah, untuk hari ini cukup bersantai saja, agar besok aku siap menghadapi dunia luar.” 

Hampir setiap hari, Ryo selalu menguras sihir hingga habis sebelum tidur.

Salah satu alasannya adalah nasihat Michael, “Gunakan terus, maka kamu akan makin terlatih.” Selain itu, dia ingin berpengalaman sampai mampu menggunakan sihir selayaknya bernapas.

Namun sebenarnya, dia tak pernah tahu seberapa banyak kekuatan sihir yang pulih setiap kali dia bangun. Tak ada indikator angka yang menunjukkan jumlah pastinya. 

Karena itu, dia ingin memastikan cadangan sihirnya penuh saat keluar besok. Maka hari ini dia beristirahat dengan tenang.

Dia membaca Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula hingga matahari tenggelam, makan daging panggang, mandi, lalu tidur.

Demikianlah, dia menyongsong pagi hari penentuan.


Hari ke-13 di Phi.

Akhirnya tiba hari pertempuran.

Dengan gerakan yang sudah terbiasa, dia menyalakan api dan memanggang daging. Sambil makan perlahan, dia mengulang kembali segala persiapan yang telah dia lakukan. 

Selesai makan, dia memeriksa perlengkapannya.

Rumput Kizuguchi sudah ditumbuk, lalu dibekukan dengan sihir air dalam kemasan. Begitu dicairkan, dia bisa langsung menempelkannya ke luka. Tombak bambu dengan pisau di ujungnya juga siap, sambungan antara pisau dan bambu juga sudah diperkuat dengan es.

Itu saja. 

Memang, barang yang dia bawa ke luar tidak banyak.

Tujuan utamanya hanyalah memperoleh batu api dan rumput penawar racun. Juga mencoba bertarung melawan monster lemah... Kalau bisa, melawan slime!

Dia tidak berencana pergi jauh. Jika ada masalah, dia harus bisa segera kembali ke dalam penghalang. 

Dia memejamkan mata sejenak, menata napas.

“Baiklah, berangkat.” 

Arah yang dituju adalah barat daya. Michael palsu mengatakan, sekitar 500 meter dari sana ada pantai.


Ada banyak batu yang bisa dipakai sebagai batu api, tapi Ryo tidak terlalu paham. Namun, bahkan orang yang tak paham sepertinya pun bisa mengenali kuarsa, batu yang memang terbukti sering dipakai sebagai batu api.

Di antara kuarsa, yang bening tak berwarna disebut kristal, tetapi yang buram berwarna putih cukup sering ditemukan.

Tempat terbaik menemukannya adalah tepi sungai.

Jika ada sungai, pasti bermuara ke laut. Berarti, di antara rumah dan laut, dia seharusnya akan menemukan sungai. 

“Yah, kalau tak ada sungai, lain kali aku bisa pergi ke arah sebaliknya. Bisa dibilang inilah petualangan. Tak tahu apa yang akan terjadi, itulah artinya bertualang.” 

Saat melangkah keluar dari penghalang, Ryo merasakan sedikit saja hambatan.

“Jadi itu tadi tepi penghalang...”

Di dalam hutan itu membuat jarak pandangnya terbatas. Dia menajamkan telinganya dan mengandalkan suara. Sesekali terdengar kepakan burung di kejauhan. 

Belum sampai 100 meter meninggalkan penghalang, tiba-tiba hutan terputus. Di hadapannya, mengalir sungai besar selebar beberapa ratus meter hingga ke seberang.

“Bingo!” 

Namun sayangnya, dia berdiri di atas tebing. Turun ke tepi sungai untuk mencari batu api tampak sulit.

Baiklah, aku ikuti arus ke hulu saja. 

Sungai mengalir dari timur ke barat. Ryo berjalan hati-hati di atas tebing, mengikuti arah hulu.

“Tak kusangka, hanya 100 meter dari rumah sudah ada sungai sebesar ini... Pemandangan ini sungguh mengesankan...”

Namun dia tak punya waktu untuk berlama-lama menikmati pemandangan.

Beberapa langkah kemudian, dia menemukan jalan turun ke tepi sungai. Kuarsa segera dia temukan.

Dia mencoba memercikkan api. Dengan pisau yang menempel di tombaknya, dia mengetukkan batu kuarsa ke sisi belakang pisau itu. 

Klik, klik.

“Oh, percikan! Dengan ini, meski tanpa matahari, aku bisa menyalakan api.” 

Kalau begitu, tak ada gunanya berlama-lama. Sungai adalah tempat minum hewan. Bisa jadi ada sesuatu yang datang.

Segera dia kembali ke atas tebing, lalu berbelok ke arah timur laut.

Kalau terus ke utara, aku akan sampai di sisi selatan dari rumah yang dilindungi oleh penghalang... Lalu kalau bergerak ke timur laut, aku bisa berjalan sambil tetap merasakan keberadaan rumah di sisi kiri. Seharusnya begitu caranya.

Jika terjadi sesuatu, dia bisa segera melarikan diri masuk ke dalam penghalang rumah. Berulang kali harus ditegaskan, hal itu adalah yang paling penting bagi Ryo saat ini. 

Lagipula, dia sama sekali tidak tahu seberapa kuat monster di dunia Phi ini. Dia membayangkan, jika hanya slime yang gerakannya lamban, mungkin dia sanggup mengalahkannya... Meski demikian, tidak ada jaminan slime akan muncul. Dan keyakinan bahwa dia bisa mengalahkan slime itu pun, pada akhirnya hanyalah dugaan sepihak dari Ryo. 

Batu api memang segera dia temukan, tetapi rumput penawar racun tidak juga terlihat.

Karena selalu menjaga diri agar tetap menyadari posisi rumah, dia tidak pernah melangkah terlalu jauh dari penghalang. 

“Ini... Benar-benar cukup menyulitkan... Baiklah, apa yang sebaiknya kulakukan sekarang?” 

Mungkin karena dia berusaha membayangkan halaman tentang tumbuhan penawar racun di buku Ensiklopedia Tumbuhan, barangkali berharap ada petunjuk yang dia lupakan, setidaknya, jelas kesadarannya sudah teralihkan dari keadaan sekitar. 

Saat menyadarinya, seekor makhluk mirip babi hutan sudah menatapnya. 

“Sial. Itu Lesser Boar.” 

Lesser Boar itu berlari lurus ke arahnya.

Itu memang Lesser Boar.

Babi itu sedang menyerang.

Dia harus menghadapinya. 

Kesadaran Ryo sudah menangkap semua itu. Namun meski dia tahu, tubuhnya tak mau bergerak.

Untuk pertama kalinya, dia diselimuti hasrat membunuh yang jelas dari sebuah monster. Sebuah niat bunuh yang dia rasakan langsung, pertama kali dalam hidupnya. Sama halnya seperti katak yang membeku ketika ditatap ular. 

“Oh tidak, bergerak, bergerak, bergeraklah!” 

Akhirnya tubuhnya terlempar ke kiri. Bukan melompat, tapi lebih tepatnya jatuh tersungkur. 

Zush.

“Ugh...”

Saat menghindari terjangan, gading Lesser Boar itu sedikit menyerempet kaki kanan Ryo, melukainya. Namun dia tahu, jika tetap terjatuh begini, dia tak akan selamat. 

Lesser Boar yang sempat berlari melewatinya melambat, berhenti, lalu menoleh. Di matanya terlihat, apakah itu niat membunuh yang jelas? Ataukah sekadar amarah karena terjangan barusan berhasil dihindari? 

“Tenang...” 

Namun berkata “tenang” tidak serta-merta membuat hati tenang. Itu berlaku bagi siapa pun. Dan Ryo tidak terkecuali. 

Jantungnya berdetak bagai genderang perang. Kepalanya memang tidak kosong sama sekali, namun tubuhnya tetap tak bergerak sebagaimana yang dia inginkan. 

Lesser Boar itu kembali menyerbu.

Ryo masih saja tidak bisa bergerak sesuai kehendaknya.

Namun, meski tubuhnya beku, dia masih punya sihir. Sihir elemen air yang telah dia latih, berkali-kali, berulang-ulang, dengan kesungguhan tiada henti. 

Usaha tidak pernah mengkhianati. 

“Ice Burn.” 

Dari depannya hingga ke arah Lesser Boar, sebuah jalan es selebar dua meter terbentuk.

Dengan kecepatan penuh, Lesser Boar itu langsung meluncur di atas permukaan es menuju Ryo. Di atas es, dia tak mungkin bisa berhenti. 

“Icicle Lance.” 

Meski belum bisa ditembakkan, Icicle Lance bisa dia munculkan dari permukaan es. Deretan tombak es tumbuh seperti barisan senjata. Di hadapannya, enam belas batang tombak es mencuat dari lantai beku, miring sekitar tiga puluh derajat. 

Tak bisa menghindarinya, Lesser Boar itu menabrak langsung tumpukan Icicle Lance itu. 

“Grrooooooo!”

Tombak es menancap. Lesser Boar tu meraung kesakitan dengan suaranya yang memekakkan.

Ia belum mati. Namun, rasa takut mati yang melilit Ryo kini runtuh. Tubuhnya akhirnya bisa bergerak. 

Dia menggenggam bambu berpisau yang sudah dia siapkan sebelumnya. Memang, dia punya pengalaman kendo, tapi bukan pengalaman menombak. Dia tak tahu cara memakainya. Tapi dia tak perlu berpikir rumit. Hanya menusuk, menusuk saja. 

Wajah, leher, pangkal kaki, berulang kali dia tusukkan. Meski tubuhnya kini bisa bergerak, hatinya tidaklah tenang.

Dia hanya menusuk membabi buta. Lagi dan lagi, tanpa henti...

Entah sudah berapa puluh kali dia tusukkan. Mungkin bahkan ratusan kali.

Hingga akhirnya, barulah dia sadar bahwa Lesser Boar itu sudah tidak bergerak sama sekali. 

“Aku menang...”

Hari itu, untuk pertama kalinya, Ryo berhasil membunuh seekor monster.


“Aku harus segera meninggalkan tempat ini.” 

Bau darah bisa menarik makhluk lain, entah apa saja yang akan datang. 

Dengan sisa tenaganya, Ryo berdiri. Masalahnya adalah tubuh bangkai Lesser Boar itu. Sekilas saja sudah tampak sangat berat. 

“Lalu, bagaimana cara membawanya pulang...” 

Tentu saja, meninggalkannya begitu saja bukanlah pilihannya. Ini mangsa pertamanya. Dia sudah memutuskan, malam ini dia akan memakan daging Lesser Boar itu. 

Jarak menuju penghalang seharusnya tidak terlalu jauh. Paling hanya 100 meter.

Saat itulah matanya menangkap jalan es tempat dia membuat Lesser Boar tergelincir. 

“Kalau kugelar es di bawah tubuhnya... Mungkin bisa kutarik?” 

Kalau sampai seluruh jalan ke penghalang ditutupi es, justru dia sendiri yang akan kesulitan menariknya. Jadi dia membuat es hanya di bawah tubuh monster itu, sedikit demi sedikit, sambil menyeretnya. 

“Wah, ini sungguh sangat mudah.” 

Bangkai Lesser Boar itu mungkin hampir 200 kilogram, namun dengan satu tangan saja bisa dia tarik tanpa kesulitan. 

Akhirnya... Dia berhasil menembus penghalang, sampai di depan rumah. 

“Akhirnya... Aku sampai juga...”

Seorang pemuda, yang seluruh jiwa raganya terkuras habis, berdiri di sana. 

Memang dia gagal memperoleh tumbuhan penawar racun, namun batu api, kemenangan dalam pertarungan pertama, dan seekor Lesser Boar sudah lebih dari cukup. 

Itu adalah hasil yang gemilang.


Hari ke-14 di Phi.

Semalam, dia puas menikmati daging paha Lesser Boar. Bagian lainnya telah dibekukan dengan es dan dilemparkan begitu saja ke dalam gudang penyimpanan. 

Sehari berlalu, ketika dia meninjau kembali pertempuran kemarin dengan kepala dingin, peluh dingin pun mengalir.

Lesser Boar, sebagaimana namanya, adalah yang terlemah di antara golongan babi hutan, yaitu monster jenis boar. Tentu saja, dibandingkan slime atau Lesser Rabbit, ia jauh lebih merepotkan; kekejaman dari serangannya membuat mustahil bagi petani biasa atau pemburu sederhana untuk mengalahkannya seorang diri.

Namun tetap saja, menurut Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, ia dikategorikan sebagai monster peringkat terlemah. 

“Tapi, untunglah musuh pertamaku hanyalah Lesser Boar. Kalau sampai bertemu lawan yang lebih kuat, mungkin aku sudah tamat. Bisa dibilang aku cukup beruntung.”

Ryo memilih untuk memandangnya secara positif. 

Meskipun Icicle Lance tak dapat dia tembakkan, dia bisa memanfaatkannya sebagai tombak penghadang. Namun itu berarti menjadikan tubuhnya umpan, menarik musuh mendekat, lalu baru dilepaskan. Jika sampai gagal, risikonya akan sangat fatal.

Bagaimana jika lawannya memiliki kecepatan yang melebihi perkiraannya?

Bagaimana jika lawannya tidak tergelincir di atas es?

Dan bila serangan datang dari udara, tampaknya sihir itu tak akan berguna sama sekali... 

Karena itu, selama dia mampu menggunakan sihir, lebih baik dia menemukan cara untuk berburu dari jarak aman. Hidup dengan pertarungan yang selalu berada di ujung tanduk akan menghancurkan jiwa. 

Water Ball bisa meluncur, tetapi Icicle Lance tidak. Setelah mencoba berulang-ulang, kesimpulannya jelas, air bisa ditembakkan, tapi tidak dengan es. Padahal keduanya sama-sama hasil sihir beratribut air.

Water Ball, (mungkin) mengumpulkan molekul air dari udara, lalu menembakkannya.

Icicle Lance, (mungkin) mengumpulkan molekul air dari udara, membekukannya, kemudian menembakkannya. 

“Eh? Icicle Lance punya satu tahap tambahan? Jangan-jangan aku sekarang hanya mampu melakukan dua tahap sekaligus...?”

Dia pun mencoba trik lain: menyiapkan air terlebih dahulu, lalu hanya melakukan tahap membekukan dan menembakkan.

Agar tak merusak ember kayu, dia membuat wadah dari es, lalu mengisinya dengan air.

Dia letakkan tangan kanannya di atas wadah itu, membayangkan air membeku, lalu wadahnya ikut meluncur pergi. 

“Icicle Lance!” 

Whoosh.

Bukan tombak, melainkan air yang membeku bersama wadahnya, melayang sekitar sepuluh meter jauhnya. 

“Bagus, berhasil!”

Berkali-kali gagal selama berhari-hari, akhirnya masalah itu lenyap begitu saja. 

“Memang begitu. Kalau informasi yang diperlukan sudah terkumpul, jawabannya akan muncul dengan sendirinya.” 

Dalam kasus Ryo kali ini, barangkali bukan sekadar soal informasi, melainkan karena tekanan mentalnya mereda. Setelah mendapatkan batu api, melewati pertarungan di luar penghalang, dan beban batinnya sedikit berkurang. Namun, fakta bahwa masalah terpecahkan tetaplah penting, tak peduli alasannya. 

“Jadi begitu. Untuk saat ini, sepertinya aku belum bisa melakukan tiga tahap sekaligus. Mungkin kalau aku lebih terbiasa dengan sihir air, suatu hari aku akan berhasil. Semoga saja.” 

Sepertinya, untuk sementara waktu, dia masih belum bisa menembakkan es. Itu berarti, sebagai senjata jarak jauh, hanya air yang bisa diandalkan. 

“Water Jet... Sekarang aku baru sadar, sudah lama tidak mencobanya.” 

Hari ketiga sejak dia tiba di Phi, dia berlatih keras, namun hasilnya hanya setara dengan selang cuci mobil, sehingga dia memutuskan sihir itu tidak berguna sebagai serangan. Sejak saat itu, dia tak pernah menggunakannya lagi. 

“Tapi sekarang aku sudah lebih menguasai sihir air, terutama dengan pengalaman menciptakan es. Kalau dibandingkan waktu itu, pasti sudah berbeda.” 

Dia mengangkat tangan kanannya ke depan, membayangkan dengan jelas Water Jet, lalu melafalkan mantra. 

“Water Jet.” 

Shuu!

Dibandingkan dulu, aliran airnya jauh lebih tipis dan jauh lebih bertenaga. 

“Aku berkembang!” 

Kali ini dia arahkan pada sebuah pohon di tepi penghalang. 

Shuu... Bok!

Pohon itu belum terbelah, namun di titik yang dikenai, permukaannya terkikis dalam. 

“Kalau aku terus berlatih, mungkin bisa berhasil.” 

Dengan begitu, Ryo kembali menekuni latihan Water Jet.


Empat hari pun berlalu. Selama itu, dia tenggelam dalam latihan.

Tentu saja, dia tetap sarapan dengan benar dan selalu mandi. Sarapannya sederhana, daging panggang. Ya, daging panggang sejak pagi hari. Tapi tak masalah, sarapan adalah yang terpenting! Siang harinya biasanya dia hanya makan daging kering. Sore menjelang malam, dia berendam dalam air hangat. 

Namun ketika hendak menyiapkan makan malam, dia selalu berpikir untuk sedikit latihan Water Jet dulu... Dan tidak mengenal waktu, dia keh abisan sihir, paakhirnya langsung terlelap di ranjang, tanpa makan malam... Mungkin karena itulah, setiap pagi dia selalu bangun dengan nafsu makan yang besar. 

Empat hari dia berlatih, kekuatan Water Jet memang meningkat. Namun, dibandingkan imajinasinya tentang Water Jet di Bumi, hasilnya masih jauh dari cukup... 

Batang pohon bisa terkikis lebih dalam, alirannya semakin tipis dan terfokus. Tapi pohonnya belum bisa terbelah. 

Meski begitu, dia sudah menguasai teknik membidik tepat sasaran. Bahkan, untuk target diam sejauh sepuluh meter, dia bisa mengenai titik yang sama tanpa meleset sehelai rambut pun. 

“Kita tak pernah tahu apa yang akan menyelamatkan kita. Oh ya, aku juga harus berlatih menembakkan beberapa aliran sekaligus, bukan cuma satu.” 

Sambil berkata begitu, Ryo terus melatih dirinya.

Sikap positif memanglah penolong. 

Tujuannya sederhana, dia ingin berburu dengan aman. Bertaruh nyawa demi sesuap makanan, itu bukanlah kehidupan santai yang dia impikan!

Jika dia bisa berburu dengan aman, keluar masuk penghalang pun akan menjadi hal wajar dari kehidupannya. Dan ketika itu tercapai, dia ingin memperkaya pola makannya. 

Untuk saat ini, dia hanya makan daging monster yang dipanggang dengan garam, atau daging kering. Dia ingin mencoba bumbu lain... Bahkan suatu saat nanti, dia menginginkan buah-buahan. 

Menurut Ensiklopedia Tumbuhan: Edisi Pemula, ada merica di dunia Phi ini, dengan nama yang sama persis.

Ryo memperkirakan tempat dia berada sekarang kurang lebih setara dengan wilayah antara garis balik utara dan khatulistiwa di Bumi. Dari arah pusaran air, jelas dia berada di belahan utara. Tinggi matahari, suhu, serta kelembaban udara, semuanya mendukung dugaan bahwa dia dekat khatulistiwa. 

Kalau begitu, pasti ada rempah-rempah di sini! 

Ratusan jenis rempah memang ada, tetapi Ryo hanya tahu sedikit: merica, cabai, sansho, jahe, dan beberapa lainnya. Dia memang bukan orang yang pandai memasak, jadi wawasannya terbatas. Namun merica, dia pernah benar-benar melihatnya tumbuh. Buah kecil-kecil itu menggantung berderet, mirip untaian anggur. 

Jika begitu bentuknya, aku bisa mengenalinya di hutan ini! 

Tentu saja, untuk mencarinya, dia harus terlebih dahulu bisa berkeliaran di luar penghalang dengan lebih leluasa.


Hari ke-21 di dunia Phi.

Ryo sedang berburu di luar penghalang.

Lawan yang dia hadapi adalah Lesser Rabbit. Monster yang mirip kelinci. Dia melompat tak beraturan mendekati target, lalu menerkam dengan gigitan di leher. Begitulah cara Lesser Rabbit bergerak. 

Sasaran Ryo adalah saat Lesser Rabbit sedang melompat.

Pada momen itu, dia menembakkan Water Jet secara bersamaan ke kedua kaki belakangnya. Meski kekuatannya belum cukup untuk menembus kaki, setelah mendarat monster itu kehilangan keseimbangan, sehingga lompatan berikutnya bisa dicegah. Kemudian, selagi mendekat, dia menembakkan Water Jet ke kedua matanya. 

Jika sudah sampai sejauh itu, dia akan menusuk dengan tombak bambu berpisau untuk mengakhiri nyawanya. 

“Huh.”

Akhirnya, Ryo berhasil menetapkan metode berburu yang aman. Setidaknya terhadap Lesser Rabbit. 

Ada satu musuh lain. Pada hari iadia pertama kali keluar dari penghalang, dia berhadapan dengan Lesser Boar. Beberapa kali kemudian dia kembali bertemu dengannya. Namun, pada Lesser Boar, metode itu sama sekali tak mempan. 

Alasannya sederhana.

Lesser Rabbit yang melompat akan memperlihatkan kaki belakangnya pada saat tertentu, sehingga bisa ditembak. Namun Lesser Boar, yang menyerbu dengan tubuh condong ke depan, tidak memberikan kesempatan untuk membidik kaki belakangnya. 

Karena itu, Ryo mencoba menembak kaki depannya dengan Water Jet. Tetapi di jarak tiga meter terakhir, monster itu meloncat hanya dengan menggunakan kaki belakangnya. Dia berhasil menghindar dengan melompat ke samping, namun mimpi buruk dari pertemuan pertamanya dengan Lesser Boar kembali membayang. 

Setelah menusukkan tombak bambu berkali-kali, akhirnya dia baru bisa menenangkan diri. Itu menjadi kenangan pahit baginya.

Sejak saat itu, setiap menghadapi Lesser Boar, dia kembali memakai metode pertama, menggabungkan Ice Burn dengan Icicle Lance, lalu menghabisinya dengan tombak bambu berpisau. Seperti pepatah “menerjang buta bagaikan babi hutan”, Lesser Boar selalu menyerbu lurus ke arahnya. Karena itu, cara ini paling tepat digunakan. 

Bagaimanapun juga, sekarang dia sudah bisa berburu Lesser Rabbit dan Lesser Boar, dua monster yang paling sering muncul di sekitar rumahnya, dengan relatif aman. 

Belakangan ini, jadwal Ryo sederhana: pagi berburu di luar penghalang, siang berlatih sihir di dalam penghalang. Icicle Lance masih belum bisa dia lontarkan, dan Water Jet pun kekuatannya belum cukup untuk menembus target. 

Meski begitu, keberhasilan berburu setiap hari membawa ketenangan tertentu di hatinya. 

“Ketenteraman adalah landasan untuk melangkah ke tahap berikutnya. Mihara Ryo.” 


Secara umum, sandang, pangan, dan papan adalah fondasi kehidupan.

Dari ketiganya, papan sudah terjamin. Ada rumah dan penghalang yang disiapkan Michael palsu.

Selanjutnya, sandang. Pakaian yang dia kenakan saat pertama kali berpindah ke Phi sudah tidak dia pakai lagi. 

Kini, yang dia kenakan hanyalah kulit Lesser Boar yang dia olah sendiri. Dia mengupas kulit bagian dalam, lalu mengasapinya dengan menggunakan daun dan rumput yang dibakar, kemudian menipiskannya secara rata dengan Ice Roller.

Kulit itu lalu dipotong dengan pisau dan dijadikan...

Kulit Lesser Boar, penutup pinggang.

Kulit Lesser Boar, sandal. 

Itulah pakaian barunya.

Selain itu, dia tak mengenakan apa pun. Jika di Jepang, sudah pasti dia akan segera dilaporkan. 

“Mungkin sebaiknya aku juga membuat pelindung dada... Tapi ini kan bukan buatan ahli, jadi daya tahannya pasti kurang.”

Ryo bergumam sambil menepuk-nepuk kulit Lesser Boar itu dengan tangannya. 

“Hmm? Kalau soal daya tahan, mungkin bisa kutambahkan lapisan es di permukaannya dengan sihir air? Tapi kalau begitu, kenapa harus susah-susah membuat pelindung dada dari kulit, bukannya lebih baik langsung mengenakan semacam baju zirah es? Tidak, itu bisa jadi terlalu dingin, nanti jantungku bisa berhenti. Berbahaya. Tapi, suatu saat nanti, kalau aku bisa menciptakan perisai es otomatis saat diserang... Heh, ‘Apa kamu kira serangan sekecil itu bisa melukaiku, bodoh!?’, hah, aku ingin sekali bisa mengucapkannya seperti itu...” 

Siapa pun bebas untuk berkhayal...


Setelah sandang dan papan terpenuhi, tentu langkah berikutnya adalah pangan.

Tujuannya uncuk mencari buah-buahan atau rasa baru. Masalahnya, ke arah mana dia harus pergi? 

Sekitar 500 meter ke arah barat daya dari rumah, ada laut. Itu yang dikatakan Michael palsu.

Ke arah selatan mengalir sungai besar dengan lebar ratusan meter, sungai tempat dia menemukan batu api.

Ke arah timur, dia pernah bertarung dengan Lesser Boar untuk pertama kalinya, dan kini menjadi lokasi utama berburu Lesser Rabbit. Namun dia belum pernah jauh meninggalkan penghalang di arah itu. 

Dengan begitu, tinggal arah utara yang sama sekali belum pernah dia jelajahi. 

“Kalau ada kemungkinan dekat-dekat, ya di utara... Baiklah, aku coba ke sana.” 

Barang bawaannya selain penutup pinggang dan sandal, dia hanya membawa tombak bambu berpisau dan sebuah karung goni. Karung itu dia dapat dari Michael palsu, salah satu dari dua karung tempat daging kering disimpan di gudang. 

Kalau dia menemukan buah, dia butuh wadah untuk membawanya pulang. Dia tak punya tas atau keranjang, jadi hanya bisa menggunakan apa yang ada. Daging kering yang tadinya ada di dalam karung, dia keluarkan dan dia taruh di gudang. 

Karung itu mirip karung goni tempat mengangkut biji kopi. 

“Kalau ini benar-benar di wilayah antara garis balik dan khatulistiwa, mungkinkah ada pohon kopi juga?” 

Seingatnya, di Ensiklopedia Tumbuhan: Edisi Pemula tidak ada entri tentang kopi. Lagipula, sekalipun dia mendapat biji kopi, bagaimana cara menyeduhnya akan jadi masalah tersendiri. Tapi, demi memperkaya pilihan minuman, tentu itu bukan hal yang buruk. 


Persiapan pun lengkap.

“Kalau begitu, berangkat!” 

Namun, hanya karena ke arah utara, bukan berarti vegetasinya berbeda dengan timur atau selatan.

Untung saja, begitu melangkah ke sana tidak langsung berubah menjadi negeri bersalju dengan angin dingin menusuk, hal itu pasti akan menyulitkannya. Meski, di sisi lain, akan terasa sangat fantasi. 

Tak lama setelah berangkat, dia menemukan sesuatu yang mirip buah tin.

“Seingatku, di ensiklopedia ada Ichizuku. Tertulis buah ini bisa dimakan.” 

Dia memetik satu dan mencobanya.

“Asam dan manisnya seimbang. Enak!” 

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia lain, rasa buah memenuhi mulutnya. Dia memasukkan sekitar sepuluh buah ichizuku matang itu ke dalam karung. 

“Andai aku bisa menemukan lebih banyak macam buah seperti ini...” 

Namun setelah berkeliling satu jam, dia tidak menemukan buah lain. 

“Yah, mau bagaimana lagi. Coba jalan lebih jauh ke utara.” 

Menurut perkiraannya, sekarang dia sudah sekitar 200 meter dari penghalang. Belum pernah dia pergi sejauh ini sebelumnya, dari arah mana pun. Cepat atau lambat, dia memang harus melangkah lebih jauh. Hanya saja, kali ini terjadi lebih cepat dari perkiraannya. 

Namun, Ryo tidak bisa melanjutkan langkah lebih jauh.

Itu bukan hasil perhitungan.

Dia hanya merasakannya. 

Jangan berpikir. Rasakan.

Dia benar-benar melakukannya.

Sesaat setelah menunduk, sesuatu yang tak kasatmata melintas di atas kepala Ryo. Dari arah datangnya sesuatu yang tak terlihat itu, tampak ada makhluk yang mengepakkan sayapnya. 

“Burung?” 

Burung itu mengepakkan sayapnya dengan kuat. Saat itu juga, terlihat sedikit distorsi udara mendekat ke arahnya. 

Ryo segera menghindar ke samping. 

“Apa itu sihir angin? Seekor monster berbentuk burung yang bisa mengendalikan sihir angin...”

Serangan sihir jarak jauh dengan elemen angin, semacam Air Slash atau Sonic yang tak terlihat. 

“Ya, ini jelas bukan lawan yang bisa kutangani.” 

Keputusan diambil dengan cepat. 

“Ice Wall, bentuk huruf U.”

Itulah dinding es yang Ryo ciptakan sebagai sihir pertahanan. Tiga dinding selebar satu meter dan setinggi dua meter muncul di depan, kiri, dan kanan. Bagian belakang dibiarkan terbuka untuk jalur mundur. 

Saat dia mulai berlari menuju rumah, Ice Wall ikut bergerak tepat di belakangnya. Sebenarnya, Ryo sendirilah yang menggerakkan sihir itu sambil menyuntikkan kekuatan sihirnya, menyesuaikannya dengan kecepatannya sendiri, tetapi dari luar seolah-olah dinding itu mengejarnya. 

Jarak ke penghalang ada 200 meter, aku harus berlari sampai ke sana bagaimanapun caranya. 

Kretak! 

Namun, setelah berlari sekitar 100 meter, Ice Wall hancur berkeping-keping. 

“Apa!?”

Dinding itu tak mampu bertahan setelah terkena tiga kali serangan sihir angin tak kasatmata, lalu remuk berantakan.


Dengan punggung terbuka, mustahil bagi Ryo untuk berlari sejauh 100 meter yang tersisa dan melarikan diri begitu saja. Dia tak punya pilihan selain berbalik dan menghadapi lawan.

Burung itu kini terlihat lebih jelas dibanding sebelumnya. 

“Assassin Hawk... Senjata utamanya adalah sihir jarak jauh atribut angin tak kasatmata, Air Slash, serta serangan terjangan berkecepatan hampir setara kecepatan suara dengan paruh dan cakar.”

Ucapan yang teringat dari buku Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula lolos begitu saja dari bibirnya, meski dia sama sekali tak bisa memikirkan cara untuk menghadapinya. 

Sihir kombinasi Ice Burn dan Icicle Lance yang digunakannya pada Lesser Boar tak dapat dipakai. 

Water Jet yang digunakan pada Lesser Rabbit mungkin berguna... Mungkin saja. 

Jika dia bisa menembak tepat di pangkal sayapnya, meski tak sampai menembusnya, setidaknya bisa mengganggu gerakan burung itu. 

Tidak ada waktu untuk ragu. 

Lawan ini adalah monster yang memiliki kecerdikan untuk menguasai sihir. Lebih baik tanpa mantra. 

Water Jet.

Water Jet yang ditembakkan menembus tepat sasaran. Ya, menembus...ruang kosong. Serangan itu sama sekali tak mengenai tubuh Assassin Hawk. 

Kecepatan yang bahkan melampaui suara itu tidak hanya dipakai untuk menyerang lurus ke depan, tapi juga untuk menghindari serangan musuh. 

“Kalau begitu, burung itu harus ditekan dengan jumlah serangan!” 

Water Jet. 

Dari tangan kiri Ryo, 32 Water Jet ditembakkan sekaligus, mengarah lurus pada Assassin Hawk. 

Namun, ketika serangan itu menembus ruang tempat burung itu berada, Assassin Hawk sudah tak ada di sana. Dia bergerak cepat ke samping, kini berada di depan Ryo, serong ke kanan. 

“Sial!” 

Tanpa benar-benar tahu apa yang dia lakukan, Ryo menjatuhkan tubuhnya ke kiri. 

Pada detik yang sama, tanah tempat dia berdiri tadi meledak berhamburan. 

Itu adalah terjangan Assassin Hawk. 

Dengan lolos dari serangan itu, Ryo mendapati monster itu kini berada tepat di dekatnya. Hampir tanpa sadar, dia menusukkan tombak bambu berpisau yang masih tergenggam di tangan kanannya ke arah tubuh lawan. 

Tsuk!

“Giieeeekkkk!!” 

Ryo merasakan jelas sensasi sesuatu yang teriris. Teriakan melengking sang Assassin Hawk menghantam telinganya. 

Dan pada detik itu, mata mereka bertemu. 

Mata kanan burung itu mengucurkan darah dan terpejam. Tombak berpisau Ryo rupanya telah melukai mata kanannya. 

Namun, mata kirinya yang tersisa... Penuh dengan kebencian. 

Biasanya, mata seekor burung hanyalah seperti kaca bening, tak mampu memancarkan emosi yang bisa terbaca. Tapi pada saat itu, tak diragukan lagi, mata Assassin Hawk dipenuhi kebencian. 

“Ice Wall Package.

Sihir Ice Wall terbentuk dalam bentuk kotak yang menutup dari atas, menjebak Assassin Hawk di dalamnya. 

Namun, musuhnya adalah Assassin Hawk. Meski terluka, kecepatan dan kelincahannya belum padam. Lebih cepat daripada sihir terbentuk, ia sudah melompat menjauh dari hadapan Ryo. 

Hanya menolehkan sekali pandangan ke arahnya, lalu pergi meninggalkan tempat itu. 

Namun Ryo seakan mendengar suara yang terngiang dengan jelas, “Lain kali, aku akan membunuhmu.”


Bahkan setelah Assassin Hawk menghilang, tubuh Ryo tetap kaku, tak bisa bergerak untuk beberapa saat. 

“Kali ini benar-benar gawat.” 

Sambil memastikan kondisi tubuhnya, memastikan dia tak terluka parah, Ryo melangkah menuju penghalang. 

“Burung itu... Bagaimana caranya aku bisa melawannya. ..?”

Masalah demi masalah datang tanpa henti... Hidup santai di Hutan Rondo rupanya tak semudah yang dia bayangkan.


Sihir rupanya memiliki sesuatu yang disebut jangkauan pengaruh. Bagi Ryo saat ini, batas terjauhnya adalah radius 15 meter dari dirinya. Melewati itu, dia tak bisa lagi menyalurkan kekuatan sihirnya. 

Sebagai contoh, bila dia meluncurkan Water Ball, maka begitu melewati jarak 15 meter, bola air itu kehilangan daya apungnya dan jatuh ke tanah. Selama masih berada dalam jangkauan itu, dia bisa mengendalikannya dengan cukup bebas, seolah-olah dihubungkan benang sihir. 

Dulu, bahkan pada jarak 10 meter saja Water Ball sudah jatuh. Jadi jelas jangkauannya perlahan meluas. 

Meski begitu, karena kecepatan Water Ball tidaklah tinggi, juga kekuatannya lemah, Ryo tidak menganggapnya sihir serangan. 

Ice Burn yang digunakannya untuk berburu Lesser Boar pun hanya bisa muncul mulai dari titik di depan dirinya, hingga jarak 15 meter ke depan. Tepatnya, dia hanya bisa memicunya dengan dirinya sebagai titik pusat. 

Dia tidak bisa menciptakan Ice Burn begitu saja di bawah kaki seekor Lesser Boar yang berdiri 15 meter jauhnya. 

Dia tidak bisa membuat Water Ball tiba-tiba muncul di udara sejauh 15 meter. 

Tapi... Bagaimana jika dia bisa...? 

Bayangkan, bila pada jarak 10 meter di depan, tepat di bawah kaki seekor Lesser Boar, dia bisa menumbuhkan Ice Burn dengan radius 3 meter. Binatang itu takkan bisa bergerak, hanya karena kehilangan pijakan. 

Saat ini, serangan terkuat Ryo adalah Water Jet. Namun, serangan itu hanya bisa ditembakkan lurus dari dirinya ke arah musuh. Itu berarti serangan yang mudah ditebak, mudah dihindari. 

Benar, kecepatan Water Jet membuatnya sangat sulit dihindari... Tetapi Assassin Hawk berhasil melakukannya. 

Terlebih lagi, yang dihindari oleh burung itu adalah serangan andalannya, Water Jet. 

32 tembakan Water Jet yang serentak, dengan sudut yang sedikit berbeda untuk mencakup area yang lebih luas, pun masih bisa dihindari. Burung itu keluar dari jangkauan serangan secepat itu. 

Jelas, masih banyak yang perlu dia tingkatkan. 

Makanan lezat memang menggoda... Namun di luar penghalang, ada monster-monster seperti Assassin Hawk, monster yang jelas tak mampu dia kalahkan sekarang. Dan mereka ada tepat di sekitarnya. 

Dia harus menjadi jauh lebih kuat. 

Karena bila dia mati, segalanya akan berakhir di sana.


* * *


Perburuan ke Hutan Timur dilakukan dua hari sekali, pada pagi hari. Memburu seekor Lesser Rabbit atau Lesser Boar.

Pada hari ketika dia tidak pergi berburu, atau ketika pagi diguyur hujan, Ryo akan membaca dengan saksama Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula. Tidak ada yang tahu kapan, di mana, atau makhluk apa yang mungkin dia temui.

Jika sampai dia tidak bisa menangani monster hanya karena tidak membaca buku, itu akan terlalu menyedihkan. 

Selain itu, waktu yang dia punya dia habiskan untuk berlatih sihir. Terutama berlatih menimbulkan air atau es pada tempat yang agak jauh dari dirinya.

Namun, menimbulkannya secara langsung pada jarak 10 meter tentu saja tidak berhasil.

Ketika dia mengulurkan tangan kanannya, lalu mencoba membentuk Water Ball, bola itu akan muncul di ruang kosong sekitar 10 sentimeter dari telapak tangannya. Dia ingin pada akhirnya memperpanjang jarak itu hingga 15 meter, bahkan lebih jauh lagi... Tapi kelihatannya jalannya masih panjang.

Meski begitu, hanya karena jalannya panjang bukan berarti dia bisa berhenti melakukannya. 

Ketika bisa berlatih di luar, dia selalu menyelipkan latihan menembakkan Water Jet dari jarak yang lebih jauh darinya sendiri. Dengan begitu, latihan menimbulkan sihir pada jarak tertentu sekaligus bisa meningkatkan kekuatan Water Jet.

Pertumbuhan itu hanya sedikit demi sedikit.

Namun dia tetap terus tumbuh. Dan melihat hasil itu saja sudah membuat Ryo gembira.

Karena ini menyangkut hidup atau mati, sebenarnya entah menyenangkan atau tidak, dia tetap harus melakukannya.

Memang begitu adanya, tetapi manusia tidak sekuat itu. Apakah hasil usahanya terlihat atau tidak, hal itu sangat memengaruhi motivasi seseorang.

Bukan masalah logika, melainkan masalah perasaan.


Separuh diri manusia terbuat dari emosi. Mampu menggerakkan separuh itu atau tidak, sangatlah penting untuk meraih hasil yang baik.

Ryo mengetahuinya bukan dari logika, melainkan dari insting.

Ryo bukan orang jenius.

Bukan pula orang yang bisa disebut berbakat luar biasa.

Namun dia tahu arti penting dari berusaha. Dia tahu, bukan lewat logika, melainkan lewat rasa. Dan bagi manusia semacam itu, berusaha sama sekali bukanlah beban.


Perubahan itu datang tiba-tiba.

Hari berburu yang datang dua hari sekali. Dia menuju Hutan Timur untuk memburu seekor Lesser Rabbit atau Lesser Boar.

Tentu, ada kemungkinan muncul makhluk lain selain dua jenis itu.

Namun, selain pertemuannya dengan Assassin Hawk di Hutan Utara, sejauh ini dia belum pernah mengalami hal itu. Hutan Utara dan Hutan Timur saling terhubung, dan jaraknya pun tidak jauh. Jadi, kemungkinan seekor Assassin Hawk muncul di Hutan Timur sudah pernah dia pertimbangkan.

Namun, makhluk yang dia temui hari ini berbeda. 

“Greater Boar...”

Makhluk ini adalah tingkatan di atas Normal Boar, yang sudah merupakan tingkatan lebih tinggi dari Lesser Boar.

Babi itu menembakkan sihir jarak jauh atribut tanah berupa lemparan batu. Dan kecepatan sergapannya mendekati kecepatan suara. Bedanya hanya terletak pada angin dan tanah, langit dan daratan, tetapi ciri khasnya mirip dengan Assassin Hawk.

Namun tubuhnya besar sekali...

Panjangnya sekitar 7 meter. Tinggi kepalanya dari tanah kira-kira 3 meter.

Dan tubuh sebesar itu menyerbu dalam kecepatan subsonik. Benar-benar mimpi buruk. 

“Kalau sampai ditabraknya, aku bisa mati. Waktu mati di Bumi aku ditabrak truk, tapi ini lebih gawat karena babi ini jauh lebih cepat...”

Karena energi kinetik ditentukan oleh massa dan kecepatan, Greater Boar yang menyerbu dengan kecepatan subsonik menghasilkan daya hancur yang tak bisa dibandingkan dengan truk di Bumi.

Dilihat dari ukurannya, dia setara dengan sebuah dump truck. Jarak antara Ryo dan Greater Boar sekitar 20 meter, tapi karena penampilannya seperti babi hutan, besar tubuhnya membuat persepsi jarak jadi terasa aneh. 

Icicle Lance, 16.

Pertama, dia menciptakan 16 Icicle Lance dengan sudut 30 derajat dari tanah untuk menghadang sergapannya. Dengan itu dia bermaksud menghentikan gerakan subsonik sang babi.

Greater Boar mendekat perlahan, lalu menembakkan dua batu. 

Ice Shield, 2.

Sebuah perisai sebesar raket tenis terbentuk di depan Ryo, benturan terjadi, batu dan perisai sama-sama hancur. 

“Guooooooo!” 

Entah itu gertakan atau rasa jengkel, Greater Boar mengaum.

Sesaat kemudian, lebih dari 20 batu terbentuk di sekelilingnya. 

“Itu terlalu banyak. Ice Wall!”

Ryo memilih dinding, bukan perisai, untuk menghadang serangan frontal.

Sesaat setelah itu, batu-batu tersebut ditembakkan.

Tepat sebelum menghantam Ice Wall, Icicle Lance sudah hancur, dan dinding es pun retak. 

Ryo melompat ke kiri secara refleks.

Hampir bersamaan dengan hantaman batu, Greater Boar sendiri juga menyerbu ke arahnya. 

“Menggabungkan teknik dengan serangan tubuh... Persis seperti jurus pedang sakti milik kesatria dalam cerita-cerita!” 

Itu jurus yang pernah dia lihat di komik kesukaannya. 

“Andai aku penyihir atribut angin, aku bisa membuat tiga bayangan tubuh lalu melepaskan Sonic Blade, kemudian menyerbu mengikuti jejaknya!” 

Tidak, itu mustahil dilakukan manusia. 

Dengan batu, babi itu menghancurkan Icicle Lance, lalu dengan tubuhnya, ia menghancurkan Ice Wall. Kemudian, masih dengan momentum yang sama, Greater Boar melesat melewati sisi Ryo dan berhenti sekitar 15 meter di depan, berbalik menghadapnya. 

Namun di sanalah...

“Berhenti di situ adalah kesalahanmu. Ice Burn.”

Lantai es terbentuk, berpusat pada tubuh Greater Boar.

Sekitar 3 meter radius di sekelilingnya berubah menjadi lantai es, dan seluruh ruang antara dirinya dan Ryo pun berubah menjadi licin. 

Greater Boar tidak mampu berdiri di atasnya, sehingga jatuh bangun berulang kali. Wajar saja, karena sepanjang hidupnya belum pernah berjalan di atas es. Hutan Rondo adalah hutan yang hangat. 

Icicle Lance, 16.

Meskipun sudah berlatih banyak, Ryo belum mampu meluncurkan Icicle Lance ke depan. Namun, karena kini dia bisa menimbulkan sihir pada jarak tertentu dari dirinya, lahirlah cara penggunaan baru.

16 Icicle Lance terbentuk di udara, tepat 18 meter di atas Greater Boar. Beratnya terkonsentrasi di ujung tombaknya. 

Lalu, mereka jatuh. 

“Gyaaaaaaaaa!” 

Satu per satu, Icicle Lance itu menancap pada tubuh Greater Boar, dari leher hingga ke belakang tubuhnya, selain kepala.

Sifat khas sergapannya membuat kepala dan hidungnya sangat keras. Pedang biasa pun takkan sanggup menusuknya. Karena itulah ia bahkan mampu menembus Ice Wall.

Namun, bagian leher hingga belakang tubuhnya tidak sekeras itu. Bagian itu sama lemahnya dengan Lesser Boar, hanya saja sedikit lebih keras daripada babi hutan biasa.

Dan itulah yang Ryo incar. 

“Syukurlah aku sudah membaca Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula dengan teliti. Tapi kulit yang bolong-bolong begini sepertinya tak bisa dipakai lagi...”


* * *


“Nah, tibalah saatnya, ekspedisi kedua Tim Penjelajah Hutan Utara!”

Tidak jelas kepada siapa deklarasi itu ditujukan, tetapi Ryo telah menetapkan tekadnya. 

“Kali ini, aku pasti akan memperkaya persediaan makananku!” 

Sebelumnya, ketika dia pergi ke Hutan Utara dengan tujuan yang sama, langkahnya terhalang oleh Assassin Hawk.

Assassin Hawk, sesuai dengan namanya yang membawa gelar “assassin”, adalah monster yang sering merenggut nyawa targetnya tanpa mereka sadari. Dari sudut buta di udara, ia melepaskan sihir angin tak kasatmata, Air Slash. Saat itu, fakta bahwa Ryo berhasil menghindari serangan pertama hanyalah sebuah kebetulan. 

Apakah kali ini dia sudah benar-benar siap menghadapi Assassin Hawk?

“Aku belum bisa menang, jadi kalau ketemu burung itu aku langsung kabur.” 

Sekilas tampak tidak ada kemajuan sejak pertemuan terakhir, namun bukan begitu kenyataannya. Kini, setidaknya dia yakin bisa melakukan pertempuran mundur dengan lebih leluasa dibanding waktu itu. 

Tidak mampu mengalahkan musuh adalah masalah perbedaan kecocokan.

Greater Boar tidak kalah kuat dari Assassin Hawk. Namun, Ryo percaya bahwa dirinya bisa menang melawan Greater Boar tapi tidak dengan Assassin Hawk, hanya karena perbedaan, apakah dia mampu menghentikan gerakan lawan atau tidak. 

Greater Boar, selama masih berada dalam jangkauan sihirnya, dapat dihentikan dengan Ice Burn. Tetapi Assassin Hawk yang melayang di udara jelas bukan lawan yang sama. Bahkan ketika dia mencoba menutupinya dengan Ice Wall Package, burung itu berhasil lolos. 

Dasar dari perburuan Ryo adalah menghalangi pergerakan lawan, lalu menyerang. Karena itu, melawan Assassin Hawk yang tak bisa dia batasi pergerakannya, sama saja seperti menghadapi musuh dengan kecocokan terburuk.

Maka satu-satunya jalan adalah kabur begitu bertemu. 

“Assassin Hawk biarlah, tapi sebelumnya aku berhasil mendapat buah tin. Di tempat itu masih ada buah yang sebentar lagi matang. Jadi sekarang aku mau mengambilnya, dan kalau bisa menemukan sesuatu yang bisa dijadikan bumbu... Akan bagus kalau bisa ketemu lada.” 

Perlengkapannya sederhana. Kain pinggang dari kulit Lesser Boar, sandal, tombak bambu dengan pisau terikat di ujungnya, serta karung goni. Peralatan ekspedisi seperti biasanya. 

Begitu keluar dari penghalang ke arah utara, di tempat di mana sebelumnya dia mendapat buah tin, kini telah matang kembali buah baru.

“Bagus, panen besar.” 

Sepuluh buah tin dia masukkan ke dalam karung goni, lalu dia melangkah lebih jauh ke utara.

Dia pun sampai di lokasi di mana dia pernah disergap Assassin Hawk. Kira-kira 200 meter dari penghalang. 

“Waktu itu aku diserang di sini. Tapi sekarang sepertinya aman.” 

Ketika diperhatikan lebih saksama, ternyata itu adalah tempat di mana lebatnya hutan sedikit terputus, dan pepohonannya tidak begitu rapat. Tempat yang cocok untuk melakukan serangan dari udara.

“Dulu aku sama sekali tidak sadar. Mungkin karena saat itu aku benar-benar sudah kehabisan akal.” 

Tetap waspada, dia melangkah lebih jauh ke utara.

Kira-kira 500 meter dari penghalang, akhirnya dia menemukannya. 

“Beneran ada... Tandan hijau ini... Ini lada, kan...?”

Ukurannya hampir seperti anggur Delaware, yang biasanya direndam larutan khusus agar tak berbiji, setidaknya begitulah yang terlintas di pikiran Ryo.

Jika ada petani anggur atau lada yang melihatnya, pasti akan membentaknya dengan, “Ga mirip sama sekali!” 

Dia memetik sebutir dari tandan itu dan menggigitnya.

Rasa pedas menusuk, bersama dengan aroma yang menyebar ke mulut dan rongga hidung. 

Biasanya, lada dipetik saat masih hijau lalu dikeringkan lama hingga menghitam, menghasilkan lada hitam yang terkenal. Namun, di Asia Tenggara, ada juga daerah di mana lada hijau ini langsung dimasak bersama ayam dan sebagainya.

Meski begitu, bagi Ryo, ini adalah kali pertama mencicipi lada hijau segar. 

“Oke, kumpulkan!” 

Dicampur dengan buah tin, lada itu memenuhi hampir separuh karung. Pada Zaman Penjelajahan, jumlah itu pasti sudah menjadi harta berharga. 

“Tujuan utama hampir selesai, tapi mari coba sedikit lebih jauh lagi.” 


Mungkin dia berjalan sekitar 300 meter lebih jauh. Pandangan pun terbuka, menyingkap sebuah rawa luas.

“Rawa... Berarti Lizardman...” 

Untungnya, tidak ada Lizardman di sana.

“Yah, kalau emang ada mereka, aku hanya bisa lari sekencang-kencangnya. Kemungkinan besar mereka jauh lebih mahir dalam sihir air daripada aku yang sekarang.” 

Sebagai ras, Lizardman memang punya kecocokan luar biasa dengan sihir air. Dalam dunia Phi, Lizardman tidak bisa berkomunikasi dengan manusia, dan tidak dianggap sebagai monster berakal. Jika ada manusia mendekat ke rawa mereka, serangan tanpa basa-basi pasti akan datang mendekat. 

“Kalau harus memutar melewati rawa ini dan lanjut ke utara, rasanya agak berat.” 

Tombak bambu di tangan kanan, karung goni di tangan kiri. Di dalamnya tersimpan lada berharga. Jika sampai jatuh ke dalam rawa atau terkena lumpur, semuanya akan rusak... 

“Untuk hari ini, cukup sampai di sini.” 

Dengan gaya seperti seorang pelawak atau pendekar yang sudah menempuh jalan panjang, Ryo mengucapkan itu dan memutuskan pulang. Namun, saat itu matanya menangkap sesuatu di antara tumbuhan rawa. 

Dia sempat mengalihkan pandangan, lalu menoleh lagi dengan wajah terkejut.

Benar, itu adalah pandangan kedua. 

“Mirip sekali...”

Tentu saja, lebih tinggi daripada tumbuhan yang dia ingat.

Lebih lebar juga, merentang ke samping.

Bahkan butir-butir bulirnya tampak siap rontok begitu disentuh. Warnanya pun sedikit lebih pekat. 

Namun, meski begitu, mungkin ini adalah...

“Padi, kan...?”

Bukan tanaman yang dibudidayakan seseorang, melainkan padi liar yang tumbuh sendiri. Ryo pernah mendengar tentang hal itu, bahkan di Bumi modern, masih ada daerah di Asia Tenggara dan India di mana padi liar tumbuh bebas. 

Tapi, mungkinkah keberuntungan semudah ini?

Biasanya, dalam kisah reinkarnasi, beras adalah sesuatu yang baru ditemukan setelah lama beradaptasi dengan kehidupan, setelah menempuh perjalanan setengah dunia dengan susah payah. 

Begitulah jalannya cerita.

Pertama ditemukan roti hitam yang keras. Kemudian roti putih yang lembut. Dan akhirnya, setelah perjalanan panjang, barulah beras muncul. 

Namun sekarang... 

“Tidak, aku pikirkan nanti saja. Sekarang, amankan dulu yang ada di sini dan bawa pulang.” 

Dilihat lebih dekat, padi liar itu tumbuh cukup luas di sepanjang rawa.

Dengan pisau yang dilepaskan dari tombak bambu, dia memotong bagian malai, lalu memasukkannya ke dalam karung goni. Akhirnya, karungnya terisi hampir penuh. Agar hasil besar itu tidak hilang gara-gara diserang sesuatu, Ryo pun berlari kencang pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah, Ryo pertama-tama membuat sebuah kotak es.

Es yang dia ciptakan dengan sihir atribut air, entah bagaimana, kini terus dialiri sihir darinya bahkan tanpa dia sadari. Karena itu, es tersebut tak akan mencair begitu saja. Hanya ketika dia secara sengaja memutus aliran sihirnya, semacam garis tipis yang menghubungkan dirinya dengan es, barulah es itu kembali menjadi es biasa yang perlahan mencair. Karena alasan itu, di dalam rumahnya sudah ada cukup banyak kotak es buatan Ryo. 

Energi sihir yang terkuras untuk mempertahankan kotak es itu pun ternyata amat sedikit, sehingga tak pernah sekali pun mengganggu kehidupannya.

Kotak es yang dibuat kali ini berukuran sebuah koper besar, dan di dalamnya dia menaruh lada yang baru saja dia kumpulkan. Buah tin yang tadi masih berada di dalam karung goni, dia letakkan di atas meja dapur. Dengan begitu, kini yang tersisa di dalam karung hanyalah padi liar. 

“Pertama-tama... Apa padi ini bisa dimakan sebagai beras...?”

Secara umum, beras diperoleh dengan cara menggiling malai padi hingga menjadi gabah, kemudian mengeringkan gabah itu. Setelah cukup kering, gabah digiling lagi dengan mesin pengupas untuk menghilangkan kulit luarnya. 

Hanya setelah itu barulah manusia mendapatkan butiran putih yang disebut beras. 

Namun kini, Ryo sama sekali tak memiliki alat-alat itu. Tidak ada satu pun.

Sesaat dia sempat berpikir bahwa mendapatkan beras berarti hidupnya akan langsung menjadi mudah, namun nyatanya, justru setelah beras itu berada di tangan, pekerjaan sulit sesungguhnya baru dimulai. 

Dalam kisah reinkarnasi yang biasa, seringnya sudah ada suatu bangsa atau wilayah yang memiliki budaya bercocok tanam padi, sehingga kendala semacam ini tak perlu dialami. Tetapi di Hutan Rondo, dunia Phi ini, budaya itu sama sekali tidak ada. Malah, dari cara Michael palsu berbicara, tampaknya tak ada manusia lain selain dirinya yang hidup di sini. 

Bagaimanapun, dia harus menentukan arah terlebih dahulu.

“Besok aku harus kembali ke rawa itu dan mengumpulkan lebih banyak padi liar. Sebagian harus kuambil sampai akarnya, lalu kupindahkan ke sawah yang akan kubuat di sekitar rumah.”


Tampaknya keputusan untuk membuat sawah sudah final.

“Yang kupetik hari ini harus kuusahakan sampai bisa kukupas jadi beras, lalu kutanak!” 

Mula-mula, tentu dia harus menggilingnya. Biasanya gabah dipisahkan dari malai dengan cara ditumbuk atau menggunakan alat, pekerjaan yang dilakukan sejak zaman Edo hingga Taisho dengan semacam alat penggiling manual. Namun kali ini, hal itu tak diperlukan. Karena di dalam karung, gabahnya sudah terlepas sendiri dari malainya. 

Itulah salah satu ciri padi liar, sentuhan sedikit saja membuat bulirnya rontok. Meski dalam pertanian normal hal itu bisa menyulitkan panen, untuk Ryo saat ini justru menguntungkan.

“Ohh, lepas sendiri. Untung banget.” 

Kira-kira sebatas itu saja kesadarannya.

Gabah yang sudah dia dapat, seharusnya dikeringkan terlebih dahulu. Di Jepang masa kini, biasanya dikeringkan dalam mesin besar lebih dari sepuluh jam, hingga kadar airnya turun drastis. 

“Tapi, untuk makan hari ini, tak usah dikeringkan dulu.” 

Selanjutnya, dia harus mengupas gabah... Yakni membuang kulit yang menyelimuti bulir.

Dia mengambil satu butir, memperhatikannya. Dari segi ukuran, hampir tak ada bedanya dengan beras Jepang.

“Jadi ini yang disebut beras Japonica, ya? Awalnya kukira beras Indica. Kalau ternyata mirip Japonica, berarti bisa kutanak dengan cara orang Jepang.” 

Padahal, dia bahkan belum berhasil mengupas satu butir pun, tapi sudah melompat ke cara memasaknya. 

Di Bumi sekarang, asal-usul budidaya padi dipercaya bermula lebih dari sepuluh ribu tahun yang lalu, di lembah Sungai Yangtze, Tiongkok. Dan padi pertama itu pun adalah jenis Japonica. Dari sanalah menyebar ke barat, hingga melahirkan Indica. Artinya, secara sejarah, Japonica lebih dahulu ada. 

Namun, bagi Ryo yang kini sepenuhnya terfokus untuk mendapatkan semangkuk nasi putih, sejarah panjang padi sama sekali tak berarti.

Diamengambil gabah, lalu mencoba mengupasnya dengan bantuan kuku.

“Eh, ternyata cukup mudah. Kalau begini, setidaknya aku bisa kupas satu-satu.” 

Berapa jam yang akan dia habiskan hanya untuk mengupas segenggam gabah...? Atau mungkin inilah bukti betapa orang Jepang benar-benar tak bisa lepas dari nasi?

Meski begitu, dia tetap mencoba berpikir, barangkali ada cara yang lebih efisien untuk mengupas. 

Satu-satunya kekuatan yang bisa dia manfaatkan hanyalah sihir air. Di antaranya, tentu sihir es paling cocok digunakan.

Dia pun teringat pada alat yang dia buat ketika menyamak kulit babi hutan kecil, sebuah Ice Roller. Waktu itu dia memakainya untuk menekan kulit hingga lunak. Kali ini, idenya berbeda, bukan untuk menekan, melainkan mengupas. 

Dengan dua rol es yang berputar saling berhadapan, bila dia menyesuaikan kecepatan rotasinya, mungkin bulir gabah akan terkelupas dan terlempar keluar dengan sendirinya. 

Pembentukan rol es dan gerakan putarannya bisa dia kendalikan dengan sihir air. Dengan pengendalian yang presisi, mungkin ini bisa berhasil!

Persiapan rol pun selesai. Dia menaruh sebuah kotak es untuk menampung beras yang terkelupas.

Pertama, dia mencoba memasukkan lima butir. 

Krek.

Kulitnya terkelupas. Memang terkelupas, tapi bulir berasnya pun ikut pecah.

“Yah, meski pecah, rasa beras tetap sama.” 

Dia terus mencoba lagi. Tetapi ukuran gabah yang tidak seragam membuat masalah. Jika dia sesuaikan dengan yang kecil, bulir besar pecah. Jika dia sesuaikan dengan yang besar, bulir kecil tidak terkelupas dan jatuh begitu saja. 

Dengan sedikit kompromi dan berpura-pura tidak melihat, dia akhirnya berhasil mengupas kira-kira dua cangkir beras.

“Huuh, ini lebih berat daripada melawan Assassin Hawk...”

Kini waktunya menanak. Inilah yang disebut memasak nasi.

Rumah yang disediakan Michael palsu memiliki sebuah tungku, dan di sana ada dua panci kayu berpenutup. Ryo memutuskan untuk menggunakannya. 

Dia mencuci panci hingga bersih.

Kemudian, dia mencuci beras dalam sebuah mangkuk es. Saat dicuci, dia bisa melihat dedak keluar dari bulir-bulir beras liar itu.

Setelah itu, dia menuangkan air ke dalam panci hingga setinggi punggung tangannya saat diletakkan di atas beras. Jujur saja, dia sama sekali tak tahu berapa banyak air yang tepat untuk menanak beras liar ini. Jadi dia mengandalkan pengetahuan dari Bumi. 

Dia menutup panci dengan tutup es, dibuat agak berat agar tak mudah terangkat oleh tekanan.

Sampai tahap ini sudah lancar, tapi masih ada masalah besar. Dia sama sekali tak tahu seberapa besar api yang harus digunakan. 

Namun! Dunia ini punya pepatah untuk menanak nasi dengan enak.

“Awalnya api kecil, lalu api besar, meski bayi menangis jangan buka tutupnya.” 

Sayangnya, dia tidak tahu kapan tepatnya harus mengubah apinya dari kecil menjadi besar...

“Mungkin sekitar 300 detik? Lima menit lewat sedikit, baru kuperbesar apinya.” 

Pengendalian api sudah menjadi keahliannya. Ironisnya, karena yang ahli mengendalikan api adalah seorang penyihir atribut air. Kesan yang ditinggalkan hanyalah serba bisa tapi tidak menonjol...

Dia pun menanaknya selama total 20 menit.

Setelah menurunkan api, dia menunggu sejenak. Itu disebut mengukus. 

Sekitar lima belas menit mengukus telah berlalu, lalu akhirnya... 

“Selamat datang, nasi!” 

Yang muncul bersama kepulan uap pekat bukanlah nasi putih murni, melainkan butiran yang agak kekuningan. 

“Yah, sedikit rasa aneh bukan masalah.” 

Di tangan kirinya dia ciptakan mangkuk es, di tangan kanannya sendok nasi dari es. Dengan hati yang ditenangkan, dia perlahan menyendok nasi ke mangkuk.

Kemudian dia menghilangkan sendok nasi itu, dan di tangan kanannya tercipta sepasang sumpit es. 

“Baiklah, selamat makan.” 

...

“Memang agak berbeda dari nasi Jepang, baik lengketnya maupun cara rasanya menyebar di mulut. Tapi ini... Ini jelas nasi!” 

Dengan tubuh bergetar karena sukacita, Ryo hanya bisa terus-menerus menyuapkan nasi ke mulutnya.

Di sana tampak sosok seorang penyihir beratribut air, makan nasi sambil menangis. 

“Kalau sudah ada nasi, selanjutnya aku ingin sup miso... Tapi yang ini mungkin mustahil ya.” 

Ryo pernah memperkirakan dari berbagai kondisi bahwa rumahnya berada di wilayah antara garis khatulistiwa dan garis balik utara. Nyatanya, keberadaan lada dan padi liar yang dia peroleh mendukung dugaan itu. 

Untuk membuat sup miso, ada satu bahan yang mutlak diperlukan. Tentu saja, miso. Dan untuk membuat miso, dibutuhkan kacang kedelai. Namun, kedelai berasal dari Asia Timur, termasuk Jepang.

Hutan Rondo ini terlalu panas, dan kelembapannya juga tinggi.

Kedelai tumbuh lebih baik di lahan dengan drainase yang baik... Itulah sebabnya ketika ditanam, tanah biasanya ditinggikan agar air cepat mengalir. 

Dari semua kondisi itu, Ryo yakin kedelai tak mungkin tumbuh liar di Hutan Rondo. 

“Yah, mau bagaimana lagi. Bisa mendapatkan nasi saja sudah sebuah keberuntungan besar.”


Untuk kehidupan sehari-hari, lingkaran penghalang dengan radius 100 meter dari rumah sebenarnya sudah cukup luas. Tapi jika ingin membuat sawah di dalamnya... Ruangnya akan sangat sempit. 

“Kalau begitu, aku terpaksa harus membuatnya di luar penghalang ya. Dan itu berarti harus menebang pohon lalu membuka lahan... Mungkin begitu.” 

Membuka lahan dengan cepat menggunakan sihir atau pedang...

“Ya, tapi Water Jet-ku masih belum bisa menebang pohon.” 

Di Bumi, pohon ditebang dengan gergaji mesin. Di penggergajian, kayu-kayu dipotong dengan gergaji putar raksasa. 

“Mungkin kalau bukan Water Jet, tapi gergaji bundar dari air, bisa kugunakan sebagai serangan jarak jauh juga?” 

Dia membayangkan dalam pikirannya. Di atas telapak tangan kanannya, sebuah gergaji bundar dengan jari-jari sepuluh sentimeter muncul, berputar. 

“Gergaji Air.” 

Gergaji bundar dari air, persis seperti yang dia bayangkan, tercipta. 

“Terbanglah!” 

Byur. 

Begitu lepas dari tangannya, benda itu jatuh ke tanah. 

“Ah...”

Dia roboh berlutut dan menundukkan kepalanya. Dalam posisi itu, Ryo membeku sekitar sepuluh detik.

Lalu, masih dalam posisi itu, dia bergumam. 

“Baiklah, mari kupilah prosesnya.” 

Menciptakan air.

Membuat air itu berputar.

Menerbangkannya. 

“Ya, tiga tahap. Seperti kuduga, tahap ketiga masih gagal.” 

Dia menunduk dan merenung. Namun tiba-tiba, Ryo berdiri. 

“Belum. Ini belum berakhir.” 

Mengucapkan kalimat yang seakan dipinjam dari komet merah, dia mendekati sebuah pohon di luar penghalang.

Kemudian kembali berucap. 

“Gergaji Air.” 

Namun kali ini dia tidak melemparkannya, melainkan menempelkan gergaji air yang berputar di telapak tangannya langsung ke batang pohon. 

Kiiiiiiiiiin. 

Suara melengking bergema, mirip dengan suara gergaji mesin. Dan meski lebih lambat dibanding gergaji mesin, dia berhasil menebas batang pohon itu. 

“Kalau untuk mengolah kayu, ini bisa dipakai.” 

Meski begitu, masalahnya setelah kayu dipotong, tidak ada lem ataupun paku... 

“Membuat mosaik kayu ya... Tidak mungkin.” 

Tampaknya pekerjaan pertukangan akan sulit dilakukan. 

“Gerakan rotasi...”

Ryo terhenti. 

“Eh? Bukannya ada yang aneh?” 

Yang muncul di kepalanya adalah Ice Roller yang pernah dia gunakan untuk mengolah kulit Lesser Boar. 

“Proses Ice Roller itu...”

Mengumpulkan molekul air dari udara.

Membekukannya.

Membuatnya berputar. 

“Tiga tahap juga...dan itu berhasil. Kenapa ya...?”

Ada sesuatu yang jelas-jelas keliru. 

“Icicle Lance.” 

Di tangan kanannya muncul Icicle Lance. 

“Putar di tempat.” 

Tombak es itu berputar sendiri, seolah meluncur. 

“Tembak.” 

Whoosh, krek.

Seperti biasa, jatuh ke tanah. 

Namun kali ini Ryo tidak tumbang.

Dia menatap telapak tangannya dengan saksama, lalu membentuk gambaran baru. Di tangan kirinya dia ciptakan wadah panjang dari es, lalu mengisinya dengan air.

Kepada air itu, dia ucapkan, “Icicle Lance.” 

Tombak es tercipta dan menempel pada wadah itu. 

“Tembak.” 

Bersama wadahnya, tombak itu meluncur ke depan dengan kecepatan cukup tinggi. 

Dia menarik napas dalam, menenangkan diri. 

“Tidak apa-apa. Aku bisa meluncurkannya. Aku bukan aku yang dulu lagi.” 

Hampir seperti sugesti diri... Tapi amat penting.

Dia harus menghancurkan gambaran lama yang telah mengeras di kepalanya. 

Dia membayangkannya pelan-pelan.

Pertama, menciptakan Icicle Lance.

Kedua, bayangan tombak itu melesat dari tangannya. 

Dia mengulang-ulang dua citra itu di pikirannya. Lalu, kali ini dengan mata terbuka, dia membayangkan dengan sangat jelas hingga seolah terlihat nyata di hadapannya. 

“Icicle Lance.” 

Di ujung tangan kanannya, tombak es tercipta. 

“Tembak.” 

Tombak es itu meluncur ke depan dengan kecepatan yang mengagumkan. 

“Berarti... Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi setidaknya sebelum mengolah kulit, aku sudah punya kemampuan untuk meluncurkan sihir. Hanya saja...”

Yang paling penting dalam sihir adalah gambaran. Entah baik atau buruk.

Mungkin gambaran ‘”Icicle Lance tidak bisa meluncur” telah terpatri di kepalanya.

Benar, beberapa hari setelah reinkarnasi dia memang belum bisa melakukannya. Namun berkat latihan, kemampuan itu sudah muncul tanpa dia sadari. Hanya saja, bayangan “tidak bisa” menghalanginya...

Apa ini yang disebut mental block? 

“Lalu semua usahaku selama ini sia-sia...? Tapi tidak, ini berarti aku telah memperoleh kekuatan besar. Ya, aku menang!” 

Keesokan harinya, Ryo mendapati dirinya terpojok dalam situasi tanpa jalan keluar.


* * *


Sehari setelah berhasil melepaskan Icicle Lance, Ryo pergi berburu ke Hutan Timur seperti biasanya.

Sekarang dia sudah bisa menembakkan Icicle Lance. Sejujurnya, sekalipun harus melawan Greater Boar, dia merasa mampu menang dengan sempurna.

Itulah yang dia yakini.

Penuh dengan rasa percaya diri.

Lebih berani dari sebelumnya.

Namun, yang menyerangnya bukanlah seekor Greater Boar.


Dari depan dan belakang, sihir serangan angin tak kasat mata, Air Slash, beterbangan ke arahnya.

“Satu saja sudah merepotkan! Ice Wall, segala arah!”

Dari depan, belakang, kiri, dan kanan Ryo, dinding es setebal satu meter dengan tinggi dua meter menjulang, menahan hantaman langsung dari Air Slash.

Di tangan kanannya, dia menggenggam bagian depan dari tombak bambu bermata pisau yang patah di tengah. Bagian belakang, sampai ujung tombak yang disebut ishizuki, sudah terlempar entah ke mana.

Ice Wall itu transparan, sehingga dia bisa melihat sisi lain dari dinding tersebut. Di depan dinding es, seekor Assassin Hawk terbang dengan mata kanannya tertutup.

Ya, itu adalah Assassin Hawk yang dulu pernah membuatnya pasrah pada kematian.

Lebih buruk lagi, di belakangnya, seekor Assassin Hawk lain juga terbang. 

Keduanya menyerang Ryo hanya dengan Air Slash sambil menjaga jarak. Lebih menyebalkan lagi, salah satunya selalu bergerak ke titik buta Ryo sebelum menyerang. Hampir selalu, Assassin Hawk bermata satu menyerang dari depan, sementara yang satunya, si pendatang baru hari ini, menyerang dari titik buta.

Air Slash ketiga menghantam, dan Ice Wall di depan Ryo retak.

Pada saat yang sama, dari tangan kirinya melesat garis-garis air yang mengarah ke burung bermata satu itu.

Water Jet, 32.

Namun entah karena karakteristik aerodinamisnya atau semacamnya, makhluk itu melesat ke samping seolah berpindah sekejap, keluar dari jangkauan serangan.

Detik berikutnya, Ice Wall di belakang pun pecah dihantam Air Slash ketiga dari arah sana. 

Sejujurnya, napas Ryo masih terengah. Dia terus berlari, menghindari serangan dari depan dan belakang sambil mencoba membalas. Tapi meskipun bisa menghindari serangan, semua upaya balasannya kembali digagalkan.

Tombak bambu yang patah dikorbankan untuk menahan serangan yang tak bisa dia elakkan, sementara dia bersembunyi di balik Ice Wall, seperti kura-kura di balik tempurung, untuk mengatur napas. Namun Ice Wall selalu pecah setelah tiga kali serangan Air Slash. Setiap kali dinding itu pecah, dia hanya bisa membalas sekali lalu segera menciptakan dinding baru. 

“Aku ingin kabur, tapi...terjepit di depan dan belakang, tak ada jalan keluar...”

Yang baru itu tepat menjaga posisi di belakangnya, terus menyerang dari titik buta sekaligus memutus jalur pelarian.

Ryo tidak tahu berapa lama dia bisa bertahan. Dengan tempo seperti ini, mengulang Ice Wall dan Water Jet, mungkin dia bisa bertahan sekitar 24 jam... Namun, rasa lelah tetap menumpuk.

Dan kelelahan selalu melahirkan kesalahan.

Pertarungan melawan kelelahan yang tak bisa dihindari.

Dan sekali saja salah langkah, nyawa menjadi taruhannya.

Pikiran itu saja membuat bebannya semakin berat. 

“Lalu apa yang harus kulakukan...?”

Dia menciptakan lagi Ice Wall, lalu menganalisis situasi.

Kartu yang sudah dia tunjukkan hanya Ice Wall dan Water Jet dari tangan. Dia juga sudah tahu, bahkan 32 tembakan serentak Water Jet pun masih bisa dihindari.

Syarat kemenangan kali ini bukanlah membunuh musuh, melainkan melarikan diri ke dalam penghalang. Untuk itu, mungkin lebih baik memberikan luka seperti pertemuan sebelumnya, agar mereka mundur. 

“Haruskah kupancing mereka?”

Begitu dia berbisik, Ice Wall di depan dan belakang pecah bersamaan.

Tanpa memberi jeda, dia menembakkan 16 Water Jet ke arah si bermata satu.

Lalu dia berlari. 

Tentu saja, Assassin Hawk bermata satu menghindar dari Water Jet itu. Ryo, sambil berlari, mengulurkan tangan kirinya ke depan, hendak melancarkan sihir lain.

Namun pada detik itu juga, dia terjatuh.

Melihatnya jatuh, si pendatang baru meluncur dengan serangan menyeluruh.

Mungkin bosan hanya saling adu Ice Wall dan Air Slash terus-menerus, kini dia menyerang seakan berkata, “Kena kamu!” 

Tapi itu memang apa yang direncakan Ryo.

Begitu jatuh, dia langsung berguling ke kiri, menghindari serangan mendadak dari belakang. Dan ketika si pendatang baru mendekat begitu dekat akibat serangan itu, Ryo menyodorkan tombak bambu bermata pisau yang kini tinggal separuh panjangnya.

Tidak, dia menghentikan sodokan itu, lalu kembali berguling lebih jauh ke kiri.

Hanya seujung napas.

Assassin Hawk bermata satu itu melesat tepat ke tempat dia berada barusan, seolah sudah membaca jebakannya. Bahkan setelah menerjang, dia tidak berhenti, melainkan terus terbang melintas.

Mungkin dia sudah belajar dari pengalaman lalu.

Sementara itu, si pendatang baru sudah kembali ke udara. 

“Giiiyaaeeegiiigii!”

Yang bermata satu seperti sedang menegur kawannya. Jangan lengah, mungkin begitu maksudnya.

Lalu keduanya kembali ke posisi semula: si bermata satu di depan, si pendatang baru di belakang, di titik buta Ryo.

Jarak mereka sekitar dua puluh meter dari Ryo. 

Tanpa mengalihkan pandangan dari si bermata satu, Ryo berdiri perlahan lalu melafalkan mantra.

“Ice Wall Package.”

Saat itu, dia merasa si pendatang baru tersenyum sinis di belakang. Tentu saja dia tak bisa melihatnya, tapi rasanya jelas. Seolah berkata, “Barusan hampir kena, tapi kamu pakai trik yang sama lagi?” 

Pendatang baru, aku ingin sekali mengucapkan, ‘kamu sudah mati tanpa sadar’, tapi si bermata satu punya insting tajam, jadi kucoret saja. Lagipula, kamu pasti bergerak ke tempat itu lagi, kan? 

Begitu dia berpikir begitu...

Hujan Icicle Lance mengguyur kepala si pendatang baru.

256 jumlah tombak es.

Seperti hujan cahaya dari tombak es, turun dalam radius tiga puluh meter dengan si pendatang baru sebagai pusatnya. 

“Gyaaaaaaaah!”

Burung itu mencoba menghindar, namun jangkauannya terlalu luas. Beberapa tombak mengenai sayapnya, membuatnya terhempas ke tanah. Semua itu hanyalah Icicle Lance yang diciptakan di udara, lalu dijatuhkan dengan gaya bebas.

Memang dia sudah bisa menembakkan Icicle Lance, tapi hanya satu yang bisa dia arahkan secara sadar. Dan tombak itu sudah dipersiapkan di luar Ice Wall sejak awal. 

“Tembak.”

Tanpa meleset, tombak itu menembus leher si pendatang baru yang terjatuh.

“Guaaaaaaaahhh!”

Assassin Hawk bermata satu berteriak.

Tatapan matanya pada Ryo dipenuhi kebencian yang bahkan lebih dalam daripada yang dulu. 

Mereka hanya saling berhadapan beberapa detik.

Lalu, si bermata satu membalikkan tubuhnya dan terbang pergi. 

“Huft... Entah bagaimana aku selamat. Tapi serangan Icicle Lance dari langit ini, tombak cahaya yang menghujani, sepertinya keren juga. Ya, ini harus kujadikan jurus pamungkas.”

Meski sempat bertarung mati-matian sampai pasrah pada kematian, akhirnya semua berakhir baik.

Ryo memang berhasil selamat dari pertarungan penuh dendam dengan Assassin Hawk itu, tapi kelemahan dirinya pun jadi jelas. Itu adalah penguatan tubuh, secara fisik. 

Di awal pertarungan, dia sudah kehabisan napas karena terlalu banyak berlari, dan butuh waktu lama untuk menenangkan diri. Kali ini dia selamat karena si bermata satu hanya berfokus menyerang jarak jauh, memberinya waktu dengan Ice Wall. Tapi tentu saja, tidak selalu dia akan seberuntung itu. 

“Stamina itu penting.”

Ryo mengucapkannya lantang.


Sejak hari berikutnya, alur keseharian Ryo sedikit berubah.

Pertama, setelah bangun pagi, dia melakukan senam peregangan. Selama tiga puluh menit penuh. Otot yang lentur mencegah terjadinya cedera. Ryo memang bukan tipe orang yang tubuhnya lentur, tapi dia tahu bahwa jika dilakukan setiap hari, peregangan akan memberi hasil pada siapa pun. 

Setelah itu sarapan. Sarapan itu penting. Dasar dari sebuah hari. Dia makan dengan baik. Usai makan, sambil menunggu perutnya tenang, dia membaca atau berlatih sihir.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, dia mulai berlari mengelilingi tepi penghalang. Berjalan. Terus berjalan tanpa henti... Sesekali dia membentuk es atau air di tangannya, menggunakan sihir sambil berlari... Jika lelah, dia berjalan. Intinya, dia terus bergerak. 

Siang harinya, dua hari sekali, dia pergi berburu ke luar penghalang, ke Hutan Timur atau Hutan Utara.

Sejak saat itu, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Assassin Hawk bermata satu. Namun Ryo tahu, cepat atau lambat dia harus menyelesaikan urusan itu.

Bukan soal logika. Memang sudah seharusnya begitu. 

Setelah berburu, membawa pulang makanan, dia berlatih sihir. Pada hari-hari tanpa perburuan pun, dia tetap berlatih sihir.

Lalu sebelum mandi, dia melakukan seribu kali ayunan.

Bukan dengan tongkat pemukul bisbol, melainkan dengan bambu yang dipotong, diperlakukan seperti sebuah shinai, lalu diberi lapisan es untuk menyesuaikan beratnya. 

Sejak kelas satu SD hingga musim dingin kelas tiga SMP, Ryo pernah berlatih di dojo kendo. Awalnya hanya dengan rasa ingin tahu, sekadar bermain. Dia tidak pernah ikut kompetisi. Teman-temannya di SMP ikut kegiatan ekstrakurikuler sekolah, sementara Ryo memilih pulang, lalu berlatih kendo di gedung bela diri distrik setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Begitulah kesehariannya. 

Bimbingan di gedung bela diri hanya sampai jenjang SMP.

Saat memasuki SMA, dia disarankan untuk ikut latihan di markas besar kepolisian prefektur, namun dia menolak. Ryo tidak membenci kendo, tapi dia juga tidak berniat menekuninya dengan serius.

Dia bukan tak berbakat dalam olahraga. Dia suka menonton maupun bermain bisbol, sepak bola, dan basket. Tapi dia tidak pernah benar-benar tenggelam di dalamnya. 

Dalam hidupnya sejauh ini, tidak pernah ada sesuatu yang benar-benar membuatnya terobsesi.

Dia tidak membenci usaha keras. Dia tahu nilainya. Karena itu, jika ada sesuatu yang ingin dia coba, dia akan mencobanya. Dia berusaha dan berlatih sampai bisa melakukannya. Setelah itu, meski tidak langsung kehilangan minat, dia tidak pernah benar-benar mengejar sesuatu sampai ke batas terakhirnya. 

Ryo bukanlah seorang jenius.

Namun, hampir semua hal bisa dia lakukan dengan cukup memuaskan asalkan dia menekuninya dengan serius. 

Tapi sejak datang ke dunia Phi, hal itu sedikit berubah.

Yang mengubah Ryo adalah sihir. Mungkin justru karena dia tidak memiliki guru, itu menjadi hal yang baik. Tidak adanya buku sihir atau semacamnya pun, bisa jadi malah menguntungkannya. 

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ryo benar-benar tenggelam dalam sesuatu—sihir.

Tidak mudah untuk dikuasai. Ada banyak hal yang tak dia pahami.

Tapi justru itulah yang menarik. 

Dan untuk memanfaatkan sihir itu, ternyata banyak hal lain yang diperlukan.

Karena kurang stamina, dia hampir mati.

Tombak bambunya patah di tengah, membuatnya sadar betapa kurangnya teknik yang dia miliki.

Stamina bisa ditempa dengan berlari. Siapa pun bisa mendapatkannya hanya dengan itu. Metodenya sudah mapan sejak di Bumi. 

Namun ada satu hal yang harus diwaspadai, patah tulang akibat kelelahan. Tulang dari lutut ke bawah bisa patah... Asupan kalsium memang penting... Tapi dia tidak punya susu, sumber kalsium dengan penyerapan terbaik. Jadi dia harus mengandalkan ikan kecil yang dimakan dengan tulangnya. Lambat laun, itu pasti akan jadi menu utamanya. 

Adakah cara lain untuk mencegah patah tulang akibat kelelahan, selain dari makanan? Tentu saja ada.

Yaitu senam peregangan... Stretching.

Betapa serbagunanya peregangan! 

Karena itu, untuk saat ini, dia berlari... Jika lelah, dia berjalan. Tapi dia tidak pernah berhenti. Dia berjalan terus, demi memperkuat fungsi pernapasan dan jantung.

Stretching, berlari, lalu berjalan.

Hanya dengan itu, stamina bisa ditempa oleh siapa pun. 

Selain stamina... Masalah lain adalah teknik menggunakan tombak bambu.

Tapi itu bisa dia tinggalkan. Tombak bermata pisau itu sejak awal memang hanya untuk menghabisi lawan dari jarak agak jauh. Dia bahkan belum pernah menonton satu pun video tentang penggunaan tombak. 

Lalu apa yang bisa dia lakukan?

Dia pernah belajar kendo sebelumnya.

Memang lima tahun terakhir dia tidak pernah memegang shinai, tapi sembilan tahun berlatih sebelumnya masih tersimpan dalam ingatan tubuhnya. 

Kenjutsu dan kendo adalah hal yang berbeda.

Ya, itu benar.

Namun, kendo tidak lahir dari kekosongan. Sumbernya jelas berasal dari kenjutsu.

Artinya, yang perlu Ryo lakukan tidak sulit, dia hanya perlu mengikuti aliran yang dulu mengalir dari kenjutsu menuju kendo, tapi kini dia tempuh arah sebaliknya. Tidak mudah, tapi dia pasti bisa. 

Kalau pun gagal, tidak masalah. Pada dasarnya, pedang hanya dia gunakan untuk mendukung sihir.

Yang utama tetaplah sihir air, karena Ryo adalah seorang penyihir atribut air.


Hari ini pun, Ryo berlari. Atau mungkin berjalan.

Karena matahari terbit lebih awal, bahkan hanya di pagi hari dia bisa bergerak cukup lama. Sekitar lima jam dalam hitungan waktu Bumi. Bukan berarti dia berlari terus dengan kecepatan tetap seperti maraton; kadang dia menyelipkan lari interval, kadang hanya berjalan.

Lingkar luar penghalang panjangnya sekitar 600 meter. Dia menempuh dua putaran dengan lari cepat, satu putaran dengan lari pelan, lalu dua putaran berjalan, dan seterusnya. 

Dengan cara itu, meski diselingi jalan kaki, dia tetap bergerak tanpa berhenti selama lima jam. Dan sambil terus bergerak, dia juga berlatih sihir.

Selain itu, ada satu hal yang selalu dia lakukan setiap hari bersama stretching, berjalan, dan berlari, yaitu mengayun pedang. Dengan shinai bambu sepanjang satu meter yang dilapisi es untuk menambah berat, dia berlatih mengayun pedang berulang kali. 

Kendo Jepang, atau kenjutsu, memiliki ciri khas yang unik.

Baik dengan shinai maupun katana, yang terpenting adalah cara menggenggam.

Tangan kiri menggenggam dekat ujung gagang, tangan kanan menggenggam di dekat tsuba. Kedua kepalan tangan tidak saling menempel. Jaraknya cukup untuk masuk satu kepalan lagi di antaranya.

Panjang gagang 24 sentimeter memang ada demi hal itu. 

Tangan kiri memegang dan menopang. Tangan kanan menentukan lintasan bilah.

Lalu mengayun, mengayun, dan mengayun.

Satu per satu, perlahan pada awalnya, seakan membangkitkan kembali ingatan tubuh.

Perlahan, kecepatannya meningkat.

Ayunan demi ayunan, hingga akhirnya dia bisa mengayun tanpa berpikir.


Begitu latihan pagi berakhir, tubuh Ryo sudah berada di puncak kelelahan.

Namun dia tidak boleh tumbang di sini. Pertama-tama, dia harus melakukan icing. Menurunkan suhu otot yang memanas.

Itulah benar-benar keahlian khas seorang penyihir atribut air.

Dia menempelkan lapisan air berhiaskan pecahan es ke tubuhnya, mendinginkan otot sedikit demi sedikit. Sekitar 15 menit icing membuat pembuluh darah menyempit. Begitu proses icing selesai, pembuluh darah melebar kembali karena efek pantulan, dan zat kelelahan dibuang lebih efisien melalui aliran darah yang lebih deras dari biasanya. 

Lalu, dia melakukan peregangan sebagai latihan pendinginan. Dengan itu, semestinya dia juga terhindar...dari cedera.

Makan siang didapat sisa dari sarapannya. Sejak awal, dia selalu memasak untuk dua kali makan sekaligus. Membuat satu porsi atau dua porsi tidak ada bedanya dalam mengerjakannya. 

Dan tibalah waktunya berburu. Walau begitu... Belakangan ini, kegiatan berburu hampir berubah menjadi rutinitas semata.

Jika lawannya hanyalah Lesser Rabbit atau Lesser Boar, tentu saja dia tidak akan pernah berada dalam bahaya.

Bahkan melawan Normal Rabbit atau Normal Boar pun, hasilnya hampir sama.

Tentu, itu bukan alasan baginya untuk lengah. Karena jika sampai dia bertemu Assassin Hawk, tidak ada yang bisa menjamin apa yang akan terjadi. Bila dipikir-pikir, Assassin Hawk benar-benar bisa disebut sebagai musuh yang merepotkan bagi manusia. 

Untuk saat ini, dia masih kesulitan menjalani menu latihan pagi, sehingga hal itu berpengaruh sampai ke kegiatan sore. Namun begitu tubuhnya lebih terbiasa, Ryo ingin memperluas jangkauan wilayah jelajahnya.

Untuk sementara, dia hanya ke timur atau utara.

Namun suatu saat nanti, dia harus pergi ke barat daya... Menuju laut!

Ya, cepat atau lambat, dia harus sampai ke laut. Karena dia perlu garam.

Air dan garam adalah dua hal yang mutlak diperlukan agar manusia bisa bertahan hidup.

Air bisa dia ciptakan tanpa batas, tetapi garam tidaklah demikian.

Mukjizat Tuhan seperti dalam Kitab Kejadian, ketika istri Lot berubah menjadi pilar garam, tentu saja mustahil dilakukan oleh Ryo... Lagipula, kalaupun bisa, itu justru mengerikan.

Lebih aman untuk pergi ke laut dan membuat ladang garam, atau menggunakan cara lain untuk memperoleh garam. 

Garam yang sudah disiapkan oleh Michael palsu cukup banyak, bahkan dengan pemakaian sekarang pun bisa bertahan lebih dari setahun. Namun bagi Ryo yang belum pernah membuat ladang garam, dia ingin tahu lebih awal seberapa sulit sebenarnya mendapatkan garam. Dia tidak ingin panik nanti ketika persediaan hampir habis.

Selain itu, ada juga kemungkinan dia akan ingin kembali mencicipi hasil laut... Meski dia penggemar berat daging, bukan berarti dia membenci ikan.


* * *


Sudah sekitar dua bulan sejak Ryo mulai menjalani menu latihan untuk membangun daya tahan. Akhirnya, meski menyelesaikan menu latihan pagi, hal itu tidak lagi memengaruhi kegiatannya di sore hari.

“Baiklah, hari ini aku akan pergi sedikit lebih jauh. Pertama-tama, perlu ada penanda.”

Mengucapkan itu, Ryo mulai membangun menara es di dalam penghalang. Bentuk luarnya lebih mirip tiang pengerek bendera yang amat tebal daripada sebuah menara. Tingginya sekitar seratus meter. Dari kejauhan, pantulan cahaya matahari membuatnya tampak indah.

“Dengan ketinggian ini, seharusnya bisa terlihat dari kebanyakan tempat.”

Hutan Rondo memang lebat, namun tetap ada celah-celah terbuka di antaranya. Dengan ketinggian setinggi itu, menara itu seharusnya bisa terlihat bahkan dari jarak dua kilometer.

Untuk sementara, menjadikannya penanda akan mencegahnya tersesat saat pulang.

Meski tingginya seratus meter, menara itu dibangun dengan mengutamakan kecepatan, sehingga banyak bagian dibuat seadanya. Diameternya sekitar tiga meter, berbentuk silinder sederhana.

Aneh memang tiang es itu tidak roboh, tapi Ryo tahu bahwa selama aliran sihirnya mengalir ke sana, menara itu tidak akan tumbang. Entah kenapa, dia bisa mengerti hal itu begitu saja.

“Rasanya hal seperti ini bekerja dengan hukum fisika yang berbeda dari yang kuketahui di Bumi.”

Mungkin, seiring meningkatnya keterampilannya dalam sihir, dia mulai menyadari perbedaan dunia ini dengan Bumi. Atau lebih tepatnya, kini dia mampu menciptakan fenomena yang mustahil terjadi di Bumi. Namun, Ryo sendiri belum terlalu menyadari hal itu sepenuhnya. 

Peralatan untuk ekspedisi tetap sama seperti biasanya.

Hanya selembar kain pinggang dan sandal. Seperti biasa, tombak bambu dengan pisau di ujungnya dan karung goni.

Setiap hari dia berlatih ayunan dengan bambu mirip shinai, tetapi dia tidak memiliki senjata yang bisa dipakai sungguhan sebagai pedang. Untuk sementara, satu-satunya senjata fisik adalah tombak bambu berpisau yang baru dia perbarui ini. Sekalipun patah, selama bagian pisaunya tetap utuh, dia bisa menggantinya!

Sungguh sangat ramah lingkungan!

“Baik, mari kita ambil arah timur laut.”

Ke utara terbentang rawa yang sangat luas. Karena dia tidak tahu di mana ujung timur rawa itu, dia memutuskan untuk bergerak ke arah timur laut. Jika ternyata rawa itu masih ada, maka setidaknya dia bisa memastikan rawa itu membentang jauh dari timur ke barat.


Setelah berangkat, dalam jarak sekitar satu kilometer dari penghalang, tidak ada perubahan yang berarti.

Satu-satunya monster yang ditemuinya hanyalah seekor Lesser Boar. Buah yang berhasil dikumpulkan hanya sepuluh buah ichizuku, serta buah merah mirip apel yang disebut rindo.

“Baik rupa maupun rasanya sama seperti apel! Dengan ini aku bisa membuat pai apel... Meski tentu saja aku tidak tahu cara membuatnya!”

Dia menanggapi dirinya sendiri dengan bercanda... Sejak reinkarnasi, Ryo jelas lebih sering berbicara sendiri.

Dia berhasil mengamankan sekitar sepuluh buah rindo, lalu melanjutkan perjalanan ke timur laut. 

Kira-kira setelah dia berjalan hampir dua kilometer dari rumah.

Praaang.

Ice Wall di belakangnya pecah dalam satu serangan.

Untuk ekspedisi kali ini, karena dia masuk jauh ke dalam Hutan Rondo dan tidak tahu apa yang menunggunya, Ryo bergerak sambil menjaga diri dengan lapisan tipis Ice Wall di sekelilingnya.

Meskipun tipis, Ice Wall itu seharusnya cukup kuat menahan dua kali serangan Air Slash, sihir atribut angin tak kasat mata milik Assassin Hawk.

Namun kali ini, dinding itu hancur hanya dengan sekali serang. 

Tubuhnya bergerak lebih cepat daripada pikirannya.

Dia melompat ke depan kanan, jatuh dengan bahu lebih dahulu ke tanah, berguling untuk meredam benturan, lalu bangkit dan segera melafalkan mantra sambil menoleh ke belakang.

“Ice Armor.”

Bagian dada, pinggang, pelindung tangan, dan pelindung kaki terbentuk dari es dan menempel di tubuhnya.

Untuk menghindari serangan mematikan, meski lempengan es itu tidak melingkupi seluruh tubuh, setidaknya baju zirah sederhana akan lebih baik.

“Mirip kobra raksasa... Kitesnake? Serangan langsung dengan menghantamkan ekornya bagaikan cambuk. Dari gerakan ekor itu juga tercipta Air Slash. Dan yang paling berbahaya, semburan racun dari mulutnya. Benar-benar menyebalkan.” 

Tampilannya monster itu memang seperti kobra, persis seperti yang dia gumamkan. Lehernya terangkat tinggi seperti hendak menyerang. Namun ukurannya benar-benar luar biasa.

Panjangnya... Sulit ditebak, sebab tubuhnya melingkar. Bagian kepalanya menjulang sekitar tiga meter dari tanah, sehingga Ryo harus mendongak untuk melihatnya.

Kemungkinan besar, serangan yang memecahkan Ice Wall adalah hantaman ekornya. Dia sudah cukup sering menghadapi Air Slash saat melawan Assassin Hawk, dia cukup tahu betapa merepotkannya serangan tak kasat mata itu. Tapi bahkan serangan itu pun seharusnya tidak bisa menghancurkan Ice Wall hanya dalam sekali hantaman...

Artinya, yang mengenai dinding es itu adalah ekornya. Itu berarti dia sudah berada dalam jangkauan serangan Kitesnake. Dia harus mengatur ulang posisi dan merebut kembali inisiatif. 

Ice Wall, bentuk huruf U.

Ice Wall mengurung Kitesnake dari depan dan sisi kiri-kanan, membentuk huruf U. Awalnya mantra ini digunakan untuk melindungi diri saat mundur, tetapi bisa juga digunakan seperti sekarang.

Begitu dia melafalkannya dalam hati, dinding es muncul, dan Ryo melompat ke belakang. Setidaknya, Ice Wall itu akan menahan satu kali serangan ekor. Dalam waktu singkat itu, dia bisa mundur keluar dari jangkauan Kitesnake. 

Namun gerakan Kitesnake melampaui perkiraan Ryo.

Bukannya menghancurkan Ice Wall, ular itu justru bergerak mengitari dinding dan menerjang Ryo yang mundur.

“Memang benar, ular bergerak terlalu cepat di atas rerumputan. Tapi!”

Ice Burn.

Dia membekukan tanah bersama rumput di atasnya, menciptakan jalanan es. Dengan momentum gerakannya, Kitesnake yang masuk ke permukaan licin itu tak lagi bisa menghentikan tubuhnya sendiri. 

Icicle Lance, 16.

Sudah menjadi jurus andalannya—kombinasi Ice Burn dan Icicle Lance. Dari permukaan es, 16 tombak es muncul dengan kemiringan sudut 30 derajat, menghadang ular raksasa yang sedang meluncur.

Kretak!

“Apa!?”

Jika babi hutan, tombak itu akan menembus tubuhnya. Namun Kitesnake justru mematahkan Icicle Lance dengan ekornya. Sama seperti saat dia memecahkan Ice Wall di awal. 

“Ice Wall.”

Momentum luncuran ular itu belum berhenti. Artinya jarak dengan Ryo semakin singkat setiap detik. Dia harus menghentikan gerakan itu dulu. Maka dia membuat Ice Wall. Namun...

Brak!

Dinding itu kembali hancur oleh ekor.

“Sudah kuduga. Ice Wall, 5 lapis.”

Kali ini bukan Ice Wall tipis yang selalu dia pasang, melainkan lima lapisan dinding es setebal dua kali lipat, masing-masing selebar tiga meter dan setinggi tiga meter.

Ini adalah terjemahan 

Itu adalah sihir yang dirancang khusus untuk pertahanan mutlak.

Krek, bum.

Seperti sebelumnya, ular itu mencoba memecahkannya dengan ekornya, namun kali ini tak bisa dihancurkan hanya dengan satu hantaman. Hanya retakan yang muncul pada lapisan pertama, dan tubuhnya yang meluncur pun berhenti setelah menabrak tembok es. 

Namun, Ryo tidak diberi kesempatan untuk bernapas lega.

Begitu Kitesnake menyadari bahwa ia tak bisa menangkap Ryo dengan teknik meluncurnya, ia segera mengayunkan ekor andalannya ke sisi luar tembok es, mencoba menyapu Ryo, sambil melepaskan Air Slash. 

Ice Shield.

Sebuah perisai sebesar raket tenis tercipta di udara, menahan serangan Air Slash. Namun, itu justru memberi kesempatan bagi ekor Kitesnake untuk mendekat. 

Itu adalah kesalahan fatal dalam pengambilan keputusan. 

“Ice Wall, 5 lapis.”

Ice Wall 5 lapis adalah pertahanan paling kokoh yang dimiliki Ryo.

Namun, jika tembok es biasa hanya memerlukan 0,1 detik untuk tercipta, maka Ice Wall 5 lapis membutuhkan hampir satu detik penuh. Dalam keadaan normal, itu bisa dibilang cepat. Tetapi dalam pertarungan jarak sedekat ini, satu detik bukanlah waktu yang singkat. 

Dan kini kelemahan itu tampak jelas.

Ryo memang sempat melafalkan Ice Wall 5 lapis, tetapi pembentukan tidak sempat selesai sepenuhnya. Ekor Kitesnake, meski kecepatannya sudah berkurang, tetap berhasil mencapai Ryo di detik terakhir. 

“Ghghah!”

Pelindung dada es Ryo hancur berantakan. 

Untungnya, dengan melompat ke belakang dan berusaha mengurangi dampak serangan, dadanya tidak sampai berlubang. Meski begitu, dia mungkin mengalami memar parah, bahkan mungkin retak pada tulang rusuknya. 

Namun, Ryo tidak merasakan sakit. Seperti seorang pecandu pertempuran, otaknya memompa adrenalin dalam jumlah besar. 

Tanpa jeda, dia mengangkat tangan kiri dan melafalkan mantra.

“Icicle Lance, 2.”

Dari tangan kirinya, sebuah Icicle Lance ditembakkan, melengkung melewati Ice Wall, langsung menuju kepala Kitesnake. Untuk menahannya, ular itu terpaksa segera menarik kembali ekornya. 

Dan berhasil menangkisnya.

Dengan begitu, Ryo berhasil memutus mengatur ulang situasi. 

“Ice Armor.”

Dia kembali membentuk pelindung dada yang hancur tadi. Tanpa itu, sudah pasti dia akan mati. 

Kini jarak antara Ryo dan Kitesnake sekitar 15 meter.

Di hadapan Kitesnake berdiri Ice Wall 5 lapis setinggi 3 meter dan selebar 3 meter.

Di bawah tubuhnya masih terbentang permukaan licin Ice Burn, meski hanya dengan radius 2 meter.

Kitesnake mendongakkan kepalanya, mencapai ketinggian 3 meter, sejajar dengan puncak Ice Wall. 

“Aku memang berhasil mengatur ulang pertarungan, tapi aku tak ingin lagi bertarung jarak dekat.”

Ekor Kitesnake terlalu berbahaya. Dari jauh ia bisa meluncurkan Air Slash, sementara dari dekat ia menghancurkan Ice Wall hanya dengan satu pukulan. 

Namun, lagi-lagi Kitesnake yang mengambil inisiatif. Dengan kepala mendongak, tiba-tiba ia melompat. 

“Apa!?”

Melompat tinggi, ia melewati Ice Wall 5 lapis, langsung mengarah ke Ryo. 

“Ice Burn.”

Namun, sebelum sihir itu sempat menjalar ke arahnya, Kitesnake bergerak menyamping seolah sudah melihat teknik itu. Serangan lurus kini berubah menjadi serangan melengkung. Bahkan sambil bergerak, dia terus meluncurkan Air Slash bertubi-tubi. 

“Ice Shield, 4.”

Empat Ice Shield melayang di udara menahan serangan. Tetapi ular itu terus bergerak zig-zag, seolah melakukan tipuan, semakin mendekat. 

Dan akhirnya, dari mulutnya terpancar racun.

Serangan racun itu jauh lebih luas daripada yang Ryo bayangkan. Serangan yang mustahil untuk dihindari. Dalam kondisi normal, itu sudah pasti akhir dari segalanya. 

Namun, Ryo bukanlah orang biasa. Dia adalah penyihir atribut air. 

“Squall.”

Sekejap setelah mantra diucapkan, hujan deras layaknya angin muson Asia Tenggara turun dengan tiba-tiba, membasahi area dari tempat Ryo berdiri hingga ke arah Kitesnake. Guyuran itu menghantam racun di udara, menjatuhkannya ke tanah, lalu mengalirkannya menjauh. 

Bahkan tanpa berbicara, jelas terlihat bahwa makhluk itu terkejut oleh respons yang sama sekali tak terduga. 

“Air Mendidih.”

Mantra berikutnya diarahkan pada Kitesnake yang kuyup karena hujan deras tadi.

Yang dididihkan bukan tubuh ular itu sendiri, melainkan air hujan yang menempel pada tubuhnya, serta genangan air di bawahnya. Dulu, teknik mendidihkan air ini memakan waktu beberapa menit. Namun kini, sama seperti sihir lain, dia bisa melakukannya kurang dari satu detik. 

Dengan kata lain, dalam sekejap saja, Kitesnake disiram air mendidih di sekujur tubuhnya. 

“Gyoeeueeeeee!”

Jeritan melengking keluar dari mulutnya yang terbuka lebar...

“Icicle Lance.”

Dan ke dalam mulut itu, menembus langsung sebuah tombak es raksasa. 

Icicle Lance menghujam rongga mulutnya, menembus dalam-dalam... Dan Kitesnake pun menghembuskan napas terakhir.


Ryo jatuh terduduk, pantatnya membentur tanah, lalu tetap duduk di sana. 

“Hah... Syukurlah ada mandi... Kalau bukan karena itu, aku pasti sudah mati. Teknik mendidihkan air ini pun tak akan kupelajari kalau bukan karena kebutuhan untuk mandi. Aku harus berterima kasih pada Michael palsu yang sudah menyiapkan bak mandi.” 

Duk!

Begitu rasa lega datang, rasa sakit di tulang rusuk yang dihantam Kitesnake pun mulai menjalar.


Dengan susah payah, Ryo akhirnya kembali ke rumah.

Mayat Kitesnake dia bekukan dan simpan ke dalam gudang persediaan. 

Dia sama sekali tidak berniat memakan ular. Meskipun seorang teman kuliah yang pernah tinggal di Asia Tenggara berkata, “Dagingnya sebenarnya cukup lezat, rasanya ringan, lho,” tetap saja Ryo tidak ingin mencobanya. 

Namun, sebagai bahan material, mungkin saja ular itu berguna... Ya, seperti dompet atau tas dari kulit ular yang pernah dia lihat di Bumi... Dengan teknik penyamakan kulit yang sudah dia kuasai, mungkin dia bisa memanfaatkannya untuk banyak hal. 

“Tas, ya... Meskipun sebenarnya karung goni juga tidak begitu merepotkan. Hanya saja, aku tidak punya benang atau tali. Untuk mengganti tali, aku bisa menggunakan sulur tanaman, tapi rasanya aneh kalau pakaian harus menggunakan sulur juga.” 

Dalam hal pakaian, hidup sederhana di Hutan Rondo masih sangat sulit. 

Untuk urusan makanan, setidaknya ada kemajuan. Dari ekspedisi kali ini, dia berhasil mendapatkan buah baru: Rindo, yang rasanya dan bentuknya mirip apel, selain Ichizuku. Buah yang sudah lama dia idamkan. 

Dalam menjalani hidup sederhana, memperkaya variasi makanan adalah hal yang penting. 

“Meski begitu, bisa bertemu dengan Kitesnake... Tadi benar-benar berbahaya.” 

Itu adalah pertama kalinya Ryo menghadapi monster beracun. Dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula hanya tertulis, “Menyemburkan racun.” Sama sekali tidak terbayang baginya kalau serangan itu berupa kabut racun yang menyebar luas. 

“Untung saja sihir Squall yang awalnya kubuat untuk menyiram tanaman bisa berguna dalam pertarungan. Benar-benar tidak ada yang tahu, sihir apa yang akan berguna di mana.” 

Sihir Squall, yang menggagalkan racun Kitesnake dari udara ke tanah lalu menghanyutkannya pergi, sebenarnya dia ciptakan dengan bayangan tentang menyiram tanaman menggunakan penyiram tanaman. Bedanya, kali ini air yang turun jauh lebih deras, lebih kuat, dan mencakup area luas. 

Tanaman yang dia sirami adalah pohon Ichizuku yang sebelumnya dia pindahkan. Sebenarnya di hutan pun buah itu bisa ditemukan, tapi dia berpikir, alangkah baiknya kalau di halaman rumah ada pohon yang bisa dia petik sewaktu-waktu ketika ingin makan di malam hari... Maka, dengan niat ringan, dia menanamnya. 

Tentu saja tanpa pestisida, tanpa pupuk kimia, bahkan tanpa pupuk organik—murni budidaya alami. Karena itu jauh lebih lezat.

Bukan karena dia sama sekali tak bisa mendapatkannya! Bukan, sama sekali bukan! 

Kalau tujuannya mengejar hasil panen melimpah, maka pemupukan dalam jumlah besar tentu pilihan yang tepat. Tapi dalam hidup sederhana... Semua itu tidak terlalu perlu. 


Namun, ada satu bidang makanan yang masih belum menunjukkan kemajuan berarti.

Padi. 

Dia menyimpan cukup banyak gabah, baik untuk ditanam maupun untuk dimakan. Semuanya dia dapatkan dari rawa-rawa di Hutan Utara. Tapi yang ingin Ryo lakukan ialah mengembangkan varietas baru. 

Untuk itu, dia membutuhkan sawah. 

Andai dia bisa menggunakan sihir tanah, mungkin dia bisa mengolah lahan dengan mudah. Tanpa itu pun, kalau dia punya cangkul, dia mungkin bisa membajak tanah dengan tenaganya sendiri. 

Masalahnya, dia hanya punya sihir atribut air. 

“Mengolah lahan tanpa sihir tanah, alat cangkul, atau bahkan hewan untuk membajak sawah...” 

Dia sama sekali tidak bisa membayangkan keberhasilannya. 

Untuk mencobanya, dia menembakkan Icicle Lance ke lahan calon sawah.

“Icicle Lance, 2.”

Dum.

Hasilnya aneh. 

“Kalau begitu, coba dari udara. Icicle Lance, 128.”

Dari ketinggian 20 meter, 128 delapan Icicle Lance jatuh bebas, menusuk tanah.

Dum, dum, dum.

Mereka memang menancap. 

“Ah, iya... Hanya menancap... Kalau saja setelah menusuk, mereka bisa meledak...”

Dia membayangkan sebuah ledakan pada salah satu tombak es itu... 

“Tapi sebelum itu, lebih baik aku berjaga-jaga.” 

Karena ini di dalam penghalang, semacam halaman rumahnya sendiri, dia bahkan tidak mengenakan Ice Armor. 

“Ice Wall, 5 lapis.”

Dia menciptakan pertahanan terkuatnya, memisahkan dirinya dari “benda meledak” itu. Ice Wall bersifat transparan, jadi tidak mengganggu pekerjaannya. 

Sekali lagi... Dia kembali membayangkan Icicle Lance yang tertancap itu meledak.

Krek.

Yang terjadi bukan ledakan, melainkan es yang retak dan pecah berhamburan. 

“Aku tidak bisa membajak tanah kalau begini...”

Kali ini dia membayangkan pecahannya menjadi lebih halus.

Klang.

Es-es kembali pecah dan berhamburan, hanya saja butirannya lebih kecil. 

“Sepertinya tetap tidak bisa digunakan untuk membajak...” 

Mungkin, konsep menghancurkan es dengan cara pecah berantakan memang salah. Yang dia butuhkan bukan pecahan, melainkan ledakan sungguhan. 

“Kalau bicara ledakan air, aku teringat percobaan menaruh natrium ke dalam air. Tapi itu tidak realistis di sini. Kalau begitu, bagaimana dengan ledakan uap air...?” 

Ledakan uap air terjadi ketika zat bersuhu tinggi, seperti magma, bersentuhan dengan zat bersuhu rendah seperti air tanah, sehingga air berubah menjadi uap dalam sekejap dan meledak. Volume air yang berubah menjadi uap membesar 1.700 kali, menciptakan tekanan luar biasa. 

“Tapi aku tidak punya zat bersuhu tinggi. Atau, bagaimana kalau aku langsung mengubah Icicle Lance itu sendiri menjadi uap air seketika? Itu sama saja dengan ledakan uap, kan...?” 

Seperti ketika dia pertama kali memanaskan air hingga mendidih, dia membayangkan meningkatkan frekuensi getaran molekul H2O. 

Dengan meningkatnya frekuensi, suhu juga naik. 

Saat melampaui 100 derajat, air menjadi uap... 

Dan jika dipanaskan lebih jauh, jadilah uap panas berlebih. Di Bumi, ada oven yang memanfaatkan uap panas berlebih tersedia di pasaran. Bila dipikir-pikir, uap panas berlebih adalah fenomena yang cukup umum.

Namun, meski sudah mencoba pada 126 enam Icicle Lance, tetap tidak ada yang meledak. 

Seolah-olah teori Ryo pada awalnya bisa berhasil, tetapi kenyataannya, pemahamannya keliru sejak awal. Karena itu, ledakan uap seperti yang dia bayangkan tidak mungkin terjadi. 

Pengetahuannya tentang kimia hanya sampai di situ. 

Padahal, ledakan adalah fenomena yang terjadi karena tekanan yang muncul atau dilepaskan secara tiba-tiba. 

Dengan es... Hmm.


“Kegagalan adalah sumber keberhasilan.” 

Ryo tidak patah semangat meskipun gagal. 

“Untuk sementara, pembuatan sawah kutunda saja.”

Ya, menunda masalah tanpa menyerah sudah cukup baginya! 

Pertarungan dengan Kitesnake membuatnya sadar bahwa dalam jarak dekat, dia sama sekali tidak mampu. Lebih tepatnya, melawan ekor Kitesnake dalam jarak dekat.

Artinya, untuk saat ini, menahan atau menghindari serangan lawan adalah hal yang sulit baginya. Tapi itu memang alasannya sejak awal, dia ingin bisa berburu dari jauh dengan aman. Jadi wajar saja. 

Untuk serangan jarak jauh, dia hanya perlu terus berlatih. Waktu aktivasi, ketepatan kontrol sihir—masih banyak hal yang harus dia asah. 

“Lagi pula, alasan aku kena serang waktu itu karena butuh satu detik untuk menciptakan Ice Wall 5 lapis. Aku harus bisa membuatnya lebih cepat!” 

Lalu ada Ice Armor.

Awalnya dia hanya menyiapkan sihir pelindung ini sekadar berjaga-jaga, tapi ternyata sangat berguna. Bahkan, kalau tidak ada itu, dia pasti sudah mati. 

“Bentuknya memang mirip kesatria suci, tapi bukan berarti sulit untuk dibawa. Lebih baik aku latih lagi agar bisa langsung kukenakan sebelum bertarung. Ah, mungkin aku juga bisa berlari dengan versi yang lebih berat sebagai latihan. Ini bisa jadi latihan yang bagus.” 

Pikirannya kini benar-benar condong ke arah otot otak, meski dia sama sekali tidak menyadarinya. Otot otak... Dengan kata lain, otaknya hanyalah otot. Namun, tak bisa dipungkiri staminanya memang meningkat. Itu membuatnya bisa bertarung lama tanpa kehabisan tenaga. 

Sebagus apa pun teknik yang dimiliki, tanpa stamina, semuanya takkan ada gunanya.


* * *


“Kadang-kadang aku mau makan ikan.”

Selesai latihan pagi, Ryo bergumam pelan. 

“Ya, ikan bakar enaknya, dipanggang dengan garam. Sebenarnya yang paling ideal itu meneteskan sedikit kecap, tapi aku tidak punya kecap, jadi ya sudah, bisa lain kali saja. Baiklah, makan malam hari ini ikan panggang asin!” 

Begitu tekad sudah bulat, dia segera bertindak. Tempat ini bukan laut, jadi pilihan terbaik adalah ikan sungai. Saat memikirkan ikan panggang, bayangan yang muncul di benak Ryo adalah bentuk ikan ayu atau rainbow trout yang sedang dipanggang. 

Alat yang dia pilih untuk mendapatkan ikan tetaplah sama seperti biasa, tombak bambu berpisau. 

“Kalau di ujungnya ada kait seperti tombak penombak ikan, pasti lebih bagus... Tapi yah, mau bagaimana lagi.” 

Memancing sama sekali bukan pilihan dalam pikirannya. 

“Kali ini, tidak perlu karung goni.” 

Dengan tombak bambu berpisau di tangan, Ryo menuju sungai di sebelah selatan rumahnya. 


Bukan berarti dia terlalu bersemangat. Tidak, sama sekali tidak. Barangkali...memang tidak bersemangat.

Kebetulan saja, ada seekor buaya di tepi sungai. 

Dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula tak ada catatan tentang itu. Jadi kemungkinan besar, itu bukan monster melainkan hewan. 

Tentu saja, di dunia Phi, selain monster, ada pula jutaan jenis hewan biasa. 

Perbedaan monster dan hewan terletak pada satu hal yakni monster memiliki batu kecil bernama batu sihir di dekat jantungnya. Beberapa di antaranya bahkan bisa menggunakan sihir. Dan kebanyakan monster jauh lebih ganas dan kuat daripada hewan biasa. 

Itulah sebabnya, di Hutan Rondo, keberadaan hewan biasa hampir habis dibasmi oleh monster-monster kuat.

Alasan Ryo jarang sekali melihat hewan di hutan ini pun karena hal itu. Namun sekarang, di depan matanya, ada seekor hewan. Meski ukurannya raksasa, lebih dari 5 meter panjangnya, seekor buaya tetaplah hewan. 

Di Jepang, pernah ada sebuah buku populer yang menjelaskan cara menangkap buaya dengan sangat rinci. Menurut buku itu, cara menangkap buaya adalah dengan mendekatinya dari belakang. 

Waktu SD, seorang temannya pernah menunjukkan buku itu kepadanya.

“Mana mungkin berguna hal begitu,” pikir Ryo, lalu tidak membacanya dengan sungguh-sungguh. 

Kini, dia menyesal. Sangat, sangat menyesal. Benar-benar tidak ada yang tahu pengetahuan macam apa akan berguna di saat tertentu. 

“Eh, tapi aku tidak perlu menangkap buaya, kan.” 

Betul, dia tidak datang untuk menangkap buaya. Sepertinya keberadaannya belum terdeteksi, jadi dia memutuskan berjalan menyusuri sungai ke arah hulu, berusaha tidak ketahuan. 

“Jiiiiiiaaaaaa!”

“Guooooooon!” 

Sekitar 50 meter dari buaya itu, suara raungan hewan lain sampai ke telinga Ryo.

Sepertinya sesuatu sedang bertarung dengan buaya tadi.

Ryo akhirnya menjauh, namun rasa ingin tahunya mendorongnya untuk mengintip. Hewan apa yang berani melawan buaya sebesar itu? 

Mengendap-endap agar tidak terlihat, dia menyaksikan pemandangan mengejutkan—seekor bison bertanduk menghujamkan tanduknya ke buaya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. 

Buaya itu sudah tak bernyawa. 

“Horn Bison... Sesuai namanya, aku harus hati-hati dengan tanduknya. Binatang yang sering muncul di sungai atau rawa. Serangannya berupa terjangan dengan tubuh yang dilapisi sihir angin. Baiklah, waktunya mencoba teknik baru.” 

Ryo mengangkat tangan kirinya ke atas kepala dan melafalkan mantra.

“Guillotine.” 

Swish! 

Dari tangan kirinya, sebuah tombak es melesat ke langit, ujungnya berbentuk seperti pisau guillotine. Dengan percepatan yang cukup, tombak itu menukik tajam dari atas dan memenggal kepala Horn Bison. 

“Oke, berhasil.” 

Ryo tersenyum puas. Kepala Horn Bison yang terpenggal jatuh ke air, sementara darah muncrat dari lehernya. 

“Mungkin ini bisa kupakai untuk berlatih menyamak kulit sapi.” 

Dia bergumam sambil melangkah perlahan menuju bangkai Horn Bison dan buaya. 

Namun, yang dilihatnya membuatnya tertegun.

Plakplakplak. 

Kepala Horn Bison yang jatuh ke air, juga tubuh buaya, tampak semakin lama semakin mengecil. 

“Eh? Apa ini? Apa yang terjadi...?” 

Segera dia meraih tubuh Horn Bison dan melemparkannya ke darat. Di sana, beberapa ekor ikan menempel, menggigit dagingnya. 

“Seperti piranha... Meski tidak tercatat di Ensiklopedia Monster. Mereka ikan karnivora... Pasti kerabat piranha.” 

Piranha raksasa, panjangnya lebih dari 40 sentimeter, dengan gigi yang sangat tajam. 

Ryo segera menusuki ikan-ikan yang masih menggigit dengan tombak bambu berpisau, lalu membekukan semuanya bersama bangkai Horn Bison untuk disimpan. Sementara itu, kepala Horn Bison dan tubuh buaya yang masih di dalam air menyusut cepat...hingga akhirnya lenyap. 

Piranha-piranha yang tampaknya tertarik oleh darah pun ikut menghilang, dan sungai kembali tenang. 

“Main air di sini benar-benar tidak mungkin.” 

Ryo merasakan butiran keringat dingin menetes di punggungnya. 

Perburuan kali ini berakhir kurang dari satu jam, tapi pemandangan piranha tadi meninggalkan kesan mendalam. Bau darah memang mampu menarik berbagai makhluk. Dia harus selalu waspada. 

Horn Bison dan piranha yang dia bekukan lalu dimasukkan ke dalam gudang penyimpanan.


Dengan begitu, kali ini dia berhasil mendapatkan ikan. Memang bukan ayu atau rainbow trout seperti yang dia bayangkan, tapi tetaplah ikan sungai. 

Untuk makan malam, dia akan memanggang piranha dengan garam. Namun dari sini, lahirlah satu kemungkinan besar. 

Ada ikan.

Ada garam. 

Jika dua hal itu tersedia, maka terbuka kemungkinan untuk membuat cairan hitam yang menjadi jiwa orang Jepang... Kecap. 

Sayangnya, tidak ada kedelai.

Padahal, kecap sejatinya lahir dari koji berbahan dasar kedelai.

Ya, kedelai memang tidak ada. 

Namun di Bumi, ada cara membuat kecap tanpa kedelai. Itulah “kecap ikan.” Sesuai namanya, kecap yang dibuat dari ikan. 

Dibandingkan kecap biasa yang akrab di lidah orang Jepang, aromanya memang lebih tajam, rasanya pun lebih pekat. Tetapi, di berbagai daerah Jepang, kecap ikan telah lama digunakan dalam masakan tradisional. 

Artinya, pasti cocok juga untuk masakan Jepang! 

Tentu saja, untuk malam ini, kecap ikan tidak akan sempat dibuat. Tapi kelak, mungkin dia bisa menikmati sensasi meneteskan sedikit kecap di atas ikan panggang. 

“Ya, aku harus coba!” 

Cara membuat kecap ikan sangat sederhana.

Ikan direndam bersama garam.

Selesai. 

Setelah itu, tinggal menunggu beberapa bulan agar fermentasi alami terjadi. 

“Masalahnya, wadah fermentasinya di tong, bukan?” 

Dengan sihir air, dia bisa membuat tong dari es dalam sekejap, dengan bentuk dan ukuran sesuka hati. Untuk penyimpanan biasa, tong es justru sangat berguna... Walau sifatnya yang sudah pasti dingin. 

Namun, kecap ikan butuh fermentasi, dan itu perlu suhu tertentu. Dalam wadah es yang dingin, fermentasi takkan terjadi... Setidaknya, harus pada suhu ruang atau lebih hangat. 

Maka, tong kayu adalah pilihan terbaik. 

Masalahnya, Ryo seumur hidup tak pernah membuat tong kayu. Kalaupun dia mencoba, kemungkinan besar bagian bawahnya akan jebol atau cairan akan bocor keluar. 

Untuk sementara, asalkan ada sesuatu dari kayu yang bisa berfungsi mirip tong, itu sudah cukup. 

“Aku sudah tahu harus cari ke mana!” 

Ya, inilah Hutan Rondo. Di sini, tumbuh pohon-pohon raksasa yang takkan terbayangkan ada di Bumi. Bahkan, tepat di dekat penghalang rumahnya. 

Batangnya berdiameter 2 meter, menjulang setinggi 10 meter. Sejenis pohon konifer, mirip cedar atau hinoki. 

Andai ada alat berat seperti di Bumi... Tidak, bahkan dengan alat berat pun, menebang pohon sebesar ini pasti sulit. Apalagi, Ryo sama sekali tidak memiliki alat semacam itu.

Namun, alih-alih alat berat, dia punya sihir.

Untuk menebangnya dengan Water Jet... Itu masih belum mungkin. Sejak pertama kali datang ke dunia Phi ini, Ryo terus berlatih menggunakan Water Jet, tetapi kekuatannya masih belum cukup untuk menebas pohon. 

Namun, Ryo memiliki cara lain. Yaitu Guillotine, sihir yang pernah dia gunakan untuk memenggal kepala Horn Bison dalam sekali tebas. 

“Guillotine.” 

Sush! 

Guillotine menancap ke batang pohon, masuk sekitar 1 meter, lalu berhenti. 

“Yah, memang aku tidak mengira aku bisa menumbangkannya dalam sekali tebas!” 

Dia sengaja mengucapkannya keras-keras, lalu melanjutkan dengan seruan lagi. 

“Guillotine!” 

Guillotine dilepaskan bertubi-tubi. 

Akhirnya batang pohon terbelah, dan pohon konifer raksasa itu ambruk dengan gemuruh dahsyat. Sejumlah pohon di sekitarnya ikut terseret tumbang, namun Ryo sama sekali tidak memedulikannya. 

Dari batang pohon yang tumbang, dia mulai memotong bagian setinggi 1 meter untuk dijadikan tong. 

“Guillotine.”

“Guillotine.” 

Kali ini pun Guillotine dilepaskan berulang-ulang. 

Hasilnya adalah sebuah balok kayu berbentuk silinder dengan diameter 2 meter dan tinggi 1 meter, menyerupai meja besar yang kokoh. 

Langkah selanjutnya adalah melubangi bagian dalam agar berbentuk tong. Untuk itu, dia menggunakan Gergaji Air, sihir yang dulunya gagal dia jadikan sebagai serangan. Kini, sama seperti Icicle Lance, mungkin sihir ini bisa dipakai sebagai sihir serangan jarak jauh, tetapi untuk saat ini, fungsinya cukup sebagai alat pemotong. 

“Gergaji Air.” 

Di telapak kanannya muncul sebuah gergaji berputar yang terbuat dari air. Dia mulai menggerus batang konifer itu. Dibandingkan dengan gergaji mesin di Bumi, memang pemotongannya agak lebih lambat, tetapi kecepatannya sudah cukup untuk digunakan secara praktis. 

Hampir tanpa hambatan, dan tanpa rasa frustrasi. 

Akhirnya, satu jam kemudian, dia puas dengan bentuk yang tercipta. Sebuah tong besar yang tampak seperti bak mandi kayu hinoki di kamar mandi pribadi penginapan mewah di sumber air panas. 

Dia mengangkut tong fermentasi itu pulang dengan meluncurkannya di atas permukaan licin dari Ice Burn. Benar-benar sihir yang praktis. Meski bagian dalamnya sudah dilubangi, ukuran tong itu tetap besar dan pastinya berat... Namun dia dapat memindahkannya dengan mudah. 

Setibanya di rumah, Ryo baru sadar. 

“Tong ini... Harus kutaruh di mana?” 

Begitulah, ukurannya terlalu besar untuk muat di pintu.

Rencana... Sungguh kata yang indah, tapi juga menakutkan. 

Untuk sementara, tong kecap ikan itu ditempatkan di bawah sebuah pohon besar. 

“Di Bumi pun, sering ada yang membiarkan toples-toples di luar rumah untuk fermentasi... Ya, pasti akan baik-baik saja.” 

Ryo memaksa dirinya untuk merasa puas dengan keputusan itu. 

Pertama, dia menaburkan banyak garam di dasar tong. Di atasnya, dia menaruh empat ekor piranha yang sudah dicairkan dan dicincang. Kemudian, dia menutupi piranha itu seluruhnya dengan garam lagi. Setelah itu, dia menata daun-daun lebar mirip daun pisang di atasnya untuk mencegah pengeringan. Sebagai penutup, dia gunakan sisa kayu dari batang pohon tadi. Selesai. 

Tong kecap ikan pun rampung. 

Jika berjalan lancar, beberapa bulan kemudian, kecap ikan akan terbentuk...mungkin.


* * *


Sudah lama sekali sejak terakhir kali Ryo menikmati ikan bakar asin dengan nasi putih.

Awalnya dia membayangkan menu seperti ikan ayu atau trout pelangi, namun karena berbagai keadaan, yang tersaji justru piranha bakar asin. Dan ternyata, rasanya begitu mengejutkan, luar biasa lezat. 

Meski pada dasarnya Ryo lebih menyukai daging, ada kalanya dia ingin makan ikan. Maka, bila suatu hari nanti dia kembali ingin merasakannya, dia sudah memutuskan untuk pergi berburu lagi ke sungai di selatan. Dia kini tahu, bila melemparkan hewan ke sungai, piranha pasti akan berdatangan. 

Siang harinya dia memang menyaksikan pemandangan yang cukup mengguncang, namun akhirnya dia bisa menutup hari itu dengan makan malam yang memuaskan. Akhir yang baik adalah segalanya. 


Hutan malam yang terlihat dari jendela tampak berbeda dengan siang hari.

“Hutan di malam hari memang terasa menyeramkan.” 

Di zaman apa pun, di dunia mana pun, hutan di malam hari bukanlah tempat bagi manusia untuk hidup. Baik di Bumi maupun di Phi, hal itu tidaklah berubah. 

Pada dasarnya, manusia memahami keadaan sekitar melalui informasi visual dan pendengaran.

Kegelapan malam merampas informasi visual dari manusia. Mengandalkan pendengaran saja untuk memahami keadaan, mustahil dilakukan manusia biasa. 

Baik monster maupun hewan, banyak di antaranya memiliki pendengaran yang jauh lebih baik dibanding manusia. Bahkan ada pula makhluk yang memiliki organ khusus untuk menangkap informasi, seperti ular atau kelelawar.

Karena itu, kegelapan malam yang dihuni makhluk semacam itu... Jelas bukanlah tempat yang pantas dimasuki manusia. Begitulah apa yang dipikirkan Ryo, setidaknya untuk saat ini. 

“Kalau dipikir-pikir, katanya ada orang-orang yang bisa merasakan keberadaan sesuatu... Apa itu sebenarnya?” 

Bila hanya soal indra keenam, itu masih masuk akal.

Pengalaman yang pernah dialami, informasi yang tersimpan dalam ingatan—otak mungkin menilainya secara bawah sadar. Itulah yang oleh Ryo dianggap sebagai intuisi, atau mungkin firasat tidak enak. 

Namun, keberadaan... Itu berarti bisa merasakan tatapan yang seharusnya tak terlihat. Hal itu tetap sulit dimengerti. 

“Andai aku pengguna sihir atribut angin, mungkin aku bisa menciptakan sihir untuk merasakan keberadaan musuh yang tak terlihat.” 

Itu prinsip dibalik sonar pasif.

Berbeda dengan sonar aktif, di mana kita memancarkan gelombang lalu membaca pantulannya untuk mengetahui posisi dan keadaan sekitar, sonar pasif bekerja dengan cara menangkap perubahan yang timbul saat lawan bergerak, tanpa kita memancarkan apa pun.

Karena tidak memancarkan apa pun, keberadaan kita pun tak terungkap. 

Aktif yang menyerang, atau pasif yang menerima.

Prinsip itu berlaku di laut, pada kapal selam. Tapi jika dibawa ke daratan, bukan air laut melainkan aliran udara yang digunakan, yang mungkin saja bisa dipakai untuk mengetahui keberadaan musuh.

Pengguna sihir angin sepertinya mampu melakukannya! 

Tentu saja, Ryo hanyalah pengguna sihir air! 

“Teknik Serbuan Breakdown itu, Pengguna sihir angin memang sedikit membuatku kagum.” 

Serbuan Breakdown—katanya merupakan teknik menyerang dengan melepaskan Sonic Blade dari tiga klon, lalu menyerbu mengikuti lintasannya.

Padahal, bahkan pengguna sihir angin biasa sekalipun tak mungkin bisa melakukan hal semacam itu. 


Beberapa hari setelah menikmati piranha bakar asin.

Hari ini, dia berniat pergi berburu di sore hari. Lokasinya di Hutan Timur seperti biasa. Di sana banyak Lesser Rabbit dan Lesser Boar. Kadang-kadang muncul juga Normal Boar, namun itu bukan lagi lawan bagi Ryo saat ini. 

Memang, melawan Assassin Hawk, dia masih tak bisa membayangkan kemenangan. Namun bila pertarungan terjadi di darat, hampir mustahil dia bisa kalah. 

“Ini sama sekali bukan kesombongan.” 

Baru saja dia berkata demikian, seekor Greater Boar muncul di hadapannya.

Namun bagi Ryo sekarang, bahkan Greater Boar pun bukanlah ancaman... Hingga dia mendengar suara gesekan dari belakang. Saat menoleh... Ada seekor Greater Boar lain muncul di sana...

“Ice Armor.” 

Dalam sekejap, kedua Greater Boar itu lenyap dari pandangannya. 

“Ice Wall 5 lapis!” 

Dia segera membangkitkan Ice Wall 5 lapis di depan dan belakang. Kecepatan sihir itu kini sekitar 1/10 detik. Hari demi hari, kecepatannya terus meningkat.

Namun bahkan itu pun nyaris terlambat. 

Tepat saat Ice Wall muncul, kedua Greater Boar itu menyerbu dari depan dan belakang.

Salah satu dari mereka membidik kaki Ryo dari bawah, yang satunya lagi mengincar tubuh bagian atas dengan tebasan tinggi.

Jelas, gerakan mereka terkoordinasi. 

Hantaman Greater Boar berhasil meremukkan hingga lapisan ketiga Ice Wall. Serbuan yang amat mengerikan. 

Ryo segera melompat keluar dari celah antara Ice Wall depan dan belakang, sambil merapalkan sihir lain. 

“Ice Burn!” 

Keduanya kini berada di sekitar tempat Ryo berdiri tadi. Dengan satu sihir, tanah di bawah kaki mereka dibuat licin, menghambat pergerakan mereka. Namun walau gerakan mereka terhenti, Greater Boar masih memiliki cara menyerang... Ya, mereka punya serangan jarak jauh.

Itu yang membuat mereka sama sekali berbeda dengan Lesser Boar!

Di sekeliling dua Greater Boar itu, entah berapa banyak, tak terhitung jumlahnya, bebatuan tajam mulai terbentuk. 

“Jumlahnya gila... Ice Wall 5 lapis! Ice Wall 5 lapis! Ice Wall 5 lapis!” 

Dengan pertahanan berlapis-lapis, dia mencoba mengimbangi jumlah proyektil yang datang. 

Akhirnya, hujan batu itu meluncur. 

Batu-batu itu menghantam Ice Wall, menimbulkan semburan entah air atau debu tanah, membuat pandangannya kabur. 

Saat itulah... 

Bum! 

Sebuah batu menghantam pinggang kanan Ryo. 

“Gah!” 

Tak berhenti di situ, satu batu lagi menancap di bahu kirinya. 

“Ugh... Ice Wall segala arah!” 

Greater Boar memanfaatkan kaburnya pandangan untuk membelokkan proyektil mereka. Batu-batu itu melengkung melewati sisi Ice Wall dan langsung menghantam tubuh Ryo. 

“Tak kusangka mereka bisa membelokkannya...” 

Kurangnya pengalaman bertarung membuatnya lengah. Lapisan pelindung di pinggang dan bahu kiri hancur dihantam proyektil. 

“Ice Armor.” 

Dia buru-buru membangkitkan kembali lapisan pelindung.

Namun, waktu tak berpihak padanya. Yang kini mengelilinginya hanyalah Ice Wall biasa, tanpa ketahanan setebal Ice Wall 5 lapis. 

Meski begitu, di bawah kaki Greater Boar masih ada Ice Burn. Seharusnya mereka tak bisa bergerak.

Seharusnya begitu, tapi... 

“Apa mereka benar-benar tak bisa bergerak?” 

Greater Boar memiliki kaki yang bisa melesat nyaris secepat suara. Kekuatan itu tentu mampu mencabik tanah. Jika diberi waktu, mungkin saja mereka bisa menancapkan cakar ke permukaan es lalu berlari di atasnya... 

Memang, Greater Boar yang pernah dia kalahkan sebelumnya berkali-kali tergelincir di atas Ice Burn. Tapi hanya karena satu individu gagal, bukan berarti semuanya sama. Manusia pun begitu—ada yang terjatuh berkali-kali saat berseluncur, namun ada juga yang sanggup melompat indah di atas es. 

Kalau begitu, apa yang harus dia lakukan? 

Pertama-tama, menghadapi keduanya sekaligus terlalu merepotkan. Mereka harus dikalahkan satu per satu. 

Mana yang harus dijadikan sasaran...? 

Mereka menyerang dari depan dan belakang. Sama seperti Assassin Hawk bermata satu sebelumnya, biasanya yang menyerang dari depan adalah pemimpin atau yang lebih berpengalaman. Maka, dia memutuskan untuk menaklukkan yang di belakang lebih dulu. 

Dalam peperangan, memang ada taktik menghantam kepala pasukan untuk memicu kekacauan. Namun, ada pula strategi yang dimulai dengan melemahkan yang lemah, lalu baru menghadapi musuh yang tangguh. 

Kali ini, dia memilih yang kedua.

Bila lawannya kurang berpengalaman, kemungkinan besar dia pun akan lambat beradaptasi dengan medan licin es. 

Batalkan Ice Wall segala arah. Ice Wall, jadikan buram. 

Dengan mempertimbangkan langkah berikutnya, dia menyisakan Ice Wall 5 lapis yang tersusun berlapis-lapis, namun kini buram bagai kaca es, menutupi pandangan ke sisi seberang. 

Dan kemudian, Ryo berlari.

Dia mengitari Ice Wall 5 Lapis yang dibentangkan berlapis-lapis dari sisi kiri. Di ujung pandangannya, seekor Greater Boar tampak seorang diri di atas Ice Burn, terjatuh berulang kali di permukaan es.

Satu ekor lagi tidak terlihat.

Mungkin babi itu mengitari dari sisi seberang Ice Wall 5 Lapis yang dipasang berlapis itu. 

“Pertama, kamu dulu. Icicle Lance, 16.” 

16 Icicle Lance terbentuk di udara, tepat di atas kepala Greater Boar yang terguling. 

“Dan kalau benar kamu memutar dari seberang, tempat keluarnya tentu di balik Ice Wall 5 Lapis itu, bukan?” 

Ryo bergumam cepat, lalu segera melafalkan mantra. 

“Ice Wall 5 Lapis. Icicle Lance, 2.”

2 Icicle Lance dibentuk di balik Ice Wall 5 Lapis dan disiapkan untuk ditembakkan. 

Pada saat itu juga, raungan menggelegar ketika 16 Icicle Lance dari langit menembus tubuh Greater Boar. 

“Giiiiyaaaaaaaahhhhhh!” 

Suara itu mengejutkan Greater Boar yang satunya, dan sesuai perkiraan Ryo, ia muncul tepat dari balik Ice Wall 5 Lapis. 

“Tembak.” 

Namun, 2 Icicle Lance yang meluncur dipatahkan begitu saja dengan hantaman hidung kerasnya. Ketika es pecah berhamburan, pandangan pun dipenuhi kabut putih. 

“Water Jet, 64.” 

64 Water Jet yang lahir bukan dari tangan Ryo, melainkan di sekitar wajah Greater Boar itu sendiri. Sasarannya adalah mata, telinga, rongga mulut—bagian-bagian yang tampaknya paling rapuh. 

Dengan pecahan es yang membuat penglihatan kacau, ditambah pancaran air tipis dari jarak hanya 30 sentimeter di depan wajah, bagaimana mungkin ia bisa menghindar?

Tidak ada ruang untuk menghindar. Bahkan jika ia bergerak, garis-garis air itu sudah menanti di sana... Mustahil untuknya menahan semuanya. 

Ryo sudah merencanakan urutannya: mengacaukan penglihatan dan pendengaran, membuat musuh panik, lalu menghabisinya... Namun, rencana itu berantakan. 

Tanpa sempat jatuh dalam kepanikan, nyawa Greater Boar langsung redup.

Water Jet yang masuk ke mata, telinga, dan mulutnya menembus hingga ke otak. Puluhan kali otaknya ditembus, tidak ada jalan untuk bertahan hidup. 

“Oh... Kalah begitu saja...?”

Bahkan seekor Greater Boar sekalipun, lewat mata atau telinga, serangan itu bisa langsung mencapai otak. Namun kenyataan bahwa tidak diperlukan pukulan terakhir tetap saja mengejutkan bagi Ryo. 

“Jangan-jangan, kekuatan Water Jet sudah meningkat...?”


Kembali ke dalam penghalang, Ryo segera memutuskan untuk mencobanya.

Kali ini, dia menggunakan tubuh Greater Boar yang baru saja diburu. 

Tubuh Greater Boar jelas berbeda kerasnya antara bagian atas leher dan bagian bawahnya. Karena mengandalkan serudukan sebagai serangan utama, kepala dan hidungnya amat keras. Namun sebaliknya, bagian tubuh di bawah lehernya tidak sekeras itu. Begitu pula dengan kakinya. 

Ryo mengarahkan sihir ke kaki kanan makhluk itu. 

“Water Jet.” 

Satu tebasan.

Kaki kanan Greater Boar pun terpotong bersih. 

“Woah...!”

Sudah beberapa bulan sejak dia terlahir kembali di dunia Phi.

Sejak awal dia yakin Water Jet akan menjadi sihir serangan utama dari atribut air, dan kini akhirnya kekuatannya benar-benar terwujud. 

“Bahkan pohon pun...”

Whoosh.

Tidak secepat kilat, tapi dia berhasil memotongnya. 

Sampai baru-baru ini, Water Jet hanya bisa mengikis atau menggerus permukaan kayu, namun belum sanggup untuk memotongnya. Tapi kini, batas itu seakan telah terlewati. 

“Mungkin, waktu aku memotong kayu dengan Gergaji Air, sebenarnya kekuatannya sudah cukup besar saat itu...”

Namun, memikirkan hal itu sekarang tiada gunanya. Yang terpenting adalah kenyataan bahwa saat ini dia telah mencapai daya serang sebesar ini! 

Pada dasarnya, Water Jet adalah air biasa yang ditembakkan dengan tekanan super tinggi dan kecepatan luar biasa. Karena itulah, meski fisiknya air biasa, daya potongnya bisa begitu besar. 

Di Bumi, Water Jet sudah cukup populer sebagai metode pemrosesan berbagai macam material.

Pertama, karena air tidak menimbulkan panas. Artinya, tidak ada perubahan bentuk akibat panas. Plastik tidak akan meleleh, dan gas beracun pun tidak muncul. 

Bahkan bahan yang rapuh atau tipis bisa diproses tanpa retak. Komposit atau material berlapis pun bisa dikerjakan. 

Di perusahaan Ryo, bahkan ada mesin Water Jet dengan kendali lima titik. Karena itu, dia tahu sedikit banyak soal itu... Meski dia sendiri tak pernah menggunakannya. Dia tak pernah diberi izin oleh para pekerja. Bahkan sebagai wakil presiden, dia harus patuh pada keputusan lapangan. 

Di Bumi dia tidak pernah menyentuh Water Jet.

Namun, Water Jet yang dia ciptakan lewat sihir bisa dia gunakan sesuka hati. 

Dan akhirnya, sihir itu mulai menunjukkan hasil nyata! Lebih dari saat dia pertama kali meluncurkan Icicle Lance dengan kekuatannya sendiri, kini Ryo benar-benar bersemangat. 

Namun, dia juga tetap tenang.

Ryo tahu, Water Jet masih menyimpan satu dimensi kekuatan lain di depannya.


Mari pastikan kembali.

Kaki Greater Boar berhasil terpotong.

Batang pohon juga berhasil terpotong.

Kalau begitu, bagaimana dengan batu? 

Secara umum, water jet dianggap mampu memotong hampir semua benda. Itu memang benar. Termasuk batu dan bebatuan. Bahkan, sejak lama sudah ada video yang memperlihatkan pemotongan batu nisan dari granit, salah satu batu terkeras. 

Ryo menembakkan sihir itu ke sebuah batu besar yang berdiri kokoh di halaman. 

“Water Jet.”

Sedikit demi sedikit, permukaannya terkikis. Kalau dilakukan terus selama satu jam penuh, mungkin saja bisa terbelah. Namun, itu jauh dari gambaran water jet di Bumi yang mampu memotong keras dan cepat. 

Ya, dengan Water Jet ini, batu tidak bisa dipotong. Water Jet ini hanya cocok untuk memotong benda lunak, tapi tidak untuk benda keras, tidak untuk material solid. 

Batu, logam, beton, kaca—semuanya bukanlah sasaran yang bisa ditembus. 

Namun Ryo tidak merasa kecewa. Itu memang sudah dia perkirakan. Water Jet ini memang ditujukan untuk memotong material lunak seperti hewan, monster, kayu, bahkan makanan. Sedangkan ada Water Jet lain, yang berbeda dari ini, khusus untuk memotong material keras. 

Dan apa itu Water Jet yang berbeda itu?

Jawabannya Water Jet yang bukan hanya air. 

Secara umum, itu lebih dikenal sebagai abrasive jet.

Di Bumi, ketika hendak memotong material keras, tidak hanya menggunakan pancaran air. Dari mulut pancurannya, dicampurkan butiran halus bahan abrasif yang ikut menghantam sasaran bersama air. Air yang berkecepatan mendekati Mach 3 dan partikel abrasif itulah yang mengikis, lalu memotong benda keras. 

Bahan abrasif yang umum digunakan sudah ditetapkan.

Serbuk garnet. 

Garnet—ya, permata garnet itu sendiri. Walaupun disebut permata, karena yang dipakai hanya dalam jumlah mikroskopis, biayanya tidaklah tinggi. Serbuk garnet mudah ditambang, sangat murah, dan bahkan bisa digunakan kembali beberapa kali setelah pemakaian pertama. 

Alasan mengapa garnet dipakai sebagai abrasif, sebagian besar karena tingkat kekerasannya. Tentu, safir, rubi, atau bahkan berlian lebih keras. Tapi memakai yang seperti itu jelas tidak masuk akal secara biaya. 

Alasan lain terletak pada bentuk kristalnya. Garnet berbentuk dodekahedron rombik atau trapezohedron. Singkatnya, bentuknya sangat dekat dengan bola. Jika harus mengikis pada titik yang tepat dan ukuran tertentu, maka butiran yang mendekati bola jauh lebih mudah diarahkan dan dikendalikan. 

Di Bumi, penggunaan garnet sebagai abrasif sudah mapan. Tapi di dunia Phi ini, tentu saja tidak. 

Garnet tidak bisa didapatkan... Setidaknya Ryo tidak tahu bagaimana caranya. Maka, dia perlu abrasif pengganti selain garnet. 

Dan Ryo pun mendapatkan ide.

Es.

Ya, butiran es mikroskopis sebagai abrasif. 

Es biasa jelas tidak cukup keras untuk dijadikan abrasif. Namun, es yang diciptakan dengan sihir air ternyata bisa dipadatkan semakin keras sesuai dengan banyaknya sihir yang dituangkan. Ryo sudah menyadari hal itu. Meski dalam pertarungan, dia tidak sempat membuat es sekeras itu dan akhirnya mudah dihancurkan lawan... 

Masalahnya, yang dibutuhkan adalah kristal es berukuran sangat kecil. Terlalu kecil pun akan sulit digunakan. Harus ada ukuran yang tepat... 

Ryo pernah melihat abrasif garnet untuk mesin abrasive jet di perusahaannya. Ukurannya sangat kecil, hampir menyerupai debu. Jadi, idenya adalah menghasilkan butiran es sebesar itu dalam jumlah banyak, lalu mencampurnya dengan air. 

Langkah pertama, dia menciptakan kristal es mikroskopis.

Dia mencoba mengikat dua molekul H2O dengan ikatan hidrogen. Hasilnya...terlalu kecil. Bahkan tidak terlihat sama sekali. 

Dia lalu mencoba menyambungkan sekitar 30 molekul. Seakan-akan ada yang terlihat...atau mungkin hanya perasaannya saja. Ukurannya masih terlalu kecil, jauh dari ukuran ideal.


Percobaan itu dia ulang-ulang hingga menjelang tidur.

Saat menyalakan api untuk makan malam, saat menyantap makan malam, bahkan saat berendam di pemandian. 

Berapa banyak molekul air yang harus dirangkai agar mencapai ukuran yang tepat...?

Ryo terus mencari jawabannya. Tapi sebelum dia menemukan solusinya, energi sihirnya sudah hampir habis... 

“Selamat malam.”


Keesokan harinya.

Bahkan saat latihan lari di pagi hari, Ryo masih mencari solusi. 

“Kemarin juga sempat terpikir olehku, mengendalikan sihir sampai ke tingkat molekul seperti ini sepertinya menguras sihir yang luar biasa banyak.” 

Seperti halnya kebanyakan pekerjaan, semakin halus pengerjaannya, semakin besar pula konsentrasi yang dibutuhkan. Begitu juga dengan kendali sihir, tidak semudah itu. 

Setelah berlari lebih dari lima jam, latihan pagi pun selesai.

Namun, ukuran optimal kristal es abrasif masih belum dia temukan. Saat ini perkiraannya berkisar antara 60.000 hingga 160.000 molekul. 

Hanya dengan latihan pengendalian sihir di pagi hari itu saja, energi sihir Ryo hampir habis. Meski tak ada angka yang pasti, dia bisa merasakan naluri tubuhnya bahwa sebentar lagi dia pasti akan tumbang. 

“Kalau begitu, sore ini berhenti dulu soal kendali sihir ini. Ya sudah, waktunya berlatih ayunan pedang dan membaca buku.” 

Kini tubuhnya sudah terbiasa; bila dia tidak menggerakkannya, dia merasa tidak enak. Hampir bisa dibilang bertindak dulu sebelum berpikir. 

Dengan perlahan, dia mengayunkan pedang, dengan tiap tebasan penuh tenaga dan jiwa.

Pada dasarnya dia hidup dengan santai... Jadi tidak ada alasan untuk tergesa-gesa.


* * *


Michael palsu sudah menyiapkan sebuah buku di rumah berjudul Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, yang ternyata mencakup cukup banyak jenis monster. Tentu saja, karena ini edisi pemula, pastilah ada monster tingkat menengah maupun tingkat tinggi yang tidak tercantum di sini. Namun sejauh ini, Ryo belum pernah bertemu dengan makhluk-makhluk semacam itu. 

Hanya saja, di bagian akhir Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula terdapat dua halaman tambahan, bisa dibilang sebagai suplemen, berjudul Edisi Khusus. Di dalamnya hanya tercantum dua jenis monster.


Yang pertama adalah naga. Yang kedua adalah iblis.

Kedua entri Edisi Khusus ini ditulis dengan gaya tulisan yang berbeda dari bagian Edisi Pemula sebelumnya. Mungkin saja, bagian ini ditambahkan belakangan oleh Michael palsu.


Naga: Salah satu makhluk puncak di dunia Phi.

Lokasi kemunculan: Seluruh dunia.

Usia hidup: Ribuan hingga ratusan ribu tahun.

Kekuatan: Bervariasi (Namun bahkan yang terlemah sekalipun sanggup melenyapkan sebuah kota dalam sekejap).

Catatan: Jika bertemu mereka, larilah. Meski kemungkinan besar, melarikan diri pun mustahil.


Aku mengerti, mereka sangat kuat. Artinya kalau bertemu mereka, itu sudah akhir segalanya. Kalau di bagian Edisi Pemula, setiap monster dijelaskan cara menyerang dan keahliannya, tapi untuk naga tidak ada penjelasan semacam itu. Rupanya memang sudah di luar level penjelasan biasa.


Iblis: Bukan malaikat yang jatuh... Asal-usulnya tidak diketahui.

Lokasi kemunculan: Seluruh dunia.

Usia hidup: Tidak diketahui.

Kekuatan: Bervariasi (Namun bahkan yang terlemah sekalipun sanggup melenyapkan sebuah kota dalam sekejap).

Catatan: Berdoalah agar tidak pernah bertemu mereka.


Kemungkinan besar bagian ini ditulis Michael palsu... Dia bilang pekerjaannya mengurus dunia ini. Tapi, kenapa asal-usulnya ditulis “tidak diketahui”? Dan catatan terakhir itu, “Berdoalah agar tidak pernah bertemu mereka”... Maksudnya apa?


Ryo menggelengkan kepala pelan sambil bergumam.

“Apa orang-orang yang bercita-cita jadi yang terkuat di dunia harus melawan makhluk seperti ini? Sepertinya benar-benar berat. Ya, itu jelas mustahil bagiku. Dalam kisah-kisah isekai biasanya tokoh utama ingin jadi yang terkuat, tapi itu hanya sekadar pola umum. Untukku, itu tidak ada hubungannya. Tujuanku hanyalah menjalani hidup dengan tenang!”


Setelah tidur semalam, sihir Ryo telah pulih.

Hari ini, dia bertekad kuat untuk menuntaskan masalah abrasive jet.

Satu jam setelah dia bersumpah... 

“Jawaban yang tepat adalah 90.000 sampai 100.000 molekul!”

Akhirnya, masalah itu terpecahkan.

“Hehehe, aku menang.”

Ya, Ryo telah meraih kemenangan. 

Tinggal menghasilkan kristal es yang terbentuk dari 90.000 molekul air itu dalam jumlah banyak. Sebenarnya, ini pun pekerjaan yang amat sulit. Namun tanpa dia sadari, lewat latihan manipulasi molekul kali ini, tingkat penguasaan sihirnya telah meningkat pesat. 

Hanya dalam waktu 10 detik, dia berhasil menciptakan segenggam besar es abrasif di tangan kirinya. 

Dia pun membayangkan dalam benaknya.

Abrasif yang ada di tangan kiri sedikit demi sedikit bercampur dalam water jet, lalu memotong batu besar itu. 

“Abrasive Jet.”

Saat Ryo melafalkan itu, dari tangan kanannya meluncur garis tipis air yang menghantam batu besar satu meter di depannya, lalu menembus keluar di sisi seberang tanpa banyak hambatan. Dia mengayunkan lengannya menyamping. 

Klang.

Batu itu terbelah lalu jatuh ke tanah. 

“Berhasil!” 

Akhirnya, Ryo mendapatkan pedang air yang sanggup menebas batu. 

Di Bumi, abrasif dari es tidak akan pernah memiliki daya potong seperti ini. Alasannya sederhana, karena es terlalu lunak. Garnet unggul sebagai abrasif justru karena kekerasannya. 

Dulu, ada peneliti Jepang yang mencoba meneliti apakah garnet bisa diganti dengan es, atau bahkan dengan cangkang kenari sebagai abrasif... Itu terjadi saat abrasive jet baru mulai dikomersialisasi. 

Namun kesimpulannya, selain garnet, semua bahan lain tidak layak dipakai.

Setelah itu, berbagai eksperimen dan makalah pun terbit, meneliti ukuran abrasif yang optimal, fenomena yang terjadi di titik kontak, hingga tingkat kekerasan komponen yang paling sesuai. Water jet, atau abrasive jet, terus berkembang dari waktu ke waktu.

Namun Ryo, dengan pendekatan yang mustahil dilakukan peneliti Bumi—yaitu “menguatkan es dengan sihir hingga sangat keras”—telah berhasil mengangkat es menjadi material abrasif yang benar-benar layak digunakan. Ini hanyalah mungkin di dunia Phi yang memiliki sihir. 

Dengan sihir, hal-hal yang mustahil di Bumi menjadi mungkin.

Hal-hal yang hanya sebatas teori di Bumi, namun mustahil diwujudkan, dapat terwujud melalui sihir... Itulah kemungkinan baru yang ditunjukkan Ryo. 

Tentu saja, dia sendiri sama sekali tidak menyadarinya.


Previous Chapter | ToC | Next Chapter

Post a Comment

Post a Comment

close