Penerjemah: Chesky Aseka
Proffreader: Chesky Aseka
Chapter 3
Menuju Laut
Ryo telah sepenuhnya menguasai Water Jet dan Abrasive Jet. Berkat itu, berburu dengan sihir menjadi jauh lebih mudah baginya.
Dan ketika sesuatu sudah dikuasai, lahirlah hasrat tak terbendung untuk menaklukkan hal lain yang belum dicapai.
Ya, menaklukan laut!
Sekitar 500 meter ke barat daya dari rumah Ryo, terbentang lautan. Begitu yang dikatakan Michael palsu. Dia juga pernah berkata, jika sudah terbiasa dengan sihir air, maka Ryo bisa mengekstrak garam dari air laut.
Persediaan garam yang dia miliki masih cukup banyak—meski sudah dipakai lumayan banyak untuk tong kecap ikan, masih tersisa stok yang bisa bertahan sekitar setengah tahun. Meski begitu, perlu juga diperiksa seperti apa garam laut di sini.
Selain itu, ada pula yang disebut hasil laut. Memang, Ryo sudah bisa menangkap ikan sungai dan memakannya, meski yang dia dapat waktu itu mirip piranha. Tetapi, ikan laut memiliki cita rasa tersendiri.
Mungkin juga ada kerang, landak laut, cumi-cumi, atau bahkan gurita... Meski tentu saja untuk mendapatkannya, dia harus menyelam.
Tidak masalah, Ryo tumbuh di pedesaan, jadi dia cukup pandai berenang!
Keluar dari penghalang ke arah barat daya sejauh 400 meter, terbentang pantai berpasir putih. Pemandangan seperti di foto pulau Phuket atau Bali! Tentu saja Ryo sendiri belum pernah ke sana... Itu hanya imajinasinya dari foto.
Namun, imajinasi itu penting!
Dia sempat terpaku memandang keindahan itu, hingga akhirnya tersadar kembali.
“Baiklah, mari kita coba mengambil garam.”
Pertama-tama dia menciptakan sebuah tong es berdiameter sekitar 1 meter, dan sebuah ember es untuk menimba air laut. Dia menimba air laut dengan ember, lalu menuangkannya ke dalam tong.
Menuangkan.
Menuangkan.
Menuangkan.
Saat tong penuh, dia membayangkan dalam benaknya untuk memisahkan air dari dalamnya.
“Pengeringan.”
Air pun lenyap, menyisakan butiran putih dan sedikit butiran berwarna.
Ryo mencicipi butiran putih itu.
“Hmm, asin. Ini garam.”
Berhasil.
“Kalau yang berwarna ini... Ah, ini pasir...”
Karena mengambil air di dekat pantai berpasir, sedikit pasir ikut masuk ke dalam ember.
“Kalau aku ambil jauh dari pantai, seharusnya hanya garam saja yang didapat.”
Karena ini hanya percobaan, dia membuang tong, ember, beserta garamnya ke laut. Lalu memutuskan menuju ke arah utara, ke area bebatuan yang terlihat dari kejauhan.
“Semoga aku bisa mendapat makanan laut.”
Setibanya di bebatuan, dia melepaskan semua pakaian yang dikenakan, lalu tanpa ragu melompat ke laut.
Dan di sana, terhampar dunia indah seperti yang dia bayangkan. Air yang begitu jernih, dasar laut yang terlihat jelas. Ikan berwarna-warni, karang-karang, dan makhluk laut lain yang tidak begitu dia kenali.
Dan Ryo menemukannya—ikan yang tampak lezat!
Dia naik ke permukaan untuk mengambil napas, lalu kembali menyelam ke dasar laut. Di tangan kanannya terdapat tombak bambu berpisau yang selalu dia bawa. Di depan matanya, seekor ikan putih sepanjang 50 sentimeter, mirip ikan kakap.
Dia menikamnya dengan tombak bertakhta pisau itu, layaknya sebuah harpun.
Dan dia berhasil.
Namun, pada saat itulah...dunia berubah.
Setidaknya, itulah yang dirasakan Ryo. Laut yang tadi terasa bagai surga, seketika berubah menjadi neraka.
Ryo terlalu larut dalam kegembiraan. Dan dia lupa.
Bahwa tempat ini bukanlah Bumi. Ini adalah dunia Phi.
Laut ini adalah lautan tempat para monster bersemayam.
Ketika dia membunuh ikan yang mirip kakap itu, seketika dia menjadi musuh laut. Ikan-ikan berwarna-warni seketika menghilang. Dunia benar-benar berubah, bukan hanya perasaannya.
Gawat, aku harus kabur.
Namun sudah terlambat.
Saat dia menoleh, terlihat segerombolan monster berbentuk ikan membentuk sebuah bola umpan. Diameternya sekitar 20 meter... Ukuran yang cukup besar untuk menelan habis sebuah kapal nelayan kecil. Seperti kawanan sarden yang membentuk bola untuk melawan predator besar—itulah bola umpan. Jika mereka benar-benar ikan sarden, mungkin masih bisa dianggap lucu. Tetapi yang ada di hadapan Ryo terlihat seperti monster.
Ya, monster.
Meski Ryo tidak tahu jenis monster apa.
Dalam Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula, tidak ada penjelasan tentang monster laut.
Hanya ada satu catatan pendek, “Untuk monster laut, silakan rujuk pada Ensiklopedia Monster: Edisi Laut.” Itu berarti, sudah pasti monster laut memang ada, dan bahkan jenisnya begitu banyak hingga perlu satu jilid tersendiri.
Pada titik ini, peluang kemenangan Ryo merosot tajam.
“Kenali musuh, kenali dirimu, kamu tidak akan terjebak dalam seratus pertempuran.”
Begitulah kata Sun Tzu. Selama ini, setiap pertarungan Ryo selalu didukung informasi tentang musuh, karena dia sudah mempelajari Ensiklopedia Monster: Edisi Pemula. Bahkan melawan Assassin Hawk sekalipun, dia setidaknya punya informasi dasar.
Namun kali ini, dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang musuh.
“Jika tidak mengenal musuh, hanya mengenal dirimu sendiri, kamu hanya setengah menang dan setengah kalah.”
Peluang kemenangannya seketika terpangkas hingga 50%...
Dalam dunia peperangan ada pula ungkapan.
“Timing yang Tepat, Medan yang Unggul, dan Moral Pasukan yang Tinggi.”
Timing yang tepat, entahlah.
Medan yang unggul jelas dimiliki oleh lawan. Laut adalah rumah bagi monster laut. Bagi Ryo, yang bahkan kesulitan bernapas, ini mutlak wilayah asing.
Moral pasukan yang tinggi... Kawanan itu membentuk bola umpan dengan begitu sempurna, komunikasi mereka pasti tak terbantahkan.
Ya, tidak ada peluang menang untuknya.
Dari 36 strategi, tiada strategi yang lebih baik daripada melarikan diri.
Namun, saat itu Ryo menyadari sesuatu yang aneh.
Aku tidak bisa mengayuh air... Aku juga tidak bisa menendang air...
Tubuhnya memang tidak tenggelam, tetapi dia tidak bisa menggerakkan air. Tidak bisa menggapainya.
Ryo adalah penyihir air.
Meski laut adalah wilayah asing, situasi di mana dia tak bisa mengendalikan air sama sekali adalah hal yang tak masuk akal.
Saat dia hampir panik, musuhnya tentu tidak menunggu. Dari bola umpan itu, monster-monster meluncur bagai misil atau torpedo ke arahnya.
Ice Wall.
Menggunakan Ice Wall di dalam laut memang aneh, tapi karena dia tidak bisa bergerak, dia tak punya pilihan selain bertahan.
Namun setelah menahan beberapa serangan, kendali atas Ice Wall-nya hilang. Dinding es itu terlepas dari hadapannya, lalu lenyap di dalam air.
Apa aku hilang kendali atas Ice Wall yang kubuat sendiri?
Torpedo-torpedo monster terus menyerang tanpa henti. Dia terus menciptakan Ice Wall untuk bertahan, tetapi setiap kali satu detik berlalu, tembok itu terlepas darinya dan lenyap ke laut.
Jadi, itulah alasannya aku tak bisa menggerakkan air. Karena air di sekitarku sudah berada dalam kendali mereka.
Ryo memang penyihir air. Dia telah berlatih keras dalam kendali sihir. Latihan manipulasi molekul telah meningkatkan kemahirannya secara drastis.
Namun kali ini, lawannya terlalu kuat.
Monster laut... Musuh yang secara genetik seakan memang lahir dengan kemampuan menguasai sihir air. Generasi demi generasi, mereka hidup dengan kendali sihir air sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Meskipun Ryo sudah berlatih keras di melampaui batasnya, pada akhirnya dia hanyalah seorang pemula yang baru beberapa bulan lalu menjadi penyihir air. Tidak mungkin dia bisa menandingi mereka.
Lebih dari itu, jumlah musuhnya mencapai ribuan...
Karena mereka membentuk bola umpan, jumlah pastinya tidak bisa diketahui, tetapi kemungkinan besar tidak kurang dari seribu.
Pertarungan antara torpedo-torpedo monster dan penciptaan Ice Wall masih berada dalam keseimbangan yang tipis. Meski dinding es yang dia buat langsung hilang kendali, karena Ryo menciptakannya tepat sebelum tabrakan, Ice Wall tetap berfungsi menahan serangan mereka sebelum akhirnya terkoyak.
Pertahanannya memang masih kokoh, namun masalah sebenarnya adalah oksigen. Berkat latihan harian, dia mampu menahan napas sekitar 4 menit tanpa mengambil udara. Tetapi dalam situasi ini, 4 menit terasa sangat singkat.
Bagaimana cara memecahkan kebuntuan ini?
Apa aku bisa mengambil alih kendali atas air di sekitar tangan dan kakiku?
Ketika dia mencoba menyentuh air laut di sekitarnya dengan sihir, air itu memantul, menolak kendalinya. Rasanya sama seperti ketika dia dulu mencoba mencairkan daging beku di gudang Michael palsu, dan energi sihirnya terpental.
Namun, kali ini jauh lebih keras pantulannya.
Setidaknya, Ryo sekarang sadar bahwa dia tidak mungkin menguasai air yang sudah berada dalam kendali musuh. Sesuai dugaan, monster laut bukan lawan sembarangan. Atau mungkin jumlah mereka yang begitu banyaklah penyebabnya. Apa pun alasannya, dalam perebutan kendali sihir, dia takkan pernah menang.
Ryo lalu mencoba menyelidiki lebih jauh batas kendali lawan atas air.
Sekitar tangan dan kaki, bahkan sangat tipis. Tapi meski tipis, aku sama sekali tidak bisa mengendalikannya. Benar-benar metode yang efisien. Tidak ada pilihan lain selain mencobanya! Prinsipnya sama seperti Water Jet, aku pasti bisa!
Sambil hampir tanpa sadar terus menciptakan Ice Wall, Ryo membentuk imajinasi di kepalanya.
Dari telapak kedua kakinya, Water Jet menyembur deras. Namun kali ini bukan garis air tipis seperti biasa, melainkan semburan air tebal, sebesar semprotan selang mobil saat dulu dia gagal membentuk water jet dengan benar. Dan jumlahnya, 32 semburan dari tiap kaki. Dengan kekuatan yang setara water jet.
“Water Jet, 64.”
Begitu mantra itu diucapkan, semburan air dari telapak kakinya menekan dasar laut, mendorong tubuh Ryo ke atas dengan kecepatan luar biasa.
Dalam sekejap dia mencapai permukaan, bahkan meloncat keluar dari air dengan tenaga itu.
Namun, dia tidak berhenti di situ.
Setelah menarik napas, dia kembali menjatuhkan tubuhnya, terjun lurus ke bawah dengan kepala lebih dahulu. Dia menargetkan bola umpan, dari arah atas.
Seperti dugaannya, menghilangnya Ryo secara mendadak membuat kawanan monster itu kebingungan. Sekuat apa pun komunikasi mereka, situasi yang belum pernah mereka alami tetap membuat celah.
Keadaan itu dimanfaatkan Ryo untuk menyerbu dari atas. Begitu masuk ke dalam bola umpan, dia langsung menusukkan tombak bambu berpisaunya berkali-kali, lalu mengayunkannya tanpa peduli arah.
Dia sempat mengira mengayunkan tombak di dalam air akan mendapat banyak hambatan, tapi ternyata tidak seberat yang dibayangkan.
Banyak monster terkena serangannya dan terluka. Mereka memang menguasai kendali sihir dengan sangat kuat, tetapi ketahanan fisik mereka ternyata tak lebih dari ikan biasa. Dengan satu tebasan tombak bambu, tubuh mereka rontok berjatuhan.
Tak sampai satu menit, bola umpan pun pecah. Kawanan monster itu bubar melarikan diri.
Haa, akhirnya lolos juga.
Ryo lengah.
Karena musuhnya tidak hanya satu kawanan.
Dia sudah memusuhi seluruh lautan. Pilihan terbaik seharusnya adalah melarikan diri ke darat ketika dia sempat muncul ke permukaan tadi.
Namun kini sudah terlambat.
Dari balik bayangan batu karang di dekatnya, seekor udang sepanjang 1 meter muncul dalam pandangan.
Capit kanannya luar biasa besar... Apa-apaan itu? Gelembung air?
Dalam sekejap setelah itu, Ryo kehilangan kesadaran.
Ryo terbangun.
Benar. Dia tidak mati.
Pingsan itu hanya berlangsung sekejap, mungkin hanya satu atau dua detik. Bisa dipastikan karena tombak bambu yang sempat terlepas saat dia tak sadarkan diri, masih terapung di dekatnya.
Mengapa dia selamat?
Dia tidak tahu. Tapi itu bukan hal yang bisa dia pikirkan sekarang.
Udang yang tadi di balik batu sedang berhadapan dengan seekor kepiting. Seolah-olah Ryo sudah tak lagi menarik perhatiannya.
Ryo meraih tombaknya, lalu dengan dorongan Water Jet yang sebelumnya dia gunakan untuk meloloskan diri dari bola umpan, dia melesat ke permukaan. Tubuhnya keluar dari laut, lalu mendarat darurat di daratan.
Dengan tergesa-gesa dia mengenakan sandal, meraih kain pinggang, dan berlari sekencang mungkin menuju rumahnya.
Dia baru bisa menarik napas lega setelah kembali masuk ke dalam penghalang.
“Aku selamat kali ini...”
“Meski begitu... Betapa lemahnya diriku... Penyihir air justru kehilangan kendali atas airnya...”
Ryo terpuruk.
Sejak awal, dia tak pernah menyangka ada kemungkinan kendali atas sihir yang diciptakan bisa direbut begitu saja.
“Kurasa hanya sesama pengguna atribut yang bisa melakukannya... Tapi kalau misalnya mereka juga bisa menguasai atribut lain, itu benar-benar ancaman besar...”
Meski untuk saat ini hal itu dia sisihkan, dia sadar bahwa kemampuan merebut kendali atas sihir yang telah diciptakan orang lain adalah keterampilan yang harus dia kuasai. Jika tidak, dia hanya akan mengalami hal serupa—sihirnya direbut satu per satu, seperti tadi ketika Ice Wall-nya lepas kendali berkali-kali.
Tentu saja tujuan utamanya adalah mencegah kendali sihirnya direbut sejak awal... Tapi jujur saja, dia tidak tahu bagaimana caranya.
Lagipula, meski dia menyebutnya “kendali sihir” untuk mempermudah, sebenarnya dia sendiri belum benar-benar memahami apa itu kendali sihir.
Dari pengalamannya, ada dua contoh. Pertama, ketika dia mencoba mencairkan daging beku yang dibuat Michael palsu, energi sihirnya terpental.
Dan kedua, pertempuran di laut tadi melawan bola umpan. Air laut tipis yang terasa di sekitar tangan dan kakinya, yang kemungkinan besar berada dalam kendali para monster.
Keduanya sama—setiap kali Ryo mencoba menggunakan sihir, kekuatannya terpental. Dan dengan jelas, perasaan “terpental” itu tersampaikan ke dalam benaknya.
Bagaimana waktu itu dia berhasil mencairkan daging beku buatan Michael palsu?
“Kalau tidak salah aku memusatkan sihirku hanya ke satu titik, memutus ikatan molekul, lalu melanjutkan ke ikatan di sebelahnya, kemudian ke sebelahnya lagi, terus berlanjut. Dari titik di mana ikatan terlepas, esnya berubah menjadi air. Kurasa begitu.”
Dia sebenarnya tidak melakukan sesuatu yang istimewa. Mungkin dia hanya menuangkan lebih banyak energi sihir daripada biasanya, lalu melepaskan sihir Michael palsu satu demi satu pada tingkat molekul. Dalam kasus daging beku itu, dia punya keyakinan kuat bahwa karena itu disiapkan oleh Michael palsu, maka pasti bisa dicairkan. Keyakinan itulah yang memberinya fokus.
Namun, situasi pertempuran di laut benar-benar berbeda sejak awal.
Meski dia memusatkan perhatian penuh, belum tentu bisa terurai. Tanpa keyakinan bahwa dia bisa, bagaimana mungkin dia bekerja satu per satu hingga tingkat molekul... Apalagi di tengah pertempuran.
Jelas mustahil.
Ya, mustahil... Tetapi jika memang ada monster yang bisa mengendalikan hasil sihir orang lain, maka dia pun harus menguasai kekuatan untuk menandinginya. Karena itu menyangkut nyawanya sendiri.
Lalu bagaimana cara menguasainya? Mungkin benar, dengan mengasah keterampilan sampai mampu merasakan ikatan molekul atau perubahan getarannya. Itu jalan yang tepat.
Apakah tidak ada cara lain...?
Dalam latihan yang disebut kendali sihir—atau kendali energi sihir—ada cara umum. Misalnya, untuk sihir tanah, bisa dilakukan dengan membuat figur dari tanah.
“Tch, sihir tanah... Kenapa sihir air tidak punya yang seperti itu...”
Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.
“Baiklah, itu berarti aku harus membuat Menara Tokyo dari es.”
Dia pernah melihatnya di sebuah anime. Seekor slime pernah melakukannya!
“Selain itu, hal yang harus dipikirkan lagi... Ya, udang itu...”
Ryo merasa pernah melihatnya di suatu tempat, tetapi dia tak bisa mengingatnya.
“Hmm, aku lupa. Lain kali saja.”
Berganti fokus memang penting.
“Kemudian, alasan aku tidak mati... Kenapa, ya? Apa udang itu puas hanya dengan membuatku pingsan? Tidak, itu terlalu menguntungkan bagiku.”
Saat itu dia merasa telah memusuhi seluruh lautan. Dan perasaan itu tampaknya tidak salah. Fakta bahwa serangan udang datang langsung setelah bola umpan hancur mendukung dugaan bahwa bagi semua penghuni laut, Ryo dianggap sebagai musuh bersama.
Tentu saja, itu sepenuhnya kesalahan Ryo sendiri yang gegabah membunuh makhluk yang mirip ikan kakap di laut.
Dirinya, musuh seluruh lautan, lalu dipukul pingsan oleh gelembung udang...?
Pingsan... Artinya aura, suasana, atau bahkan kesadarannya lenyap. Mungkin saat itu dia berubah menjadi sosok “tak berdaya, bukan lagi ancaman.” Jika demikian, musuh bersama bernama Ryo pun lenyap, dan keadaan kembali seperti biasa—pertarungan antar makhluk demi kelangsungan hidup, kali ini antara udang dan kepiting.
“Hmm... Aku tidak begitu paham, tapi mungkin begitu. Bagaimanapun, ini benar-benar keberuntungan. Lain kali aku pasti tidak akan seberuntung ini.”
Terlalu banyak hal yang harus dia latih. Mengalahkan dua ekor Greater Boar dan berhasil menggunakan Water Jet sampai tingkat praktis mungkin membuatnya sedikit sombong.
Namun, makhluk laut sudah memberinya pelajaran. Dengan kemampuan seperti ini, dia masih jauh dari cukup.
Ryo memilih untuk berpikir begitu. Tak ada gunanya terus-menerus larut dalam kekecewaan.
Sejak hari berikutnya, dia mulai berlari sambil berlatih kendali sihir. Pada dasarnya tidak banyak berubah dari sebelumnya.
Sambil berlari, dia membentuk Menara Tokyo mini seukuran telapak tangan dari es, atau sebaliknya, dia membangun pagoda lima tingkat raksasa dari es di tengah jalur larinya.
Selain itu, Ryo juga melakukan eksperimen kecil saat berburu. Targetnya adalah Lesser Rabbit, yang nantinya akan dia santap.
Manusia terdiri atas sekitar 60% air. Hal itu pun berlaku pada monster. Persentase itu memang berbeda-beda, tetapi umumnya antara 50% hingga 70%.
Kalau begitu, bukankah sebagai pengguna sihir air, dia seharusnya bisa langsung mengendalikan cairan dalam tubuh monster?
Dia membayangkannya.
Air dalam tubuh Lesser Rabbit yang sedang melompat di depannya—lebih tepatnya, darah yang mengalir di dalamnya—dia akan membekukannya.
“Pembekuan Darah.”
...
Terpental!
Sama seperti ketika dia mencoba mencairkan daging beku Michael palsu. Dan sekali lagi, otaknya memberi umpan balik yang jelas: “terpental”.
“Ini bisa kugunakan sebagai latihan.”
Sejak itu, setiap kali berburu monster jenis kelinci atau babi hutan, dia selalu mencoba latihan membekukan darah sebelum memberikan serangan akhir.
Namun, Pembekuan Darah itu belum pernah berhasil sekali pun. Bahkan terhadap darah yang sudah mengalir keluar dari tubuh monster pun, dia tidak bisa melakukannya. Baru ketika monster sudah mati, barulah pembekuan berhasil. Dalam kondisi itu, dia bahkan bisa membekukan seluruh tubuh monster.
Dari eksperimen itu, timbul gagasan lain. Bagaimana kalau mencoba membekukan monster yang masih hidup? Lebih tepatnya, apa mungkin membekukan molekul air di udara sekitar monster?
Hasilnya, Ryo gagal.
Dia memang bisa membekukan udara sekitar 10 sentimeter dari tubuh monster, tetapi semakin dekat dari itu, dia terpental. Artinya, bisa jadi ruang udara di sekitar monster hingga jarak tertentu berada dalam kendali mereka.
Apakah itu semacam ruang pribadi...?
Dulu dia pernah menusuk kepala Greater Boar dengan puluhan Water Jet dari jarak dekat. Tetapi jarak itu sekitar 30 sentimeter. Mungkin karena itulah berhasild
Semakin banyak dia mencoba, semakin jelaslah seluk-beluk sihir. Dan kendali atas sihir itu sendiri.
“Aku harus lebih banyak tahu lagi.”
Ryo bersumpah dalam hatinya.



Post a Comment