Penerjemah: Miru-chan
Proffreader: Miru-chan
Chapter 3
Sudah beberapa hari sejak Shirasu mulai datang ke rumahku sebagai “istri yang datang berkunjung”. Menurut dokter, butuh sedikit lagi sampai luka di lenganku benar-benar sembuh. Tapi aku sama sekali tidak merasakan sakit, bahkan menggerakkannya pun tidak menjadi masalah, jadi aku sangat meragukan hasil diagnosanya. Aku ingin cepat bebas.
Memikirkan hal itu, jam pelajaran pagi pun berakhir dan tibalah waktu istirahat siang. Aku terkulai lemas di atas meja.
“Sejak pagi kamu terlihat lesu terus. Apa kamu sedang mendapat hal yang bagus, Tomoya?”
“Kalau ini terlihat seperti aku mendapat hal bagus, berarti mata Mimasaka sudah jadi mata ikan. Aku sarankan segera ke dokter mata.”
Saat teman sebangkuku, Mimasaka, menegurku dengan nada heran bercampur sindiran, aku mengangkat tubuh beratku dan membalas dengan senyum kecut.
“Fufu. Meski lelah, kamu tetap bisa menyindir ya. Tapi sebenarnya ada apa? Beberapa hari ini kamu selalu begitu.”
Memang benar apa yang dikatakan Mimasaka. Bukan hanya hari ini, sejak Shirasu mulai sering datang ke rumah, aku selalu seperti ini.
“Ah… belakangan ini ada seekor kucing yang mulai tinggal di rumah.”
“Kucing? Kamu memungut kucing liar?”
“Kucing liar? Ya… kurang lebih begitu. Masalahnya, kucing itu lucu,
tapi ceroboh… atau entahlah apa istilah yang tepat.”
Tak perlu dijelaskan lagi, “kucing liar” di sini adalah kiasan untuk Shirasu Yuika.
Sejak awal masuk sekolah, kecantikannya sudah terkenal luar biasa. Dari yang kudengar, ia sudah menerima lebih banyak pengakuan cinta dari para murid laki-laki—baik seangkatan maupun senior—sampai tak bisa dihitung dengan jari. Dan gadis itu, entah bagaimana, menjadi calon tunanganku akibat orang tua kami yang mabuk, lalu kini datang ke rumahku hampir setiap hari untuk merawatku. Mana mungkin aku bisa menceritakan itu begitu saja.
Dalam hal pekerjaan rumah, ia hampir sempurna—siap kapan saja menjadi pengantin. Tapi karena ia tumbuh sebagai gadis manja yang dijaga dengan penuh kasih, dan bahkan bersekolah di lingkungan yang melarang laki-laki sampai SMA, banyak pengetahuannya yang kurang. Lebih buruk lagi, pelayan pribadinya mengajarinya hal-hal aneh sehingga aku kewalahan jika bersamanya.
“Jadi maksudmu, kucing yang kamu pelihara itu sangat nakal sampai membuatmu kesulitan?”
“Kira-kira begitu. Ini pertama kalinya aku memelihara kucing, jadi aku tidak tahu bagaimana cara mendidiknya.”
“Yah, kucing liar memang sulit sampai terbiasa dengan manusia.”
“Masalah lainnya… meski dia membuat masalah, wajah lucunya membuatku tidak bisa marah.”
Apa pun yang dilakukannya, selama ia menatapku dengan senyum polos dan menawan itu, amarahku langsung lenyap begitu saja.
“Itu tidak boleh. Kamu harus menegur ketika perlu. Kalau terlalu dimanjakan, nanti jadi anak yang manja dan kamu akan kesulitan.”
“Aku tahu itu, tapi…”
Padahal, aku sudah sangat kewalahan karena sifatnya yang terlalu positif dan penuh energi.
“Meski begitu… aku tidak menyangka kamu bisa selemah itu di hadapan kucing. Ini bukan sekadar mengejutkan, ini sudah sampai level aneh. Jangan-jangan nanti salju turun di luar musim.”
Aku mengulas senyum letih dan berkata,
“Yah, satu hal yang bisa kukatakan adalah… manusia tidak berdaya di hadapan kucing yang imut. Lagipula, cukup pas untuk menghilangkan kesepian hidup seorang anak SMA yang tinggal sendirian.”
Apalagi rumahku termasuk rumah besar. Meski aku sudah terbiasa karena hidup sendiri sejak Ibu meninggal, tetap saja kesepian itu ada.
“Benar juga… Hidup sendiri memang sepi. Tapi terlalu ramai juga repot.”
Mimasaka mengangkat bahu.
Ia memiliki adik laki-laki dan perempuan yang terpaut usia cukup jauh. Karena kedua orang tuanya bekerja hingga malam, ia yang mengurus mereka. Karena itulah ia terlihat dewasa dan penuh wibawa.
Sebagai tambahan, ia sebenarnya memiliki masa depan cerah sebagai atlet basket hingga SMP, namun terpaksa berhenti karena tanggung jawab keluarga. Meski orang-orang kecewa, ia sendiri tidak terlalu peduli.
“Oh iya, ganti topik sebentar. Bagaimana kondisi lenganmu? Sudah membaik?”
“Pindah topiknya cepat sekali… Tapi ya, sudah lumayan baik. Dari awal juga bukan luka yang serius.”
Lukanya memang hanya memar, sedikit terkilir, dan sedikit robekan kulit. Sebenarnya tidak perlu sampai diikat begitu kaku. Tapi karena dokter memberikan perawatan yang berlebihan, orang-orang jadi salah paham. Bahkan Shirasu memaksa jadi ‘istri yang datang berkunjung’ juga gara-gara itu.
“Tapi perbannya masih belum boleh dilepas, kan? Kalau mau… aku bisa datang dan merawatmu juga.”
“…Hah?”
Apa yang baru saja dikatakan gadis ini? Apa merawat orang sekarang jadi tren baru?
“Maksudku, aku bisa merawatmu. Me-ra-wat-mu! Tangan dominanmu sedang cedera, kan? Pasti menyulitkan. Sampai sembuh, aku bisa bantu banyak hal.”
Mimasaka mendekat sambil berkata begitu. Entah kenapa aku merasa tekanan halus yang mengatakan ‘kamu tidak akan menolak, kan?’
“Dengan kondisi lengan seperti itu, pasti sulit untuk macam-macam hal. Setidaknya biar aku buatkan bekal dan makan malam. Meskipun tidak setiap hari.”
Membuat bekal dan makan malam bukanlah hal kecil. Dan dengan kesibukannya mengurus adik-adiknya, tidak mungkin aku membiarkan dia mengurusku juga. Sekalipun aku cedera, aku tidak mungkin membebani dia sebanyak itu.
“Terima kasih, Mimasaka. Tapi biar kuambil niat baiknya saja.”
“…Kenapa? Kamu menolak bantuanku?”
Senyumnya hilang seketika. Ada hawa marah yang diam-diam muncul. Selama setahun mengenalnya, baru kali ini aku melihat ekspresi seperti itu. Jujur saja, agak menakutkan.
“B-bukan begitu… hanya saja, kamu juga sibuk dengan urusan rumahmu sendiri, bukan? Jadi kalau sampai harus mengurusku juga…”
"Aku sudah bilang kan, tidak perlu dipikirkan, Tomoya. Atau jangan-jangan? Maksudmu kamu menolak karena aku tidak cukup mampu?"
"Karena ‘tidak cukup mampu’ dalam konteks ini itu salah pakai… dan Mimasaka, bisa tolong rendahkan sedikit nada suaramu?"
"Percuma berusaha mengalihkan pembicaraan, Tomoya. Jawab pertanyaanku. Apa maksudmu kamu tidak mau aku yang merawatmu?"
"Aku bilang suaramu terlalu besar!? Apa kamu punya dendam pribadi padaku!?"
Dann! Dengan keras, aku memukul meja dan berdiri, sambil menunjuk ke arah kelas. Barulah Mimasaka menyadari tatapan yang mengarah pada kami. Tatapan para laki-laki penuh dengan niat membunuh, dan tatapan para perempuan dipenuhi sorak-sorai yang antusias.
"Kalau kamu tidak punya dendam padaku, tolong kecilkan volume suaramu. Kalau perlu, kita lanjutkan nanti sepulang sekolah, ganti tempat. Pokoknya jangan lanjutkan di sini."
Tolonglah, pintaku sambil menundukkan kepala. Kalau masalahnya hanya luka, aku masih bisa terima. Tapi kalau pembicaraan ini terus berlanjut, nyawaku yang terancam.
Alasannya sederhana—semua ini berasal dari teman sebangku yang satu ini. Meskipun tidak sampai di tingkat Shirasu, Mimasaka sangat populer di sekolah. Wajahnya menawan, tubuhnya ramping dan terlatih karena basket, dan lekuk tubuhnya mampu membuat model sekalipun merasa kalah. Ditambah lagi, karena terbiasa mengurus adik-adiknya, dia memiliki kedewasaan dan sisi keibuan yang jarang dimiliki anak seumurannya.
Dia pernah bilang kalau berjalan-jalan dengan pakaian santai saja, orang-orang sering menyangkanya sebagai mahasiswa. Dengan semua itu, mustahil ia tidak sering menerima pengakuan cinta.
Di tahun pertama saja, banyak kakak kelas yang sering mendekatinya, dan semuanya ia tolak tanpa ampun. Yang ingin aku tekankan adalah: kalau Mimasaka mengatakan dia ingin "merawat" seorang laki-laki, itu bisa memicu kerusuhan.
"Apa yang kau katakan sih? Kita berdua kan dekat, Tomoya. Justru harusnya kita pamerkan hubungan ini."
"Kepada siapa dan menunjukkan apa…?"
Tolong dah, jangan bercanda seenaknya. Baik Shirasu maupun Mimasaka sama-sama hobi menggangguku, benar-benar punya selera humor yang buruk. Bedanya, Mimasaka melakukannya secara sadar, jadi lebih menyusahkan.
"Fufu. Tentu saja—"
Mimasaka menghentikan kata-katanya sebentar, lalu mendekat lagi. Tangannya memeluk bahuku, dan aroma lembut manis bercampur segar menyeruak dari dirinya.
"—tentu saja untuk menunjukkan hubungan intim kita, dong."
“”"KYAAAAA!!"””
Teriakan histeris para perempuan menggema di seluruh kelas, sementara tatapan penuh benci para laki-laki menusukku. Aku menghela napas panjang, lalu berusaha kabur dari dekapan Mimasaka.
"Ya ya, selesai bermain-main dengan perasaan polos seorang siswa laki-laki yang sehat secara jasmani dan rohani. Jangan membuat kesalahpahaman makin parah."
"Cih. Tomoya tetap saja dingin. Kalau tidak mau disalahpahami, tinggal buat saja kenyataan yang tidak bisa disangkal."
Katanya sambil tersenyum menggoda. Aku bisa tetap tenang karena ini bukan pertama kalinya dia bertingkah seperti ini.
"Sungguh. Jangan lakukan hal seperti ini sembarangan. Sudah sering kubilang, kalau korbannya bukan aku, situasinya bisa berbahaya."
"Aku juga sudah sering bilang, aku tidak melakukan ini ke orang lain selain Tomoya. Haaah… kapan ya kamu akan luluh padaku?"
"Aku mohon, ampuni aku. Aku belum mau ma—"
"—Permisiーーー!! Apa di sini ada Midou-senpai!?"
Kalimat ‘belum mau mati’ tercekat di tenggorokanku saat sebuah suara nyaring dan manis memenuhi ruang kelas.
"A… apa!?"
Aku otomatis meringkuk sambil membelakangi arah suara itu. Aku sudah melarang keras dia untuk datang ke kelasku—jadi kenapa dia muncul!?
"…Hei, Tomoya. Jelaskan. Itu apa maksudnya?"
Kelas seketika sunyi. Dan di sampingku, suara Mimasaka turun drastis—dingin, rendah, dan menusuk.
"…………"
Aku tidak bisa menjawab. Keringat dingin mengalir. Aku ingin melarikan diri seperti kelinci yang dikejar predator, tapi bahuku ditahan Mimasaka yang mencondongkan tubuh dengan tekanan menakutkan. Lalu satu teman lagi mendekat dengan langkah menyeramkan seperti hantu.
"Yo, Tomoya. Jelaskan. Apa maksudnya itu?"
"…Ma—masalah apa ya itu?"
Mimasaka dan Koushirou, tolong berhenti mengulang kata ganti itu! Dan rendahkan volume kalian! Identitasku bisa ketahuan!
"Itu jelas itu!! Jangan pura-pura! Jelaskan! Kalau tidak, persahabatan kita tamat di sini!"
"Rapuh sekali persahabatanmu, oi…"
"Tentu saja! Kenapa Shirasu Yuika ada di kelas kita!? Dan kenapa dia memanggil namamu, hah!?"
"Aaah… aku tidak dengar, tidak dengar. Aku tidak dengar apa-apa."
Tidak melihat, tidak mendengar, tidak berkata apa-apa. Diam adalah emas. Strategi ke-36: lebih baik lari. Sayangnya di ruangan ini tidak ada kardus untuk aku sembunyi, jadi aku memilih mundur perlahan tanpa suara.
"Ah, Senpaai! Kalau ada, jawab dong!!"
Shirasu masuk begitu saja, pipi menggembung kesal. Seperti yang diharapkan dari putri pemilik perusahaan besar—meskipun ini kelas kakak tingkat, dia tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Bisa tolong jangan tunjukkan keberanian itu di sini?
"Kenapa mengabaikanku, Senpai? Apa jangan-jangan… kamu tidak bisa melihatku?"
"…………"
Jangan jawab. Jangan bereaksi. Sekecil apa pun respons dariku, eksekusi publik menanti dari dua temanku dan seluruh kelas.
"Aduh? Diabaikan lagi? Masa sih aku disepelekan begini? Bahkan aku bisa terluka lho kalau seperti ini."
"Be—benar tuh Tomoya! Jangan begitu! Mengabaikan itu kejam, tahu!? Shirasu-san sampai sedih begitu!"
"Koushirou, diam sebentar, tolong!!"
"Senpai, kejam! Mengabaikan aku tapi mendengarkan temanmu!? Apa kamu sudah tidak suka padaku lagi!?"
Uuuh… Shirasu menunduk sambil sengaja menjatuhkan bahunya dengan cara yang dramatis.
Pada saat itu, seluruh kelas terdengar menahan napas. Suhu ruangan ikut turun, dan dari arah para laki-laki—dipimpin oleh Koushirou—tatapan penuh niat membunuh menusuk tajam. Menahan rasa perih di lambungku, aku mendekati Shirasu dan berbisik.
"Kenapa kamu datang ke kelas!? Kita sudah sepakat, kan? Di sekolah
kita berpura-pura tidak saling kenal! Jadi kenapa…!"
"Setelah pulang, aku merenung dengan tenang. Kalau aku bilang akan merawat Senpai, minimal aku harus membuatkan bekal juga, kan? Jadi aku membawakannya!"
"Baik, sekarang diam dulu. Di sekolah kamu tidak perlu merawatku. Justru karena kamu datang, semuanya jadi tambah rumit."
Aku merasakan tekanan dan niat membunuh dari belakang.
Saat menoleh dengan takut-takut, kulihat sahabatku berdiri dengan wajah seperti iblis dan tinju yang terangkat.
"Tomoya… kau…"
"Te—tenang dulu, Koushirou! Turunkan dulu tinjumu!"
"Hei, Tomoya. Jangan-jangan… alasan kamu menolak tawaranku itu karena anak ini?"
Koushirou dan Mimasaka mendekat bersamaan, menurunkan jarak sedikit demi sedikit seolah hendak menghabisiku. Khusus Mimasaka, ini benar-benar gawat. Ungkapan "rambut berdiri sampai ke puncak kepala" rasanya cocok untuk menggambarkan amarahnya. Tidak aneh kalau sebentar lagi dia menjambak kerah bajuku.
"Tawaran? Senpai, tawaran apa? Onee-san cantik ini menawari Senpai apa?"
"Itu bukan urusanmu, Shirasu. Dan tawarannya sudah kutolak, jadi—ah."
Sial. Tanpa sadar aku menjawabnya seperti biasa. Saat tersadar dan menutup mulut, semuanya sudah terlambat.
Shirasu menyeringai, Mimasaka semakin muram. Koushirou hanya bingung.
"Akhirnya Senpai menjawab pertanyaanku. Aku sampai bingung harus bagaimana kalau Senpai terus diam."
"Dan kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, Tomoya? Hei, kamu dan anak ini sebenarnya hubungannya apa? Sampai dibawakan bekal segala?"
"Te—tenang! Aku dan Shirasu tidak seperti yang kamu bayangkan, Mimasaka—!"
"Kalau bukan seperti bayanganku, lalu seperti apa!? Jelaskan cepat, Tomoya!"
Mimasaka mencengkeram kerah bajuku dengan kedua tangannya lalu mengguncang tubuhku keras-keras. Rasanya seperti diguncang gempa tingkat enam.
Dengan kondisi begini, aku bahkan tidak bisa berpikir untuk mencari alasan. Dan diam bukan emas dalam situasi ini—diam justru mempercepat kematian.
"Kalau diguncang sekeras itu, bagaimana Senpai bisa bicara…?"
"…Sekarang aku sedang bicara dengan Tomoya. Bisa diam sebentar?"
Mimasaka melirik Shirasu dengan tatapan tajam. Memang tidak sampai berniat membunuh, tapi jelas ada permusuhan. Jarang sekali dia menunjukkan amarah kepada siapa pun.
"Tidak, aku tidak mau diam. Lepaskan Senpai! Kalau terus seperti itu, Senpai bisa mati!"
"Mati? Jangan berlebihan. Aku tidak akan tertipu."
"Ti—tidak, Shirasu benar. Lepaskan Tomoya, Mimasaka. Lehernya nyaris tercekik."
Mimasaka mengeluarkan suara bodoh, "Heh?", bersamaan dengan aku yang menepuk tangannya dua kali sebagai tanda.
"Ma—maaf, Tomoya!"
"N—nggak apa-apa… barusan aku sempat melihat Ibu melambai dari seberang Sungai Sanzu, tapi aku masih hidup."
Mimasaka buru-buru melepas tangannya. Sedikit lagi aku sudah naik perahu kecil menuju dunia arwah. Begitu oksigen kembali memenuhi paru-paruku, otakku langsung terasa segar.
"Apakah Senpai baik-baik saja? Masih hidup? Masih ingat siapa aku?"
"Aku tidak akan amnesia hanya karena itu. Tubuhku tidak selemah itu. Dan jangan mendekat juga dalam situasi begini."
Memang aku senang dia khawatir, tapi mendekat seperti itu justru memperparah kesalahpahaman. Suara erangan Koushirou di belakangku juga semakin keras.
"Senpai, lebih baik kita pindah tempat dan makan siang saja. Berada di sini tidak akan menyelesaikan apa pun."
"…Benar juga. Aku juga sudah lapar."
Tanpa kusadari, waktu istirahat siang sudah tinggal separuh. Kalau terus bertahan di kelas, aku bisa saja tidak sempat makan dan harus menghadapi pelajaran siang hari dengan perut kosong—dan itu akan lebih memalukan lagi kalau sampai perutku berbunyi keras.
“Ah, Tomoya……”
“Soal Shirasu, sebenarnya memang tidak ada apa-apa. Hanya saja, bagaimana ya… dia itu semacam… penolong hidupku.”
“Penolong hidup? Tunggu sebentar, Tomoya. Menurutku itu bukan hal sepele, deh? Apa ini ada hubungannya dengan cedera tanganmu?”
Ketajaman intuisi Mimasaka seperti biasa memang luar biasa. Tapi di sisi lain, ini adalah kesempatan emas untuk menjelaskan hubungan antara aku dan Shirasu tanpa menimbulkan kecurigaan lebih jauh.
“Ya, semacam itulah. Soal cedera tangan itu, aku bilang kalau aku jatuh, kan? Itu bohong. Sebenarnya waktu itu, Shirasu hampir tertabrak mobil, dan aku menolongnya. Tanganku cedera pada saat itu. Dan sekarang, alasan dia membawa bekal untukku adalah untuk membalas budi. Begitu kan?”
“Umm…”
“Be–gi-tu–kan?”
Saat Shirasu tampak ragu, aku menekannya dengan tatapan yang mengatakan ‘jangan bilang hal yang aneh-aneh’. Cerita ini akhirnya mulai masuk akal, jadi jangan dirusak lagi.
“Y-ya. Betul sekali. Aku bisa datang ke sekolah seperti biasa itu semua berkat Senpai.”
“Begitu, ya… Kalau begitu bilang saja dari awal.”
“Apa Senpai tidak menjelaskan bagaimana beliau bisa terluka?”
“…Bukan sesuatu yang perlu diumumkan besar-besaran.”
Kalau aku cerita sembarangan, bisa-bisa hubungan dengan Shirasu terbongkar. Itu sebabnya aku berbohong soal jatuh. Tapi semua itu buyar berkat serbuan mendadak Shirasu.
“Bagaimana, Mimasaka? Sekarang sudah sedikit bisa menerima, kan?”
“…Yah, untuk sementara.”
“Kalau begitu, masalah selesai! Onee-san cantik ini juga sudah setuju, jadi ayo kita pergi, Senpai!”
“Tunggu—Shirasu!? Jangan dorong-dorong begitu! Kalau aku jatuh bagaimana!?”
Dengan didorong kuat di punggung oleh Shirasu, aku pun dipaksa keluar dari kelas. Kelas yang tadi riuh kembali tenggelam dalam keheningan. Saat aku kembali dari istirahat makan siang nanti… apakah aku masih hidup?
Menyimpan secuil rasa cemas, aku pun digelandang pergi oleh Shirasu.
*****
“…Shirasu. Kenapa kau datang ke kelas?”
“Bukankah jelas? Untuk mengantarkan bekal makan siang kepada Senpai, tentu saja.”
Tempat yang dibawa Shirasu kepadaku adalah atap sekolah yang kosong. Biasanya atap ini selalu terkunci, tapi entah kenapa hari ini terbuka. Namun untuk saat ini, aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkan detail itu.
“Aku menghargai niatmu, tapi aku sudah bilang jangan datang ke kelas, kan? Gara-gara itu semuanya jadi merepotkan.”
“Tidak, itu salah, Senpai. Memang berbagai hal terjadi, tetapi semua itu terjadi karena Senpai sendiri.”
“…Hah? Jadi pada akhirnya salahku? Shirasu, kau cukup berani berkata begitu. Coba jelaskan alasannya.”
“Kalau saja Senpai menjelaskan semuanya tanpa menutupi apa pun, semua ini tidak akan terjadi. Tidak begitu menurutmu?”
Gunununu. Kalau dibilang itu seratus persen benar, ya memang benar. Seandainya aku tidak menyembunyikan alasan cedera tanganku—tanpa menyebut nama Shirasu, cukup bilang aku menolong seseorang —mungkin keadaan tidak akan sekacau ini.
“Semua ini terjadi karena Senpai menutup-nutupi keadaan. Kalau begitu, kenapa tidak sekalian bilang saja bahwa kita ini bertunangan atau aku sudah jadi istri yang datang merawat tiap hari?”
“A-apa! Jangan ngomong begitu! Kalau aku mengatakan hal semacam itu, aku langsung dikirim ke tiang eksekusi dan dipenggal, tahu!? Kecuali… kalau Shirasu memang ingin aku mati.”
“Eh!? Kenapa jadi begitu!? Aku sama sekali tidak ingin Senpai mati! Sedikit pun tidak!”
“Itu maksud dari ucapanmu tadi! Sadarilah bagaimana orang-orang melihatmu! Tolong, sadarlah!”
Shirasu adalah gadis yang bahkan kata ‘cantik luar biasa’ tidak cukup untuk menggambarkannya. Ditambah lagi dia adalah putri direktur perusahaan besar, dibesarkan dalam lingkungan serba sempurna. Jika gadis seperti itu tiba-tiba punya tunangan, media pasti menyerbu dan menciptakan kekacauan besar.
“Dilihat bagaimana, ya? Bukannya aku sama saja seperti orang lain?”
Sayangnya, orang yang bersangkutan justru memiringkan kepala dengan bingung, seolah tidak mengerti apa yang kubicarakan.
“Haa… tidak kusangka separah ini.”
Aku hanya bisa menghela napas.
Aku tahu harus segera melakukan sesuatu, tetapi tidak ada solusi konkret yang terpikirkan. Namun,kalau dilihat dari sisi lain, kepolosan dan ketulusannya inilah yang menjadi pesona Shirasu Yuika. Meski sebagai orang yang terkena dampaknya, aku benar-benar menderita.
Untuk mengubah suasana, aku membuka bekal yang tadi diterimakan Shirasu dan mulai memakannya. Isinya standar—karaage dan tamagoyaki—tapi rasanya tetap luar biasa meski sudah dingin. Jujur saja, ini selevel makanan restoran.
Karena beberapa kali pernah mencicipi masakannya untuk makan malam, aku sudah tahu betapa pandainya Shirasu memasak. Bukan sekadar calon istri yang ideal—dia bisa buka restoran kapan saja.
“Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba kau membuatkan bekal?”
“Itu karena kondisi pola makan Senpai. Jujur saja, makan siang Senpai tidak bisa dibilang sehat.”
Sambil bicara, Shirasu juga mulai makan bekalnya. Melihat cara dia makan dengan gigitan kecil membuatku tanpa sadar berpikir bahwa itu lucu, sambil merenungi pola makan siangku sendiri.
“Begitu ya? Menurutku tidak jauh berbeda dengan kebanyakan siswa laki-laki, sih.”
Di sekolah aku biasanya makan roti dari kantin atau makanan dari kafetaria. Sebelum cedera, aku kadang membawa sisa makan malam dalam wadah, tapi tidak terlalu sering.
“Tidak sampai buruk, tapi dari segi nutrisi itu kurang baik. Senpai masih dalam masa pertumbuhan, jadi harus makan makanan yang menambah stamina!”
“…Itu juga kata maid-mu, ya?”
“Eh!? Bagaimana Senpai tahu!? Semua ini memang nasihat dari Nanase-san. Tapi bekalnya tetap aku yang membuat!”
Dengan bangga Shirasu menepuk dadanya. Belakangan ini aku menyadari bahwa gadis ini—si nona kaya raya—memang suka sekali dipuji. Belum dua minggu kami saling kenal, tapi aku sudah hafal ekspresi “tunggu aku dipuji” itu.
“Begitu ya. Terima kasih sudah repot-repot membuatkannya untukku.”
“Hya—!?”
Aku mengusap kepala Shirasu dengan lembut menggunakan tangan kiriku sebagai bentuk terima kasih. Jika aku punya adik perempuan, mungkin begini caraku memanjakannya. Meski kalau adiknya secantik ini, aku mungkin akan sangat protektif dan itu bisa jadi masalah sendiri.
“U-umm… Senpai? Kenapa tiba-tiba…?”
Tidak peduli kalau orang-orang akan menyebutku kakak yang terlalu menyayangi adiknya, aku yakin aku akan melindunginya dari bahaya apa pun.
Rambut Shirasu juga begitu halus dan lembut. Sulit dipercaya bahwa aku dan dia sama-sama manusia. Jelas perawatan rambutnya luar biasa.
“S-Senpai… aku senang, tapi… bisa tolong… lepaskan tangannya sebentar lagi…?”
Lamunanku buyar ketika suara Shirasu—berwajah merah padam sampai ke telinga—menarikku kembali ke kenyataan. Matanya sedikit berkaca-kaca, memancarkan pesona yang membuatku hampir lupa bernapas.
“Ah, maaf. Kau kelihatan seperti ingin dipuji, jadi aku… Tentu saja kau pasti tidak suka, ya.”
Rambut wanita adalah mahkota mereka, dan menyentuhnya sembarangan—apalagi oleh laki-laki—sebenarnya tidak sopan. Belum lagi mengusap kepala… itu benar-benar tindakan fatal.
Yang boleh melakukan begitu hanya karakter tampan dalam manga. Untuk orang biasa sepertiku, itu tindakan yang pantas dihukum mati.
“T-tidak! B-bukan begitu! Aku tidak membencinya sama sekali! Hanya saja… kalau terus seperti ini, aku pasti senyum-senyum sendiri dan nanti saat pelajaran siang aku tidak bisa konsentrasi…”
Sambil berkata begitu, Shirasu tersenyum malu-malu sambil memalingkan wajah.
Dengan cahaya matahari yang jatuh padanya, senyum Shirasu tampak lebih cerah dari matahari, lebih berkilau dari bintang-bintang di langit malam. Jujur saja, aku hampir jatuh cinta.
“Mulai sekarang akan lebih hati-hati. Maaf ya.”
“Tidak perlu minta maaf! Sebenarnya… kalau bisa… aku ingin Senpai mengusap kepalaku lebih sering. Secara rutin. Sungguh, tolong lakukan!”
Sambil berkata begitu, Shirasu tiba-tiba merapatkan tubuhnya ke arahku. Selain suka dipuji, dia juga punya masalah lain: personal space-nya terlalu kecil.
Setiap ada kesempatan, dia langsung mendekat tanpa segan. Kalau yang dia dekati itu bukan aku, pasti sudah disalahpahami dan dianggap siap untuk dijatuhkan kapan saja.
“Pokoknya, hentikan dulu kebiasaanmu yang suka mendekat tanpa alasan, ya? Ke perempuan sih masih mending, tapi jangan lakukan itu ke laki-laki. Kalau terjadi sesuatu, kamu nggak bisa komplain, lho?”
“.....? Apa yang kamu bicarakan, Senpai? Lagipula aku bahkan belum pernah berbicara dengan laki-laki lain secara benar selain Senpai, tahu?”
“…Hah?”
“Sungguh kok. Aku benar-benar cuma bicara seperlunya saja dengan laki-laki lain. Bukan mau sombong, tapi aku ini, meski kelihatannya begini, sebenarnya pemalu.”
Bohong. Itu jelas bohong.
Keinginanku untuk bilang “Dusta!” bercampur dengan rasa bangga karena akulah satu-satunya laki-laki yang bisa ngobrol dengan Shirasu. Emosi itu saling bertabrakan sampai aku tak bisa merespons dan hanya terdiam.
“Aduh, kenapa nih Senpai? Wajahnya merah, lho~?”
“...Itu cuma perasaanmu saja. Lagian merahnya karena kena sinar matahari.”
Bukan karena perkataan Shirasu mengena dan membuatku malu. Meski aku berusaha menyangkal, hasilnya hanya akan terbaca jelas olehnya, jadi aku memilih diam dan makan bekalku.
Karaage dengan rasa shoyu yang meresap itu enak sekali. Jadi ingin makan yang baru digoreng.
“Wah, sepertinya bekalnya cocok di lidah Senpai. Kalau Senpai tidak keberatan, mulai besok aku bisa bawakan bekal setiap hari, lho?”
“...Apa tadi?”
Ucapan jujur dalam hatiku lolos begitu saja. Aku buru-buru menutup mulut dan cepat-cepat memalingkan wajah, tapi sudah terlambat. Tanpa melihat pun aku tahu Shirasu pasti lagi nyengir.
“Aduh~? Biasanya Senpai akan bilang ‘nggak usah repot’ dan menolak mentah-mentah, kan? Tapi kalau sampai nanya ulang… apa jangan-jangan Senpai mengharapkannya, ya?”
“...Gununu…”
Aku tak menyangka akan mengeluarkan suara “gununu” dua kali dalam waktu sesingkat ini. Kalau begini terus, aku bakal terbawa arusnya Shirasu. Tapi—
“Gimana nih, Senpai? Kalau Senpai bilang tolong, aku akan buatkan bekal buatan tangan khusus untuk Senpai setiap hari~?”
“—Kalau begitu, tolong ya.”
“……Heh? Senpai, apa barusan aku salah dengar? tadi bilang ‘tolong’, kan?”
“Iya, aku bilang. Kamu mau buatkan, kan? Bekal buatan tangan. Setiap hari. Buat aku. Atau… jangan-jangan kamu cuma bercanda?”
Selalu kalah itu menyebalkan, jadi aku putuskan untuk melawan balik. Daripada berusaha merebut kendali dan malah tenggelam, mending ikut arus sekalian. Dan kalau bisa sekalian menarik Shirasu ikut tenggelam ke lumpur—itu bahkan lebih bagus.
“T-tidak… bercanda… kok…”
Shirasu yang tadi percaya diri, sekarang justru memelintir ujung rambutnya sambil berbisik kecil. Wajahnya tertunduk, tapi dari warnanya aku bisa tahu pipi dan telinganya memerah sampai seperti terbakar.
“Haah… kadang Senpai itu curang, ya. Atau malah licik. Apa sih? Senpai senang membuat aku kesal begitu?”
“Hahaha! Itu juga berlaku buatmu. Lagipula, orang yang boleh menggoda… cuma orang yang siap digoda balik.”
“Gunununu…! Kali ini aku nggak akan kalah, Senpai!”
“Aku sebenarnya bukan sedang ngomong soal menang-kalah…”
Ini memang bukan sesuatu yang perlu dipersaingkan. Dan sedihnya, kalau dia balik menyerang, aku nggak yakin bisa menang lagi.
“Ah… kepikiran sesuatu. Kalau aku harus membuat dan membawa bekal setiap hari, urusan penyerahannya bakal jadi masalah, kan?”
Bukan karena “orang cerdik terperangkap oleh rencananya sendiri”, tapi setelah dipikirkan baik-baik, melakukan ini setiap hari seperti hari ini jelas bukan ide bagus.
“Benarkah? Menurutku sama sekali tidak ada masalah, kok. Aku cuma perlu mengantar bekal ke kelas Senpai setiap jam istirahat. Mudah sekali~”
Shirasu menjawab santai dan seolah tanpa beban.
Aku langsung memegangi kepala. Idealnya aku menerima bekal itu sebelum berangkat, tapi rumahku dan rumah Shirasu arahnya berlawanan dari sekolah. Bertemu diam-diam di sekolah juga bisa, tapi bagi seorang selebriti seperti Shirasu, berjalan tanpa diketahui siapa pun itu mustahil kecuali dia mata-mata profesional.
“Yah, aku mengerti perasaan Senpai. Jadi, izinkan aku memberi satu saran terbaik. Sudah siap?”
“…Ya, aku dengar dulu. Setelah itu kita lihat.”
Pasti sarannya konyol. Mendengarkan dengan serius hanya akan melelahkan, jadi kupilih untuk menanggapinya setengah hati.
“Fufu. Ini bukan teka-teki sulit kok. Jawabannya adalah! Setiap pagi aku akan mengantar bekal ke rumah Senpai! Masalah selesai!”
“Baik, kita kembali ke kelas.”
Percuma aku mendengarkan. Aku berdiri sambil menghela napas dan merapikan kotak bekalnya.
“Eh, tungguuu!? Apa-apaan reaksi itu!?”
Shirasu menarik lengan bajuku sambil protes. Jawabannya benar-benar sesuai perkiraan, sampai aku pun sudah tak sempat pusing lagi.
“Apanya yang ‘apa-apaan’? Setiap pagi ke rumahku itu nggak realistis, kan?”
“Tidak! Justru itu yang paling realistis! Bahkan satu-satunya pilihan terbaik!”
“Baiklah. Misal aku setuju dengan idemu soal ‘mengantar’, terus caranya bagaimana?”
“Fufufu. Tahukah Senpai siapa aku? Masa iya aku kasih usulan tanpa persiapan?”
“Ya, kupikir begitu.”
Aku menjawab tanpa ragu. Shirasu langsung berdiri dan menepuk-nepuk punggungku dengan tinjunya. Pipinya menggembung kesal. Memang lucu, tapi rasanya sakit juga.
“Uuugh! Menurutmu aku ini apa!? Senpai pikir aku ini ponkotsu!? Iya, kan!? Iya, kan!? Pasti menganggapku begitu, kan!?”
Shirasu berseru dengan suara bercampur tangis. Katanya aku seperti genderang yang langsung berbunyi saat dipukul… padahal Shirasu sendiri juga sama saja.
Mungkinkah maid pribadi Shirasu—Nanase Nanigashi-san—juga suka menggoda Shirasu seperti ini? Bahkan mungkin memanfaatkan ketidaktahuannya soal pendidikan seksual untuk mengajarinya hal-hal yang entah benar entah tidak. Lalu menikmati saat aku kerepotan karenanya. Bukan tidak mungkin.
“Senpaaai! Jangan diam saja, katakan sesuatu dong! Tanyakan ke aku, ‘bagaimana kamu mau ngantarinnya tiap pagi?’ begitu!”
“Baik, baik, jangan mukulin aku. Jadi, gimana caramu mau bawa bekalnya tiap pagi?”
“Aku akan minta Maid Nanase-san untuk mengantarku ke rumah Senpai dengan mobil! Bahkan bisa sekalian mengantar kita ke sekolah. Sempurna, kan? Oh iya! Gimana kalau Senpai ikut naik juga? Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui!”
Ia memasang wajah bangga seolah sedang berkata, ‘ini ide jenius, kan?’.
Kenapa rasanya dia seperti anak anjing yang mengibaskan ekornya?
“Ah benar juga. Itu memang sekali dayung dua tiga pulau. Berangkat ke sekolah dengan nyaman tanpa harus berdesak-desakan di kereta… kedengarannya seperti mimpi.”
“Iya, kan!? Iya, kan!? Kalau begitu mulai besok kita be—”
“Tapi itu kalau aku mengabaikan fakta bahwa nyawaku akan berakhir bagai bunga yang gugur.”
“……Hah? Gugur? Nyawa Senpai?”
Tenang, tetap tenang. Jangan marah. Sudah jelas Shirasu memang seperti ini.
Aku menghembuskan napas panjang untuk meredakan berbagai emosi yang muncul.
“Dengar, Shirasu. Kamu ingat kan beberapa puluh menit lalu ketika kamu datang ke kelas dan menimbulkan keributan?”
“Itu… ya, aku ingat. Meski aku belum tahu kenapa itu bisa terjadi.”
“Bagus. Itu akan kubahas lain waktu. Yang jelas, hanya karena kamu masuk kelas dan memanggil namaku saja sudah bikin kelas panik, kan? Terus bayangkan kalau kita berangkat sekolah bersama dengan mobil. Menurutmu apa yang bakal terjadi?”
“Hm? Apa yang terjadi?”
Ah, jadi dia ngetes aku, ya? Kamu paham ini, kan? Kamu sengaja nanya ulang, kan? Kalau bukan begitu, berarti sensitivitasnya sudah hilang total.
“Keributan yang jauh lebih parah daripada hari ini! Hidupku sebagai pelajar—bahkan hidupku secara keseluruhan—akan game over!”
“Senpai itu selalu berlebihan, ya. Hanya karena pergi ke sekolah bersamaku, masa hidup Senpai langsung berakhir~. Lagipula kita ini kan tunangan, lho? Pergi sekolah bareng itu justru wajar, kan?”
“Wajar dari mana!?”
Zaman modern ini mana ada tunangan begitu saja. Itu cuma ada di cerita fiksi. Kalau hal seperti itu terjadi di dunia nyata—dan pasangan tunangannya adalah Shirasu Yuika—hasilnya sudah jelas tanpa perlu dijelaskan lagi. Kecuali untuk orangnya sendiri.
“Kalau Senpai sampai segitunya keberatan, gimana kalau Senpai turun di stasiun sebelum stasiun sekolah saja? Dengan begitu kita tetap berangkat terpisah.”
“Yah… itu memang membuat kita tidak kelihatan berangkat bareng, sih. Tapi tolong jangan ngomong seolah-olah aku ini yang manja dan rewel, ya?”
“Kalau nggak mau dibilang manja, ayo kita sekolah bareng naik mobil! Ah, Senpai. Membawa bekal itu memang bisa, tapi aku baru sadar ada satu masalah fatal.”
“...Apa?”
Di mana letak kekurangan dari rencana penyerahan bekal sebelum sekolah?
“Walaupun aku menyerahkan bekalnya lebih dulu, tetap saja Senpai nanti ketahuan karena membawa kotak bekal itu, kan?”
“…Ah.”
Dengan gaya seperti detektif dari Baker Street, Shirasu berkata, “itu hal dasar sekali, Watson-kun”, dan aku langsung paham.
“Kalau Senpai membawa kotak bekal yang belum pernah dilihat sebelumnya… terutama ‘Onee-san’ itu pasti sadar, kan?”
“Mimasaka, ya… dia pasti langsung sadar.”
“Kalau tidak kelihatan bertemu denganku sama sekali di sekolah, tapi Senpai bawa bekal dariku… menurutku ada dua kemungkinan: kita diam-diam ketemu di suatu tempat, atau kita sebenarnya sudah tinggal serumah.”
Untuk seseorang yang sering tidak tahu banyak hal, analisanya kali ini cukup tajam. Aku pun sampai pada kesimpulan yang sama.
“Kalau sudah begitu, alasan apa yang akan Senpai pakai? Selain bilang kita tunangan, apa lagi? Kayaknya nggak ada penjelasan yang aman, kan?”
“…Terus aku harus bagaimana?”
“Menyerah saja dan biarkan kita pergi ke sekolah bersama naik mobil! Dengan begitu semuanya beres, damai, dan dunia pun tentram!”
Patut dicurigai.
Benarkah ini satu-satunya opsi? Jangan-jangan aku sedang digiring ke jawaban itu. Shirasu mungkin terlihat polos, tapi kalau dia dapat saran dari orang lain, bukan tidak mungkin dia sengaja mengarahkan percakapan ini.
“Setuju ya? Kalau begitu mulai besok kita—”
Ia mendesak untuk segera mendapat jawaban, tapi aku memaksa diriku tetap tenang. Masalah utama adalah kotak bekal yang mencurigakan. Selama itu bisa diatasi, masalahnya selesai.
“Ah, itu mudah.”
“……Senpai, kepikiran sesuatu?”
Mungkin cuma perasaanku, tapi suara Shirasu terdengar sedikit rendah. Aku pun menyampaikan solusi yang terpikirkan.
“Kalau begitu, aku kasih saja kotak bekalku yang biasa kupakai. Kamu tinggal isi makananmu ke dalamnya. Dengan begitu tidak ada yang curiga, kan?”
“…………Tch.”
“HAH!? Hei, Shirasu! Kamu barusan ngeklik lidah, kan!?”
Dia memalingkan wajah, tapi aku melihat jelas bahwa dia barusan melakukan tindakan yang tidak pantas bagi seorang Ojou-sama. Dengan itu, aku yakin usul Shirasu sebelumnya memang sebuah jebakan.
“M-mana mungkin aku ngeklik lidah… pasti Senpai salah dengar~”
“Bohong! Kamu jelas-jelas melakukannya!”
Benarkah dia polos atau hanya berpura-pura? Aku sudah tak mengerti. Tapi kalau sifat misterius ini ditambah pada kelucuannya… dia jadi terlalu sempurna, sampai menakutkan.
“Haa… baiklah. Nanti pas kamu datang ke rumahku sore ini, akan kukasih kotak bekalnya. Tolong ya, Shirasu.”
“Serahkan semuanya padaku mulai sekarang!”
Setelah Shirasu menepuk dadanya dengan bangga, bel yang menandakan akhir istirahat pun berbunyi. Dan seketika aku teringat akan kenyataan pahit yang baru kusimpan di sudut pikiran.
Yaitu—apa yang harus kulakukan begitu kembali ke kelas.




Post a Comment